Anda di halaman 1dari 7

http://fuadbawazier.com/artikel/71-kondisi-perekonomian-indonesia-saat-ini.

html

KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA SAAT INI DAN IMPLIKASINYA


TERHADAP DUNIA BISNIS

Sudah lama fokus pemerintah pilih kasih atau berat sebelah ke makro ekonomi
dengan menganaktirikan sektor riil. Ketidakseimbangan ini sampai
mengesankan terputusnya atau lemahnya hubungan antara sektor keuangan
(Finansial) dengan sektor riil. Mengapa pemerintah lebih fokus kesektor
keuangan? Mengapa “perbaikan” sektor keuangan tidak diikuti perbaikan sektor
riil? Bukankah lebih banyak pelaku bisnis disektor riil dibandingkan pelaku bisnis
disektor keuangan? Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertama, pemegang kebijakan ekonomi (utamanya Menko Perekonomian dan


Menkeu) adalah orang-orang yang ahli makro ekonomi tetapi kurang
menghayati sektor riil, baik secara training maupun pengalaman/karir.

Kedua, perbaikan kondisi makro ekonomi 6 bulan terakhir ini sebenarnya


adalah semu. Inflasi bulanan yang “membaik” adalah setelah kenaikan luar
biasa akibat kenaikan harga BBM, sehingga secara kumulatif tahunan inflasi
masih tinggi. Perbaikan kurs rupiah dan IHSG yang masing-masing pernah
sekitar Rp8.700,- dan 1.500, semata-mata karena arus masuk hot money yang
berisiko tinggi atau rentan bagi stabilitas makro ekonomi. Buktinya, dalam waktu
singkat kurs kembali menjadi Rp9.400,- dan IHSG ke 1.200. Kenaikan
cadangan devisa dari hot money juga berisiko sewaktu-waktu lari kembali ke
luar negeri dalam jumlah yang lebih besar karena ditambah dari keuntungan
selisih kurs, keuntungan jual-beli saham dan penghasilan bunga tinggi yang
diraup para spekulan atau investor jangka pendek tersebut. Ringkasnya, hot
money itu tidak masuk ke sektor riil, tidak membantu menciptakan lapangan
kerja.

Ketiga, tugas dan tanggung jawab pemerintah termasuk BI dalam “mengelola”


indikator keuangan makro relatif sedikit dan mudah, dan bila terjadi hal-hal yang
kurang menyenangkan (misalnya melemahnya kurs rupiah dan IHSG), dengan
mudah pemerintah bisa mengkambinghitamkan pengaruh global atau regional.
Disektor keuangan ini, baik dipasar uang maupun di pasar modal, selama ini
sebenarnya pemerintah lebih sebagai penonton. Satu-satunya variable yang
dimainkan pemerintah/BI adalah tingkat bunga, yang itupun harus dengan
mempertimbangkan suku bunga The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat).
Berbeda dengan tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk menggerakkan
sektor riil yang banyak, sulit dan berat tantangannya, sehingga perlu kerja
keras, kecepatan dan keberanian. Untuk menggerakkan sektor riil pemerintah
harus riil action melakukan perbaikan-perbaikan di sana-sini, deregulasi,
debirokratisasi, pembenahan pajak, bea & cukai, pembangunan infrastruktur
dan transprotasi, perbaikan prosedur izin investasi, penghapusan KKN/high cost
economy, efisiensi dan efektivitas APBN, mengatasi kekurangan energi yang
tersedia, penataan ulang otonomi daerah, dan masih banyak serta panjang lagi
list pembenahan yang harus dikerjakan pemerintah.

