Anda di halaman 1dari 2280

Tiraikasih website http://kangzusi.com.

Karya : SD LIONG
Sumber DJVU : Manise
Jilid 6,7,8 Editor Aink_Tea
Mulai Jilid 16 Editor MCH
Ebook oleh : Dewi KZ
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://kang-zusi.info http://ebook-dewikz.com

PENGANTAR
Cerita silat karangan sdr. S.D. Liong ini, benar-benar
mengejutkan. Sepintas memberi kesan seperti saduran. Tetapi
benar-benar memang sebuah hasil karyanya yang aseli.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Susunan bahasa yang lancar, thema cerita yang penuh liku-
liku kehidupan, pertempuran yang mendebarkan, romans yang
menyengsarakan dan humor yang mengocok perut,
menjadikan cerita Pendekar Blo'on ini benar-benar hidup dan
mengesankan.
Dengan hasil karyanya ini, berhasillah sdr, S.D. Liong
menempatkan diri dalam jajaran penulis-penulis cerita silat
yang bermutu,
Kami ucapkan Selamat Berkarya kepada Sdr. S.D. Liong dan
Selamat Membaca kepada sidang pembaca yang budiman.
Wassalam.
Penerbit
-oo0dw0oo-
Catatan :
Pendekar Bloon ini terdiri dari 2 Seri yaitu :
1. Pendekar Bloon
2. Bloon Cari Jodoh, yang terdiri dari 3 seri yaitu :
1. Pendekar Huru Hara
2. Pendekar Kalang Kabut
3. Pendekar Kocar kacir
Seri ke 2 dan 3 dari Bloon Cari Jodoh ini tidak pernah terbit
karena bpk SD Liong Keburu meninggal
Dewi KZ
-ooo0dw0ooo--
Tiraikasih website http://kangzusi.com.

Jilid 1
Mayat mengembara.

Suasana Wisma Perdamaian dipuncak Giok-li-nia gunung


Lo-hu-san tampak tegang- Beberapa tokoh persilatan yang
termasyur sedang mengadakan perundingan penting.
It ciang gan atau Jari tunggal-penakluk-dunia Kim-Thian-
cong yang menjadi pemimpin Dunia Persilatan telah meninggal
dunia. Menerima berita itu, Hui Gong g taysu ketua Siau-lim si
segera bergegas menuju ke Giok-li-nia. Demikian pula
Ang Bin tojin ketua Bu-tong pay, Hong Hong totiang ketua
Go bi Pay, rahib wanita Ceng Sian suthay ketua Kun-lun-pay
dan Sugong In ketu Kong tong pay.
Mereka termasuk anggauta tujuh partai besar yang
menanda-tangani Piagam Perdamaian. Kim Thian-cong lah
yang menciptakan piagam itu dan mendirikan Wisma
Perdamaian dipuncak Giok-li-nia.
"Apakah kita Perlu menunggu kedatangan ketua Hoa San
pay dan ketua Kay Pang yang belum datang ?" tanya Hui Gong
Taysu.
"Urusan ini sangat penting dan gawat, baik-lah kita tunggu
dulu kedatangan mereka. Apabila sampai tengah malam
mereka belum datang, terpaksa kita tinggal", Hong Hong tojin
ketua Gobi-pay menyatakan pendapat.
"Benar," sambut Ang Bin tojin atau Imam Muka-merah
ketua Bn-tong-pay, "kita harus cepat mengambil keputusan
dan bertindak. Besok pagi mungkin sudah tak sempat karena
tetamu-tetamu tentu sudah membanjir datang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ceng Sian suthay dan Sugong In menunjang pendapat
ketua Go-bi-pay juga dan Hui Gong tay-supun memutuskan
demikian. Ketua Siau-lim-si itu berpaling kearah tiga anak
muda yang berdiri di-samping meja.
"Apakah pesan terakhir dari Kim tayhiap kepada sicu
sekalian ?" seru ketua Siau-lim-si itu.
Sicu artinya "anda", istilah yang digunakan kanm paderi
apabila menyebnt lain orang.
"Suhu ingin apabila mungkin, supaya puteranya dapat
melihat wajah suhu yang terakhir," sahut Tio Goan-pa, murid
pertama dari Kim Thian-cong.
"O, puteranya yang bernama Kim Yu-yong itu ? Dimanakah
Kim sicu sekarang ?" tanya Hui Gong taysu.
Goan-pa menghela napas : "Ah, sudah sejak lima tahun
yang lalu, Yu-yong sute pergi meninggalkan rumah, entah
berada dimana ?"
Hui Gong taysu terperanjat : "Pergi ? Mengapa dia pergi ?".
Dengan suara rawan Goan-pa menjawab : "Suhu
mengusirnya karena jengkel . . . . "
"Jengkel ?" Hui Gong taysu menegas makin heran, "apakah
kesalahan Kim sicu sehingga Kim tayhiap mengusirnya ?"
Goan-pa muram wajahnya namun menyahutlah ia dengan
lancar : "Yu-yong sute keras kepala dan tak mau menurut
kata-kata ayahnya. Disuruh belajar silat, tak mau. Disuruh
belajar ilmu sastra, pun menolak. Kerjanya setiap hari hanya
bermalas-malasan, bermain-main dan piara beberapa macam
binatang, anjing, kera dan burung. Dan sejak subo meninggal
dunia, Yu-yong sute makin binal. Karena jengkel, suhu lalu
mengusirnya ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Suhu keras hati, sekali sudah terlanjur mengusir ia malu
untuk memanggil puteranya pulang," kata Goan-pa pula.
Keempat ketua partai persilatan itu terkesiap. Mereka tahu
bahwa Kim Thian-cong hanya mempunyai seorang putera
maka heranlah mereka mengapa Kim Thian-cong begitu tegah
mengusir puteranya.
"Adakah Kim tayhiap tak pernah menyuruh sicu bertiga
untuk mencari jejak Kim sicu ?" tanya Hui Gong taysu.
"Tidak pernah, "Goan-pa gelengkan kepala, tetapi kami
bertiga diam-diam memperhatikan keadaan suhu. Sejak
ditinggal oleh subo dan Kim sutepun pergi, suhu tampak
seperti kehilangan semangat, Suhu jarang bicara kalau tak
perlu. Sehari-hari hanya bermurung diri dalam kamar."
"Lalu apakah tindakan sicu ?"
"Diam-Diam kami berunding dan memutuskan untuk
bergiliran mencari jejak Yu-yong sute. Tetapi tak berhasil
menemukan tempat beradanya," menerangkan Goan-pa.
"Benar, Kim tayhiap tentu amat menderita batin," tiba-tiba
Ceng Sian suthay ketua Kun lun-pay membuka suara, "menilik
keterangan Tio sicu tadi bahwa Kim tayhiap telah
meninggalkan pesan terakhir agar puteranya dapat melihat
wajahnya yang penghabisan kali, tentu Kim tayhiap amat
merindukan puteranya. Kim tayhiap berjasa besar dalam
menyelamatkan kehancuran partai-partai persilatan Tiong-
goan, maka wajiblah kita membalas amalnya itu dengan
memenuhi pesannya yang terakhir."
"Ya, akupun setuju dengan pendapat Ceng Sian suthay,"
seru Ang Bin tojin ketua Bu-tong-pay, "Kim tayhiap seorang
pendekar yang meng-abdikan seluruh hidupnya untuk
kepentingan dunia persilatan sehingga dia tentu tak ada waktu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
untuk mendidik puteranya. Dalam hal ketidak bahagiaan-nya
Kim tayhiap dalam rumahtangganya, secara moral kita juga
ikut bertanggung jawab."
"Benar," Ang Bin tojin kembali berseru "maka selain
mengusahakan agar pesan terakhir dari Kim tayhiap itu
terlaksana kitapun wajib mencari puteranya itu sampai
ketemu."
Setelah hening beberapa saat, Hui Gong taysu berpaling
kepada Kwik Eng, murid kedua dari Kim Thian-cong : "Adakah
Kim tayhiap memberi pesan juga kepada sicu?"
Pemuda itu mengangguk : "Ya, suhu pesan agar kelak
dapat ditanam dipuncak Giok-li-nia di sisi subo."
"O, tentu saja akan kita laksanakan," kata Hui Gong taysu.
Kemudian ketua Siau-lim-si itu bertanya. kepada Liok Sian-li
dara lincah yang menjadi murid nomor tiga dari Kim Thian-
cong : "Li-sicu, apakah Kim tayhiap memberi pesan kepada li-
sicu ?”
Sian-li terkejut, wajahnya bergelombang ke-rut kemerahan.
Beberapa saat kemudian baru me-nyahut : "Ah, suhu tak
memnggalkan pesan apa-apa kepadaku."
Hui Gong seorang padri. Ia percaya penuh pada orang,
apalagi keterangan seorang anak perempuan, dan lebih-lebih
murid Kim Tnian-cong, jago dunia yang termasyhur jujur,
ksatrya dan mulia.
Suasana hening pula tetapi hati tokoh-tokoh persilatan itu
tetap sibuk memikirkan daya untuk melaksanakan pesan Kim
Thian-cong. Mereka menyadari bahwa dalam perjuangannya
selama berpuluh-puluh tahun untuk menyelamatkan partai-
partai persilatan agar pusaka ilmu warisan leluhur tak sampai
lenyap itu, Kim Thian cong mengikat banyak persahabatan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tetapi pun menanam banyak permusuhan. Banyak yang
memuja tetapi tak sedikit pula yang membencl.
Tiba-Tiba terdengar suara kentungan waktu beralun-alun
memecah kesunyian. Saat itu tepat jam duabelas tengah
malam.
"Ah. mengapa mereka belum datang ? Ada-kah terjadi
sesuatu pada diri mereka ?" Hui Gong taysu mcmbuka
pertanyaan. Pertanyaan yang tak dapat terjawab oleh ketiga
ketua partai persilatan yang lain.
"Mengingat waktunya sudah amat mendesak dan pula kita
sudah memberi waktu cukup untuk menunggu maka kurasa
kita mulai saja perundingan itu." kata Ang Bin tojin dari partai
Bu-tong-pay. Kawan-kawannya menyetujui.
Dalam pada menyetujui, Hui Gong taysupun mengajukan
pertanyaan siapakah yang akan memimpin perundingan itu.
Ketiga ketua partai persilatan serempak meminta agar paderi
ketua Siau-lim-si itu yang menjadi pimpinan.
"Baik, demi kepentingan Kim tayhiap pin-ceng (aku)
bersedia," kata Hui Gong taysu, "menurut hemat pinceng,
perundingan ini terdiri dari dua pokok persoalan yang
penting. Pertama, bagaimana kita hendak mengurus jenazah
Kim tayhiap dan kedua, mengangkat pengganti Kim tayhiap
sebagai Ketua Dunia Persilatan."
Kali ini Sugong In ketua Kong-tong-pay yang sejak tadi tak
pernah buka suara, berkata : "Menurut hematku, usul Hui
Gong taysu itu tepat sekali tetapi kuminta supaya acara
pembicaraan di-mulaikan dahulu dari pemilihan ketua Dunia
Persilatan, baru nanti meningkat pada pengurusan jenazah
Kim tayhiap."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, pinto rasa tidak demikian," sanggah Ang Bin tojin
ketua Bu-tong-pay," memilih ketua Dunia persilatan, bukan
suatu hal yang sederhana, harus melalui liku-liku yang
panjang dan sukar. Misalnya, kedua ketua Hoa-san-pay dan
Kay-pang karena berhalangan tak dapat datang, apakah kita
berempat berhak untuk melakukan pemilihan itu ? Sedangkan
soal pengurusan jenazah Kim tayhiap itu amat mendesak dan
menuntut penyelesaian yang segera. Besok pabila para tetamu
sudah datang, tentu tak sempat lagi kita mengatur."
Pernyataan ketua Bu-tong-pay itupun tepat. Memang
mengangkat seorang ketua partai persilatan bukanlah mudah,
apalagi seorang ketua Dunia Persilatan yang membawahi
seluruh kaum persilatan.
Akhirnya berserulah rahib Ceng Sian suthay ketua Kun-lun-
pay : "Pinni mengusulkan begini. Negara tak boleh seharipun
tak mempunyai raja. Demikian halnya dengan Dunia
Persilatan. Berhubung Kim tayhiap sudah tutup usia,
kedudukan ketua Dunia Persilatan tak boleh kosong walaupun
hanya sehari saja. Karena dikuatirkan akan menimbulkan hal-
hal yang tak diinginkan. Setiap partai persilatan akan
membawa kemauannya sendiri. Namun memilih ketua baru
itu, bukanlah suatu hal yang mudah. Saat ini justeru
menghadapi soal yang gawat, perlu adanya suatu pimpinan
untuk mengatur kesatuan langkah dan tindakan. Maka pin-ni
berpendapat agar kita memilih seorang pimpinan sementara.
Setelah urusan jenazah Kim tayhiap selesai, barulah kita nanti
tetapkan waktu untuk mengundang seluruh kaum persilatan
guna memilih seorang ketua baru . , . .”
Ucapan rahib dari Kun-lun-pay itu tiba-tiba ber-henti
setengah jalan ketika seorang lelaki tak di-kenal muncul dalam
ruang perundingan. Seorang lelaki setengah tua yang
rambutnya sudah menjunjung uban melangkah masuk dengan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tenang. Goan Pa sebagai wakil tuan rumah, cepat
menyongsong-nya. Setelah mengadakan tanya jawab
beberapa saat, lalu mengantar lelaki setengah tua itu ke meja
perundingan.
"Taysu dan cianpwe sekalian, inilah Pang To-tik cianpwe
yang mewakili partai Hoa-san-pay untuk menghadiri
pemakaman suhu,” Goan-pa segera memperkenalkan
pendatang itu kepada ke empat ketua partai persilatan.
”0, kiranya Pang sicu ini Oh-liong-kiam-hiap yang pernah
menggemparkan dunia persilatan pada duapuluh tahun yang
lalu. Pin-ceng sungguh beruntung sekali dapat berjumpa muka
dengan Pang kiam-hiap," Hui Gong taysu memberi sambutan
hangat.
Oh-liong-kiam-hiap artinya Pendekar-pedang-naga-tidur.
Gelar itu diberikan orang persilatan kepada Pang To-tik karena
senjatanya sebatang pedang pusaka bentuknya nienyerupai
seekor naga melingkar. Sebenarnya dia adalah murid pertama
dari perguruan Hoa-san-psy. Tetapi entah karena apa, tiba-
tiba pada duapuluh tahun yang lalu ia menghilang tak
berbekas. Setelah ketua Hoa-san-pay menutup mata, yang
menggantikan sute dari Pang To-tik ialah Kam Sian-hong.
Maka kemunculan secara tak terduga-duga dari jago pedang
Naga-tidur Pang To-tik itu, mengejutkan para ketua partai
persilatan yang tengah berkumpul dipuncak Giok-li-nia.
Setelah selesai saling memperkenalkan diri maka Pang To-
tik mendahului memberi keterangan: "Karena Kam sute
berhalangan datang maka terpaksa aku memenuhi
permintaannya untuk hadir ke Giok-li-nia sebagai wakil Hoa-
san-pay. Harap sekalian taysu dan totiang sudi memaafkan
kelancangan Pang To-tik yang goblok ini."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, harap Pang kiamhiap jangan keliwat merendah diri.
Oraug persilatan manakah yang tak pernah mendengar
kebesaran nama pedang Naga tidur iiu ?" Ang Bin tojin
tertawa.
"Naga-tidur benar-benar merontokkan nyali kaum persilatan
Hitam. Setiap kali naga itu bangun, tentu banyak penjahat-
penjahat yang tidur selama-lamanya" Hong Hong totiang
ketua Go-bi-pay ikut berkelakar.
Tiba-Tiba rahib Ceng Sian suthay ketua Kun-lun-pay
membuka suara : "Maaf, Pang Sicu, halangan apakah yang
menimpah Kam Sian-hong ciang-bunjin (ketua) sehingga tak
dapat hadir dalam peristiwa penting hari ini ?"
Sekalian ketua partai persilatan tertegun dan Pang To-
tikpun menghela napas : "Hoa-san-pay mengucap terima kasih
atas perhatian suthay kepada ketua kami. Menurut murid Hoa-
san-pay yang diutus Kam sute menemui aku, saat ini Kam sute
sedang "menutup" diri untuk menyelesaikan suatu ilmu
warisan Hoa-san-pay yang selama ini belum pernah dicapai
oleh tiga angkatan ketua Hoa-san-pay yang terdahulu."
"O . . . " desis rahib Ceng Sian, "rupanya Kam ciang-bunjin
hendak membangun kembali keharuman nama perguruan
Hoa-san-pay yang pada waktu akhir-akhir ini memang makin
merosot dan makin silam. Muridnyapun makin habis . . "
"Omitohud !" tiba-tiba Hui Gong taysu ketua Siau-lim-si
menukas kata-kata ketua rahib Kun-lun-pay itu. Rupanya
karena kuatir akan menyinggung perasaan Pak To-tik, "roda
dunia berputar demikian kehidupan segala sesuatu dalam
dunia ini. Tumbuh, hidup dan mati. Mati lalu tumbuh lagi dan
hidup. Walaupun Hoa-san-pay mengalami kemunduran tetapi
tekad Kam ciang-bunjin untuk meyakinkan ilmu pusaka
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
perguruan Hoa-san-pay itu, merupakan suatu pertanda akan
kebangunan Hoa-san-pay lagi."
"Terima kasih, taysu," ucap Pang To-tik dengan nada tak
bergairah.
"Oleh karena jumlah yang hadir sudah enam wakil
perguruan, manlah kita lanjutkan perundingan lagi." kata Hui
Gong taysu. Kemudian ia menyatatan persetujuannya atas
pendapat Ceng Sian suthay agar memilih ketua sementara.
Setelah selesai mengurus penguburan Kim Thian-cong barulah
nanti menentukan suatu hari tertentu untuk mengadakan
pemilihan ketua yang resmi.
Kelima ketua partai persilatanpun setuju. Mereka serempak
memilih ketua Siau-lim-si sebagai pejabat ketua Dunia
Persilatan, menggantikan ketua Kim Thian-cong yang
meninggal dunia. Seberarnya Hui Gong taysu hendak menolak
tetapi atas desakan sekalian wakil-wakil partai persilatan dan
mengingat pentingnya persoalan itu, terpaksa ia menerima.
"Tiga bulan kemudian, pin-ceng akan mengundang para
ketua parid persilatan yang menanda-tangani Piagam
Perdamaian untuk menghadiri rapat pemilihan ketua yang
baru," Hui Gong taysu, kemudian menambahkan pula, "nanti
dalam upacara pemakaman jenazah Kim tayhiap, keputusan-
keputusan yang telah kita ambil ini akan pin-ceng umumkan."
Setelah acara pertama dapat diselesaikan maka Hui Gong
taysu mulai merundingkan acara yang kedua ialah tentang
pengurusan jenazah Kim Thian-cong. Kata ketua dari Siau-lim-
si itu : "Mengingat Kim tayhiap telah meninggalkan pesan
terakhir agar puteranya yang hilang itu dapat melihat
wajahnya untuk penghabisan kali. Menilik bahwa musuh-
musuh Kim Thay-eong mungkin akan hadir dalam pemakaman
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ini karena hendak mengacau maka kita harus memikirkan
daya bagaimana menyelamaikan jenazah Kim tayhiap."
"Bukankah kata-kata 'menyelamatkan' itu berarti harus
menjaga jenazah Kim tayhiap supaya tetap dalam keadaan
begitu ? Artinya, kita tak boleh menanam jenazah Kim tayhiap
?" seru Ang Bin tojin.
