Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TERSTRUKTUR

MATAKULIAH PEMULIAAN TANAMAN TERAPAN

SORGUM

Oleh:
Jaya Kusuma A1F006008
Fuad Nur Azis A1F006010
Azizul Hanif A1F006013
Erifah I A1F006019
Muh Iqbal F A1F006025
Arief Reza N A1F006035
Sarno A1F005019

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2008
A. Botani Sorgum
Tanaman sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman graminae yang
mampu tumbuh hingga 6 meter. Bunga sorgum termasuk bunga sempurna dimana
kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga. Bunga sorgum merupakan
bunga tipe panicle (susunan bunga di tangkai). Rangkaian bunga sorgum berada
di bagian ujung tanaman.
Bentuk tanaman ini secara umum hampir mirip dengan jagung yang
membedakan adalah tipe bunga dimana jagung memiliki bunga tidak sempurna
sedangkan sorgum bunga sempurna. Morfologi dari tanaman sorgum adalah:
1. Akar : tanaman sorgum memiliki akar serabut
2. Batang : tanaman sorgum memiliki batang tunggal yang terdiri atas ruas-ruas
3. Daun : terdiri atas lamina (blade leaf) dan auricle
4. Rangkaian bunga sorgum yang nantinya akan menjadi bulir-bulir sorgum.
Pada daun sorgum terdapat lapisan lilin yang ada pada lapisan epidermisnya.
Adanya lapisan lilin tersebut menyebabkan tanaman sorgum mampu bertahan
pada daerah dengan kelembaban sangat rendah. Lapisan lilin tersebut
menyebabkan tanaman sorgum mampu hidup dalam cekaman kekeringan.
Tanaman sorgum merupakan tanaman graminae yang memiliki taksonomi
sebagai berikut:
Kingdom Plantae
Subkingdom Tracheobionta
Superdivision Spermatophyta
Division Magnoliophyta
Class Liliopsida
Subclass Commelinidae
Order Cyperales
Family Poaceae (Grass)
Genus Sorghum
Spesies Sorghum bicolor
Dari spesies Sorghum bicolor itu sendiri dapat dibagi lagi menjadi 3 yaitu
Sorghum bicolor ssp. arundinaceum (sorgum liar) Sorghum bicolor ssp. bicolor
(sorgum yang telah dibudidayakan) Sorghum bicolor ssp. drummondii
(Sudangrass)
B. Agroklimatologi Sorgum
Pusat asal tanaman sorgum adalah afrika. Tanaman ini diadaptasikan di
asia selatan (India) pada tahun 1994. tanaman ini digolongkan tanaman utama di
peringkat 5 dari seluruh tanaman di dunia setelah gandum, jagung, padi, dan
barley. Dilihat dari pusat asalnya tanaman ini dapat beradaptasi dengan baik pada
daerah sekiar khatulistiwa oleh karena itu iklim makro di Indonesia menyebabkan
secara agroklimat tanaman ini dapat tumbuh baik di Indonesia.
Curah hujan yang dibutuhkan tanaman ini adalah 600 mm/tahun. Tanaman
sorgum akan tumbuh baik pada ketinggian 1-500 m diatas permukaan laut di
Indonesia. Tanaman ini akan memperlama umur panen ketika ditanam diatas 500
m diatas permukaan laut. Tanaman ini mampu hidup diatas suhu 470F.
Kondisi tekstur tanah yang dikehendaki tanaman sorgum adalah berteksur
tanah sedang. Tanaman sorgum mampu hidup hampir di seluruh kondisi lahan
karena tanaman sorgum dapat hidup pada tanah dengan kemasaman tanah
berkisar 5,50 sampai 7,50.
C. Pemuliaan Sorgum
Sorgum sebagai salah tanaman utama memiliki posisi penting di dunia
baik sebagai bahan pangan, pakan ternak dan sebagai bahan alternatif bahan bakar
nabati. Sorgum memiliki kadungan gizi yang tinggi sehingga dapat digunakan
sebagai bahan makanan pengganti beras karena kandungan karbohidrat yang lebih
tinggi diatas jagung.
Pentingnya tanaman sorgum tersebut menyebabkan perkembangan
pemuliaan tanaman ini berkembang cukup pesat. Pemuliaan tanaman sorgum
lebih diarahkan pada tinggi tanaman, hasil, ketahanan terhadap hama penyakit,
kualitas dan mutu biji. Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorgum
diklasifikasikan ke dalam 5 ras yaitu ras Bicolor, Guenia, Caudatum, Kafir, dan
Durra. Ras Durra yang umumnya berbiji putih merupakan tipe paling banyak
dibudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan sebagai sumber
bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan
kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorghum). Sedangkan ras-
ras lain pada umumnya digunakan sebagai biomasa dan pakan ternak.

Jenis sorgum berdasarkan spikelet dan malai (Hoeman, xxxx)


