Anda di halaman 1dari 51

ASI & SUSU BUATAN

J. S. LISAL
SUB BAGIAN
NUTRISI &
PENY.METABOLIK
FK UNHAS/RSWS
MAKASSAR
1
TUJUAN SUSU BUATAN
 Ada 2 tujuan SB :
1. Sebagai penambah/komplemen ASI bila
ASI kurang (ASI + SB  Mixed Feeding)
2. Sebagai substitusi/pengganti ASI karena
ASI tidak ada/tidak boleh diberikan (=
Artificial Feeding)
Contoh :
AIDS, Ibu yang mendapat
sitostatika, Infeksi lokal di
payudara, kadang-kadang Hepatitis
B

2
KOMPOSISI UTAMA ARTIFICIAL FOOD

1. Susu Sapi (SS) (atau protein kedelai)


2. Biasanya ditambahkan ekstra minyak
nabati campuran sebagai sumber PUFA,
karena bahan dasar susu buatan (SB)
adalah susu skim.
Minyak nabati yang kurang baik dari
segi PUFA adalah minyak kelapa; sangat
kaya dengan Saturated Fatty Acid (SFA)
& miskin PUFA, namun kaya MCT.

3
 Minyak kelapa sawit kaya akan
Monounsaturated Fatty Acid &
Provitamin A.
 Khusus mengenai mentega: jangan
menggunakan mentega tetapi
MARGARIN yang lembek cair (kaya
PUFA), dan jangan yang beku (kaya
akan PUFA isomer trans yang
meningkatkan kadar kolesterol).
 Ratio SFA : PUFA = 45 : 55 pada
ASI 4
1. Sebagai sumber karbohidrat biasanya
ditambahkan tepung & gula
Tepung sebaiknya polimer glukosa
seperti yang terdapat pada Corn Syrup
(Dextrim-Maltosa).
Polimer glukosa ini :
pencernaannya lebih pelan sehingga
jarang mengalami intoleransi
Meningkatkan absorpsi Ca, Mg, Zn
(sama baiknya dengan laktosa)
Jangan pakai sukrosa karena
meningkatkan perusakan gigi.
5
1. Zat-zat sebagai suplemen untuk fortifikasi
karena mempunyai aktivitas biologik yang
khusus, misalnya : β carotene, taurin, mucin,
bifidobakteri (probiotik), FOS (prebiotik), DHA
dan AA.
DHA & AA :
 Terutama penting untuk bayi prematur &
bayi usia < 6 bulan karena > 6 bulan tubuh
sudah mampu untuk membentuk DHA & AA
dari prekursor yaitu ∝-Linolenat & Linoleat

 DHA berlebihan tanpa keseimbangan dengan


AA, akan menyebabkan insufisiensi AA
karena keduanya berkompetisi menggunakan
6
jalur metabolisme yang sama.
 Fungsi AA :
Somatic growth
Skin health
Pencegahan fatty liver
Menurunkan kolesterol
 Fungsi DHA :
Perkembangan neurologik (otak,
retina, saraf)
Menurunkan trigliserida
 Ratio AA : DHA = 5-15 : 1
Sifat keduanya antagonistik, misalnya :
AA pro-agregasi trombosit, DHA anti-
agregasi trombosit. 7
SUSU BUATAN
Dapat diperoleh dengan 2 cara :
1. SS atau modifikasinya + tepung + gula
Kelemahannya :
 Lemaknya adalah lemak SS, yang banyak
mengandung SFA.
 Bahan dasar tepung mentah sehingga
harus dimasak
 Tidak ada fortifikasi
1. SF Instant

8
SUSU SAPI YANG NON FORMULA
(UNMODIFIED)
1. SS segar
2. Susu bubuk full cream / whole milk
powder, yaitu :
Susu sapi yang dikeringkan lalu
dijadikan susu bubuk
Biasanya ditambahkan Vitamin A
&D

9
Dasar :
 Full cream milk powder (Frisian Flag,
Dancow, Nespray, Dutch Lady)
100 g bubuk + air = 800 ml SS cair
 Koefisien pelarutan = 8
1 sdm rata susu bubuk = 5 g  40 ml, 1
sdm gula = 5 g, 1 sdm tepung = 8 g.
 125 g bubuk + 5% gula + 1-2% tepung +
air = 1000 ml SB cair (High Calorie)  1000
kkal/liter = 3/2 x iso kalori

