Anda di halaman 1dari 40

By Timur Abimanyu, SH.

MH

EKONOMI SYARI’AH SEJALAN DENGAN


EKONOMI KERAKYATAN

ABSTRAK
Tahun 1930 terjadi keributan atau gonjang ganjing ekonomi, dimana sistim
ekonomi mainstream yang disebut juga sistim ekonomi dominan di dunia pada saat itu sebagai
arus utama di Negara-negara maju khususnya USAmenghancurkan sendi-sendi kehidupan
manusia. Sehingga pada saat itu, great depresion awal tahun 1930 terjadi, presiden AS, Franklin D.
Roosevelt mempertanyakan keberadaan ekonomi alternatif untuk menjawab depresi besar yang
terjadi ketika itu. Depresi ini menyadarkan dunia, ternyata sistim ekonomi mainstream yang telah
diterima saat itu membawa malapetaka bagi kehidupan umat manusia. Melihat fenomena faktual
sistim ekonomi dunia maka muncul tuntutan mencari sistim ekonomi alternatif tersebut, secara
nyata kita dapat memotret wajah buram ilmu ekonomi kapitalis dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Adanya ekonomi alternatif yaitu Sistim ekonomi Islam dalam bidang perbankan Islam yang
sebenarnya sudah lebih dulu eksis dalam kehidupan masyarakat. Tetapi, itu tidak cukup
memberikan legitimasi eksistensi dari sistim perbankan Islam di Indonesia Karena legitimasi
tersebut tidak memberikan ruang gerak yang memadai dalam operasionalnya. Sejarah perbankan
Islam di Dunia, Istilah Perbankan Islam atau Perbankan Syariah merupakan fenomena baru dalam
dunia ekonomi modern, kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang dilakukan oleh para
pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu mengganti dan
memperbaiki sistim ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. Karena itulah sistim
Perbankan Syari’ah menerapkan sistim bebas bunga (interest free) dalam operasionalnya, dan
karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan Perbankan Syari’ah adalah bank yang
beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at Islam, dengan mengacu kepada Al Quran dan As
Sunnah sebagai landasan dasar hukum dan operasional.
Maududi Uzairmerupakan seorang perintis teori perbankan Islam dengan karyanya yang
berjudul A Groundwork for Interest Free Bank. Pemikiran yang sudah muncul pada tahun 50-an
tidak langsung memberikan jalan yang lapang bagi perbankan Islam. Tahun 1960-an, bank
Syari’ah hanya menjadi diskursus teoritis. Belum ada langkah konkrit yang memungkinkan
implementasi praktis gagasan tersebut. Padahal, telah muncul kesadaran bahwa bank Syari’ah
merupakan solusi masalah ekonomi untuk menghasilkan kesejahteraan sosial di negara-negara
Islam. Bank Islam pertama adalah Myt-Ghamr Bank. Didirikan di Mesir, dengan bantuan
permodalan dari Raja Faisal Arab Saudi dan merupakan binaan dari Prof. Dr. Abdul Aziz Ahmad
El Nagar. Myt-Ghamr Bank dianggap berhasil memadukan manajemen perbankan Jerman dengan
prinsip muamalah Islam dengan menerjemahkannya dalam produk-produk bank yang sesuai untuk
daerah pedesaan yang sebagian besar orientasinya adalah industri pertanian . Namun karena
persoalan politik, pada tahun 1967 Bank Islam Myt-Ghamr ditutup .
Kemudian pada tahun 1971 di Mesir berhasil didirikan kembali Bank Islam dengan nama
Nasser Social Bank, hanya tujuannya lebih bersifat sosial daripada komersil. Sedang Bank Islam
pertama yang bersifat swasta adalah Dubai Islamic Bank, yang didirikan tahun 1975 oleh
sekelompok usahawan muslim dari berbagai negara. Pada tahun 1977 berdiri dua bank Islam
dengan nama Faysal Islamic Bank di Mesir dan Sudan. Dan pada tahun itu pula
pemerintah Kuwait mendirikan Kuwait Finance House. Sejak saat itu mendekati awal dekade
1980-an,Bank-bank Islam bermunculan di Mesir,Sudan, Negara-negara Teluk, Pakistan, Iran,
Malaysia, Bangladesh dan Turki. Secara garis besar lembaga-lembaga perbankan Islam yang
bermunculan itu dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni sebagai Bank Islam Komersial
(Islamic Commercial Bank), seperti Faysal Islamic Bank (Mesir dan Sudan), Kuwait Finance
House, Dubai Islamic Bank, Jordan Islamic Bank for Finance and Investment, Bahrain Islamic
Bank dan Islamic International Bank for Finance and Development; atau lembaga investasi dengan
bentuk international holding companies, seperti Daar Al-Maal Al-Islami (Geneva), Islamic
Investment Company of the Gulf, Islamic Investment Company (Bahama), Islamic Investment
Company (Sudan), Bahrain Islamic Investment Bank (Manama) dan Islamic Investment House
(Amman).Sejarah Perbankan Islam di Indonesia, Sebagaimana perkembangan pemikiran
perbankan syariah di dunia khususnya –Negara-negara Islam, Indonesia ikut kena imbas dari
tuntutan pemikiran cendikia-cendikia muslim Indonesia.Indonesia sebagai Negara mayoritas
berpenduduk muslim terbesar didunia muncul pemikiran tentang perlunya menerapkan perbankan
berbasis syariah yang muncul pada 1974. munculnya gagasan pemikiran perbankan berbasis
syari’ah dalam sebuah seminar Hubungan Indonesia-Timur Tengah yang diselenggarakan oleh
Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan (LSIK). Perkembangan pemikiran tentang perlunya
umat Islam Indonesia memiliki perbankan Islam sendiri mulai berhembus sejak itu, seiring
munculnya kesadaran baru kaum intelektual dan cendekiawan muslim dalam memberdayakan
ekonomi masyarakat. Pada awalnya memang sempat terjadi perdebatan yang melelahkan mengenai
hukum bunga Bank dan hukum zakatvs pajak di kalangan para ulama, cendekiawan dan intelektual
muslim.
Adanya perbedaan dikalangan umat Islam tidak menyurutkan munculnya perbankan
syariah di Indonesia, rintisan praktek perbankan Islam di Indonesia dimulai pada awal periode
1980-an, melalui diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam. Tokoh-
tokoh yang terlibat dalam pengkajian tersebut, untuk menyebut beberapa, di antaranya adalah
Karnaen A Perwataatmadja, M Dawam Rahardjo, AM Saefuddin, dan M Amien Azis. Sebagai uji
coba, gagasan perbankan Islam dipraktekkan dalam skala yang relatif terbatas di antaranya
di Bandung (Bait At-Tamwil Salman ITB) dan di Jakarta (Koperasi Ridho Gusti). Sebagai
gambaran, M Dawam Rahardjo dalam tulisannya pernah mengajukan rekomendasi Bank Syariat
Islam sebagai konsep alternatif untuk menghindari larangan riba, sekaligus berusaha menjawab
tantangan bagi kebutuhan pembiayaan guna pengembangan usaha dan ekonomi masyarakat. Jalan
keluarnya secara sepintas disebutkan dengan transaksi pembiayaan berdasarkan tiga modus, yakni
mudlarabah, musyarakah dan murabahah. Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Islam di
Indonesia baru dilakukan tahun 1990. Pada tanggal 18 – 20 Agustus tahun tersebut, Majelis Ulama
Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa
Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV
MUI di Jakarta 22 – 25 Agustus 1990, yang menghasilkan amanat bagi pembentukan kelompok
kerja pendirian bank Islam di Indonesia.
Kelompok kerja dimaksud disebut Tim Perbankan MUI dengan diberi tugas untuk
melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait. Sebagai hasil kerja Tim
Perbankan MUI tersebut adalah berdirinya PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang sesuai akte
pendiriannya, berdiri pada tanggal 1 Nopember 1991. Sejak tanggal 1 Mei 1992, BMI resmi
beroperasi dengan modal awal sebesar Rp 106.126.382.000,-. Sampai bulan September 1999, BMI
telah memiliki lebih dari 45 outlet yang tersebar di seluruh wilayahIndonesia. Prospek Perbankan
Islam di Indonesi, jasa bank sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Jasa
perbankan pada umumnya terbagi atas dua tujuan. Pertama, sebagai penyedia mekanisme dan alat
pembayaran yang efesien bagi nasabah. Untuk ini, bank menyediakan uang tunai, tabungan,
dan kartu kredit. Ini adalah peran bank yang paling penting dalam kehidupan ekonomi. Tanpa
adanya penyediaan alat pembayaran yang efesien ini, maka barang hanya dapat diperdagangkan
dengan cara barteryang memakan waktu. Kedua, dengan menerima tabungan dari nasabah dan
meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana, berarti bank meningkatkan arus dana
untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Bila peran ini berjalan dengan baik,
ekonomi suatu negara akan meningkat. Tanpa adanya arus dana ini, uang hanya berdiam di saku
seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka
tidak memiliki dana pinjaman. Dalam Islam tidak diperbolehkan adanya dana yang mengendap
atau tidak produktif. Sehingga konsep perbankan syariah, yaitu bagaimana dana semua bisa
produktif membangun ekonomi masyarakat Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia,
sebagaimana disampaikan diatas, perbankan syariah di Indonesia berjalan cukup menjanjikan
walau geraknya tidak secepat perbankan konvensional, hal ini akibat dari sistim dan perangkat
hukum yang mendukung perbankan syariah tidak memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi
perbankan syariah untuk berkembang.
Kita bisa melihat sebelum adanya revisi terhadap undang-undanga perbankan atau
munculnya UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan, tidak ada perangkat hukum yang mendukung
sistim operasional bank syariah, kecuali UU No 7 Tahun 1992 dan PP No 72 Tahun 1992. Dalam
UU No 7 Tahun 1992 itu keberadaan perbankan syariah dipahami sebagai bank bagi hasil serta
perbankan syariah harus tunduk kepada peraturan perbankan umum yang biasa kita sebut bank
konvensional.Setelah adanya revisi terhadap paraturan perundang-undangan perbankan yaitu
munculnya UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan terhadap UU No. 7 tahun 1992 tentang
Perbankan, disebutkan bahwa Bank Syariah adalah Bank Umum yang melaksanakan kegiatan
usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. Pelaksanaan prinsip-prinsip di atas lah yang merupakan pembeda utama antara bank
syariah dengan bank konvensional. Dimana Bank Syari’ah / Islam dalam sistim perbankan
Indonesia secara formal telah dikembangkan sejak tahun 1992 sejalan dengan diberlakukannya UU
No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Namun demikian, UU tersebut belum memberi landasan
hukum yang kuat terhadap pengembangan bank Syari’ah karena belum secara tegas mengatur
keberadaan bank berdasarkan prinsip Syari’ah melainkan Bank Bagi Hasil. Pengertian Bank Bagi
Hasil yang dimaksudkan dalam UU Perbankan No. 7 Tahun 1992 belum mencakup secara tetap
pengertian Bank Syariah yang memiliki cakupan lebih luas dari bagi hasil. Demikian pula dengan
ketentuan operasional, hingga tahun 1998 belum terdapat ketentuan operasional yang lengkap yang
secara khusus mengatur kegiatan usaha Bank Syariah. Pada pasal 6 huruf (m) dan pasal (e) tidak
disebutkan Bank Syari’ah (Syariah), akan tetapi hanya Bank Bagi Hasil.
Kemudian peraturan ini ditindaklanjuti dengan PP No. 72 tahun 1992 tentang bank
berdasarkan prinsip bagi hasil.Pemberlakuan UU Perbankan No. 10 tahun 1998 yang mengubah
UU No. 7 tahun 1992 yang diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanan dalam
bentuk SK Direksi BI/Peraturan Bank Indonesia, telah memberi landasan hukum yang lebih kuat
dan kesempatan yang lebih luas lagi bagi pengembangan perbankan Syari’ah di Indonesia.
Perundang-undangan tersebut memberi kesempatan yang luas untuk pengembangan jaringan
perbankan Syari’ah antara lain melalui ijin pembukaan Kantor Cabang Syari’ah (KCS) oleh bank
konvensional. Dengan kata lain, Bank Umum dimungkinkan untuk menjalankan kegiatan
usahanya secara konvensional dan sekaligus dapat melakukannya berdasarkan prinsip
syariah.Dalam UU No 10/1998 ini juga belum bisa maksimal karena dalam UU ini aspek
perbankan syariah dan pendukungnya belum banyak yang dianut secara konsisten. Karena kalau
dilihat dari potensi yang dimiliki perbankan syariah yang sungguh luar biasa, tidak mungkin
perbankan syariah hanya mendapat porsi dibawah 5 % dari perbankan konvensional nasional,
semestinta perbankan syariah bisa mendapatkan porsi 50 % bahkan bisa lebih dari itu, apabila
legitisamsi hukum yang diberikan sesuai dengan konsep syariah yang sebenarnya
secara kaffah dan konsisten. Ada revisi terhadap UU Bank Indonesia yaitu UU No. 23/1999
tentang Bank Indonesia (BI) memberikan support terhadap perkembangan perbankan syariah di
Indonesia dimana dalam UU No. 23/1999 menugaskan BI untuk mempersiapkan perangkat
peraturan atau fasilitas-fasilitas penunjang yang mendukung operasional Bank Syari’ah. Kedua UU
tersebut di atas menjadi dasar hukum penerapanDual Banking System di Indonesia. Dual Banking
System yang dimaksud adalah terselenggaranya dua sistim perbankan (konvensional dan syariah)
secara berdampingan dalam melayani perekonomian nasional yang pelaksanaannya diatur dalam
berbagai peraturan yang berlaku (BankIndonesia, Oktober 2001).Peran Bank Indonesia sebagai
Bank Central Indonesia yang memegang otoritas moneter adalah membantu bank-bank yang
mengalami kesulitan likuiditas.
Menurut pasal. 11 ayat 1 UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia adalah dapat memberi
kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah untuk jangka waktu paling lama sembilan
puluh (90) hari kepada bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek bank tersebut.
Hanya saja kesulitan terjadi ketika UU tersebut juga menentukan bahwa bank konvensional
maupun bank syariah wajib memberikan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan
mudah dicairkan serta nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya.
Sedangkan maksud agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan adalah
meliputi surat berharga atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau badan hukum lain yang
mempunyai otoritas untuk itu. Sedang bagi perbankan syariah untuk dapat menyediakan agunan
berupa surat-surat berharga dan/atau tagihan yang tidak berbunga, belum mungkin karena pasar
uang (financial market) yang berdasarkan prinsip syariah belum berkembang di Indonesia.Dalam
penjelasan UU tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah
perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara lain meliputi : a.
Bank syariah, 2.Lembaga keuangan mikro syari’ah, c. asuransi syari’ah, d. reasurasi syari’ah, e.
reksadana syari’ah, f. obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah, g. sekuritas
syariah, h. Pembiayaan syari’ah, i. Pegadaian syari’ah, j. dana pensiun lembaga keuangan syari’ah
dan k. bisnis syari’ah. Namun, wewenang yang dimiliki oleh pengadilan tersebut, tidak akan
berjalan sesuai harapan konsep syariah tanpa didukung oleh perangkat peraturan yang
komprehensif dari hukum perdata di Indonesia, karena perangkat hukum yang digunakan adalah
kitab Undang-undang hukum perdata (KUHPer) yang notabene belum bersusuaian dengan hukum
perdata Islam.Untuk itu perlu adanya hukum perdata Islam (syariah) yang akan mengatur sengketa
perdata dalam perbankan syariah.
Hal ini dirasa sangat penting untuk menghindari adanya ambiguitas hukum, disatu sisi
konsep syariah diterapkan dalam perbankan syariah, tapi disisi lain penyelesaian perkara terkait
perbankan syariah dilakukan berdasar hukum yang notabene peninggalan belanda.Sejarah dan
Perkembangan Ekonomi Syariah yang telah diuraikan yang berdasarkan sumber data dan issu yang
berkembang, mari kita teliti dan analisa tentang Peneliti Utama Bidang Pengelolaan Risiko Fiskal
Depkeu terhadap Sistim ekonomi syariah dewasa ini semakin populer. Tak hanya di negara negara
Islam, tetapi juga di negara Barat. Ini ditandai dengan makin banyaknya bank-bank menerapkan
konsep syariah. Melihat perkembangan itu, tidak tertutup kemungkinan pada masa mendatang
seluruh aspek perekonomian akan berbasiskan syariah. Ini menunjukkan nilai-nilai Islam dapat
diterima di berbagai kalangan karena sifatnya yang universal dan tidak eksklusif. Nilai-nilai itu,
misalnya keadilan dan perlakuan yang sama dalam meraih kesempatan berusaha. Di Indonesia
konsep ekonomi syariah mulai diterapkan sejak 1991 yang diawali dengan berdirinya Bank
Muamalat Indonesia (BMI). Tantangan ke depan Kondisi perbankan syariah pada tahun
mendatang diperkirakan akan terus membaik. Ini terbukti dengan masih tingginya minat
masyarakat terhadap perbankan syariah. Dalam rangka peningkatan jangkauan melalui kemudahan
untuk membuka kantor pelayanan, diharapkan dapat memberikan pengaruh pada minat
masyarakat. Di sisi lain, secara internasional peluang memanfaatkan investasi asing, khususnya
dari Timur Tengah ke dalam sistim perekonomianIndonesia masih terbuka lebar.Dalam usia relatif
muda, setidaknya ada tiga tantangan besar ekonomi Islam. Pertama, ujian atas kredibiltas sistim
ekonomi dan keuangannya. Kedua, bagaimana ekonomi syariah dapat meningkatkan kesejahteraan
umat dan mengurangi kemiskinan serta pengangguran. Ketiga, perangkat peraturan, hukum, dan
kebijakan, baik dalam skala nasional maupun internasional.
Ahli ekonomi Islam di Indonesia yang terdiri dari akademisi dan praktisi telah
membentuk organisasi Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) yang berdiri dan
dideklarasikan pada 3 dan 4 Maret 2004 di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia dalam
momentum Konvensi Nasional Ahli Ekonomi Islam Indonesia.RUU Perbankan Syariah, dewasa
ini pemerintah tengah berusaha mengembangkan perbankan syariah. Pemerintah mengharapkan
sistim perbankan syariah sebagai bagian dari sistim ekonomi nasional yang dapat merespons
agenda nasional. Mengingat pentingnya pembangunan ekonomi syariah, pemerintah memberikan
dukungan sepenuhnya bagi pengembangan sistim ekonomi syariah dengan melakukan perubahan
Undang-Undang No 7/1992 tentang Perbankan menjadi UU No 10/1998. Undang-undang ini
mengatur pranata hukum bagi keberadaan bank syariah di Indonesia.Berdasarkan UU ini pula,
bank umum konvensional diperbolehkan berusaha dengan prinsip syariah melalui pembukaan Unit
Usaha Syariah. Pada 1999 pemerintah mengeluarkan UU No 23/1999 yang kemudian
diamendemen dengan UU No 3/2004 tentang Bank Indonesia. Undang-undang ini memberikan
kewenangan kepada BI untuk menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip syariah. Dalam
mempercepat pertumbuhan perbankan syariah, keberadaan UU Perbankan Syariah mutlak
diperlukan. Untuk mewujudkannya, pemerintah dengan DPR tengah menyelesaikan RUU tersebut.
Hingga kini pembahasan RUU Perbankan Syariah masih menyisakan beberapa pasal
krusial.Adapun pasal-pasal krusial itu antara lain pasal berkenaan dengan 1) keberadaan Dewan
Pengawas Syariah (DPS), 2) keberadaan Unit Usaha Syariah (UUS), 3) masalah perizinan, 4)
lembaga penyelesaian sengketa, 5) kepemilikan asing, 6) kewenangan penyidikan, dan 7) lembaga
yang berwewenang menetapkan fatwa.Pembahasan RUU ini diharapkan segera selesai. Dengan
ditetapkannya UU Perbankan Syariah ini, nantinya diharapkan dapat menjadi faktor pemacu
pertumbuhan perbankan syariah, baik dalam membuka jaringan bank umum syariah, UUS,
maupun Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.Pertumbuhan perbankan syariah ini selanjutnya
diharapkan dapat membawa multiplier effect dalam perekonomian nasional.
Selama ini perbankan syariah telah teruji kemampuannya dalam menciptakan stabilitas
ekonomi bangsa secara menyeluruh. Secara faktual perbankan syariah telah terbukti
keunggulannya dalam masa krisis. Pada waktu bank konvensional mengalami guncangan akibat
badai krisis pertengahan 1997, perbankan syariah dengan sistim bagi hasil terbukti selamat dari
badai tersebut. Untuk itu, dengan keberadaan UU Perbankan Syariah diharapkan akan semakin
menumbuhkan perekonomian nasional. Akhirnya, keberadaan UU Perbankan Syariah diharapkan
pula dapat membawa dampak pada aliran dana investasi ke Indonesia yang semakin meningkat,
terutama dari negara-negara Timur Tengah. Terhadap kegiatan usaha bank syariah harus tunduk
kepada prinsip syariah yang difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang kemudian
dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI). Dan sementara itu aturan penyelesaian
sengketa perbankan syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan agama. “Ini
tidak mencabut kewenangan penyelesaian sengketa di peradilan umum, karena jika para pihak
telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain di peradilan agama, maka penyelesaian
dilakukan sesuai perjanjian. Tantangan Krisis, meski UU Perbankan Syariah telah eksis, tantangan
bank nonribawi di tengah kepungan bank konvensional masih membentang. Perkembangan sistim
finansial syariah yang pesat boleh jadi sedang mendapat ujian untuk benar-benar bisa
membuktikan sebagai sistim alternatif, atas sistim perbankan kapitalisme yang saat ini terimbas
krisis keuangan global. Secara substansial pun, yang “menyelamatkan” perbankan syariah adalah
perbedaan operasional dengan perbankan konvensional, di mana dalam sistim keuangan Islam
melarang pinjaman dengan beban bunga, yang dipandang sebagai riba, serta sistim syariah ini
melarang spekulasi derivatif. Sebagai gantinya, pembiayaan harus pada sektor riil, serta faktor
risiko dan keuntungan ditanggung bersama antara bank dan nasabah.
Penyaluran pembiayaan oleh perbankan syariah selama tahun 2008 secara konsisten terus
mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 17,6 persen dari triwulan ketiga tahun 2007
atau menjadi 42,9 persen pada triwulan ketiga tahun 2008. Adapun nilai pembiayaan yang
disalurkan oleh perbankan syariah telah mencapai Rp37,7 triliun. Selama tahun 2008 jaringan
pelayanan bank syariah mengalami penambahan sebanyak 130 kantor cabang. Sehingga saat ini
sudah ada 1.440 kantor cabang bank konvensional yang memiliki layanan syariah. Secara
geografis, penyebaran jaringan kantor perbankan syariah saat ini telah menjangkau masyarakat di
lebih dari 89 kabupaten/kota di 33 propinsi. Jumlah BUS (Bank Umum Syariah) bertambah,
sehingga sampai Oktober 2008 menjadi berjumlah lima BUS.
Prospek 2009, perbankan syariah nasional menapaki tahun 2009 diperkirakan tetap dalam
fase pertumbuhan tinggi, yang didasarkan aspek yuridis UU Perbankan Syariah membuat
kepastian hukum dan mendorong peningkatan implementasi kapasitas usaha bisnis syariah. Juga,
UU SBSN menjadi penguat kinerja sistim keuangan Islami itu. Kemudian adanya amandemen UU
Perpajakan memberi kepastian hukum dalam mendorong peningkatan kapasitas bank-bank syariah
