Anda di halaman 1dari 17

Neurologi

Topic yang dipilih:

- Tension headache
- Cluster headache
- Bell’s palsy
- Neuropati
- Stroke dan pendarahan otak (kompetensi 3b)
GCS

Mata Verbal Motorik


4= spontan 5= orientasi baik dan sesuai 6=mengikuti perintah
3= dengan perintah 4=disorientasi 5=melokalisir nyeri
2= dengan rangsang nyeri 3=bicara kacau 4=menghindari nyeri
1= tidak ada reaksi 2=mengerang 3=fleksi abnormal
1=tidak ada suara 2=ekstensi abnormal
1=tidak bergerak
Skor 15= sadar penuh/kompos mentis
Skor 9-14= konfusi, letargi, stupor
Skor 3-8= koma
Membedakan lesi UMN dan LMN

UMN LMN
Paralisis Parese yang flaccid atau lemah
Spastic, peningkatan tonus dan klonus Tonus menurun
Hiper-refleks Reflex patologi (-)
Reflek patologi (+) Atrophy dan fasikulasi
Tidak ada atropi, tapi bs terdapat disuse
atrophy

TENSION HEADACHE

Termasuk dalam nyeri kepala yang primer, nyerinya seperti dibekap atau ditekan, biasanya
berada pada bagian frontal, nyeri kepala ini berhubungan dengan stress, kecemasan, depresi,
konflik emosional, kelelahan, atau rasa tertekan.
Px fisik: -

Tatalaksana: parasetamol 500mg atau ibuprofen 400mg atau penghilang nyeri lainnya, bila perlu
ditambahkan anticemas yaitu diazepam 5-30mg/hari. Lakukan konseling pada pasien.

CLUSTER HEADACHE

Termasuk dalam nyeri kepala primer juga, rasa sakitnya hanya pada sebagian kepala, biasanya di
sekitar mata, kadang terasa di dalam mata.

Px fisik: -

Tatalaksana: anti nyeri ringan-sedang

BELL’S PALSY

Kelumpuhan sementara sebagian wajah akibat N.VII perifer, kelumpuhan meliputi bagian wajah
unilateral, antara lain senyum yang tidak simetris, rasa lumpuh yang unilateral, kadang disertai
rasa nyeri pada telinga, riwayat perjalanan jauh dengan sepeda motor atau infeksi herpes perlu
ditanyakan.

 Px fisik: N VII (Motorik) : Sikap mulut dalam istirahat , Mimik, Angkat alis,
Kerut dahi, Tutup mata dengan kuat, Tersenyum/memperlihatkan gigi , Kembung pipi ,
Menyeringai.

N VII (Pengecapan) : Rasa kecap lidah 2/3 depan , Refleks , Refleks chvostek

Tatalaksana: steroid 1mg/KgBB/hari PO, bila diperlukan resepkan airmata buatan, bila
ditemukan tanda infeksi herpes, asiklovir 2000-4000mg/hr dalam 5 dosis selama 10 hari.

NEUROPATI

Yang paling sering terjadi adalah neuropati diabetikum, gejala khas neuropati adalah rasa
kesemutan, kehilangan sensasi pada bagian lesi (parestesia/baal), rasa nyeri. Mononeuropati bisa
disebabkan oleh inflamasi, iskemia, dan cedera langsung pada saraf, seperti pada carpal tunnel
syndrome pada orang2 yang terlalu melakukan gerakan repetitive spt sering mengetik pada
komputer.

Etiologi:

 Diabetes
 Alcoholism
 gizi buruk atau deff vitamin
 Herniasi diskus vertebrae
 cancer
 autoimun
 medikasi
 penyakit ginjal atau tiroid
 Infeksi spt: Lyme disease, shingles, atau AIDS

Px fisik: pemeriksaan kekuatan motorik dan sensasi, baik sensasi raba, nyeri, posisi.

