Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH AKUNTANSI PEMERINTAHAN

PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA


(PERFORMANCE BASED BUDGETING)

Disusun Oleh:

RINALDI TRI MARTONO

094060005047 / 26

D IV KURIKULUM KHUSUS KELAS VIII b

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA


2

2010
3

ANGGARAN BERBASIS KINERJA:

PENERAPAN dan IMPLIKASINYA

A. Latar Belakang

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara memuat


berbagai perubahan mendasar dalam pendekatan penganggaran. Perubahan-
perubahan itu didorong oleh berbagai faktor termasuk diantaranya perubahan yang
begitu cepat di bidang politik, desentralisasi, dan berbagai tantangan pembangunan
yang dihadapi pemerintah. Berbagai perubahan ini membutuhkan dukungan sistem
penganggaran yang lebih responsive, yang dapat memfasilitasi upaya memenuhi
tuntutan masyarakat atas peningkatan kinerja pemerintah dalam bidang
pembangunan, kualitas layanan dan efisiensi pemanfaatan sumber daya.

Sistem penganggaran yang selama ini diterpakan di Indonesia yaitu sistem


anggaran tradisional yang terkesan sangat kaku, birokratis, dan hierarkis sudah tidak
cocok lagi dengan perkembangan dunia internasional yang sangat pesat, sehingga
sudah selayaknya kalau sisitem penganggaran tersebut diganti dengan sistem
penganggaran yang mampu merespon perubahan-perubahan tersebut. Sebagai
gantinya adalah Anggaran Negara Berdasarkan Prestasi Kerja atau istilah yang lebih
sering digunakan adalah Anggaran Berbasis Kinerja

B. Kajian Teoritis

Selain definisi dalam undang-undang tersebut masih banyak pengertian


anggaran negara yang ada pada berbagai literatur, namun para ahli di bidang
anggaran sepakat memberikan pengertian umum sebagai berikut : “Anggaran Negara
merupakan rencana keuangan pemerintah dalam suatu waktu tertentu, biasanya dalam
satu tahun mendatang, yang satu pihak memuat jumlah pengeluaran setinggi-
4

tingginya untuk membiayai tugas-tugas negara di segala bidang, dan di lain pihak
memuat memuat jumlah penerimaan negara yang diperkirakan dapat menutup
pengeluaran tersebut dalam periode yang sama”. Dari definisi diatas dapat dijelaskan
pengertian lebih lanjut sebagai berikut :

1. Anggaran merupakan pernyataan mengenai pernyataan mengenai estimasikinerja


pemerintah yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan
dalam ukuran finansial ( rupiah)

2. Penyusunan anggaran negara adalah suatu proses politik, penganggaran


merupakan proses atau metode untuk mempersiapkan suatu anggaran dengan
tahap yang sangat rumit dan mengandung nuansa politik yang sangat kental
karena memerlukan pembahasan dan engesahan dari wakil rakyat di parlemen
yang terdiri dari berbagai utusan partai politik.

3. Berbeda dengan anggaran pada sektor swasta dimana anggaran merupakan bagian
dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik, sebaliknya anggaran negara
justru harus dikonfirmasikan kepada publik untuk diberi masukan dan kritik.

4. Anggaran negara merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana


publik dan pelaksanaan progam-program yang dibiayai dengan uang publik.
Proses penganggaran dimulai ketika perencanaan strategik dan perumusan strategi
telah diselesaikan. Jadi anggaran negara merupakan artikulasi dari perumusan
strategi dan perencanaan strategik yang telah dibuat.

5. Tahap penganggaran menjadi sangat penting karena anggaran yang tidak efektif
dan tidak berorientasi pada kinerja akan dapat mengagalkan perencanaan yang
sudah disusun.

Penganggaran memiliki tiga tujuan uatama yang saling terkait yaitu stabilitas
fiskal makro, alokasi sumber daya sesuai prioritas, dan pemanfaatan anggaran secara
5

efektif dan efisien. Sebagai instrumen kebijakan ekonomi anggaran berfungsi untuk
mewujudkan pertunbuhan ekonomi, stabilitas ekonomi, dan pemerataa pendapatan.
Anggaran negara juga berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengawasan aktivitas
pemerintahan.

Sebagai alat perencanaan kegiatan publik, anggaran dinyatakan sebagai satuan


mata uang sekaligus dapat digunakan sebagai alat pengendalian. Agar fungsi ini dapat
berjalan dengan baik, maka sistem pencatatan atas penerimaan dan pengeluaran harus
dilakukan dengan cermat dan sistematis.

