Anda di halaman 1dari 19

By Timur Abimanyu, SH.

MH

TINJAUAN EKONOMI BISNIS DALAM PEMBANGUNAN


EKONOMI MAKRO PADA ERA GLOBALISASI
DI INDONESIA

A. Latar Belakang
Dengan memprediksikan kebangkitan ekonomi dalam negeri akan terjadi
pada tahun 2007, karena pada tahun sebelumnya perekonomian di Indonesia
dilanda inflasi dan suku bunga tinggi, merosotnya perekonomian dalam negeri
yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan
kebijakan moneter yang hanya menyentuh sektor tertentu. Kebijakan ini telah
berakibat buruk terhadap perekonomian dalam negeri, akibat dari kenaikkan
BBM pada bulan oktober Tahun 20061, dimana daya beli masyarakat menjadi
menurun karena kenaikan itu tidak dibarengi dengan kenaikan upah yang layak,
dan pada sektor manufaktur biaya produksi meningkat tajam sehingga
menimbulkan kenaikan harga barang-barang dan pengurangan tenaga kerja.
Kondisi dan fenomena seperti ini yang menyebabkan meningkatnya angka
inflasi, pada akhir tahun 2006 yang mencapai 6,5 %, secara otomatis
pengangguran dan kemiskinan menjadi bertambah, walaupun beberapa sumber
menyebutkan kenaikan itu tidak berarti dibanding dengan meningkatnya sektor
tambang dan ekspor non migas, akan tetapi kondisi tersebut ternyata tidak
berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia.
Pembahasan analisa makro ekonomi di Tahun 2007, terutama
menyangkut inflasi, iklim investasi, pengangguran, suku bunga dan akhirnya

1
.Kaligis, OC dan Associates. ”The Politicization of The Nation B anking Case”. Jakarta :
OC. Kaligis dan Associates, 2006.

1
kepada kebijakan fiskal dan moneter.2 Judul ini adalah gabungan dari beberapa
hal tersebut diatas, karena memang pada dasarnya tingkat inflasi selalu
berhubungan atau berdampak pada tingkat investasi, pengangguran, tingkat suku
bunga yang biasanya melahirkan berbagai kebijakan dari pihak pemerintah.

B. Tujuan dan Maksud


Bertujuan untuk mengetahui secara mendalam terhadap pertumbuhan
ekonomi makro di Indonesia yang dilanda inflasi dan suku bunga tinggi, dan
merosotnya perekonomian dalam negeri yang disebabkan oleh kebijakan
pemerintah menaikkan harga BBM dan kebijakan moneter yang hanya
menyentuh sektor tertentu saja. Kebijakan yang berakibat buruk terhadap
perekonomian dalam negeri adalah akibat dari kenaikkan BBM, yang
menyebabka daya beli masyarakat menjadi menurun karena kenaikan itu tidak
dibarengi dengan kenaikan upah yang layak, dan pada sektor manufaktur biaya
produksi meningkat tajam sehingga menimbulkan kenaikan harga barang-barang
dan pengurangan tenaga kerja.

C. Kerang ka Teori dan Konseptual

Pasal 14 UU tentang APBNP 2008 dan Pasal 14 ayat a UU APBNP 2008 :

”mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengambil langkah-langkah


kebijakan yang diperlukan untuk mengamankan pelaksanaan APBN dan
terjadi perubahan harga minyak yang sangat signifikan dibanding asumsi
yang ditetapkan, pemerintah dapat mengambil langkah kebijakan yang
diperlukan untuk mengamankan pelaksanaan APBN”.

D. Landasan Hukum
Adalah GBHN, UU No. 12/67 tentang perkoperasian, UU No. 6/74
tentang ketentuan pokok kesejahteraan, UU No. 4/79 tentang kesejahteraan
anak, UU No. 4/82 tentang pengelolaan lingkungan berbasis rakyat setempat,
UU No. 3/89 tentang telekomunikasi untuk kesejahteraan bangsa dan
2
Paul A. Samuelson & William D. Nordhaus, ”Economics, fourteenth edition”, Mg Graw-
Hill International editions, 1992.

2
kemakmuran rakyatnya, UU No. 21/92 tentang pelayaran untuk kemakmuran
rakyat, UU No. 10/92 tentang pembangunan keluarga sejahtera, UU No. 25/92
tentang pembangunan Koperasi, UU No. 7/92 tentang perbankkan yang sehat
dan mitra ekonomi rakyat, UU No. 9/95 tentang usaha kecil, UU No. 7/96
tentang pangan, UU No. 28/99 tentang tata kelola Negara yang bebas KKN, UU
No. 19/2003 tentang BUMN [Badan Usaha Milik Negara], UU No. 4/2004
tentang wakaf, UU No. 38/2004 tentang pembangunan jalan sebagai
tangungjawab negara, UU No. 31/2004 tentang perikanan, UU No. 18/2004
tentang perkebunan, UU No. 7/2004 tentang sumber daya air untuk rakyat.

