Anda di halaman 1dari 8

BERHASILKAH GARAM BERYODIUM SEBAGAI SALAH SATU

UPAYA PENURUNAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM


(GAKY)
DI INDONESIA?

Atmarita
(Pengamat Garam beryodium)

I. PENDAHULUAN

Garam beryodium sudah ada sebelum Indonesia merdeka dengan peraturan


yang dikeluarkan pada zaman kolonial Belanda tahun 1927, akan tetapi peraturan
tersebut tidak diberlakukan pada tahun 1945 dengan diberhentikannya monopoli
garam. Upaya untuk mengurangi masalah GAKY dimulai lagi pada tahun 1976
bantuan UNICEF dengan berbagai keterbatasan: 1) prevalensi GAKY tidak tersedia, 2)
tanggung jawab pemerintah belum jelas karena tidak ada regulasi yang mengikat; 3)
tidak ada koordinasi sektor terkait.

Tahun 1980/82, pertama kali dilakukan survei nasional yang menunjukkan


prevalensi GAKY (dari Total Goiter Rate/TGR) adalah 30%. Intervensi dengan
supplementasi Iodium dan garam beriodium dilakukan secara nasional. Evaluasi
dilakukan kembali tahun 1995/1996 dan 1997/1998 dengan melakukan survei
nasional untuk menilai perubahan TGR. Dilakukan analisis TGR pada lokasi yang
sama dari survei 1980/82 dan 1995/1998 dan menunjukkan penurunan TGR dari 30%
menjadi 14%1.

Semenjak tahun 1995, pemerintah Indonesia meneruskan intervensi GAKY


secara nasional dengan bantuan UNICEF dan Bank Dunia. UNICEF yang didukung oleh
CIDA melakujan pemantauan garam beryodium bekerjasama dengan Badan Pusat
Statistik (BPS). Sedangkan Bank Dunia mendukung program GAKY nasional semenjak
tahun 1998 sampai dengan 2003, bertujuan untuk menurunkan prevalensi GAKY
melalui pemantauan status GAKY pada penduduk, meningkatkan persediaan garam
beriodium untuk dikonsumsi penduduk, dan juga meningkatkan kerja sama lintas
sektor.

Pemantauan garam beryodium yang dilakukan UNICEF dan BPS 1995-1997 2 di


seluruh Indonesia melakukan pemeriksaan garam beryodium tingkat konsumsi
rumah tangga dengan jumlah sampel mewakili untuk gambaran kabupaten, yaitu
206.240 rumah tangga. Pemantauan garam beryodium ini dilanjutkan dengan
bantuan Bank Dunia semenjak 1998 sampai sekarang. Pengujian garam beryodium
dan pengumpulan data juga dilakukan oleh BPS (integrasi Susenas) dengan jumlah
sampel rumah tangga yang sama dengan periode 1995-1997.

Berikut ini merupakan analisis konsumsi garam beryodium dari tahun 1995
sampai dengan 2001. Untuk tahun 1995-1997, kajian dilakukan berdasarkan laporan
yang sudah ada. Sedangkan tahun 1998-2001, kajian dilakukan dari data hasil survei
garam pada tahun bersangkutan.

1
Secara nasional, survei 1995/1998 menunjukkan TGR 9.8%. Kajian ulang untuk mengetahui penurunan
TGR dilakukan pada lokasi yang sama survei 1980/1982 dan 1995/1998, menunjukkan penurunan TGR
dari 30% menjadi 14%.
2
BPS 1998, Konsumsi garam beryodium di rumah tangga, 1995-1997.

1
II. KONSUMSI GARAM BERYODIUM MENURUT PROVINSI

Penilaian konsumsi garam tingkat rumah tangga dilakukan dengan


membedakan kandungan yodium dalam garam. Hasil penilaian memperlihatkan
persentasi rumahtanga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
cukup (>30 ppm), kurang (<30 ppm), dan tidak ada. Penulisan ini memfokuskan
hanya pada rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
cukup.