melalui penarikan peran investor asing. Di lapangan, bakal terealisasi konversi beberapa UUS
(Unit Usaha Syariah) menjadi BUS (Bank Umum Syariah). Paling tidak pada tahun 2009
ditargetkan ada 9 bank umum syariah baru, yang diperkirakan enam dari bank domestik, yaitu
Bukopin Syariah, BCA Syariah, BNI Syariah, Bank Victoria Syariah dan Bank Panin Syariah dan
Bank NISP Syariah, serta tiga lainnya berasal dari investor Timur Tengah, baik didirikan dengan
cara merger bank lokal atau mandiri. Terjadi realisasi penerbitan Corporate Sukuk oleh bank
syariah untuk memperkuat modal dasar perbankan syariah. “Yang tak kalah penting, meningkatnya
pemahaman masyarakat dan preferensi untuk menggunakan produk dan jasa bank syariah.
Demikian pula perbankan syariah dinilai sebagai bank universal. Bukan bank semata-mata untuk
orang Islam,” kata Deputi Gubernur BI Siti Fadjriah. Tugas BI dalam menyempurnakan sitem
keuangan syariah memang harus terus ditingkatkan seiring berkembang pesatnya transaksi
keuangan syariah. Deputi Gubernur BI Siti Fadjriah sendiri pernah menyatakan Bank Indonesia
(BI) berketetapan merumuskan strategi besar pengembangan pasar syariah, sehingga pangsa lima
persen dibandingkan bank konvensional lebih cepat tercapai dari saat ini sekitar 2,2 persen. Pada
akhirnya dengan rel jelas yang mengacu UU Perbankan Syariah, Petinggi Negara yang
melaksanakan kebijakan Pemerintahan untuk meminta pengelola perbankan syariah nasional dapat
menjadi pemain domestik yang andal dan memiliki kualitas layanan dan kinerja bertaraf
internasional, bukan sesuatu yang mustahil.(Sumber data :Zaenal Abidin). Jika perkembangan
ekonomi syariah didunia Eropa (kaum nasrani) seperti di Inggris, Australia, Jepang sudah
menggunakan sistim ekonomi syariah, Indonesia Kenapa tidak…karena sistim ekonomi syariah
adalah identik dengan ekonomi kerakyatan yang dapat menandingi sistim Neolib dan
Kapitalis….sedangkan yang telah digambar-gemborkan mengenai sistim ekonomi tengah adalah
suatu difinisi yang tidak terdapat dalam maszab maupun sistim ekonomi didunia, sistim ekonomi
tengah adalah suatu difinisi yang tidak mempunyai standart dan asal usulnya…ini adalah difinisi
yang bersifat pembodohan terhadap rakyat dan Bangsa.
Konsisten terhadap system mana kita berpijak, Neolib, Liberal, Kapitalis atau atau
Ekonomi syariah/ekonomi kerakyatan……jika kita berbicara ekonomi kerakyatan atau ekonomi
syariah maka identik dengan UUD 45 dan Pancasila, ……dan untuk mengembangankan Ekonomi
Syariah, yang mana Negara Indonesia sudah tertinggal jauh oleh Negara Eropa yang sudah lama
beralih dan mengembangkan Ekonomi Syariah. Peluang investasi dari Timur Tengah tersebut
pemerintah paling tidak harus menyiapkan lima hal yakni kelengkapan perangkat hukum,
lingkungan bisnis yang mendukung, kebijakan ramah investasi, kebijakan insentif perpajakan, dan
pengembangan sumber daya manusia (SDM).Kepastian hukum dan deregulasi proses perizinan
merupakan salah satu kunci untuk menciptakan suasana bisnis yang kondusif.Berdasarkan
penilaian OECD dan Bank Dunia mengenai efektivitas peraturan dalam mendukung iklim bisnis,
walaupun telah menunjukkan adanya peningkatan dengan diberlakukannya beberapa deregulasi,
Indonesia masih tergolong berkategori buruk yang selevel dengan negara seperti Hongaria dan
Meksiko. Dalam rangka meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi
terutama di sektor keuangan syariah, Bank Indonesia perlu memberlakukan liberalisasi keluar
masuknya dana investasi asing. Dimana Investor asing perlu secara bebas menentukan denominasi
mata uang yang akan mereka investasikan di Indonesia, serta bebas untuk menentukan jumlah dan
jenis mata uang dalam rangka pemulangan kembali dana hasil investasi ke negara asalnya.Fakta
dan Issu yang terjadi baik secara Factor Internal dan Faktor Eksternal, dimana
perkembangan ekonomi Syariah terus menanjak naik seiring dengan krisis globalisasi dunia salah
satu dibidang Sukuk, dimana pengertian sukuk menurut fatwa No. 32/DSNMUI/ IX/2002 yang
dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan
prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan
emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil
margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.
Sedangkan, menurut Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan No. KEP-130/BL/2006 Tahun 2006 Peraturan No. IX.A.13, sukuk adalah efek syariah
berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang
tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas: kepemilikan aset berwujud tertentu, nilai manfaat dan jasa
atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu, dan kepemilikan atas aset proyek tertentu
atau aktivitas investasi tertentu. Dimana pada tahapan penghimpunan dana dan tahapan penyaluran
dana. Pada tahapan pengimpunan dana, hubungan hukum yang terjadi antara shahibul maal yang
menitipkan dananya ke Bank Syariah dan Bank sebagai mudharib yang akan melakukan
pengelolaan dana. Pada tahapan penyaluran dana hubungan hukum yang terjadi antara Bank
Syariah sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib yang akan memanfaatkan dana dari
Bank Syariah dimana terdapat dua hubungan hukum yang terjadi yaitu pada tahapan
penghimpunan dana, hubungan hukum yang terjadi adalah antara deposan (nasabah kreditur) dan
bank. Pada tahapan penyaluran dana maka hubungan hukum yang terjadi adalah bank dan nasabah
debitur.Berdasarkan gambar di atas terdapat kesamaan perikatan yang digunakan dalam hubungan
hukum antara Bank dengan Nasabahnya yaitu dimulai dengan perjanjian atau akad. Terdapat
persamaan dan perbedaan antara perjanjian dan akad. Persamaannya antara lain bahwa di dalam
perjanjian maupun akad mendasarkan pada kesepakatan (consensus) para pihak. Perbedaan antara
Bunga dan Bagi Hasil, Islam mengharamkan bunga dan menghalalkan bagi hasil. Keduanya
memberikan keuntungan, tetapi memiliki perbedaan mendasar sebagai akibat adanya perbedaan
antara investasi dan pembuangan uang. Dalam investasi, usaha yang dilakukan mengandung
resiko, dan karenanya mengandung unsur ketidakpastian. Sebaliknya, pembuangan uang adalah
aktivitas yang tidak memiliki risko, karena adanya persentase suku bunga tertentu yang ditetapkan
berdasarkan besarnya modal. Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan uang di Bank Islam
termasuk kategori investasi. Besar kecilnya perolehan kembalian itu tergantung pada hasil usaha
yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai pengelola dana.
Dengan demikian, Bank Islam tidak dapat hanya sekedar menyalurkan uang. Bank Islam
harus terus-menerus berusaha meningkatkan return on investment sehingga lebih menarik dan
lebih memberikan kepercayaan bagi pemilik dana.Perbedaan antara bunga dan bagi hasil dapat
dijelaskan dalam tabel berikut : adalah pada cara menghitung Bagi Hasil Bank dengan prinsip bagi
hasil di dalam menghimpun dananya baik modal disetor, dana masyarakat maupun pinjaman dari
bank lain maupun pihak lain tidak boleh menyimpang dari prinsip syariah Islam, dengan kata lain
di dalam mengelola dana-dana tersebut harus sesuai dengan ketentuan syariah. Di dalam
operasionalnya antara modal bank dengan dana masyarakat maupun pinjaman pihak lain terjadi
kerjasama dalam pendanaan untuk penyaluran pembiayaan sehingga antara bank dengan kreditur
terjadi akad musyarakah. Semua keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan dana tersebut
dibagihasilkan kepada pemilik dana dengan aturan yang telah disepakati. Metode Bagi Hasil ada
tiga kategori yaitu revenue sharing, profit sharing dan profit loss sharing.Berikut ini akan
dijelaskan perbedaannya masing-masing., 1.Revenue Sharing, yang dibagikan adalah pendapatan
kotor, 2.Profit Sharing, yang dibagikan dan laba/rugi, namun jika terdapat rugi masih ditanggung
bank dan 3.Profit and Loss Sharing, yang dibagikan adalah keuntungan (jika perusahaan/ bank
untung) dan bila mudharib rugi maka shahibul maal ikut menanggung kerugian.Didalam
menentukan bagi hasil maka variabel penentu bagi hasilnya adalah:a.Pendapatan/keuntungan
bank,b.Nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank, c.Rata-rata nominal dana nasabah dan d.Rata-
rata Perhimpunan dana bank. Berikut ini akan dipaparkan contoh perhitungan bagi hasil pada
prinsip wadi’ah mudharabah.
==========
Pendahuluan, Tahun 1930 terjadi keributan atau gonjang ganjing ekonomi, dimana sistim
ekonomi mainstream yang disebut juga sistim ekonomi dominan di dunia pada saat itu sebagai
arus utama di Negara-negara maju khususnya USA menghancurkan sendi-sendi kehidupan
manusia. Sehingga pada saat itu, great depresion awal tahun 1930 terjadi, presiden AS, Franklin D.
Roosevelt mempertanyakan keberadaan ekonomi alternatif untuk menjawab depresi besar yang
terjadi ketika itu. Depresi ini menyadarkan dunia, ternyata sistim ekonomi mainstream yang telah
diterima saat itu membawa malapetaka bagi kehidupan umat manusia.
Melihat fenomena faktual sistim ekonomi dunia maka muncul tuntutan mencari sistim ekonomi
alternatif tersebut, secara nyata kita dapat memotret wajah buram ilmu ekonomi kapitalis dalam
mencapai tujuan-tujuannya. Salah satu topik paling penting menjadi diskursus pada saat itu adalah
topik “ekonomi alternatif.” Karena, masalah ekonomi yang sebenarnya adalah terletak kepada
bagaimana kekayaan diperoleh, dan tidak terletak kekayaan itu ada atau tidak. Karena akar
permasalahannya adalah terletak kepada konsep bagaimana perolehan atau kepemilikan (property),
termasuk tentang absurditas transaksi dalam masalah kepemilikan (property), dan distribusi
kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar inilah sistim ekonomi Islam merupakan hukum-
hukum yang mengatur tiga hal pokok yaitu kepemilikan, pengelolaan, dan distribusi kekayaan.
Tiga hal ini adalah yang nantinya menjadi asas dari sistim ekonomi Islam itu sendiri. Tiga hal
inilah yang dilupakan dalam sistim ekonomimainstream yang dominan, sehingga kegagalan-
kegagalan akan terus datang silih berganti.
Indonesia sebagai Negara yang menganut sistim ekonomi barat atau kapitalis, maka juga ikut
tersangkut dan terkena imbas dari carut marutnya persoalan ekonomi dunia. Maka krisis demi
krisis ekonomi yang terus berulang, seperti di tahun 1930, 1970, 1980, 1999 sampai 2007 ini –
telah secara nyata membuktikan bahwa sistim ekonomi kapitalis maupun sosialis yang
mendasarkan diri pada filsafat materialisme – sekularisme telah gagal menjawab dan menyajikan
solusi atas persoalan ekonomi dan kemanusiaan.
Setelah melalui perjalan panjang, akhirnya Indonesia mengakui adanya tuntutan adanya ekonomi
alternatif yaitu Sistim ekonomi Islam dalam bidang perbankan Islam yang sebenarnya sudah lebih
dulu eksis dalam kehidupan masyarakat. Tetapi, itu tidak cukup memberikan legitimasi eksistensi
dari sistim perbankan Islam di Indonesia Karena legitimasi tersebut tidak memberikan ruang gerak
yang memadai dalam operasionalnya.
Untuk membandingkan perkembangan perbankan syariah, kita bisa lihat perkembangan sistim
hukum perbankan Islam di Negara-negara tetangga kita semisal Malaysia, Sehingga, gerak dari
sistim perbankan Islam di Malaysia sungguh luar biasa dan mampu memberikan kontribusi yang
signifikan dalam sistim perekenomian nasional Malaysia. Pertanyaan yang muncul, kenapa
di Indonesiasebagai Negara dengan mayoritas beragama Islam terbanyak di dunia hal itu tidak bisa
berjalan sesuai keinginan kita, adakah yang salah dari kita ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita lakukan pembahasan dan analisa beberapa aspek
dan persoalan yang dihadapi perbankan Islam di Indonesia sebagai berikut : 1. Sejarah
perkembangan Sistim perbankan Islam di dunia dan Indonesia, 2. Prospek perbankan syariah
di Indonesia, dan 3. Aspek hukum dan peraturan pendukung Perbankan Syariah di Indonesia
dengan mencoba membandingkan aspek hukum perbankan Islam di Malaysia.
Sejarah perbankan Islam di Dunia, Istilah Perbankan Islam atau Perbankan Syariah merupakan
fenomena baru dalam dunia ekonomi modern, kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang
dilakukan oleh para pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu
mengganti dan memperbaiki sistim ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. Karena
itulah sistim Perbankan Syari’ah menerapkan sistim bebas bunga (interest free)dalam
operasionalnya, dan karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan Perbankan
Syari’ah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at Islam, dengan
mengacu kepada Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan dasar hukum dan operasional.
Konsep teoritis mengenai Perbankan Islam muncul pertama kali, menurut dalam bukunya Sultan
Remy Sjahadeini bahwa pemikiran dari para penulis yang mula-mula menyampaikan gagasan
mengenai perbankan Syari’ah adalah Anwar Iqbal Qureshi, Naiem Siddiqi, dan Mahmmud
Ahmad. Kemudian uraian yang lebih rinci tentang gagasan ini ditulis oleh Al Maududi (1950).
Maududi Uzairmerupakan seorang perintis teori perbankan Islam dengan karyanya yang
berjudul A Groundwork for Interest Free Bank. Pemikiran yang sudah muncul pada tahun 50-an
tidak langsung memberikan jalan yang lapang bagi perbankan Islam. Tahun 1960-an, bank
Syari’ah hanya menjadi diskursus teoritis. Belum ada langkah konkrit yang memungkinkan
implementasi praktis gagasan tersebut. Padahal, telah muncul kesadaran bahwa bank Syari’ah
merupakan solusi masalah ekonomi untuk menghasilkan kesejahteraan sosial di negara-negara
Islam.
Hingga pada tahun 1963 dari sudut kelembagaan yang merupakan Bank Islam pertama adalah
Myt-Ghamr Bank. Didirikan di Mesir, dengan bantuan permodalan dari Raja Faisal Arab Saudi
dan merupakan binaan dari Prof. Dr. Abdul Aziz Ahmad El Nagar. Myt-Ghamr Bank dianggap
berhasil memadukan manajemen perbankan Jerman dengan prinsip muamalah Islam dengan
menerjemahkannya dalam produk-produk bank yang sesuai untuk daerah pedesaan yang sebagian
besar orientasinya adalah industri pertanian . Namun karena persoalan politik, pada tahun 1967
Bank Islam Myt-Ghamr ditutup . Kemudian pada tahun 1971 di Mesir berhasil didirikan kembali
Bank Islam dengan nama Nasser Social Bank, hanya tujuannya lebih bersifat sosial daripada
komersil. Sedang Bank Islam pertama yang bersifat swasta adalah Dubai Islamic Bank, yang
didirikan tahun 1975 oleh sekelompok usahawan muslim dari berbagai negara. Pada tahun 1977
berdiri dua bank Islam dengan nama Faysal Islamic Bank di Mesir dan Sudan. Dan pada tahun itu
pula pemerintah Kuwait mendirikan Kuwait Finance House .
Secara internasional, perkembangan perbankan Islam pertama kali diprakarsai oleh Mesir. Karena
mesir telah mengilhami diadakannya konferensi ekonomi Islam pertama di Makkah pada tahun
1975. Sebagai tindak lanjut rekomendasi dari konferensi tersebut, dua tahun kemudian, lahirlah
Islamic Development Bank (IDB) yang kemudian diikuti oleh pendirian lembaga-lembaga
keuangan Islam di berbagai negara, termasuk negara-negara bukan anggota OKI, seperti Philipina,
Inggris, Australia, Amerika Serikat dan Rusia.
Sejak saat itu mendekati awal dekade 1980-an, Bank-bank Islam bermunculan di Mesir, Sudan,
negara-negara Teluk, Pakistan, Iran,Malaysia, Bangladesh dan Turki. Secara garis besar lembaga-
lembaga perbankan Islam yang bermunculan itu dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni
sebagai Bank Islam Komersial (Islamic Commercial Bank), seperti Faysal Islamic Bank (Mesir
dan Sudan), Kuwait Finance House, Dubai Islamic Bank, Jordan Islamic Bank for Finance and
Investment, Bahrain Islamic Bank dan Islamic International Bank for Finance and Development;
atau lembaga investasi dengan bentuk international holding companies, seperti Daar Al-Maal Al-
Islami (Geneva), Islamic Investment Company of the Gulf, Islamic Investment Company
(Bahama), Islamic Investment Company (Sudan), Bahrain Islamic Investment Bank (Manama) dan
Islamic Investment House (Amman).
Pada perjalanannya sistim perbankan berbasis Syariah, semakin hari semakin populer bukan hanya
di negara-negara Islam tetapi juga negara-negara barat, yang ditandai dengan makin suburnya
bank-bank yang menerapkan konsep syariah. Perkembangan perbankan syariah atau perbankan
dengan konsep bagi hasil menandakan konsep syariah dalam pengelolaan kekayaan/ uang diterima
kebiasaan umat manusia secara universal, karena jelas-jelas konsepriba atau bunga dalam Islam
sangat dilarang dan bertentangan dengan konsep kemanusiaan.
Sejarah Perbankan Islam di Indonesia, Sebagaimana perkembangan pemikiran perbankan syariah
di dunia khususnya –Negara-negara Islam, Indonesia ikut kena imbas dari tuntutan pemikiran
cendikia-cendikia muslim Indonesia.Indonesia sebagai Negara mayoritas berpenduduk muslim
terbesar didunia muncul pemikiran tentang perlunya menerapkan perbankan berbasis syariah yang
muncul pada 1974. munculnya gagasan pemikiran perbankan berbasis syari’ah dalam sebuah
seminar Hubungan Indonesia-Timur Tengah yang diselenggarakan oleh Lembaga Studi Ilmu-Ilmu
Kemasyarakatan(LSIK).Perkembangan pemikiran tentang perlunya umat Islam Indonesia memiliki
perbankan Islam sendiri mulai berhembus sejak itu, seiring munculnya kesadaran baru kaum
intelektual dan cendekiawan muslim dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. Pada awalnya
memang sempat terjadi perdebatan yang melelahkan mengenai hukum bunga Bank dan hukum
zakat vs pajak di kalangan para ulama, cendekiawan dan intelektual muslim.
Perbedaan dan perdebatan dikalangan para cendikiawan atau ulama’ sangat luar biasa, perbedaan
pandangan di kalangan ulama Indonesiamengenai bunga yang secara garis besar terbagi pada tiga
kelompok yaitu; kelompok yang menghalalkan, kelompok yang mengatakansyubhat dan kelompok
yang mengharamkan. Hal ini sangat menentukan respon masyarakat terhadap bank Syariah. Umar
Syihab, salah seorang ulama NU (Nahdatul Ulama) sebagai representasi ulama berpendapat bahwa
bunga bank adalah halal, didasarkan pendapatnya pada beberapa alasan. Pertama, jumlah bunga
uang yang dipungut dan diberikan oleh bank kepada nasabah jauh lebih kecil dibandingkan dengan
riba yang diberlakukan di jaman jahiliyah. Kedua, pemungut bunga bank tidak membuat bank itu
sendiri dan nasabahnya memperoleh keuntungan besar atau sebaliknya tidak akan merasa
dirugikan dengan pemberian bunga.Ketiga, tujuan pengambilan kredit dari debitor pada jaman
jahiliyah adalah untuk konsumsi, sementara pada saat ini bertujuan produktif.Keempat, adanya
kerelaan antara kedua belah pihak yang bertransaksi sebagaimana halnya kebolehan dalam jual-
beli dengan asas kerelaan.
Adapun pendapat Majelas Tarjih Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar kedua di Indonesia
memutuskan bahwa bunga bank yang diberikan oleh bank milik negara kepada nasabahnya, atau
sebaliknya selama berlaku termasuk ke dalam perkara syubhat. Akan tetapi dari faktor tersebut,
hanya menyinggung bunga bank yang diberikan oleh bank negara, dengan menyatakan bahwa
bunga yang diberikan oleh negara diperbolehkan, karena bunga yang diberikan masih tergolong
rendah, jika dibandingkan dengan bunga pada bank swasta.
Organisasi Nahdatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, di samping
Muhammadiyah, memutuskan masalah bunga bank tersebut dengan beberapa kali sidang, dengan
terjadinya polarisasi pendapat pada tiga kelompok yaitu, haram, halal, danSyubhat. Namun,
meskipun terdapat perbedaan pandangan, Lajnah Bahsul Masa’il memutuskan bahwa yang lebih
berhati-hati adalah pendapat pertama, yakni bunga bank haram.
Adanya perbedaan dikalangan umat Islam tidak menyurutkan munculnya perbankan syariah
di Indonesia, rintisan praktek perbankan Islam di Indonesia dimulai pada awal periode 1980-an,
melalui diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam. Tokoh-tokoh yang
terlibat dalam pengkajian tersebut, untuk menyebut beberapa, di antaranya adalah Karnaen A
Perwataatmadja, M Dawam Rahardjo, AM Saefuddin, dan M Amien Azis. Sebagai uji coba,
gagasan perbankan Islam dipraktekkan dalam skala yang relatif terbatas di antaranya
diBandung (Bait At-Tamwil Salman ITB) dan di Jakarta (KoperasiRidho Gusti). Sebagai
gambaran, M Dawam Rahardjo dalam tulisannya pernah mengajukan rekomendasi Bank Syariat
Islam sebagai konsep alternatif untuk menghindari larangan riba, sekaligus berusaha menjawab
tantangan bagi kebutuhan pembiayaan guna pengembangan usaha dan ekonomi masyarakat. Jalan
keluarnya secara sepintas disebutkan dengan transaksi pembiayaan berdasarkan tiga modus, yakni
mudlarabah, musyarakah dan murabahah. Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Islam di
Indonesia baru dilakukan tahun 1990. Pada tanggal 18 – 20 Agustus tahun tersebut, Majelis Ulama
Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa
Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV
MUI di Jakarta 22 – 25 Agustus 1990, yang menghasilkan amanat bagi pembentukan kelompok
kerja pendirian bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja dimaksud disebut Tim Perbankan MUI
dengan diberi tugas untuk melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait.
Sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut adalah berdirinya PT Bank
Muamalat Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendiriannya, berdiri pada tanggal 1 Nopember 1991.
Sejak tanggal 1 Mei 1992, BMI resmi beroperasi dengan modal awal sebesar Rp
106.126.382.000,-. Sampai bulan September 1999, BMI telah memiliki lebih dari 45 outlet yang
tersebar di seluruh wilayahIndonesia.
Setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang diikuti oleh berdirinya BPRS-BPRS
lainnya dan terbuktinya perbankan syariah tidak terkena imbas dari krisis moneter pada tahun 1998
maka akhirnya diikuti oleh berdirinya perbankan-perbankan umum membangun perbankan
berbasis syariah.
Prospek Perbankan Islam di Indonesi, jasa bank sangat penting dalam
pembangunan ekonomi suatu negara. Jasa perbankan pada umumnya terbagi atas dua
tujuan. Pertama, sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efesien bagi nasabah.
Untuk ini, bank menyediakan uang tunai, tabungan, dan kartu kredit. Ini adalah peran bank yang
paling penting dalam kehidupan ekonomi. Tanpa adanya penyediaan alat pembayaran yang efesien
