Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Natur Indonesia 5(2): 157-161 (2003)

ISSN 1410-9379 Kekuatan batang baja dengan metode LRFD dan ASD 157

Analisis Kekuatan Nominal Balok Lentur Baja dengan


Metode Desain Faktor Beban dan Tahanan (LRFD)
dan Metode Desain Tegangan Ijin (ASD)
Reni Suryanita, Alfian Kamaldi

Jurusan Teknik Sipil, FT, Universitas Riau

Diterima 07-08-2002 Disetujui 25-10-2002

ABSTRACT
Structure should has capability due to the possibility of over load or lost of strength. To cover this case, structural
element was designed using the load factor and resistant and the probability concept as well, or Load and Resistant
Factor Design Method (LRFD Method)”, to obtain a rational and economical design. This paper was studying
strength and resistance of steel beams due to flexural load with general equation of load factor and resistant
design. The nominal strength of the steel beam should has greater or equal sum of factor and resistant design.
Designing of steel beam consist of three beams with Grade A-36 based on American Institute of Steel Construction
Standard (AISC). The result shows beam 1 has a section area of profile was 37.4 in2, beam 2 has a section area of
profile was 25.6 in2, and beam 3 has a section area of profile 37.4 in2. It can be concluded that LRFD method more
rational and economic since it gives less section area of profile than Allowable Stress Design (ASD Method).

Keywords: ASD method, factor of load, LRFD method, nominal strength.

PENDAHULUAN desain masih dilakukan dengan desain tegangan ijin,


Batang-batang struktur baik kolom maupun balok Allowable Stress Design (metode ASD). Metode ASD
harus memiliki kekuatan, kekakuan dan ketahanan menitik beratkan pada beban layanan (beban kerja)
yang cukup sehingga dapat berfungsi selama umur dan tegangan yang dihitung secara elastik dengan
layanan struktur tersebut. Dalam mendesain batang cara membandingkan tegangan terhadap harga batas
tarik yaitu balok baja harus memberikan keamanan yang diijinkan (Salmon et al, 1992).
dan menyediakan cadangan kekuatan yang Rasionalitas metode LRFD selalu menarik
diperlukan untuk menanggung beban layanan, yakni perhatian, dan menjadi suatu perangsang yang
balok harus memiliki kemampuan terhadap menjanjikan penggunaan bahan yang lebih ekonomis
kemungkinan kelebihan beban (overload) atau dan lebih baik untuk beberapa kombinasi beban dan
kekurangan kekuatan (understrength). Kelebihan konfigurasi struktural. Metode LRFD juga cenderung
beban dapat terjadi akibat perubahan fungsi balok, memberikan struktur yang lebih aman bila
terlalu rendahnya taksiran atas efek-efek beban dibandingkan dengan metode ASD dalam
karena penyederhanaan yang berlebihan dalam mengkombinasikan beban-beban hidup dan beban
analisis strukturalnya, dan akibat variasi-variasi dalam mati (Beedle 1986). Meskipun metode LRFD mampu
prosedur konstruksinya. menggusur kedudukan metode ASD, namun para
Dewasa ini perkembangan dan desain struktur desainer perlu memahami filosofi desain kedua
baja telah bergeser menuju prosedur desain yang metode tersebut, karena banyak struktur akan tetap
lebih rasional dan berdasarkan konsep probabilitas. didesain dengan metode ASD ataupun untuk
Konsep desain ini pertama kali diadopsi oleh mengevaluasi struktur-struktur yang didesain dimasa
American Institute of Steel Construction (AISC). lalu. Untuk itu Heger (1980) telah memberikan
Desain ini memberikan keamanan struktur yang sejumlah pemikiran mengenai kesulitan-kesulitan
menjamin penghematan secara menyeluruh dengan untuk menjembatani jurang, antara teori statistik dan
memperhatikan variabel-variabel desain yaitu faktor probabilitas dengan dunia nyata dari struktur
beban dan ketahanan struktur, dengan menggunakan sebenarnya.
kriteria desain secara probabilistik (AISC 1986a). Pengembangan kriteria-kriteria beban
Metode ini dikenal dengan desain Faktor Beban dan berdasarkan probabilitas telah dikembang oleh
Tahanan (Load and Resistence Factor Design) atau Galambos et al, (1982) untuk mendapatkan
metode LRFD, namun di Indonesia kebanyakan kombinasi-kombinasi beban terfaktor menurut standar
158 Jurnal Natur Indonesia 5(2): 157-161(2003) Suryanita, et al.

