Anda di halaman 1dari 110

BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN

(STUDI PERBANDINGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN


PSIKOLOGI)

SKRIPSI

DISUSUN DAN DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI'AH


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT
GUNA MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU
DALAM ILMU HUKUM ISLAM

OLEH:

AGUS SANWANI ARIF


NIM: 03360239

PEMBIMBING:

1. PROF. DR. KHOIRUDDIN NASUTION, M.A.


2. DRS. OCKTOBERRINSYAH, M.AG.

PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM


FAKULTAS SYARI'AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008

i
ABSTRAK

Pada dasarnya ketentuan tentang batas umur minimal perkawinan tidak


ditentukan secara tegas dalam literatur Hukum Islam. Ketentuan ini hanya
dibicarakan dalam syarat-syarat perkawinan. Namun, untuk menegakan prinsip
yang lima (ad-darūriyyah al-khams) serta mewujudkan maqāşid asy-syarī'ah
maka pembatasan umur dalam perkawinan dipandang perlu dan diatur dalam
undang-undang yang legal agar dapat ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh
masyarakat Indonesia.
Setelah ketentuan ini diatur dan diundangkan, pembatasan umur minimal
perkawinan bagi seseorang yang hendak melangsungkan pernikahan yang terdapat
dalam keputusan Inpres No. 1 Tahun 1991 Kompilasi Hukum Islam dalam
penerapannya ternyata masih mengalami dilema. Di satu sisi ketentuan ini
berimbas positif karena kasus pelecehan seksual yang sering terjadi terhadap
remaja bisa dikurangi dengan jalan melakukan pernikahan dini. Sedang di sisi
lain, banyaknya kasus perceraian yang terjadi di masyarakat justru karena suami-
isteri tersebut secara psikologis belum memiliki kematangan jiwa dan mental
dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Berbagai tarik ulur pendapat mengenai kemaslahatannya sering menjadi
bahan kajian saat ini. Melihat perkembangannya, banyak yang menyatakan bahwa
ketentuan tersebut sudah tidak layak lagi diterapkan mengingat banyaknya kasus
perceraian yang terjadi akibat dari, salah satunya pernikahan dini (yang dimaksud
dengan pernikahan dini disini adalah pernikahan yang terjadi pada saat umur
suami-isteri masih dalam tahap remaja yang belum memiliki sifat kedewasaan dan
kematangan jiwa).
Skripsi ini adalah penelitian tentang batas umur minimal perkawinan
(Studi Perbandingan Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi). Sedangkan jenis
penelitiannya adalah penelitian pustaka (library research) yang berusaha
menggali wacana pembatasan umur minimal perkawinan yang terdapat dalam
Kompilasi Hukum Islam dan ketentuan-ketentuan tertulis lain berdasarkan
prinsip-prinsip perkawinan dalam Islam. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan
secara kritik-analitik terhadap pandangan Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi
tentang batas minimal umur perkawinan. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik,
yaitu menggambarkan konsep-konsep pembatasan umur minimal dalam
perkawinan yang terdapat dalam Pasal 15 Kompilasi Hukum Islam. Kemudian
dianalisis dan dikomparasikan dengan kajian psikologi.
Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa
pembatasan umur minimal perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam
dimaksudkan untuk kemaslahatan keluarga dan mampu meraih tujuan
perkawinan. Pembatasan ini diperlukan mengingat banyaknya perkawinan di
bawah umur yang marak terjadi di masyarakat. Sehingga kalau hal ini terjadi
maka tujuan perkawinan yang diharapkan tidak akan terwujud karena yang akan
terjadi adalah sebaliknya, yaitu kehancuran rumah tangga atau perceraian. Dalam
kajian psikologi, ketentuan umur yang terdapat dalam undang-undang maupun
Kompilasi Hukum Islam masuk dalam wilayah ‘masa remaja’, yaitu masa transisi
menuju kedewasaan.

ii
MOTTO

“Helpt Uzelf en God zal U Helpen”


Tolonglah dirimu sendiri dan Tuhan akan membantumu.

(Pepatah Jerman)

xi
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Pedoman Transliterasi Arab-Latin ini merujuk pada SKB Menteri Agama

dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, tertanggal 22 Januari 1988 No:

158/1987 dan 0543b/U/1987.

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

‫أ‬ Alif ……….. tidak dilambangkan

‫ب‬ Bā' B Be

‫ت‬ Tā' T Te

‫ث‬ Śā' Ś es titik atas

‫ج‬ Jim J Je

‫ح‬ Hā' H ha titik di bawah


·

‫خ‬ Khā' Kh ka dan ha

‫د‬ Dal D De

‫ذ‬ Źal Ź zet titik di atas

‫ر‬ Rā' R Er

‫ز‬ Zai Z Zet

‫س‬ Sīn S Es

vi
‫ش‬ Syīn Sy es dan ye

‫ص‬ Şād Ş es titik di bawah

‫ض‬ Dād D de titik di bawah


·

‫ط‬ Tā' Ţ te titik di bawah

‫ظ‬ Zā' Z zet titik di bawah


·

‫ع‬ 'Ain …‘… koma terbalik (di atas)

‫غ‬ Gayn G Ge

‫ف‬ Fā' F Ef

‫ق‬ Qāf Q Qi

‫ك‬ Kāf K Ka

‫ل‬ Lām L El

‫م‬ Mīm M Em

‫ن‬ Nūn N En

‫و‬ Waw W we

‫ﻩ‬ Hā' H Ha

‫ء‬ Hamzah …’… apostrof

‫ي‬ Yā Y Ye

vii
B. Konsonan rangkap karena tasydīd ditulis rangkap:

‫ﻣﺘﻌﻘّﺪﻳﻦ‬ ditulis muta‘aqqidīn

‫ﻋﺪّة‬ ditulis ‘iddah

C. Tā' marbūtah di akhir kata.

1. Bila dimatikan, ditulis h:

‫هﺒﺔ‬ ditulis hibah

‫ﺟﺰﻳﺔ‬ ditulis jizyah

(ketentuan ini tidak diperlukan terhadap kata-kata Arab yang sudah

terserap ke dalam bahasa Indonesia seperti zakat, shalat dan sebagainya,

kecuali dikehendaki lafal aslinya).

2. Bila dihidupkan karena berangkaian dengan kata lain, ditulis t:

‫ﻧﻌﻤﺔ اﷲ‬ ditulis ni'matullāh

‫زآﺎة اﻟﻔﻄﺮ‬ ditulis zakātul-fitri

D. Vokal pendek

__َ__ (fathah) ditulis a contoh ‫ب‬


َ ‫ﺿ َﺮ‬
َ ditulis daraba

____(kasrah) ditulis i contoh ‫َﻓ ِﻬ َﻢ‬ ditulis fahima

__ً__(dammah) ditulis u contoh ‫ﺐ‬


َ ‫ُآ ِﺘ‬ ditulis kutiba

viii
E. Vokal panjang:

1. fathah + alif, ditulis ā (garis di atas)

‫ﺟﺎهﻠﻴﺔ‬ ditulis jāhiliyyah

2. fathah + alif maqşūr, ditulis ā (garis di atas)

‫ﻳﺴﻌﻲ‬ ditulis yas'ā

3. kasrah + ya mati, ditulis ī (garis di atas)

‫ﻣﺠﻴﺪ‬ ditulis majīd

4. dammah + wau mati, ditulis ū (dengan garis di atas)

‫ﻓﺮوض‬ ditulis furūd

F. Vokal rangkap:

1. fathah + yā mati, ditulis ai

‫ﺏﻴﻨﻜﻢ‬ ditulis bainakum

2. fathah + wau mati, ditulis au

‫ﻗﻮل‬ ditulis qaul

G. Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata, dipisahkan dengan

apostrof.

‫ااﻧﺘﻢ‬ ditulis a'antum

‫اﻋﺪت‬ ditulis u'iddat

‫ﻟﺌﻦ ﺷﻜﺮﺕﻢ‬ ditulis la'in syakartum

ix
H. Kata sandang Alif + Lām

1. Bila diikuti huruf qamariyah ditulis al-

‫اﻟﻘﺮﺁن‬ ditulis al-Qur'ān

‫اﻟﻘﻴﺎس‬ ditulis al-Qiyās

2. Bila diikuti huruf syamsiyyah, ditulis dengan menggandengkan huruf

syamsiyyah yang mengikutinya serta menghilangkan huruf l-nya

‫اﻟﺸﻤﺲ‬ ditulis asy-syams

‫اﻟﺴﻤﺎء‬ ditulis as-samā'

I. Huruf besar

Huruf besar dalam tulisan Latin digunakan sesuai dengan Ejaan Yang

Disempurnakan (EYD)

J. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut

penulisannya

‫ذوى اﻟﻔﺮوض‬ ditulis zawī al-furūd

‫اهﻞ اﻟﺴﻨﺔ‬ ditulis ahl as-sunnah

x
KATA PENGANTAR

‫ﺑﺴﻢ اﷲ ا ﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ‬

‫ ﻟﻴﻈﻬﺮﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﺪیﻦ آﻠﻪ وآﻔﻰ‬،‫اﻟﺤﻤﺪ ﷲ اﻟﺬي ٲرﺱﻞ رﺱﻮﻟﻪ ﺑﺎﻟﻬﺪى ودیﻦ اﻟﺤﻖ‬
‫ ٲﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ وﺱﻠﻢ‬.‫ ٲﺷﻬﺪ ٲن ﻻ ٳﻟﻪ ٳﻻ اﷲ وٲﺷﻬﺪ ٲن ﻡﺤﻤﺪا ﻋﺒﺪﻩ ورﺱﻮﻟﻪ‬.‫ﺑﺎﷲ ﺷﻬﻴﺪا‬
:‫ﺑﻌﺪ‬ ‫ﻋﻠﻰ ﻡﺤﻤﺪ وٲﻟﻪ وﺻﺤﺒﻪ ٲﺟﻤﻌﻴﻦ ٲﻡﺎ‬
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, inayah dan taufik-Nya sehingga penyusun dapat

menyelesaikan tugas akhir dalam menempuh studi di Fakultas Syari'ah

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita

Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia ke jalan yang

benar dan penuh dengan nur Ilahi. Serta semoga keselamatan selalu menaungi

keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang selalu mengikuti jalannya.

Kemudian, tak lupa pula penyusun mengucapkan terima kasih yang

sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan

skripsi ini, baik berupa bantuan dan dorongan moril maupun materiil, tenaga atau

pikiran, terutama kepada:

1. Bapak Prof. DR. H. M. Amin Abdullah, selaku Rektor Universitas Islam

Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

2. Bapak Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Syari'ah

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

3. Bapak Agus Moh. Najib, S.Ag. M.Ag., selaku Ketua Jurusan PMH.

4. Drs. Oman Fathurrohman SW., M.Ag., selaku Pembimbing Akademik.

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


ABSTRAK ........................................................................................................... ii
HALAMAN NOTA DINAS ................................................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. v
PEDOMAN TRANSLITERASI .......................................................................... vi
MOTTO ................................................................................................................ xi
KATA PENGANTAR ......................................................................................... xii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiv

BAB. I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1
B. Pokok Masalah ....................................................................... 8
C. Tujuan dan Kegunaan ............................................................ 8
D. Telaah Pustaka ....................................................................... 9
E. Kerangka Teoretik .................................................................. 12
F. Metode Penelitian .................................................................. 16
G. Sistematika Pembahasan ........................................................ 19

BAB. II. TINJAUAN UMUM TENTANG BATAS UMUR MINIMAL


PERKAWINAN
A. Pengertian Umur ................................................................... 21
B. Batas Umur Minimal Perkawinan .......................................... 25
C. Pengertian Perkawinan .......................................................... 31
D. Syarat dan Rukun Perkawinan .............................................. 33
E. Tujuan Perkawinan ................................................................ 37

BAB. III. BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN DALAM


KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI
A. Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Kompilasi
Hukum Islam .......................................................................... 42
1. Perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam ................ 42
2. Landasan Kompilasi Hukum Islam dalam
Pembatasan Umur minimal Perkawinan .......................... 43
a. Latar Belakang Penyusunan KHI .............................. 43
b. Landasan Yuridis Formal ........................................... 46
B. Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Psikologi ............... 53
1. Perkawinan dalam Psikologi ............................................ 53
2. Landasan Psikologi dalam pembatasan Umur
Perkawinan ...................................................................... 54
a. Sekilas tentang Psikologi .......................................... 54
b. Faktor Psikologis dalam Perkawinan ........................ 56

BAB. IV. ANALISIS PERBANDINGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM


DAN PSIKOLOGI TENTANG BATAS UMUR MINIMAL
PERKAWINAN
A. Analisis Persamaan dan Perbedaan Batas Umur
Minimal Perkawinan dalam KHI dan Psikologi .................... 65
B. Batas Umur Minimal Perkawinan di Negara
Muslim Lain ........................................................................... 74

BAB. V. PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 78
B. Saran ...................................................................................... 79

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 81


LAMPIRAN TERJEMAHAN ............................................................................ I
LAMPIRAN BIOGRAFI TOKOH DAN ULAMA ........................................... IV
LAMPIRAN RUKUN DAN SYARAT PERKAWINAN DALAM KHI .......... VII
LAMPIRAN CURRICULUM VITAE ............................................................... X

xv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan dunia fana ini, semua makhluk hidup baik manusia,

binatang maupun tumbuh-tumbuhan tidak bisa lepas dari pernikahan atau

perkawinan. Ini merupakan sunnatullāh (hukum alam) untuk kelangsungan hidup

umat manusia, berkembang-biaknya binatang-binatang dan untuk melestarikan

lingkungan alam semesta.1 Hukum alam semacam ini dijelaskan dalam firman

Allah SWT:

2
‫وﻣﻦ آﻞ ﺷﻲء ﺧﻠﻘﻨﺎ زوﺟﻴﻦ ﻝﻌﻠﻜﻢ ﺗﺬآﺮون‬

Ketentuan ini berlaku pada setiap jaman dan masa semenjak makhluk

hidup ada di muka bumi ini hingga saat sekarang bahkan untuk selamanya. Setiap

makhluk diciptakan berpasang-pasangan sesuai dengan ketentuan yang telah

ditetapkan oleh Sang Pencipta. Dalam ayat lain dinyatakan:

‫وﻣﻦ أیﺎﺗﻪ أن ﺧﻠﻖ ﻝﻜﻢ ﻣﻦ ٲﻥﻔﺴﻜﻢ أزواﺟﺎ ﻝﺘﺴﻜﻨﻮا إﻝﻴﻬﺎ وﺟﻌﻞ ﺑﻴﻨﻜﻢ ﻣﻮدة ورﺣﻤﺔ‬

‫إن ﻓﻲ ذاﻝﻚ ﻻٔیﺎت ﻝﻘﻮم یﺘﻔﻜﺮون‬


3

Perkawinan (pernikahan) pada hakekatnya merupakan ikatan lahir dan

batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk suatu keluarga

1
Mohammad Asmawi, Nikah Dalam Perbincangan dan Perbedaan (Yogyakarta:
Darussalam, 2004), hlm. 18.

2
Aź-Źāriyāt (51): 49.

3
Ar-Rūm (30): 21. Lihat juga Asy-Syūrā (42): 11., An-Nisā’ (4): 1., An-Nahl (16): 72.
2

yang kekal dan bahagia. Perkawinan ini dianggap suatu peristiwa penting dalam

kehidupan manusia, karena perkawinan tidak hanya menyangkut pribadi kedua

calon suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat.

Manusia dalam menempuh pergaulan hidup dalam masyarakat ternyata

tidak dapat terlepas dari adanya saling ketergantungan antara manusia dengan

yang lainnya. Hal itu dikarenakan sesuai dengan kedudukan manusia sebagai

mahluk sosial yang suka berkelompok atau berteman dengan manusia lainnya.

Hidup bersama merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup

manusia baik kebutuhan yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani.

Demikian pula bagi seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang telah

mencapai usia tertentu maka ia tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Ia

ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melaluinya bersama dengan orang

lain yang bisa dijadikan curahan hati penyejuk jiwa, tempat berbagi suka dan

duka.

Hidup bersama atau hubungan antara dua orang yang berlainan jenis

kelamin (pria dan wanita) dapat berlangsung dalam beberapa bentuk. Menurut Ali

Yafie, bentuk-bentuk hubungan pria dan wanita ini sudah dikenal manusia sejak

jaman dahulu kala.4 Hidup bersama antara seorang laki-laki dan perempuan

sebagai pasangan suami istri dan telah memenuhi ketentuan hukumnya, ini yang

lazimnya disebut sebagai sebuah perkawinan.

Pada umumnya perkawinan dianggap sebagai sesuatu yang suci dan

karenanya setiap agama selalu menghubungkan kaedah-kaedah perkawinan

4
Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial, cet. ke-2 (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 256.
3

dengan kedah-kaedah agama. Kecuali agama Islam, semua agama mensyaratkan

peneguhan dan pemberkatan oleh pejabat sebagai syarat syahnya perkawinan

menurut hukum agama. Sedangkan menurut agama Islam, pernikahan sudah

dianggap sah bila sudah diucapkan ijab kabul oleh mempelai laki-laki di hadapan

wali dan saksi-saksi. Semua agama umumnya mempunyai hukum perkawinan

yang tekstular.

Perkawinan sebagai bentuk hubungan antara dua makhluk yang sejenis

merupakan unsur terpenting dalam keberlangsungan kehidupan didunia ini. Tanpa

adanya interaksi semacam ini mustahil kehidupan manusia bisa bertahan lama.

Manusia akan punah dan tidak bisa berkembang biak lagi. Makanya Allah

menegaskan dalam beberapa ayat-Nya bahwa betapa pentingnya hubungan

perkawinan ini dijalankan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkan

kepada para pemuda yang sudah mampu untuk segera menikah.

Dalam satu hadis Nabi disebutkan:

‫یﺎ ﻣﻌﺸﺮاﻝﺸﺒﺎب ﻣﻦ اﺱﺘﻄﺎع ﻣﻨﻜﻢ اﻝﺒﺎﺋﺔ ﻓﻠﻴﺘﺰوج ﻓ ﻥﻪ ٲﻏﺾ ﻝﻠﺒﺼﺮ وٲﺣﺼﻦ‬

5
‫ﻝﻠﻔﺮج وﻣﻦ ﻝﻢ یﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻝﺼﻮم ﻓ ﻥﻪ ﻝﻪ وﺟﺎء‬

Dalam hadis di atas, Nabi SAW menggunakan kata Syabāb yang sering

kita maknakan dengan ‘pemuda’. Akan tetapi, siapakah yang dimaksud dengan

Syabāb itu?

Syabāb adalah seseorang yang telah mencapai aqil balig dan menurut

mayoritas ulama, usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Aqil balig bisa di

5
Al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, (Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1994 M), VI: 143, "Kitāb
an-Nikāh," "Bab Man Lam Yastaţi’ al-Bā’ah Falyaşum". Hadis diriwayatkan dari Abdullah bin
Mas'ud.
4

tandai dengan mimpi basah (ihtilām) atau masturbasi (haid bagi wanita) atau telah

mencapai usia 15 tahun. Masa aqil balig seharusnya telah dialami oleh tiap-tiap

orang pada rentang usia 14-17 tahun. Salah satu tanda yang biasa dijadikan

patokan apakah seseorang sudah dianggap balig atau belum adalah datangnya

mimpi basah (ihtilām). Akan tetapi, pada masa sekarang datangnya ihtilām sering

tidak sejalan dengan telah cukup matangnya pikiran seseorang sehingga orang

tersebut telah memiliki kedewasaan berpikir. Generasi yang lahir pada jaman ini

banyak yang telah memiliki kematangan seksual, tetapi belum memiliki

kedewasaan berpikir.6

Usia 14-17 tahun bagi seseorang yang disebut syabāb dalam hadits Nabi

SAW di atas, dalam tinjauan psikologi rentang usia ini masuk dalam kategori

masa remaja. Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia

yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Masa ini

juga disebut sebagai pubertas yakni masa ketika seorang anak mengalami

perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual.7

Dalam masyarakat terdapat suatu norma, bahwa setiap orang yang telah

memasuki masa dewasa selayaknya memiliki pasangan dan memasuki jenjang

perkawinan. Norma ini berasal dari ajaran agama maupun budaya setempat. Batas

usia harapan menikah ini berbeda-beda, dan dapat berubah dari masa ke masa.