ini, maka barang hanya dapat diperdagangkan dengan cara barter yang memakan waktu. Kedua,
dengan menerima tabungan dari nasabahdan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan
dana, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif.
Bila peran ini berjalan dengan baik, ekonomi suatu negara akan meningkat. Tanpa adanya arus
dana ini, uang hanya berdiam di saku seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan
bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman. Dalam Islam tidak
diperbolehkan adanya dana yang mengendap atau tidak produktif.Sehingga konsep perbankan
syariah, yaitu bagaimana dana semua bisa produktif membangun ekonomi masyarakat.
Sementara itu, LPPS terakhir perbankan Syariah tahun 2006 Bank Indonesia Selama tahun 2006
jumlah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah mengalami
peningkatan, yaitu masing-masing sebanyak 1 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 13 BPRS. Secara
industri pada akhir 2005 terdapat 3 Bank Umum Syariah (BUS), 20 UUS dan 105 BPRS. Sejalan
peningkatan tersebut, jaringan kantor bank syariah (termasuk kantor kas, kantor cabang pembantu
dan Unit Pelayanan Syariah) juga mengalami peningkatan sebanyak 40 kantor sehingga menjadi
636 kantor pada akhir tahun 2006. Kinerja Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Selama
tahun 2006 industri perbankan syariah mengalami peningkatan volume usaha sebesar Rp5,8 triliun
sehingga pada akhir periode laporan mencapai Rp26,7 triliun. Peningkatan tersebut memperbesar
pangsa aset perbankan syariah terhadap total asset perbankan nasional dari 1,4% pada akhir tahun
2005 menjadi 1,6% pada akhir 2006.(Bank Indonesia.2006.LPPS Perbankan Syariah)
Pada sisi aset, menurut Deputi Bank Indonesia Siti Fadjrijah, perbankan syariah mengalami
kenaikan menjadi Rp 29,2 triliun (1,69 persen dari total aset industri perbankan) jika dibandingkan
akhir 2006 yang berjumlah Rp 26,7 triliun (1,55 persen dari total aset industri perbankan). Untuk
dana pihak ketiga (DPK), posisi Juni 2007 adalah sebesar Rp 22,71 triliun, meningkat
dibandingkan akhir 2006 yang sebesar Rp 20,67 triliun. Pembiayaan atau kredit per Juni 2006
adalah sebesar Rp 22,97 triliun, naik dibandingkan akhir 2006 yang sebesar Rp 20,44 triliun.
Sedangkan untuk FDR (Financing to Deposit Ratio/LDR) per Juni 2007 adalah 101,1 persen, naik
dari posisi akhir 2006 yang sebesar 98,9 persen. BI menargetkan pada 2007 ini total aset
perbankan syariah tumbuh menjadi 2,8 persen dari total aset industri perbankan. Serta pada tahun
2008 mencapai 5 persen dan akan tumbuh pada 2015 menjadi 15 persen.
Ini menandakan perkembangan perbankan syariah di Indonesiaadalah sesuatu yang tidak bisa
dipandang sebelah mata. Perlu adanya perhatian dari semua pihak, bahwa prospek perbankan
syariah akan mampu memberikan nilai (value) yang besar kepada perekonomian nasional.
Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, sebagaimana disampaikan diatas, perbankan
syariah di Indonesia berjalan cukup menjanjikan walau geraknya tidak secepat perbankan
konvensional, hal ini akibat dari sistim dan perangkat hukum yang mendukung perbankan syariah
tidak memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi perbankan syariah untuk berkembang. Kita bisa
melihat sebelum adanya revisi terhadap undang-undanga perbankan atau munculnya UU No 10
tahun 1998 tentang perbankan, tidak ada perangkat hukum yang mendukung sistim operasional
bank syariah, kecuali UU No 7 Tahun 1992 dan PP No 72 Tahun 1992. Dalam UU No 7 Tahun
1992 itu keberadaan perbankan syariah dipahami sebagai bank bagi hasil serta perbankan syariah
harus tunduk kepada peraturan perbankan umum yang biasa kita sebut bank konvensional.
Setelah adanya revisi terhadap paraturan perundang-undangan perbankan yaitu munculnya UU No.
10 tahun 1998 tentang Perubahan terhadap UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan
bahwa Bank Syariah adalah Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dalam
menjalankan aktivitasnya, Bank Syariah menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:
Prinsip Keadilan, prinsip ini tercermin dari penerapan imbalan atas dasar bagi hasil dan
pengambilan margin keuntungan yang disepakati bersama antara Bank dengan Nasabah.
Prinsip Kesederajatan, Bank Syariah menempatkan nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna
dana, maupun Bank pada kedudukan yang sama dan sederajat. Hal ini tercermin dalam hak,
kewajiban, risiko, dan keuntungan yang berimbang antara nasabah penyimpan dana, nasabah
pengguna dana, maupun Bank.
Prinsip Ketentraman, Produk-produk Bank Syariah telah sesuai dengan prinsip dan kaidah
Muamalah Islam, antara lain tidak adanya unsur riba serta penerapan zakat harta. Dengan
demikian, nasabah akan merasakan ketentraman lahir maupun batin.
Pelaksanaan prinsip-prinsip di atas lah yang merupakan pembeda utama antara bank syariah
dengan bank konvensional. Dimana Bank Syari’ah / Islam dalam sistim perbankan Indonesia
secara formal telah dikembangkan sejak tahun 1992 sejalan dengan diberlakukannya UU No. 7
tahun 1992 tentang Perbankan. Namun demikian, UU tersebut belum memberi landasan hukum
yang kuat terhadap pengembangan bank Syari’ah karena belum secara tegas mengatur keberadaan
bank berdasarkan prinsip Syari’ah melainkan Bank Bagi Hasil. Pengertian Bank Bagi Hasil yang
dimaksudkan dalam UU Perbankan No. 7 Tahun 1992 belum mencakup secara tetap pengertian
Bank Syariah yang memiliki cakupan lebih luas dari bagi hasil. Demikian pula dengan ketentuan
operasional, hingga tahun 1998 belum terdapat ketentuan operasional yang lengkap yang secara
khusus mengatur kegiatan usaha Bank Syariah. Pada pasal 6 huruf (m) dan pasal (e) tidak
disebutkan Bank Syari’ah (Syariah), akan tetapi hanya Bank Bagi Hasil. Kemudian peraturan ini
ditindaklanjuti dengan PP No. 72 tahun 1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil.
Pemberlakuan UU Perbankan No. 10 tahun 1998 yang mengubah UU No. 7 tahun 1992 yang
diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanan dalam bentuk SK Direksi
BI/Peraturan Bank Indonesia, telah memberi landasan hukum yang lebih kuat dan kesempatan
yang lebih luas lagi bagi pengembangan perbankan Syari’ah di Indonesia. Perundang-undangan
tersebut memberi kesempatan yang luas untuk pengembangan jaringan perbankan Syari’ah antara
lain melalui ijin pembukaan Kantor Cabang Syari’ah (KCS) oleh bank konvensional. Dengan kata
lain, Bank Umum dimungkinkan untuk menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan
sekaligus dapat melakukannya berdasarkan prinsip syariah.
UU No.10 tahun 1998 di atas menjadi dasar hukum penerapanDual Banking System di Indonesia,
efek dari hal tersebut adalah perbankan syariah tidak berdiri sendiri(mandiri), sehingga dalam
operasionalisasinya masih menginduk kepada bank konvensional. Bila demikian adanya perbankan
syariah hanya menjadi salah satu bagian dari program pengembangan bank konvensional. Untuk
mencapai tujuan yang diinginkan oleh perbankan syariah maka dibutuhkan kemandirian perbankan
syariah dengan pengaturan secara sendiri perbankan syariah.
Dalam UU No 10/1998 ini juga belum bisa maksimal karena dalam UU ini aspek perbankan
syariah dan pendukungnya belum banyak yang dianut secara konsisten. Karena kalau dilihat dari
potensi yang dimiliki perbankan syariah yang sungguh luar biasa, tidak mungkin perbankan
syariah hanya mendapat porsi dibawah 5 % dari perbankan konvensional nasional, semestinta
perbankan syariah bisa mendapatkan porsi 50 % bahkan bisa lebih dari itu, apabila legitisamsi
hukum yang diberikan sesuai dengan konsep syariah yang sebenarnya secara kaffah dan konsisten.
Dari apa yang telah disampaikan Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN), KH Ma’ruf Amin.
Menurut KH. Ma’ruf Amin, UU nomor 10/1998 belum terlaksana secara maksimal. Masih banyak
yang harus diperbaiki dari UU tersebut, perbankan syariah dan perbankan konvensional memiliki
karakter yang berbeda. Karena itu, perlu ada peraturan atau UU tersendiri dari perbankan syariah
untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah. Karena Idealnya market
share (pangsa pasar) bank syariah dan bank konvensional itu fifty-fifty.
Ada revisi terhadap UU Bank Indonesia yaitu UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia (BI)
memberikan support terhadap perkembangan perbankan syariah di Indonesia dimana dalam UU
No. 23/1999 menugaskan BI untuk mempersiapkan perangkat peraturan atau fasilitas-fasilitas
penunjang yang mendukung operasional Bank Syari’ah. Kedua UU tersebut di atas menjadi dasar
hukum penerapan Dual Banking System di Indonesia. Dual Banking System yang dimaksud adalah
terselenggaranya dua sistim perbankan (konvensional dan syariah) secara berdampingan dalam
melayani perekonomian nasional yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan yang
berlaku (Bank Indonesia, Oktober 2001).
Peran Bank Indonesia sebagai Bank Central Indonesia yang memegang otoritas moneter adalah
membantu bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Menurut pasal. 11 ayat 1 UU No.
23/1999 tentang Bank Indonesia adalah dapat memberi kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip
Syariah untuk jangka waktu paling lama sembilan puluh (90) hari kepada bank untuk mengatasi
kesulitan pendanaan jangka pendek bank tersebut. Hanya saja kesulitan terjadi ketika UU tersebut
juga menentukan bahwa bank konvensional maupun bank syariah wajib memberikan jaminan
berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan serta nilainya minimal sebesar jumlah
kredit atau pembiayaan yang diterimanya. Sedangkan maksud agunan yang berkualitas tinggi dan
mudah dicairkan adalah meliputi surat berharga atau tagihan yang diterbitkan oleh pemerintah atau
badan hukum lain yang mempunyai otoritas untuk itu. Sedang bagi perbankan syariah untuk dapat
menyediakan agunan berupa surat-surat berharga dan/atau tagihan yang tidak berbunga, belum
mungkin karena pasar uang (financial market) yang berdasarkan prinsip syariah belum
berkembang diIndonesia.
Peraturan Pendukung Perbankan Syariah di Indonesia,Keberadaan UU nomor 10/1998 tentang
perbankan dan UU No. 23/1999 tentang Bank Indonesia menjadi landasan utama penunjang
perbankan syariah di Indonesia saat ini, dengan berbagai kelemahan dari kedua peraturan
perundang-undangan tersebut, ditambah lagi yang menjadi persoalan sekarang adalah peraturan
pendukung terkait perkembangan perbankan syariah di Indonesia. Tanpa adanya peraturan
pendukung terhadap alat-alat dari transaksi perbankan syariah akan memenuhi kesulitan bahkan
bisa fatal. Peraturan pendukung perbankan syariah dimaksud adalah tentang peraturan BI tentang
operasional perbankan syariah, Obligasi, Pasar Modal, Hukum Perdata dalam penyelesaian
sengketa perbankan syariah
Pertama, UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) mengamanatkan kepada BI untuk
mempersiapkan perangkat peraturan atau fasilitas-fasilitas penunjang yang mendukung operasional
Bank Syari’ah. Dalam upaya mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah yang masih
berada dalam tahap awal pengembangan, beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian
oleh BI antara lain: Kerangka dan perangkat pengaturan Operasional perbankan syariah belum
lengkap; Pengaturan Cakupan pasar masih terbatas; Institusi pendukung yang belum lengkap dan
efektif; Efisiensi operasional perbankan syariah yang masih belum optimal; perlu adanya aturan
sistim bagi hasil dan transaksi dalam perbankan syariah serta aturan investasi asing di perbankan
syariah (sebelum adanya UU atau PP Investasi di bidang perbankan syariah.Peran ini dirasa kurang
dari Bank Indonesia, masih banyak yang harus diperhatikan oleh Bank Indonesia terkait
pembuatan peraturan atau aturan main perbankan di Indonesia, sehingga posisi perbankan syariah
dan konvensional berada dalam satu tingkatan yang sama.Bank Indonesia sebagai Bank central
Indonesia dengan hak dan otoritas yang dimiliki mestinya lebih leluasa membuat suatu kebijakan
yang lebih komprehensif terkait dengan kebijakan perkembangan perbankan syariah. Peran
bank Indonesia sungguh luar biasa kalau melihat amanah yang diberikan oleh UU. 23 Tahun 1999,
sekarang tinggal bagaimana BI mamainkan perannya ke depan terkait perkembangan perbankan
syariah di Indonesia.
Kedua, Terkait dengan surat-surat berharga atau surat utang negara (SUN) di Indonesia yang
berdasar syariah belum diatur sehingga dalam pelaksanaannya akan memenuhi banyak rintangan
dan berdampak kepada pemahaman investasi dari aspek syariah pada sisi yang berbeda. Pada
tahun 2006 saja negara-negara Timur Tengah (Timteng) menawarkan dana hingga 8 miliar dolar
AS, atau setara dengan Rp 71 triliun, untuk membeli obligasi syariah atau Sukuk Indonesia. Dana
dari hasil penerbitan Sukuk itu nantinya digunakan membiayai proyek- proyek kelistrikan. Negara
kaya raya dari Timur tengah kini memiliki dana yang melimpah ruah akibat tingginya harga
minyak dunia. Di tengah limpahan duit, negara-negara Timteng itu kelimpungan mencari tempat
investasi. Sebab sampai sekarang beberapa negara di Eropa dan Amerika menutup diri akibat
peristiwa pengeboman menara kembar WTC, atau peristiwa yang dikenal dengan sebutan 9/11.
Sebagai pengganti, negara-negara Timteng membidik Asia, termasuk Indonesia untuk
menempatkan dana-dananya tersebut. Kalau kita lihat UU No 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang
Negara/ obligasi kalau dipakai landasan obligasi syariah maka akan rancu, karena dalam UU
tersebut masih banyak kata-kata secara tidak langsung berkaitan dengan bunga yang sangat
bertentangan dengan konsep syariah atau riba. Sehingga dalam kenyataannya obligasi korporasi
dengan prinsip syariah telah mencapai belasan (14 sampai saat ini, 6 mudharabah dan 8 ijarah).
Contoh kasus, Obligasi Syariah Indosat tidak mempunyai acuan hukum positif seperti UU atau
peraturan Bapepam yang menjadi naungannya. Sebagai gantinya Obligasi Syariah Indosat
bernaung di bawah Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No 32
tentang Obligasi Syariah dan No 33 tentang Obligasi Syariah Mudharabah. Kasus lainnya,
Obligasi korporasi dengan prinsip syariah yang sesudahnya juga dapat bernaung di bawah Fatwa
DSN MUI No 41 tentang Obligasi Syariah Ijarah. Obligasi Syariah dalam fatwa-fatwa yang telah
disebutkan mengalami redefinisi sebagai Surat Berharga Jangka Panjang berdasarkan prinsip
syariah sehingga dapat diperjual belikan. Berangkat dari kasus-kasus ini, kalau dilihat dari kaca
mata hukum dan peradilan, maka hal ini cukup meragukan, sehingga untuk memberikan kekuatan
hukum sesuai dengan sistim hukum di Indonesia maka perlu adanya UU tersendiri mengenai
obligasi syariah, sehingga mampu memberikan jaminan kepastian hukum kepada investor dan
lainnya.
Ketiga, mengenai perangkat pendukung perbankan syariah sebagaimana perbankan konvensional,
maka perlu diatur perdagangan saham perbankan syariah yaitu pasar modal berprinsip
syariah.Kegiatan Pasar Modal di Indonesia diatur dalam undang-undang No. 8 tahun 1995
(”UUPM”). Pasal 1 butir 13 UU 8/95 menyatakan bahwa “Pasar Modal adalah kegiatan yang
bersangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan
dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.
Sedangkan Efek, dalam UUPM Pasal 1 butir 5 dinyatakan sebagai: “suratberharga
yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham obligasi, tanda bukti hutang, unit
penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak kegiatan berjangka atas Efek dan setiap derivatif
Efek”. UU No. 8 Tahun 1995 ini tidak membedakan apakah kegiatan Pasar Modal tersebut
dilakukan berdasarkan prisnip-prisnip syariah atau tidak. Dengan demikian, berdasarkan UUPM
kegiatan Pasar Modal di Indonesia dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan dapat
pula dilakukan tidak sesuai dengan prinsip syariah.( KarimSyah Law Firm, 2005. Perlunya
Peraturan Perundang-undangan Mengenai Pasar Modal Berdasarkan Syariah. Jakarta) Sehingga
dalam pelaksanaannya bagi perbankan syariah akan memberikan ketidak pastian apakah sesuai
dengan prinsip syariah atau tidak. Maka dari itu, perlu sekiranya pembuatan perangkat hukum
terkait dengan keberadaan pasar modal syariah untuk mendukung perjalanan perbankan syariah.
Keempat, Sebelum adanya amandemen terhadap UU No 7/1989 tentang Peradilan Agama menjadi
kendala hukum di Indonesia, kewenangan mengadili sengketa perbankan Islam ada ditangan
Pengadilan Negeri, sedang pengadilan negeri tidak menggunakan syariah sebagai landasan hukum
bagi penyelesaian perkara. Dan kita tahu wewenang Pengadilan Agama telah dibatasi UU No. 7
Tahun 1989. Institusi ini hanya dapat memeriksa dan mengadili perkara-perkara yang menyangkut
perkawinan, warisan, waqaf, hibah, dan sedekah. Pengadilan Agama tidak dapat memeriksa
perkara-perkara di luar kelima bidang tersebut. Berdasarkan latar belakang di atas, kepentingan
untuk membentuk lembaga permanen yang berfungsi untuk menyelesaikan kemungkinan
terjadinya sengketa perdata di antara bank-bank Syariah dengan para nasabah sudah sangat
mendesak, maka didirikan suatu lembaga yang mengatur hukum materi dan/atau berdasarkan
prinsip syari’ah. Di Indonesia, badan ini dikenal dengan nama Badan Arbitrase
MuamalahIndonesia atau BAMUI, yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaan Agung
Republik Indonesia dan MUI. Tapi saying sampai sebelum UU No 7/1989 tentang Peradilan
Agama diamandemen, badan tersebut belum bekerja dan sengketa perdata di antara bank-bank
Syari’ah dengan para nasabah diselesaikan di Pengadilan Negeri. Dengan keluarnya UU No 3
tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No 7/1989 tentang Peradilan Agama, telah disahkan oleh
Presiden Republik Indonesia. Kelahiran Undang-Undang ini membawa implikasi besar terhadap
perundang-indangan yang mengatur harta benda, bisnis dan perdagangan secara luas.
Pada pasal 49 point i disebutkan dengan jelas bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang -orang yang
beragama Islam di bidang ekonomi syariah.
Dalam penjelasan UU tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah
perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara lain meliputi : a.
Bank syariah, 2.Lembaga keuangan mikro syari’ah, c. asuransi syari’ah, d. reasurasi syari’ah, e.
reksadana syari’ah, f. obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah, g. sekuritas
syariah, h. Pembiayaan syari’ah, i. Pegadaian syari’ah, j. dana pensiun lembaga keuangan syari’ah
dan k. bisnis syari’ah. Namun, wewenang yang dimiliki oleh pengadilan tersebut, tidak akan
berjalan sesuai harapan konsep syariah tanpa didukung oleh perangkat peraturan yang
komprehensif dari hukum perdata di Indonesia, karena perangkat hukum yang digunakan adalah
kitab Undang-undang hukum perdata (KUHPer) yang notabene belum bersusuaian dengan hukum
perdata Islam.
Untuk itu perlu adanya hukum perdata Islam (syariah) yang akan mengatur sengketa perdata dalam
perbankan syariah. Hal ini dirasa sangat penting untuk menghindari adanya ambiguitas hukum,
disatu sisi konsep syariah diterapkan dalam perbankan syariah, tapi disisi lain penyelesaian perkara
terkait perbankan syariah dilakukan berdasar hukum yang notabene peninggalan belanda.
Kesimpulan, dari beberapa uraian diatas : mengenai Sejarah perbankan di dunia dan Indonesia,
Prospek perbankan syariah diIndonesia, Aspek hukum dan peraturan pendukung perbankan syariah
di Indonesia serta perbandingan hukum syariah di Malaysia, maka penulis memberikan
kesimpulan sebagai berikut :1. Prospek perbankan syariah sangat menjanjikan di Indonesia untuk
ikut memberikan kontribusi kepada perekonomian bangsa dan Negara, 2. Perlu adanya peraturan
perbankan syariah yang mandiri yang akan lebih komprehensif dalam pengaturannya, 3. Perlu
adanya keberanian BI Indonesia untuk membuat terobosan baru dan super visi mengenai
perbankan syariah dengan pembuatan kebijakan-kebijakan terkait perkembangan perbankan
syariah di Indonesia dan 4. Perlu adanya peratuarn pendukung mandiri/ tersendiri terkait
perkembangan perbankan syariah seperti : obligasi syariah, pasar modal syariah dan perdata
syariah.
Berangkat dari kesimpulan diatas, maka penulis sekiranya perlu memberikan saran, sebagai
berikut:
1. Karena prospek perbankan syariah sungguh luar biasa di Indonesia, maka perlu kiranya semua
eleman masyarakat dan Negara untuk ikut memberikan support terkait perkembangan perbankan
syariah ke depan,
2. Demi kemandirian dan secara kaffah pelaksanaan perbangkan syariah di Indonesia, maka perlu
pemerintah dan Legislatif secara bersama-sama membuat peraturan perbankan syariah yang
mandiri,
3. Peran BI dalam perjalanan perbankan syariah sangat besar, sehingga BI perlu membuat
kebijakan-kebijakan yang lebih komprehensif dan maksimal untuk mendukung perbankan
syariah. Hal ini mungkin bisa lakukan dengan menambah sumber daya manusia yang betul-betul
memahami ekonomi syariah yang diharapkan mampu memberikan kontribusi yang
komprehensif dan maksimal dalam menggiring laju perbankan syariah
4. Pemerintah dan Legislatif juga dituntut untuk membuat peraturan perundang-undangan terkait
dengan obligasi syariah, pasar modal syariah serta hukum perdata syariah sebagai instrument
pendukung perbankan syariah.(sumber data :www.WordPress.com weblog/Jufrism’s.Weblog).
Berkaitan dengan Sejarah dan Perkembangan Ekonomi Syariah yang telah diuraikan yang
berdasarkan sumber data dan issu yang berkembang, mari kita teliti dan analisa tentang Peneliti
Utama Bidang Pengelolaan Risiko Fiskal Depkeu terhadap Sistim ekonomi syariah dewasa ini
semakin populer. Tak hanya di negara negara Islam, tetapi juga di negara Barat. Ini ditandai
dengan makin banyaknya bank-bank menerapkan konsep syariah.
Melihat perkembangan itu, tidak tertutup kemungkinan pada masa mendatang seluruh aspek
perekonomian akan berbasiskan syariah. Ini menunjukkan nilai-nilai Islam dapat diterima di
berbagai kalangan karena sifatnya yang universal dan tidak eksklusif. Nilai-nilai itu, misalnya
keadilan dan perlakuan yang sama dalam meraih kesempatan berusaha. Di Indonesia konsep
ekonomi syariah mulai diterapkan sejak 1991 yang diawali dengan berdirinya Bank Muamalat
Indonesia (BMI).

