Anda di halaman 1dari 13

By Timur Abimanyu, SH.

MH

HUKUM DAN KEADILAN DALAM PERSFEKTIF ISLAM


Oleh: Prof Dr. H. Muchsin, S.H.

Abstrak
Islam adalah agama pant Nabi yaitu sejak Nabi Adam a.s.,dan/atau, hanya agama Nabi
Muhammad Saw. Pada zaman Nabi Adam a.s. pelaku Umiak pidana yang dilakukan oleh salah
seorang anak Nabi Adam kepada saudaranya dihukum dengan penggalian tanah untuk ntakant
korban, dan hukumannya satzt itu – menurut penulis – barn sebatas perasaan dan jiwanya yang
merasa bersalah melakukan pembunuhan akibat menuruti godaan setan. Pada zaman Nabi bani
Israel, anak Ya`kub a.s. yang terbukti sebagai pencuri barang kerajaan tempat kakaknya bekerja
dihukum tanpa boleh dibawa pulang ke hadapan ayahnya oleh saudara-saudaranya. Dua contoh
tersebut menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana hams dilzukunz. Putusan hukunt yang
thjatuhkan oleh Nabi Sulaiman a.s. untuk menyerahkan bayi kepada salah seorang ibu yang think
ingin bayi yang dipersengketakannya dibelah dna tidak diingkari sebagai putusan yang benar,
sesuai sesuai dengan hukum dan keadihzn, karena ibis sejati tidak nzungkin akan melakukanitya,
berbeda dengan ibu lainnya yang menginginkan bayi itu dibelah diri.

Pada zaman bani Israel pula, sebagaimana ditryatakan oleh Nabi 114/thammad Saw. dolant salah
satu hadis-NYa bahwa kehancuran umat-umat dahuht disebabkan ntereka tidak menegakkan
hukunz apabila pelaku tindak pith:no/ya tergolong kaunt bangsawan, clan sebaliknya, apabila yang
melakukannya rakyat jelata, hukum ditegakkan. Sedangkan Nabi Saw. menyatakan dengan tegas
"Jika Fatimah binti Muhammad melakukan pencurian, pasti Aku akan potong tangannya."
Peristiwa lainnya adalah beliau tidak segera menjatuhkan Warman kepada pelaku yang mengaku
melakukan tindak pidana sehingga diyakini benar bahwa perbuatan yang dilakukan benar-benar
terjadi, dan hukunzan tersebut terbatas pada pelakunya. Sebagian sahabat yang jejak rekamnya
tersebut (taint)t buku-buku peradilan, juga menotfits sesuai dengan keyakinannya, seperti All bin
Abi Talib yang sengketanya tentang baju perang yang digugatnya sebagai nziliknya berada dalam
kekuasaan orang Yahudi, dikalahkan karena baju perang tersebut tidak berada di tangannya tetapi
berada di tangan tergugat, Yahudi tersebut. Beberapa kasus penyelesaian sengketa hukunz di alas
menunjukkan bahwa hukunt Islam itu merupakan rahmat bagi seluruh mannsia, clan Yahudi
tersebut merasakannya pula, yang konon – memeluk Islam setelah itu. Bahkan bukan hanya
sebagai rahnzat bagi manusia, hokum Islam pun ntenjadi penawar hafi, petunjuk dan rahmat bagi
orang yang beriman. Oleh karma itu, ada 3 (tiga) tujuan pokok hukum Islam, yaitu: pendidikan
pribadi, penegakan keadilan masyarakat, dan kemaslahatan. Alen:mit penulis, hukum Islam yang
telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana diuraikan di alas nzernpakan salah bagian
dari syariat Islam. Dua bagian lainnya dari syariat Islam adalah nzasalah keimanan dan akhlak !
samba-Nya, atau masalah i`tiaddiyah dan khuluqiyah. (Sumber data : Asadurrahman)

============
Pendahuluan, Islam adalah agama para Nabi yaitu sejak Nabi Adam a.s., dan bukan hanya agama
Nabi Muhammad Saw. Pada zaman Nabi Adam a.s. pelaku tindak pidana yang dilakukan oleh
salah seorang anak Nabi Adam kepada saudaranya dihukum dengan penggalian tanah untuk
makam korban, dan hukumannya saat itu – menurut penulis–baru sebatas perasaan dan jiwanya
yang merasa bersalah melakukan pembunuhan akibat menuruti godaan setan.
Pada zaman Nabi bani Israel, anak Ya`kub a.s. yang terbukti sebagai pencuri barang kerajaan
tempat kakaknya bekerja dihukum tanpa boleh dibawa pulang ke hadapan ayahnya oleh saudara-
saudaranya. Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana hares dihukum.

Putman hukum yang dijatuhkan oleh Nabi Sulairnan a.s. untuk menyerahkan bayi kepada salah
seorang ibu yang tidak ingin bayi yang dipersengketakannya dibelah dua tidak diingkari sebagai
putusan yang benar, sesuai dengan hukum dan keadilan, karena ibu sejati tidak mundin akan
melakukannya, berbeda dengan ibu Iainnya yang menginginkan bayi itu dibelah dua.

