Anda di halaman 1dari 24

Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW

Biaya Operasional Sekolah (BOS)

HASIL SURVEY
Citizens’ Report Card
Bidang Pendidikan – Biaya Operasional Sekolah

I. Pendahuluan

Kebijakan Biaya Operasional Sekolah (BOS) terbit akibat kebijakan pemerintah untuk
menaikkan harga BBM pada Maret 2005. Atas dasar pertimbangan untuk ’mengalihkan’
subsidi dari orang kaya ke orang miskin, maka Pemerintah dalam hal ini Departemen
Pendidikan nasional dan Departemen Agama membuat skema BOS. Dari total Rp. 17,8
triliun dana yang disediakan pemerintah, sektor pendidikan awalnya hanya mendapat
jatah sebesar Rp. 4,13 trilyun1. Bujet ini akan dibagikan dalam bentuk beasiswa
kepada 9,69 juta siswa. Masing-masing untuk sekolah dasar (SD) Rp. 25 ribu, sekolah
menengah pertama (SMP) Rp. 65 ribu serta sekolah menengah atas (SMA) Rp. 120 ribu.

Dirjen Dikdasmen Depdiknas, pada waktu itu, Indra Djati Sidi mengkategorikan 9,69
juta siswa miskin menjadi tiga kelompok penerima beasiswa; Pertama, untuk siswa
miskin jenis beasiswanya berupa bantuan khusus murid (BKM); Kedua, siswa putus
sekolah, mendapat beasiswa retrieval2; Ketiga, siswa yang tidak mampu melanjutkan
sekolah namun masih memiliki minat belajar, diberi beasiswa transisi3 (Kompas, 3
Maret 2005).

Tabel 1. Rencana Jumlah Penerima Beasiswa Tahun 2005


Jenjang Siswa Miskin Siswa Miskin Siswa Miskin Total
(masih (Putus (Tidak Sasaran
bersekolah) Sekolah) Melanjutkan)
SD/MI 6.025.671 277.607 144.700 6.447.978
SMP/MTs 1.727.925 107.148 518.760 2.353.833
SMA/SMK/MA 698.458 25.262 154.960 888.680
Jumlah 8.452.054 420.017 818.420 9.690.490
Sumber: Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan Depag (2005)

Akan tetapi, usulan pemerintah tersebut mendapat penolakan dari kelompok


masyarakat, diantaranya Koalisi Pendidikan, juga dari Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR). Alasannya sederhana, selain dianggap diskriminatif, pengalaman tahun-tahun

1
Berdasarkan perhitungan kenaikan harga BBM bulan maret 2005.
2
Beasiswa retrieval adalah beasiswa bagi siswa miskin yang masih mau bersekolah, tetapi akibat
kekurangan dana terpaksa putus sekolah
3
Beasiswa transisi adalah beasiswa bagi siswa miskin yang tidak sangup melanjutkan ke tingkat
selanjutnya

1
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

sebelumnya, model yang digulirkan pemerintah sangat mudah diselewengkan


terutama oleh penyelenggara pendidikan di daerah dan sekolah.

Mekanisme dana kompensasi, yang diberikan langsung kepada sekolah, diharapkan


menjadi langkah awal bagi pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dasar
gratis seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945 maupun UU Sisdiknas 2003. Dengan
demikian, visi education for all yang telah menjadi kesepakatan global, memberi
peluang bagi semua anak didik menikmati layanan pendidikan dasar. Selain itu dapat
meminimalkan praktek korupsi berupa pungli, penyunatan beasiswa atau manipulasi
dan ketidakakuratan siswa penerima beasiswa.

Akhirnya, Panitia Kerja DPR dalam RAPBN-P 2005 sepakat merubah pola pemberian
dana kompensasi menjadi program sekolah gratis di SD dan SMP dalam bentuk Biaya
Operasional Sekolah. Beasiswa hanya diberikan pada tingkat SMA dan sederajat dalam
bentuk bantuan khusus murid (BKM). Total dana yang disediakan pun bertambah
menjadi Rp. 6,271 triliun (Media Indonesia, 6 Juni 2005)

Tabel 2. Kebutuhan Anggaran BOS


No Kegiatan Sasaran Unit Cost Biaya
1 Beasiswa Reguler (Periode Januari-Juni)
a. SD/MI 5,930.000 Siswa 60.000 355,800,000,000
b. SLTP/MTs 2,353,000 Siswa 120.000 282,384,000,000
SMA/SMK/MA 640,000 Siswa 150.000 96,000,000,000
Total (Jan-Juni) 734,184,000,000
2 Beasiswa Reguler (Periode Juli- Desember)
SMA/SMK/MA 698,458 Siswa 390.000 272,398,620,000
Total (Juli – Des) 272,398,620,000
3 Bantuan Operasional Sekolah (Juli-Desember)
SD/MI 28,779,709 Siswa 117,500 3,381,615,807,500
SD/Salafiyah 108,177 Siswa 117,500 12,710,797,500
SLTP/MTs 10,625,816 Siswa 162,250 1,724,038,646,000
SMP/Salafiyah 114,433 Siswa 162,250 18,566,754,250
Total BOS 5,136,932,005,250
4 Safeguarding 128,423,300,131
TOTAL DANA KOMPENSASI Sektor Pendidikan 6,271,937,925,381
Sumber: Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan Depag (2005)

Dana BOS disalurkan kepada lebih dari 39 juta siswa SD/SMP dan sederajat di seluruh
Indonesia dengan total nilai Rp. 5,136 trilyun. Sedangkan dana BKM sebesar Rp.
272,39M hanya disalurkan pada 698,458 siswa SMA dan sederajat di empat belas
provinsi.

2
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Besarnya dana BOS yang diterima tiap provinsi dan siswa yang menjadi sasaran untuk
dijangkau seperti pada tabel. 3 dibawah.

