Anda di halaman 1dari 20

INTERPRETASI CITRA

(FOTO UDARA, LANDSAT, IKONOS)

Uftori Wasit1

I. PENDAHULUAN
Interpretasi citra merupakan kegiatan pengkajian foto udara atau citra satelit
untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut (Estes dan
Simonett, 1975). Dalam pengenalan obyek terdapat tiga kegiatan yaitu deteksi ada
tidaknya suatu obyek, identifikasi ciri-ciri obyek dan analisis. Kegiatan interpretasi
citra ini berdasarkan format data penginderaan jauh dibedakan atas interpretasi
digital yaitu pada data berformat numerik dan interpretasi manual pada data
berbentuk visual. Interpretasi citra secara digital proses klasifikasi obyek
berdasarkan nilai spektralnya, dapat berupa klasifikasi terbimbing melalui
penetapan daerah contoh yang diketahui jenis obyek dan nilai pikselnya dan tanpa
penentuan daerah contoh atau disebut klasifikasi tidak terbimbing. Untuk kasus
interpretasi digital secara umum lebih mudah karena merupakan proses
pembatasan (delinasi) yang dilakukan perangkat lunak komputer. Sementara
interpretasi yang cukup menyita waktu adalah interpretasi secara manual atau
visual.
Secara umum interpretasi visual dilakukan pada data penginderaan jauh
dalam bentuk cetakan seperti foto udara pada pemetaan manual. Namun tidak
menuntut kemungkinan, interpretasi visual juga dapat dilaksanakan pada data
vormat digital yang tersedia langsung pada komputer. Kelebihan dari interpretasi
visual secara langsung di komputer ini lebih mudah dan dapat mendeteksi obyek
melalui pengaturan komposisi band citra. Dan perkembangan satelit penginderaan
jauh yang menyediakan citra satelit berresolusi tinggi yang melebihi data foto udara
memungkinkan interpretasi visual bermanfaat dalam kegiatan interpretasi citra.
Interpretasi citra secara visual menurut Vink (1965) dilakukan melalui enam
tahap yaitu deteksi, identifikasi, analisis, deduksi, klasifikasi dan idealisasi.
Kegiatan deteksi merupakan kegiatan penyadapan data secara selektif atas obyek

1
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

1
yang tampak langsung dan tidak tampak langsung atau sulit dikenali. Obyek yang
dikenali kemudian dipisahkan dengan cara penarikan garis batas antara kelompok
yang memiliki kesamaan ujud. Proses deduksi pada dasarnya untuk memastikan
obyek berdasarkan konvergensi bukti atau ciri-ciri yang mengarah pada obyek
tersebut. Berikutnya dilakukan klasifikasi atau pengelompokkan obyek kedalam
kelas-kelas berdasarkan kesamaan antara obyek dan secara idealis merupakan
kegiatan menggambar hasil interpretasi yang dilakukan.
Pengenalan obyek pada citra penginderaan jauh pada hakekatnya
didasarkan pada kunci interpretasi yaitu terkait dengan unsur-unsur interpretasi
citra. Unsur-unsur interpretasi citra antara lain rona dan warna, bentuk, pola,
ukuran, banyangan, asosiasi dan situs. Rona dan warna merupakan unsur
interpretasi yang paling mudah di kenali. Rona menunjukkan tingkat kegelapan dan
kecerahan suatu obyek sedangkan warna merupakan tampilan obyek berdasarkan
nilai spektralnya terutama pada sinar tampak (biru, hijau dan merah). Obyek yang
menyerap sinar biru akan tampak kuning sebagai akibat menyerap warna hijau dan
merah. Bentuk merupakan kerangka atau konvigurasi obyek, kenampakan pada foto
udara atau citra berresolusi umumnya jelas sehingga mudah dikenali sebagai
contoh bentuk memanjang mencirikan obyek jalan atau saluran. Ukuran
menggambarkan variabel jarak baik panjang, lebar mapun luas suatu obyek. Ukuran
tergantung pada skala foto udara atau citra satelit. Pola dapat terbentuk secara
alami maupun oleh buatan manusia. Pola alami bisasnya pola acak sedangkan
akibat buatan manusia seperti penanaman dengan jarak tertentu membentuk pola
teratur. Textur merupakan perulangan dari ukuran, rona atau warna. Tekstur halus
sebagai akibat perulangan ukuran yang semakin banyak, sedangkan tekstur kasar
perulangan ukuran sedikit. Bayangan merupakan kenampangan obyek pada daerah
gelap. Assosiasi merupakan keterkaitan/hubungan antara objek yang dikenali
dengan objek lain yang didekatnya. Pengenalan suatu objek berguna untuk
mengidentifikasi obyek yang lain, sedangkan situs adalah dapat berupa lokasi
keberadaan obyek berdasarkan lingkungannnya. Situs tanaman sagu biasanya
pada daerah berawa atau situs hutan bakau bisanya di sepanjang garis pantai.
Interpretasi citra selain didasarkan pemahaman tentang obyek bedasarkan
unsur-unsur interpretasi yang dikenali. Pengenalan obyek juga sangat tergantung
pada data citra penginderaan jauh yang tersedia baik foto udara maupun citra

