Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU BRAND SWITCHING

PADA HANDPHONE GSM

SIGNIFICANT FACTOR ANALYSIS ON BRAND SWITCHING FOR


GSM’S CELLULAR PHONE
Maira Himadhani dan Reinny Patrisina
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Andalas
Kampus Limau Manih, Padang, Indonesia
e-mail: rpatrisina@ft.unand.ac.id

Abstract

Many things become a consideration for customers in choosing some products. Today,
the customer’s behavior in choosing products doesn’t only depend on primary demand
but also secondary demand like brand. The consumers always try to find a good one that
caused highly brand switching such as on GSM’s cellular phone. Price, quality,
promotion, distribution, product’s image and the closest people’s influences give many
option for the consumers in choosing GSM‘s cellular phone. The aim of this research is
to know significant factors that influence brand switching for customer’s GSM’s cellular
phone in Padang by using Structural Equation Modeling (SEM) and type of consumer’s
loyalty. In this research, seven model’s alternatives are developed. The best model has
Chi Square’s value lower than 276,9. The significant factors that influence brand
switching (Y) for consumer’s GSM handphone in Padang are quality (S) with a
significant coefficient 0,017, promotion (T) with significant coefficient 0,03, attraction by
competitor (U) with coefficient of significant -0,038 and the closest people’s influences
(X) with significance coefficient 0,05. The consumer’s type of loyalty for GSM handphone
in Padang is a liking the brand.

Keywords: Brand Switching, Loyalty, SEM, GSM

1. PENDAHULUAN
Perubahan teknologi dan arus informasi yang semakin maju menyebabkan percepatan laju
persaingan dalam dunia usaha. Hal ini mendorong setiap pelaku usaha untuk menawarkan
produknya secara lebih baik sehingga dapat dilirik oleh konsumen. Di sisi lain, dalam pemilihan
suatu produk banyak hal yang dipertimbangkan konsumen, tidak terbatas pada fungsi utama yang
bisa diberikan pada suatu produk (primary demand), tetapi berkembang menjadi kebutuhan
sekunder (secondary demand) yaitu keinginan konsumen terhadap suatu merek [Ribhan, 2006, hal
94]. Pola perilaku konsumen yang demikian menyebabkan kecenderungan konsumen untuk
berpindah merek menjadi lebih tinggi, karena konsumen termotivasi untuk mencari alternatif yang
lebih baik [Darsono, 2004, hal 164]. Hal ini juga didukung oleh Dharmmesta yang melihat
kecenderungan pola perilaku konsumen meliputi 3 hal: (1) konsumen mempunyai perhatian yang
lebih besar terhadap kualitas dan nilai suatu merek, (2) waktu akan menjadi sangat berharga bagi
konsumen, (3) dan kesadaran konsumen terhadap harga semakin besar.
Merek (brand) bukan sekedar sebuah nama, bukan juga sekedar sebuah logo atau simbol.
Brand adalah “payung” yang mempresentasikan suatu produk. Brand merupakan ekuitas
perusahaan (kekayaan bersih sebuah perusahaan) yang menambah value bagi pelanggan untuk
memperkuat kepuasannya. Brand dapat digunakan sebagai jaminan atas mutu produk atau jasa dan
membangun kelangsungan dari bisnis yang ada serta loyalitas konsumen terhadap brand tersebut.
Namun, pada kenyataannya tidak semua konsumen akan loyal dengan satu merek tertentu,
mereka sering kali berpindah dari satu merek ke merek lain atau yang dikenal dengan istilah brand
switching. Reicheld dalam (Ribhan, 2006) mengemukakan bukti bahwa dari para pelanggan yang
puas atau sangat puas, antara 65% sampai 85% akan berpindah ke merek lain (meraih loyalitas
pelanggan). Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa dengan hanya memuaskan pelanggan tidak
cukup menjaga pelanggan agar tetap loyal, sementara di lain pihak pelanggan tetap bebas dalam
membuat pilihan terhadap suatu merek.
Persaingan antara perusahaan telepon seluler didominasi oleh telepon seluler GSM (Global
System For Mobile Communicaton) dengan jumlah pengguna mencapai 87% dari jumlah pengguna
telepon seluler dari tahun ke tahun. Menurut majalah SWA tahun 2004, tiga merek paling laris dan
diminati konsumen adalah Nokia, Siemens dan Sonny E. Pada tahun 2006 posisinya berubah
menjadi Nokia, Sonny E, Siemens, sedangkan tahun 2009 menurut majalah Markerting berubah
lagi menjadi Nokia, Sonny E, Motorolla, Samsung dan BenQ Siemens (Majalah Marketing, Edisi
Februari 2009). Kelima merek tersebut memiliki pengaruh yang baik dimata konsumen. Sehingga
peranan merek tidak lagi dianggap sebagai sekedar nama yang menjadi identitas suatu produk yang
satu dengan yang lainnya tetapi merek telah menjadi indikator yang penting.
Bervariasinya harga, kualitas, bentuk promosi, daya tarik pesaing, distribusi, image yang
diberikan suatu produk dan pengaruh orang terdekat terhadap merek handphone berbasis GSM,
memberikan banyak pilihan kepada konsumen. Hal ini menyebabkan berubahnya selera kosumen
dalam kurun waktu singkat dan akhirnya akan berganti merek atau tipe handphone dari suatu merek
ke merek lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
keputusan brand switching dan tipe loyalitas konsumen handphone GSM di Kota Padang.