Pada zaman bani Israel pula, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam salah
sate hadis-Nya bahwa kehancuran umat-umat dahulu disebabkan mereka tidak menegakkan hukum
apabila pelaku tindak pidananya tergolong kaum bangsawan, dan sebaliknya, apabila yang
melakukannya rakyat jelata, hukum ditegakkan.
Sedangkan Nabi. Saw. menyatakan dengan tegas "Jika Fatimah binti Muhammad melakukan
pencurian, pasti Aku akan potong tangannya." Peristiwa lainnya adalah beliau tidak segera
menjatuhkan hukuman kepada pelaku yang mengaku melakukan tindak pidana sehingga diyakini
benar bahwa perbuatan yang dilakukan benar-benar terjadi, dan hukuman tersebut terbatas pada
pelakunya. Sebagian sahabat yang jejak rekamnya tersebut dalam buku-buku peradilan, juga
memutus sesuai dengan keyakinannya, seperti Ali bin Abi Talib yang sengketanya tentang baju
perang yang digugatnya sebagai miliknya berada dalam kekuasaan orang Yahudi, dikalahkan
karena baju perang tersebut tidak berada di tangannya tetapi berada di Langan tergugat, Yahudi
tersebut.
Beberapa kasus penyelesaian sengketa hukum di atas menunjukkan bahwa hukum Islam itu
merupakan rahmat bagi seluruh manusia, dan Yahudi tersebut merasakannya pula, yang – konon –
memeluk Islam setelah itu. Bahkan. bukan hanya sebagai rahmat bagi manusia, hukum Islam pun
menjadi penawar hati, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman. Oleh karena itu, ada 3 (tiga)
tujuan pokok hukum Islam, yaitu: pendidikan pribadi, penegakan keadilan masyarakat, dan
keinaslahatan.

Menurut penulis, hukum Islam yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana
diuraikan di atas merupakan salah bagian dari syariat Islam. Dua bagian lainnya dari syariat Islam
adalah masalah keimanan dan akhlak hamba-Nya, atau masalah dan khulugiyah.

Al-Sydthibi — sebagaimana dikutip Asafri Jaya Bakri — mengatakan bahwa syariat ini . bertujuan
mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akherat, atau ungkapan lainnya bahwa hukum-
hukum disyariatkan untuk kemaslahatan hamba. Secara umum, Allah memerintahkan hamba-Nya
(uli al-amr) untuk menjatuhkan hukum dengan adil, yang disebut dalam Alquran dengan kalimat
cia.31-.,1,5-c-'C.)1. Dalam gamatika Arab, kalimat " 'an tahkunuT dan kalimat bi al- `adl saling
berhubungan, yang sering disebut dengan istilah jar wa majria- muta'alliq bi 'an tahkuma. Artinya,
hukum yang ditegakkan haruslah hukum yang adil.
Dan menurut pemahaman penulis, ayat yang, berbunyi (.1.12-11,11.).c-1(:)1 memberikan petunjuk
lebih jauh lagi yaitu apabila terjadi pertentangan antara hukum dan keadilan, maka yang
didahulukan adalah keadilan.
Selain itu, Rasul Saw. juga memberikan memberikan pedoman umum sumber hukum (materil,
pen.) yang digunakan, yang salah satunya adalah ijtihad. Dalam kesempatan lain, Beliau
mengatakan bahwa ijtihad yang tepat dari seorang hakim berbuah dua pahala, sedangkan
ijtihadnya yang tidak tepat pun melahirkan satu pahala, yaitu pahala ijtihad. Satria Effendi M. Zain
mengatakan (pada tahun 2000) bahwa hakim termasuk kelompok alz1 al-dzikr, yang disebut
Alquran dalam ayat "fars'alii ahl al-dzilcr."
Pembahasa, Kata ijtihad berasal dari kata (ai) atau, yang artinya bersungguh-sungguh, dan setelah
ditambahkan dua huruf kata tersebut menjad atau yang menunjukkan mubólaghah (keadaan lebih),
maksimal dalam suatu tindakan atau perbuatan! Muhammad Abu Zahrah (selanjutnya disebut Abu
Zahrah) mengartikan ijtihad dengan "menggunakan maksimal kemampuan agar sampai kepada
suatu urusan atau perbuatan. Nadiyah al- Syarif al-`Umri mengatakan – sebagaimana dikutip
Asafri – bahwa kata ijtihad tidak boleh dipakai kecuali dalam persoalan-persoalan yang memang
berat dan sulit. Menurut Salahuddin Maqbul Ahmad – sebagaimana dikutip Asafri – mengatakan
bahwa kata ijtihad harus dipakai dalam persoalan-persoalan yang sulit secara hissi (fisik) seperti
suatu perjalanan, atau persoalan-persoalan yang sulit secara maknawi (non-fisik) seperti
melakukan penelaahan teori ilmiah atau upaya mengistinbatkan hukum. Oleh karena itu,
mengangkat pena tidak disebut dengan ijtihad. Asafri mengatakan bahwa pengertian ijtihad
menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah karena keduanya
mengandung arti bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu.
Menurut istilah ulama Usul Fikih, ijtihad adalah penggunaan seorang ahli fikih terhadap
keluasannya dalam mengistinbatkan hukum-hukum yang praktis dari dalil dalil terineinya.m
Sebagian ulama mendefinisikan ijtihad dalam pandangan ahli Usul Fikih dengan menggunakan
kesungguhan dan keluasan, baik dalam mengistinbatkan (menggali) hukum agama maupun dalam
menerapkannya."