Tabel 3. Alokasi Dana BOS Tiap Provinsi


No Provinsi SD/MI/SDLB/Salafiah SD SMP/MTs/SMPLB/Salafiah Total Total
Siswa Dana Siswa Dana Siswa Dana
1 Jawa Timur 4,402,480 517,291,400,000.- 1,640,204 266,123,099,000.- 6,042,684 783,414,499,000.-
2 Jawa Tengah 3,936,459 462,533,932,500.- 1,623,688 263,443,378,000.- 5,560,147 725,977,310,500.-
3 Banten 1,286,246 151,133,905,000.- 428,620 69,543,595,000.- 1,714,866 220,677,500,000.-
4 NTB 614,900 72,250,750,000.- 231,151 37,504,249,750.- 846,051 109,754,999,750.-
5 Riau 638,441 75,016,817,500.- 220,606 35,793,323,500.- 859,047 110,810,141,000.-
6 DI Yogyakarta 305,581 35,905,767,500.- 154,805 25,117,111,250.- 460,386 61,022,878,750.-
7 Bali 376,203 44,203,852,500.- 137,578 22,322,030,500.- 513,781 66,525,883,000.-
8 SulTeng 287,954 33,834,595,000.- 103,773 16,837,169,250.- 391,727 50,671,764,250.-
9 BaBel 132,501 15,568,867,500.- 44,399 7,203,737,750.- 176,900 22,772,605,250.-
10 Gorontalo 133,746 15,715,155,000.- 36,884 5,984,429,000.- 170,630 21,699,584,000.-
11 Sumatera Barat 651,851 76,592,492,500.- 257,497 41,778,888,250.- 909,348 118,371,380,750.-
12 Jawa Barat 4,859,618 571,005,115,000.- 1,756,477 284,988,393,250.- 6,616,095 855,993,508,250.-
13 DKI Jakarta 916,040 107,634,700,000.- 389,676 63,224,931,000.- 1,305,716 170,859,631,000.-
14 KalBar 593,956 69,789,830,000.- 186,693 30,290,939,250.- 780,649 100,080,769,250.-
15 Lampung 1,068,544 125,553,920,000.- 402,882 65,367,604,500.- 1,471,426 190,921,524,500.-
16 Bengkulu 204,039 23,974,582,500.- 89,277 14,485,193,250.- 293,316 38,459,775,750.-
17 SumSel 948,218 111,415,615,000.- 341,601 55,424,762,250.- 1,289,819 166,840,377,250.-
18 SulTeng 299,954 35,244,595,000.- 119,934 19,459,291,500.- 419,888 54,703,886,500.-
19 KalSel 425,023 49,940,202,500.- 150,407 24,403,535,750.- 575,430 74,343,738,250.-
20 NTT 681,026 80,020,555,000.- 171,671 27,853,619,750.- 852,697 107,874,174,750.-
21 Kep. Riau 132,545 15,574,037,500.- 41,785 6,779,616,250.- 174,330 22,353,653,750.-
22 Jambi 524,138 61,586,215,000.- 143,021 23,205,157,250.- 667,159 84,791,372,250.-
23 Sulsel 1,038,855 122,065,462,500.- 385,412 62,533,097,000.- 1,424,267 184,598,559,500.-
24 Aceh 674,914 79,302,395,000.- 251,508 40,807,173,000.- 926,422 120,109,568,000.-
25 Sumatera Utara 2,019,975 237,347,062,500.- 848,187 137,618,340,750.- 2,868,162 374,965,403,250.-
26 KalTim 406,627 47,778,672,500.- 140,686 22,826,303,500.- 547,313 70,604,976,000.-
27 Sulawesi Utara 257,290 30,231,575,000.- 95,292 15,461,127,000.- 352,582 45,692,702,000.-
28 Maluku 229,103 26,919,602,500.- 85,842 13,927,864,500.- 314,945 40,847,467,000.-
29 KalTeng 285,080 33,496,900,000.- 82,997 13,466,263,250.- 368,077 46,963,163,250.-
30 Maluku Utara 158,464 18,619,520,000.- 52,040 8,443,490,000.- 210,504 27,063,010,000.-
TOTAL 28,489,771 3,347,548,092,500.- 10,614,593 1,722,217,714,250.- 39,104,364 5,069,765,806,750.-
Sumber: Laporan Perkembangan PKPS BBM Bidang Pendidikan, http://pelangi.dit-plp.go.id/

Tujuan BOS

Menurut pemerintah4, BOS ditujukan untuk membantu sekolah/madrasah/salafiyah


dalam rangka membebaskan iuran siswa namun sekolah tetap dapat mempertahankan
mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Sasaran BOS adalah semua
SD/MI/SDLB/SMP/MTs/SMPLB dan Salafiyah setara SD dan SMP (termasuk sekolah
keagamaan non Islam), baik negeri maupun swasta di seluruh kabupaten/kota dan
propinsi di Indonesia. Akan tetapi program Kejar Paket A, Paket B, dan SMP Terbuka
tidak termasuk sasaran dari PKPS BBM, karena ketiga program tersebut telah dibiayai
secara penuh oleh Pemerintah.

Besar dana yang diterima oleh sekolah berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan;

4
Mengacu kepada Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Program Kompensasi
Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM), Untuk SD/MI/SDLB/Salafiyah Setara SD dan
SMP/MTs/SMPLB/Salafiyah Setara SMP, Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama

3
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

a. SD/MI/SDLB/Salafiyah; Rp. 117.500/siswa untuk periode Juli-Desember 2005


atau 235.000/Siswa/Tahun.
b. SMP/MTs/SMPLB/Salafiyah; Rp. 162.250/siswa untuk periode Juli-Desember
2005 atau 324.500/siswa/tahun

Tabel 4. Sasaran dan Unit Cost BOS


Jenjang Pendidikan Sasaran dan Biaya per Siswa
Siswa Rp/Siswa
BOS-SD/MI 28,779,709 235.000 / tahun
BOS-SMP/MTs 10,625,816 324.000 / tahun
BOS-Salafiyah setara SD 108,177 235.000 / tahun
BOS-Salafiyah setara SMP 114,433 324.000 / tahun
Beasiswa SMA/SMK/MA 698,458 65.000 / tahun
Sumber: Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan Depag

Sekolah yang dalam setahun penerimaan Anggaran Penerimaan dan Belanja


Sekolahnya (APBS) lebih kecil dari BOS harus membebaskan biaya sekolah berupa
komponen seperti; uang formulir pendaftaran, buku pelajaran pokok dan buku
penunjang, perpustakaan, pemeliharaan, ujian sekolah, ulangan umum bersama, dan
ulangan umum harian, honor guru dan tenaga kependidikan honorer, serta kegiatan
kesiswaan (perinciannya lihat tabel 5 dibawah). Selain itu, sekolah juga diwajibkan
untuk membantu siswa kurang mampu yang mengalami kesulitan transportasi dari dan
ke sekolah (Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan Depag, 05).

Sedangkan sekolah dengan penerimaan APBS lebih besar dari BOS, diwajibkan
membebaskan iuran seluruh siswa miskin yang ada di sekolah tersebut. Sisanya
digunakan untuk mensubsidi siswa lain sehingga iuran bulanan siswa lebih kecil atau
sama dengan sebelum sekolah menerima dana BOS. Sedangkan bagi sekolah yang
tidak ada siswa miskin, maka dana digunakan untuk mensubsidi seluruh siswa,
sehingga dapat mengurangi iuran yang dibebankan kepada orang tua siswa minimum
senilai dana BOS yang diterima sekolah (Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan
Depag, 05).

BOS harus menjadi salah satu sumber penerimaan dalam APBS disamping dana yang
diperoleh dari Pemda atau sumber lain. Pengunaan BOS harus berdasarkan
kesepakatan dengan Komite Sekolah/Madrasah. Khusus untuk Salafiyah penggunaan
dana BOS, berdasarkan kesepakatan antara Penanggungjawab Program dengan
Pengasuh Pondok Pesantren, disetujui oleh Kasi PEKAPONTREN (Pendidikan
Keagamaan dan Pondok Pesantren) Kabupaten/Kota. Bagi sekolah keagaman non
Islam, penggunaan dana BOS berdasarkan kesepakatan antara Kepala
Sekolah/Penanggungjawab Program disetujui oleh PEMBIMAS (Pembimbingan
Masyarakat)5.

