Anda di halaman 1dari 28

By Timur Abimanyu, SH.

MH

PROBLEMATIKA DAN IMPLEMENATSI PILKADA DALAM


ERA OTONOMI DAERAH DAN ANALISANYA

DAFTAR ISI

Bab I : Pendahuluan

Bab II : Otonomi Daerah Dan Pilkada


A. Ruang Lingkup dan Pengertian Otonomi Daerah.
B. Ruang Lingkup dan Pengertian Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
C. Hubungan Hukum Pilkadan dan Oonomi Daerah.

Bab III : Pelaksanaan UU NO. 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.
10 Tahun 2008.
A. Implementasi Otonomi Daerah.
B. Implementasi dan Realisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
C. Promblematika dan Masalah-Masalah Pilkada.
- Contoh Kasus No. 04 K/KPUD/2008
D. Analisa Peraturan Perundang-undangan Otnomi Daerah dan Perundang-undangan
Pilkada berdasarkan faktor Internal. dan faktor Eksternal.

Bab IV : Penutup
- Kesimpulan
Kata Pengantar

Berbicara Otonomi Daerah maka tidak terlepas dengan kewenangan Pemilihan Kepala
Daerah (Pilkada), yaitu mengenai kewenangan yang diberikan Pemerintah Pusat kepada
Pemerintah Daerah dengan sistim dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesi (UUD 1945). Dimana Pilkada
adalah hak, kewenangan Pemerintah Daerah yang harus melaksanakan Pemilihan Kepada Daerah
yang memiliki hak otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri segala urusan pemerintah daerah
dan segala kepentingan masyarakat daerah /setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai penyelenggara Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, yaitu Pasal 1 ayat (2)
UUD 1945 yaitu kedaulatan berada di tangan rakyat.
Berkaitan dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemeritah Pusat kepada Pemerintah
Daerah yang salah satunya adalah kewenangan bagi Kepala Daerah/Pemrintah Daerah dengan
landasan hukum yaitu UU No. 32 Tahun 2004 yaitu untuk mengadakan Pemilihan Kepala Daerah
dengan mengacu kepada Peraturan Pemeritah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia
No. 1 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU Nomor. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum,
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah. Dalam Pasal 2 : ayat (1). Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah
provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai
pemerintahan daerah, dan ayat (2). Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantu.
Ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Anggota DPR, DPD dan DPRD pemilih harus terdaftar dalam daftar pemilih tetap,
sehingga ketidak sempurnaan rekapitulasi daftar pemilih tetap secara nasional dapat
mengakibatkan sebagian pemilih tidak dapat menggunakan hak memilihnya dan u n t u k
m e m b e r i k a n k e p a s t i a n t i d a k t e r j a d i n y a kehilangan suara pemilih, perlu pengaturan
pemberian tanda lebih dari satu kali pada surat suara dinyatakan sebagai suara yang
sah. Demikianlah alur pikir dari penulis yang judul ” Problematika dan Implementasi Pilkada
dalam Era Otonomi Daerah dan analisanya “ dengan tujuan agar dapat mendeteksi sampai
sejauh manakah undang-undang Pilkada telah dijalankan oleh Pemerintahn Daerah dengan
kewenangan yang dimilikinya yaitu Otonomi Daerah tersebut.
Penulis, 2010.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
UU No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah sangat berkaitan hubungannya
didalam kewenangan Pemerintah Daerah untuk melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah
dengan dilandasai oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia
No. 1 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU Nomor. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan
Umum, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dan dengan sistim dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
(UUD 1945).
Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 kedaulatan berada di tangan rakyat, sehingga dalam penyelenggaraan
pemilihan umum, rakyat yang telah memenuhi persyaratan berdasarkan peraturan
perundang-undangan mempunyai hak konstitusional untuk memilih dan dipilih dan
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang telah diganti
dengan PP No.1 Tahun 2009 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
pemilih harus terdaftar dalam daftar pemilih tetap, sehingga terdapat ketidak sempurnaan
rekapitulasi daftar pemilih tetap secara nasional dapat mengakibatkan sebagian
pemilih tidak dapat menggunakan hak memilihnya;
Dengan tujuan u n t u k m e m b e r i k a n k e p a s t i a n t i d a k t e r j a d i n y a kehilangan
suara pemilih, perlu pengaturan pemberian tanda lebih dari satu kali pada surat
suara dinyatakan sebagai suara yang sah, dengan berdasarkan pertimbangan yaitu
untuk mengatasi timbulnya kegentingan yang diakibatkan permasalahan dalam
penyelenggaraan pemilihan umum maupun Pemilihan Kepala Daerah.
Demikianlah uraian hubungan antara UU No. 32 Tagun 2004 tentang Otonomi Daerah
yang mempunyai kewenangan didalam Pemilihan Kepala Daerah yang dilandasai oleh
Peraturan Pemerintah Nomor. 1 Tahun 2009 pengganti Undang-Undang No. 10 Tahun 2008
tentang Pemilihan Umum, yang sebagaimana penulis uraikan dengan secara singkat. Tujuan
dan maksud dalam pembahahasan Pemilihan Kepala Daerah adalah untuk dapat mengetahui
dengan secara tajam promblematika dan Implemenatsi dari PP No. 1 Tahun 2009 didalam
realisasi Pemerintahan Daerah didalam melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah di seluruh
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan didasari oleh Kerangka teori dan konsep Hukum dari Pilkada yaitu : UUD
1945 Pasal 1
” (1) Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik. (2) Kedaulatan adalah di
tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.”
UU Nomer 32 Tahun 2004, Pasal 2 yaitu :
” (1).Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas
kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah., (2).Pemerintahan daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembatuan dan (3) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan
otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah, dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah, serta (4).P e m e r i n t a h a n
d a e r a h d a l a m m e n y e l e n g g a r a k a n u r u s a n pemerintahan memiliki hubungan dengan Pemerintah dan
dengan pemerintahan daerah lainnya.”

UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 56 ayat (1)


“ Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara
demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.”

PP No. 1 Tahun 2009 yaitu :


“Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 kedaulatan berada di
tangan rakyat, sehingga dalam penyelenggaraan pemilihan umum, rakyat yang telah memenuhi
persyaratan berdasarkan per at ur an per undang- undangan mempunyai hak konstitusional untuk
memilih dan dipilih ”
Landasan Hukum Pemilihan Kepala Daerah adalah Pancasila dan Undang Undang
Dasar 1945 Republik Indonesia, Undang Undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi
Daerah dan Undang Undang No. 1 Tahun 20091 pengganti UU No. 10 Tahun 2008 tentang
Pemilu dan Pemilihan Kepala Daerah.
Permasalahan yang timbul dari Pemilihan Kepala Daerah yaitu : Apakah dengan PP
No. 1 Tahun 2009 tersebut telah dapat dilaksanakan dengan secara jujur, murni dan adil
didalam impelemtasinya ?

1
.Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No. 10 Tahun
2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah, dimana Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang tersebut hanya menambah pasal 47 yang ditambah satu ayat
(menjadi 4 ayat) yaitu KPU provinsi melakukan rekapitulasi daftar pemilih tetap di provinsi, KPU melakukan
rekapitulasi daftar pemilih tetap secara nasional dan Dalam hal masih terdapat pemilih yang sudah terdaftar dalam daftar
pemilih tetap tetapi belum tercantum dalam rekapitulasi daftar pemilih tetap secara nasional, d a n / a t a u t e r d a p a t
k e l e b i h a n j u m l a h p e m i l i h d a l a m rekapitulasi daftar pemilih tetap secara nasional, KPU melakukan perbaikan rekapitulasi
daftar pemilih tetap secara nasional sebanyak 1 (satu) kali, Ketentuan Pasal 176 diubah, di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan
1 (satu) ayat yakni ayat (1a) yaitu dalam hal KPPS pada saat melakukan penghitungan suara menemukan
pemberian tanda lebih dari satu kali pada kolom nama partai dan/atau kolom nomor calon d a n / a t a u k o l o m n a m a
c a l o n a n g g o t a D P R , D P R D provinsi, dan DPRD kabupaten/kota yang sama dan d a l a m p a r t a i p o l i t i k y a n g s a m a ,
s u a r a t e r s e b u t dinyatakan sah dan dihitung satu suara) di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (satu) ayat yakni
ayat (2a)yaitu dalam hal KPPS pada saat melakukan penghitungan suara menemukan pemberian tanda satu kali atau lebih
pada nomor unit dan/atau kolom foto dan/atau nama c a l o n a n g g o t a D P D y a n g s a m a , s u a r a t e r se b u t dinyatakan
sah dan dihitung satu suara.), dan ayat (3) diubah. Atas dasar perubahan tersebut PP pengganti undang-undang
masih tetap menggunakan UU No. 10 Tahun 2008 sebagaimana yang termasuk didalamnya.
Asumsi sementara, dimana Peraturan Pemerintah No 1 Tahun 2009 terkesan belum
terciptanya Pemilihan Kepala Daerah didalam implementasinya belum terealisasi dengan
secara jujur dan adil, terlihat kekecewaan dimasyarakat terhadap hasil Pilkada didaerah-daerah
yang menimbulkan sifat arogansi masyarakat yang merasa tidak puas dari hasil Pilkada karena
adanya Politik uang dan kecurangan kotak suara, yang salah satunya seperti contoh kasus
Pilkada No. 04 K/KPUD/2008 yang akan diuraian selanjutnya.
Bab II
Otonomi Daerah Dan Pilkada