Ada yang mematok 18 tahun, 25, 30, dan seterusnya. Harapan usia menikah untuk

pria dan wanita biasanya berbeda, pria lebih tinggi daripada wanita.

6
Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani Press,
2002), hlm. 47.
7
Moh. Abdurrouf dkk., Masa Transisi Remaja (Jakarta: Triasco Publisher, 2004), hlm. 1.
5

Norma tentang usia perkawinan itu merupakan bagian dari tugas

perkembangan. Dalam psikologi, tugas perkembangan individu dalam tiap-tiap

rentang usia (bayi hingga lansia/dewasa akhir), telah digariskan.8 Khususnya

mengenai perkawinan, ini merupakan bagian dari tugas perkembangan individu

yang semestinya sudah dicapai pada masa dewasa awal (berkisar 21-35 tahun),

sebelum masuk usia tengah baya.

Tugas perkembangan ini digariskan mengikuti potensi-potensi yang dalam

keadaan normal berkembang terus sepanjang siklus kehidupan manusia. Potensi-

potensi yang dipertimbangkan meliputi potensi fisik, psikis, dan sosial.9

Lalu, jika menurut psikologi usia terbaik untuk menikah adalah antara 19-

25 tahun, bagaimana dengan pembatasan usia minimal menikah yang ditetapkan

oleh Kompilasi Hukum Islam (selanjutnya disebut: KHI) yang disebar luaskan

dengan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991?

Persoalan perkawinan semacam ini mencuat seiring dengan isu

pembaharuan hukum Islam dalam suatu negara yang tidak hanya di dominasi oleh

negara Indonesia. Di setiap negara Muslim lainnya, isu ini berkembang hangat. Di

negara Indonesia sendiri hukum keluarga yang dianggap sebagai bagian dari

Hukum Islam telah diundangkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan. Perkawinan sebagai bagian dari hukum keluarga tentunya juga

mendapatkan proporsi perhatian yang penting. Oleh karena itu apapun yang

8
F.J. Monks, dkk., Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, alih
bahasa Siti Rahayu Haditono, cet. ke-3 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985), hlm
20.
9
“Tugas Perkembangan Masa Remaja,” http://abang1980.multiply.com/journal/item/26,
akses 6 Mei 2008.
6

menyangkut masalah perkawinan akan mendapat sorotan luas dari masyarakat.

Dari sekian peraturan yang berhubungan dengan perkawinan yang mendapat

perhatian lebih adalah masalah pembatasan umur minimal perkawinan.

Menurut UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan seseorang

diperbolehkan melakukan perkawinan bila telah mencapai umur 19 tahun bagi

laki-laki dan umur 16 tahun bagi perempuan. Untuk melangsungkan perkawinan

seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua

orang tua (Pasal 6). Jadi bagi laki-laki dan perempuan yang telah mencapai usia

21 tahun tidak perlu ijin lagi untuk menikah (Pasal 7).

Pengaturan semacam ini diperkuat lagi dengan adanya penegasan yang

tertera dalam KHI yang menyatakan bahwa:

Pasal 15

(1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh
dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan
dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yakni calon suami
sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-
kurangnya berumur 16 tahun.
(2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus
mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4) dan
(5) UU No. 1 Tahun1974.10

Disini kita lihat adanya perbedaan tentang usia diperbolehkannya atau usia

terbaik untuk melangsungkan perkawinan menurut tinjauan psikologi dan KHI.

Namun pada dasarnya ketentuan-ketentuan tersebut tidak berlaku dalam

ajaran Islam, oleh karena hukum Islam sendiri tidak melarang terjadinya

perkawinan di bawah usia 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan.

10
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-3 (Jakarta: Akademika
Pressindo, 2001), hlm. 117.
7

Dalam Islam terdapat beberapa klasifikasi umur seseorang bisa dipandang

telah memiliki kecakapan hukum atau tidak. Klasifikasi inilah yang biasanya

dijadikan landasan pada umur atau pada tingkat yang mana seseorang dikenai

taklīf (kewajiban) untuk melakukan perbuatan tertentu. Klasifikasi itu adalah:

mumayyiz, bālig, dan rusyd.11

Berkenaan hal di atas, maka sewajarnya bila permasalahan usia dalam

perkawinan menjadi bahan yang perlu dikaji kembali. Realita yang terjadi di

masyarakat umumnya adalah bahwa perkawinan tidak memandang usia,

sedangkan dalam psikologi diterangkan bahwa dalam usia-usia tertentu seseorang

bisa jadi belum memiliki kedewasaan berpikir. Sehingga yang terjadi, apabila ada

sepasang suami-isteri yang menikah di bawah umur, bisa dipastikan umur

perkawinan mereka tidak akan bertahan lama karena keduanya belum memiliki

rasa tanggung jawab dan belum memiliki mental yang kuat untuk menghadapi

rintangan bahtera rumah tangga. Pernikahan yang masih terlalu muda mempunyai

resiko ketidakbahagiaan di masa yang akan datang, karena sangat mungkin

mereka tidak lagi mempunyai kesamaan ketika mereka telah mencapai

kedewasaan.12

11
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, cet. ke-1
(Yogyakarta: Insania Cita Press, 2006), hlm. 20.
12
Ignace Lepp, Psychology of Loving, alih bahasa Eriyanti (Yogyakarta: Alenia, 2004),
hlm. 41.
8

B. Pokok Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi pokok bahasan dalam

penelitian ini antara lain:

1. Bagaimana pandangan Kompilasi Hukum Islam dan psikologi tentang

batas umur minimal perkawinan?

2. Landasan apa saja yang diterapkan oleh Kompilasi Hukum Islam dan

psikologi untuk menentukan batas usia minimal perkawinan?

C. Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Menjelaskan secara kritik-analitik terhadap pandangan Kompilasi

Hukum Islam dan Psikologi tentang batas minimal usia perkawinan.

2. Mengetahui secara jelas dasar dan pijakan hukum yang dipergunakan

dalam penetapan batas umur minimal perkawinan dalam KHI dan

psikologi.

Sedangkan kegunaan penelitian ini antara lain:

1. Memberikan kontribusi ilmiah bagi perkembangan dunia pengetahuan

terutama yang erat kaitannya dengan kajian usia perkawinan perspektif

Kompilasi Hukum Islam dan psikologi.

2. Memberikan manfaat bagi siapa saja yang mengkaji masalah

perkawinan di Indonesia, baik di lingkungan akademik, praktisi

hukum, psikolog maupun masyarakat luas, terlebih untuk penyusun

sendiri.
9

D. Telaah Pustaka

Membicarakan perkawinan berarti memasuki dunia yang penuh dengan

warna-warni. Bahasan yang terkandung di dalamnya mencakup banyak hal dan

selalu membangkitkan gairah bagi para penulis dan peneliti. Problem-problem

sekitar rumah tangga menjadi salah satu objek yang sangat sering dilirik karena

bagaimanapun juga lembaga perkawinan yang mengikat sebuah rumah tangga tak

selamanya sepi dari masalah. Sehingga banyak sekali buku-buku yang membahas

tentang perkawinan dipandang dari berbagai sudut, baik dari segi sudut agama,

adat ataupun hukum Barat.

Namun, dalam penelitian ini pembahasan lebih difokuskan dalam materi

pembatasan umur minimal perkawinan menurut tinjauan KHI dan psikologi.

Di antara buku-buku yang membicarakan tentang perkawinan dari sudut

hukum Islam adalah buku karangan Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di

Indonesia.13 Buku ini mengkaji secara mendalam tentang latar belakang

penyusunan, proses penyusunan, landasan dan kedudukan KHI beserta isi-isi

pasalnya. Walaupun ada beberapa kekurangan, seperti kurangnya penjelasan

terhadap berbagai pasal, buku ini tetap menjadi rujukan primer dalam penelitian

ini.

Kemudian dalam buku Ilmu Perkawinan Problematika Seputar Keluarga

dan Rumah Tangga14 karangan Nasaruddin Latif, memberikan gambaran lebih

13
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Akademika Pressindo,
1992).
14
Nasaruddin Latif, Ilmu Perkawinan Problem Seputar Keluarga dan Rumah Tangga
(Bandung: Pustaka Hidayah, 2001).
10

jelas seputar liku-liku perkawinan, mulai pedoman memasuki gerbang perkawinan

sampai problematika yang muncul dalam proses kehidupan berumah tangga.

Dalam buku ini dinyatakan bahwa jika diambil patokan umur yang paling baik

bagi perkawinan yang sesuai dengan keadaan di Indonesia, batas terendah bagi

usia perkawinan seorang anak gadis sekurang-kurangnya adalah 18 tahun.

Patokan usia ini sesuai dengan pendapat Sarwono Prawirohardjo yang

dikemukakan di hadapan sidang Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’

tahun 1955.

Buku Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1)15 karya

Khoiruddin Nasution menjelaskan tentang pengertian, syarat, rukun, tujuan dan

juga prinsip-prinsip dalam perkawinan. Ada pernyataan yang menarik dalam buku

ini terkait dengan rumusan atau konsep yang dirumuskan oleh para ahli hukum

Islam konvensional tentang pembahasan perkawinan. Salah satu ciri rumusan

tersebut adalah:

Kajian Islam yang terlalu menekankan dan berdasar pada ilmu agama
murni, sama sekali tidak mempertimbangkan atau menggunakan konsep-
konsep atau teori-teori ilmu-ilmu lain, seperti teori yang lahir dari ilmu
sosiologi, antropologi, sejarah dan sejenisnya. Padahal dalam banyak
kasus agar nash dapat dipahami secara lengkap dan kontekstual,
seharusnya dengan bantuan ilmu lain, seperti bantuan ilmu sejarah, ilmu
sosiologi, ilmu jiwa dan semacamnya.16

Pernyataan di atas membangkitkan semangat penyusun untuk mengkaji

masalah ini dengan menggunakan pisau analisis perbandingan antara ilmu agama

15
Khoiruddin Nasution, Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1)
(Yogyakarta: Academia & Tazzafa, 2004).
16
Ibid., hlm. 4-5.
11

dengan ilmu jiwa (psikologi) agar nantinya bisa ditarik sebuah conclusion yang

dapat diterapkan dengan konteks yang terjadi di masyarakat.

Kemudian buku yang secara lugas membahas tentang Indahnya

Pernikahan Dini17 ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Buku ini benar-benar

mampu menggugah perasaan siapa saja yang membacanya terlebih lagi bagi para

‘bujangan’ yang hendak menikah namun belum mendapat kepercayaan diri karena

seribu masalah yang menghadangnya. Fauzil seakan-akan menyuruh setiap

pemuda untuk menikah dalam usia muda. Tapi alasan-alasan yang

dikemukakannya dalam buku ini bukan berarti tanpa landasan. Ia melihatnya dari

sudut agama dan juga psikologi.

Buku-buku di atas adalah sebagian kecil dari referensi yang dijadikan

rujukan dalam penyusunan penelitian ini disamping buku-buku lainnya yang

terkait dengan masalah perkawinan.

Selanjutnya buku-buku psikologi yang membahas fase perkembangan

manusia adalah Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang

Kehidupan18 karya Elizabeth B. Hurlock. Sebuah buku yang komprehensif dalam

menjelaskan fase-fase perkembangan manusia semenjak masa kanak-kanak

sampai masa tua.

17
Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani Press,
2002).
18
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan, alih bahasa Dra. Istiwidayanti dan Drs. Soedjarwo, M.Sc., edisi ke-5 (Jakarta:
Erlangga, tt).
12

Peranan umur dalam perkawinan yang dibahas secara lugas terdapat dalam

buku Bimbingan dan Konseling Perkawinan19 karangan Bimo Walgito. Buku ini

menjelaskan beberapa faktor peranan umur dalam kaitannya dengan kehidupan

sosial masyarakat dan perkawinan. Peranan faktor psikologis dalam perkawinan,

peranan faktor fisiologis dalam perkawinan, peranan agama dalam perkawinan,

dan peranan komunikasi dalam perkawinan.

Buku yang membedah kehidupan remaja semenjak mereka mengalami

perubahan-perubahan pada diri mereka sendiri, tidak hanya perubahan pada fisik

(jasmani) melainkan juga perubahan pada psikis (rohani), sampai pada kesehatan

seksual, kehamilan, bahaya Penyakit Menular Seksual (PMS), bahaya HIV/AIDS

dan kekerasan terhadap perempuan terdapat dalam buku Masa Transisi Remaja 20

karangan Moh. Abdurrouf., dkk.

E. Kerangka Teoretik

Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini mempunyai

keperluan yang dia pentingkan untuk menegakkan kehidupannya dan untuk

mencapai perkembangan menuju kesempurnaan hidup. Dasar dari segala

kepentingan dari setiap manusia adalah, pertama; keselamatan dirinya, yakni

keselamatan jiwa, raga, dan kehormatannya. Kedua; keselamatan akal pikirannya,

ketiga; keselamatan harta bendanya, keempat; keselamatan nasab keturunannya,

dan kelima; keselamatan agamanya. Lima kebutuhan penting tersebut sangat

19
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, edisi ke-2 (Yogyakarta:
Penerbit Andi, 2004).
20
Moh. Abdurrouf dkk., Masa Transisi Remaja (Jakarta: Triasco Publisher, 2004).
13

mendasar bagi hajat hidup setiap manusia. Dan inilah yang dikenal dalam ajaran

Islam dengan istilah al-kulliyah al-khams atau ad-darūriyyah al-khams. Inilah

yang dijadikan standar bagi kemaslahatan setiap orang yang berhubungan dengan

martabat kemanusiaannya.21

Sebuah perkawinan yang pada dasarnya adalah salah satu kepentingan

manusia untuk meraih beberapa tujuan hidup yang telah digariskan, memiliki

beberapa implikasi dengan salah satu ad-darūriyyah al-khams di atas.

Keselamatan jiwa atau kehormatan dalam perkawinan harus diutamakan dalam

perkawinan. Hal ini hanya akan bisa terjadi bila calon suami isteri yang akan

melangsungkan pernikahan benar-benar telah matang fisik dan psikisnya

(jiwanya). Begitu juga keselamatan nasab keturunannya, dalam perkawinan akan

terjaga bila calon suami dan isteri telah benar-benar pula memiliki kesiapan

mental dan moral untuk dapat menjaga nama baik keluarganya (baik keluarga dari

pihak suami maupun kelurga dari pihak isteri). Maka dari itu perkawinan dari segi

umur yang terlalu dini sangat beresiko terhadap kelangsungan kehidupan keluarga

tersebut. Penting disini kiranya kita melirik kembali, apakah penetapan batas

umur minimal yang ditetapkan dalam undang-undang sudah sesuai dengan

kondisi saat ini ataukah malah sebaliknya, perlu direvisi ulang?

Dalam instruksi Mendagri No. 27/1983 dinyatakan bahwa perkawinan di

bawah umur adalah perkawinan yang dilaksanakan di bawah umur 16 tahun bagi

wanita dan 19 tahun bagi laki-laki. Perkawinan semacam ini seringkali terjadi di

kalangan masyarakat yang memandang bahwa yang terpenting dalam sebuah

21
Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial, hlm. 185.
14

perkawinan adalah tercapainya syarat-syarat dan rukun-rukun perkawinan itu.

Usia mempelai tidak menjadi syarat utama boleh tidaknya perkawinan

dilangsungkan. Pandangan seperti ini tidak bisa disalahkan atau tidak dibenarkan.

Islam memandang bahwa perkawinan adalah sunnatullāh yang di-taklīf-

kan kepada umat manusia dan “Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan

jalan itu.”22 Islam melihat pernikahan sebagai sebuah pandangan yang indah dan

memasukannya ke dalam bagian terpenting di tatanan kehidupan. Islam juga

menempatkan pernikahan pada posisi yang sangat mulia.

Bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia mutlak adanya UU

Perkawinan Nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan

landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku

bagi berbagai golongan dalam masayarakat, dan bagi golongan orang-orang Islam

harus diperlakukan Hukum Perkawinan Islam seperti yang ditetapkan oleh UU

No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan terutama Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 2 ayat

(2), dan sahnya perkawinan menurut Hukum Islam harus memenuhi syarat dan

rukun-rukunnya.23 Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah kedua mempelai

harus mencapai usia aqil balig untuk dapat melangsungkan pernikahan.

Pembatasan yang diterapkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

maupun dalam KHI sebenarnya sudah sesuai dengan ketentuan ini.

Perkawinan merupakan bentuk hubungan dua orang yang awalnya tidak

memiliki ikatan apa-apa, dan satu sama lain tidak memiliki hak dan kewajiban

22
Asy-Syūrā (42): 21.
23
Moh. Idris Ramulyo, Tinjauan Beberapa Pasal UU No. 1 Tahun 1974 dari Segi Hukum
Islam (Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Co., 1985), hlm. 49.
15

yang harus ditunaikan. Ketika hubungan kedua orang ini legal dan memiliki

kekuatan hukum, maka hak dan kewajiban itu muncul dengan sendirinya. Ketika

seorang wali menyerahkan anak perempuannya (ījāb) dan seorang laki-laki

menerimanya (qabūl) maka sejak saat itulah kewajiban orang tua untuk mengurus

anaknya terputus dan tergantikan oleh calon suami yang meminangnya. Disini

babak baru kehidupan bagi dua insan ini bersatu. Maka terciptalah tatanan

kehidupan masyarakat dari beberapa keluarga kecil ini.

Ketika keluarga baru ini dipimpin oleh suami atau isteri yang belum

memiliki mental kemasyarakatan yang tinggi, tidak mampu beradaptasi dengan

keadaan lingkungannya apalagi untuk mengurus rumah tangganya saja masih

semrawut karena usia mereka di bawah 15 tahun misalnya, maka kehidupan

keluarga ini bisa dipastikan kurang harmonis dalam berinteraksi dengan

masyarakatnya.

Ditinjau dari perspektif psikologi, pernikahan di usia muda sangat tidak

menguntungkan dari segi kematangan mental dalam memasuki kehidupan yang

luas untuk berintegrasi sosial dengan masyarakat sekitarnya.24

Bagi seorang pemuda, usia untuk memasuki gerbang perkawinan dan

kehidupan berumah tangga pada umumnya dititik-beratkan pada kematangan

jasmani dan kedewasaan pikirannya serta kesanggupannya untuk memikul beban

tanggung jawab sebagai suami dalam rumah tangganya. Sedang bagi seorang

gadis, usia memulai perkawinan itu harus memperhitungkan kematangan jasmani

24
Mohammad Asmawi, Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan, hlm. 88.
16

dan ruhaninya yang memungkinkan ia dapat menjalankan tugas sebagai isteri dan

ibu dengan sebaik-baiknya.25

Namun disisi lain ada yang beranggapan bahwa usia bukanlah ukuran

utama untuk menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang, bahwa

menikah bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kenakalan kaum remaja

yang kian tak terkendali.

F. Metode Penelitian

Penyusunan skripsi ini menggunakan beberapa metode yang bertujuan

untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian skripsi ini, maka dari itu

dibutuhkan metode yang sudah menjadi syarat mutlak dalam penulisan karya

ilmiah (skripsi). Untuk lebih memahami dan memudahkan persoalan yang akan

diteliti, sehingga dapat diketahui gambaran-gambaran yang jelas.

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini bisa dikategorikan sebagai penelitian pustaka

(library research), yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh dari

sumber buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas

dalam penelitian ini.26 Kemudian menelaah dan menggunakan bahan-

bahan berupa buku, ensiklopedi, jurnal, majalah, media online dan sumber

pustaka lainnya untuk dikaji lebih lanjut.27

25
Nasaruddin Latif, Ilmu Perkawinan Problem Seputar Keluarga, hlm. 22.
26
Suharsimi Akunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta, 1998), hlm. 11.
27
Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset, 1990), hlm. 9.
17

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian ini adalah deskriptif-analitik28

3. Pengumpulan Data

Karena penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, maka

pengumpulan data dilakukan terhadap bahan-bahan yang ada kaitannya

dengan pembahasan penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan

cara penelusuran berbagai literatur, terutama buku-buku yang mengkaji

usia perkawinan menurut KHI dan psikologi.