2. METODOLOGI
2.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang
pernah melakukan brand switching merek handphone GSM di kota Padang. Responden dipilih
dengan menggunakan teknik snowball sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah
sebanyak 180 orang.
Variabel yang diteliti untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan brand
switching pengguna handphone GSM di Kota Padang.adalah kualitas, harga, promosi, daya tarik
pesaing, distribusi, pengaruh orang terdekat, dan image.

Kuesioner yang dirancang diuji kelayakannya dengan menggunakan uji validitas dan uji
reliabilitas. Langkah-langkah uji validitas kuesioner, yaitu sebagai berikut (Singarimbun, 1989):
1. Menghitung total skor untuk setiap jawaban responden.
n
Yi   X ij (1)
j 1

Dimana: Yi = Total skor jawaban untuk responden ke-i


Xij = Skor jawaban ke-j untuk responden ke-i
2. Menghitung kuadrat skor jawaban dan kuadrat total skor jawaban responden untuk
masing-masing pertanyaan
3. Menghitung hasil kali skor jawaban dan total skor untuk setiap responden (xy).
4. Menghitung korelasi product moment (r) untuk tiap pertanyaan.
n
 n  n 
n  X ij Yi    X ij    Yi 
rxy  i 1  i 1   i1 
 n 2  n   n 2  n  
2 2

n X ij    X ij  n Yi    Yi  
 i1  i1   i1  i 1  
(2)
dimana:
r = Nilai korelasi product moment antara x dan y
n = Jumlah sampel
5. Membandingkan nilai rhitung dengan rtabel untuk n dan taraf kesalahan 5%. Jika
rhitung > rtabel , maka pertanyaan tersebut dapat dinyatakan valid, sebaliknya jika
rhitung < rtabel maka pertanyaan tersebut tidak valid.
Sedangkan uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metode Alfa Cronbach (  )
dengan nilai  adalah 0,6.

2.2 Pengolahan Data

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan brand switching pengguna handphone GSM


di Kota Padang dianalisis dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM).
Analisis SEM terdiri atas analisis terhadap spesifikasi, identifikasi, estimasi, uji kecocokan dan
respesifikasi model.
1. Spesifikasi Model
Tahap ini berkaitan dengan pembentukan model awal persamaan struktural, sebelum dilakukan
estimasi. Spesifikasi model terdiri dari:
a. Spesifikasi Model Pengukuran
Persamaan umum model pengukuran:
Data = Model + Residual
Indikator = Variabel Laten + Kesalahan Pengukuran
b. Spesifikasi Model Struktural
Persamaan umum model struktural :
Variabel Dependen = Variabel Independen + Kesalahan Struktural
c. Path diagram

2. Identifikasi
Tahap ini bertujuan mengkaji kemungkinan diperolehnya nilai yang unik untuk setiap
parameter yang ada. Identifikasi model dilakukan dengan mengitung degree of freedom
(derajat kebebasan) dengan persamaan sebagai berikut:
1
df  ( p ( p  1))  k
2
Dimana: p = jumlah indikator
k = jumlah variabel yang diestimasi
3. Estimasi
Estimator yang digunakan pada penelitian ini yaitu Maximum Likelihood Estimator (MLE).

