Anda di halaman 1dari 13

By Timur Abimanyu, SH.

MH

PERSFEKTIF HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN


UANG BERKAITAN DENGAN UU NO. 3 TAHUN 2004
TENTANG BANK INDONESIA

Kegiatan Pencucian uang adalah asal-usul harta kekayaan yang merupakan


hasil dari kejahatan, yang disembunyikan atau disamarkan dengan berbagai cara,
dimana pencucian harus dicegah dan diberantas agar intensitas kejahatan yang
menghasilkan atau melibatkan harta kekayaan dalam jumlah yang besar dapat
diminimalisasi, sehingga stabilitas perekonomian nasional dan keamanan Negara dapat
terjaga dengan baik, dengan cara melakukan kerja sama regional atau internasional
melalui forum bilateral atau multilateral. Oleh karenanya suatu tindakan kejahatan
pencucian uang tersebut perlulah diberlakukannya Undang-Undang No. 15 Tahun 2002
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Terganggunya stabilitas perekonomian serta perbankan Indonesia yang dapat


merugikan keuangan Negara yang tidak sedikit nilainya, dengan diberlakukan UU.NO.3
TAHUN 2004 Tentang Perubahan Atas UU NO. 23 TAHUN 1999 yaitu tentang BANK
INDONESIA berhubungan erat dengan sistem keuangan negara serta perekonomian
internasional yang semakin kompetitif dan terintegrasi. Sejalan dengan tujuan Bank
Indonesia adalah untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah untuk mencapai
tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) serta melaksanakan kebijakan moneter
secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus mempertimbangkan kebijakan
umum pemerintah di bidang perekonomian, yang tidak terlepas dari Hukum Perbankan
yaitu hukum yang mengatur tentang segala kegiatan yang berkaitan dengan segala
kegiatan perkonomian yang dilakukan oleh Bank Umum maupun Bank Syariah,
sebagimana diatur oleh UU N0. 4 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-undang
Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

Kegiatan Pencucian uang adalah suatu kegiatan yang menghasilkan harta


kekayaan yang berasal suatu kejahatan, yang disembunyikan atau disamarkan dengan
berbagai cara, dan untuk melakukan pencegah serta melakukan pemberantasan perlu
diberlakukannya Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian
Uang. Karena kegiatan pencucian uang tersebut mengganggu stabilitas dan keamanan
perekonomian atau keuangan Negara, atas dasar tersebutlah maka perlu pula
diberlakukannya UU.NO. 3 TAHUN 2004 Tentang Perubahan Atas UU NO. 23 TAHUN
1999 Tentang Bank Indonesia, mengingat Bank Indonesia adalah sebagai Bank Sentral
Indonesia.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai perbandingan atau pandangan
agar Pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia, harus selalau waspada atau standbay
didalam setiap pergerakan perekonomian baik secara internal maupun secara eksternal.
Penulusuran dalam pembahasan terhadap tindak pidana pencucian uang, sampai sejauh
manakah stabilitas perkonomian dan keuangan Negara telah dirugikan, yang berkaitan
dengan kegiatan dunia perbankan. Atas dasar tujuan tersebutlah, maka penulis
menggunakan metode kebijakan pemberlakukan berdasarkan Undang-Undang No. 15
Tahun 2002 dan Undang-Undang No. 3 Tahun 2004, sebagai upaya pencegahan atau
minimal memperkecil kegiatan pencucian uang didalam perekonomian dan keuangan
Negara baik secara internal maupun secara eksternal.

Teori konsep yang dipakai penulis untuk pembahasan Tindak Pidana Pencucian
Uang adalah bersandar kepada :

Undang-Undang Dasr 1945, Pasal 33 ayat (4) :

“Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan


prinsip kebersamaan, efisien, berkeadilan berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional “

Undang-Undang No.3 Tahun 2004, Pasal 7 ayat ( 2 ) :

“Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.Untuk
mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bank Indonesia melaksanakan
kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus
mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.”

Undang-Undang No. 15 Tahun 2002, Pasal 1, ayat ( 6 ) dan Pasal 3 ayat (1)a :

“Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah transaksi yang menyimpang dari profil dan
karakteristik serta kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan, termasuk
transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk
menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan, yang wajib dilakukan oleh Penyedia
Jasa Keuangan sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini” . dan “ Setiap orang yang
dengan sengaja menempatkan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana ke dalam Penyedia Jasa Keuangan, baik atas nama
sendiri atau atas nama pihak lain”.

Difinisi Rostow yaitu :

“Mengenai proses pembangunan ekonomi dapat dibedakan kedalam 5 tahap yaitu


masyarakat tradisional (the traditional society), prasyarat untuk tinggal landas (the
preconditions for take of), tiggal landas (the take of), menuju kekedewasaan (the drive to
maturity) dan masa konsumsi tinggi (the age ofhigh mass-consumption)”.