5
Program BOS, http://pelangi.dit-plp.go.id/

4
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Adapun besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mendanai kegiatan belajar mengajar
(KBM) per siswa per tahun sesuai dengan jenjang pendidikan yang telah dikalkulasi
oleh balitbang Depdiknas untuk siswa SD sebesar Rp. 235 ribu per tahun dan untuk
siswa SMP sebesar Rp. 324,5 ribu per tahun. Rincian peruntukkan biaya seperti pada
tabel 5. dibawah.

Tabel 5. Rincian Unit Biaya BOS


No Komponen Unit Biaya/Siswa/Tahun
SD/MI SMP/MTS
1 Alat Tulis 58.000 81.500
2 Daya dan Jasa 53.000 70.500
3 Perbaikan dan Pemeliharaan 42.000 62.500
4 Pembinaan Siswa 21.000 32.000
5 Pembinaaan, pemantauan, pengawasan, 9.500 11.750
dan pelaporan
6 Peralatan 12.000 16.250
7 Bahan Praktek 9.000 13.000
8 Dll (rapat pengurus, kegiatan komite, dll) 30.000 37.000
TOTAL 235.000 324.500
Sumber: Balitbang Depdiknas 2004.

Mekanisme BOS

Proses penentuan sekolah penerima BOS setidaknya dilakukan dalam empat tahapan;
Pertama, tim PKPS-BBM Pusat mengumpulkan data jumlah siswa per sekolah melalui
tim PKPS-BBM Propinsi dan Kabupaten/Kota. Kedua, Atas dasar data jumlah siswa per
sekolah, tim Pusat membuat draft alokasi dana BOS per kabupaten/kota dan
mengirimkan kepada tim PKPS-Propinsi dan Tim Kabupten/Kota untuk diverifikasi,
dengan melampirkan data jumlah siswa per sekolah di kabupaten/kota tersebut
sebagai bahan acuan kabupaten/kota dalam menetapkan alokasi di tiap sekolah.
Ketiga, Tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota menetapkan sekolah penerima BOS melalui
Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota dan
Kandepag Kab/Kota. Keempat, tim PKPS-BBM Kab/Kota mengirimkan SK tersebut ke
Tim Propinsi tembusan Tim Pusat (Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan Depag,
05).

Sedangkan penyalurannya, sekolah harus membuka nomor rekening atas nama


lembaga (tidak boleh atas nama pribadi). Kemudian dana BOS disalurkan sekaligus
dalam satu tahap untuk periode Juli-Desember 2005. Penyaluran dana dilaksanakan
oleh Tim PKPS-BBM Tingkat Propinsi melalui PT. Pos/Bank Pemerintah. Tim PKPS-BBM
Kabupaten/Kota dan Tim PKPS-BBM Sekolah harus mengecek kesesuaian dana yang
disalurkan oleh Kantor Pos/Bank dengan alokasi BOS yang ditetapkan oleh masing-
masing Tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota. Jika terdapat perbedaan dalam jumlah dana
yang diterima, harus segera dilaporkan kepada Kantor Pos/Bank dan Tim PKPS-BBM

5
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Propinsi diselesaikan lebih lanjut (Bahan Sosialisasi PKPS-BBM – Depdiknas dan Depag,
05).
Tim PKPS-BBM Sekolah mengambil dana BOS sekaligus dari Kantor Pos/Bank, sesuai
dengan jumlah dana yang disalurkan dengan menandatangani kuitansi sebagai bukti
penerimaan. Dana BOS harus disimpan dalam rekening sekolah dan masuk dalam pos
penerimaan di dalam RAPBS. Pengambilan BOS dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan
diketahui oleh Ketua Komite Sekolah. Dana BOS harus diterima secara utuh, tidak
diperkenankan melakukan pemotongan atau pungutan biaya apapun dengan alasan
apapun dan oleh pihak manapun.

Grafik 1. Alur Alokasi dan Seleksi


Alokasi BOS & BKM
Tim PKPS BBM per Propinsi/Kab,
serta draft alok BOS per sek
Tim PKPS BBM
Pusat Propinsi

Merekap & mengirim alokasi Mengirim SK Alokasi BOS & BKM per
BOS & BKM per Sek/Kab alokasi BOS & Kab, serta draft alokasi
BKM per BOS per sekolah
sekolah

Tim PKPS BBM


Kab/Kota

Verifikasi & meng-


Mengirim SPPB SK-kan, alokasi
BOS, SK penerima per sekolah, serta
BKM mengirim SK ke
sekolah dan
Tim PKPS BBM Pos/Bank
Sekolah
Membuka
Rekening

Grafik 2. Mekanisme Penyaluran Dana BOS


MENERBITKAN MENERBITKAN
DINAS SPM SP2D
KPPN
PENDIDIKAN PROPINSI Bank KPPN
PROPINSI
PENCAIRAN
DANA
MENGAJUKAN
KANTOR POS
SPP
PROPINSI

SATKER PKPS-BBM PROPINSI


KANTOR POS
KAB/KOTA

MASUK KE REKENING
SEKOLAH

6
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

ICW melakukan survey pada pertengahan bulan Agustus sampai awal oktober 2005
untuk mengetahui pelaksanaan program BOS, khususnya pada SD negeri, di Jakarta,
Kabupaten Garut, Kota Semarang, dan Kota Kupang. Survey ini dimaksudkan untuk
mengetahui apakah pelaksanaan BOS sebagai kompensasi BBM sudah berjalan dengan
baik tanpa penyelewengan. Analisis selanjutnya diarahkan pada tingkat pengetahuan
dan partisipasi orang tua murid SD Negeri untuk ikut memantau pengelolaan dana BOS
di SD Negeri anaknya. Survey ini juga untuk mengetahui apakah masih ada pengutan-
puingutan di sekolah walaupun telah menerima dana BOS.

II. Analisis hasil Survey

1. Profil responden

a. Daerah asal responden


Survey dilakukan dengan menggunakan ukuran sample untuk setiap daerah
secara proporsional berdasarkan jumlah SD Negeri. Banyaknya SD Negeri yang
terpilih disuatu daerah menentukan jumlah responden yang diwawancarai (lihat
lampiran tentang Metodologi Penelitian).

Grafik 1. Asal daerah responden

33.38%
35,0
P 26.70%
30,0
e
20.03 19.89
r 25,0
s
e 20,0
n 15,0
t
a 10,0
s
5,0
e
0,0
Jakarta Kota Semarang Kota Kupang Kab Garut

Pada grafik 1. terlihat bahwa Jakarta merupakan daerah paling banyak


respondennya yakni sebesar 33,38 % kemudian dikuti oleh kota Semarang 26,70
%. Kota Kupang 20,03 %, dan Kabupaten Garut sebesar 19,89 %.