C. Perkembangan Anggaran Negara

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dalam pembahasan berbagai


literatur sering disebut Anggaran Negara atau Anggaran Sektor Publik, dalam
perkembangannya telah terjadi instrumen kebijakan multi-fungsi yang digunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan bernegara.Hal tersebut tercercemi dari komposisi
dan besarnya anggaran yang secara langsung merefleksikan arah dan tujuan
pelayanan masyarakat yang diharapkan.

Sebagai sebuah sistem, perencanaan anggaran negara telah mengalami banyak


perkembangan. Sistem perencanaan anggaran negara berkembang dan berubah sesuai
dengan dinamika perkembangan menejemen sektor publik dan perkembangan
tuntutan yang muncul di masyarakat.

Secara garis besar proses perencanaan dan penyusunan anggaran negara dapat
dikelompokkan menjadi dua pendektan utama yang memiliki perbedaan mendasar
yaitu :

1. Anggaran tradisional atau anggaran konvensional, dan

2. Anggaran dengan pendekatan New Public Management (NPM)


6

Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara


mengamanatkan Pemerintah untuk menyusun anggaran dengan pendekatan anggaran
terpadu (unified budget), kerangka pengeluaran jangka menengah/KPJM (Medium
Term Expenditure Framework/MTEF) dan Penganggaran Berbasis Kinerja/PBK
(Perfomance Based Budgeting). Penyusunan anggaran ini dilakukan dengan
menyusun dokumen anggaran yang disebut "Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-KL)"

D. Penganggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting)

Penganggaran berbasis kinerja merupakan penyusunan anggaran yang


dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan
hasil yang diharapkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran
tersebut. Sesuai Pasal 7 PP Nomor 21 tahun 2004 kementerian negara/lembaga
diharuskan menyusun anggaran dengan mengacu kepada indikator kinerja, standar
biaya dan evaluasi kinerja. lndikator kinerja (performance indicators) dan sasaran
(targets) merupakan bagian dari pengembangan sistem penganggaran berdasarkan
kinerja. Penerapan penganggaran berbasis kinerja akan mendukung alokasi anggaran
terhadap prioritas program dan kegiatan. Sistem ini terutama berusaha untuk
menghubungkan antara keluaran (outputs) dengan hasil (outcomes) yang disertai
dengan penekanan terhadap efektifitas dan efisiensi terhadap anggaran yang
dialokasikan.

Secara lebih rinci maksud dan tujuan penganggaran berbasis kinerja adalah :

1. Mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja (ouput) dan dampak


(outcome) atas alokasi belanja (input) yang ditetapkan;

2. Disusun berdasarkan sasaran tertentu yang hendak dicapai dalam satu


tahun anggaran;
7

3. Program dan kegiatan disusun berdasarkan renstra kementerian


negara/lembaga.

Penerapan penganggaran berbasis kinerja tersebut akan tercermin dalam


dokumen anggaran (RKA-KL). Secara substansi RKA-KL menyatakan informasi
kebijakan beserta dampak alokasi anggarannya. lnformasi yang dinyatakan dalam
RKA-KL antara lain berupa :

1. Kebijakan dan hasil yang diharapkan dari suatu program.

2. Kondisi yang diinginkan untuk mencapai sasaran program berupa output


dan kegiatan tahunan yang akan dilaksanakan.

3. Kegiatan dan keluarannya beserta masukan sumber daya yang dibutuhkan


untuk melaksanakan kegiatan.

Lima Komponen Pokok Pendekatan Anggaran Berbasis Kinerja Dalam RKA-KL:

(1.)Satuan Kerja

Satuan kerja sebagai penangung jawab pencapaian keluaran/output kegiatan/


subkegiatan

(2.)Kegiatan

Rangkaian tindakan yang dilaksanakan satuan kerja sesuai dengan tugas


pokoknya untuk menghasilkan keluaran yang ditentukan

(3.)Keluaran

Satuan kerja mempunyai keluaran yang jelas & terukur sebagai akibat dari
pelaksanaan kegiatan