Pelaku ekonomi di sektor keuangan pada umumnya kelompok ekonomi elit,


yaitu para pemain di pasar uang dan modal. Jumlah merekapun terbatas dan
lebih didominasi pemain asing, sebagai konsekwensi globalisasi dan liberalisasi
sektor keuangan kita. Pemainnya yang elit dan sedikit itu relatif mempunyai
hubungan dekat dengan otoritas ekonomi Indonesia maupun pejabat-pejabat
IMF dan World Bank, sehingga apa yang terjadi di pasar uang dan modal
menjadi concern dan “tolok ukur kesuksesan ekonomi Indonesia”, bukan
ekonomi rakyat. Hal ini bertolak belakang dengan sektor riil dimana indikasi
utamanya adalah pasar barang dan pasar tenaga kerja. Dikedua pasar riil ini,
pelaku utamanya adalah kita semua, jutaan rakyat Indonesia baik selaku
produsen, konsumen, majikan dan buruh. Bagi otoritas ekonomi, pasar rakyat
ini nampaknya kurang menarik, kurang bergengsi, karena tidak menjadi
perhatian elit asing termasuk IMF. Karena itu “wajar” saja bila tim ekonomi
pemerintah cenderung hanya menonjolkan indikator keuangan dan berusaha
“menenggelamkan” indikator sektor riil yang sulit dan babak belur.
Keempat, risiko pemain disektor keuangan relatif lebih kecil dan ringan
dibandingkan disektor riil. Para pelaku di sektor keuangan umumnya pemodal
besar berpengalaman dan berjaringan luas yang mampu menanggung risiko.
Dana mereka juga sangat mobil dari satu negara ke negara lain, baik dipasar
uang maupun pasar modal. Berbeda dengan pelaku disektor riil yang dananya
tidak mobil, harus berhadapan dengan risiko dan kesulitan yang diciptakan
birokasi, risiko dari investasi jangka panjang dan risiko berat persaingan pasar.
Jelas investasi disektor riil yang dapat diharapkan untuk mengurangi
pengangguran dan kemiskinan, bukan investasi di sektor keuangan.

Pengangguran, lebih-lebih di Indonesia negara dengan penghasilan perkapita


kurang dari $1.000, tidak merata, tanpa jaminan sosial, identik dengan
kemiskinan. Dan kemiskinan yang berlangsung lama serta meluas adalah
potensi berbagai macam kerusuhan yang tidak boleh dianggap enteng. Karena
itu segala daya upaya harus dikerjakan pemerintah untuk memerangi
pengangguran yang telah mencapai lebih dari 11 juta orang atau lebih 40 juta
orang bila dengan pengangguran setengah terbuka. Perang ini juga identik
dengan perang melawan kemiskinan.

Step pertama adalah mengubah mental aparat birokasi dari dilayani menjadi
melayani, dari kebijakan mempersulit menjadi mempermudah, dari
memperlambat urusan menjadi mempercepat. Step umum kedua adalah
penegakan hukum dengan tegas dan maksimum tanpa pandang bulu. Dengan
menghukum mati atau hukuman seumur hidup ratusan atau ribuan aparat
birokasi yang korup, aparat yang lain baru benar-benar takut dan berubah,
seperti di RRC. Step umum ketiga adalah meningkatkan kordinasi, kata yang
selalu diomongkan pejabat tapi tidak sungguh-sungguh dilaksanakan. Kordinasi
aparat birokasi kita sudah dikenal luas, berantakan.

Langkah-langkah khusus dengan target yang nyata dan jelas, tegas, solid dan
berani harus diwujudkan oleh setiap kementerian. Misalnya, Departemen
Pertanian dapat mengurangi kemiskinan bila mampu menaikkan produksi gabah
per hektar sawah dengan 50% dalam jangka waktu 5 tahun. Dengan target
yang jelas ini, penghasilan petani naik, tidak perlu impor beras, dan menghemat
devisa. Negara lain bisa, bahkan sudah lama mampu menaikkan produktivitas
gabahnya, mengapa kita tidak. Bila tidak sanggup jangan jadi Mentan, atau bila
gagal, harus dilengserkan oleh Presiden.

Masih untuk mengurangi tekanan kemiskinan, Departemen Tenaga Kerja harus


punya target berapa juta tenaga kerja yang akan dikirim bekerja diluar negeri.
Departemen Tenaga Kerja harus serius menfasilitasi pengiriman tenaga kerja
ke luar negeri, bukan menghalanginya. Presiden tidak perlu terlalu
mendengarkan “kesulitan-kesulitan yang di propagandakan para menteri”,
cukup menuntut tercapainya target yang ditetapkan dalam kurun waktunya.
Kelak bila lapangan kerja di dalam negeri sudah tersedia, mereka akan pulang
dengan sendirinya.

