Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA

ADSORPSI ZAT WARNA OLEH KARBON AKTIF

Nama : MEITY JOLANDA K


NIM : H311 08 262
Kelompok : 5 (Lima)
Hari/Tgl. Praktikum : Senin / 29 Maret 2010
Asisten : BHAKTI WIGUNA MOO

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Limbah cair adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat atau

industri, yang mengandung hampir 0,1% benda-benda padat yang terdiri dari zat

organik dan bukan organik. Sumber terbesar limbah cair berasal dari proses

industri yang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan

manusia. Limbah cair dari proses industri ini apabila dibuang langsung ke badan

air sungai tanpa proses pengolahan akan mengakibatkan pencemaran, sehingga

dapat menurunkan kualitas dari air sungai tersebut. Pencemaran dari proses

industri ini sangat serius mengingat limbah tersebut banyak mengandung bahan

dan zat-zat kimia berbahaya, yang dapat menimbulkan gangguan terhadap

lingkungan dan kehidupan manusia.

Salah satu cara untuk menurunkan kadar zat warna tekstil dan timbal

dalam larutan adalah adsorbsi dengan karbon aktif. Karbon aktif dapat digunakan

sebagai adsorben karena selain dapat menyerap, logam dapat pula menarik warna

dari suatu larutan. Berkurangnya intensitas warna dari suatu larutan menandakan

bahwa karbon aktif dapat menyerap warna.

Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorf, yang dapat dihasilkan

dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan

dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Karbon aktif

dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat

adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas

permukaan.
Berdasarkan pada latar belakang yang diuraikan diatas, maka dilakukanlah

percobaan ini .

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari

adsorpsi zat warna oleh karbon aktif.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah :

1. Menentukan model adsorpsi yang sesuai untuk adsorpsi rodamin B oleh

karbon aktif.

2. Menentukan kapasitas adsorpsi dari adsorpsi rodamin B oleh karbon aktif.

1.3 Prinsip Percobaan

Menentukan model adsorpsi yang sesuai terhadap adsorpsi rodamin B oleh

karbon aktif. Dengan cara mengukur konsentrasi larutan rodamin B setelah

adsorpsi oleh karbon aktif, dengan konsentrasi awal yang bervariasi dengan waktu

pengadukan 30 menit. Melalui pengukuran absorbansi dan panjang gelombang

menggunakan spektrofotometer.

1.4 Manfaat Percobaan

Manfaat yang didapatkan setelah percobaan ini adalah mahasiswa lebih

memahami metode adsorpsi zat warna oleh karbon aktif, tidak hanya melalui

teori, selain itu, mahasiswa lebih mahir dalam penggunaan alat-alat laboratorium,

dalam hal ini dikhususkan pada spektronik 20D+, dan juga magnetic stirrer.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Suatu zat padat yang mempunyai kecenderungan untuk menyerap atau

menarik molekul-molekul gas, cairan atau padatan pada permukaannya, disebut


adsorben, sedangkan peristiwanya disebut adsorpsi (Staf pengajar kimia fisika,

2008). Defenisi adsorpsi adalah gas, cairan, atau zat terlarut (adsorbat) yang

menempel pada permukaan padatan (adsorben).Adsorpsi berarti penempelan

molekul pada permukaan padatan. Sebaliknya absorpsi berarti pelarutan molekul

dalam suatu medium yang dapat berupa cairan atau padatan. Secara umum,

material yang teradsorpsi menempel pada permukaan bahan, seperti debu pada

dinding. Absorpsi kebanyakan terjadi pada cairan, adsorpsi kebanyakan pada

padatan (Vitasari, 2009).

Mekanisme penyerapan (Adsorpsi) dapat dibedakan menjadi dua yaitu,

Adsorpsi secara fisika (fisisorpsi) dan adsorpsi secara kimia (kemisorpsi). Pada

proses fisisorpsi gaya yang mengikat adsorbat oleh adsorben adalah gaya-gaya

van der Waals. Molekul terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada

adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kJ/mol (Castellan 1982). Sedangkan pada

proses adsorpsi kimia, interaksi adsorbat dengan adsorben melalui pembentukan

ikatan kimia. Kemisorpsi terjadi diawali dengan adsorpsi fisik, yaitu partikel-

partikel adsorbat mendekat ke permukaan adsorben melalui gaya van der Waals

atau melalui ikatan hidrogen. Kemudian diikuti oleh adsorpsi kimia yang terjadi

setelah adsorpsi fisika. Dalam adsorpsi kimia partikel melekat pada permukaan

dengan membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen), dan cenderung

mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasi dengan substrat

(Sukarta, 2008).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu

adsorben diantaranya adalah sebagai berikut (Junaidi, 2009) :

1. Luas permukaan adsorben


Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang diserap,

sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semakin kecil ukuran

diameter pertikel maka semakin luas permukaan adsorben.