4. Analisis Data

Data yang terkumpul tersebut selanjutnya dilakukan analisis data

secara kualitatif dengan menggunakan instrumen analisis deduktif-

komparatif.29

5. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pendekatan normatif-yuridis.30 Yaitu pendekatan dengan memandang

bahwa pembatasan usia minimal perkawinan walaupun telah diatur secara

28
Sudarto, Metode Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 47-
49. Deskriptif, berarti menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau
kelompok tertentu, dan untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala/frekuensi
adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Analitik,
adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan mengadakan
perincian terhadap objek yang diteliti dengan jalan memilah-milah antara kondisi yang satu
dengan kondisi yang lain.

29
Deduksi adalah penarikan kesimpulan dari yang berbentu umum ke bentuk khusus,
dimana kesimpulan itudengan sendirinya muncul dari satu atau beberapa premis. Pius A. Partanto
dan M. Dahlan Al Barry, Kamus llmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 95.
30
Pendekatan normatif, yaitu pendekatan dengan tolok ukur norma-norma agama melalui
penelusuran teks-teks al-Quran, hadis, kaidah-kaidah ushul fiqh, serta pendapat ulama yang
berkaitan dengan masalah yang dibahas. Sedangkan pendekatan yuridis, yaitu pendekatan dengan
tolok ukur tata aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia (hukum positif) yang
mengatur tentang perkawinan.
18

yuridis dalam undang-undang (Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan dan Pasal 15 Kompilasi Hukum Islam) namun

pembentukannya tidak terlepas dari pengaruh hukum Islam sendiri yang

bersifat normatif.

Sedangkan dalam studi psikologi dapat didekati dari berbagai sudut

pendekatan. Pendekatan neurobiologi mencoba menghubungkan tindakan

kita dengan peristiwa yang terjadi dalam tubuh kita, terutama dalam otak

dan sistem saraf. Pendekatan behavior (perilaku) berfokus pada kegiatan

luar organisme yang dapat diamati dan diukur. Psikologi kognitif

menekankan cara otak mengolah informasi yang masuk secara aktif dan

mengubahnya dengan berbagai cara. Pendekatan Psikoanalitik

menekankan motif di bawah sadar yang berakar dari dorongan seksual dan

agresi yang ditekan pada masa anak-anak. Pendekatan fenomenologis dan

humanistik berfokus pada pengalaman subjektif seseorang, kebebasan

memilih, dan motivasi terhadap aktualisasi diri. Bidang tertentu dari

penyelidikan psikologi dapat didekati dari beberapa sudut pandang ini.31

Namun karena penelitian ini bersifat analisis komparatif, maka

tidak semua pendekatan psikologi itu diterapkan. Penyusun hanya

mengkaji secara umum dan tidak terfokus pada salah satu dari pendekatan

studi psikologi di atas.

31
Rita L. Atkinson dkk., Pengantar Psikologi, alih bahasa Nurdjannah Taufiq dan
Rukmini Barhana, edisi ke-8 (Jakarta: Erlangga, tt.), hlm. 37.
19

G. Sistematika Pembahasan

Dalam penyusunannya, penulisan penelitian ini dibagi ke dalam beberapa

bab, dimana setiap bab mempunyai sub-sub bab yang terkait dengan cakupan bab

tersebut.

Bab I terdiri dari tujuh sub bab, pertama adalah pendahuluan yang memuat

latar belakang masalah yang diteliti. Kedua, pokok masalah, merupakan

penegasan dari apa yang terkandung dalam latar belakang masalah. Ketiga, tujuan

dan kegunaan, tujuan adalah keinginan yang ingin dicapai dalam peelitian ini,

sedangkan kegunaan merupakan manfaat dari hasil penelitian. Keempat, telaah

pustaka, berisi penelusuran terhadap literatur yang berkaitan dengan obyek

penelitian. Kelima, kerangka teoretik, berisi acuan yang akan digunakan dalam

pembahasan dan penyelesaian masalah. Keenam, metode penelitian, yang berisi

tentang cara-cara yang dipergunakan dalam penelitian. Dan ketujuh, sistematika

pembahasan, berisi tentang struktur dan turunan yang akan dibahas dalam

penyusunan skripsi ini. Pendahuluan ini berfungsi untuk mengarahkan penyususn

kepada substansi penelitian.

Bab II berisi tinjauan umum tentang batas usia minimal perkawinan.

Kajian dalam bab ini membicarakan tentang pengertian umur manusia, batas umur

minimal manusia dalam perkawinan, pengertian perkawinan, syarat dan rukun

perkawinan, tujuan perkawinan, dan dasar-dasar hukum perkawinan

Bab III mengkaji tentang pengertian batas umur minimal perkawinan

dalam KHI dan psikologi. Bab ini dibagi menjadi dua sub bab, adapun sub bab

pertama, membahas tentang batas umur minimal dalam KHI yang meliputi;
20

pengertian perkawinan menurut KHI dan landasan KHI dalam pembatasan umur

perkawinan. Sub bab kedua, membahas tentang batas umur minimal perkawinan

dalam psikologi yang terdiri dari; perkawinan menurut psikologi, landasan

psikologi dalam pembatasan umur perkawinan.

Bab IV, penyusun memfokuskan penelitian ini pada analisis komparatif

antara Kompilasi Hukum Islam dan psikologi. Analisis komparatif ini digunakan

untuk menemukan persamaan dan perbedaan kedua pandangan tersebut dari

berbagai aspeknya. Kemudian secara sekilas menjelaskan batas umur minimal

perkawinan di berbagai negara lain, hanya sebagai bahan perbandingan saja.

Sebagai penutup, bab V diisi dengan saran (rekomendasi) dan kesimpulan

akhir dari penelitian ini.


BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG BATAS UMUR MINIMAL

PERKAWINAN

A. Pengertian Umur

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan memiliki

kelebihan-kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya,

seperti diberi akal, dikaruniai perasaan, dan dibekali kehendak untuk meraih

sesuatu. Kelebihan-kelebihan inilah yang menjadikannya sebagai khalīfah di

muka bumi ini. Tanggung jawab ini terus berkesinambungan selama dunia ini

masih tegak dan matahari masih terbit dari timur. Umur dunia semakin tua namun

ia tidak akan hancur sebelum Tuhan menentukannya hancur. Sedang umur

manusia, ada batasan tertentu sampai di mana ia masih bisa bernafas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, umur diartikan dengan masa hidup

sesorang atau sejak dilahirkan atau diadakan.1 Pada dasarnya tidak ada perbedaan

antara kata 'umur' dan 'usia'. Keduanya mengandung pengertian yang sama yaitu

rentang masa hidup seseorang.

Sedangkan perkataan 'usia kawin' dapat diartikan dengan usia yang

dianggap cocok secara fisik dan mental untuk kawin (kira-kira di atas 20 tahun).2

1
Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, cet. ke-1
(Jakarta: Modern English Press, 1991), hlm. 1683.
2
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. ke-2
(Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 998.
22

Dalam buku Renungan tentang Umur Manusia,3 Sayyid Abdullah Haddad

memberikan definisi umur dengan "suatu masa yang berlaku sebagai bagian dari

zaman", hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:

‫ﻗﻞ ﻟﻮﺷﺎء اﷲ ﻣﺎ ﺗﻠﻮﺗﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ وﻻ أدراآﻢ ﺑﻪ ﻓﻘﺪ ﻟﺒﺜﺖ ﻓﻴﻜﻢ ﻋﻤﺮا ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻪ اﻓﻼ‬

4
‫ﺗﻌﻘﻠﻮن‬

Adapun 'umur' yang dimaksud oleh Allah di dalam firman tersebut adalah

40 tahun, yaitu sejak Nabi Muhammad SAW dilahirkan hingga masa beliau diutus

menjadi Rasul, ketika beliau tinggal bersama kaumnya di Makkah.

Lebih lanjut, Sayyid Abdullah Haddad membagi masa umur manusia

sepanjang hidupnya, sejak awal hingga akhirnya, menjadi lima bagian umur,

sebab tiap-tiap manusia dalam salah satu bagian umur tersebut mengalami

berbagai hal dan keadaan yang tidak dialaminya pada masa umur yang lain.5

Umur pertama: Sejak Allah SWT menciptakan Adam as. dan dibekali

źurriyat6 pada tulang punggungnya. Di antaranya źurriyat yang bahagia dan

źurriyat yang celaka. Maka źurriyat itu pun terus-menerus berpindah-pindah dari

tulang sulbi laki-laki ke dalam rahim wanita dan dari dalam rahim wanita ke

dalam tulang sulbi laki-laki sehingga lahirlah tiap-tiap manusia dari perkawinan

antara ayah dan ibunya.

3
Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Renungan tentang Umur Manusia, alih bahasa
Muhammad Baqir, cet. ke-7 (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 27.
4
Yûnus (10): 16.
5
Allamah Sayyid Abdullah Haddad, Renungan tentang Umur Manusia, hlm. 28-29.
6
Źurriyat (źurriyah) = keturunan.
23

Umur kedua: Sejak lahirnya manusia dari perkawinan kedua ibu bapaknya

hingga masa ajal dan keluarnya dari alam dunia ini.

Umur ketiga: Sejak keluarnya manusia dari alam dunia ini melalui mati

hingga di bangkitkannya kembali oleh Allah SWT dengan tiupan şur

(sangkakala) yaitu masa menunggu manusia di Barźakh.

Umur keempat: Sejak keluarnya manusia dari kubur atau tempat lain yang

dikehendaki Allah sejak saat di tiupkan şur (sangkakala ) pada hari kebangkitan

hingga tibanya hari ketika manusia sekalian dikumpulkan di hadapan pengadilan

Allah SWT.

Umur kelima: Sejak masuknya manusia ke dalam surga dan kekal di

dalamnya. Itulah umur yang tiada akhirnya. Atau sejak masuknya para ahli neraka

ke dalam neraka sedang keadaan mereka satu dengan yang lain tidak sama. Ada

yang kekal di dalamnya untuk selama-lamanya dan ada juga yang hanya

sementara lalu dimasukkan ke surga.

Sedangkan Ibnul Jauzi membagi umur manusia semenjak masa

kelahirannya sampai masa kematiannya menjadi lima masa, yaitu:7

1. Masa kanak-kanak; sejak dilahirkan hingga mencapai umur 15 tahun

2. Masa muda; dari umur lima belas tahun hingga umur 35 tahun

3. Masa dewasa; dari umur tiga puluh lima tahun hingga umur 50 tahun

4. Masa tua; dari umur 50 tahun hingga umur 70 tahun

5. Masa usia-lanjut; dari umur 70 tahun hingga akhir umur yang di

karuniakan oleh Allah.

7
Ibid., hlm. 32.
24

Menurut Elizabeth B. Hurlock,8 periodeisasi umur manusia jika dibagi

berdasarkan bentuk-bentuk perkembangan dan pola-pola perilaku yang nampak

khas bagi usia-usia tertentu, maka rentangan kehidupan terdiri atas sebelas masa,

yaitu:

No. Masa Umur

1 Prenatal Saat konsepsi sampai lahir

2 Neonatus Lahir sampai akhir minggu kedua

setelah lahir

3 Bayi Akhir minggu kedua sampai akhit

tahun kedua

4 Kanak-kanak awal 2 tahun sampai 6 tahun

5 Kanak-kanak akhir 6 tahun sampai 10 atau 11 tahun

6 Preadolescence/Pubertas 10 atau 12 tahun sampai 13 atau 14

tahun

7 Remaja awal 13 atau 14 tahun sampai 17 tahun

8 Remaja Akhir 17 tahun sampai 21 tahun

9 Dewasa awal 21 tahun sampai 40 tahun

10 Setengah baya 40 tahun sampai 60 tahun

11 Masa tua 60 tahun sampai meninggal dunia

8
Elizabeth B. Hurlock, Developmental Psychology, edisi ke-3 (New York: Mc Graw Hill
Book Company, 1968), hlm. 12.
25

B. Batas Umur Minimal dalam Perkawinan

Menurut Husein Muhammad, dalam kitab-kitab fiqih klasik dikenal istilah

nikāh aş-şagīr/ aş-şagīrah untuk menyebut perkawinan muda/kawin belia.

Sementara kitab-kitab fiqih kontemporer menyebutnya dengan istilah az-zawajal-

mubakkir untuk menyebut perkawinan dini.9 Walaupun dalam hukum Islam tidak

secara tegas menentukan pada umur berapa seseorang diwajibkan/diperbolehkan

menikah, namun dengan adanya syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus

dipenuhi maka ketentuan penetapan umur bisa diterapkan sesuai dengan

kemaslahatan manusia.

Para ulama fiqih menyebut salah satu syarat perkawinan bagi calon suami

isteri adalah sudah menginjak masa bālig. Balig disini diartikan dengan seseorang

yang telah memiliki sifat kedewasaan. Disamping ciri-ciri lain (ihtilām, misalnya),

tampaknya ciri ini yang lebih sering dijadikan landasan dalam penentuan batas

umur melakukan perkawinan.

Penetapan batas awal umur sebagai dasar hukum seseorang dikenai suatu

kewajiban dalam hukum Islam didasarkan pada usia dan atau tanda-tanda fisik

yang dalam istilah hukum Islam dikenal istilah tamyīz, bālig, dan rusyd. Agar

perbuatan sesorang mempunyai keabsahan, disamping harus bebas, ia juga harus

‘aqil, atau berada dalam kondisi mental yang memungkinkan dirinya memahami

hakikat perbuatan dan tanggung jawab yang menyertainya.10

9
Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Gender, cet. ke-1
(Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 67.
10
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, cet. ke-1
(Yogyakarta: Insania Cita Press, 2006), hlm. 20.
26

a. Mumayyiz

Periode tamyīz dimulai dari seseorang mampu membedakan antara

sesuatu yang baik dengan yang buruk dan antara sesuatu yang bermanfaat

dengan yang maḍarat. Pada periode ini kemampuan akal seseorang belum

sempurna, karena periode ini adalah masa mulai dan semakin bersinarnya

cahaya kemampuan akal sesorang. Oleh karena itu daya pikirnya masih

dangkal, yakni masih terbatas pada hal-hal yang nampak saja. Sungguhpun

pada periode ini ia sudah mampu membedakan antara yang baik dengan

yang buruk dan antara yang mengandung manfaat dengan yang

mengandung maḍarat, tetapi hal itu masih terbatas pada kenyataan-

kenyataan lahir saja.

Batas mulainya periode tamyīz tidak dapat dipastikan dengan umur

tertentu yang telah dicapai oleh sesorang atau dengan adanya tanda-tanda

tertentu yang terdapat pada perkembangan jasmani, melainkan tergantung

pada perkembangan akalnya. Oleh karena itu mulainya masa tamyīz hanya

dapat diketahui dengan melihat dari hasil pertimbangan akal atau dari

tingkah laku yang merupakan pengejawantahan dari penggunaan

kemampuan akalnya.11

Kemampuan ‘aql atau nalar, adalah hal yang diperhitungkan

pertama kali pada seorang anak untuk bisa disebut mumayyiz. Pada usia ini

seorang anak tidak dapat dikatakan cukup dewasa, secara mental atau

sosial, untuk melaksanakan tanggung jawab orang dewasa dan dirasakan

11
Zakiah Daradjat dkk., Ilmu Fiqh (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995), II: 2.
27

bahwa dia harus dijaga dengan pengawasaan langsung yang ketat oleh

orang dewasa.12

Dalam hal ini, Musthafa Ahmad Az-Zarqa dalam kitabnya Al-Fiqh

al-Islāmi fi Śaubih al-Jadīd, sebagaimana dikutip oleh Zakiah Daradjat,

menyebutkan bahwa menurut para ulama, masa tamyīz bagi seseorang

yang normal biasanya apabila telah genap berumur 7 tahun. Ketentuan ini

didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW:

13
‫ﻣﺮوا اوﻻد آﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼة وهﻢ ٲﺑﻨﺎء ﺳﺒﻊ ﺳﻨﻴﻦ‬

Dalam hadis di atas ditegaskan, agar membiasakan anak-anak

untuk beribadah kepada Allah SWT setelah berumur tujuh tahun. Padahal

ibadah dipandang sah apabila dilakukan oleh seseorang yang minimal

telah mencapai masa tamyīz. Jadi umur tujuh tahun ini menunjukan

mulainya masa tamyīz.

Sedangkan berakhirnya periode tamyīz, yaitu apabila seeorang

telah mencapai masa balig.

b. Bālig

Bālig atau masa pubertas merupakan masa yang sangat penting.

Masa tersebut merupakan titik alih secara fisik anatara bentuk tubuh anak-

anak menjadi bentuk tubuh orang dewasa. Para ahli hukum berpendapat

bahwa balig berhubungan dengan perubahan besar dalam diri seseorang.

12
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, hlm. 22.
13
Abū Dāwud, Sunan Abī Dāwud (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), II: 88. Hadis no. 418.
Diriwayatkan dari 'Umar bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya.
28

Tanda-tanda kedewasaan fisik, dikatakan oleh ahli hukum terbagi menjadi

dua yaitu tanda fisik dan non fisik.14

Tanda-tanda fisik lebih mudah diamati daripada tanda-tanda non

fisik, karena keluarnya sejenis cairan dari dalam tubuh, misalnya. Ketika

terjadi untuk pertama kalinya, hal ini merupakan awal dari tahap baru yang

sangat penting dari kehidupan seorang anak telah tercapai. Perbedaan jenis

kelamin meyebabkan pula perbedaan tanda-tanda pubertas.

Permulaan umur balig antara satu orang dengan yang lainnya dapat

berbeda-beda dikarenakan perbedaan lingkungan, geografis, dan

sebagainya. Batas awal dimulainya umur balig secara yuridik (hukmī)

adalah jika seseorang telah berusia 12 tahun bagi laki-laki dan berusia 9

tahun bagi perempuan.15 Sedangkan umur paling lambat bagi seseorang

untuk mencapai masa ini adalah 15 tahun.16

Perkembangan kemampuan akal sampai pada taraf ini dapat

dikatakan telah mencapai kesempurnaannya. Dengan demikian dapatlah

dikatakan bahwa kemampuan akal seseorang telah sempurna apabila ia

telah balig. Periode balig ini berakhir sampai dengan dengan meninggal

dunianya seseorang itu.

c. Rusyd

Rāsyid atau rusyd adalah kepandaian seseorang dalam

membelanjakan (men-taşaruf-kan) hartanya. Sifat rāsyid merupakan

14
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, hlm. 23.
15
Zakiah Daradjat dkk., Ilmu Fiqh, hlm. 3.
16
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, hlm. 24.
29

pelengkap bagi orang yang telah balig. Akan tetapi tidak semua orang

yang telah balig memiliki sifat ini, sebab sifat rāsyid adakalanya datang

pada seseorang terlebih dahulu daripada datangnya periode balig,

adakalanya datang kemudian setelah datangnya periode balig, bahkan

adakalanya pula tidak kunjung datang pada diri seseorang yang telah

balig.17 Hukum menekankan pentingnya pencapaian rusyd atau

kedewasaan mental, yaitu baik kesempurnaan bulūg maupun kematangan

mental, dalam arti mampu untuk berpikir (‘aql).