ANSI, dengan kombinasi-kombinasi sebagai berikut dimana M merupakan momen yang bekerja dan fb
(Anonim 1986a): merupakan tegangan kerja yang diperoleh dari 2/3
1,4 D tegangan leleh, fy (Anonim 1986a).
1,2 D + 1,6 L + 0,5 (Lr atau S atau R) Penampang bersifat elastis pada saat momen
1,2 D + 1,6(Lr atau S atau R) + (0,5L atau 0,8 W) lentur dalam rentang beban layanan, seperti terlihat
1,2 D +1,3 W + 0,5 L + 0,5 (Lr atau S atau R) dalam Gambar 1a. Kondisi elastis akan terjadi sampai
1,2 D + 1,5 E + (0,5L atau 0,2 S) tegangan pada serat terluar mencapai tegangan leleh,
0,9D - (1,3W atau 1,5E) Fy, dan kekuatan nominalnya, Mn, merupakan momen
dimana D merupakan beban mati, L merupakan beban leleh, My, seperti pada Gambar 1b, dan dihitung
hidup, Lr adalah beban hidup atap, W merupakan sebagai
beban angin, S merupakan beban salju, E merupakan Mn = My = SxFy
beban gempa dan R adalah beban air hujan atau dengan Sx = Ix / cy
beban es. S merupakan modulus penampang, yang
Untuk memudahkan desain struktur rangka dan didefinisikan sebagai momen inersia I dibagi dengan
portal berdasarkan LRFD, telah dikembangkan pula jarak c dari pusat berat ke serat terluar. Subskrip x
program mikrocomputer berdasarkan bahasa program dan y menunjukan momen inersia dan jarak c dihitung
QuickBASIC yang dapat dioperasikan dengan mudah terhadap sumbu x atau terhadap sumbu y.
pada setiap komputer (Brian et al, 1991). Bila serat memiliki regangan, ε, yang sama atau
Berdasarkan uraian Beedle (1986) di atas lebih besar dari regangan leleh, εy = Fy/Es, yang
tentang kelebihan LRFD maka tulisan ini bertujuan berada dalam rentang plastis, maka kekuatan momen
untuk mendapatkan hasil desain balok baja yang lebih nominal merupakan momen plastis, Mp, dan dihitung
ekonomis dengan cara menganalisis dan sebagai,
membandingkan rumus-rumus desain yang Mp = Fy ∫ y dA = FyZ
A
digunakan dalam metode LRFD dan metode ASD. dengan Z = ∫ y dA merupakan modulus plastik (Salmon
Untuk membatasi permasalahan desain hanya et al, 1992).
dilakukan terhadap balok baja yang mengalami Faktor bentuk, ξ merupakan perbandingan
beban lentur. momen plastis dan momen leleh, yang merupakan
METODE sifat bentuk penampang melintang dan tidak
Persyaratan kekuatan lentur ultimit, Mu, untuk tergantung dari sifat materialnya, sehingga:
balok pada desain faktor beban dan tahanan (metode p M Z
ξ= M =S
LRFD) dinyatakan sebagai, y

φb Mn ≥ Mu Persyaratan kekuatan lentur ultimit, Mu,, untuk


dengan φb merupakan faktor tahanan untuk lentur balok pada desain faktor beban dan tahanan,
yaitu 0,90 dan Mn merupakan momen nominalnya dinyatakan sebagai,
(AISC, 1986). Sedangkan untuk metode ASD, φb Mn ≥ Mu
modulus penampang, Sx dinyatakan sebagai
dengan φb merupakan faktor tahanan untuk lentur
M
Sx ≥ fb
yaitu 0,90 (Anonim 1986b).

f < Fy f = Fy f = Fy f = Fy

Plastis

x x
Elastis
Sepenuhnya
Plastis plastis

M < My M = My My < M< Mp M = Mp

(a) (b) (c) (d)

Gambar 1. Distribusi tegangan pada berbagai tahap pembebanan lentur.


