Anda di halaman 1dari 3

1

MENGAMPUNI
Renungan oleh: Anton Sri Probiyantono

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah
kepada kami” [Matius 6: 12]

“karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu
juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni
kesalahanmu” [Matius 6: 14-15]

Apa Arti Pengampunan?

Pengampunan merupakan proses. Proses yang dimulai dari dalam diri kita sendiri untuk meminta
ampun dan mengampuni. Kita meminta ampun karena berbuat salah kepada sesama kita. Sebaliknya,
kita mengampuni karena ada orang yang kita ampuni. Kita mengampuni orang lain (baik orang lain
itu sendirian ataupun banyak) yang kita anggap berbuat salah kepada kita. Ia atau mereka yang (kita
rasakan) telah menyakiti diri kita melalui pemikiran, perkataan ataupun perbuatan (termasuk di
dalamnya adalah perbedaan pendapat).

Tidak hanya itu, ada juga orang yang perlu mengampuni dirinya sendiri. Biasanya ini terjadi pada
orang yang memiliki sifat perfeksionis. Orang yang penginnya menjalankan suatu kegiatan secara
sempurna tetapi tidak terjadi seperti yang diharapkan. Ia dapat menjadi frustasi dan malah menjadi
beban bagi orang lain karena kemarahannya yang meletup-letup di depan orang lain.

Mengapa Mengampuni (Memaafkan)?

Kita melakukan proses pengampunan karena dorongan beberapa hal berikut:


1. Orang lain meminta maaf kepada kita. Orang yang telah menyakiti kita menyadari kesalahannya,
mendatangi kita (via tatap muka atau cara lain – seperti SMS atau telpon), dan menyatakan
penyesalannya. Kita merasa “tergerak”, kemudian mengampuni kesalahan tersebut. Pernyataan ini
menunjukkan bahwa kita bersedia mengampuni karena orang tersebut meminta ampun.
2. Kita mengampuni walaupun orang tersebut tidak menyadari kesalahannya dan menyatakan
penyesalannya. Jadi mengampuni saja orang tersebut walaupun kita merasa disakiti. Kita
mengampuni karena kesadaran untuk mengampuni. Kegiatan yang kita pilih sendiri tanpa ada
paksaan ataupun dorongan dari fihak luar. Terdapat dorongan pada diri kita untuk taat kepada
Bapa di Sorga. Kita mengampuni karena kita juga ingin diampuni sebagaimana perintah Bapa.

Dalam percakapan kita sehari-hari, kita sering mendengar keluhan bahwa si A telah melukai hati si B.
jika kita Tanya Si B, si B juga merasa demikian terhadap si A. Kita konfirmasi ke C, maka si C akan
memberikan penegasannya bahwa si A dan si B sama-sama bersalah. Jadi sebenarnya siapa yang
salah dong? Secara sadar ataupun tidak, mereka saling menyatakan sakit hati mereka terhadap teman-
teman mereka. Mereka sakit hati karena perkataan ataupun perbuatan temannya tidak sesuai dengan
apa yang diharapkannya. Kalau hal ini dibiarkan terus berkembang tanpa ada proses untuk saling
meminta maaf, maka mereka sebenarnya memupuk rasa sakit hati tersebut sehingga menjadi luka
batin yang malah dapat menjadikan dirinya semakin sakit.

Hubungan antara mengasihi dan mengampuni itu sangat dekat. Orang-orang bilang setipis lembaran
bawang merah. Walaupun tidak terlalu benar pernyataan berikut ini, “orang yang sakit hati dengan
2
 

orang lain yang tidak terlalu dikenal itu lebih mudah disembuhkan daripada dengan orang yang telah
dikenalnya dengan baik”. Kalau seseorang merasa sakit hati dengan orang terdekatnya, maka ia
merasa “seluruh dunia” telah membuatnya tidak berharga. Logikanya, kalau orang yang dianggap
paling dekat saja berkata demikian maka orang yang tidak dikenalnya juga akan memperlakukan hal
yang sama. Maka dari itu, beberapa kali kita mendengar orang yang depresi dan bunuh diri karena
patah hati. Ia kecewa dan putus harapan. Ia merasa dunia ini tidak mengharapkan kehadirannya.
Proses pengampunan tidak terjadi pada dirinya. Baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain.

Maka dari itu, sebaiknya kita tidak memandang enteng pemikiran, perkataan ataupun perbuatan kita
kepada orang lain. Terutama bagi orang-orang terdekat kita. Walaupun orang tersebut tidak
menyatakan ketidaksukaannya, sebaiknya kita pilih kata-kata positif untuk kita tanamkan dalam
pikiran kita. Mari kita lihat Filipi 4:8 yang menyatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua
yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang
sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

Jika Tidak (Mau) Mengampuni

Dampak sakit hati yang kita rasakan bisa sangat hebat terhadap fisik kita. Metabolisme di dalam
tubuh kita sangat terpengaruh oleh perasaan kita tersebut. Kita bisa merasa sakit kepala, mual atau
bahkan muntah-muntah. Kita dapat saja menyangkal tetapi secara biologis, kepala dan perut memang
ada hubungannya. Sakit di dalam perasaan kita (yang sebenarnya terjadi di otak kita) termanifeskan
dalam bentuk sakit kepala. Hal ini juga mendorong perut untuk memproduksi asam dalam lambung
(maag) secara berlebihan. Kenyataan ini juga ternyata malah menghambat produksi zat-zat dalam
tubuh yang diperlukan untuk menahan rasa sakit. Tidak heran jika seseorang memupuk rasa sakit
hatinya, konsekuensinya adalah bertambahnya rasa sakit hati. Hal itu jika dilihat dari segi fisik kita.
Bahwa kita bukannya mendapatkan rasa nyaman melainkan malah rasa sakit yang semakin
menyesakkan diri kita.

Lebih celaka lagi, ternyata bahwa rasa sakit hati kita tersebut bukannya baik di hadapan Allah Bapa
kita. Dalam ayat-ayat yang kita baca tadi ditegaskan bahwa jika kita tidak mengampuni kesalahan
orang lain, maka kita juga tidak akan diampuni (dimaafkan) oleh Sang Pencipta kita. Agar kita
diampuni, kita juga harus mau mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita.

Sulit memang untuk dilakukan. Tetapi ini adalah perintah Tuhan yang tidak dapat kita tawar.

Refleksi

Mari kita baca Matius 18:21-35 “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan,
sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai
tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan
perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi
karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual
beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu
menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati
raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan
hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang
seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan
kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai
dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan
segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata
kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau
memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah
3
 

mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo,
sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga
terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu"

Dari ayat-ayat ini kita dapat belajar bahwa tindakan kita terhadap orang lain merefleksikan bagaimana
kita ingin diperlakukan. Nah ini yang sering tidak diindahkan banyak orang.

Yang terjadi, sering kali kita tidak ingin diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang lain /
Kita ingin menunjukkan diri bahwa kita lebih baik daripada orang yang kita tuntut. Sebagaimana
perumpamaan tadi, kita merasa “hutang” orang lain kepada kita tidak seberapa besar. Kita
memposisikan diri bahwa sudah sewajarnya kita menuntut “hutang yang tidak besar tersebut”.
Ucapan yang sering dipakai adalah “aku kan lain… tidak seperti dia”, dan lain sejenisnya.

Kesimpulan

1. Dampak tidak mengampuni sangat luar biasa. Bagi diri kita sendiri di masa sekarang selama
hidup di dunia ini dan di masa mendatang untuk selama-lamanya.
2. Mengampuni adalah sebuah pilihan seseorang dengan kesadarannya sendiri.

------- oOo -------