Anda di halaman 1dari 15

By Timur Abimanyu, SH.

MH

WEWENANG PEMAILITAN LEMBAGA KEUANGAN-EKONOMI SYARIAH


Oleh: Prof. Dr. H. Muchsin, S.H.
Abstrak

Dalam penjelasan umum Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004


tentang Kepailitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran Utang disebutkan bahwa pembangunan
hukum nasional diarahkan pada terwujudnya sistem hukum nasional, yang dilakukan dengan
pembentukan hukum barn. Salah satu hukum baru yang dibentuk pada tahun 2008 adalah Undang-
undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.Krisis keuangan
yang melanda Amerika khususnya dan negara-negara di dunia pada umumnya telah menimbulkan
kesulitan yang besar terhadap perekonomian dan perdagangan nasional. Kemampuan dunia usaha
dalam mengembangkan usahanya sangat terganggu, bahkan tidak mudah bagi dunia usaha untuk
mempertahankan usahanya, dan hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan untuk memenuhi
kewajiban pembayaran utang. Keadaan tersebut melanda pula perbankan syariah dan/atau unit
usaha syariah dan nasabahnya sehingga masalahnya dibawa ke lembaga peradilan agama untuk
diselesaikan. Apabila ternyata, pelaku usaha (baca: Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah)
mengalami kepailitan, lembaga peradilan manakah yang berkompetensi menetapkannya? Pasal 1
ayat (7) menyebutkan bahwa pengadilan yang dimaksud dalam undang-undang ini adalah
Pengadilan Niaga dalam Iingkungan peradilan umum. Dan menurut ketentuan Pasal 6 ayat (1)
undang-undang ini, pengajuan permohonan disampaikan kepada Ketua Pengadilan dengan
kewenangannya sebagaimana pada Pasal 3 tersebut di atas. Sedangkan Pasal 55 ayat (1) Undang
undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah menyebutkan bahwa "Penyelesaian
sengketa perbankan syariah dilakukan oleh Pengadilan dalam Iingkungan Peradilan Agama."
Ketentuan ayat dalam pasal tersebut di atas sejalan dengan bunyi Pasal 49 huruf i Undang -undang
Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama, yang berbunyi "Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa,
memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang
beragama Islam di bidang a s.d. h, dan i, ekonomi syariah. Selain itu, ketentuan tersebut
memberikan peluang untuk dibentuknya Pengadilan Niaga Syariah dalam Iingkungan Peradilan
Agama. Sebagaimana diketahui KHES tersebut didasarkan pada Peraturan Mahkamah Agung
Republik Indonesia Nomor: 02 Tahun 2008, tanggal 10 September 2008. Dan kelahiran Perma
tersebut pada pertimbangan keberadaan Pasal 49 huruf i UU Nomor 3 Tahun 2006 berikut
penjelasannya, UU Nomor 19 Tentang Surat Berharga Syariah Negara, Pasal 55 UU Nomor 21
Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, untuk dijadikan pedoman bagi hakim mengenai hukum
ekonomi menurut prinsip syariah, sebagaimana tersebut pula dalam Pasal 1 ayat (2) Perma ini.
Dengan demikian, secara sekilas ada persinggungan kewenangan antara Peradilan Agama dan
Pengadilan Niaga dalam Iingkungan Peradilan Umum, dalam mengadili permohonan pernyataan
pailit Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah. Bagaimana tinjauan undang-undang tentang hal
tersebut? Bagaimana tinjauan asas-asas umum peraturan perundang-undangan? Bagaimana
pandangan ilmu hukum dan ilmu hukum Islam tentang hal tersebut? Dan bagaimana pandangan
Mahkamah Agung tentang hal tersebut? (Sumber data : Asadurahman)
Pendahuluan, Dalam penjelasan umum Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran Utang disebutkan bahwa
pembangunan hukum nasional diarahkan pada terwujudnya sistem hukum nasional, yang
dilakukan dengan pembentukan hukum baru. Salah satu hukum baru yang dibentuk pada tahun
2008 adalah Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah.
Produk hukum nasional yang menjamin kepastian, ketertiban, penegakan, dan
perlindungan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran diharapkanmampu mendukung
pertumbuhan dan perkembangan perekonomian nasional, serta mengamankan dan mendukung
hasil pembangunan nasional. Salah satu sarana hukum penunjangnya adalah peraturan-peraturan
perundang-undangan tentang kepailitan.
Perkembangan perekonomian dan perdagangan serta pengaruh globalisasi yang melanda
dunia dewasa ini, dan mengingat modal yang dimiliki oleh para pengusaha pada umumnya
sebagian besar merupakan pinjaman yang berasal dari berbagai sumber, balk dari bank,
penanaman modal, penerbitan obligasi maupun cara lain yang diperbolehkan, telah menimbulkan
banyak permasalahan penyelesaian utang-piutang dalam masyarakat.
Krisis keuangan yang melanda Amerika khususnya dan negara-negara di dunia pada
umumnya telah menimbulkan kesulitan yang besar terhadap perekonomian dan perdagangan
nasional. Kemampuan dunia usaha dalam mengembangkan usahanya sangat terganggu, bahkan
tidak mudah bagi dunia usaha untuk mempertahankan usahanya, dan hal tersebut sangat
mempengaruhi kemampuan untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang.
Keadaan tersebut melanda pula perbankan syariah dan/atau unit usaha syariah dan
nasabahnya sehingga masalahnya dibawa ke lembaga peradilan agama untuk diselesaikan. Apabila
ternyata, pelaku usaha (baca: Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah) mengalami kepailitan,
lembaga peradilan manakah yang berkompetensi menetapkannya?
Pembahasa, Sentosa Sembiring menyebutkan bahwa terminologi kepailitan digunakan
sesuai dengan sistem hukum yang dianut. Sistem hukum anglo sakson mengartikan kepailitan
dengan "bankruptcy" yang berarti ketidak mampuan untuk membayar utang, sehingga istilah
tersebut dilatarbelakangi oleh suatu perikatan. Oleh karena itu, atas dasar sudut pandang ini,
ketidak mampuan membayar utang ditujukan kepada:
(1) para pebisnis.
(2) debitor yang betul-betul mengalami kesulitan keuangan. Sedangkan dalam sistem
hukum Eropa Kontinental, istilah yang digunakan untuk kepailitan adalah
Faillisement, dan ditujukan kepada pebisnis dan non pebisnis, yang bertujuan agar
debitor tidak disandera dan debitor dapat kesempatan membela diri. Istilah lainnya
adalah insolvency, yang mempunyai makna yang hampir sama dengan kedua istilah
sebelumnya.
Fockema Andreae mengartikan Faillisement, yaitu kepailitan seorang debitor adalah
keadaan yang ditetapkan oleh pengadilan bahwa debitor telah berhenti membayar utang-utangnya
yang berakibat penyitaan umum atas harta kekayaan dan pendapatannya demi kepentingan semua
kreditor di bawah pengawasan pengadilan. R. Subekti dan R. Tjitrosudibjo mengartikannya senada
dengan Fockema Andreae, yaitu keadaan seorang debitor apabila ia menghentikan pembayaran
utangnya. Suatu keadaan yang menghendaki campur tangan hakim guna menjamin kepentingan
bersama dari para kreditornya. Martias gelar lman Radjo Mulano mengemukakan bahwa pailit
merupakan penyitaan umum atas seluruh kekayaan debitor untuk kepentingan kreditor secara
bersama-sama.
IPM Rahuhandoko menyebut Bankruptcy dengan keadaan tidak mampu membayar utang
dalam mana (sehingga, pen.) harta yang berutang diambil oleh penagih atau pesero -pesero (status
seseorang yang secara hukum dinyatakan tidak mampu membayar utang-utangnya. Kartono
mengemukakan bahwa kepailitan adalah suatu sitaan umum dan eksekusi atas seluruh kekayaan
debitor untuk kepentingan seluruh kreditornya. Siti Soemarti Hartono menyederhanakan arti
kepailitan dengan mogok melakukan pembayaran. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan
bahwa pailit berarti bangkrut, jatuh untuk perusahaan." Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 37
Tahun 2004 menyebutkan bahwa kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit
yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasan hakim
pengawas sebagaimana diatur dalam undang -undang ini. Pasal 1 ayat (7) menyebutkan bahwa
pengadilan dimaksud adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum.
Gunawan widjaja mengatakan bahwa masalah kepailitan selalu menjadi hal yang hangat
untuk dibicarakan sesudah 10 tahun berlakunya revisi Faillesements Verordening – Peraturan
Kepailitan – dengan UU No. 4 Tahun1998, yang diubah dengan Perppu No. 1 Tahun 1998, dan
dengan UU No. 37 Tahun 2008. Menurutnya, pada masa-masa awal hingga dilakukannya revisi
atas Faillesements Verordening, urusan kepailitan merupakan suatu yang jarang muncul ke
