Anda di halaman 1dari 15

By Timur Abimanyu, SH.MH.

TINJAUAN HUKUM KASUS BIBIT DAN CHANDRA


MENURUT KACAMATA SOSIOLOGI HUKUM
SERTA ANALISANYA

DAFTAR ISI

Bab I : Pendahuluan

Bab II : A. Tindak Pidana/Tindak Pidana Korupsi dalam Lingkup Sosilogi Hukum


B. Kasus Bibit dan Chandra sangat mempengaruhi perkembangan Sosiologi Hukum
C. Analisa Kasus Bibit dan Chandra

Bab III : Penutup


- Kesimpulan
Kata Pengantar

Sosiologi hukum sangat berperan penting didalam pembangunan sistim hukum nasional
yang tidak terlepas dari disiplin ilmu filsafat hukum, ilmu hukum dan sosiologi, berkaitan dengan
dalam upaya pemberantasan Korupsi yang dilaksanakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), akan tetapi KPK itu sendiri yang melakukan atau terindikasi dianggap melakukan suatu
tidakan yang dilarang oleh Undang Undang dalam hal ini Undang-Undang anti Korupsi yaitu UU
No. 13 Tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban serta UU No. 7 Tahun 2006 Konvensi
Perserikatan Bangsa Bangsa Anti Korupsi, 2003 serta UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-undang tersebut diatas masuk kedalam
lingkungan kekuasaan kehakiman yaitu Undang-Undang RI Nomor. 5 Tahun 2004 tentang
Mahkamah Agung RI. (Undang-Undang satu Atap), Undang-Undang RI Nomor. 48 Tahun 2009
tentang Kekuasaan Kehakiman serta Undang-Undang RI Nomor 46 tahun 2009 tentang Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi.
Dalam kaitannya dengan Sosiologi Hukum adalah merupakan sebagai fenomena-
fenomena yang terjadi pada masyarakat hukum dalam hal ini yang berkaitan dengan segala
kebijakan Pemerintah didalam upaya penegakkan hukum, akan tetapi seringkali penegakan hukum
tersebut dilanggar oleh institusi pelaksana atau oknum-oknum yang melaksanakan kebijakan
tersebut. Alhasil hukum positif yang berlaku didalam masyarakat hukum terkadang menjadi
lumpuh atau istilah kasarnya menjadi mandul karena adanya kebijakan yang seringkali disalah
gunakan oleh pihak-pihak atau kalangan tertentu pada tatanan masyarakat hukum yang berada
didalam suatu negara hukum berlandaskan Demokrasi Pancasila mengarah kepada Reformasi
Global.
Berdasarkan pemikiran penulis membuat judul ” Tinjauan Hukum Kasus Bibit dan
Chandra Menurut Kacamata Sosiologi Hukum serta Analisanya ” semoga uraian dan dasar
pemikiran penulis dapat berguna untuk kalangan masyarakat umum dan pada khususnya kalangan
Mahasiswa.
Penulis, 2010.
BAB I
PENDAHULUAN