A.. Ruang Lingkup dan Pengertian Otonomi Daerah


Pemerintahan daerah/otonomi daerah adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistim dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Pemerintah daerah adalah terdiri dari Gubernur, Bupati, atau
Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah dan dalam
Pemerintahan Daerah terdapat pula Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yaitu suatu
lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dimana
otonomi daerah mempunyai hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan daerah otonom tersebut
adalah merupakan daerah kesatuan masyarakat hukum 2 yang mempunyai batas-batas
wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat3 dalam sistim
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sistim Desentralisasi adalah dimana penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan sistim Dekonsentrasi yaitu
berupa pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai
wakil pemerintah dan kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Didalam tugasnya
Pemerintah Daerah membantu Pemerintah Pusat untuk melaksanakan tugas tertentu
pemerintahan daerah, dengan mempunyai kewenangan membuat Peraturan daerah (Perda)
yang merupakan peraturan daerah provinsi atau peraturan daerah kabupaten/kota. 4 Dengan
kewenangan yang dilandasi oleh PP No. 1 tahun 2009, maka Pemerintahan Daerah
2
.Ronny Hanitijo Soemitro, Beberapa Masalah Dalam Studi Hukum dan Masyarakat, (Bandung, Remadja Karya, 198),
hal.53.
3 Ahmad Ali, Menguak Tabir Hukum (suatu Kajian Filosofi dan Sosiologis, Gunung Agung, Jakata, 2002, hal. 88.
4.W ignjodipoero, Soerojo.Pengantar dan Asas-Asas Hukum Ada (Jakarta : CV.Haji Masagung, 1983), hal.76-77.
35
.Richard Seymour is an MA graduate from the Department of Geography, University of Otago, Dunedin,
New Zealand. His thesis focused on regional autonomy and the impacts of political decentralisation on local populations
in Indonesia.

4
berkewajiban harus melaksanakan Pemilihan Kepala daerah, kewenangan inilah untuk
memenuhi hajat serta aspirasi rakyat didaerah untuk dapat di pilih menjadi Gubernur atau
wakil Gubernur, Bupati atau wakil bupati dan Wali Kota dan Wakil Wali Kota di seluruh
wilyah kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Dengan demikian jelaslah bahwa
otonomi daerah5 bertujuan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas didalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang sangat perlu ditingkatkan dengan kearah yang
lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar
pemerintahan. daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan
global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan
pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah, perekonomian daerah, keuangan
daerah dan keamanan daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara
Kesatauan Republik Indonesia (NKRI).6

B. Ruang Lingkup dan Pengertian Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)7


Pilkada adalah untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah sebagai penyalur aspirasi politik rakyat serta anggota Dewan Perwakilan

5
6..Sarah Turner (turner@geog.mcgill.ca) is Assistant Professor at the Department of Geography, McGill
University, Montreal, Canada. Her research focuses on how small scale entrepreneurs, street traders and market traders in
Southeast Asia, specifically those in Indonesia and Vietnam, make a livelihood.
7..Dalam UU No. 10 Tahun 2008 yang telah diganti dan dirubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1
Tahun 2009 didalam pasalnya : Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 : (1).Pemilihan U mum, selanjutnya disebut Pemilu, adalah sarana
pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (2).Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (3).Dewan Perwakilan Rakyat, selanjutnya disebut DPR, adalah Dewan
Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945., (4). Dewan Perwakilan Daerah,
selanjutnya disebut DPD, adalah Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
(4). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, selanjutnya disebut DPRD, adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah kabupaten/ kota sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (5). Komisi Pemilihan Umum,
selanjutnya disebut KPU, adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri., (6). Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan
Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, selanjutnya disebut KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota, adalah penyelenggara Pemilu di provinsi dan
kabupaten/kota, (7).Panitia Pemilihan Kecamatan, selanjutnya disebut PPK, adalah panitia yang dibentuk oleh KPU kabupaten/kota untuk
menyelenggarakan Pemilu di tingkat kecamatan atau sebutan lain, yang selanjutnya disebut kecamatan, (8) Panitia Pemungutan Suara, selanjutnya disebut
PPS, adalah panitia yang dibentuk oleh KPU kabupaten/kota untuk menyelenggarakan Pemilu di tingkat desa atau sebutan lain/kelurahan, yang selanjutnya
disebut desa/kelurahan, (9).Panitia Pemilihan Luar Negeri, selanjutnya disebut PPLN, adalah panitia yang dibentuk oleh KPU untuk
menyelenggarakan Pemilu di luar negeri, (10).Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara, selanjutnya disebut KPPS, adalah kelompok yang dibentuk
oleh PPS untuk menyelenggarakan pemungutan suara di tempat pemungutan suara.,(11).Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri,
selanjutnya disebut KPPSLN, adalah kelompok yang dibentuk oleh PPLN untuk menyelenggarakan pemungutan suara di tempat pemungutan suara di
luar negeri, (12). Tempat Pemungutan Suara, selanjutnya disebut TPS, adalah tempat dilaksanakannya pemungutan suara, (13).Tempat
Pemungutan Suara Luar Negeri, selanjutnya disebut TPSLN, adalah tempat dilaksanakannya pemungutan suara di luar negeri, (14). Badan Pengawas Pemilu,
selanjutnya disebut Bawaslu, adalah badan yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia., (15).Panitia
Pengawas Pemilu Provinsi dan Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, selanjutnya disebut Panwaslu provinsi dan Panwaslu kabupaten/kota, adalah panitia
yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi dan kabupaten/kota dan (16). Panitia Pengawas Pemilu
Kecamatan, selanjutnya disebut Panwaslu kecamatan, adalah panitia yang dibentuk oleh Panwaslu kabupaten/kota untuk mengawasi penyelenggaraan
Pemilu di wilayah kecamatan.

7
Daerah sebagai penyalur aspirasi keanekaragaman daerah sebagaimana diamanatkan dalam
Pasal 22E ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan
diselenggarakan pemilihan umum, dimana pemilihan umum secara langsung oleh rakyat
merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang
demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
Jelasnya, bahwa Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang
dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dan Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

C. Hubungan Hukum Pilkadan dan Oonomi Daerah.8


Hubungan Hukum Otonomi Daerah dengan Pemilihan Kepala Daerah sangat erat dan
harus berkoordinasi, dengan dilandasai oleh Undang Undang Nomor. 32 Tahun 2004 yang
berkaitan erat dengan Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang Nomer 1 tahun 2009
tentang perubahan atas UU nomor 10 Tahun 2008 yaitu tentang Pemilihan Umum anggota
DPR,DPD dan Dewan Perwakilan Rakyat daerah.
Akan tetapi disatu sisi Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2004, dimana salah satu
kewenangannya yaitu Pemerintah Daerah harus mengadakan Pemilihan Dewan Perwakilan

8
.UU Nomor. 32 Tahun 2004 sangat berhubungan erat dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang
Undang Republik Indonesia Nomor. 1 tahun 2009 tentang peribahan atas UU No. 10 tahun 2008. Dimana dalam UU
Nomor. 32 Tahun 2004 yang mengatur Pilkada adalah dalam Pasal 56 sampai dengan pasal 119 dan dalam Pasal 56
adalah ayat (1) tentang Pemilihan Kepala Daerah yaitu Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu
pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur, dan adil dan ayat (2) lasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh partai politik
atau gabungan partai politik. Sedangkan dalam Pasal 57 adalah (1)Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala
daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggungjawab kepada DPRD.(2).Dalam melaksanakan tugasnya, KPUD
menyampaikan laporan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kepada DPRD.(3).Dalam mengawasi
penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah, dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil
kepala daerah yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh masyarakat.
(4).Anggota panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) orang untuk provinsi, 5 (lima) orang
untuk kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk kecamatan.(5).Panitia pengawas kecamatan diusulkan ole h Panit ia penga wa s
kabupaten/kota untuk ditetapkan oleh DPRD.(6).Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3), panitia
pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat diisi oleh unsur yang lainnya.(7). Panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan
wakil kepala daerah dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya.
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sampai ketingkat kabupaten diseluruh wilayah
hukum Negara Republik Indonesia. Disisi lain dengan berlandasankan Peraturan Pemerintah
Nomor 1 tahun 2009 tentang perubahan atas UU nomor 10 Tahun 2008 yaitu tentang
Pemilihan Umum anggota DPR,DPD dan Dewan Perwakilan Rakyat daerah adalah sebagai
realisasi dan implemenatsi dari Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004. Sangat jelaslah bahwa
hubungan hukum tersebut adalah kewenangan mutlak yang diberikan oleh Pemerintah Pusat
untuk memberi kesempatan pada putra-putra daerah untuk tampil kedepan mengurus
daerahnya masing-masing dengan tetap tunduk pada Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana yang ditetapkan oleh UUD 1945.
Bab III
Pelaksanaan UU NO. 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Perubahan
atas Undang-Undang No. 10 Tahun 2008.

Pelaksanaan dan realisasi Undang Undang Nomor. 32 tahun 2004 adalah merupakan
sebagai tanggung jawab Pemerintah Pusat untuk melaksanakan amanat dari UUD 1945, untuk
memberi kewenangan kepada daerah-daerah di wilayah Hukum Republik Indonesia yaitu dengan
pelimpahan kewenangan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah yang berupa Otonomi
Daerah. Kewenangan Otonomi Daerah yang salah satunya adalah suatu kewenangan yang
mewajibkan Pemerintahan daerah untuk melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah dengan
dilandasai oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum, Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
A. Implementasi Otonomi Daerah.
Berupa penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya
saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan
dan kekhususan suatu daerah dalam sistim Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan
efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan
lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar
pemerintahan. daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan
global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan
pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan Negara.
Implementasi otonomi daerah tersebut adalah kewenangan yang diberikan oleh
Pemerintah Pusat kepada Pemerintah daerah berupa kewenangan Perimbangan keuangan
antara Pemerintah dan pemerintah daerah adalah suatu sistim pembagian keuangan yang
adil, proporsional, Anggaran pendapatan dan belanja daerah, selanjutnya disebut
APBD, Kawasan khusus adalah bagian wilayah dalam provinsi dan atau kabupaten/kota
yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi
pemerintahan yang bersifat khusus bagi kepentingan nasional, Pemerintahan daerah
dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan Pemerintah
dan dengan pemerintahan daerah lainnya (dalam hal keuangan, pelayanan umum,
pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya) dan kewenangan untuk
mengadakan Pemilihan Kepala Daerah didalam batas wilayah hukum Pemerintahan daerah
tersebut.