4. Uji Kecocokan Model


Pada penelitian ini digunakan dua ukuran uji kecocokan model yaitu Root mean square error
of approximation (RMSEA) dan comparative fit index (CFI).

5. Respesifikasi
Langkah-langkah yang dilakukan dalam modifikasi model yaitu [Singgih, 2007, hal.152]:
a. Memilih Alternatif Modifikasi
b. Melakukan Proses Modifikasi
c. Pengujian Ulang

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Analisis Spesifikasi Model
a. Spesifikasi Model Pengukuran
Tabel 1 memperlihatkan rekapitulasi variabel laten dan manifest (Indikator). Dari Tabel 1
dapat dilihat bahwa terdapat delapan variabel laten dan masing-masingnya memiliki lebih dari satu
variabel manifest (indikator).

Tabel 1 Rekapitulasi Variabel Laten dan Manifest


Variabel Laten Variabel Manifest (Indikator)
Harga yang ditawarkan merek handphone
R1
tersebut lebih murah dari merek lain
Harga purna jual merek handphone tersebut
R2
Harga ( R ) bagus (tinggi)
Harga yang diberikan pada merek handphone
tersebut sesuai dengan kualitas produk yang R3
ditawarkan
Kualitas (kinerja) yang ditawarkan oleh merek
handphone tersebut tidak dimiliki oleh merek S1
handphone yang lain
Garansi yang diberikan oleh merek
S2
handphone tersebut
Fitur merek handphone tersebut memuaskan
S3
kebutuhan Anda
Kemudahan dalam menggunakan fitur-fitur pada
S4
merek handphone tersebut
Kualitas ( S )
Tidak Adanya isu negatif dalam penggunaan
S5
merek handphone tersebut
Layanan reparasi merek handphone tersebut
S6
mudah ditemukan
Komponen merek handpohone tersebut tidak
S7
mudah rusak
Desain, kapasitas (memori) dan konektifitas
S8
model handphone tersebut menarik
Tabel 1 Rekapitulasi Variabel Laten dan Manifest (Lanjutan)
Variabel Laten Variabel Manifest (Indikator)
Merek handphone tersebut memberikan
potongan harga bagi konsumennya pada season T1
tertentu
Merek handphone tersebut memberikan
penawaran berupa diskon khusus jika Anda T2
membeli produknya pada jumlah tertentu
Merek handphone tersebut memberikan brosur
T3
gratis mengenai produknya
Merek handphone tersebut banyak digunakan
oleh artis atau kalangan tertentu yang Anda T4
Promosi ( T ) kagumi
Merek handphone tersedia dalam jumlah
T5
tertentu (limited edition )
Merek handphone menyediakan display yang
T6
menarik
Merek Handphone tersebut memberikan bonus
atau hadiah tertentu (antiradiasi, kartu perdana, T7
mainan handphone dll)

Merek handphone tersebut menunjukkan cara


penggunaan dan perawatan yang mudah sehingga T8
Anda mempunyai minat untuk membelinya

Merek handphone tersebut menawarkan variasi


produk yang lebih banyak jika dibandingkan U1
dengan merek lain

Daya Tarik Pesaing Merek handphone tersebut memiliki penawaran


U2
(U) harga yang menarik dibandingkan merek lain

Merek handphone tersebut sering (frekuensi)