Sementara itu, untuk langsung mengurangi pengangguran tentu pemerintah


harus mampu menfasilitasi penciptaan lapangan kerja, yang berarti
pertumbuhan ekonomi tinggi yang sehat di sektor riil. Meski APBN/APBD
membantu pertumbuhan ekonomi, tetapi investasi yang lebih penting harus
datang dari sektor swasta baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan investasi
ini harus di sektor riil dan benar-benar new investment, bukan sekedar
mengambil alih investasi lama (yang sudah ada) seperti kasus BCA dan Indosat
dimana barang bagus dijual murah. Akibatnya, bukan saja tidak ada tenaga
kerja baru tapi juga hilangnya penghasilan Negara dari dividen. Bahkan
perusahaan bagus yang dijual ke investor asing seperti Indosat itu yang semula
selalu merupakan pembayar pajak 5 besar, kini dalam daftar 10 besarpun tidak
masuk. Artinya, dari segi penerimaan pajak negarapun, Indonesia dirugikan.

Sudah menjadi rahasia umum calon investor mengeluh dan menjauh dari
Indonesia karena faktor KKN/high cost economy, jeleknya infrastruktur, berbelit-
belitnya birokasi, pajak dan kepabeanan, dan lain-lain. Bahkan ada
kecenderungan investasi yang telah ada dialihkan ke luar negeri, dan investor
Indonesia juga mulai menanam di luar negeri. Dalam bahasa ekonomi, tingkat
efisiensi investasi di Indonesia begitu rendah sehingga ICOR (Incremental
Capital Output Ratio) di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan di negara lain.
Artinya, meskipun modal di Indonesia merupakan barang langka, tetapi kita
telah menggunakannya secara boros.

Pemerintah nampaknya juga perlu untuk mendirikan bank-bank khusus seperti


bank perumahan rakyat dan bank tani & nelayan agar penyaluran kreditnya
jelas terarah pada sasaran yang dituju.
Pemerintah sudah mengindentifikasi hambatan-hambatan investasi tersebut
meski kadang tidak tepat, seperti dalam hal wacana revisi UU tentang
Ketenagakerjaan yang akhirnya dibatalkan. Tapi giliran pada rumusan solusi
apalagi implementasinya, pemerintah nampak lambat dan kedodoran. Dengan
sengitnya persaingan ditingkat dunia dalam memperebutkan dana investasi,
Pemerintah harus bersemboyan menjadikan Indonesia surga bagi investor.
Nah, kemana pemerintah SBY akan berpihak? Kesektor keuangan yang relatif
gampang atau kesektor riil yang sulit? Ke ekonomi elit atau ke ekonomi rakyat
yang banyak pelakunya?
**

Kondisi Perekonomian Semakin Buruk


Pertumbuhan Ekonomi Maksimal Hanya 4 Persen
Kamis, 5 Maret 2009 | 05:37 WIB

Jakarta, Kompas - Kondisi perekonomian global yang lebih buruk dari perkiraan
membuat pertumbuhan ekonomi domestik kian lambat. Prediksi pertumbuhan
2009 pun kembali diturunkan. Untuk menahan pelambatan lebih dalam, suku
bunga acuan dipangkas 50 basis poin menjadi 7,75 persen.

Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rabu (4/3) di Jakarta,


menyebutkan, perkembangan ekonomi global menunjukkan pelambatan lebih
dalam, tecermin dari merosotnya perekonomian negara-negara maju yang lebih
besar daripada perkiraan. Kondisi pasar keuangan global pun masih sangat
rapuh dengan semakin banyaknya laporan kerugian lembaga keuangan dunia.

Hasil Rapat Dewan Gubernur BI juga mengingatkan, perekonomian domestik


pun akhirnya juga melambat lebih dalam. Ini tecermin dari penurunan nilai
ekspor dan timbulnya sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik, yang
ujungnya memengaruhi kinerja perekonomian secara keseluruhan.

Badan Pusat Statistik, misalnya, melaporkan nilai ekspor Januari 2009 anjlok
17,7 persen terhadap Desember 2008. Jatuhnya nilai ekspor membawa
konsekuensi antara lain melemahnya kinerja sektor usaha penyerap tenaga kerja
dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja pada sektor industri yang
berorientasi ekspor. Ini akhirnya menimbulkan efek menurunnya daya beli dan
konsumsi masyarakat. Padahal, ekspor dan konsumsi rumah tangga merupakan
pendorong pertumbuhan ekonomi.

