Anda di halaman 1dari 11

DESKRIPSI TANAMAN STRAWBERRY

Gambar Jenis Bentuk Strawberry

1. Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Fragaria
Spesies : Fragaria spp.
Gambar Jenis Varietas Strawberry

1
2. Morfologi Tanaman

Stroberi atau tepatnya stroberi kebun (juga dikenal dengan nama arbei, dari
bahasa Belanda aardbei) adalah sebuah varietas stroberi yang paling banyak dikenal
di dunia. Seperti spesies lain dalam genus Fragaria (stroberi), buah ini berada dalam
keluarga Rosaceae. Secara umum buah ini bukanlah buah, melainkan buah palsu,
artinya daging buahnya tidak berasal dari ovari tanaman (achenium) tapi dari bagian
bawah hypanthium yang berbentuk mangkok tempat ovari tanaman itu berada.

Buah stroberi berwarna hijau keputihan ketika sedang berkembang, dan pada
kebanyakan spesies berubah menjadi merah ketika masak. Namanya berasal dari
bahasa Inggris kuno streawberige yang merupakan gabungan dari streaw atau "straw"
dan berige atau "berry". Alasan pemberian nama ini masih tidak jelas. Beberapa
spesies Lepidoptera mengambil sumber makanannya dari tumbuhan stroberi,
menjadikan spesies ini hama utama tanaman stroberi.

2.1 Syarat tumbuh

2.1.1 Iklim

Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah


hujan 600-700 mm/tahun. Lamanya penyinaran cahaya matahari yang
dibutuhkan dalam pertumbuhan adalah 8–10 jam setiap harinya. Stroberi
adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi
tropis yang memiliki temperatur 17–20 derajat C. Kelembaban udara yang
baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-90%.

2.1.2 Media Tanam

Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat


berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan
udara baik. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya
2
stroberi di kebun adalah 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–
7,0. Jika ditanam dikebun maka kedalaman air tanah yang disyaratkan adalah
50-100 cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus
memiliki sifat poros, mudah merembeskan airdan unsur hara selalu tersedia.

2.1.3 Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-


1.500 meter dpl.

2.2 Persebaran

Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan


pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu
Fragaria chiloensis L menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia.
Selanjutnya spesies lain, yaitu F. vesca L. lebih menyebar luas dibandingkan
spesies lainnya. Stroberi yang kita temukan di pasar swalayan adalah hibrida
yang dihasilkan dari persilangan F. virgiana L. var Duchesne asal Amerika
Utara dengan F. chiloensis L. var Duchesne asal Chili.

Persilangan itu menghasilkan hibrid yang merupakan stroberi modern


(komersil) Fragaria x annanassa var Duchesne. Varitas stroberi introduksi
yang dapat ditanam di Indonesia adalah Osogrande, Pajero, Selva, Ostara,
Tenira, Robunda, Bogota, Elvira, Grella dan Red Gantlet. Di Cianjur ditanam
varitas Hokowaze asal Jepang yang cepat berbuah. Petani Lembang (Bandung)
yang sejak lama menanam stroberi, menggunakan varitas lokal Benggala dan
Nenas yang cocok untuk membuat makanan olahan dari stroberi seperti selai.

Dapat dikatakan bahwa budidaya stroberi belum banyak dikenal dan


diminati. Karena memerlukan temperatur rendah, budidaya di Indonesia harus
dilakukan di dataran tinggi. Lembang dan Cianjur (Jawa Barat) adalah daerah
sentra pertanian di mana petani sudah mulai banyak membudidayakan
stroberi. Dapat dikatakan bahwa untuk saat ini, kedua wilayah tersebut adalah
sentra penanaman stroberi.

3
3. Budidaya

3.1 Persiapan Lahan

• Pengolahan Lahan

Sebelum lahan dibajak digenangi air lebih dahulu semalam. Keesokan harinya
dilakukan pembajakan sedalam sekitar 30 cm, setelah itu tanah dilakukan
pengeringan baru dihaluskan.

• Pembentukan Bedengan

Bentuk bedengan dengan ukuran lebar 80-120 cm, tinggi 30 - 40 cm, jarak antar
bedengan 60 cm, panjang menyesuaikan keadaan lahan.

• Pengapuran
Berikan dolomit sekitar 100-200 kg per 1000 m2 sesuai kondisi lahan.