Berdasarkan permasalahan yang telah penulis jelaskan diatas, ada beberapa


permasalahan pokok yang menjadi perhatian penulisan disini adalah untuk membahas
makalah ini, dengan beberapa permasalahan pokok adalah sebagai berikut :

a. Sampai sejauh manakah tindak pidana pencucian Uang mengganggu stabilitas


perekonomian dan keuangan Negara ?
b. Tindakan-tindakan dan upaya pencegahan apakah, yang dapat diambil terhadap
pelaku tindak pidana pencucian uang ?

c. Bagaimanakah sanksi hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku tindak pidana


pencucian uang dan apakah akibatnya serta pengaruhnya terhadap perekonomian
dan keuangan negara, apabila tindak pidana pencucian uang tidak dapat dicegah ?
Pencucian uang (Money Lundering) adalah suatu harta kekayaan yang berasal dari
berbagai kejahatan atau tindak pidana yang dilarang oleh Undang-Undang, yang
pada umumnya tidak langsung dibelanjakan atau digunakan oleh para pelaku
kejahatan untuk mengupayakan agar harta kekayaan yang diperoleh dari kejahatan
tersebut masuk kedalam system perbankan (Financial system) :

1 terutama kedalam system perbankan (banking system), agar asal usul harta tidak
dapat dilacak oleh penegak hukum. Pencucian uang (Money Loundering) yang
secara eksternal berasal dari perbankan Internasional masuk kedalam wilayah
hukum perbankan Indonesia dapat berlangsung secara berkesinambungan, dalam
hal ini perlunya ada suatu upaya pemutusan hubungan dengan perbankan
Internasional tersebut, sebagai upaya pencegahan terjadinya tindak pidana
pencucian uang (Monay Laundering).

2. Dan upaya pembatasan kejahatan tersebut harus ditempuh oleh suatu Negara
atau antar Negara, untuk dapat dicegah maupun membrantas parktek pencucian
uang yaitu dengan membentuk undang-undang yang melarang perbuatan
pencucian uang dengan sangsi yang sangat berat terhadap para pelaku kejahatan
pencucian uang, dimana terdapat proses yang terdiri dari :

a. Penempatan (Placement) yaitu upaya menempatkan uang tunai yang berasal


dari tindak pidana kedalam system keuangan (Financial System) atau upaya
menempatkan uang giral (Cheque, wesel bank, sertifikat deposito) kembali
kedalam system keuangan, terutama system perbankan.

b. Transfer (Layering) yaitu upaya untuk mentransfer harta kekayaan yang


berasal dari tindak pidana (Dirty Money) yang telah berhasil ditempatkan pada
penyedia jasa keuangan (terutama bank) sebagai hasil upaya penempatan
(Placement) ke penyedia jasa keuangan yang lain, dengan cara ini untuk
mempersulit penegak hukum untuk dapat mengetahui asal-usul harta
kekayaan.

c. Menggunakan harta kekayaan (Integration) yaitu upaya menggunakan harta


kekayaan yang berasal dari tindak pidana yang berhasil masuk kedalam
system keuangan melalui penempatan atau transfer sehingga seolah-olah
menjadi harta kekayaan halal (Clean Money), untuk kegiatan bisnis yang halal
atau untuk membiayai kembali kegiatan kejahatan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Hukum Perbankan adalah suatu peraturan


atau perundang-undangan perbankan yang mengatur bank-bank konvensil, Bank
pemerintah, Bank Swasta dan Bank swasta Asing, dengan melakukan Izin pendirian.
Sedangkan izin Pendirian adalah ketentuan bagi setiap perusahaan yang akan
menjalankan usahanya disuatu negara atau dari wilayah hukum Negara lain, haruslah
terlebih dahulu memperoleh izin dari pihak yang berwenang atau Pemerintah. Dan
kewajiban memperoleh izin usaha bank tersebut, harus memenuhi persyaratan yang
wajib dipenuhi menurut UU No.10 Tahun 1998 adalah sebagai berikut :

