Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PRAGMATIK TINDAK TUTUR DIREKTIF

DALAM SCRIP ADA APA DENGAN CINTA?


KARYA RUDI SOEDJARWO
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1
Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
MEILA PURWANTI
A 310060184
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tindak tutur suatu pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud
dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana, 2001: 171). Seperti aktivitas
sosial lain, kegiatan bertutur baru dapat terwujud apabila menusia terlibat di
dalamnya. Dalam bertutur, penutur dan mitra tutur saling menyadari bahwa ada
kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasa dan interpretasi
terhadap tindakan dan ucapan mitra tutur. Seperti peserta tutur bertanggung jawab
terhadap tindakan, dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan dalam interaksi
lingual tersebut. Terlebih lagi bahwa dalam bertutur, setiap peserta tutur banyak
dipengaruhi oleh konteks yang menjadi latar belakang tuturan tersebut, karena
konteks akan menentukan bentuk tuturan. Suatu tuturan pasti mempunyai maksud
serta faktor yang melatar belakangi penutur dalam menyampaikan tuturannya
kepada mitra tutur.
Tuturan tidak hanya berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan
sesuatu, tetapi dapat dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Fungsi tuturan
direktif berorientasi pada penerima pesan. Dalam hal ini, bahasa dapat digunakan
untuk mempengaruhi orang lain, baik emosi, perasaan, maupun tingkah laku.
Sebagai fungsi direktif, bahasa dapat digunakan untuk memberi keterangan,
mengundang, memerintah, memesan, mengingatkan, mengancam termasuk tindak
tutur direktif. Bentuk bahasa yang menggunakan fungsi direktif, sebagai berikut.
1) Hapuslah air matamu yang membasahi pipi itu!
2) Minum, silakan!
Fungsi direktif pada contoh di atas tercermin pada kata kerja yang memiliki
makna perintah.
Tindak tutur (speech act) suatu tindakan yang diungkapkan melalui bahasa
yang disertai dengan gerak dan sikap anggota badan untuk mendukung
pencapaian maksud pembicara. Tindak tutur ditentukan adanya beberapa aspek
situasi ujar, antara lain. (1) penyapa atau penutur, (2) konteks sebuah tuturan, (3)
tujuan sebuah tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindak kegiatan, (5) tuturan
sebagai produk tindak verbal (Leech (1993) dalam Rohmadi 2007: 159).
Pragmatik mempelajari maksud tuturan atau daya tuturan. Pragmatik itu termasuk
dalam fungsionalisme linguistik, yang satuan analisisnya bukan kalimat (karena
kalimat suatu satuan tata bahasa), melainkan tindak tuturan atau tindak tutur. Oleh
karena itu pola yang menyususn sebuah tuturan tidak harus lengkap yang terdiri
dari subjek, predikat, objek, dan keterangan.
Film suatu bentuk situasi artifisial yang kemunculannya diinspirasi dari
kehidupan sosial yang berkembang pada masanya. Film banyak memberi
gambaran tentang refleksi dunia nyata. Sebuah film terdapat adegan yang memuat
dialog, seting, karakter, tokoh, dan konteks yang memuat unsur pragmatik seperti
tindak tutur, prinsip kesopanan, prinsip kerjasama, implikatur, dan efek perlokusi.
Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menjadikan salah satu film
Indonesia yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo sebagai
kajian dalam penelitian ini. Aspek pragmatis yang penulis bahas dalam penelitian
ini terfokus pada masalah bentuk tindak tutur direktif dan makna tindak tutur
direktif dalam scrip film Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo.
Pemilihan film Ada Apa Dengan Cinta? sebagai objek penelitian dengan
melihat tindak tutur direktif yang terdapat dalam scrip. Bentuk tindak tutur selain
dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sering dilakukan dalam dialog drama,
teater, wayang, kethoprak, dan film. Sebagai contoh dapat diamati dalam kalimat
berikut.
1. Cinta: ya, ampun Alya mending ini gak usah dibahas.
(tindak tuur menasihati).
2. Rangga: lihat-lihat aja dulu, Ta!
(tindak tutur menyuruh).
3. Cinta: saya, pulang duluan aja, ya.
(tindak tutur permisi).
Tuturan (1) suatu tindak tutur menasehati, yang ditandai dengan kalimat
mending ini gak usah dibahas. Tuturan (2) suatu tindak tutur menyuruh ditandai
dengan kalimat lihat-lihat aja dulu. Demikian pula tuturan (3) berupa tindak tutur
permisi ditandai dengan kalimat saya pulang duluan aja ya. Tuturan tersebut
termasuk dalam bentuk tindak tutur direktif.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini diberi judul
sesuai dengan objek penelitian yaitu "Tinjauan Pragmatik Tindak Tutur Direktif
dalam Scrip Ada Apa Dengan Cinta".
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas ada dua
masalah yang perlu dibahas.
1. Bagaimanakah bentuk tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan
Cinta?
2. Bagaimanakah makna tidak tutur direktif dalam scrip Ada Apa Dengan
Cinta?
1.3 Tujuan Penelitian
Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
1. Mendeskripsikan bentuk tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa
Dengan Cinta?.
2. Mendeskripsikan makna tindak tutur direktif dalam scrip Ada Apa
Dengan Cinta?.
1.4 Pembatasan Masalah
Agar penelitian berjalan secara terarah dalam hubungannya dengan
pembahasan, maka diperlukan pembatasan permasalahan yang diteliti.
Pembatasan ini setidaknya memberi gambaran ke mana arah penelitian dan
memudahkan peneliti dalam menganalisis permasalahan yang sedang diteliti.
Penelitian ini dibatasi pada pembahasan bentuk dan makna tindak tutur direktif
dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? yang ditinjau dari segi pragmatik.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah teori pragmatik
khususnya tindak tutur direktif.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat
pemakai bahasa berupa wawasan dalam pemakaian tuturan serta memberikan
gambaran mengenai penggunaan variasi dalam setiap tindak tutur.
1.6 Sistematika Penulisan
Sehubungan dengan penelitian ini, maka sistematika penulisan dapat
diterapkan sebagai berikut.
Bab pertama, Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, sistematika penulisan.
Bab kedua, Landasan Teori meliputi penelitian terdahulu, teori yang
digunakan sebagai dasar penelitian.
Bab ketiga, Metode Penelitian meliputi bentuk dan strategi penelitian, objek
penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis
data.
Bab keempat, Pembahasan yaitu menganalisis data tindak tutur direktif
dalam scrip Ada Apa Dengan Cinta? karya Rudi Soedjarwo.
Bab kelima, Penutup berisi kesimpulan dan saran.