permukaan. Kekurang-populeran masalah kepailitan ini terjadi karena selama masa tersebut
banyak pihak yang kurang puas terhadap pelaksanaan putusan pernyataan pailit." Dikatakan pula,
banyaknya urusan kepailitan yang tidak tuntas, lamanya waktu persidangan yang diperlukan, tidak
adanya kepastian hukum, merupakan beberapa dari sekian banyak alasan yang ada. Secara
psikologis mungkin hal ini dapat diterima karena setiap pernyataan kepailitan (hampir) selalu
diartikan dengan hilangnya hak-hak kreditor, atau hilangnya nilai piutang, karena kekayaan debitor
yang dinyatakan pailit itu tidak mencukupi untuk menutupi semua kewajibannya kepada kreditor.
Akibatnya, tidak semua krditor setuju, dan bahkan keras menentangnya.
Dalam banyak hal, fakta menunjukkan bahwa banyak debitor nakal telah dinyatakan
pailit namun tidak memberikan efek apa pun bagi kreditor tersebut. Kepailitan dianggap sebagai
cara untuk lepas dari utang. Putusan pernyataan pailit oleh Pengadilan sering dianggap tidak ada
sama sekali. Selain itu, debitor pailit masih leluasa melakukan kegiatan usahanya dan melakukan
segala tindakan yang dilakukan melalui dua atau lebih perusahaan yang berbeda yang dalam
dan/atau secara yuridis kepailitan merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum.
Selama kurun waktu 1,5 dasa warsa ini telah terjadi 2 kali krisis besar, yaitu krisis
ekonomi yang berawal pada tahun 1997, dan krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008 yang
lalu. Dan dalam menghadapi krisis keuangan, masalah penting yang harus diperhatikan adalah
perlindungan nasabah, baik sebagai konsumen produk industri keuangan dan sebagai penyimpan
dana. Menurutnya, apabila UU Perlindungan Konsumen mensyaratkan suatu produk yang
ditawarkan kepada masyarakat aman untuk dikonsumsi atau dipergunakan, apakah hal tersebut
menjadi keharusan pula untuk produk yang ditawarkan oleh industri keuangan. Krisis keuangan
pada tahun 2008 yang lalu memerosotkan lebih dari separoh nilai investasi pada sektor keuangan.
Selanjutnya dikatakan bahwa suatu produk sebelum dipasarkan harus diuji keamanannya
oleh suatu lembaga pemerintah atau lembaga yang didirikan pemerintah. Bila dicermati
kehancuran lembaga keuangan yang terjadi saat ini salah satunya dipicu oleh produk derivatif
rumit dan tidak dimengerti oleh nasabah bahkan sering tidak dimengerti oleh nasabah dan industri
yang menerbitkannya. Dan berpendapat "Mungkinkah diperlukan lembaga khusus yang berfungsi
mencermati dan mengkaji produk keuangan untuk melihat risiko yang terkandung pada produk
tersebut terutama produk dengan fitur rumit yang sulit dipahami. Lembaga khusus ini harus
mampu menguji keamanan suatu produk keuangan sebelum ditwarkan kepada masyarakat, agar
mereka memahami bahaya produk yang bakal dikonsumsi, atau yang ditawarkan oleh indusri
keuangan, dengan tujuan agar nasabah mendapatkan perlindungan dari produk keuangan berisiko
tinggi yang ditaawarkan kepada mereka. Bila lembaga khusus menemukan adanya risiko atau
biaya yang disembunyikan dalam suatu produk, maka lembaga akan meminta agar produk tersebut
diperbaiki sehingga intervensi pemerintah tentang larangan pemasaran produk tersebut dapat
diminimalkan.
Untuk nasabah bank, Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI)
Nomor: 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi
Nasabah, yang bertujuan memberikan perlindungan yang lebih kuat kepada nasabah dengan
menjamin hak-hak nasabah dalam bertransaksi dengan bank sehingga dapat digunakan sebagai
sarana untuk melindungi nasabah bank. Transparansi dimaksud sangat diperlukan untuk
memberikan kejelasan kepada nasabah mengenai manfaat dan risiko yang melekat pada produk
tersebut, karena selama ini nasabah, khususnya nasabah kecil, selalu saja berada di pihak yang
dirugikan bila berhadapan dengan bank. PBI tersebut dapat dijadikan langkah awal dalam
menyusun standar keamanan produk lembaga keuangan sehingga aman dikonsumsi oleh
konsumen. PBI memang hanya mengatur persyaratan minimal yang harus ditetapkan bank.
Persyaratan yang lebih rinci diserahkan kepada masing-masing bank.
Sebagai penyedia liikuiditas, bank harus mampu menyediakan dana bagi nasabah
penyimpan setiap saat, dengan catatan penarikan dana tidak dilakukan oleh nasabah penyimpan
secara bersama-sama, yang akibatnya bank mencairkan aset tidak likuid mereka dengan harga di
bawah pasar, dan akhirnya menyebabkan kebangkrutan bank. Rush merupakan suatu hal yang
sangat menakutkan, dan pada umumnya ditandai dengan antrian panjang para nasabah yang sedang
marah di depan pintu bank yang tertutup, sehingga lebih penting pengatasannya termasuk daripada
mencegah dan menghukum kejahatan perbankan. Dan untuk menjaga kepercayaan masyarakat,
kehadiran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan rush
terjadi. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 menyebutkan penjaminan diberikan untuk
tabungan hingga Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Dengan Perppu No. 3 Tahun 2008, besar
penjaminan kepada nasabah ditingkatkan menjadi simpanan dengan nilai maksimal sebesar Rp
2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).
Perjalanan waktu merembeskan krisis keuangan ke krisis ekonomi, yang ditandai dengan
meningkatnya jumlah kredit bermasalah. Bankir pun harus berhati-hati dalam menangani kredit
bermasalah, seperti yang terjadi pada Bank Mandiri, yang berakibat para bankirnya menjadi
terpidana oleh putusan Mahkamah Agung yang terkait dengan kredit macet dimaksud. Pada
dasarnya profesi bankir menuntut kehati-hatian yang tinggi dalam mengelola bank, karena
kegiatan (utamanya, pen.) adalah menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya kembali
kepada mereka dalam bentuk kredit atau pembiayaan. Sedangkan masalah paling berat yang
dihadapi industri perbankan dan otoritas pengawas bank adalah kelalaian pengurus bank serta
penipuan dan penggelapan yang mereka lakukan, seperti besarnya kredit yang disalurkan kepada
kelompok usahanya sendiri tanpa analisis pemberian kredit yang sehat, yang dapat dikategorikan
penipuan.
Di samping peraturan yang dikeluarkan oleh otoritas pengawas, bankir juga diwajibkan
untuk berhati-hati (duty of care) dalam menjalankan perusahaan, yang ditimbulkan oleh adanya
hubungan kepercayaan (fiducia relationship) antara pengurus dan bank. Dan pengurus dianggap
telah menjalankan duty of care apabila telah memenuhi 3 syarat berikut: (1) membuat keputusan
bisnis yang tidak ada unsur kepentingan pribadi, (2) berdasarkan informasi yang mereka percaya
didasari oleh keadaan yang tepat, dan (3) secara rasional mempercayai bahwa keputusan bisnis
tersebut dibuat untuk kepentingan terbaik bagi perusahaan.
Konsep dasar pengelolaan perusahaan di atas sangat penting dipedomani oleh para bankir
dalam mengelola industri perbankan agar tidak mengalami kekhawatiran likuiditas sehingga
memperlambat penyaluran kredit. Dan krisis keuangan yang terjadi saat ini menyebabkan sulitnya
likuiditas, yang pada gilirannya akan menyulitkan pengusaha mendapatkan sumber dana, yang
ditambah dengan lesunya perekonomian, akan meningkatkan potensi terjadinya kredit bermasalah.
Oleh karena itu, bankir harus berhati-hati, (dan bila perlu super ekstra hati-hati, pen.) agar tidak
berurusan dengan penegak hukum. Zulkarnain akhirnya memberikan resep sejumlah pertanyaan
yang dapat digunakan untuk melakukan due diligence terhadap perusahaan penerima kredit, yaitu:
(1) bagaimana gambaran umum perusahaan, (2) ke mana perginya uang tunai perusahaan, (3)
apakah bisnis perusahaan masih layak dipertahankan, (4) apakah manajemen memiliki kemampuan
menyelesaikan permasalahan perusahaan, (5) apakah terjadi konflik manajemen, (6) apakah
pemilik/manajemen tindakan berbahaya, (7) bagaimana menyelesaikan masalah perusahaan, (8)
dari mana sumber pembiayaan jangka pendek, (9) apakah perusahaan telah membuat kesepakatan
dengan pemberi pinjaman dan kreditor Iainnya secara terbuka, dan (10) bagaimana perusahaan
menghindari dari kepailitan.
Ada dua hal yang menyebabkan bankir berurusan dengan penegak hukum, yaitu hal-hal
yang terkait dengan ketidak-hati-hatian bankir, dan hal-hal yang terkait dengan perusahaan itu
sendiri. Untuk yang kedua ini, Pasal 2 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 menyebutkan "Debitor
yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar tunas sedikitnya satu utang yang
telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit oleh putusan Pengadilan, baik atas
permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya," atau oleh kejaksaan
untuk kepentingan umum sebagaimana tersebut dalam ayat (2) pasal dari undang-undang yang
sama.
Selanjutnya disebutkan dalam ayat (3) pasal tersebut di atas bahwa apabila debitornya
adalah bank, maka permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia. Dan
apabila debitornya adalah perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal. Menteri Keuangan merupakan satu-satunya institusi pemerintah yang
dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit terhadap debitor yang berbentuk perusahaan
asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau badan usaha milik negara yang bergerak di
bidang kepentingan publik. Hak khusus untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit oleh
kedua institusi pemerintah terhadap masing-masing debitor tersebut di atas tersebut dalam Pasal 2
ayat (4) dan ayat (5).
Pengadilan manakah yang berwenang memutus permohonan pernyataan pailit? Pasal 3
undang-undang ini merinci kewenangan dimaksud, yaitu: (1) pengadilan yang daerah hukumnya
meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor, (2) pengadilan yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan hukum terakhir debitor untuk debitor yang meninggalkan wilayah negara
Republik Indonesia, (3) pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum
hukum tersebut untuk debitor yang berbentuk pesero suatu firma, (4) pengadilan yang daerah
hukumnya meliputi tempat kedudukan atau kantor pusat debitor menjalankan profesi atau
usahanya di wilayah negara Republik Indonesia untuk debitor yang tidak berkedudukan diwilayah
negara Republik Indonesia tetapi untuk menjalankan profesi atau usahanya di wilayah negara
Republik Indonesia Pasal 1 ayat (7) menyebutkan bahwa pengadilan yang dimaksud dalam
undang-undang ini adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum. Dan menurut
ketentuan Pasal 6 ayat (1) undang-undang ini, pengajuan permohonan disampaikan kepada Ketua
Pengadilan dengan kewenangannya sebagaimana pada Pasal 3 tersebut di atas.
Permasalahan kepailitan dan/atau kesulitan tidak hanya berhubungan dengan usaha non-
syariah tetapi dapat menyentuh pula usaha-usaha syariah, yang salah satu penyebabnya adalah
kesalahan investasi, padahal usaha-usaha perekonomian syariah didasarkan pada kepercayaan
masyarakat, baik sebagai investor maupun nasabah. Sehubungan dengan hal tersebut, Undang-
undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (LNRI Tahun 2008 Nomor 94)
menyebutkan sebagai berikut:
1. Dalam hal Bank Syariah mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya,
Bank Indonesia berwenang melakukan tindakan dalam rangka tindak lanjut pengawasan antara
lain: a.Membatasi kewenangan RUPS, komisaris, direksi, dan pemegang saham, b. Meminta
pemegang saham menambah modal,c. Meminta pemegang saham mengganti anggota dewan
komisaris dan/atau direksi Bank Syariah, d. Meminta Bank Syariah menghapus bukukan
penyaluran dana yang macet dan memperhitungkan kerugian Bank Syariah dengan modalnya, e.
Meminta Bank Syariah melakukan penggabungan atau peleburan dengan Bank Syariah lain, f.
Meminta Bank Syariah dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh
kewajibannya,g. Meminta Bank Syariah menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian
kegiatan Bank Syariah kepada pihak lain) dan/atau h. Meminta Bank Syariah menjual sebagian
atau seluruh harta dan/atau kewajiban Bank Syariah kepada pihak lain.
2. Apabila tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum cukup untuk mengatasi kesulitan
yang dialami Bank Syariah, Bank Indonesia menyatakan Bank Syariah tidak dapat disehatkan
dan menyerahkan penanganannya ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk diselamatkan
atau tidak diselamatkan.
3. Dalam hal LPS menyatakan Bank Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
diselamatkan, Bank Indonesia atas permintaan LPS mencabut izin usaha Bank Syariah dan
penanganan lebih lanjut dilakukan oleh LPS sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
4. Atas permintaan Bank Syariah, Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha Bank Syariah setelah
Bank Syariah dimaksud menyelesaikan seluruh kewajibannya.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pencabutan izin usaha Bank Syariah
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Bank indonesia.
Penjelasan Pasal 54 ayat (1) berbunyi "Keadaan suatu bank dikatakan mengalami kesulitan yang
membahayakan kelangsungan usahanya apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia, kondisi
usaha bank semakin memburuk, antara lain, ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas
aset, likuiditas, dan rentabilitas, serta pengelolaan bank yang tidak dilakukan berdasarkan prinsip
kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat."
Apabila persoalan yang dialami oleh perusahaan konvensional dialami pula oleh perbankan syariah
khususnya dan/atau ekonomi syariah pada umumnya, bagaimana penyelesaian akhirnya, dalam arti
pemailitan perbankan syariah dan/atau lembaga keuangan/usaha syariah tersebut.
Pasal 55 ayat (1) Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah menyebutkan
bahwa "Penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan oleh Pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Agama." Ketentuan ayat dalam pasal tersebut di atas sejalan dengan bunyi Pasal 49
huruf i Undang undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, yang berbunyi "Pengadilan Agama bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkaraperkara di tingkat pertama antara orang-orang
yang beragama Islam di bidang a s.d. h, dan i, ekonomi syariah. Selain itu, ketentuan tersebut
memberikan peluang untuk dibentuknya Pengadilan Niaga Syariah dalam lingkungan Peradilan
Agama.
Penjelasan terhadap huruf dalam pasal tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
ekonomi syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha untuk dilaksanakan menurut prinsip
syariah, antara lain meliputi:
a. Bank syariah,
b. Lembaga keuangan mikro syariah,
c. Asuransi syariah,
d. Reasuransi syariah,
e. Reksa dana syariah,
f Obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah,
g. Sekuritas syariah,
h. Pembiayaan syariah,
i. Pegadaian syariah,
j. Dana pensiun lembaga keuangan syariah,
i. Bisnis syariah.
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (selanjutnya disebut KHES) menyebutkan dalam Buku I
(Subyek Hukum dan Amwal), Bab I (Ketentuan Umum), Pasal 1, bahwa ekonomi syariah adalah
usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh orang perorang, kelompok orang, badan usaha yang
berbadan hukum atau tidak berbadan hukum dalam rangka memenuhi kebutuhan yang bersifat
komersial dan tidak komersial menurut prinsip syariah.
Sebagaimana diketahui KHES tersebut didasarkan pada Peraturan Mahkamah Agung Republik
Indonesia Nomor: 02 Tahun 2008, tanggal 10 September 2008. Dan kelahiran Perma tersebut pada
pertimbangan keberadaan Pasal 49 huruf i UU Nomor 3 Tahun 2006 berikut penjelasannya, UU
Nomor 19 Tentang Surat Berharga Syariah Negara, Pasal 55 UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah, untuk dijadikan pedoman bagi hakim mengenai hukum ekonomi menurut
prinsip syariah, sebagaimana tersebut pula dalam Pasal 1 ayat (2) Perma ini.
Pasal 1 ayat (1) Perma ini menyebut bahwa hakim dimaksud adalah hakim dalam lingkungan
Peradilan Agama. Sedangkan Pasal 2 Perma yang sama berbunyi "KHES sebagaimana dimaksud
dalam Pasal I adalah KHES yang menjadi lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Perma ini. Selanjutnya disebutkan dalam Pasal 1 ayat 8 Buku I bahwa yang dimaksud dengan
pengadilan dalam KHES ini adalah pengadilan/mahkamah syariah dalam lingkungan peradilan
agama. Oleh karena itu, sebutan pengadilan yang antara lain terdapat dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal
5 ayat (2) Buku I, Pasal 88 ayat (1), Pasal 89 ayat (1), dan Pasal 350 Buku II (tentang Akad),
adalah untuk pengadilan agama/mahkamah syar`iah.