B. Implementasi dan Realisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)9


Dengan dilandasai oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1
tahun 2009, maka pemerintah daerah wajib melaksanakan Pemilu/Pilkada yaitu untuk
memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai
penyalur aspirasi politik rakyat serta anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai penyalur aspirasi
keanekaragaman daerah sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E ayat (2) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemilihan umum secara langsung oleh rakyat
merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang
demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Mengingat bahwa Pemilihan Umum adalah sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan
rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Sedangkan Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Pemilu untuk memilih anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.10
Dengan demikian implementasi serta realisasi dari Peraturan Pemerintah pengganti
undang Nomor. 1 Tahun 2009 adalah sudah mencerminkan amanat dari Pancasila dan Undang

9
.Rondinelli, D. and Cheema, G. 1983: Implementing Decentralization policies. In Cheema,G. and Rondinelli, D.,
Editors, Decentralization andDevelopment. Policy Implementation in Developing Countries. California: SAGE Publications, 9-
14.
10. Kahin, A. 1994: Regionalism and Decentralisation. In Bourchier, D. and Legg, J., Editors, Democracy in Indonesia.
1950s and 1990s. Victoria, Australia: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 204- 213.
11.Livingstone, I. and Charlton, R. 2001: Financing Decentralized Development in a Low-Income Government in
Uganda. Development and Change 32, 77-100.
10
Undang Dasar 1945, sebagai pelaksanaan hak-hak rakyat Indonesia didalam berbangsa dan
bernegara.11
C. Promblematika dan Masalah-Masalah Pilkada.12
Didalam realiasi dan pelaksanaan Pemilihan umum dan pemilihan Kepala daerah,
masih banyak timbulnya bermacam-macam permasalahan yang timbul, yang diakibatkan oleh
sistim aturan mainnya yang terkesan belum mencerminkan rasa keadilan dan kejujuran didalam
merefleksikan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2009,13 yang
akibatnya timbul berbagai kasus Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala daerah yang salah
satu contoh kasus akan penulis uraikan dibawah ini.14
- Contoh Kasus No. 04 K/KPUD/2008.
Para Pihak :
1. Drs. H. LALU SERINATA, bertempat tinggal di Jalan Pariwisata VII/7,
Kelurahan Mataram Timur, kecamatan Mataram, Kota Mataram (Calon Gubernur
Propinsi Nusa Tenggara Barat Periode 2008 – 2013);
2. H. M. HUSNI JIBRIL, B.Sc., bertempat tinggal di Jalan Belibis No. 3
Panjang Timur, Kelurahan Pejanggik, Kecamatan Mataram (Calon Wakil Gubernur
Propinsi Nusa Tenggara Barat Periode 2008 – 2013);
selanjutnya disebut sebagai Pemohon Keberatan ;
melawan
KOMISI PEMILIHAN UMUM DAERAH ( KPUD ) PROPINSI NUSA TENGGARA
BARAT, beralamat di Jalan Langko Nomor 17 Mataram.
selanjutnya disebut sebagai Termohon Keberatan ;
Posita :
bahwa Pemohon Keberatan dengan surat permohonan tertanggal 17 Juli 2008 yang dicatat dalam
register di Kepaniteraan Mahkamah Agung dengan Nomor 04 K/KPUD/2008 telah mengajukan
keberatan atas Hasil Perhitungan Suara dan Penetapan hasil penghitungan suara oleh Komisi
Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam pemilihan Gubernur
dan Wakil Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Barat Periode 2008 – 2013 dengan mendasarkan pada
alasan-alasan sebagai berikut:
1. Bahwa memperhatikan ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 2005
tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil

11

12
.Rondinelli, D. and Cheema, G. 1983: Implementing Decentralization policies. In Cheema, G. and
Rondinelli, D., Editors, Decentralization andDevelopment. Policy Implementation in Developing Countries.
California: SAGE Publications, 9-14.
13.Podger, O. 2001: Regions know what to do to develop themselves. Opinion. Jakarta Post, 29/3/01.
Prasetyo, P. 2000: Personal communications, 3 1/3/00.
14.Crook, R. and Manor, J. 1994: Enhancing Participation and Institutional Performance: Democratic
Decentralisation in South Asia and West Africa. London: Overseas Development Administration.
13

14
Kepala Daerah pada pasal 94 ayat (1) maka permohonan keberatan ini diajukan masih dalam
tenggang waktu yang ditentukan oleh ketentuan tersebut;
2. Bahwa memperhatikan ketentuan pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia
No. 02 Tahun 2005 tentang tata cara pengajuan upaya hukum keberatan terhadap Penetapan
Hasil Pilkada dan Pilwakada dari KPUD Propinsi dan KPUD kabupaten / Kota maka dengan
ini Pemohon menguraikan alasan keberatan Pemohon sebagai berikut :
A. Berdasarkan penghitungan suara yang diumumkan oleh Termohon pada tanggal 1 Juli
2008 diperoleh hasil pemungutan suara sebagai berikut : 1. Suara untuk H.
NANANG SAMOEDRA - M. JABIR
1. Suara untuk H. NANANG SAMOEDRA - M. JABIR (Pasangan
Nomor 1) : 37 0 .919

2. Suara untuk TGB. KHM. ZAINUL MAJDI MA - IR. H.BADRUL MUNIR


MM (Pasangan Nomor 2)
: 847.976
3. Suarauntuk HL.SERINATA - H.HUSNI DJIBRIL
( Pasangan Nomor 3) 576.123
: 387.875
4. Suara Untuk H.ZAINI ARONY-NURDIN ( Pasangan Nomor 2)

Total Keseluruhan suara : 2.182.8S3

Sedangkan data dari KPUD jumlah seluruh pemilih di Nusa Tenggara Barat : 3.004.476.
PEROLEHAN SUARA DI NAJAR BARU SERIUS ZANUR JUMLAH
KABUPATEN/KOTA

KABUPATEN BIMA 43.244 77.772 52.793 34.079 207.888


KOTA BIMA 16.729 29.100 8.400 12.447 66.676

KABUPATEN DOMPU 34.660 21 .822 15.419 33.034 104.935

KABUPATEN SUMBAWA 24.133 87.544 60.653 41 .409 213.739


KABUPATEN SUMBAWA 10.737 20.367 15.067 4.720 50.891
BARAT
KABUPATEN LOMBOK 54.490 306.045 170.947 26.229 557.711
TIMUR
KABUPATEN LOMBOK 68.893 145.178 150.660 66.666 431 .397
TENGAH
KOTA MATARAM 53.778 44.017 37.708 23.138 158.641
KABUPATEN LOMBOK
BARAT 64.255 116.131 64.476 146.153 391.015
TOTAL SUARA 370.919 847.976 576.123 387.875 2.182.893
Adalah hasil rekapitulasi penghitungan suara yang salah.

B. Bahwa hasil penghitungan suara oleh Pemohon adalah :


1. Suara untuk H. NANANG SAMOEDRA - M. JABIR.(Pasangan Nomor 1) :
370.919.
2. Suara untuk TGB. KHM. ZAINUL MAJDI MA - IR. H.BADRUL MUNIR MM
( Pasangan Nomor 2) : 678.827.
3. Suara untuk HL. SERINATA - H. HUSNI DJIBRIL (Pasangan Nomor 3):
7 4 4 . 8 6 8.
4. S u a r a U n t u k H . Z A I N I A R O N Y – N U R D I N R ANGGABARANI
( Pasangan nomor 4) : 387.875
Total Keseluruhan suara : 2.182.489.

PEROLEHAN SUARA DI NAJAR BARU SERIUS ZANUR JUMLAH


KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN BIMA 43.244 62.772 67.793 34.079 207.888

KOTA BIMA 16.729 19.100 18.400 12.447 66.676

KABUPATEN DOMPU 34.660 17.419 19.419 33.034 104.532

KABUPATEN SUMBAWA 24.133 69.544 78.653 41 .409 213.739


KABUPATEN SUMBAWA 10.737 17.678 17.756 4.720 50.891
BARAT
KABUPATEN LOMBOK 54.490 222.147 254.845 26.229 557.711
TIMUR
KABUPATEN LOMBOK 68.893 145.178 150.660 66.666 431 .397
TENGAH
KOTA MATARAM 53.778 40.032 41 .693 23.138 158.641
KABUPATEN LOMBOK 64.255 84.957 95.649 146.153 391 .015
BARAT
TOTAL SUARA 370.919 678.827 744.868 387.875 2.182.490
Adalah perhitungan suara yang benar berdasarkan penghitungan pencatatan yang dilakukan
oleh saksi -saksi Pemohon di TPS - TPS masing-masing.