E. Metode Penelitian
Didalam penulisan makalah ini, penulis hanya menggunakan data primair
yang terdiri dari bahan-bahan Pengetahuan lapangan yaitu data-data kepustakan
berupa Perundang-undangan, serta bahan Pengetahuan Hukum primair yaitu
produk-produk hukum, undang-undang dan UUD 1945, yang terkait dengan
Ekonomi Makro serta artikel di internet : www.google.com, www.yahoo.com
dan media cetak lainya yang berkaitan dengan judul makalah penulis.

F. Perumusan Masalah
Terdapat permasalahan pada kondisi perekonomian Indonesia yang
masih tegolong lambat yaitu :
1. Target Inflasi Tahun 2007 terancam tak tercapai, dimana tingkat inflasi yang
ditargetkan hanya 6 persen oleh pemerintah sepertinya makin sulit tercapai ?
2. Peluang turunnya tingkat suku bunga sangat kecil sekali misalnya pada
tahun 2007 ruang bagi penurunan suku bunga diperkirakan hampir tidak ada,
jika ada ! penurunan suku bunga jauh lebih ketat dan lebih kecil?
3. Iklim investasi masih buruk.Meningkatnya sektor usaha infrastruktur dan
lainnya ternyata tidak diikuti dengan peningkatan investasi. Apabila kondisi
ini berlanjut sampai akhir 2007, maka akan berdampak negative pula bagi
pertumbuhan ekonomi tahun 2008 yang mungkin bisa anjlok dibawah 5 %,
sektor investasi ini tidak berkembang karena resiko tinggi dan kesempatan
yang didapat terbatas.

3
4. Tingkat pengangguran tergolong masih tinggi dimana masalah pengangguran
di Indonesia adalah merupakan masalah klasik3 pada setiap periode selalu
menjadi perbincangan yang hangat. Meski sebenarnya telah terjadi
penurunan, namun tetap saja tak banyak membantu bagi pertumbuhan
ekonomi.

G. Asumsi
Asumsi sementara dari penulisan adalah sebagai berikut :
- Target Inflasi Tahun 2007 terancam tidak tercapai, karena tingkat inflasi
yang ditargetkan hanya 6 persen tidak tercapai dan hal tersebut dikarenakan
tingkat suku bunga sangat kecil sekali dan hampir tidak ada.
- Iklim investasi sangat memburuk karena meningkatnya sektor usaha
infrastruktur dan lainnya ternyata tidak diikuti dengan peningkatan investasi,
jika kondisi ini berlanjut terus maka akan berdampak negative pada
pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sampai 2009 dan mungkin akan anjlok
5 %, sektor investasi ini tidak berkembang karena terdapat resiko yang tinggi
dan kesempatan yang didapat sangat terbatas.
- Tingkat pengangguran yang sangat tinggi dan merupakan sebagai masalah
yang klasik pada setiap periodenya.

3
Sadono Sukirno, ”Pengantar Teori Mikroekonomi”, Edisi ketiga, PT. RajaGrafindo
Persada, Jakarta 2002.

4
EKONOMI MAKRO

A. Pengertian Ekonomi
Kata “ekonomi” sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang
berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόμος (nomos), atau “peraturan, aturan,
hukum,” dan secara garis besar diartikan sebagai “aturan rumah tangga” atau
“manajemen rumah tangga. “Economics is the study of how societies use scare
resources to produce valuable commodities and distribute them among different
people”. Jadi pada intinya bahwa ilmu ekonomi itu merupakan ilmu yang
mempelajari tentang bagaimana masyarakat untuk menggunakan Sumber daya
alam (resource) yang terbatas kemudian untuk dijadikan komoditas yang
memiliki nilai dalam rangka memenuhi kebutuhan yang tersebar di kalangan
masyarakat lainnya.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas itu, maka


diperlukan adanya penggunaan Sumber daya alam dengan cara yang paling
efektif, serta efisien sehingga menimbulkan adanya keuntungan dalam kegiatan
ekononomi. Kegiatan Ekonomi meliputi sistem aktivitas manusia yang
berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan
jasa.