Pada awalnya berdirinya, BMI belum mendapatkan perhatian yang luas. Dalam perjalanannya,
khususnya sejak MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap bunga bank, bank berbasis Syariah
bermunculan, diikuti dengan munculnya lembaga keuangan berbasis syariah lainnya, seperti
asuransi syariah yang memang belum menjamur seperti bank syariah. Dalam tiga tahun terakhir ini
industri perbankan syariah mengalami perkembangan yang pesat dan diiringi dengan
meningkatnya kompleksitas permasalahan dan tantangan.

Secara industri pada akhir 2005 terdapat tiga Bank Umum Syariah (BUS), 19 Unit Usaha Syariah
(UUS), dan 92 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Hingga Desember 2007 jumlah BUS
tidak mengalami peningkatan, tetapi jumlah UUS meningkat menjadi 26 dan BPRS menjadi 114.
Sejalan dengan bertambahnya jaringan kantor bank, pada periode 2005-2007 industri ini
mengalami peningkatan volume usaha cukup besar, dari Rp 20,9 triliun pada akhir 2005 menjadi
Rp 36,5 triliun tahun 2007. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat dari Rp15,6
triliun pada 2005 menjadi Rp 28,0 triliun pada 2007.
Kegiatan penyaluran dana melalui pembiayaan yang diberikan (PYD) perbankan syariah juga
meningkat dari Rp 15,2 triliun pada akhir 2005 menjadi Rp 27,9 triliun pada 2007. Berdasarkan
jenis penggunaannya, sebagian besar pembiayaan masih terfokus pada tiga jenis pembiayaan,
yakni piutang mudharabah 59,24 persen, pembiayaan mudharabah 19,96 persen, dan pembiayaan
musyarakah sebesar 15,77 persen. Pertumbuhan pembiayaan yang masih cukup tinggi dalam
kondisi sektor riil yang kurang kondusif akibat meningkatnya tekanan inflasi, berdampak pada
meningkatnya jumlah pembiayaan bermasalah (NPL).

Pada akhir 2005 NPL bertahan pada level terkendali, rasio NPF (gross) sebesar 2,8 persen. Namun,
pada 2007 meningkat menjadi 4,05 persen. Dari sesi profitabilitas, pada 2005 perbankan syariah
mampu mencatatkan tingkat keuntungan Rp 238,6 miliar, meningkat menjadi Rp 540,08 miliar
pada 2007. Sejalan dengan peningkatan profitabilitas ini, rasio keuntungan terhadap aset yang
dikelola meningkat dari 1,35 persen pada 2005 menjadi 1,78 persen tahun 2007.Tantangan ke
depan Kondisi perbankan syariah pada tahun mendatang diperkirakan akan terus membaik. Ini
terbukti dengan masih tingginya minat masyarakat terhadap perbankan syariah. Dalam rangka
peningkatan jangkauan melalui kemudahan untuk membuka kantor pelayanan, diharapkan dapat
memberikan pengaruh pada minat masyarakat. Di sisi lain, secara internasional peluang
memanfaatkan investasi asing, khususnya dari Timur Tengah ke dalam sistim
perekonomian Indonesia masih terbuka lebar.