Dalam Islam batas usia kedewasaan secara umum didasarkan pada ayat:

‫واﺑﺘﻠﻮا اﻟﻴﺘﺎﻣﻰ ﺣﺘﻰ اذا ﺑﻠﻐﻮا اﻟﻨﻜﺎح ﻓﺎن ءاﻥﺴﺘﻢ ﻣﻨﻬﻢ رﺷﺪا ﻓﺎدﻓﻌﻮا اﻟﻴﻬﻢ‬

18
... ‫اﻣﻮاﻟﻬﻢ‬

19
... ‫وﻻﺗﻘﺮﺑﻮا ﻣﺎ ل اﻟﻴﺘﻴﻢ اﻻ ﺑﺎ ﻟﺘﻲ هﻲ اﺣﺴﻦ ﺣﺘﻰ یﺒﻠﻎ اﺷﺪﻩ‬

20
... ‫یﺎ ﻣﻌﺸﺮاﻟﺸﺒﺎب ﻣﻦ اﺳﺘﻄﺎع ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺒﺎﺋﺔ ﻓﻠﻴﺘﺰوج‬

‫ﺗﺰوﺟﻬﺎ رﺳﻮل اﷲ ﺹﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وهﻲ ﺑﻨﺖ ﺳﺖ وﺑﻨﻰ ﺑﻬﺎ وهﻲ‬

21
‫ﺑﻨﺖ ﺗﺴﻊ وﻣﺎت ﻋﻨﻬﺎ وهﻲ ﺑﻨﺖ ﺙﻤﺎن ﻋﺸﺮة‬

17
Zakiah Daradjat dkk., Ilmu Fiqh, hlm. 4.
18
An-Nisā' (4): 6.
19
Al-An’ām (6): 152.
20
Al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, (Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1994 M), VI: 143, "Kitāb
an-Nikāh," "Bab Man Lam Yastaţi’ al-Bā’ah Falyaşum". Hadis diriwayatkan dari Abdullah bin
Mas'ud.
21
Muslim, Şahīh Muslim (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), II: 595. "Bab Tazwīj al-Ab al-Bikr aş-
Şagīrah".
30

Berdasarkan ayat-ayat dan hadis di atas, para ulama berbeda pendapat

tentang batas kedewasaan seseorang. Pendapat para ulama dan ilmuawan tentang

penentuan batas dewasa itu, antara lain:

1. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menentukan batas usia dewasa adalah

15 tahun baik bagi laki-laki maupun perempuan.22

2. Imam Malik berpendapat bahwa kedewasaan antara laki-laki dan

perempuan sama, yaitu 18 tahun.23

3. Imam Abu Hanifah menentukan 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun

bagi perempuan.24

4. Kamal Mukhtar, berpendapat bahwa layaknya seorang pemuda untuk

menikah didasarkan pada redaksi kata asy-Syabāb. Menurutnya kata

ini diartikan dengan pemuda yang berusia antara 25-31 tahun.25

5. Sarlito Wirawan Sarwono, sebagaimana dikutip oleh Abu Al-Ghifari

berpendapat bahwa usia kedewasaan untuk siapnya seseorang

memasuki hidup berumah tangga harus diperpanjang dari yang

ditetapkan undang-undang menjadi 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun

bagi pria. Hal ini diperlukan karena jaman modern menuntut untuk

22
'Abd al-Qadir 'Audah, At-Tasyrī' al-Jina'i al-Islāmi, cet ke-3 (Kairo: Dar al-‘Urubah,
1963), I: 603.
23
Ibid.
24
Muhammad 'Ali al-Sāyis, Tafsīr Āyāt al-Ahkām (ttp.: Muhammad 'Ali Sa'bih, 1963),
III: 185.
25
Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan, (Jakarta: Bulan Bintang,
1992), hlm. 41.
31

mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan, baik dari segi

kesehatan maupun tanggung jawab sosial.26

6. Para ahli ilmu jiwa agama menilai bahwa kematangan beragama

seseorang tidak terjadi sebelum umur 25 tahun.27

C. Pengertian Perkawinan

Dalam al-Quran ada dua kata kunci yang menunjukkan konsep

pernikahan, yaitu zawwaja dan kata derivasinya berjumlah lebih kurang dalam 20

ayat dan nakaha dan kata derivasinya sebanyak lebih kurang dalam 17 ayat.

Kedua kata inilah yang mejadi istilah pokok yang digunakan al-Quran untuk

menunjuk perkawinan (pernikahan). Istilah atau kata nakaha berarti ‘berhimpun’,

sedang kata zawaja berarti ‘pasangan’. Dengan demikian, dari sisi bahasa

perkawinan berarti berkumpulnya dua insan yang semula terpisah dan berdiri

sendiri menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermitra.28

Adapun menurut syara’, nikah adalah akad serah terima antara laki-laki

dan wanita dengan tujuan untuk saling memuaskan satu sama lainnya dan

membentuk sebuah bahtera rumah tangga yang sakīnah serta masyarakat yang

26
Abu-Al-Ghifari, Badai Rumah Tangga, cet. ke-2 (Bandung: Mujahid Press, 2003), hlm.
132.
27
Helmi Karim, “Kedewasaan untuk Menikah”, dalam Chuzaimah T. Yanggo dan Hafiz
Anshary, Problematika Hukum Islam Kontemporer (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), II: 70.
28
Khoiruddin Nasution, Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1)
(Yogyakarta: Academia & Tazzafa, 2004), hlm. 15.
32

sejahtera.29 Akad dalam perkawinan ini bersifat sangat kuat atau miśāqan

galīżan.30

Ada beberapa definisi nikah yang dikemukakan ulama fiqih, tetapi seluruh

definisi tersebut mengandung esensi yang sama meskipun redaksionalnya

berbeda. Ulama Mazhab Syafi’i mendefinisikannya dengan “akad yang

mengandung kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan lafal

nikah/kawin atau yang semakna dengan itu”.31

Sedangkan ulama Mazhab Hanafi mendefinisikannya dengan “akad yang

mempaedahkan halalnya melakukan hubungan suami istri antara seorang lelaki

dan seorang wanita selama tidak ada halangan syara’. Definisi jumhur ulama

menekankan pentingnya menyebutkan lafal yang dipergunakan dalam akad nikah

tersebut, yaitu harus lafal nikah, kawin atau yang semakna dengan itu.32

Perkataan 'nikah' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai

suatu perjanjian antara laki-laki dengan perempuan untuk membentuk rumah

tangga dengan resmi sesuai dengan peraturan agama maupun peraturan Negara.33

29
Sulaiman Al-Mufarraj, Bekal Pernikahan (Jakarta: Qisthi Press, 2003), hlm. 6.
30
An-Nisā’ (4): 21.
31
Abdul al-Rahman al-Jazīry, Al-Fiqh 'alā al-Maźāhib al-Arba'ah ( Beirut: Dar al-Fikr,
1969), IV: 1.

“Perkawinan dalam Hukum Islam,” http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-


32

makalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquran-makalah. akses 6 Mei 2008.

33
Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Besar Indonesia Kontemporer, hlm. 1035.
33

Menurut Idris Ramulyo perkawinan dalam Islam dapat ditinjau dari 3

sudut:34

1. Dari sudut hukum

Dari sudut hukum perkawinan itu adalah suatu perjanjian antara

pria dan wanita agar dapat melakukan hubungan kelamin secara sah dalam

waktu yang tidak tertentu.

2. Dari sudut keagamaan

Dari sudut keagamaan perkawinan dianggap sebagai suatu lembaga

yang suci di mana antara suami dan istri agar dapat hidup tenteram, saling

cinta mencintai, santun menyantuni dan kasih mengasihi antara satu

terhadap yang lain dengan tujuan mengembangkan keturunan. Perkawinan

adalah satu jalan yang halal untuk melanjutkan keturunan dan dengan

perkawinan itu akan terpelihara agama, kesopanan dan kehormatan.

3. Dari sudut kemasyarakatan (sosial)

Dari sudut kemasyarakatan bahwa orang-orang yang telah kawin

atau berkeluarga telah memenuhi salah satu bagian syarat dari kehendak

masyarakat, serta mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih

dihargai dari mereka yang belum menikah.

D. Syarat dan Rukun Perkawinan

Dalam beberapa literatur kitab kuning, para fuqaha nampaknya tidak

secara tegas menentukan wilayah mana yang menjadi syarat perkawinan dan

34
Moh. Idris Ramulyo, Tinjauan Beberapa Pasal UU No. 1 Tahun 1974 dari Segi Hukum
Islam (Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Co., 1985), hlm. 175-176.
34

bagian mana yang menjadi rukun perkawinan. Padahal dalam konteks lain, bidang

muamalah misalnya, syarat dan rukun jelas-jelas dibedakan. Sesuatu yang belum

memenuhi syarat tidak diperbolehkan melakukan tindakan tertentu, begitu juga

sebuah tindakan tidak bisa dianggap sah bila rukun-rukunnya tidak terpenuhi.

Syarat dan rukun seperti mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.

Perbedaan antara syarat dan rukun perkawinan ialah, bahwa rukun adalah

sebagian dari hakikat perkawinan, seperti calon suami dan isteri, wali, dan akad

nikah. Semuanya itu adalah sebagian dari hakikat perkawinan dan suatu

perkawinan tidak dapat terjadi jika rukun-rukun tersebut tidak terpenuhi.

Sedangkan syarat adalah sesuatu yang mesti ada dalam perkawinan, tetapi tidak

termasuk salah satu bagian dari hakikat perkawinan itu. Misalnya, syarat wali itu

laki-laki, berakal, balig, dan sebagainya.35

Syarat-syarat nikah adalah sesuatu yang tidak bisa menyempurnakan nikah

kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya.36 Allah SWT telah menetapkan

syarat-syarat yang bisa menciptakan kelanggengan pernikahan. Ini merupakan

hikmah dan rahasia Allah dalam melegitimasi nikah.

Syarat-syarat nikah tersebut di antaranya:

a. Kerelaan kedua calon pengantin

Syarat inilah yang paling penting. Karena itulah pihak laki-laki tidak boleh

memaksa wanita untuk menikah dengannya. Demikian juga halnya dengan pihak

wanita, tidak dibolehkan memaksa laki-laki untuk menikahinya.

35
Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, cet. ke-10 (Jakarta: Hidakarya
Agung, 1983), hlm. 15.
36
Sulaiaman Al-Mufarraj, Bekal Pernikahan, hlm. 8.
35

Allah SWT berfirman:

37
‫یﺎیﻬﺎ اﻟﺬیﻦ ٲﻣﻨﻮا ﻻیﺤﻞ ﻟﻜﻢ ٲن ﺗﺮﺙﻮا اﻟﻨﺴﺎء آﺮهﺎ‬

Maka haram hukumnya menikahi wanita tanpa kerelaannya (ridha), baik

wanita tersebut masih perawan ataupun sudah pernah menikah. Hal ini sesuai

dengan hadis Rasulullah SAW, yaitu:

‫ﻻ ﺗﻨﻜﺢ اﻷیﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﺴﺘﺎٔﻣﺮوﻻﺗﻨﻜﺢ اﻟﺒﻜﺮﺣﺘﻰ ﺗﺴﺘﺎٔذن ﻗﺎﻟﻮا یﺎ رﺳﻮل اﷲ وآﻴﻒ‬

38
‫ٳذﻥﻬﺎ ﻗﺎل أن ﺗﺴﻜﺖ‬

b. Wali

Perwalian secara etimologi berarti pertolongan (an-nuşrah). Maka wali

adalah orang yang bertindak untuk menyelesaikan urusan orang lain. Secara

terminologi perwalian artinya kewenangan untuk melakukan transaksi (al-'uqud)

dan melakukan perbuatan hukum lainnya (at-taşarrufat) secara langsung tanpa

menunggu persetujuan orang lain. Otoritas perwalian meliputi kewenangan

mengurus harta dan mengurus jiwa. Kewenangan mengurus harta mencakup

berbagai transaksi dan perbuatan hukum yang bertujuan untuk memelihara,

mengelola, menukar, memindahkan harta atau hak yang dimiliki oleh orang yang

berada dibawah perwaliannya. Sedangkan kewenangan mengurus jiwa meliputi

berbagai urusan yang berkaitan dengan masalah pertumbuhan, perkembangan

pendidikan, perawatan kesehatan, dan keselamatan orang yang berada di bawah

37
An-Nisā’ (4): 19.

38
Al-Bukhārī, Şahīh al-Bukhārī, (Mesir: Syirkah Maktabah an-Nasyiriyah, tt.), III: 135,
"Kitāb an-Nikāh". Hadis diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.
36

perwaliannya, termasuk masalah perkawinan. Disinilah peranan wali untuk

melaksanakan akad nikah bagi wanita yang berada di bawah perwaliannya.39

Hendaknya seorang wanita dinikahkan oleh walinya, sebagaimana hadis

Nabi SAW:

40
‫ﻻﻥﻜﺎح ٳﻻ ﺑﻮﻟﻲ‬

c. Calonnya jelas dan tertentu

Hendaknya perempuan yang akan dinikahi oleh seorang laki-laki telah

ditentukan dengan jelas baik nama ataupun sifatnya sehingga tidak terjadi

kesalahan penentuan dari saudara-saudaranya yang lain.

d. Saksi

Sejumlah besar yuris dan pemuka-pemuka mazhab memandang bahwa

persaksian dalam perkawinan merupakan syarat seperti halnya wali dan mereka

menetapkan tidak sah perkawinan yang tidak dihadiri oleh minimal dua orang

saksi. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan

oleh Ahmad dari Imran ibn Husain, yaitu:

41
‫ﻻﻥﻜﺎح ٳﻻ ﺑﻮﻟﻲ وﺷﺎهﺪى ﻋﺪل‬

Kedua hadis tersebut memberi petunjuk dengan jelas bahwa persaksian

sebagaimana perwalian merupakan unsur yang menentukan keabsahan nikah.

Mengenai kriteria saksi dalam perkawinan, ulama Syafi’iyyah sangat selektif

39
Mukhlisin Muzarie, Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil, (Yogyakarta: Pustaka
Dinamika, 2002), hlm. 57.
40
Asy-Syaukānī, Nail al-Autār (Beirut: Dar al-Fikr, 1973), VI: 208., hadis no. 2 riwayat
Ahmad ibn Hanbal dari Imran ibn Husain.
41
Ibid.
37

dalam menerima saksi. Mereka mengajukan persyaratan saksi haruslah orang

yang sudah dewasa, berakal sehat, merdeka, laki-laki, adil, beragama Islam, bukan

seteru, bukan anak, dapat mendengar, dapat melihat dan dapat berbicara. Kualitas

saksi yang demikian ini diperlukan agar dapat memberikan keterangan yang jujur

dan adil atas kesaksiannya. Apabila dalam pelaksanaan akad ternyata saksinya

tidak adil, maka perkawinan dianggap tidak sah.42

E. Tujuan Perkawinan

Sebuah perkawinan yang didirikan berdasarkan asas-asas yang Islami

adalah bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang sah dan baik-baik serta

mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di dalam kehidupan manusia.

Kebahagiaan tersebut bukan saja terbatas dalam ukuran fisik biologis tetapi juga

dalam psikologis dan sosial serta agamis. Keluarga yang didirikan oleh sepasang

suami dan isteri tersebut tentu telah memiliki taraf kedewasaan diri yang baik

dengan segala cabang-cabangnya serta telah pula mempunyai dan memenuhi

persyaratan-persyaratan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan bila

menghendaki suatu perkawinan berbahagia dan penuh dengan kesejahteraan,

keharmonisan dan keserasian yang menyeluruh.

Demi tujuan mulia tersebut, maka di tuntut bagi suami isteri untuk dapat

memenuhi syarat-syarat yang ideal. Seorang suami yang ideal adalah yang

memiliki persyaratan fisik biologis yang sehat segar, psikis-rohaniah yang sehat

dan utuh, serta kondisi sosial dan ekonomi yang cukup untuk memenuhi

42
Mukhlisin Muzarie, Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil, hlm. 61-64.
38

kebutuhan hidup berumah tangga. Dalam kondisi yang demikian seorang suami

akan memiliki kemampuan lebih baik dalam mengarungi kehidupan berumah

tangga yang masih asing bagi dirinya dan mempunyai kemampuan dalam

menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan kehidupan yang

datang dalam bahtera rumah tangganya. Demikian pula seorang isteri hendaknya

selalu mengusahakan agar taraf ideal dalam aspek-aspek kehidupan seorang suami

perlu dimilikinya, walaupun dalam beberapa hal ada sedikit perbedaannya 43

Disamping itu tujuan yang hakiki dari sebuah pernikahan adalah

mewujudkan mahligai rumah tangga yang sakinah dan selalu dihiasi mawaddah

dan rahmah. Kata mawaddah yang dipergunakan dalam al-Quran sebagaimana

tertera dalam surat Ar-Rūm ayat 17 berbeda dengan kata hubbun yang berarti

cinta. Pengertian kata hubbun mempunyai makna cinta secara umum karena ada

rasa senang dan tertarik pada obyek tertentu seperti cinta pada harta benda, senang

pada binatang piaraan, dan sebagainya. Sedangkan kata mawaddah mempunyai

makna rasa cinta yang dituntut melahirkan ketenangan dan ketentraman pada jiwa

seseorang serta bisa saling mengayomi antara suami isteri. Apalagi kata

mawaddah ini dibarengi kata rahmah yang mempunyai makna kasih sayang.44

Beberapa tujuan pernikahan menurut Kamal Mukhtar, yaitu:45

43
Hasan Basri, Keluarga Sakinah, Tinjauan Psikologi dan Agama, cet. ke-5 (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 32.

44
Mohammad Asmawi, Nikah, Dalam Perbincangan dan Perbedaan (Yogyakarta:
Darussalam, 2004) hlm. 19.
45
Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum, hlm 14-16.
39

1. Melanjutkan keturunan yang merupakan sambungan hidup dan

penyambung cita-cita, membentuk keluarga dan dari keluarga-keluarga

tersebut dibentuk masyarakat (umat). Firman Allah SWT:

‫واﷲ ﺟﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ أﻥﻔﺴﻜﻢ أزواﺟﺎ وﺟﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ أزواﺟﻜﻢ ﺑﻨﻴﻦ وﺣﻔﺪة‬

46
‫ورزﻗﻜﻢ ﻣﻦ اﻟﻄﻴﺒﺖ‬

2. Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah

mengerjakannya, sesuai dengan hadis:

‫یﺎ ﻣﻌﺸﺮاﻟﺸﺒﺎب ﻣﻦ اﺳﺘﻄﺎع ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺒﺎﺋﺔ ﻓﻠﻴﺘﺰوج ﻓ ﻥﻪ ٲﻏﺾ ﻟﻠﺒﺼﺮ‬

47
‫وٲﺣﺼﻦ ﻟﻠﻔﺮج وﻣﻦ ﻟﻢ یﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﺼﻮم ﻓ ﻥﻪ ﻟﻪ وﺟﺎء‬

3. Menimbulkan rasa cinta antara suami dan istri, menimbulkan rasa

kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya dan adanya rasa kasih

sayang antara sesama anggota-anggota keluarga. Rasa cinta dan kasih

sayang dalam keluarga ini akan dirasakan pula dalam masyarakat atau

umat sehingga terbentuklah umat yang meliputi cinta dan kasih

sayang. Firman Allah SWT:

‫وﻣﻦ أیﺎﺗﻪ أن ﺧﻠﻖ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ أﻥﻔﺴﻜﻢ أزواﺟﺎ ﻟﺘﺴﻜﻨﻮا ٳﻟﻴﻬﺎ وﺟﻌﻞ ﺑﻴﻨﻜﻢ‬

48
‫ﻣﻮدة ورﺣﻤﺔ ٳن ﻓﻲ ذاﻟﻚ ﻷیﺎت ﻟﻘﻮم یﺘﻔﻜﺮون‬

Ada tiga kata kunci yang disampaikan oleh Allah dalam ayat

tersebut, dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga yang ideal

46
An-Nahl (16): 72.

47
Al-Bukhāri, Şahīh al-Bukhārī, hlm. 143. Hadis diriwayatkan dari Abdullah ibn Mas’ud.
48
Ar-Rūm (30): 21.
40

menurut Islam, yaitu sakīnah, mawaddah, dan rahmah. Ulama tafsir

menyatakan bahwa as-sakīnah adalah suasana damai yang melingkupi

rumah tangga yang bersangkutan; masing-masing pihak menjalankan

perintah Allah SWT dengan tekun, saling menghormati, dan saling

toleransi.

Dari suasana as-sakīnah tersebut akan muncul rasa saling

mengasihi dan menyayangi (al-mawadah), sehingga rasa tanggung

jawab kedua belah pihak semakin tinggi. Selanjutnya, para mufasir

mengatakan bahwa dari as-sakinah dan al-mawadah inilah nanti

muncul ar-rahmah, yaitu keturunan yang sehat dan penuh berkat dari

Allah SWT, sekaligus sebagai pencurahan rasa cinta dan kasih suami

istri dan anak-anak mereka

4. Tujuan pernikahan untuk menghormati sunnah Rasullullah SAW.

Beliau mencela orang-orang yang berjanji akan puasa setiap hari, akan

bangun dan beribadah setiap malam namun tidak akan kawin.

5. Tujuan pernikahan untuk membersihkan keturunan, keturunan yang

bersih, yang jelas ayahnya, kakek dan sebagainya hanya diperoleh

dengan perkawinan.