B. Pengertian Ekonomi Makro


Ekonomi makro adalah suatu cabang ilmu ekonomi yang
mengkhususkan, membahas mekanisme perekonomian secara keseluruhan.
Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak
rumah tangga (household), perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat
digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk mempengaruhi target-target

5
kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan
pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan. Berikut ini
merupakan variabel-variabel yang dipelajari dalam ilmu ekonomi makro yaitu :

10 Variabel agregatif ekonomi makro yaitu : 1. Pendapatan Nasional, 2.


Konsumsi rumah tangga, 3. Saving / tabungan, 4. Investasi, 5. Harga-harga
secara umum, 6. Belanja pemerintah, 7. Jumlah uang yang beredar, 8. Tingkat
bunga, 9. Kesempatan kerja dan 10. Neraca pembayaran ( ekspor-impor).

C. Perbedaan Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro

Akan tetapi selain ekonomi makro terdapat pula ekonomi mikro dimana
terdapat perbedaan antara ekonomi makro dan ekonomi mikro adalah dengan
berdsarkan pada teori :

Teori Mikro ekonomi adalah kelangkaan dan tingkah laku ekonomi: optimasi,
pilihan, efisiensi ekonomi dan pasar. Teori konsumsi dan permintaan. Teori
produksi, biaya dan penawaran. Konsep surplus konsumen dan produsen.
Penetapan harga pada berbagai struktur pasar. Pasar faktor produksi dan
pengantar teori keseimbangan umum. Sedangkan pada teori makro ekonomi
adalah konsep pendapatan nasional. Permintaan Agregat : teori konsumsi,
investasi, pengeluaran pemerintah, neraca perdagangan, penawaran dan
permintaan uang. Penawaran Agregat:4 produksi, penawaran dan permintaan
tenaga kerja. Inflasi dan pengangguran, neraca pembayaran dan pertumbuhan
ekonomi. Membandingkan teori Klasik, Keynes, Moneteris, Neo-Klasik, Neo-
Keynes dalam bidang stabilisasi, teori dan kebijakan fiskal dan moneter.5
Demikianlah uraian penulis pada bab dua yang mengenai pengertian
ekonomi, pengertian ekonomi makro dan perbedaan antara makro ekonomi dan
mikro ekonomi yang didasai oleh teori-teori ekonomi.

4
Sadono Sukirno, ”Pengantar Teori Mikroekonomi”, Edisi ketiga, PT. RajaGrafindo
Persada, Jakarta 2002.
5
Soediyono Reksoprayitno, ”Ekonomi Makro: analisis IS-LM dan permintaan-penawaran
agregatif”, Liberty, Yogyakarta, 2000

6
ANALISA TINGKAT INFLASI

A. Target Inflasi Enam Persen


Berdasarkan berbagai analisa, inflasi disebabkan murni faktor dalam
negeri (batas realistis adalah 6,5 persen). Meskipun rupiah sempat terdepresiasi,
posisinya kini relatif stabil dan berdampak, insentif intermediasi perbankan
makin sulit diberikan karena sukubunga tidak bisa diturunkan. Melihat kondisi
seperti ini, mungkin inflasi akhir tahun akan berada di kisaran 6,5-6,8 persen.
Karenanya suku bunga BI belum akan turun, seperti inflasi September tahun
lalu tidak disebabkan kenaikan empat kebutuhan pokok yakni beras, minyak
goreng, minyak tanah, gula akan tetapi disebabkan harga keempat komoditas
tersebut sudah lebih dahulu naik, sehingga kenaikannya pada bulan september
sudah melambat.

Menurut sumber data yang peroleh, minyak goreng hanya


menyumbang inflasi 0,2 persen dan beras 0,1 persen yang secara umum,
kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan 1,81 persen,
makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,45 persen dan perumahan, air,
listrik, gas, dan bahan bakar 0,18 persen. Kemudian kelompok sandang 1,22
persen; kesehatan 0,44 persen, rekreasi dan olahraga 1,70 persen; dan kelompok
transpor. Tetapi setelah melihat perkembangan sampai saat ini, kita masih dapat
optimis bahwa target inflasi masih tetap dapat dicapai. Adanya optimisme ini
karena didukung dengan kebijakan yang hati-hati. Coba perhatikan dengan
seksama meskipun terdapat guncangan akibat kenaikan harga minyak dunia,
tetapi kita bisa meyakini guncangan tersebut tidak akan membuat krisis seperti
tahun 1997. Sebelumnya Menko Perekonomian Boediono mengatakan, target
inflasi 2007 sebesar 6,0 persen masih bisa dicapai meskipun pemerintah hanya

7
memiliki ruang inflasi 0,76 persen dalam dua bulan ke depan yang artinya
sampai saat ini.