2
satelit. Citra foto udara skala besar atau citra satelit beresolusi tinggi senantiasa
akan memperlihatkan unsur-unsur interpretasi citra secara jelas, sedangkan yang
berskala kecil atau beresolusi rendah obyek sulit dikenali hanya didasarkan pada
pembeda warna atau bentuk. Sebagai pelengkap agar interpretasi berlangsung
dengan mudah maka data dasar tersedia dan pengalaman interpreter terhadap
lokasi yang dikaji yang memadai sangat membantu interpreter dalam pengenalan
obyek sebenarnya.
Sesuai dengan data pengginderaan jauh yang diperoleh yaitu Foto Udara
skala 50.000, citra Landsat 7 resolusi 30 x 30 meter, dan citra ALOS resolusi 10 x
10 meter maka secara mendasar dapat dikatakan bahwa kenampakan obyek setiap
data tersebut akan berbeda-beda. Semakin besar skala/resolusi data penginderaan
jauh maka akan semakin baik obyek yang akan ditampilkan, sebaliknya semakin
kecil skala/resolusi maka obyek yang ditampilkan akan semakin buruk.
Kegiatan praktikum ini bertujuan untuk melakukan interpretasi citra secara
visual untuk memetakan penutupan lahan dan membedakan hasil pemetaan
penutupan lahan dari tiga data penginderaan jauh yang diperoleh. Praktikum ini
bermanfaat dalam mengetahui cara-cara interpretasi, yang terutama mencakup
pemahaman tentang unsur-unsur interpretasi dan kenampakannya pada berbagai
skala citra penginderaan jauh dalam menentukan jenis obyek.

3
II. METODE INTERPRETASI CITRA

Interpretasi citra pada kegiatan praktikum ini berlokasi di wilayah Kabupaten


Bogor Barat dan Kabupaten Bogor. Adapun alat dan bahan yang digunakan meliputi
citra foto udara hitam putih skala 1: 50.000 (didigitalkan) dan citra landsat 7
resolusi 30 x 30 meter dan Citra ALOS resolusi 10 x 10 meter, sofewere ArcVie 3.2
dan ArcGis 9.2 dan komputer.
Metode interpretasi citra pada praktikum ini adalah metode interpretasi
secara visual melalui digitasi onscren. Pelaksanaan interpretasi mengikuti langkah-
langkah sebagi berikut :
Pemasukan data kedalam sistem komputer
Koreksi geometri untuk menyesuaikan posisi geografis data penginderaan
jauh.
Pemilihan lokasi dengan luasan tertentu untuk areal interpretasi
Pengaturan band Citra dan Penajaman citra penginderaan jauh
Interpretasi ;Identifikasi obyek berdasarkan unsur-unsur interpretasi citra
Pembatasan (digitasi) obyek hasil identifikasi dan klasifikasi
Penyajian hasil interpretasi