Kekuatan batang baja dengan metode LRFD dan ASD 159

Kekuatan lentur nominal, Mn ditentukan oleh Tahap IV, periksa batas penampang kompak, λp
AISC untuk masing-masing keadaan batas untuk sayap profil:
kelangsingan, yaitu 1) penampang kompak, untuk λ bf
λflens =
≤ λp, 2) penampang non kompak, untuk λp < λ ≤ λr, 2tf
3) penampang langsing, untuk λ > λr. λflens < λp
Pada penampang kompak yang secara lateral Penampang kompak, profil aman digunakan.
stabil, kekuatan nominal sama dengan kekuatan Tahap V, periksa batas penampang kompak, λp
momen plastis yaitu untuk badan profil:
Mn = M p hc
λbadan = tw
dimana Mp merupakan kekuatan momen plastik.
λbadan λp
Desain harus memperhitungkan tekuk lokal ≤
sayap tekan atau tekuk lokal badan yang dapat terjadi Penampang kompak, profil aman digunakan.
sebelum mencapai regangan tekan untuk Sedangkan dengan menggunakan metode ASD,
menimbulkan momen plastis, Mp. Untuk penampang tahap I yaitu mengasumsikan penampang kompak
non kompak yang secara lateral stabil, rasio untuk balok dengan tegangan izin Fb = 0.66 Fy. Tahap
kelangsingan (lebar/tebal) λ, berada di antara batas II, menghitung beban momen yang bekerja:
kelangsingan λr dan batas kelangsingan λp maka M=D+L+E
Tahap III, menghitung modulus penampang balok
harga kekuatan nominal, M n harus diinterpolasi
yang bekerja:
secara linear antara Mp dan Mr (Salmon et al, 1992)
M
yaitu (λ − λ p ) Sx ≥
Mn = Mp - (Mp - Mr) (λ − λ ) ≤ Mp fb
r p
Tahap IV, pilih penampang teringan berdasarkan
Pada penampang langsing, rasio kelangsingan
tabel LRFD. Tahap V, periksa batas kompak (λp), dan
(lebar/tebal), λ melampaui batas λr, kekuatan nominal
tegangan lentur, jika:
dinyatakan sebagai
Mn = Mcr = SFcr bf
λflens =
Bila λ sama dengan λr, dengan serat terluar berada 2tf
pada tegangan leleh maka kekuatan momen nominal λflens < λp
yang tersedia, maka penampang kompak, profil aman digunakan.
Mn = Mr = (Fy - Fr) S Jika:
dengan M r merupakan momen sisa yang d
λbadan = t
menyebabkan tegangan serat terluarnya meningkat w

dari harga tegangan sisa, Fr sampai tegangan leleh, λbadan < λp


Fy bila tidak ada beban luar yang bekerja. maka penampang kompak, profil aman digunakan
Tahap-tahap desain akan dilakukan dengan Periksa tegangan lentur,
membandingkan cara metode LRFD dan metode M
ASD. Pada metode LRFD, tahap I dimulai dengan Fb = S
menghitung beban terfaktor Mu maksimum untuk sehingga profil aman digunakan.
balok berdasarkan kombinasi pembebanan dalam
Anonim 1986a yaitu HASIL DAN PEMBAHASAN
Mu = 1.2D + 0.5L + 1.5E Pada dasarnya perhitungan desain dan analisis
dimana D merupakan beban mati, L merupakan baja berdasarkan spesifikasi LRFD-AISC
beban hidup dan E merupakan beban gempa. menggunakan sistem satuan inch-pound. Satuan ini
Tahap II, asumsikan penampang balok adalah dapat dikonversikan dengan satuan yang digunakan
penampang kompak, maka kekuatan desain sebagai di Indonesia. Penampang yang digunakan merupakan
berikut: penampang standar AISC dengan mutu baja A-36,
φb Mn = φb Mp =φb Zx Fy dengan tegangan leleh baja, Fy = 36 ksi (248.22 N/
dengan persyaratan desain φb Mn ≥ Mu mm2), tegangan tarik baja dasar, Fu = 58 ksi (399.91
Tahap III, pilih profil pada tabel LRFD (Anonim N/mm 2) dan modulus elastisitas, E = 29500 ksi
1986a) berdasarkan nilai Zx. (203402.5 N/mm2).
160 Jurnal Natur Indonesia 5(2): 157-161(2003) Suryanita, et al.