Sehubungan dengan pengertian ijtihad yang terakhir ini, Abu Zahrah mengatakan bahwa ijtihad
ada 2 (dua) macam: 1) untuk mengistinbatkan hukum, 2) untuk menerapkan hukum. Menurutnya,
ijtihad jenis pertama adalah ijtihad sempurna/khusus, yang dilakukan oleh sekelompok ulama yang
memfokuskan pada penggalian hukum-hukum cabang praktis dari dalil-dalil terincinya. Oleh
karena itu, menurut mayoritas ulama, ijtihad yang seperti ini sudah tidak ada lagi, tetapi menurut
Handbilah, pada setiap masa pasti ada ulama yang mencapai ijtihad khusus ini.
Para ulama Ushul Fikih menyebutkan beberapa syarat yang harus dimiliki oleh mujtahid
mustanbith, yaitu: 1) mengetahui bahasa Arab, 2) mengetahui Alquran (ncisikh dan mansidch-nya,
3) mengetahui Sunnah, 4) mengetahui hukum-hukum yang disepakati dan yang diperselisihkan, 5)
mengetahui qias, 6) mengetahui tujuan hukum.
Sedangkan ijtihad jenis kedua dipastikan selalu ada pada setiap masa, dan mereka yang
mencapainya disebut dengan ulama takhrij dan tathbig illat-illat yang digali dari perbuatan-
perbuatan bagian-bagiannya. Pekerjaan mereka merupakan penerapan basil istinbat para ulama
terdahulu, yang juga (dapat) digunakan untuk penyusunan rancangan peraturan perundang-
undangan.'

Upaya ijtihad dewasa ini berbeda dengan upaya ijtihad pada masa yang lalu karena persoalan-
persoalan yang muncul lebih kompleks sehingga pemecahannya memerlukan pendekatan yang
tidak hanya pengkajian dari aspek hukum semata tetapi memelukan berbagai disiplin ilmu, seperti
ilmu kesehatan, psikologi, ekonomi, dan politik, yang secara keseluruhan tidak dapat dikuasai oleh
satu orang saja.
Al-Syathibi—sebagaimana dikutip Asafri — mengatakan bahwa ijtihad dari segi proses kerjanya
dapat dibagi kepada dua bentuk. Pertama, istinbati, upaya untuk meneliti illat yang dikandung oleh
nash. Kedua, tathbfqi, upaya untuk meneliti suatu masalah di mana hukum hendak
diidentifikasikan dan diterapkan sesuai dengan ide yang dikandung oleh nash. Ijtihad kedua ini
disebut dengan tahqiq al-mandth, yang berfokus mengaitkan kasus-kasus yang muncul dengan
kandungan makna yang ada dalam nash."
Sehubungan dengan uraian di atas, Daud Ali menyebutkan langkah pemikiran Umar bin Khaththab
r.a. dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran berdasarkan keadaan-keadaan yang nyata pada suatu
waktu tertentu sehingga is dikenal berani dalam menerapkan ketentuan-ketentuan yang terdapat
dalam Alquran untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat berdasarkan
kemaslahatan dan kepentingan umum.
Daud All mencontohkan beberapa tindakan Umar dalam bidang hukum yaitu: Talak tiga yang di
ucapkan sekaligus di suatu tempat pada suatu ketika dianggap sebagai talak yang tidak mungkin
rujuk sebagai suami-isteri, kecuali bekas isteri kawin dulu dengan orang lain. Tujuan hukum dari
tindakan Umar di atas adalah:
a. Melindungi kaum wanita dari penyalahgunaan hak talak yang berada di tangan pria;
b. Agar pria berhati-hati mempergunakan hak talak itu dan tidak mudah mengucapkan talak tiga
sekaligus, yang di zaman Nabi dan Abu Bakar, dianggap jatuh talak satu.
c. Mendidik suami supaya tidak menyalahgunakan wewenang yang berada dalam tangannya.

Tindakan Umar tersebut dilatarbelakangi oleh kebanyakan pria yang mudah mengucapkan talak
tiga kepada isterinya.

1. Penghentiaan pemberian zakat kepada mukallaf karena Islam telah kuat, dan umatnya telah
banyak sehingga tidak perlu lagi diberikan keistimewaan kepada golongan khusus dalam tubuh
umat Islam.
2. Umar tidak melaksanakan penghukuman terhadap pencuri sebagaimana disebutkan dalam
Alquran karena keadaan darttrat dan kemaslahatan jiwa masyarakat, sementara pada masa
pemerintahannya terjadi kelaparan dalam masyarakat di semenanjung Arabia.
3. Umar melarang perkawinan campuran antara pria muslim dengan wanita ahli kitab ! mink
melindungi wanita Islam dan keantanatz rahasia Negara.
Daud Ali mengatakan bahwa sepintas lalu keputusan-keputusan Umar di atas seakan akan
bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Alquran, tetapi apabila dikaji berdasarkan tujuan
hukum Islam, ijtihad Umar dimaksud tidak bertentangan dengan maksud-maksud ayat-ayat
hukum tersebut."