Industri keuangan syariah secara internasional menunjukkan pertumbuhan sangat tinggi yang
memberikan peluang besar bagi sistim keuangan syariah. Harapan dapat menerbitkan sukuk
menjadi semakin besar dengan minat pemerintah menerbitkan global sukuk berdenominasi valuta
asing. Hal ini berpotensi meningkatkan variasi instrumen keuangan syariah yang akan sangat
berguna bagi likuiditas sistim keuangan syariah. Sejalan dengan perkembangan ekonomi global
dan meningkatnya minat masyarakat, perbankan syariah menghadapi tantangan besar.Dalam usia
relatif muda, setidaknya ada tiga tantangan besar ekonomi Islam. Pertama, ujian atas kredibiltas
sistim ekonomi dan keuangannya. Kedua, bagaimana ekonomi syariah dapat meningkatkan
kesejahteraan umat dan mengurangi kemiskinan serta pengangguran. Ketiga, perangkat peraturan,
hukum, dan kebijakan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Ahli ekonomi Islam di
Indonesia yang terdiri dari akademisi dan praktisi telah membentuk organisasi Ikatan Ahli
Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) yang berdiri dan dideklarasikan pada 3 dan 4 Maret 2004 di
Istana Wakil Presiden Republik Indonesia dalam momentum Konvensi Nasional Ahli Ekonomi
Islam Indonesia.RUU Perbankan Syariah, dewasa ini pemerintah tengah berusaha
mengembangkan perbankan syariah. Pemerintah mengharapkan sistim perbankan syariah sebagai
bagian dari sistim ekonomi nasional yang dapat merespons agenda nasional. Mengingat
pentingnya pembangunan ekonomi syariah, pemerintah memberikan dukungan sepenuhnya bagi
pengembangan sistim ekonomi syariah dengan melakukan perubahan Undang-Undang No 7/1992
tentang Perbankan menjadi UU No 10/1998. Undang-undang ini mengatur pranata hukum bagi
keberadaan bank syariah di Indonesia.

Berdasarkan UU ini pula, bank umum konvensional diperbolehkan berusaha dengan prinsip
syariah melalui pembukaan Unit Usaha Syariah. Pada 1999 pemerintah mengeluarkan UU No
23/1999 yang kemudian diamendemen dengan UU No 3/2004 tentang BankIndonesia. Undang-
undang ini memberikan kewenangan kepada BI untuk menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip
syariah. Dalam mempercepat pertumbuhan perbankan syariah, keberadaan UU Perbankan Syariah
mutlak diperlukan. Untuk mewujudkannya, pemerintah dengan DPR tengah menyelesaikan RUU
tersebut. Hingga kini pembahasan RUU Perbankan Syariah masih menyisakan beberapa pasal
krusial.

Adapun pasal-pasal krusial itu antara lain pasal berkenaan dengan 1) keberadaan Dewan Pengawas
Syariah (DPS), 2) keberadaan Unit Usaha Syariah (UUS), 3) masalah perizinan, 4) lembaga
penyelesaian sengketa, 5) kepemilikan asing, 6) kewenangan penyidikan, dan 7) lembaga yang
berwewenang menetapkan fatwa.

Pembahasan RUU ini diharapkan segera selesai. Dengan ditetapkannya UU Perbankan Syariah ini,
nantinya diharapkan dapat menjadi faktor pemacu pertumbuhan perbankan syariah, baik dalam
membuka jaringan bank umum syariah, UUS, maupun Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah.Pertumbuhan perbankan syariah ini selanjutnya diharapkan dapat membawa multiplier
effect dalam perekonomian nasional. Selama ini perbankan syariah telah teruji kemampuannya
dalam menciptakan stabilitas ekonomi bangsa secara menyeluruh. Secara faktual perbankan
syariah telah terbukti keunggulannya dalam masa krisis. Pada waktu bank konvensional
mengalami guncangan akibat badai krisis pertengahan 1997, perbankan syariah dengan sistim bagi
hasil terbukti selamat dari badai tersebut. Untuk itu, dengan keberadaan UU Perbankan Syariah
diharapkan akan semakin menumbuhkan perekonomian nasional. Akhirnya, keberadaan UU
Perbankan Syariah diharapkan pula dapat membawa dampak pada aliran dana investasi
keIndonesia yang semakin meningkat, terutama dari negara-negara Timur Tengah.

Ikhtisar: Praktik bisnis berdasar syariah terbukti mampu menghadapi badai krisis hingga kini dan
dukungan Undang-Undang Perbankan Syariah akan makin memajukan perbankan syariah dan
sektor runtutannya.(Republika Online)(Sumber data : Makmun,republika online, Sistim ekonomi
syariah)

Perjalanan panjang kaum profesional Muslim untuk memperjuangkan legalitas ekonomi syariah di
bumi Indonesia akhirnya mulai mewujud pada tahun 2008 dengan lahirnya UU Perbankan Syariah,
yang bersamaan UU Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).Bagi para pemangku kepentingan
perbankan syariah, tahun 2008 menjadi tonggak penting setelah selama ini aspek yuridis
operasional perbankan nonribawi di negeri yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini hanya
menumpang pada hukum positif perbankan konvensional. Saat awal kaum profesional Muslim
ingin menjalankan bank yang beroperasi dengan sistim bagi hasil, azas hukumnya pada UU
Perbankan No.10 tahun 1992. Namun itu belum cukup, karena perbankan syariah tersendat
jalannya dan terbukti dalam enam tahun pertama kemudian hanya satu bank syariah yang muncul
yakni Bank Muamalat pada 1992.Perjuangan berlanjut lagi, yang kemudian timbul amandemen
UU sebelumnya, yang melahirkan UU No. 7 Tahun 1998 yang memuat ketentuan lebih rinci di
dalamnya tentang perbankan syariah. UU ini cukup memberi payung kondusif di saat
perkembangan awal, terbukti cabang-cabang Bank Muamalat mulai dibuka di berbagai kota. Juga
lahirnya bank-bank syariah baru atau unit syariah pada bank umum, serta di tingkat mikro ada
Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Baitul Maal Wa Taamwil (BMT).

Kini setelah DPR melalui rapat paripurna di Jakarta, Selasa (17 Juni 2008), menyetujui pengesahan
Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Perbankan Syariah menjadi UU, dan sebulan kemudian
pada 16 Juli 2008 pemerintah mengundangkan UU itu di lembaran negara, payung hukum bisnis
pembiayaan nonribawi di Indonesia melangkah ke depan lebih pasti. Anggota Dewan Syariah
Nasional (DSN), Adiwarman A. Karim mengungkapkan, paling tidak terdapat enam hal baru
dalam UU Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. “Enam hal itu adalah otoritas fatwa
dan komite perbankan syariah, pembinaan dan pengawasan syariah, pemilihan dewan pengawas
syariah (DPS), masalah pajak, penyelesaian sengketa, dan konversi unit usaha syariah (UUS)
menjadi bank umum syariah (BUS),” kata Adiwarman saat sosialisasi UU tentang Perbankan
Syariah.

Ia menjelaskan, kegiatan usaha bank syariah harus tunduk kepada prinsip syariah yang difatwakan
oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang kemudian dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia
(PBI). Dalam rangka penyusunan PBI, BI membentuk Komite Perbankan Syariah yang
beranggotakan unsur-unsur dari BI, Departemen Agama, dan unsur masyarakat dengan komposisi
berimbang dengan jumlah maksimum 11 orang.Untuk pembinaan dan pengawasan bank syariah
dan UUS terdapat pemilihan antara aspek teknis perbankan dan aspek kepatuhan pada prinsip
syariah. Dari sisi teknis perbankan pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh BI, sementara
kepatuhan terhadap prinsip syariah dilakukan oleh MUI yang direpresentasikan melalui Dewan
Pengawas Syariah (DPS) yang diangkat oleh rapat umum pemegang saham (RUPS) atas
rekomendasi MUI.

Mengenai masalah pajak berganda, mekanisme penyaluran barang dari bank syariah kepada
nasabah yang membutuhkan hanya dapat dilakukan melalui sistim pembiayaan, bukan melalui
sistim jual beli, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran lagi terhadap adanya kemungkinan
pengenaan pajak ganda atas setiap transaksi barang antara bank syariah dengan nasabah.
Sementara itu aturan penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan oleh pengadilan dalam
lingkungan peradilan agama. “Ini tidak mencabut kewenangan penyelesaian sengketa di peradilan
umum, karena jika para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain di peradilan
agama, maka penyelesaian dilakukan sesuai perjanjian,” kata Adiwarman.

Hal baru lain dalam UU Perbankan Syariah adalah konversi UUS menjadi BUS yang menetapkan
bank umum konvensional yang memiliki UUS yang nilai asetnya mencapai paling sedikit 50
persen dari total nilai aset bank induknya, atau 15 tahun sejak berlakunya UU Perbankan Syariah,
maka bank umum konvensional dimaksud wajib melakukan pemisahan UUS itu menjadi bank
umum syariah.

Tantangan Krisis, meski UU Perbankan Syariah telah eksis, tantangan bank nonribawi di tengah
kepungan bank konvensional masih membentang. Perkembangan sistim finansial syariah yang
pesat boleh jadi sedang mendapat ujian untuk benar-benar bisa membuktikan sebagai sistim
alternatif, atas sistim perbankan kapitalisme yang saat ini terimbas krisis keuangan global.

Aktivitas perbankan syariah di Indonesia yang hampir seluruh pembiayaannya masih diarahkan
kepada sektor bisnis riil di perekonomian domestik dan tidak memiliki tingkat integrasi tinggi
dengan sistim keuangan global yang ribawi, menjadi faktor yang “menyelamatkan” bank syariah
dari imbas langsung dampak krisis.

Secara substansial pun, yang “menyelamatkan” perbankan syariah adalah perbedaan operasional
dengan perbankan konvensional, di mana dalam sistim keuangan Islam melarang pinjaman dengan
beban bunga, yang dipandang sebagai riba, serta sistim syariah ini melarang spekulasi derivatif.
Sebagai gantinya, pembiayaan harus pada sektor riil, serta faktor risiko dan keuntungan
ditanggung bersama antara bank dan nasabah.
Oleh karena itu kalau operasional perbankan syariah di tanah air hingga kini tetap tenang
menjalankan bisnisnya adalah hal wajar. Bahkan, dari hasil analisis yang dikutip dari Outlook
Perbankan Syariah 2009, yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, kinerja pertumbuhan pembiayaan
bank syariah tetap tinggi sampai akhir tahun 2008 dengan kinerja pembiayaan yang baik.

Penyaluran pembiayaan oleh perbankan syariah selama tahun 2008 secara konsisten terus
mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 17,6 persen dari triwulan ketiga tahun 2007
atau menjadi 42,9 persen pada triwulan ketiga tahun 2008. Adapun nilai pembiayaan yang
disalurkan oleh perbankan syariah telah mencapai Rp37,7 triliun. Selama tahun 2008 jaringan
pelayanan bank syariah mengalami penambahan sebanyak 130 kantor cabang. Sehingga saat ini
sudah ada 1.440 kantor cabang bank konvensional yang memiliki layanan syariah. Secara
geografis, penyebaran jaringan kantor perbankan syariah saat ini telah menjangkau masyarakat di
lebih dari 89 kabupaten/kota di 33 propinsi. Jumlah BUS (Bank Umum Syariah) bertambah,
sehingga sampai Oktober 2008 menjadi berjumlah lima BUS. Prospek 2009, perbankan syariah
nasional menapaki tahun 2009 diperkirakan tetap dalam fase pertumbuhan tinggi, yang didasarkan
aspek yuridis UU Perbankan Syariah membuat kepastian hukum dan mendorong peningkatan
implementasi kapasitas usaha bisnis syariah. Juga, UU SBSN menjadi penguat kinerja sistim
keuangan Islami itu.

Kemudian adanya amandemen UU Perpajakan memberi kepastian hukum dalam mendorong


peningkatan kapasitas bank-bank syariah melalui penarikan peran investor asing. Di lapangan,
bakal terealisasi konversi beberapa UUS (Unit Usaha Syariah) menjadi BUS (Bank Umum
Syariah). Paling tidak pada tahun 2009 ditargetkan ada 9 bank umum syariah baru, yang
diperkirakan enam dari bank domestik, yaitu Bukopin Syariah, BCA Syariah, BNI Syariah, Bank
Victoria Syariah dan Bank Panin Syariah dan Bank NISP Syariah, serta tiga lainnya berasal dari
investor Timur Tengah, baik didirikan dengan cara merger bank lokal atau mandiri.

Demikian pula akan terjadi realisasi penerbitan Corporate Sukuk oleh bank syariah untuk
memperkuat modal dasar perbankan syariah. “Yang tak kalah penting, meningkatnya pemahaman
masyarakat dan preferensi untuk menggunakan produk dan jasa bank syariah. Demikian pula
perbankan syariah dinilai sebagai bank universal. Bukan bank semata-mata untuk orang Islam,”
kata Deputi Gubernur BI Siti Fadjriah.Namun bagi kalangan bankir syariah, untuk mendukung
perkembangan pesat pembiayaan nonribawi itu perlu instrumen operasi moneter syariah terus
dilengkapi, karena operasi moneter syariah (OMS) yang baru saja diatur oleh Bank Indonesia (BI)
belum maksimal.Menurut Direktur Utama Bank Mega Syariah (BMS) Beny Witjaksono,
instrumen operasi moneter syariah masih belum lengkap karena saat ini yang ada baru
reposurat berharga syariah negara (SBSN). Sedangkan untuk “fine tuning expansion”, “fine tuning
contraction” dan fasilitas lelang penyerapan dana Bank Indonesia (Fasbi) belum ada.

Tugas BI dalam menyempurnakan sitem keuangan syariah memang harus terus ditingkatkan
seiring berkembang pesatnya transaksi keuangan syariah. Deputi Gubernur BI Siti Fadjriah sendiri
pernah menyatakan Bank Indonesia (BI) berketetapan merumuskan strategi besar pengembangan
pasar syariah, sehingga pangsa lima persen dibandingkan bank konvensional lebih cepat tercapai
dari saat ini sekitar 2,2 persen. Pada akhirnya dengan rel jelas yang mengacu UU Perbankan
Syariah, Petinggi Negara yang melaksanakan kebijakan Pemerintahan untuk meminta pengelola
perbankan syariah nasional dapat menjadi pemain domestik yang andal dan memiliki kualitas
layanan dan kinerja bertaraf internasional, bukan sesuatu yang mustahil.(Sumber data :Zaenal
Abidin).

Jika perkembangan ekonomi syariah didunia Eropa (kaum nasrani) seperti di Inggris, Australia,
Jepang sudah menggunakan sistim ekonomi syariah, Indonesia Kenapa tidak…karena sistim
ekonomi syariah adalah identik dengan ekonomi kerakyatan yang dapat menandingi sistim Neolib
dan Kapitalis….sedangkan yang telah digambar-gemborkan mengenai sistim ekonomi tengah
adalah suatu difinisi yang tidak terdapat dalam maszab maupun sistim ekonomi didunia, sistim
ekonomi tengah adalah suatu difinisi yang tidak mempunyai standart dan asal usulnya…ini adalah
difinisi yang bersifat pembodohan terhadap rakyat dan Bangsa.

Kita harus konsisten berbicara kepada system mana kita berpijak, Neolib, Liberal, Kapitalis atau
atau Ekonomi syariah/ekonomi kerakyatan……jika kita berbicara ekonomi kerakyatan atau
ekonomi syariah maka identik dengan UUD 45 dan Pancasila, ……dan untuk mengembangankan
Ekonomi Syariah, yang mana Negara Indonesia sudah tertinggal jauh oleh Negara Eropa yang
sudah lama beralih dan mengembangkan Ekonomi Syariah.

Atas dasar permasalahan tersebutlah, maka sudah seharusnya Negara Indonesia perlu melakukan
kiat-kita untuk menarik Investor Timur Tengah dengan melakukan pembenahan dilima bidang
perekonomian di Indonesia.Memasuki 2009 Indonesia harus bekerja keras menghadapi berbagai
tantangan antara lain merembetnya resesi besar yang melanda Amerika dan Eropa bahkan ke
Jepang, India, dan China.Negara-negara tersebut merupakan negara tujuan utama ekspor
Indonesia. Selain itu, kita akan menghadapi pemilu baik legislatif maupun presiden.

