Anda di halaman 1dari 4

Rosalia Adisti

18208004

Sisi Lain Air Minum dalam Kemasan


Air merupakan hal yang vital untuk kehidupan. Salah satu penggunaan air yang
paling krusial adalah air untuk minum manusia. Dalam hal ini, air harus
memenuhi syarat-syarat tertentu sebelum dapat masuk ke tubuh manusia. Tidak
sedikit, air yang masuk ke tubuh manusia setiap hari di Amerik Serikat mencapai
3,7 liter untuk pria >18 tahun dan 2,7 liter untuk wanita >18 tahun, termasuk air
yang terkandung di makanan (Institute of Medicine of the National Academies,
2004).

DI berbagai belahan dunia, dan juga di Indonesia, ada beberapa jenis air minum.
Yang paling umum adalah air yang dialirkan oleh sistem penyediaan air minum
setempat, yang di Indonesia kita kenal dengan PAM/PDAM. Harga air PDAM ini
berbeda tiap kota, dengan contoh di Bekasi sebesar Rp 3.450,00 per meter kubik
(Kompas, 2010). Selain itu, ada pula air minum dalam kemasan (AMDK), yaitu air
dari mata air atau dari PDAM, diproses, kemudian dikemas dalam botol dan
dijual. Salah satu perbedaan air minum dalam kemasan dengan air PDAM, di
Indonesia, adalah air PDAM tidak dapat diminum langsung (harus direbus
terlebih dahulu) dan air minum dalam kemasan dapat diminum langsung. Selain
itu, masyarakat Indonesia juga umum mengambil air tanah untuk dipakai
sebagai air minum, dengan direbus dahulu. Sebagai perbandingan, harga yang
dikeluarkan masyarakat untuk air minum dalam kemasan adalah yang paling
tinggi dibandingkan dua pilihan lainnya untuk air minum di atas. Air minum
dalam kemasan botol contohnya, mencapai Rp 2.500,00 per satu setengah liter,
dan air minum dalam kemasan galon, Rp 11.000,00 per 19 liter.

Di Indonesia, air minum dalam kemasan sangat digemari masyarakat, terutama


kota besar, sebagai pilihan utama air minum, walaupun tingkat konsumsinya
tidak setinggi negara-negara lain. Tingkat konsumsi AMDK Indonesia 36 liter per
kapita per tahun. Di Thailand 70 liter per kapita per tahun, AS 80, Perancis 140,
dan Italia 165 (Fujiro.com, 2010). Sebagian masyarakat mungkin menganggap
air PDAM rerepot untuk diolah menjadi air minum, atau tidak percaya terhadap
air PDAM, sehingga mereka memilih AMDK. Memang, dari pengalaman penulis,
bahkan air PDAM kadang terlihat berwarna coklat keruh atau sering tersendat
alirannya (Yogyakarta). Hal ini yang mendorong keluarga penulis menggunakan
AMDK galon sebagai pemenuh kebutuhan air minum dan memasak, sedangkan
air PDAM digunakan untuk mandi, menyiram tanaman, dan mencuci, hal yang
agak miris jika ditilik dari kegunaan seharusnya air yang didistribusikan dari
PDAM – Perusahaan Daerah Air Minum.

Jadi, apa yang salah dengan AMDK? Pada proses pengolahan air minum,
perjalanan air dari pertama diambil hingga dapat diminum, yang mungkin juga
menghasilkan limbah dalam prosesnya, disebut energy footprint. Nah, air minum
yang energy footprint-nya paling besar adalah AMDK (Togar Silaban, 2009). Di
Amerika Serikat, untuk memproduksi air minum dalam kemasan yang
dikonsumsi pada 2007, energi yang dibutuhkan setara dengan 32 juta hingga 54
juta barel minyak. Energi ini digunakan untuk 4 tahap, yaitu memproduksi botol
plastik, mengolah air, mengisi dan menyegel botol, dan mendistribusikan air.