Asafri melanjutkan penjelasan al-Syathibi dengan kalimat sebagai berikut:


"Pembagian yang dilakukan oleh al-Syathibi ini dapat mempermudah untuk memahami
mekanisme ijtihad. Dalam ijtihad istinbati, seorang mujtahid memfokuskan perhatiannya pada
upaya penggalian ide-ide yang dikandung oleh nash yang abastrak. Sedangkan dalam ijtihad
tathblqi, seorang mujtahid berupaya untuk menerapkan ide-ide yang abstrak tadi kepada
permasalahan-permasalahan yang konkret. Jadi obyek kajian ijtihad istinbati adalah nash,
sedangkan obyek kajian ijtihad tathbigi adalah manusia sebagai pelaku hukum dengan dinamika
perubahan dan perkembangan yang dialaminya. Ijtihad tathbfqi dapat disebut sebagai upaya
sosialisasi dan penerapan ide-ide nash pada dataran kehidupan manusia, yang senantiasa
berkembang dan berubah, sehingga wajar apabila al-Syathibi menyebut ijtihad tidak akan berhenti
sampai akhir zaman."

Asafri mengomentari pendapat al-Sydthibi di atas dengan mengatakan bahwa antara kedua ijtihad
itu ada hubungan lanjut yang sating memerlukan. Dalam melakukan ijtihad tathbicii, ijtihad
istinbati memegang peranan yang amat penting karena pengetahuan tentang esensi dan ide umum
suatu nash tetap menjadi tolok ukur dalam penerapan hukum. Kekeliruan dalam memahami ide
ayat akan melahirkan kekeliruan dalam menilai masalah masalah baru dan penerapan hukumnya.
Artinya, ijtihad tathbigi yang disebut tahcfiq al mancith harus dikaitkan dengan takhrij al-mandth
dan tanciih al-mancith sebagai ijtihad istinbati.

Al-Sydthibi tidak (hanya) membagi ijtihad ke dalam dua jenis tersebut di atas. Bahkan is membagi
syarat-syarat ijtihad menjadi 2 (dua) bagian, yaitu: 1) memahami tujuan hukum Islam, 2) memiliki
media istinbat. Satria Effendi — sebagaimana dikutip Asafri — mengatakan bahwa maqcishid al-
syari`ah menjadi kunci keberhasilan mujtahid dalam ijtihadnya karena kepada landasan tujuan
hukum itulah setiap persoalan dalam kehidupan manusia dikembalikan, baik terhadap masalah-
masalah baru yang belum ada secara harfiah dalam wahyu maupun dalam kepentingan untuk
mengetahui apakah suatu kasus masih dapat diterapkan suatu ketentuan hukum atau tidak, kerena
terjadinya pergeseran-pergeseran nilai akibat perubahan-perubahan sosial.

Sehubungan dengan syarat pertarna di atas, al-Sydthibi mengatakan bahwa apabila seseorang telah
dapat memahami maksud pembuat hukum pada setiap masalah dan bab hukum Islam, berarti is
telah memperoleh kedudukan khalifah Nabi untuk menyampaikan ajaran, berfatwa, dan
menetapkan hukum dengan pengetahuan yang Allah berikan kepadanya. Syarat ini merupakan
syarat pokok. Sedangkan syarat kedua merupakan kemampuannya menggali hukum melalui
pengetahuan bahasa Arab, hukum-hukum Alquran dan Sunnah, ijma, ikhtilaf, dan jalan-jalan qias.
Dan syarat ini merupakan alat bantu terhadap syarat pertama.

Menurut Asafri, pemberian porsi yang besar terhadap tujuan hukum Islam oleh al Sydthibi ini,
bertitik tolak dari pandangannya bahwa semua kewajiban (takliJ diciptakan dalam rangka
merealisasikan kemaslahatan hamba.24 Dalam pandangan al Syathibi, tak satu pun hukum Allah
yang tidak mempunyai tujuan, karena sama dengan taklif ma la yuthciq (membebankan sesuatu
yang tidak dapat dilaksanakan). Fath al-Darayn – sebagaimana dikutip oleh Asafri –
memperkuatnya dengan mengatakan bahwa hukum-hukum Allah tidaklah dibuat untuk hukum itu
sendiri, tetapi untuk tujuan lain, kemaslahatan. Abu Zahrah mengatakan seperti itu pula. Asafri
mengutip pula pendapat Khalid Mas`tid tentang ajaran maqdshid al-SyarVah al-Sydthibi sebagai
upaya memantapkan maslahat sebagai unsur penting dari tujuan-tujuan hukum. Pendapat Wael B.
Hallaq dikutip pula oleh Asafri, yaitu maqcishid al-Syari `ah al-Syathibi berupaya
mengekspresikan penekanan terhadap hubungan kandungan hukum Tuhan dengan aspirasi hukum
yang manusiawi.

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian pendahuluan bahwa tujuan hukum Islam adalah untuk
menjadi rahmat bagi para hamba-Nya. Menurut Abu Zahrah, tujuan tersebut merupakan tujuan
tertinggi dari risalah Muhammad. Oleh karena itulah, keberadaan hukum Islam dalam rangka
memelihara kemaslahatan manusia sesuai dengan tingkatannya masing-masing: dharfiri, haji, dan
tahsini, atau dhartiriycit, hcijiycit, dan tahslniycit."