1. Susunan Organisasi dan kepengurusan.

2. Permodalan.

3. Kepemilikan.

4 Keahlian dibidang Perbankan.

5. Kelayakan Rencana Kerja.

Sedangkan Pengertian bank itu sendiri adalah badan usaha yang menghimpun dana
dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat banyak. Dengan demikian pengertian hukum perbankan adalah suatu
ketentuan/norma atau kidah-kaidah hukum yang mengatur segala kegiatan
perekonomian yang berhubungan langsung mupun tidak langsung, berupa badan
usaha milik Negara yaitu bank yang mengelola dan menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan serta menyalurkan kepada masyarakat dalam
bentuk kredit/pinjaman. Akan tetapi pada kenyataannya didalam melakukan kegiatan
perekonomian didalam mengelola keuangan Negara tersebut, pihak perbankan dalam
hal ini Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia dengan melalui bank-bank
umum maupun bank swasta sering terjadi suatu upaya-upaya terjadinya tindak pidana
pencucian uang (monay laundering) dan sering terjadi dan yang sering menimbulkan
masalah adalah bank-bank swasta yang diberi kepercayaan untuk mengelolaan
keuangan Negara tersebut. Seperti contohnya adalah : Bank Sentral, Bank Negara
Indonesia (BNII), Bank Dagang Negara(BDN), Bank Bumi Daya(BBD), Bank
Pembangunan Indonesia(BAPINDO), Bank Pembangunan Daerah(BPD), Bank
Tabungan Negara(BTN) dan Bank Mandiri dan lain-lain.

6. Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang adalah
segala tindak pidana yang merupakan suatu kejahatan yang berkaitan dengan
perbankan, dimana macam-macam tidak pidana pencucian uang tersebut adalah
sebagai berikut :

1. Kekayaan seseorang yang dimiliki secara pribadi maupun berupa perusahaan atau
yayasan, yang didapat dari hasil perjudian.

2. Kekayaan seseorang yang dimiliki secara pribadi maupun berupa perusahaan atau
yayasan, yang didapat dari hasil penjualan barang illegal seperti penjualan narkoba
atau alat-alat kedokteran atau alat-alat perang yang penjualannya melalui Black
market.
3. Kekayaan seseorang yang dimiliki secara pribadi maupun berupa perusahaan atau
yayasan, yang didapat dari hasil penipuan melalui perdagangan yang melalui
media internet (tindak pidana penipuan) yang didapat dari pembelian suatu prodak,
akan tetapi pembayarnnya dibebankan kepada kartu kredit milik orang lain, dan
barang tersebut kemudian dijual melalui balck market untuk di uangkan.

4. Kekayaan seseorang yang dimiliki secara pribadi maupun berupa perusahaan atau
yayasan, yang didapat dari hasil pengumpulan dana dari masyarakat, yang
tabungan dengan daya tarik bunga yang tinggi, yang didapatnya setiap bulan,
sebagai contoh : dengan uang hanya Rp. !0.000.000,-(sepuluh juta) dan bunga
yang diterima setiap bulannya sebesar Rp. 2.000.000,-(dua juta). Dana yang
terkumpul ini masuk kesalah satu rekening bank di Indonesia dan secara diam-
diam dana tersebut kemudian dipindahkan rekening kebank lain atau bank
Internasional (bank yang berada diluar negara Indonesia).Melihat dari macam-
macam tindak pidana pencucian uang (monay laundering) terlihat pelaku tindak
pidana tersebut melakukan tindak pidana pencucian tersebut baik secara Eksternal
yaitu tindak pidana yang dilakukan dari luar wilayah Negara Indonesia (luar negeri
darai hasil yang didapat secara tidal sah seperti hasil judi, jual narkoba dll) yang
dilakukan dengan mentransfer dari bank x (internasional) kepada bank yang berada
di Indonesia yaitu bank xx, kemudian dana tersebut ditranfer kembali kerekening
suatu yayasan atau perushaan yang indentitasnya tidak jelas atau fiktif, dari hasil
kegiatan perbankan inilah kemudian dana tersebut digunakan untuk mendanai
suatu kegiatan atau proyek-proyek yang berada dalam lingkungan/wilayah hukum
perekonomian/bank di Indonesia.Kemudian dana dari hasil proyek-proyek tersebut,
apabila realisasinya telah selesai, maka uang itu akan masuk kerekening pribadi
(katakanlah pemodal), berupa dana yang sudah dicuci dan dianggap sah yang
sudah barang tentu masih melalui beberapa tahap untuk mengkaburkan identitas
pemiliknya. Demikian pula sebaliknya secara intrernal yang dilakukan dari dalam
negeri (Indonesia) melakukan tranfer kerekening bank Internasional dan melalui
tahapan yang sebaliknya seperti tersebut diatas.

Tindak pidana pencucian uang dibatasi oleh Undang-Undang No. 15 Tahun


2002, Pasal 1, ayat ( 6 ) dan Pasal 3 ayat (1) a adalah Undang-Undang Dasar 1945,
Pasal 33 ayat (4) yang menegaskan bahwa “ Perekonomian nasional diselenggarakan
berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisien, berkeadilan
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional “ dan Undang-Undang No. 3 Tahun
2004, Pasal 7 ayat (2) yaitu “TujuanBank Indonesia adalah mencapai dan memelihara
kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten,
transparan, dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang
perekonomian.”, serta terkait UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Dengan undang-undang tersebut diatas adalah merupakan sebagai undang-