3. Bahwa memperhatikan hasil penghitungan suara yang dilakukan oleh termohon adalah
sangat mirip dengan hasil penghitungan dan / atau laporan Quick Count yang dilakukan dan
diumumkan oleh lembaga survey Indonesia melalui TV ONE hal ini disebabkan karena :
1. Bahwa pada Pasal 83 ayat (11) PP No. 6 Tahun 2005 telah dijelaskan dengan
tegas bahwa KPPS memberikan Salinan Berita Acara dan sertifikat hasil perhitungan
suara sebagaimana dimaksud pada ayat (10) kepada masing-masing saksi pasangan calon
yang hadir sebanyak 1 eksemplar dan menempelkan 1 eksemplar sertifikat hasil
perhitungan suara di tempat umum;
1. Bahwa pada faktanya, banyak saksi dari pasangan calon selain pasangan calon no. Urut 2
tidak mendapatkan sebagaimana dokumen yang dimaksud dalam Pasal 83 ayat (11) PP
No 6 Tahun 2005;
2. B a h wa s e l a i n t i da k m e n d a p a t k a n d o k u m e n t e r s e b u t , KP PS d i kebanyakan TPS-
TPS di NTB juga tidak menempelkan sertifikat hasil perhitungan suara tersebut di masing-masing
TPS dan/atau PPS di masing-masing desa;
3. Bahwa sangat tidak rasional dan tidak beralasan hukum, kalau pihak DPW PKS NTB telah
menyatakan bahwa dokumen tersebut menyebar merata di seluruh NTB, namun pada faktanya tidak
demikian;
4. Bahwa dengan demikian, ada pertanyaan politik besar atas iklan advertorial dari DPW PKS
NTB yakni dari mana dokumen Model C-1 KWK dan Lampiran Model C-1 KWK tersebut diperoleh, kapan
dokumen tersebut didapatkan serta kenapa saksi dari calon lain sulit mendapatkan dokumen tersebut?
Pertanyaan ini muncul karena dokumen tersebut adalah dokumen yang sangat penting untuk melihat data
secara materiil yakni data yang sah dan benar tentang surat suara yang digunakan dan jumlah suara yang
sah dan tidak sah, yang dalam prosesnya patut diduga telah terjadi perbuatan melawan hukum
karena telah terjadi pemanipulasian proses perhitungan suara pada saat itu;
5. Bahwa atas pertanyaan pada angka 5 di atas, ternyata Ketua DPW PKS NTB Ustadz Musieh
Kholil dalam pernyataannya di Media Lokal (Lombok Post pada hal. 10) pada hari Sabtu tanggal
12 Juli 2008 telah membenarkan dan menyatakan " Tabulasi data tersebut bersumber dari salinan
Model C-1 KWK yang dihimpun para saksi PKS langsung dari TPS", sehingga patut diduga apabila
benar DPW PKS NTB telah mendapatkan dokumen Model C-1 KWK dan Lampiran Model C-1 KWK
tersebut sebagaimana yang diungkapkan di iklan advertorial tanggal 11 Juli 2008, maka hal tersebut
telah patut diduga terjadinya perbuatan melawan hukum dan kerjasama politik antara pihak KPPS di seluruh
NTB dengan saksi dari pasangan calon no urut 2. Dengan demikian, tindakan ini telah merugikan hak-
hak politik dari saksi-saksi pasangan lain peserta pilkada tahun 2008, khususnya bagi pasangan SERIUS
(Drs. H. Lalu Serinata dan Husni Jibril, Bsc);
6. Bahwa dampak dari dugaan kerjasama politik ini adalah apakah dokumen yang sudah
diterima oleh DPW PKS NTB dijamin tidak ada manipulasi atau rekayasa ?
7. Bahwa selain pelanggaran tersebut di atas, kami juga menduga telah terjadi pelanggaran
dugaan money politic dari pasangan calon no urut 2, dan mengenai bukti-bukti dan data-data terjadinya
pelanggaran dugaan money politic tersebut akan kami ajukan kemudian di dalam pembuktian berupa Hasil
Penyelidikan Polisi.
4. Bahwa memperhatikan data hasil perolehan suara di masing-masing Kabupaten di mana
secara keseluruhan terdapat kecurangan-kecurangan dan/atau cara-cara yang tidak memenuhi
ketentuan Peraturan-Peraturan Perundang-undangan PILKADA, oleh Pemohon
dikemukakan sebagai berikut :
1. Kabupaten Bima;
• Pemilih yang tidak memberi suara karena tidak diizinkan dengan alasan tidak
terdaftar di dalam daftar pemilih sementara (DPS), tidak terdaftar dalam daftar
pemilih tetap (DPT), tidak terdaftar dalam daftar pemilih tambahan (DPT);
• Sedangkan pemilih yang lain yang hanya mempergunakan KTP saja oleh petugas
KPPS yang diduga orang tersebut memilih Pasangan Calon Nomor 2 maka
kepadanya diberikan kesempatan untuk memilih;
• Adanya kekeliruan kesalahan Rekapitulasi di tingkat panitia pemilih Kecamatan;
• KPUD Kota dan Kabupaten Bima tidak mengindahkan keberatankeberatan yang
dikemukakan oleh saksi Pemohon di Kabupaten Bima.
2. Kota Bima;
• Pemilih yang tidak memberi suara karena tidak diizinkan dengan alasan tidak
terdaftar di dalam daftar pemilih sementara (DPS) tidak terdaftar dalam daftar
pemilih tetap (DPT), tidak terdaftar dalam daftar pemilih tambahan (DPT);
• Sedangkan pemilih yang lain yang hanya mempergunakan KTP saja oleh petugas
KPPS yang diduga orang tersebut memilih Pasangan Calon Nomor 2 maka
kepadanya diberikan kesempatan untuk memilih;
• Adanya kekeliruan kesalahan Rekapitulasi di tingkat panitia pemilih Kecamatan.
• KPUD Kota Bima tidak mengindahkan keberatan-keberatan yang dikemukakan
oleh saksi Pemohon di Kota Bima;
3. Kabupaten Dompu;
4. Kabupaten Sumbawa;
5. Kabupaten Sumbawa Barat;
6. Kabupaten Lombok Timur;
• Bahwa terjadi pencoblosan dengan mempergunakan 2 kartu suara (Ganda) terdapat sekitar
kurang lebih 3000 orang pemilih dengan memberikan suara menjadi 6000 suara;
• Terjadi pemaksaan dan pengancaman terhadap pemilih apabila tidak memilih
Pasangan Nomor 2 tidak diizinkan mengikuti kegiatan kampus, hal ini melanggar
asas dari PILKADA yang bersifat langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER);
• Lebih dari 500 orang tidak diizinkan mencoblos padahal mereka memiliki kartu pemilih
(Menghilangkan hak pilih seseorang) ada lebih dari 500 orang memiliki kartu pemilih
padahal mereka itu tidak terdaftar namanya di Daftar Pemilih Tetap;
7. Kabupaten Lombok Tengah;
• Bahwa lebih dari 1000 orang warga Puyung dibayar untuk memilih dan mencoblos
Pasangan Nomor 2 ini berarti terjadi pembelian suara melanggar asas dari PILKADA
yang bersitat langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER);
8. Kota Mataram;
• Bahwa lebih dari 1000 orang Warga Mataram dibayar untuk memilih dan
mencoblos Pasangan Nomor 2 ini berarti terjadi pembelian suara melanggar asas dari
PILKADA yang bersifat langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER);
9. Lombok Barat;
• Bahwa terjadi pencoblosan dengan mempergunakan 2 kartu suara (Ganda ) terdapat sekitar
kurang lebih 3000 orang pemilih dengan memberikan suara menjadi 6000 suara;
• Terjadi pemaksaan dan pengancaman terhadap pemilih apabila tidak memilih Pasangan
Nomor 2 tidak akan diizinkan mengikuti kegiatan kampus melanggar asas dari
PILKADA yang bersifat langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (LUBER)
• Lebih dari 500 orang tidak diizinkan mencoblos padahal mereka memiliki kartu pemilih
(Menghilangkan hak pilih seseorang) ada lebih dari 500 orang memiliki kartu pemilih
padahal mereka itu tidak terdaftar namanya di : Daftar Pemilih Tetap.
5. Bahwa Memperhatikan seluruh peristiwa tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
penghitungan suara yang dilakukan oleh Termohon adalah Penghitungan yang didasari oleh
ketidakjujuran, tidak mentaati asas pilkada, dengan mempergunakan / membeli suara
(money politic), hal ini sudah barang tentu tidak dapat dibenarkan oleh hukum oleh
karenanya hasil penghitungan suara yang dilakukan pada hari Senin Tanggal 14 Juli 2008
adalah merupakan hasil penghitungan suara yang cacat hukum, maka hasil penghitungan
suara yang telah ditetapkan dan diumumkan berupa Penetapan Pasangan calon terpilih
oleh Termohon dengan surat keputusan Nomor 64 tahun 2008 pada tanggal 14 Juli 2008
berikut lampirannya, patut dinyatakan dibatalkan sedangkan kepada peserta PILKADA
nomor urut 2 pasangan TGB. KHM. Zainul Majdi MA — Ir. H.Badrul Munir MM adalah
tepat dan beralasan hukum dinyatakan diskualifikasi.
6. Bahwa memperhatikan ketentuan Pasal 91 ayat (2) huruf a dan huruf c Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 6 Tahun 2005 Dihubungkan dengan ketentuan Pasal 92 Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 2005, maka seharusnya PPK melangsungkan
penghitungan dan pemungutan suara ulang sebagai mana dimaksud pada pasal 90 dan
pasal 91 akan tetapi hal tersebut tidak dilaksanakan hal itu mengakibatkan batalnya
hasil penghitungan suara dengan demikian penghitungan suara di tingkat Provinsi oleh
Termohon adalah merupakan penghitungan suara yang di dalamnya terdapat cacat karena
didasari adanya pelanggaran pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan
penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan
perundangundangan dan terdapat lebih dari 3000 orang pemilih menggunakan hak pilih lebih
dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda;
7. Bahwa memperhatikan jadwal Rekapitulasi penghitungan suara seharusnya berdasarkan
penetapan Termohon akan dilangsungkan pada tanggal 16 Juli 2008 tetapi kenyataannya
dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2008 tanpa adanya rapat pendahuluan dengan para
peserta PILKADA dengan demikian berarti :
- Dapat diduga bahwa ada suatu keinginan untuk mempercepat proses penghitungan
suara di luar pengetahuan peserta PiLKDA kecuali mereka yang hadir pada saat itu. Ini
berarti dapat menimbulkan pertanyaan besar sebenarnya ada apakah gerangan antara
Termohon dengan Pasangan Calon yang dimenangkan dalam hal ini Pasangan Calon
Nomor 2 sehingga pada saat penghitungan suara dan penetapan Pemenang Pasangan
Calon Nomor 1 dan 3 yakni H. NANANG SAMOEDRA - M. JABIR dan HL
SERINATA — H. HUSNI DJIBRIL tidak menghadiri penghitungan dan penetapan
suara dan penetapan pasangan terpilih (pasangan yang dinyatakan menang) sehingga
dengan demikian Termohon telah melakukan pelanggaran tentang tata cara
penetapan hasil pemilihan yang dilangsungkan oleh terlapor.
Petitum :
1. Mengabulkan keberatan Pemohon seluruhnya;
2. Menyatakan semua alat bukti yang diajukan Pemohon adalah alat bukti yang sah dan berharga;
3. Membatalkan demi hukum hasil Rekapitulasi penghitungan suara pemilihan Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat,sebagaimana dituangkan di dalam BERITA
ACARA RAPAT PLENO Nomor : 270/441/KPU.NTB/VII/2008, tanggal 14 Juli 2008 yang
diterbitkan oleh Termohon (KPUD Propinsi Nusa Tenggara Barat);
4. Menetapkan hasil perhitungan suara yang benar menurut Pemohon sebagaimana posita
keberatan angka 2 huruf b tersebut;
PEROLEHAN SUARA DI NAJAR BARU SERIUS ZANUR JUMLAH
KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN BIMA 43.244 62.772 67.793 34.079 207.888