Sosiologi Hukum pada dasarnya dipengaruhi oleh disiplin ilmu filsafat hukum, ilmu
hukum dan sosiologi hukum, yang menjadi sumber lahirnya sosiologi hukum yaitu aliran
Positivisme Putusan Peradilan, Undang-Undang, Kebiasaan, Konstitusi. Landasan berfikir
Sosiologi Hukum adalah terhadap segala kebijakan yang hidup didalam suatu Negara atau
bagian wilayah negara, dan sering terjadi bertentangan dengan difinisi sosiologi hukum yang
terutama tentang kebijakan-kebijakan pemerintah itu sendiri. Kebijakan-kebijakan Pemerintah
yang merupakan sebagai hukum positif sering kali menyimpang dari sistim hukum yang
berlaku didalam suatu negara atau masyarakat hukum. Sebagaimana kita ketahui bahwa
Sosiologi Hukum adalah yang merupakan sumber dari pemberlakuan hukum positif, karena
hukum positif harus sejalan dengan kebiasaan dan hukum yang hidup didalam masyarakat,
dengan bersandar pada nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila dan Undang Undang
Dasar 1945.
Dengan landasan Kerangka teori dan konsep, difinisi sosiologi hukum adalah :
Pendapat Prof. Jerome Davis :
“ gerakan sosial adalah reaksi pada bagian dari individu atau kelompok untuk kondisi
yang tidak memuaskan dalam kehidupan social” dan....
“Hukum yang dibuat harus sesuai dengan hukum yang hidup didalam masyarakat
( livinglaw ) ”.
Sosiologi Hukum mempunyai nilai-nilai filsafat hukum yang tertuang dalam dalam
Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, yaitu Pasal 22 : (1) Dalam hal ikhwal kegentingan
yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-
undang. (2) Peraturan Pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
dalam persidangan yang berikut. (3) Jika tidak mendapat persetujuan, maka Peraturan
Pemerintah itu harus dicabut dan Pasal 22A yaitu ketentuan lebih lanjut tentang tata cara
pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang. Dalam kaitannya hukum positif
yang berbentuk undang-undang adalah UU No. 7 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban dan UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
yaitu pasal 1 ayat (3) : Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah serangkaian tindakan
untuk mencegah dan memberantas tindak Pidan Korupsi melalui upaya koordinasi, suvervisi,
monitor, penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan dengan
peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Permasalahan hukum menurut kacamata sosiologi hukum pada kasus bibit dan
Chandra adalah : Apakah kebijakan Presiden sebagai lembaga eksekutif dengan berdasarkan
rekomendasi Tim 8 yang membebaskan kasus Bibit dan Chandra dari segala tuntutan Pidana
Korupsi adalah merupakan suatu kebijakan hukum yang telah mengintervensi lembaga
penyelidik dan penyidik yang merupakan didalam ranah Peradilan (lembaga yudikatif)
merupakan suatu kebijakan yang dapat dibenarkan ?
Berdasarkan asumsi penulisan adalah ranah peradilan (lembaga yudikatif) adalah
ranah hukum yang dapat membuktikan dan menjawab terhadap bersalah atau tidak
bersalahnya seseorang/terdakwa serta untuk mencapai rasa keadilan dan kepastian hukum.
Sebagaimana kita ketahui bahwa lembaga yudikatif adalah suatu lembaga indenpenden yang
tidak dapat dipengaruhi oleh lembaga eksekutif dan legislatif. Melihat kasus bibit dan Chandra
dari kacamata sosiologi hukum, bahwa kebijakan Presiden dengan berdasarkan rekomendasi
tim 8 adalah telah dianggap bertentangan dengan hukum positif yang hidup didalam
masyarakat yaitu Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Kekuasaan
Kehakiman dan KUHP serta KUHAP.
Bab II
Tindak Pidana Korupsi menurut Kacamata
Sosiologi Hukum

A. Tindak Pidana/Tindak Pidana Korupsi dalam Lingkup Sosilogi Hukum


1
Menurut Prof. Jerome Davis : “...sosial movement are reaction on the part of
individual and groups to unsatisfactory condition in the social life. There is a maledjustment
which cuses mental amd social friction, and the movent develops as an effort to bring about
harmony” artinya gerakan sosial adalah reaksi pada bagian dari individu atau kelompok
untuk kondisi yang tidak memuaskan dalam kehidupan sosial. Adanya gesekan sosial dan
mental yang berkembang sebagai upaya untuk mewujudkan hubungan yang harmonis.
Didalam suatu pemerintahan mempunyai misi otoritas yang sangat kuat, yaitu dalam
hal pemberantasan korupsi dimana secara konvensional berbasis sebagai penegakan hukum dan
perbaikan pengawasan melalui institusi kenegaraan. Pada masalah inilah rakyat adalah sebagai
korban dari penyalahgunaan kekuasaan yang harus mengambil inisiatif untuk
mengembangkan pengawasan missal yang melibatkan peran serta masyarakat pada semua
lapisan social dan profesi. Dimana telah terbangun suatu mitos didalam kehidsupan social
masyarakat hukum bahwa korupsi hampir mustahil dapat dibasmi, dan ada anggapan bahwa
korupsi sudah menjadi kebudayaan Bangsa Indonesia. Asumsi penulis adalah bahwa korupsi
sesungguhnya menyangkut masalah kekuasaan dan kesempatan yang dipunyai oleh para
eksekutif dipemerintahan.2
Dengan demikian jelaslah bahwa tindak pidana atau khususnya tindak pidana korupsi
dengan berdasarkan UU No. 30 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, UU
No. 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban dan UU No. 7 Tahun 2006 tentang
komisi perserikatan bangsa-bangsa anti korupsi, dimana akibat dari suatu perbuatan tindak
pidana korupsi yang menimbulkan gejala sosial didalam masyarakat hukum dan yang menjadi
korban adalah masyakat atau rakyat, yang para pelaku tindak pidana korupsi pada umumnya