"Benar, to-heng," sahut Hui Gong taysu, jenazah Kim
tayhiap harus tetap begitu agar dapat dilihat puteranya."
"Ah, itu mudah saja," kata Ang Bin tojin, serahkan hal itu
kepada Ceng Sian suthay yang memiliki obat pembalsem
mayat. Jenazah Kim tayhiap tentu terpelihara baik."
Mata sekalian ketua partai persilatan mencurah kearah
rahib sakti yang menjadi ketua perguruan Kun-lun-pay. Ceng
Sian suthay tenang-tenang saja menjawab : "Ya, baiklah.
Demi melaksanakan pesan Kim tayhiap, akan pin-ni usahakan
agar jenazah Kim tayhiap tetap tak rusak."
Hui Gong taysu girang karena soal itu ternyata dengan
mudah dapat diselesaikan. Kemudian ia berkata pula. Soal
mengawetkan jenazah Kim tayhiap sudah selesai tetapi
bagaimana kita dapat menyelamatkan dari gangguan tangan
jahil musuh-musuh Kim tayhiap yang akan hadir itu ?"
"Ah, masakan terhadap orang yang sudah meninggal
mereka masih hendak melampiaskan dendam ?" kata Hong
Hong totiang ketua Go-bi-pay.
"Maaf, to-heng," seru Hui Gong taysu, "marilah kita jangan
mengukur lain orang seperti ukuran hati kita. Lebih-Lebih
orang persilatan. Sebagai mana to-heng tentu mengetanui,
banyaklah terjadi peristiwa-peristiwa yang ganjil dalam urusan
balas dendam. Misalnya, karena ayahnya sudah meninggal,
puteranya yang dibunuh untuk membayar hutang dendam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ayahnya. Ada pula seluruh keluarganya yang dibasmi. Dan
masih ada yang lebih ganas, ialah jenazah dari orang itu
dihancurkan . . "
Tiba-Tiba angin berhembus dan terdengarlah suara orang
berseru : "Taysu benar, memang jenazah Kim tayhiap
terancam bahaya pemusnahan . .!"
Kelima ketua partai persilatan serempak berpaling. Goan-
pa, Kwik Eng dan Liok Sian-li malah sudah mencabut
senjatanya. Tetapi pendatang itu menertawakan ketegangan
mereka : "Amboi, masakan kalian hendak membunuh si
Pengemis-jari-enam ini ! Ha, ha, ha ... "
Pendatang itu ternyata memang Liok-ci-sin-kay atau
Pengemis-jari-enam Hoa Sin, ketua partai Kay-pang yang
dinantikan kedatangannya tadi. Walaupun sudah kenal tetapi
keenam ketua partai persilatan yang berada dalam ruangan
situ tetap terkejut dan kagum karena mereka tak dapat
mendengar gerakan ketua Kay-pang yang datang secara tiba-
tiba itu.
"Hoa pangcu, kami sungguh sangat menantikan kedatangan
pangcu. Mengapa sampai saat ini pangcu baru tiba ?" seru Hui
Gong taysu.
"Maaf, taysu, sesungguhnya sudah siang tadi aku tiba dikaki
gunung Lo-hu-san tetapi terpaksa aku harus tinggal disitu
untuk menanti kedatangan orang," jawab ketua Kay-pang.
"Siapa ?"
"Pada waktu singgah di warung arak, kudenngar
pembicaraan beberapa orang persilatan yang hendak menuju
kepuncak Giok-li-nia sini, bahwa Tok-gan-hui-liong si Naga-
terbang-mata-satu, dedongkot daerah gurun pasir Tibet akan
datang. Demikian pula dengan Hong-sat-koay-ceng si Lhama-
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
aneh-pasir-kuning, yang menjagoi daerah Mongolia itu akan
memerlukan datang juga. Naga-terbang-mata-satu kehilangan
sebelah matanya karenaa tertutuk jari-sakti dari Kim tayhiap.
Dan
Lhama-aneh-pasir-kuning harus terbirit-birit pulang
kandang karena dirubuhkan oleh Kim tayhiap dalam
pertempuran maut dipuncak gunung Ko-san. Tentulah
kedatangan mereka itu dengan maksud tak baik."
Hui-Gong taysu, Ang Bin tojin, Hong Hong totiang, Ceng
Sian suthay, Sugong Yau dan Pang To-tik terperanjat.
"Memang malam tadi warung arak Cui-sian-lo (warung arak
Dewa Mabuk) dikaki gunung Lo-hu-san penuh berdatangan
beberapa tokoh persilatan dari beberapa daerah. Diantaranya
kudapati seorang lelaki bermata satu yang berpakaian seperti
orang Tibet. Kuduga dia tentu si Naga-terbang-mata satu.
Sedang Lhama aneh Pasir-kuning belum tampak. Karena
sudah hampir tengah malam maka aku segera bergegas naik
kepuncak Giok-li-nia sini. Itulah sebabnya maka aku datang
terlambat, maafkan."
"Memang pinceng pun mendengar berita tentang akan
datangnya Thian- sat-cu si Algojo-dunia, raja golongan Hitam
daerah utara."kata Ang Bin tojin.
"Bu-ing-sin-kun, pukulan tanpa bayangan, yang pernah
menggemparkan dunia persilatan juga akan datang," kata
Hong Hong totiang.
"Yang lebih hebat lagi," demikian Ceng Sian suthay pun ikut
bicara, "Hiang Hiang Nio-cu si Dewi Wangi itupun kabarnya
juga akan datang melayat."
Demikian beberapa ketua partai persilatan itu
menyampaikan apa yang mereka dengar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hui Gong taysu segera menutup pembicaraan itu : "Jelas
bahwa dalam pelayatan nanti tentu akan terjadi suatu
peristiwa yang hebat. Kita harus bersiap-siap menghadapi
kemungkinan yang tak diinginkan. Lalu bagaimana tindakan
kita untuk menyelamatkan jenazah Kim tayhiap ?"
"Kita jaga disamping peti jenazah. Apabila ada tetamu yang
hendak mengganggu peti jenazah dapat kita atasi." kata Ang
Bin tojin.
Hong Hong totiang ketua Go-bi-pay. Ceng Sian suthay
ketua Kun-lun-pay dan Sugong Yau ketua Kong-tong-pay
menyatakan setuju.
"Bagaimana pendapat Hoa pangcu ?" tanya Hui Gong taysu
kepada ketua Kay-pang.
Pengemis-sakti-jari-enam Hoa Sin agak tertegun. la garuk-
garuk kepala seperti hendak memeras otak tetapi belum
berhasil menemukan pemecahan: "Dengan tindakan menjaga
peti jenazah itu, memang kemungkinan besar kita dapat
menyelamatkan jenazah Kim tayhiap. Tetapi setiap
kemungkinan, besar atau kecil, belum merupakan kepastian.
Jadi masih ada kemungkinan akan gagal. Yang jelas. dengan
tindakan kita itu. tentu akan terjcidi bentrokan dengan musuh-
musuh Kim tayhiap. Dan bila terjadi pertempuran suasana
dalam upacara sembahyangan peti jenazah tentu akan kacau.
Kekacauan itu akan memungkinkan musuh-musuh Kim tayhiap
untuk menghancurkan peti jenazah ..."
"Hm, "Hui Gong taysu mendesuh. Diam-Diam ia dapat
menyetujui buah pikiran pengemis sakti itu. Walaupun ketujuh
ketua partai persilatan itu tokoh'-tokoh' yang memiliki ilmu
kepandaian sakti, namun musuh-musuh Kim Thian-cong tentu
juga jago-jago sakti dan berjumlah banyak juga. Ia mendesak
: "Lalu bagaimana menurut pendapat Hoa pangcu?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ketua-Kay-pang garuk-garuk kepala : "Maaf, taysu, untuk
saat ini aku belum menemukan cara yang tepat. Mohon taysu
memberi sedikit waktu lagi."
"Baiklah," kata Hui Gong taysu yang segera mengarahkan
pandang mata kepada Pedang-naga-tidur Pang To-tik. wakil
dari Hoa-san-pay yang selama dalam pembicaraan tak pernah
memberi suara apa-apa. Hui Gong taysu meminta pendapat
jago Hoa-san-pay itu.
"Menurut pendapat Pang To-tik." demikian wakil Hoa-san-
pay itu mulai - bicara, "ada suatu cara yang bagus untuk
menyelamatkan jenazah Kim tayhiap. Tetapi karena cara itu
luar dari biasanya dan tak lazim, maka aku kuatir taysu dan
totiang sekalian tak dapat menerimanya."
Hui Gong taysu tertarik akan kata-kata wakil Hoa-san-pay
itu. Nadanya nyaring, kata-katanya jelas dan berwibawa.
"Silahkan Pang sicu mengutarakan pendapat. Suatu
pendapat memang belum tentu diterima tetapi
mengemukakan pendapat lebih baik daripada tidak. Dan pin-
ceng percaya pendapat sicu itu tentu luas dan bagus."
"Ah, harap taysu jangan memuji dulu," Pang To-tik
merendah diri, "begini taysu. Menurut pendapatku orang she
Pang ini, baiklah kita sembunyikan jenazah Kim tayhiap
disuatu tempat yang aman. Sedang peti jenazah yang ditaruh
di~belakang meja sembahyangan para tetamu itu kita isi
dengan benda lain. Apabila musuh-musuh Kim tayhiap turun
tangan, yang hancur hanialah benda pengganti jenazah Kim
tayhiap
"Ngaco !" diluar kesadaran karena terkejut dan marah atas
ucapan Pang To-tik, Ang Bin tojin membentak. "itu suatu
penipuan, suatu penghinaan pada segenap kaum persilatan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
yang datang untuk memberi hormat terakhir kepada Kim
tayhiap !"
"Benar, tindakan itu tidak patut dan bersifat pengecut !"
sambut Hong Hong tojin dari Gobi-pay, "kutahu semasa
hidupnya Kim tayhiap itu seorang ksatrya yang gagah perwira,
tak mungkin dia dapat menerima tindakan semacam itu !
Kalau takut. Pang sicu tak perlu ikut menjaga peti jenazah."
Ceng Sian suthay dan Sugong Yau pun tak setuju. Hui Gong
taysu sendiri diam-diam pun tak puas dengan pendapat itu.
Pada saat ia hendak bicara, tiba-tiba Pengemis-sakti-jari-enam
Hoa Sin berseru : "Aku setuju dengan pendapat Pang To-tik
kiamhiap !"
Sudah tentu pernyataan ketua Kay-pang itu mengejutkan
sekalian orang. Serentak Ang Bin tojin bertanya": "Dengan
dasar apa Hoa pangcu dapat menyetujuinya ?"
"Dasarnya hanya satu ialah menyelamatkan jenazah Kim
tayhiap," sahut Pengemis-sakti-jari enam, "menyembunyikan
jenazah Kim tayhiap dan mengganti isi peti jenazah dengan
benda lain, bukan suatu penghinaan, bukan pula tindakan
pengecut, Tetapi hanya suatu cara. Cara bagaimanapun,
pokoknya jenazah Kim tayhiap dapat selamat !"
Ang Bin tojin mendengus. Ketika ia hendak membuka suara.
Pengemis-sakti sudah mendahului lagi : "Yang akan
sembahyang didepan peti jenazah Kim tayhiap terdapat tokoh-
tokoh yang hebat. Bu-ing-sin-kun dengan pukulan yang tak
bersuara, lhama Pasir-gurun-kuning dengan pukulannya yang
dapat membakar, Naga-terbang-mata-satu dengan
pukulannya Biat-gong-ciang (membelah ang-kasa). Thiat-sat-
cu si Algojo-dunia dengan pukulan Bu-kek-jit-hun yang dapat
menembus langit tujuh lapis dan Hiang Hiang niocu dengan
pukulan Bunga Wangi yang dapat melenyapkan jiwa dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
entah siapa lagi yang akan datang. Dapatkah kita
menghadapinya ?"
"Ha, ha," Ang Bin tojin tcrtawa, "yang Putih tetap dapat
mengatasi yang Hitam. Kejahatan tentu tertumpas oleh
Kesucian. Harap pangcu jangan meremehkan kekuatan fihak
sendiri dan gentar terhadap kekuatan lawan. Apabila kita
bertujuh ketua partai persilatan besar ini bersatu, masakan
durjana-durjana itu mampu mcnandingi ?"
"Ha, ha," Pengemis-sakti-jari-enam pun balas menyambut
tawa, "apabila kaum durjana itupun bersatu padu, tentulah
mereka dapat menandingi kita."
Berobahlah wajah ketua Bu-tong-pay itu, serunya tak
senang : "Orang dari fihak manakah Hoa pangcu ini ?"
”Anggauta Tujuh Partai Persilatan !"
"Mengapa nada pangcu seolah-olah berfihak kepada
mereka ?"
"Karena aku memikirkan kepentingan Tujuh Partai
Persilatan. Oleh karena itu aku harus menilai dengan teliti
kekuatan fihak lawan. Dalam ilmu perang dikatakan 'tahu
kekuatan lawan dan kenal akan kekuatan sendiri, akan
memenangkan peperangan'. Apabila kita menghadapi mereka
satu demi satu, tentu kita menang. Tetapi dalam saat dan
tempat seperti besok pagi, apabila kita menggunakan
kekerasan, dalam keadaan terdesak mereka tentu akan
bersatu untuk menghancurkan kita. Kalau mereka bersatu, itu
bukan kehendak mereka tetapi karena kesalahan kita yang
membuat mereka bersatu."
Sekalian orang tertegun mendengar uraian ketua Kay-pang
itu. Diam-Diam merekapnn mengakui luasnya pemikiran tokoh
pengemis itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Taysu, totiang dan pangcu sekalian," tiba-tiba Pang To-tik
buka suara, "ijinkanlah aku orang she Pang" ini menyatakan
pendapat. Aku sendiri sudah sejak duapuluh tahun lamanya,
mengasing-kan diri. Aku sudah tak mempunyai suatu
keinginan untuk menjadi pendekar besar atau jago dunia
persilatan. Adalah karena permintaan dari suteku maka aku
terpaksa datang mewakili partai Hoa-san-pay."
Ia berhenti sejenak 'alu melanjutkan berkata: "Seorang
ksatrya atau seorang panglima yang pandai, tidaklah selalu
mengandalkan kegagahan dan keberanian. Tetapi dapat
melihat gelagat, pandai menyesuaikan diri. Demikian dalam
persoalan jenazah Kim tayhiap ini. Mengapa kita harus unjuk
kegagahan dan keberanian apabila hal itu mungkin
membahayakan jenazah Kim tayhiap yang kita hormati ? Yang
penting, kita harus menyelamatkan jenazah Kim tayhiap.
Caranya, tidak selalu harus menggunakan kegagahan dan
keberanian. Kegagahan dan keberanian masih dapat kita
salurkan, bila kelak kita memutuskan untuk menumpas
kawanan durjana itu. Namun kalau totiang sekalian tak setuju
pada usulku itu. Akupun tak dapat memaksa. Hanya perlu
kutegaskan, bahwa Hoa-san-pay tak ikut bertanggung
jawabapabila terjadi sesuatu pada jenazah Kim tayhiap”
Pernyataan wakil Hoa-san-pay itu didukung pengemis sakti.
Mau tak mau kelima ketua partai persilatan harus
mempertimbangkannya. Akhirnya, walaupun dalam hati
beberapa orang tak puas namun mereka menyetujui cara itu.
Demikian segera diatur rencana penyembunyian jenazah
itu. Jenazah Kim Thian-cong setelal diberi obat pembalsem
oleh Ceng Sian suthay, di taruh disebuah peti lalu ditaruh
disebuah kamar rahasia digedung kediaman keluarga Kim
yang terletak dibelakang Wisma Perdamaian.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kemudian dibuat orang-orangan dari kayu yang diberi
pakaian Kim Thian-cong, dimasukkan dalam peti besar dan
ditaruh diruang Wisma Perdamaian. Didepan peti segera
disiapkan meja sembahyangan.
Karena putera Kim Thian-cong tak ada maka yang berdiri
dikedua samping peti jenazah ialah Liok Sian-li dan Tio Goan
Pa. Kwik Ing di tugaskan untuk menjaga peti yang berisi
jenazah Kim Thian-cong dalam kamar rahasia. Tujuh ketua
partai persilatan berjajar berdiri disamping meja. Pang To-tik
menemani Kwik Eng bertugas menjaga jenazah Kim Thian-
cong dikamar rahasia.
Hari pertama telah banyak para tetamu da dunia persilatan
yang datang. Makin hari mak bertambah banyak sehingga
puncak Giok-li-i seolah-olah bertumbuh manusia. Dari pagi
sampai malam tak henti-hentinya pendatang baru yang
bersembahyang memberi penghormatan terakhir kepada
pemimpin dunia persilatan itu. Dan selama itu dapatlah Hui
Gong taysu dan keenam ketua partai persilatan bernapas
longgar karena tak terjadi suatu apa.
Pada hari ketujuh, malamnya tetamu-tetamu seperti
meluap. Karena malam itu adalah malam terakhir, besok pagi
jenazah akan dikubur. Tujuh hari tujuh malam menjaga
disamping peti jenazah, benar-benar melelahkan sekali
sehingga Liok Sian-li dan Tio Goan-pa tampak kepayahan.
Ditengah kesibukan yang luar biasa itu, tiba-tiba tampillah
seorang lelaki bertubuh kurus, jidat lebar, kening membenjul.
Sepasang matanya yang bundar tampak menonjol keluar
seperti mata ikan. Begitu tiba didepan peti jenazah, Orang itu
terus berlutut dan menangis keras. Makin lama nadanya makin
melengking tinggi, meratap-ratap, merintih-rintih dan
mengisak-isak seperti seorang yang kematian keluarganya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bermula sekalian tetamu terkejut dan menduga-duga
siapakah gerangan tetamu yang menangis begitu sedih. Tetapi
makin lama, pikiran tetamu-tetamu itu seperti terhanyut dalam
lautan kesedihan, jantung ikut berdebar keras dan darah
dalam tubuh terasa makin lambat jalannya. Pada saat orang
kurus itu merintih-rintih maka hati tetamu seperti diiris-iris
pisau. Bahwa disana sini terdengar bunyi menggedebuk dari
tubuh yang terjungkal rubuh dari tempat duduknya ....
Ternyata tangis itu bukan sembarang tangis tetapi suatu
ilmu Tangis-setan yang dilambari dengan tenaga-dalam yang
lihay. Semula orang akan ikut bersedih lalu lemah perasaan
hatinya. Darah dalam tubuh orang akan macet ditempat
jantung sehingga jantung mendebur keras. Pada akhirnya,
urat jantung akan pecah dan matilah orangnya. Itulah
sebabnya. beberapa tctamu yang tak tinggi ilmu
kepandaiannya, segera rubuh.
"Ha, ha, ha, ha, ha ... ha, ha, ha ... " tiba-tiba terdengarlah
suara orang tertawa riuh rendah. Nadanya amat kuat,
kumandangnya menenggelamkan suara tangis kesedihan tadi.
"Gok-mo-ong, Gok-mo-ong .... sudahlah, jangan keliwat
bersedih . . . orang mati takkan hidup kembali . . . doakan saja
agar aiwah Kim tayhiap mendapat tempat yang baik dialam
baka, ha, ha, ha. ha, ha . . . " terdengar orang yang tertawa
itu berseru kepada tetamu yang menangis itu.
Suara tertawa itu bagaikan air dingin yang mengguyur
kepala para tetamu. Semangat mereka yang sudah hanyut
terlelap kesedihan tangis, saat itu seperti pulih sadar kembali.