Bunyi ketentuan Pasal 2 ayat (2) Buku I adalah "Badan usaha yang berbadan hukum atau tidak
berbadan hukum, dapat melakukan perbuatan hukum dalam hal tidak dinyatakan taflis/pailit
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap." Sedangkan bunyi
Pasal 5 ayat (2) Buku yang sama adalah "Dalam hal badan hukum terbukti tidak mampu lagi
berprestasi sehingga menghadapi kepailitan, atau tidak mampu membayar utang dan meminta
permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang, maka pengadilan dapat menetapkan kurator
atau pengurus bagi badan hukum tersebut atas permohonan pihak yang berkepentingan."
Pasal 88 ayat (1) Buku II KHES berbunyi "Jika pembeli jatuh pailit setelah menerima barang yang
dibelinya, kemudian meninggal dunia, namun belum membayarnya, maka penjual boleh menuntut
pembeli untuk mengembalikan barang yang telah dijualnya." Sedangkan Pasal 89 ayat (I) Buku
yang sama bnerbunyi "Jika penjual jatuh pailit setelah menerima pembayaran tetapi belum
menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli, barang tersebut dianggap barang titipan
kepunyaan pembeli yang ada di tangan penjual." Dan dalam Pasal 350 ayat (1) Buku II KHES
disebutkan "Apabila pemberi gadai meninggal dunia dalam keadaan pailit, pinjaman tersebut tetap
berada dalam status harta gadai."