7
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

b. Jenis kelamin responden


G r a fi k 2 . J e n i s K e l a m i n R e sp o n d e n

70.3%
80,0
P
70,0
e
r 60,0
s 50,0 29.7%
e
40,0
n
t 30,0
a 20,0
s
10,0
e
0,0
L a k i -l a k i P e re m p u a n

c. Agama Responden
G r a fi k 3 . A g a m a R e sp o n d e n

9 0 ,0 8 0 .1 %

8 0 ,0
P 7 0 ,0
e
r 6 0 ,0
s
e 5 0 ,0
n
4 0 ,0
t
a 3 0 ,0
s 1 5 .5 %
e 2 0 ,0

1 0 ,0 3 .9 %
0 .1 % 0 .1 % 0 .2 % 0 .1 %
0 ,0
Is la m Pr o te s tan K a t o lik H in d u Bu d h a Ko n g L a in n y a
Hu ch u

d. Suku Responden
G a m b a r 4 . S u k u R e sp o n d e n
4 5 ,0
4 0 .2 %
4 0 ,0

P 3 5 ,0
e
r 3 0 ,0 2 6 .3 %
s
2 5 ,0
e
n
2 0 ,0
t
a 1 5 ,0 1 3 .4 %
s 9 .6 %
e 6 .8 %
1 0 ,0

5 ,0 0 .6 % 1 .1 % 1 .2 %
0 .5 % 0 .3 %
0 ,0
Jaw a Su n d a M e la y u M ad u r a B u g is Be ta w i Ba ta k M in a n g L a in n y a T im o r

8
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

e. Tingkat Pendidikan Responden


Grafik 5. Tingkat Pendidikan Responden

Tam at akadem i atau lebih tinggi 6.8%


Masih kuliah 2.3%
Tidak tam at PT 1.1%
29.9%
Tam at SLTA/s ederajat
Tidak tam at SLTA/s ederajat 2.5%
Tam at SLTP/Se derajat 16.4%
Tidak tam at SLTP/se derajat 3.9%
Tam at SD/sede rajat 25.6%
Tidak tam at SD/Sede rajat 9.4%
Tidak Pernah Sekolah 2.2%

0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0

Persentase

f. Pekerjaan Responden
Grafik 6. Pekerjaan Responden
48.8%
50.0

45.0

P 40.0
e 35.0
r
s 30.0
e
25.0
n
t 20.0 15.0%
a
s 15.0
e 8.1% 8.4% 7.0%
10.0 6.0% 4.7%

5.0 1.3%
0.7%
0.0
PN

Pe

Po

La
Pe

Pe

Ib
ar

u
ira

in
ns
da

ta
lis
S/

ny
ni
sw
G

aw

iu

i/T
ga

um
/N
ur

na

a
as

NI
ng

an

el

ah
u

ta

ay
Sw

ta
an

ng
as
ta

ga

9
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

g. Tingkat Pendapatan Keluarga Responden tiap bulan

Grafik 7. Tingkat Pendapatan Keluarga Responden tiap bulan

23.2% 22.9%
25,0 21.2%

20,0
P
16.0%
e 14.9%
r
s 15,0
e
n
t 10,0
a
s
e
5,0 1.7%
0.2%

0,0
Kurang Rp 300 ribu Rp 500 ribu Rp 750 ribu Rp 1 juta - Rp 2,5 juta - Besar dari
dari Rp 300 - Rp 500 - Rp 750 - Rp 1 juta Rp 2,5 juta Rp 5 juta Rp 5 juta
ribu ribu ribu

Responden survey sebagian besar dari keluarga menengah miskin, dimana


keluarga yang pendapatan per bulannya kurang dari 750 ribu rupiah sekitar 65%.
Selanjutnya keluarga dengan penghasilan menengah (750 ribu – 5 juta rupiah)
sekitar 33%. Sisanya dari keluarga kaya dengan penghasilan diatas 5 juta rupiah
perbulannya.

2. Pemahaman Responden atas Program BOS


a. Pengetahuan orang tua murid atas kebijakan BOS pemerintah
Semenjak subsidi BBM dikurangi pada maret lalu, pemerintah merancang
mekanisme transfer subsidi untuk bidang Pendidikan dan Kesehatan. Maka,
lahirlah kebijakan BOS yang ditujukan untuk mengurangi biaya pendidikan yang
ditanggung orang tua murid. Keberhasilan program ini tergantung dari
pengetahuan orang tua murid akan dana BOS di SD anaknya, sehingga mereka
tidak perlu mengeluarkan biaya pendidikan untuk menunjang KBM lagi.
Pertanyaan pertama adalah apakah orang tua murid mengetahui kebijakan
dana BOS dari pemerintah ?

Hasil survey menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil saja orang tua murid SD
Negeri yang mengetahui kebijakan pemerintah mengenai dana BOS. Hasil
survey CRC menunjukkan bahwa hanya 35,7% saja dari orang tua murid SD
Negeri yang mengetahui kebijakan BOS. Sedangkan sisanya 61,3 % menyatakan
tidak mengetahui kebijakan pemerintah mengenai BOS. Angka 61,3 %
menandakan pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, tidak melakukan sosialisasi
dengan baik (lihat dari grafik 8).

10
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Grafik 8. Apakah anda m engetahui atau tidak m engetahui kebijakan pem erintah
m engenai BOS (Bantuan Operasional Sekolah) di SD anak anda?

64.3%

70,0
P 60,0 35.7%
e
50,0
r
s 40,0
s
e 30,0
n 20,0
t
10,0
a
0,0
Ya Tidak

Pertanyaan selanjutnya mengenai besaran dana BOS tiap siswa per tahun yang
diterima sekolah. Pertanyaan ini ditujukan pada orang tua murid yang
sebelumnya menjawab mengetahui kebijakan BOS. Hasil survey CRC
ditunjukkan oleh grafik 9 berikut.

Grafik 9. Jika tahu kebijakan pem erintah m engenai BOS, berapakah


nilai BOS yang diperoleh tiap anak di SD anak anda ?

64,7%
70,0%

P 60,0%
e
r 50,0%
s
40,0%
e
n
30,0%
t
13,8%
a 12,2%
20,0%
s 7,6%
e 10,0% 1,7%

0,0%
Rp 50 ribu Rp 100 ribu Rp 235 ribu Rp 500 ribu Tidak Tahu

Hasilnya menunjukkan bahwa dari 35,7 % (atau 35,7% x 1500 = 353, lihat
grafik 8.) orang tua murid yang mengetahui kebijakan BOS, sebanyak 64,7 %
orang tua murid SD Negeri menyatakan bahwa mereka tidak tahu besarnya
nilai BOS tiap anak. Hanya 13,8 % orang tua murid SD Negeri yang mengetahui

11
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

dengan tepat nilai BOS yang diperoleh tiap anak di SD anaknya6. Sebagian
kecil orang tua murid (7,6 %) menyatakan Rp 50 ribu, yang menyatakan
sebesar Rp 100 ribu sebanyak 12,2 %, dan Rp 500 ribu sebanyak 1,7 %.