1
.Teten Basuki, “Gerakan Sosial Anti Korupsi” tulisan ini diambil dari internet www. yahoo.com, tgl 2
Maret 2004.
2
.Zainuddin Ali, “Sosiologi Hukum”, Yayasan Masyarakat Indonesia baru, Penerbit : YAMIBA, Cet: ke 3
Tahun 2004, hal. 120.
adalah dilakukan oleh kalangan masyarakat eksekutif seperti pada instansi pemerintahan,
pengusaha dan sampai pada institusi para penegak hukum.
Sebagai reaksi dari masyarakat menurut pandangan sosiologi hukum adalah sebagai
unsur penolakan yang tidak langsung terhadap penerapan pemberlakuan undang-undang tindak
pidana/tindak pidana korupsi tersebut, yang sebenarnya pemberlakuan undang-undang tersebut
bukanlah menguntungkan masyarakat melainkan yang menjadi korban adalah masyarakat itu
sendiri. Karena melihat dari peruntukannya, bahwa pemberlakukan undang-undang tersebut
sebagian besar para pelaku tindak pidana adalah kalang eksekutif yang dekat dengan
kekuasaan dan kesempatan yang umumnya berada pada institusi pemerintahan yang berkuasa.

D. Kasus Bibit dan Chandra sangat mempengaruhi perkembangan Sosiologi Hukum


Mengenai kasus Bibit dan Chandra bedasarkan berita, dimana pihak kepolisian
didesak oleh oleh kalangan praktisi hukum untuk membuka dan melanjutkan kasus yang
terjadi di tubuh institusi Komisi Pemberantasan Korupsi yang dinilai tidak transparan.
"Ketidak terbukaan polisi menimbulkan spekulasi dan keraguan," pada kalangan masyarakat
dan lembaga legislatif , terutama ketika kedua Pimpinan KPK telah dinonaktifkan karena
berstatus tersangka dalam kasus dugaan penyalahgunaan wewenang yaitu ketika mencekal
Anggoro Widjaja dan mencabut cekal atas Joko Chandra. Dimana penyalahgunaan wewenang
bisa menyangkut persoalan birokrasi administrasi atau pidana, yang bermotif kepentingan
pribadi/kelompok, karena dalam hal penyalahgunaan wewenang adalah dalam lingkup
kewenangan perkara pidana apabila tidak bisa dipertanggung jawabkan secara hukum.,
dimana terkait pula dengan uang senilai Rp 5,1 miliar.3

Menindaklanjuti penjelasan Kepala Negara sebagai lembaga eksekutif terhadap kasus


hukum pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M.Hamzah-Bibit
Samad Rianto, dimana masyarakat sangat menunggu kebijakan yang harus diambil oleh
Kepala Negara dalam mengatasi permasalahan tersebut. Mengingat cara-cara penyelesaian
terhadap kasus hukum yang memiliki perhatian publik luas seperti ini, harus tetap berada
dalam koridor konstitusi hukum dan perundang-undangan yang berlaku, dngan solusi dan opsi
yang ditempuh juga harus bebas dari kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan.

3
. Tempo Interaktif, jakarta, selasa 22 September 2009.
Mengenai kasus tersebut, mempunyai pandangan forum yang tepat untuk
menyelesaikannya adalah diwilayah hukum pengadilan, akan tetapi karena dalam
perkembangannya muncul ketidak percayaan yang besar kepada Polri dan Kejaksaan Agung,
oleh karenanya solusi dan opsi lain yang lebih baik adalah dimana kepolisian dan kejaksaan
tidak membawa kasus ini ke pengadilan4, akan tetapi tetap dengan mempertimbangkan azas
keadilan.5

Keluar steadmant terhadap kasus hukum pimpinan nonaktif KPK harus diselesaikan
di luar pengadilan (out of court settlement)6, dimana steamant ini ternyata tidak memuaskan
masyarakat hukum, karena adanya penilaian bahwa penjelasan Kepala Negara sangat
membingungkan, sedangkan Tim Delapan dalam rekomendasinya meminta agar Kepala
Negara demi rasa keadilan, menjatuhkan sanksi kepada pejabat-pejabat yang bertanggung
jawab dalam proses hukum yang dipaksakan tersebut.