Menurut Imam al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Idris Ramulyo,

tujuan dan faedah perkawinan bisa dibagi kepada lima hal, yaitu:49

1. Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan

serta memperkembangkan suku-suku bangsa manusia.

49
Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis dari UU No. 1 Tahun
1974 dan KHI, cet. ke-2 (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm 27.
41

2. Memenuhi tuntutan naluriah hidup kemanusiaan.

3. Memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan.

4. Membentuk dan mengatur rumah tangga yang menjadi basis pertama

dari masyarakat yang besar di atas dasar kecintaan dan kasih sayang.

5. Menumbuhkan kesungguhan berusaha mencari rejeki penghidupan

yang halal, dan memperbesar rasa tanggung jawab.


BAB III

BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN DALAM KOMPILASI

HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI

A. Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam

1. Perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam

Dalam Bab II Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam disebutkan:1

Pasal 2

Perkawinan menurut Hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat
kuat atau mīśāqan galīzan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah.

Pasal 3

Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang


sakinah, mawaddah dan rahmah.

Pasal 4

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai


dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan.

Pengertian ini sedikit berbeda dengan apa yang disepakati dalam UU

No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam pasal 1 UU No. 1 tahun 1974

perkawinan diartikan dengan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan

seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha

1
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-3 (Jakarta: Akademika
Pressindo, 2001), hlm. 114.
43

Esa.2 Sedangkan dalam KHI ada tambahan yang menyatakan bahwa

melaksanakan pernikahan merupakan ibadah dan untuk mentaati perintah

Allah.

Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara suami isteri. Ikatan

lahir artinya ikatan yang menampak atau ikatan formal sesuai dengan

peraturan-peraturan yang ada. Ikatan formal ini nyata, baik yang mengikat

dirinya, yaitu suami dan isteri, maupun bagi orang lain, yaitu masyarakat luas.

Oleh karena itu perkawinan pada umumnya diinformasikan kepada

masyarakat luas agar masyarakat dapat mengetahuinya, misalnya dengan

mengadakan walimah atau pesta pernikahan.

Ikatan batin adalah ikatan yang tidak tampak secara langsung,

merupakan ikatan psikologis. Antara suami isteri harus ada ikatan ini, harus

saling cinta mencintai satu dengan yang lain, kasih mengasihi, dan tidak ada

paksaan dalam perkawinan. Kedua ikatan tersebut di atas, yaitu ikatan lahir

dan batin dituntut dalam perkawinan.3

2. Landasan Kompilasi Hukum Islam dalam Pembatasan Umur

Perkawinan

a. Latar Belakang Penyusunan Kompilasi Hukum Islam

Kalau kita memperhatikan konsideran Keputusan Bersama Ketua

Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No.

2
Ibid., hlm. 67.
3
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, edisi ke-2 (Yogyakarta: Penerbit
Andi, 2004), hlm. 12.
44

07/KMA/1985 dan No. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksanaan

Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi atau yang lebih

dikenal sebagai Proyek Kompilasi Hukum Islam, setidaknya ada dua

pertimbangan yang dapat dikemukakan mengapa proyek ini diadakan, yaitu:4

1. Bahwa sesuai dengan fungsi pengaturan Mahkamah Agung

Republik Indonesia terhadap jalannya peradilan di semua

lingkungan peradilan di Indonesia, khususnya di lingkungan

Peradilan Agama, perlu mengadakan Kompilasi Hukum Islam

yang selama ini menjadikan hukum positif di Pengadilan Agama

2. Bahwa guna mencapai maksud tersebut, demi meningkatkan

kelancaran pelaksanaan tugas, sinkronisasi dan tertib administrasi

dalam Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi,

dipandang perlu membentuk suatu tim proyek yang susunannya

terdiri dari para Pejabat Mahkamah Agung dan Departemen

Agama Republik Indonesia.

Gagasan untuk mengadakan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia

untuk pertama kali diumumkan oleh Menteri Agama RI, Munawir Sadzali

pada bulan Februari 1985 dalam ceramahnya di depan para mahasiswa IAIN

Sunan Ampel Surabaya. Sejak itu ide ini menggelinding dan mendapat

sambutan hangat dari berbagai pihak. Apakah ini merupakan ide dari Menteri

Agama sendiri ataukah tidak?

4
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, hlm. 15.
45

Kalau kita membaca buku Ibrahim Hussein dan pembaharuan hukum

Islam di Indonesia kita mendapat kesan seakan-akan ide ini berpangkal dari

pemikiran Ibrahim Hussein yang kemudian disampaikan kepada Busthanul

Arifin, Hakim Agung Ketua Muda Mahkamh Agung yang membawai

Peradilan Agama yang menerima dan memahami dengan baik.5 Memang tidak

jelas di sini apakah ide yang dikemukakan oleh Ibrahim Hussein itu sesudah

atau sebelum pelontaran Menteri Agama yang dimaksud.

Pada tanggal 21 Maret 1985 di Yogyakarta, dalam satu rapat kerja

gabungan yang dihadiri oleh Ketua-ketua Pengadilan Tinggi dari Peradilan

Umum, Ketua-ketua Pengadilan Tinggi Agama dan Ketua-ketua Mahkamah

Militer se-Indonesia. Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama

menandatangani Surat Keputusan Bersama tentang Proyek Pembangunan

Hukum Islam melalui yurisprudensi atau disebut juga proyek Kompilasi

Hukum Islam.6 Penandatanganan tersebut merupakan buah dari gagasan Ketua

Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Agama, Busthanul

Arifin tentang penyusunan Kompilasi Hukum Islam dengan mengusulkan

dibentuknya Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi.

Akhirnya usulan tersebut terealisasi dengan lahirnya proyek kerjasama antara

Mahkamah Agung dengan Departemen Agama.7

5
Panitia Penyusunan Biografi. Prof. KH. Ibrahim Hussein dan Pembaharuan Hukum
Islam di Indonesia (Jakarta: Putra Harapan, 1990). hlm. 223-224.
6
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, hlm, 33.
7
Zarkowi Soeyoeti, “Sejarah Penyusunan KHI di Indonesia,” dalam Dadan Muttaqien,
dkk. (ed.), Peradilan Agama dan KHI dalam Tata Hukum Indonesia, cet. Ke-2 (Yogyakarta: UII
Press, 1999), hlm. 58.
46

Melalui Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri

Agama tanggal 21 Maret 1985 No. 07/KMA/1985 dan No. 25 Tahun 1985

tentang Penunjukan Pelaksana Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui

yurisprudensi dimulailah kegiatan proyek tersebut yang berlangsung untuk

jangka waktu 2 tahun. Pelaksanaan proyek ini kemudian didukung oleh

Keputusan Presiden No. 191/1985 tanggal 10 Desember 1985 dengan biaya

sebesar Rp. 230.000.000.8

b. Landasan Yuridis Formal

Isi kompilasi Hukum Islam terdiri dari 3 buku yaitu, Buku I tentang

Perkawinan, Buku II tentang Kewarisan, Buku III tentang Perwakafan. Secara

keseluruhan Kompilasi Hukum Islam terdiri atas 229 pasal dengan distribusi

yang berbeda-beda untuk masing-masing buku.9 Adapun isi buku 1 tentang

Hukum Perkawinan terdiri atas 19 bab dan 170 pasal.

Sistematika kompilasi mengenai hukum Perkawinan dalam KHI adalah

sebagai berikut:

I Ketentuan Umum (Pasal 1)

II Dasar-Dasar Perkawinan (Pasal 2-10)

III Peminangan (Pasal 11-13)

IV Rukun dan Syarat Perkawinan (Pasal 14-29)

V Mahar (Pasal 30-38)

8
Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara, cet ke-1 (Yogyakarta: LKiS,
2001), hlm. 145.
9
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, hlm. 63.
47

VI Larangan Kawin (Pasal 39-44)

VII Perjanjian Perkawinan (Pasal 45-52)

VIII Kawin Hamil (Pasal 53-54)

IX Beristeri lebh dari satu orang (Pasal 55-59)

X Pencegahan Perkawinan (Pasal 60-69)

XI Batalnya Perkawinan (Pasal 70-76)

XII Hak dan Kewajiban Suami Isteri (Pasal 77-84)

XIII Harta Kekayaan dalam Perkawinan (Pasal 85-97)

XIV Pemeliharaan Anak (Pasal 98-106)

XV Perwalian (Pasal 107-112)

XVI Putusnya Pewrkawinan (Pasal 113-148)

XVII Akibat Putusnya Perkawinan (Pasal 149-162)

XVIII Rujuk (Pasal 163-169)

XIX Masa Berkabung (Pasal 170)10

Dari kesembilan belas bab tersebut, pengaturan tentang batas umur

minimal perkawinan terdapat dalam Bab IV Pasal 15 tentang Rukun dan

Syarat Perkawinan. Selengkapnya pasal tersebut berbunyi:

Pasal 15

(1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh
dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan
dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yakni calon suami
sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-
kurangnya berumur 16 tahun.
(2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus
mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4) dan
(5) UU No. 1 Tahun1974.

10
Ibid., hlm. 65-66.
48

Ada empat sumber atau jalur yang digunakan oleh para

penyusun/perumus pengumpulan data untuk buku Kompilasi Hukum Islam

Indonesia, yaitu:11

1. Jalur kitab-kitab fiqih

2. Jalur wawancara dengan ulama-ulama Indonesia

3. Jalur yurisprudensi peradilan agama

4. Jalur studi banding ke negara-negara yang mempunyai perundang

undangan dibidang yang dibahas dalam Kompilasi Hukum Islam,

dalam hal ini negara Maroko, Turki, dan Mesir.

Menurut Busthanul Arifin, alasan memilih empat sumber penetapan

hukum dalam KHI di Indonesia adalah, pertama: karena kitab-kitab fiqih

merupakan bentuk perkembangan pemikiran hukum Islam dalam sejarah

perkembangannya. Kedua: karena ulama-ulama Indonesia dianggap paling

mengetahui kondisi Indonesia dari sisi tradisi, kebudayaan, dan konteks

masyarakatnya. Ketiga: lewat yurisprudensi kita mengetahui bagaimana

praktek yang berlaku di masyarakat Indonesia. Keempat: untuk mengetahui

bagaimana negara-negara muslim lain memberikan respon terhadap fenomena

kontemporer yang berhubungan dengan Hukum Perkawinan.12

Dari keempat sumber itulah isi KHI dibentuk dan dijadikan landasan

dalam penetapan segala hal yang berkaitan dengan hukum perkawinan.

Dengan kata lain, penetapan batas umur minimal perkawinan yang terdapat

11
Busthanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan
dan Prospeknya (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 58-60.
12
Ibid.
49

dalam pasal 15 KHI-pun seharusnya berlandaskan salah satu dari keempat

sumber di atas. Namun pada kenyataannya, ketentuan tersebut disamakan

dengan ketentuan yang terdapat dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang

Perkawinan. Sehingga untuk mencari dasar penetapan ini, kita harus kembali

ke ketentuan Undanng-Undang Perkawinan.

Menurut UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan ialah

ikatan lahir batin antara pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan

tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1). Menurut UU No. 1 tahun

1974 ini, perkawinan adalah sah jika memenuhi syarat-syarat dibawah ini:13

1. Perkawinan baru sah jika dilakukan menurut hukum agama dan

kepercayaannya masing-masing (Pasal 2 ayat 1). Hal ini berarti

bahwa bagi orang Islam perkawinan tetap dilangsungkan dengan

tata cara agama Islam yaitu dengan akad nikah dan ijab kabul

dihadapan wali nikah serta pihak pengantin perempuan dan

dihadiri sekurang-kurangnya 2 orang saksi. Sedangkan bagi bagi

orang Kristen, Buddha dan agama lainnya yang berdasarkan

Ketuhanan Yang Maha Esa tetap berlaku menurut agama dan

kepercayaannya pula.

2. Perkawinan harus berdasarkan persetujuan bebas dari kedua calon

mempelai. Oleh karena perkawinan mempunyai maksud dan tujuan

agar suami dan isteri dapat membentuk keluarga yang kekal dan

13
Moh. Idris Ramulyo, Beberapa Masalah tentang Hukum Perdata Peradilan Agama
dan Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Co., 1985), hlm. 182-183.
50

bahagia dan sesuai pula dengan hak azasi manusia, maka

perkawinan tersebut harus dilaksanakan tanpa adanya paksaan dari

pihak manapun juga.

3. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai

usia 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua orang tuanya (diatur

dalam Pasal 6 ayat 2, 3, 4, 5 dan 6).

4. Perkawinan hanya diperkenankan bila pihak pria sudah mencapai

umur 19 tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16

tahun. Penyimpangan terhadap syarat usia ini dapat dimintakan

dispensasi oleh Pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh

kedua orang tua pihak laki-laki dan perempuan (Pasal 7 ayat 3).

Batas umur sangat penting demi untuk menjaga kesehatan,

keturunan maupun kemantapan dalam mengarungi lautan samudera

rumah tangga kelak.

Sebagai konsekuensi dari prinsip ini adalah:

a. Kebiasaan perkawinan anak-anak atau perkawinan yang masih

berumur kurang dari batasan umur yang telah ditetapkan harus

dihapuskan, karena hanya akan menambah beban dan tanggung

jawab bagi orang tua.

b. Prinsip-prinsip ini juga menunjang terlaksananya program

Keluarga Berencana, guna menjaga pertumbuhan penduduk yang

menjadi masalah Nasional.


51

c. Diharapkan pula prinsip-prinsip ini mampu untuk mengurangi

angka-angka kelahiran dan angka perceraian, karena perkawinan

yang dilakukan oleh calon suami isteri yang masih muda, belum

mampu untuk bertanggung jawab sendiri sehingga sangat mudah

menimbulkan perceraian.14

Pembatasan tentang umur minimal perkawinan dalam KHI ini jelas

sekali masih mengadopsi ketentuan dari UU No. 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan pasal 7. Padahal apabila kita menilik kembali kepada sejarah

penyusunan draft Rancangan Undang-Undang Perkawinan akan didapati pro

dan kontra mengenai, salah satunya pembatasan umur menikah tersebut.

Menurut Jaih Mubarok, RUU Perkawinan yang diajukan oleh

pemerintah kepada DPR sebelum dijadikan undang-undang, dinilai tidak

sejalan dengan perkawinan menurut al-Qur'an dan as-Sunnah. Oleh karena itu,

ia mendapat tanggapan dan sorotan yang tajam dari berbagai kalangan.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengirim surat nomor A-6/174/73

tentang RUU Perkawinan tanggal 30 Juli 1973 (29 Jumadil Akhir 1393 H.)

yang ditujukan kepada Menteri Kehakiman. Dalam surat tersebut dinyatakan

bahwa RUU Perkawinan bertentangan secara diametral dengan ajaran-ajaran

Islam. Surat tersebut dilampiri dengan pasal-pasal RUU Perkawinan yang

dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tujuh ketentuan RUU Perkawinan

yang dipandang tidak sesuai dengan ajaran Islam adalah: (1) pencatatan

perkawinan sebagai syarat sah perkawinan; (2) tidak ada pembatasan jumlah

14
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, cet. ke-1
(Yogyakarta: Insania Cita Press, 2006), hlm. 62.
52

isteri dalam poligami (poligini); (3) batas usia perkawinan (21 tahun bagi pria

dan 18 tahun bagi wanita); (4) tidak memasukan susuan (radā’at) sebagai

penghalang perkawinan; (5) perbedaan agama tidak menjadi penghalang

perkawinan; (6) waktu tunggu bagi isteri yang dicerai suaminya; dan (7) dua

kali cerai menjadi penghalang perkawinan.15

Batas umur yang tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan

tersebut bila dikaji lebih lanjut, lebih menitik beratkan pada pertimbangan segi

kesehatan. Hal itu akan jelas dapat dibaca pada penjelasan dari Undang-

Undang tersebut, bahwa "Untuk menjaga kesehatan suami isteri dan

keturunannya, perlu ditetapkan batas-batas umur untuk perkawinan". Dengan

pernyataan seperti itu jelas sekali bahwa yang menonjol dalam meletakkan

batas umur dalam perkawinan lebih atas dasar pertimbangan kesehatan,

daripada mempertimbangkan baik segi psikologis, maupun segi sosialnya.16

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mempunyai

hubungan erat dengan masalah kependudukan. Dengan adanya pembatasan

umur pernikahan baik bagi wanita maupun bagi pria diharapkan lajunya

kelahiran dapat ditekan seminimal mungkin, dengan demikian program

Keluarga Berencana Nasional dapat berjalan seiring dan sejalan dengan

undang-undang ini. Sehubungan dengan hal tersebut, pekawinan di bawah

umur dilarang keras dan harus dicegah pelaksanaannya. Pencegahan ini

semata-mata didasarkan agar kedua mempelai dapat memenuhi tujuan luhur

15
Jaih Mubarok, Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia, cet. ke-1 (Bandung:
Pustaka Bani Quraisy, 2005), hlm. 41-42.
16
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, hlm. 27.
53

dari perkawinan yang mereka langsungkan itu dari perkawinan yang telah

mencapai batas umur jasmani maupun rohani.

Tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan rumah tangga bahagia

dan sejahtera dengan mewujudkan suasana rukun dan damai dalam suatu

rumah tangga yang selalu mendapat taufik dan hidayah dari Tuhan Yang

Mahakuasa. Agar hal ini dapat terlaksana, maka kematangan calon mempelai

sangat diharapkan, kematangan dimaksud disini adalah kematangan umur

perkawinan, kematangan dalam berpikir dan bertindak sehingga tujuan

perkawinan sebagaimana tersebut di atas dapat dilaksanakan dengan baik.17

Hal senada juga diungkapkan oleh Soemiyati. Menurutnya, adanya

ketentuan dalam pasal 15 KHI dan Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan ini dimaksudkan agar calon pengantin sudah masak jiwa raganya,

karena kedewasaan calon pengantin ditentukan oleh usia dan kematangan jiwa

individunya.18

B. Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Psikologi

1. Perkawinan dalam Psikologi

Dalam pandangan psikologi, perkawinan merupakan salah satu bentuk

hubungan antar manusia yang berlainan jenis untuk memenuhi hasrat dan

kebutuhan jasmani serta rohaninya. Hasrat atau dorongan adalah sesuatu

kekuatan dari dalam yang mempunyai tujuan tertentu atau untuk memenuhi

17
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2006), hlm. 11.
18
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan (Yogyakarta:
Liberty, 1986), hlm. 30.
54

kebutuhan hidup tertentu.19 Dan tentu saja, dalam pemenuhan kebutuhan ini

seseorang tidak meninggalkan ketentuan-ketentuan yang telah diterapkan.

Bahwa dalam usia-usia tertentu seseorang secara psikologis telah memiliki

kematangan jiwa untuk melangsungkan pernikahan atau walaupun dalam usia

yang dianggap sudah pantas untuk menikah malah belum memiliki kesiapan

mental. Pernikahan yang terlalu dipaksakan hanya akan berakibat buruk bagi

perkembangan kehidupan berkeluarga selanjutnya.

Secara kebutuhan manusia, nikah merupakan sesuatu hal yang biasa.

Pernikahan sama dengan kebutuhan manusia untuk makan dan minum,

istirahat, belajar, olahraga, dll.

Menurut psikologi pernikahan berarti menyatukan dua jiwa yang

berbeda. Kendala dalam rumah tangga pasti ada namun hal itu bisa

diminimalisir apabila suami dan isteri telah memiliki kematangan jiwa dan

mental untuk mengarungi bahtera kelarga.

2. Landasan Psikologi dalam Batas Umur Perkawinan

a. Sekilas tentang Psikologi

Secara etimologis, kata “psikologi” berasal dari bahasa Yunani psyche

yang berarti “jiwa” dan logos yang artinya “ilmu” atau “ilmu pengetahuan”.

