Anda di halaman 1dari 9

Emha Ainun Najib lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 .

Aktivitas di bidang
sastra dimulai ketika ia menjadi pngasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta
(1970). Kemudian berturut-turut menjadi wrtawan/redaktur di harian Masa Kini (1973-
1976)
Rotterdam, Juni 1984, di sebuah park atau semacam alun-alun Pada acara Poetry
International 1984, Emha naik ke pentas didampingi Zapata, pemain perkusi kelahiran
Suriname yang berdomisili di Amsterdam. Kedua orang yang disaksikan ribuan penonton
ini mengadakan improvisasi, Emha melalui kata, Zapata dengan perkusinya. Di akhir
pentas, tiba-tiba Emha berzikir "Laailaaha Illallah" dan Zapata segera menghentakkan
gendangnya. Ketika zikir itu berakhir dengan raungan, Zapata menghentikan pukulannya.
Di Indonesia, cara Emha membaca puisi dengan iringan alat perkusi yang terdiri dari
gong, bonang, gendang dan saron pernah membuat bingung Dewan Kesenian Jakarta
untuk menggolongkan puisi tersebut ke dalam sastra, musik, atau lainnya.
Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir tahun 1970-an. Ia bekerja sama dengan
Teater Dinasti yang bertempat di rumah kontrakannya, di daerah Bugisan, Yogyakarta.
Beberapa kota di Jawa pernah mereka kunjungi, untuk satu hingga dua kali pertunjukan.
Selain manggung, ia juga mulai tertarik menjadi kolumnis.

ABRACADABRA, KITA SEMBUNYI

abracadabra kita tiarap


karena tak ada janji peluru itu
tidak untuk ditembakkan ke jidat kita
abracadabra kita sembunyi
karena kata merdeka masih belum selesai diperdebatkan
abracadabra kita masuk liang-liang gelap
karena tak ada siapa-siapa yang menjamin apa-apa
abracadabra kita cuma bisa mabuk
sehingga kita tidak tahu bahwa kita mabuk
abracadabra kita semakin mabuk
karena setiap ingatan terlalu menusuk

Tuhan, kamu jangan tertawa


nyawa kami tidak hilang, hanya ketlingsut entah dimana
dengarkan tetap kami puja keperkasaan Mu
dalam kekaguman kami kepada diri kami sendiri
yang tetap bisa hidup
tanpa hak bicara dan peluang untuk berbagi
tidakkah kamu terharu menyaksikan kepengecutan kami ?
dan mungkinkah kamu mengutuk rasa takut dalam jiwa kami
sedangkan ketakutan adalah anugerah Mu sendiri ?

abracadabra otak kita bercanggih-canggih mengembara


berebut thema-thema yang tak ada hubungannya dengan apa-apa
abracadabra kita berjoget
karena sisa rakhmat Mu yang bisa dinikmati hanyalah situasi-situasi lupa
abracadabra kita meniup balon-balon kosong
abracadabra kita menggelembungkan tahayul agama
halusinasi politik dan mitos-mitos kesenian
abracadabra kita bercumbu dengan gincu ilmu omong kosong
abracadabra kita jatuh
terserimpung oleh langkah kita sendiri
abracadabra kita berlari ke utara
tiba-tiba dihadang oleh selatan
abracadabra kita terjun ke air, ternyata batu
abracadabra kita mengulum api
kita tersenggak oleh asap-asap yang semakin membumbung ke ubun-ubun kita

abracadabra baru kita tahu apa yang dianggap mengganggu ketenteraman ?


ialah
KEBENARAN
abracadabra gerangan apa yang bagi mereka merusak tatanan ?
ialah
KEADILAN
abracadabra dan apa kiranya puncak kejahatan ?
namanya
KEBEBASAN

DOA PESAKITAN

GUSTI,
seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa

GUSTI,
inilah tawanan Mu
tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-hal maya
GUSTI,
cinta kami kepada Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari Mu
takkan tertandingi

GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari Mu
agar jadi bening dan tahu malu

GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah Mu

GUSTI,
lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan Mu ?

GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti

GADIS DAN SUNGAI

lihatlah gadis itu, yang berjalan sendiri di pinggir sungai


lihatlah rambutnya yang panjang dan gaunnya yang kuning
bernyanyi bersama angin
cerah matanya seperti matahari, seperti pohon-pohon trembesi
wahai cobalah tebak kemana langkahnya pergi