Serempak beratus-ratus pasang mata menyasar kearah orang
yang tertawa tadi. Ah, kiranya yang tertawa itu bukan lain
adalah Pengemis-sakti-jari-enam Hoa Sin, ketua partai Kay-
pang yang berdiri diujung meja sembahyangan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pengemis sakti itu memang luas pengalaman-nya. Secepat
mengetahui suasana yang barbahaya akibat tangisan tetamu
baru itu, ia segera dapat menduga tentang seorang tokoh
persilatan yang bergelar Gok-mo-ong atau Raja Tangis. Raja-
tangis. Hi Bong-kun dari lembah Sungai Kuning, merupakan
momok yang paling ditakuti di daerah perairan sungai itu.
Seluruh nelayan dan kawanan bajak, tunduk dibawah
kekuasaannya. Dia memiliki ilmu Toan-jong-gok-hwat atau
Tangis-pemutus-jantung yang dahsyat. Setiap ia menangis,,
maka hilanglah daya perlawanan musuh.
Beribu-ribu tetamu yang berada dipuncak Giok-li-nia malam
itu adalah kaum persilatan. Yang kepandaiannya lemah. lekas
terjungkal putus jantungnya. Yang tinggi kepandaiannya.
walaupun dapat bertahan tapi kehilangan semangat
kesadarannya. Hanya tokoh-tokoh sakti setingkat para ketua
partai persilatan itu yang masih dapat bertahan.
Pengemis sakti Hoa Sin segera bertindak, ia melancarkan
tertawa yang dihembuskan dengan tenaga-dalam bebat. Dan
berhasillah ia menenggelamkan ilmu Toan-jong-gok-seng dari
si Raja tangis Hi Bong-kun.
Hi Bong-kun terkejut. Ia pura-pura menurut dai hentikan
tangisnya. Sejenak ia melirik kearah pengemis sakti dengan
mata penuh dendam. Tetapi pada lain kejab iapun cepat
menenangkan wajah.
"Ah, betapa tak sedih hatiku si orang she Hi ini. Limabelas
tahun yang lalu, ketika berjumpa ditepi Sungai Kuning. Kim
tayhiap telah memberi 'tanda mata' yang berharga kepadaku.
Lima belas tahun lamanya aku menyiksa diri agar dapat
membalas 'budi' Kim tayhiap. Tetapi ah, sial, terkutuk ! Baru
aku hendak membalas 'budi' ternyata Kim tayhiap sudah
meninggal dunia !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ucapan Raja-tangis itu sepintas pendengaran memang
mengharukan. Tetapi bagi
tokoh-tokoh persilatan
ternama, terutama ketujuh
ketua partai persilatan, hal
itu sudah gamblang. Yang
dikatakan 'budi' oleh Raja-
tangis itu, adalah hajaran
dari Kim Thian-cong. Dan
jelas Raja-tangis itu hendak
membalas dendam'.
"Orang yang sudah mati,
tak mengharap suatu apa.
Sudahlah Gok-mo-ong tak
perlu engkau membalas
'budi' itu," seru Pengemis-
sakti Hoa Sin.
”Tetapi dari lembah Sungai Kuning yang jauh aku
memerlukan datang kemari. Selain hendak mengunjuk
hormat, pun ingin pula aku dapat melihat wajah Kim tayhiap
yang terakhir agar puaslah seumur hidupku," kata Raja-tangis
Hi Bong-kun dengan nada beriba-iba.
"Ai, peti sudah dipaku, jenazah Kim tayhiap sudah
beristirahat dengan tenang didalamnya, perlu apakah saudara
hendak mengusiknya lagi ?" jawab pengemis sakti.
"Ai . . . ," Raja-tangis mengeluh kecewa, "kalau tak boleh
melihat wajahnya, bolehkah aku berlutut dibawah peti jenazah
Kim tayhiap barang sejenak saja agar aku dapat mcmbisikkan
kata kepada almarhum ?"
Pengemis-sakti Hoa Sin tcrtawa : "Kesungguhan hati
saudara Gok-mo-ong untuk membalas 'budi' kepada Kim
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tayhiap, sangat kami hargakan. Kim tayhiap walaupun sudah
tiada tetapi arwah-nya pasti tahu isi hati saudara. Saudara
sudah menangis begitu sedih, Kim tayhiap tentu sudah puas
menerimanya. Kiranya tak perlu saudara akan mengunjuk
hormat secara berlebih-lebihan lagi."
"Ai, engkau sungguh kejam. Masakan seorang tetamu dari
jauh yang hendak berlutut dibawah peti jenazah, engkau tolak
?" kata Raja-tangis seraya berbangkit.
"Omitohud !" tiba-tiba Hui Gong taysu yang berdiri
disamping peti berseru, "seluruh tetamu yang hadir disini
adalah kaum persilatan. Mereka sudah tahu akan
kesungguhan hati sicu terhadap Kim tayhiap. Pin-ceng mohon
sicu suka beristirahat duduk."
"Ah, kejam, sungguh kejam. Masakan hanya sebentar saja
tak boleh," Raja-tangis melangkah kesamping hendah
menghampiri peti jenazah. Justeru yang menjaga diujung
meja ialah Pengemis-sakti Hoa Sin. Pengemis-sakti itu terkejut
ketika gerakan tangan si Raja-tangis menghamburkan tenaga-
dalam yang amat kuat kearah dirinya.
”Ah, sudahlah. harap saudara Gok-mo-ong duduk bersama
para tetamu lainnya," cepat Pengemis-sakti Hoa Sin
dorongkan kedua tangannya. Sikapnya seperti hendak
mempersilahkan orang mundur. Tetapi sebenarnya ia tengah
lancarkan balasan tenaga-dalam kepada Raja-tangis.
Ketika kedua tenaga-dalam saling berbentur, lengan
Pengemis-sakti tergetar tetapi Raja-tangis tersurut mundur
selangkah ....
Mata beberapa tokoh yang berilmu tinggi segera dapat
mengetahui apa yang telah terjadi di antara kedua orang itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Merekapun cepat dapat menilai siapa yang lebih unggul
tenaga-dalam-nya.
"Baiklah, Karena engkau berkeras melarang, tiada guna aku
hadir disini. Lain hari kita pasti jumpa lagi . . . ," Raja-tangis
berputar tubuh te-rus melesat pergi.
Ketujuh ketua partai persilatan menghela napas longgar.
Gangguan pertama telah dapat di-atasi dengan baik.
Merekapun tak sempat memikirkan peristiwa si Raja-tangis
lebih lama lagi karena harus melayani beberapa pendatang
yang bersembahyang.
Lebih kurang setengah jam kemudian, muncullah seorang
tetamu yang aneh. Seorang lelaki setengah tua yang bertubuh
kekar tetapi matanya hanya tinggal satu. Begitu menerima
dupa lalu bersoja memberi hormat Kearah peti jenazah.
"Kim Thian-cong, tak nyana kalau engkau tak dapat
mcnunggu kedatanganku. Atas kebaikanmu masih menyisakan
sebelah mataku yang kanan takkan kulupakan seumur hidup.
Maka dengan ini akupun hendak mengunjuk hormatku selaku
membalas budi . . . ", mulut orang itu mengucap doa. Tiba-
Tiba ia menutup kata—katanya dengan menaburkan dupa
kearah peti jenazah.
”Darrr ...”
Terdengar letupan keras dan seikat dupa yang melayang
kearah peti jenazah itu berhamburan ke sekeliling penjuru,
jatuh kelantai dan padam. Apakah yang terjadi ?
Kiranya tetamu mata satu itu ialah si Naga terbang-mata-
satu dari daerah Tibet. Ketika bertempur dengan Kim Thian-
cong, ia telah kehilangan sebelah matanya. Dengan susah
payah ia meyakini ilmu pukulan Biat-gong-sat-ciang atau
pukulan maut membelah angkasa. Tujuannya hanya satu,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
hendak membalas sakit hati kepada Kim Thian-cong. Maka
dari wilayah Tibet yang ribuan li jaraknya, ia memerlukan
datang menghadiri pemakaman musuhnya itu. Walaupun
sudah menjadi mayat, tetapi ia belum merasa puas kalau
belum dapat menghancurkan mayat musuhnya itu.
Ayunan dupa tadi ternyata dilepas dengan pukulan Biat-
gong-sat-ciang. Pukulan itu dapat menghancurkan sasarannya
pada jarak beberapa meter. Ia memperhitungkan tentu tak
mungkin dapat menghimpiri kedekat peti maka dari tempat
yang terpisah dua buah meja sembahyangan. ia lepaskan
pukulan maut.
Goan-pa dan Sian-li yang berdiri disamping peti terkejut
sekali. Serempak keduanya menampar. Sesungguhnya tenaga-
dalam dari kedua murid Kim Thian-cong tak cukup untuk
menahan pukulan si Naga-terbang-mata-satu dari Tibet itu.
Tetapi Sugong In ketua Kong-tong-pay karena marah, pun
menghantam.
Betapapun sakti pukulan Biat-gong-ciang yang diyakinkan si
Naga-terbang-mata-satu sampai belasan tahun itu, namun
karena diterjang oleh tenaga pukulan dua murid Kim Thian-
cong dan ketua Kong-tong-pay, arus tenaga-pukulan Biat-
gong ciang itupun berantakan dan si Naga-terbang-mata-satu
tersurut mundur dua langkah.
"Pengecut !" teriak si Naga-terbang-mata-satu dengan
wajah merah padam.
"Ho, siapa yang pengecut ? Engkau yang menghantam
seorang yang sudah mati atau kami yang membelanya ?"
sahut Sugong In.
"Dia yang pengecut !" sekonyong-konyong terdengar suara
orang berseru dan sesosok tubuh kurus yang melayang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kedepan meja. Selekas tegak berdiri, iapun menuding Sugong
In, "tetapi eng-kaupun lebih pengecut !"
Munculnya orang itu menggemparkan sekalian tetamu. Dia
mengenakan pakaian dan mantel hitam sehingga pada waktu
melayang tadi, mirip seperti kelelawar hitam. Demikian pula
dengan ucapannya yang lantang, memaki si Naga-terbang-
mata-satu dan mendamprat Sugong In pula. Benar-Benar
membuat sekalian tetamu terkejut berbangkit.
Si Naga-terbang-mata-satu memandang pendatang yang
berpakaian seperti seorang pertapa. Pada dada jubahnya
tersulam sebuah lukisan pat-kwa warna merah emas,
begitupun kopiahnya juga berbentuk sebuah pat-kwat.
Mataaya yang bundar besar ditaungi sepasang alis yang tebal.
Tidak berkumis tetapi memelihara jenggot kambing, pendek
berbentuk segi tiga.
Naga-terbang-mata-satu mendongkol. Ia hendak menegur
tetapi pada lain kilas ia teringat kata-kata itu. Walaupun
dirinya dimaki tetapi jelas orang itu lebih tajam memaki
Sugong In. Maka timbullah harapannya kalau orang itu akan
memihak padanya. Enam ketua partai persilatan, menjaga peti
jenazah Kim Thian-cong. Tak mungkin ia dapat membobolkan
penjagaan mereka.' Apabila pen datang itu berfihak padanya,
ah. alangkah bagusnya. Maka ia menekan kemarahan dan
menunggu perkembangan selanjutnya.
Dilain fihak, Sugong In yang tak kena\ dengan pendatang
itu, hendak menegurnya. Tetapi sebelum ia membuka mulut,
Ang Bin tojin sudah mendahului : "Ah, kiranya Thiat-sat-cu to
hengpun datang. Mengapa to-heng tak memberi tahu agar
kami -dapat menyambut kedatangan to-heng ?"
Pendatang itu ternyata Thiat-sat-cu atau Al-gojo-dunia,
seorang durjana besar yang pernah menggegerkan dunia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
persilatan karena usahanya hendak menguasai dunia
persilatan. Dia bermukim dipuncak Penyanggah-langit, salah
sebuah puncak dari pegunungan Thay-san. Setelah dapat
menghimpun sejumlah anak buah, ia mengirim undangan
kepada partai-partai persilatan dan tokoh-tokoh sakti disege-
nap penjuru untuk datang kepuncak Penyanggah-langit. Disitu
ia gunakan perangkap yang licik un-" tuk menjebak mereka
lalu diancam harus tunduk kepadanya dan mengakuinya
sebagai pemimpin Dunia Persilatan. Beberapa, jago silat yang
menentang, ditantang berkelahi dan dibunuh.
Saat itu muncullah Kim Thian-cong. Dengan ilmu It-ci-sin-
kang atau Jaritunggal-sakti, Kim > Thian-cong berhasil
menundukkan durjana itu dan membuyarkan impiannya
menjadi raja dunia persilatan. Thiat-sat-cu lari
menyembunyikan diri berpuluh tahun. Serta mendengar berita
kematian Kim Thian-cong ia bergegas datang ke Giok-Li-nia
hendak membalas dendam.
Ang Bin tojin ketua Bu-tong-pay sengaja menggunakan
kata 'bengcu' atau pemimpin dunia persilatan kepada Thiat-
sat-cu. Sudah tentu merahlah muka Algojo-dunia itu karena
merasa disindir.
"Imam Muka-merah, mengapa engkau mengapa engkan
menyebut aku 'bengcu' ? Dan mengapa pula aku harus
memberitahu kepadamu lebih dulu ? Bukankah kedatanganku
ini hendak melayat penguburan Kim Thian-cong ?" seru Thiat -
sat-cu dengan tajam.
Ang Bin tojin atau imam Muka Merah tertawa : "Ah,
bukankah dalam rapat besar dipuncak Penyanggah-langit
dahulu engkau mengangkat diri sebagai bengcu ? Mengapa
bengcu sskarang marah kepada pin-to ? Bukankah selayaknya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kalau kedatangan seorang bengcu itu harus mendapat
kehormatan besar ?"
"Imam Muka-merah, jangan engkau main sindirj seperti
wanita !" seru Thiat-sat-cu. "ketahuilah, tak pernah sedetikpun
hingga saat ini, aku melepaskan cita-cita menjadi bengcu
persilatan !"
"Karena Kim tayhiap sudah menutup mata?” ejek ketua Bu-
tong-pay.
"Tidak!" jawab Thiat-sat-cu," aku menjanjikan sepuluh
tahun lagi akan menantangnya. Dan hari ini sebenarnya
tibalah waktunya aku akan mencarinya kemari. Tetapi rupanya
dia ketakutan dan buru-buru mati ?"
Ang Bin tojin tertawa : "Dan bengcu melayat, menyatakan
ikut berduka cita seperti 'tikus yang menangisi kucing mati' ..."
"Bukan, tetapi kucing yang hendak menerkam bangkai tikus
!" cepat Thiat-sat-cu menanggapi.
"Thiat-sat-cu !" tiba-tiba Sugong In ketua Kong-tong-pay
berseru. Rupanya ia tak sabar menunggu, "apa artinya
ucapanmu mengatakan aku lebih pengecut dari si Naga-
terbang-mata-satu ?"
"Karena ka!ian mengeroyoknya !"
"Tidak !" sahut Sugong In geram, "aku memang hendak
memberantas perbuatannya yang liar itu. Aku tak tahu kalau
kedua murid Kim tayhiap juga menghantamnya."
Thiat-sat-cu mendengus : "Hm, bagaimana kalau aku yang
menghancurkan peti mati Kim Thian-cong ?"
"Sugong In akan menghantamnya !" seru ketua Konj-tong-
pay.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Thiat-sat-cu tertawa menghina : "Ho, yang hadir dalam
rapat digunung Thaysan dahulu, bukan engkau. Karena itu
engkau tentu tak kenal akan kelihayan ilmu pukulan Bu-kek-
coan-jit-hun!"
"Benar," sahut Sigong In, "yang hadir memang suhuku dan
suhupun menceriterakan tentang pukulan Bu-kek yang dapat
menembus langit tujuh lapis itu kepadaku."
"O. bagaimana perasaanmu ketika mendengar cerita
suhumu ?" kata Thiat-sat-cu dengan bangga.
"Biasa saja." jawab Sugong In walaupun hatinya berkata
lain, "tak beda dengan pukulan Biat-gong-ciang dan lain-lain
ilmu pukulan tenaga-dalam."
"Hm. anak kambing memang tak takut kepada harimau.
"Thian-sat-cu menyeringai," sekarang bersiaplah, aku hendak
melepas pukulan Bu kek-coan-jit-hun kepeti Kim Thian-cong!"
"Sudah sejak tadi Sugong In siap menyambut !"
"Ho, Sugong In, sepuluh tahun yang lalu suhumu sudah
menyembah kepadaku. Apalagi sekarang. Engkau hanya
muridnya, dan aku telan mencapai tingkat makin
sempurna." seru Thian sat-cu. "beginilah. Kalau engkau
dan kawan-kawanmu| itu mati-matian hendak menjaga peti
mati Kim Thian-cong, baiklah kalian bertujuh berjajar dimuka
peti. Bu-kek-coan-jit-hun dapat menembus tujuh lapis langit
maka kalianpun harus rangkap tujuh orang untuk menyambut
pukulan itu.
Sugong In merah padam mukanya karen marah. Ia hendak
membuka suara tetapi didahului Hui Gong taysu ketua Siau-
lim-si : "Omitohud Mengapa Thian sicu berkeras hendak
menghancurkan peti jenazah Kim tayhiap ? Peribahasa
mengatakan"berbuat salah itu memang sifat manusia tetapi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat memberi maaf itu sifat yang agung'. Kim tayhiap sudah
meninggal dan orang yang sudah mati leburlah segala
kesalahannya . , . "
"Paderi tua," tukas Thian-sat-cu angkuh, "kedatanganku
kemari bukan perlu mendengaikan khotbah dan peribahasa
tetapi hendak membalas dendam. Kalau kalian kenal gelagat,
silahkan minggir "
"Adakah tiada lain jalan untuk melampiaskan dendam sicu?"
tanya Hui Gong dengan tetap sabar.
"Bawa kemari putera Kim Thian-cong !"
"Ah," Hui Gong taysu menghela napas, "putera Kim tayhiap
nakal sekali sehingga lima tahun yang lampau telah disuruh
pergi oleh Kim tayhiap ..."
"Hm," Thian-sat-cu mendengus, menimang-nimang.
"Thian sicu." kata Hui Gong pula, "adakah sicu tak dapat
menghapuskan dendam sicu kepada Kim tayhiap ?"
"Hm, bisa, asal kalian dapat menerima sebuah syaratku."
"Harap sicu mengatakan," kata Hui Gong taysu.
"Setelah Kim Thian-cong mati. maka akulah yang menjadi
Pemimpin Dunia Persilatan. Semua partai persilatan dan
tokoh-tokoh silat harus tunduk pada perintahku!"
"Omitohud ..." serentak Hui Gong taysu berseru seraya
rangkapkan kedua tangannya. Pun gedung Wisma Perdamaian
itu seolah-olah tergetar oleh gema suara beratus-ratus tetamu
yang terkejut.
"Thian sicu," kata Hui Gong taysu setelah dapat
menenangkan hiruk-pikuk sekalian tetamu "saat ini kita
sedang menyelenggarakan pemakaman jenazah Kim tayhiap.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kiranya tak sesuai untul membicarakan soal pengangkatan
seorang pemimpin baru. Baiklah hal itu ditangguhkan sampai
lain waktu, dalam sebuah rupat besar kaum persilatan."
"Sekarang boleh dikata hampir seluruh kaum persilatan
hadir disini. Hal itu mudah dilakukan. Umumkan saja bahwa
mulai saat ini, Thian-sat-cu si Algojo-dunia yang menjadi
pemimpin Dunia Peisilatan. Barangsiapa tak setuju boleh
tampil berhadapan dengan aku."