Dengan demikian psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang

jiwa atau secara singkat bisa disinonimkan dengan istilah Ilmu Jiwa. Hanya

saja dalam perkembangannya psikologi tidak menjadikan "jiwa" sebagai objek

19
M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan (Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya, 1993), hlm. 120.
55

kajian, mungkin lebih tepat dikatakan sebagai mengkaji gejala-gejala kejiwaan

yang muncul dalam tingkah laku manusia. Karena jiwa dipandang sebagai

sesuatu yang bersifat abstrak, manusia tidak dapat dengan pasti mengetahui

jiwa secara obyektif, yang nampak hanya gejala kejiwaan yang

termanifestasikan dalam tingkah laku.20

Keabstrakan jiwa sendiri dapat dilihat dalam firman Allah SWT:

21
‫وﻳﺴﺎٔﻟﻮﻧﻚ ﻋﻦ اﻟﺮوحۖ ﻗﻞ اﻟﺮوح ﻣﻦ ٲﻣﺮرﺑّﻰ وﻣﺎ ٲوﺗﻴﺘﻢ ﻣﻦ اﻟﻌﻠﻢ ٳﻻ ﻗﻠﻴﻼ‬

Dengan demikian jelas sudah bahwa manusia hanya dapat memahami

jiwa sebatas gejala kejiwaan yang muncul dari tingkah lakunya. Manusia

hanya diberi sedikit pengetahuan tentang rūh-nya.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kejiwaan

manusia. Penyelidikan tentang gejala-gejala kejiwaan itu sendiri mula-mula

dilakukan oleh para filsuf Yunani Kuno. Pada waktu itu belum ada

pembuktian-pembuktian nyata atau empiris, melainkan segala teori

dikemukakan berdasarkan argumentasi-argumentasi logis (akal) belaka.

Berabad-abad setelah itu, psikologi juga masih merupakan bagian dari filsafat,

antara lain di Prancis muncul Rene Descartes (1596-1650), di Inggris muncul

tokoh Jhon Locke (1623-1704), mereka dikenal sebagai tokoh asosiasionisme,

yaitu doktrin psikologi yang menyatakan bahwa jiwa itu tersusun atas elemen-

elemen sederhana dalam bentuk ide-ide yang muncul dari pengalaman

20
Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan (Jakarta: Teraju, 2004), hlm. 1.
21
Al-Isrā' (17): 85.
56

inderawi. Ide-ide ini bersatu dan berkaitan satu sama lain lewat asosiasi-

asosiasi.22

Dalam perjalanan sejarahnya, psikologi didefinisikan dengan berbagai

cara oleh para ahli ilmu ini. Para ahli psikologi terdahulu, mendefinisikan

bidang mereka sebagai “Studi Kegiatan Mental”. Mulai tahun 1930-an sampai

1960-an, sebagian besar buku teks psikologi mempergunakan definisi ini.

Namun karena ruang lingkup psikologi saat ini begitu luas, maka definisi

psikologi kontemporer pun mengalami pengembangan. Disini, psikologi

didefinisikan sebagai studi ilmiah mengenai proses prilaku dan proses

mental.23 Bidang khusus yang terdapat di dalamnya sangat beraneka ragam

termasuk psikologi eksperimental dan psikologi fisiologis, psikologi

perkembangan, psikologi sosial, psikologi kepribadian, psikologi klinis dan

penyuluhan, psikologi sekolah dan pendidikan; serta psikologi industri dan

permesinan. Sehingga bisa dikatakan bahwa psikologi merupakan salah satu

bagian dari ilmu perilaku atau ilmu sosial.24

b. Faktor Psikologis dalam Perkawinan

Di atas telah dijelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin

antara suami dan isteri. Pengertian ini memberikan gambaran yang jelas

22
J. P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm.
39. Lihat juga M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, hlm. 1-4., dan
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, edisi ke-4 (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2004), hlm. 1-
10.
23
Rita L. Atkinson dkk., Pengantar Psikologi, alih bahasa Nurdjannah Taufiq dan
Rukmini Barhana, edisi ke-8 (Jakarta: Erlangga, tt.), hlm. 18.
24
Ibid., hlm. 37.
57

bagaimana pentingnya faktor psikologis dalam sebuah perkawinan. Ikatan

batin adalah ikatan yang tidak tampak secara langsung, merupakan ikatan

psikologis. Antara suami isteri harus ada ikatan ini, harus saling cinta

mencintai satu dengan yang lain, kasih mengasihi, dan tidak ada paksaan

dalam perkawinan. Kedua ikatan tersebut di atas, yaitu ikatan lahir dan batin

dituntut dalam perkawinan.25

Dalam kajian psikologi memang tidak secara tegas menentukan batas

umur minimal perkawinan seseorang, pada umur berapa dan pada masa

periode yang mana. Psikologi hanya mengkaji masalah ini dilihat dari sudut

kejiwaan dan tingkah laku seseorang sehingga seseorang tersebut telah

memiliki kematangan baik fisik maupun psikis. Dan juga, psikologi

merupakan ilmu pengetahuan yang sifatnya eksperimental. Kebenarannya

tidak absolut dan didasarkan pada realita-realita yang terjadi di masyarakat.

Dilihat dari segi psikologi sebenarnya pada anak perempuan yang telah

berumur 16 tahun atau laki-laki yang telah berumur 19 tahun, belumlah dapat

dikatakan bahwa anak tersebut telah dewasa secara psikologis. Pada umur 16

tahun maupun 19 tahun pada umumnya masih digolongkan pada umur remaja

atau adolesensi.26

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescer yang

berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa.” Istilah adolescence, seperti

yang digunakan pada saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, mencakup

kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Masa ini dimulai pada usia
25
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, hlm. 12.
26
Lihat periodeisasi umur manusia menurut Elizabeth. B. Hurlock pada Bab II, hlm. 24.
58

13 tahun sampai usia 16-18 tahun.27 Sedang dalam istilah hukum Islam, masa-

masa ini disebut masa balig yang terjadi dalam diri anak perempuan usia 11-

12 tahun dan anak laki-laki usia 13-14 tahun.28

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju

dewasa, baik secara jasmani maupun rohani. Periode masa remaja dapat

didefinisikan secara umum sebagai suatu periode dalam perkembangan yang

dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanaknya

sampai datangnya awal masa dewasanya. Secara tentatif pula para ahli

umumnya sependapat bahwa rentang masa remaja itu berlangsung dari sekitar

11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.

Masa remaja secara global berlangsung antara usia 13 sampai dengan

21 tahun. Masa remaja ini dibagi menjadi dua, yaitu masa remaja awal usia

13-18 tahun dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun. Pertumbuhan dan

perkembangan fisik dan seksual berlangsung sekitar usia 12 tahun. Pada

remaja awal khususnya bagi remaja putri rahimnya sudah bisa dibuahi karena

ia sudah mendapatkan menstruasi (datang bulan) yang pertama. seorang

remaja akhir mengalami kematangan seksual (dalam kondisi seks yang

optimum) dan telah membentuk pola-pola kencan yang lebih serius dan

mendalam dengan lawan jenis atau berpotensi aktif secara seksual, terutama

27
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan, alih bahasa Dra. Istiwidayanti dan Drs. Soedjarwo, M.Sc., edisi ke-5 (Jakarta:
Erlangga, tt.), hlm. 206.
28
Moh. Abdurrouf dkk., Masa Transisi Remaja, cet. ke-2, (Jakarta: Triasco Publisher,
2004), hlm. 1. lihat juga Johan Suban Tukan, Metoda Pendidikan Seks, Perkawinan, dan Keluarga
(Jakarta: Erlangga, 1994), hlm. 37.
59

remaja putri akan lebih sensitif dorongan seksualnya dan memiliki rasa ingin

tahu sangat besar dari pada remaja putra.29

Menurut Sarlito Wirawan Sarwono konsep tentang ‘remaja’, bukanlah

berasal dari bidang hukum melainkan berasal dari bidang ilmu-ilmu sosial

lainnya, seperti Antropologi, Sosiologi, Psikologi, dan Paedagogi.30

Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang

kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Proses

perubahan dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa

remaja diuraikan sebagai berikut:

1. Perubahan Fisik

Rangkaian perubahan yang paling jelas nampak dialami oleh

remaja ialah perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada

masa pubertas atau pada awal masa remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun

pada wanita 12-16 tahun pada pria. Hormon- hormon baru diproduksi oleh

kelenjar endokrin, dan ini membawa perubahan dalam ciri-ciri seks primer

dan memunculkan ciri-ciri seks sekunder. Gejala ini memberi isyarat

bahwa fungsi reproduksi untuk menghasilkan keturunan sudah mulai

bekerja. Seiring dengan itu, berlangsung pula pertumbuhan yang pesat

pada tubuh dan anggota tubuh untuk mencapai proporsi seperti orang

dewasa. Seorang individu lalu mulai terlihat berbeda.31

29
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, hlm. 28.
30
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, cet. ke-6, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006),
hlm. 4.
31
Moh. Abdurrouf dkk., Masa Transisi Remaja, hlm. 2.
60

2. Perubahan Emosionalitas

Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi

pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan

pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Akibat langsung dari

perubahan fisik dan hormonal tadi ialah perubahan dalam aspek

emosionlitas pada remaja sebagi akibat dari perubahan fisik dan hormonal

tadi, dan juga pengaruh lingkungan yang terkait dengan denagn badaniah

tersebut. Hormonal menyebabkan perubahan seksual dan menimbulkan

dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan baru. Keseimbangan hormonal

yang baru menyebabkan individu merasakan hal-hal yang belum pernah

dirasakan sebelumnya.32

3. Perubahan Kognitif

Perubahan dalam kemampuan berpikir ini diungkapkan oleh Piaget

sebagai tahap terakhir yang disebut formal operation dalam perkembangan

kognitifnya. Dalam tahapan yang bermula pada umur 11 atau 12 tahun ini,

remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit dari apa yang ada,

remaja mulai mampu berhadapan denagn aspek-aspek yang hipotesis dan

abstrak dari realita.33

4. Implikasi Psikososial

Secara perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat itu

membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya

32
Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, hlm. 179.
33
F.J. Monks dkk., Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, alih
bahasa Siti Rahayu Haditono cet. ke-3 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985), hlm
175.
61

sendiri. Pada saat remaja mengalami keprihatinan yaitu dimana remaja

sangat tidak siap untuk berkutat dengan kerumitan dan ketidak pastian,

berikutnya muncul fakor-faktor yang menimpa dirinya. Remaja dalam

masyarakat kita secara tipikal dituntut untuk membuat satu pilihan, suatu

keputusan tentang apa yang dia lakukan bila dewasa.34

Dengan melihat ciri-ciri perubahan masa remaja di atas, kita bisa

menyimpulkan bahwa sebenarnya masa remaja adalah masa pencariaan jati

diri, sehingga kematangan jiwanya masih labil.

Umur bukanlah suatu patokan yang mutlak, tetapi sebagai ancar-ancar

untuk menjaga agar tidak terjadi perkawinan di bawah umur. Faktor umur dan

sifat kedewasaan diperlukan dalam perkawinan karena hanya dengan ini maka

tujuan perkawinan bisa tercapai. Pada umumnya para ahli tidak jauh berbeda

pendapatnya mengenai permulaan masa dewasa yang ada pada individu, yaitu

sekitar umur 21 tahun, yang sering disebut sebagai masa dewasa awal.

Salah satu ciri kedewasaan seseorang dilihat dari segi psikologis ialah

bila seseorang dapat mengendalikan emosinya, dan dengan demikian dapat

berpikir secara baik, dapat menempatkan persoalan sesuai dengan keadaan

yang seobyektif-obyektifnya.35

Selain itu, kematangan jiwapun menjadi faktor penting dalam

perkawinan. Tanpa adanya kematangan jiwa, kehidupan suami isteri terasa

hambar karena satu sama lain tidak akan saling mengerti dan rasa kasih

sayang akan terasa kurang.


34
Ibid., hlm. 215.
35
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, hlm. 29.
62

Dalam buku Paradigma Psikologi Islam, Studi tentang Elemen

Psikologi dari Al-Quran, Baharuddin menjelaskan secara gamblang beberapa

pendapat aliran psikologi tentang struktur jiwa manusia.36

Menurut Psikoanalisa –teutama Freud- struktur psikis manusia terdiri

dari tiga sistem, yaitu: id, ego dan super ego. Id berisikan dorongan-dorongan

instink biologis dan pengalaman-pengalaman traumatis masa kanak-kanak;

ego merupakan kesadaran terhadap realitas kehidupan; dan super ego

merupakan kesadaran normatif. Sementara itu, psikis manusia memiliki tiga

strata kesadaran, yaitu consciousness (kesadaran), pre consciousness (bawah

sadar, ambang sadar), dan unconsciousness (ketidaksadaran).

Berbeda dengan psikoanalisis, behaviorisme menggambarkan jiwa

manusia sebagai mesin otomatis yang rumit, kompleks dan canggih. Jiwa itu

pada mulanya kosong, dan diisi dengan pengalaman secara sedikit demi

sedikit. Pengalaman itu berhubungan satu dengan lainnya melalui proses

asosiasi secara otomatis. Hubungan itu dapat berbentuk kausalitas, hubungan

tempat, hubungan waktu, hubungan perbandingan, dan lain-lain. Pengalaman

yang memiliki kesamaan akan berhubungan saling mendekat dan pengalaman

yang berbeda akan saling menjauh.37

Sementara itu, psikologi Humanistik memandang manusia sebagai satu

kesatuan yang utuh antara raga, jiwa, dan spiritual. Menurut humanistik

susunan struktur psikis manusia terdiri dari dimensi somatis (raga), psikis

36
Baca lebih lanjut Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, Studi tentang Elemen
Psikologi dari Al-Quran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm.296-304. dan Akyas Azhari,
Psikologi Umum dan Perkembangan, hlm. 14.
37
Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, hlm. 17.
63

(kejiwaan), dan neotik (kerohanian), atau disebut juga dengan dimensi

spiritual. Komponen-komponen jiwa yang berisikan pikiran, perasan,

kemauan dan nilai-nilai kemanusian tersebut membentuk rangkaian kebutuhan

jiwa yang tersusun secara bertingkat, dari kebutuhan dasar sampai kepada

kebutuhan utama.

Kebutuhan-kebutuhan itu menurut Maslow, seperti dikutip oleh Bimo

Walgito, adalah sebagai berikut:38

1. Physiological needs (kebutuhan dasar fisiologis), yaitu kebutuhan

kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena

berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan

kelangsungan hidup manusia, seperti: makanan, air, oksigen,

istirahat, seks, dan lain-lain.

2. Safety needs atau need for self-security, yaitu kebutuhan

ketentraman, kepastian, dan ketetapan keadaan lingkungan, seperti:

keamanan, ketentraman, dan kenyamanan, dan lain-lain.

3. Belongingness and love needs, yaitu kebutuhan ikatan emosional

dengan individu lain, seperti: Cinta, kasih sayang, dan lain-lain.

4. Esteem needs atau need for self esteem, yaitu kebutuhan akan rasa

harga diri, mencakup kompetensi, percaya diri, kekuatan pribadi,

kemandirian, prestasi, penghargaan atas segala yang dilakukan, dan

lain-lain.

38
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, hlm. 16.
64

5. Self-actualization needs (kebutuhan akan aktualisasi diri), yaitu

hasrat individu untuk menjadi sesorang yang sesuai dengan

keinginan dan potensi yang dimilikinya.

Sedangkan menurut Psikologi Islami manusia adalah makhluk unik

(istimewa). Ia merupakan makhluk satu wujud dua dimensi (two in one) yang

terdiri dari jasmani dan rohani. Dimensi rohani yang disebut dengan an-nafs

(jiwa) memiliki unsur-unsur; an-nafsu, al-'aql, al-qalb, ar-rūh, dan al-fiţrah.

Unsur-unsur ini membentuk komposisi (struktur) yang sistematis, utuh,

integritas, dan sempurna, dan inilah struktur atau komposisi jiwa manusia

dalam psikologi Islami.39

39
Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, hlm. 306.
BAB IV

ANALISIS PERBANDINGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN

PSIKOLOGI TENTANG BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN

A. Analisis Persamaan dan Perbedaan Batas Umur Minimal Perkawinan

dalam Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi

Penetapan tentang batas umur minimal perkawinan selain diatur dalam UU

No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juga terdapat dalam Pasal 15 Kompilasi

Hukum Islam. Selengkapnya pasal 15 KHI tersebut berbunyi:1

(1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya


boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang
ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yakni
calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri
sekurang-kurangnya berumur 16 tahun.
(2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus
mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3),
(4) dan (5) UU No. 1 Tahun1974.

Masalah penentuan umur dalam Undang-undang perkawian atau KHI

memang bersifat ijtihādiyyah, sebagai usaha pembaharuan pemikiran fiqih masa

lalu. Namun demikian, bila dilacak referensi syar'inya, mempunyai landasan yang

kuat, misalnya isyarat Allah dalam ayat:

‫وﻟﻴﺨﺶ اﻟﺬﻳﻦ ﻟﻮ ﺗﺮآﻮا ﻣﻦ ﺧﻠﻔﻬﻢ ذ رﻳﺔ ﺿﻌﺎﻓﺎ ﺧﺎﻓﻮا ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﺎﻟﻴﺘﻘﻮا اﷲ وﻟﻴﻘﻮﻟﻮا‬

2
.‫ﻗﻮﻻ ﺳﺪﻳﺪا‬

1
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-3 (Jakarta: Akademika
Pressindo, 2001), hlm. 117.
2
An-Nisā' (4): 9.
66

Ayat ini memang bersifat umum, tidak secara langsung menunjukan

bahwa perkawinan yang dilakukan oleh pasangan usia muda yakni di bawah

ketentuan yang diatur Undang-undang Perkawinan atau KHI, akan menimbulkan

kekhawatian kesejahteraannya terhadap keturunan yang dihasilkan, akan tetapi

rendahnya usia kawin akan lebih banyak menimbulkan hal-hal yang tidak sejalan

dengan misi dan tujuan perkawinan. Tujuan-tujuan perkawinan ini tentu akan sulit

apabila masing-masing mempelai belum masak jiwa dan raganya.

Dalam ayat lain dinyatakan:

3
‫واﺑﺘﻠﻮا اﻟﻴﺘﺎﻣﻰ ﺣﺘﻰ ٳذا ﺑﻠﻐﻮا اﻟﻨﻜﺎح ﻓﺎن ءاﻧﺴﺘﻢ ﻣﻨﻬﻢ رﺷﺪا ﻓﺎدﻓﻌﻮا اﻟﻴﻬﻢ اﻣﻮاﻟﻬﻢ‬

Dari ayat di atas, ada 3 klasifikasi batas awal umur sebagai dasar hukum

seseorang dikenai suatu kewajiban dalam hukum Islam didasarkan pada usia dan

atau tanda-tanda fisik yang dalam istilah hukum Islam dikenal istilah tamyīz,

bālig, dan rusyd.

1. Mumayyiz; batas mulainya tidak dapat dipastikan dengan umur tertentu

yang telah dicapai oleh sesorang atau dengan adanya tanda-tanda

tertentu yang terdapat pada perkembangan jasmani, melainkan

tergantung pada perkembangan akalnya.4 Apabila memperhatikan salah

satu hadi Nabi SAW, periode ini dimulai pada umur 7 tahun.

Sedangkan berakhirnya periode tamyīz, yaitu apabila seeorang telah

mencapai masa balig.

3
An-Nisā' (4): 6.
4
Zakiah Daradjat dkk., Ilmu Fiqh (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995), II: 2.
67

2. Bālig; batas awal dimulainya umur balig secara yuridik (hukmī) adalah

jika seseorang telah berusia 12 tahun bagi laki-laki dan berusia 9 tahun

bagi perempuan.5 Sedangkan umur paling lambat bagi seseorang untuk

mencapai masa ini adalah 15 tahun.6 Periode balig ini berakhir sampai

dengan dengan meninggal dunianya seseorang itu.

3. Rusyd; Hukum menekankan pentingnya pencapaian rusyd atau

kedewasaan mental, yaitu baik kesempurnaan bulūg maupun

kematangan mental, dalam arti mampu untuk berpikir (‘aql). Sifat

rusyd ini biasanya datang pada seseorang yang telah mencapai balig

('aqil bālig).

Dari beberapa klasifikasi tersebut, penetapan batas umur minimal yang

terdapat dalam pasal 15 KHI masuk dalam kategori balig. Karena kriteria

seseorang memasuki masa balig adalah salah satunya telah berumur 12 tahun.7

Secara normatif, ketentuan yang dibuat dalam Undang-undang Perkawinan

ataupun KHI mengenai batas umur minimal perkawinan ini telah sesuai dengan

syarat-syarat perkawinan yang terdapat dalam hukum Islam. Namun, perlu dilihat

kembali klasifikasi yang lain, yakni sifat rusyd yang harus dimiliki seseorang

walaupun ia telah mencapai usia balig.