2. Ukuran partikel

Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar kecepatan

adsorpsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0,1 mm,

sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh.

3. Waktu kontak

Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan

penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat

organik akan turun apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya

sekitar 10-15 menit.

4. Distribusi ukuran pori

Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang

masuk kedalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengadsorpsi atau

adsorben merupakan bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung

terutama pada dinding-dinding pori atau letak-letak tertentu didalam partikel

tersebut.

Penyerapan ion-ion logam pada pada permukaan sel mikroorganisme dapat

digambarkan dengan kurva Freundlich atau Langmuir, menggunakan data

konsentrasi logam yang terikat dan yang masih terdapat dalam larutan, namun

pendekatan isoterm Langmuir merupakan pendekatan yang paling umum

digunakan (Mawardi, 2009).


Adsorpsi isoterm Freundlich, merupakan persamaan yang menunjukkan

hubungan antara jumlah zat yang terserap dengan konsentrasi zat dalam larutan,

dan dinyatakan dengan persamaan :

m = k c1/n

dengan m adalah jumlah miligram zat yang terserap pergram zat penyerap, c

adalah konsentrasi zat terserap saat seimbang, k dan n adalah tetapan. Dengan

mengukur m sebagai fungsi c dan memplot log m terhadap log c, maka nilai n

dan k dapat ditentukan dari slop dan intersepnya. Isoterm Freundlich tidak berlaku

jika konsentrasi (atau tekanan) zat terserap terlalu tinggi (Mawardi, 2009).

Adsorpsi Isoterm Langmuir. Langmuir menggambarkan bahwa pada

permukaan penyerap terdapat sejumlah tertentu pusat aktif (active sites) yang

sebanding dengan luas permukaan penyerap. Pada setiap pusat aktif hanya satu

molekul yang dapat diserap. Ikatan antara zat yang terserap dengan penyerap

dapat terjadi secara fisika (physisorption) atau secara kimia (chemisorption).

Ikatan tersebut harus harus cukup kuat untuk mencegah perpindahan molekul

yang telah terserap sepanjang permukaan penyerap. Interaksi antar molekul-

molekul yang terserap dalam lapisan hasil serapan diabaikan (Mawardi, 2009).

Persamaan isoterm adsorpsi Langmuir dapat dituliskan sebagai berikut :

C merupakan konsentrasi adsorbat dalam larutan, x/m adalah konsentrasi adsorbat

yang terserap per gram adsorben, k adalah konstanta yang berhubungan dengan

afinitas adsorpsi dan (x/m)mak adalah kapasitas adsorpsi maksimum dari adsorben

(Sukarta, 2008).
Karbon atau arang aktif adalah material yang berbentuk butiran atau bubuk

yang berasal dari material yang mengandung karbon misalnya batubara, kulit

kelapa, dan sebagainya. Dengan pengolahan tertentu yaitu proses aktivasi seperti

perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh karbon aktif yang

memiliki permukaan dalam yang luas (Pararaja, 2008).

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95%

karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan

pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi

kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung

karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Arang selain

digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben

(penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan

ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi

dengan bahan-bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi.

Dengan demikian, arang akan mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia.

Arang yang demikian disebut sebagai arang aktif (Pararaja, 2008).

Rodamin B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes. Rodamin B

adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna merah pada industri tekstil

dan plastik. Rodamin B adalah pewarna sintetis yang berasal dari metanlinilat dan

dipanel alanin yang berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah

keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah

terang pada konsentrasi rendah. Rodamin B sering diselahgunakan untuk pewarna

pangan (kerupuk,makanan ringan, es-es dan minuman yang sering dijual di

sekolah) serta kosmetik dengan tujuan menarik perhatian konsumen. Rodamin B


(C28N31N2O3Cl) adalah bahan kimia sebagai pewarna dasar untuk berbagai

kegunaan (Syaifuddin, 2009).

Rodamin B

Adsorption is usually described through isotherms, that is, the amount of

adsorbate on the adsorbent as a function of its pressure (if gas) or concentration (if

liquid) at constant temperature. The quantity adsorbed is nearly always

normalized by the mass of the adsorbent to allow comparison of different

materials (Hunter, 2003).