U3
mengeluarkan produk baru daripada merek lain

Merek handphone tersebut tersedia di lokasi-


V1
lokasi strategis
Kemudahan dalam mencari dan membeli
Distribusi (V)
accessories asli dari merek handphone tersebut
V2
(bluetooth, hands free , baterai dll)di counter-
counter yang ada
Anda merasakan kebanggaan tersendiri ketika
menggunakan produk merek handphone W1
Image (W) tersebut dibandingkan merek lainnya
Merek handphone tersebut memiliki citra yang
W2
baik di masayarakat
Pengaruh dari Orang Rekomendasi teman X1
Terdekat (X) Rekomendasi keluarga X2
Anda akan menggunakan merek handphone
yang lain jika kriteria yang Anda inginkan tidak
Y1
Keputusan Brand tersedia pada merek handphone yang Anda
Switching (Y) gunakan sekarang
Anda selalu ingin mencoba produk-produk baru
Y2
dari merek handphone yang lain
Bentuk persamaan model pengukuran :

• R1 = L1*R + e1
• R2 = L2*R + e2
• R3 = L3*R + e3
• S1 = L4*S + e4
• S2 = L5*S + e5
• S3 = L6*S + e6
• S4 = L7*S + e7
• S5 = L8*S + e8
• S6 = L9*S + e9
• S7 = L10*S + e10
• S8 = L11*S + e11
• T1 = L12*T + e12
• T2 = L13*T+ e13
• T3 = L14*T + e14
• T 4 = L15*T + e15
• T 5 = L16*T + e16
• T 6 = L17*T + e17
• T 7 = L18*T + e18
• T 8 = L19*T + e19
• U1 = L20*U + e20
• U2 = L21*U + e21
• U3 = L22*U + e22
• V1 = L23*V + e23
• V2 = L24*V + e24
• W1 = L25*W + e25
• W2 = L26*W + e26
• X1 = L27*X + e27
• X2 = L28*X + e28
• Y1 = L29*Y + e29
• Y2 = L30*Y + e30

b. Spesifikasi Model Struktural


Variabel independen R, S, T, U, V, W, X mempengaruhi variabel dependen Y
Bentuk persamaan model struktural :

Y = G1*R + G2*S + G3*T + G4*U + G5*V + G6*W + G7*X + Z


c. Path Diagram
Setelah diketahui bentuk persamaan model pengukuran dan model struktural, selanjutnya
dibuat path diagram dari model tersebut. Gambar 1 memperlihatkan path diagram dari basic
model.
1
e1 R1
1 1 1
e4 S1 e2 R2 R
1 1
e5 S2 e3 R3
1
e6 S3
1
e7 S4
1 1 S
e8 S5 e29 e30
1 1 1
e9 S6
1 Y1 Y2
e10 S7 1
1
e11 S8
Y
1
e12 T1 1
1
e13 T2
1 e31
e14 T3
1
e15 T4
1 T
e16 T5
1
e17 T6 1
1
e18 T7
1 X
e19 T8 1
1
e20 U1 1 X1 X2
1 1 1
e21 U2
1 U e27 e28
e22 U3

1
e25 V1
1 1 V W
e26 V2 1

W1 W2
1 1

e23 e24

Gambar 1 Path Diagram Basic Model

3.2 Analisis Identifikasi


Degree of freedom (derajat kebebasan) dari model di atas adalah sebagai berikut:
1 1
df  ( p ( p  1))  k  ( 30 ( 30  1))  k = 465 – 88 = 377 (df > 0 )
2 2
Nilai df > 0, berarti model yang dispesifikasi termasuk over-identified sehingga memungkinkan
untuk dievaluasi secara utuh.

