P. 1
PTK_Pak_Nur_Hidayat

PTK_Pak_Nur_Hidayat

|Views: 3,546|Likes:
Dipublikasikan oleh nurhidayat_stupa

More info:

Published by: nurhidayat_stupa on Oct 01, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • B. Siklus Kedua
  • Diagram 1. : Alur Desain PTK model Kemmis Mc. Taggart
  • Lampiran 2 : Jadwal Kegiatan
  • Lampiran 10 Instrumen Angket

PENINGKATAN KUALITAS PROSES BELAJAR

DAN

KUALITAS HASIL BELAJAR

PEMBELAHAN/REPRODUKSI SEL

MITOSIS DAN MEIOSIS

MELALUI

R

SISWA KELAS XII IPA-1 SEMESTER 1

TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SMA NEGERI 1 PAPAR

Penelitian Tindakan Kelas

Oleh :

NUR HIDAYAT, S.Pd

NIP. 131 687349

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

UPTD PENDIDIKAN SMA NEGERI 1 PAPAR

JL. Raya 382 Janti Papar Kediri

2008

ptk : Cooperative Script

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul Kualitas Proses Belajar dan

Kualitas Hasil Belajar Pembelahan/Reproduksi Sel Mitosis dan Meiosis Melalui

Model Pembelajaran Cooperative Script Siswa Kelas XII IPA-1 Semester 1 Tahun

Pelajaran 2008/2009 yang disusun oleh :

Nama

: NUR HIDAYAT, S.Pd

NIP

: 131687349

Pangkat

: Pembina

Golongan

: IV-A

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Papar

Telah diketahui dan disahkan pada hari Senin, 6 April 2009

Mengetahui dan Mengesahkan :

Kepala SMA Negeri 1 Papar,

Peneliti,

Drs. H. IMAM SARDJONO, MM

NUR HIDAYAT, S.Pd

Pembina Tk. I

NIP. 131687349

NIP. 131287481

a/n Kepala Dinas Pendidikan Pemuda

Ketua PGRI

dan Olah Raga Kabupaten Kediri,

Kabupaten Kediri,

Kepala Seksi Kepegawaian,

Drs. Eko Budi Santoso, MM.

Drs. H. Purmadi

Pembina

NIP.

ptk : Cooperative Script

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, taufik, hidayah dan

inayah-Nya, sehingga Penelitian Tindakan Kelas ini dapat diselesaikan sebagaimana

mestinya.

Penelitian yang berjudul an Kualitas Proses Belajar dan Kualitas

Hasil Belajar Pembelahan/Reproduksi Sel Mitosis dan Meiosis Melalui Model

Pembelajaran Cooperative Script Siswa Kelas XII IPA-1 Semester 1 Tahun

Pelajaran 2008/2009 , ini disusun untuk memenuhi salah satu

aspek pengembangan profesionalisme guru.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :

1. Drs. H. Imam Sardjono, MM. selaku Kepala SMA Negeri 1 Papar.

2. Peserta Didik Kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Papar sebagai Sasaran Penelitian.

3. Bapak Ibu Guru SMA Negeri 1 Papar yang telah membantu terselesaikannya laporan

penelitian ini.

Penulis menyadari penelitian ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan

saran dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ini, sangat diharapkan. Dan

semoga karya tulis ini bisa memberi manfaat bagi para pembaca.

Kediri, 6 April 2009

Penulis

ptk : Cooperative Script

iv

DAFTAR ISI

i

ii

KATA PENGANTAR ............

iii

DAFTAR ISI .............

iv

BAB I : PENDAHULUAN

A.

1

B.

2

C.

2

D.

3

E.

3

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

A.

4

B.

5

C.

9

BAB III : METODE PENELITIAN

A.

10

B.

14

C.

15

D. Teknik Pengambilan Data Penelitian dan Analisa Data

15

E.

18

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Siklus Pertama ..........................................

23

B. Siklus Kedua

30

ptk : Cooperative Script

v

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

A. 37

B.

37

38

LAMPIRAN

1. Diagram 1. : Alur Desain PTK model Kemmis Mc. Taggart ... 40

2. Lampiran 2 : Jadwal Kegiatan 41

3. Lampiran 3 : Tabel 1 Data Kualitas ProsesBelajar Peserta Didik pada

Siklus Pertama. ................................................................................ 42

4. Lampiran 4 Tabel 2. : Data Kualitas Hasil Belajar Peserta didik Pada

Siklus Pertama .................................................................................. 43

5. Lampiran 5 Tabel 3 : Analisa Data Kualitas Hasil Belajar Peserta Didik

Pada Siklus Pertama ...................................................................... 45

6. Lampiran 6 Tabel 4. : Data Kualitas Proses Belajar Peserta didik pada

siklus kedua ................................................................................... 46

7. Lampiran 7 Tabel 5 : Data Kualitas Hasil Belajar Peserta didik Pada

Siklus 2

.................................................................................. 48

8. Lampiran 8 Tabel 6. : Analisa Data Kualitas Hasil Belajar Peserta Didik

Pada Siklus Kedua ...................................................................... 49

9. Lampiran 9 Tabel 7 : Perbandingan Kualitas Proses Belajar dan Kualitas

Hasil Belajar pada Siklus Pertama dan Kedua

50

10. Lampiran 10 Instrumen Angket

51

11. Lampiran 11 : Silabus

....................................................... 52

12. Lampiran 12 : RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SIKLUS I

54

ptk : Cooperative Script

vi

13. Lampiran 13 : RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SIKLUS II 9

14. Lampiran 13 LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD) SIKLUS

I

65

15. Lampiran 13 LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD) SIKLUS

II

67

16.

