Anda di halaman 1dari 18

BAB III

PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Perusahaan

2.1.1 Sejarah PT. Perkebunaan Nusantara X (Persero)

PT. Perkebunan Nusantaa X (Persero) didirikan berdasarkan peraturan


pemerintah RI No. 15 Tahun 1996 tanggal 14 Pebruari 1996 yaitu pengalihan
bentuk Badan Usaha Milik Negara dari PT. Perkebunan Nusantara X (Persero)
dan Akte Notaris Harul Kamil, SH No. 43 tanggal 11 Maret 1996, dikandung
maksud untuk mewujudkan PT. Perkebunan Nusantara X sebagai perusahaan
agribisnis yang mampu mnghadapi tantangan masa depan dalam era globalisasi
yang menuntut adanya produktifitas, profesionalisme dan peningkatan daya saing
yang tinggi disamping upaya efesiensi usaha.

Dengan restrukturisasi tersebut, maka PT. Perkebunan Nusantara X bukan


lagi hanya mengemban misi dan tujuan nasional dalam upaya meningkatkan
produksi dan komoditas lainnya secara nasional namun juga dituntut untuk
mampu berperan dan bersaing di pasar global. PT. Perkebunan Nusantara X
(Persero) merupakan peleburan dari tiga PT. Perkebunan yang memiliki latar
belakang sebagai berikut:

a) Eks PT. Perkebunan XIX

Berawal dari nasionalisasi perusahaan milik Belanda Handel Industrie


Enlandbouwmaatsceha Kerchem (indonesia) NV menjadi PPN (baru) yang
pada tahun 1961 berdasarkan peraturan pemerintah No. 175 tanggal 26 April
1961 menjadi PPN Jateng I.

Dengan peraturan pemerintah No. 30 tahun 1963 dalam rangka pengkhususan


usaha menjadi PPN tembakau IV yang selanjutnya pada tahun 1968 dengan
peraturan pemerintah tahun 1968 PPN tembakau IV digabung dengan PPN
tembakau VII menjadi perusahaan negara sampai peleburan menjadi PT.
Perkebunan Nusantara X (Persero).

b) Eks PT. Perkebunan XXI dan XXII

Berdasarkan Undang-Undang No. 86 tentang nasionalisasi perubahan


perkebunan setelah beberapa kali mengalami perubahan dan penyempurnaan
organisasi BUMN Departemen Pertanian, berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 23 Tahun 1973 PT. Perkebunan XXI dan PT. Perkebunan XXII
digabungkan, dan membawahi 12 pabrik gula dan dua rumah sakit dengan
wilayah pembantu gubernur di Surabaya dan Kediri.

Kemudian berdasarkan Surat Menteri Keuangan kepada Menteri Pertanian


No. S-9111/ MK Agustus 1991 ditetapkan sebagai pabrik karung Petjangan
sebagai unit usaha PT. Perkebunan dengan beberapa perlakuan khusus dalam
manajemen personalianya.

PT. Perkebunan XXI-XXII (Persero) ditetapkan pula sebagai pengelola PT.


Perkebunan Wilayah Jawa Tengah.

c) Eks PT. Perkebunan XXVII

Dari nasionalisai perusahaan-perusahaan milik Belanda tahun 1985 beberapa


diantaranya Fa Anemaat & Co. Basoekische Tabaaks Maatchappij (BTM),
LMOD dan LMS. Dalam perkembangan selanjutnya terjadi reorganisasi
perusahaan mulai dari Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) baru hingga
melebur menjadi PT. Perkebunan Nusantra X (Persero) seperti yang dikenal
saat ini.

2.1.2 Lokasi perusahaan

PT. Perkebunan Nusantara X (Persero)

Alamat Kantor Pusat: Jalan Jembatan Merah No. 3-11 Surabaya 60175.

Telepon: (031) 3523143 s/d 3523147

Faksimile: (031) 3523167

Email: contac@ptpn10.com

Website: http://www.ptpn10.com

Wilayah kerja PT. Perkebunan nusantara X (Persero) tersebar di Jawa Timur dan
Jawa Tengah dan berpusat pada kantor pusat direksi di Surabaya dengan
membawahi beberapa unit usaha.