Bahan adalah pokok stabil dan masih bisa mendekati, yang penting di
fokuskan pada harga kebutuhan pokok, akan tetapi sangat perlu mewaspadai
tekanan inflasi terbesar yang diperkirakan akan datang pada bulan Desember, di
mana ada hari Natal dan tahun baru. Dan sementara beralih ke tingkat suku
bunga, dimana saat ini Bank Indonesia (BI) tidak mungkin menurunkan suku
bunga hingga 300 basis poin (bps) seperti yang dilakukan sepanjang tahun 2006.
Dan walaupun ruang untuk penurunan kemungkinan masih ada, akan tetapi
penurunan suku bunga oleh BI akan tetap dilakukan dengan tingkat penurunan
yang tidak akan terlalu besar.

B. Penurunan Suku Bunga


Penurunan suku bunga sangat mustahil akan diturunkan 300 basis
poin lagi pada tahun 2007 ini karena Bank Indonesia sudah tidak mungkin lagi
unuk menurunkan suku bunga hingga 6,75 persen pada tahun 2007, jika inflasi
ditargetkan enam persen. Apabila hal tesebut tetap dilakukan, hal tersebut
menunjukkan bahwa BI kurang bijaksana dan kurang berhati-hati, dalam
menghadapi situasi, BI6 tidak boleh hanya menganalisis satu hal saja sebagai
dasar untuk menurunkan suku bunga. Masih banyak faktor yang harus dikaji,
tidak hanya melihat pada pertumbuhan ekonomi saja sebagai dasar untuk
menurunkan suku bunga tetapi juga berbagai hal terkait lainnya.

Moneter policy, tak bisa one to one,7 seperti jika inflasi naik, suku
bunga harus diturunkan, begitu pula sebaliknya. Sebenarnya pada tahun ini daya
beli masyarakat dapat dikatakan berangsur mulai membaik, pemerintah juga
melalui Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan menurunkan suku bunga
dengan asumsi dapat menstimulus kalangan usaha untuk kembali
menggairahkan sektor-sektor strategis, kebijakan ini direspon positif oleh

6
Suyud Margono, ”Hukum Perusahaan Indonesia: Catatan Atas Undang-Undang
PerseroanTerbatas”. Cet. 1. Jakarta : Novindo Pustaka Mandiri, 2008.
7
Ramlan Ginting. ”Letter Of Credit : Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis”.Jakarta :
Universitas Trisakti, 2007.

8
kalangan usaha yang terkait langsung dengan suku bunga. Selain itu dalam paket
kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, mulai menunjukkan kemajuan.
Namun dari segi investasi masih jauh dari optimal, hal ini disebabkan oleh
peraturan investasi masih belum ada kejelasan.Sampai saat ini dapat kita lihat,
pemerintah belum bisa melakukan restrukturisasi dalam bidang investasi,
terutama menyangkut birokrasi yang panjang dan kepastian hukum. Sehingga
Perbankan sebagai sumber dana bagi para investor menganggap resikonya
terlalu tinggi jika mengeluarkan dana untuk kredit investasi, Perbankan lebih
tertarik dengan kredit konsumsi.8 Ditambah lagi dengan berbagai aturan yang
dibuat oleh DPR membuat para investor asing memutuskan untuk beralih
menyimpan dananya di negara lain yang lebih mudah dan aman dalam ber-
investasi.

C. Proyek Pembangunan Infrastruktur.


Beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas
pemerintah pada tahun 2007 terkesan ambisius, karena pembangunan ini tidak
realistis dan cenderung terbatas pada perusahaan tertentu, misalnya saja,
pembangunan infrastruktur pembangkit listrilk 10.000 MW tidak didukung oleh
administratif dan teknis yang baik. Pembangunan jalan tol juga masih belum
berjalan, padahal pemerintah telah menyiapkan dana sebesar 600 Milyar untuk
pembebasan tanah. Pemerintah daerah juga lebih senang menyimpan dananya di
SBI daripada dialokasikan untuk memenuhi menggerakkan sektor riil di daerah.
Melihat kondisi ini, proyeksi ekonomi tahun 2007 masih dikatakan paradoks,
disatu sisi ada kemajuan namun hanya sebatas sektoral, itupun tidak
mempengaruhi kondisi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Oleh karena itu untuk keluar dari dilema ini, pemerintah harus segera
menyelesaikan masalah peraturan dan perundang-undangan secepat
mungkin.Untuk permasalahan sosial menyangkut ketenagakerjaan dan
kemiskinan akan terus muncul di tahun 2007 dan 2008. Bisa jadi persentasenya
8
Sembiring, Sentosa, ”Hukum Investasi : Pembahasan Dilengkapi dengan Undang-
Undang No. 25 Tahun 2007, tentang Penanaman Modal”.Cet.1.Bandung : Nuasa Aulia, 2007.