Pasal-pasal KHES yang dikutip di atas adalah pasal-pasal tentang: 1) kewenangan pengadilan
agama (Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 5 ayat (2), dan – menurut penulis – kewenangan tersebut
merupakan kewenangan khusus dalam perkara ekonomi syariah, 2) perkara-perkara yang menjadi
bagian dari kompetensi absolut khususnya itu.
Dengan demikian, secara sekilas ada persinggungan kewenangan antara Peradilan Agama dan
Pengadilan Niaga dalam lingkungan Peradilan Umum, dalam mengadili permohonan pernyataan
pailit Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah. Bagaimana tinjauan undang-undang tentang hal
tersebut? Bagaimana tinjauan asas-asas umum peraturan perundang-undangan? Bagaimana
pandangan ilmu hukum dan ilmu hukum Islam tentang hal tersebut? Dan bagaimana pandangan
Mahkamah Agung tentang hal tersebut?
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran
Utang, bukan merupakan undang-undang tentang kewenangan, tetapi di dalamnya diatur tentang
kewenangan mengadili perkara kepailitan, yaitu berada pada Pengadilan Niaga dalam lingkungan
Peradilan Umum. Sedangkan UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah
diubah (ditambah) dengan UU Nomor 3 Tahun 2006, merupakan undang-undang tentang
kewenangan, tetapi masalah kepailitan tidak disebutkan secara eksplisit dalam undang-undang
tersebut.
Penjelasan Pasal 54 ayat (1) UU Nomor 21 Tahun 2008 yang berbunyi "Keadaan suatu bank
dikatakan mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya apabila berdasarkan
penilaian Bank Indonesia, kondisi usaha bank semakin memburuk, antara lain, ditandai dengan
menurunnya permodalan, kualitas aset, likuiditas, dan rentabilitas, serta pengelolaan bank yang
tidak dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat," juga tidak
menyebutkan kata pengadilan dalam hubungannya dengan keadaan Bank yang mengalami
kesulitan. Akan tetapi KHES yang didasarkan pada Perma Nomor 2 Tahun 2008, menyebutkan
masalah kata pengadilan dalam hubungannya dengan kepailitan dalam pasal-pasal tentang
kewenangan sebagaimana disebutkan dalam beberapa uraian sebelumnya. Mungkin muncul
pertanyaan, dapatkah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2008 menjadi peraturan
pelaksanaan atas UU Nomor 21 Tahun 2008, sementara Perma tersebut tidak untuk undang-
undang tersebut, tetapi untuk KHES?
Pasal 7 ayat (4) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan berbunyi "Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat
sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi." Dan bunyi
penjelasan atas ayat dari pasal tersebut adalah "Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam
ketentuan ini, antara lain, peraturan yang dikeluarkan oleh MPR dan DPR, DPD, MA. MK, BPK,
BI, Menteri, kepala badan, lembaga,atau komisi yang setingkat yang dibentuk oleh undang-undang
atau pemerintah alas perintah undang-undang, DPRD Provinsi, Gubernur, DPRD
Kabupaten/Kota/Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat." Akan tetapi,Pasal 79 UU
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 5
Tahun 2004 dan UU Nomor 3 Tahun 2009, menyebutkan "Mahkamah Agung dapat mengatur
lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat
hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang ini."
Selanjutnya disebutkan dalam bagian pertama penjelasan pasal tersebut "Apabila dalam jalannya
peradilan terdapat kukurangan atau kekosongan hukum dalam suatu hal, Mahkamah Agung
berwenang membuat peraturan sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan
tadi. Dengan undang-undang ini Mahkamah Agung berwenang menentukan pengtaturan tentang
cara penyelesaian suatu soal yang belum atau tidak diatur dalam undang-undang ini. Dalam hal ini
peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dibedakan dengan peraturan yang disusun oleh
pembentuk undang-undang. Penyelenggaraan peradilan yang dimaksudkan undang-undang ini
hanya merupakan bagian dari hukum acara secara keseluruhan".
Berdasarkan uraian di atas, Perma Nomor 02 Tahun 2008 dibuat tidak berdasarkan undang-undang
dan tidak pula atas perintah undang-undang, sehingga keberadaannya tidak dipayungi oleh
undang-undang terkait, tetapi berdasarkan UU tentang Mahkamah Agung sebagaimana tersebut di
atas.