Kaitannya dengan pengaturan band citra merupakan langkah penting untuk


interpretasi obyek. Pengaturan band citra pada dasarnya merupakan upaya
mencirikan kenampakan obyek berdasarkan rona dan warna sebagai unsur dasar
interpretasi. Setiap obyek pada dasarnya memiliki kenampakan tertentu
berdasarkan rona dan warn, baik warna alami maupun warna palsu. Petunjuk
pengenalan obyek dari perbandingan band citra untuk citra landsat sebagi berikut :

4
R, G, B Informasi Obyek Permukaan Lahan
Kombinasi warna alami, menampakkan vegetasi hutan berwarna hijau,
3,2,1 dan tanaman pertanian berwarna coklat kuning, jalan berwarna abu-
abu, air tampak biru mudah atau putih.
Daerah bervegetasi berwarna merah, permukiman berwarna biru cyan,
4,3,2 dan tanah terbuka bervariasi dari coklat gelap ke terang. Es, salju dan
awan berwarna putih atau cyan.
Daerah bervegetasi hijau muda, permukaan tanah terbuka tampak
3,4,2 coklat, coklat kemerahan, permukiman tampak ungu, sungai tampak
biru tua dan awan tampak putih.
Vegetasi berwarna hijau teduh, kuning merah, coklat atau kuning, obyek
tanah berwarna coklat, permukiman tampak biru terang, putih, cyan
4,5,1
atau abu-abu, lahan baru dibuka atau vegetasi yang tumbuh jarang
tampak kemerahan dan air akan tampak biru tua
Kombinasi juga memunculkan vegetasi berwarna hijau teduh, coklat
dan kuning merah, daerah permukiman tampak biru muda, air tampak
4,5,3
biru tua, daerah yang berair tampak biru dan tanah tampak coklat
kuningdigunakan band inframerah.
Seperti kombinasi 4 5 1 vegetasi akan muncil, hijau, kuning coklat.
5,4,3 Vegtasi yang sehat tampak hijau dan ungu muda, permukiman
berwarna ping, tubuh air atau tanah yang berair tampak biru.
Vegetasi tampak hijau,coklat dan kuning terang, permukiman tampak
5,4,2 merah muda, tubuh air atau daerah yang berair tampak biru sangat
gelap
Kombinasi ini akan memunculkan tekstur topografi. Seperti halnya
kombinasi 5,4,1 kenampakan obyek vegetasi hijau,coklat dan kuning
5,3,1
terang, permukiman tampak merah muda, tubuh air atau daerah yang
berair tampak biru sangat gelap

Kenampakan obyek berdasarkan perbandingan band tersebut tergantung


pada band citra yang tersedia dan resolusi dari citra satelit. Untuk foto udara,
perbandingan band komposit tidak dapat dilakukan karena tidak merupakan data
digital sebenarnya sehingga foto udara hanya ditampakkan dalam warna hitam dan
putih. Interpretasi obyek selanjutnya didasarkan pada unsur-unsur interpretasi
lainnya yang meliputi bentuk, ukuran, tekstur, pola, banyangan, situs dan asosiasi.

5
III. HASIL INTERPRETASI CITRA

Citra Foto Udara


Interpretasi citra untuk foto udara karena merupakan data hasil skaning
maka obyek yang ditampakkan pada citra nampak sulit untuk dibedakan. Untuk
membedakan obyek maka unsur interpretasi yang dominan digunakan adalah
rona/warna, bentuk dan tekstur. Gambaran tentang kondisi citra foto udara
sebagaimana disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Citra Foto Udara wilayah Bogor Barat

Citra foto udara sebagaimana di tunjukkan pada gambar 1 kurang


menampakkan obyek dengan jelas. Obyek hanya dapat dibedakan berdasarkan
rona yaitu dari rona yang paling gelap hingga rona yang paling cerah. Obyek seperti