9
meningkat, di tahun 2006 persentase angka kemiskinan masih berkisar antara 17
persen – 18,5 persen. Kemiskinan ini disebabkan oleh kesempatan kerja yang
kurang atau klasik kita kenal dengan sebutan pengangguran, monopoli sektor
strategis terutama masalah pangan. Masalah ini akan menjadi masalah serius
pemerintah ditahun ini dan tahun 2008, upaya pemerintah di tahun 2006 dengan
membuat program bantuan langsung tunai (BLT) pada masyarakat miskin tidak
bisa lagi diterapkan di tahun 2007 ini, karena program ini tidak efektif dan tidak
berdampak jangka panjang. Sektor usaha berusaha menyerap tenaga kerja
dengan model tenaga kontrak. Sistem ini dianggap merugikan para pekerja, oleh
sebab itu konflik antar pekerja tetap menghiasi dinamika ketenagakerjaan
Indonesia ditahun ini.

Revisi UU Ketenagakerjaan masih tarik ulur, disatu sisi pemerintah


berusaha menyelesaikan hambatan investasi dan disisi lain pemerintah harus
mengakomodir para pekerja.Menurut saya pemerintah dan DPR sebetulnya bisa
menyelesaikan masalah ini dengan mengalokasikan anggaran untuk membuat
kebijakan mengoptimalkan modal kerja bagi masyarakat miskin yang
berdampak jangka panjang, peran pemerintah daerah dan UKM sangat
dimungkinkan untuk memfasilitasi program ini. 6 Pengangguran dan
kemiskinan tetap akan tinggi apabila angka inflasi terus meningkat, kebijakan
moneter yang terlalu dominan di tahun 2007 harus dikendalikan secar rasional.
Karena kebijakan ini tidak mendorong sektor riil bergerak maksimal.

Di awal tahun 2007, pertumbuhan ekonomi belum meningkat signifikan.


Alasannya permintaan agregat hanya didorong oleh konsumsi yang dipicu oleh
rencana kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil dan Upah Minimum Regional pada
awal 2007, sedangkan investasi swasta belum bisa diharapkan. Pertumbuhan
ekonomi 2007 berpotensi akan meningkat lebih tinggi mencapai 6,3 persen jika
langkah yang dibutuhkan dapat direalisasikan lebih cepat. Semua itu
membutuhkan kerjasama yang erat antara BI dan pemerintah untuk mencapai
stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan sebesar enam persen pada tahun 2007
ini. Sebab, sejumlah langkah yang dibutuhkan berada di bawah kendali
pemerintah. Tapi sebaliknya, jika langkah yang dibutuhkan gagal

10
diimplementasikan secara tuntas maka pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan
hanya 5,7 persen.

Dengan demikian untuk mencegah kegagalan tersebut dan mencari solusi


stabilitas ekonomi, maka pemerintah perlu membuat kebijakan yang strategis,
tidak hanya sebatas kebijakan jangka pendek, seperti penurunan BI rate atau
kebijakan moneter lainnya yang hanya bisa dirasakan dalam jangka pendek,
tetapi pemerintah bisa mengoptimalkan kebijakan fiskal dan meningkatkan
akselerasi penyelesaian perundang-undangan menyangkut kemudahan
berinvestasi karena menyangkut beberapa faktor yang harus diwaspadai pada
tahun 2007 agar target pertumbuhan ekonomi 6,3 persen bisa tercapai, yakni
harga minyak, inflasi dalam negeri, BI Rate, Fed Rate, pengeluaran pemerintah,
dan investasi swasta.

Pertumbuhan 6,3 persen memakai asumsi bahwa perekonomian global


tumbuh sehat, harga minyak stabil, dan Fed Rate stabil atau turun sehingga
ekspor tetap bisa tumbuh, bunga kredit turun, dan daya beli pulih. Memang sejak
awal tahun 2007, kalangan usaha mulai menanti kebijakan pemerintah yang
berpihak pada pelaku ekonomi, terutama menyangkut kemudahan dalam
melakukan transaksi bisnis dan investasi diberbagai sektor. Hasilnya pemerintah
telah menyiapkan beberapa kebijakan agar pertumbuhan ekonomi dapat
mencapai target diatas 6 % pada tahun 2007. 7 Kebijakan itu diantaranya
menyangkut kebijakan moneter, pemerintah telah menurunkan suku bunga di BI
agar pelaku bisnis bisa leluasa melakukan usahanya. Selain itu pemerintah
dengan DPR berusaha menyelesaikan UU Penanaman Modal Asing (PMA)
dimana didalamnya menyangkut kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),
serta paket UU Investasi yang terdiri dari revisi UU Perpajakan, revisi UU
Ketenagakerjaan, RUU Investasi.Semua kebijakan yang sedang dan telah
diputuskan oleh Pemerintah itu dari mulai Januari sampai dengan Mei 2007,
belum menunjukkan perubahan optimal terhadap perekonomian nasional. Nilai
inflasi tetap tinggi sebesar 6,29 persen, perkembangan investasi belum terlihat
berubah dan gagasan KEK masih berputar diwilayah kepentingan politik.