17.

18. Lampiran 16 F

ptk : Cooperative Script

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mulai tahun 2004 telah ada perubahan kurikulum, yakni dari kurikulum 1994

ke kurikulum berbasis kompetensi, yang menggunakan paradigma pembelajaran

konstruktivistik. Tetapi hingga sekarang ini praktiknya sebagian guru masih mengajar

dengan metode ceramah dan ekspositori. Apabila transfer konsep-konsep biologi

berlangsung terus melalui ceramah, maka pemahaman peserta didik terhadap konsep

biologi akan terbatas pada ranah kognitif saja, sehingga bertentangan dengan hakekat

biologi sebagai proses dan produk. Selain itu pembelajaran dengan transfer

pengetahuan, tidak dapat mendorong peserta didik berpikir kritis dan menerapkan

kecakapan hidup. Bila pembelajaran biologi didominasi dengan metode ceramah,

maka mata pelajaran biologi bisa menjadi mata pelajaran yang membosankan. Peserta

didik tidak akan dapat menyadari bahwa biologi sangat penting dipahami sebagai

pengetahuan dasar untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pada aspek produk biologi, diharapkan peserta didik dapat memahami konsep-

konsep, teori, prinsip dan hukum biologi. Sedangkan pada aspek proses, peserta didik

diharapkan memiliki ketrampilan kerja ilmiah atau ketrampilan proses.

Pada penelitian ini penulis sengaja meneliti penerapan model pembelajaran

Cooperative script, pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas proses belajar dan

kualitas hasil belajar peserta didik.

ptk : Cooperative Script

2

B. Rumusan masalah

Masalah yang akan dicari penyelesaiannya pada penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaruh penggunaan model pembelajaran Cooperative

script terhadap peningkatan kualitas proses belajar (diamati dari keaktifan

peserta didik, motivasi peserta didik) pada materi Pembelahan/Reproduksi

Sel Mitosis dan Meiosis terhadap peserta didik kelas XII IPA-1 di SMA

Negeri 1 Papar ?

2. Bagaimanakah pengaruh penggunaan model pembelajaran Cooperative

script terhadap peningkatan kualitas hasil belajar biologi pada materi

Pembelahan/Reproduksi Sel Mitosis dan Meiosis terhadap peserta didik

kelas XII IPA-1 di SMA Negeri 1 Papar ?

C. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan

hasil pembelajaran Biologi pada peserta didik kelas XII IPA-1 di SMA Negeri 1

Papar melalui implementasi model pembelajaran Cooperative script

Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk :

1. Meningkatkan kualitas proses belajar biologi pada materi

Pembelahan/Reproduksi Sel Mitosis dan Meiosis untuk peserta

didik kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Papar melalui penerapan model

pembelajaran cooperative script.

2. Meningkatkan hasil belajar biologi pada materi Pembelahan/Reproduksi

Sel Mitosis dan Meiosis untuk peserta didik kelas XII IPA-1 SMA Negeri

1 Papar melalui penerapan model pembelajaran cooperative script

ptk : Cooperative Script

3

D. Manfaat Hasil penelitian

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa :

1. Merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar

biologi di SMA Negeri 1 Papar yang merupakan bekal untuk melanjutkan

ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau terjun ke masyarakat.

2. Melakukan bagian dari perubahan paradigma pembelajaran dari teacher

centered ke student centered (konstruktivisme) di SMA Negeri 1 Papar

3. Bahan referensi/acuan bagi yang memerlukannya

E. Hipotesis Tindakan

Jika pembelajaran Pembelahan/Reproduksi Sel Mitosis dan Meiosis di kelas

XII IPA 1 SMA Negeri 1 Papar dilakukan dengan penerapan model pembelajaran

cooperative script akan meningkatkan kualitas proses belajar dan kualitas hasil belajar

peserta didik.

F. Ruang Lingkup

Penelitian yang dilakukan ini mengacu pada silabus SMA kelas XII IPA

Siswa mampu memahami konsep dasar

hereditas serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat

(salingtemas) Mengkaitkan antara proses pembelahan

mitosis dan meiosis dengan pewarisan sifat

Pembelajaran materi ini disediakan waktu 2 kali pertemuan, masing-masing

pertemuan 2 jam tatap muka dan 2 kali 1 jam untuk penilaiannya.

ptk : Cooperative Script

4

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Proses Dan Hasil Belajar

Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara

peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang

sebagai pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah

seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi pengolah kegiatan belajar

mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya

kegiatan belajar mengajar yang efektif.

Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta

didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, seperti

perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over hebaviour)

yang dapat dinikmati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik

dan gaya hidupnya.