KOTA BIMA 16.729 19.100 18.400 12.447 66.676

KABUPATEN DOMPU 34.660 17.419 19.419 33.034 104.532

KABUPATEN SUMBAWA 24.133 69.544 78.653 41 .409 213.739


KABUPATEN SUMBAWA 10.737 17.678 17.756 4.720 50.891
BARAT
KABUPATEN LOMBOK TIMUR 54.490 222.147 254.845 26.229 557.711
KABUPATEN LOMBOK 68.893 145.178 150.660 66.666 431 .397
TENGAH
KOTA MATARAM 53.778 40.032 41 .693 23.138 158.641
KABUPATEN LOMBOK BARAT 64.255 84.957 95.649 146.153 391 .015

TOTAL SUARA 370.919 678.827 744.868 387.875 2.182.490

1. Membatalkan demi hukum Penetapan hasil Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur
Nusa Tenggara Barat Nomor 64 tahun 2008, tanggal 14 Juli 2008, berdasar hasil Rekapitulasi
penghitungan suara pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Barat, tanggal 14 Juli 2008 yang diterbitkan oleh Termohon (KPUD Propinsi Nusa
Tenggara Barat);
2. Menyatakan sebagai hukum Pemohon adalah peserta pemilihan Calon Gubernur dan Calon
Wakil Gubernur yang patut ditetapkan sebagai pemenang di dalam pelaksanaan PILKADA
dan PILWAKADA Provinsi Nusa Tenggara Barat;
3. Membebankan kepada Termohon untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam
perkara keberatan ini.
4. Mengabulkan keberatan Pemohon seluruhnya;
5. Menyatakan semua alat bukti yang diajukan Pemohon adalah alat bukti yang sah dan berharga;
1. Membatalkan demi hukum hasil Rekapitulasi penghitungan suara pemilihan Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat,sebagaimana dituangkan di dalam
BERITA ACARA RAPAT PLENO Nomor : 270/441/KPU.NTB/VII/2008, tanggal 14 Juli
2008 yang diterbitkan oleh Termohon (KPUD Propinsi Nusa Tenggara Barat);
6. Menetapkan hasil perhitungan suara yang benar menurut Pemohon sebagaimana
posita keberatan angka 2 huruf b tersebut;
PEROLEHAN SUARA DI NAJAR BARU SERIUS ZANUR JUMLAH
KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN BIMA 43.244 62.772 67.793 34.079 207.888
KOTA BIMA 16.729 19.100 18.400 12.447 66.676

KABUPATEN DOMPU 34.660 17.419 19.419 33.034 104.532

KABUPATEN SUMBAWA 24.133 69.544 78.653 41 .409 213.739


KABUPATEN SUMBAWA 10.737 17.678 17.756 4.720 50.891
BARAT
KABUPATEN LOMBOK TIMUR 54.490 222.147 254.845 26.229 557.711
KABUPATEN LOMBOK 68.893 145.178 150.660 66.666 431 .397
TENGAH
KOTA MATARAM 53.778 40.032 41 .693 23.138 158.641
KABUPATEN LOMBOK 64.255 84.957 95.649 146.153 391 .015
BARAT
TOTAL SUARA 370.919 678.827 744.868 387.875 2.182.490

5. Membatalkan demi hukum Penetapan hasil Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa
Tenggara Barat Nomor 64 tahun 2008, tanggal 14 Juli 2008, berdasar hasil Rekapitulasi
penghitungan suara pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Barat, tanggal 14 Juli 2008 yang diterbitkan oleh Termohon (KPUD Propinsi Nusa
Tenggara Barat);
5. Menyatakan sebagai hukum Pemohon adalah peserta pemilihan Calon Gubernur dan Calon Wakil
Gubernur yang patut ditetapkan sebagai pemenang di dalam pelaksanaan PILKADA dan
PILWAKADA Provinsi Nusa Tenggara Barat;
7. Membebankan kepada Termohon untuk membayar seluruh biaya yang timbul dalam perkara
keberatan ini.