Adsorpsi biasanya digambarkan melalui isotherms, yaitu jumlah adsorbat

pada adsorben sebagai fungsi dari tekanan (jika gas) atau konsentrasi (jika cairan)

pada suhu konstan. Kuantitas adsorben hampir selalu dinormalkan oleh massa

adsorben untuk memungkinkan perbandingan pada bahan yang berbeda (Hunter,

2003).

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan


Bahan–bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah karbon aktif,

rodamin B 10 ppm, aluminium foil, kertas saring, akuades, kertas label, dan tissue

roll.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 500 mL,

labu ukur 100 mL, labu ukur 50 mL, gelas kimia 600 mL, gelas kimia 50 mL,

buret 50 mL, corong Buchner, pompa vakum, statif, klem, stirer magnetik, bar,

pipet tetes, spektronik 20 D+, neraca digital, labu semprot, dan stopwatch.

3.3 Prosedur Percobaan

Disiapkan 5 buah labu ukur 100 mL dan 50 mL yang bersih dan kering.

Diencerkan larutan rodamin B 10 ppm menjadi konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm,

8 ppm, dan 10 ppm di dalam labu ukur 100 mL sebagai larutan contoh.

Diencerkan larutan rodamin B 10 ppm menjadi konsentrasi 0,5 ppm, 1 ppm, 2

ppm, 4 dan 8 ppm di dalam labu ukur 50 mL sebagai larutan standar. Disiapkan 4

buah erlenmeyer 500 ml yang bersih dan kering. Ditimbang 1 g karbon aktif

sebanyak empat kali dengan teliti dan tepat. Dimasukkan larutan contoh rodamin

B dengan konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, dan 10 ppm pada masing-

masing erlenmeyer. Dimasukkan karbon aktif ke dalam erlemeyer tersebut dan

ditutup dengan aluminium foil. Larutan tersebut diaduk menggunakan stirer

magnetik selama 30 menit. Semua larutan disaring dalam corong Buchner, dimana

saringan pertama dibuang. Diukur absorbansi dari setiap larutan standar rhodamin

B dengan konsentrasi 0,5 ppm, 1 ppm, 2 ppm, dan 4 ppm menggunakan

spektronik 20D+ dengan panjang gelombang 590 nm dan dicatat. Diukur juga

absorbansi larutan contoh rodamin B dengan konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8


ppm, dan 10 ppm menggunakan spektronik 20D+ dengan panjang gelombang 590

nm dan dicatat. Ditentukan konsentrasi melalui kurva standar setelah adsorpsi.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Hasil Pengamatan

Data Kurva Kalibrasi

Konsentrasi (ppm) Absorbansi


0,5 0,121
1 0,168
2 0,317
4 0,574

Data Absorbansi Rodamin B setelah Adsorpsi

Adsorben (gram) Konsentrasi awal Absorbansi


(ppm)
1 2 0,182
1 4 0,306
1 6 0,372
1 8 0,314
1 10 0,764

b. Kurva Kalibrasi

c. Perhitungan

i. Perhitungan konsentrasi larutan setelah adsorpsi

Dari kurva standar rodamin B diperoleh persamaan garis :

y = 0,131x + 0,048

x = y – 0,0480,131
dimana, x = konsentrasi larutan setelah adsorpsi

y = absorbansi larutan setelah adsorpsi

Maka, berdasarkan persamaan garis tersebut diperoleh konsentrasi masing-masing

larutan setelah adsorpsi yaitu :