Hasil romendasi dari Tim Delapan yang berkaitan pada proses hukum terhadap Bibit
dan Chandra dihentikan, dinilai sangat lemah dan atas dasar masalah tersebut untuk
menerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) oleh kepolisian atau penerbitan surat
keputusan penghentian penuntutan (SKPP) oleh kejaksaan. Akan tetapi usulan Tim Delapan
tidak ditanggapi Polri dan Kejaksaan Agung, justru kedua lembaga tersebut tetap melanjutkan
proses hukum kasus Bibit dan Chandra, karena ada pasal-pasal hukum acara yang tidak dapat
meghentikan pekara. Jika terhadap kasus tersebut harus dihentikan, maka Kejaksaan harus
menyerahkan mekanisme penghentian perkara kepada polisi, karena apabila kasus ini masih
tetap di tangan pihak polisia maka pihak kepolisian harus mengeluarkan surat perintah
penghentian penyidikan.

Fakta yang diterima setelah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menerima tuntutan
praperadilan yang diajukan tersangka kasus mafia hukum Anggodo Widjojo, maka kasus Bibit
Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah harus dilanjutkan karena Surat Keputusan
4
.UU RI Nomor. 46 Tahun 2009, Pasal 2, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan pengadilan khusus
yang berada di lingkungan Peradilan Umum.

5
.Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, Polri dan Kejaksaan Agung tidak perlu
melanjutkan kasus hukum pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Rianto ke
pengadilan. Tentunya, dengan mempertimbangkan asas keadilan. Penjelasan Presiden kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta,
Senin (23/11/2009)
6
.UU Republik Indonesia. Nomor 30 Tahun. 2002 yaitu Pasal 3, Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara yang dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Pasal 4, K o m i s i
P e m b e r a n t a s a n K o r u p s i d i b e n t u k d e n g a n t u j u a n meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan
tindak pidana korupsi. Pasal 5, Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Komisi Pemberantasan Korupsi berasaskan pada : a.kepastian hukum;,
b.keterbukaan, c. akuntabilitas, d..kepentingan umum; dan e. proporsionalitas.
Penghentian Penuntutan (SKPP) yang dikeluarkan Kejaksaan Agung dinilai tidak sah dan
bertentangan dengan ketentuan hukum acara dan undang-undang yang berlaku. Akan tetapi
ada steadmant bahwa keputusan PN7 Jakarta Selatan adalah sebagai pengingkaran terhadap
keadilan (denial of justice), karena rekomendasi Tim delapan telah mengkaji kasus Bibit-
Chandra tidak menemukan bukti adanya dasar hukum untuk dilakukannya penuntutan
tersebut. Dasar hukum dari pertimbangan putusan PN Jakarta Selatan didalam menangani dan
memutus kasus praperadilan yang merasa yakin dengan keputusan. Dan sebagai langkah
hukum bagi Kejaksaan Agung adalah mengajukan kasasi atau PK terhadap keputusan PN
Jakarta Selatan atau menjalankan perintah pengadilan dan membawa kasus Bibit dan Chandra
kepengadilan.

Dalam kasus tesebut terdapat pertentangan antar dua wilayah kewenangan antara
Kejaksaan dengan tim delapan yang ingin membuktikan dan membandingkan data-data antara
kedua institusi tersebut dan dari sini terlihat bahwa adanya kekhawatir dikalangan masyarakat
terhadap upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh institusi kepolisian dan kejaksaan,
maupun hasil rekomendasi tim delapan.