Jawaban Termohon :
I. DALAM EKSEPSI
1. EXCEPTIO TEMPORIS.
Bahwa pemeriksaan permohonan pemohon telah lewat waktu (expiration), karena dalam
ketentuan Pasal 106 ayat (4) Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
Jo. Pasal 94 ayat (4) PP No. 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan
Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, menyatakan : "Mahkamah Agung
memutus sengketa hasil perhitungan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan keberatan oleh
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung";
Bahwa merupakan fakta hukum, terbukti permohonan yang diajukan Pemohon telah
diajukan kepada Mahkamah Agung melalui Pengadilan Tinggi Mataram, dan selanjutnya
diterima oleh Pengadilan Tinggi Mataram pada tanggal 17 Juli 2008. Bahwa dengan demikian,
terbukti Permohonan Pemohon hingga saat permohonan ini disidangkan pada hari ini tanggal
25 Agustus 2008 telah mencapai 39 hari, jauh melebihi jangka waktu 14 (empat belas) hari
sebagaimana secara imperative ditentukan menurut ketentuan pasal tersebut di atas.
2. EKSEPSI KOMPETENSI.
Bahwa materi keberatan Pemohon yang berkaitan dengan alasan tidak mendapatkan Salinan
Berita Acara dan Sertifikat Hasil Penghitungan Suara, tidak menempelkan sertifikat hasil
penghitungan suara di TPSTPS, tentang tidak rasionalnya pernyataan Ketua DPW PKS
NTB, tentang iklan advertorial DPW PKS NTB, tentang dugaan terjadinya perbuatan melawan
hukum dan kerjasama politik, tentang dugaan money politic, tentang tidak diizinkan memilih
dengan alasan tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Daftar Pemilih Tetap
(DPT), tentang kesalahan rekapitulasi dalam tingkat PPK, tentang terjadi pencoblosan dengan
menggunakan kartu suara ganda, tentang terjadinya pemaksaan dan pengancaman terhadap
pemilih apabila tidak memilih pasangan No. 2 tidak diizinkan mengikuti kegiatan kampus,
tentang adanya lebih dari 500 orang tidak diizinkan mencoblos adalah bukan kewenangan
Mahkamah Agung untuk memeriksa, melainkan kewenangan Pengawas Pemilu (Panwaslu)
Pilkada, karena hal itu menyangkut tentang teknis penyelenggara Pilkada dan bukan
menyangkut tentang hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon
sebagaimana ditentukan dalam pasal 106 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah Jo. Pasal 94 PP Nomor 6 Tahun 2005 Tentang Pemilihan, Pengesahan,
Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Jo. Pasal 3 PERMA
RI Nomor 2 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Penetapan
Hasil Pilkada dan Pilwakada dari KPUD Provinsi atau KPUD Kabupaten/Kota;
Bahwa karena eksepsi ini tentang kewenangan kompetensi dan hal-hal lain yang termasuk
ranah eksepsi, dan untuk menghindari terjadinya kekosongan kepemimpinan pemerintahan di
provinsi NTB yang akan berakhir masa jabatan gubernurnya pada tanggal 31 Agustus
2008, Termohon mohon kepada majelis hakim agung yang terhormat untuk mengabulkan
eksepsi ini, sebelum memeriksa pokok perkara.
II. DALAM POKOK PERKARA
1. Bahwa Termohon menolak dengan tegas seluruh dalil-dalil permohonan yang diajukan oleh
Pemohon kecuali yang dengan tegas diakui kebenarannya oleh Termohon, dan apa yang
dikemukakan dalam eksepsi di atas merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan
jawaban ini (Concentratie Van Verweer);
2. Bahwa hasil penghitungan suara oleh Pemohon sebagaimana yang didalilkan pada point 2 huruf
B adalah tidak benar dan sangat mengadaada, lebih-lebih lagi pemohon tidak menyebutkan secara
rinci pada TPS mana dan PPK mana tempat terjadinya kekurangan suara yang diperoleh oleh
pemohon. Data penghitungan pencatatan yang dilakukan oleh saksisaksi pemohon di TPS masing-
masing tersebut adalah tidak sah oleh karena menurut undang-undang hasil penghitungan suara
yang sah adalah yang dikeluarkan oleh penyelenggara pemilu mulai dari tingkat KPPS, PPK,
KPU Kabupaten dan KPU Propinsi;
3. Bahwa hasil penghitungan suara yang sah dan benar adalah yang telah dilakukan oleh
Termohon sebagaimana yang dimaksud dalam permohonan pemohon Point 2 huruf A
yang tertuang dalam Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum
Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat pada hari Senin tanggal 14 Juli 2008
(Model DC - KWK), Catatan Pelaksanaan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan
Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2008 di Tingkat Provinsi
Nusa Tenggara Barat, tanggal 14 Juli 2008 (Model DC1 - KWK), Rekapitulasi Jumlah
Pemilih, TPS, PPS, PPK, KPU Kabupaten/Kota dan Surat Suara Pemilihan Umum Gubernur
dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2008 di Tingkat Provinsi Nusa Tenggara
Barat, tanggal 14 Juli 2008 (Lampiran 1 Model DC 1 - KWK), Rekapitulasi Hasil Penghitungan
Suara Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Tahun 2008 di
Tingkat Provinsi (Lampiran 2 Model DC 1 — KWK) y a n g d i t u a n g k a n d a l a m B e r i t a
A c a r a R a p a t P l e n o N o . 270/441 /KPU . NTB/VI I/2008 tentang Penetapan Pasangan Calon
Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Masa Jabatan 2008-2013 dan diterbitkan Surat
Keputusan KPU Provinsi NTB No. 64 Tahun 2008 tentang Penetapan Pasangan Calon
Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Tahun 2008, tertanggal 14 Juli 2008. (akan kami
ajukan dalam tahap pembuktian);
4. Bahwa hasil penghitungan suara sebagaimana tersebut pada point 3 di atas telah dilakukan oleh
Termohon mulai dari penghitungan suara oleh KPPS di 7.223 TPS yang ada di seluruh wilayah
pemilihan di NTB, rekapitulasi PPK di 116 Kecamatan di NTB dan rekapitulasi KPU
Kabupaten/Kota di 9 Kabupaten/Kota di NTB sebagaimana tertuang dalam Form DB — KWK,
Model DB 1 — KWK beserta Lampiran Model DB 1 — KWK dan Lampiran 2 Model DB 1 —
KWK, serta Model DB 2 — KWK dari masing-masing KPU Kabupaten/Kota (yang akan kami
ajukan dalam tahap pembuktian). Seluruh proses penghitungan suara dan rekapitulasi
penghitungan suara telah dilakukan secara transparan, terbuka, dan disaksikan oleh saksi
masing-masing pasangan calon, Panwas, pemantau dan masyarakat, di mana hasil penghitungan dan
rekapitulasi hasil penghitungan suara pada setiap jenjang tingkatan (KPPS, PPK, KPU
Kabupaten/Kota, dan KPU Provinsi) telah ditandatangani oleh saksi masing-masing
pasangan calon dan diberikan kepada seluruh saksi pasangan calon yang hadir termasuk kepada
saksisaksi dari pemohon. Sehingga tidak benar dalil pemohon yang menyatakan tidak pernah
diberikan salinan sertifikat hasil penghitungan suara. Faktanya jumlah suara riil yang diperoleh
oleh Pemohon hanya sebesar 576.123 suara, sedangkan pasangan calon No. 2 TBG KHM.
Zainul Majdi, MA dan Ir. H. Badrul Munir, MM yang memenangkan pilkada memperoleh
suara sebanyak 847.976 suara. Terdapat selisih 271.853 suara;
5. Bahwa terhadap dalil-dalil permohonan pemohon pada point 3 angka 1, 2, 3, 4, 5 ,6, 7, 8, dalil
pada point 4 angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan dalil pada point 5 serta dalil pada point 6
adalah bukan berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya
pasangan calon sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) PERMA RI No. 2 Tahun
2005. Akan tetapi hanya sekadar pengungkapan dugaan pemohon terhadap adanya peristiwa-
peristiwa pelanggaran dalam penyelenggaraan atau proses Pilkada yang seharusnya
dilaporkan kepada Panwaslu oleh pemohon sesuai Pasal 110 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 6
Tahun 2005, yang mengalami, melihat, dan/atau menyaksikan pelanggaran tersebut terlebih
dahulu dilaporkan ke Panwaslu yang menyaksikan pelanggaran tersebut terlebih dahulu
dilaporkan ke Panwaslu yang berwenang menerima laporan tersebut (Pasal 66 ayat (4) huruf b
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 jo Pasal 108 ayat (1) huruf b Peraturan Pemerintah No. 6
Tahun 2005);
Kemudian oleh Panwaslu dikaji, dan apabila laporan tersebut mengandung unsur tindak
Pidana maka diteruskan ke penyidik, apabila mengandung unsur sengketa maka diselesaikan
sendiri; sedangkan apabila mengandung unsur pelanggaran administrasi maka diserahkan kepada
KPU Propinsi untuk memutuskannya;
6. Bahwa terhadap dalil permohonan pemohon pada point 7 adalah tidak benar, yang benar
adalah:
a. Sesuai dengan Jadwal, Tahapan dan Program Pelaksanaan Pilkada Gubernur dan Wakil
Gubernur NTB, rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara dan penetapan
pasangan terpilih dilakukan antara tanggal 14-16 Juli 2008. dan tidak ada keharusan
termohon mengadakan rapat pendahuluan dengan para peserta pilkada sebelum
melakukan rapat pleno rekapitulasi penghitungan dan penetapan pasangan terpilih;
b. Sebelum rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara dan penetapan pasangan tersebut
dilakukan, termohon telah mengundang saksi seluruh pasangan calon secara tertulis,
termasuk saksi pemohon akan tetapi tidak mau menghadiri undangan tersebut tanpa
alasan yang patut dan jelas.
Menimbang, bahwa atas bukti-bukti surat tersebut telah di sesuai dengan aslinya dan
bermeteraikan secukupnya sehingga sah sebagai alat bukti;
Menimbang, bahwa guna menguatkan dalil-dalil permohonan selain bukti-bukti surat
Pemohon telah mengajukan seorang saksi yang telah di sumpah menurut agamanya yang bernama
Tiswan Suryaningrat yang pada pokoknya menerangkan :
• Bahwa saksi adalah sebagai saksi dari Pasangan Calon No. 3 dalam rekapitulasi
penghitungan suara tingkat KPUD Kota Bima;
• Bahwa saksi sehari-hari sebagai Ketua Partai Golkar Kecamatan Rasanuis Timur Kota Bima;
• Bahwa saksi pada TPS maupun PPS dari Pasangan Calon, nomor urut 3 tidak diberikan
sertifikat rekapitulasi penghitungan suara, sehingga tidak dapat mengoreksi secara tepat akan
hasilnya;
• Bahwa kewajiban dari KPPS setelah penghitungan suara harus memberikan hasil sertifikasi
penghitungan pada para saksi pasangan calon maupun menempelkan pada tempat-tempat umum
namun hal itu tidak dilakukan;
• Bahwa dari keterangan para saksi pasangan calon nomor urut 3 diperoleh fakta adanya
penggelembungan suara, sebagai contoh di Kelurahan Jatiwangi:
Pasangan Nomor Urut 2 menurut hitungan tim saksi sebanyak 1.824 (seribu delapan ratus
dua puluh empat) suara sedangkan KPUD 1.845 (seribu delapan ratus empat puluh lima) suara
sehingga selisih 21 (dua puluh satu) suara, sedangkan di kelurahan Jatibaru hitungan tim saksi
1.716 (seribu tujuh ratus enam belas) suara namun KPUD 2.011 (dua ribu sebelas) suara sehingga
penggelembungan 295 (dua ratus sembilan puluh lima) suara, sedangkan pasangan calon
nomor urut 4 di desa Jatibaru ada penggelembungan 156 (seratus lima puluh enam) suara dan
demikian pula 4 (empat) kecamatan lainnya;
• Bahwa saksi tidak menandatangani berita acara rekapitulasi penghitungan suara dikarenakan hal
tersebut;
• Bahwa terhadap kejadian itu sudah dilaporkan ke DPD Propinsi untuk ditindaklanjutkan, karena
Panwas tingkat Kabupaten sudah tutup;
• Bahwa adanya penggelembungan diketahui, setelah adanya rekapitulasi KPUD Kabupaten;
• Bahwa saat penghitungan rekapitulasi tingkat PPS saksi pasangan no. 3 sudah meminta
sertifikasi tersebut tapi di jawab KPPS copyan habis dan nanti saja, tetapi sampai selesai
Pilkada tidak diberikan;
• Bahwa kejadian itu hampir di seluruh TPS sebagai contoh di Kecamatan Asa Kota, Kelurahan
Jatiwangi pada TPS 1-3, Kelurahan Jatibaru TPS 1-6, Kelurahan tanjung TPS 1-5;
• Bahwa data adanya penggelembungan diperoleh dari keterangan para saksi calon pasangan nomor
urut 3 dari setiap TPS;
• Bahwa saksi dari pasangan calon nomor urut 3 dari TPS-TPS ada yang menandatangani Berita
Acara dan ada juga yang tidak tanda tangan;
• Bahwa adanya keterangan para saksi dari pasangan calon nomor urut 3 dikarenakan kalah dalam
penghitungan rekapitulasi KPUD Kota Bima dan mereka dikumpulkan oleh saksi baru muncul
adanya keterangan penggelembungan suara untuk pasangan calon nomor urut 2;
• Bahwa dari seluruh TPS-TPS pasangan calon nomor urut 2 menempati urutan pertama;
Menimbang, bahwa Termohon selain bukti-bukti tertulis tidak mengajukan saksi dan
menyatakan pemeriksaan Pemohon dianggap telah cukup;
Menimbang, bahwa selanjutnya telah pula diserahkan kesimpulan dari masing-
masing pihak yaitu pada tanggal 29 Agustus 2008;