GAMBAR 1
Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
cukup
Menurut Provinsi: 1995-1997

100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Lampung

NTT
Jabar
Jakarta

Jateng
Sumbar

Jambi
Bengkulu

Jogja
Papua

Kalbar

NTB
Maluku
Kalteng

Sulteng
Riau
Sumut

Sumsel

Sultra
Jatim

Sulsel
Sulut

Kalsel

Aceh

Bali
Kaltim

gy95 gy97

GAMBAR 2
Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
cukup
Menurut Provinsi: 1998-2000

100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Lampung

NTT
Jabar
Jateng
Jakarta
Jambi

Sumbar

Bengkulu

Jogja

NTB
Papua

Kalbar

Maluku
Kalteng

Sulteng
Riau
Sumut

Sumsel

Sultra
Jatim
Kalsel

Sulsel
Sulut

Aceh

Bali
Kaltim

gy98 gy00

Gambar 1 dan 2 di atas menunjukkan persentasi rumah tangga yang


mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup periode 1995-1997 dan

2
1998-20003. Secara nasional, pada periode tahun 1995-1997 menunjukkan adanya
peningkatan persentasi rumah tangga dengan konsumsi garam beryodium cukup,
yaitu: 49.8% (1995), 58.1% (1996), dan 62.1% (1997). Gambar 1 memperlihatkan
perubahan antar provinsi. Ada 6 provinsi yang persentasinya menurun, dan provinsi
Bengkulu menunjukkan penurunan 11%, diikuti Papua, Sumbar, Jakarta. Tiga provinsi
penunjukkan peningkatan lebih dari 20% dari tahun 1995 ke tahun 1997, yaitu Jabar,
Kalsel, dan Jatim. Sedangkan Jogja dan Sultra menunjukkan peningkatan antara 15-
18%. Ada 13 provinsi yang persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam
beryodium kurang dari 70%. Lima provinsi diantaraya (Maluku, Bali, NTB, NTT dan
Sulsel) menunjukkan persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan
kandungan yodium cukup kurang dari 40%.

Gambar 2 berikut menunjukkan kecenderungan persentasi rumah tangga


mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup tahun 1998 dan 2000.
Secara nasional, ada perbaikan dibanding periode 1995-1997. Ada 12 dari 27
provinsi dimana persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan
yodium cukup <70%. Seluruh provinsi di Jawa menunjukkan persentasi <70%,
dimana Jogjakarta yang pada tahun 1997 sudah hampir mencapai 90%, pada tahun
2000 menurun menjadi <70%. NTT dan NTB masih tidak mengalami perubahan yang
berarti dari tahun 1997 ke tahun 2000.

Untuk melihat perubahan yang terjadi dari tahun 1995 ke tahun 2000, gambar
3 menunjukkan peta Indonesia untuk persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi
garam dengan kandungan yodium cukup. Dibuat empat kategori: 1) Hijau (>90%); 2)
Kuning (70-90%); 3) Merah (40-70%); dan 4) Hitam (<40%). Dari sini terlihat ada
sedikit peningkatan penggunaan garam beryodium tingkat rumah tangga pada lima
tahun terakhir. Akan tetapi ada beberapa provinsi menjadi memburuk dan juga tidak
mengalami perubahan. Dapat dilihat, pada tahun 2000:
1) 4 provinsi masuk pada kategori aman (>90%)
2) Seluruh provinsi di Jawa dan Bali masih pada kategori merah (40-70%)
3) NTB dan NTT masih pada kategori hitam (<40%)
4) Aceh, Jakarta, dan Jawa Tengah tidak mengalami peningkatan (40-70%)
5) Kaltim mengalami penurunan dari kategori aman (>90%) menjadi 70-90%,
dan Jogja dari kategori kuning (70-90%) menjadi merah (40-70%).

Persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup


berdasarkan pengumpulan data BPS tahun 2000 ini dibenarkan menurut
pengumpulan data yang dilakukan HKI4 pada tahun yang sama. Terutama pada
provinsi Jabar, Jatim, Sulsel, Lampung, Lombok (NTB), dan Sumbar. Kecuali provinsi
Jateng hasil HKI menunjukkan persentasi yang lebih tinggi dibandingkan data BPS
(89.6% versus 52.6%).