undang secara internal yang membatasi atau memperkecil ruang lingkup tindak pidana
pencucian uang (Monay laundering) di Indonesia, dengan tujuan untuk menjaga stabilitas
perekonomian untuk menjamin keamanan dan ketentraman dalam berinfestasi di
Indonesia. Dan selain daripada itu menurut UU No. 15 Tahun 2002 tentang tindak pidana
pencucian uang (monay laundering) adalah sebagai undang-undang yang mengandung
unsur-unsur sanksi pidana berupa kurungan badan dan denda terhadap pelaku kejahatan
tindak pidana pencucian uang tersebut.
Dalam UU No. 15 Tahun 2002 seperti dalam Pasal 10 yang berbunyi PPATK, penyidik,
saksi, penuntut umum, hakim atau orang lain yang bersangkutan dengan perkara tindak
pidana pencucian uang yang sedang diperiksa melanggar ketentuan sebagai dimaksud
dalam pasal 39 ayat (1) dan Pasal 41 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 1(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan Pasal 11 yang menyatakan pada
ayat (1) : dalam hal terpidana tidak mampu membayar pidana denda sebagimana
dimaksud dalam Bab II dan Bab III, pidana denda tersebut diganti dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun, dan ayat (2) : Pidana penjara sebagai pengganti pidana denda
sebagimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan dalam amar putusan hakim Cq Pasal
12 adalah Tindak pidana dalam bab II dan bab III adalah Kejahatan dari undang-undang
tersebut diatas.

Mengingat kondisi pada era ekonomi global sekarang ini, baik secara internal
maupun secara eksternal terhadap kebijakan dasar maupun kebijakan pemberlakuan dari
negara Indonesia, penulis menganggap sangsi pidana yang diatur oleh pasal-pasal yang
terdapat dalam UU No. 15 Tahun 2002 tersebut masih dainggap kurang membuat jera
bagi pelaku tindak pidana pencucian uang (monay laundering) tersebut, mengingat dalam
menjatuhkan hukuman masih dianggap terlalu ringan sekali. Hal ini harus dilihat pula
kepada kerugian negara, yang harus ditanggung akibat tindak pidana pencucian uang
tersebut, yang mengakibat terganggu stabilitas dan keamanan perekonomian di
Indonesia, khususnya pelaku perbankan dalam hal ini Bank Indonesia sebagai bank
sentral Indonesia, yang bertugas memonitoring segala kegiatan transaksi perekonomian
di Indonesia.

Penulis telah jabarkan diatas, bahwa kegiatan perekonomian di Indonesia akan


terganggu oleh kegiatan pencucian uang yang dilakukan baik secara internal maupun
secara eksternal, dan untuk mengupayakan pencegakan terhadap tindak pidana
pencucian uang tersebut dilandasi oleh kebijakan dasar maupun kebijakan pemberlakuan
yang merupakan sebagai payung hukum yaitu Undang- Undang Dasar 1945, Pasal 33
ayat (4), Undang-Undang No. 3 Tahun 2004, Pasal 7 ayat ( 2), Undang-Undang No. 17
Tahun 2003 dan Undang No. 15 Tahun 2002, Pasal 1, ayat ( 6 ) tentang tindak pidana
pencucian uang.

Berdasarkan UUD 1945 Pasal 33 tidak akan tercapai baik secara internal
maupun secara eksternal terhadap kegitan perekonomian khusnya dunia perbankan dan
keuangan negara, karena apabila tindap pidana money laundering tetap berjalan dengan
tidak adanya upaya pencegahan atau terdapatnya koridor hukum yang membatasinya
akan berakibat menimbul kerugian negara khususnya pada kegiatan perbangkan
maupun keuangan negara yang berkaitan dengan peredaran dan pengawasan
keuangannya diatur oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Indonesia yang
mempunyai kebijakan dasar dan kebijakan pemberlakuan baik secara internal maupun
secara eksternal yang indenpenden. Masalah yang tidak disadari dalam kegiatan
perekonomian di Indonesia adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pelaku tindak
pidana Money Laundering baik kegiatan perekonomian internal yang berada didalam
wilayah hukum negara Indonesia, yang melakukan transfer dari bank x di Indonesia yang
berasar dari dana tidak legal/haram ke bank xx yang berada di luar negeri, yang dapat
mengganggu perekonomian dan keuangan negara apabila transfer tersebut dalam
jumlah besar.
Begitu pula sebaliknya, secara eksternal dimana pelaku tindak pidana monay laundering
yang berasal dari uang tidak halal/haram dari bank x yang berada diluar negeri
melakukan pemindahan uang haram tersebut ke bank xx yang berada di Indonesia,
dimana upaya pemindahan uang tidak halal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang
tidak dapat dilacak oleh aparat penegak hukum dalam hal ini penegak hukum keuangan
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Indonesia yang bertanggung jawab mengelola
keuangan negara Indonesia.