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep


Tindak Tutur. Tindak tutur (speech art) merupakan unsur pragmatik yang melibatkan
pembicara, pendengar atau penulis pembaca serta yang dibicarakan. Dalam penerapannya
tindak tutur digunakan oleh beberapa disiplin ilmu. Menurut Chaer (2004 : 16) tindak
tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsungannya
ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Dalam
tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Konsep adalah
penyebaran teori. Teori tindak tutur lebih dijabarkan oleh para lingusitik diantaranya J.L.
Austin (dalam A. H. Hasan Lubis, 1991: 9) menyatakan bahwa secara pragmatis, setidak-
tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur dalam
melakukan tindak tutur yakni tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur
perlokusi (Hartyanto, 2008).
2.2 Landasan Teori
Tarigan (1990:36) menyatakan bahwa berkaitan dengan tindak tutur maka setiap ujaran
atau ucapan tertentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Dengan kata lain,
kedua belah pihak, yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu tujuan kegiatan
yang berorientasi pada tujuan tertentu. Sesuai dengan keterangan tersebut, maka
instrumen pada penelitian ini mengacu pada teori tindak tutur. Menurut J.L. Austin
(dalam A. H. Hasan Lubis, 1991: 9), secara analitis tindak tutur dapat dipisahkan menjadi
3 macam bentuk, antara lain:
Universitas Sumatera Utara
(1) Tindak lokusi (Lecutionary act), yaitu kaitan suatu topik dengan satu keterangan
dalam suatu ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’
dan penjelasan dalam sintaksis (Searly dalam Lubis). Contoh: ‘Saya lapar’, seseorang
mengartikan ‘Saya’ sebagai orang pertama tunggal (si penutur), dan ‘lapar’ mengacu
pada ‘perut kosong dan perlu diisi’, tanpa bermaksud untuk meminta makanan. (2)
Tindak ilokusi (Illecitionary act), yaitu pengucapan suatu pernyataan, tawaran, janji
pertanyaan dan sebagainya. Contoh: Saya lapar’, maksudnya adalah meminta makanan,
yang merupakan suatu tindak ilokusi. (3) Tindak perlokusi (Perlocutionary act), yaitu
hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar, sesuai dengan situasi
dan kondisi pengucapan kalimat itu. Tanggapan tersebut tidak hanya berbentuk kata-kata,
tetapi juga berbentuk tindakan atau perbuatan. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara
sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Contoh: ‘Saya lapar’, yang
dituturkan oleh si penutur menimbulkan efek kepada pendengar, yaitu dengan reaksi
memberikan atau menawarkan makanan kepada penutur. Sehubungan dengan tindak
lokusi, Leech (dalam Setiawan, 2005 : 19) memberikan rumus tindak lokusi. Bahwa
tindak tutur lokusi berarti penutur menuturkan kepada mitra tutur bahwa kata-kata yang
diucapkan dengan suatu makna dan acuan tertentu. Berdasarkan hal tersebut, keraf
(dalam Hartyanto, 2008) membagi tindak lokusi menjadi tiga tipe, yaitu :
Universitas Sumatera Utara
0 1. Naratif