Tatalaksana: tergantung etiologi

STROKE DAN PENDARAHAN OTAK

A. Pendarahan otak

Jenis Hematoma epidural Hematoma subdural Hematoma


pendarahan intraserebral
Penyebab Pecah arteri meningens Pecah vena akibat Thrombosis atau
akibat trauma trauma emboli atau rupture
aneurisma
Gejala Sakit kepala hebat, bisa Akut: <48jam henti Deficit neurologis
hilang timbul dan makin nafas, sindroma tergantung dimana
parah, disorientasi, herniasi, hilang letak lesinya
penurunan kesadaran control atas nadi dan
tek darah
Subakut:>48jam,
trauma kepala yg
membuat pingsan dan
perbaikan status
neurologis bertahap
kemudian memburuk,
ICP meningkat
berkala
Kronik:>bbrp minggu,
perubahan progresif
dalam tingkat kesadaran
termasuk apati, letargi,
berkurangnya perhatian
dan menurunnya
kemampuan untuk
mempergunakan
kecakapan kognitif yang
lebih tinggi.
Hemianopsia,
hemiparesis, dan
kelainan pupil
ditemukan pada kurang
dari 50% kasus,
adakalanya epilepsy
fokal dengan adanya
tanda-tanda papiledema
Px fisik GCS menurun dalam GCS, fungsi Idem
hitungan menit-jam neurologis
Px penunjang CT Scan darurat, tampak Tampakan spt bulan CT scan untuk fase
bikonvek atau cembung sabit akut dan MRI untuk
fase lanjut
B. Stroke
Pengertian: gangguan fungsional otak fokal maupun global sebagai akibat dari gangguan
vaskularisasi darah pada daerah tertentu di otak. Defek neurologis fokal dapat berupa
hemiparesis, hemiplegia, diplopia, hemianopia, disartria, afasia, vertigo, dan nistagmus
sedangkan yang dimaksud dengan gangguan global adalah terjadinya gangguan
kesadaran sampai koma

KLASIFIKASI :

1. STROKE INFARK DAN PERDARAHAN

2. TIA, RIND, SIE, KOMPLIT STROKE

3. ANTERIOR DAN POSTERIOR

Pemeriksaan scoring untuk membedakan iskemik dengan hemoragik:

Skor strok Siriraj: (2,5x derajat kesadaran)+(2x vomitus)+(2x nyeri kepala)+(0,1x tekanan
diastolik)-(3x petanda ateroma)-12

Skor>1 : perdarahan supratentorial

Skor-1 sd. 1 : perlu CT scan

Skor <-12 : infark serebri

Derajat kesadaran : kompos mentis= 0 somnolen=1 sopor/koma=2

Vomitus : 0= tidak ada; 1= ada

Nyeri kepala :0=tidak ada; 1=ada

Ateroma : 0=tidak ada; 1=salah satu atau lebih: diabetes, angina, CAD

Px penunjang: CT scan merupakan px baku emas untuk membedakan infark dengan perdarahan,
MRI lebih sensitive dalam mendeteksi infark serebri dini dan infark batang otak.

Tatalaksana: stabilisasi pasien, intubasi jika perlu, pasang jalur IV untuk larutan salin normal
dengan kecepatan 20ml/jam, berikan oksigen 2-4 liter/menit dg kanul hidung, EKG dan foto
toraks, ambil sampel untuk px darah, tegakkan diagnosis.
Respirasi

Topic yang dipilih:

- TBC tanpa komplikasi


- TBC dg HIV
- Bronkhitis akut
- Asma bronchial
- Pneumonia (3B)

TBC TANPA KOMPLIKASI

Diagnosis Tuberculosis paru


Definisi Penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh mycobacterium
tuberculosis
Etiologi Infeksi M.tuberculosis yang biasanya terjadi secara inhalasi
Pathogenesis
Gejala klinis - Demam  biasanya menyerupai demam influenza
- Batuk  adanya iritasi pada bronkus sehingga diperlukan
untuk membuang radang keluar
- Batuk darah  terdapat pembuluh darah yang pecah
- Sesak nafas  ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut,
karena infiltrasi sudah meliputi setengah bagian paru
- Nyeri dada  bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura
- Malaise
Pemeriksaan fisik - Perkusi redup
- Auskultasi suara nafas bronchial
- Bila terdapat infiltrate yang besar perkusi menjadi
hipersonor atau timpani dan auskultasi suara amforik
Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan radiologis
- Lokasi lesi tuberculosis umumnya di apeks
- Pada awal penyakit biasanya berupa bercak – bercak seperti
awan dengan batas – batas yang tidak tegas
- Pada kasus lanjut ditemukan bermacam – macam
bayangan seperti infiltrate, garis fibrotic, kalsifikasi, kavitas,
atelektasis dan emfisema
Pemeriksaan laboratorium
- Darah  hasil tidak sensitive dan spesifik
- Sputum  menemukan kuman BTA
- Tes tuberculin  biasanya dipakai tes mantoux. Tes
tuberculin hanya menyatakan apakah individu sedang atau
pernah mengalami infeksi M.tuberculosa, M.bovis, vaksinasi
BCG dan micobacteria pathogen lainnya.
Komplikasi Komplikasi dini :
- Pleuritis
- Efusi pleura
- Empiema
- Laryngitis
Komplikasi lanjut :
- Obstruksi jalan napas
- Kerusakan parenkim berat
- karsinoma
Penatalaksanaan Kemoterapi
Pencegahan - vaksin BCG
- kemoprofilaksis
Alur diagnosis
Pengobatan tbc