2.1.3 Profil Bisnis Perusahaan

A. Visi perusahaan

Visi PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) yaitu: “Menjadi perusahaan


agrobisnis berbasis perkebunan termuka di indonesia yang tumbuh dan
berkembang bersama mitra”.
B. Misi Perusahaan

Misi PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) yaitu:

a) Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku tebu dan


tembakau yang berdaya saing tinggi untuk pasar domestik maupun
internasional.

b) Mendedikasikan pelayanan rumah sakit kepada masyarakat umum dan


perkebunan untuk hidup sehat.

c) Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai-nilai bagi kepuasan


stakeholder melalui kepemimpinan, inovasi dan kerjasama tim serta
organisasi yang efektif.

C. Tujuan Perusahaan

Tujuan dibentuknya PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) seperti tercantum


dalam peraturan pemerintah tahun 1996 untuk menyelenggarakan:

a) Usaha bidang perkebunan.

b) Usaha-usaha lain yang menunjang penyelenggaraan di bidang perkebunan


sesuai denganperaturan perundang-undangan yang berlaku.

D. Filosofi perusahaan

PT. Perusahaan Nusantara X (Persero) mempunyai filosofi perusahaan, yaitu: 1)


Kejujuran, 2) Kepercayaan, 3) Keterbukaan, 4) Kerjasama, Dan 5) Keselarasan.

E. Strategi Perusahaan

Guna mendukung sasaran korporasi yang telah ditetapkan dan


mempertimbangkan peluang yang ada, strategi koorporasi pada tahun 2009
disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan yang ingin dicapai yaitu:

a) Konsolidasi usaha

b) Perbaikan dan penyempurnaan proses bisnis internal

c) Peningkatan laba usaha

d) Overvall cost leadership untuk bisnis gula dan tembakau

e) Best cost provider strategy untuk bisnis rumah sakit

f) Penyehatan keuangan
g) Ekspansi dan diversifikasi untuk bisnis-bisnis prospektif

h) Pemanfaatan peluang kerjasama dengan mitra strategis

F. Budaya Kerja Perusahaan

PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) memiliki budaya kerja sebagai berikut:

a) Optimalisasi teknologi tepat guna

b) Penerapan reward dan punishment yang konsisten

c) Penggalakan good corporate governance

2.1.4 Kegiatan Usaha PT. Perkebunan Nusantara X (Persero)

A. Produk Utama

PT. Perkebunan Nusantara X bergerak pada sektor perkebunan dengan


komoditas utama:

a) Gula

Gula merupakan hasil komoditas yang paling besar dari PT. Perkebunan
Nusantara X (Persero) yang dihasilkan oleh 11 pabrik gula yang tersebar di
wilayah Jawa Timur. Gula memiliki lahan perkebunan yang lebih luas
daripada komoditas lainnya. Berikut nama pabrik gula di bawah manajemen
PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) dan lokasinya:

1) Sidoarjo: PG. Watoetoelis, PG. Toelangan, PG. Kremboong

2) Mojokerto: PG. Gempolkrep

3) Jombang: PG. Djombang Baru, PG. Tjoekir

4) Nganjuk: PG. Lestari

5) Kediri: PG. Meritjan, PG. Pesantren Baru, PG. Ngadiredjo

6) Tulungagung: PG. Modjopanggung

Keseluruhan pabrik gula ini memproduksi gula putih dengan mutu SHS IA (super
hight sugar).

Bahan baku tanaman tebu diperoleh dari lahan dengan status kepemilikan:

1. Tebu sendiri (TS) yang berasal dari lahan hak guna usaha (HGU) selluas
10% dari keseluruhan tanaman tebu.
2. Tebu yang berasal dari tanaman petani atau istilah lazimnya tebu rakyat
(TR) seluas 90% dari total tanaman tebu.

b. Tetes (Molasses)

Tetes merupakan hasil dari komoditas terbesar setelah gula pada PT.
Perkebunan Nuantara X. Produk ini duhasilkan sebagai turunan dari hasil
produksi gula. Sebelumnya produk ini masih sebagai produk sampingan,
tetapi pada perkembangannya, perusahaan menetapkan tetes sebagai produk
utama karena daya jual produk ini sangat tinggi disukung dari permintaan tiap
tahun yang selalu meningkat, namun sayangnya sayangnya hasil produksi
dari tetes masih sangat terbatas. Produk tetes (molasses) ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan alkohol, bio etanol, sebagai stater dari
pembuatan monosodium glutamate atau bumbu penyedap rasa, dan lain-lain.