Meroketnya harga minyak sejak 1998 telah menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai tempat
berlimpahnya likuiditas. Sebuah hasil riset menunjukkan bahwa per tahun 2006 terdapat dana
sekitar US$2,4 triliun sampai US$2.8 triliun yang siap diinvestasikan dari negara-negara kawasan
Teluk, di mana US$150 miliar sampai US$180 miliar di antaranya khusus untuk investasi di sektor
keuangan syariah. Negara mana saja yang menikmati kucuran investasi dana Timur Tengah
tersebut, bagaimana cara mereka menarik investasi dan upaya-upaya apa yang harus dilakukan
oleh Pemerintah Indonesia untuk meyakinkan para investor arab menanamkan modalnya di Tanah
Air? Negara-negara di kawasan Asia Selatan merupakan salah satu kawasan yang menikmati aliran
dana investasi dari Timur Tengah, diikuti China, London dan Austrailia dalam jumlah miliaran
dolar AS.
Untuk bisa menangkap peluang investasi dari Timur Tengah tersebut pemerintah paling tidak
harus menyiapkan lima hal yakni kelengkapan perangkat hukum, lingkungan bisnis yang
mendukung, kebijakan ramah investasi, kebijakan insentif perpajakan, dan pengembangan sumber
daya manusia (SDM).
Dengan disahkannya Undang-Undang Perbankan Syariah dan Undang-Undang Surat Berharga
Syariah Nasional pada tahun 1998 merupakan langkah strategis penting yang telah diambil
pemerintah beserta DPR. Walaupun sebenarnya kelengkapan perangkat hukum di bidang keuangan
syariah tersebut sangat terlambat datangnya yakni 16 tahun setelah bank syariah pertama berdiri
pada tahun 1992.
Negara Indonesia sudah terlambat 25 tahun dibandingkan dengan Negara-negara lainnya yang
telah memiliki Islamic Banking Act pada 1983 dan Takaful Act pada 1984. Kehadiran kedua UU
tersebut telah lama sekali ditunggu kehadirannya, tidak hanya oleh para pelaku industri keuangan
syariah domestik, tetapi juga para investor asing.Undang-undang tersebut telah memberikan
arahan jelas tentang pendirian bank syariah, pembentukan dewan syariah, dan penyelesaian
sengketa atas transaksi syariah.
Namun, sayangnya UU tersebut belum cukup menarik bagi para investor untuk datang mengingat
ketidakjelasan mengenai status kepemilikan (beneficial ownership) dalam transaksi obligasi
syariah (sukuk) dan masih simpang siurnya status pajak ganda atas transaksi pembiayaan syariah.
Dengan adanya suatu kepastian hukum dan deregulasi proses perizinan merupakan salah satu
kunci untuk menciptakan suasana bisnis yang kondusif.Berdasarkan penilaian OECD dan Bank
Dunia mengenai efektivitas peraturan dalam mendukung iklim bisnis, walaupun telah
menunjukkan adanya peningkatan dengan diberlakukannya beberapa deregulasi, Indonesia masih
tergolong berkategori buruk yang selevel dengan negara seperti Hongaria dan Meksiko. Dalam
rangka meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi terutama di sektor
keuangan syariah, BankIndonesia perlu memberlakukan liberalisasi keluar masuknya dana
investasi asing.
Investor asing perlu secara bebas menentukan denominasi mata uang yang akan mereka
investasikan di Indonesia, serta bebas untuk menentukan jumlah dan jenis mata uang dalam rangka
pemulangan kembali dana hasil investasi ke negara asalnya.
Hal ini perlu dilakukan agar menurunkan beban biaya investor dalam berinvestasi, meningkatkan
efisiensi serta mendorong sistim keuangan yang progresif dan kompetitif. Perlunya dibuat
semacam kawasan one stop service sebagaimana MIFC (Malaysia Islamic Financial Centre)
ataupun DIFC (Dubai Islamic Financial Centre). Dan faktor lain adalah sistim perpajakan yang
benar-benar tidak menarik bagi investor terutama untuk sektor keuangan syariah karena
diberlakukannya pajak ganda bagi transaksi pembiayaan syariah. Pemberlakuan netralitas pajak
antara sistim konvensional dan syariah mutlak diperlukan.
Di Dubai misalnya, semua transaksi yang dilakukan oleh perbankan, asuransi dan pasar modal
syariah bisa dipastikan tidak dikenakan pajak ganda karena mereka menerapkan sistim netralitas
perpajakan bahkan mereka menawarkan beragam skema insentif perpajakan. Sektor perbankan dan
asuransi syariah tidak dikenakan pajak pendapatan untuk semua pendapatan yang diperoleh bank
dan asuransi syariah dalam semua bentuk mata uang asing yang dilakukan oleh bank syariah
internasional, operator asuransi syariah internasional serta unit bisnis yang berada di bawah
naungan lembaga MIFC dan DIFC serta masih banyak lagi skema insentif lainnya terkait dengan
obligasi syariah dan raksa dana syariah.
Kurangnya SDM yang ahli dibidang keuangan syariah yang menyebabkan kurangnya inovasi
produk yang dapat menarik minat investasi di sektor keuangan syariah, menjadi faktor selanjutnya.
Sebenarnya Bank Indonesia memiliki lembaga pendidikan di bidang perbankan yakni Lembaga
Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), tetapi kita belum pernah mendengar komitmen Bank
Indonesia untuk mengembangkan SDM ekonomi syariah secara serius.
Pada akhirnya, dengan suatu prinsip optimis menatap masa depan pada tahun 2009 dengan
menciptakan suasana aman dan tenteram dalam melaksanakan pemilu, tetapi tetap bekerja keras
menghadapi resesi dengan melanjutkan agenda-agenda perbaikan untuk menjadikan Indonesia
sebagai negara tujuan investasi dan mitra bisnis strategis bagi Timur Tengah, serta dengan semakin
mantapnya ekonomi syariah yang didasari oleh landasan hukum yang jelas dapat menandingi
sistim Neolib apalagi ekonomi tengah yang tidak terdapat dalam sistim ekonomi apapun yang
terdapat dalam teori-teori ilmu ekonomi didunia.(sumber data : Bisnis Indonesia, Rabu, 7 Januari
2009, daniri)
Bersandar pada Fakta dan Issu yang terjadi baik secara Factor Internal dan Faktor Eksternal,
dimana perkembangan ekonomi Syariah terus menanjak naik seiring dengan krisis globalisasi
dunia salah satu dibidang Sukuk, dimana pengertian sukuk menurut fatwa No. 32/DSNMUI/
IX/2002 yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia adalah suatu surat berharga jangka
panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah
yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa
bagi hasil margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Sedangkan,
menurut Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-
130/BL/2006 Tahun 2006 Peraturan No. IX.A.13, sukuk adalah efek syariah berupa sertifikat atau
bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang tidak terpisahkan atau
tidak terbagi atas: kepemilikan aset berwujud tertentu, nilai manfaat dan jasa atas aset proyek
tertentu atau aktivitas investasi tertentu, dan kepemilikan atas aset proyek tertentu atau aktivitas
investasi tertentu.

Inovasi baru-baru ini dalam keuangan Islam telah mengubah dinamika industri keuangan Islam
terutama dalam area bonds dan sekuritas. Penggunaan sukuk atau sekurtias islam menjadi terkenal
dalam beberapa tahun terakhir ini, baik government sukuk maupun corporate sukuk. Sukuk sudah
berkembang menjadi salah satu mekanisme yang sangat penting dalam meningkatkan keuangan
dalam pasar modal internasional melalui struktur yang dapat diterima secara Islam. Perusahaan
multinasional, Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, dan lembaga keuangan menggunakan
sukuk internasional sebagai alternatif pembiayaan sindikasi. Obligasi syariah tumbuh dan
berkembang menjadi salah satu instrumen keuangan yang sangat diminati pasar….(karena
memegang prinsip-prinsip kesyariahan).

Dilansir dari Islamic Businnes & Finance Magazine Daya tarik sukuk sebagai salah satu alternatif
untuk memperoleh dana segar dari Timur Tengah telah membuat banyak perusahaan di dunia
melirik instrument keuangan yang berbasis ekonomi syariah ini, tidak ketinggalan Hongkong pun
ikut tertarik untuk memanfaatkan peluang manis ini. Hongkong sebagai salah satu hub bisnis
keuangan di Asia berminat untuk mengembangkan Islamic Finance guna menarik minat para
investor dari Timur Tengah dan para pebisnis yang berminat dengan produk-produk yang
berlandaskan syariah Islam. Keadaan ekonomi kapitalis yang saat ini sedang guncang dan
melimpahnya dana segar di Timur Tengah sebagai akibat kenaikan harga minyak dunia ini bisa
dimanfaatkan untuk meningkatkan investasi khususnya di Hongkong. Sejak Juli tahun lalu
Pemerintah Hongkong melalui Hongkong Monetary Authority (Bank Sentral Hongkong) telah
membentuk kelompok kerja yang bertugas menerbitkan peraturan yang diperlukan terkait dengan
sistim ekonomi syariah , sistim pajak dan regulasi lainnya agar sistim syariah bisa berjalan seperti
sistim ekonomi konvensional Donald Tsang selaku Chief Executive Hongkong ketika
mengunjungi Uni Emirat Arab.Menjelaskan .. Tsang menjelaskan bahwa sukuk tidak hanya
diminati oleh investor muslim tapi juga dari kalangan non muslim, dimana mereka melihat
“kelebihan” dari sistim ekonomi syariah ini jika dibandingkan dengan sistim konvensional.
Disamping itu, banyak bank asing yang beroperasi di negeri tersebut juga telah menggunakan
sistim syariah.

Pemerintah Hongkong juga telah mengumumkan rencana untuk menerbitkan sukuk dengan
menggunakan skim ijarah pada bulan Desember tahun ini. Selain Hongkon, Indonesia dan Inggris
juga akan melakukan hal yang sama. Kegigihan Hongkong untuk mengembangkan sistim syariah
telah membuahkan hasil. Hal itu ditandai dengan disetujuinya peluncuran Hangseng Islamic China
Index Fund oleh Badan Pengawas Pasar Modal Hongkong. Islamic index tersebut akan dijalankan
oleh Hangseng Investment Management salah satu anak perusahaan HSBC. Meskipun demikian,
masih diperlukan banyak “Pekerjaan Rumah” agar sistim syariah ini bisa betu-betul berjalan dan
berkembang. Diantaranya, Hongkong perlu mendirikan badan arbitrase syariah sebagai badan yang
nantinya akan menyelesaikan segala sengketa syariah, perlunya meningkatkan kapasitas dan
kemampuan dari dewan pengawas syariah, dan seluruh pihak yang berkaitan dengan sistim
ekonomi syariah ini berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman mereka tentang
ekonomi syariah itu sendiri.

Mari kita telusuri secara mendalam, akan kearah manakah ekonomi syariah, apakah masuk
kedalam pasar modal ataukah mencari investor asing yang mau tunduk kepada ketentuan-
ketentuan kesyariahan yang sudah jelas menganut sistim-sistim Hukum Islam, memisahkan yang
halal dan yang haram. Untuk lebih jelasnya kita analisa pada ruang lingkup Hukum Perbankan
Syariah Indonesia.

Bank Syariah dikenal dengan nama lain : Bank Tanpa Bunga (La Riba Bank), Bank Islam (Islamic
Bank), dan Bank Nirbunga . Kegiatan dalam praktik Bank Syariah merupakan bagian dari
Muamalah. Muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling menukarkan
manfaatnya, yang dalam pembahasan pada buku ini akan dikhususkan dalam operasional kegiatan
muamalah dibidang ekonomi melalui perbankan. Dalam buku ini istilah yang akan digunakan
adalah Bank Syariah.

Bank Syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah Islam, yaitu bank
yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al Qur’an dan Hadits. Makna
bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah Islam adalah bank yang dalam
beroperasinya mengikuti ketentuan-ketentuan Syariah Islam khususnya yang menyangkut tata cara
bermuamalah secara Islam. Dalam tatacara bermuamalah dijauhi praktik-praktik yang
dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan investasi atas
dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan. Bank yang tata cara operasinya mengacu kepada Al
Qur’an dan Hadits adalah bank yang tata cara beroperasinya mengikuti perintah dan larangan yang
tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits. Sesuai dengan perintah dan larangan itu, maka yang
dijauhi adalah praktik-praktik usaha yang dilakukan di zaman Rasulullah atau bentuk-bentuk usaha
yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh beliau.

Di dalam mengoperasionalkan Bank Syariah agar tidak menyimpang dari tuntunan Syariah maka
pada setiap Bank Syariah hanya diangkat manager dan pimpinan bank yang sedikit banyak
menguasai prinsip muamalah Islam. Selain itu dibentuk Dewan Pengawas Syariah yang bertugas
mengawasi operasional bank dari sudut syariahnya. Di dalam mengoperasionalkan Bank Syariah,
dasar hukum pertama adalah Al Qur’an dan Hadits. Berikut ini akan dinukil beberapa ayat-ayat
dalam Al Qur’an sebagai dasar operasional Bank Syariah, antara lain :a.Al-Baqarah : 275, yang
artinya : ”orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”, b.Al-Imran : 130, yang
artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda
dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” dan c.An-Nisa’ : 29,
yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang bathil”. Selain beberapa ayat Qur’an di atas maka berdasarkan hukum positif,
landasan dalam mengopersionalkan Bank Syariah adalah Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (selanjutnya
ditulis UUPI), karena belum ada peraturan perundangan khusus mengenai Bank Syariah.

Untuk memberikan legitimasi yuridis mengenai operasional Bank Syariah sudah diadopsi dalam
UUPI, walaupun baru sebatas diakomodirnya Prinsip Syariah dalam operasional bank. Di dalam
Pasal 1 ayat (3) UUPI menjelaskan Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan
jasa dalam lalu lintas pembayaran. Pengertian Prinsip Syariah terdapat dalam Pasal 1 butir (13)
UUPI yang menyebutkan, Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan Hukum Islam
antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau
kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan Syariah, antara lain pembiayaan dengan prinsip
bagi hasil, penyertaan modal, jual-beli barang dengan memperoleh keuntungan, pembiayaan
barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan, atau dengan adanya pilihan
pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari bank oleh pihak lain.

Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil, di
dalamnya mengatur antara lain ketentuan tentang proses pendirian Bank Umum Nirbunga.
Berdasarkan Pasal 28 dan 29 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/34/KEP/DIR tanggal
12 Mei 1999 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Syariah, mengatur tentang beberapa kegiatan
usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Syariah. Peraturan lainnya yang khusus mengatur Akad
dalam kegiatan usaha berdasarkan prinsip Syariah adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor
7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran dana Bagi Bank yang Melaksanakan
Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank
Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam Kegiatan
Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana Serta Pelayanan Jasa Bank Syariah.

Dasar hukum lainnya yang dapat digunakan dalam pembuatan ataupun pelaksanaan akad dengan
prinsip murabahah didasarkan pada Pasal 1338 ayat (1) dan (3) Buku III KUH Perdata. Peraturan
lain yang memberikan dasar bagi beroperasionalnya Perbankan Syariah khususnya dalam hal
mempertahankan hak dari para pihak yang dalam Ilmu Hukum dikenal sebagai hukum formalnya
adalah Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar
Pengadilan dan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (selanjutnya ditulis UU Peradilan Agama) yang
digunakan dalam penyelesaian para pihak melalui pengadilan atau dikenal secara litigasi. Di dalam
peraturan tersebut terdapat pengertian Ekonomi Syariah dan adanya kompetensi absolut Peradilan
Agama dalam menyelesaikan sengketa Ekonomi Syariah.

Larangan Melakukan Riba sebagai Latar Belakang Lahirnya Perbankan Syariah


Larangan riba terdapat di dalam Surat An-Nisa : 29, yang artinya “Hai orang-orang beriman,
janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan batil. Pengertian riba secara bahasa
bermakna ziyadah (tambahan), dalam pengertian lain secara linguistik, riba juga berarti tumbuh
dan berkembang. Menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau
menjadi modal secara batil (bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam). Riba inilah yang
menjadi problematika yang sampai saat ini belum ada keseragaman pendapat dalam menentukan
apakah bunga bank itu sama dengan riba yang dilarang dalam agama Islam ? Dengan kata lain
apakah bunga bank itu haram, halal atau mutasyabihat.

Seperti telah diketahui bahwa berdasarkan Hukum Islam, kedudukan dan kegiatan-kegiatan bank
atau lembaga perbankan belum ada pada masa Rasulullah, oleh karena itu maka masalah
perbankan dapat diklasifikasikan dalam masalah ijtihadiah, karena merupakan masalah ijtihadiah
maka terdapat perbedaan-perbedaan pendapat dalam menentukan hukumnya menurut Agama
Islam. Berdasarkan pengkajian ilmiah oleh Majelis Ulama Sumatera Utara bersama Yayasan
Baitul Makmur Sumatera Utara pada Tahun 1985, disimpulkan bahwa :
a.Perbankan dan lembaga-lembaga keuangan non bank adalah satu sub sistim dari sistim ekonomi
dewasa ini yang sulit dapat dihindarkan;
b.Riba yang sifatnya adh’afan mudha’afah (berlipat ganda) adalah hukumnya haram, sesuai
dengan nash yang shahihah dari Al Qur’an dan Sunnah;
c.Pendapat mengenai bunga bank, masih terdapat perbedaan pendapat dari para ulama, pendapat-
pendapat tersebut sebagai berikut:
1) Mengharamkan bunga bank karena menganggapnya sama dengan riba,
2) Membolehkan bunga bank karena menganggapnya tidak sama dengan riba, yang diharamkan
oleh syariat islam dan
3) Bunga bank adalah haram, tetapi karena belum ada jalan keluar untuk menghindarkannya,
maka dibolehkan (karena dianggap darurat).

Jika didasarkan pada hasil Majelis Tarjih Muhammadiyah Sidoarjo, yang memutuskan bahwa
bunga bank yang diberikan oleh Bank-Bank Milik Negara kepada para nasabahnya atau
sebaliknya, termasuk perkara “musytabihat” atau mutasyabihat, selanjutnya berdasarkan pada
Hasil Majelis Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta dalam Muktamar Tarjih Muhammadiyah tahun
1989 dalam masalah bunga bank masih mempunyai kesimpulan yang sama yaitu bunga bank
adalah “musytabihat” . Pada tahun 2006 Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah
mengkalsifikasikan bahwa bunga bank masuk kategori haram yang telah dituangkan dalam draft
Putusan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Hasil Lokakarya Perbankan Islam yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada
Tahun 1990 menetapkan prinsip nirbunga yang dikemukakan para pemikir muslim ke dalam tiga
kategori :
a. Pandangan pertama, mengkategorikan bunga bank haram karena sama dengan riba;
b. Pandangan kedua, bunga bank halal karena tidak sama dengan riba;
c. Pandangan ketiga memasukkan dalam kategori mutasyabihat (dubious, seyogyanya dihindari
tetapi boleh dipraktikkan karena keadaan darurat dan terpaksa.
Terakhir, pada awal Tahun 2004 keluar Fatwa MUI yang mengharamkan bunga bank. Sebelum
menguraikan arti dari riba akan dipaparkan beberapa Sumber Hukum Islam yang mengatur tentang
riba antara lain :
a.Ar-Rum (30) : 39, yang artinya : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia
menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang
berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahala);
b.An Nisa (4) : 160-161, yang artinya : “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami
haramkan atas mereka (memakan-makanan) yang baik-baik yang dahulunya) dihalalkan bagi
mereka, dank arena banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka
memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka
memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir
di antara mereka itu siksa yang pedih;
c.Ali Imran (3) : 130, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan
riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan”;
d.Al Baqarah (2) : 275, yang artinya : Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba;
e.Al Baqarah (2) : 278-279, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan
Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiyaya.
Jika ditelaah dari isi ayat-ayat dalam Al Qur’an, dapat diketahui bahwa Allah menetapkan riba
dengan “berlipat ganda” dan inilah yang diharamkan Al Qur’an. Tuhan tidak mengharamkan
selainnya (Rasyid Rida, tt: 114).

Menurut etimologi atau makna bahasa, riba berarti tambahan (az-ziyadah). Raba idza zada wa’ala,
sesuatu itu riba apabila ia bertambah dan meninggi, sedang menurut terminologi (istilah) riba
menurut syara’ adalah tambahan terhadap modal. Dalam Hukum Islam riba diartikan sebagai
tambahan dengan criteria tertentu. Pendapat lain menyebutkan riba adalah kelebihan sepihak yang
dilakukan oleh salah satu dari dua orang yang bertransaksi.

Menurut Ibnu Qayyim, riba dikategorikan menjadi dua bagian yaitu Riba Jaliy dan Riba Khafiy.
Riba Jaliy adalah riba nasi’ah, diharamkan karena mendatangkan madlarat yang besar. Riba yang
sempurna (riba al-kamil) adalah riba nasi’ah. Riba ini berjalan pada masa jahiliyah. Riba Khafiy
diharamkan untuk menutup terjadinya riba jaliy (wal-khafi haramun li-annahu dzari’atun ilaljaliy).