• Pemupukan Dasar

Taburkan pupuk UREA 20 kg + TSP 25 kg + KCl 10 kg dan Pupuk kandang 2-3


ton dalam 1000 m2. POC NASA disiramkan 30-60 tutup/1000 m2 ditambahkan
air secukupnya. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, POC NASA diganti
SUPERNASA caranya yaitu 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter
sebagai larutan induk, kemudian ambil 50 liter air dan tambahkan 200 cc larutan
induk tadi.Setelah itu siramkan ke bedengan secara merata. 1 botol SUPERNASA
bisa untuk 1000-2000 m2.
4
• Pemberian Natural GLIO

Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur utamanya penyakit layu


tebarkan Natural GLIO yang telah dicampur dengan pupuk kandang dan
didiamkan selama seminggu. 1 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-30 kg
pupuk kandang untuk luasan sekitar 1000 m2.

• Pemasangan Mulsa

Pemasangan mulsa plastik pada saat matahari terik agar mulsa dapat memuai
sehingga dapat tepat menutup bedengan dengan tepat.

• Pembuatan Lubang Tanam

Diameter lubang ± 10 cm, dengan jarak lubang 30 - 50 cm. Model penanaman


dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segi empat.

3.2 Pembibitan

Stroberi diperbanyak dengan biji dan bibit vegetatif (anakan dan stolon atau akar
sulur). Adapun kebutuhan bibit per hektar antara 40.000-83.350.

3.2.1 Perbanyakan dengan biji

Benih dibeli dari toko pertanian, rendam benih di dalam air selama 15
menit lalu keringanginkan. Kotak persemaian berupa kotak kayu atau plastik, diisi
dengan media berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (kompos) halus
yang bersih (1:1:1). Benih disemaikan merata di atas media dan tutup dengan
tanah tipis. Kotak semai ditutup dengan plastik atau kaca bening dan disimpan
pada temperature 18-20 derajat C. Persemaian disiram setiap hari, setelah bibit
berdaun dua helai siap dipindah tanam ke bedeng sapih dengan jarak antar bibit 2-
3 cm. Media tanam bedeng sapih sama dengan media persemaian. Bedengan
dinaungi dengan plastik bening. Selama di dalam bedengan, bibit diberi pupuk

5
daun. Setelah berukuran 10 cm dan tanaman telah merumpun, bibit dipindahkan
ke kebun.

3.2.2 Bibit vegetatif untuk budidaya stroberi di kebun

Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif.
Penyiapan bibit anakan dan stolon adalah sebagai berikut:

 Bibit anakan

Rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa


bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan. Setiap anakan ditanam dalam
polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang halis
(1:1:1), simpan di bedeng persemaian beratap plastic.

 Bibit stolon

Rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua. Kedua akar
sulur ini dipotong. Bibit ditanam di dalam atau polibag 18 x 15 cm berisi
campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Setelah tingginya 10 cm dan
berdaun rimbun, bibit siap dipindahkan ke kebun.

 Bibit untuk budidaya stroberi di polibag

Pembibitan dari benih atau anakan/stolon dilakukan dengan cara yang sama,
tetapi media tanam berupa campuran gabah padi dan pupuk kandang (2:1).
Setelah bibit di persemaian berdaun dua atau bibit dari anakan/stolon di polibag
kecil (18 x15) siap pindah, bibit dipindahkan ke polibag besar ukuran 30 x 20
cm berisi media yang sama. Di polibag ini bibit dipelihara sampai
menghasilkan.

6
3.3 Penanaman

Pindahkan bibit beserta medianya, sebaiknya bibit dikondisikan selama


sebulan sebelum tanam di kebun,dan saat penanaman usahakan perakaran tidak rusak
saat membuka polibag.

3.4 Perawatan

• Penyulaman
Penyulaman paling lambat 15-30 hari setelah tanam, pada sore hari dan segera
disiram.

• Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada gulma/ rumput liar yang menyaingi kehidupan
tanaman

• Pemangkasan
Dilakukan pada sulur yang kurang produktif, rimbun, serta pada bunga pertama
untuk memperoleh buah yang prima.

• Pemupukan Susulan

Pupuk diberikan pada umur 1,5 - 2 bulan setelah tanam dengan NPK (16-16-
16) sebanyak 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air, kemudian dikocorkan
sebanyak 350-500 cc/ tanaman.

• Penggunaan POC NASA + HORMONIK

Semprotkan (3-4 tutup POC NASA) + (1-2 tutup HORMONIK) per-tangki 14


liter setelah 2 bulan dengan interval 7-10 hari sekali.

3.5 Pengendalian Hama dan Penyakit

7
3.5.1 Hama

a. Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii)

Bagian yang diserang : permukaan daun bagian bawah, kuncup bunga,


pucuk atau batang muda. Gejala : pucuk atau daun keriput, keriting, kadang-
kadang pembentukan daun atau buah terhambat. Pencegahan gunakan
PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR.

b. TUNGAU (Tetranychus sp -Tarsonemus sp)

Bagian yang diserang: daun,tangkai, dan buah. Gejala :daun bercak


kuning, coklat, keriting akhirnya daun rontok. Pencegahan PENTANA +
AERO 810 atau NATURAL BVR.

c. Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi)

Kumbang penggerek akar (Othiorhychus rugosostriatus), kumbang


penggerek batang (O. Sulcatus)Gejala serangan : adanya bubuk berupa tepung
pada bagian yang digereknya. Pencegahan semprotkan PESTONA atau
PENTANA + AERO 810 secara bergantian.