a. Untuk konsentrasi awal 2 ppm

x = 0,182 – 0,0480,131

= 1,0229 ppm

b. Untuk konsentrasi awal 4 ppm

x = 0,306 – 0,0480,131 = 1,9695 ppm

c. Untuk konsentrasi awal 6 ppm

x = 0,372 – 0,0480,131

= 2,4733 ppm

d. Untuk konsentrasi awal 8 ppm

x = 0,314 – 0,0480,131

= 2,0305 ppm

e. Untuk konsentrasi awal 10 ppm

x = 0,764 – 0,0480,131

= 5,4656 ppm

4.3.2 Perhitungan Efektifitas Adsorpsi

Efektifitas adsorpsi (qe ; x/m) = (Co – Ce) x V larutan (L)massa larutan

Dimana : Co = Konsentrasi awal

Ce = Konsentrasi akhir

1. Konsentrasi awal 2 ppm

qe = (2 – 1,0229) x 1 L1 gram
= 0,9771 mg/g

2. Konsentrasi awal 4 ppm

qe = (4 – 1,9695) x 1 L1 gram

= 2,0305 mg/g

3. Konsentrasi awal 6 ppm

qe = (6 – 2,4733) x 1 L1 gram

= 3,5267 mg/g

4. Konsentrasi awal 8 ppm

qe = (8 – 2,0305) x 1 L1 gram

= 5,9695 mg/g

5. Konsentrasi awal 10 ppm

qe = (10 – 5,4656) x 1 L1 gram

= 4,5344 mg/g

4.4 Kurva Isotermal Adsorbsi

Co Ce (ppm) qe ; x/m Ce/qe Log Ce Log qe


(ppm)
2 1,0229 0,9771 1,0469 0,0098 -0,0101

4 1,9695 2,0305 0,9699 0,2943 0,3076

6 2,4733 3,5267 0,7013 0,3933 0,5474

8 2,0305 0,3401 0,3076 0,7759


5,9695
10 5,4656 4,5344 1,2054 0,7376 0,6565
1. Kurva Isotermal Adsorpsi Langmuir

Dari kurva tersebut diperoleh :

slope = 0,082

Intercept = 0,639

Kapasitas adsorpsi (Q) = 1slope

= 10,082

= 12,1951 mg/g

Tetapan Langmuir (b) = 1Q x intercept

= 112,1951 ×0,639

= 0,1283 L/mg

2. Kurva Isotermal Adsorpsi Freundlich

Dari kurva tersebut diperoleh:

slope = 0,861

Intercept = 0,155

Kapasitas adsorpsi (K) = Inv. log Intercept

= Inv Log 0,155


= 1,4289 mg/g

Tetapan Freundlich (b) = 1slope

= 10,861

= 1,1614 mg/L

4.5 Pembahasan

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui adsorpsi zat warna oleh karbon

aktif. Dalam percobaan ini digunakan zat warna rodamin B yang akan ditentukan

bagaimana adsorpsinya oleh arbon aktif. Karbon aktif digunakan sebagai adsorben

karena dapat menarik warna dari suatu larutan. Berkurangnya intensitas warna

dari suatu larutan menandakan bahwa karbon aktif dapat menyerap warna.

Percobaan ini menggunakan larutan standar rodamin B yang

konsentrasinya 0,5 ppm, 1 ppm, 2 ppm, dan 4 ppm, dan larutan contoh rodamin

yang akan ditentukan adsorbansinya dengan konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 8 ppm,

6 ppm, dan 10 ppm. Pengenceran harus dilakukan dengan teliti agar hasil yang

diperoleh tidak jauh melenceng dari yang sebenarnya. Dalam percobaan ini,

larutan contoh rodamin B masing-masing ditambahkan karbon aktif dalam suatu

erlenmeyer, setelah itu erlenmeyer ditutup dan larutan diaduk menggunakan

magnetik stirer selama 30 menit. Penambahan karbon aktif harus berlangsung

secara bersamaan agar lama adsorpsi dari tiap sampel sama, sehingga daya

adsorpsi dari konsentrasi yang bervariasi dapat dibandingkan. Fungsi penutupan

erlenmeyer adalah untuk menghindari keluarnya larutan akibat percikan-percikan

selama proses pengadukan. Sedangkan pengadukan yang dilakukan bertujuan agar

larutan warna rodamin dapat bercampur dengan karbon aktif, sehingga proses

adsorpsi warna oleh karbon aktif dapat terjadi semaksimal mungkin.


Larutan zat warna rodamin dengan karbon aktif kemudian disaring

menggunakan penyaring vakum untuk memisahkan larutan zat warna hasil

adsorpsi dengan karbon aktif. Hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan

penyaringan yaitu beberapa mililiter filtrat pertama harus digunakan untuk

membilas wadah tempat menampung filtrat dan dibuang. Filtrat pertama tidak

diambil karena ada kemungkinan zat warna rodamin B juga diserap oleh kertas

saring pada saat melakukan penyaringan.

Untuk mengukur absorbansi dari contoh yang telah melewati proses

adsorpsi, dibutuhkan suatu deret standar yang diambil dari larutan rodamin B 10

ppm yang kemudian diencerkan menjadi 0,5, 1, 2, 4, dan 8 ppm.

Pada pengukuran absorbansi menggunakan alat Spectronic 20D+. Hal

yang perlu diperhatikan adalah setiap kali akan memasukkan larutan, alat harus

selalu di-nol-kan. Analisa rodamin B menggunakan panjang gelombang 590 nm

yaitu panjang gelombang yang berada pada daerah visibel.