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai bunga bank
bahwa bunga bank diklasifikasikan haram karena sama dengan riba, diklasifikasikan halal karena
tidak sama dengan riba dan ada yang membolehkan karena darurat, ada kepentingan yang
mendesak yang harus dilakukan dan belum ada jasa lain yang dapat memfasilitasinya, dengan tetap
mendasarkan adanya maslahat. Jika dikategorikan dalam Riba Jahiliy dan Riba Khafiy, maka
bunga bank itu termasuk Riba Khafi yang dibolehkan jika ada maslahat.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas, maka seyogyanyalah untuk menjaga kehidupan


dari kemungkinan memakan atau menggunakan uang haram jika sudah tersedia Bank Syariah
seyogyanya menggunakan jasa Bank Syariah, karena operasional Bank Syariah (Bank Islam)
bebas bunga. Opersional Bank Syariah menggunakan sistim bagi hasil dan di dalam kelembagaan
Bank Syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah yang terus mengontrol opersional Bank Syariah
sesuai dengan Prinsip Syariah.
Sejarah Perkembangan Bank Syariah, Perkembangan Perbankan Syariah Internasional
Di dalam menguraikan tentang sejarah perkembangan Bank Syariah di bawah ini akan
diperhatikan dari perkembangan teoritis, kelembagaan dan hukum positif mengenai Perbankan
Syariah. Namun mengingat Perbankan Syariah bukan merupakan fenomena khas Indonesia serta
perkembangannya tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh dunia luar, maka akan diuraikan terlebih
dahulu mengenai Perkembangan Perbankan Syariah secara umum di luar Indonesiadan secara
Internasional.

Berdasarkan sumber dari Bank Indonesia, pengembangan Perbankan Syariah secara Internasional
dimulai pada tahun 1890, yaitu keberadaan The Barclays Bank yang membuka cabang di Kairo
Mesir dan pertama kali mendapat kritik tentang bunga bank. Pada tahun 1900 -1930 mulai tersebar
adanya pemahaman bahwa bunga bank adalah riba. Pada tahun 1930 -1950, pertama kalinya
Ekonomi Islam memberikan alternatif aktivitas partnership yang sesuai dengan Syariah.

Konsep teoritis mengenai Bank Syariah muncul pertama kali pada tahun 1940-an, dengan gagasan
mengenai Perbankan Syariah yang ditandai dengan banyaknya pemikiran-pemikiran muslim yang
menulis tentang keberadaan Bank Syariah, misalnya: Anwar Qureshi (1946), Naeim Siddiqi (1948)
dan Mahmud Ahmad (1952) . Uraian yang lebih terperinci mengenai gagasan pendahuluan
mengenai Perbankan Islam ditulis oleh ulama besar Pakistan, yakni Abul A’la Al-Mawdudi (1961)
serta Muhammad Hamidullah (1944-1962) . Dalam perkembangan sejarah, pada awal abad ke-20
merupakan masa kebangkitan dunia Islam dari ”ketertidurannya” di tengah pergolakan dunia.
Kondisi ini membawa pada kesadaran baru untuk menerapkan prinsip dan nilai-nilai Syariah
dalam kehidupan nyata. Salah satu upayanya adalah dalam penerapan lembaga keuangan Syariah
yang didasarkan atas prinsip-prinsip Islam. Perintisan penerapan sistim profit and loss sharing,
sebagai inti bisnis lembaga keuangan Syariah, tercatat telah ada sejak tahun 1940-an, yaitu upaya
mengelola dana jemaah haji secara nonkonvensional diPakistan dan Malaysia .

Dilanjutkan pada tahun 1950, Ekonomi Islam mulai menawarkan model teori perbankan dan
keuangan pengganti system bunga berdasarkan konsep two-tier mudharabah.
Secara kelembagaan yang merupakan Bank Islam pertama adalah Islamic Rural Bank yang
didirikan di daerah Myt Ghamr oleh Dr. Ahmed El-Najar yang permodalannya dibantu oleh Raja
Faisal pada tahun 1963 hingga 1967 di Kairo, Mesir, walaupun pada akhirnya operasionalnya
diambil alih oleh National Bank of Egypt dan Central Bank of Egypt . Myt Ghamr Bank dianggap
berhasil memadukan manajemen perbankan Jerman dengan prinsip muamalah Islam dengan
menterjemahkannya dalam produk-produk bank yang sesuai untuk daerah pedesaan yang sebagian
besar orientasinya adalah industri pertanian. Namun karena persoalan politik, pada tahun 1971 di
Mesir berhasil didirikan kembali Bank Islam dengan nama Nasser Social bank, hanya tujuannya
lebih bersifat sosial daripada komersiil.

Secara kolektif gagasan berdirinya Bank Syariah di tingkat Internasional muncul dalam konferensi
negara-negara Islam sedunia di Kuala Lumpur, Malaysia pada bulan April 1969, yang diikuti 19
negara peserta. Konferensi tersebut menghasilkan beberapa hal, yaitu: 1. Tiap keuntungan haruslah
tunduk kepada hukum untung dan rugi, jika tidak ia termasuk riba dan riba itu sedikit atau banyak
haram hukumnya, 2. Diusulkan supaya dibentuk suatu bank Syariah yang bersih dan sistim riba
dalam waktu secepat mungkin dan 3. Sementara waktu menunggu berdirinya bank Syariah, bank-
bank yang menerpapkan bunga diperbolehkan beroperasi, namun jika benar-benar dalam keadaan
darurat.

Pada tahun 1970, mulai bermunculannya bank dan lembaga keuangan syariah lainnya di beberapa
negara muslim serta aktivitas keilmuan dan institusi-institusi strategis seperti Konferensi Ekonomi
Islam. Pada bulan Desember 1970, di Karachi, Pakistan diawali dengan sidang menteri luar negeri
negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI), ketika Mesir mengajukan proposal untuk
mendirikan Bank Syariah Internasional. Setelah melalui tahapan-tahapan tertentu dan persetujuan
negara-negara OKI pada tahun 1975 berdirilah Islamic Development Bank (IDB) yang
beranggotakan 22 (dua puluh dua) negara Islam pendiri. IDB berperan penting dalam memenuhi
kebutuhan dana negara-negara Islam untuk pembangunan dan secara aktif memberi pinjaman
bebas bunga berdasarkan partisipasi modal negara tersebut. IDB juga berperan dalam memotivasi
banyak negara lain untuk mendirikan lembaga keuangan Syariah. Pada akhir periode 1970-an dan
awal dekade 1980-an, lembaga keuangan Syariah bermunculan di Mesir,Sudan, negara-negara
Teluk - Gulf States: negara-negara Arab-,Pakistan, Iran, Malaysia, dan Turki.

Bank Syariah pertama yang bersifat swasta adalah Dubai Islamic Bank, yang didirikan tahun 1975
oleh sekelompok usahawan muslim dari berbagai negara. Menurut Sutan Remy Sjahdeini, dalam
jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak pendirian bank tersebut telah muncul lebih dari 50
(lima puluh) bank yang bebas bunga . Pada tahun 1977 berdiri dua Bank Syariah dengan nama
Faysal Islamic Bank di Mesir dan Sudan. Pada tahun itu pula pemerintah Kuwait mendirikan
Kuwait Finance House.

Secara Internasional, perkembangan perbankan Syariah pertama kali diprakarsai oleh Mesir. Pada
sidang Menteri Luar Negeri Negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Karachi Pakisten
bulan Desember 1970, Mesir mengajukan proposal berupa studi tentang pendirian Bank Syariah
Internasional untuk perdagangan dan pembangunan (Internasional Islamic Bank for Trade and
Development) dan proposal pendirian Federasi Bank Islam (Federation of Islamic Banks). Inti
usulan yang diajukan dalam proposal tersebut adalah bahwa sistim keuangan berdasarkan bunga
harus digantikan dengan suatu sistim kerjasama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun
kerugian.

Proposal tersebut diterima, dan sidang menyetujui rencana pendirian Bank Islam Internasional dan
Federasi Bank Islam. Bahkan sebagai tambahan diusulkan pula pembentukan badan-badan khusus
yang disebut Badan Investasi dan Pembangunan Negara-negara Islam (Investment and
Development Body of Islamic Countries), serta pembentukan perwakilan-perwakilan khusus yaitu
Asosiasi Bank-bank Islam (Association of Islamic Banks) sebagai badan konsultatif masalah-
masalah ekonomi dan perbankan Islam.

Pada sidang Menteri Luar Negeri OKI di Benghazi, Libya bula Maret 1973, usulan sebagaimana
disebutkan di atas kembali diagendakan. Bulan Juli 1973, komite ahli yang mewakili negara-
negara Islam penghasil minyak bertemu di Jeddah untuk membicarakan pendirian Bank Islam.
Rancangan pendirian bank tersebut, berupa anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dibahas
pada pertemuan kedua, bulan Mei 1972. Pada sidang Menteri Keuangan OKI di Jeddah tahun 1975
berhasil disetujui rancangan pendirian Islamic Development Bank (IDB) dengan modal awal 2
(dua) milyar dinar dan beranggotakan semua negara anggota OKI.
Pada tahun 1980, semakin banyak dikembangkan bank, lembaga keuangan syariah dan institusi
pendidikan ekonomi & keuangan Islam di Negara-negara muslim lainnya, seperti Mesir, Sudan,
Negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh dan Turki. Secara garis besar lembaga-
lembaga perbankan Islam yang bermunculan itu dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni
sebagai Bank Islam Komersial (Islamic Commercial Bank), seperti Faysal Islamic Bank (Mesir
dan Sudan), Kuwait Finance House, Dubai Islamic Bank, Jordan Islamic Bank for Finance and
Investmnt Bahrain Islamic Bank dan Islamic International holding companies, seperti Daar Al-
Maal Al-Islami (Geneva), Islamic Investment Company of the Gulf, Islamic Investment Bank
(Manama) dan Islamic Investment House (Amman).

Pada tahun 1990, kebijakan publik mulai mewarnai sistim keuangan Islam yang dimiliki beberapa
Negara muslim (mulai berdirinya Accounting and Auiditing Organization for Islamic Financial
Institution (AAOIFI), dan konferensi ekonomi & keuangan Islam yang mendunia). Perbankan
Syariah terus tumbuh karena nilai-nilainya yang berorientasi pada etika bisnis yang sehat. Dan
konferensi pers yang dilakukan di Singapura pada Agustus 1998 dapat diketahui bahwa lembaga
keuangan Islam mengalami perkembangan yang pesat di dunia. Jumlahnya telah mencapai 200
buah, di antaranya 160 berupa bank, dan sisanya adalah lembaga keuangan non bank.Perbankan
Syariah telah merambah dan diterima bukan saja di negara-negara muslim tetapi juga negara-
negara non muslim. Negara-negara yang sebagian penduduknya bukan muslim telah pula
mengembangkan Perbankan Syariah. Kesempatan pengembangannya di negara non muslim
tersebut ternyata cukup besar. Ketika diadakan Islamic Banking Conference di Toronto, Kanada,
pada tanggal 25 Mei 1995, Don Blankarn, mantan Ketua Special Commite on Banks and Banking
telah mengemukakan: “There is a huge opportunity for Islamic banking and finance inCanada” .

Perkembangan beberapa Bank Syariah di dunia dari tahun ke tahun antara tahun 1973 sampai 1999
dapat ditampilkan dalam tabel berikut.
Perkembangan Bank-Bank Syariah, Perkembangan lainnya terkait dengan Perbankan Syariah yang
terjadi sekitar tahun 2000-2005 adalah diterbitkannya Obligasi Syariah swasta dan pemerintah
yang mulai berkembang dan tumbuh pesat. Berdirinya Infrastructure institutions seperti Islamic
Financial Services Board (IFSB), International Islamic Financial Market (IIFM), International
Islamic Rating Agency (IIRA), (General) Council of Islamic Banks and Financial Institutions
(CIBAFI), and Arbitration and Reconciliation Centre for Islamic Financial Institutions (ARCIFI)
were established .

Berdasarkan informasi dari berbagai observasi diketahui present size of the IFSI (Islamic Financial
Service Institution): 1.Berdasarkan data CIBAFI industri ini meliputi 284 Islamic financial
institutions (IFIs) yang beroperasi di 38 negara dengan volume sebesar USD 178.5 miliar. Jumlah
ini tidak termasuk “conventional banks’ Islamic window operations”, yang estimasinya mencapai
USD 200 miliar.

Data inipun tidak termasuk non-banking financial institutions, Takaful dan aktivitas di pasar
modal, 2. Pasar Modal Islam: a.Berdasarkan data The Islamic Banker, London, diperkirakan lebih
dari 250 lembaga “mutual funds” Syariah yang mengelola sekitar USD 300 miliar assets, b.The
Liquidity Management Centre (LMC) Bahrain menyusun daftar 37 perusahaan and sovereign
Sukuk. Sukuk ini bernilai USD 7.96 miliar dan total international Sukuk USD 12-14
miliar,c.Malaysian domestic Islamic debt certificates sekitar USD 17.1 miliar dan Bahrain worth
USD 2 miliar dan d.Kapitalisasi saham syariah yang sesuai dengan kriteria Dow Jones Islamic
Market Index (DJIMI) sebesar USD 104 miliar pada tahun 2004. dengan asumsi bahwa saham
syariah tersebut hanya 30% dari total kapitalisasi saham syariah di dunia maka diperkirakan total
saham syariah dunia lebih dari USD 300 miliar.

Pada tahun 2005 terdapat 78 perusahaan Takaful yang beroperasi di dunia, dengan asumsi bahwa
pada akhir tahun 2000 total gross premium Takaful senilai USD 530 juta, pertumbuhan rata-rata
per tahun 1995-2000 adalah 63%, maka diperkirakan the present gross premium Takaful mencapai
USD 5 miliar yang mengkover USD 20 miliar assets.
Lembaga keuangan bukan bank (non-banking financial institutions), khususnya pembiayaan real
estate bukan bank (non bank non-bank real estate) financing dan housing mortgages juga tumbuh,
dimana diperkirakan mencapai sekitar USD 9-12 miliar.Berdasarkan data di atas pada akhir tahun
2005 diperkirakan lebih dari 300 institusi keuangan syariah di lebih 65 negara mengelola asset
sekitar USD 700 - 1000 miliar. Berdasarkan data dari Bank Indonesia terdapat pusat-pusat
pengembangan perbankan dan keuangan Syariah Internasional antara lain:a.Timur tengah ïƒ
Bahrain, b.Afrika ïƒ Sudan, c.Asia Tengah ïƒ Iran, Pakistan, d.Asia Tenggara ïƒ Malaysia,
Indonesia, e.Eropa ïƒ Inggris, f.Amerika ïƒ USA.Berikutnya akan dipaparkan beberapa lembaga
keuangan Syariah Internasional sebagai berikut :a.Islamic Development Bank (IDB), b.Islamic
Financial Services Board (IFSB), c.International Islamic Financial Market (IIFM), d.Accounting
and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI).

Perkembangan Bank Syariah di Indonesia, Rintisan praktik Perbankan Syariah di Indonesia


dimulai dengan adanya pendapat dari K.H. Mas Mansur, Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah
periode 1937 – 1944 yang menyebutkan bahwa alasan penggunaan jasa Bank Konvensional adalah
suatu hal yang terpaksa, karena pada waktu itu umat Islam belum mempunyai bank sendiri yang
bebas riba.

Pada pertengahan tahun 1970-an terdapat ide untuk mendirikan Bank Syariah yang kemudian
diwacanakan pada Seminar Nasional Hubungan Indonesia dengan Timur Tengah pada tahun 1974
dan pada tahun 1976 dalam Seminar Internasional yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi Ilmu-
Ilmu Kemasyarakatan (LSIK) dan Yayasan Bhineka Tunggal Ika. Namun ada beberapa alasan
yang menghambat terealisasinya ide tersebut, antara lain: operasi Bank Syariah yang menerapkan
prinsip bagi hasil belum diatur, oleh karena itu tidak sejalan dengan Undang-undang Pokok
Perbankan yang berlaku pada waktu itu adalah Undang-undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang
Perbankan.

Konsep Bank Syariah dari dari segi politis juga dianggap berkonotasi ideologis, merupakan bagian
atau berkaitan dengan konsep Negara Islam, oleh karena itu tidak dikehendaki pemerintah. Pada
saat itu masih dipertanyakan, siapa yang bersedia menaruh modal ventura semacam itu, sementara
pendirian bank baru dari Negara-negara Timur Tengah masih dicegah, antara lain oleh kebijakan
pembatasan bank asing yang ingin membuka kantor cabang di Indonesia .

Pada tahun 1980-an keinginan untuk menerapkan prinsip Syariah dibidang lembaga keuangan di
tanah air dimulai dengan berdirinya lembaga keuangan Baitul Tamwil yang berstatus Badan
Hukum Koperasi. Baitut Tamwil adalah lembaga keuangan dengan prinsip Syariah yang berstatus
Badan Hukum simpan pinjam. Pertama kali didirikan di Bandung dengan nama Baitut-Tamwil
Jasa Keahlian Teknosa pada tanggal 30 Desember 1980 dengan akta perubahan tertanggal 21
Desember 1982. Kedua, di Jakarta didirikan Koperasi Simpan Pinjam Ridho Gusti, yang didirikan
tanggal 25 September 1988.

Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Syariah di Indonesia baru dilakukan tahun 1990.
Pada tanggal 19 - 22 Agustus 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya
bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian
dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasinal IV MUI di Jakarta 22 – 25 Agustus 1990, yang
menghasilkan amanat bagi pembentukan kelompok kerja pendirian Bank Islam di Indonesia.
Kelompok kerja dimaksud disebut Tim Perbankan MUI dengan diberi tugas untuk melakukan
pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak terkait.

Sebagai hasil kerja Tim Perbanakan MUI tersebut adalah berdirinya PT Bank
Muamalat Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendiriannya, berdiri pada tanggal 1 November 1991.
Pada saat itu terkumpul komitmen pembelian saham sebanyak Rp. 84 miliar. Pada tanggal 3
November 1991, pada acara silaturahmi presiden di Istana Bogor, dapat dipenuhi total komitmen
modal disetor awal sebesar Rp. 106.126.382,00. Dana tersebut berasal dari presiden dan wakil
presiden, sepuluh menteri cabinet pembangunan V, juga Yayasan amal Bhakti Muslim Pancasila,
Yayasan Dakab, Supersemar, Dharmais, Purna Bhakti Pertiwi, PT PAL dan PINDAD. SElanjutnya
Yayasan Dana Dakwah Pembangunan ditetapkan sebagai yayasan penopang Bank Syariah.
Berbekal modal awal tersebut, pada tanggal 1 Mei 1992, Bank Muamalat Indonesia (BMI) mulai
beroperasi.