Dengan demkian menurut pandangan kacamata sosiologi hukum bahwa sistim hukum
yang hidup didalam tatanan masyarakat hukum telah semakin pudar karena pandangan
terhadap hukum telah keliru dan negeri ini berada dalam darurat hukum, karena sudah tidak
dapat membedakan yang benar dan yang salah dimana hukum dengan mudah dibolak-balik
serta tidak lagi sejalan dengan yang namanya rasa keadilan serta kepastian hukum. Oleh
karenanya upaya penegak hukum itu sendiri yang telah merusak sistim hukum Negara
Republik Indonesia. Di dalam masyarakat hukum sangat perlu sekali dilakukannya suatu
tindakan yang keras karena dengan melihat pada kondisi yang tidak boleh dibiarkan berlarut-
larut, akan menimbulkan kekacauan sosial dalam tatanan kehidupan Negara Indonesia yang
tidak mengharapkan adanya kekacauan sosial, karena akan menimbulkan kesan dan
pandangan sebagai negara yang gagal (fail state), karena tidak mampu menjalankan dan
menegakkan hukum didalam negara.

E. Analisa Kasus Bibit dan Chandra


7
. UU RO. No.mor 46 Tahun 2009 . KEWENANGAN, Pasal 5 :Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan satu-
satunya pengadilan yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi. Pasal 6 : Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara: a.tindak pidana
korupsi; tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi; dan/atau c. tindak pidana yang
secara tegas dalam undang-undang lain ditentukan sebagai tindak pidana korupsi. Pasal 7 : Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat juga berwenang memeriksa, mengadili, dan m e m u t u s p e r k a ra t i n d a k p i d a n a k o r u p s i
s e b a g a i m a n a dimaksud dalam Pasal 6 yang dilakukan oleh warga negara Indonesia di luar wilayah negara Republik Indonesia.
Analisa Internal terhadap kebijakan lembaga eksekutif dengan berdasarkan
rekomendasi Tim delapan tenang pembebasan kasus Bibit dan Chandra untuk mengentikan
penyelidik dan penyidik adalah merupakan suatu kebijakan yang harus diambil oleh Kepala
Negara dalam hal kewenangan eksekutif berdasarkan kondisi spikologis dan sosiologis
didalam suatu negara. Pandangan terhadap kasus bibit dan chandra menurut kacamata
sosiologis hukum adalah suatu kebijakan dan kewenangan yang dianggap bertentangan
dengan kebiasaan dan undang-undang yang berlaku didalam masyarakat hukum dan negara
Republik Indonesia. 8
Jelaslah bahwa kebijakan yang diambil dan memerintahkan kepada lembaga penegak
hukum dalam hal ini instansi kejaksanaan dan kepolisian dapat benarkan, karena masih
didalam koridor kewenangan ekseutif dimana kedua lembaga tersebut adalah untuk membantu
tugas kepala negara didalam penegakan hukum. Akan tetapi terhadap lembaga peradilan
dimana kewenangan eksekutif tidak dapat mempengaruhi kewenangan lembaga yudikatif yang
berasarkan undang-undang satu atap dan undang-undang kekuasaan kehakiman tidak dapat
dipengaruhi oleh pihak manapun juga(lembaga ini berdiri dibidang kekuasaan kehakiman).
Permasalahan utama dan gejolak sosiologis dan spikologis pada kasus ini adalah dimana
jejang penegakan hukum didalam wilayah peradilan adalah upaya penyelidikan dan
penyidikan pada pihak kepolisian dan upaya penuntutan pada kejaksaan yang kemudian
dilanjukan sampai tingkat peradilan yang merupakan wilayah hukum kekuasaan kehakiman
yang juga mengatur kewenangan kepolisian dan kejaksaaan.
Pandangan hukum kacamata sosiologi hukum terhadap kebijakan maupun kewenangan
yang dilakukan oleh lembaga eksekutif terlihat telah keluar jalur sistim hukum yang baku
yaitu masalah-masalah kepatutam dan kebiasaan yang telah hidup didalam sistim hukum
negara Republik Indonesia, untuk jelasnya bahwa kekuasaan kehakiman adalah ranah hukum
atau wilayah beradilan yang mengatur kewenangan peradilan yang menundukkan diri kepada
Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, kewenangan kejaksaan dan kewenangan kepolisian
dalam satu payung hukum didalam melaksanakan penegakan hukum di Negara Indonesia.