10
Modifikasi :
 2/3 x 25 g bubuk (2/3 x 5 sdm = 3 1/3
sdm) + 1 sdm gula + 1 sdm tepung +
air  200 ml SB cair isokalori
 3 1/3 sdm bubuk + 1 sdm gula + air
tajin  200 ml SB cair isokalori
A. 5 sdm bubuk + 1 sdm gula + air  200
ml SB cair
 Koefisien koreksi High Calorie = 2/3

11
1. Susu Pasteurisasi/ Sterilisasi
SS yang disterilkan atau
dipasteurisasikan & dimasukkan
ke dalam kaleng (Contoh : Bear
Brand)
A. 2/3 x 200 ml susu (135 ml) + 1 sdm
gula + 1 sdm tepung + 65 ml air
 200 ml SB cair iso kalori
A. 135 ml susu + 1 sdm gula + 65 ml
air tajin  200 ml SB cair iso kalori
B. 200 ml susu + 1 sdm gula 12
 200 ml SB cair iso kalori
1. Susu Evaporasi
SS cair yang diuapkan sampai volume
1/3 & dimasukkan ke dalam kaleng
 Koefisien Evaporasi = 1/3
A. 2/3 x 1/3 x 200 ml susu (45 ml) + 1 sdm
gula + 1 sdm tepung + 155 ml air
 200 ml SB cair iso kalori
A. 45 ml susu + 1 sdm gula + 155 ml air tajin
 200 ml SB cair iso kalori
B. 65 ml susu + 1 sdm gula + 135 ml air
 200 ml SB cair iso kalori

13
1. Susu Bubuk Skim
SS yang dikeluarkan lemaknya
 Bukan makanan bayi karena low
fat, low essensial fatty acid, low
calorie, low fat soluble vitamin
(terutama A dan D)
 Merupakan bahan dasar untuk
semua SF yang cow milk based,
termasuk susu untuk diit kolesterol,
misalnya: tropicana slim
 Pemberi rasa pada minuman
14
 Contoh : Susu Bubuk Carnation
1. Susu Kental Manis
SS yang ditambahkan 16% gula
(160 gram gula + 1000 ml susu)
kemudian diuapkan sampai
volume 1/3 nya.
 Juga bukan merupakan
makanan bayi karena sangat
manis dan low kalori

15
SF UMUM & SF KHUSUS
 SF Umum adalah :
Formula yang disediakan untuk bayi sehat
maupun sakit dengan penyakit non
metabolik
 SF Khusus adalah :
Formula yang disediakan untuk bayi/anak
dengan penyakit metabolik
bawaan/didapat : maldigesti, malabsorpsi,
intoleransi, penyakit metabolik bawaan
karena gangguan enzim maupun
hormonal seperti DM, dan penyakit
organik lain dengan gangguan pada ginjal
& hati 16
SUSU FORMULA UMUM

1. Adapted Formula (AF)


2. Complete Starting Formula (CSF)
3. Follow Up Formula (FUF)
4. Kid Formula (1+)
5. Pre-School (3+) / School Formula
(6+)

17
PERBANDINGAN KOMPOSISI
Komposisi SS ASI CSF AF FUF
KALORI Isokalori 700 kkal Isokalori Isokalori Isokalori
(670-680)
PROTEIN :
-Kadar (g/dl) 3-3.2 1-1.4 2-2.5 = ASI 2.5-3
-Ratio C/W 80 : 20 40 : 60 80 : 20 40 : 60
50 : 50
80 : 20
LEMAK (g/dl) 3-3.5 3-3.5 = ASI = ASI = ASI
Ratio SFA & 70 : 30 45 : 55
UFA
KH (Laktosa)
-Kadar (g/dl) 4.8 7.0 6-9 = ASI = ASI
-Laktosa ± 100 % ± 100 %
MINERAL : 0.7 0.2 Menurun = ASI = ASI
-Ratio Ca/F < 1.2 > 1.5 – 2 = ASI
-Na (mg/L) 50 10 18
KESIMPULAN
1. Aspek protein :
Kadar protein yang sangat tinggi (2.5 – 3x
ASI) dengan casein predominan pada SS
menyebabkan SS membawa beban :
a. Digesti pada saluran cerna yang perlu
ekstra HCl lambung & pencernaannya
lebih lambat karena suspensi protein
yang lebih kasar, yang biasanya belum
dapat ditoleransi oleh kemampuan
cerna sistem GIT bayi sekurang-kurang
sampai 4 bulan
b. Uptake & metabolisme asam amino
oleh hati; mudah terjadi azotemia
c. Ekskresi sisa metabolisme bagi ginjal 19
1. Aspek Lemak
 Walaupun kadar lemaknya = ASI namun
kandungan SFA tinggi, PUFA rendah
 Digesti & absorpsi lemak SFA lebih susah
dari PUFA  beban untuk GIT
 Emulsi lemak SS lebih kasar dari ASI
 Tidak ada masalah dalam modifikasi SS
karena bahan dasarnya adalah susu skim,
yang sudah dibuang lemaknya dan
ditambahkan minyak nabati supaya
komposisi menyerupai ASI