Panduan OAT Klasifikasi dan tipe Fase awal Fase lanjutan


penderita
Kategori 1 - BTA (+) baru 2HRZS (E) 4 RH
- Sakit berat: 4R3H3
BTA (–) luar
paru
Pengobatan ulang 2HRZES/1RHZE 5 RHE
- Kambuh BTA
(+)
- Gagal 2HRZES/1RHZE 5R3H3E3
TB paru BTA (-) 2RHZ 4RH
TB ekstra paru 2RHZ/2R3H3Z3 4R3H3

Dosis obat antituberkulosis

Obat DOSIS
Setiap hari 2x/minggu 3x/minggu
Isoniazid 5mg/kg, maks 300mg 15mg/kg maks 900mg 15mg/kg maks 900mg
Rifampisin 10mg/kg, maks 10mg/kg, maks 10mg/kg, maks
600mg 600mg 600mg
Pirazinamid 15-30mg/kg maks 2gr 50-70mg/kg, maks 50-70mg/kg maks 3gr
4gr
Etambutol 15-30mg/kg maks 50mg/kg 25-30mg/kg
2,5gr
Streptomisin 15mg/kg maks 1gr 25-30mg/kg maks 25-30mg/kg maks 1gr
1,5gr
ASMA BRONKIAL

Faktor Gejala klasik dari asma Asma ditandai dengan Pemeriksaan laboratorium
predisposisi adalah sesak nafas, mengi ( kontraksi spastic dari 1. Pemeriksaan sputum
• Genetik whezing ), batuk, dan pada otot polos bronkhiolus Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat
yang
Faktor sebagian penderita ada adanya:
menyebabkan sukar
presipitasi yang merasa nyeri di dada. ° Kristal-kristal charcot leyden yang
bernafas. Penyebab
 Alergen Gejala-gejala tersebut tidak yang umum adalah merupakan degranulasi dari Kristal eosinopil.
 Perubahan selalu dijumpai bersamaan. hipersensitivitas ° Spiral curshmann, yakni yang merupakan
cuaca Pada serangan asma yang bronkhioulus terhadap cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
lebih berat , gejala-gejala benda-benda asing di ° Creole yang merupakan fragmen dari epitel
 Stres
yang timbul makin banyak, udara. Reaksi yang bronkus.
timbul pada asma
 Lingkungan antara lain : silent chest, ° Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada
tipe alergi diduga terjadi
kerja sianosis, gangguan sputum, umumnya bersifat mukoid dengan
dengan cara sebagai
 Olah raga/ kesadaran, hyperinflasi berikut : seorang yang viskositas yang tinggi dan kadang terdapat
aktifitas dada,tachicardi dan alergi mucus plug.
jasmani pernafasan cepat dangkal . mempunyai 2. Pemeriksaan darah
yang berat kecenderungan untuk
Serangan asma seringkali ° Analisa gas darah pada umumnya normal
membentuk sejumlah
terjadi pada malam hari. antibody Ig E abnormal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
dalam jumlah besar dan hiperkapnia, atau asidosis.
antibodi ini ° Kadang pada darah terdapat peningkatan
menyebabkan reaksi
dari SGOT dan LDH.
alergi bila reaksi dengan
° Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-
antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibody ini kadang di atas 15.000/mm3 dimana
terutama melekat pada menandakan terdapatnya suatu infeksi.
sel mast Pemeriksaan penunjang
yang terdapat pada 1. Pemeriksaan radiologi
interstisial paru yang bila terdapat komplikasi, maka kelainan
berhubungan erat
yang didapat adalah sebagai berikut:
dengan brokhiolus dan
bronkhus kecil. Bila ° Bila disertai dengan bronkitis, maka
seseorang menghirup bercak-bercak di hilus akan bertambah.
alergen maka antibody ° Bila terdapat komplikasi empisema
Ig E orang tersebut (COPD), maka gambaran radiolusen akan
meningkat, alergen semakin bertambah.
bereaksi dengan ° Bila terdapat komplikasi, maka terdapat
antibodi yang telah
gambaran infiltrate pada paru
terlekat pada sel mast
dan ° Dapat pula menimbulkan gambaran
menyebabkan sel ini atelektasis lokal.
akan mengeluarkan ° Bila terjadi pneumonia mediastinum,
berbagai macam zat, pneumotoraks, dan pneumoperikardium,
diantaranya histamin, maka dapat dilihat bentuk gambaran
zat anafilaksis yang
radiolusen pada paru-paru.
bereaksi lambat (yang
2. Pemeriksaan tes kulitmencari faktor
merupakan leukotrient),
faktor alergi dengan berbagai alergen yang
kemotaktik eosinofilik dapatmenimbulkan reaksi yang positif pada
dan bradikinin. Efek asma.
gabungan dari semua 3. Elektrokardiografi
faktor-faktor ini Gambaran elektrokardiografi yang terjadi
akan menghasilkan
selama serangan dapat dibagi menjadi 3
adema lokal pada
dinding bronkhioulus bagian, dan disesuaikan dengan gambaran
kecil maupun sekresi yang terjadi pada empisema paru yaitu :
mucus yang kental ° perubahan aksis jantung, yakni pada
dalam lumen umumnya terjadi right axis deviasi dan clock
bronkhioulus dan wise rotation.
spasme otot polos ° Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot
bronkhiolus
jantung, yakni terdapatnya RBB ( Right
sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas bundle branch block).
menjadi sangat ° Tanda-tanda hopoksemia, yakni
meningkat. terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES
Pada asma , diameter
bronkiolus lebih atau terjadinya depresi segmen ST negative.
berkurang selama 4. Scanning paru  redistribusi udara
ekspirasi daripada selama serangan asma tidak menyeluruh
selama inspirasi karena
pada paru-paru.
peningkatan tekanan
5. Spirometriadanya obstruksi jalan nafas
dalam paru selama
eksirasi paksa menekan reversible
bagian luar bronkiolus.
Karena bronkiolus sudah
tersumbat sebagian,
maka
sumbatan selanjutnya
adalah akibat dari
tekanan eksternal yang
menimbulkan
obstruksi berat
terutama selama
ekspirasi. Pada
penderita asma
biasanya dapat
melakukan inspirasi
dengan baik dan
adekuat, tetapi sekali-
kali melakukan
ekspirasi.
Hal ini menyebabkan
dispnea. Kapasitas
residu fungsional dan
volume residu paru
menjadi sangat
meningkat selama
serangan asma akibat
kesukaran
mengeluarkan
udara ekspirasi dari
paru. Hal ini bisa
menyebabkan barrel
chest.