Pada uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa tujuan hukum Islam adalah untuk: pendidikan
pribadi, penegakan keadilan, dan kemaslahatan. Dengan tujuan pendidikan pribadi, manusia
menjadi sumber kebaikan bagi masyarakatnya, sebagai buah dari ibadahibadah pokok yang telah
Allah tentukan. Pribadi-pribadi manusia yang telah menjadi sumber kebaikan bagi masyarakatnya,
akan menguatkan hubungan manusia-manusia terhormat dan sekaligus mengobati penyakit hati
manusia.

Penegakan keadilan ditujukan kepada semua manusia, baik yang seagama maupun yang berbeda
agama. Allah berfirman yang maknya "Janganlah kebencianmu kepada suatu bangsa
mendorongmu berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena perlakuan adil Iebih dekat kepada takwa."
Abu Zahrah mengatakan bahwa keadilan dalam Islam merupakan tujuan tertinggi, yang dapat
diterapkan dalam hukum-hukum, dunia peradilan, kesaksian, dan juga dalam transaksi bisnis.
Keadilan sosial yang dimaksud Islam menjadikan manusia sama di hadapan undang-undang dan
peradilan, tanpa ada perbedaan sama sekali.

Di dalam Islam, Divine Justice atau keadilan Tuhan terdapat dalam wahyu Tuhan dan hikmah yang
disampaikan Rasulullah Muhammad Saw kepada umat-Nya, yang terdapat dalam Alquran dan
Hadis.

Khadduri – sebagaimana dikutip Topo Santoso – mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang
keadilan adalah prinsip umum bahwa individu-individu seharusnya menerima apa yang
sepantasnya mereka terima. Sementara legal justice atau keadilan hukum merujuk pada
pelaksanaan hukum menurut prinsip-prinsip yang ditentukan atau due process (the rule of law).
Ada pula istilah social justice yang didefinisikan sebagai konsepsi-konsepsi umum mengenai
social fairness, yang mungkin berselisih dengan keadilan individu dan keadilan secara umum.
Topo Santoso mengatakan bahwa keadilan sering juga bertabrakan dengan, misalnya konsep
keadilan dari utilitarisme yang mengesampingkan keuntungan kolektif dengan konsepsi keadilan
yang menekankan keseimbangan antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat. Rawls, penulis
buku Teori Keadilan, – sebagaimana dikutip Topo – mendefinisikan keadilan dengan fairness, dan
menurutnya, ketidaksamaan dapat diterima hanya apabila dengan itu penduduk menjadi lebih baik.
Jadi, Rawls mendukung carnpur tangan negara.

Boissard – sebagaimana dikutip Topo – mengatakan bahwa menurut sistem Islam, apa pun yang
legal, lurus, dan sesuai dengan hukum Allah, adalah adil. Oleh karena itu, keadilan adalah
kebaikan karena Tuhan menyediakan hukum yang disampaikan melalui Alquran. Inilah konsep
yang bersifat religius mengenai keseimbangan dunia yang diatur dengan ketetapan Tuhan.
Dikatakannya pula bahwa prinsip-prinsip persamaan, pertengahan, proporsional membawa
keindahan di alam dan kebaikan bagi manusia dan keadilan mewakili tujuan dasar dan tujuan akhir
dari semua wahyu Tuhan, yang terekspresikan dalam keadilan Tuhan kepada makhluk-Nya dan
keadilan antar sesama manusia.Dalam bahasa hukum Islam, kebaikan sering disebut dengan al-
maslahah sedangkan jamaknya adalah al-mashcilih, yang berarti kebaikan-kebaikan.

Sedangkan kemaslahatan yang dimaksud dalam hukum Islam terkait dengan segala perintah dan
larangan yang terdapat dalam Alquran dan Sunnah, adalah kemaslahatan sejati, yang kadang-
kadang tertutupi oleh hawa nafsu manusia sendiri. Oleh karena itu, menurut penulis, pandangan
orang-orang di luar Islam dan/atau pandangan sebagian orang Islam yang menganggap kejam
hukum pidana Islam, atau hanya berlaku untuk bangsa tertentu saja sebagaimana ditujukan
pertama kalinya, merupakan pandangan yang tertutupi oleh hawa nafsu tanpa melihat
kemaslahatan ke depannya atau dampak yang sangat positif dari suatu ketentuan hukum dalam
Islam. Topo Santoso menyebutkan pandangan miring-miring orang-orang yang penulis maksudkan
di atas dengan kalimatnya "Hukum Islam sering dipandang terlampau kejam terhadap terpidana
qisas, pembunuhan atau penganiayaan, dan perzinaan." Mereka tidak mengaitkan jenis hukuman
tersebut dengan tujuannya, apalagi memandang keadilan Islam sebagai bagian integral dari
keseluruhan ajaran Islam,4° sebagaimana dikemukakan oleh Topo. Dan menurut penulis, Alquran
jelas menyebutkan kandungan yang terdapat dalam ketentuan hukum qisas adalah kehidupan, yaitu
pemeliharaan kehidupan-kehidupan manusia lainnya melalui penghukuman terhadap pelaku
pembunuhan saja dan pencegahan terhadap pengulangan peristiwa pembunuhan oleh dan terhadap
orang lain.
Ada 5 jenis kemaslahatan yang hendak diwujudkan oleh hukum Islam, yaitu: 1) pemeliharaan
agama, 2) pemeliharaan jiwa, 3) pemeliharaan harta, 4) pemeliharaan akal, dan 5) pemeliharaan
keturunan. Kelima jenis pemeliharaan tersebut berhubungan dengan kehidupan manusia.