20
1. Aspek Karbohidrat
 Sama – sama kaya Laktosa
2. Aspek Mineral
 Kadarnya yang 3x ASI dengan kadar
Na 5x ASI memberi beban Renal Solute
Load (RSL) dan risiko hipertensi di
masa depan
 Ratio Ca & F yang rendah
menyebabkan absorpsi Ca lebih sulit,
Ca terikat dengan fosfat membentuk
kompleks yang tidak larut, maka
rationya harus minimal 1.2 21
1. Efek samping
 Jangka pendek : gangguan saluran cerna
terutama untuk bayi < 4 bulan
 Jangka panjang :
Kadar protein & garam terutama Na yang
tinggi merupakan penyebab obesitas di
masa depan dengan segala
konsekuensinya, dan juga hipertensi
Selain itu jika terjadi diare dehidrasi dapat
terjadi hipernatremia, dengan prognosa
yang buruk

22
JENIS & CONTOH :

 AF : Nan-1, Vitalac-1, Bebelac-1,


Enfamil, S26, Nutrilon, Morinaga BMT
 CSF : Lactogen I, SGM I
Susu skim yang diencerkan hingga
kadar protein 2-2.5 g/dl (2x ASI), yang
merupakan batas toleransi digesti &
absorpsi bayi kecil, tetapi ratio C/W
tetap. Whey kaya akan tirosin, sistin,
yang esensial buat BBL
 FUF : SGM 2, NAN 2
23
SUSU FORMULA KHUSUS
 Definisi :
Formula untuk bayi & anak yang
mempunyai :
penyakit metabolik, baik dalam bentuk
maldigesti/malabsorbsi, juga
gangguan metabolik dalam hati & organ
lainnya baik karbohidrat, protein maupun
lemak dan mineral.
gangguan/penyakit yang mempunyai
akibat metabolik yang memerlukan diit
khusus seperti GGA, GGK, Koma
Hepatikum, DM, Fenilketonuria dsb.
24
JENIS – JENIS SF KHUSUS

1. Formula Rendah Bebas Laktosa


2. Formula Kedelai
3. Formula Hidrolisat Protein
4. Formula Prematur/BBLR
5. Formula MCT
6. Konsentrat protein
7. Gagal organ : Nefrisol, Diabetosol,
Hepatosol
25
FORMULA RENDAH BEBAS
LAKTOSA
Karakteristik :
1. Isokalori
2. Proteinnya bisa non adapted (mirip
SS) dalam ratio Casein : Whey = 80 :
20; bisa adapted (mirip ASI) ratio C/W
= 60 : 40.
Dalam yang non adapted, kadarnya
2–2.5
g/dl, yang adapted 1.7-1.8 g/dl,
karena NPU nya lebih rendah dari ASI.
26
1. Karbohidrat : bisa bebas laktosa, rendah
laktosa < 1 g/dl, medium laktosa 3-4 g/dl
Laktosa biasa diganti dengan polimer
glukosa dalam bentuk corn syrup, yang
mempunyai sifat menyerupai laktosa
dalam memfasilitasi absorpsi Ca, Mg & Zn.
1. Lemak : campuran lemak nabati dalam
kadar saturated fatty acid & unsaturated
fatty acid yang = ASI
2. Ditambah berbagai macam suplemen
tergantung produsen, bisa prebiotik,
probiotik, vitamin A, trace element, DHA
dan AA, mucin,dsb.
27
 Indikasi Utama :
1. Untuk intoleransi laktosa
2. Galaktosemia

 Indikasi Tambahan :
1. Malaborpsi lemak ringan & sedang

28
Diagnostik Intoleransi Laktosa
 Anamnesis :
Diare yang sangat frekuen, cair, sedikit
ampas, disertai dengan flatus, defekasi
menyemprot, kadang-kadang berbusa,
baunya asam.
Bersifat dose independent, saat mulai
minum banyak susu baru timbul diare.
Bunyi perut kedengaran ramai
(hiperperistaltik).