Kami juga menanyakan mengenai sumber informasi mengenai program BOS.


Desain pertanyaan ini berusaha untuk melihat bahwa apakah sumber
informasi kebijakan BOS berasal dari lingkungan sekolah atau stakeholder dari
sekolah. Dari grafik 10 terlihat bahwa sumber informasi yang diperoleh oleh
orang tua murid mengenai kebijakan BOS sebanyak 36,7 % menyatakan dari
lainnya seperti dari media seperti TVtv, surat kabar, radio dan lain
sebagainya. Sedangkan yang menerima informasi dari aparatus SD, seperti
kepala sekolah 34,8% dan guru 19%. Ini menandakan minimnya sosialisasi
secaa langsung oleh kepala sekolah dan guru untuk menginformasikan
keberadaan rogram BOS. Walaupun, didalam juklak PKPS-BBM dijelaskan
kepala sekolah memberikan layanan termasuk penyebaran informasi.

Grafik 10. Jika tahu BOS, sumber informasi berasal dari ?

40.0% 34.8% 36.7%

P 35.0%
e
30.0%
r
s 25.0% 19.0%
e
20.0%
n
t 15.0%
a
10.0%
s 4.3% 4.0%
e 5.0% 1.2%

0.0%
Kepala Guru Orang tua Tetangga Langsung lainnya
sekolah murid dari anak

Dari Juklak BOS PKPS-BBM tidak disebutkan secara spesifik penggunaan media
massa sebagai medium sosialisasi mengenai program BOS. Artinya,
Pemerintah ’terbantu’ oleh informasi liptan dari media massa mengenai BOS.
Patut disayangkan minimnya sosialisasi yang terencana oleh pemerintah
menggunakan media massa. Semakin banyak informasi yang dimiliki oleh
publik, akan semakin membantu pelaksanaan suatu program.

6
Sesuai Juklak BOS PKPS BBM yang dikeluarkan oleh Depdiknas, dana BOS untuk tiap siswa SD/MISalafiyah
setara SD adalah sebesar Rp 235.000 selama setahun.

12
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Sebagai penentu atas kebijakan BOS, pemerintah berkewajiban untuk


mensosialisasikan kebijakan BOS ini pada orang tua murid yang mendapatkan
BOS. Salah satu ujung tombak sosialisasi kebijakan BOS adalah pihak sekolah.
Oleh karena itu, survey CRC ini juga menanyakan pada orang tua murid SD
negeri di empat daerah ini apakah ada atau tidak ada sosialisasi kebijakan
BOS di SD anaknya. Hasil survey ditunjukkan oleh grafik 11 berikut.

Grafik 11. Jika tahu BOS, apakah ada sosialisasi di SD anak anda ?

49.1% 47.2%

50.0%
45.0%

P 40.0%
e 35.0%
r
s 30.0%
e
25.0%
n
t 20.0%
a
s 15.0%
3.7%
e 10.0%
5.0%

0.0%
Ya Tidak Tidak menjawab

Dari grafik 11 terlihat bahwa, 49,1 % orang tua murid SD yang menyatakan
tahu kebijakan BOS menyatakan bahwa ada sosialisasi BOS di SD anaknya.
Sisanya, 47,2 % menyatakan bahwa tidak ada sosialisasi kebijakan BOS di SD
anaknya dan 3,7 % tidak menjawab pertanyaan ini. Jadi hampir setengah dari
orang tua murid yang tahu BOS menyatakan ada sosialisasi BOS di SD anaknya,
namun setengahnya lagi tidak mengetahui apakah ada sosialisasi kebijakan
BOS di SD anaknya.

Secara umum, dari hasil survey ini terlihat bahwa sebagian besar orang tua
murid tidak mengetahui kebijakan BOS. Bagi orang tua murid yang
mengetahui BOS nampaknya tidak mengetahui informasi lebih dalam
mengenai besaran nilai BOS tiap murid di SD anaknya. Jika informasi besaran
nilai BOS tiap murid tidak diketahui maka ada kemungkinan total dana BOS
yang diperoleh pihak SD anaknya juga tidak diketahui orang tua murid SD
negeri empat daerah ini.

13
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Salah satu tujuan kebijakan BOS ini adalah mengurangi beban biaya
pendidikan orang tua murid terutama orang tua murid miskin karena kenaikan
harga BBM. Apakah kebijakan BOS memang mengurangi beban biaya
pendidikan yang ditanggun orang tua murid terutama orang tua murid miskin ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami melakukan pengolahan data dengan
menggunakan tabulasi silang antara tingkat pendapatan orang tua murid
dengan pengetahuan mereka atas kebijakan BOS.
Grafik 12. Profil pendapatan orang tua m urid yang tahu dan tidak tahu kebijakan BOS

69.2%
70.0% 67.5% 66.7%
64.5% 65.0%

60.0% 56.0%
52.9%
P
e 50.0% 47.1%
r 44.0%
s
40.0% 35.5% 35.0%
e 32.5% 33.3%
30.8%
n
30.0% Ya
t
a Tidak
s 20.0%
e
10.0%

0.0%
Kurang Rp 300 ribu Rp 500 ribu Rp 750 ribu Rp 1 juta - Rp 2,5 juta Besar dari
dari Rp 300 - Rp 500 - Rp 750 - Rp 1 juta Rp 2,5 juta - Rp 5 juta Rp 5 juta
ribu ribu ribu

Dari grafik 12 diatas terlihat bahwa tingkat pengetahuan orang tua murid
terhadap kebijakan BOS menurut pendapatan memiliki pola tertentu. Orang
tua murid dengan tingkat pendapatan kurang dari Rp 300 ribu cenderung
tidak tahu kebijakan BOS. Hanya 30,8 % dari kelompok orang tua murid
tersebut yang tahu kebijakan BOS, sedangkan sisanya 69,2% tidak mengetahui
kebijakan BOS. Namun pada orang tua murid dengan tingkat pendapatan lebih
tinggi, yakni Rp 300 ribu – Rp 500 ribu memiliki kecenderungan tahu BOS lebih
besar. Sebanyak 32,5 % dari orang tua murid pada kelompok pendapatan ini
mengetahui kebijakan BOS, sedangkan sisanya 67,5% tidak mengetahui
kebijakan BOS. Secara kasar, dari grafik 12 dapat dilihat bahwa semakin
tinggi tingkat pendapatan orang tua murid maka cenderung memiliki
informasi yang cukup mengenai kebijakan BOS.