Mengenai masalah keuangan Negara yang diatur oleh UU No. 17 Tahun 2003
adalah mengenai semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, serta segala
sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara
(termasuk APBN dan APBD),10 berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
dan di bawah pengusaan Pemerintah Pusat yaitu terhadap segala perusahaan Negara
yang modalnya dimiliki oleh Pemeritah Pusat dan Pemerintah Daerah yaitu terhadap
badan usaha yang seluruh modalnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah.
Perlu dipahami bahwa keuangan Negara adalah merupakan hak Negara untuk
melakukan pemungutan pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang serta melakukan
pinjaman, dalam hal kewajiban Negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum
dari pemerintahan/Negara dan membayar tagihan pihak ketiga, penerimaan Negara,
pengeluaran Negara, penerimaan daerah dan pengeluaran daerah. Dimana kekayaan
Negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat
berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dinilai dengan uang, termasuk
kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan Negara/perusahaan daerah, termasuk
kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas
pemerintah dan/atau kepentingan umum serta kekayaan pihak lain yang diperoleh
dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.
Kelanjutan dari penjelasan diatas adalah dalam rangka untuk mewujudkan pengelolaan
keuangan Negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam UU No. 17
Tahun 2003 tentang keuangan Negara dan UU No. 1 Tahun 2004 tentang
perbendaharaan Negara perlu dilakukan pemeriksaan oleh satu badan pemeriksa
keuangan yang bebas dan mandiri, sebagaimana telah ditetpakan dalam Pasal 23 E
UUD 1945.

Dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab


keuangan Negara, dimana BPK masih berpedoman kepada Instructie En Verdere
Bepalingen Voor De Algemene Rekenkamer atau IAR (Staatsblad 1898 No. 9
sebagimana telah diubah terakhir dengan Staatsblad 320).
Dan sampai saat ini BPK yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1973 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan, masih memiliki landasan operasional yang memadai dalam
pelaksanaan tugasnya untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
Negara (yang sebelumnya berpedoman kepada Indische Comotabiliteits Wet atau ICW,
Staatsblad 1925 No. 448 jo Lembaran Negara 1968 No. 53).Lingkup pemeriksaan BPK,
ditetapkan dan diatur dalam UUD 1945 yang meliputi pemeriksaan atas pengelolaan dan
tanggung jawab mengenai keuangan Negara, yang menurut UU No. 17 Tahun 2003,
Pasal 2 dimana kewenangannya mencakup tiga jenis pemeriksaan yaitu :

1. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah


pusat dan pemerintah daerah, yang dilakukan oleh BPK dalam rangka memberi
pernyataan opini tentang tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan pemerintah.

2. Pemeriksaan kinerja adalah periksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi serta
pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan lagi kepentingan manajemen
oleh aparat pengawasan intern pemerintah, tujuan adalah untuk mengidentifikasikan
hal-hal yang perlu menjadi perhatian lembaga perwakilan dengan maksud agar
kegiatan yang dibiayai dengan keuangan Negara/daerah diselenggarakan secara
ekonomis dan efisien serta memenuhi sasarannya secar efektif.

3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan


tujuan khusus, diluar pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja termasuk
dalam pemeriksaan tujuan tertentu adalah pemeriksaan atas hal-hal lain yang
berkaitan dengan keuangan dan pemeriksaan dan investigative. Permasalah yang
timbul akibat pelaku tindak pidana pencucian uang tersebut sangat berpengaruh
sekali dengan keuangan negara, dimana pengaturan keuangan negara sangat
sensitive sekali peredarannya, dimana keuanggan negara yang harus dikelola
tersebut harus terhindar dari uang-uang tidak halal/haram, yang secara tidak
senganya atau perlahan-lahan akan mengalami defisit apabila, kegiatan tindak pidana
pencucian uang tersebut tidak benar-benar dicegah.

Berdasarkan kegiatan yang bertentangan dengan hukum, maka yang bertugas


untuk mengamankan keuangan negara akibat pencucian uang tersebut adalah Pihak
keamanan Bank Indonesia dan petugas BPK untuk melakukan pengamanan terhadap
keuangan negara dengan tindakan-tindakan pencegahan minimal memperkecil sesuai
dengan ketentuan undang-undang Perbankan, undang-undang menteri keuangan
maupun undang-undang No. 15 Tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang.

Analisa Secara Faktor Internal.