6
sungai bisa dibedakan berdasarkan bentuk yang memanjang dan berkelokan, obyek
jalan tampak memanjang dan lurus pada jarak tertentu.
Secara umum untuk dapat membedakan obyek maka di bagi rona foto udara
kedalam 6 kelas yaitu dari hitam-hitam keabuan, abu-abu kehitaman, abu-abu, abu-
abu keputihan, putih keabuan dan putih. Obyek yang berona hitam merupakan
obyek yang cenderung menyerap cahaya, Sedangkan obyek yang tampak puti
umumnya obyek yang memantulkan cahaya lebih banyak dari pada yang diserap.
Kenampakan rona obyek pada rona foto udara dari hitam ke puti sebagai berikut :

Rona hitam yang ditimbulkan foto udara disebabkan karena obyek yang
bersifat menyerapkan cahaya atau obyek yang vegetasi dapat berupa Hutan, semak
belukar dan kebun campuran. Demikian juga rona hitam keabuan sampai abu-abu,
sedangkan obyek yang menampakkan rona putih sampai putih keabuan cenderung
tidak menyerap cahaya antara lain tubuh air, lahan terbuka dan areal persawahan.
Areal persawahan walaupun bervegetasi (padi) namun menampakkan warna putih
sebagai akibat lahan sawah merupakan lahan basah yang dapat memantulkan
cahaya. Secara kasar interpretasi jenis penutupan lahan berdasarkan kenampakan
rona disajikan pada gambar 2.

Gambar 2. Hasil interpretasi berdasarkan rona

7
Interpretasi obyek untuk data foto udara ini selain memperhatikan rona yang
ditampilkan, untuk dapat memetakan penutupan lahan harus memperhatikan unsur
interpretasi lainnya dan informasi data dasar yang tersedia terutama informasi jalan.
Unsur interpretasi yang dapat membantu dalam membedakan penutupan lahan
yang berona sama antara lain kedekatan dengan sungai atau jalan. Obyek warna
putih dapat mencakup sawah dan lahan terbuka. Untuk dapat membedakan sawah
dengan lahan terbuka maka memperhatikan situsnya, yaitu sawah cenderung
terletak dekat dengan aliran sungai. Untuk obyek sungai tampak bahwa selain
berona putih, karena letaknya tertutup vegetasi menimbulan rona gelap dari
bayangan rona hitam yang ditimbulkan oleh vegetasi. Namun demikian,
kenampakan sungai dapat diidentifikasi berdasarkan bentuknya yang memanjang
dan berkelokan. Hasil pembatasan (delineasi) jenis penutupan lahan dapat dilihat
pada gambar 3.

Bayangan

Gambar 3. Digitasi obyek pada foto udara


Pada gambar 3 memperlihatkan pembatasan obyek penutupan/penggunaan
lahan yang kurang lebih memiliki kesamaan dalam rona dan tekstur rona. Lahan
sawah (Sw) pada gembar diatas berona putih sampai putih keabuan dan bertekstur
halus, lahan tegalan (Tg) berona abu-abu keputihan bertekstur halus, permukiman

8
(Pr) berona abu-abu tekstur sedang, kebun campuran berona hitam, hitam keabuan
dan abu-abu keputian dengan tekstur yang kasar, lahan semak belukar (Sb) berona
hitam ke abu-abuan sampai abu-abu bertekstur halus sampai sedang, hutan
sekunder (Hs) berona hitam ke abuan sampai abu-abu tekstur halus sampai sedang,
dan lahan terbuka (Lt) beronah putih tekstur halus.
Gambar diatas juga menunjukkan adanya banyangan pada lahan semak
belukar dimana sebagian berona abu-abu dan sebagian berona hitam sebagai
akibat terhalang oleh punggung bukit. Karena dipandang sebagai bayangan maka
rona hitam yang ditimbulkan pada citra diatas pada dasarnya masih merupakan
lahan semak belukar. Hasil akhir pembatasan obyek pentupuan lahan berdasarkan
pertimbangan rona, tekstur permukaan, situs, bentuk dan banyangan sebagaimana
terdapat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hasil pemetaan penggunaan lahan pada foto udara skala 1 : 50.000

