Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional, pendidikan diadtikan sebagai pendidikan adalah usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

negara.

Lebih lanjut, mengenai fungsi pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan

nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi

manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan dua batasan di atas, maka pendidikan di Indonesia ini tidak

hanya memprioritaskan perkembangan aspek kognitif atau pengetahuan peserta

didik, namun juga tetapi perkembangan individu sebagai pribadi yang unik secara

utuh. Oleh karena setiap satuan pendidikan harus memberikan layanan yang dapat

memfasilitasi perkembangan pribadi siswa secara optimal berupa bimbingan dan

konseling. Pemahaman mengenai apa dan bagaimana layanan bimbingan di

Azas-Azas Bimbingan Konseling |1


sekolah mutlak diperlukan oleh pengawas. Hal ini merupakan bagian dari

kompetensi supervisi manajerial yang harus dilakukannya terhadap setiap sekolah

yang berada dalam lingkup binaannya.

Tak lepas dari peran Bimbingan Konseling, tentu saja harus ada beberapa

hal yang harus diperhatikan salah satunya adalah azas-azas bimbingan konseling

itu sendiri, agar bimbingan konseling yang terjadi di sekolah tidak menyimpang

dan sesuai dengan aturan. Berlatar belakang hal tersebut kami berkeinginan untuk

membuat makalah dengan tema bahasan Azas-Azas Bimbingan Konseling.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini salah satunya adalah untuk lebih

mengetahui tentang azas-azas dalam bimbingan konseling. Serta fungsi, tujuan

dan prinsip bimbingan konseling. Yang tanpa kita sadari sebenarnya peranan

bimbingan dan konseling bagi peserta didik sangat penting dan bermanfaat bagi

pembelajaran peserta didik yang tidak dilihat dari segi akademik saja.

1.3 Manfaat Penulisan

1. Penulis

b. Makalah ini diharapkan dapat memperluas wawasan untuk

mengimplementasikan pengetahuan yang telah didapatkan oleh penulis

sebelumnya.

c. Meningkatkan kemampuan penulis dalam pembuatan makalah

yang lebih baik

2. Bagi pihak lain

Azas-Azas Bimbingan Konseling |2


b. Memberikan tambahan wacana khususnya dalam bimbingan dan

konseling mengenai azas-azas bimbingan dan konseling.

c. Makalah ini dapat memberikan sumbangan ilmu dan sebagai bahan

referensi bagi pihak lain.

Azas-Azas Bimbingan Konseling |3


BAB II

ISI

2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling

Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang “bimbingan”, berikut

dikutipkan pengertian bimbingan (guidance) menurut beberapa sumber. Year

Book of Education (1955) menyatakan bahwa: guidance is a process of helping

individual through their own ffort to discover d develop their potentialisties both

for personal happiness and social usefulness. Definisi yang diungkapkan oleh

Miller (dalam Jones, 1987) nampaknya merupakan definisi yang lebih mengarah

pada pelaksanaan bimbingan di sekolah. Definisi tersebut menjelaskan bahwa:

“Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahan

diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri

secara maksimum kepada sekolah, keluarga, serta masyarakat”.

Dari definisi-definisi di atas, dapatlah ditarik kesimpulan tentang apa

sebenarnya bimbingan itu, sebagai berikut.

a. Bimbingan berarti bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain

yang memerlukannya. Perkataan “membantu' berarti dalam bimbingan tidak

ada paksaan, tetapi lebih menekankan pada pemberian peranan individu

kearah tujuan yang sesuai dengan potensinya. Jadi dalam hal ini, pembimbing

sama sekali tidak ikut menentukan pilihan atau keputusan dari orang yang

dibimbingnya. Yang menentukan pilihan atau keputusan adalah individu itu

sendiri.