11
Namun karena konsumsi masyarakat meningkat dan didukung oleh daya
beli tinggi, pertumbuhan ekonomi tetap berkembang, hal ini ditandai dengan
mulai maraknya sektor perdagangan ritel diberbagai pelosok daerah di
Indonesia. Selain itu menjamurnya bisnis telekomunikasi dengan produk
beraneka ragam telah menggerakkan sektor lainnya terutama menyangkut
infrastruktur. Bidang konstruksi tetap berkembang, pembangunan perumahan,
apartemen, hotel dan properti lainnya diuntungkan oleh menurunnya suku bunga
atau BI rate. Sektor Perbankan tentu saja membaik dengan dikuti oleh
pertumbuhan sektor kredit konsumsi dalam bentuk modal kerja.

Tingginya permintaan (demand) masyarakat pada tahun 2007 harus


diimbangi dengan penawaran (supply). Bidang manufaktur diharapkan mampu
merespon gejala ini dengan meningkatkan produksinya. Namun beban berat
biaya produksi mengharuskan adanya pengurangan tenaga kerja agar kondisi
perusahaan bisa tetap stabil.Akibatnya, pengangguran pada tahun 2007 masih
tetap mengalami peningkatan, disinilah peran pemerintah dalam mengendalikan
sektor manufaktur sangat diperlukan oleh para pelaku ekonomi di bidang ini.
Dalam hal ini BI dapat menilai momentum ekonomi untuk menurunkan atau
menaikkan suku bunga, selain itu yang paling penting juga pemerintah bisa
mengajak sektor investasi untuk menambah geliat ekonomi dalam negeri.
8Namun yang perlu menjadi perhatian, pengendalian suku bunga atau BI rate
harus mendorong sektor perbankan menurunkan suku bunga kredit konsumsi
masyarakat, karena dengan begitu sektor riil akan bergerak perlahan. Kemajuan
sektor riil ini akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi
Indonesia.Dalam kerangka makro ekonomi memang tidak ada batasan untuk
menilai apakah kemajuan itu disebabkan oleh sektor riil atau sektor moneter,
karena yang terpenting pertumbuhan ekonomi meningkat, asumsi ini masih
mengundang perdebatan. Karena ada kecenderungan merugikan salahsatu pihak.
Sebaiknya ada keseimbangan dalam melihat kemajuan ekonomi, karena pelaku
ekonomi tidak hanya kelas usaha besar atau sektoral tetapi ada juga usaha kecil
dan menengah (UKM).

12
Untuk mendorong keseimbangan itu perlu digerakkan sektor riil agar
pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan semua masyarakat.Peran pemerintah dan
perbankan dalam mengelola dan menyalurkan kredit kepada UKM di tahun 2007
cukup tinggi, hal ini didukung oleh kinerja UKM yang baik dan resiko
penyaluran kredit tidak tinggi. Pemerintah juga melalui Menteri UKM telah
membuat kebijakan untuk memberdayakan pelaku ekonomi UKM dengan
membuat paket kredit berkala, peluang ini harus diambil oleh pihak yang
bergerak disektor riil.

13
Kesimpulan :

1. Negara Indonesia masih banyak memiliki keterbatasan dalam hal keuangan


untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan terbatasnya kemampuan
keuangan negara untuk mendorong perekonomian, kebijakan ekonomi makro
diarahkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan dengan
menghilangkan berbagai kendala yang menghambat.
2. Di samping itu langkah-langkah kebijakan lebih serius akan ditempuh untuk
meningkatkan pemerataan dan sekaligus mendorong potensi pembangunan yang
belum termanfaatkan selama ini antara lain di sektor pertanian, industri, dan di
wilayah perdesaan serta efektivitas dari kebijakan fiskal akan ditingkatkan
dengan mempertajam prioritas pembangunan ke dalam kegiatan-kegiatan
pembangunan yang memberi dampak besar bagi masyarakat luas.
3. Dalam kaitan itu, pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan
meningkatkan investasi dan ekspor non-migas. Peningkatan investasi dan daya
saing ekspor dilakukan dengan mengurangi biaya tinggi yaitu dengan
menyederhanakan prosedur perijinan, mengurangi tumpang tindih kebijakan
antara pusat dan daerah serta antar sektor, meningkatkan kepastian hukum
terhadap usaha, menyehatkan iklim ketenagakerjaan, meningkatkan penyediaan
infrastruktur, menyederhanakan prosedur perpajakan dan kepabea-an, serta
meningkatkan fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan kredit kepada
sektor usaha.
4. Peranan masyarakat dalam penyediaan infrastruktur akan makin ditingkatkan
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.Selanjutnya, kualitas pertumbuhan
ekonomi ditingkatkan dengan mendorong pemerataan pembangunan antara lain
dengan mendorong pembangunan pertanian dan meningkatkan kegiatan
ekonomi perdesaan. Kualitas pertumbuhan juga didorong dengan memperbaiki
iklim ketenagakerjaan yang mampu meningkatkan penciptaan lapangan kerja

