Anda di halaman 1dari 18

DASAR-DASAR TEORI

STRUKTURALISME LINGUISTIK

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Lulus Mata Kuliah Teori Linguistik

Oleh:
Christopher Allen Woodrich
NIM: 084114001

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA


JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, ..........................................
Penulis

Christopher Allen Woodrich

ii
KATA PENGANTAR
Atas bantuan mereka dalam penyelesaian makalah ini saya ingin ucapkan
terima kasih kepada orang-orang berikut:
 Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho, atas dukungannya dalam semua tugas
akademik.
 Pak Hery Antono, untuk menjadi mitra bicara sepanjang penulisan
makalah ini.
 Alm. Ferdinand de Saussure, untuk memulai dan mengembangkan teori
strukturalisme linguistik.
Makalah ini tidak sempurna dan apabila terjadi kekurangan saya mohon maaf
lebih dahulu. Terima kasih.

Yogyakarta, ………………….. 2010

Christopher Allen Woodrich


NIM: 084114001

iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB I: PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
B. Tujuan dan Metode Penelitian ......................................................... 1
C. Sistematika Penyajian ..................................................................... 1
BAB II: PENGERTIAN LINGUISTIK ........................................................ 3
BAB III: TEORI STRUKTURALISME LINGUISTIK ................................ 5
A. Pengertian Dasar Teori Strukturalisme Linguistik .......................... 5
B. Teori Strukturalisme Eropa ............................................................. 8
C. Teori Strukturalisme Amerika ......................................................... 8
BAB IV: ANALISIS STRUKTURALISME LINGUISTIK ......................... 11
A. Kekuatan Teori Strukturalisme Linguistik ...................................... 11
B. Kelemahan Teori Strukturalisme Linguistik ................................... 11
BAB V: KESIMPULAN ............................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 14

iv
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan salah satu ciri mutlak manusia, yaitu alat komunikasi
intrinsik yang memungkinkan komunikasi di antara anggota-anggota suatu kelompok
tertentu. Oleh karena itu, bahasa patut dipelajari dan dimengerti oleh setiap manusia.
Namun, pengertian tentang peraturan-peraturan bahasa, baik sebagai benda
hidup maupun mati, secara luas maupun sempit, belum umum. Menimbang itu,
penulis akan berusaha untuk menyampaikan salah satu dasar teori linguistik, yaitu
teori struktural.

B. Tujuan dan Metode Penelitian


Penelitian dimaksud untuk mengemukakan dasar-dasar teori strukturalisme
linguistik. Untuk mencapai tujuan itu akan digunakan metode penelitian pustaka, baik
dari buku maupun internet.

C. Sistematika Penyajian
Makalah ini dibagi menjadi lima bab dan delapan subbab. Bab satu adalah bab
pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagi menjadi tiga subbab
dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode penelitian, dan sistem
penyajian.
Bab dua berfungsi sebagai informasi latar belakang yang menjelaskan apa itu
linguistik. Terdapat dalam adalah penjelasan umum tentang linguistik, cabang-cabang
linguistik, dan berbagai tokoh terkenal dalam dunia linguistik.
Bab tiga adalah pengertian dasar tentang teori strukturalisme linguistik. Bab
ini dibagi menjadi tiga subbab; subbab satu menjelaskan dasar-dasar teori
strukturalisme linguistik dan subbab dua dan tiga menjelaskan dua paradigma dalam
teori tersebut.

v
Bab empat adalah analisis pro dan kontra teori strukturalisme linguistik.
Analisis ini dibagai dua subbab, dengan subbab satu mengenai kekuatan teori
strukturalisme linguistik dan subbab dua mengenal kelemahannya.
Bab terakhir adalah bab lima. Bab ini merupakan kesimpulan dari makalah.