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto – sebagaimana dikutip oleh B. Hestu Cipto Handoyo
– memperkenalkan enam asas undang-undang, yaitu: I. Undang-undang tidak berlaku surut. 2.
Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi mempunyai kedudukan yang lebih
tinggi pula. 3. Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang bersifat
umum. 4. Undang-undang yang berlaku belakangan membatalkan undang-undang yang berlaku
terdahulu. 5. Undang-undang tidak dapat diganggu gugat, dan 6. Undang-undang sebagai sarana
untuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spiritual dan materiil bagi masyarakat
maupun individu, melalui pembaharuan atau pelestarian.
Dari keenam asas tersebut, menurut penulis, hanya asas ketiga yang dapat digunakan, yaitu asas
"undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang bersifat umum." Dan
sebagaimana diketahui, Undang undang Nomor 7 Tahun 1989 adalah undang-undang khusus
untuk menyelesaikan sengketa antara orang-orang yang beragama Islam, dan setelah diubah
dengan UU Nomor 3 Tahun 2006, kewenangan khusus tersebut ditambahkan pula dengan
kewenangan mengadili perkara ekonomi syariah, sebagaimana tersebut dalam Pasal 49 huruf i
berikut penjelasannya. Dengan demikian, undang-undang ini merupakan undang-undang khusus
dengan kewenangan tambahan mengadili perkara sengketa ekonomi syariah, termasuk di dalamnya
hal-hal yang terkait dengan kepailitan Bank Syariah dan/atau Unit Usaha Syariah, serta lembaga
keuangan syariah lainnya. Pemahaman tersebut merupakan penafsiran atas keumuman tambahan
kewenangan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana tersebut dalam UU Nomor 3 Tahun 2006.
Artinya, untuk perkara ekonomi syariah, ketentuan dalam undang-undang yang bersifat umum,
dalam hal ini UU Nomor 37 Tahun 2004, dikesampingkan, dan ketentuan tersebut dikembalikan
dalam menyelesaikan sengketa ekonomi non syariah.
Kekhususan sebagaimana dimaksud di atas disebutkan pula dalam konsideran Menimbang huruf c
dan d UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, yang masing-masing berbunyi:
"Bahwa perbankan syariah memiliki kekhususan dibandingkan dengan perbankan konvensional"
(huruf c), dan "Bahwa penyusunan mengenai perbankan syariah di dalam UU Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 10 Tahun 1998 belum
spesifik sehingga perlu diatur secara khusus dalam suatu undang- undang tersendiri." (huruf d).
Dalam tinjauan Ilmu Hukum Islam (Usul Fikih), UU Nomor 37 Tahun 2004 bersifat umum,
sedangkan UU Nomor 3 Tahun 2006 yang diundangkan beberapa tahun sesudahnya, tidak
dianggap membatalkan UU Nomor 37 Tahun 2004, tetapi mentakhsis keumuman kewenangan
pemailitan pada Pengadilan Niaga dalam lingkungan Peradilan Umum, hanya pada perkara
ekonomi syariah. Sedangkan perkara ekonomi non-syariah, tidak termasuk yang ditakhsiskan
sehingga kewenangan pemailitannya tetap berada pada Pengadilan Niaga dalam lingkungan
Peradilan Umum.
Pemahaman lainnya adalah dengan memasukkan masalah kepailitan Perbankan Syariah dengan
sejumlah kewenangan Peradilan Agama sebagaimana tersebut dalam Pasal 49 huruf I berikut
penjelasannya, dengan pemahaman bahwa masalah kepailitan perbankan syariah termasuk bagian
kecil dari perbankan syariah, dan menurut kaidah, Indira al-ashghar fi al-'akbar, atau yang kecil
dimasukkan pada yang besar.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, penulis berpendapat bahwa kewenangan