Pertimbangan Hukum Mahkamah Agung - RI


Menimbang, bahwa atas apa yang dikemukakan oleh Pemohon tersebut majelis akan
mempertimbangkan sebagai berikut :
Bahwa dari dalil-dalil yang dikemukakan oleh Pemohon pada umumnya menyangkut
proses/pentahapan dalam penyelenggaraan Pilkada dan bukan mengenai kekeliruan perhitungan suara
yang secara signifikan dapat mempengaruhi terpilihnya seorang pasangan calon, sedangkan dari
fakta-fakta baik berupa bukti maupun saksi yang diajukan oleh Pemohon semua merujuk pada
proses pelaksanaan Pilkada, sehingga atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi bukanlah
menjadi wewenang Mahkamah Agung akan tetapi menjadi wewenang Panwaslu dan pelanggaran-
pelanggaran itu baru dapat digunakan sebagai alasan untuk mengajukan keberatan dalam hal telah
ada putusan atas pelanggaran-pelanggaran itu dan telah berkekuatan hukum tetap;
Menimbang, bahwa atas dalil Pemohon yang menyatakan adanya kekeliruan dalam
perhitungan tingkat PPK maupun adanya penggelembungan suara untuk memenangkan pasangan
salah satu calon dalam pilkada merupakan bagian yang termasuk lingkup kewenangan Mahkamah
Agung namun atas hal-hal tersebut harus pula didukung oleh bukti-bukti maupun faktafakta yang
terjadi dan perbedaan jumlah suara mana haruslah cukup signifikan dan dapat mempengaruhi
perhitungan suara;
Bahwa dari bukti-bukti yang diajukan Pemohon Keberatan yaitu bukti PK.1
sampai dengan PK.38 maupun saksi yang diajukan tidak ada satu pun bukti yang dapat
dipergunakan sebagai acuan untuk membandingkan adanya kekeliruan penghitungan dalam tingkat
PPK, karena Pemohon sendiri tidak dapat menunjukkan dimana letak kekeliruan dalam perhitungan
suara itu atau pun membuktikan berdasarkan fakta-fakta yang dimiliki sehingga dapat ternyata
perbedaan yang signifikan mengenai jumlah suara yang keliru dalam perhitungan tersebut;
Bahwa apa yang dikemukakan saksi yang diajukan oleh Pemohon hanyalah bersifat
asumsi tanpa didukung oleh bukti-bukti atau fakta-fakta pendukung, karena apa yang diterangkan
oleh saksi tersebut bukanlah mengenai apa yang dilihat, dialami dan didengar sendiri, sedangkan
keterangan saksi dalam persidangan hanyalah berdasarkan pada keterangan orang lain dan
keterangan itu pun ada setelah saksi melihat adanya kekalahan dari calon yang diusungnya/didukung
ketika telah dilakukan rekapitulasi perhitungan suara tingkat KPUD Kota Bima;
Bahwa atas kekalahan itulah kemudian saksi memanggil dan mengumpulkan
tim suksesnya yang kemudian muncul keterangan adanya kekeliruan penghitungan suara maupun
penggelembungan, namun faktanya dari keterangan tim sukses yang dihimpun saksi sendiri juga
menerangkan rata-rata setiap PPK pasangan calon nomor urut 2 yang memenangkan, sehingga asumsi
dan alasan adanya kekeliruan haruslah dikesampingkan;
Menimbang, bahwa tentang adanya penggelembungan suara untuk
memenangkan salah satu calon dari bukti-bukti yang diajukan Pemohon maupun saksi Pemohon
tidak ada satu bukti pun yang menunjukkan adanya penggelembungan suara karena keterangan saksi
adalah asumsi dari keterangan-keterangan tim sukses disebabkan kekalahan dalam perhitungan
akhir tingkat KPUD Kota Bima;
Menimbang, bahwa atas perhitungan sendiri yang dilakukan oleh Pemohon sehingga
menjadi pasangan nomor urut 3 sebagai pemenang dikarenakan adanya penggelembungan suara
untuk pasangan calon nomor urut 2 yang berbeda dengan perhitungan rekapitulasi suara dari
KPUD Propinsi tidaklah dapat dibenarkan karena tidak diikuti dengan data-data yang akurat
tentang adanya data penggelembungan itu, sebab telah ternyata jumlah perhitungan akhir yang
dilakukan oleh KPUD Propinsi mendasarkan pada hitungan yang bersumber dari tingkat TPS
sampai dengan KPUD Kabupaten dan Kota yang semuanya bersertifikasi dan telah dilakukan
secara terbuka dan tidak ada satu pun saksi pasangan calon yang mengajukan keberatan maupun
komplain atas hasil rekapitulasi perhitungan dari tingkat TPS sampai dengan KPUD Kabupaten
Kota tersebut, oleh karenanya perhitungan yang dilakukan oleh KPUD Propinsi telah sesuai
dengan ketentuan undang-undang dan karenanya dianggap telah benar;
Menimbang, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas Mahkamah Agung
berpendapat bahwa Pemohon Keberatan tidak dapat mempertahankan dan membuktikan dalil-
dalil keberatannya, sehingga karenanya keberatan pemohon harus ditolak;
Memperhatikan Pasal-Pasal dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Peraturan Pemerintah
No. 6 Tahun 2005, Peraturan Mahkamah Agung No 02 Tahun 2005, Undang-Undang Nomor: 22
Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor: 17 Tahun 2007 dan Pasal-pasal dari peraturan
perundang-undangan lain yang berhubungan dengan perkara ini ;

Amar Putusan Mahkamah Agung - RI


DALAM EKSEPSI :
• Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya;

DALAM POKOK PERKARA :