“aku ingin menyeberangi sungai


ada bunga memancar ke hati
kulihat semalam dalam mimpi

lihatlah gelora wajahnya dan langkahnya perkasa, berkat


semangat dari mimpinya, lihatlah matanya yang jernih itu
belum bisa menangkap duri dan batu-batu
wahai katakanlah segera kepadanya, bahwa arus sungai itu
sangatlah derasnya, Lumpur dan lintah banyak di dalamnya
hendaknya teguh dan kokoh kakinya, agar tak terperosok
jauh dan luka
RUMAH COR API

demi keadilan
hukum disingkirkan
demi kebenaran
pengabulan ganti rugi dibatalkan
demi ketenteraman
air ludah harus kembali ditelan

karena cahaya kemajuan harus memancar


maka panduan dan penerangan harus luas tersebar
karena program - program pembangunan harus lancar
maka terkadang pasar ini dan bangunan itu harus dibakar

lihatlah rumah - rumah cor api


lihatlah gedung - gedung berdiri di atas kuburan
batu - batanya terbuat dari kesengsaraan dan airmata
tembok - temboknya rekat oleh akumulasi ratapan
tiang - tiangnya tegak karena disangga oleh pengorbanan

diseberang itu engkau memandang


rumah - rumah didirikan
dekat di sisiku aku saksikan
rumah - rumah digilas dan dirobohkan

nun disana engkau melihat


rumah - rumah disusun - susun
nun disini aku menatap
perduduk terusir berduyun - duyun

ketika engkau berdiri di depan


hamparan tanah luas yang engkau beli
untuk mendirikan ratusan rumah
dan ribuan pemukiman manusia abad 21
pernahkah terlintas di kepalamu
ingatan tentang beribu - ribu saudara - saudaramu
yang kehilangan tanahnya

pernahkah engkau ingat betapa beribu - ribu orang itu


tak dianggap memiliki hak untuk mempertahankan tanahnya
dan ketika mereka terpaksa menjualnya
mereka juga tak dianggap memiliki hak untuk menentukan
harga petak - petak tanah mereka

ketika engkau menempati rumah itu


tahukah engkau, siapa nama tukang -tukang
yang menumpuk bata - batanya
yang mengangkut pasir dan memasang genting - genting

ketika engkau memijakkan kakiku di lantai rumahmu


dan meletakkan punggungmu di kasur ranjang
pernahkan engkau catat kemungkinan muatan
korupsi dan kolusi di dalam proses pembuatannya
sejak tahap tender
sampai pemasangan cungkup puncaknya

bagi berjuta - juta saudara - saudaramu


yang tak senasib dengan denganmu
yang bertempat tinggal tidak di pusat uang dan kekuasaan
pernahkah engkau sekedar berdoa saja
bagi kesejahteraan mereka

dunia sudah amat tua


darahnya kita hisap bersama - sama
kehidupan semakin rapuh
dan sakit kita tidak semakin sembuh
langit robek - robek
badan kita akan semakin dipanggang hawa panas
sejumlah pulau akan tenggelam
lainnya menjadi rawa - rawa
anak cucumu akan hidup sengsara
karena ransum alam bagi masa depan
telah dihisap dengan semena - mena

SAJAK GARUDA

SELALU TERDENGAR OLEHKU SUARA,


DARI PARUH GARUDA ITU :

kalau kau hisap darah rakyatku,


akan kutagih darah itu

kalau kau ambil tanah mereka,


akan kusengsarakan hari tuamu

kalau kau rebut hak mereka,


akan kubatalkan kebahagiaanmu
kalau kau rampok kenyang mereka,
akan kulaparkan anak cucumu

dan,
kalau kasih Tuhan kepada mereka kau halangi,
mayatmu tak 'kan kuhormati

KALAU TELINGAKU KELIRU,


PASTI GARUDA HANYALAH GAMBAR DUNGU

PUISI SEADANYA MENGENAI KEPALA

Puisi ini ditulis oleh penyairnya dengan bahasa yang diusahakan sangat seadanya, yang
kira-kira bisa dipahami oleh setiap anak yang baru mengenal sejumlah kata-kata, sebab
penyair itu merasa begitu ketakutan bahwa kematiannya akan menjadi sempurna jika
ternyata tak seorangpun memahami kata-katanya.

Jangan salah sangka. Ia takut bukan karena kawatir akan kehilangan kepala, melainkan
justru ia sangat mendambakan betapa bahagianya kalau pada suatu hari ia kehilangan
kepala. Masalahnya - terus terang saja - kepala itu sudah bertengger di atas lehernya
hampir tigapuluh tahun. Baginya ini merupakan beban yang teramat berat dan membuat
ia merasa tidak normal. Karena teman-temannya yang normal pada umumnya hanya
menyangga satu kepala paling lama lima tahun, bahkan ada yang hanya satu dua tahun,
malah ada juga yang sesudah dua tiga bulan sudah berganti kepala.

Penyair kita ini sudah menghubungi Tuhan ribuan kali melalui salat, wirit dan tarikat,
demi memperoleh kejelasan resmi mengenai keanehan ini. Bahkan sebelum itu sudah ia
datangi beratus-ratus dukun, kiai dan kantor ikatan cendekiawan, namun tidak
seorangpun sanggup memberinya jawaban yang memuaskan hati. Tuhan sendiri
sepertinya terlalu bersabar menyimpan teka-teki ini, bahkan sesekali ia merasakan Tuhan
seakan-akan bersikap ogah-ogahan terhadap masalah ini.