Azas-Azas Bimbingan Konseling |4


b. Bantuan (bimbingan) tersebut diberikan kepada setiap orang, namun prioritas

diberikan kepada individu-individu yang membutuhkan atau benar-benar

harus dibantu. Pada hakekatnya bantuan itu adakah untuk semua orang.

c. Bimbingan merupakan suatu proses kontinyu, artinyan bimbingan itu tidak

diberikanhanya sewaktu-waktu saja dan secara kebetulan, namun merupakan

kegiatan yang terus menerus, sistematika, terencana dan terarah pada tujuan.

d. Bimbingan atau bantuan diberikan agar individu dapat mengembangkan

dirinya seamaksimal mungkin. Bimbingan diberikan agar individu dapat lebih

mengenal dirinya sendiri (kekuatan dan kelemahannya), menerima keadaan

dirinya dan dapat mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuannya.

e. Bimbingan diberikan agar individu dapat menyesuaikan diri secara harmonis

dengan lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah ndan masyarakat.

Dalam penerapannya di sekolah, definisi-definisi tersebut di atas

menuntut adanya hal-hal sebagai berikut:

a. Adanya organisasi bimbingan di mana terdapat pembagian tugas, peranan dan

tanggungjawab yang tegas di antara para petugasnya;

b. Adanya program yang jelas dan sistematis untuk: (1) melaksanakan penelitian

yang mendalam tentang diri murid-murid, (2) melaksanakan penelitian

tentang kesempatan atau peluang yang ada, misalnya: kesempatan

pendidikan, kesempatan pekerjaan, masalah-masalah yang berhubungan

dengan human relations, dan sebagainya, (3) kesempatan bagi murid untuk

mendapatkan bimbingan dan konseling secara teratur.

c. Adanya personil yang terlatih untuk melaksanakan program-program tersebut

di atas, dan dilibatkannya seluruh staf sekolah dalam pelaksanaan bimbingan;

Azas-Azas Bimbingan Konseling |5


d. Adanya fasilitas yang memadai, baik fisik mupun non fisik (suasana, sikap,

dan sebagainya);

e. Adanya kerjasama yang sebaik-baikya antara sekolah dan keluarga, lembaga-

lembaga di masyarakat, baik pemerintah dan non pemerintah.

Hubungan Bimbingan dengan Konseling

Istilah bimbingan (guidance) dan konseling (counseling) memiliki

hubungan yang sangat erat dan merupakan kegiatan yang integral. Dalam 6

praktik sehari-hari istilah bimbingan selalu digandengkan dengan istilah konseling

yakni bimbingan dan konseling (guidance and counseling). Ada pihak-pihak yang

beranggapan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antar bimbingan dengan

konseling atau keduannya memiliki makna yang identik. Namun sementara pihak

ada yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling merupaka dua pengertian

yang berbeda, baik dasar maupun cara kerjanya.

Konseling atau counseling dianggap identik dengan psychoterapy, yaitu

usaha menolong orang-orang yang mengalami gangguan psikis yang serius,

sedangkan bimbingan dianggap identik dengan pendidikan. Sementara pihak ada

lagi yang berpendapat bahwa konseling merupakan salah satu teknik pemberian

layanan dalam bimbingan dan merupakan inti dari keseluruhan pelayanan

bimbingan. Pandangan inilah yang nampaknya sekarang banyak dianut.

Rogers (dalam Kusmintardjo, 1992) memberikan pengertian konseling

sebagai berikut: Counseling is a series of direct contats with the individual which

aims to offer him assistance in changing his attitude and behavior. Konseling

adalah serangkaian kontak atau hubungan bantuan langsung dengan individu

dengan tujuan memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah

Azas-Azas Bimbingan Konseling |6


lakunya). Selanjutnya Mortensen (dalam Jones, 1987) memberikan pengertian

konseling sebagai berikut: Counseling may, therefore, be defined as apeson to

person process in which one person is helped by another to increase in

understanding and ability to meet his problems”. Konseling dapat didefinisikan

sebagai suatu proses hubungan seseorang dengan seseorang di mana yang seorang

dibantu oleh yang lainya untuk menemukan masalahnya.