8
.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 30 Tahun 2002 Pasal 1 : Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud
dengan : 1. Tindak Pidana Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2. P e n y e l e n g g a r a N e g a r a a d a l a h
p e n y e l e n g g a r a n e g a r a sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara
Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dan 3. Pemberantasan tindak pidana korupsi adalah
serangkaian tindakan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana k o r u p s i m e l a l u i u p a y a k o o r d i n a s i , s u p e r v i s i ,
m o n i t o r , penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan peran serta masyarakat
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan demikian bahwa secara faktor internal, dimana kewenangan lembaga eksekutif
seakan-akan telah melakukan interfensi terhadap lembaga atau institusi penegak hukum yang
jelas-jelas bahwa institusi tersebut tidak dapat dipengaruhi oleh kekuatan politik9 apapun, dan
yang menjadi masalah utama disini adalah mengenai kebijakan yang yang diambil lembaga
eksekutif tersebut yaitu dengan berdalih kepada landasan spikologis dan sosiologi. Padahal
jika tetap nganut kepada sistim hukum yang berlaku yaitu konstitusi, kebijakan tersebut telah
dianggap melanggar kaidah kepatutan dan kaidah kebiasaan yang sangat bertentangan dengan
kebiasaan dan undang-undang yang telah hidup didalam masyarakat hukum itu sendiri.
Analisa Eksternal10 terhadap kebijakan lembaga eksekutif dengan dasar hasil dari
rekomendasi Tim delapan tenang pembebasan kasus Bibit dan Chandra adalah merupakan
suatu kebijakan yang bersifat lintas sektoral yang seharus tidak perlu dilakukan oleh lembaga
eksekutif tersebut, hal ini mengingat bahwa sistim hukum yang mengatur lembaga yudikatif
ini adalah suatu lembaga yang tidak dapat dipengaruhi siapapun juga (jika kita mau konsisten

9
.UU Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002, Pasal 50 : (5).Dalam hal suatu tindak pidana korupsi terjadi dan
Komisi Pemberantasan Korupsi belum mlakukan penyidikan, sedangkan perkara tersebut telah dilakukan penyidikan oleh
k e p o l i s i a n a t a u k e j a k s a a n , i n s t a n s i t e r s e b u t w a j i b memberitahukan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi paling
lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan. (6).Penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian
atau kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan koordinasi secara terus menerus dengan Komisi Pemberantasan
Korupsi. (7). Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mulai melakukan penyidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. (8). Dalam hal penyidikan dilakukan secara
bersamaan oleh kepolisian dan/atau kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi, penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau
kejaksaan tersebut segera dihentikan.
10
. UU Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006, Bab III : Kriminalitas dan Penegakan Hukum, memuat Penyuapan
Pejabat-pejabat Publik Nasional, Penyuapan Pejabatpejabat Publik Asing dan Pejabat-pejabat Organisasi-Organisasi
Internasional Publik; Penggelapan, Penyalahgunaan atau Penyimpangan lain Kekayaan oleh Pejabat Publik;
Memperdagangkan Pengaruh; Penyalahgunaan Fungsi; Memperkaya Din Secara Tidak Sah; Penyuapan di Sektor
Swasta; Penggelapan Kekayaan di Sektor Swasta; Pencucian Hasil-Hasil Kejahatan; Penyembunyian; Penghalangan
Jalannya Proses Pengadilan; Tanggung Jawab Badan-badan Hukum; Keikutsertaan dan Percobaan; Pengetahuan, Maksud dan
Tujuan Sebagai Unsur Kejahatan; Aturan Pembatasan; Penuntutan dan Pengadilan, dan Saksi-saksi; Pembekuan,
Penyitaan dan Perampasan; Perlindungan para Saksi, Ahli dan Korban; Perlindungan bagi Orang-orang yang
Melaporkan; Akibat-akibat Tindakan Korupsi; Kompensasi atas Kerugian; Badan-badan Berwenang Khusus; Kerja Sama
dengan Badan-badan Penegak Hukum; Kerja Sama antar Badan-badan Berwenang Nasional; Kerja Sama antara Badan-badan
Berwenang Nasional dan Sektor Swasta; Kerahasian Bank; Catatan Kejahatan; dan Yurisdiksi.
kepada Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman)11, karena undang-undang ini mempunyai
otoritas tersendiri didalam hal penegakan hukum di Republik ini.
Jelaslah bahwa sistim hukum negara Republik Indonesia telah keluar dari koridor
sistim hukum yang sudah berlangsung sejak lama, jika pada setiap penangan masalah dengan
berdalih pada landasan spikologis dan sosiologis maka akan dapat dipastikan bahwa sistim
hukum didalam upaya menegakan hukum akan menjadi bias, karena setiap terjadi kasus yang
merupakan sebagai ranah hukum peradilan, kejaksaan dan kepolisian dapat dihentikan oleh
suatu kebijakan politis atau kebijakan eksekuitif, yang akan berdampak negatif baik secara
faktor internal maupun secara faktor ekternal terhadap lembaga yang berada dibawah payung
hukum yaitu kekuasaan kehakiman. Jika demikian adanya, maka penegakan keadilan dan
kepastian hukum untuk kepentingan dan keamanan rakyat maupun Bangsa Indonesia tidak
akan berjalan dengan baik, sebagai akibat hukumnya maka akan menimbulkan dampak sosila
negatif dikalangan masyrakat hukum yaitu dengan memudarnya rasa percaya kepada lembaga
peradilan, kejaksanaan dan kepolisian karena tidak dapat menciptakan rasa keadilan dan
kepastian hukum.
Dengan demikian bahwa analisa internal dan analisa eksternal dari suatu kebijakan
yang bersifat politis belum tentu akan berlaku adil dan menciptakan kepastian hukum didalam
suatu negara, karena berdasarkan analisa eksternal bahwa kebijakan internal telah
membelenggu kebijakan eksternal yang memang sudah merupakan kewenangan yang
diberikan oleh Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman sebagai payung hukum lembaga-
lembaga penegak hukum didalam menciptakan rasa keadilan dan kepastian hukum.