"Ah, soal pemilihan pemimpin Dunia Persilatan, bukanlah
soal yang sepele. Harus dilakukan dengan hati-hati dan
bijaksana . . "
"Tidak, soal itu mudah sekali, semudah orang membalikkan
telapak tangannya," seru Algojo-dunia. "segera saja akan
kumulai dari engkau Ya, jawablah paderi ketua Siau-lim-pay.
engkau setuju atau tidak kalau aku menjadi pemimpii Dunia
persilatan.
Hui Gong taysu terbeliak, la telah berusaha untuk
mengelakkan persoalan itu namun Algojo-dunia ternyata tetap
mendesaknya. Setelah merenung beberapa jenak, akhirnya
ketua Siau-lim-si itu menyahut : "Pin-ni tetap berpegang pada
pendirian semula bahwa pemilihan itu harus dilakukan dalam
suatu rapat besar yang dihadiri seluruh kaum persilatan . , . "
"Saat ini hampir seluruh kaum persilatan berkumpul disini
dan saat ini juga rapat kubuka!" teriak Thian-sat-cu si Algojo-
dunia, "siapa yang menentang, boleh tampil kemuka !"
"Kami tidak setuju !" terdengar seruan nyaring serempak
dengan melayangnya dua sosok tubuh kemuka Thian-sat-cu,"
pertemuan saat ini untuk ikut berduka.cita atas meninggalnya
Kim tayhiap dan untuk memberi hormat yang terakhir. Bukan
untuk mengadakan pemilihan ketua Dunia Persilatan !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sekalian hadirin terbeliak. Beratus-ratus mata mencurah
kearah kedua jago yang tampil kemuka. Mereka kena! ktdua
orang itu sebagai Thian-san-song-kiam atau sepasang jago
pedang dari Thian-san yang termasyhur.
”Hm, siapa kalian ?" Thian-sat-cu picingkan mata kepada
kedua penentangnya yang masih tergolong muda,
"Thian-san-song-kiam !"
"O, dua kunyuk kecil dari Thian-san. Mengapa gurumu
Luiung-sakti-delapan-lengan tak muncul kemari ?" seru Thian-
sat-cu.
Song Ci-hin dan Song Ci-ping kakak beradik yang bergelar
Thian-san-song-kiam itu memang murid dari Pat-pi-sin-wan
atau Lutung-sakti-dclapan lengan Ban King-liat dari gunung
Thay-san.
"Guruku sedang sakit, tak dapat hadir. Tentu
menyempurnakan jiwamu, tak perlu Pat-pi-sin-wa cukup
Thian-san-song-kiam yang turun tangan !” seru Song Ci-hin
yang marah karena gurunya di pandang rendah.
"Heh, heh, "Thian-sat-cu mengekeh seram "kalian bukan
tandinganku. Panggillah gurumu ke mari. biar kujadikan dia
seekor Lutung-sakti-tanpa-lengan, ha, ha . , .
"Jahanam, jangan bermulut besar !" Son Ci-hin terus loncat
menyerang dengan pedangnya Melihat itu adiknya pun segera
ikut menerjang.
Cret, cret .... kedua ujung pedang Thian san-song-kiam itu
tepat menusuk tubuh Thian-sat cu. Tetapi alangkah terkejut
kedua kakak beradi itu ketika merasakan pedangnya seperti
menusuk kulit kerbau yang tebal sekali. Thiat-poh-san ata
Baju besi, suatu ilmu kebal yang membuat tubu sekeras baja
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tak mempan tusukan senjata tajam Itulah yang tengah
digunakan Thian-sat-cu untuk menerima tusukan kedua
saudara Song itu.
Thian-san-songkiam terkejut dan menyadari hal itu. Cepat
mereka hendak menarik pulang pedangnya tetapi terlambat.
""Jangan kurang ajar, monyet kecil !" seru Thian-sat-cu
seraya tamparkan lengan jubahnya ke arah kedua pemuda itu.
Serentak tubuh kedua a-nak muda. itu terlempar beberapa
langkah, muntah darah dan rubuh kelantai. Beberapa tetamu
segera menolongnya.
Seluruh tokoh persilatan yang hadir dipeseban Wisma
Perdamaian tertegun menyaksikan kesaktian Thian-sat-cu.
Thian-san-song-kiam cukup dikenal oleh kaum persilatan. Ilmu
pedang dari jago Thian-san itu mendapat tempat yang
terhormat dikalangan persilatan. Setitikpun tak pernah diduga,
bahwa hanya dengan sebuah gerakan lengan jubah saja,
Thian-sat-cu telah merubuhkan kedua tokoh Thian-san-song-
kiam.
"Hayo, siapa iagi yang ingin coba-coba atau yang sudah
jemu hidup ' seru Thian-sat-cu penuh kecongkakan.
Terdengar desuh menggeram dikalangan para tetamu.
Namun tiada seorangpun yang berani tam pil. Mereka
menyadari kesaktian Thian-sat-cu, momok yang pada lima
belas tahun yang lalu pernah menundukkan dunia persilatan,
kecuali Kim Thian-cong.
"Omitohud," seru Hui Gong taysu ketua Siau-lim-si, "sicu
terlalu tak menghormat kepada Kim tayhiap. Mengapa pada
malam yang khidmat, dimana seluruh kaum persilatan hendak
memanjatkan doa kepada arwah Kim tayhiap, Thian sicu
pergunakan sebagai rapat pemilihan ketua Dunia Persilatan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bahkan Thian sicupun telah melukai sepasang pendekar dari
Thian-san ?"
"Paderi Siau-lim-si, engkau tak berhak mela rang aku. Yang
berhak melarang hanialah Kim Thian-cong atau puteranya ..."
"Thian-sat-cu, jangan bertingkah seperti raja! teriak Ang Bin
tojin ketua Bu-tong-pay, "engkau berani bicara sekarang itu
karena Kim tayhiap sudah meninggal. Waktu Kim tayhiap
masih hidup kemana sajakah engkau menyembunyikan
dirimu?”
"Imam Muka-merah, bukan seperti tetapi memang aku ini
raja, raja Dunia Persilatan yang hendak menobatkan diri pada
malam ini !" sahut Thian-sat-cu, kemudian berpaling kearah
Naga-te bang-mata-satu yang masih berdiri tertegun di ujung
tempat sembahyangan, "hai, mulai saat ini engkau Naga-
terbang-mata-satu, kuangkat menjadi pengawalku dengan
pangkat su-cia !"
Naga-terbang-mata-satu terbeliak. Wajahnya merah karena
malu namun secepat itu otaknya yang cerdas dapat
membayangkan suatu rencana Ia hendak mengadu Thian-sat-
cu dengan ketujuh ketua partai persilatan. Apabila kedua fihak
sama remuk, barulah ia turun tangan untuk membereskan
mereka. Untuk sementara baiklah ia menunggu angin saja.
"Baik." sahutnya kepada Thian-sat-cu. Hui Gong taysu dan
keenam ketua partai persilatan terkejut. Apa yang mereka
kuatirkan, rupanya akan menjadi kenyataan. Apabila kawan-
kawan durjana itu bersatu padu, tentu merupakan malapetaka
yang mengerikan.
"Thian-sat-cu," Ang Bin tojin mendahului berseru, "silahkan
engkau mundur dan duduk dengan tetamu-tetamu. Jangan
mengganggu upacara sembah yangan ini. Masih banyak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tetamu yang ingin menyampaikan hormat terakhir kepada Kim
tayhiap!"
"Omitohud!" seru Hui Gong taysn, "demi menghormat
arwah Kim tayhiap, pin-ni minta agar Thian sicu suka
menunda maksud sicu itu pada lain waktu."
"Huh, paderi gundul, imam muka merah, siapa sudi
menghormat kepada Kim Thian-cong ke cuali orang-orang
semacam kalian ?" ejek Thian-sat-cu "kedatanganku kemari
bukan untuk menghormat tetapi untuk menghancurkan
mayatnya . . "
"Thian sat-cu, apakah benar-benar engkau hendak
menganggap kami bertujuh ketua partai persilatan ini seperti
tanah liat saja ?" teriak pengemis sakti Hoa Sin yang keri
telinganya mendengar kata-kata yang terlalu sombong.
"Bukan tanah lempung tetapi cacing!" ejek Thian-sat-cu.
"Omitohud" seru Hui Gong pula, "Thian sicu. apakah sicu
tetap hendak melaksanakan rencana sicu ?"
"Engkau tak berhak bertanya, akulah yang akan bertanya
kepadamu. Engkau setuju tidak aku menjadi pemimpin Dunia
Persilatan ?, jawablah yang tegas !" tukas Thian-sat-cu.
Hui Gong taysu ketua Siau-lim-si itu seorang paderi yang
berilmu tinggi. Seorang paderi sahid yang sabar dan berbudi
luhur. Namun sesabar-sa-bar budinya, tak urung ia
tersinggung juga akan sikap Thian-sat-cu yang makin
menggila itu. Apabila ia menyatakan setuju, akan jatuhlah
nama Siau-lim-si dalam mata kaum persilatan. Maka setelah
mengambil keputusan iapun menjawab tenang : "Omitohud,
kalau sicu hendak memaksa pada malam ini juga, pin-ni tak
setuju!"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm, begitulah jawaban yang jantan." seru Thian-sat-cu
lalu memandang Ang Bin tojin." dan engkau imam Muka
Merah ?"
"Menentang !" sahut ketua Bu-tong-pay dengan geram.
Mukanya yang merah makin seperti kepiting direbus.
"Engkau !" Thian-sat-cu menunjuk Hong Hong totiang ketua
Go-bi-pay.
"Tidak setuju !" Hong Hong totiang geleng kan kepala.
"Engkau !"
"Tidak setuju." sahut Ceng Sian suthay ke tua Kun-lun-pay.
Thian-sat-cu bertanya kepada Sugong In tetapi ketua Kong-
tong-pay itupun menolak. Lalu pengemis sakti Hoa Sin, juga
menentang.
"Dan kalian hai dua kurcaci murid Kim Thian-cong !" seni
Thian-sat-cu.
"Tidak setuju !" teriak kedua anakmuda itu serempak.
"Bagus," seru Thian-sat-cu, "sekarang kalian boleh berdiri
berjajar rangkap delapan orang untuk menerima pukulanku
Bu-kek-coan-hun-jit."
Ang Bin tojin melengking: "Kami bukan bukan budakmu.
Engkau menyuruh begitu, harus a-da imbalannya. Apakah
imbalanmu ?"
"Engkau boleh ajukan !" sahut Thian-sat-cu.
"Bagaimana imbalanmu kalau kami dapat bertahan
menerima pukulanmu ?"
"Aku akan pergi dari tempat ini !"
"Bagus"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, tetapi bagaimana kalau kalian tak kuat menerima
pukulanku ?" seru Thian-sat-cu.
"Silahkan engkau mengatakan !"
"Kalian harus tunduk dan mengakui aku sebagai ketua
Dunia Persilatan !”
"Boleh," seru pengemis sakti Hoa Sin serentak.
Hui Gong, Ang Bin Hong Hong, Ceng Sian dan Sugong In
terkesiap. Tetapi memang mereka merasa tiada lain jalan
kecuali harus bertindak seperti ketua Kay-pang itu.
"Lekas, kalian bersiap-siap !" seru Thian-sat-cu pula.
"Tunggu." tiba-tiba Hui Gong taysu berseru "kami hanya
tujuh orang saja. Li-sicu murid Kim tayhiap itu supaya
dibebaskan."
Dan tanpa menunggu penyahutan Thian-sat cu, Hui Gong
taysu segera minta Liok Sian menyingkir. Bermula dara itu
enggan tetapi setelah menerima isyarat mata dari ketua Siau-
lim-si itu ia menurut juga.
Demikian keenam ketua partai persilatan di tambah Tio
Goan-pa. segera berjajar bagai seekor ular. Kepalanya ialah
Ang Bin tojin ekornya Til Goan-pa.
'Totiang, biarlah aku yang menjadi kepala didepan," kata
pengemis sakti Hong Sin seraya me langkah kemuka.
Ang Bin tojin menolak : "Jangan, harap pangcu tetap
berada ditengah, biarlah pinto yang menahan si jumawa itu !"
"Tidak, totiang, percaialah." kata pengeml sakti Hoa Sin
dengan nada bersungguh, "aku memlpunyai persiapan untuk
menyambut pukulan Bui kek-coan-jit-hun."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ang Bin tojin agak meragu. Ia menyadai bahwa ilmu
pukulan Bu-kek-coan-jit-hun dari Thian-sat-cu itu memang
menjagoi dunia persilatan. Pukulan itu mampu menembus
dinding batu lapis tujuh. Lima belas tahun yang lalu, dengan
mengandalkan ilmu pukulan itu Thian-sat-cu berhasil
menundukkan partai-partai persilatan. Andaikata tiada Kim
Thian-cong, tentulah Thian-sat-cu sudah menjadi yang
dipertuan dalam Dunia Persilatan. Ia heran mengapa
Pengemis-sakti Hoa Sin begitu ber-sungguh minta menjadi
kepala barisan. Ia kenal ketua partai Pengemis itu sebagai
seorang yang jujur, -berani dan cerdik. Pun juga sakti. Ilmu
pukulannya- yang diberi nama lucu Bak-kau-ciang atau
pukulan Menggebuk-anjing, sangat disegani orang persilatan.
Tak mungkin ketua Kay-pang akan ber-sungguh sedemikian
rupa apabila tak punya pegangan.
"Baiklah, tetapi harap kaucu suka berhati-hati menghadapi
orang itu," akhirnya Ang Bin tojin suka mengalah. Mereka lalu
bertukar tempat.
"Ho, engkau kepingin mati paling dulu, pengemis ?" seru
Thian-sat-cu sambil bersiap.
"Benar," sahut Hoa Sin tertawa mengejek, "pengemis tak
punya apa-apa. Mati sekarang atau be sok sama saja. Hanya
kalau aku mati. ada dua mahluk yang bergembira ria."
"Siapa ?" seru Thian-sat-cu.
"Yang satu engkau."
"Dan yang lain ?" Thian -saitcu menegas.
"Anjing '
Wajah Thian-sat-cu berobah gelap seketika, jelas dirinya
dipersamakan dengan anjing Hendak mendamprat, sudah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
didahului pengemis sakti lagi: "Kawanan anjing paling takut
pada kaum pengernig karena anakbuah Kay-pang mempunyai
ilmu Bak-kau-pang atau tongkat penggebuk anjing!"
Mata Thian-sat-cu meram melek. Hendak marah, tak ada
alasan.
"Itu masih belum," seru pengemis sakti Hoat Sin yang
seolah-olah menganggap saat itu seperti itu tak terjadi suatu
apa, "orang Kay-pang masih mempunyai beberapa jurus ilmu
pukulan yang aneh-aneh tetap' tak disukai oleh kawanan
anjing. Antara lain ada sebuah jurus pukulan yang disebutl jin-
yau-kau."
Jin-yau-kau artinya orang menggigit anjing.
Thian-sat-cu mendelik.
"Eh, engkau tak percaya ?" kembali Hoa Sini mengoceh,
"anggauta Kay-pang pantang bohong Memang benar,
sungguh. Umumnya memang kau yau-jin, anjing yang
menggigit orang. Tetapi ilmu pukulan kami itu memang
istimewa, Jin-yau-kau orang yang menggigit anjing. Oleh
karena istimewanya maka istimewa juga gerak pukulan itu.
Kawanan anjing takut sekali ..."
"Tutup mulutmu, pengemis jembel !" karena telinganya
bising mendengar ocehan Hoa Sin. Thian-sat-cu segera
membentaknya, "lekas engkau bersiap untuk menerima
pukulanku. Dan engkau pengemis gila, akan menjadi orang
pertama yang pecah dadamu !"
"Bagus, bagus !" teriak Hoa Sin seperti orang mendengar
berita girang, "sudah lama dadaku sesak, cepat mau muntah
kalau melihat manusia yang bermulut besar. Maka pikir-pikir,
aku hendak mencuci isi dadaku ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Diejek, dihina dan dimaki dihadapan sekian banyak tokoh-
tokoh persilatan Thian-sat-cu tak dapat mengendalikan
kemarahannya lagi. Cepat ia ayunkan tangan menampar muka
Hoa Sin. Tetapi pengemis sakti itupuu tak tinggal diam.
Setelah berkisar kesamping, secepat kilat ia maju merapat dan
menjotos lambung orang.
Thian-sat-cu tak mengira sama sekali bahwa ketua Kay-
pang itu memiliki gerakan yang sedemikian cepatnya. Namun
ia mempunyai ilmu kebal Thiat-poh-san untuk melindungi
lambung. Sambil mengisar kaki, ia menghadapi sipengemis
sakti lalu timpahkan tinjunya kedada lawan, duk . .
Terdengar teriakan tertahan dari sekalian tetamu ketika
melihat Pengemis-sakti Hoa Sin terlempar beberapa langkah
kebclakang. Apabila tak cepat disambut oleh Ang Bin tojin
ketua Bu-tong Pay pengemis tua itu tentu masih harus
melayang kebelakang entah sampai berapa langkah lagi
Tetapi disamping rasa kejut-kejut ngeri melihat leadaan
pengemis sakti Hoa Sin, pun sekalian tetamu merasa terkejut
heran melihat keadaan Thian sat-cu.
Tokoh yang menamakan dirinya Thian-sat-cu atau Algojo
Dunia, saat itu tampak berdiri pejamkan mata, seperti orang
yang tengah menyalurkan tenaga-dalam. Wajahnyapun
tampak pucat.
Apakah yang telah terjadi ?
Kiranya pada saat Thian-sat-cu memukul dada Hoa Sin,
pengemis sakti itu membiarkan saja tak menangkis maupun
menghindar. Hanya, tangannya yang menghantam ke
Limbung lawan tadi tiba-tiba ditebarkan. Dua buah jarinya
secepat kilat menusuk pusar Thian-sat-cu. Tusukan jari itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tepat mengenai sasarannya tetapi iapun terhantam dadanva
sehingga terlempar beberapa belas langkah.
Thian-sat-cu memiliki ilmu kebal Thiat-poh-san. Hal itu
diketahui jelas oleh Pengemis-sakti Hoa Sin. Namun Thiat-poh-
san mempunyai beberapa bagian tubuh yang lemah. Antara
lain pusar dan delapan lubang indera. Sayang Hoa Sin tak
dapat mengisi penuh tutukan jarinya itu dengan tenaga-dalam
karena pukulan Thian-sat-cu sudah ke buru melemparnya
kebelakang. Sekalipun begitu tetap pengemis itu dapat
melukai pemusatan tena ga-dalam Thiat-poh-san. Walaupun
luka-dalam itu tak berbahaya tetapi cukup juga untuk
mengurangi tenaga-dalam Thian-sat-cu.
"Ha, ha, Taian-sat-cu, yang engkau terima tadi baru jurus
Anjing-menggigit-orang. Belum jurus Orang-menggigit-anjing!"
Thian-sat-cu terkejut dan membuka mata
Dilihatnya pengemis Hoa Sin sudah berdiri tak kurang suatu
apa. Ia heran.
"Jangan heran, Thian-sat-cu. aku pengemis tua, memang
masih segar bugar!" teriak Hoa Sin tertawa. Diam-Diam ia geli
karena dapat mengacau pikiran'Algojo-dunia itu. Pukulan
Thian-sat-cu hampir serempak dengan tutukan jari
sipengemis. Dengan demikian tenaga pukulan Thian-sat-cu
itupun berkurang kedahsyatannya. Karena dicengkam rasa
heran, Thian-sat-cu tak menyadari hal itu.