Hasil belajar ditentukan antara lain oleh gabungan diantara kemampuan

dasar peserta didik dan kesungguhan dalam belajar. Kesungguhan ditentukan oleh

motivasi. Guru hendaknya selalu mengupayakan agar proses pembelajaran dapat

memotivasi peserta didik untuk berprestasi. Menurut Nursisto (dalam Erlinawati,

2007) , beberapa bentuk pembelajaran yang dapat memotivasi peserta didik untuk

belajar adalah: 1) buat pembelajaran penuh arti, 2) tumbuhkan harga diri peserta

didik, 3) gunakan metode belajar yang inovatif, dan 4) salurkan minat dan

kegemaran peserta didik. Sekolah dapat mewujudkan kondisi ideal seperti

ptk : Cooperative Script

5

diterapkan di atas. Hal ini juga tergantung dari karakteristik peserta didik yang

ditunjukkan dari kompetensi yang dimilikinya. Menurut Depdiknas (2003b)

kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang

diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Adanya perasaan senang atau tidak senang seseorang terhadap suatu obyek

akan memberikan suatu penilaian terhadap obyek yang bermakna positif atau

negatif. Perasaan senang akan berpengaruh terhadap kemudahan dalam memahami

materi pelajaran, sehingga mempengaruhi motivasi peserta didik dalam belajar.

Menurut John Holt, 1967 dalam (Silberman, Melvin L. 2006:26), proses

belajar akan meningkat jika peserta didik diminta untuk :

1. Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri.

2. Memberikan contohnya.

3. Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi.

4. Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain.

5. Memprediksikan sejumlah konsekuensinya.

6. Menyebutkan lawan atau kebalikannya.

Proses belajar yang berkualitas akan meningkatkan kualitas hasil belajar.

B. Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Menurut pandangan/perspektif konstruktivisme, bahwa pengetahuan

berasal dari aktivitas pebelajar yang ditampilkan pada obyek-obyek. Pengetahuan

bukanlah tidak terwujud, tetapi berhubungan erat dengan tindakan dan pengalaman.

ptk : Cooperative Script

6

Bahwa pengetahuan itu bersifat kontekstual dan tidak pernah terpisahkan dari obyek

yang memiliki pengetahuan yang bersangkutan.

Pembelajar(leaner) adalah suatu proses aktif yang dilakukan untuk

individu yang sedang belajar untuk membentuk pengetahuan sendiri, sehingga guru

berperan untuk menyediakan suatu kondisi atau suasana belajar yang dapat

membantu berlangsungnya proses konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

Guru tidak perlu intervensi terlalu jauh pada topic pembelajaran yang sedang

dipelajari atau dibahas.

Model pembelajaran konstruktivisme merupakan model pembelajaran

yang berangkat dari pengetahuan awal peserta didik yang ada di memorinya, yang

diperoleh dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya (Wita

Sutrisno, 2004 : 34). Pengetahuan atau pengalaman baru tidak bisa ditransfer atau

dicopy dari seorang guru kepada peserta didik secara utuh, melainkan peserta didik

itu sendiri yang harus aktif membangun pengetahuannya.

Model pembelajaran konstruktivisme menekankan pada aktivitas dan

kreatifitas peserta didik untuk membangun atau menyusun pengetahuan atau

pengalaman yang baru, dengan merujuk kepada pengetahuan awal peserta didik

yang sudah dimilikinya. Kemudian peserta didik di dalam memorinya menghubung-

hubungkan antara pengetahuan atau pengalaman baru, apakah cocok atau tidak, jika

cocok akan terjadi penguatan di dalam memori/pikiran peserta didik tersebut. Dan

bila terjadi ketidakcocokan antara pengetahuan atau pengalaman baru dengan apa

yang ada, di dalam pikirannya mengalami akomodasi, adaptasi, cocok,

keseimbangan/ekuilibrasi, dan akhirnya mengerti.

ptk : Cooperative Script

7

Model pembelajaran konstruktivisme menekankan gagasan-gagasan

berasal dari peserta didik itu sendiri dalam setiap topic/pokok bahasan, sedangkan

guru dituntut harus mempersiapkan dan mengembangkan pengetahuan yang

berhubungan dengan pokok bahasan yang akan disampaikan kepada peserta didik

dengan cara memberikan atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang

berhubungan dengan bahan yang disajikan sehingga peranan guru di dalam

penerapan model pembelajaran konstruktivisme ini adalah sebagai fasilitator dan

mediator.

Pandangan konstruktivistik menyatakan bahwa dalam belajar peserta didik

merespon pengalaman-pengalaman pancaindra dengan mengkonstruksi suatu skema

atau struktur kognitif dalam otak(Dasna, 2006 : 10). Individu berusaha memahami

situasi atau fenomena apapun yang mereka jumpai dalam kehidupan. Konsekuensi

dari pemahaman ini adalah terbentuknya struktur kognitif yang berupa keyakinan,

pengertian atau penalaran sebagai pengetahuan subyektif peserta didik. Dari

pandangan ini diketahui bahwa pengetahuan atau pengertian yang diperoleh peserta

didik adalah sebagai akibat dari proses konstruksi (aktif) yang berlangsung terus

menerus dengan cara mengatur, menyusun dan menata ulang pengalaman yang

dikaitkan dengan struktur kognitif yang dimiliki. Struktur tersebut berkembang

sebagai akibat modifikasi dan pengayaan pengalaman peserta didik. Oleh karena

proses penguasaan konsep terjadi dalam pikiran peserta didik sebagai hasil interaksi

pancaindranya dengan lingkungan sekitarnya, maka pengetahuan tidak dapat

semata-mata ditransfer guru kepada peserta didik.

ptk : Cooperative Script

8

Guru dapat berusaha untuk menerapkan prinsip-prinsip motivasi dalam

proses dan cara mengajar, untuk merangsang, meningkatkan dan memelihara

motivasi peserta didik dalam belajar. Berkaitan dengan hal ini Keller (dalam

Erlinawati, 2007) telah menyusun empat kategori kondisi yang harus diperhatikan

oleh guru dalam usaha menghasilkan proses belajar yang menarik, bermakna, dan

memberikan tantangan bagi peserta didik. Ke-empat kondisi motivasi tersebut

adalah:

(1) Perhatian (Attention). Perhatian peserta didik muncul didorong rasa ingin

tahu. Oleh sebab itu rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan sehingga

peserta didik akan memberikan perhatian, dan perhatian tersebut dipelihara

selama berlangsungnya pembelajaran.