TL 4002 Rekayasa Lingkungan


Rosalia Adisti
18208004

Untuk tahap pertama, energi yang dibutuhkan untuk membuat botol plastik dari
bahan polietilena tereftalat (PET) di seluruh dunia mencapai 3 juta ton PET,
setara dengan 50 milyar barel minyak. Sedangkan, energi yang dibutuhkan
untuk tahap 2 tidak terlalu berpengaruh pada energi keseluruhan dan untu tahap
3 hanya 0,34% dari jumlah pada tahap 1. Untuk tahap 4, energi untuk
mentransportasikan botok-botol ai minum itu tergantung seberapa jauh botol
dan air itu dikirim dan jenis transportasi apa yang dipilih. (Live Science, 2009).

Jadi, apa yang salah dengan penggunaan energi itu? Peter Gleick, Presiden
Pacific Institute, mengatakan, energi sebanyak 32 hingga 54 juta barel minyak
untuk memproduksi AMDK adalah “unnecesary use of energy”, karena jumlah itu
2000 kali liebih besar daripada yang digunakan untuk membuat “tap water”, dan
juga sepertiga persen dari total konsumsi energi Amerika Serikat (Live Science,
2009). Bahkan, di London, ada gerakan yang diinisiasi Walikota London yaitu
“London Tap”, sebuah gerakan untuk kembali pada air perpipaan. Memang, di
London, sebagian AMDK yang dijual merupaka impor dari New Zealand. Hal itu
bisa dianggap tidak rasional, membawa air minum sedemikian jauh. Menteri
Lingkungan Hidup Inggris menganggap pemanfaatan AMDK “daft and morally
unacceptable” yaitu tidak masuk akal dan secara moral tidak dapat diterima
(Togar Silaban, 2009). Di sisi lain, tahun 2008, AS telah mengonsumsi 30 milyar
air kemasan, dan sebanyak 80% botol kemasan dibuang ke tanah. Jika dijajarkan
sampah plastik yang sulit didaur ulang ini dapat mengelilingi bumi sebanyak 150
kali (Era Baru, 2009).

Mengapa orang “sana” sangat menentang penggunaan AMDK? Karena, air


perpipaan/kran atau “air PDAMnya sono” dapat diminum langsung dari kran,
tanpa harus direbus dahulu atau membutuhkan proses lebih lanjut. DI Indonesia,
sesuatu yang mungkin tidak dapat diterima menurut penulis adalah apabila
seseorang membeli AMDK impor yang dijual di supermarket-supermarket
premium di Jakarta dan Surabaya. Toh, kualitaasnya kurang lebih sama dengan
AMDK produksi dalam negeri yang energy footprint-nya lebih kecil karena rantai
distribusinya lebih pendek. Di blognya, Togar Arifin Silaban, pakar teknik
lingkungan, mengatakan, PP No 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum mewajibkan air minum perpipaan yang didstribusikan ke
rumah-rumah harus bisa diminum langsung dari kran. Berikut kutipannya Pasal 6
ayat 1 dan 2 PP 16/2005:

(1) Air minum yang dihasilkan dari SPAM yang digunakan oleh masyarakat
pengguna/pelanggan harus memenuhi syarat kualitas berdasarkan peraturan
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

(2) Air minum yang tidak memenuhi syarat kualitas sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilarang didistribusikan kepada masyarakat.

Sedangkan, pada pasal 78 ayat 3,

(3) Penyelenggara SPAM yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan


Pemerintah ini wajib menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah
ini paling lambat 1 Januari 2008.