Tabel 1. Data Momen lentur maksimum yang dipikul balok baja.


Akibat BALOK 1 BALOK 2 BALOK 3
Beban KN.m Kips-Ft KN.m Kips-Ft KN.m Kips-Ft
B. Hidup (L) 153.09 112.9 199.49 147.12 96.25 70.98
B. Mati (D) 198.48 146.37 47.77 35.23 27.58 20.34
B. Gempa (E) 221.91 163.65 196.70 145.06 40.08 29.56

Batas kelangsingan penampang kompak untuk sayap Profil W 12x120 dapat digunakan untuk balok 1. Untuk
profil (Anonim 1986b). cara yang sama dapat dilakukan pada balok 2 dan
65 65 balok 3 sehingga didapatkan profil W 12x87 untuk
λp = = = 10.83
Fy 36 balok 2 dan profil W 12x30 untuk balok 3.
Batas kelangsingan penampang kompak untuk badan Sedangkan bila menggunakan metode ASD,
profil (Anonim 1986b). maka pada tahap I, asumsi penampang kompak untuk
640
= 107 balok 1dengan tegangan izin:
λp = Fy Fb = 0.66 Fy, maka Fb = 0.66 (36) = 23.8 24 ksi ≈
Data beban yang dipikul balok baja berupa momen (165.48 N/mm2)
lentur akibat beban hidup, beban mati dan beban Tahap II, menghitung beban momen yang
gempa dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. bekerja,
Tahap awal desain dengan metode LRFD, M = 112.9 + 146.37 + 163.65 = 422.92 kips-ft
dimulai dengan menghitung beban terfaktor Mu M 422.92(12)
Sx ≥ = = 211.46 in3
maksimum untuk balok 1 berdasarkan kombinasi fb 24
pembebanan (Anonim 1986b), yaitu: Tahap IV, pilih penampang teringan yang memiliki
Mu = 1.2D + 0.5L + 1.5E Sx ≥ 211.46 inch3,
Mu = 1.2 x 146.37 + 0.5 x 112.9 + 1.5 x 163.65 Coba W (sesuai desain LRFD
12x120
= 477.569 kips-ft sebelumnya), dengan S = 163 inch3
x
Tahap II, asumsikan penampang kompak, kekuatan Ternyata profil W tidak memenuhi syarat.
12x120
desain sebagai berikut: Coba W12x170 Sx = 235 inch3
φb Mn = φb Mp =φb Zx Fy bf = 12.570 inch
dengan persyaratan desain φb Mn ≥ Mu tf = 1.560 inch
maka, d = 14.03 inch
tw = 0.960 inch
Zx ≥ Mu.12 = 477.569x12 = 176.8774 in3
φbFy 0.9x36 A = 50.0 inch2
Tahap III, pilih profil pada tabel LRFD (Anonim 1986a) Tahap V, periksa batas kompak (λp), dan tegangan
berdasarkan nilai Zx. lentur,
Coba : W12x120Zx =186 inch3 bf 12.570
bf = 12.320 inch λflens = 2t = 2(1.560) = 4.0 < λp = 10.8
f
tf = 1.105 inch
d 14.03
A = 35.3 inch2 λbadan = t = 0.960 = 14.615 < λp = 107
w
Tahap IV, periksa batas penampang kompak λp = penampang kompak.
10.83, untuk sayap profil: Periksa tegangan lentur,
bf 8.295
λflens = =
2tf 2x0.74
= 5.60
Fb =
M 422 .92(12)
= = 21.596 < 24ksi
S 235
λflens < λp profil aman digunakan.
Penampang kompak, profil aman digunakan. Profil W12x170 dapat digunakan untuk balok 1. Untuk
Tahap V, periksa batas penampang kompak λp = 107, cara yang sama dapat dilakukan pada balok 2 dan
untuk badan profil: balok 3, sehingga didapat profil W12x136 untuk balok
hc 2 dan profil W12x50 untuk balok 3. Hasil perhitungan
λbadan = λbadan
tw
= 13.7,
≤ λp, balok dengan metode LRFD dan metode ASD dapat
penampang kompak, dan profil aman digunakan. dilihat pada Tabel 2 berikut.
Kekuatan batang baja dengan metode LRFD dan ASD 161