(2) Ketertarikan (Relevance). Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi

pelajaran dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik. Motivasi peserta didik

akan terpeliharan apabila mereka menganggap bahwa apa yang dipelajari

memenuhi kebutuhan atau bermanfaat.

(3) Keyakinan (Confidence). Merasa diri mampu merupakan potensi untuk dapat

berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Konsep tersebut berhubungan

dengan keyakinan bahwa dirinya memilikikemampuan untuk melakukan suatu

tugas yang menjadi syarat keberhasilan.

(4) Kepuasan (Satisfaction). Keberhasilan dalam mencapai tujuan akan

menghasilkan kepuasan, dan peserta didik akan termotivasi untuk terus

berusaha mencapai tujuan yang sama. Untuk meningkatkan dan memelihara

motivasi peserta didik, guru dapat menggunakan pemberian penguatan berupa

ptk : Cooperative Script

9

pujian, pemberian kesempatan dan sebagainya.

C. Cooperative script

Salah satu model pembelajaran yang termasuk konstruktivistik adalah

Cooperative script. Model pembelajaran ini dimunculkan oleh Dansereau tahun

1985 (Chotimah, Husnul. 2007)

Sintak langkah-langkah model pembelajaran cooperative script :

1.

Guru membagi peserta didik untuk berpasangan

2.

Guru membagikan wacana/materi tiap peserta didik untuk dibaca

dan membuat ringkasan

3.

Guru dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan

sebagai pembicara dan yang berperan sebagai pendengar

4.

Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan

memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya sementara

pendengar :

-

menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang

kurang lengkap

-

membantu mengingatkan/menghafal ide-ide pokok dengan

menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi

lain.

5.

Bertukar peran, yang semula sebagai pembicara ditukar menjadi

pendengar dan sebaliknya.

6.

Guru dan peserta didik menyusun kesimpulan.

ptk : Cooperative Script

10

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk

memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran. Penelitian ini bersifat individual

dan luwes. Guru sebagai peneliti memahami betul permasalahan yang dihadapi.

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas tidak banyak menyita waktu sebab peneliti

melakukan tanpa meninggalkan kegiatan mengajarnya. Disamping implementasi

tindakan untuk memecahkan masalah, penelitian ini merupakan suatu proses dinamis

mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Dalam pelaksanaannya peneliti perlu memahami karakteristik dan prinsip

yang ada dalam Penelitian Tindakan Kelas agar kegiatan yang dilakukan dapat

dipertanggungjawabkan. Guru sebagai praktisi dan peneliti tetap melakukan tugasnya

sehari-hari, namun melakukan tindakan dalam upaya memperbaiki pembelajaran di

kelasnya.

Penelitian ini dilakukan dengan teknik siklus model Kemmis dan Mc

Taggar dari Deakin Universitay. Model ini terdiri dari empat kemampuan :

1. Rencana ( Planning )

Tindakan apa yang dilakukan untuk memperbaiki , meningkatkan

atau mengubah perilaku dan berbagai sikap sebagai solusi.

2. Tindakan ( Acting )

ptk : Cooperative Script

11

Apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan,

peningkatan atau perubahan yang diinginkan.

3. Observasi ( Observing )

Mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan atau

dikenakan terhadap peserta didik.

4. Refleksi ( Reflecting )

Peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak

tindakan dari berbagai kriteria. Berdasarkan hasil refleksi ini peneliti

dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal.

Diagram alur desain penelitian ditunjukkan pada gambar berikut :

ptk : Cooperative Script

12

Gambar 3.1 Diagram Alur Desain PTK model Kemmis Mc. Taggart.

Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan 2 siklus, sehingga diperoleh

Reproduksi Sel Mitosis dan Meiosis

Perecanaan

Pelaksanaan

tindakan

Pengamatan

Refleksi

Perencanaan

Pelaksanaan

tindakan

Pengamatan

Refleksi

Kesimpulan

SIKLUS 1

SIKLUS 2

ptk : Cooperative Script

13

Secara lebih rinci dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Persiapan Penelitian

Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti selain menyiapkan perangkat

pembelajaran diantaranya : silabus dan sistem penilaian, rencana

pembelajaran, peneliti juga mempersiapkan semua instrumen yang diperlukan

dalam penelitian tindakan kelas ini di antaranya lembar observasi, lembar

penilaian kegiatan peserta didik, lembar fieldnote. Penelitian ini akan

dilakukan dengan kolaborator sebagai pengamat. Penelitian ini dilaksanakan

dalam dua siklus mengingat keterbatasan waktu yang ada dan dengan asumsi

bahwa masalah akan tuntas pada siklus yang kedua. Kolaborator bertugas

membantu mengamati kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung dan

membantu untuk memberi solusi yang akan diterapkan pada siklus kedua.