vi
BAB II: PENGERTIAN LINGUISTIK
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, linguistik ada dua arti, yaitu ilmu
tata bahasa dan telaah bahasa secara ilmiah. 1 Menurut Loreto Todd, seorang dosen
bahasa Inggris di University of Leeds, Inggris, definisi itu benar karena linguistik
mempelajari tanda-tanda komunikasi manusia (bahasa) dan bertugas untuk membuat
peraturan yang mampu menjelaskan penggunaannya.2
Namun, Ferdinand de Saussure mengemukakan adanya dua jenis linguistik:
linguistique de la langue dan linguistique de la parole. Menurut de Saussure, bahasa
(langue) dapat dilihat sama seperti halnya sebuah simponi, dengan setiap penutur
bahasa itu (orang yang ber-parole) seperti pemain. Apabila terjadi kesalahan oleh
salah satu pemain, simponi itu masih tidak berubah. Dengan demikian, de Saussure
berpendapat bahwa parole harus dipelajari secara tersendiri karena tidak mewakili
langue-nya dengan sempurna.3
Menurut Leonard Bloomfield, manusia sudah mempelajari bahasa semenjak
zaman Yunani Kuno. Namun, linguistik modern di Eropa baru lahir pada abad
kedelapan belas, sebagai akibat dari komunikasi dengan India; beliau mengatakan
bahwa “seandainya pemikir Eropa mempunyai pengalaman yang sama seperti peneliti
India, penelitian linguistik untuk bahasa Indo-Eropa maju jauh lebih cepat.”4 Kini,
linguistik dapat digunakan untuk mempelajari setiap bahasa di Bumi.
Linguistik, baik secara luas maupun secara sempit, mempunyai objek material
yang sama, yaitu bahasa. Namun, setiap cabang linguistik mempunyai objek material
yang berbeda. Akibatnya, kini linguistik telah menjadi puluhan cabang sebagaimana
tercantum pada Lambang 1.

1
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka. Hal. 866.
2
Todd, Loreto. 1995. An Introduction to Linguistics. Cetakan kedelapan. Singapura: Longman
Group Ltd. Hal. Hal. 1 – 3.
3
De Saussure, Ferdinand. 1995. Cours de Linguistique Général. Cetakan keempat. Payot &
Rivages: Paris. Hal. 36 – 38.
4
Bloomfield, Leonard. Language. Cetakan Kedua Belas. London: George Allen & Unwin Ltd. Hal.
4 – 18.

vii
LAMBANG 1: CABANG-CABANG LINGUISTIK
Linguistik Umum

Linguistik Murni Linguistik Historis Komparatif

Linguistik Deskriptif Fonetik


Fonologi
Morfologi
Sintaksis
Analisis
Wacana
Semantik
Pragmatik
Cabang Linguistik Linguistik Interdisipliner Sosiolinguistik
Psikolinguistik
Filsafat Bahasa
Logika Bahasa
Etnolinguistik
Stilistika
Filologi
Epigrafi
Paleografi

Linguistik Terapan Pengajaran Bahasa


Penerjemahan
Leksikografi
Sosiolinguistik Terapan
Fonetik Terapan
Pembinaan Bahasa Internasional
Pembinaan Bahasa Nasional
Pembinaan Bahasa Khusus
Linguistik Medis
Grafologi
Mekanolinguistik5

BAB III: TEORI STRUKTURALISME LINGUISTIK

5
Baryadi, I. Praptomo. 2009. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Kuliah.

viii
A. Pengertian Dasar Teori Strukturalisme Linguistik
Strukturalisme tidak hanya terbatas kepada dunia linguistik; dengan demikian,
perlu ada penjelasan strukturalisme secara umum. Secara etimologis, kata struktur
berasal dari bahasa Inggris structure, yang berasal dari bahasa Latin structura, dari
kata dasar struere.6 Sementara, secara struktural, strukturalisme terdiri dari struktur
yang berarti “cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan” dan morfem –
isme, yang berarti ilmu.7 Dari kedua pernyataan di atas dapat ditarik bahwa
strukturalisme adalah teori yang memandang dan meneliti objek sebagai suatu
bangunan; secara simpel, objek kajian dipandang sama seperti pembangunan rumah,
dengan unsur-unsur yang tidak mungkin ditinggalkan, tahap-tahap tertentu dan
pembentukan yang terbatas.
Teori ini adalah suatu teori yang sering digunakan dalam ilmu-ilmu
manusiawi, baik ilmu sosial maupun ilmu humaniora, seperti linguistik. Teori
strukturalisme pertama-tama dikaitkan dengan Linguistik oleh orang Swiss,
Ferdinand de Saussure, dalam karyanya Cours de Linguistiques Général (Pengantar
Linguistik Umum) pada tahun 1916.8
Dalam bukunya, de Saussure tidak menggunakan istilah linguistik struktural,
tetapi linguistik sinkronik. Seperti yang dikemukakan oleh de Saussure:
L’objet de la linguistique synchronique générale est d’établir les
principe fondamentaux de tout système idiosynchronique, les facteur
constitutifs de tout état de langue. 9
Dalam kata lain, tujuan linguistik sinkronik umum adalah menentukan
prinsip-prinsip dasar semua sistem idiosinkronik, yaitu faktor-faktor pembentukan
setiap bahasa. Dengan demikian, teori struktural diharapkan mampu menjelaskan
semua bahasa di dunia karena ada dasar-dasar sama.