Dengan berlandasankan kepada undang-undang perbankan dan undang-undang
keuangan negara berkaitan serta akibat tindak pidana pencucian uang (monay
laundering), dimana analisa penulis secara factor internal terhadap tindak pidana
pencucian uang dapat mengganggu stabilitas perekonomian dan keuangan Negara
adalah suatu krgiatan atau tindakan yang dilarang oleh undang-undang perbankan
maupun undang-undang keuangan negara, karena kegiatan tersebut adalah kegiatan
perekonomian yang didapat dari uang tidak halal atau haram yaitu dari hasil perjudian,
narkoba, kegiatan yang merupakan perdagangan melalui internet atau pengumpulan
dana dari masyarakat yang tidak di izinkan pemerintah atau dilindungi oleh negara.
Dimana kegiatan ini, merupakan suatu kegiatan yang penuh rekayasa dan terselubung
serta beredar pada Black market.
Sebagai upaya melakukan pencegahan secara factor internal terhadap pelaku tindak
pidana pencucian uang tersebut, pemerintah telah memberlakukan UU No. 15 Tahun
2002 tentang Tindak Pidana Pencucian uang yang merupakan sebagai payung hukum
dan sebagai kebijakan pemberlakukan, dengan ancaman hukuman pidana dan sangsi
hukuman dengan denda. Akan tetapi menurut penulis mengenai sangsi pidana dan
sangsi hukuman denda tersebut masih dianggap terlalu kesil, mengingan kegiatan
pencucian uang tersebut berlangsung secara kontinyu dan dalam skala jutaan dollar
bahkan milyatan dollar, yang tidak disadari oleh Pemerintah Indonesuia dan memang
kegiatan pencucian uang ini sangat sulit dilacak secara internal. Apabila kegiatan
pencucian uang yang berada didalam negara Indonesia, dengan media yayasan,
perusahaan atau lain-lainnya yang mengenai data-data tentang yayasan atau
perusahaan tersebut sebenarnya fiktif belaka atau hanya nama samaran saja untuk
mempermudah pengalihan peredaran uang tidak halal tersebut kebank-bank
Internasional.

Analisa Secara Faktor Eksternal, begitu pula sebaliknya berdasarkan factor eksternal,
dimana kegiatan tindak pidana pencucian uang (money laundering), berdasarkan factor
eksternal untuk melakukan pencegahan tindaka pinada ini, perlu dilakukan konsolidasi
antara pemerintah luar negeri dalam hal ini perbankan Internasiona, agar dapat dengan
mudah untuk mengindetifikasi tindak pidana pencucian uang tersebut, yang masuk dari
bank Internasional kewilah hukum Negara Indonesia. Dimana proses pencucian uang
tersebut pada awalnya masuk melalui system perbankan dengan tahapan kegiatan
pencucian secara internal melalui yayasan dan perushaan yang identitasnya disamarkan.

Berdasarkan anlisa penulis disini, terhadap tindak pidana pencucian uang (money
laundering) baik secara internal maupun secara eksternal adalah suatu kegiatan
pencucian uang yang masuk kesistem perbankan yang dapat mengganggu satabilitas
dan keamanan system perbankan dan keuangan negara dalam hal yang berkaitan
dengan asset-asset negara Indonesia.Oleh karenanya perlu suatu payung hukum yang
mencegah dan membatasi tindak pidana pencucian (money laundering) yang masuk
kedalam system perbangkan baik secara kegiatan internal maupun secara kegiatan
eksternal, yang harus pula perlunya kerja sama antar negara-negara Internasional,
khususnya bank-bank Internasional.

Kesimpulan :

1. Dengan berlandaskan kebijakan dasar yaitu UUD 1945 Pasal 33 yang pada dasarnya
meningkatkan taraf kemidupan masyarakat dapat hidup tentram dan damai didalam
melakukan transaksi perekonomian, dengan dilandasi oleh kebijakan pemberlakuan
yaitu UU No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia
dan UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian uang (Monay
Laundering).

2. Undang-Undang Bank Indonesia atau undang-undang perbankan dan undang-undang


Menteri Keuangan adalah sebagai undang-undang yang membatasi atau koridor
terhadap pelaku tindak pidana pencucian uang, karena jika tidak ada payang hukum
yang merupakan sebagai kebijakan dasar maupun kebijakan pemberlakuan yang
diawasi secara internal, akan dapat lebih efektif pemberlakuannya. Mengingat tindak
pidana pencucian uang adalah suatu perbuatan atau kegiatan yang merupakan
kejahatan yang dilakukan secara samar-samar/tidak terlihat dan berada
dilungkungan/tergolong dalam transaksi black market.

3. Dengan pemberlakuan UU No. 15 Tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang
(monay laundering) adalah sebagai kebijakan pemberlakuan yang juga berfungsi
sebagai payung hukum dengan sangsi hukuman badan maupun sanksi hukumnan
denda, baik yang dilakukan pelaku tindak pidana secara internal maupun secara
eksternal.