Adapun data-data kolaborator sebagai berikut :

Nama

: Sudariyantik, S.Pd.

NIP

: 510 156 185

Pengajar Mapel

: Biologi

Pangkat / Gol.

: III / a

ptk : Cooperative Script

14

B. Instrumen Penelitian

Observasi :

Observasi dilakukan peneliti dan pengamat (kolaborator). Observasi ini adalah

melihat dan mengamati sendiri perilaku peserta didik yang berkaitan dengan

tindakan yang diberikan yaitu kualitas proses belajar peserta didik.

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) :

LKPD ini berupa lembar kegiatan yang harus diselesaikan peserta didik..

Digunakan untuk memandu kerja peserta didik dalam menemukan konsep-

konsep dasar yang dipelajari. Masing-masing siswa diberi 1 lembar LKPD

yang harus diselesaikan.

Field Note :

Data yang diambil untuk mengisi fiel note adalah kejadian-kejadian yang

diamati selama KBM berlangsung. Pengisian dikerjakan oleh peneliti dan

kolaborator.

ptk : Cooperative Script

15

C. Jadwal Kegiatan

No.

Jenis Kegiatan

Waktu Kegiatan

Ket.

Oktober

Nopember

1 2 3 4 5 1

2

1 Persiapan

V V V

2 Siklus Pertama

V

3 Penulisan Hasil Siklus

Pertama

V

4 Siklus kedua

V

5 Penulisan Hasil Siklus kedua V

6 Penulisan Laporan Akhir

V

7 Perbaikan Penulisan Laporan

Akhir

V

Lampiran-Lampiran

1. Daftar Pustaka

2. Lembar Observasi

3. LKPD

4. Field Note

D. Teknik Pengambilan Data Penelitian

1) Sumber data : sumber data penelitian ini adalah siswa, peneliti dan teman

sejawat .

2) Jenis data : jenis data yang didapatkan adalah data kuantitatif dan kualitatif

yang terdiri dari :

ptk : Cooperative Script

16

a) Kualitas Hasil Belajar/Prestasi belajar

b) Kualitas Proses Pembelajaran.

3) Cara pengambilan data

a) Data prestasi belajar diambil dengan memberikan tes/quis.

b) Data tentang Kualitas Proses Pembelajaran diambil dengan menggunakan

lembar observasi.

4) Teknik Analisa Data

a. Data yang diperoleh dari hasil observasi peneliti dan kolaborator kemudian

dirangkum. Data ini dipakai untuk mengetahui kualitas belajar peserta didik.

Instrumen untuk mengukur kualitas belajar peserta didik ini terdiri atas 6 butir

materi, rentangan yang dipakai 1 5 maka skor terendah adalah 6 dan skor

tertinggi adalah 30 dengan kategori penilaian sbb :

Skor 1 - 20

= kualitas sangat rendah

Skor 7 40

= kualitas rendah

Skor 13 60 = kualitas sedang

Skor 19 80 = kualitas tinggi

Skor 25 100 = kualitas sangat tinggi

b. Data yang diperoleh dari tes/quis (kualitas hasil belajar)

1. Dianalisa tingkat ketuntasannya

2. Dicari reratanya

3. Dikelompokkan menjadi

0-37 = sangat kurang

38-74 = kurang

75 = cukup / standar

ptk : Cooperative Script

17

76-88 = baik

89-100 = sangat baik

4). Indikator Kinerja

Ketuntasan belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi ditetapkan

dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi

dasar. Asumsi dasarnya adalah (1) bahwa semua orang bisa belajar apa saja,

hanya diperlukan waktu berbeda dan (2) standar harus ditetapkan terlebih

dahulu, dan hasil evaluasi tersebut adalah lulus dan tidak lulus.

Mastery Learning dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah

pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas

seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran

(DEPDIKNAS, 2003 : 8). Berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh SMA

Negeri 1 Papar yang telah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi,

menjelaskan bahwa ketuntasan belajar kimia adalah jika peserta didik secara

individu telah memperoleh nilai dengan SKBM minimal adalah nilai 75, dan

ketuntasan klasikal yaitu 85%.

Berdasarkan kajian teori yang ada, maka ketuntasan belajar adalah

penguasaan penuh oleh peserta didik yang ditunjukkan dengan hasil yang

sesuai dengan target kurikulum. Target dalam Kurikulum Berbasis

Kompetensi peserta didik dikatakan mencapai tuntas belajar jika mendapat

skor 75. Proses Belajar Mengajar dikatakan tuntas apabila 85% dari populasi

peserta didik harus menguasai sekurang-kurangnya 75% dari tujuan

pembelajaran yang hendak dicapai.

ptk : Cooperative Script

18

5). Penyiapan Partisipan

Refleksi awal dilakukan dengan mengadakan pengamatan pendahuluan yang

digunakan untuk menetapkan dan merumuskan rencana tindakan. Dari

pengamatan awal ini selanjutnya dilakukan refleksi dari berbagai sudut di

antaranya : pengaruh guru, metode pembelajran dan perilaku peserta didik.