"Omitohud !" tiba-tiba Hui Gong ketua Siau lim-si berseru,
"apakah Thian sicu masih tetap hendak melangsungkan
maksud sicu ? Kalau benar, pin-ceng harap janganlah sicu
hanya berhadapan dengan Hoa pangcu ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Paderi Siau-lim-si, lekas kamu bertujuh siap. Aku segera
akan meremukkan kalian !" teriak Thian-sat-cu seraya
singsingkan lengan jubah.
Karena melihat Hoa Sin habis menerima pukulan dari Thian-
sat-cu, Ang Bin tojin minta supaya dia saja yang berdiri
dimuka. Tetapi ketua Kay-pang itu tetap menolak,
Sesaat hening lelap ketika Thian-sat-cu dan ketujuh ketua
partai persilatan itu bersiap-siap untuk adu pukulan. Perhatian
seluruh tetamu tercurah pada peristiwa yang akan mereka
saksikan. Peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah
dunia persilatan. Dan karena menyadari bahwa hasil daripada
adu pukulan sakti itu akan membawa akibat besar pada
seluruh kaum persilatan maka
diam-diam tetamu-tetamu
memanjatkan doa untuk ke
menangan fihak Hui Gong tiysu
dan ketua-ketua partai persilatan.
Ketegangan makin merayap
dihati sekalian tetamu ketika
Thian-sat-cu sudah mulai
mengangkat tangannya keatas.
Demikianpun Hoa Sin dat
keenam kawannya sudah
melekatkan tangan masing-sing
kepunggung kawan yang berada dimukanya Hui Gong taysu
lekatkan telapak tangannya kepunggung pengemis Hoa Sin
yang berdiri pahnd depan. Hong Hong tojin lekatkan
tangannya ke punggung Hui Gong. Sugong In menempelkan
tangan kepunggung Hong Hong tojin. Ang Bin tojin lekatkan
tangannya kepunggung Sugong In, Ceng Sian suthaypun
lekatkan tangan kepunggui Ang Bin tojin. Dan terakhir Tio
Goan-pa lekatkan tangannya kepunggung Ceng Sian suthay.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Keenam orang itu menyalurkan tenaga-dalam untuk mem
perkuat pemusatan tenaga-dalam pengemis Hoa Sin.
Akhirnya saat-saat yang dinanti itupun tiba. Darrrrr ...!
Terdengarlah ledakan keras ketika kedua naga-dalam saling
berhantam. Pukulan Bu-kek-coan-jit-hun telah disongsong oleh
tenaga-dalam tujuh tokoh persilatan ternama.
Beratus-ratus jago-jago persilatan yang memenuhi paseban
Wisma Perdamaian' bagai kena pesona ketika menyaksikan
adu tenaga yang sehebat itu Perhatian mereka ditumpahkan
habis-habisan sehingga mereka tak mengetahui bahwa itu
seorang lelaki tua bertubuh gemuk telah masuk kedalam
paseban dan menghampiri kedepan meja sembahyang. Ketika
melalui disamping tokoh-tokoh yang sedag adu tenaga-sakti
itu, pendatang bertubuh gemuk itu tampak gerakkan tangan
kanannya seperti orang tengah menampar nyamuk yang
mengganggu telinganya. Setelah itu ia langsung berdiri di
muka meja sembahyang, mengangkat kedua tangannya
keatas lalu menyurah, membungkukkan tubuh memberi
hormat.
Hoa Sin terkejut ketika merasa dilanda gelombang tenaga
dahsyat. Sedemikian hebat tenaga mendampar sehingga ia tak
dapat bernapas. Bantuan tenaga-dalam dari kelima ketua
partai persilatan dan Goan Pa, tak kuasa menahan gempur
pukulan Bu-kek-coan-jit-hun yang dapat menembus tujuh lapis
awan. Bagaikan air surut, tenaga-dalam yang telah berpusat
ditubuh pengemis sakti Hoa Sin itu berhamburan kembali
mendampar balik belakang.
Hui Gong, Hong Hong, Sugong ln, An Bin, Ceng Sian dan
Goan-pa seperti diterjang gelombang badai. Hampir mereka
tak kuat bertahan dan tubuh merekapun menggigil. Dalam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
beberapa kejab lagi tak boleh tidak, Hoa Sin dan keenam
kawannya itu tentu rubuh !
Tiba-Tiba suatu keajaiban terjadi. Gelombang tenaga
pukulan Bu-kek-coan-jit-hun itu tiba-tiba berhenti, menyurut,
dan lenyap . . .
Hoa Sin dan rombongannya seperti perahu yang terlepas
dari amukan badai. Mereka tegak mematung, pejamkan mata
untuk menyalurkan napas dan darah yang hampir membeku.
Tetapi Thian-sat-cupun berdiam diri, meram-kan mata dan
menyalurkan tenaga-dalam. Ia heran mengapa mendadak
dirinya seperti dilanda oleh segelombang arus tenaga. Sama
sekali ia tak tahu bila dan siapa yang menyerang itu dan tahu-
tahu dadanya seperti dijepit papan baja yang berat sekali
sehingga pernapasannya terganggu. Gangguan itu
memaksanya menarik pulang pukulan Bu-kek-coan-jit-hun. Ia
tak sempat meneliti siapakah penyerang gelap itu karena ia
perlu harus cepat-cepat menyalurkan tenaga-murni untuk
menyalurkan jalan-darahnya yang macet terkena pukulan
gelap itu.
Demikian pada saat Hoa Sin bertujuh dan Thian-sat-cu
sedang pejamkan mata memulihkan tenaga-dalam masing-
masing, tetamu bertubuh gemuk itu-pun sudah mengakhiri
hormatnya membungkuk sampai tiga kali didepan peti mati.
”Selamat jalan Kim Thian-cong. Jangan sampai engkau
salah jalan. Masuklah ke Nirwana, jangan ke Neraka yang
penuh dengan setan-setan tanpa bayangan”
Baik rombongan Hui Gong taysu, maupun fihak Thian-sat-
cu, terkejut ketika mendengar doa yang aneh dari tetamu itu.
Mereka serempak membuka mata tetapi orang itu sudah
lenyap.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Thian-sat-cu memberingas. Dipandangnya Hoa Sin dan
keenam kawannya : "Pengemis busuk, engkau menyerah atau
masih berani menerima pukulanku lagi ?"
"Thian-sat-cu, mengapa engkau menjilat ludahmu lagi ?"
seru pengemis sakti Hoa Sin.
Thian-sat-cu merah padam mukanya. Belum ia menjawab
tiba-tiba angin berhembus menampar hidungnya. Ia terkejut.
Angin itu bukan angin sewajarnya melainkan angin yang
wangi. Dan hembusan anein wangi itupun dirasakan juga oleh
Hoa Sin dan keenam ketua persilatan. Merekapun terperanjat.
"Ai, sugguh kurang ajar sekali si Bi-ing-kui itu. Dia berani
mendahului 'makan' hidanganku " tiba-tiba terdengar lengking
suara wanita dan pada lain kejab muncullah seorang wanita
diiring oleh tujuh gadis cantik. Wanita itu mengenakan
kerudung muka sehingga tak kelihatan wajahnya Pakaiannya
warna merah demikianpun dengan ke tujuh gadis cantik itu.
Ketika masuk kedalam ruang paseban, bau harum makin keras
sehingga ruangan itu tidak lagi berbau dupa tetapi berbau
harum seperti kamar pengantin.
"Hiang Hiang niocu ....!" serentak terdengar seruan
tertahan, dari tetamu-tetamu.
”Omitohud, selamat datang niocu.....”
Hui Gong taysu yang cukup kenal akan wanita itu segera
memberi hormat dengan membungkuk tubuh. Tetapi secepat
itu ia menyeringai kesakitan.
"Ah, harap taysu yang memakai banyak pe-radatan. Ai,
taysu rupanya menderita luka-dalam. Harus makan obat dan
beristirahat," seru wanita yang disebut Hiang Hiang niocu atau
Puteri Harum.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Terima kasih, niocu," sahut Hui Gong taysu yang diam-
diam terkejut karena wanita itu dapat mengetahui keadaan
dirinya.
"Dan taysupun kasih tahu kepada kawan-kawan taysu itu
kalau mereka juga menderita luka-dalam dan harus berobat,"
kata Hiang Hiang niocu pula. Kemudian tanpa menunggu
jawaban ketua Siau-lim-si, wanita itu melirik kearah Thian-sat-
cu.
"Thian-sat-cu, mengapa kulitmu amat tebal? Jelas
engkaupun menderita luka. Tetapi bukannya mengejar Bu-
ing-kui yang melukaimu, kebalikannya engkau masih ngotot
hendak bertanding pukulan dengan ketujuh orang itu ?"
Wajah Thian-sat-cu pucat. "Walaupun menderita luka tetapi
ketujuh orang itu tak sampai rubuh. Dan engkau sendiripun
terluka. Dengan begitu, engkau harus menepati janjimu untuk
tinggalkan tempat ini !" seru Hiang Hian niocu dengan nada
penuh wibawa.
”Hai Thian-sat-cu, apakah engkau tak malu menjilat
ludahmu lagi ? Mereka dapat menerima pukulanmu, mengipa
engkau tak lekas pergi dari sini” seru Hiang Hiang niocu seraya
menuding Thian sat-cu atau Algojo-dunia.....
Thian-sat-cu menyadari kedudukannya. Hiang Hiang niocu
amat sakti, belum tentu ia dapat mengalahkan. Lagi pula ia
telah menderita luka-dalam akibat pukulan tanpa bayangan
dari Bu-ing-kui. Masih pula keenam ketua partai persilatan dan
beratus-ratus jago-jago silat. Dan ada kemungkinan lain, akan
datangnya tokoh-tokoh sakti yang tak terduga. Apabila ia
berkeras kepala, tentu lebih banyak menderita kerugian
daripada keuntungan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Namun untuk mundur begitu saja, ia merasa kehilangan
muka. Ia mau mundur secara terhormat.
"Bagaimana Thian-sat-cu, apakah engkau masih tetap
hendak menjilat ludahmu ?" tegur Hiang Hiang niocu.
Thian-sat-cu tertawa
nyaring : "Baiklah, demi
memandang muka niocu,
akupun akan tinggalkan
tempat ini. Tetapi sebelum itu
hendak kuumumkan kepada
sekalian orang persilatan,
bahwa karena serangan gelap
dari jahanam Bu-ing-kui maka
ketujuh ketua partai
persilatan itu dapat bertahan.
Dengan demikian walaupun
belum berhasil memenangkan
mereka, tetapi aku tetap tak
kalah !
" Tetapi paderi Siau-lim-si, " serunya pula "sekarang aku
hendak mencari balas kepada sipengecut Setan-tanpa-
bayangan itu. Kemudian beberapa bulan lagi, aku tentu akan
mengundang kalian datang kegunung Thay-san untuk
mengadakan pemilihan Ketua Dunia Persilatan !"
Habis berkata ia teras melesat pergi. Si 'Naga-terbang-
mata-satu ternyata sejak Hiang Hian niocu dan ketujuh
muridnya tiba, diam-diam sudah ngacir pergi.
"Adakah niocu juga akan bersembahyang kepada jenazah
Kim tayhiap ?" seru Hui Gong taysu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar, taysu," seru Hiang Hiang niocu tersenyum,
"duapuluh tahun yang lalu Kim tayhiap! pernah berjanji
kepadaku. Dia bersumpah apabila ingkar janji, ia rela
tubuhnya hancur menjadi abu ... "
"Adakah Kim tayhiap ingkar janji ?"
"Benar, dia memang ingkar janji, oleh karena itu akupun
harus melaksanakan sumpahnya.'
Hui Gong taysu pucat seketika ....
-oo0dw0oo-

Aduhai ....
Ayahku pemimpin dunia persilatan
Ibuku seorang jelita sastrawan
Amboi .... aku tukang ukur jalanan.
Tungganganku anjing kuning
Rajawali dan monyet maling
Ha. ha . . . pengawalku yang beling
Rumahku di alam dunia
Tidurku di tempat bebas bea
O Ho, ho . . hidupku manis-manis cuka.
Blo'on . . . blo'on . . . sebutanku
Si Goblok, si Tolol, si Dungu
Hi, hi . . . apa peduli nama itu.
Sejuta makian, aku tak geram
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Selaksa pujian, aku tak seram
Heh, heh . . . kuanggap hanya asam garam.
Kegagahan, kekayaan, kekuasaan
Ketenaran, kesombongan, ke-Aku-an
Huh, huh . . . hanya bayangan kecemasan.
Tidak melawan hidup berpribadi
Bebas musuh, bebas jahat hati
Hem, hem . . itulah kebahagiaan sejati
Kisah si Blo'on, kssah yang jalang
Dibaca . . . muak, dibuang . . . merangsang
Silahkan marah, silahkan sayang ...
Salam basa basi.
si BLO'ON
Pendekar kebal dimaki,
pantang dipuji.
Kota Bengawan, pertengahan tahun
pada abad 20 kurang seperempat.

Jilid 2
L e n y a p.

Baik keenam ketua partai persilatan, maupun seluruh jago-


jago persilatan yang berada dipeseban Wisma Perdamaian itu,
terperanjat sekali mendengar kata-kata Hiang Hiang Niocu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Beberapa tokoh silat tua masih dapat mengenal siapakah
wanita itu. Hiang Hiang niocu adalah isteri pemimpin
perkumpulan rahasia Pek-lian-kau atau Teratai Putih yang
pada masa keruntuhan pemerintah Coan (Kubilai Khan),
muncul digelanggang percaturan perebutan kekuasaan dalam
dunia persilatan.
Tetapi sudah sejak duapuluh lima tahun yang lalu,
perkumpulan Teratai Putih berantakan dan Hiang Hiang
niocupun lenyap.
Sungguh tak terduga sama sekali bahwa Hiang Hiang niocu
si Puteri Harum itu akan muncul lagi dipuncak Giok-li-nia.
"Omitohud!" Hui Gong taysu ketua Siau lim-si berseru
seraya rangkapkan kedua tangan ke dada, "Kim tayhiap
seorang ksatrya yang perwira masakan dia ingkar janji ?"
"Hui Gong taysu," sahut Hiang Hiang niocu "bagi taysu dan
mungkin seluruh kaum persilatan tentu akan menyanjung Kim
Thian-cong sebagai seorang ksatrya luhur. Tetapi bagi Hiang
Hia niocu, dia tak lebih dari seorang lelaki yang ber mulut
culas, berbudi rendah !"
Dalam membawakan kata-katanya itu tampak kerudung
muka yang menutupi wajah Hiang Hiang niocu bergetar-getar.
Suatu pertanda bahwa batinnya sedang mengalami
ketegangan hebat.
"Hiang Hiang niocu," seru Hui Gong tay pula, "apabila niocu
tak keberatan sudilah men; laskan perihal diri Kim tayhiap
yang niocu katakan tak berbudi itu."
Kedengaran suara helaan napas dari balik kain kerudung
yang menutup wajah Hiang Hiang niocu. Wanita itu tegak
mematung sampai beberapa waktu. Rupanya dia tengah
mengenangkan ristiwa yang lampau ....
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sesungguhnya peristiwa itu sudah amat lat pau sekali.
Hampir seperempat abad lamanya. Namun bagi seorang
wanita janji itu tetap akan selalu bersemayam dalam hatinya,
bahkan akan di bawanya masuk keliang kubur ....
Hiang Hiang niocu berhenti sejenak lalu lanjutkan "Setelah
kerajaan Goan runtuh maka timbulah gerakan-gerakan dan
perkumpulan-perkumpulan rahasia dari kaum persilatan untuk
merebut pengaruh da kekuasaan. Diantaranya yang paling
besar dan kuat adalah perkumpulan Sorban Kuning dan
Teratai Putih. Kim Thian-cong muncul, memusuhi Sorban
Kuning dan Teratai Putih karena menganggap kedua
perkumpulan itu tidak mempunyai tujuan yang baik. Ada
gejala-gejala kearah aliran Hitam ..."
Kim Thian-cong berhasil menghancurkan Sorban Kuning
tetapi gagal dalam menghadapi Teratai Putih. The Seng-kun,
pemimpin Teratai Putih merupakan lawan yang tangguh.
Selainkan memiliki ilmu silat yang hebat, pun dia seorang yang
cerdik dan pandai menggunakan siasat. The Seng-kun
mempunyai sebatang pedang pusaka yang luar biasa
tajamnya. Pek-lian-kiam atau pedang pusaka Teratai-putih.
Kim Thian-cong hampir melayang jiwanya dibawah pedang itu.
Dia ketakutan setengah mati dengan pedang itu ."
Berhenti sejenak, wanita itu menghela napas: "Tahukah
taysu. siapa The Seng-kun itu ?” tiba-tiba ia mengajukan
pertanyaan yang membuat paderi ketua Siau-lim-si itu
terbeliak kaget.
"Entah, niocu, pin-ni tak tahu," sahutnya gopoh.
"The Seng-kun adalah suamiku !"
"Ah," Hui Gong tasyu mendesah, "lalu dalam hubungan
apakah maka Kim tayhiap telah ingkar janji kepada niocu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Disitulah letak ukuran peribadi Kim Thian cong !" seru
Hiang Hiang niocu dengan keras, "kalah menggunakan senjata
terhadap The Seng-kun dia beralih menggunakan senjata
wajahnya yang tampan untuk menggaet isterinya ..."
"Omitohud!" seru Hui Gong taysu mengendap rasa
kejutnya, "bukankah niocu itu isteri dari The Seng-kun kaucu
?"
"Pek-lian-kau menuju kearah aliran Hitam Aliran agama
yang bermula menjadi unsur pokok dari perkumpulan itu,
akhirnya berobah menjadi suatu aliran tahayul dan cabul. The
Seng-kun gemar wanita cantik. Banyak gadis cantik yang
diperisterikan dengan paksa dan ataupun dengan bujukan
manis. Aku termasuk salah seorang korbannya, menjadi salah
seorang isterinya yang paling disayangi . . . . "
"Tetapi aku jemu dengan kehidupan dan lingkungan orang
Teratai Putih itu. Akupun mual kepada The Seng-kun yang tak
pernah puas dengan wanita. Ia seorang lelaki yang besar
sekali nafsunya. Aku sakit hati karena diriku dijadikan sekedar
alat pemuas nafsu saja. Habis manis sepah dibuang . . . . "
Berhenti sejenak, Hiang Hiang niocu melanjutkan ceritanya,
"tetapi apa dayaku. Aku hanya orang wanita yang lemah.
Kulewatkan hari-hari yang sepi dengan helaan napas dan
cucuran airmata. Lalu muncullah Kim Thian-cong. Dia mengisi
kesepianku dan mencuri hatiku ..."
Hiang Hiang niocu berhenti berseri, menengadahkan
kepala, memandang kelangit dan berdiam diri sampai
beberapa waktu. Rupanya ia tengah terkenang akan kenangan
yang lampau.
Hui Gong taysu, Ang Bin tojin. Hong Hong totiang, Sugong
In, Ceng Sian suthay dan pengemis Hoa Sin termangu-mangu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mendengar kisah menarik yang tengah dibawakan Hiang
Hiang niocu itu. Sejenak mereka lupa bahwa saat itu mereka
tengah berdiri menjaga peti jenazah. Bahwa suasana saat itu
adalah suasana berkabung.