Pemeliharaan agama merupakan salah satu dari 5 (lima) pemeliharaan karena hidup manusia akan
mempunyai makna yang besar apabila mempunyai agama, yang juga merupakan sifat khusus
manusia. Pemeliharaan agama hams dilakukan agar tidak ada permusuhan terhadap agama. Dalam
kaitan itu, kebebasan memeluk agama dan melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok merupakan
bagian dari pemeliharaan agama.

Pemeliharaan jiwa merupakan pemeliharaan terhadap hak hidup yang mulia. Oleh karena itu,
permusuhan harus dihindari karena dapat melukai, menganiaya, dan menghilangkan jiwa manusia.
Larangan melakukan penuduhan dan cacian termasuk bagian pemeliharaan jiwa manusia.
Hukuman-hukuman pidana yang tergolong jenis hudud yang disebutkan dalam Alquran dan
Sunnah tidak terlepas dari tujuan memelihara jiwa.

Pemeliharaan akal manusia dilakukan agar akal tidak terkena bencana yang membuat hidup orang
yang terkena bencana tersebut menjadi sia-sia dan sampah masyarakat. Ada beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk memelihara akal, yaitu:
I. Setiap anggota masyarakat harus saling memberikan bantuan, kebaikan, dan manfaat, sebab akal
seseorang tidak menjadi hak murni yang dimilikinya, tetapi terkait dengan hak masyarakat. Dan
termasuk bagian dari hak masyarakat adalah memelihara keselamatannya;
2. Siapa pun yang mencederakan akalnya akan merugikan dirinya sendiri dalam kehidupan
masyarakat. Oleh karena itu, hal-hal yang dapat mencederainya harus dihindari.
3. Bencana terhadap akal akan menimbulkan dampak negatif kepada masyarakat, yang muaranya
akan timbul saling menyakiti dan permusuhan."

Pemeliharaan keturunan merupakan pemeliharaan terhadap manusia sendiri dan memberikan


pendidikan yang dapat mengikat hati manusia dalam sebuah keluarga. Untuk mencapai tujuan
tersebut, Islam membuat aturan tentang hukum perkawinan dan hak-hak keluarga. Oleh karenanya
pula, pemeliharaan terhadap kehormatan manusia dari tuduhan atau perbuatan yang keji
merupakan bagian dari pemeliharaan terhadap keturunan.

Pemeliharaan terhadap harta dapat mencegah pengambilan harta secara sembunyi, tanpa hak,
dan/atau melalui cara yang tidak benar. Oleh karena itu, harta itu harus didistribusikan secara
benar pula. Adanya aturan suatu transaksi harus dilakukan secara adil dan suka rela merupakan
cara lain untuk memelihara harta."

Abu Zahrah mengutip ucapan Imam Gazali mengenai 5 tujuan pokok hukum Islam yaitu
"Mendatangkan manfaat dan menolak kerusakan merupakan tujuan dan kemaslahatan manusia.
Oleh karena itu, 5 jenis pemeliharaan yang merupakan maksud pembuat hukum tersebut harus
tetap terpelihara. Dalam kesimpulannya is mengatakan bahwa segala sesuatu yang dapat menjamin
terpeliharanya 5 hal di atas merupakan kemaslahatan, dan segala hal yang menyebabkan luputnya
5 hal di atas merupakan kerusakan, sedangkan penolakannya merupakan kemaslahatan. Selain itu
al-Gazali mengatakan pula bahwa pemeliharaan 5 (lima) kemaslahatan tersebut di atas termasuk
kategori kemaslahatan yang primer, dan inilah kemaslahatan yang paling kuat, dan menduduki
peringkat pertama dari 3 (tiga) jenis kemaslahatan yang ada.

`Izz al-Din `Abd al-Salim (yang populer dengan sebutan al-Izz ibn Abd al-Salim) membagi
kemaslahatan menjadi 3 bagian:
1. Kemaslahatan yang Allah wajibkan kepada / untuk para hamba-Nya. Kewajiban-kewajiban
agama berbeda pula tingkatannya sesuai dengan kadar kemaslahatannya. Apabila
kemaslahatannya lebih kuat, maka kewajibannya pun lebih kuat dan pelaksanaannya lebih
didahulukan, seperti halnya dalam kaffarah puasa, yaitu pemerdekaan hamba sahaya harus
didahulukan daripada kewajiban lainnya karena kemaslahatan pemerdekaan hamba sahaya lebih
kuat, sehingga kewajiban puasa (kaffcirah) dilaksanakan sesudahnya. Kewajiban berikutnya
bagi yang tidak mampu berpuasa adalah memberi makan 60 (enam puluh) orang miskin, dan
seolah-olah pemberian makan orang miskin sebagai taubat karena tidak berpuasa satu hari pada
bulan Ramadan. Dalam hubungan itu, kewajiban puasa merupakan kewajiban pokok."
2. Kemaslahatan yang Allah anjurkan kepada / untuk para hamba-Nya.
Kemaslahatan ini mempunyai beberapa tingkat yang tingkat tertingginya berada di bawah
tingkat terendah kemaslahatan yang wajib, sedangkan tingkat terendahnya mendekati
kemaslahatan yang mubah.
3. Kemaslahatan yang mubah.
Perbuatan yang mubah mempunyai kemaslahatan dan menolak kerusakan. Karenanya al `Izz
ibn Abd al-Saldm mengatakan bahwa kemaslahatan yang mubah bersifat segera, dan
sebagiannya lebih bermanfaat dan lebih besar daripada yang lainnya, serta tidak ada pahalanya,
seperti makan atau minum.