E. Subyek Penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan di ;

a. Nama Sekolah

: SMA Negeri 1 Papar

b. Alamat

: Jl. Raya 382 Janti Papar Kediri 64154

Telp. 0354.529288

c. Kelas

: XII IPA1

d. Mata Pelajaran

: Biologi

e. Karakteristik Sekolah

: SMA Negeri 1 Papar terdapat 21

rombongan yang terdiri dari :

Kelas X : X 1 s / d X 7 (jumlah 7

kelas)

Kelas XI : jumlah 7 kelas

2 Kelas XI Bahasa

2 Kelas XI IPA

3 Kelas XI IPS

Kelas XII : jumlah 7 kelas

2 Kelas XII Bahasa

ptk : Cooperative Script

19

2 Kelas XII IPA

3 Kelas XII IPS

f. Letak geografis sekolah : dekat dengan jalan raya propinsi dan

dekat dengan jalur kereta api, sehingga

tingkat ketenangan cukup rendah.

SIKLUS PERTAMA

1. Perencanaan

a. Mempersiapkan perangkat pembelajaran

b. Menyamakan persepsi dengan guru sejenis untuk membantu

mengamati selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

c. Menjelaskan rencana kegiatan kepada peserta didik

d. Peserta didik dibagi menjadi 2 tipe kelompok, yaitu A dan B.

e. Masing-masing kelompok dalam tiap tipe beranggotakan 4 orang

(A-1 = 4 orang, A-2 = 4 orang dst, B-1 = 4 orang, B-2 = 4 orang,

dst).

f. Masing-masing kelompok tipe A dan B mengerjakan kegiatan/

LKPD yang berbeda ( tipe A : Siklus sel, tipe B : Reproduksi sel

mitosis).

g. Guru keliling, untuk memantau kegiatan pembelajaran dan

membantu kelompok yang mengalami kesulitan.

h. Menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan

siapa yang berperan sebagai pendengar.

ptk : Cooperative Script

20

i. Bertukar peran, yang semula sebagai pembicara berperan sebagai

pendengar dan yang semula sebagai pendengar berperan sebagai

pembicara.

j. Presentasi salah satu pasangan.

k. Menyiapkan lembar observasi ( yang akan dipakai oleh peneliti

dan kolaboratornya )

l. Mempersiapkan lembar fieldnote ( untuk guru peneliti )

m. Mempersiapkan format penilaian.

2. Pelaksanaan

Penelitian dilaksanakan saat pembelajaran berlangsung di dalam kelas.

3. Pengamatan

Mengevaluasi semua data dari hasil pengamatan mulai dari lembar

observasi, lembar field note, daftar penilaian.

4. Refleksi

Dari tahap pelaksanaan dan pengamatan akan didapatkan beberapa hasil

yang akan menunjukkan kualitas belajar peserta didik. Dari sini dicari

kelemahan-kelemahan yang menyebabkan kualitas belajarnya rendah

atau kurang optimal dan bagaimana cara meningkatkannya pada siklus

berikutnya.

ptk : Cooperative Script

21

SIKLUS KEDUA

1. Perencanaan

a. Mempersiapkan perangkat pembelajaran

b. Menyamakan persepsi dengan guru sejenis untuk membantu

mengamati selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

c. Menjelaskan rencana kegiatan kepada peserta didik

d. Peserta didik dibagi menjadi 2 tipe kelompok, yaitu A dan B.

e. Masing-masing kelompok dalam tiap tipe beranggotakan 4 orang

(A-1 = 4 orang, A-2 = 4 orang dst, B-1 = 4 orang, B-2 = 4 orang,

dst), namun kelompoknya ditentukan oleh guru (dengan

menggabungkan antara siswa yang kemampuannya relatif tinggi

dengan yang berkemampuan relatif rendah)

f. Masing-masing kelompok tipe A dan B mengerjakan kegiatan/

LKPD yang berbeda ( tipe A : Reproduksi sel meiosis , tipe B :

Spermatogenesis).

g. Guru keliling, untuk memantau kegiatan pembelajaran dan

membantu kelompok yang mengalami kesulitan.

h. Menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan

siapa yang berperan sebagai pendengar.

i. Bertukar peran, yang semula sebagai pembicara berperan sebagai

pendengar dan yang semula sebagai pendengar berperan sebagai

pembicara.

ptk : Cooperative Script

22

j. Presentasi salah satu pasangan.

k. Menyiapkan lembar observasi ( yang akan dipakai oleh peneliti dan

kolaboratornya )

l. Mempersiapkan lembar fieldnote ( untuk guru peneliti )

m. Mempersiapkan format penilaian.

Pada tahap perencanaan siklus kedua sama dengan perencanaan siklus

pertama yang ditambah dengan temuan-temuan untuk meningkatkan

kualitas belajar dan prestasi/hasil belajar peserta didik khususnya

Reproduksi sel meiosis.

2. Pelaksanaan

Sesuai dengan rencana

3. Pengamatan

Mengevaluasi semua data dari hasil pengamatan mulai lembar observasi,

daftar penilaian serta lembar fieldnote.

4. Refleksi

ptk : Cooperative Script

23

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Siklus Pertama

Berdasarkan hasil pengamatan awal ditemukan indikator-indikator yaitu suasana

kelas kurang menggairahkan dan kurang menyenangkan karena dicekam oleh tugas

yang dirasa membebani peserta didik. Sebagain besar peserta didik tampak pasif

berpendapat, bertanya atau menanggapi pertanyaan teman lain, apalagi berbicara

didepan kelas dan diberikan penilaian. Bila diberi kesempatan untuk

tampil/presentasi secara suka rela, tidak ada yang bersedia tampil, peserta didik

banyak yang memilih tampil belakangan. Selain itu prestasi hasil belajar/ketuntasan

klasikal jarang sekali tercapai.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas belajar dan

prestasi hasil belajar peserta didik kelas XII IPA 1 masih rendah dan memerlukan

pembenahan-pembenahan.