Naratif dapat diartikan sebagai bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak
tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu
keadaan waktu. Naratif adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan
dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca atau mitra tutur suatu peristiwa yang telah
terjadi . Naratif hanya berusaha menjawab suatu pertanyaan “Apa yang telah terjadi?”
(Keraf dalam Hartyanto, 2008)
0 2. Deskriptif

Keraf ( dalam Hartyanto, 2008) mendefinisikan deskriptif sebagai suatu bentuk wacana
yang bertalian dengan usaha perincian dari obyek-obyeknya yang direncanakan, penutur
memudahkan pesan-pesannya, memindahkan hasil pengamatan dan perasaan kepada
mitra tutur, penutur menyampaian sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan
pada obyek tertentu.
0 3. Informatif

Keraf (dalam Hartyanto, 2008) mendefinisikan informatif sebagai bentuk wacana yang
mengandung makna yang sedemikian rupa sehingga pendengar atau mitra tutur
menangkap amanat yang hendak disampaikan. Tindak informatif selalu berhubungan
dengan makna referensi, yaitu makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya
dengan dunia di luar angkasa (obyek atau gagasan), dan yang dapat dijelaskan oleh
analisis komponen (Kridalaksana dalam Hartyanto, 2008).
Universitas Sumatera Utara
Subyakto-Nababan (dalam Hartyanto, 2008: 1) menambahkan bahwa tindak ilokusi
adalah tindak bahasa yang diidentifikasikan dengan kalimat pelaku yang eksplisif. Tindak
ilokusi merupakan tekanan atau kekuatan kehendak orang lain yang terungkap dengan
kata-kata kerja : menyuruh, memaksa, mendikte kepada dan sebaginya. Bach dan Harnish
(dalam Hartyanto, 2008) menyatakan bahwa dalam klasifikasi tindak ilokusi dapat dibagi
menjadi 4 golongan besar yaitu :
1 1. Konstantif

Merupakan ekspresi kepercayaan yang dibarengi dengan ekspresi maksud sehingga mitra
tutur membentuk (memegang) kepercayaan yang serupa. Konstantif dibagi menjadi
beberapa tipe, yakni : (a) asertif (menyatakan), (b) prediktif (meramalkan), (c) retroaktif
(memperhatikan), (d) deskriptif (menilai), (e) askriptif (mengajukan), (f) informative
(melaporkan), (g) konfirmatif (membuktikan), (h) konsesif (mengakui, menyetujui), (i)
retraktif (membantah), (j) asentif (menerima), (k) disentif (membedakan), (l) disputative
(menolak), (m) responsive (menanggapi), (n) sugestif (menerka), (o) supposif
(mengasumsikan). Contohnya : A :”Mengapa Anda belum menyerahkan tugas?”
B :”Maaf pak, tugas itu memang belum selesai saya kerjakan.” A :”Kapan akan Anda
serahkan?” B :”InsyaAllah hari Kamis pak.”
Universitas Sumatera Utara
Dalam pemenggalan percakapan di atas terdapat adanya tindak tutur meminta maaf,
sebagai salah satu contoh tindak ekpresif.
1 2. Direktif