Pada masa sekarang, periode balig lebih cepat datang pada diri seseorang

tetapi tidak dibarengi dengan datangnya sifat rusyd. Banyak individu yang

5
Ibid., hlm. 3.
6
Dadan Muttaqien, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian, cet. ke-1
(Yogyakarta: Insania Cita Press, 2006), hlm. 24.
7
Zakiah Daradjat dkk., Ilmu Fiqh, hlm. 4.
68

menjalani proses perkembangan lebih cepat dibanding individu yang lain. Hal ini

bisa disebabkan kerana berbedanya faktor lingkungan, geografis atau keadaan

sosial di sekitarnya. Secara jasmani memang seseorang yang berumur 19 tahun

bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan telah matang fisiknya. Organ-organ

seksualnya juga telah mengalami kematangan fungsi.8

Sedangkan dari sudut psikologi, periode balig berarti masuk dalam masa

remaja. Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan

periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut secara ringkas dijelaskan

dalam buku Psikologi Umum dan Perkembangan,9 yaitu:

a. Masa remaja adalah salah satu periode yang penting dalam proses

perubahan, baik dalam pertumbuhan maupun perkembangan, yang

terjadi secara cepat.

b. Masa remaja adalah periode peralihan. Dalam setiap periode peralihan,

status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang

harus dilakukan.

c. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode mempunyai

masalah-masalah sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi

masalah yang sulit diatasi baik yang terjadi pada laki-laki maupun

perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu. Pertama, sepanjang

masa kanak-kanak, masalahnya sebagian diselesaikan oleh orang tua

8
F.J. Monks dkk., Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, alih
bahasa Siti Rahayu Haditono cet. ke-3 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1985), hlm
228.
9
Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan (Jakarta: Teraju, 2004), hlm. 180-
182.
69

dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman

dalam mengatasi masalah. Kedua, karena merasa diri bisa mandiri,

sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak

bantuan orang tua atau guru-guru.

d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada tahun-tahun awal

masa remaja, penyesuaian dengan kelompok masih tetap penting bagi

anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai

mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan

teman-teman dalam segala hal.

e. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Dengan semakin

mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah

untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan

kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa.

Remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa. Masa transisi ini

tidak secara langsung terjadi tanpa melalui tahap-tahap tertentu. Ada beberapa

ciri-ciri psikologi tertentu pada seseorang yang sedang berkembang menuju ke

pendewasaan (sifat dewasa). Menurut G.W. Allport, yang dikutif oleh Sarlito

Wirawan Sarwono, ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:10

1. Pemekaran diri sendiri (extension of the self), yang ditandai dengan

kemampuan seseorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai

bagian dari dirinya sendiri juga.

10
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, cet. ke-6 (Jakarta: Rajawali Pers, 2006),
hlm. 71-72.
70

2. Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara obyektif (self

objectivication) ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai

wawasan tentang diri sendiri (self insight) dan kemampuan untuk

menangkap humor (sense of humor) termasuk yang menjadikan dirinya

sendiri sebagai sasaran.

3. Memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life). Hal itu

dapat dilakukan tanpa perlu merumuskannya dan mengucapkannya

dalam kata-kata. Orang yang sudah dewasa tahu dengan tepat

tempatnya dalam rangka susunan objek-objek lain di dunia. Ia tahu

kedudukannya dalam masyarakat, ia paham bagaimana harusnya ia

bertingkah laku dalam kedudukan tersebut, dan ia berusaha mencari

jalannya sendiri menuju sasaran yang ia tetapkan sendiri.

Sedangkan sifat rusyd yang diartikan sebagai kecakapan seseorang dalam

melakukan tindakan hukum hanya dapat tercapai bila seseorang telah dewasa.

Istilah adult (dewasa) berasal dari kata kerja latin, seperti juga istilah adolescene

yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan.” Akan tetapi, kata adult berasal dari

bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh

menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa.” Oleh

karena itu, orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan

pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama

dengan orang dewasa lainnya.11

11
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan, alih bahasa Dra. Istiwidayanti dan Drs. Soedjarwo, M.Sc., edisi ke-5 (Jakarta:
Erlangga, tt.), hlm. 246.
71

Masa dewasa dapat dibagi menjadi 3 masa, yaitu:

1. Masa Dewasa Dini

Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur

40 tahun, saat perubahan–perubahan fisik dan psikologis yang

menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.

2. Masa Dewasa madya

Masa dewasa madya masa dimulai pada umur 40 tahun sampai pada

umur 60 tahun, yakni saat baik menurunnya kemampuan fisik dan

psikologis yang jelas nampak pada setiap orang.

3. Masa Dewasa Lanjut

Masa dewasa lanjut atau usia lanjut dimulai pada umur 60 tahun

sampai kematian. Pada waktu ini baik kemampuan fisik maupun

psikologis cepat menurun, tetapi teknik pengobatan modern, serta

upaya dalam hal berpakaian dan dandanan, memungkinan pria dan

wanita berpenampilan, bertindak, dan berperasaan seperti kala mereka

masih lebih muda.

Dari beberapa pernyataan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa

persamaan antara ketentuan yang terdapat dalam KHI dan psikologi mengenai

batas umur minimal perkawinan adalah keduanya sama-sama sesuai dengan

ketentuan balig. Dalam KHI, umur terendah dibatasi 16 tahun bagi perempuan dan

19 tahun bagi laki-laki. Dalam sudut pandang psikologi, umur minimal bagi

perempuan adalah 20 tahun dan bagi laki-laki 25 tahun. Umur-umur tersebut

sudah mencapai umur balig.


72

Sedangkan perbedaan keduanya terletak pada pencapaian kematangan jiwa

(psikologis) dan akal pikiran. Dalam KHI, ketentuan umur 16 dan 19 tahun,

seseorang belum tentu telah mencapai sifat rusyd, karena masa-masa ini keadaan

jiwa masih labil. Sedang dalam pandangan psikologi, patokan umur 20-25 tahun

untuk menikah, keadaan jiwa seseorang dipandang sudah stabil dan matang.

Disamping itu, perkawinan pada usia dini akan berdampak buruk baik bagi

kelangsungan keluarga atau bagi individu (suami isteri) yang menjalaninya.

Menurut penelitian, kawin muda akan mengandung resiko terhadap kesehatan ibu

dan anak, seperti mendapatkan kanker leher rahim. Begitu juga fisik perempuan

yang kawin muda pada umumnya belum mencapai perkembangan fisik yang

mantap, sehingga bila perempuan tersebut hamil maka pengaruh kurang

mantapnya kondisi fisik ibu mau tidak mau berpengaruh kurang baik terhadap

perkembangan janin dalam rahim. Adanya anemi, kurang kalsium dan zat-zat lain

dalam darah akan mempunyai efek yang kurang menguntungkan bagi

perkembangan janin, seperti halnya kelahiran prematur, lemah mental, epilepsi,

dan lain-lain.12 Dalam banyak kasus keretakan rumah tangga diketahui salah satu

penyebabnya adalah pernikahan usia dini. Dimana kedua pihak masih rentan dan

belum mampu mandiri dalam memikul tanggung jawab keluarga.

Mengenai hal ini, Dr Meiwita, pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Indonesia mengatakan, usia minimal perempuan diizinkan menikah

tidak bisa semata-mata ditentukan dari ketika dia mulai mengalami menstruasi.

12
"Lokakarya Nasional tentang Perkawinan Usia Muda", Mimbar Ulama, No. 156. Tahun
XV (Januari 1991), hlm. 5-12.
73

Yang harus lebih menjadi pertimbangan adalah kesiapan kesehatan reproduksi

perempuan ketika menikah dan mempunyai anak.13

Pertimbangan umur lebih dititikberatkan pada segi kesehatan, kematangan

biologis, maka sebaiknya umur laki-laki minimal 25 tahun dan wanita 20 tahun.

Dengan pertambahan umur ini diharapkan seorang manusia keadaan psikologis

dan kepribadiannya semakin matang karena pada umur ini dipandang memasuki

tahapan dewasa awal.

Ada satu pertanyaan penting, berapa usia ideal dalam perkawinan? Tidak

ada patokan yang pasti. Namun para ahli menyarankan kisaran usia minimal 21

tahun, sebab usia 21 tahun merupakan batas awal kedewasaan manusia

Dalam buku Human Development (1995) yang ditulis oleh Diane E.

Papalia dan Sally Wendoks, seperti dikutip oleh Fauzil Adhim,14 dikatakan bahwa

usia terbaik untuk menikah bagi perempuan adalah usia 19-25 tahun, sedangkan

bagi laki-laki usia 20-25 tahun. Senada dengan Papalia, Lois Hoffman, seorang

profesor psikologi dari Michigan University dalam bukunya Development

Psychology Today mengatakan bahwa usia 20-24 tahun adalah saat yang terbaik

untuk menikah. Dalam buku ini dibahas secara khusus tentang menikah pada usia

dewasa muda (young adulthood), yakni dari usia 18 tahun sampai sekitar 24

tahun. Selain untuk keutuhan rumah tangga, rentang usia ini juga paling baik

untuk mengasuh anak pertama (the first time parenting). Akan tetapi, Hoffman

menunjukan bahwa saat yang tepat untuk menikah juga dipengaruhi oleh

13
“Menyosialisasikan “Cuonter Legal Draft” Kompilasi Hukum Islam,”
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0410/11/swara/1316378.htm, akses 10 Mei 2008.

14
Mohammad Fauzil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani Press,
2002), hlm. 38.
74

dukungan sosial budaya, termasuk budaya keluarga. Budaya yang memandang

pernikahan dini sebagai keputusan yang baik, akan cenderung menjadikan para

pemuda lebih cepat mengalami kesiapan menikah.

B. Batas Umur Minimal Perkawinan di Negara Muslim Lain

Pasal 7 ayat (1) Undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 menyatakan

bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan

pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Sedangkan Hukum Keluarga di

Mesir menjelaskan bahwa perkawinan hanya dapat diizinkan jika laki-laki

berumur 18 tahun dan wanita berumur 16 tahun, demikian juga dalam Hukum

Keluarga di Pakistan dinyatakan bahwa perkawinan dapat dilakukan jika laki-laki

sudah berumur 18 tahun dan wanita berumur 16 tahun. Al-Jazair dan Bangladesh

misalnya membatasi umur untuk melangsungkan pernikahan itu, laki-laki 21

tahun dan perempuan 18 tahun. Memang ada juga Negara yang mematok umur

tersebut sangat rendah. Yaman utara misalnya membatasi usia perkawinan

tersebut pada umur 15 tahun baik bagi laki-laki maupun perempuan. Malaysia

membatasi usia perkawinan pada umur 18 tahun bagi laki-laki dan umur 16 tahun

bagi perempuan. Dan rata-rata Negara didunia membatasi umur perkawinan itu

laki-laki 18 tahun dan perempuan berkisar anatara 15-16 tahun. Batas umur kawin

untuk Indonesia di atas, jika dibandingkan dengan batas umur kawin baik di Mesir

maupun Pakistan sebenarnya sama, kecuali untuk laki-laki relatif tinggi.


75

Berikut data komprehensif yang dikemukakan Tahir Mahmood mengenai

batas umur minimal perkawinan di Negara-negara muslim, sebagaiman dikutip

oleh Ahmad Rofiq.15

No. Negara Umur Laki-laki Umur Perempuan

1 Aljazair 21 18

2 Bangladesh 21 18

3 Mesir 18 16

4 Indonesia 19 16

5 Irak 18 18

6 Yordania 16 15

7 Libanon 18 17

8 Libya 18 16

9 Malaysia 18 16

10 Maroko 18 15

11 Yaman Utara 15 15

12 Yaman Selatan 18 16

13 Pakistan 18 16

14 Somalia 18 18

15 Suriah 18 17

16 Tunisia 19 17

17 Turki 17 15

15
A. Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-3 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998),
hlm. 79.
76

Pada tabel di atas tampak bahwa batas umur terendah untuk kawin di

Indonesia relatif cukup tinggi untuk laki-laki tetapi termasuk terendah untuk

perempuan.

Dalam tingkat pelaksanaan, batas umur kawin bagi wanita yang sudah

rendah itu masih belum tentu dipatuhi sepenuhnya. Untuk mendorong agar orang

kawin di atas batas umur terendahnya, sebenarnya pasal 6 ayat (2) UU No. 1

tahun 1974 telah melakukannya dengan memberikan ketentuan bahwa untuk

melaksanakan perkawinan bagi seorang yang belum berumur 21 tahun harus

mendapat izin dari orang tua. Akan tetapi dalam kenyataan justru sering pihak

orang tua sendiri yang cenderung menggunakan batas umur terendah itu atau

bahwa lebih rendah lagi. Di Mesir, meskipun perkawinan yang dilakukan oleh

orang yang belum mencapai batas umur terendah itu sah juga, tetapi tidak boleh

didaftarkan.

Di anak benua India, pada tahun 1929 diterbitkan suatu undang-undang

untuk mencegah perkawinan anak di bawah umur (Child Marriage Restraint Act,

1929). Undang-undang ini menetapkan larangan mengawinkan anak perempuan

sebelum menmcapai usia 14 tahun dan anak lelaki sebelum mencapai usia 16

tahun. Undang-undang ini juga menetapkan sanksi hukuman atas pelanggaran

ketentuan-ketentuannya. Pencegahan perkawinan anak di bawah umur yang belum

mencapai usia tersebut di anak benua India dipertegas dengan memberikan khiyār

fasakh setelah dewasa kepada anak di bawah umur itu baik yang lelaki maupun

perempuan apabila mereka dikawinkan oleh wali mereka sebelum mencapai usia

tersebut di atas.
77

Tidak diragukan bahwa pemerataan pendidikan, kondisi sosial ekonomi

dan bentuk-bentuk pengarahan masyarakat memberi andil dalam mengurangi

keinginan untuk melakukan perkawinan di bawah umur di Mesir dan Pakistan.

Akan tetapi beberapa lingkungan sosial tertentu masih melakukan perkawinan

seperti itu karena pertimbangan-pertimbangan dan kepentingan-kepentingan yang

mereka asumsikan. Untuk memenuhi ketentuan-ketentuan guna mendapatkan

perlindungan hukum mereka cukup pergi ke dokter untuk memperoleh surat

keterangan bahwa anak-anak tersebut telah mencapai usia yang dikehendaki oleh

hukum.16

16
Maratusshaliha, "Hukum Islam," http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-
makalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquran-makalah, akses 12 Mei 2008.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan pembahasan, kajian dan analisis yang telah dilakukan maka

dapat disimpulkan bahwa ketentuan batas umur minimal perkawinan

dalam Kompilasi Hukum Islam yang termaktub dalam Pasal 15 masih

mengadopsi ketentuan dari Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang

Perkawinan. Ketentuan yang dimaksud adalah "untuk kemaslahatan

keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon

mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7

Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yakni calon suami sekurang-

kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-kurangnya berumur

16 tahun". Kemudian "bagi calon mempelai yang belum mencapai umur

21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat

(2), (3), (4) dan (5) UU No. 1 Tahun1974". Sedangkan dalam kajian

psikologi, batas umur minimal perkawinan didasarkan pada kematangan

fisik dn psikis seseorang. Umur yang tepat menurut tinjauan ini adalah

pada saat seseorang memasuki masa dewasa awal, yaitu 21-25 tahun.

2. Pada dasarnya ketentuan tentang batas umur minimal perkawinan tidak

dikenal dalam literatur Hukum Islam seperti kitab-kitab hadis, fiqih klasik

maupun sumber-sumber lainnya. Namun, untuk menegakan prinsip yang

lima (ad-darūriyyah al-khams) serta mewujudkan maqāşid asy-syarī'ah


79

maka pembatasan umur dalam perkawinan dipandang perlu dan diatur

dalam undang-undang yang legal agar dapat ditaati dan dilaksanakan oleh

seluruh masyarakat Indonesia.

Setelah sekian tahun sejak ditetapkannya UU. No. 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan dan Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi

Hukum Islam, ternyata terdapat berbagai kendala dan hambatan dalam

pelaksanaannya. Berbagai kritik diajukan, terutama mengenai pembatasan

yang terdapat dalam pasal 15 Kompilasi Hukum Islam. Bila melihat

kenyataan yang ada, pada umur 16-19 tahun baik bagi perempuan maupun

laki-laki, pada umur tersebut masih dalam tahap-tahap belajar (pendidikan

akademik) yang tidak mungkin ditinggalkan. Kalau ketentuan itu masih

tetap dipertahankan, maka generasi penerus bangsa yang seharusnya

menimba ilmu dan memperluas wawasan serta pengalamannya, akan

terputus ditengah jalan dengan lebih memilih pernikah dini. Ditambah lagi,

secara psikologis dalam umur-umur saat itu perkembangan jiwa belum

stabil dan belum memiliki mental yang kuat untuk hidup bermasyarakat.

B. Saran

Ada beberapa hal penting yang bisa ditawarkan dalam mengkaji kembali

ketentuan tentang batas umur minimal perkawinan dengan mengacu pada

maqāşid asy-syarī'ah. Pertama, pembatasan umur minimal perkawinan harus

berlandaskan pada prinsip kemaslahatan manusia. Kedua, kematangan fisik harus

diimbangi juga dengan kematangan jiwa untuk dapat melangsungkan pernikahan


80

agar tujuan pernikahan bisa tercapai dan hal itu bisa dilakukan dengan menambah

batasan umur yang termaktub dalam pasal 15 KHI menjadi sekurang-kurangnya

20-21 tahun bagi perempuan dan 21-25 tahun bagi laki-laki. Ketiga, dengan

melihat dari sisi psikologis, sosial, dan juga pertimbangan kesehatan maka

pembatasan umur minimal dalam Undang-undang dan Kompilasi Hukum Islam

hendaknya lebih memperhatikan 6 prinsif yang terkandung dalam 'Counter Lrgal

Draft' KHI yakni, prinsip kemaslahatan (al-Maşlahah), prinsip kesetaraan dan

keadilan gender (al-Musāwah al-Jinsiyyah), prinsip pluralisme (at-

Ta`addudiyyah), prinsip nasionalitas (al-Muwaţanah), prinsip penegakan HAM

(Iqāmat al-Huqūq al-Insāniyah), dan prinsip demokrasi (al-Dimuqrathiyyah).1

1
Siti Musdah Mulia, "Pembaharuan Kompilasi Hukum Islam," paper dipresentasikan
pada seminar Gerakan Pembaharuan Islam dan Isu-isu Gender, diselenggarakan oleh Universitas
Paramadina, Jakarta, Februari 2007, hlm. 5-6.
DAFTAR PUSTAKA

A. Kelompok Al-Qur'an/Tafsir

Al-Qur'an dan Terjemahannya, Jakarta: Departemen Agama RI, 1997.

Sāyis, Muhammad 'Ali al-, Tafsīr Āyāt al-Ahkām, ttp.: Muhammad 'Ali Sa'bih,
1963.

B. Kelompok Hadis

Bukhāri, Al-Imām Abī 'Abdillah Muhammad ibn Ismā'il al-, Şahīh al-Bukhārī,
Beirut: Dar al-Fikr, 1414 H/1994 M.

Muslim, Abī al-Khusaini Muslim ibn Muslim ibn Al-Hujjāj al-, Şahīh al-
Muslim, Beirut: Dar al-Fikr, tt.

Syaukānī, Muhammad ibn 'Ali ibn Muhammad al-, Nail al-Autār, Beirut: Dar
al-Fikr, 1973.

C. Kelompok Fiqh/Ushul Fiqh

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademika


Pressindo, 2001.

Arifin, Busthanul, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah,


Hambatan dan Prospeknya, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Asmawi, Mohammad, Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan,


Yogyakarta: Darussalam, 2004.

Audah, 'Abd al-Qadir, Al-Tasyrī' al-Jina'i al-Islāmi, cet ke-3, Kairo: Dar al-
'Urubah, 1963.

Daradjat, Zakiah, dkk., Ilmu Fiqh, Jilid II, Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf,
1995.