• Menolak permohonan yang diajukan oleh Pemohon: Drs. H. LALU SERINATA dan H.
M. HUSNI JIBRIL, B.Sc., tersebut;
• Menghukum Pemohon Keberatan untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp.300.000,- (tiga ratus
ribu rupiah);
D. Analisa Peraturan Perundang-undangan Otnomi Daerah dan Perundang-undangan
Pilkada berdasarkan faktor Internal. dan faktor Eksternal.
Menganalisa dari permasalahan berdasarkan fakta dilapangan, bahwa Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 Cq UU Nomor. 10 Tahun 2008 Cq
UU Nomor. 32 Tahun 2004 belum efektif berjalan dengan baik dan hal ini terlihat banyaknya
kasus pilkada didaerah-daerah yang mengakibatkan timbulnya rasa ketidak puasan dikalangan
masyarakat didalam realisasi dan implentasi Pemilihan kepala daerah. Walaupun dengan
diberlakukannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 1 Tahun 2009
tentang perubahan UU Nomor. 10 Tahun 2008, bukan diperuntukkan menanggulangi
permasalahan dilapangan karena Peraturan Pemerintah tersebut hanya menambahkan beberapa
pasal dan ayat saja dan akibatnya pada proses dilapangan masih terlihat kekurangan didalam
pelaksanaan Pemilihan Umum dan Pilkada tersebut.
Berdasarkan analisa kasaus pada perkara No. 04 K/KPUD/2008, dimana didalam
perkara ini adalah bahwa mengenai kekeliruan perhitungan dan fakta-fakta baik berupa bukti
maupun saksi yang merujuk pada proses pelaksanaan Pilkada, sampai terjadinya pelanggaran-
pelanggaran adalah bukan menjadi wewenang Mahkamah Agung, melainkan menjadi wewenang
Panwaslu, dimana perhitungan tingkat PPK maupun adanya penggelembungan suara untuk
memenangkan pasangan salah satu calon dalam pilkada merupakan bagian yang termasuk lingkup
kewenangan Mahkamah Agung, namun berdasarkan hal-hal tersebut harus pula didukung oleh bukti-
bukti maupun faktafakta yang terjadi dan terhadap perbedaan jumlah suara haruslah cukup signifikan
dan dapat mempengaruhi perhitungan suara dan membuktikan berdasarkan fakta-fakta yang dimiliki
sehingga perbedaan yang signifikan mengenai jumlah suara yang keliru dalam perhitungan
tersebut.
Dengan demikian bahwa Mahkamah Agung hanya mempertimbangkan yang merupakan
kewenangannya saja yaitu mengenai perhitungan suara yang sangat signifikan di dukung oleh alat bukti
dan fakta-fakta, yang mengakibatkan perbedaan suara yang sangat menyolok dengan mengakibatkan
tidak terpilihnya salah satu calon, kewenangan Mahkamah Agung tersebut bukanlah merupakan
kewenangan tekhnis yang dimiliki oleh Panwaslu dan hal ini mengingat keputusan perhitungan suara
sudah final dan mempunyai kekuatan hukum tetap.
Dari analisa terhadap putusan Mahkamah Agung tersebut, terlihat bahwa Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang perubahan Undang-Undang
No. 10 Tahun 2008, belum memperincikan baik secara tekhnis yang merupakan kewenangan
oleh Panwaslu atau kewenangan Mahkamah Agung didalam menangani sengketa Pemilu atau Pilkada.
Peraturan Pemerintah tersebut harus jelas dan tegas pengaturannya terhadap sengketa Pemilu dan
Pilkada agar tidak terjadi tarik menarik penanganan sengketa tersebut, agar dapat dibedaan koridor
kewenangan mana yang harus ditangani oleh Panwaslu dan kewenangan penanganan sengketa yang
mana harus ditangani dan diputus oleh Mahkamah Agung, karena jika Peraturan Pemerintah tersebut
tidak menambahkan pasal-pasal yang mengatur sengketa Pemilu atau Pilkada dengan secara tegas,
maka hampir dapat dipastikan Putusan Mahkamah Agung adalah Menolak, dengan alasan tidak
berwenang untuk mengdili.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan :
1. Pemerintahan daerah/otonomi daerah adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang terdiri dari Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah (dengan sistim
Desentralisasi dan sistim Dekonsentrasi).
2. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 tahun 2009 tentang perubahan
UU No. 10 Tahun 2008, dimana Pemerintahan Daerah berkewajiban harus melaksanakan
Pemilihan Kepala daerah, kewenangan inilah untuk memenuhi hajat serta aspirasi rakyat
didaerah untuk dapat di pilih menjadi Gubernur atau wakil Gubernur, Bupati atau wakil
bupati dan Wali Kota dan Wakil Wali Kota di seluruh wilayah kekuasaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
3. Pilkada adalah untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah sebagai penyalur aspirasi politik rakyat serta anggota Dewan Perwakilan Daerah
sebagai penyalur aspirasi keanekaragaman daerah sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E
ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan diselenggarakan
pemilihan umum adalah pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan yang
merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang
demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
4. Hubungan Hukum Otonomi Daerah dengan Pemilihan Kepala Daerah sangat erat sekali,
karena dilandasai oleh Undang Undang Nomor. 32 Tahun 2004 yang berkaitan erat dengan
Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang Nomor.1 tahun 2009 tentang perubahan atas
UU Nomor 10 Tahun 2008 yaitu tentang Pemilihan Umum anggota DPR,DPD dan Dewan
Perwakilan Rakyat daerah.Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2004 dilihat dari
kewenangannya yaitu dimana Pemerintah Daerah harus mengadakan Pemilihan Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sampai ketingkat kabupaten
diseluruh wilayah hokum Negara Republik Indonesia. Dan disisi lain Peraturan Pemerintah
Pengganti undang-undang Nomer 1 tahun 2009 tentang perubahan atas UU nomor 10 Tahun
2008 yaitu tentang Pemilihan Umum anggota DPR,DPD dan Dewan Perwakilan Rakyat daerah
adalah sebagai realisasi dan implemenatsi dari Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004.
5. Implementasi Otonomi Daerah adalah berupa penyelenggaraan pemerintahan daerah
sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan
masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat,
serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,
keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dengan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu
ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan
dan antar pemerintahan. daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan
persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai
dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan Negara.
6. Realisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dengan dilandasai oleh Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 tahun 2009, dimaka pemerintah daerah wajib
melaksanakan Pemilu/Pilkada yaitu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai penyalur aspirasi politik rakyat serta anggota Dewan
Perwakilan Daerah sebagai penyalur aspirasi keanekaragaman daerah sebagaimana
diamanatkan dalam Pasal 22E ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, yaitu melaksanakan pemilihan umum secara langsung oleh rakyat yang merupakan sarana
perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
7. Promblematika dan Masalah-Masalah yang timbul pada pelaksanaan Pemilu/ Pilkada
adalah yang diakibatnya dari Peraturan Pemerintah yang kurang tegas, baik secara teknis
maupun sistim peraturan yang mengakibatkan timbulnya berbagai kasus Pemilihan Umum dan
Pemilihan Kepala Daerah untuk dibeberapa daerah, seperti contoh kasus No. 04
K/KPUD/2008 tersebut diatas. Berdasarkan fakta dilapangan, bahwa Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 Cq UU Nomor. 10 Tahun 2008 Cq UU Nomor.
32 Tahun 2004 belum efektif berjalan dengan baik, karena masih terlihat kendala-kendala
secara teknis maupun pengaturan sistim perundang-undang tersebut, yang masih terlihat
kelemahan-kelemahannya dan kekurangannya.
8. Khususnya pada perkara No. 04 K/KPUD/2008, dimana didalam perkara terseut adalah
mengenai adanya kekeliruan perhitungan dan fakta-fakta baik berupa bukti maupun saksi yang
merujuk pada proses pelaksanaan Pilkada, sampai terjadinya pelanggaran-pelanggaran
adalah bukan menjadi wewenang Mahkamah Agung, melainkan menjadi wewenang
Panwaslu, dimana perhitungan tingkat PPK maupun adanya penggelembungan suara untuk
memenangkan pasangan salah satu calon dalam pilkada merupakan bagian yang termasuk
lingkup kewenangan Mahkamah Agung, akan tetapi harus pula didukung oleh bukti-bukti
maupun fakta-fakta yang terjadi dan terhadap perbedaan jumlah suara haruslah cukup
signifikan dan dapat mempengaruhi perhitungan suara dan membuktikan berdasarkan fakta-
fakta yang dimiliki sehingga perbedaan yang signifikan mengenai jumlah suara yang keliru
dalam perhitungan tersebut dan bukan terhadap keputusan perhitungan suara sudah final dan
mempunyai kekuatan hukum tetap.
DAFTRA PUSTAKA

Azfar, O., Kahkonen, S., Lanyi, A., Meagher, P., and Rutherford, D. 1999: Decentralization,
Governance and Public Services. The Impact of Institutional Arrangements. A Review of the
Literature. IRIS Centre, University of Maryland, College Park.
Antlov, H. 1999: Civil Society, Good Governance and Participatory Democracy. Paper presented
at the ‘Centre for Regional Autonomy Development workshop’. Cibago, August, 1999.
Alm. J., Aten, R. and Bahl, R. 2001: Can Indonesia Decentralise Successfully? Plans, Problems
and Prospects. Bulletin of Indonesian Economic Studies.
Bourchier, D. 2000: Habibie’ s Interregnum: Reformasi, Elections, Regionalism and the Struggle for
Power. In Manning, C. and van Diermen, P., Editors, Indonesia in Transition. Social
Aspects of Reformasi and Crisis. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Brodjonegoro, B. and Asunama, S. 2000: Regional Autonomy and Fiscal Decentralization in
Democratic Indonesia. Unpublished paper, University of Jakarta.
Blair, H. 2000: Participation and Accountability at the Periphery: Democratic Local Governance in
Six countries. World Development.
Bossuyt, J. and Gould, J. 2000: Decentralisation and Poverty Reduction: Elaborating the
Linkages. Policy Management Brief No. 12. Maastricht: ECDPM. On-line:
http://www.oneworld.org/ecdpm/pmb/b12 gb .htm
Crook, R. and Manor, J. 1994: Enhancing Participation and Institutional Performance:
Democratic Decentralisation in South Asia and West Africa. London: Overseas Development
Administration.
Eaton, K. 2001: Political Obstacles to Decentralization. Evidence from Argentina and the
Philippines. Development and Change.
Forrester, G. 1999: A Jakarta diary, May 1998. In Forrester, G. and May, R., editors, The Fall of
Soeharto. Singapore: Select Books Pte Ltd.
Hutchcroft, P. 2001: Centralization and Decentralization in Administration and Politics: Assessing
Territorial Dimension in Authority and Power. Governance.
HLA. Hart, Th Consept of Law, (londn : Oxford University Pes, 1961).
Indonesia Forum Foundation, Office of Transitional Initiatives, 2000: Executive Report on
Findings of the Study on Establishing Regional Decentralization in
Indonesia/E .R .D .I. National Conference on Regional Autonomy. 15 January - 15 May.
Indonesian Observer, 4/10/00: ‘Regions learning streamlined administration’. Islam, I. 1999:
Regional Decentralisation in Indonesia: Towards a Social Accord. Working paper
99/01. Jakarta: United Nations Support Facilityfor Indonesian Recovery.
Kahin, A. 1994: Regionalism and Decentralisation. In Bourchier, D. and Legg, J., Editors,
Democracy in Indonesia. 1950s and 1990s. Victoria, Australia: Centre of Southeast Asian
Studies, Monash University.
Kirana Jaya, W. and H. Dick, 2001: The Latest Crisis of Regional Autonomy in Historical
Perspective. In Lloyd, G. and Smith, S., Editors, Indonesia Today: Challenges of History.
Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Livingstone, I. and Charlton, R. 2001: Financing Decentralized Development in a Low-Income
Government in Uganda. Development and Change.
Petromindo, 2000: Mining industry anxiously anticipating decentralization era. Pertromindo .com,
27/11/00.
Podger, O. 2001: Regions know what to do to develop themselves. Opinion. Jakarta Post, 29/3/01.
Prasetyo, P. 2000: Personal communications.
Rondinelli, D. 1990: Decentralization, Territorial Power and the State: A Critical Response.
Development and Change.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 1 Tahun 2009 tentang perubahan
Undang-Undang No. 10 Tahun 2008.
Rondinelli, D. and Cheema, G. 1983: Implementing Decentralization policies. In Cheema, G.
and Rondinelli, D., Editors, Decentralization andDevelopment. Policy
Implementation in Developing Countries. California: SAGE Publications.
Republik Indonesia, Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang “Otonomi Daearh.”
Republik Indonesia, Undang Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang “Pemilihan Umum.”
Republik Indonesia Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang “Pemerintahan Daerah.”
[Republic of Indonesia Law Number 22, 1999 regarding ‘Regional Governance’].-sudah
tidak berlaku lagi.
Republik Indonesia, Undang Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang “Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.”
Schwarz, A. 2000: A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. New South Wales: Allen and
Unwin.
Slater, D. 1989: Territorial Power and the Peripheral State: The issue of Decentralisation,
Development and Change.1990: Debating Decentralisation–A Reply to
Rondinelli, Development and Change.
Sadli, M. 2000: Establishing Regional Autonomy in Indonesia. The State of the Debate. Paper
presented at the University of Leiden, Holland, 15- 16 May.
Samoff, J. 1990: Decentralisation: The Politics of Interventionism, Development and
Change.
Suharyo, W. 2000: Voices from the Regions: A Participatory Assessment of the New
Decentralization Laws in Indonesia. Report prepared for the United Nations Support Facility
for Indonesian Recovery, Jakarta.
Turner, S. and Seymour, R., 2002: Ethnic Chinese and the Indonesian Crisis.In R. Starrs,
Editor, Nations under Siege: Globalisation and Nationalism in Asia. New York,
Palgrave, MacMillian Press.