B. produk lainnya

Selain memproduksi gula dan tetes, PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) juga
memiliki beberapa usaha lain, yaitu:

1. Unit usaha tembakau

Tembakau merupakan komoditas yang diekspor ke luar negeri. Daerah tujuan


ekspor terbesar adalah negara-negara Eropa. Tembakau merupakan komoditas
yang sifatnya fancy product, artinya nilainya tergantung dari kualitas, sedangkan
permintaan setiap pembeli memiliki spesifikasi yang berbeda-beda, sehingga
sangat sulit untuk bisa menilai komoditas ini secara obyektif. Produktifitas
tembakau per-tahun bervariasi, bergantung pada iklim, hama, penyakit dan
kondisi topografi daerah penanaman tembakau. Berikut ini nama perkebunan
tembakau beserta lokasinya:

a) Jember: kebun ajung gayasan, kebun kertosari

b) Klaten: kebun arum, gayamprit, wedibirit

2. Unit usaha rumah sakit

Sejak tanggal 1 desember 2003, unit usaha rumah sakit ditetapkan sebagai strategi
penjualan yang meliputi lokasi:

a) Rumah Sakit Gatoel yang berkapasitas 7500 pasien yang berada di


Kabupaten Mojokerto

b) Rumah Sakit Toelong Redjo berkapasitas 5000 pasien yang berada di


Kabupaten Kediri
c) Rumah Sakit Perkebunan (RSP) yang mempunyai kapasitas 3500 pasien
yang berada di Kabupaten Jember

Rumah sakit ini merupakan unit usaha mandiri. Selain melayani karyawan
perusahaan, rumah sakit ini juga membuka layanan kepada masyarakat umum di
sekitarnya dan termasuk rumah sakit type B (sekurang-kurangnya melayani 11
spesialistik).

3. Industri Bobbin

Berlokasi di Jember dan bekerjasama dengan Burger Soehne Ag Burg (BSB)


Swiss dalam jasa pemotongan tembakau untuk membuat cerutu, ini juga didirikan
di kawasan berikat (kerja sama bea cukai dan dati II Jember) yang dimaksudkan
untuk memperlancar ekspor tembakau dan cutting bobbin.

C. Anak Perusahaan

Selain unit usaha di atas PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) juga mempunyai
anak perusahaan yaitu:

a) PT. Dasaplast Nusantara

Merupakan anak perusahaan PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) yang


berlokasi di Pecangaan Jepara Jawa Tengah dengan kegiatan produksi sebagai
berikut:

1. Karung plastik (kemasan isi 50 kg) dengan produksi sekitar 50 juta lembar
per-tahun

2. Innerbag (kemasan isi 50) dengan kapasitas produski sekitar 50 juta


lembar per-tahun

3. Waring berkapasitas produski 7,5 juta m2 per-tahun

b) PT. Mitra Dua Tujuh

Adalah anak perusahaan yang memiliki kegiatan utama frozen vagetables


yang berlokasi di dati II Jember, dengan rincian produksi sebagai berikut:

1. Kedelai edamame dengan kapasitas produksi 3000 ton per-tahun

2. Okura dengan kapasitas produksi 200 ton per-tahun

D. Struktur Organisasi Perusahaan


Dalam perusahaan struktur organisasi sangat penting dan berfungsi sebagai
pedoman dalam menjalankan kegiatan perusahaan agar tidak terjadi kebiasan
dalam wewenang serta tanggungjawab.

Struktur organisasi yangdigunakan oleh PTPN X adalah berasaz fungsional yaitu


struktur organisaasi yang memiliki pembagian tugas secara jelas.

Ptpn X (Persero) dijalankan oleh komisaris, yang dalam pelaksanaan


operasionalnya dibantu oleh direktur utama yang dibawahnya terdapat 4 direksi:
1) Direksi Pemasaran & Renbang, 2) Direksi Keuangan, 3) Direksi Produksi, dan
4) Direksi Sdm Dan Umum.