(4.)Standar Biaya

Perhitungan anggaran didasarkan pada standar biaya (bersifat umum dan


bersifat khusus)
8

(5.)Jenis Belanja

Pembebanan anggaran pada jenis belanja yang sesuai

Penentuan anggaran berbasis kinerja ini merupakan perwujudan dari upaya


untuk meningkatkan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Masyarakat
saat ini sudah menyadari akan hak-haknya terhadap pengelolaan keuangan
pemerintah. Sebab bagaimana pun, masyarakat merupakan stakehoders dari
pemerintahan. Mereka berhak mengetahui arah kebijakan pemerintah dan
penggunaan dana yang akan dialokasikan. Dengan perencanaan keuangan berbasis
kinerja tersebut, masyarakat dapat mengetahui apakah benar sumber dana yang ada
itu dialokasikan pada tempatnya, ataukah disalahgunakan seperti yang terjadi selama
ini. Pemerintah jelas fungsinya adalah melayani masyarakat. Karena itu, semua hasil
yang dilakukannya tentunya akan dikembalikan lagi untuk kesejahteraan masyarakat.

Seperti diketahui, ukuran kinerja yang baik itu besar manfaatnya sebagai
informasi dalam pengembilan keputusan dalam bidang:

1. Perencanaan strategis

2. Manajemen program dan kualitas pelayanan

3. Alokasi sumber daya dan anggaran belanja

4. Pengawasan kontrak

5. Manajemen Personalia

6. Kerjasama antar departemen

7. Komunikasi dengan masyarakat


9

PENILAIAN
MASALAH

PENGUKURAN PENYUSUNAN
KINERJA STRATEGI

PENG
ANGGARAN

Proses Penyusunan Anggaran Kinerja

Proses tersebut terdiri dari:

1. Mengidentifikasi permasalahan dan isu-isu kritis yang dihadapi pemerintah

2. Mengembangkan strategi untuk mengatasi isu-isu kritis tersebut


10

3. Menyiapkan suatu anggaran untuk mendukung strategi-strategi baru maupun


strategi yang sedang dijalankan.

4. Menetapkan seperangkat ukuran kinerja untuk memonitor kemajuan dan


pencapaian hasil

Dasar-dasar Pengalokasian Anggaran:

1. Visi dan Misi kementerian negara/lembaga.

2. Skala Prioritas.

RKA-KL disusun berdasarkan skala prioritas dengan mengacu pada:

a. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) hasil pembahasan dengan DPR

b. Pagu Sementara/Pagu Definitif

c. Hasil Kesepakatan DPR dengan kementerian negara/lembaga

d. Tupoksi unit organisasi kementerian negara/lembaga

3. Pengalokasian anggaran ke dalam kegiatan/subkegiatan dalam RKA-KL tidak


dapat mengakibatkan :

a. Pergeseran anggaran antar program

b. Pengurangan belanja mengikat

c. Perubahan pagu sumber pendanaan/ sumber pembiayaan


(RM/PLN/HLN/PNBP) yang ditetapkan dalam Surat Edaran Menteri
Keuangan tentang Pagu Sementara.

4. Perhitungan alokasi biaya didasarkan pada indeks satuan biaya yang


ditetapkan.
11

Sistem Klasifikasi Anggaran dalam RKA-KL:

UNITORG

OUTPUT

JENIS
BELANJA
(INPUT)

NATIONAL
GOALS
Keterangan:

FUNGSI
SUBFUNGSI
PROGRAM K/L
KEGIATAN
SUBKEGIATAN

E. Kesimpulan

Kinerja, seperti disebutkan dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000
Pasal 8 adalah “anggaran yang dikelola dengan pendekatan kinerja (performance
budgeting) yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan pada upaya pencapaian
hasil kerja atau output dari rencana alokasi biaya atau input yang ditetapkan”. Hal ini
berarti bahwa setiap dana yang dialokasikan harus terukur dan diketahui besaran
output yang ingin dicapai.

Keberhasilan ukuran kinerja dapat dirasakan jika memenuhi:

1. Berorientasi kepada hasil (result-oriented): memfokuskan pada hasil bukan


proses
12

2. Selective: menggunakan indikator-indikator kinerja yang paling penting dan


berpengaruh besar terhadap keberhasilan pelaksanaan kegiatan

3. Bermanfaat (useful): ukuran tersebut mampu menyediakan informasi nilai


bagi instansi dan pengambil keputusan

4. Dapat dipercaya (reliable): menghasilkan data yang akurat dan konsisten


sepanjang waktu

5. Laporan mudah diakses oleh masyarakat luas

6. Memasukan perbandingan-perbandingan baik internal maupun eksternal

F. Daftar Pustaka

• www.contohskripsitesis.com

• www.bpkp.go.id

• http://fe-akuntansi.unila.ac.id/skripsi/

• http://perpustakaan.uns.ac.id/jurnal/

• www.rocan.depag.go.id