Program pemuliaan sorgum telah berhasil memperoleh varietas dengan
kandungan gula yang tinggi (sweet sorghum) sehingga dapat menggantikan
tanaman tebu sebagai penghasil bahan pemanis. Sorgum manis tersebut telah
berhasil dibudidayakan di china sebagai bahan pembuat biofuel.
Sorgum adalah tanaman hasil introduksi sehingga keragaman genetik
sorgum yang ada masih sangat terbatas. Beberapa varietas sorgum biji (grain
sorghum) diintroduksi dari “International Crop Research Institute for the Semi-
Arid Tropics” (ICRISAT) dan dari beberapa negara seperti India, Thailand dan
China. Setelah melalui proses pengujian adaptasi dan daya hasil. Indonesia telah
memiliki beberapa varietas sorgum unggul nasional seperti UPCA, Keris,
Mandau, Higari, Badik, Gadam, Sangkur, Numbu dan Kawali. Varietas-varietas
unggul nasional tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan pada
lahan-lahan pertanian di Indonesia.
Sorgum tergolong tanaman berpenyerbuk sendiri (selfpollinated crop) dan
diploid (2x=2n=20). Oleh karena itu, sistem pemuliaan tanaman sorgum kira-kira
mirip dengan sistem pemuliaan tanaman padi, kedelai dan sebagainya. Seperti
halnya pada padi, pemuliaan tanaman sorgum dapat diarahkan menuju perolehan
varietas galur murni atau varietas hibrida. Amerika Serikat, India dan China,
sorgum hibrida telah banyak dikembangkan dan memiliki hasil sampai 15 ton/ha.
Pengembangan sorgum hibrida tersebut sangat berpotensi besar di Indonesia.
Ragam genetik sorgum yang rendah memacu kita untuk mencari sumber-
sumber genetik baru. Upaya tersebut dapat ditempuh melalui program pemuliaan
tanaman dengan berbagai metoda seperti seleksi, introduksi, hibridisasi, mutasi.
Kombinasi antara metoda-metoda tersebut mungkin dapat dilakukan untuk
memperoleh hasil optimal. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR),
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah ikut serta dalam pemuliaan
sorgum menggunakan teknik mutasi untuk menghasilkan sorgum dengan kualitas
biji yang baik.
Selain pemuliaan kearah kualitas biji tersebut tanaman sorgum juga
diarahkan pada pengendalian fenotip tinggi tanaman. Sorgum memiliki jumlah
kromosom sebanyak 20 kromosom dalam tiap selnya autosomnya. Dua samapai
tiga gen pada tanaman sorgum merupakan pengendali dari tinggi tanaman.
Tanaman sorgum yang tinggi mempersulit petani untuk memanen sorgum
sehingga perlu dikembangkannya sorgum yang rendah.
D. Sosial Budaya Tanaman Sorgum
Tanaman sorgum sebagai tanaman utama ke-5 di dunia belum terlalu
diperhatikan di Indonesia. Penanaman sorgum di Indonesia masih kalah
dibandingkan dengan padi dan jagung. Rendahnya respons petani terhadap
tanaman ini didasarkan karena sulitnya budi daya sorgum yang tinggi sekitar 3
sampai 6 meter. Penanaman sorgum yang hanya sebagai tanaman pelengkap di
pinggiran lahan pertanian serta cara budi dayanya yang tidak intensif
menyebabkan hasil yang diperoleh rendah.
Pemerintah Indonesia belum mengupayakan dalam mempertinggi produksi
sorgum di Indonesia merupakan salah satu penyebab sorgum di Indonesia
memiliki hasil panen yang rendah. Sorgum di Indonesia digunakan sebagai pakan
burung, pemakaian sorgum untuk bahan pangan tidak digunakan kecuali
masyarakat sangat sulit mendapat beras. Isu bahan bakar nabati membuat tanaman
sorgum mulai naik popularitasnya sebagai tanaman yang pantas untuk ditanam.
Tingginya kadar gula dalam sorgum dan adaptifnya sorgum dibanding tebu
(Saccharum sp.) menyebabkan potensi sorgum berpotensi tinggi sebagai bahan
utama pembuat biofuel.
E. Kesimpulan
Tanaman sorgum merupakan tanaman utama yang penting di dunia.
Indonesia sebagai negara yang memiliki kondisi iklim khatulistiwa berpotensi
besar dalam pengembangan tanaman sorgum. Potensi sorgum tersebut dapat
dipertinggi dengan adanya usaha-usaha pemuliaan tanaman sorgum. Pemuliaan
sorgum melalui metode persilangan dan pemuliaan menggunakan alat bantu
bioteknologi merupakan jalan untuk mempertinggi kualitas dan hasil dari tanaman
sorgum. Adanya program pemuliaan tanaman sorgum telah menghasilkan banyak
varietas sorgum dengan banyak keunggulan. Salah satunya sorgum dengan kadar
gula yang tinggi sehingga berpotensi untuk menjadi bahan baku biofuel.
F. Daftar Pustaka
FAO. 2002. Sweet Sorghum in China. http://www.fao.org/Ag/magazine/0202sp2.
htm. Diakses pada 10 November 2008

Gramene. 2007. Selecter Sorgum Fact. http://www.gramene.org/species/sorghum/


sorghum_facts.html. Diakses pada 10 November 2008

-------. 2007. Sorgum Anatomy. http://www.gramene.org/species/sorghum/


sorghum_anatomy.html. Diakses pada 10 November 2008

-------. 2007. Sorgum Taxonomy. http://www.gramene.org/species/sorghum/


sorghum_taxonomy.html. Diakses pada 10 November 2008

Hoeman, Soeranto. xxxx. Prospek dan Potensi Sorgum Sebagai Bahan Baku
Bioetanol. http://www.bsl-online.com/energi/archive/1.html. Diakses pada
10 November 2008

Oregon State University. 2000. Grass Structures – Definition. http://forages.


oregonstate.edu/projects/regrowth/main.cfm?PageID=11. Diakses pada 10
November 2008

Rampho, E T. 2005. Sorghum bicolor (L.) Moench. http://www.plantzafrica.com/


plantqrs/sorghum.htm. diakses pada 10 November 2008
USDA. 2008. Conservation Plant Characteristics. http://plants.usda.gov/java
/charProfile?symbol=SOBI2. Diakses pada 10 November 2008

Wikipedia. 2008. Sorgum. http://id.wikipedia.org/wiki/Sorgum. Diakses pada 10


November 2008.