3
Data konsumsi garam beryodium pada tahun 2001 tersedia tanpa provinsi Aceh dan Maluku. Untuk
perbandingan disini digunakan tahun 1998 dan 2000 yang provinsinya lengkap. Data konsumsi garam
beryodium tahun 2000 dan 2001 tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.
4
HKI atau Helen Keller International melakukan pengumpulan data gizi dan kesehatan secara periodic dari
tahun 1998 sampai dengan saat ini pada provinsi tertentu (Jabar, Jateng, Jatim, Lampung, Sumbar,
Lombok/NTB dan Sulsel).

3
GAMBAR 3
PEMETAAN PERSENTASI RUMAH TANGGA MENGKONSUMSI GARAM DENGAN KANDUNGAN YODIUM CUKUP
TAHUN 1995 DAN 2000

KONSUMSI GARAM BERYODI UM KONSUMSI GARAM BERYODI UM


TI NGKAT RUMAH TANGGA 1995 TI NGKAT RUMAH TANGGA 2000

11 11

12 12
64 64 71
14 71 14
13 61 13 61

15 72 15 62 72 81
62 81
16 63 17 16 63 73
17 73
18 74 82
74 82
18 31
31
35
35 33
33 32 51
32 51 52
52 34
34 53
53

>90%
>90%
70-90%
70-90%
40-70%
40-70%
<40%
<40%

4
III. KONSUMSI GARAM BERYODIUM MENURUT KABUPATEN

Analisis dilakukan pada data garam 1998 sampai dengan 2001. Jumlah
kabupaten yang dianalisis adalah 297 dan bervariasi setiap tahun: 293 (1998), 294
(1999), 293 (2000), 282 (2001). Pada kajian ini menggunakan kabupaten yang sama
dari tahun 1998 sampai dengan 2001. Jumlah kabupaten yang dianalisis pada tahun
2001 berbeda cukup banyak dengan tahun sebelumnya, karena provinsi Aceh dan
beberapa kabupaten di Maluku tidak dilakukan pengumpulan data garam.

Analisis awal seperti yang tertera pada tabel 1 menunjukkkan ada kabupaten
dimana persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan
yodium cukup hanya 1,6% (1998), kemudian persentasi terendah ini meningkat
menjadi 8,5% (2001). Rata-rata persentasi konsumsi garam beryodium tingkat rumah
tangga tahun 1998 – 2001 berkisar pada 64-68%. Kabupaten terendah tahun 1998:
Pidie (Aceh), 1999: Jeneponto (Sulsel), dan 2000-2001: Dompu (NTB). Jika dilihat
distribusi menurut kabupaten, gambar 4 contoh dari Sulawesi Selatan, yang
menunjukkan peningkatan konsumsi garam beryodium pada beberapa kabupaten,
akan tetapi sebagian besar kabupaten dengan persentasi <40%. Terutama Jeneponto
yang merupakan produsen garam, persentasi rumah tangga mengkonsumsi garam
beryodium tetap rendah (<10%).

Tabel 1. Persen rata-rata, minimum dan maksimum konsumsi garam beryodium


tingkat rumah tangga tahun 1998-2001

Tahun Jumlah Persen Persen Rata-rata Standar


Kabupaten minimum maksimum Deviasi
1998 293 1,6 100,0 65,49 29,02
1999 294 4,1 99,3 64,09 26,62
2000 293 4,8 100,0 65,86 24,50
2001 282 8,5 100,0 67,96 23,04

GAMBAR 4
Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
cukup
Menurut Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan: 1998-2001
100%

90%

80% gy1998
gy 1999
70%
gy 2000
60% gy2001

50%

40%

30%

20%

10%

0%
ja

re

to
ar

e
os

ng

ru

ng
ng

ep

i
r

ar
a

ba

ja
sa
ra

en
uj

uw

ow
on

an

en
as

aj

on
al
pa

ar

ay
ar

in
gK
pe

ra
pa

um
am
To

.W
as

ak

aj
.B

ek

am

ta

ep
.B

.S
.L

.G
e-
.M

el
in
op
ap

an

.M
ak

an

.T
uk
17

11

13
.M

10

07
ar

.P
nr

.S
06
a

en
08

.M
.S
.R
an

.P

05

20
.M

.P

ul
.E

.B
15

01
21

.J
.P
12

09

.B
72

16

03
.T

.S
71

04
19

02
18

14

Analisis selanjutnya adalah mengamati perubahan persentasi rumah tangga


yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup 1998-2001 dengan
mengelompokkan menjadi 4 kategori: 1) <40%, 2) 40-70%, 3) 70-90%, dan 4) >90%.