11
.UU.RI Nomor 48 Tahun 2009, Pasal 38, ( 1 ) S e l a i n M a h k a m a h A g u n g d a n b a d a n p e r a d i l a n d i
bawahnya serta Mahkamah Konstitusi, terdapat badanbadan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasan kehakiman. (2) Fungsi
yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.penyelidikan dan penyidikan; b.
penuntutan, c pelaksanaan putusan, c. pemberian jasa hukum; dan d. e. penyelesaian sengketa di luar pengadilan. (3) Ketentuan
mengenai badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang.
Bab. III
Penutup

Kesimpulan :

1. Gerakan sosial adalah sebagai reaksi pada bagian dari individu atau kelompok untuk kondisi
yang tidak memuaskan dalam kehidupan social, yaitu adanya gesekan sosial dan mental yang
berkembang sebagai upaya untuk mewujudkan hubungan yang harmonis. Dimana terdapat
misi otoritas didalam hal pemberantasan korupsi, secara konvensional berbasis sebagai
penegakan hukum dan perbaikan pengawasan melalui institusi kenegaraan. Dengan bersandar
UU No. 30 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, UU No. 13 tahun 2006
tentang perlindungan saksi dan korban, UU No. 7 Tahun 2006 tentang komisi perserikatan
bangsa-bangsa anti korupsi, Undang-Undang Nomor. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung
RI. (Undang-Undang satu Atap), Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman serta Undang-Undang Nomor. 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi.

2. Dlam hal penyelesaikan kasus bibit dan chandra adalah merupakan wilayah hukum peradilan
yang berada dibawah payung hukum Kekuasaan Kehakiman, akan tetapi karena dalam
perkembangannya muncul ketidak percayaan yang besar kepada Polri dan Kejaksaan Agung,
maka atas dasar solusi dan opsi lain yang lebih baik adalah dimana kepolisian dan kejaksaan
harus menghentikan kasus tersebut dengan opsi tetap mempertimbangkan azas keadilan.
Terdapat steadmant yang berkaitan dengan kasus hukum pimpinan nonaktif KPK harus
diselesaikan di luar pengadilan (out of court settlement), akan tetapi steamant ini ternyata tidak
memuaskan masyarakat hukum karena adanya suatu penilaian yang sangat membingungkan.
Dan Penerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) oleh kepolisian atau penerbitan
surat keputusan penghentian penuntutan (SKPP) oleh kejaksaan, yang justru kedua lembaga
tersebut tetap melanjutkan proses hukum kasus Bibit dan Chandra, dengan mengacu kepada
pasal-pasal hukum acara yang tidak dapat meghentikan perkara yang dianggap cukup bukti.