6
Chapman, Siobhan dan Christopher Routledge. 2009. Key Ideas in Linguistics and the Philosophy
of Language. Edinburgh, Inggris: Edinburgh University Press. Hal. 219.
7
Departemen Pendidikan Nasional. Op. Cit. Hal. 1377.
8
Chapman, Siobhan dan Christopher Routledge. Op. Cit. Hal. 221.
9
De Saussure, Ferdinand. Op. Cit. Hal. 141.

ix
Ini sungguh mengejutkan untuk pemikir lain pada zaman itu. Sampai pada
saat itu bahasa selalu diteliti berdasarkan perubahan sejarahwi; dalam kata lain,
gramatikanya diteliti satu per satu secara diakronis. Sementara, teori strukturalisme
mengizinkan penelitian sinkronik dalam satu bahasa atau pula berbagai bahasa karena
bertujuan untuk menjelaskan dasar-dasar bahasa sebagai keseluruhan.10
Dalam hal itu, de Saussure mengemukakan bahwa ada dua hal yang paling
dasar dalam bahasa:
“Rappelons d’abor deux principes qui dominant toute la question:
1. L’entité linguistique n’existe que par le signifiant et du signifié; dès
qu’on ne retiens qu’un de ces éléments, elle s’évanouit...
2. L’entité linguistique n’est complètement déterminée que lorsqu’elle est
délimitée, séparée de tout ce qui l’entoure sur la chaine phonique.11
Kedua prinsip ini adalah sebagai berikut :
1. Tidak ada satuan gramatikal tanpa referen dan referens. De Saussure
mengemukakan bahwa apabila tidak ada salah satu unsur ini, satuan lingual
menjadi abstrak. Misalnya, kata sepeda sudah mempunyai referen dan
referens. Apabila dibagi menjadi suku kata, se, pe dan da, keadaannya
menjadi suatu keabstrakan karena tidak mengandung referens.
2. Satuan lingual tidak sepenuhnya ditentukan, tetapi dibebaskan, dipisah dari
semua yang mengurungnya di rantai fonik (misalnya, kalimat). Jadi, apabila
kata singa dalam kalimat “Anak anjing itu melarikan diri dari seekor singa.”
diteliti, linguis tidak boleh melihat kedudukannya relatif kata lain. Harus
ditelaah secara terpisah.
Menurut de Saussure, identitas suatu tanda itu ditentukan dari melihat tanda
lain dalam kelompok kata lain, baik secara associatif (paradigmatic, yang terkait
dalam pikiran linguis) dan syntagmatique (syntagmatic, yang terkait dengan
konteks).1213 Contoh suatu kelompok paradigmatic adalah kelompok kata menata,
10
Chapman, Siobhan dan Christopher Routledge. Op. Cit. Hal. 221.
11
De Saussure, Ferdinand. Op. Cit. Hal. 144 – 145.
12
Ibid. Hal. 170 – 171.
13
Kontribusiwan Wikipedia. 2010. “Structural Linguistics.”
www.en.wikipedia.org/wiki/Structural_linguistics. Didownload Februari 2010.