"Dengan keberanian yang luar biasa. Kim Thian-cong
menyelundup masuk kedalam markas Pek-lian-kau untuk
mencuri pedang pusaka Pek-li-an-kiam. Tetapi suamiku The
Seng-kun seorang yang cerdik dan cermat. Disekitar kamarnya
telah dipasang alat pekakas rahasia sehingga perbuatan Kim
Thian-cong itu ketahuan. Kawanan jago-jago silat anak buah
suamiku segera bangun dan mengepung Kim Than-cong.
Markas Pek-lian-kau yang luasnya beratus-ratus bahu dan
terletak disebuah lembah gunung, memiliki penjagaan yang
ketat rapat. Kim Thian-cong bingung karena tak dapat
meloloskan diri dan akhirnya . , . . "
"Akhirnya bagaimana, niocu?" diluar kesadaran karena amat
tertarik dengan kisah itu. Hui Dong taysu mendesak
pertanyaan.
”Achirnya dia masuk kedalam .. , kamarku ah. . . . " Hiang
Hiang niocu kembali menghela napas panjang, sepanjang
pikirannya yang jauh melayang kepada kenangan lama.
Para ketua partai persilatan yang mendengar keterangan
itu, serentak terbeliak.
"Adakah Kim tayhiap tak tahu kalau kamar itu milik niocu ?"
tanya Hui Gong taysu pula.
"Bermula kuduga memang begitu. Tetapi menurut
pengakuannya dibelakang hari, ia mengatakan kalau sudah
tahu dan memang sudah direncanakan...”
"Omitohud ..." sela Hui Gong taysu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi Hiang Hiang niocu tak menghiraukan doa ucapan
ketua gereja Siau -lim-si itu, ia melanjutkan ceritanya : "Aku
terkejut dan hendak menjerit tetapi secepat itu ia mendekap
mulutku dengan tangannya dan memandang wajahku rapat
Ketika pandang mataku tertumbuk akan wajah dan sinar
matanya, entah bagaimana, runtuhlah hatiku . . . . " kembali
Hiang Hiang niocu berhenti sejenak, "ia melepaskan
dekapannya lalu mencabut belati dan diberikan kepadaku.
"Kalau nyonya hendak membunuh Kim Thian-cong, bunuhlah
sekarang juga. Aku rela mati ditangan nyonya daripada mati
ditangan, anakbuah Pek-lian-kau," katanya seraya membuka
baju dan menyongsong dadanva yang terbuka ....
"Engkau . . engkau Kim Tliian-cong?" kataku dengan
gemetar. Hampir aku tak percaya bahwa pendekar yang
termasyhur disejuruh dunia persilatan, ternyata hanya seorang
lelaki muda yang berwajah tampan. Sikapnyapun bukan
menyerupai o-rang persilatan yang gagah perkasa tetapi lebih
banyak mirip seorang sasterawan.”
"Kim Thian-cong hanya satu, yang dihadapan nyonyah ini."
katanya.
Setelah mendapat .ketenangan hati, maka kutanyakanlah
kepadanya mengapa ia berani masuk kedalam kamarku.
Dengan terus terang ia menceritakan bahwa kedatangannya
kedalam markas Pek-lian-kau itu ialah hendak mencuri pedang
pusaka Pek-Iian kiam milik The Seng-kun tetapi gagal. Dan
saat itu ia tengah dikejar anakbuah Pek-lian-kau.
"Nyonyah, daripada engkau menyerahkan diriku kepada
mereka, baiklah engkau bunuh saja aku," katanya.
“Kutatap wajahnya dan mata kamipun saling beradu. Aku
seorang wanita muda yang kesepian. Akupun sakithati kepada
suamiku yang telah menelantarkan diriku. Rasa kesepian dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sakithati berpadu, bagai arus sugai yang mengalir dan
mengalir untuk akhirnya masuk kedalam lautan . . . asmara.”
"Apakah engkau sudah beristeri?" diamuk oleh rasa asmara,
aku tak malu-malu lagi menanyakan hal itu kepadanya.
"Belum____tetapi, nyonyah," katanya tegang,
"kudengar derap kaki orang hilir mudik mencari diriku. Tak
lama mereka tentu akan mencari kemari. Bersediakah nyonyah
menolong diriku ?"
"Aku tak segera menjawab melainkan menatapnya lekat-
lekat, lalu kutanya : "Apakah janjimu untuk pertolonganku itu
?"
"Asal aku mampu melakukan, tentu akan ku laksanakan
permintaan nyonyah sekalipun nyonyah suruh aku masuk
kedalam lautan api ..."
"Tak perlu," sahutku, "aku menghendaki engkau hidup dan
bahagia bersama . . . . "
"Nyonyah, lekaslah, mereka benar-benar menuju kemari !"
Kim Thian-cong menukas gopoh.
"Apakah engkau tak ingkar janji ?” aku masih meminta
penegasan.
"Kim Thian-cong seorang lelaki, apa yang di-ucapkan tak
pernah ditelan kembali !"
"Hm, baiklah," akupun puas mendengar jawabannya,
"sekarang terpaksa engkau hendak ku-suruh memakai pakaian
wanita. Ya, engkau harus menyamar sebagai seorang wanita
dan akan kuakui sebagai bujangku ..."
"Ah, jangan. Aku tak dapat menjadi seoran wanita," cepat-
cepat ia menolak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lalu apa dayaku untuk menolongmu ?"
"Waktu amat berharga. Harap nyonyah membungkus diriku
dengan kain lalu masukkan aku ke dalam sarung guling. Aku
akan menjadi guling . .
Aku terkejut dan membantah : "Ah, jangan! bergurau.
Bagaimana mungkin tubuhmu yang sebesar itu akan menyusut
sekecil guling ?
"Bisa!" sahutnya yakin, "lakukan saja menurut apa yang
kukatakan dan baringkanlah aku diatas tempat tidur agar
mereka mengira aku ini sebuah guling"
Baru Hiang Hiang niocu bercerita sampai di situ tiba-tiba
terdengar suara melengking : "Ah, tak mungkin. Aku tak
percaya kalau Kim tayhiap begitu bernyali seperti tikus.
Mengapa dia tak berani menghadapi anakbuah Pek-lian-kau ?
Bukankah dia tentu dapat mengatasi mereka ? Bukankah tak
perlu dia harus main bersembunyi dikamar seorang wanita ?"
Hiang Hiang niocu berpaling kearah orang yang menyelutuk
itu, lalu menegur: "Siapa engkau?"
"Hoa Sin pengemis tua," sahut ketua Kay-pang
Beberapa ketua partai persilatan berdebar-debar dan
tegang perasaannya. Mereka kuatir Hiang Hiang niocu marah
atas ucapan ketua Partai Pengemis yang tak percaya pada
cerita itu.
"Hm, hidungmu setajam anjing !" dengus Hiang Hiang
niocu.
"Memang Hoa Sin ini tukang gebuk anjing. Kalau hidungku
kalah tajam dengan anjing, bagaimana mungkin aku dapat
menggebuk binatang itu?" kembali sipengemis sakti Hoa Sin
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kumat adat kebiasaan. Ia gemar membanyol dan berolok-olok
tak peduli dengan siapapun orangnya.
"Memang Kim Thian-cong seorang ksatrya yang perwira.
Dan sesungguhnya ia memang tak takut menghadapi
sergapan anakbuah Pek-lian-kau itu. Hal itu baru kuketahui
beberapa waktu kemudian, setelah hubungan kita sudah
sebagai suami isteri . . . "
"Amboi !" kembali pengemis sakti Hoa Sin melengking
seperti anjing digebuk. "Kim tayhiap mau menggauli engkau?
Ah, tidak, tidak. Dia bukan seorang hidung belang !"
Mungkin tentu merahlah wajah Hiang Hiang niocu
mendengar bantahan pengemis itu. Tetap karena tertutup kain
hitam, maka tak jelaslah bagaimana perobahan airmukanya.
Yang jelas, kain kerudung mukanya itu bergetar-getat walau
tak tertiup angin.
"Pengemis tua, tahukah engkau bahwa seorang ksatrya
yang gagah berani pun akan jatuh di bawah telapak kaki
seorang jelita ?" seru Hiang Hiang niocu.
"Tidak tahu!" bantah pengemis sakti Hoa Sin "buktinya aku
sendiri tak pernah jatuh dikaki wanita"
"Cis, wanita manakah yang sudi melihat tampangmu seperti
kuda meringis itu ?" hina Hi ang Hiang niocu.
"Ha, ha," tidak marah kebalikannya pengemis sakti itu
malah tertawa gelak-gelak." salah, salah. Aku bukan seperti
kuda meringis tetapi seperti serigala tertawa. Buktinya setiap
anjing yang melihat, tentu akan lari terbirit-birit."
"Omitohud," kembali Hui Gong taysu berucap doa, "harap
niocu suka melanjutkan ceritamu.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan ketua Siau-lim-si itupun berpaling memberi isyarat
kepala kepada Hoa Sin agar ketua partai Pengemis itu jangan
mengganggu.
"Karena melihat kesungguhan wajahnya akupun segera
melakukan permintaannya. Kubungkus tubuhnya dengan kain
lalu kuselubungi dengan sarung guling. Ah, ternyata tubuhnya
berobah sehingga cukup
kumasukkan dalam
selubung guling," Hiang
Hiang niocu melanjutkan
ceritanya.
"Ah, dia tentu
menggunakan ilmu Su
kang," kata Hui Gong taysu.
Sut-kut-kang-nya Ilmu
menyurutkan tulang
sehingga menjadi kecil.
"Ho, kaum Pengemispun
mempunyai Kau-hoan-wi
atau Anjing-menyurut-
ekor," kata pengemis sakti
Hoa Sin gatal mulutnya.
"Benar, paderi Siau-lim-si, Hiang Hiang niocu tak mau
menghiraukan ocehan Hoa Sin ”dia memang menggunakan
ilmu Sut-kut kang. Dan akupun makin kagum akan
kesaktiannya kawanan anakbuah Pek-lian-kau ternyata
memang datang kekamarku untuk mencarinya Walaupun
kutolak, tetapi mereka tetap memaksa hendak mau
menggeledah kamarku. Itu perintah ketua Pek-lian-kau, kata
mereka. Terpaksa kubiarkan mereka masuk. Hatiku berdebar
keras ketika merereka menyingkap kain kelambu tempat tidur.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Mereka tak dapat menemukan apa? kecuali bantal dan
guling. Akhirnya mereka minta maaf lalu ngeloyor pergi.
Setelah kurasa aman, barulah kukeluarkan dia dari dalam
selubung guling. Dia menghaturkan terima kasih kepadaku
dan terus hendak pergi. Tetapi cepat kucegah.
"Jangan, diluar masih berbahaya. Anakbuah Pek-lian-kau
masih giat mencarimu," kataku.
"Tetapi . . . bagaimana mungkin aku berada dalam kamar
nyonyah ?" serunya terkejut.
"Mengapa tak mungkin. Bukankah engkau sudah masuk
kemari ?" aku tersenyum, "bermalamlah disini untuk
menghindari bahaya penangkapan”
"Tetapi nyonyah . . . aku seorang lelaki dan engkau seorang
wanita yang sudah bersuami, bagaimana ..."
"Lelaki jodohnya perempuan. Perempuan pasangannya
lelaki. Mungkin sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa, bahwa
engkau akan datang kepadaku. Adakah aku ini jelek ?"
tanyaku kepadanya.
"Ah . . . , " ia menghela napas, "sudah lama kudengar
bahwa Hiang Hiang niocu itu seorang ratu dari So-ciu. Bukan
melainkan cantik, pun juga keringatnya menyiarkan bau
harum ...."
"Dan bagaimana kenyataan yang engkau lihat saat ini ?"
tanyanya makin diluap oleh dendam asmara.
"Memang belum pernah kulihat seorang wanita yang lebih
cantik dari engkau. The Seng-kun sungguh beruntung sekali
..."
”Aku merasa tersinggung dengan kata-kata itu. Dan
bercucuranlah airmataku karena mengenangkan! nasibku yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
celaka. Mengapa dahulu Thian-cong tak bertemu dengan aku?
Mengapa aku harus menjadi isteri The Seng-kun ? Aku
menangis tersedu-sedu. Dan tiba-tiba Thian-cong membelai-
belai rambutku, menghibur kesedihanku.
Malam itu, ya malam itu . . . oh. alangkah indahnya ..
alangkah bahagianya . . Belum pernah kunikmati malam yang
seindah dan sebahagia seperti malam itu ketika Thian-cong
mendekap tubuhku dan menciumi pipiku dengan mesra . . .
Sejak malam itu aku telah dimiliki Thian cong. Kuserahkan jiwa
dan ragaku kepadanya . . ”
"Omitohud ! Niocu adalah isteri The Seng kun kaucu " seru
Hui Gong taysu.
"The Seng-kun mengambil diriku secara paksa, dibawah
tekanan kekerasan ayahku terpaksa menyerahkan aku
kepadanya. Tetapi tak pernah aku mencintainya. Bahkan
diam-diam aku mulai membencinya. Tetapi Thian-cong telah
mengajarkan kepadaku apa arti Asmara yang sejati.
Kepadanialah hatiku kupersembahkan," kata Hiang Hiang
niocu.
"Tidak, tidak !" tiba-tiba pengemis sakti Hoa Sin menjerit,
"aku tak percaya Kim tayhiap begitu tipis imannya, mencintai
seseorang wanitayang menjadi isteri orang !"
"Pengemis busuk !" teriak Hiang Hiang niocu dengan
murka." engkau anggap aku ini wanita apa? Dihadapan para
ketua partai persilatan dengan tanpa malu kuceritakan kisah
hubunganku dengan Kim Thian-cong, kalau hal itu tidak benar,
masakan aku tak malu mengatakannya ? Bukalah telingamu
lebar-lebar, hai pengemis busuk ! Betapa buruk muka, betapa
rendah budi dan betapa jahat seorang wanita itu, namun ia
tetap memiliki perasaan halus dari wanita, tetap masih
mempunyai rasa malu !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Maaf, maaf, niocu," tergopoh pengemis sakti Hoa Sin
membungkuk tubuh selaku pernyataan maaf," memang
pengemis Hoa Sin ini bukan seorang wanita. Maka Hoa Sin tak
punya malu, tetapi hanya wanitalah yang mempunyai rasa
malu itu. Tetapi pengemis tua ini kenal baik akan peribadi Kim
tayhiap seperti pengemis tua ini mengenal pada dirinya
sendiri. Kim tayhiap memang tampan seperti Arjuna dan
pengemis tua ini buruk seperti setan. Tetapi pengemis tua
sungguh tak percaya kalau Kim tayhiay mau berbuat yang tak
senonoh kepada isteri orang, apabila ....”
"Apabila bagaimana?" desak Hiang Hiang niocu
"Apabila tidak kena guna-guna atau jimat."
"Guna-Guna, jimat? Ih, mengapa harus memakai guna-
guna atau jimat segala ? Ketahuilah hai pengemis busuk,
guna-guna atau jimat yang ampuh dari wanita itu tak lain
hanialah kecantikan wajahnya. Apakah engkau kira Thian-cong
itu hatinya terbuat dari baja? Adakah engkau pandang Thian-
cong itu seorang manusia istimewa ? Herankah engkau kalau
dia jatuh hati kepadaku ?"
"Ya, memang heran, benar-benar pengemis buruk ini heran
kalau Kim tayhiap sampai jatuh hati kepada Hiang Hiang
niocu," seru Hoa Sin.
"Pengemis buduk, dengan cara apakah aku dapat
melenyapkan keherananmu itu?" seru Hiang I Hiang niocu
yang tanpa disadari makin ngotot melayani olok-olok
pengemis sakti.
Pengemis sakti Hoa Sin garuk-garuk kepala. Sesaat
kemudian ia berkata tetapi seolah-olah mengoceh seorang diri
: "Kalau aku menggebuk anjing, makin anjing itu berbulu
indah, makin keras kugebuk. Anjing yang jelek bulunya,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kugebuk ringan-ringan saja supaya enyah dari pandang
matakul Ada orang bertanya kepadaku, mengapa aku
mengadakan perbedaan dalam hal menggebuk anjing ?
Kujawab, pengemis tua suka pada anjing yang langsing, yang
molek, yang cantik bulunya, ha, ha."
"Ya, benar, niocu," serunya kemudian kepada Hiang Hiang
niocu, "anjing itu juga bermacam-macam. Ada anjing belang,
anjing putih, anjing hitam, anjing buduk. Anjing yang cantik
bulunya! tentu kugebuk keras-keras."
"Pengemis gila, engkau ini," teriak Hiang Hiang niocu,
"mengapa engkau malah menggebuk keras kepada anjing
yang cantik ?"
"Setiap benda yang kusukai lebih baik kuhancurkan
daripada jatuh kelain tangan !" seru pengemis sakti.
Rupanya Hiang Hiang niocu menyadari. Mengapa ia
membiarkan diri terhanyut dalam ocehan sipengemis. Maka
dengan nada bengis ia berseru : "Sudahlah, pengemis buduk,
jangan mengoceh melulu Katakan dengan cara bagaimana
engkau dapat percaya bahwa Kim Thian-cong memang jatuh
hati kepadaku ?"
Pengemis sakti Hoa Sin garuk-garuk kepalanya lagi. Pada
lain saat ia mengoceh sendiri: "Dia tahu Kalau wanita itu
sudah bersuami . . . dia tahu kalau dirinya itu dihormati oleh
segenap kaum persilatan . . dia tentu tak mau berbuat sesuatu
yang mencemarkan namanya . . . kalau dia mau berbuat
begitu . . . tentulah ada sebabnya. Kalau tidak mabuk
kecantikan dan rayuan tentulah mabuk arak!"
"Niocu!" serentak pengemis sakti itu berteriak." sekarang
aku sudah menemukan jawaban. Hanya dua hal . . . "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Baik, akan kuperlihatkan wajahku kepadamu agar engkau
yakin bahwa Thian-cong memang jatuh hati kepadaku . . . !"
kata Hiang Hiang niocu seraya maju menghampiri kehadapan
pengemis tua.
"Harap yang lain suka menyingkir karena yang akan
kusuruh melihat wajahku nanti hanya sipengemis buduk ini!"
Hiang Hiang niocu memberi isyarat dengan kepada keenam
ketua partai persilatan, agar berdiri dibelakangnya.
Merekapun menurut.
Kini berhadapanlah Hiang Hiang niocu dengan pengemis
sakti Hoa Sin.
"Apakah engkau sudah siap melihat wajahku?" tegur Hiang
Hiang niocu.
Mendengar ucapan itu, terlintaslah sesuatu pada benak Hoa
Sin. Ia tahu Hiang Hiang niocu itu amat sakti. Bahkan tokoh
semacam Thian-sat cu pun gentar juga kepada wanita itu.
Tentu tak begitu saja wanita itu mau memperlihatkan
wajahnya kalau tidak disertai dengan tindakan yang mungkin
membahayakan jiwa orang. Memikir sampai disitu, diam-diam
pengemis sakti itupun kerahku tenaga-dalam untuk
menyambut setiap kemungkinah
"Sudah, niocu," kata Hoa Sin.
"Hm, lihat dan nikmatilah yang seksama” tiba-tiba tangan
Hiang Hiang niocu membuka kerudung yang menutup
wajahnya dan . . . seketika itu mata pengemis sakti Hoa Sin
terbelalak lebar. Hiang Hiang niocu walaupun sudah setengah
tua tetapi masih memancarkan bekas-bekas kecantikan yang
luar biasa. Tak mengherankan kalau semasa masih gadis, dia
telah disanjung orang sebagai Ratu Kembang kota So-ciu.