3. Fakta yang diterima oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menerima tuntutan praperadilan
yang diajukan tersangka kasus mafia hukum Anggodo Widjojo, maka kasus Bibit Samad
Rianto dan Chandra M. Hamzah harus dilanjutkan karena Surat Keputusan Penghentian
Penuntutan (SKPP) yang dikeluarkan Kejaksaan Agung dinilai tidak sah dan bertentangan
dengan ketentuan hukum acara dan undang-undang yang berlaku. Terdapat suatu steadmant
yang menyatakan bahwa keputusan PN Jakarta Selatan adalah sebagai pengingkaran terhadap
keadilan (denial of justice), karena tidak mau mengikuti rekomendasi Tim. Steadmant ini
menuinjukkan bahwa telah terjadi pertentangan antar dua wilayah kewenangan antara
Kejaksaan dengan tim delapan yang yang seharusnya tidak perlu terjadi jika mengacu dan
merujuk kepada Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.

4. Menurut kacamata sosiologi hukum bahwa sistim hukum yang hidup didalam tatanan
masyarakat hukum telah semakin pudar karena pandangan terhadap hukum telah keliru dan
berada dalam kondisi darurat hukum, karena sudah tidak dapat membedakan yang benar dan
yang salah dengan mudah untuk dibolak-balik fakta. Dalam masyarakat hukum sangat perlu
dilakukan suatu tindakan yang keras karena dengan melihat pada kondisi yang tidak boleh
dibiarkan berlarut-larut yang akan menimbulkan kekacauan sosial dalam suatu Negara
Indonesia sangat tidak mengharapkan adanya kekacauan sosial, karena akan menimbulkan
pandangan sebagai negara yang gagal (fail state) karena tidak mampu mejalankan dan
menegakkan hukum didalam negara.
5. Bahwa kebijakan lembaga eksekutif harus memperhatikan dasar hukum lembaga yudikatif
yaitu suatu lembaga yang tidak dapat dipengaruhi siapapun juga yang berada dibawah payung
hukum Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, karena undang-undang ini mempunyai
otoritas tersendiri didalam hal penegakan hukum. Dengan demikian setiap kebijakan yang
bersifat politis belum tentu akan berlaku adil dan menciptakan kepastian hukum didalam suatu
negara, kebijakan eksekutif telah membelenggu kebijakan yudikatif yang merupakan
kewenangan mutlak yang tidak dapat dipengaruhi oleh kuatan apapun juga didalam hal upaya
penegakan hukum. Perlu diperhatikan jika secara hirarki internal kekuasaan eksekutif dapat
memerintahkan kepada instansi kejaksaan dan instansi kepolisian untuk menghentikan perkara
dan menutup perkara, akan tetapi jangan lupa bahwa kejaksaan dan kepolisian tunduk dan
menundukkan diri kepada Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009.

DAFTRA PUSTAKA

Ahmad Ali, Menguak Tabir Hukum (suatu Kajian Filosofi dan Sosiologis, Gunung Agung,
Jakata, 2002.
Engineering Interpretation diambil dari Bab VII buku Rocoe Pound yang berjudul :
Interpretation of Legal History. (USA : Holmes Heach, Plorida, 1986).
---------Liputan6.com, Jakarta, 23/ 11/2009.
Muhammad –Hufy, Ahmad, Akhlak Nabi Muhammad SAW : Keluhuran dan Kemuliaan.
(jakarta : Bulan Bintang, 1987), h. 15. Bandingkan uraian, Ahmadamin, Etika (Ilmu
Akhlak), ( Jakarta : Bulan Bintang, 1987).
Ronny Hanitijo Soemitro, Beberapa Masalah Dalam Studi Hukum dan Masyarakat, (Bandung,
Remadja Karya, 198).
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung RI.
(Undang-Undang satu Atap).
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
(perubahan UU No. 4 Tahun 2004).
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor. 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi.
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban..
Republik Indonesia Undang-Undang Nomor. 7 Tahun 2006 tentang Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003..
Soejono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhdap Masalah-Masalah Sosial,
Penerbit umni, Bandung, 1981.
Soerjono Soekanto dan Mustapa Abdullah, Hukum Adat Indonesia. (Jakarta : Rajawali Press,
1983).
---------Tempo Interaktif, jakarta, selasa 22 September 2009.
Teten Basuki, “Gerakan Sosial Anti Korupsi” tulisan ini diambil dari internet www.
yahoo.com, tgl 2 Maret 2004.
Zainuddin Ali, Ilmu Hukum dalam Masyarakat Indonesia, (Palu, YMIB, 2001).