Dengan demikian jelaslah, bahwa konseling merupakan salah satu teknik

pelayanan bimbingan secara keseluruhan, yaitu dengan cara memberikan bantuan

secara individual (face to face relationship). Bimbingan tanpa konseling ibarat

pendidikan tanpa pengajaran atau perawatan tanpa pengobatan. Kalaupun ada

perbedaan di antara keduanya hanyalah terletak pada tingkatannya.

2.2 Tujuan Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik mencapai

tugas-tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial, dan

pribadi. Lebih lanjut tujuan bimbingan dan konseling adalah membantu individu

dalam mencapai: (a) kebahagiaan hidup pribadi sebagai makhluk Tuhan, (b)

kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat, (c) hidup bersama

dengan individu-individu lain, (d) harmoni antara cita-cita mereka dengan

kemampuan yang dimilikinya.

Dengan demikian peserta didik dapat menikmati kebahagiaan hidupnya

dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat

umumnya Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, peserta didik harus

mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan melaksanakan tujuan hidupnya

Azas-Azas Bimbingan Konseling |7


serta merumuskan rencana hidup yang didasarkan atas tujuan itu; (2) mengenal

dan memahami kebutuhannya secara realistis; (3) mengenal dan menanggulangi

kesulitan-kesulitan sendiri; (4) mengenal dan mengembangkan kemampuannya

secara optimal; (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan pribadi dan

untuk kepentingan umum dalam kehidupan bersama; (6) menyesuaikan diri

dengan keadaan dan tuntutan di dalam lingkungannya; (7) mengembangkan

segala yang dimilikinya secara tepat dan teratur, sesuai dengan tugas

perkembangannya sampai batas optimal. Secara khusus tujuan bimbingan dan

konseling di sekolah ialah agar peserta didik, dapat: (1) mengembangkan seluruh

potensinya seoptimal mungkin; (2) mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya

sendiri; (3) mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungannya, yang meliputi

lingkungan sekolah, keluarga, pekerjaan, sosial-ekonomi, dan kebudayaan; (4)

mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalahnya; (5)

mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatnya dalam

bidang pendidikan dan pekerjaan; (6) memperoleh bantuan secara tepat dari

pihak-pihak di luar sekolah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat

dipecahkan di sekolah tersebut.

Bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik agar

memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau

mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang

harus dikuasainya sebaik mungkin. Pengembangan potensi meliputi tiga tahapan,

yaitu: pemahaman dan kesadaran (awareness), sikap dan penerimaan

(accommodation), dan keterampilan atau tindakan (action) melaksanakan tugas-

tugas perkembangan.

Azas-Azas Bimbingan Konseling |8


2.3 Fungsi Bimbingan dan Konseling

Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak

dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi-fungsi

tersebut adalah :

a. Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan

menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai

dengan kepentingan pengembangan peserta didik pemahaman meliputi :

1) Pemahaman tentang diri sendiri peserta didik terutama oleh pesert didik

sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.

2) Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk didalamnya

lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh peserta didik sendiri,

orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.

3) Pemahaman lingkungan yang lebih luas (termasuk didalamnya informasi

jabatan/pekerjaan, informasi social dan budaya/nilainilai) terutama oleh

peserta didik.

b. Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan

menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari berbagai

permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu,

menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam

proses perkembangannya.

c. Fungsi penuntasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan

menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta

didik.

Azas-Azas Bimbingan Konseling |9


d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yaitu fungsi bimbingan dan

konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannya

berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka

perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi

tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan

kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana

terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan

bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu

kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasilhasil yang dicapainya

secara jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.

2.4 Prinsip Bimbingan dan Konseling

Sejumlah prinsip mendasari gerak dan langkah penyelenggaraan

pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip ini berkaitan dengan tujuan, sasaran

layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung serta berbagai aspek operasional

pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam layanan bimbingan dan konseling

perlu diperhatikan sejumlah prinsip yaitu:

1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan.

a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang

umur, jenis kelamin, suku agama dan status social ekonomi.

b. Bimbingan dan konseling berurusan denga pribadi dan tingkah laku

individu yang unik dan dinamis.

c. Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai

aspek perkembangan individu. Bimbingan dan konseling memberikan

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 10
perhatian utama kepada perbedaan individual yang menjadi orientasi

pokok pelayanan.