Klasifikasi
Derajat Kekambuhan/serangan Terapi
Step 1 Kurang dari 1 kali dalam seminggu Obat reliever:
Intermittent Asimptomatis dan PEF normal di antara Beta agonis inhaler
serangan
Step 2 Satu kali atau lebih dalam 1 minggu Obat Kontroller:
Mild persistent - Medikasi 1x/hari
- Bisa ditambahkan bronkodilator long
acting
Obat reliever:
Beta agonis inhaler
Step 3 Setiap hari Obat Kontroller:
Moderate persistent Menggunakan B2 agonis setiap hari. - Kortikosteroid inhaler harian
Serangan mempengaruhi aktivitas - bronkodilator long acting harian
Obat reliever:
Beta agonis inhaler
Step 4 Terus menerus. Obat Kontroller:
Severe persistent Aktivitas fisik terbatas - Kortikosteroid inhaler harian
- bronkodilator long acting harian
- Kortikosteroid oral
Obat reliever:
Beta agonis inhaler
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
1. Pengobatan non farmakologik:
° Memberikan penyuluhan
° Menghindari factorpencetus
° Pemberian cairan
° Fisiotherapy
° Beri O2 bila perlu.
2. Pengobatan farmakologik :
° Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan :
a. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin)
Nama obat :
- Orsiprenalin (Alupent)
- Fenoterol (berotec)
- Terbutalin (bricasma)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang
berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup
(Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma
serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk
selanjutnya dihirup.
b. Santin (teofilin)
Nama obat :
- Aminofilin (Amicam supp)
- Aminofilin (Euphilin Retard)
- Teofilin (Amilex)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga
bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.
° Kromalin.
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah
untuk penderita asma alergi terutama anak-anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti
asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
° Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya
diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah
dapat diberika secara oral.

BRONKITIS AKUT

= proses radang akut yang pada umumnya disebabkan oleh virus. Akhir – akhir ini ternyata banyak juga
disebabkan oleh Mycoplasma dan Chlamydia.

A. Gejala Klinis
- Batuk-batuk
- biasanya dahak jernih
- sakit tenggorok
- nyeri dada
- biasa disertai tanda bronkospasme.
- Demam tidak terlalu tinggi.

