P. 1
Fuad AR - Tesis (Perancangan Klaster Aquabisnis (Industri Hulu-Hilir) Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Lombok Timur)

Fuad AR - Tesis (Perancangan Klaster Aquabisnis (Industri Hulu-Hilir) Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Lombok Timur)

|Views: 4,969|Likes:
Tesis - Perancangan Klaster Aquabisnis (Industri Hulu-Hilir) Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Lombok Timur
Tesis - Perancangan Klaster Aquabisnis (Industri Hulu-Hilir) Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Lombok Timur

More info:

Published by: Fuad Andhika Rahman, S.Pi, M.Sc on Sep 28, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2013

(Sumber : Diolah Dari Badan Pusat Statistik Provinsi NTB, 2006)

Namun pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi, menyebabkan

tingginya jumlah penduduk khususnya perempuan berusia muda (usia non

produktif). Hal tersebut diduga turut berperan dalam keterlibatan anak-anak

dengan jenis kelamin perempuan sebagai tenaga kerja pembantu sortasi.

4.1.2 Penilaian Pedoman dan Daftar Isian Sertifikasi Cara Budidaya Yang
Baik (CBYB) Yang Telah Dimodifikasi

Hasil penilaian menunjukkan bahwa industri budidaya rumput laut

Eucheuma cottonii Teluk Serewe berada pada tingkat IV, dengan definisi tidak

lulus sertifikasi. Untuk lebih jelasnya diterangkan pada Tabel 12 berikut :

No Kabupaten/Kota Laki-Laki Perempuan Rasio

Jumlah

1.

Lombok Barat

379.716

403.227

1 : 1,06 782.943

2. Lombok Tengah

378.615

447.157

1 : 1,18 825.772

3.

Lombok Timur

480.791

572.556

1 : 1,19 1.053.347

4.

Sumbawa

209.206

194.294

1 : 0,93 403.500

5.

Dompu

103.908

102.506

1 : 0,99 206.414

6.

Bima

205.357

204.918

1 : 0,99 410.275

7.

Sumbawa Barat

48.690

47.147

1 : 0,97

95.837

8.

Kota Mataram

176.892

176.291

1 : 0,99 353.183

9.

Kota Bima

60.283

65.752

1 : 1,09 126.035

TOTAL

2.043.458

2.213.848

4.257.306

43

Tabel 12. Tabulasi Jumlah Ketidaksesuaian Pada Industri Budidaya Rumput
Laut Eucheuma cottonii Teluk Serewe

No

Parameter

Kesesuaian

Ketidaksesuaian

Minor Mayor Serius

Kritis

1.

Lokasi

2

0

0

0

1

2.

Tata Letak

2

0

0

0

1

3.

Kebersihan Fasilitas

3

1

1

0

4

4.

Persiapan Media Budidaya

2

0

0

0

0

5.

Air Laut

1

0

3

0

1

6.

Pemilihan dan Pengangkutan Bibit

0

1

0

0

3

7.

Identifikasi Jenis Rumput Laut

2

0

0

0

1

8.

Penanaman

1

0

0

0

1

9.

Perawatan

0

0

0

2

0

10.

Pemanenan

0

0

0

0

1

11.

Pengangkutan Hasil Panen

1

0

0

0

0

12.

Sortasi

4

0

0

0

2

13.

Pengeringan

0

0

0

0

3

14.

Pengepresan/Pengepakan

1

0

0

0

0

15.

Pelabelan dan Keutuhan Kemasan

2

0

0

0

2

16.

Verifikasi Alat Timbang

1

0

0

0

1

17.

Penyimpanan (Penggudangan)

0

0

0

0

3

18.

Pengangkutan

3

0

0

0

0

19.

Penggunaan Green Tonik/ZPT

9

0

0

0

0

20. Penggunaan Bahan Kimia, Biologi dan
Obat-Obatan Ikan

11

0

1

0

0

21.

Tindakan Perbaikan

0

0

0

0

1

22.

Pencatatan/Dokumentasi

0

0

0

0

4

23.

Pelatihan

0

0

1

0

0

24.

Kebersihan Personil

0

7

0

0

0

Jumlah

45

9

6

2

29

44

Kondisi industri budidaya rumput laut Eucheuma cottonii Teluk Serewe

yang berada pada tingkat IV, lebih disebabkan tingginya ketidaksesuaian pada

kategori kritis. Ketidaksesuaian yang tinggi pada kategori ini, mayoritas

disebabkan oleh penerapan Standard Operational Procedures (SOP) yang

menyimpang, yakni sebesar 88%. Sedangkan parameter air laut, tata letak dan

lokasi masing-masing berkontribusi sebesar 4%. Untuk lebih jelasnya,

diterangkan pada Gambar 12 berikut :

Gambar 12. Kontribusi Standard Operational Procedures (SOP) Terhadap
Jumlah Ketidaksesuaian Pada Kategori Kritis

Standard Operational Procedures (SOP) yang mengalami penyimpangan

meliputi : kebersihan fasilitas (14%), pemilihan dan pengangkutan bibit (10%),

identifikasi jenis rumput laut (4%), penanaman (3%), pemanenan (3%), sortasi

(7%), pengeringan (10%), pelabelan dan keutuhan kemasan (7%), verifikasi alat

timbang (3%), penyimpanan/penggudangan (10%), tindakan perbaikan (3%) serta

pencatatan/dokumentasi (14%). Dalam konteks sertifikasi, penyimpangan pada

45

penerapan Standard Operational Procedures (SOP) dapat diperbaiki melalui

penyuluhan dan penguatan kelembagaan di tingkat petani (Koperasi Primer).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->