x
menanam, menahan, dan menentang, yang dalam pikiran sudah dimengerti
mempunyai hubungan, yaitu morfem {me(N)-}.
Contoh suatu hubungan syntagmatic adalah kalimat “Dia memegang buku
itu.” dan “Buku itu dipegang dia.” Dalam kedua kalimat di atas penempatan kata
berdasarkan kata-kata di sekitarnya; tidak mungkin ada kalimat yang berbunyi “Buku
itu memegang dia.” atau “Dia dipegang buku itu.”
Penyukuan ini berguna untuk membantu seorang linguis memahami suatu
bahasa tertentu. Misalnya, ketika seorang linguis melihat kata buku dan buku-buku,
linguis tersebut dapat memahami bahwa ada hubungan paradigmatic di antara kata-
kata itu. Setelah melihat beberapa kelompok paradigmatic lain, misalnya anak dan
anak-anak, dan macan dan macan-macan, linguis itu dapat memahami bahwa
pluralisation dalam bahasa Indonesia ditandai dengan pengulangan.14
Oleh karena Cours de la Linguistique Général diterbitkan setelah de Saussure
meninggal,15 beliau tidak dapat mengembangkan teorinya. Teori struktural kemudian
berkembang dari dua paradigma: strukturalisme yang dilanjutkan oleh linguis Eropa
seperti Roman Jakobson (European Structuralism) dan strukturalisme yang
dilanjutkan oleh Franz Boas dan Leonard Bloomfield (American Structuralism).
Perbedaan di antara kedua teori ini cukup besar, dan akan dijelaskan pada subbab-
subbab di bawah.16

B. Teori Strukturalisme Eropa


Setelah penerbitan Cours de la Linguistique Général, pemikir Eropa lain
mengadoptasi teori strukturalisme dan menyesuaikannya dengan pendapat mereka.
Namun, yang menjelaskan strukturalisme baru ini bukanlah individu, tetapi kelompok
linguis yang berprestasi, yaitu kelompok Prague dan kelompok Geneva.17

14
Ibid.
15
Kontribusiwan Wikipedia. 2010. “Ferdinand de Saussure.”
www.en.wikipedia.org/wiki/Ferdinand_de_Saussure. Didownload Februari 2010.
16
Chapman, Siobhan dan Christopher Routledge. Op. Cit. Hal. 219
17
Ibid. Hal. 221.

xi
Salah satu perubahan yang paling dasar ialah bagaimana bahasa dipandang:
menurut de Saussure, bahasa adalah suatu bentuk psikis (entité psychique),18
sedangkan strukturalis Eropa lain memandang bahasa sebagai suatu hal sosial. Ini
menghindari masalah yang muncul ketika harus menentukan batas bahasa individu
dan bahasa umum.
Pengaruh terbesar dari strukturalisme Eropa adalah dalam bidang fonologi.
Metode struktural, yaitu menentufkan fitur unik dan pembeda pasangan minimal
(kata) untuk menentukan fonem, dan, mengikuti proses ini, tujuan proses ialah untuk
menemui semua fonem dalam suatu bahasa, sampai sekarang masih merupakan cara
umum untuk telaahan fonologi.19

C. Teori Strukturalisme Amerika


Strukturalisme di Amerika Serikat dimunculkan oleh seorang anthropolog,
Franz Boas, dalam penelitiannya mengenai bahasa pribumi Amerika. 20 Edward Sapir,
seorang linguis Amerika Serikat keturunan Jerman, juga mempelajari bahasa suku
pribumi Amerika dan menarik kesimpulan. Beda dari Boas, Sapir (bersama muridnya
Benjamin Lee Worf) juga membuat teori mengenai hubungan bahasa dan budaya,
yaitu setiap bahasa bukan hanya perwujudan konsep dalam budaya itu, tetapi tanpa
kata untuk suatu konsep maka konsep itu tidak bisa dipikirkan.21
Namun, yang paling berpengaruh dalam strukturalisme Amerika adalah
Leonard Bloomfield dan sekelompok linguis lain yang menafsirkan strukturalisme
sebagai penelitian bahasa sebagai satuan mekanik, terpisah dari makna.22
Menurut Bloomfield, pemisahan dari makna ini terjadi karena pembelajaran
makna dinyatakan titik kelemahan dalam penelitian bahasa. Sebagaimana telah
dinyatakan oleh Bloomfield:
18
De Saussure, Ferdinand. Op. Cit. Hal. 99.
19
Chapman, Siobhan dan Christopher Rutledge. Op. Cit. Hal. 222
20
Ibid. Hal. 223.
21
Kontribusiwan Wikipedia. 2010. ”Edward Sapir.”
http://www.en.wikipedia.org/wiki/Edward_Sapir. Didownload Februari 2010
22
Chapman, Siobhan dan Christopher Rutledge. Op. Cit. Hal. 223