Hasil pemetaan obyek penutupan lahan pada citra foto udara sebagaimana
disajikan pada gambar 4 dapat dikatakan tergolong kasar. Kebanyakan obyek tidak
dapat dipisahkan sebagai akibat memiliki ciri rona yang sama dan tersebar dalam
unit penutupan lahan yang lebih dominan. Satuan jenis penggunaan lahan yang

9
dominan pada foto udara tersebut adalah kebun campuran. Pada satuan
penggunaan lahan kebun campuran tersebut sebagian besar menutupi
kenampakan obyek yang lain seperti permukiman dan jalan, sehingga obyek
pemukiman tidak dapat dipisahkan lebih banyak sedangkan obyek jalan sulit untuk
dibatasi atau dipetakan.
Citra Landsat 7 Resolusi 30x30 m
Citra landsat merupakan citra hasil prosesing secara elektro magnetik
sehingga berbeda dengan citra foto udara yang diperoleh melalui prosesing
fotogrametri. Terutama dalam hal kenampakan warna/rona diman foto udara hanya
menampakkan obyek dalam warna hitam dan putih dengan rona mulai dari sangat
gelap sampai ronah cerah. Sementara Citra landsat menunjukkan berbagai macam
warna sebagaimana terdapat Gambar 5.

Gambar 5. Kenampakan obyek permukaan pada Citra Landsat resolusi


30 x 30 meter di wilayah Bogor Barat
Kenampakan warna pada citra landsat Gambar 5 merupakan hasil kombinasi
band komposit R,G,B = 5,4,2 antara lain terdapat warna hijau, biru, ungu, kuning,
dan coklat. Kenampakan obyek berdasarkan kombinasi warna komposit ini untuk
daerah yang bervegetasi memberikan warna hijau, coklat dan kuning, tubuh air atau

10
daerah yang diairi (lahan basah) seperti sungai dan sawah tampak berwarna biru,
lahan sawah yang dijadikan tegalan berwarna campuran biru dan ungu, lahan kebun
campuran berwarna hijau kuning sampai kuning bercampur warna ungu, semak
belukar hijau kekuningan permukiman tampak berwarna ungu, dan jalan tampak
violet. Deteksi penggunaan lahan berdasarkan warna disajikan pada gambar 6.

Gambar 6. Deteksi jenis penggunaan lahan berdasarkan kenampakan warna


pada citra landsat 7.

Identifikasi obyek dari segi bentuk pada citra landsat ini terutama jelas pada
obyek alami seperti sungai yang memperlihatkan bentuk memanjang dan
berkelokan dan obyek buatan seperti jalan yang juga memanjang dan adanya
persimpangan. Sungai dan jalan masing-masing memiliki warna yang berbeda yaitu
sungai berwarna biru dan jalan berwarna violet bercampur ungu sebagai akibat
warna permukiman penduduk.

11
6a. kenampakan bentuk sungai 6b. Kenampakan bentuk jalan
Dari segi ukuran, kenampakan obyek yang bisa dipisakan yaitu antara sungai
utama dan percabangan sungai, dimana sungai utama tampak lebih besar
dibandingkan percabangan-percabanagan sungai. Untuk permukiman penduduk
dan obyek lainnya tidak dapat dipisahkan berdasarkan ukuran. Dari segi tekstur
dapat diidentifikasi berdasarkan kelompok obyek, sebagai contoh tekstur lahan
sawah dan tegalan cenderung bertekstur halus sedangkan tekstur lahan kebun
campuran bertekstur kasar. Bayangan yang terdapat pada citra landsat disebabkan
karena posisi obyek terhalang oleh obyek lain. Gambar dibawah ini merupakan
lahan semak belukar yang berwara hijau kekuningan, akibat tertutup oleh punggung
pegunungan maka tampak berwarna hijau kehitaman.