B. Pemeriksaan Penunjang
- Foto rontgen toraks, untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia atau
tuberculosis. Pada bronchitis akut tidak terlihat kelainan di foto thorax
- Pemeriksaan serologi untuk melihat infeksi Mycoplasma atau Chlamydia

C. Diagnosis Banding: Pneumonia, Tuberkulosis.

D. Terapi
- Simtomatis bila disebabkan virus.
- Bila infeksi karena Mycoplasma atau Chlamydia dapat diberi :
 Tetrasiklin 4 x 500 mg atau
 Doksisiklin 2 x 100 mg atau
 Eritromisin 4 x 500 mg
PNEUMONIA

 peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit).
(Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk). Sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh
nonmikroorganisme (bahan kimia, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lain)disebut
pneumonitis
A. Etiologi
di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak
disebabkan oleh bakteri anaerob

B. Klasifikasi
1. Berdasar klinis dan epidemiologis :
a. Pneumonia komuniti
b. Pneumonia nosokomial
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised.

2. Berdasar bakteri penyebab


a. Pneumonia bakterial / tipikal.
b. Pneumonia atipikal, disebebkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia.
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur. Pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised).

3. Berdasar predileksi infeksi


a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumonia bakterial, jarang pada bayi dan orang tua.
Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder disebabkan
oleh obstruksi bronkus misal : Pada aspirasi benda asing, atau proses keganasan.
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru. Dapat
disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua, Jarang
dihubungkan dengan obstruksi bronkus.
c. Pneumonia interstisial

C. Anamnesis
- demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat melebihi 40 °C
- batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah
- sesak napas
- nyeri dada.

D. Pemeriksaan fisis
- tergantung dari luas lesi di paru.
- I : bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas,
- P : fremitus dapat mengeras
- P : redup
- A : suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah
kasar pada stadium resolusi.

E. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologis
Foto toraks (PA / lateral ): infiltrat sampai konsolidasi dengan “ air bronchogram “,
penyebaran bronkogenik dan interstisial serta gambaran kaviti.
- Gambaran pneumonia lobaris  Sitreptococcus pneumonia
- infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia  Pseudomonas aeruginosa
- konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan  Klebsiela pneumoniae

b. Laboratorium
- Leukositosis
- Shift to the left
- peningkatan LED
- diagnosis etiologi: pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi.
- Analisis gas darah  hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi
asidosis respiratorik.

Perbedaan gambaran klinik pneumonia atipik dan tipik

Tanda dan gejala P.atipik P.tipik


 Onset gradual akut
 Suhu kurang tinggi tinggi, menggigil
 Batuk non produktif produktif
 Dahak mukoid purulen
 Gejala lain nyeri kepala, mialgia Jarang
Sakit tenggorokan, suara parau,
Nyeri telinga.
 Gejala diluar paru sering lebih jarang
 Pewarnaan Gram flora normal atau spesifik kokus Gram (+) atau
(-)
 Radiologis “ patchy” atau normal konsolidasi lobar
 Laboratorium leukosit normal kadang rendah lebih tinggi
 Gangguan fungsi hati sering jarang

F. Pengobatan
a. Penderita rawat jalan
 Pengobatan suportif / simptomatik
- Istirahat di tempat tidur
- Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
- Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas
- Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran
 Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari 8 jam.
b. Penderita rawat inap diruang rawat biasa
 Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit
- Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
 Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari 8 jam
c. Penderita rawat inap di Ruang Rawat Intensif
 Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit
- Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
 Pengobatan antibiotik (sesuai bagan) kurang dari 8 jam
 Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik
Penderita pneumonia berat yang datang ke UGD diobservasi tingkat kegawatannya, bila dapat
distabilkan maka penderita dirawat inap ruang rawat biasa ; bila terjadi respiratory distress maka
penderita dirawat di Ruang Rawat Intensif.

G. Komplikasi
 Efusi pleura
 Empiema
 Abses paru
 Pneumotoraks
 Gagal napas
 Sepsis

H. Pneumonia Berat
Menurut ATS kriteria pneumonia berat bila dijumpai ‘ salah satu atau lebih’ kriteria di bawah
ini.
- Kriteria minor :
 Frekuensi napas > 30/menit
 PaO2/FiO2 kurang dari 250 mmHg
 Foto toraks paru menunjukkan kelainan bilateral
 Foto toraks paru melibatkan > 2 lobus
 Tekanan sistolik < 90 mmHg
 Tekanan diastolik < 60 mmHg

- Kriteria mayor:
 Membutuhkan ventilasi mekanik
 Infiltrat bertambah > 50%
 Membutuhkan vasopresor > 4 jam (septik syok)
 Kreatinin serum ≥ 2 mg/dl atau peningkatan ≥ 2 mg/dl, pada penderita riwayat penyakit
ginjal atau gagal ginjal yang membutuhkan dialisis.