Direktif mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan terhadap
mira tutur. Direktif dapat dibagi menjadi 6 tipe yaitu (a) requestif : meminta, (b) question
; bertanya, (c) requitment : mengistruksikan, (d) probibitives : melarang, (e) promissives :
menyetujui, (f) advisories : menasehati. Contohnya : A : “saya haus sekali, tolong
ambilkan minum!” B : “Apa dikiranya saya ini pembantu?” (walaupun begitu B bergegas
mengambil air juga).
1 3. Komisif

Komisif merupakan tindak mewajibkan seseorang atau menolak mewajibkan seseorang


untuk melakukan sesuatu yang dispesifikasikan dalam isi proposisinya, yang bisa juga
menspesifikasikan kondisi-kondisi tempat, isi itu dilakukan atau tidak harus dilakukan.
Komisif dibagi menjadi 8 yaitu : (a) promises : menjanjikan, (b) contract : membuat janji
bersyarat, (c) bet : berjanji melakukan sesuatu, (d) swearthat : berjanji bahwa yang
dikatakannya adalah benar, (e) surrender : mengaku salah, (f) invite : permohonan
kehadiran dengan janji, (g) offer : menawarkan, (h) volunteer : menawarkan pengabdiam.
Universitas Sumatera Utara
1 4. Acknowledgment