5
Dari data tahun 1998 dibandingkan dengan tahun berikutnya (1999-2001) jumlah
kabupaten yang tetap, meningkat, atau memburuk, dengan hasil sebagai berikut:

Tahun 1998 dibanding tahun 1999

Tahun 1999 Total


Kategori <40% 40-70% 70-90% >90%
<40% 60 14 74
Tahun
1998 40-70% 8 40 8 56
70-90% 17 59 8 84
>90% 2 27 50 79
Total 68 73 94 58 293
Tetap 71.33%
Memburu
k 18.43%
Meningka
t 10.24%

Tahun 1998 dibanding tahun 2000

Tahun 2000 Total


Kategori <40% 40-70% 70-90% >90%
<40% 46 25 71
Tahun
1998 40-70% 6 42 8 56
70-90% 20 52 12 84
>90% 2 37 39 78
Total 52 89 97 51 289
Tetap 61.94%
Memburu
k 22.49%
Meningka
t 15.57%

Tahun 1998 dibanding tahun 2001

Tahun 2001 Total


Kategori <40% 40-70% 70-90% >90%
<40% 39 21 6 66
Tahun
1998 40-70% 1 43 9 1 54
70-90% 23 42 16 81
>90% 1 42 34 77
Total 40 88 99 51 278
Tetap 56.83%
Memburu
k 24.10%
Meningka
t 19.06%

6
Dari kajian ini terlihat, perubahan persentasi rumah tangga mengkonsumsi
garam dengan kandungan yodium cukup dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2001
belum optimal, dengan kondisi sebagai berikut:
1. 56,83% kabupaten bertahan pada kategori yang sama
2. 24,1% kabupaten memburuk atau pindah ke kategori yang lebih rendah
3. 19,06% kabupaten meningkat atau pindah ke kategori yang lebih tinggi

Dari table di atas dapat dilihat juga, jumlah kabupaten yang sudah mencapai
kategori konsumsi >90% menurun dari 50 (1998) menjadi 34 (2001).

IV. BAHASAN

Indonesia masih menghadapi masalah GAKY, walaupun upaya


penanggulangannya sudah dilakukan semenjak sebelum kemerdekaan. Beberapa
wilayah kabupaten, dan kecamatan masih dikategorikan daerah endemik GAKY. Dari
pemetaan nasional masalah GAKY tahun 1997/1998 dan hasil pemantauan garam
beryodium tingkat rumah tangga tahun 1998, diketahui bahwa pada wilayah dengan
rata-rata TGR tinggi, pada umumnya konsumsi garam beryodium juga rendah,
seperti yang terlihat pada table berikut:

Tabel 2. Konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga dan rata-rata TGR
Menurut jumlah kabupaten tahun 1998

Kategori konsumsi garam Jumlah kabupaten Rata-rata TGR (%)


beryodium cukup tingkat rumah
tangga
<40% 74 16.98
40-70% 56 8.35
70-90% 84 7.86
>90% 78 6.99

Intervensi kapsul beryodium ditargetkan pada daerah endemik sedang dan


berat dan sasaran hanya terbatas pada wanita usia subur dan anak usia sekolah.
Dengan demikian intervensi melalui konsumsi garam beryodium seyogyanya harus
ditargetkan juga pada penduduk di seluruh klasifikasi GAKY (non endemik, endemik
ringan, sedang, dan berat).