4. Pencegahan tindak pidana pencucian uang (manoy laundering) secara eksternal


sangat sulit dilacak, karena pelaku tindak kejahatan ini dilakukan oleh badan hukum
yang nama indentitasnya disamarkan (badan hukum tersebut sebenarnya tidak ada),
hal ini yang menyulitkan petugas untuk melacak kegiatan badan hukum tersebut
(perusahaan atau yayasan). Untuk melakukan pencegahan kegiatan tersebut yang
secar eksternal perlunya ada kerja sama antara Pemeritah Indonesia dalam hal ini
diwakili oleh Bank Indonesia dengan Pemerintah Luar Negeri dalam hal ini diwakili
oleh Bank Internasional.

Saran :

1. Berdasarkan analisa dan kesimpulan penulis secara faktor internal bahwa terhadap
kebijakan pemberlakuan yaitu UU No. 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia sebagai
bank sentral Indonesia dan UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian
uang (Monay Laundering) masih terlihat adanya pertentangan antar kebijakan
tersebut, terlihat bahwa kebijakan pemberlakukan UU No. 3 Tahun 2004 telah
mengatur mengenai sangsi hukuman baik berupa hukuman badan dan sangsi
administratif, terlihat dalam pemberian sangsi tersebut tidak ada keseragaman
dengan pemberian sangsi yang berdasarkan kebijakan pemberlakukan UU No. 15
Tahun 2004 tersebut. Atas dasar tersebut penulis menyarankan bahwa mengenai
pengaturan sangsi pidana baik hukuman badan, denda maupun sangsi Administratif
harus ada keseragaman dalam menjatuhkan sangsi tersebut, serta juga harus
melihata kepada sangsi yang diatur oleh KUHPidana dan yang perlu diperhatikan
dengan seksama didalam KUH Pidana hanya mengatur tentang kejahatan saja, tidak
memperinci apakah kejahatan tersebut termasuk kejahatan Monay Laudering
(kejahatan pencucian uang).

2. Berdasarkan analisa dan kesimpulan penulis secara faktor eksternal bahwa terhadap
kedua kebijakan pemberlakuan tersebut diatas, juga harus memperhatikan kebijakan
dasar dan kebijakan pemberlakukan dunia Internasional, yang telah melakukan
perjanjian kesepakatan/resolusi baik antara negara-negara berkembang maupun
negara maju, mengingat kerja sama antara negara internasional adalah sangat
diperlukan agar kegiatan kejahatan pencucian uang (monay laundering) tersebut
dapat dicegah semaksimal mungkin.

3. Perlunya kesungguhan dari Pemerintah untuk melakukan pencegahan terhadap


kejahatan pencucian uang (monay laudering), dengan mengupayakan suatu kebijakan
pemberlakuan yang mengatur secara khusus tentang kejahatan pencucian uang,
dengan memuat pasal-pasal mengatur tentang Petugas yang berwenang secara
khusus, sangsi hukumannya, dan pasal-pasal yang mengatur hubungan antara
negara Internasional, dan menghindarkan benturan-benturan kebijakan antara yang
satu dengan lain terutama kebijakan secara internal. Tujuan tersebut adalah untuk
mendapat kepercayaan dunia Internasional dan adanya kepastian hukum yang pasti.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. “ Ekonomi Pembangunan”, Penerbit : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi


YKPN, Edisi ke 4, tahun 2004.

Abraham, Martin. “ The Lesson of Bhopal a Community Action Resource Manual on


Hazardous Tecnologoes”.Penang, Malaysia : International Organization of
Consumers Union IOCU, 1985.

Allen, Linda. “ Capital Markets And Institutions “: A Global View.New York, Brisbane,
Singapore : Jhon Wiley & Sons’s, Inc., 1997.

Asmon, I.E.” Pemilikan Saham Oleh Karyawan: Suatu Sistem Demokrasi Ekonomi Bagi
Indonesia”, dalam Didik J.Rachbini, ed , Pemikiran Kea rah Demokrasi Ekonomi.
Jakarta, LP3ES, 1990.

Aidul Fitriciada Azhari. Hukum dan Biografi Kekuasaan, Kompas 17 April 2001, dikutip
dari Internet, 5 April 2004, WWW..YAHOO, COM.
Black and Daniel, “ Money and Bangkok”, Contemporary Pranctices, Politik and
Isues Business Publication INC.Plano, Texas 1991.

------------ Bapepam.Cetak Biru Pasar Modal Indonesia 2000-2004.Jakarta : Bapepam,


1999.

Beach, Mary E.T.” Developments In Securities Refistration and Prospektus Delivery”. ALI-
BABA Course Materiels Journal, February 1997.

Beaver, William H. “ The Nature of Mandated Disclosure”, dalam Richard A. Posner dan
Kenneth E.Scott, ed, Economic of Corporation Law and Securities
Regulation.Boston, Toronto : Little Brown & Company, 1980.

Black, Henry Campbell.Black’s Law Dictionary, Sixt Edition.ST.Paul. Minn: West


Publishing Co, 1990.

Bromberg, Alan R.” Corporate Information: Texas Gulf Sulphur and Its Implications”.
South-Western Law Journal, vol 22, 1968.