pemailitan perbankan syariah atau unit usaha syariah berada pada Pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Agama. Namun, berbagai pendapat akan muncul mengenai kewenangan pemailitan
perbankan syariah atau unit usaha syariah, dengan berbagai pemahaman dan sudut pandang yang
beragam, yang menuntut Pimpinan Mahkamah Agung untuk menyelesaikannya.
Dalam upaya menyelesaikan berbagai sudut pandang kewenangan pemailitan Lembaga Keuangan-
Ekonomi Syariah mperlu diupayakan penyusunan Rancangan Undang-undang tentang Kepailitan
dan Penundaan kewajiban Pembayaran Utang Lembaga Keuangan-Ekonomi Syariah, atau
melakukan perubahan atas Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan kewajiban Pembayaran Utang perlu dilakukan perubahan dengan menambahkan
penjelasan tentang: 1) hal-hal yang terkait dengan ekonomi Syariah dan 2) yang dimaksud dengan
Pengadilan dalam menyelesaikan perkara ekonomi Syariah adalah Pengadilan Agama / Mahkamah
Syar`iyah setelah Perma Khusus tentang Pedoman Pemailitan Bank Syariah dan/atau Unit Usaha
Syariah setelah pengundangan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008,

Kesimpulan :
berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik berkesimpulan sebagai berikut:
a.kewenangan memailitkan Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah pada Bank Umum dapat
menjadi titik singgung antara Pengadilan Niaga dalam lingkungan Peradilan Umum dan
Peradilan Agama.
b. berbagai pemahaman dan sudut pandang yang beragam akan muncul mengenai kewenangan
perbankan syariah atau unit usaha syariah.
Saran :
untuk menyelesaikan berbagai sudut pandang – jika ada – penulis menyampaikan saran sebagai
berikut:
a. perlu dibuat Undang-undang yang mengatur wewenang pemailitan Bank Syariah, Unit Usaha
Syariah, dan/atau LembagaKeuangan-Ekonomi Syariah.
b. setelah pengundangan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008, Undang undang Nomor 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan kewajiban Pembayaran Utang perlu dilakukan
perubahan dengan menambahkan penjelasan tentang: 1) hal-hal yang terkait dengan ekonomi
Syariah dan 2) yang dimaksud dengan Pengadilan dalam menyelesaikan perkara ekonomi
Syariah adalah Pengadilan Agama / Mahkamah Syar`iyah setelah Perma Khusus tentang
Pedoman Pemailitan Bank Syariah dan/atau Unit Usaha Syariah.
c. Selama undang-undang sebagaimana dimaksud angka 2 di atas belum ada, Perma Nomor 02
Tahun 2008 merupakan regulasi dalam melakukan pemailitan Bank Syariah, Unit Usaha
Syariah, dan atau Lembaga Keuangan-Ekonomi Syariah.
http://www.timoer.infomediailmiah.blogspot.com/

http://www.yahoo.com/

http://www.google.com/

http://www.cnn.com/

http://www.detik.com

Dafatar Pustaka
Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus (terjemahan Pustaka
Firdaus).

Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ,
Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII), Jakarta, Penerbit Arga Wijaya
Persada.

----------2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta, Penerbit ArgaWijaya
Persada.

Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas & Noble, Inc.

-----------Bertens.Dr.K. Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, 1975.

-----------Bertens. Dr.K Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta , 1976.

----------- Beerling,Dr.R.F.Filsafat dewasa ini, Jilid I, II, Jakarta, 1958.

Bochenski, J.M.Contemporary European Philosophy, translated bay D. Nichol and K. Aschenbrenner,


London and Berkeley, 1956.

B. Hestu Cipto Handoyo, Prinstp-prinsip Legal Drafting & Desain Naskah Akademis. (Yogyakarta:
Universitas Atma Jaya, 2008), h. 73, mengutip Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, da
la m: Rosjidi Ranggawijaya, Pengantar Ilmu Perundang-undangan Indonesia..
Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and Government,
Calabasas, California, U.S Departement of Education.

-----------Collins,J.A .History of Modern Eurapean Philosophy, Milwaukee, 1954.

-----------Copleston,F.A. Historys of Philosophy, London.

Vol. I. Greece and Rome 1946.

Vol II. Mediaevl Phalosophy, Augustine to Scotus, 1950.

Vol III . Ockham to Snarez, 1953.

Vol IV. Descartes to Leibniz, 1958.

Vol V . Hobbes to home, 1959.

Vol VI. The French Englightenment to Kent, 1960.

Vol VII. Fichte to Nietzsche, 1963.

Vol VIII. Britis Empirism and the Idealist Movement in Great Britain and Idealisme in Amirica, The
Pragmatist movement, The Revolt against Idealisme, 1967.

-----------Dirjarkara, Prof.Dr.N.Pertjikan Filsafat, Jakarta, 1966.

-----------Durant Wil, The Story of Philosophy, NewYork, 1952.