14
dengan mengendalikan kenaikan Upah Minimum Provinsi agar tidak terlalu
tinggi dibandingkan dengan laju inflasi, memastikan biaya-biaya non-UMP
mengarah pada peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta membangun
hubungan industrial yang harmonis antara perusahaan dan tenaga kerja. Kualitas
pertumbuhan juga didorong dengan meningkatkan akses usaha kecil, menengah,
dan koperasi terhadap sumber daya pembangunan.
5. Upaya untuk mengurangi jumlah penduduk miskin akan didorong oleh berbagai
kebijakan lintas sektor mengarah pada penciptaan kesempatan usaha bagi
masyarakat miskin, pemberdayaan masyarakat miskin, peningkatan kemampuan
masyarakat miskin, serta pemberian perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.
Stabilitas ekonomi dijaga melalui pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-
hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan
fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi.
Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan
melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan, perlindungan dana
masyarakat, serta peningkatan koordinasi berbagai otoritas keuangan melalui
jaring pengaman sistem keuangan secara bertahap.
6. Perlu dicatat sekurang-kurangnya terdapat delapan langkah atau syarat yang
dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 ini.
Pertama, pengeluaran pemerintah yang tepat waktu dan tepat sasaran. Kedua,
implementasi pembangunan infrastruktur bidang energi dan transportasi serta
restrukturisasi mesin-mesin tesktil. Ketiga, peningkatan ekspor nonmigas.
Keempat, tidak naiknya harga-harga komoditas yang diatur pemerintah. Kelima,
kelancaran distribusi terutama barang-barang kebutuhan pokok. Keenam,
peningkatan investasi dan kapasitas produksi sektor riil.
7. Keenam langkah ini merupakan wewenang dan tanggung jawab pemerintah
selaku otoritas fiskal dan sektor riil. Adapun dua agenda lainnya ialah menjaga
kestabilan makroekonomi terutama inflasi dan mendorong fungsi intermediasi
perbankan. Kedua agenda ini merupakan tanggung jawab BI sebagai otoritas
moneter dan perbankan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. “ Ekonomi Pembangunan”, Penerbit : Sekolah Tinggi Ilmu


Ekonomi YKPN, Edisi ke 4, tahun 2004.

Allen, Linda. “ Capital Markets And Institutions “: A Global View.New York,


Brisbane, Singapore : Jhon Wiley & Sons’s, Inc., 1997.

Asmon, I.E.” Pemilikan Saham Oleh Karyawan: Suatu Sistem Demokrasi Ekonomi
Bagi Indonesia”, dalam Didik J.Rachbini, ed , Pemikiran Kea rah
Demokrasi Ekonomi. Jakarta, LP3ES, 1990.

Boediono, ”Ekonomi Mikro, seri sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi” No.1, BPFE
Yogyakarta, 1987.

Bank Indonesia: ”Perekonomian Tahun 2007 Bertambah Baik dengan 8 Syarat”.


KOMPAS, Jakarta. 2007.

BPS Provinsi Kalimantan Tengah. “Pemerintah Janji Entaskan 1,5 juta


Pengangguran”. CyberNews. Yogyakarta.

Bronkhorst,C; ”L’atat de necessite.In : Netherlands Report, etc.Pescara 1970 (See


Bibl.No. 63)pp.341-352.On Necessity.`

Black and Daniel, “ Money and Bangkok”, Contemporary Pranctices, Politik and
Isues Business Publication INC.Plano, Texas 1991.

Beaver, William H. “ The Nature of Mandated Disclosure”, dalam Richard A. Posner


dan Kenneth E.Scott, ed, Economic of Corporation Law and Securities
Regulation.Boston, Toronto : Little Brown & Company, 1980.

Black, Henry Campbell.Black’s Law Dictionary, Sixt Edition.ST.Paul. Minn: West


Publishing Co, 1990.