Untuk lebih jelasnya struktur organisasi PTPN X adalah sebagaimana gambar


berikut:
Rapat Umun Pemegang
Saham

Komisaris

Direktur Utama

Direktur Derektur Direktur Direktur


Pemasaran Keuangan Produksi SDM

Kepala Kepala Kabid. Kabid. Kabid. Kabid. Sekretari Administra Karo SPI
KBU KBU Pemasara Keuang Produks SDM s tur PG
Tembaka Rumah n an i Perusaha

Administra Kepala Staf


tur Kebun Rumah STRUKTUR ORGANISASI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X (Persero) Direksi
Sakit
BIDANG PEMASARAN

Pimipnan
Unit
Industri
Bobbin
Kepala Bidang
Pemasaran
Drs. H. IRAWAN

Kepala Urusan Kepala Urusan Pemasaran


Pemasaran Produk
Produk Gula & Analissis Tetes, Ampas & Cokelat
Pasar Agendaris
Drs. H. Agus Mudigdo
Suroso

Administrasi Gula Analisa Pasar Administrasi Tetes Administrasi Coklat &


Ampas
Dra. Nur Nurul H. Sutjahjo Widjaja,
Handayani Yudayanti, SE SE Hj. Margining Astuti
Ismet Wahyu W., Ari Wibowo, SE
SE
2.2 Distribusi Gula

Dalam produksi, perlu dibedakan dua jenis pemilik hasil gula yang
ditangani oleh PT. Perkebunan Nusantara X (Persero), yaitu: Gula milik sendiri
(PG) dan Gula milik Petani (TR). Gula milik sendiri adalah gula yang dihasilkan
dari tebu milik lahan PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) sendiri, besarnya
hanya 10% dari total produksi, sedangkan yang dimaksud Gula mili Petani (TR)
adalah gula yang bahan bakunya dari lahan Petani tebu, total yang dihasilkan dari
Gula milik petani ini adalah 90% dari total produksi. PT. Perkebunan Nusantara X
(Persero) merupakan media pemroses hasil tebu Petani rakyat, oleh karena itu
terdapat system bagi hasil dalam proses penggilingan tebu tersebut, dalam
rendemen1 6% terdapat pembagian hasil giling sebanyak 40:60, PT. Perkebunan
Nusantara X (Persero) mendapatkan bagian 40% sedangkan Petani tebu
mendapatkan 60% dari seluruh Total produksi Gula. Sedangkan alur penjualan
Gula adalah sebagai berikut:

1. Sistem Penjualan Gula Milik Petani (TR)

Gula milik petani ini dalam sistem penjualannya mengunakan sistem


lelang yang melewati beberapa tahap, Adapun tahap-tahap proses pelelangan
adalah sebagai berikut:

a) Penawaran jumlah kuanta Gula milik petani ditawarkan pada sekretaris


APTR, setelah disetujui barulah dibuat surat undangan lelang kepada para
rekanan perihal adanya lelang.

b) Pihak rekanan selanjutnya akan menuliskan penawarannya, kemudian


dimasukkan pada tempat yang telah ada.

1
Rendemen : Proses pembuatan gula dari tebu melalui beberapa tahap dimulai dari lahan sampai
ke emplasemen gilingan, mengesktrak nira di gilingan, pemurnian nira, penguapan, kristalisasi,
puteran sampai pengepakan gula dalam karung. Dari berbagai tahap tersebut terjadi kehilangan
gula dalam hal ini sukrosa sehingga jumlah sukrosa yang seharusnya bisa dikristalkan menjadi
gula berkurang (http://kemuningwkst.blogspot.com/2010/01/segala-sesuatu-tentang-rendemen-
gula.html)
c) Dipilih 6 penawar dengan harga tertinggi, dari 6 rekanan ini diadakan
penawaran lagi.

d) Apabila terjadi kesepakatan maka akan dibuat kontrak jual beli dan
diterbitkan SPS (Surat Perintah Setor) dan Jumlah pembayaran sesuai
dengan kesepakatan, setelah itu dikeluarkan DO (Delivery Order) apabila
telah membayar 100%

e) Sedangkan apabila tidak menemui harga yang cocok, lelang dapat


dibatalkan atau akan diadakan negosiasi. Untuk Gula petani tidak
dikenakan PPN.