6c. Banyangan penutupan semak belukar tampak hijau kehitaman

Selain dari banyangan penutupan lahan semak belukar, obyek sebagian


sungai dan jalan juga muncul sebagai bayangan sebagai akibat tertutup oleh kebun
campuran dan permukiman penduduk. Beberapa bobyek juga dapat dibedakan
berdasarkan hubungan antara obyek. Sebagai contoh lahan sawah berasosiasi
dengan adanya air dan permukiman penduduk berhubungan dengan adanya jalan,
atau dugaan akan lahan tegalan berasosiasi dengan lahan sawah yang telah
ditanami lahan kering sehingga menampakkan violet. Sedangkan dari segi situs
untuk lahan sawa cenderung dekat dengan air. Situs lahan semak cenderung di
daerah berbukit, lahan kebun campuran pada lahan datar dan berbukit, hutan
rakyat pada areal kebun campuran atau dekat dengan aktifitas masyarakat

12
sedangkan situs hutan sekunder diwilayah berbukit. Hasil identifikasi obyek
berdasarkan unsur-unsur interpretasi citra yang dikenali, dipetakan penggunaan
lahan sebagaimana terdapat pada Gambar 7.

Gambar 7. Hasil pemetaan penggunaan lahan dari citra landsat 7


resolusi 30 x30 meter

Hasil pemetaan citra landsat sebagaimana disajikan pada gambar 5 terdapat


sepuluh penggunaan/penutupan lahan yaitu hutan rakyat, hutan sekunder, kebun
campuran, lahan terbuka (galian c), permukiman penduduk, semak belukar, lahan
sawah, tegalan, tubuh air (sungai) dan jalan. Dari hasil klasifikasi ini tampak bahwa
wilayah permukiman tidak dapat dikelaskan lebih rinci sebagai akibat kenampakan
ukuran obyek yang acak dan tidak memperlihatkan bentuk dan ukuran yang lebih
detail. Demikian juga dengan obyek jalan tidak dapat dipisahkan secara detail
menurut kelas-kelas ukuran jalan.

13
4.3. CITRA ALOS
Interpretasi penutupan lahan pada citra ALOS resolusi 10 x 10 meter lebih
baik dibandingkan foto udara dan citra lansat resolusi 30 x 30 meter. Karena
semakin besar resolusi dari citra ALOS maka identifikasi obyek selain berdasarkan
warna/rona juga dapat dibedakan berdasarkan bentuk, ukuran, tekstur, pola dan
situs. Dengan kenampakan obyek yang lebih baik dari citra ALOS ini maka selain
mengenali obyek-obyek permukaan, akan tetapi juga obyek-obyek tersebut dapat
diklasifikasikan lebih lanjut. Gambaran obyek obyek permukaan pada citra ALOS
dengan menggunakan perbandingan band komposit R, G,B, : 3,4,2 pada gambar 8.

Gambar 8. Kenampakan obyek permukaan pada Citra ALOAS resolusi


10 x 10 meter di wilayah Kabupaten Bogor
Citra ALOS perbandingan band 3,4,2 sebagaimana yang ditampilkan
Gambar 8 menunjukkan warna hijau, hijau muda, putih, coklat tua, ungu sampai
ungu kehitaman, biru tua dan hitam. Secara umum wilayah yang dilakukan
interpretasi (Kabupaten Bogor) ini sebagian besar telah beralih fungsi kearah