Mengapa orang tua murid miskin cenderung tidak tahu kebijakan BOS
dibandingkan dengan orang tua lebih kaya ? Padahal target kebijakan
pemerintah sebenarnya justru mengurangi beban biaya keluarga miskin
karena kenaikan BBM. Salah satu penjelasan yang dapat diterima adalah

14
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

bahwa orang tua murid miskin kurang memiliki akses informasi ke media
massa karena keterbatasan menjangkau medium informasi tersebut. Hal ini
diperparah dengan minimnya sosialisasi langsung oleh aparatus sekolah.
Dampak yang mungkin timbul sangat mengkhawatirkan. Ditengah lilitan
ekonomi karena kenaikan BBM, orang tua miskin yang tidak mengetahui
bahwa pemerintah mensubsidi biaya pendidikan langsung anaknya,
kemungkinan menhentikan anaknya dari bangku sekolah. Biaya untuk
brsekolah sekarang sudah terserap untuk pemenuhan hidup yang lebih
mendesak seperti sandang dan papan.

b. Partisipasi orang tua murid dalam perencanaan, pengelolaan dan


pemantauan APBS (Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah)

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh pemerintah bahwa dana BOS yang
diperoleh sekolah harus termasuk dalam APBS. Untuk menghindarkan adanya
pungutan ganda, maka penyusunan APBS harus dilakuakn secara terbuka dan
partisipatif. Selain itu, agar pemantauan penggunaan dana BOS berjalan
dengan baik maka keterlibatan atau partisipasi orang tua murid juga sangat
diperlukan. Kurangnya partisipasi orang tua dalam memantau dana BOS
berarti juga semakin membuka peluang dana BOS diselewengkan oleh pihak-
pihak tertentu.

Dalam konteks ini, survey CRC ini juga menanyakan pada orang tua murid
mengenai pengetahuannya tentang APBS. Salah satu informasi penting dan
utama yang harus dimiliki orang tua murid SD adalah istilah rapat APBS atau
rapat keuangan atau rapat anggaran sekolah. Masalahnya jika orang tua murid
SD tidak mengetahui tiga istilah ini maka dapat dipastikan mereka tidak
terlibat dalam penyusunan, pengelolaan dan pemantauan penggunaan APBS.

Grafik 13. Apakah anda mengetahui ada rapat APBS, rapat keuangan,atau rapat
anggaran di SD anak anda ?

53,5%

54,0%
P 52,0%
e 46,5%
r 50,0%
a
s 48,0%
s
e 46,0%
n
t 44,0%
42,0%
Ya Tidak

15
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Dari grafik 13 terlihat bahwa sebanyak 53,5 % orang tua murid tidak
mengetahui ada rapat APBS, rapat anggaran, atau rapat keuangan di SD
anaknya. Sedangkan sisanya 46,5 % menyatakan mengetahui ada salah satu
rapat tersebut. Angka 46, 5% menandakan keterlibatan orang tua murid dalam
penyusunan alokasi dana di sekolah sangat terbatas. Pelibatan orang tua
murid menjadi syarat mutlak bagi pengelolaan sekolah yang baik dan dapat
meminimalkan penyalahgunaan anggaran di sekolah khususnya dana BOS.

Oleh karena itu, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dari 46,5 % orang tua
murid tersebut kemudian diundang dalam rapat tersebut di SD anaknya ?

Grafik 14. Jika tahu ada rapat RAPBS, apakah anda diundang
dalam rapat tersebut ?

65,1%
70,0%
P 60,0%
e 50,0%
r a 28,0%
40,0%
s s
30,0%
e e 6,9%
20,0%
n
10,0%
t
0,0%
Ya Tidak Tidak menjawab

Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 46,5% orang tua murid yang
mengetahui rapat APBS di SD anaknya (lihat grafik 13), 65,1 % diantaranya
menyatakan mereka diundang dalam rapat APBS tersebut. Namun demikian
masih terdapat, 28,0 % orang tua murid yang tidak diundang dalam rapat
APBS, dan 6,9 % tidak merespon perntanyaan ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah orang tua murid yang diundang


kemudian datang pada rapat tersebut ? Hasil survey CRC menunjukkan bahwa
dari 65,1 % yang diundang rapat tersebut, 81,44 % menyatakan bahwa mereka
bersedia datang memenuhi undangan rapat tersebut. Sedangkan 18,56 %
menyatakan tidak datang memenuhi undangan rapat tersebut.. Hal ini
menunjukkan besarnya animo orang tua murid untuk terlibat dalam
pengelolaan sekolah.

Sayangnya, banyak orang tua yang menjawab secara lisan bahwa rapat APBS
hanya membicarakan mengenai pungutan yang harus ditanggung oleh orang
tua murid. Hal ini menunjukkan, aparatur sekolah hanya memandang orang
tua murid sebagai ‘sapi perahan’ untuk memenuhi kebutuhan angaran. Jadi

16
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

pembahasan hanya berkisar sosialisasi sekaligus legalisasi pungutan oleh


sekolah, belum pada materi pengenai pengelolaan sekolah secara bersama.
Grafik 15. Jika tahu ada rapat APBS dan anda diundang untuk datang, apakah
anda biasanya datang pada rapat tersebut ?

81,44%

90,00%
P 80,00%
e 70,00%
r 60,00%
s
50,00%
e e 18,56%
40,00%
n
t 30,00%
a 20,00%
s 10,00%
0,00%
Datang rapat Tidak datang rapat

c. Berbagai Pungutan yang masih ada di SD Negeri pasca dana BOS bulan Juli
dicairkan

Adanya kebijakan BOS diharapkan dapat meringankan beban orang tua murid
dan menghapus pungutan-pungutan yang ada. Dalam Juklak BOS PKPM-BBM
dijelaskan bahwa SD yang mendapatkan dana BOS tidak dibolehkan memungut
beberapa pungutan seperti yang formulir pendaftaran masuk sekolah, uang
buku pelajaran pokok dan buku penunjang untuk perpustakaan, uang
pemeliharaan sekolah, uang ujian, uang ulangan umum bersana dan ulangan
umum harian, honor guru dan tenaga kependidikan honorer dan kegiatan
kesiswaan dari murid yang ada disekolahnya. Namun, kenyataannya beberapa
sekolah nampaknya masih melakukan pungutan terhadap orang tua murid.

Pertanyaan yang diajukan adalah pertama jenis pungutan apa saja yang masih
dilakukan oleh pihak sekolah ? Apakah dana subsidi BOS sebesar Rp 235.000 tiap
tahun dapat mengganti pungutan yang telah ada seperti yang selalu
didengungkan pemerintah ? Berapa besarnya dana yang harus dikeluarkan tiap
orang tua siswa tiap tahunnya ? Benarkan kebijakan BOS dapat mengurangi
beban orang tua murid tersebut ?

Untuk lebih jelasnya, pada survey ini ditanyakan mengenai pungutan yang
dilakukan terhadap murid kelas satu (murid baru). Kami ingin melihat apakah
dengan adanya penyaluran dana BOS, maka otomatis siswa SDN yang baru
masuk pada bulan Juli 2005 tidak dikenakan pungutan apapun.