Dari hasil angket yang disebar pada kelas XII IPA 1, diperoleh data

sebagai berikut :

ptk : Cooperative Script

24

Tabel 1 : Data Kualitas Proses Belajar Peserta Didik pada Siklus Pertama.

No

Pernyataan

Jumlah

%

Skor

Skor

maks

1.

2.

3

Aktivitas peserta didik dalam belajar

dengan menerapkan model

pembelajaran Cooperative script

a. sangat tinggi

b. tinggi

c. sedang

d. rendah

e. sangat rendah

Efektifitas peserta didik dalam belajar

dengan menerapkan model

pembelajaran Cooperative script

a. sangat tinggi

b. tinggi

c. sedang

d. rendah

e. sangat rendah

Kemudahan peserta didik dalam

memahami bahasa teman sendiri pada

saat menerima penjelasan pengertian /

pengetahuan

a. sangat tinggi

b. tinggi

c. sedang

d. rendah

e. sangat rendah

4

40

0

0

0

0

35

8

1

0

9

30

3

2

0

9.1

90.9

0

0

0

0

79.55

18.18

2.27

0

20.45

68.18

6.8

4.5

0

0,45

3.64

0

0

0

0

3.18

0.55

0.05

0

1.84

2.73

0.20

0.09

0

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

ptk : Cooperative Script

25

4

5

6

Motivasi belajar peserta didik dalam

belajar dengan menerapkan model

pembelajaran Cooperative script

a. sangat tinggi

b. tinggi

c. sedang

d. rendah

e. sangat rendah

Rasa senang peserta didik dalam

belajar melalui penerapan model

pembelajaran Cooperative script

a. sangat tinggi

b. tinggi

c. sedang

d. rendah

e. sangat rendah

Tantangan yang dirasakan peserta

didik dalam belajar dengan

menerapkan model pembelajaran

Cooperative script

a. sangat tinggi

b. tinggi

c. sedang

d. rendah

e. sangat rendah

7

28

6

3

0

0

22

13

8

0

0

10

14

19

1

15.90

63.63

13.63

6.8

0

0

50

29,54

18.18

0

0

22.72

31.82

43.18

2.27

0.79

2.55

0.41

0.14

0

0

2

0.89

0.36

0

0

0.90

0.95

0.86

0.02

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

5

4

3

2

1

Jumlah

22.64

30

Nilai

75.47

ptk : Cooperative Script

26

Pembahasan.

Pembelajaran biologi dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative

script, menuntut aktivitas peserta didik tinggi (90.9 %), efektivitas belajar tinggi (

79.55 %) dan motivasi belajar yang tinggi (63.63 %) bahkan sangat tinggi (15.90

%). Mudah menerima pengertian (68.18 %), karena dijelaskan oleh teman sendiri

dengan gaya dan bahasa sehari-hari. Selain itu juga meningkatkan rasa senang (50

%) tetapi sebagian menganggap biasa saja/sedang (29.54 %). Namun di sisi lain

tidak sedikit dari para peserta didik yang merasa terbebani belajar dengan model

pembelajaran Cooperative script ini (43 %) bahkan terasa sangat membebani

sebagian peserta didik (20.27 %).

Aktivitas peserta didik dituntut tinggi, karena tidak seorangpun dari mereka yang

tidak berperan. Pertama, mereka berperan sebagai pembicara yang menjelaskan

hasil pemahamannya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari

pendengar(pasangannya). Kedua, mereka giliran sebagai pendengar dan bertanya

pada saat pasangan kelompoknya berperan sebagai pembicara yang menjelaskan

hasil pemahamannya.

Belajar dengan model pembelajaran Cooperative script ini memiliki efektivitas

yang tinggi karena semua peserta didik belajar langsung dari referensi dan

bimbingan guru. Selama mereka belajar dari referensi yang ada, aktivitas guru

keliling membimbing individual yang kesulitan memahami konsep yang

ditemuinya. Hasil pemahaman yang dimiliki secara individual kemudian

disampaikan kepada peserta didik lain (pasangannya). Aktivitas menyampaikan

hasil pemahamannya ini kepada orang lain, selain menuntut penguasaan materi

ptk : Cooperative Script

27

yang lebih, akan meningkatkan daya lekat/semakin terpateri pemahamannya itu di

otak. Semakin banyak yang disampaikan, semakin bertambah pula ilmunya.

Komunikasi lisan yang dijalin dengan pasangannya akan lebih efektif dan intens

karena bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sehari-hari yang lebih mudah

diterima, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang muncul dengan lebih

mudah dan ketika diantara mereka ada yang belum jelas, tanpa ragu atau perasaan

- .

Belajar dengan model pembelajaran Cooperative script ini akan meningkatkan

motivasi belajar dan lebih terasa menyenangkan, karena semua peserta didik

memiliki tugas dan tanggungjawab masing-masing. Semua peserta didik menjadi

aktif dan tidak membosankan, meskipun bagi sebagian peserta didik masih

merasakan biasa-biasa saja.