14
permukiman. Kenampakan warna hijau yang ditampilkan pada citra adalah
mencirikan obyek vegetasi yang diduga dapat berupa kebun campuran atau semak
belukar. Warna biru tua memanjang diduga obyek kolam darat, warna coklat
kemerahan merupakan lahan terbuka atau perumahan yang hendak dibuka, warna
coklat tua dengan pola teratur menunjukkan perumahan, warna ungu menunjukkan
perumahan terutama perumahan rakyat, warna ungu dan putih diduga
pabrik/gudang pabrik dan warna ungu dan putih duga kompleks pabrik/industri,
warna putih juga menunjukan obyek awan, warna hijau tua menunjukkan obyek situ
dan sungai sedangkan hitam menunjukkan obyek jalan jalan.
Dalam hal bentuk, untuk obyek jalan dapat dipisahkan atau dikelaskan
menjadi beberapa macam yaitu jalan tol, jalan raya primer dan jalan raya sekunder.
Jalan tol pada senantiasa menunjukkan adanya lingkaran dan berukuran lebih besar
dibandingkan jalan primer dan jalan sekunder. Jalan primer dapat dibedakan dari
jalan sekunder berdasarkan ukuran dimana jalan primer tampak lebih besar
dibandingkan jalan sekunder. Bentuk lain memanjang dan berkelok menunjukan
obyek sungai, bentuk agak bulat (persegi empat dan persegi panjang hijau tua)
menunjukkan situ. Gambaran tentang bentuk jalan, sungai dan situ sebagai berikut
:

8a. Jalan Tol dan Jalan Primer 8b. Sungai

15
8c. Situ
Untuk membedakan obyek juga dapat didasarkan pada ukuran obyek
terutama pada perumahan. Perumahan penduduk (rumah-rumah desa) tampak
berukuran lebih kecil dibandingkan permukiman sedang, pabrik/gudang pabrik dan
kompleks industri/pabrik tampak berukuran besar.

8d. Permukiman biasa 8e. Perumahan sedang

8f. Pabrik/Gudang Pabrik 8g. Kompleks Industri

Kenampakan diatas juga menunjukan perbedaan tekstur antara kelas


permukiman, dimana permukiman biasa atau rumah pedesaan tampak bertekstur
halus, perumahan sedang berteksur sedang, pabrik/gudang dan kompleks industri
(pabrik) bertekstur lebih kasar. Selain itu juga dapat dibedakan berdasarkan pola
dimana permukiman biasa menunjukkan pola menyebar dan tidak teratur rapi,
sedangkan perumahan dan kompleks industri/pabrik menunjukkan pola yang
teratur rapi. Kompleks pabrik dan industri selain ditata secara rapi juga terkait
dengan keberadaan obyek lain dalam lingkungan industri tersebut seperti adanya
taman dan situ/danau buatan.
Pada citra ini dugaan obyek juga dapat di dekati berdasarkan banyangan
dan situs. Tampilan obyek memanjang berwarna biru tua yang ditutupi warna hijau
muda dari vegetasi diduga terdapat obyek kolam darat atau tambak yang ditutupi

16
vegetasi (gambar 8h) dan kenampakan lahan terbuka dekat sungai diduga lahan
tegalan (gambar 8j).

8h. Kolam darat/tambak 8i. Bayangan Awan

8j. Tegalan

Hasil interpretasi citra ALOS berdasarkan kesamaan unsur-unsur


interpretasi citra dapat dipetakan penggunaan/penutupan lahan di wilayah
Kabupaten Bogor seperti terdapat pada Gambar 9.