Kota yang tersohj sebagai gudang wanita-wanita cantik.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi serentak dengan itu, serangkum bau yang luar biasa
harum telah melanda hidung pengemis tua itu. Darah
pengemis tua itu melancar keras dan jantungnyapun berdetak
gencar seksekali sehingga seakan-akan mau copot. Untunglah
sebelumnya ia sudah membentengi diri dengan penyaluran
tenaga-dalam.
Para ketua partai persilatan terkejut ketika dari belakang
Hiang Hiang niocu mereka melihat wajah pengemis sakti Hoa
Sin merah padam seperti kepiting rebus, kedua matanyapun
merah dan melotot keluar. Tak tahu mereka apa yang telah
terjadi.
"Pengemis buduk, sudah cukupkah engkau menikmati
wajahku ?" tiba-tiba Hiang Hiang niocu berseru.
Hoa Sin tak menyahut melainkan menganggukkan kepala
Dan ketika Hiang Hiang niocu menutup lagi kain kerudung
mukanya, pengemis tua itu terus numprah duduk dilantai,
pejamkan mata menyalurkan tenaga-dalam.
Hiang Hiang niocu tertawa cerah : "Nah, bolehlah engkau
renungkan dulu sedalam-dalamnya, baru nanti engkau
memberi jawaban kepadaku lagi."
Habis berkata Hiang Hiang niocu berpaling dan
mempersilahkan para ketua partai persilatan itu kembali
ketempat masing-masing.
Hui Gong taysu dan beberapa ketua partai persilatan itu
tahu bahwa pengemis sakti tentu menderita sesuatu dan
merekapun tak berani mengganggunya.
"Nah. sekarang aku hendak melanjutkan ceritaku lagi," kata
Hiang Hiang niocu-
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hampir setengah bulan Thian-cong berada dalam kamarku.
Kami hidup sebagai pengantin baru. The Seng-kun tak pernah
datang dan anakbuahnya pun tak berani datang mengganggu
...
Pada suatu hari Thian-cong menyatakan keinginannya
untuk mencuri pedang pusaka Pek-lian-kiam. Ia menyatakan,
dalam ilmu silat ia dapat menundukkan The Seng-kun tetapi
karena pedang pusaka itulah maka ia terpaksa harus
melarikan diri. Apabila tak dibasmi, The Seng-kun dan
perkumpulan Teratai Putih itu membahayakan dunia persilatan
dan rakyat. Jelas partai itu sudah nye-leweng dari tujuan
semula. Thian-cong rela menempuh bahaya asal dapat
mengambil pedang it
Tetapi aku tak tega melihatnya terancam bahaya. Tetapi
aku minta janji kepada Thian-cong Aku sanggup
mengambilkan pedang itu asal Thiai cong benar-benar setia
dan tak mensia-siakan diriku. Dia memberikan janjinya seraya
menyerahkan s buah badik. Kalau ia ingkar janji, ia rela mati
kucincang dengan badik itu," berkata sampai disitu Hiang
Hiang niocu mencabut sebatang badik dari dalam baju, "inilah
badik pemberian Thia-cong . . . !"
Hui Gong taysu dan para ketua partai persilatan mulai
goyah keyakinannya demi melihat bukti badik dari Kim Thian-
cong itu.
Sambil memasukkan badik itu lagi, Hiang Hiang niocu
melanjutkan pula: "Kamipun segera mengatur renciana. Agar
jangan sampai ketahuan The Seng-kun, Thian-cong
menyarankan supaya aku menukar saja pedang pusaka itu
dengan pedang yang bentuknya mirip. Aku setuju. Untuk
keperluan mencari dan kalau perlu menyuruh tukang besi
membuat sebatang pedang yang bentuknya sama dengan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pedang" Pek-lian-kiam, maka Thian-cong tinggalkan markas
Pek-lian-kiam. Setengah bulan kemudian dia kembali lagi
dengan membawa pedang tiruan. Dia pergi lagi dan
mengatakan sepuluh hari kemudian akan kembali untuk
mengambil pedang pusaka Pek-Iian-kk.m.
Akupun segera bekerja menurut yang direncanakan.
Kusuruh seorang bujang mengundang The Seng-kun
supaya mengunjungi tempatku. Ku tahu The Seng-kun itu
seorang yang penuh curiga. Kemanapun juga ia selalu
membawa pedang Pek-lian-kiam. Waktu dia datang, aku pura-
pura merajuk dan hendak bunuh diri. Dia kaget dan cepat
mencegah. Dengan menangis tersedu-sedu kugugat dia
sebagai seorang lelaki hidung belang yang lekas bosan kepada
wanita. Daripada ditelantarkan, lebih baik aku bunuh diri atau
dibunuh saja. Atau kalau memang sudah bosan, kuminta dia
suka mengem balikan aku kerumah orangtuaku.
Berkat permainanku yang sempurna, akhirnya ia minta
maaf. Malam itu dia menginap dikamar-ku. Kulolohnya dengan
arak sehingga dia mabuk dan tak ingat diri. Lalu kutukar
pedang pusaka Pek-lian-kiam dengan pedang dari Thian-cong.
Wa-laupun ketika itu aku tak mengerti ilmu silat, tetapi ketika
kupadu, kedua pedang itu memang serupa, sukar dibedakan
mana yang aseli mana yangi tiruan
Sepuluh hari kemudian Thian-congpun datang dan
kuserahkan pedang itu kepadanya. Setelah tinggal bersamaku
lebih kurang setengah bulan, dia minta diri. Kuminta supaya
dia membawaku lari tetapi ia menolak dan suruh aku tinggal
dulu di markas Pek-lian-kau, agar jangan menimbulkan
kecurigaan The Seng-kun. Kelak apabila dia sudahi berhasil
membunuh The Seng-kun dan membubarkan Pek-lian-kau
barulah dia akan menjemputku Aku percaya penuh
kepadanya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Lebih kurang sebulan kemudian, markas Pek lian-kau
dikepung berpuluh-puluh jago-jago silat. Terjadi pertempuran
besir. Kudengar The Seng-kun telah terbunuh dan
anakbuahnya porak poranda. markas Pek-lian-kau dibakar.
Saat itu keadaannya benar-benar kacau seperti kiamat. Tetapi
aku tak takut kebalikannya malah diam-diam gembira untuk
menyambut kedatangan Thian-cong.
Tetapi bukan Thian-cong yang datang kebalikannya si
Macan-jidat-putih Li Kui. Dia pengawal peribadi dari The Seng-
kun. Setelah The Seng kun mati, dia bergegas-gegas datang
kepadaku dan dengan mengancam hendak membunuh aku,
dia memaksa aku supaya ikut padanya melarikan diri. Aku
dibawanya melintasi beberapa gunung lalu menetap disebuah
pondok dalam hutan yang sunyi. Ternyata, sudah lama dia
mendendam birahi kepadaku tetapi dia tak berani kepada
majikannya. Kini The Seng-kun sudah mati dan kesempatan
itu tak disia-siakannya. Bukannya dia ikut mati membela
tuannya, tetapi malah lari dan membawa aku pergi - . . -
Ketika dia hendak melampiaskan nafsunya, kutolak dan
aku mengancam hendak bunuh diri. ''Lihatlah, aku sedang
mengandung jabang bayi ' dari The Seng-kun. Kalau engkau
berani memaksa, aku akan membunuh diri. Nanti setelah
jabang bayi itu lahir, baru aku mau menuruti kehendakmu,"
kataku dengan bengis. Rupanya dia masih gentar kepada
pengaruh The Seng-kun maka dia mau menurut
permintaanku.
Sebenarnya aku ingin minggat tetapi apa dayaku. Aku
seorang wanita lemah, tak kenal jalan tak tahu arah.
Kemanakah aku harus mencari Thian-cong ?
Setelah tiba saatnya, akupun melahirkan seorang anak, ya,
seorang anak lelaki yang montok-Aku girang karena mendapat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
anak, si Macan. jidat-putih Li Kui gembira karena aku bakal
menjadi isterinya.
Hari itu dia pamit hendak kekota membeli pakaian untukku
dan berbelanja arak. Malam nanti dia akan menyiapkan
makanan lezat dan arak untuk merayakan malam pengantin
kita. Aku tak dapat berbuat apa-apa, kecuali menangis dalam
hati.
Tetapi sampai malam belum juga dia pulang. Walaupun aku
benci kepadanya tetapi aku merasa cemas juga. Tiba-Tiba
muncul seorang kakek gundul yang kumis dan jenggotnya
putih seperti salju. Dia mengatakan bernama Pek Lian lojin
atau kakek Teratai Putih, pendiri dari perkumpulan Pek-lian
kau dan guru dari The Seng-kun ....
Mendengar kabar Pek-lian-kau hancur, turun dari gunung
dan menuju kemarkas Pek-lia kau. Tetapi markas sudah rata
dengan tanah. The Seng-kun terbunuh mati. Dari salah
seorang anak buah Pek-lian-kau yang berhasil diketemukan, ia
mendapat keterangan bahwa aku sedang hamil tetapi di bawa
lari oleh Li Kui. Kakek itu marah sekali d mencari jejak Li Kui.
Secara kebetulan ketika Kui ke kota, dia telah berjumpa
dengan kakek itu lalu dibunuhnya. Kakek itu menganggap Li
Kui seorang penghianat. Kemudian ia datang kepadaku
"Hm, mana putera Seng-kun?" tegurnya dengan bengis.
Begitu melihat anakku masih tidur dipembaringan, dia terus
loncat menyambarnya," putera The Seng-kun muridku ini,
harus diselamatkan agar kelak dapat membangun
perkumpulan Pek-lian-kau lagi. Engkau seorang wanita yang
serong, suamimu mati engkau malah ikut minggat dengan
pengawal suamimu. Tak pantas wanita rendah semacam
engkau menjadi ibu. Seharusnya engkau kubunuh tetapi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mengingat engkau telah memberi putera kepada Seng-kun,
maka kali ini kuampuni jiwamu."
Habis mendamprat, ia terus membawa bayi itu pergi. Aku
pingsan. Ketika esok hari bangun, pikiranku berobah. Ya, aku
gila dan lari kemana-mana, menangis, tertawa, menyanyi dan
mengoceh. Untunglah aku bertemu dengan Bu Beng lojin,
kakek Tanpa-nama, seorang sakti yang bertapa mengasingkan
diri disebuah guha. Aku disembuhkan dari penyakit goncang
urat syaraf dan diberi ajaran ilmu silat yang sakti. Beberapa
tahun kemudian, kakek itu meninggal, ak -pun lalu turun
gunung hendak mencari puteraku. Engkau tahu, paderi Siau-
lim-si, siapakah sebenarnya puteraku itu ?"
"Omitohud", seru Hui Gong taysu, "dia adalah putera
keturunan dari The Seng-kun kaucu."
"Bukan!" Hiang Hiang niocu menolak, "dia bukan anak dari
The Seng-kun tetapi tetesan darah Kim Thian-cong ..."
"Omitohud !" agak keras Hui Gong taysu berseru karena
terkejut mendengar keterangan itu, "bagaimana mungkin
putera Kim tayhiap? Bukankah niocu isteri dari The Seng-kun
kaucu ?"
"Benar, tetapi The Seng-kun tak pernah memberi
keturunan. Isterinya banyak tetapi tidak seorangpun yang
mempunyai anak. Dan aku tahu jelas bahwa bayi dalam
kandunganku itu bukan dari The Seng-kun tetapi dari Thian-
cong ..."
"Oh ..." kedengaran para ketua partai Persilatan itu
mendesuh tertahan karena terkejut sekali.
"Adakah Kim tayhiap tahu hal itu ?" tanya Hui Gong taysu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tidak," Hiang Hiang niocu gelengkan kepala "sebulan
setelah Thian-cong meninggalkan aku, aku mulai mengandung
bulan yang pertama., Kemudian Pek-lian-kau dihancurkan, aku
lari dibawa Li Kui sehingga tak sempat berjumpa lagi dengan
Thian-conl ”
"Omitohud,"- ucap Hui Gong taysu dengan nada terharu,
"kisah niocu sungguh mengharukah Pin-ni ikut perihatin. Lalu
apakah maksud kunjungan niocu kemari ?"
"Duapuluh tahun lamanya aku meyakinkan ilmu yang
diajarkan Bu Beng lojin sehingga dapat mencapai tingkat yang
hampir sempurna. Aku sakit hati kepada Thian-cong yang
walaupun sudah ku cari kemana-mana tetapi tak dapat
kuketemukari. Aku benci kepada kaum lelaki. Kudirikan
perkumpulan Ang-lian-kau atau Teratai Merah. Kuterima
gadis-gadis cantik sebagai murid. Kutempuh perjalanan hidup
yang gila. Setiap bertemu dengan pemuda tampan tentu
kubawa kedalam markas. Setelah kupaksa dia menuruti
nafsuku, lalu kubunuh. Kemudian kudengar berita Thian-cong
mati maka bergegas-gegas aku datang kemari untuk
menunaikan nazarku selama duapuluh tahun itu. Dengan
badik pemberiannya dahulu, hendak kucincang tubuh Thian-
cong manusia yang mengkhianati cintaku ..."
Kembali Hiang Hiang niocu mencabut badik
"Omitohud." seru Hui Gong taysu, "tetapi Kim tayhiap sudah
meninggal. Pin-ni mohon sukalah niocu "suka memaafkannya
....
Hiang Hiang niocu tertawa hambar: "Engkau salah, paderi
Siau-lim-si Janji itu Thian-cong sendiri yang mengucapkan.
Jika tak kulaksanakan bukankah dia takkan beristirahat
tenteram dialam baka ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hui Gong taysu terkesiap. Demikianpun dengan kelima
ketua partai persilatan. Ucapan Hiang Hiang niocu memang
tepat dan sukar dibantah. Merekapun diam-diam cemas
karena takut kalau peti itu dibuka, Hiang Hiang niocu pasti
akan mengetahui bahwa yang berada dalam peti itu bukan je-
k nazah Kim Thian-cong tetapi sebuah orang-orangan terbuat
daripada kayu. Mau tak mau para ketua partai persilatan itu
gelisah bukan main.
"Tetapi ah, sayang sekali, "kedengaran Hiang Hiang niocu
menghela napas, "keparat Bu-ing-kui Jadi telah mendahului
menghancurkan mayat Thian-cong dengan pukulan Tanpa-
bayangan. Terang aku tak dapat mencincang tubuh yang
sudah hancur itu .... "
Hui Gong taysu dan kawan-kawan terperanjat sekali.
Mereka tak mengira kalau jenazah Kim Thian-cong yang
berada dalam peti itu sudah hancur. Mereka percaya apa yang
diucapkan Hiang Hiang niocu Tetapi diam-diam merekapun
girang karena lebih dulu telah menyembunyikan jenazah Kim
Thian-cong dilain tempat.
"Karena jenazah Kim tayhiap sudah hancur, kiranya niocu
tentu suka menghentikan maksud niocu untuk
mencincangnya."
"Tetap!" sahut Hiang Hiang niocu dengan nada mantap,
"setiap nazar harus dihimpaskan. Walaupun hanya scgores
dua gores tetapi akan tetap kukerat mayat Thian-cong ..."
Dalam pada berkata-kata itu iapun terus meangkah maju
menghampiri peti jenazah. Para ketua partai persilatan itu
tegang bukan kepalang Bila hendak mencegah, terang
mereka bukan tanding wanita sakti itu. Apalagi para ketua
partai persilatan itu masing-masing telah kehabisan tenaga-
murni akibat menahan pukulan Bu-kek-coan-jit-hun daril
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
durjana Thian-sat-cu tadi. Namun kalau membiarkan saja,
tentulah rahasia tentang mayat dalam peti itu akan terbongkar
...
Tiba-Tiba terdengar lengking seorang gadis : "Tunggu
dulu, niocu ....!"
Ternyata yang berseru itu adalah Liok Sianli, murid
perempuan dari Kim Thian-cong
Hiang Hiang niocu tertegun, tegurnya: "Mau apa engkau?”
"Niocu beberapa hari sebelum suhu menutup mata. beliau
telah menyerahkan sebuah sampul kepadaku. Pesan beliau,
apabila nanti dalam pemakaman terdapat tetamu wanita
cantik yang mengaku sebagai kekasih suhu, supaya sampul
surat ini diberikan kepadanya. Apakah sampul itu dapat
kuterimakan, kepada niocu ?' ia mengakhiri kata dengan
mengeluarkan sebuah sampul warna kuning muda.
Hiang Hiang niocu terkesiap. Cepat ia ulurkan tangan :
"Berikan kepadaku !"
Setelah menyambuti sampul surat, Hianp, Hiang niocupun
segera membukanya, Membaca . . .
Sekalian ketua partai persilatan hening serentak. Mereka
memandang Hiang Hiang niocu dengan penuh perhatian.
"Ah, Thian-cong . . . , " tiba-tiba Hiang Hiang niocu
mendesah panjang. Ia tegak seperti patung, terlongong-
longong dengan kerut wajah hampa Sedemikian kehilangan
semangat wanita itu hingga surat dalam sampul kuning itu
terlepas dari tangannya dan bertebaran jatuh kelantai.
Rupanya saat itu pengemis sakti Hoa Sin sudah selesai
menenangkan darahnya yang bergejolak. Karena suasana
amat sepi sekali maka hamburan surat itupun dapat ditangkap
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
telinganya. Dan secara kebetulan sekali, surat itu melayang
jatuh ke atas pangkuannya. Secepat kilat ia membuka mala,
mengambil surat dan membaca. Hanya dalam sekejab mata
saja ia sudah mengerti isi surat itu.
Serentak berbangkitlah ketua partai Pengemis lalu tertawa :
"Ha. ha, sekarang nyata bahwa dugaanku tadi memang benar.
Kim tayhiap jelas terminum ..."
"Jahanam, jangan banyak mulut!" tiba-tiba Hiang Hiang
memaki dan taburkan tangannya. Sebuah benda tipis sebesar
bunga melati tetapi berwarna merah, melayang kearah
pengemis itu. Itulah senjata rahasia Ang-lian-cu atau Biji
Teratai merah. Tiada seorang lawan yang pernah lolos apabila
Hiang Hiang niocu menaburnya dengan Ang-lian-ca.
Pengemis sakti Hoa Sin terkejut sekali. Karena tak
menyangka akan gerakan Hiang Hiangl niocu yang sedemikian
cepat sekali. Apalagi jaraknya amat dekat, hanya beberapa
belas langkah. Betapapun sakti pengemis tua itu, namun
Hiang Hiang niocu lebih sakti.
Cret . . . surat yang tengah dipegang pengemis Hoa Sin
tertabur hancur, masih Ang-lian-cu itu melanda dadanya, tring
. . . terdengar dering macam keping baja tertimpah palu besi.
Tubuh pengemis sakti Hoa Sin terjungkal kebelakang tapi
secepat itu ia sudah berjumpalitan melonjak bangun.
Hiang Hiang niocu heran bahwa pengemis usil mulut itu
masih hidup. Demikianpun para ke partai persilatan. Tetapi
cepat mereka mengerti apa sebabnya. Bunyi mendering tajam
tadi, jelas dari kepingan baja. Dengan begitu dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengemis saksi Hoa Sin mengenakan
papan baja pada dadanya. Dan teringat pula para ketua partai
persilatan apa sebab tadi pengemis sakti itu begitu ngotot
hendak menahan pukulan maut Bu kek-coan-jit-hun momok
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Thian-sat-cu. Dan nyatanya berkat lindungan keping baja itu,
selamatlah ketua partai Pengemis itu.