2. Sistem Penjualan Gula Milik Sendiri (PG)

Pada November 2008 PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) melakukan


kerjasama keagenan dengan BULOG, kerjasama ini terkait dengan stabilisasi
harga gula lokal yang terdistorsi oleh munculnya gula rafinasi dipasaran. Sebagai
lembaga yang bergerak dalam bidang produksi dan penyalur salah satu bahan
pokok yakni gula, maka perusahaan juga berusaha agar distribusi gula tersebut
menjadi efektif, sehingga dapat memberikan harga yang ideal kepada end user.
Adapaun sistem distribusi yang ada pada PTPN X adalah sebagai berikut:

PTPN
(Produsen &
Penyalur Gula)

Distributor I

Distributor II

Distributor III

Konsumen
(end user)
Ket:
Dari diagram tersebut, PTPN merupakan produsen, yang akan
memberikan harga pertama kepada distributor I. Distributor ke-1 ini merupakan
lembaga bisnis yang telah ditunjuk oleh produsen untuk mendistribusikan kepada
distributor yang lebih rendah. Kemudian disributor ini akan menjual lagi kepada
pihak distributor ke-2 yakni pengusaha besar (grosir), kemudian dari grosir ini
akan di distribusikan lagi pada distributor ke-3 yaitu pengecer. Setelah melewati
tiga saluran distribusi tersebut produk gula bisa di pakai oleh konsumen sebagai
end user.
Kelemahan dari sistem distribusi Gula diatas adalah harga yang tidak bisa
dikontrol oleh negara karena harga dapat dipermainkan oleh distributor pada lini
pertama. Untuk mengoptimalisasi distribusi gula PTPN X maka pihak PTPN X
bekerjasama dengan BULOG sebagai mitra kerja dalam pendisribusian gula,
sehingga nanti rantai pendistribusian gula dari BULOG langsung dapat disalurkan
ke distributor ke-2 yakni grosir besar, kemudian ke pengecer dan langsung
disalurkan kepada konsumen. Dengan cara ini diharapkan rantai distribusi lebih
pendek sebab BULOG disini bertindak sebagai rekanan Produsen dalam
penyaluran distribusi dan bisa menekan dan menstabilkan harga, sebab bulog
merupakan BUMN yang dalam operasionalnya tidak berorientasi pada profit,
namun juga melihat kesejahteraan masyarakat. Adapun alur dari proses distribusi
tersebut adalah seperti gambar berikut ini:

PTPN
Distributor I/
(Produsen &
Penyalur Gula) Bulog

Distributor II

Distributor III

Konsumen
(end user)
Dari alur tersebut PTPN X dan Bulog dapat menjaga kestabilan harga lebih
mudah dari pada melewati distributor 1. Adapun proses distribusi gula dari PTPN
X ke distributor dapat dilihat di Flowchart sebagaimana dibawah ini:
KANTOR DIREKSI
Pabrik Gula BULOG Pembeli Keterangan
Bidang Pemasaran

1. PG mengirimkan laporan
Laporan Rekapitulasi Surat Surat harian PB34 kepada kantor
Harian PB34 Persediaan Konfirmasi Penawaran Direksi Bidang Pemasaran
Masing-masing secara online untuk membuat
laporan persediaan.
Rekapitulasi 2. Bidang Pemasaran membuat
Persediaan rekapitulasi persediaan
seluruh PG seluruh PG.
3. Pembeli membuat surat
penawaran kepada BULOG.
4. BULOG membuat surat
Check stok konfirmasi pada Kantor
Direksi bidang pemasaran
tentang adanya penawaran
dari pihak pembeli.
ad Tida 5. Apabila persediaan ada,
a k bidang pemasaran
menerbitkan surat penegasan
kepada BULOG dan bila
persediaan tidak ada maka
Batal
transaksi batal.
6. Setelah menerima surat
penegasan, BULOG
Surat Proses Persetujuan memproses PO.
PO 7. BULOG meminta persetujuan
Penegasan PO
dari pihak pembeli terhadap
harga yang ditawarkan oleh
Kantor Direksi bidang
Ya pemasaran.
DO SPS
8. Apabila setuju, BULOG akan
menerbitkan PO.
9. BULOG mengeluarkan SPS
dengan perihal kesepakatan
Gudang Transpor pembayaran.
10. Kantor Direksi bidang
tir
pemasaran menerbitkan DO
setelah pembayaran 100%
diterima.
11. DO diserahkan kepada
pembeli untuk ditujukan
kepada transportir.
12. Transportir dari pihak
pembeli melakukan
pengambilan Gula di gudang
dengan membawa DO.
3. Solusi Terhadap Sistem Distribusi Gula