TL 4002 Rekayasa Lingkungan


Rosalia Adisti
18208004

Ia berpendapat, dari peraturan tersebut, seharusnya air PDAM dapat diminum


langsung. “Dari ketentuan tersebut air minum PDAM seharusnya bisa langsung
diminum dari keran. Artinya paling lambat tanggal 1 Januari 2008, kualitas air
minum PDAM sudah harus memenuhi persyaratan air langsung minum,
sebagaimana diatur oleh ketentuan Menteri Kesehatan. Kalau tidak bisa, berarti
PDAM melanggar aturan, dan karenanya bisa dituntut ke pengadilan.” (Togar
Silaban, 2009). Untuk peraturan, penulis berasumsi itu adalah Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan
Pengawasan Kualitas Air Minum, di mana terdapat persyaratan bakteriologis,
kimiawi, radioaktif, dan fisik untuk air minum. Berikut kutipan pasal 2:

(1) Jenis air minum meliputi :

a. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga;

b. Air yang didistribusikan melalui tangki air;

c. Air kemasan;

d. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman


yang

e. disajikan kepada masyarakat;

harus memenuhi syarat kesehatan air minum.

(2) Persyaratan kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.

(3) Persyaratan kesehatan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.

Secara logis, seharusnya air yang didistribusikan dapat diminum langsung.


Namun, ternyata, marilah kembali pada definisi air minum menurut PP 16/2005
Pasal 1: Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses
pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan
dan dapat langsung diminum. Pada keputusan Menkes 2002, Air Minum adalah
air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum. Ternyata, memang
ada kata-kata “proses pengolahan” di sini, yang mungkin dapat menjadi dalih air
minum PDAM harus dimasak terlebih dahulu sebelum bisa langsung diminum.
Namun, menurut penulis, dari sisi bahasa menurut logika kebanyakan (penulis
bukanlah ahli bahasa, namun mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia sejak SD
hingga SMA) konjungsi “dan” sebelum dan dapat langsung diminum
menunjukkan, dapat langsung diminum tersebut tidak harus melalui proses
(proses, kalaupun ada, telah terjadi sebelum air mendapat tambahan kata
“minum” di belakangnya). Jika memang begitu, benar apa yang Togar Silaban
katakan, air PDAM sekarang seharusnya sudah memenuhi kualitas dapat
langsung diminum dari kran. Sayangnya, penulis tidak mendapat data pengujian

TL 4002 Rekayasa Lingkungan


Rosalia Adisti
18208004

air PDAM, apakah dapat langsung diminum atau belum. Namun, jika dilihat
secara umum di masyarakat, sepertinya belum.

Dilihat dari banyaknya ketidakperluan energi untuk membuat air minum dalam
kemasan, penulis tentunya berharap air PDAM di Indonesia dapat diminum
langsung. Jika tidak, sebaiknya menggunakan air PDAM setelah direbus atau
menggunakan AMDK. Tetapi, penggunaan AMDK sebaiknya dapat diminimalisir
tingkat kerugiannya, dengan membeli AMDK produksi dalam negeri yang tidak
memerlukan rantai panjang distribusi dan menggunakan AMDK galon, yang
tentunya menghemat penggunaan plastik. Kita telah melihat, bagaimana
produksi botol plastik membutuhkan energi yang sangat besar.

Sumber (diakses pada 21 September 2010)

http://www.togarsilaban.com/2009/08/06/walikota-london-menghimbau-untuk-tidak-beli-
air-minum-dalam-kemasan/
http://www.togarsilaban.com/2009/08/03/air-minum-dalam-kemasan-tidak-ramah-
lingkungan/
http://www.livescience.com/environment/090318-bottled-water-energy.html
http://erabaru.net/kesehatan/34-kesehatan/901-air-minum-dalam-kemasan-sangat-tidak-
ramah-lingkungan
http://fujiro.com/bisnis-amdk/
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/07/27/20021183/Tarif.PDAM.Ikut.Naik..15.Pers
en.Saja
http://iom.edu/Reports/2004/Dietary-Reference-Intakes-Water-Potassium-Sodium-
Chloride-and-Sulfate.aspx
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005

TL 4002 Rekayasa Lingkungan