Berdasarkan pengamatan, industri garam pada umumnya berada di Pulau


Jawa, Sulawesi Selatan, dan Madura. Petani garam banyak tersebar di seluruh
Indonesia, dan memproduksi garam bertumpu pada sinar matahari dengan teknologi
produksi yang masih sederhana dan garam yang dihasilkan pada umumnya berkadar
air tinggi. Petani garam biasanya menjual garam yang mereka produksi ke pedagang
(perantara) yang akan menjual garam tersebut ke produsen garam yang akan
memproduksi garam beryodium. Produksi garam beryodium yang ada di Pulau Jawa
juga mempunyai keterbatasan untuk memproduksi garam yang dapat didistribusi ke
provinsi lain. Diperkirakan PT Garam hanya memproduksi 20% dari garam yang ada
di Indonesia, dan selebihnya diproduksi oleh kurang lebih 300 perusahaan tingkat
menengah dan dari 25000 petani garam. Banyak pula perusahaan garam dengan
skala besar yang juga membeli garam dari luar negeri jika mutu garam rakyat kurang
baik. Masalah yang dirasakan untuk proses yodisasi garam pada umumnya terjadi di
tingkat produsen garam skala kecil yang mempunyai keterbatasan modal dan
teknologi.

Pemantauan produksi garam beryodium dilakukan oleh Departemen


Perindustrian dan Perdagangan bekerjasama dengan Departemen Kesehatan dan

7
Badan POM. Informasi berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi garam
beryodium dari ketiga sektor tersebut berjalan cukup baik. Banyak dijumpai kasus
produsen garam yang memproduksi garam dengan kandungan yodium tidak
memenuhi syarat. Walaupun sudah ada SNI dan regulasi pemerintah tentang garam
beryodium, akan tetapi banyak terjadi pelanggaran dari regulasi yang ada.

Akhir-akhir ini mulai dilakukan penegakan norma sosial (social enforcement)


berkaitan dengan peningkatan konsumsi garam beryodium. Penegakan norma sosial
tentang garam beryodium ini disebarluaskan ke seluruh pelaku yaitu: Produsen
Garam, Masyarakat Umum sebagai konsumen, Elemen Penggerak (kelompok
masyarakat), dan regulator (lembaga pemerintah).

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Upaya penanggulangan GAKY, khususnya peningkatan konsumsi garam


beryodium dirasakan sudah cukup. Persentasi rumah tangga yang mengkonsumsi
garam dengan kandungan yodium cukup bertahan pada 60-65%. Jika 35% dari
rumah tangga yang belum mengkonsumsi garam beryodium adalah penduduk yang
tidak mampu membeli garam beryodium, maka kemungkinan persentasi ini akan
sulit meningkat. Dampaknya

Masih belum tercapainya “universal” konsumsi garam beryodium memerlukan


dukungan yang cukup kuat dari semua orang yang terlibat. Walaupun masyarakat
sudah mengetahui pentingnya garam beryodium, bukan berarti konsumsi garam
beryodium secara universal dapat dicapai. Karena hal ini menyangkut pada tersedia
atau tidaknya garam di tingkat masyarakat, mampu atau tidaknya masyarakat
membeli garam beryodium. Selain itu, walaupun garam beryodium tersedia di tingkat
masyarakat, masih perlu diketahui apakah garam tersebut memenuhi persyaratan
untuk dikonsumsi atau tidak.

Diperlukan strategi komprehensif untuk meningkatkan penyediaan garam


beryodium untuk dikonsumsi masyarakat yang tersebar di ribuan pulau di Indonesia,
yaitu:
1. Penegakan norma sosial peningkatan konsumsi garam untuk
komponen terkait tersebut di atas (konsumen, elemen penggerak,
produsen, dan pemerintah/regulator) terus dilakukan secara intemsif.
2. Peningkatan teknologi atau penerapan teknologi skala kecil untuk
25000 petani garam agar dapat memproduksi garam beryodium. Upaya ini
diharapkan dapat mempersempit perbedaan harga garam, selain
mengangkat masyarakat petani garam.
3. Berhubungan dengan butir 2, diperlukan pengembangan alat
yodisasi garam skala kecil, selain untuk petani garam, alat tersebut dapat
digunakan pada unit terkecil (kecamatan) yang menerima garam dari luar
wilayah, untuk melakukan yodisasi garam.

BAHAN RUJUAN

1. BPS 1998. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 1995-1997


2. BPS 1998. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 1998.
3. BPS 1999. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 1999.
4. BPS 2000. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 2000.
5. BPS 2001. Konsumsi garam beryodium di rumah tangga 2001.
6. World Bank 2001. An analysis of combating Iodine Deficiency: Case Studies of
China, Indonesia, and Madagascar.