Rendahnya daya beli mulai tampak pada anjloknya penjualan kendaraan


bermotor, semen, dan alat elektronik.

Investasi tidak bergerak

Kondisi perekonomian makin parah karena investasi tak bergerak dan belanja
konsumsi pemerintah belum berjalan optimal.

Macetnya investasi dan kegiatan sektor riil terlihat dari posisi kredit yang turun
2,1 persen dari Rp 1.300 triliun pada akhir Desember 2008 menjadi Rp 1.273
triliun per Januari 2009. Seretnya penyaluran kredit makin diperparah oleh
kekhawatiran perbankan terhadap meningkatnya kredit bermasalah.

Menyikapi situasi ini, BI pun menurunkan level pertumbuhan ekonomi dari 4,5
persen menjadi 4 persen. Angka 4 persen itu pun bersifat pesimistis karena
berpotensi besar turun lagi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, angka proyeksi 4,5


persen masih bisa turun karena ekspor negatif. Kalau titik keseimbangan
pertumbuhan lebih rendah, tentu konsekuensinya beberapa target pembangunan
tidak tercapai.

Tanda pelambatan ekonomi kian jelas setelah Ditjen Pajak mengumumkan


realisasi penerimaan pajak Januari 2009. Penerimaan pajak nonmigas Rp
34,288 triliun, hanya tumbuh 5 persen dibanding Januari 2008.

”Ini menunjukkan pertumbuhan penerimaan pajak melambat. Pada kondisi


normal, 18-20 persen per bulan,” ujar Dirjen Pajak Darmin Nasution.

Data perekonomian terkini menunjukkan tidak ada satu indikator fundamental


perekonomian pun yang bisa menerbitkan optimisme.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang menjadi jendela perekonomian di
dunia internasional terus tertekan. Tidak hanya oleh penurunan ekspor yang
drastis, tetapi juga karena masih berlanjutnya penjualan aset-aset rupiah oleh
investor asing di pasar modal dan pasar uang.

Defisit ganda pun kini terjadi, yakni dalam transaksi perdagangan dan transaksi
modal dan keuangan.

Permintaan dollar AS yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasokannya telah


melemahkan rupiah ke level Rp 12.033 per dollar AS pada penutupan
perdagangan di BI kemarin. Level ini merupakan yang terburuk sejak Desember
2008.

Memburuknya neraca pembayaran dan juga pelemahan nilai tukar membuat


cadangan devisa tergerus. Posisi kini sebesar 50,56 miliar dollar AS, turun
dibandingkan Juli 2008, yang tercatat 60,56 miliar dollar AS.

Makin lambat

Sejumlah pengamat menilai perekonomian Indonesia bakal makin lambat dari


perkiraan semula. ”Mencapai 3 persen saja sudah hebat karena negara tetangga
akan tumbuh negatif,” kata pengamat moneter dan perbankan Iman Sugema.

Apalagi stimulus fiskal sebesar Rp 73,3 triliun dan stimulus moneter berupa
penurunan suku bunga acuan (BI Rate) pun diragukan efektivitasnya.

Menurut Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, stimulus fiskal kemungkinan


besar terhambat oleh lambatnya penyerapan anggaran.

Kebijakan moneter pun terhadang banyak hambatan, salah satunya transmisi


suku bunga. Sejak Desember 2008, BI Rate telah dipangkas 175 basis poin,
tetapi suku bunga kredit hanya turun sekitar 50 basis poin.

Tingginya biaya dana, rendahnya efisiensi bank, kekhawatiran meningkatnya


kredit bermasalah, dan tekanan pemilik agar bank tetap memperoleh keuntungan
membuat manajemen bank tetap mematok suku bunga kredit yang tinggi, sekitar
16 persen per tahun.

Iman menyarankan, dalam situasi seperti ini, BI harus mendorong perbankan


lebih keras berekspansi ke sektor usaha mikro dan kecil, yang telah terbukti
tahan menghadapi gejolak.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara menyarankan agar


mempercepat pengeluaran pemerintah dan penurunan suku bunga untuk usaha
yang prospektif.(FAJ/DOT/REI/OIN)