29
 Pemeriksaan Fisik :
 Undigestied Carbohydrat
Laktosa yang tidak tercerna di usus halus,
masuk ke colon, difermentasi bakteri.
Hasil fermentasi  as.laktat, CO2, H2 & short
chain fatty acid (as.asetat 2 atom karbon,
as.propionat 3 atom karbon & as.butirat 4
atom karbon)  penting untuk integritas &
sumber energi kolon.
 Akibat dari fermentasi KH :
meteorismus, hiperperistaltik, gambaran
kontur usus kelihatan

30
 Eritema natum
 Dehidrasi (jarang)
 Malnutrisi (jangka panjang)

 Laboratorium :
1. Tes bahan reduksi dalam tinja
 Tes Clini atau Benedict test
1. Hidrogen Breath Test

31
Klasifikasi Intoleransi Laktosa
I. Intoleransi Laktosa Primer
a. Developmental : pada prematur
 fisiologik untuk keadaannya, beri
formula rendah laktosa karena tetap
memerlukan laktosa
a. Late Onset :
 intoleransi laktosa yang timbul pada
usia 2-3 tahun ke atas & berkelanjutan
a. Herediter/Genetik/Familial  terutama pada
ras negroid.

32
I. Intoleransi Laktosa Sekunder
a. Pada PEM berat, terutama Kwashiorkor,
kadang-kadang juga Marasmus
b. BBLR (Intrauterine Growth Retardation)
c. Pasca Enteritis/protracted diarrhea (>
1mgg)
 diare berkepanjangan, usus atrofi
a. Idiosinkrasi/kepekaan terhadap obat
tertentu, misal : Kanamisin & Neomisin
b. Reseksi usus halus
c. Anak minum ASI, ibu minum kontrasepsi
tertentu

33
Jenis Formula Rendah Bebas Laktosa

I. Yang proteinnya adapted (1.7 – 1.8 g/dl,


ratio Whey : Casein menyerupai ASI)
 Bebas laktosa : OLAC, NAN FL,
Morinaga NL-33
 Rendah laktosa : Nutrilon low lactose
I. Yang proteinnya menyerupai CSF (2-2.5 g/dl,
ratio W : C menyerupai SS = 85 : 15)
Contoh : LLM
I. Casein 100 % : Bebelac FL

34
 Pada intoleransi laktosa, pilihan utamanya
adalah formula rendah laktosa
 Untuk galaktosemia : formula free laktosa
Pada intoleransi laktosa, kegagalan adalah
maldigesti & malabsorpsi dari hidrolisa
laktosa menjadi glukosa & galaktosa.
Galaktosa ini seharusnya dikonversi di hati
oleh UDP transferase.
Pada galaktosemia, enzim ini tidak ada
sehingga terjadi penimbunan dalam darah,
menimbulkan muntah, anoreksia,
hepatomegali, ikterus, gagal hati, retardasi
mental berat, ascites, akhirnya kematian.
Sedangkan galaktosa yang diperlukan untuk
pembentukan cerebroside otak dibentuk dari
glukosa, bukan dari galaktosa diit.
35
FORMULA KEDELAI

 Karakteristik :
Isokalori
Protein : protein kedelai yang
difortifikasi dengan methionin
Bebas laktosa  Corn Syrup
Lemak : campuran minyak nabati
Suplemen

36
 Indikasi :
Indikasi utama :
1. alergi protein susu sapi
Indikasi tambahan :
2. intoleransi laktosa
3. galaktosemia
4. malabsorpsi lemak yang ringan
& sedang