xii
The study of speech-sounds without regard to meanings is an
abstraction: in actual use, speech-sounds are uttered as signals. ... the
meaning of a linguistic form [is] the situation in which the speaker utters
it and the response which it calls forth in the bearer. ... The situations
which prompt people to utter speech, include every object and happening
in their universe. In order to give a scientifically accurate definition of
meaning for every form of a language, we should have to have a
scientifically accurate knowledge of everything in the speakers’ world.
The actual extent of human knowledge is very small, compared to this. ...
The statement of meanings is therefore the weak point in language-
study.23
Beda dari strukturalis Eropa, Bloomfield juga menyatakan bahwa kalimat
adalah satuan struktural, sama seperti halnya fonem dan kata:
“In any utterance, a linguistic form appears either as a constituent
of some larger form ... or else as an independent form, not included in
any larger (complex) linguistic forms. ... A form which in one utterance
figures as a sentence may in another utterance appear in included
position. ... An utterance may consist of more than one sentence ... [but]
there is no grammatical arrangement uniting them into one larger
form.”24
Menurut beliau, ini terjadi karena suatu bentuk linguistik harus mewujudkan
diri sebagai sebagian dari satuan yang lebih besar dan / atau terdiri sendiri. Misalnya,
mari dapat berdiri sendiri sebagai kalimat “Mari!” atau sebagai bagian dari kalimat
“Mari, kemari!” “Mari, kemari!” dapat berdiri sendiri atau bisa mewujudkan bagian
dari kalimat “Mari Yohannes, kemari!” Namun, tuturan “Mari Yohannes, kemari!
Ada cicak besar! Keren lho!,” tidak dapat dinyatakan sebagai satu kesatuan karena
tidak ada hubungan gramatikal yang pasti.
Linguis Amerika setelah Bloomfield, baik struktural maupun tidak, semakin
lama semakin meninggalkan semantik. Zellig Harris sering menggunakan istilah
struktur dalam karya-karyanya (misalnya Methods in Structural Linguistics yang
diterbitkan pada tahun 1951) dan Noam Chomsky telah merumuskan formula yang

23
Bloomfield, Leonard. Op. Cit. Hal. 139 – 140.
24
Ibid. Hal. 170

xiii
hampir matematis untuk membentuk kalimat dalam karyanya Syntactic Structures
(1957).25

BAB IV: ANALISIS STRUKTURALISME LINGUISTIK


A. Kekuatan Teori Strukturalisme Linguistik

25
Chapman, Siobhan dan Christopher Routledge. Op. Cit. Hal. 223 – 224.

xiv
Dibanding teori positivisme yang mendahuluinya, teori strukturalisme jauh
lebih mampu menjelaskan dasar bahasa sebagai keseluruhan. Menurut de Saussure,
positivisme merupakan suatu teori diakronik, yang mengandung masalah:
“D’ailleurs la délimitation dan le temps n’est pas la seule difficulté
que nous rencontrons dans la définition d’un état de langue ; le même
problème se pose à propos de l’espace. Bref, la notion d’état ne peut être
qu’approximative. En linguistique statique, comme dans la plupart des
sciences, aucune démonstration n’est possible sans une simplification
conventionnelle des données.“26
Ketidakpastian waktu, ketidakpastian tempat, dan fakta bahwa positivisme tidak
menjelaskan prinsip-prinsip dasar bahasa itu menjadi momok dalam penelaahan
bahasa. Sementara, de Saussure berpendapat bahwa penelaahan linguistik struktural,
yang dilakukan secara sinkronik, tidak memiliki kelemahan ini. Waktunya sudah
pasti, tempatnya sudah pasti, dan tujuannya ialah memahami aturan-aturan dasar
bahasa.27