2. Prinsip-prinsip berkenaan dengan permasalahan individu.

a. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal yang menyangkut

pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di

rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontrak sosial,

pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan tehadap kondisi mental

dan fisik individu.

b. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor

timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian

utama pelayanan bimbingan dan konseling.

3. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program layanan.

a. Bimbingan dan konseling merupakan bagian dari integral dari upaya

pendidikan dan pengembangan individu, oleh karena itu program

bimbingan dan konseling harus diselaraskan dan dipadukan dengan

program pendidikan serta pengembangan peserta didik

b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan

kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga program bimbingan

dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidik yang

terendah sampai tertinggi

c. Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu

diarahkan yang teratur dan terarah

4. Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan:

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 11
a. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu

yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi

permasalahan

b. Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan

dilaksanakan oleh individu hendaknya atas kemampuan individu itu

sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak

lain

c. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang

yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi

d. Kerjasama antara guru pembimbing, guru lain dan orang tua yang akan

menentukan hasil bimbingan

e. Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh

melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian

terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan dan program

bimbingan dan konseling itu sendiri

2.5 Azas-Azas Bimbingan dan Konseling

Pelayanan Bimbingan dan konseling sebagai pekerjaan professional,

maka pekerjaan tersebut dilakukan dengan mengikuti kaedah-kaedah yang

menjamin efisiensi dan efektifitas proses dan hasil-hasilnya. Dalam

penyelenggaraan layanan Bimbingan dan konseling kaidah-kaidah tersebut

dikenal sebagai asas-asas Bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan-ketentuan

yang harus diterapkan dalam pelayanan. Apabila dalam layanan Bimbingan dan

konseling dalam pelaksanaan layanannya menerapkan asas-asas atau kaidah-

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 12
kaidah dimaksud, maka layanan tersebut akan mengarah kepada pencapaian

tujuan dan sebaliknya apabila asas-asas tersebut diabaikan atau dilanggar sangat

dikhawatirkan kegiatan layanan Bimbingan dan konseling justru berlawanan

dengan tujuan layanan, bahkan akan merugikan orang-orang yang terlibat didalam

pelayanan Bimbingan dan konseling itu sendiri.

Penyelanggaraan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling selain

dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan, juga dituntut

untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan atas asas-asas itu akan

memperlancar pelakasanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan,

sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan

pelaksanaan serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan kegiatan dengan

membayar SPP penuh itu sendiri. Asas-asas itu sendiri ialah:

1. Asas kerahasiaan

Penyelenggaraan konseling dilakukan melalui interaksi antara satu atau lebih

individu yang menghadapi kesulitan dan memerlukan bantuan (klien) dengan

satu orang yang dilatih secara professional (konselor). Masih banyak individu

yang memiliki masalah selalu ingin menutupi masalahnya, yaitu jangan

sampai orang lain mengetahui masalah yang dialami. Sehingga dapat

dimaklumi apabila layanan Bimbingan dan konseling akan dimanfaatkan oleh

individu yang bermasalah, bahwa layanan Bimbingan dan konseling

melaksanakan asas kerahasiaan.

Konselor dalam membantu klien benar-benar memiliki komtmen terhadap

tugasnya sebagai orang yang membantu individu yang bermasalah (klien)

untuk dapat menyinpan rahasia kliennya. Asas kerahasiaan merupakan kunci

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 13
dalam uapaya Bimbingan dan konseling akan mendapat kepercayaan dari

kliennya (peserta didik yang bermasalah). Apabila konselor tidak memiliki

komitmen dalam menjaga kerahasiaan kliennya, maka peserta didik yang

bermasalah tidak akan memanfaatkan layanan Bimbingan dan konseling,

bahkan individu atau peserta didik yang bermasalah akan menjauh dan tidak

lagi memenfaatkan layanan Bimbingan dan konseling.