Acknowledgment mengekspresikan perasaan tertentu kepada mitra tutur baik yang berupa
rutinitas atau yang murni. Acknowledgment dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yakni (a)
apologize : permintaan maaf, (b) condole : ucapan ikut berduka, (c) bid : harapan, (d)
greet :mengucapkan, (f) accept : penerimaan, (g) reject : menolak, (h) congratulate :
mengucapkan selamat. Subyakto-Nababan (dalam Hartyanto, 2008 : 1) memberikan
definisi mengenai tindak perlokusi, yaitu tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat
atau efek dari suatu ucapan orang lain. Tindak lokusi dan ilokusi juga dapat masuk dalam
kategori tindak perlokusi bila memiliki daya ilokusi yang kuat, yaitu mampu
menimbulkan efek tertentu bagi mitra tutur. Verba tindak ujar yang membentuk tindak
perlokusi, diantaranya dapat dipisahkan dalam tiga bagian besar, yakni :
1 1. Mendorong mitra tutur mempelajari bahwa : meyakinkan, menipu,
memperdayakan, membohongi, menganjurkan, membesarkan hati, menjengkelkan,
mengganggu, mendongkolkan, menakuti, memikat, menawan, menggelikan hati.
2 2. Membuat mitra tutur melakukan, mengilhami, mempengaruhi, mencamkan,
mengalihkan, mengganggu, membingungkan.
3 3. Membuat mitra tutur memikirkan tentang: mengurangi ketegangan,
memalukan, mempersukar, menarik perhatian, menjemukan, dan membosankan.
Universitas Sumatera Utara
Selain itu, peneliti juga menggunakan aspek peristiwa tutur sebagai bahan pendukung
dalam memecahkan masalah penelitian tersebut. Peristiwa tutur (speech event) adalah
terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih
melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan tuturan
di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu (Chaer-Leonie, 2004: 47). Misalnya,
interaksi yang yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada
waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya, maka hal itu
disebut peristiwa tutur. Dell Hymes, 1972, (dalam Chaer, 1995: 62) seorang pakar
sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan
komponen yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING.
Kedelapan komponen itu adalah: S = setting and Scene P = participants E = ends:
purpose and goals A = act sequence K = key: tone or spirit of act I = instrumentalities N
= norms of interactions and interpretation G = genres
Universitas Sumatera Utara
Setting and scene. Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung,
sedangkan scene mengacu pada situasi psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan
situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan variasi bahasa yang berbeda.berbicara di
lapangan sepakbola pada waktu ada pertandingan sepakbola dalam situasi ramai Anda
bisa berbicara keras-keras, berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada
waktu banyak orang membaca, Anda harus berbicara seperlahan mungkin. Participants
adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar,
penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima pesan. Dua orang yang bercakap dapat
berganti peran sebagai pembicara dan pendengar, tetapi dalam khotbah di mesjid, khotib
sebagai pembicara dan jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status
sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang
anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan
orangtuanya atau gurunya, bila dibandingkan kalau dia berbicara terhadap teman-
temannya. Ends, merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi
di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara. Namun, para
partisipan dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin
membuktikan kesalahan terdakwa, pembela membuktikan bahwa terdakwa tidak
bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil.
Keys, mengacu pada nada, cara, dan semangat, di mana suatu pesan disampaikan dengan
senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan
sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.
Universitas Sumatera Utara
Instrumentalities, mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tertulis,
melalui telegraf atau telepon. Bentuk ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan,
seperti bahasa, ragam dialek, atau register. Norm or interaction and Interpretation,
mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan
dengan cara berinterupsi, bertanya, dan mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran
dari lawan bicara. Genre, mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi,
pepatah, doa, dan sebagainya. Berdasarkan keterangan di atas, maka peneliti dapat
melihat betapa kompleksnya peristiwa tutur yang yang telah terlihat, atau dialami sendiri
dalam kehidupan kita sehari-hari. 2.3 Tinjauan Pustaka Penelitian mengenai tindak
tutur sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Hasibuan (2005). Dalam penelitiannya,
Hasibuan mengkaji secara teoritis mengenai perangkat tindak tutur yang terdapat dalam
bahasa Mandailing. Ia juga mengemukakan penggunaan tindak tutur, walaupun terbatas
hanya dalam lima jenis tindak tutur utama yang dikemukakan oleh Searly, yaitu tindak
tutur representatif, tindak tutur direktif, tindak tutur komisif, tindak tutur ekspresif, dan
tindak tutur deklaratif. Selain itu, ia juga membahas jenis tindak tutur langsung dan tidak
langsung dan mengaitkan tindak tutur dengan kesantunan bahasa.
Sedangkan penelitian tentang film yang menggunakan teori tindak tutur juga pernah
dilakukan oleh Hartyanto (2008). Dalam penelitian ini, Hartyanto menggunakan teori
tindak tutur yang dimajukan oleh JL. Austin, yaitu: tindak tutur
Universitas Sumatera Utara
lokusi, ilokusi dan perlokusi terhadap dialog film Berbagi Suami karya Nia Dinata. Ia
juga menggunakan batasan lokusi yang dikemukakan oleh Keraf (dalam Hartyanto,
2008), antara lain: naratif, deskriptif, dan informatif, batasan mengenai ilokusi yang
dikemukakan oleh Bach dan Harnish (dalam Setiawan, 2005 : 22-25), yaitu: konstantif,
direktif, komisif, dan Acknowledgement. Untuk itu, dalam penelitian ini peneliti lebih
mengutamakan sisi pengujaran yang dituturkan oleh para pelakon yang bermain dalam
film Perempuan Punya Cerita. Hal ini berkaitan dengan masalah yang akan diungkapkan
dari film tersebut, yaitu berupa makna tindak tutur dialog film Perempuan Punya Cerita.
Untuk itu, peneliti menggunakan teori J. L. Austin yang berkaitan dengan analisis tindak
tutur dalam memecahkan masalah penelitian tersebut. Menurut J.L. Austin (dalam A. H.
Hasan Lubis,1991:9), secara analitis tindak tutur dapat dibagi atas 3 macam bentuk,
yaitu: (1) Tindak lokusi (lecutionary act), yaitu kaitan suatu topik dan penjelasan dalam
sintaksis. (2) Tindak ilokusi (illecutionary act), yaitu pengucapan suatu pertanyaan,
tawaran, janji, pertanyaan, dan sebagainya. (3) Tindak perlokusi (perlocutionary act),
yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar, sesuai dengan
situasi dan kondisi pengucapan kalimat tersebut.
Universitas Sumatera Utara