Belajar dengan model pembelajaran Cooperative script ini ternyata dirasakan

membebani bagi sebagian peserta didik. Hal ini mungkin karena belum terbiasa

dengan kegiatan belajar yang menuntut aktivitas tinggi sehingga masih keliru dalam

menyikapinya. Tugas dan tanggungjawab yang harus mereka emban dirasakannya

sebagai beban dan bukan sebagai tantangan. Perlu kiranya membiasakan model-

model belajar yang menuntut aktivitas tinggi.

Dari seegi kualitas hasil belajar pada siklus pertama, dapat dilihat dari perolehan

nilai quis yang tampak seperti pada tabel berikut ini.

ptk : Cooperative Script

28

Tabel 2. : Data Kualitas Hasil Belajar Peserta didik Pada Siklus Pertama

No

Nama

Nilai

Ket.

No

Nama

Nilai Ket.

T T T

T TT

1

ATIK SUSANTI

72.5

x 23 WANDA ROSALINA

75

x

2

BAGUS TATANING P. 75

x

24 WIDYA NURFARIDHA

52.5 x

3

ENDAH TRI W.

37.5

x 25 YENI SALPIYANI

57.5 x

4

FANYA RAFIANA D. 77.5 x

26 ENDAH WIJI L.HN.

82.5 x

5

FUAD SYAHRUL H.

75

x

27 LINA IRAWATI

55

x

6

INDRIA NUR F.

65

x 28 EKO WAHYU W.

62.5 x

7

IRA TRY APRILIYA

82.5 x

29 KURNIA ALFIAN

47.5 x

8

LINDA TRI SUGESTI 90

x

30 BUDI SANTOSO

65

x

9

MEI DEWI Y.

62.5

x 31 YUANITA ARIF P.

77.5 x

10

MITHALIA DIAN R.

75

x

32

FEBRI ERMA ERAWATI 35

x

11 NGUDI RAHAYU

55

x 33 FUAD FAUZI WIJAYA

85

x

12 NILLA NUKI ASTARI 67.5

x 34 NUR AINI ALFANTIA

90

x

13 NINA IKA HARTANTI 57.5

x 35 NURDIN PANJAYA S

47.5 x

14 NOVITASARI TRI J.

80

x

36 SEPTIANA EKA PUTRI 82.5 x

15 NURUL HIDAYATI

62.5

x 37 ACHMAD SAMSUL A.

70

x

16 PERMANA NOVITA R 35

x 38 DEVI FEBRI AUTANTI

72.5 x

17 PRIAGUNG YUDHA

40

x 39 DEVIT FEBRI AULINA 67.5 x

18 PUTRI YULI A

62.5

x 40 DWI ATIKA SARI

60

x

19 RATRI DIAH RISTI D. 75

x

41 M.VAVAN ANDIKA

77.5 x

20 REZA HAYYU A.N.

72.5 x

42 MOH. ABU KHASAN

65

x

21 SEPTIA NINGRUM

67.5

x 43 WIWIN OKTAFIANI

82.5 x

22 TEDY ANDREANTO

90

x

44 ARI SILFIANA

100 x

Keterangan :

T

= tuntas

TT = tidak tuntas

Dari daftar nilai tersebut di atas dapat diperoleh gambaran :

Jumlah siswa yang tuntas

= 19 orang = 43.18%

Jumlah siswa yang tidak tuntas

= 25 orang = 56.82%

Nilai rerata

= 67.89

ptk : Cooperative Script

29

Tabel 3 : Analisa Data Kualitas Hasil Belajar Peserta Didik Pada Siklus Pertama

Rentang Nilai

Kategori

Jumlah Peserta didik

%

0-37

38-74

75

76-88

89-100

Sangat Kurang

Kurang

Cukup

Baik

Sangat Baik

3

22

9

6

4

6.81

50

20.45

13.63

9.09

Jumlah

44

100

Dari data perolehan nilai diatas didapat :

1. Sebanyak 25 peserta didik belum tuntas karena nilainya < 75.

2. Sebanyak 19 peserta didik sudah tuntas karena nilainya 75.

3. Ketuntasan klasikal masih jauh dari standar, yakni baru mencapai 43.18 %

Refleksi

Kualitas belajar Kelas XII IPA 1 sudah bagus, tinggal menumbuhkan kesadaran

bahwa tugas dan aktifitas belajar yang intensif itu bukan merupakan beban akan

tetapi tantangan yang harus diselesaikan. Namun demikian dilihat dari hasil

belajarnya masih belum mencapai standar. Masukan dari teman sejawat berdasarkan

catatannya, bahwa kelompok/pasangan kerja masih dirasakan ada hambatan

psikologis ketika terjadi perbincangan diantara mereka.

Pada siklus berikutnya peneliti menindaklanjuti dengan jalan sebagai berikut :

a. Mengubah kelompok kerja menjadi berimbang antara anggota yang memiliki

kemampuan relative tinggi dengan yang berkemampuan relative rendah..

b. Lebih mengintensifkan belajar mandiri dibawah control guru

ptk : Cooperative Script

30

c. Masalah-masalah yang tidak terjawab dibantu supaya terselesaikan.

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama diketahui bahwa kualitas belajar

sudah bagus namun tugas-tugas yang dilakukan masih terasakan sebagai beban. Ini

berarti perlu adanya revisi tindakan 1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->