Dalam Proses Distribusi gula dari produsen ke konsumen, terdapat


beberapa permasalahan yang terjadi, antara lain:

1. Pada segi distribusi sering kali control harga bukan pada Produsen,
tetapi pada distributor yang bisa memainkan harga.

2. Kebijakan Publik (Perda dll) seringkali memberikan ruang gerak bagi


masuknya gula rafinase yang seharusnya tidak boleh digunakan untuk
konsumsi masyarakat umum, karena gula rafinase hanya
diperuntukkan untuk industry.

3. Ketimpangan harga gula dan jumlah atau kuantitas gula di suatu


daerah berbeda dengan suatu daerah yang lain dikarenakan adanya
penimbunan dan kebocoran distribusi yang dilakukan oleh pihak-pihak
yang menginginkan laba dikarenakan ketimpangan harga di suatu
daerah berbeda dengan daerah yang lain.

4. Munculnya Pesaing yang memproduksi gula dengan kemasan dan


kualitas yang lebih bagus (Gula Retail).

Dari ketiga permasalahan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa


sebenarnya permasalahan dalam distribusi gula adalah kebijakan public,
hal ini terkait bahwa gula merupakan bahan pokok yang sangat diperlukan
dalam kehidupan manusia.

Dalam kenyataannya seringkali control pemerintah terhadap distribusi gula sangat


lemah sehingga harga bisa dipermainkan oleh pihak distributor, selain itu pihak
produsen gula tidak memonitor harga gula after sale, dalam artian setelah gula
berpindah tangan ke pihak distributor maka permasalahan distribusi dan control
harga sepenuhnya berada di pihak distributo karena pihak produsen tidak punya
kewenangan lagi. Dalam artikel yang ditulis oleh Kabul Santoso dkk yang
berjudul Sistem Pergulaan Jawa Timur (Optimalisasi Produk, Distribusi dan
Kelembagaan) menjelaskan bahwa sistem pergulaan jawa menggunakan teori
persaingan sempurna atau harga menurut mekanisme pasar, padahal dengan
adanya mekanisme pasar pihak yang akan dirugikan adalah konsumen itu sendiri
hal ini terkait dengan harga gula yang cenderung tidak ada control dari pemerintah
(HET).

Masih dalam artikel tersebut Kabul santoso memberikan sebuah solusi mengenai
langkah yang diambil oleh pemerintah dan produsen gula, sebagaimana dapat
dilihat di diagram dibawah ini:

Dalam diagram tersebut dapat dijelaskan bahwa seharusnya ada keterkaitan yang
erat antara pemerintah dan produsen (Pengolah dan petani) dimana didalam
hubungan keduamya di fasilitasi oleh kebijaksanaan public dan supporting system
yang terkait dengan produksi dan distribusi. Tetapi dalam diagram tersebut belum
ada monitor pemerintah dan produsen terhadap kualitas dan harga oleh karena itu
perlu control yang jelas dari pemerintah dan produsen terhadap distribusi hingga
ke end user. Dalam hal ini pihak yang berwajib berkepentingan terhadap proses
distribusi agar tidak ada penimbunan maupun kebocoran distribusi akibat
ketimpangan harga dari suatu daerah dengan daerah yang lainnya yang
menyebabkan stok di daerah dengan harga yang murah akan jauh berkurang.

Sedangkan solusi untuk point yang keempat adalah pihak PTPN X perlu
memproduksi lini produk baru dari gula, dalam hal ini PTPN X akan
menggunakan Red Ocean Strategic dimana Pihak PTPN X keluar dari persaingan
pada umumnya dan membentuk sebuah produk baru yang belum terlalu banyak
pesaingnya. Pihak PTPN X juga perlu untuk mendesentralisasi kebijakan
kebijakan umum terkait produksi dan distribusi kepada Pabrik-Pabrik Gula yang
berada dalam lingkup PTPN X.