Pada tahun 1992, Indonesia memasuki era dual banking system dengan dimungkinkannya suatu
bank beroperasi dengan prinsip bagi hasil berdasarkan Pasal 13 ayat (c) Undang-undang Nomor 7
Tahun 1992 tntang Perbankan yang menyatakan bahwa salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prisip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan
Prinsip Bagi Hasil (selanjutnya ditulis PP No. 72 Th. 1992) dan diundangkan pada tanggal 30
Oktober 1992 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 119 Tahun 1992., Pasal 6 PP
No. 72 Th. 1992, berisi:
(1) Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat yang kegiatan usahanya semata-mata berdasarkan
prinsip bagi hasil, tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha yang tidak berdasarkan
prinsip bagi hasil,
(2) Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat yang kegiatan usahanya tidak berdasarkan prinsip
bagi hasil, tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha yang berdasarkan pinsip bagi hasil.

Penjabaran mengenai ketentuan di atas diuraikan lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia
Nomor 25/4/BPPP tanggal 29 Februari 1993 yang menyebutkan bahwa: a. Bank berdasarkan
prinsip bagi hasil adalah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat yang dilakukan melalui usaha
semata-mata berdasarkan prinsip bagi hasil, b. Prinsip bagi hasil yang dimaksudkan adalah prinsip
bagi hasil yang berdasarkan Syariah, cBank berdasarkan prinsip bagi hasil wajib memiliki Dewan
Pengawas Syariah (DPS) dan d. Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat yang kegiatan
usahanya semata-mata berdasarkan prinsip bagi hasil hanya diperkenankan melakukan kegiatan
usaha yang berdasarkan prisip bagi hasil.Sebaliknya, Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat
yang melakukan usaha tidak dengan prisip bagi hasil (konvensional), tidak diperkenankan
melakukan usaha berdasarkan prinsip bagi hasil.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia maka perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia, selain
yang telah diuraikan di atas tampak dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain:
1. Dimulainya era dual-system bank, dengan memungkinkan Bank Konvensional membuka unit
usaha Syariah (UU No. 10 Th.1998);
2. Penegasan peranan Bank Indonesia sebagai otoritas pengawasan perbankan Syariah dan dapat
melaksanakan kebijakan moneter berdasarkan prinsip syariah (UU No.23 Th.1999);
3. Diberlakukannya ketentuan kelembagaan bank Syariah yang pertama sesuai dengan
karakteristik operasional bank syariah (Th. 1999);
4. Beroperasinya unit usaha syariah dari bank umum konvensional untuk pertama kali (Th. 1999);
5. Diterapkannya instrumen keuangan Syariah yang pertama yang menandai dimulainya kegiatan
di pasar keuangan antar bank dan kebijakan moneter berdasarkan prinsip Syariah (Th. 2000);
6. Dibentuknya satuan kerja khusus (Biro Perbankan Syariah) di Bank Indonesia yang menangani
pengembangan perbankan Syariah secara komprehensif (Th. 2001);
7. Disusunnya Blueprint Pengembangan Perbankan Syariah (Th. 2002 dan 2005);
8. Disusunnya naskah akademis RUU Perbankan Syariah (Th. 2003);
9. Diberlakukannya ketentuan kehati-hatian yang pertama sesuai dg karakteristik operasional bank
Syariah yaitu kualitas aktiva produktif (KAP) dan penyisihan penghapusan aktiva produktif
(PPAP) bagi bank Syariah (Th. 2003);
10.Dikeluarkannya fatwa bunga bank haram oleh Majelis Ulama Indonesia (Th. 2003);
11.Disusunnya ketentuan persyaratan, tugas dan wewenang DPS (Th. 2004);
12.Diberlakukannya Ketentuan permodalan yang khusus bagi perbankan Syariah yang telah
sesuai dengan standar internasional (IFSB) (Th. 2005);
13.Penjajagan ketentuan jaringan secara lebih efisien dan berhati-hati (Th. 2005);
14.Inisiatif penyusunan “linkage program” sebagai dasar peran bank syariah dalam optimalisasi
voluntary sector (Th. 2005).

Berikut ini akan dipaparkan tentang Blueprint Pengembangan Perbankan Syariah tahun 2002 dan
2005. Pentahapan Pencapaian Sasaran Pengembangan Perbankan Syariah Nasional (Blueprint dari
Bank Indonesia, khususnya pentahapan berdasarkan versi tahun 2005 dapat dilihat bahwa saat ini
memasuki phase ke-2 yaitu memperkuat struktur industri yang akan berakhir pada tahun 2009.
Tahapan berikutnya adalah pemenuhan standar keuangan dan mutu pelayanan Internasional pada
phase ke-3 yang akan dimulai pada tahun 2010-2012. Pada tahun 2013-2015 tahapan menuju
integrasi dengan lembaga keuangan Syariah lainnya.
Phase ke-2 ini merupakan tahapan memperkuat struktur industri perbankan maka berdasarkan pada
Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/3/PBI/2006 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum
Konvensional menjadi Bank Umum yang melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip
Syariah oleh Bank Umum Konvensional, dapat dilihat pada Skema Bank sebagai berikut.

Perkembangan Bank Syariah sejak pertama kali berdiri pada tahun 1992 hingga Maret 2006 dapat
dilihat sebagai berikut : Jaringan Kerja Perbankan Syariah yang berdasarkan ketujuh aspek di atas
maka pembeda yang paling utama antara Bank Konvensional dan Bank Syariah adalah konsep
halal. Hal ini disebabkan adanya sifat transendental dari setiap transaksi dalam setiap aktivitas
muamalah dan Hukum Islam. Disamping perbedaan tersebut perbedaan dalam prinsip
operasionalnya adalah penggunaan sistim bunga dalam operasional Bank Konvensional dan
penggunaan bagi hasil dalam operasional Bank Syariah. Perbedaan sistim bunga dan bagi hasil
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Perbedaaan antara Bank Konvensional dan Bank Syariah Operasionalisasi antara Bank
Konvensional dan Bank Syariahmempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaannya dapat dilihat
dari aspek teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan dan
persyaratan umum pembiayaan. Perbedaannya dapat dilihat dari 7 (tujuh) aspek antara lain: aspek
akad dan aspek legalitasnya, lembaga penyelesaian sengketanya, struktur organisasinya, investasi,
prinsip organisasi, tujuan dan hubungan nasabahnya. Uraian masing-masing akan dijelaskan
melalui tabel di bawah ini.

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah, yang berdasarkan ketujuh aspek di atas maka
pembeda yang paling utama antara Bank Konvensional dan Bank Syariah adalah konsep halal. Hal
ini disebabkan adanya sifat transendental dari setiap transaksi dalam setiap aktivitas muamalah dan
Hukum Islam. Disamping perbedaan tersebut perbedaan dalam prinsip operasionalnya adalah
penggunaan sistim bunga dalam operasional Bank Konvensional dan penggunaan bagi hasil dalam
operasional Bank Syariah. Perbedaan sistim bunga dan bagi hasil.

Dimana pada tahapan penghimpunan dana dan tahapan penyaluran dana. Pada tahapan
pengimpunan dana, hubungan hukum yang terjadi antara shahibul maal yang menitipkan dananya
ke Bank Syariah dan Bank sebagai mudharib yang akan melakukan pengelolaan dana. Pada
tahapan penyaluran dana hubungan hukum yang terjadi antara Bank Syariah sebagai shahibul maal
dan nasabah sebagai mudharib yang akan memanfaatkan dana dari Bank Syariah dimana terdapat
dua hubungan hukum yang terjadi yaitu pada tahapan penghimpunan dana, hubungan hukum yang
terjadi adalah antara deposan (nasabah kreditur) dan bank. Pada tahapan penyaluran dana maka
hubungan hukum yang terjadi adalah bank dan nasabah debitur.Berdasarkan gambar di atas
terdapat kesamaan perikatan yang digunakan dalam hubungan hukum antara Bank dengan
Nasabahnya yaitu dimulai dengan perjanjian atau akad. Terdapat persamaan dan perbedaan antara
perjanjian dan akad. Persamaannya antara lain bahwa di dalam perjanjian maupun akad
mendasarkan pada kesepakatan (consensus) para pihak.

Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil, Islam mengharamkan bunga dan menghalalkan bagi hasil.
Keduanya memberikan keuntungan, tetapi memiliki perbedaan mendasar sebagai akibat adanya
perbedaan antara investasi dan pembuangan uang. Dalam investasi, usaha yang dilakukan
mengandung resiko, dan karenanya mengandung unsur ketidakpastian. Sebaliknya, pembuangan
uang adalah aktivitas yang tidak memiliki risko, karena adanya persentase suku bunga tertentu
yang ditetapkan berdasarkan besarnya modal. Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan uang di
Bank Islam termasuk kategori investasi. Besar kecilnya perolehan kembalian itu tergantung pada
hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai pengelola dana. Dengan
demikian, Bank Islam tidak dapat hanya sekedar menyalurkan uang. Bank Islam harus terus-
menerus berusaha meningkatkan return on investment sehingga lebih menarik dan lebih
memberikan kepercayaan bagi pemilik dana.

Perbedaan antara bunga dan bagi hasil dapat dijelaskan dalam tabel berikut : adalah pada cara
menghitung Bagi Hasil Bank dengan prinsip bagi hasil di dalam menghimpun dananya baik modal
disetor, dana masyarakat maupun pinjaman dari bank lain maupun pihak lain tidak boleh
menyimpang dari prinsip syariah Islam, dengan kata lain di dalam mengelola dana-dana tersebut
harus sesuai dengan ketentuan syariah. Di dalam operasionalnya antara modal bank dengan dana
masyarakat maupun pinjaman pihak lain terjadi kerjasama dalam pendanaan untuk penyaluran
pembiayaan sehingga antara bank dengan kreditur terjadi akad musyarakah. Semua keuntungan
yang diperoleh dari pemanfaatan dana tersebut dibagihasilkan kepada pemilik dana dengan aturan
yang telah disepakati.

Metode Bagi Hasil ada tiga kategori yaitu revenue sharing, profit sharing dan profit loss sharing.
Berikut ini akan dijelaskan perbedaannya masing-masing., 1.Revenue Sharing, yang dibagikan
adalah pendapatan kotor, 2.Profit Sharing, yang dibagikan adalah keuntungan laba/rugi, namun
jika terdapat rugi masih ditanggung bank dan 3.Profit and Loss Sharing, yang dibagikan adalah
keuntungan (jika perusahaan/ bank untung) dan bila mudharib rugi maka shahibul maal ikut
menanggung kerugian.
Didalam menentukan bagi hasil maka variabel penentu bagi hasilnya adalah:
a.Pendapatan/keuntungan bank,
b.Nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank,
c.Rata-rata nominal dana nasabah dan d.Rata-rata Perhimpunan dana bank.

Berikut ini akan dipaparkan contoh perhitungan bagi hasil pada prinsip wadi’ah mudharabah:
Selain yang telah disebutkan di atas maka perbandingan cara menghitung antara bagi hasil dan
bunga dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Contoh di bawah ini diilustrasikan bahwa antara
nasabah Bank Syariah dan bank Konvensional sama-sama menanamkan dananya sebesar
10.000.000,00, untuk jangka waktu 1 bulan. Berdasarkan perhitungan di bawah ini terdapat selisih
tambahan yang diperoleh oleh nasabah dengan selisih sebesar Rp. 11.137,00 (sebelas ribu seratus
tiga puluh rupiah).(Sumber data : Copyright © 2008-2009 Fakultas Ekonomi UMY Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
All Rights Reserved. Powered By IT-Line.Net)

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada
University Press
Ahmed el Najar, 1977, Minhaj al Sahwa al Islamiah, Kairo: Dar Wihdan
Bahtiar Effendy,1998, Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia,Jakarta: Penerbit Paramadina
Karnaen Perwataatmadja dan M. Syafii Antonio, 1992, Apa dan Bagaimana Bank
Islam, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, 6th Ed, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
Muhamad Syafi’i Antonio, 1999, Bank Syari’ah Suatu Pengenalan Umum, Jakarta: Tazkia Institut
Muhammad Syafi’i Antonio. 2001. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik.Jakarta: Gema Insani
Press
Rifyal Ka’bah, 2001,Hukum Islam di Indonesia Perspektif Muhammadiyah dan NU,
Jakarta.Universitas Yaris
Sultan Remy Sjahadeini, 1999, Perbankan Islam, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Taqyuddin An-Nabhani, 2000. Membangun sistim ekonomi alternative Perspektif Islam.
Surabaya.Risalah Gusti.
Umar Syihab, 1996, Hukum Islam dan Tranformasi Pemikiran, Semarang: Bina Utama,
Syamsul Anwar, 2001, “al Massarif al Islamiah wa-al Qanon al Massrifi fi Indonesia , Al –
Jami’ah, Vol. 39
Endang Sih Prapti. Masa Depan Ekonomi Alternatif di Indonesia.Jurnal equilibrium FE UGM
Agustianto.Kerapuhan Kapitalisme, Perspektif Ekonomi Islamwww.pesantrenvirtual.com. Tanggal
akses 1 Januari 2008
Bank Indonesia, 2002, Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia. www.bi.go.id ,
tanggal akses 1 Januari 2008
Bank Indonesia, Oktober 2001.“Perbankan Syari’ah Nasional: Kebijakan dan
Perkembangan”, www.bi.co.id tanggal akses 1 Januari 2008
Bank Indonesia, 2002 . Bagian II Manfaat danTantangan Pengembangan.www.bi.go.id, tanggal
akses 1 Januari 2008
Bank Indonesia.2006.LPPS Perbankan Syariah. www.bi.co.id tanggal akses 1 Januari 2009

Bedjo Santoso. Bank Syariah dan Perkembanganny.www.suaramerdeka.com tanggal akses 1


Januari 2008
Detikfinance. Rasio Kredit Macet Bank Syariah Semester I Naik. Senin, 30/07/2007 tanggal akses
15 Januari 2008
Maman H. Somantri, 2002 “Indonesia Sharia Banking Development”, Seminar On Islamic
Economi Studies, Sahid Hotel: Yogyakarta, 12-13 Oktober
Rachmat Syafe’i, Tinjauan Yuridis terhadap Perbankan Syariah,www.pikiran-rakyat.com, tanggal
akses 1 Januari 2008
Rozaq Asyhari. Konfigurasi Sistim Perbankan Syariah
Malaysiawww.rozaqasyhari.multiply.com tanggal akses 1 Januari 2008
Roza Asyhari. 2007.Sejarah Perkembangan Perbankan
Malaysiawww.rozaqasyhari.multiply.com tanggal akses 1 Januari 2008
——————-, Sejarah hukum perbankan syariah di Indonesiawww.omperi.wikidot.com/ tanggal
akses 1 Januari 2008
Zainul Arifin, Drs. MBA, Perkembangan bank Islam di Indonesia.
www.shariahlife.wordpress.com tanggal akses 16 Januari 2007
www.eramoslem.com, Ekonomi Syariah di Indonesia, Bukan Alternatif tapi Keharusan. tanggal
akses 16 Januari 2008
www.indomedia.com, Obligasi Syariah tanggal akses 1 Januari 2008
Republik Indonesia,UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan
Republik Indonesia, UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
Republik Indonesia, UU No 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara
Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No 32 tentang Obligasi
Syariah
Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No 33 tentang Obligasi
Syariah Mudharabah
Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) No 41 tentang Obligasi
Syariah Ijarah Q.S. al-Baqarah : 278-279
Endang Sih Prapti. Masa Depan Ekonomi Alternatif di Indonesia. Jurnal equilibrium FE UGM
Taqyuddin An-Nabhani, 2000. Membangun sistim ekonomi alternative Perspektif Islam. Risalah
Gusti.Surabaya.
Agustianto.Kerapuhan Kapitalisme, Perspektif Ekonomi Islamwww.pesantrenvirtual.com. Tanggal
akses 1 Januari 2008
Karnaen Perwataatmadja dan M. Syafii Antonio, 1992, Apa dan Bagaimana Bank Islam,
Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf. Sultan Remy Sjahadeini, 1999, Perbankan
Islam, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Ahmed el Najar, 1977, Minhaj al Sahwa al Islamiah, Kairo: Dar Wihdan.


Zainul Arifin, Drs. MBA, Perkembangan bank Islam di Indonesia.
http://shariahlife.wordpress.com tanggal akses 16 Januari 2007
Ekonomi Syariah di Indonesia, Bukan Alternatif tapi Keharusan.www.eramoslem.com tanggal
akses 16 Januari 2008,Lihat Q.S. al-Baqarah : 278-279
Bahtiar Effendy,1998, Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia, Jakarta: Penerbit Paramadina.
Umar Syihab, 1996, Hukum Islam dan Tranformasi Pemikiran, Semarang: Bina Utama, hal. 1270
Rifyal Ka’bah, 2001,Hukum Islam di Indonesia Perspektif Muhammadiyah dan NU,
Jakarta.Universitas Yaris.
Muhamad Syafi’i Antonio, 1999, Bank Syari’ah Suatu Pengenalan Umum,Jakarta: Tazkia Institut.
Peri Umar Farouk.
Sejarah hukum perbankan syariah di Indonesiawww.omperi.wikidot.com/ tanggal akses 1 Januari
2008
Bedjo Santoso. Bank Syariah dan Perkembanganny.www.suaramerdeka.com tanggal akses 1
Januari 2008
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, 6th Ed, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
Detikfinance. Rasio Kredit Macet Bank Syariah Semester I Naik. Senin, 30/07/2007 tanggal akses
15 Januari 2008
UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, lihat juga Muhammad Syafi’i Antonio. 2001. Bank
Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press
Bisa dilihat.Sambutan Menteri Keuangan dengan disetujuinya rancangan UU tentang Perubahan
UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, dalam UU Perbankan ,1999. cet. 2, Jakarta:
Sinar Grafika.
Bank Indonesia, 2002, Cetak Biru Pengembangan Perbankan SyariahIndonesia. www.bi.go.id ,
tanggal akses 1 Januari 2008
Rachmat Syafe’i, Tinjauan Yuridis terhadap Perbankan Syariah, www.pikiran-rakyat.com, tanggal
akses 1 Januari 2008
Syamsul Anwar, 2001, “al Massarif al Islamiah wa-al Qanon al Massrifi fi Indonesia” , Al –
Jami’ah, Vol. 39, hal.485
Bank Indonesia, 2002 . Bagian II Manfaat danTantangan Pengembangan.www.bi.go.id, tanggal
akses 1 Januari 2009
www.indomedia.com, Obligasi Syariah tanggal akses 1 Januari 2008
Muhamad Syafii Antonio, 2001. Op.cit
Maman H. Somantri, 2002 “Indonesia Sharia Banking Development”, Seminar On Islamic
Economi Studies, Sahid Hotel: Yogyakarta, 12-13 Oktober.