3.5.2 PENYAKIT

a. Layu verticillium (Verticillium dahliae)

Bagian yang diserang: mulai dari akar, daun, hingga tanaman. Gejala :
daun yang terinfeksi mula-mula berwarna kuning hingga kecoklatan, serangan
berat akan mengakibatkan kematian pada tanaman. Pengendalian : perbaikan
drainase, sanitasi kebun, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.

8
b. Busuk buah matang/Ripe Fruit Rot (Colletotrichum fragariae Brook) &
Busuk Rhizopus/ Rhizopus spot ( Rhizopus stolonifer )

Bagian yang diserang : buah. Gejala : RFR yang khas hanya pada buah
yang masak saja dengan buah busuk disertai massa spora berwarna merah
jambu. Pada RS, buah busuk lunak, berair, bila dipijit keluar cairan keruh.
Pengendalian : musnahkan buah yang terinfeksi, perbaiki drainase kebun,
pemulsaan, rotasi tanaman, gunakan Natural GLIO pada awal penanaman
yang dicampur dengan pupuk kandang yang telah jadi.

c. Busuk akar ( Idriella lunata, Pythium ulmatum, Rhizoctonia solani)

Bagian yang diserang : akar tanaman. Gejala : Idriella menyebabkan


ujung-ujung akar tanaman berwarna hitam dan busuk, sedangkanPhytium
mengakibatkan batang batas akar di permukaan tanah busuk berwarna coklat
hingga hitam. Sementara jamur Rhizoctonia mengakibatkan sistem perakaran
busuk kebasah-basahan. Pengendalian : cabut dan musnahkan tanaman yang
terserang berat, tambahkan kapur untuk tanah, lakukan rotasi tanaman,
perbaikan drainase tanaman, berikan Natural GLIO pada awal penanaman.

d. Empulur merah (Phytophtora fragrariae)

Bagian yang diserang : perakaran tanaman. Gejala : tanaman kerdil,


daun tudak segar bahkan dapat layu, bila diamati akar dan pangkal batang
yang terinfeksi pada empulurnya akan tampak berwarna merah.Penyakit ini
mengakibatkan serangan hebat pada kondisi drainase jelek dan masam/pH
rendah.
Pengendalian : perbaiki drainase, pengapuran tanah, rotasi tanaman, gunakan
bibit yang sehat dan hindari luka mekanis pada pemeliharaan, musnahkan
tanaman yang terinfeksi berat, campurkan Natural GLIO pada awal
penanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum
9
mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang
dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air
hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol
per tangki

3.6 Pemanenan

Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbunga ketika berumur 2 bulan
setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4
bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan
pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti.

3.6.1 Ciri dan Umur Panen

1) Buah sudah agak kenyal dan agak empuk.


2) Kulit buah didominasi warna merah: hijau kemerahan hingga kuning
kemerahan.
3) Buah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal
pembentukan buah.

3.6.2 Cara Panen


Panen dilakukan dengan menggunting bagian tangkai bunga dengan
kelopaknya. Panen dilakukan dua kali seminggu.

3.7 Pascapanen

3.7.1 Pengumpulan

10
Buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar,
simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil.
Hamparkan buah di atas lantai beralas terpal/plastik. Cuci buah dengan air
mengalir dan tiriskan di atas rak-rak penyimpanan.

3.7.2 Penyortiran dan Penggolongan

Pisahkan buah yang rusak dari buah yang baik. Penyortiran buah
berdasarkan pada varietas, warna, ukuran dan bentuk buah. Terdapat 3 kelas
kualitas buah yaitu :
a) Kelas Ekstra: (1) buah berukuran 20-30 mm atau tergantung spesies; (2) warna
dan kematangan buah seragam.

b) Kelas I: (1) buah berukuran 15-25 mm atau tergantung spesies; (2) bentuk dan
warna buah bervariasi.
c) Kelas II: (1) tidak ada batasan ukuran buah; (2) sisa seleksi kelas ekstra dan
kelas I yang masih dalam keadaan baik.

3.7.3 Pengemasan dan Penyimpanan

Buah dikemas di dalam wadah plastik transparan atau putih kapasitas


0,25-0,5 kg dan ditutup dengan plastik lembar polietilen. Penyimpanan dilakukan
di rak dalam lemari pendingin 0-1 derajat C.

11