17
Gambar 9. Hasil pemetaan penggunaan lahan dari citra ALOS
resolusi 10 x10 meter
Pentutupan/penggunaan lahan hasil pemetaan dari interpretasi terhadap
citra ALOS sebagaimana disajikan gambar 9 memperlihatkan klasifikasi obyek
penutup lahan ke dalam kelas yang lebih detail. Penupan lahan permukiman
(bangunan) dapat dikelaskan menjadi permukiman biasa, perumahan sedang,
pabrik/bangunan pabrik dan kompleks industri. Demikian juga dengan jalan dapat
dikelaskan menjadi jalan tol (jalan layang), jalan raya primer dan jalan sekunder.
Hal ini berbeda dengan hasil klasifikasi yang dilakukan pada data foto udara dan
citra landsat. Adanya perbedaan klasifikasi disebabkan karena resolusi dari data
citra ALOS lebih besar dibandingkan citra landsat dan foto udara. Akaibat resolusi
lebih besar dari citra ALOS maka unsur-unsur interpretasi (warna, bentuk, tekstur,
ukuran, pola, bayangan dan situs) lebih baik ditampakkan dibandingkan data citra
landsat dan foto udara.
Pada foto udara yang menjadi kunci utama pembedaan obyek penutupan
lahan adalah rona bentuk (khusus sungai) dan tekstur, demikian juga dengan citra
landsat dominan pembedaan obyek terutama warna, bentuk, tekstur dan situs
sedangkan kenampakan unsur interpretasi lainnya pola, ukuran, banyangan, dan
asosiasi bersifat relatif sehingga dalam hal penentuan batas kelas pentupan lahan
masih bersifat lebih kasar dibandingkan citra ALOS. Selain perbedaan tersebut,
dijelaskan bahwa jenis-jenis pentupan lahan dari hasil pemetaan berbeda sebagai
akibat lokasi interpretasi yang tidak sama antara citra ALOS dengan foto udara dan
citra landsat. Hasil klasifikasi pada foto udara dan citra lansdat menunjukkan
penggunaan pertanian lebih dominan sedangkan hasil klasifikasi dengan citra ALOS
menunjukkan penggunaan non pertanian yang lebih dominan
Lokasi citra ALOS yang dijadikan obyek interpretasi pada umumnya telah
tersebar dengan penggunaan permukiman dibandingkan pertanian. Penggunaan
lahan pertanian kebun campuran yang dipetakan pada gambar 9 umumnya telah
terdapat permukiman-permukiman penduduk yang tersebar diantara lahan

18
pertanian (lahan bervegetasi) tersebut. Akibat dari ukuran-ukuran permukiman
penduduk yang relatif kecil dan tidak teratur atau menyebar menyebabkan
pemukiman diantara lahan pertanian tersebut tidak dapat dipetakan sebagai unit
penggunaan tersediri. Dengan dapat dikatakan bahwa salah satu kelemahan
interpretasi tergantung pada ukuran obyek relaif kecil obyek dan sebarannya yang
tidak mengelompok.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil interpretasi yang dilakukan terhadap data penginderaan


jauh yaitu Foto udara, Citra Landsat dan Citra ALOS disimpulkan bahwa :
1. Perbedaan skala/resolusi data penginderaan jauh mempengaruhi kenampakan
obyek penutupan lahan.
2. Citra ALOS beresolusi besar (10x10 m) sehingga menampakkan unsur-unsur
interpretasi lebih baik dibandingkan citra landsat dan foto udara. Unsur-unsur
interpretasi pada citra alos dapat dikenali berdasarkan warna dan rona, bentuk,
ukuran, pola, tekstur, banyangan, asosiasi dan situs. Pada foto udara dan
landsat dominan tampak jelas adalah rona dan warna, tekstur dan bentuk untuk
obyek tertentu.
3. Hasil klasifikasi dengan menggunakan Citra ALOS untuk penutupan lahan
pemukiman dan jalan dapat dikelaskan lebih detail dibandingkan foto udara dan
citra landsat. Perbedaan lokasi interpretasi menyebabkan perbedaan jenis
penutupan lahan yang dihasilkan.
4. Interpretasi citra semakin baik apabila ukuran obyek besar dan pola sebaran
yang mengelompok.

19
DAFTAR PUSTAKA
Febrianto.2007. Interpretasi citra satelit SPOT 5 Untuk pemetaan penggunaan lahan
Kecamatan semarang barat Kota Semarang Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang. Http://digilib.unnes. ac.id
Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Liew .2001. PRINSIP DARI Remote Sensing. Center for Remote Imaging, Sensing
dan Prosessing. National University of Singapore. www.crisp.nus.edu.sg
Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

20