Kemaslahatan yang pertama ada beberapa tingkatan, yaitu: 1) al-fcidhil (yang utama), 2) al-'afdhal
(yang lebih utama), dan 3) al-mutawassit baynahumci (menengah antara al-fcidhil dan al-'afdhal).
Kemaslahatan yang lebih utama adalah yang terkait dengan dirinya, menghilangkan kerusakan
yang terburuk, mendatangkan kemaslahatan yang paling kuat. Kemaslahatan yang seperti harus
dilaksanakan.

ibn Abd al-Saldm — sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah — menyebutkan beberapa contoh
tentang mendahulukan suatu kewajiban daripada kewajiban lainnya karena adanya perbedaan
kemaslahatan, seperti: 1) mendahulukan penyelamatan orang yang (akan) tenggelam daripada salat
5 waktu karena menyelamatkan orang yang (akan) tenggelam yang (harus dipelihara) di sisi Allah
lebih utama daripada salat 5 waktu, sementara kedua kemaslahatan tersebut dapat digabungkan
dengan cara menyelamatkan orang yang (akan) tenggelam, lalu melakukan qadha salat. Dan
sebagaimana diketahui salat yang luput tidak sama dengan menyelamatkan jiwa yang hampir
binasa, 2) seseorang yang melihat orang yang (akan) tenggelam pada bulan Ramadan, yang tidak
mungkin diselamatkannya kecuali dengan berbuka puasa, maka is (harus) berbuka dan
menyelamatkan orang itu. Ketentuan ini termasuk menggabung berbagai kemaslahatan, sebab ada
hak Allah pada nyawa-nyawa orang yang (harus) diselamatkan, dan ada Pula hak yang mempunyai
nyawa/jiwa. Oleh karena itu, menyelamatkannya harus didahulukan daripada melaksanakan puasa,
sekalipun puasa merupakan kewajiban pokok.

Abu Zahrah mengatakan sehubungan dengan pendapat para ahli fikih tentang semua hukum Islam
mengandung kemaslahatan yang nyata, dan Allah telah menetapkan tujuan hukum Islam sebagai
rahmat, penawar, dan petunjuk, mereka berbeda pendapat tentang hukum Islam ber-Tlat dan terikat
dengan kemaslahatan yang pasti. Perbedaan pendapat dimaksud terbagi 3 (tiga) kelompok:
1. Aliran 'Asyd'irah dan Zahiriyah mengingkari hukum Islam ber-Tlat atau terikat dengan
kemaslahatan sehingga ada hukum Islam yang di dalamnya tidak terkandung suatu
kemaslahatan. Sekalipun ada pengingkaran, penelitian mereka menunjuldcan bahwa hukum
Islam ditetapkan untuk kemaslahatan yang terbatas pada lima hal tersebut.
2. Sebagian Syafi'iyah dan Hanafiyah menetapkan bahwa kemaslahatan itu patut dijadikan sebagai
'Mat hukum, yang menjadi pertanda hukum, tetapi tidak disebutkan 'Mat tersebut oleh Allah
SwT.
3. Aliran Mu`tazilah, Maturidiyah, dan sebagian Hanabilah – Malikiyah mengatakan bahwa
hukum Islam ber-`illat dengan kemaslahatan karena Allah menjanjikannya, dan dengan kasih
sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, la menolak kerusakan dari mereka dan menghilangkan
kesulitan. Pendapat mereka didasari pada pemikiran bahwa hukum-hukum yang ada nash-nya
ber-`illat dengan kemaslahatan yang tidak terikat dengan kehendak Allah, dan pemberian 'Mat
dimaksud tidak menyebabkan penghancuran (dekonstruksi) terhadap nash. Dikatakannya pula
bahwa apabila manusia tidak dapat membuktikan adanya kemaslahatan dalam suatu hukum,
akal-pikiranlah yang seharusnya dipersalahkan.

Menurut Abu Zahrah, perbedaan pendapat tentang adanya kemaslahatan dalam suatu hukum
sebagaimana tersebut di atas hanya teoritis saja, tetapi dalam prakteknya tidak pernah ada, karena
mereka semua mengakui bahwa hukum Islam merupakan media untuk memelihara kemaslahatan
sejati.

Asafri menyebutkan 2 sudut pandang al-Sydthibi tentang kemaslahatan, yaitu 1) magashid al-
Syciri` dan 2) magóshid al-mukallaf. Menurutnya pula, tujuan hukum dalam arti tujuan Tuhan
mempunyai 4 (empat) aspek:
1. Tujuan awal syariat yaitu kemaslahatan manusia di dunia dan di akherat.
2. Syariat sebagai sesuatu yang harus dipahami.
3. Syariat sebagai seuatu hukum taklifi yang harus dilakukan,
4. Tujuan syariat adalah membawa manusia ke bawah naungan hukum.