Friedman, W.”Teori Dan Filsafat Hukum (Judul Asli : “LegalTheory”).Penerjemah Muhammad Arifin,
Jakarta : CV.Rajawali. 1990.
Fadjar, ”beraneka ragam itu semua berasal dari materi atau benda yaitu sesuatu yang berbentuk dan
menempati ruang serta kedudukan nilai benda/badan/materi adalah lebih tinggi daripada
roh/sukma/jiwa/spirit”, 2007: 1-2.

-----------Fuller, B.A.G (Ph.D) History of Greek Philosophy, New York, 1923.

----------- Gilson Etiene, History of Christian Philosophy in the Middie Ages, New York, 1954.

Gunawan Widjaja, Refleksi Sepuluh Tahun UU Kepailitan dan Antisipasi Dampak Krisis Moneter Global:
Kapasitas dan Efektivitas Pengadilan Niaga. (Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis, 2009), volume 28
No. 1 Tahun 2009.

Harold H. Titus. Living Issues in Philosophya, New York : Amirika Book Company, Thirdd Edition 1959.

Hirschaberger,J.The History of Philosophy, translated by in Nineteenth Century, New York, 1967.


Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4, Bandung,
Penerbit Alumni.

Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell.
Loewith,K.From hegel to Nietzsche, The revolution in Nineteenth Century, New York, 1967.

Mertokusumo, ”Dengan kaidah sosial hendak dicegah gangguan-gangguan maupun konflik kepentingan
manusia, sehingga diharap manusia dapat terlindungi kepentingan-kepentingannya”, 1999- 10,
1999-12, 1999: 167.

Mohammad Noor Syam, ” Pembudayaan Nilai Pancasila Sebagai Sistim Filsafat Dan Idiologi
Nasional”Laboratorium Pancasila,Universitas Negeri Malang (UM), Malang, 30 November 2007

Masruri dan Rosidy dalam Fadjar, ”Epistemologi adalah yang terkait dengan cara ilmu memperoleh dan
menyusun tubuh pengetahuan”, 2007: 4.

McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition), Glasgow, Bell & Bain Ltd.

Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum (sebagai Landasan
Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III, Malang, Laboratorium Pancasila.

Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to Jurisprudence, San
Francisco, Westview Press.

Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe, Zurich/Koln
Verlagsanstalt Benziger & Co. AC.

Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cetakan ke-6.

Punadi Purbacaraka, Ridwan Halim.Filsafat Hukum Pidana.Jakarta :CV.Rajawali 1982.


Pound, roscoe.Pengantar Filsafat Hukum.Penerjemah : Muhammad Rajab. Jakarta : Bhratara,
1972.

---------- Poedjowijatno, I.R, Pembimbing kearah Ilmu Filsafat, Jakarta, 1963.

---------Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western, London, George Allen
and Unwind Ltd.
Rasyid, ”yang meliputi peraturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara komprehensif,
melainkan sebatas hukum Islam yang menyangkut aspek keperdataan tertentu saja. Itulah yang
menjadi hukum yang hidup (living law) dan selebihnya seperti aturan-aturan yang menyangkut
aspek peribadatan dan lain sebagainya masih belum menjadi hukum yang hidup dimasyarakat”,
1991 : 6.

--------- Rudi T.Erwin. Tanya jawab Filsafat Hukum.Jakarta : Aksara Baru, 1982.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang tentang Kepailitan dan Penundaan
kewajiban Pembayaran Utang.

Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Republik Indonesia, Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural, Filosofis dan
Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila, 2000.

---------- Sutikno.Filsafat Hukum.Jakarta :CV.Prima,1973.

Sentosa Sembiring, Hukum Kepailitan dan peraturan Perundang-undangan yang Terkait dengan
Kepailitan, (Bandung: Nuansa Aulia, 2006), cet. I, h. 11, mengutip Sutan Remy Syandeni,
Hukum Kepailitan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2002).

Suriasumantri, ”Hukum barat yang bercorak kapitalistik dan individualistik memiliki dasar ontologis
monisme yaitu materialisme,bahwa hakekat dari kenyataan yang ada, 1990: 93.

Sumardjono, ”siklus ilmu pengetahuan sebagaimana digambarkan oleh L. Wallace di dalam


bukunya The Logic of Science in Sociology”, 1989: 3.

---------- Rupert, Lodge,F.R.S.The Great Thinkers, Boston, 1951.

----------Russel, Bertrant. A. History of Western Philosophy, London, 1947.

Sumardjono, ”siklus ilmu pengetahuan sebagaimana digambarkan oleh L. Wallace di dalam bukunya The
Logic of Science in Sociology”, 1989: 3.

Saptariani, N. Potret Perspektif Keadilan Gender dalam Pengelolaan SDA di Indonesia. Jurnal Perdikan.

Soejono Soekanto, Mengenai Sosiologi Hukum, Bandung, PT. Citra Bakti, 1989.Teguh Pudjo Mulyono,
“Anlisis Laporan Keuangan untuk Perbankan”, Penerbit Djambatan , Jakarta, 1999. UNO 1988:
HUMAN RIGHTS, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO

Republik Indonesia, UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966;
2001, 2003)

---------- Wright,W.K, A history of modern European Philosophy, New York, 1941.

Wiliam Zelernyer. Internasional to Bussines Law The Macmillan Company, New York. London :
Collier-Macmillan Limited, 1964.

Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard
College, University Press.

Zainuddi Ali, MA, Sosiologi Hukum. Penerbit : Yayasan Mayarakat Indonesia Baru. Palu,
Zulkarnain Sitompul, Antisipasi Krisis Perbankan Jilid Dua: Sudah Siapkah Pranata Hukum Melindungi
Nasabah dan Memperkuat Industri Perbankan?, (Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis, 2009), volume
28 No. 1 Tahun 2009.

Republik Indonesia, Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural, Filosofis dan
Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila, 2000.