B. Kelemahan Teori Strukturalisme Linguistik


Banyak linguis, termasuk T. G. Pavel, merasa bahwa strukturalisme pasca-de
Saussure tidak sesuai dengan pemikiran de Saussure. Menurut Pavel:
“They (Pen. pemikir struktural) took a specialized science for a
collection of speculative generalities. They believed that breathtaking
metaphysical pronouncements could be inferred from simple-minded
descriptive statements.”28
Dalam kata lain, strukturalisme pasca-de Saussure hanya bersifat deskripitif
dan menjelaskan hal-hal yang tampil di depan mata; akibatnya, strukturalisme tidak
mampu menjelaskan dasar-dasar bahasa.
Menurut Chomsky, strukturalisme dalam dunia linguistik hanya berguna
dalam fonologi dan morfologi karena jumlah kesatuannya terbatas. Namun,
strukturalisme dinyatakan tidak cukup untuk penelitian sintaksis karena tidak ada

26
De Saussure, Ferdinand. Op. Cit. Hal. 143.
27
Ibid. Hal. 141 – 143.
28
Pavel, T. G. 1989. The Feud of Language. Massachusetts: Blackwell Cambridge. Hal. vii

xv
batas jumlah kalimat yang mungkin dalam suatu bahasa. Berdasarkan kritik ini,
Chomsky mendirikan generative grammar.29

BAB V: KESIMPULAN
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, strukturalisme linguistik adalah
penelitian bahasa secara sinkronik untuk mengetahui peraturan-peraturan dasarnya,
dengan memperhatikan setiap unsur bahasa terpisah dengan yang lain. Walaupun ada
29
Searle, John R.. 1972. "Chomsky's Revolution in Linguistics." New York Review of Books, Juni 29

xvi
kekurangannya, strukturalisme masih mampu menjelaskan fonologi dan morfologi
dengan baik dan bahkan beberapa prinsip dasarnya (terutama adanya referen dan
referens) yang menjadi ajaran linguistik dasar sampai sekarang.
Dengan demikian, sebelum menggunakan teori linguistik modern lain seorang
linguis harus memahami strukturalisme dulu. Tanpa pengertian dasar itu, teori lain
tidak dapat dipahami, apalagi digunakan dalam penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Baryadi, I. Praptomo. 2009. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Kuliah.

Bloomfield, Leonard. 1973. Language. Cetakan Kedua Belas. London: George Allen
& Unwin Ltd.

xvii
Chapman, Siobhan dan Christopher Routledge. 2009. Key Ideas in Linguistics and
the Philosophy of Language. Edinburgh, Inggris: Edinburgh University Press.

De Saussure, Ferdinand. 1995. Cours de Linguistique Général. Cetakan keempat.


Payot & Rivages: Paris.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi


Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Kontribusiwan Wikipedia. 2010. ”Edward Sapir.”


http://www.en.wikipedia.org/wiki/Edward_Sapir. Didownload Februari 2010

Kontribusiwan Wikipedia. 2010. “Ferdinand de Saussure.”


www.en.wikipedia.org/wiki/Ferdinand_de_Saussure. Didownload Februari
2010.

Kontribusiwan Wikipedia. 2010. “Structural Linguistics.”


www.en.wikipedia.org/wiki/Structural_linguistics. Didownload Februari,
2010.

Pavel, T. G. 1989. The Feud of Language. Massachusetts: Blackwell Cambridge.

Radford, Andrew dkk. 2009. Linguistics: An Introduction. Edisi Kedua. Cambridge,


Amerika Serikat: Cambridge University Press.

Searle, John R. 1972. "Chomsky's Revolution in Linguistics." New York Review of


Books, Juni 29

Todd, Loreto. 1995. An Introduction to Linguistics. Cetakan kedelapan. Singapura:


Longman Group Ltd.

xviii

Anda mungkin juga menyukai