17
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Grafik 16. Delapan jenis pungutan yang paling sering dipungut


di SD Negeri Jakarta, kota Semarang, Kota Kupang, dan Kab Garut saat ini

90% 79.0% 85.6% 85.7%

80% 76.2%
70% 68.7%
64.0%
60% 56.2%

50% 52.7%
47.3%
36.0%
40% 43.8%

30% 31.3%
23.8%
20% 21.0%
14.4% 14.3%
10%

0%
Ua

Ua
Ua

Ua

Ua

Ua

Ua

Ua
ng

ng
ng

ng

ng

ng

ng

ng
Pe
SP

Ek
LK

Uj

St

O
Ba

la
ia

ud
nd

st
P/

ng
S

h
n

ra
Ko

y
da

af

ra
un

ku
To
ta
n

ga
m

an
ra

rik
ur
Bu

ite

ul
ku

tia

Ada pungutan

er
as
p
pa

Bu

uk
ke

Tidak Ada pungutan


la

se
t

ko
la
h

Ternyata bahwa saat ini masih banyak pungutan diberbagai SD negeri, yang
mana jenis pengutan diatas seharusnya tidak ada lagi begitu sekolah yang
bersangkutan menerima dana BOS (sesuai juklak BOS PKPS-BBM). Pungutan
yang paling sering adalah pungutan uang LKS dan buku paket yakni 64,0 %.
Pungutan kedua adalah uang SPP/Komite tiap bulan sebanyak 52,7% dan
diikuti oleh uang pendaftaran masuk sekolah sebanyak 43,8 %.

Pungutan khusus kelas 1 SD Negeri

Dengan dana BOS diharapkan kebutuhan dana operasional sekolah telah


tercukupi dan tidak lagi memungut iuran dari orang tua murid. Namun
demikian, beberapa pungutan tetap berlangsung di SD negeri yang menerima
BOS. Oleh karena itu, untuk melihat pungutan riil di tiap SD pasca turunnya
subsidi BOS maka kami telah mengolah jenis pungutan yang diberlakukan
pada anak kelas 1. Hasil survey CRC ditunjukkan oleh grafik 18 dan 19.

18
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Grafik 17. Sembilan pungutan terbanyak terhadap murid kelas 1


di SD negeri Jakarta,kota Semarang, kota Kupang, dan Kab Garut
100.0% 89.1%
89.7% 91.7%
90.0% 92.9%
74.4% 75.6%
80.0%

70.0% 62.2%
57.8%
60.0% 50.6%

50.0% 49.4%

40.0% 42.2%
37.8%
30.0%
25.6% 24.4%
20.0%

10.0% 10.9% 10.3% Ada Pungutan


8.3% 7.1%
0.0% Tidak Ada Pungutan
Ua

Ua

Ua

Ua

Ua
Ua

Ua

Ua

Ua
ng

ng

ng

ng

ng
ng

ng

ng

ng
LK

In

Ba

Bu
SP
Pe

Ek

Bu
la
fa

ng
n

st
S

ku
P/

ku
h
k
da

ra
da

Ko

un

ra

aj
fta

um
ku
n

ga
m

ar
an
r

rik
Bu

ite

pu
an

ul
ku

ka
tia
m

er

n
as
pa

p
Bu
uk
ke

l
t

se

an
ko
la
h

Dari grafik 18 terlihat bahwa larangan pemerintah tidak berdampak sama


sekali terhadap SD negeri di empat daerah ini. Beberapa pungutan tetap ada
pada murid kelas 1 seperti uang pendaftaran masuk sekolah, uang LKS dan
buku paket uang bangunan, uang SPP/komite sekolah.

Pertanyaan selanjutnya mengenai pungutan ini adalah berapa besarnya


pungutan yang dibayar orang tua murid ke pihak sekolah? Kamn di empat
daerah untujk melihat apakah apakah dana BOS sebesar Rp 235.000 tiap
murid SD/sederajat mencukupi atau tidak? Hasil survey CRC menunjukkan
bahwa total rata-rata pungutan terbesar dalam setahun adalah uang
bangunan dengan rata-rata sebesar Rp 235.804. Pungutan terbesar kedua
adalah uang pendaftaran masuk sekolah yakni sebesar Rp 206.225, ketiga
terbesar adalah uang LKS dan buku paket sebesar Rp 205.673, keempat
adalah uang Study tour sebesar Rp 191.342, dan kelima adalah uang
SPP/komite sebesar Rp. 187.570.

19
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

Sedangkan, jika dihitung total semua pungutan untuk biaya langsung KBM
dalam setahun maka diperoleh orang tua murid membayar pungutan ke SD
anaknya dalam setahun sebesar Rp 1.515.740. Angka ini sangat kecil
dibandingkan dengan dana BOS yang disalurkan pemerintah ke tiap SD dalam
setahun sebesar Rp. 235.000. Sehinga, walaupun ada dana kompensasi BBM
dalam bentuk BOS, tidak serta merta meringankan beban orang tua murid.
Karena, sekolah masih akan menarik pungutan untuk menutupi defisit biaya.

Grafik 18. Rata-rata total besarnya tiap pungutan pada orang tua murid
oleh SD negeri di epat daerah (dalam rupiah)

Uang Infak 30,863

Uang Kebersihan 18,535

Uang Buku Ajar 114,821

Uang Buku Tumpukan 56,777

Uang Fotocopy 21,755

Uang Olah Raga 61,680

Uang Pergantian Kepsek 20,107

Uang Perpisahan 26,755

Uang Study Tour 191,342

Uang Perpustakaan 43,154

Uang SPP/Komite Sekolah 187,570

Uang LKS dan Buku Paket 205,673

Uang Daftar Ulang 59,772

Uang Ujian 34,909 235,804


Uang Bangunan
Uang Pendaftaran Sekolah 206,225

0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000

Selain pungutan yang dibayar kepihak sekolah, orang tua murid juga
mengeluarkan biaya lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan anaknya.
Beberapa biaya yang tidak langsung kepada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
yang diberikan orang tua langsung ke anaknya seperti uang seragam, tas,
sepatu, jajan, kursus, dan lainnya. Pengeluaran ini merupakan bagian
keseluruhan pengeluaran orang tua untuk pendidikan anaknya.

Hasil survey CRC ditunjukkan oleh grafik 21. Dari semua biaya langsung ini,
biaya transportasi merupakan biaya terbesar dibandingkan dengan biaya
lainnya dalam setahun. Rata-rata biaya transportasi yang dikeluarkan oleh

20
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

orang tua adalah Rp. 680.991. Biaya kedua terbesar dalam setahun adalah
uang saku/jajan sebesar Rp 540.711, dan biaya terbesar ketiga adalah biaya
kursus dengan sebesar Rp 432.662. Jika ditotalkan semua pengeluaran biaya
tidak langsung ke anaknya sebesar Rp 1.949.056.

Grafik 19. Rata-rata besanya pengeluaran langsung orang tua m urid


ke anak dalam setahun (dalam rupiah)

Biaya Lainnya 110,393

432,662
Biaya Kursus 680,991

Biaya Transportasi

Biaya Saku/Jajan
540,711

Biaya Sepatu 61,930

Biaya Tas 41,781

Biaya Seragam 80,588

0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000

Total pengeluaran orang tua dari dua jenis pengeluaran ini adalah Rp.
3.464.796 atau jika dibagi dengan 12, maka pengeluaran orang tua murid tiap
bulannya adalah Rp. 288.733 tiap bulannya.