Tabel 2. Perbandingan hasil desain profil metode LRFD dan metode ASD.
METODE LRFD METODE ASD
ELEMEN LUAS (Ag) LUAS (Ag)
2 2 2 2
PROFIL Inch mm PROFIL Inch mm
Balok 1 W12x120 35.3 896.62 W12x170 50.0 1270

Balok 2 W12x87 25.6 650.24 W12x136 39.9 1013.46

Balok 3 W12x30 8.79 223.27 W12x50 14.7 373.38

Dari Tabel 2 di atas dapat dilihat desain dengan Dari hasil studi kasus, dapat diamati secara umum
metode LRFD akan menghasilkan luas profil (Ag) metode LRFD memberikan profil yang lebih ekonomis
untuk balok 1 lebih ekonomis 29.4 % dibandingkan dengan luas penampang yang lebih kecil 29.4% untuk
dengan metode ASD, sedangkan untuk balok 2 dan balok 1, 35.8% untuk balok 2 dan 40.2% untuk balok
balok 3 desain LRFD lebih ekonomis 35.8% dan 3, bila dibandingkan dengan metode sebelumnya,
40.2% dibandingkan dengan metode ASD. metode ASD, untuk satuan panjang yang sama akibat
Dari Gambar 2 dapat dilihat dengan metode LRFD, beban mati, beban hidup dan gempa ekivalen.
kenaikan beban momen yang bekerja akan Dengan metode LRFD, dapat diprediksi terjadinya
menghasilkan luas profil dengan nilai yang lebih kecil tekuk lokal pada elemen balok akibat kombinasi
dibandingkan dengan metode ASD, sehingga desain beban yang digunakan.
dengan metode LRFD akan menghasilkan desain
yang lebih ekonomis dibandingkan dengan metode DAFTAR PUSTAKA
ASD. Anonim. 1986a. Load and Resistance Factor Design Spesification
for Structural Steel Building. Chicago: American Institute of
Steel Construction.
KESIMPULAN Anonim. 1986b. Manual of Steel Construction, Load and Resistance
Factor Design. Chicago: American Institute of Steel
Faktor kelebihan beban dan faktor tahanan, φ Construction.
yang digunakan dalam metode LRFD ditentukan Beedle, S.L. 1986. Why LRFD. AISC Modern Steel Construction
26: 30-31.
berdasarkan metode probabilitas sehingga hasil Brian, D., Peck, & Eric, M.L. 1991. Microcomputer Structural
desain yang diperoleh lebih rasional. Nilai masing- Member and Frame Design by LRFD. ASCE Journal of
Computing in Civil Engineering 5: 141-158.
masing faktor tersebut telah ditentukan oleh AISC Galambos, T.V., Ellingwood, B., MacGregor, J.G. & Cornell, C.A.
dalam Manual LRFD. Faktor kelebihan beban 1982. Probability Based Load Criteria, Assessment of Current

tergantung pada kombinasi beban yang digunakan.