Matahari selalu terbit dan tetumbuhan tak pernah berhenti mengembang, tapi itu hanya
menambah ketegasan perasaan penyair kita bahwa sesungguhnya yang berlangsung
hanyalah kemandegan. Ayam berkokok tiap menjelang pagi, kemudian manusia bangun
dan tidak melakukan apa-apa untuk mengubah kebosanan yang sedemikian merajalela.
Alam semesta ini sendiri begitu patuh menggantikan siangnya dengan malam dan
menggilirkan malamnya dengan siang, tapi manusia hanya sibuk memproduksi ungkapan
yang berbeda untuk kenyataan yang sama, manusia habis waktu dan tenaganya untuk
mengulangi kebodohan dan keterperosokan yang sama, meskipun mereka
membungkusnya dengan perlambang-perlambang baru sambil ia meyakin-yakinkan
dirinya atas perlambang itu.
"Ya, Allah", seru penyair kita ini pada suatu malam yang sunyi, "patahkan leherku agar
kepalaku menggelinding ke dalam parit, kemudian persiapkan kepala yang baru yang bisa
membuatku hidup kembali !".

Bisa dipastikan Tuhan mendengar doa itu, tetapi siapa yang menjamin bahwa Ia bakal
mengabulkannya? Bukankah penyair itu sendiri yang dulu meminta kepalanya yang ini
untuk menggantikan kepala yang sebelumnya. Apa jawab penyair kita ini seandainya
Tuhan mengucapkan argumentasi begini : "Bagaimana mungkin kuganti kepalamu,
sedangkan kepala-kepala lain di tanganKu belum punya pengalaman sama sekali untuk
bertindak sebagai kepala ? Bukankah untuk menjadi kepala, segumpal kepala harus
memiliki pengalaman sebagai kepala sekurang-kurangnya lima tahun ?".

Penyair kita sangat-sangat menyesal kenapa makhluk Tuhan harus hidup dengan syarat
mempunyai kepala. Pada mulanya ia hanya badan saja, badan bulat yang seluruh sisi-
sisinya sama. Tapi kemudian karena ia kawatir akan disangka sederajat dengan buah
kelapa, maka ia memohon kepada Tuhan serta mengupayakan sendiri pengadaan kepala,
lantas kaki dan tangan.

Tetapi ternyata inilah sumber utama malapetaka hidupnya. Pada mulanya kepala itu
berendah hati dan patuh kepadanya, karena pada dasarnya kepala itu memang tidak
pernah ada seandainya ia tidak meminta kepada Tuhan dan mengadakannya.

Kesalahan pertama yang dilakukan oleh penyair ini adalah meletakkan kepala di bagian
atas dari badannya, sehingga badannya itu dengan sendirinya kalah tinggi dibanding
kepalanya, dan dengan demikian menjadi bawahannya. Hari-haripun berlalu, sampai pada
suatu saat ia menyadari bahwa sang kepala ternyata telah mengambil alih hampir semua
perannya. Misalnya soal berpikir, sekarang telah dimonopoli oleh kepala. Apa yang harus
ia lakukan, kemana harus melangkah, apa yang boleh dan tidak boleh, ditentukan oleh
kepala. Ia sendiri dilarang berpikir karena segala gagasan telah disediakan oleh kepala,
sedemikian rupa sehingga ia bukan saja tak boleh berpikir, tapi lama kelamaan ia juga
menjadi tidak mampu lagi berpikir.

Dulu ia membayangkan, tangan akan menggenggam fulpen atau senapan, jari-jari hendak
mengelupas buah nanas atau menyogoki lubang hidung, dialah yang berhak menentukan.
Tapi ternyata ketika ada makanan, yang memerintahkan tangan untuk mengambilnya
adalah kepala, kemudia diberikannya kepada mulut yang menjadi aparat sang kepala,
sedangkan badannya hanya menampung makanan itu, tanpa ikut mengunyah dan
merasakan nikmatnya.

Juga ia yakin bahwa apakah kakinya akan melompati sungai atau dipakai untuk
menjungkir badan, dialah yang merancang dan memutuskannya. Tapi sekarang segala
sesuatunya menjadi jelas bahwa hak itu telah diambil alih oleh kepala, dan ketika ia
mempertanyakan hal itu, tiba-tiba saja tangannya yang memegang pentungan
menggebugnya, dan kakinya yang bersatu tebal keras menendangnya.
"Wahai Tuhan, pengasuh badan yang menderita", guman penyair kita dengan nada yang
penuh kecengengan, "jikapun tanganMu terlalu suci sehingga jijik untuk berurusan
dengan segala yang kotor dalam kehidupan hamba-hambaMu, tolonglah Engkau
berkorban sekali ini saja, sentuhlah kepalaku, pegang ia dan cabut dariku, kemudian
kuusulkan langsung saja dirikanlah kerajaanMu dan Engkau sajalah yang mulai sekarang
bertindak sebagai kepalaku".