37
 Kapan Dicurigai Alergi Protein Susu Sapi
 Gejala Klinik :
Gejala kulit : dermatitis atopik
 kulit muka tebal, kasar, krusta;
menyebar (ke kepala, ketiak & inguinal),
gatal;
muncul dalam 1-2 bulan setelah
sensitisasi
alergen susu sapi.
Gejala saluran cerna :
1. Diare : diare non spesifik, diare disentri
(ampas + darah + lendir), CMPSE (Cow
Milk Protein Sensitive Enteropathy) 
malabsorpsi & maldigesti protein,
karbohidrat & lemak. 38
1. Kolik infantil :
 Anak menangis sangat frekuen, sekuat
tenaga, berteriak, tangan dikepal, kaki
digosok-gosok
Gejala saluran napas :
1. Rhinitis alergika
2. Rhinitis alergika disertai batuk berulang
3. Rhinitis alergika + batuk berulang +
wheezing
4. Asma bronchiale
5. Otitis media yang berulang-ulang
Gejala Sistemik : syok anafilaktik
39
 Diagnostik :
1. Kadar Ig E yang meninggi
2. Skin prick test
 jika (+) hanya 50 % alergi susu
sapi, jika (-) 90 % bukan alergi susu
sapi
1. Challenge test (uji eliminasi &
provokasi)
 eliminasi 3x berturut dengan jarak
1 minggu, lalu diprovokasi 3x
berturut-turut juga
40
 Jenis Formula Kedelai :
1. Nutrilon soya step I, II, III
2. Nursoy
3. Isomil
4. Prosobee, Prosobee Plus

41
FORMULA HIDROLISAT PROTEIN
 Ada 2 golongan :
A. F.H.P. dengan hidrolisin ekstensif
 Untuk alergi ganda protein susu
sapi & protein kedelai, karena 35
% alergi susu sapi juga disertai
alergi protein keledai
A. F.H.P. yang parsial
 Formula Hipoalergik (F.H.A)
Untuk bayi tanpa alergi, untuk
profilaksis timbulnya alergi susu
sapi 42
FORMULA HIDROLISAT PROTEIN

 Karakteristik :
1. Isokalori
2. Protein : susu sapi yang dihidrolisa
ekstensif, bisa dari fraksi whey atau
casein
3. Karbohidrat : bebas laktosa, diganti
Corn Syrup
4. Lemak : campuran lemak nabati
kaya PUFA, mudah dicerna

43
 Indikasi
Indikasi Utama :
1. Alergi ganda
Indikasi Tambahan :
1. Intoleransi laktosa
2. Galaktosemia
3. Malabsorpsi lemak yang ringan &
sedang
Tapi dalam prakteknya dianjurkan
pada :
Sindrom malabsorpsi berat, terutama
pada prematur & neonatus aterm
44
 Contoh gejala sindrom
malabsorpsi yang berat :
 mual, muntah, regurgitasi,
aspirasi,
meteorismus hebat
hiperperistaltik
diare yang berkepanjangan

45
 Contoh :
1. Pregestimil : hidrolisat casein
2. Alfare : hidrolisat whey
3. Pepti Junior : hidrolisat whey

Kelebihan protein whey :


 Kaya akan asam amino essensial
untuk
neonatus premature, yaitu sistin &
tirosin
Kekurangannya :
Sangat sukar untuk hidrolisis sempurna
46
FORMULA HIPOALERGIK

 Karakteristik :
1. Isokalori
2. Protein : susu sapi dengan hidrolisat
partial
3. Karbohidrat : laktosa normal
4. Lemak : lemak nabati
 Indikasi :
Untuk anak sehat tetapi ada riwayat
alergi
dalam keluarga (sebagai profilaksis 47
terhadap alergi protein susu sapi)
 Contoh :
 ENFAMIL HA
 NAN HA
 Nutrilon HA
 Kejelekannya : Rasanya pahit

48
FORMULA PREMATUR
 Tujuan : untuk bayi prematur & BBLR
 Karakteristik :
1. Kalori : sedikit lebih tinggi (800 kkal/liter)
2. Protein : sedikit lebih tinggi daripada adapted
formula (1.7 – 2.1 g/dl) dengan ratio whey &
casein = ASI
3. Karbohidrat : laktosa 3-4 %, sisanya corn syrup
4. Lemak : lemak nabati, yang mengandung MCT
 kadarnya tidak boleh > 30% kadar lemak
1. Fortifikasi terutama trace element,DHA,AA.

49
 Contoh :
S-26 LB Whey
Prenan
Enfalac
Nenatal
SGM BBLR

50
51