2. Asas kesukarelaan

Apabila asas kerahasiaan sudah benar-benar tertanam pada diri individu

peserta didik atau klien, sangat diharapkan bahwa mereka yang mngalami

masalah akan dengan sukarela meminta bantuan kepada konselor untuk

memecahkan masalah yana sedang dihadapi.

Bagi klien yang dipanggil oleh konselor, hal ini tidak melanggar asas

kesukarelaan. Dalam hal ini konselor berkewajiban mengembangkan sikap

sukarela pada diri klien, sehingga klien dapat menghilangkan rasa

keterpaksaannya saat menghadap kepada konselor. Kesukarelaan tidak hanya

dituntut dari pihak terbimbing saja, tetapi hendaknya berkembang pada diri

konselor. Para penyelenggara layanan Bimbingan dan konseling hendaknya

mampu menghilangkan rasa keterpaksaan dalam membantu peserta

didik/klien. Akan lebih baik lagi bahwa konselor dalam melaksanakan

tugasnya karena merasa terpanggil.

3. Asas keterbukaan

Pelayanan Bimbingan dan konseling akan berjalan secara efisien dan afektif

apabila dilaksanakan dalam suasana keterbukaan; baik si terbimbing maupun

si pembimbing bersikap terbuka. Keterbukaan bukan hanya berarti “bersedia

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 14
menerima bantuan dari luar” tetapi masing-masing yang bersangkutan

bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah yang

dimaksud. Misalnya, dalam konseling klien diharapkan dapat berbicara

sejujur-jujurnya dan terbuka tentang dirinya sendiri.

Perlu dipahami bahwa keterbukaan hanya akan dicapai apabila klien tidak

lagi mempersoalkan asas kerahasiaan yang semestinya diterapkan oleh

konselor. Untuk keterbukaan konselor harus terus-menerus membina suasana

hubungan konseling, konselor juga bersikap terbuka dan yakin bahwa asas

kerahasiaan benar-benar terselenggara. Kesukarelaan klien merupakan dasar

bagi keterbukaan.

4. Asas kekinian

Masalah klien yang dicari solusinya adalah masalah-masalah yang dihadapi

saat sekarang, bukan masalah-masalah masa lampau dan/atau masalah-

masalah masa depan (masalah yang kemungkinan terjadi). Masalah masa

lampau maupun kemungkinan masalah yang akan datang dapat dianalisis

untuk mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi saat ini. Karena bias

terjadi apa yang dihadapi oleh klien saat ini akibat dari masalah masa lampau

dan persoalan masa depan membuat klien saat ini mengalami masalah.

Asas kekinian juga mengandung makna bahwa konselor tidak boleh

menunda-nunda untuk memberibantuan jika diminta bantuan oleh klien.

Misalnya, ada peserta didik yang mengalami masalah maka konselor

hendaknya segera membantunya. Yang paling penting adalah masalah yang

dihadapi klien segera dapat teratasi. Masalah sekarang tidak segera diatasi

maka akan dapat menimbulakn masalah pada waktu mendatang. Konselor

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 15
dapat menunda memberi bantuan kepada klien justru demi kepentinagan klien

dan konselor dalam hal ini dapat mempertanggngjawabkannya, mengapa

bantuan tidak segera diberikan.

5. Asas kemandirian

Pelayanan Bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan si terbimbing

dapat berdiri sendiri (mandiri), si terbimbing tidak menjadi orang yang

memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada orang lain (konselor).

Individu yang dibantu (klien) setelah mendapatkan bantuan diharapkan dapat

mandiri dengan ciri-ciri pokok:

a. mengenal diri sendiri dan lingkungannya

b. menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis

c. mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri secara tepat

d. mengarahkan dirinya sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya

e. mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, bakat, minat, dan

kemampuan-kemampuan yang dimiliki (Prayitno,1994).

Pelayanan Bimbingan dan konseling hendaknya selalu berusaha menumbuh

kembangkan kemandirian pada diri klien, bukan justru sebaliknya, yaitu

layanan Bimbingan dan konseling menjadiakn klien tergantung kepada

konselor. Dalam asas kemandirian tersimpul pula keunikan individu,

seseorang yang mandiri tidak akan membiarkan dirinya tenggelam atau

terbawa arus oleh penyamaan yang buta terhadap orang lain. Hal ini

hendaknya disadari oleh dua belah pihak, yaitu oleh klien maupun konselor.