21
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

KESIMPULAN

Dari dari analisis temuan lapangan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebagian besar orang tua murid SD negeri di Jakarta, kota Semarang, kota
Kupang, dan kabupaten Garut masih belum mengetahui dengan baik kebijakan
pemerintah mengenai BOS. Diantara orang tua murid yang tahu kebijakan BOS
ternyata juga hany sebagian kecil yang mengetahui dengan tepat nilai bantuan
untuk tiap anak dalam setahun. Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi
kebijakan BOS disetiap SD negeri di empat daerah ini.
2. Orang tua murid miskin cenderung tidakmengetahui kebijakan BOS pemerintah
dibandingkan dengan orang tua murid yang lebih kaya. Hal ini disebabkan karena
orang tua murid kaya memiliki akses informasi lebih besar ke sumber informasi.
3. Penyelewengan dana BOS sangat mungkin terjadi. Hal ini disebabkan karena
pertama, banyak orang tua murid yang tidak mengetahui kebijakan BOS, kedua
orang tua murid juga tidak dilibatkan dalam rapat penyusunan APBS. Maka, dapat
diperkirakan bahwa partisipasi orang tua murid akan sangat rendah dalam
memantau dana BOS di SD anaknya sehinggga membuka peluang penyelewengan
dana BOS.
4. Dana BOS ternyata belum dapat menghilangkan semua pungutan yang ada
disekolah saat ini. Larangan pemerintah sejauh ini nampaknya tidak berdampak
sama sekali terhadap adanya pungutan di SD negeri empat daerah ini. Hal ini
disebabkan karena dana BOS tidak mencukupi kebutuhan SD sekolah selama ini
dimana dananya selalu berasal dari pungutan ke tiap siswa. Total kebutuhan
sekolah yang salah satunya tergambar dari besarnya pungutan disekolah jauh
lebih besar dari besaran dana BOS yang diterima sekolah. Sekolah gratis sejauh
ini nampaknya masih sebatas ilusi bagi orang tua murid terutama orang tua murid
miskin.
5. Kenaikan harga BBM ternyata sangat menyulitkan orang tua murid. Biaya
langsung terbesar orang tua murid ke anaknya didominasi oleh biaya transportasi
pulang dan pergi kesekolah dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan orang
tua murid lainnya.
6. Sehingga, dikhawatirkan desakan ekonomi akan mendorong keluarga miskin
untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya. Dampak terburuk ini berpotensi
justeru meningkatnya jumlah putus sekolah.

22
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

LAMPIRAN :

METODOLOGI SURVEY

1. Populasi
Populasi dalam survey ini adalah orang tua murid SD Negeri yang terdapat di
Provinsi DKI Jakarta, Kabupaten Garut, Kota Semarang, dan Kota Kupang. Jadi
analisis dan kesimpulan yang diperoleh dari analisis data survey ini hanya berlaku
untuk populasi orang tua murid di empat daerah tersebut. Namun demikian,
kesimpulan ini dapat juga memberikan sedikit gambaran awal untuk tingkat
nasional.

2. Sampling

a. PSU (Primary Sampling Unit)


PSU adalah unit sampling terendah yang akan disurvey dan biasanya dalam
berbagai survey adalah responden yang akan diwawancarai. PSU dalam survey
CRC ini adalah orang tua murid yang terdapat di SD Negeri di empat daerah
tersebut.

b. SSU (Secondary Sampling Unit)


SSU adalah unit lebih tinggi dibandingkan dengan PSU dimana dalam satu SSU
terdapat lebih dari satu PSU. Biasanya penggunaan SSU ditujukan untuk
mengatasi masalah tidak adanya kerangka sampel (daftar semua PSU).. Begitu
juga dengan survey CRC ini, SSU yang digunakan adalah sekolah dasar negeri.
Hal ini disebabkan karena kerangka sampel orang tua murid SD negeri
diempat daerah sulit untuk didapatkan. Oleh karena itu, karena kerangka
sampel SD negeri di empat daerah tersebut mudah untuk diperoleh maka
dijadikan sebagai SSU.

c. Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam survey CRC kali ini adalah Two Stage
Random Sampling. Tajhap pertama teknik sampling ini adalah memilih secara
acak SSU atau SD negeri yang terdapat di empat daerah tersebut. Pemilihan
secara aca SD negeri menggunakan software statistik SPSS 12. Banyaknya SD
negeri yang dipilih secara acak bergantung pada banyaknya SD Negeri ditiap
empat daerah tersebut. Jakarta yang memiliki SD negeri terbanyak
mendapatkan porsi sampel yang lebih besar dibandingkan dengan tidak
daerah lainnya. Teknik ini di statistik dinamakan sampling with probability
proportional to size.

Tahap kedua dari sampling ini adalah memilih orang tua murid dari SD negeri
yang terpilih pada tahap pertama tadi. Pemilihan orang tua murid ini

23
Survey CRC Sektor Pendidikan – ICW
Biaya Operasional Sekolah (BOS)

mempertimbangkan distribusi kelas anaknya. Orang tua murid yang memilki


anak di elas yang lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk
terpilih.Secara singkat distribusi orang tua murid yang dipilih adalah adalah
kelas 1 dan 2 dipilih satu orang tua murid saja tiap kelas, sedangkan oranng
murid kelas 3 sampai kelas 6 masing-masingnya dua orang tua murid setiap
kelas. Hal dilakukan berdasarkan asumsi bahwa orang tua murid yang
memiliki anak dengan kelas lebih tinggi lebih sering kesekolah dan bertemu
dengan pihak sekolah dibandingkan dengan orang tua murid kelas lebih kecil.

d. Ukuran Sampel
Total SD negeri yang dijadikan sampel bergantung pada jumlah sampel orang
tua murid SD negeri di empat daerah tersebut. Dalam survey CRC ini jumlah
orang tua murid yang akan diwawancarai adalah 1500 orang responden.
Dengan jumlah sampel seperti ini diperkirakan MOE (margin of error) sekitar 3
% dengan tingkat kepercayaan 95 %.

3. Wawancara
Pengambilan data survey ini dilakukan dengan wawancara langsung dengan
responden yang bersangkutan. Wawancara dilakukan oleh surveyor yang telah
ditraining sebelumnya.

4. Kendali atas non sampling error


Selain sampling error (MOE), non sampling error juga diusahakan dikendalikan
dengan cara, pertama desain kuesioner yang baik, kedua uji coba kuesioner,
ketiga training dan briefing secara efektif surveyor sebelum melakukan
wawancara, keempat pengecekan secara acak hasil wawancara surveyor langsung
kerumah responden yang bersangkutan, kelima isian kendali mutu yang diisi oleh
surveyor, keenam koreksi atas entry data isian kuesioner ke software SPSS.

24