Nilai absorbansi larutan standar pada konsentrasi 8 ppm terlalu tinggi, oleh

sebab itu absorbansinya tidak dapat dibaca oleh alat Spectronic 20D+. Sehingga

dalam perhitungan konsentrasi larutan standar yang digunakan hanya 0,5 ppm;

1 ppm; 2 ppm; dan 4 ppm.

Berdasarkan teori, larutan yang telah mengalami adsorpsi seharusnya

konsentrasinya menjadi berkurang sesuai daya adsorpsi optimum karbon aktif

pada konsentrasi tersebut. Namun dari hasil perhitungan yang diperoleh, terdapat

hasil yang tidak sesuai dengan teori dimana pada smpel dengan konsentrasi awal

6 ppm memiliki nilai konsentrasi setelah mengalami adsorpsi yaitu 2,4733 ppm

yang lebih besar dari konsentrasi awal 8 ppm yaitu 2,0305 ppm. Hal ini mungkin

dikarenakan pada saat melakukan pengenceran, terdapat kesalahan pada saat


membaca skala buret atau kurang ketelitian pada saat menghimpitkan labu ukur.

Atau bisa juga karena karbon aktif yang digunakan sudah banyak menyerap air

dari udara sehingga mengurangi kemampuan adsorpsinya.

Dari kurva isotermal Langmuir diperoleh nilai y = 0,082x + 0,639

dengan nilai R² = 0,168. Nilai kapasitas adsorpsinya (Qo) sebesar 12,1951 mg/g

adsorban dan nilai adsorpsinya (b) sebesar 0,1283 L/mg. Pada kurva isotermal

Freundlich diperoleh nilai y = 0,861x + 0,155 dan nilai R² = 0,518. Nilai kapasitas

adsorpsinya (K) sebesar 1,4289 mg/g adsorben dan nilai intensitas adsorpsinya (b)

sebesar 1,1614 mg/L. Dari kedua kurva menunjukkan nilai R yang berbeda,

dimana Freundlich lebih mendekati 1 dibandingkan Langmuir, maka dapat

dinyatakan bahwa persamaan yang paling memenuhi adsorpsi rodamin B adalah

isotermal adsorpsi Freundlich.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari percobaan ini adalah :

1. Model adsorpsi yang sesuai dengan adsorpsi rodamin B oleh karbon aktif

adalah model adsorpsi Freundlich.

2. Nilai kapasitas adsorpsinya (K) sebesar 1,4289 mg/g adsorban dan nilai

adsorpsinya (b) sebesar 1,1614 mg/L

5.2 Saran

Saran untuk percobaan kali ini yaitu pada saat melakukan pengenceran

sebaiknya menggunakan pipet volum agar konsentrasi yang diperoleh sesuai

dengan yang diharapkan.

Saran untuk asisten adalah responnya jangan dilaksanakan pada saat

percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

Hunter, A.J., 2003, Adsorption, (online) (http://en.wikipedia.org/wiki/adsorption)


diakses tanggal 23 Maret 2010.

Junaidi, W., 2009, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adsorpsi, (online),


(http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-yang-
mempengaruhi-adsorpsi_27.html), diakses tanggal 30 Maret 2010.

Mawardi, 2009, Biosorpsi, Universitas Negeri Padang, Padang.

Pararaja, A., 2008, Karbon Aktif, (online),


(http://smk3ae.wordpress.com/tag/slentingan/karbon-aktif.html), diakses
tanggal 30 Maret 2010.

Staf pengajar kimia fisika, 2008, Penuntun Praktikum Kimia Fisika, Universitas
Brawijaya, Malang.

Sukarta, I. N., 2008. Adsorpsi Ion Cr3+ Oleh Serbuk Gergaji Kayu Albizia,
(Online), (http://www.damandiri.or.id/detail.php?id=801), diakses tanggal
30 Maret 2010.

Syaifuddin, M., 2009, Pewarna Sintesis “Rhodamin B”, Institut Teknologi


Sepuluh November, Surabaya.

Vitasari, 2009, Kuliah-12 Adsorpsi, (online) (http://blog.ums.ac.id/vitasari/files/


2009/06/kuliah-12_adsorpsi.pdf) diakses tanggal 23 Maret 2010.
LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 1 April 2010

Asisten Praktikan
Bhakti Wiguna Moo Meity Jolanda Karoma