Asafri merinci keempat aspek tersebut sebagai berikut:


"Aspek pertama berkaitan dengan muatan dan hakekat maqdshid al-syatTah. Aspek kedua
berkaitan dengan dimensi bahasa agar syariat dapat dipahami sehingga dicapaikemaslahatan yang
dikandungnya. Aspek ketiga berkaitan dengan pelaksanaan ketentuan-ketentuan syariat dalam
rangka mewujudkan kemaslahatan., yang berkaitan juga dengan kemampuan manusia untuk
melaksanakannya. Aspek yang terakhir (keempat) berkaitan dengan kepatuhan manusia sebagai
mukallaf di bawah dan terhadap hukum-hukum Allah. Atau dalam istilah yang lebih tegas aspek
tujuan syariat berupaya membebaskan manusia dari kekangan hawa nafsu. Aspek kedua, ketiga,
dan keempat pada dasarnya lebih tampak sebagai penunjang aspek pertama sebagai inti. Aspek
kesatu, kedua, dan ketiga merupakan rincian bagi aspek pertama. Aspek pertama sebagai inti dapat
terwujud melalui pelaksanaan taklif atau pembebanan hukum terhadap para hamba sebagai aspek
ketiga, yang tidak dapat dilakukan kecuali memiliki pemahaman baik dimensi lafal maupun
maknawi sebagaimana aspek kedua, yang selanjutnya pelaksanaan taklif ini dapat membawa
manusia berada di bawah hukum Tuhan, lepas dari kekangan hawa nafsu, sebagai aspek keempat.
Dalam keterkaitan demikianlah tujuan diciptakannya syariat, yaitu kemaslahatan di dunia dan di
akherat, sebagai aspek inti, dapat diwujudkan."
Kesimpulan, bahwa Hukum Islam bersumber pada syariat Islam yang terdapat dalam Alquran dan
Sunnah, Hukum Islam bertujuan memelihara kemaslahatan manusia di dunia dan di akherat,
Tujuan hukum Islam ada yang bersifat primer, subsidair, dan tertier, pokok, pendukung, dan
penyempurna, Tujuan pokok hukum Islam sering disebutkan dalam rangkaian teks ayat Alquran
atau materi Sunnah Qauliyah dan Pendidikan pribadi manusia, penegakan hukum dan keadilan
merupakan tujuan lainnya yang universal dari hukum Islam.

Saran, Studi tentang hukum Islam dan tujuannya seharusnya digalakkan kembali oleh para hakim
Peradilan Agama khususnya karena akan dapat memperkaya penguasaan materi dan teori hukum
serta maksud kandungan ayat dapat tercermati dengan benar dan Penggalakan studi tersebut di atas
disarankan melalui analisis ilmu-ilmu bantu dalam hukum Islam dan/atau teori hukum Islam.

===============

Ilustrasi by Timur Abimanyu, SH.MH.


http://www.timoer.infomediailmiah.blogspot.com/
http://www.yahoo.com/
http://www.google.com/
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abu Zahrah, Muhammad, ushul al-Filth, ([t. tp.]: Dar al-Fikr al-`Arabi, 1377 H./1958 M.).
Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syariah menurut al-Syclthibi. (Jakarta: RajaGrafindo
Persada, 1996), cet. I.
Boissard, Humanism in Islam, (Indiana: American Trust Publications, 1968).
Fath al-Darayn, al-Manahij al-Ushaliyyah fi ljtihad hi al-rdyi fi al-Tasyri, (Damsyik: Dar al Kitab
al-Hadis, 1975).
Khadduri, The Islamic Conception of Justice, (Baltimore-London: The John Hopkins University
Press, 1984).
Mohammad Daud Ali, Asas-asas Hukum Islam (Hukum Islam I "Pengantar Ilmu Hukum dan Tata
Hukum Indonesia"). (Jakarta: Ui-Press, 1991), cet. Ke-2.
Muhammad Khalid Mas'ild, Islamic Legal Philosophy, (Islamabad: Islamic Research Institut,
1977).
Nadiyah al-Syariffi al-Islam: Ushiduh, Ahkcimuh wa Alcrquh. (Beirut:Mu'assasah Risalah, 1981).
Satria Effendi, Maqciashid al-Syarrah dan Perubahan Sosial (makalah) Seminar Reaktualisasi
Ajaran Islam III (Jakarta: Departemen Agama, Pebruari 1991).
Shalah al-Din Maqbtil Ahmad, Irsyad al-Nuqad ild Tap* al-ljtihad. (Kuwait: Dar al Salafiyah,
1982).
Al-Syathibi, al-Muwayaqat fi Ushul al-Syarrah. (selanjutnya disebut al-Muwcifaqat), (Kairo:
Musthafa Muhammad, [t. th.]).
Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam (Penerapan Syariat Islam dalam Konteks
Modernitas, (Bandung: Asy-Syaamil Press & Grafika, 2000).
Wael B. Hallaq, The Primacy of The Qur'an in Sydathibi Legal Theory, dalam: Wael B. Hallaq
dan Donald P. Little (ed) Islamic Studies Presented to Charles J. Adams. (Leiden: EJ-
Brill, 1991).
Yilsuf al-Qaradhawi, al-Ijahcid fi al-Syarrah al-Islchniyah ma 'a Nazhardt Tahliliyah fi al-Ijandd
al-Mu 'ashir, alih bahasa Ahmad Syathari (Jakarta: Bulan Bintang, 1987).