3.3 Analisis Estimasi


Penggunaan Maximum Likelihood Estimator (MLE) pada penelitian ini dimungkinkan
karena ukuran sampel yang digunakan dalam pemodelan struktural memenuhi syarat minimum
yang ditetapkan yaitu 100 sampel dan selanjutnya menggunakan perbandingan 5 sampai 10 kali
jumlah indikator. Disamping itu semua variabel yang terdapat dalam model telah memenuhi syarat
normalitas, tidak terdapat outliers dan problem multikolinieritas.
Dari analisis estimasi yang dilakukan diperoleh nilai estimasi parameter terbesar
(regression weights) yaitu 1,323, ditunjukkan oleh hubungan indikator Y 2 dengan konstruknya Y
(keputusan brand switching) dengan standar error sebesar 0,453 dan CR sebesar 2,92 (>2). Hal ini
berarti antara indikator Y2 dengan konstruknya Y terdapat hubungan yang nyata atau signifikan.
Sedangkan nilai estimasi terkecil diperlihatkan oleh hubungan antara indikator T 1 dengan
konstruknya T yaitu sebesar 0,484. Hal ini berarti jika nilai T meningkat sebesar 1 maka nilai T 1
meningkat sebesar 0,484. Dan nilai standar errornya menunjukkan angka sebesar 0,145 dan CR
sebesar 4,441. Dengan demikian semua indikator yang diukur mempunyai hubungan yang
signifikan dengan konstruknya.
Untuk menjelaskan seberapa erat hubungan antar variabel dihitung nilai standardized
loading factor (SLF). Nilai SLF yang baik adalah ≥ 0,5 sehingga jika suatu indikator memiliki nilai
loading factor < 0,5 maka indikator terkait dapat dihapus dari model. Hal ini berarti hubungan
indikator tersebut dengan konstruknya lemah. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa hubungan
indikator dan konstruk yang paling erat ditunjukkan oleh indikator X 2 dengan konstruknya X yaitu
sebesar 0,833 (>0,5). Sedangkan nilai SLF untuk indikator S 1, T1, T4, T5, T6 dan U3 yang masing-
masingnya menjelaskan konstruk S, T dan U berada dibawah 0,5, secara berurutan yaitu 0,478;
0,31; 0,465; 0,479; 0,451 dan 0,435. Dengan demikian keenam indikator tersebut dikeluarkan dari
model.
Hasil estimasi varian terdiri dari estimasi parameter, standar error, thitung dan nilai P.
Kesalahan pengukuran terbesar terlihat pada e16 yaitu sebesar 0,734. Artinya, varians kesalahan
pengukuran indikator T5 terhadap konstruk T (variabel promosi) adalah sebesar 0,734 dengan
standar error sebesar 0,085 dan thitung sebesar 8,638 (>2). Hal ini mengindikasikan bahwa e16
signifikan dalam mengukur kesalahan pengukuran parameter. Sedangkan nilai kesalahan
pengukuran parameter terkecil yaitu pada e28 sebesar 0,269. Artinya, varians kesalahan
pengukuran indikator X2 terhadap konstruk X (varibel pengaruh orang terdekat) adalah sebesar
0,269 dengan standar error sebesar 0,121 dan thitung sebesar 2,218 (>2), yang mengindikasikan
e28 signifikan dalam mengukur kesalahan pengukuran parameter.

3.4 Analisis Kecocokan Model


a. Model Pengukuran (Measurement Model)
Tabel 2 memperlihatkan tingkat kecocokan measurement model dengan menggunakan
metoda good of fit RMSEA dan CFI.
Tabel 2 Hasil Tingkat Kecocokan Measurement Model
Tingkat
No. Ukuran GOF Target Tingkat Kecocokan Hasil Estimasi
Kecocokan
1 RMSEA ≤0,08 0,062 Baik
2 CFI ≥0,9 0,852 ≈ 0,9 Baik

Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa nilai RMSEA dan CFI berada pada nilai target tingkat
kecocokan. Artinya, matrik kovarian sampel tidak jauh berbeda dari matrik kovarian estimasi dan
model yang diusulkan lebih baik dari baseline model. Berdasarkan 2 alat uji kecocokan (goodness
of fit) yang digunakan dapat disimpulkan bahwa measurement model yang dibuat telah cocok
dengan data.