Bunch, Gary.” Chiarella : The Need For Equal Access Under Section 10(b)”.
Charity Scott, “ Caveat Vendor : Broker Dealer Liability Under the Securities
Exchang Act”, Securities Regulation Law Journal, (Vol.17, 1989).Diego Law
Review, vol 17, 1980.

Charty Scott, op.cit, hal. 274-275.Caveat venditor merupakan lawan caveat emtor
digunakan biasanya dalam lingkungan finansiil, Winardi, Kamus Ekonomi
(Inggris-Indonesia), (Bandung : Penerbit Alimni, 1982), hal 59. Caveat Venditor
diartikan sebagai sipenjual harus berhati-hati (Let The Seller Beware), Henry
Campbell Vlack, Op.cit, hal.222. Kasmir, SE.,MM., “Dasar-Dasar Perbankan”,
Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.Tahun 2005.

Coffe, Jhon C.Jr.” Market Failure And The Economic Case For A Mandatory Disclosure
System”.Virginia Law Review, vol. 70, 1984.
Corgill, Dennis.S.” Insider Trading, Price Signals, and Noisy Information”. Indiana
Law Journal, vol. 71, 1996.

Detik.Com, Tgl 15 Juli 2002.

Davis, Jeffry L.” Disorgement in Insider Trading Cases : A Proposed Rule”. Securities
Regulation Law Journal, vol.22, 1994.

------------- Dasar-Dasar Perkreditan, Penerbit PT.Gramedia, Jakarta, 1988.


Downes, John dan Jordan Elliot Gooman, “ Dictionary of Finance and Investment
Term “Diterjemahkan oleh Soesanto Budhidarmo. Jakarta : PT.Elex Media
Komputindo, 1991.

Eisert, Edward G “ Legal Strategis for Avoiding Class Action Law Suit Against Mutual
Funds”. Securities Regulation Law Journal. Vol.24, 1996.

Fischel, Daniel R.” Efficient Capital Markets, The Crash, and the Fraud on the Market
Theory”. Delaware Journal of Corporate Law, vol. 74, 1989.

Frederic.S.Mishkin, The Economics of Money, Bangking and Financial Market, Sixth


Edition, Addison Wesley Longman USA, 2001.

Freilich, Harold I. dan Ralph S,Janvery.” Understanding’Best Efforts’Of ferings”. Securities


Regulation Law Journal, vol .17, 1989.

Gallant, Peter.” The Eurobond Market, First Publishied”.New York :New York Institute of
Finance, 1988.

Goelzer, Daniel L. Esq.” Management’s Discussion and Analysis and Environmental


Disclosure”.Preventive Law Reporter, Summer, 1995.

Grossfeld, Berhard.” The Strenght and Weakness of Comparative Law”.Oxford :


Clarendon, Press, 1990.

Gilson, Ronald J.dan reiner H. Kraakman.” The Mechanisms of Market Efficiency”.Virginia


Law Journal, vol. 24, 1997.
Goeswono, Supardi. “ Perspektif Penelitian pada Pertanian Tadah Hujan di Indonesia”.
Konggres Ilmu Tanah II di Yogyakarta, 1977.

Hardjasoemantri, Koesnadi. “Hukum Tata Lingkungan”.Edisi Ketujuh. Yogyakarta :Gadjah


Mada University Press, 1999.

Harzel Leo & Richard Shepro.” Setting the Boundaries for Disclosure”.Delevare Journal of
Corporate Law, vol. 74 1989.

Hidayat, Ade, Marthen Selamet Susanto, dan Sri Unggul Azul Sjafrie.I.Putu Gede Ary
Suta. “Menuju Pasar Modal Modern’. Jakarta : Yayasan SAD Satria Bhaktu,
2000.

------------- Iswardono Sp, “Uang dan Bank’<>London, 1961.

------------- Republika Online, Ju,;at. Tgl 27 Desember 1996


Sukrisno, “ Perencanaan Strategis Bank”, Lembaga Pengembangan Perbankan
Indonesia, Jakarta 1992.

Soejono Soekanto, Mengenai Sosiologi Hukum, Bandung, PT. Citra Bakti, 1989.
Teguh Pudjo Mulyono, “Anlisis Laporan Keuangan untuk Perbankan”, Penerbit
Djambatan , Jakarta, 1999.

Thomas Suryono DKK, “ Kelembagaan Perbankan”, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta,


1998.

------------- UUD RI 1945.

------------- UU No. 3 Tahun 2004.

------------- UU No. 17 Tahun 2003.

------------- UU No. 15 Tahun 2002.

------------- UU No. 10 Tahun 1998.

------------- UU No. 23 Tahun 1999.

------------- UU No. 3 Tahun 2004.

------------- UU. No 8 Tahun 1995.