Coffe, Jhon C.Jr.” Market Failure And The Economic Case For A Mandatory
Disclosure System”.Virginia Law Review, vol. 70, 1984.

Corgill, Dennis.S.” Insider Trading, Price Signals, and Noisy Information”. Indiana
Law Journal, vol. 71, 1996.

16
Downes, John dan Jordan Elliot Gooman, “ Dictionary of Finance and Investment
Term “Diterjemahkan oleh Soesanto Budhidarmo. Jakarta : PT.Elex Media
Komputindo”,1991.

Fischel, Daniel R.” Efficient Capital Markets, The Crash, and the Fraud on the
Market Theory”. Delaware Journal of Corporate Law, vol. 74, 1989.
Frederic.S.Mishkin, The Economics of Money, Bangking and Financial Market,
Sixth Edition, Addison Wesley Longman USA, 2001.

Goelzer, Daniel L. Esq.” Management’s Discussion and Analysis and Environmental


Disclosure”.Preventive Law Reporter, Summer, 1995.

Grossfeld, Berhard.” The Strenght and Weakness of Comparative Law”.Oxford :


Clarendon, Press, 1990.

Gilson, Ronald J.dan reiner H. Kraakman.” The Mechanisms of Market


Efficiency”.Virginia Law Journal, vol. 24, 1997.

Gunawan Wijaya. ”Aspek Hukum Dalam Bisnis Pemilikan, Pengurusan. Perwakilan


dan Pemberian Kuasa (dalam sudut Pandang KUH Perdata)”. Ed.1, Cet.2
Jakarta: Kencana, 2006.

Gunarto Suhadi. ”Risiko Kriminalitas Kredit Perbankan”. Ed1, Cet.1. Yogyakarta :


Universitas Atma Jaya, 2006.

Iskandar Putong, ”Pengantar Ekonomi: Mikro & Makro”, Ghalia Indonesia, Jakarta,
2000.

Kaligis, OC dan Associates. ”The Politicization of The Nation B anking Case”.


Jakarta : OC. Kaligis dan Associates, 2006.

Karmel, Roberta S.” Is the Shingle Theory Dead”.Washington & Lee Law Review,
vol 52, 1995.

Koesnadi Hardjasoemantri. “Hukum Tata Lingkungan. Edisi ke.7.Cet. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press.

Karnaen Perwataatmadja dan Muhammad Syafe’I Antonio, “Apa dan Bagaimana


Bank Islam”, PT.Dara Bhakti Prima Yasa Yogyakarta, 1992., Kasmir, “
Bank dan Lembaga Keuangan lainnya”, Pt.Raja Grafindo, Jakarta, 1997.

Lynn A. Stout, Op.cit, hal 615.lihat juga Marvin G. Pickholz dan Edwar B.Horahan
III, “The SEC’s Version of the Efficient Market Theory and Its Impact on
Securities Law Liabilities”,Washington and Lee Law Review.(Vo;.39,
1982).

17
Marc I. Steinberg, I. Understanding Securities Law, Second Edition, (New York, San
Fransisco : Matthew Bender & Co.Inc, (1996).

Paul A. Samuelson & William D. Nordhaus, ”Economics, fourteenth edition”, Mg


Graw-Hill International editions, 1992.

Proyeksi Bank Dunia “pertumbuhan ekonomi Indonesia 2007 sebesar 6,3


persen dan 6,5 persen pada 2008”. ANTARA News. Jakarta, 11 april 2007.

Suyud Margono, ”Hukum Perusahaan Indonesia: Catatan Atas Undang-Undang


PerseroanTerbatas”. Cet. 1. Jakarta : Novindo Pustaka Mandiri, 2008.

Ramlan Ginting. ”Letter Of Credit : Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis”.Jakarta :


Universitas Trisakti, 2007.

Sembiring, Sentosa, Hukum Investasi : Pembahasan Dilengkapi dengan Undang-


Undang No. 25 Tahun 2007, tentang Penanaman Modal”.Cet.1.Bandung :
Nuasa Aulia, 2007.

Seputar-Indonesia, 16 Juli 2007.

www. investorindonesia. com, 12/11/2007, 17:08:06 WIB

Whittaker, David. J. ”Terorits and Terorism : In The Contemporary world”.


Singapore : ISEAS, 2006.

Sadono Sukirno, ”Pengantar Teori Mikroekonomi”, Edisi ketiga, PT. RajaGrafindo


Persada, Jakarta 2002.

Soediyono Reksoprayitno, ”Ekonomi Makro: analisis IS-LM dan permintaan-


penawaran agregatif”, Liberty, Yogyakarta, 2000

===========

18
19