Setelah model cocok, proses selanjutnya adalah melihat apakah indikator-indikator yang
ada pada sebuah konstruk memang merupakan bagian atau dapat menjelaskan konstruk tersebut.
Proses tersebut dinamakan uji validitas dan reliabilitas konstruk (variabel laten). Untuk mengukur
validitas pada SEM dapat menggunakan factor loading dan reliabilitas dengan menggunakan
composite reliability measure (ukuran reliabilitas komposit) dan variance extracted measure
(ukuran ekstrak varian). Tabel 3 memperlihatkan rekapitulasi nilai factor loading untuk setiap
indikator terhadap konstruknya. Sedangkan nilai variance extracted dan construct reliability untuk
masing- masing konstruk dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3 Rekapitulasi Nilai Factor Loading Setiap Indikator terhadap Konstruk
Estimate
R2 <--- R 0,667
R1 <--- R 0,517
U1 <--- U 0,610
U2 <--- U 0,691
W2 <--- W 0,765
W1 <--- W 0,515
X2 <--- X 0,851
X1 <--- X 0,687
R3 <--- R 0,708
Y1 <--- Y 0,610
Y2 <--- Y 0,560
V2 <--- V 0,677
V1 <--- V 0,562
T8 <--- T 0,675
T7 <--- T 0,580
T3 <--- T 0,562
T2 <--- T 0,552
S8 <--- S 0,597
S7 <--- S 0,666
S6 <--- S 0,523
S5 <--- S 0,521
S4 <--- S 0,634
S3 <--- S 0,673
S2 <--- S 0,518

Tabel 4 Nilai Variance Extracted dan Construct Reliability Masing- masing Konstruk
Variance Construct
No. Variabel Laten
Extracted (VE) Realibility (CR)
1 R (Harga) 0,431 0,690
2 S (Kualitas) 0,429 0,839
3 T (Promosi) 0,394 0,721
4 U (Daya Tarik Pesaing) 0,526 0,688
5 V (Distribusi) 0,415 0,585
6 W (Image ) 0,489 0,649
7 X (Pengaruh Orang Terdekat) 0,639 0,778
8 Y (Keputusan Brand Switching ) 0,331 0,496

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai factor loading indikator terhadap
konstruknya sudah lebih besar dari 0,5, sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator yang ada
sudah dapat menjelaskan masing-masing variabel laten (konstruk). Nilai VE dan CR yang
mendekati 0,5 dan 0,7 pada Tabel 4 mengindikasikan bahwa indikator-indikator yang terdapat pada
model pengukuran (measurement model) secara komposit dan konsisten dapat mengukur konstruk
(variabel laten) atau reliabilitas model pengukuran adalah baik.

b. Model Struktural (Structural Model)


Hasil uji kecocokan model struktural mempunyai hasil yang sama dengan uji model
pengukuran. Hal ini terjadi karena bentuk model yang sama, sedangakan yang membedakan antara
model struktural dan model pengukuran yaitu pada model pengukuran semua konstruk dianggap
sebagai variabel independen dan mempunyai hubungan saling mempengaruhi satu sama lain.
Sedangkan pada struktural hubungan antar konstruk yaitu hubungan kausal (sebab akibat),
terdapatnya variabel dependen dan independen.
Berdasarkan uji hipotesis disimpulkan bahwa dari tujuh variabel yang diteliti hanya
variabel daya tarik pesaing (U) yang berpengaruh secara nyata terhadap keputusan brand switching
(Y) dengan nilai estimasi parameter sebesar -1,199. Jika dilihat dari nilai probabilitasnya, maka
diketahui bahwa variabel daya tarik pesaing memiliki pengaruh secara nyata terhadap keputusan
perpindahan merek karena memiliki nilai P sebesar 0,044 < 0,05. Sehingga didapatkan model
matematis hubungan pengaruh variabel daya tarik pesaing (U) terhadap keputusan brand switching
(Y) seperti berikut :
Y = -1,199 U