Ghifari, Abu al- Badai Rumah Tangga, cet. ke-2, Bandung: Mujahid Press,
2003.

Haddad, 'Allamah Sayyid Abdullah, Renungan tentang Umur Manusia,


Bandung: Mizan, 1995.
82

Jazīry, 'Abdul Al-Rahmān al-, Al-Fiqh 'ala al-Mazāhib al-Arba'ah, Beirut:


Dar al-Fikr, 1969.

Karim, Helmi, “Kedewasaan untuk Menikah”, dalam Chuzaimah T. Yanggo


dan Hafiz Anshary, Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1996.

Latif, Nasaruddin, Ilmu Perkawinan Problem Seputar Keluarga dan Rumah


Tangga, Bandung: Pustaka Hidayah, 2001.

Manan, Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta:


Kencana, 2006.

Maratusshaliha, "Hukum Islam," http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-


tugas-makalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquran-
makalah, akses 12 Mei 2008.

“Menyosialisasikan “Cuonter Legal Draft” Kompilasi Hukum Islam,”


http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0410/11/swara/1316378.htm,
akses 10 Mei 2008.

Mubarok, Jaih, Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia, cet. ke-1,


Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005.

Mufarraj, Sulaiaman al-, Bekal Pernikahan, Jakarta: Qisthi Press, 2003.

Muhammad, Husein, Fiqh Perempuan, Refleksi Kiai atas Wacana Gender,


cet. ke-1, Yogyakarta: LKiS, 2001.

Mulia, Siti Musdah, "Pembaharuan Kompilasi Hukum Islam," paper


dipresentasikan pada seminar Gerakan Pembaharuan Islam dan Isu-isu
Gender, diselenggarakan oleh Universitas Paramadina, Jakarta,
Februari 2007.

Muttaqien, Dadan, Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perjanjian,


Yogyakarta: Insania Cita Press, 2006.

Muzarie, Mukhlisin, Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil, Yogyakarta:


Pustaka Dinamika, 2002.

Nasution, Khoiruddin, Islam Tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum


Perkawinan 1), Yogyakarta: Academia & Tazzafa, 2004.

Panitia Penyusunan Biografi, Prof. KH. Ibrahim Hussein dan Pembaharuan


Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Putra Harapan, 1990.
83

“Perkawinan dalam Hukum Islam,” http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-


tugas-makalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquran-
makalah. akses 6 Mei 2008.

Ramulyo, Moh. Idris, Beberapa Masalah tentang Hukum Perdata Peradilan


Agama dan Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Co.,
1985.

________, Hukum Perkawinan Islam, Suatu Analisis dari UU No. 1 Tahun


1974 dan KHI, Jakarta: Bumi Aksara, 1999.

_________, Tinjauan Beberapa Pasal UU No. 1 Tahun 1974 Dari Segi Hukum
Islam, Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Co., 1985.

Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, cet. ke-3, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1998.

Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan,


Yogyakarta: Liberty, 1986.

Soeyoeti, Zarkowi, “Sejarah Penyusunan KHI di Indonesia,” dalam Dadan


Muttaqien, dkk. (ed.), Peradilan Agama dan KHI dalam Tata Hukum
Indonesia, cet. ke-2,Yogyakarta: UII Press, 1999.

Wahid, Marzuki dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara, cet. ke-1, Yogyakarta:
LKiS, 2001.

Yafie, Ali, Menggagas Fiqih Sosial, Bandung: Mizan, 1994.

Yunus, Mahmud, Hukum Perkawinan dalam Islam, cet ke-10 Jakarta:


Hidakarya Agung, 1983.

D. Kelompok Psikologi

Abdurrouf, Moh., dkk., Masa Transisi Remaja, Triasco Publisher, 2004.

Adhim, Mohammad Fauzil, Indahnya Pernikahan Dini, Jakarta: Gema Insani


Press, 2002.

Atkinson, Rita L., dkk, Pengantar Psikologi, alih bahasa Nurdjannah Taufiq
dan Rukmini Barhana, edisi ke-8, Jakarta: Erlangga, tt.

Azhari, Akyas, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Teraju, 2004.


84

Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam Studi tentang Elemen Psikologi dari


Al-Qur'an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Basri, Hasan, Keluarga Sakinah: Tinjauan Psikologi dan Agama, cet. ke-5,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Chaplin, J. P., Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada,


1999.

F.J. Monks, dkk., Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai


Bagiannya, alih bahasa Siti Rahayu Haditono, cet. ke-3, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 1985.

Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang


Rentang Kehidupan, alih bahasa Dra. Istiwidayanti dan Drs.
Soedjarwo, M.Sc., edisi ke-5, Jakarta: Erlangga, tt.

________, Developmental Psychology, edisi ketiga, New York: Mc Graw Hill


Book Company, 1968.

Lepp, Ignace, Psychology of Loving, alih bahasa Eriyanti, Yogyakarta: Alenia,


2004.

Sabri, M. Alisuf, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta:


Pedoman Ilmu Jaya, 1993.

Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Remaja, cet. ke-6, Jakarta: Rajawali


Press, 2006.

Tukan, Johan Suban, Metoda Pendidikan Seks, Perkawinan, dan Keluarga,


Jakarta: Erlangga, 1994.

Walgito, Bimo, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, edisi ke-2,


Yogyakarta: Penerbit Andi, 2004.

________, Pengantar Psikologi Umum, edisi ke-4, Yogyakarta: Penerbit Andi,


2004.

E. Kelompol Lain-lain

Akunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:


Rineka Cipta, 1998.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


cet. ke-2, Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
85

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Yogyakarta: Andi Offset, 1990.

"Lokakarya Nasional tentang Perkawinan Usia Muda", Mimbar Ulama, No.


156. Tahun XV, Januari 1991.

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al Barry, Kamus llmiah Populer, Surabaya:


Arkola, 1994.

Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, cet.
ke-1, Jakarta: Modern English Press, 1991.

Sudarto, Metode Penelitian Filsafat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.


Lampiran 1

TERJEMAHAN

Bab Hlm FN Terjemah


I 1 2 Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan
supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.

3 Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia


menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir.

3 5 Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu


diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin,
hendaklah dia kawin karena sesungguhnya perkawinan
itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak
halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan
syahwat. Dan barangsiapa yang tidak mampu kawin
hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa
nafsunya terhadap perempuan akan berkurang.

II 22 4 Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku


tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak
(pula) memberitahukannya kepadamu". Sesungguhnya
aku telah tinggal bersamamu beberapa lama
sebelumnya. Maka apakah kamu tidak
memikirkannya?

27 13 Perintahlah anak-anakmu melakukan shalat ketika


mereka berumur tujuh tahun.

29 18 Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur


untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu
mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka
serahkanlah kepada mereka harta-hartanya…

19 Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali


dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia
dewasa…

20 Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu


diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin,

I
hendaklah dia kawin…

21 Rasulullah menikah dengan dia ('Aisyah) dalam usia 6


tahun dan beliau memboyongnya ketika dia umur 9
tahun dan beliau wafat pada waktu dia berumur 18
tahun.

35 37 Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu


mempusakai wanita dengan jalan paksa…

38 Janganlah kamu menikahi wanita (baik yang masih


kecil atau sudah besar) sampai kamu minta
kesiapannya, dan janganlah kamu menikahi seorang
perawan sampai kamu minta ijinnya. Para sahabat
bertanya: Wahai Rasulullah SAW bagaimanakah
ijinnya? Rasul menjawab: Dia berdiam diri.

36 40 Tiada nikah kecuali hanya dengan adanya wali.

41 Tiada nikah kecuali hanya dengan adanya wali dan


kedua orang saksi yang adil.

39 46 Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis


kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri
kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu
rezki yang baik-baik…

47 Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu


diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin,
hendaklah dia kawin karena sesungguhnya perkawinan
itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak
halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan
syahwat. Dan barangsiapa yang tidak mampu kawin
hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa
nafsunya terhadap perempuan akan berkurang.

48 Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia


menciptakan utukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir.

III 55 21 Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang


ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku

II
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit".

IV 65 2 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang


seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-
anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.

66 3 Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur


untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu
mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka
serahkanlah kepada mereka harta-hartanya…

III
Lampiran II

BIOGRAFI TOKOH DAN ULAMA

1. Imam Al-Bukhāri. Nama lengkap beliau Abu Abdillah Muhammad Ibn


Ismā'il Ibn Mughirah al-Jufi, lahir di Bukhara pada tahun 194 H/ 810 M.
Imam al-Bukhāri memiliki daya hafalan yang sangat kuat dalam bidang hadis,
ketika masa kanak-kanak beliau sudah bisa menghafal hadis sebanyak 70.000
hadis lengkap dengan sanadnya, dapat mengetahui hari lahir dan hari wafat
serta tempat-tempat perawi hadis, yang kemudian beliau catat. Beliau
merupakan orang pertama yang emnyusun kitab hadis yang terkenal dengan
kitab Sāhih Bukhāri, yang disusun dalam waktu 15 tahun, dalam kitab tersebut
berisikan 7.297 hadis. Diantara karya-karya beliau yang lain adalah Al-Mabsut
al-Qirā'at al-Khalfal Iman, Al-Tafsir al-Kabir dan lain sebagainya. Beliau
wafat pada tahun 156 H.

2. Abdurrahman. Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada pada tanggal


28 Juni 1949. Alumni dari Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin, kemudian melanjutkan pada Fakultas Pascasarjana Universitas
Indonesia bidang studi Ilmu Hukum. Selain itu pernah mengikuti Training
Inventarisasi Yurisprudensi (FH. Unpad, 1976), Penataran Pengacara Muda
(LBH Jakarta, 1976), Manajemen Penelitian (Unlam, 1977), Penelitian
Hukum (BPHN, 1980), Kursus Dasar Andal (Lembaga Ekologi Unpad, 1983),
dan lain-lain. Sekarang menjabat sebagai dosen tetap untuk Fakultas hukum
Unlam dan dosen luar biasa untuk Fakultas Syariah IAIN Antasari. Selain itu
menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Hukum Tanah FH. Unlam, Penasehat
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum FH. Unlam, anggota Pusat Studi
Wilayah dan Lingkungan Hidup Unlam, Anggota Tim Pengkajian Hukum
Adat Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, dan lain-
lain.

IV
3. Busthanul Arifin. Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat pada tanggal 2 Juni
1929. Beliau adalah salah seorang tokoh di bidang hukum Islam di Indonesia,
pencetus lahirnya UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres
No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Ia memulai
pendidikannya pada HIS (Hollands Inlandsche School) di Payakumbuh dan
tamat tahun 1943. Kemudian melanjutkan studinya ke SMPN Bukit Tinggi
(tamat tahun 1948). SMA Peralihan di Jakarta (tamat tahun 1951) dan
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (tamat tahun 1955). Semasa
mahasiswa aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Yogyakarta
dan sempat menjadi Ketua Umum HMI cabang Yogyakarta (masa jabatan
1954-1955). Lulus dari FH UGM, meniti karir sebagai Hakim di Semarang
sambil mengajar di SMA swasta. Diangkat menjadi Ketua Pengadilan Tinggi
Kalimantan Selatan dan Tengah di Banjarmasin (1966-1968). Lalu melalui
Keppres No. 38/1968 tanggal 3 Februari 1968, diangkat menjadi Hakim
Agung pada Mahkamah Agung RI padahal usianya baru 38 tahun. Setelah 14
tahun menjadi Hakim Agung, tanggal 22 Februari 1982 melalui Keppres No.
33/M tahun 1982, diangkat menjadi Ketua Muda MA RI Urusan Lingkungan
Peradilan Agama. Berkat jasa-jasanya di bidang keilmuan dan gagasannya
memperjuangkan hukum Islam dan Peradilan Agama di Indonesia, Institut
Agama Islam Negeri (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta
menganugerahinya gelar doctor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam
ilmu Agama Islam.

4. Husein Muhammad. lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953. Setelah


menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren Lirboyo Jawa Timur, pada
tahun 1973, ia melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ)
Jakarta dan tamat pada tahun 1980. Kemudian meneruskan belajar di Aljazair
dan Kairo. Saat ini masih memimpin pondok pesantren Dar At-Tauhid
Arjawinangun Cirebon Jawa Barat. Aktif dalam berbagai kegiatan diskusi dan
seminar ke-Islaman, terakhir aktif dalam seminar-seminar yang membicarakan
seputar agama, gender, serta isu-isu perempuan. Juga menulis di sejumlah

V
media massa dan menerjemahkan sejumlah buku. Selain menjadi Direktur
Pengembangan Wacana di Lembaga Swadaya Masyarakat Rahima, ia dan
teman-temannya di Cirebon mendirikan Klub kajian Building.

5. Sarlito Wirawan Sarwono. Lahir di Purwokerto pada tanggal 2 Februari


1944. menyelesaikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama di Tegal.
Sedangkan ijazah Sekolah Menengah Atas diperoleh di Bogor tahun 1961.
Kemudian ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia, dan mendapat gelar Sarjana Psikologi pada bulan
Januari 1968. Selama menjadi mahasiswa aktif mengikuti pergerakan-
pergerakan mahasiswa antara lain pernah menjabat anggota Presidium
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Universitas Indonesia dan
Sekretaris Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia periode 1966-1967.
Minatnya yang besar terhadap kehidupan remaja khususnya dan gejala-gejala
sosial umumya dilanjutkan setelah ia menjadi sarjana dengan mengadakan
berbagai penelitian tentang remaja serta penelitian-penelitian lainnya, antara
lain dalam bidang Kelurga Berencana dan Pembangunan Masyarakat Desa.
Pada tahun 1973-1974, ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan
studinya di Universitas Edinburgh di Skotlandia dalam bidang Community
Development. Dalam kesempatan itu pula ia telah mempelajari secara
mendalam masalah Komunikasi Massa di British Broadcasting Corporation di
London. Pada tahun 1977 memperoleh kesempatan untuk memperdalam
bidang Psikologi Sosial di Universitas Leiden, Belanda. Dan pada tahun 1978
meraih gelar Doktor dalam ilmu Psikologi dari Universitas Indonesia.
Organisasi-organisasi ang pernah ia duduki antara lain Ikatan Sarjana
Psikologi Indonesia (ISPSI), Wakil Ketua II, 1979-1982; International
Council of Psychologists (CP) – Member; American Psychological
Assosiation (APA) – Foreign Affiliate; Society for Psychological of Studies
Issues (SPSSI) – Member.

VI
Lampiran III

BAB IV
RUKUN DAN SYARAT PERKAWINAN

Bagian Kesatu
Rukun

Pasal 14
Untuk melakukan perkawinan harus ada:
a. Calon suami,
b. Calon isteri,
c. Wali nikah,
d. Dua orang saksi, dan
e. Ijab dan kabul

Bagian Kedua
Calon Mempelai

Pasal 15
(1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh
dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan
dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974, yakni calon suami
sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-
kurangnya berumur 16 tahun.
(2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus
mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4) dan
(5) UU No. 1 Tahun1974.

Pasal 16
(1) Perkawinan didasarkan atas persetujuan calon mempelai.
(2) Bentuk persetujuan calon memepelai wanita, dapat berupa pernyataan
tegas dan nyata dengan tulisan, lisan atau isyarat tapi dapat juga berupa
diam dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas.

Pasal 17
(1) Sebelum berlangsungnya perkawinan, Pegawai Pencatat Nikah
menanyakan lebih lebih dahulu persetujuan calon mempelai dihadapan dua
saksi nikah.
(2) Bila ternyata perkawinan tidak disetujui oleh salah seorang calon
mempelai maka perkawinan itu tidak dapat dilangsungkan.
(3) Bagi calon mempelai yang menderita tuna wicara atau tuna rungu
persetujuan dapat dinyatakan dengan tulisan atau isyarat yang dapat
dimengerti.

VII
Pasal 18
Bagi calon suami dan calon isteri yang akan melangsungkan pernikahan tidak
terdapat halangan perkawinan sebagaimana diatur dalam Bab IV.

Bagian Ketiga
Wali Nikah

Pasal 19
Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon
mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya.

Pasal 20
(1) yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi
syarat hukum Islam yakni muslim, ‘aqil dan baligh.
(2) Wali nikah terdiri dari:
a. Wali nasab
b. Wali hakim

Pasal 21
(1) Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan,
kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat
tidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita.
Pertama, kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah, kakek
dari pihak ayah dan seterusnya.
Kedua, kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki
seayah, dan laki-laki keturunan mereka.
Ketiga, kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah,
saudara seayah dan kturunan laki-laki mereka.
Keempat, kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki
seayah kakek dan keturunan laki-laki mereka.
(2) Apabila dalam satu kelompok wali nikah terdapat beberapa orang yang
sama-sama berhak menjadi wali, maka yang paling berhak menjadi wali
ialah yang lebih dekat derajat kekerabatannya dengan calon mempelai
wanita.
(3) Apabila dalam satu kelompok sama derajat kekerabatannya maka yang
paling berhak menjadi wali nikah ialah kerabat kandung dari kerabat yang
hanya seayah.
(4) Apabila dalam satu kelompok derajat kekerabatannya sama yakni sama-
sama derajat kandung atau sama-sama derajat kerabat seayah, mereka
sama-sama berhak menjadi wali nikah, dengan mengutamakan yang lebih
tua dan memenuhi syarat-syarat wali.

Pasal 22
Apabila wali nikah yang paling berhak, urutannya tidak memenuhi syarat sebagai
wali nikah atau oleh karena wali nikah itu menderita tuna wicara, tuna rungu atau

VIII
sudah udzur, maka hak menjadi wali bergeser kepada wali nikah yang lain
menurut derajat berikut.

Pasal 23
(1) Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab
tidak ada atau tidak mungkin menghindarkannya atau tidak diketahui
tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan.
(2) Dalam hal wali adlal atau enggan maka wali hakim baru dapat bertindak
sebagai wali nikah setelah ada putusan Pengadilan Agama tentang wali
tersebut.

Bagian Keempat
Surat Nikah

Pasal 24
(1) Saksi dalam perkawinan merupakan rukun pelaksanaan akad nikah.
(2) Setiap perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi.

Pasal 25
Yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-laki
muslim, adil, ‘aqil baligh, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli.

Pasal 26
Saksi harus hadir dan meyaksikam secara langsung akad nikah serta
menandatangani Akte Nikah pada waktu dan tempat akad nikah dilangsungkan.

Bagian Kelima
Akad Nikah

Pasal 27
Ijab dan kabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan tidak
berselang waktu.

Pasal 28
Akad nikah diaksanakan sendiri secara pribadi oleh wali nikah yang
bersangkutan. Wali nikah dapat mewakilkan kepada orang lain.

Pasal 29
(1) Yang berhak mengucapkan kabul ialah calon mempelai pria secara
pribadi.
(2) Dalam hal-hal tertentu ucapan kabul nikah dapat diwakilkan kepada pria
lain dengan ketentuan calon mempelai pria memberi kuasa yang tegas
secara tertulis bahwa penerimaan wakil atas akad nikah itu adalah untuk
mempelai pria.
(3) Dalam hal calon mempelai wanita atau wali keberatan calon mempelai
pria diwakili, maka akad nikah tidak boleh dilangsungkan.

IX
Lampiran IV

CURRICULUM VITAE

Identitas Diri:
Nama : Agus Sanwani Arif
Tempat/Tgl. Lahir : Pandeglang, 21 Maret 1984
Alamat Asal : Cimanis, RT 01 RW 02, Sobang, Pandeglang, Banten
42282
Orang Tua/Wali:
Nama Ayah : H. Juned
Nama Ibu : Hj. Sami
Alamat : Cimanis, RT 01 RW 02, Sobang, Pandeglang, Banten
Pekerjaan : Wiraswasta

Riwayat Pendidikan:
1. Pendidikan Formal
a. SDN 01 Cimanis 1996
b. MTs Hidayatul Mubtadi'in Sobang 1999
c. MA HM Tri Bakti Lirboyo Kediri 2002
d. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Fakultas Syari'ah Jurusan
Perbandingan Mazhab dan Hukum Yogyakarta, angkatan 2003

2. Pendidikan Non-Formal
a. Ponpes HM Putra Al-Mahrusyiah Lirboyo Kediri 2002
b. Ponpes Sunniy Darussalam Maguwoharjo Sleman Yogyakarta 2008