6. Asas kegiatan

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 16
Usaha Bimbingan dan konseling akan memberikan arti bila individu klien

melakukan kegiatan sebagai upaya mencapai tujuan-tujuan yang ingin

dicapai. Tujuan layanan tidak akan tercapai dengan sendirinya, konselor

hendaknya menumbuhkan kemampuan dan kemauan pada diri klien untuk

melakukan kegiatan sebagai upaya mencapai tujuan.

Asas kegiatan ini mengacu pada pola konseling “multi dimensional” yang

tidak hanya mengandalkan interaksi verbal antara klien dan konselor. Dalam

konselong yang berdimensi verbal pun asas kegiatan masih harus

terselenggara., yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula

melaksanakan/ menerapkan hasil-hasil konseling.

7. Asas kedinamisan

Upaya layanan Bimbingan dan konseling selalu menghendaki adanya

perubahan perilaku pada diri klien, yaitu perubahan perilaku kearah yang

lebih baik, maksudnya perubahan itu selalu menunjukkan adanya hal-hal

yang baru, sesuatu yang lebih maju sesuai yang dikehendaki dalam konseling,

bukan perubahan yang mengulang-ulang hal lama, dan yang bersifat

monoton. Asas kedinamisan mengacu pada hal-hal baru yang hendaknya

terdapat pada dan menjada cirri-ciri dari proses konseling dan hasil-hasilnya.

8. Asas keterpaduan

Pelayanan Bimbingan dan konseling berusaha memadukan dari berbagai

aspek kepribadian individu klien. Sebagaimana diketahui bahwa inividu yang

dibimbing itu memiliki berbagai segi yang kalau kondisinya tidak serasi akan

dapat menimbulkan suatu masalah. Begitu juga adanya keterpaduan denagn

isi dan proses layanan yang diberiakan. Hendaknya jangan sampai layanan

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 17
yang satu dengan layanan yang lain bertentangan. Agar dapat

terselenggaranya asas keterpaduan hendaknya konselor perlu memiliki

wawasan luas mengenai perkembangan individu dan aspek lingkungan klien,

serta berbagai sumber yang dapat di aktifakan untuk menangani masalah

klien. Kesemuanya dipadukan secara serasi dan saling menunjang dalam

layanan Bimbingan dan konseling.

9. Asas kenormatifan

Usaha layanan Bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan

norma-norma yang berlaku, baik ditinjau dari norma agama, norma adat,

norma hokum negara, norma ilmu, maupun kebiasaan sehari-hari. Asas

kenormatifan ditetapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan

Bimbingan dan konseling. Seluruh isi dan layanan hendaknya sesuai dengan

norma yang ada. Demikian juga prosedur, teknik, dan peralatan yang dipakai

tidak boleh menyimpang dari norma-norma dimaksud.

Ditilik dari permasalahan kemungkinan klien pada awalnya materi layanan

Bimbingan dan konseling yang tidak sesuai dengan norma (misalnya, klien

mengalami masalah melanggar norma-norma tertentu), namun justru dengan

pelayanan Bimbingan dan konseling tingkah laku yang melanggar norma itu

diarahkan kepada yang sesuai dengan norma.

10. Asas keahlian

Upaya layanan Bimbingan dan konseling dilakukan secara teratur dan

sistematik dengan menggunakan prosedur, teknik dan instrumentasi

Bimbingan dan konseling yang memadai. Untuk itu konselor perlu

mendapatkan latihan secukupnya, sehingga akan dapat dicapai keberhasilan

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 18
usaha pemberian layanan. Pelayanan Bimbingan dan konseling adalah

pelayanan professional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang

khusus dipersiapkan secara professional.

Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor (misalnya, latar

belakang pendidikan sarjana bidang Bimbingan dan konseling). Juga kepada

pengalaman, teori dan praktek Bimbingan dan konseling. Oleh karena itu

seorang konselor harus benar-benar menguasai praktek dan teori konseling

secara baik. Hal ini juga mengandung makna bahwa berdasarkan asas

keahlian ini, layanan konseling tidak bias dilakukan oleh sembarang orang.

11. Asas alih tangan

Asas ini mengisyaratkan bahwa seorang konselor sudah mengerahkan semua

kemampuanya untuk membantu individu, namun individu yang bersangkutan

belum dapat terbantu sebagaimana diharapkan, maka konselor dapat

mengirim klienya kepada pihak lain yang lebih ahli atau kepada pihak yang

memiliki kewenangan. Selain itu, asas ini mengisyaratkan bahwa layanan

Bimbingan dan konseling ini terbatas pada masalah-masalah yang sesuai

dengan kewenangannya, dan masalah-masalah yang di luar kewenangannya

segera dipindahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan. Misalnya,

seorang konselor menghadapi individu yang mengalami gangguan psikologis

yang berat, maka itu wewenang psikiater, untuk itu konselor harus

melimpahkan (memindahkan) klienya kepada psikiater.

12. Asas tut wuri handayani

Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam

rangka hubungan keseluruhan antara konselor dengan kliennya. Lebih-lebih

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 19
di lingkungan sekolah, asas ini semakin dirasakan keperluannya dan bahkan

perlu dilengkapi dengan “ingarso sung tulodo, ing madyo mangun karso”

Asas ini menuntut agar prlayanan Bimbingan dan konseling tidak hanya

dirasakan oleh klien pada waktu klien menghadap konselor, tetapi di luar

hubungan konseling pun layanan Bimbingan dan konseling dirasakan

manfaatnya.

13. Asas kerjasama

Usaha layanan Bimbingan dan konseling merupakan upaya bersama klien dan

konselor serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses layanan Bimbingan

dan konseling untuk mencari pemecahan masalah yang dialami oleh klien.

Dapat terselenggaranya layanan Bimbingan dan konseling secara efektif

apabila adanya kerjasama yang baik dari semua pihak yang terlibat, tanpa

adanya kerja sama maka layanan Bimbingan dan konseling tidak akan

mungkin terselenggara secara baik. Dapat terjadi kerjasama yang baik apabila

masing-masing pihak yang terlibat memahami akan tujuan yang ingin dicapai

dari pelaksanaan layanan tersebut. Di samping itu juga sadar akan perannya

masing-masing dalam proses layanan Bimbingan dan konseling. Apabila

masing-masing pihak terlibat dalam proses layanan Bimbingan dan konseling

memiliki tujuan yang berbeda dan tidak memahami perannya, maka dapat

terjadi saling bertentangan dan berkjalan masing-masing.

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 20
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Penyelanggaraan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling selain

dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan, juga dituntut

untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan atas asas-asas itu akan

memperlancar pelakasanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan,

sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan menggagalkan

pelaksanaan serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan kegiatan dengan

membayar SPP penuh itu sendiri

3.2 Saran

Dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling jangan lupa untuk

memperhatikan asas-asasnya karena apabila asas-asas itu tidak dijalankan dengan

baik penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling akan tersendat-sendat

atau bahkan berhenti sama sekali.

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 21
DAFTAR PUSTAKA

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah DiRektorat Pendidikan Umun.1994.


Kurikulum SLTP: Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.
Jakarta: Depdikbud.
http://akhirman.blogspot.com/2009/10/asas-asas-bimbingan-dan-konseling.html
Jones, J.J. 1987. Secondary School Administration. New York: Mc Graw Hill
Book Company.
Prayitno. 1997. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Buku II Pelayanan Bimbingan dan Konseling (SLTP). Jakarta: kerjasama
koperasi karyawan pusgrafin dengan penerbit Penebar Aksara.
Depdiknas. 2002. Paduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis
Kompetensi SMP, Madrasah, Tsanawiyah dan Sederajat. Jakarta: Pusat
Kurikulum Balitbang Depdiknas.

A z a s - A z a s B i m b i n g a n K o n s e l i n g | 22