3.5 Respesifikasi
Pada penelitian ini dikembangkan 7 alternatif model struktural, seperti terlihat pada Tabel
5. Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa alternatif ketujuh merupakan model yang terbaik diantara enam
model lainnya karena memiliki nilai Chi-Square yang paling rendah yaitu sebesar 276,9. Gambar 2
memperlihatkan model struktural hasil modifikasi (model ketujuh).
Tabel 5 Tujuh Alternatif Model yang Dikembangkan
Gambar 2 Model Struktural Hasil Modifikasi
Model ini memperlihatkan bahwa faktor yang berpengaruh secara nyata terhadap
keputusan brand switching (Y) yaitu kualitas (S) dengan nilai estimasi parameter sebesar -0.534
dan koefisien signifikansi sebesar 0,017, promosi (T) dengan nilai estimasi parameter sebesar 0.601
dan koefisien signifikansi sebesar 0,03, daya tarik pesaing (U) dan pengaruh orang terdekat (X)
dengan nilai estimasi parameter sebesar -0.681 dan 0.221 dengan koefisien signifikansi masing-
masingnya sebesar 0,038 dan 0,05. Persamaan matematisnya adalah sebagai berikut:
Y = -0.534 S + 0.601 T – 0.681 U + 0.221 X

3.6 Analisis Brand Loyalty


Berdasarkan pengolahan yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwa tipe loyalitas
pengguna handphone (GSM) di kota Padang adalah tipe liking of the brand, yaitu sebanyak 47 %
responden. Artinya, konsumen handphone (GSM) di kota Padang memiliki kecenderungan suka
pada suatu merek tertentu. Dengan demikian pembeli yang masuk dalam kategori ini merupakan
pembeli yang sungguh-sungguh menyukai merek handphone (GSM) tersebut.

4. Kesimpulan
1. Pada penelitian ini diperoleh 7 alternatif model struktural dimana alternatif ketujuh merupakan
model yang terbaik karena memiliki nilai Chi-Square yang rendah dibandingkan alternatif
model lain yaitu sebesar 276,9.
2. Faktor yang berpengaruh secara berurutan terhadap keputusan brand switching (Y) handphone
(GSM) di Kota Padang yaitu kualitas (S) dengan koefisien signifikansi sebesar 0,017, promosi
(T) dengan koefisien signifikansi sebesar 0,03, daya tarik pesaing (U) dan pengaruh orang
terdekat (X) dengan koefisien signifikansi masing-masingnya sebesar 0,038 dan 0,05.
3. Tipe loyalitas konsumen handphone (GSM) di Kota Padang adalah tipe liking of the brand
dimana pembeli yang masuk dalam kategori ini merupakan pembeli yang sungguh-sungguh
menyukai merek tersebut.

5. Daftar Pustaka
1. Aaker, David A. Building Strong Brands. Penerbit Division of Simon & Schuster Inc. New
York, 1996
2. Assael, Henry. Consumer Behavior and Marketing Action, 6th edition, Singapore, Thomson
Learnings, 2005.
3. Dongoran, J. Principle of Marketing. Third Edition. New jersey. Prentice Hall international inc,
2001.
4. Hallowell, R. “The Relationships of Customer Satisfaction, Customer Loyalty, and
Profitability: an empirical study”, International Journal of Service Industry Management, Vol.
7, No. 4, pp. 27-42, 1996.
5. Jones, T.O., & W.E. Sasser. Why Satisfied Customers Defec, Harvard Business Review,
November- December, pp. 88-99, 1995.
6. Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran di Indonesia : Analisis, Perencanaan, Implementasi,
dan Pengendalian. Salemba Empat, Jakarta, 2002.
7. Kotler & Amstrong. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Erlangga, Jakarta, 2001.
8. Kusnendi. Model-model Persamaan Struktural. Penerbit Alfabeta, 2007.
9. Majalah SWA, Edisi September-Desember, 2004.
10. Majalah Swa No. 20, September Desember, 2006.
11. Majalah Marketing, Edisi Februari, 2009.
12. Mittal, B., & W.M. Lassar Why do customers switch? The dynamics of satisfaction versus
loyalty. The Journal of Services Marketing, Vol. 12, No. 3, pp. 177-194, 1998.
13. Mowen, J.C. Consumer Behavior. 4th Edition, Prentice Hall, 1995.
14. Rangkuti, Freddy. The Power of Brands. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 2002.
15. Santoso, Singgih. Structural Equation Modelling Konsep dan Aplikasi dengan AMOS, 2007.