Malu karena ang-lian-cunya tak mampu mencabut nyawa
sipengemis sakti; Hiang Hiang niocu terus hendak lepaskan
pukulan. Tetapi secepat itu Hui Gong taysu mencegah : .
"Omitohud, harap niocu suka bermurah hati kepadanya. Hoa
pangcu itu memang suka usil mulut tetapi dia bukan orang
yang jahat."
Beda sikap Hiang Hiang niocu ketika baru datang dengan
saat itu setelah membaca surat Kim Thian-cong. Rupanya ada
sesuatu dalam surat itu sehingga Hiang Hiang niocu berobah
ramah hati.
"Paderi Siau-lim-si," katanya kepada Hui Gong, "agar
jangan menumpahkan darah karena aku tak dapat
mengendalikan kemarahan, harap engkau suruh dia pergi,
jangan menyebalkan mataku. Kalau dia membangkang,
terpaksa aku harus turun tangan !"
Karena Hoa Sin itu terus menerus mengganggu, Hui Gong
taysu kuatir Hiang Hiang niocu akan marah dan benar-benar
akan membunuh ketua Partai Pengemis itu. Maka ia
menghampiri ketua Partai Pengemis itu lalu dengan pelahan ia
memintanya agar suka menyingkir dulu untuk menjaga hal-hal
yang tak diinginkan.
"Baiklah, taysu, kalau Hiang Hiang niocu sebal melihat
tampangku, akupun akan menyingkir," kata pengemis sakti
Hoa Sin tertawa-tawa sambil ayunkan langkah keruang
belakang, tinggalkan surat dalam sampul kuning yang sudah
hancur terkena senjata rahasia Ang-lian-cu.
Kemudian Hiang Hiang niocu meminta dupa dan
bersembahyang dimuka peti jenazah : "Thian-cong, maafkan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
aku. Ternyata engkaupun amat menderita seperti aku . . .
Engkaupun telah berusaha mati-matian untuk mencari aku
tetapi tak berhasil sehingga engkau menganggap aku sudah
mati dalami pembasmian markas Pek-lian-kau . . . Thian-
cong,! sebenarnya saat ini juga aku ingin mati didepan peti
jenazahmu, untuk menebus kesalahanku, agar aku segera
berkumpul lagi dengan engkau dialam baka . . . ah, Thian-
cong, hanya engkaulah pria satu-satunya yang benar-benar
mengisi hatiku . . Thian cong, terpaksa aku belum dapat
menyusul engkau karena aku masih ingin menyelesaikan tugas
kewajibanku yang terakhir. Dan tugas itu demi untuk
kepentinganmu dan kepentinganku. Ya, Thian cong, berilah
aku kekuatan lahir dan batin agar dalam sisa hidupku yang
terakhir ini aku berhasi mencari puteramu. Akan kuberinya
keterangan si apa ayahnya dan akan kusuruh iya berlutut
dide pan makammu . . . . "
Sekalian ketua partai persilatan mendengarkan doa Hiang
Hiang niocu dengan penuh rasa haru dan belasungkawa.
Mereka duga isi surat Kim Thian-cong itu tentu suatu
penjelasan kepada Hiang Hiang niocu.
Beberapa saat kemudian tampak Hiang Hiang niocu dan
ketujuh anakmuridnya berbangkit lalu wanita itu menghadap
kearah Hui Gong taysu.
"Taysu," katanya dalam nada rawan, "akan ditanam
dimanakah jenazah Thian-cong nanti ?"
Ketika ketua partai Siau-lim-pay itu menerangkan bahwa
Kim Thian-cong sudah meninggalkan pesan agar jenazahnya
dikubur dipuncak Giok-li-nia disamping makam isterinya, Hiang
Hiang niocu terkait : "Ah. dia sudah beristeri ?"
"Ya, tetapi isterinya sudah mendahului meninggal lima
tahun yang lalu," kata Hui Gong.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Adakah dia berputera ?"
"Ya, seorang Tetapi putera Kim tayhiap itu nakal dan malas
sehingga karena jengkel, Kim tayhiap telah mengusirnya,"
kata Hui Gong yang kemudian juga memperkenalkan Tio
Goan-pa, Liok Sian-li serta Kwik Ing yang sedang bertugas
dibelakang.
"Siapakah nama anak itu dan berapakah kita-kita umurnya
sekarang ?"
"Namanya Kim Yu-yong. sudah berumur 15-16 tahun tetapi
masih ketolol-tololan seperti unak kecil."
"Baiklah taysu," kata Hiang Hiang niocu," saut ini fajar
sudah menjelang tiba. Aku tak dapat linggal lama disini. Aku
masih harus menyelesaikan hcberapa urusan penting sehingga
terpaksa tak dapat hadir dalam pemakaman Thian-cong.
Kelak dalam usahaku mencari puteraku yang hilang itu,
akupun akan mencari putera Kim Thian-cong si Yu-yong yang
blo'on itu. Taysu dan sekalian ketua partai persilatan.
Walaupun aku bukan isteri Thian-cong yang resmi, tetapi aku
adalah ibu dari seorang putera Kim Thian-cong. Maka
terimalah hormatku sebagai pernyataan terima atas bantuan
saudara-saudara dalam mengurus jenazah a-yah dari puteraku
itu ... "
Hui Gong taysu dan para ketua partai per silatan melonjak
kaget ketika Hiang Hiang niocu membungkuk tubuh memberi
hormat kepada mereka. Tersipu-sipu mereka membalas
hormat ke pada wanita itu.
"Omitohud." serta merta Hui Gong berseri "harap niocu
jangan berlaku keliwat menghormat Pin-ni dan sekalian ketua
partai persilatan merasa telah berhutang budi kepada Kim
tayhiap yang dalam masa-masa yang gawat, telah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menyelamatkan kaum persilatan di Tiong-goan dari
kehancuran dan mempersatukannya kembali. Apa yang kami
lakukan terhadap Kim tayhiap saat ini masih jauh artinya dari
apa yang Kim tayhiap telah diberikan kepada kami . "
"Baik, taysu. Selamat tinggal, aku hendak pergi," kata Hiang
Hiang niocu seraya ayun langkah mengajak anakmuridnya
keluar.
"Niocu, tunggu dulu," tiba-tiba Ang Bin tosu ketua Bu-tong-
pay berseru gopoh. Hiang Hiang niocu hentikan langkah,
berpaling.
"Niocu" kata ketua partai Bu-tong-pay sambil memberi
hormat, "kami merasa telah berhutang budi besar kepada Kim
tayhiap. Maka apapun yang dapat kami lakukan tentu akan
kami lakukan untuk membalas budi Kim tayhiap. Siapakah
nama dan bagaimanakah ciri-ciri dari putera niocu yang hilang
itu ? Siapa tahu, kalau Tuhan memberi jalan kepada kami
untuk membalas budi kepada Kim tayhiap, mungkin kami akan
menemukan putera Kim tayhiap dengan niocu itu."
Sejenak merenung Hiang Hiang niocupun menjawab :
"Waktu direbut Pek Lian lojin, bayi itu baru berumur tiga
bulan. Pada dada sebelah kiri terdapat tanda hitam sebesar
buah kelengkeng. Dan kunamakan anak itu Sin-lui yang
artinya tunas baru."
Demikian Hiang Hiang niocu lalu tinggalkan puncak Giok-li-
nia dengan membawa kenangan yang tak mudah dilupakan.
Saat itu fajar sudah tiba. Ternyata pembicaraan Hiang
Hiang niocu dengan para ketua partai persilatan itu telah
memakan waktu hampir setengah malam. Dan diwaktu Hiang
Hiang niocu bicara menururkan kisah jalinan hidupnya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
bersama Kini Thian-cong, tak ada seorang tetamu yang berani
mengganggu peti jenazah.
Hari itu peti jenazah Kim Thian-cong, ditanam dipuncak
Giok-li-nia disamping makam isterinya. Kemudian para wakil-
wakil perguruan maupun partai persilatan dan perorangan,
berbondong-bondong tinggalkan puncak Giok-li-nia pulang
kembali ketempat masing-masing
Yang masih tinggal hanialah Hui Gong taysu dan keenam
ketua partai persilatan yang memikul tugas mengurus
pemakaman itu. Karena semalam suntuk tak tidur dan pagi
harinya melangsungkan pemakaman, mereka letih juga.
Setelah siang hari beristirahat, malam mereka baru berkumpul
di paseban Wisma Perdamaian.
"Ah, syukurlah pemakaman telah berlangsung lancar.
Memang apa yang kita kuatirkan, hampir menjadi kenyataan
semua. Untunglah karena terjadi hal-hal yang tak terduga,
maka muzibah itu dapat teratasi," kata Hui Gong taysu sambil
menarik napas |onggar.
"Tetapi kurasa dalam peristiwa semalam, tidak seluruhnya
hanya terjadi karena hal yang tali terduga. Sebagian memang
kita atur sedemikian rupa sehingga tepatlah apa yang
kuperhitungkan 'dengan racun mengobati racun' atau 'bahaya
untuk menolah bahaya' ," kata pengemis sakti Hoa Sin.
"Hoa pangcu, apakah maksud ucapanmu ?” Hui Gong
meminta penjelasan.
Ketua partai Pengemis itu tertawa : "Taysu siapakah yang
paling berbahaya diantara tetamu semalam tadi ?"
"Thian-sat-cu," jawab Hui Gong taysu. "Dan yang paling
sakti kepandaiannya Hiang Hiang niocu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pengemis sakti Hoa Sin tertawa: "Benar, dan bukankah
Hiang Hiang niocu telah menolak bahaya baik dari Thian-sat-
cu maupun dari semua tokoh yang hendak mengganggu peti
jenazah Kim tayhiap?"
"O, itukah sebabnya mengapa Hoa pangcu selalu menyela
dan menukas pembicaraan Hiang Hiang niocu ?' tiba-tiba Ang
Bin tojin berseru.
"Benar, totiang," sahut Hoa Sin, "memang sengaja
kupancing kemarahannya agar mau adu mulut dengan aku
sampai berkepanjangan. Dengan demkian dapatkah kita
'tahan' dia terus menerus di depan meja sembahyangan
hingga fajar. Beradanya Hiang Hiang niocu didepan meja
sembahyang,akan merupakan momok. Tak ada seorang
persilatan musuh-musuh Kim tayhiap yang berani maju
menghampiri ki-muka peti. Dan amanlah. Siasat itu
kusesuaikan degan siasat 'dengan racun mengobati racun'
atau 'menggunakan bahaya untuk menolak bahaya'."
"Ai, ai, sicu benar-benar cerdik seperti kancil, licin bagai
belut," Hui Gong taysu tertawa memuji ketua partai Pengemis.
Demikian para ketua partai persilatan yang lain, pun ikut
memuji.
Kemudian keenam ketua partai persilatan itu makan malam
bersama. Sehabis makan barulah Hia Gong mengajak mereka
menuju ke kamar rahasia menjenguk keadaan jenazah Kim
Thian-cong yang di simpan disitu dijaga muridnya nomor dua
Kwik Ing dan wakil perguruan Hoa-san-pay si Naga-tidur Pang
To-tik.
Kamar rahasia terletak dibawah tanah- Sebenarnya sebuah
guha, lalu dibangun oleh Kim Thian-cong menjadi sebuah
kamar, rahasia dimana ia biasa menggunakannya sebagai
tempat semedhi. Ia' menyadari bahwa selama aktif dalam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pergolakan dunia persilatan, ia banyak mengikat persahabatan
dan permusuhan. Oleh karena itu demi penjagaan dan
pengamanan, ia mendirikan kamar rahasia dari guha dibawah
tanah itu. Memang tempatnya rapat dan sukar diketahui
orang.
Goan-pa dan Sian-li mengikuti rombongan ketua partai
persilatan yang tengah menuju ke ka mar rahasia gurunya.
Begitu masuk kedalam kamar itu, mereka agak heran
karena tak melihat Pang To-tik. Sedang Kwik Ing duduk
dilantai bersandar pada dinding dan pejamkan mata. Karena
melihat keadaan dalam kamar itu tak ada sesuatu yang patut
menimbulkan kecurigaan, para ketua partai persilatan itupun
longgar perasaannya. Pang To-tik mungkin sedang ada
keperluan keluar dan Kwik Ing karena lelah mungkin tertidur.
Lampu yang menerangi kamar itupun masih memancar
terang. Peti yang berisi jenazah yang sesungguhnya dari Kim
Thian-congpun masih terletak ditempat semula. Sedikitpun tak
ada tanda-tanda terjadi suatu perobahan.
Goan-pa hendak membangunkan sutenya, Kwik Ing, yang
tidur bersandar dinding. Tetapi dicegah Hui Gong: "Jangan,
biarlah Kwik sicu tidur, dia tentu amat letih "
Demikian enam ketua partai persilatan dan dua anakmurid
Kim Thian-cong berkerumun dike-dua samping peti. Hui Gong
taysu minta agar Go-an-pa suka membuka penutup peti.
"Mengapa taysu ?" tanya Goan-pa, "apakah kita perlu
melihat jenazah suhu lagi ?"
"Ya, kurasa demikian," sahut Hui Gong, "a-gar hati kita
lebih tenteram."
"Tetapi kurasa kurang perlu," kata-kata Ceng Sian suthay
rahib ketua Kun-lun-pay "peti ini tak mengunjuk tanda-tanda
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
yang mencurigakan. Sebaiknya jenazah Kim tayhiap jangan
dibuka. Makin berada di tempat yang tertutup rapat, makin
daya tahan pembalsemannya lebih bagus. Bila ditempat yang
terbuka, hawa dan angin dapat mengganggu ketahanannya."
Ang Bin tojin ketua Bu-tong-pay, Sugong In ketua Kong-
tong-paypun mendukung pernyataan Ooan-pa dan Ceng Sian
suthay. Apa boleh buat, Hui Gong taysu terpaksa mengalah.
Karena keadaan kamar rahasia tampak aman, para ketua
partai persilatanpun hendak kembali ke paseban Wisma
Perdamaian.
Baru berjalan beberapa langkah, sekonyong-konyong
sesosok tubuh melesat masuk dengan tegang.
"Pang sicu !" seru Hui Gong taysu demi melihat pendatang
itu Pang To-tik, wakil Hoa-san-pay yang ditugaskan menjaga
kamar rahasia disitu. Dia tampak menghunus pedang dengan
wajah membe-ringas, "mengapa sicu menghunus pedang ?
Dari manakah sicu tadi ?"
Pang To-tik tak cepat menjawab melainkan mengerling
mata memandang kesekeliling. Demi di lihatnya Kwik Ing
seperti tidur bersandar didinding dan kain hitam yang
menutup peti tempat jenazah Kim Thian-cong masih seperti
sediakala, ketegangan wajahnyapun menyurut
"Taysu, apakah taysu sekalian sudah lama berkunjung
kemari ? Dan apakah tak ada sesuatu yang terjadi dalam
kamar ini ?' Pang To-tik tidak menjawab melainkan malah
balas mengajukan pertanyaan.
Hui Gong kerutkan kening: "Pin-ni dan sekalian ketua partai
persilatan baru saja datang dan tak melihat suatu apa dalam
kamar ini. Tetapi mengapa sicu tampak begitu tegang ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pang To-tik menghela napas untuk mengendorkan
ketegangan uratsyarafnya. lalu menjawab "Aku baru saja
mengejar seseorang yang hendak masuk kemari. Dia lari
melintasi dua puncak dan menghilang ke dalam hutan.
Walaupun sampai lama ku cari, namun tak dapat
kuketemukan lalu aku beri gegas lari pulang . . . eh, aneh,"
tiba-tiba ia berpaling memandang kearah Kwik Ing yang masih
meram. ”Apakah sejak taysu sekalian datang, dia beluid juga
bangun ?"
"Belum, memang pin-ni yang melarang jangan
dibangunkan. Dia tentu lelah," ujar Hui Gong.
"Aneh," seru Pang To-tik, "tadi sewaktu musuh datang
menganggu kemari, dia masih terjaga. Dan ketika aku
mengejar orang itu. pun sebelumnya sudah kupesan supaya
dia hati-hati menjaga peti. Belum setengah jam aku pergi,
mengapa dia sudah tidur selelap itu," kata Pang Tp-tik seraya
menghampiri ketempat Kwik Ing. Dipandangnya pemuda itu
dengan seksama. Serentak timbullah lasa curiga dalam hati si
Naga-tidur Pang To-tik. la memperhatikan dada dan tubuh
pemuda itu tak bergoncang sebagai orang tidur.
Cepat ia mendekati dan merabah hidung Kwik Ing :
"Celaka, dia sudah mati !" serentak ia berteriak keras sekali.
"Apa ...?!" hampir serempak para ketua partai persilatan itu
berseru dan berhamburan loncat menghampiri. Hui Gong
cepat mencekal pergelangan tangan pemuda itu dan :
"Omitohud....." ia berseru berat, "Kwik sicu memang sudah tak
bernyawa ..."
Ketua partai Siau-lim-pay cepat memeriksa tubuh Kwik Ing
tetapi ia tak menemukan suatu luka pada tubuhnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm, dia terkena pukulan tenaga-dalam sakti yang dapat
memutuskan urat-urat jantungnya” akhirnya Hui Gong
memberi kesimpulan.
"Bu ing-sin-ciang !" seru Ang Bin tojin. Bu-ing-sin-ciang
artinya PukuIan-sakti-tanpa-bayang-an.
"Adakah Bu-ing-kui yang melakukan?" sambut Hong Hong
tojin ketua Go-bi-pay.
"Mungkin," sahut Hui Gong. "Mungkin juga Hong-sat-koay-
ceng sipaderi lhama aneh dari Mongolia yang memiliki pukulan
Hong-sat-ciang (pukulan Pasir-kuning). Mengapa dia tak
muncul di paseban Wisma Perdamaian karena mungkin dia
menyelundup kemari ?" seru pengemis sakti Hoa Sin.
Ucapan ketua Partai Pengemis itu menimbul kan keraguan
pada para ketua partai persilatan Kedua orang itu, Bu-ing-kui
atau Setan-tanpa-bayangan dan paderi lhama Pasir-kuning,
mempunyai kesaktian dan kemungkinan yang sama dalam
pembunuhan terhadap Kwik Ing.
"Baik si Bu-ing-kui atau lhama Pasir-kuning atau lain orang
tetapi yang jelas Pang To-tik itulah yang bertanggung jawab
akan kematian Kwik sicu", tiba-tiba rahib Ceng Sian suthay
berseru, "sehingga seorang cianpwe mengapa begitu mudah
terpancing musuh dan meninggalkan Kwik sicu seorang diri
sehingga dapat dibinasakan oleh gerombolan musuh ?"
Hui Gong taysu. Ang Bin tojin, Hong Hong tojin. Sugong ln
dan Ceng Sian suthay mencurahkan pandang mata kearah
wakil dari Hoa-san-pay.
Seolah-olah hendak menuntut pertanggungan jawab dari
tokoh Hoa-san-pay itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Rupanya Pang To-tik menyadari itu. Diapun seorang jantan,
serunya : "Baik, akulah yang bertanggung jawab akan
kematian Kwik Ing. Tetapi kumohon taysu dan totiang sekalian
dapat memberi waktu agar aku sempat untuk mencari sipem-
bunuh. Apabila gagal, Pang To-tik akan menyerahkan diri
kepada taysu sekalian untuk menerima hukuman !"
"Ah, mengapa Pang sicu sedemikian bersungguh," kata Hui
Gong taysu, "kami hanya ingin
meminta penjelasan tentang
kematian Kwik sicu. Sama
sekali tak menuntut Pang sicu
harus mengganti jiwanya."
"Jelas Kwik Ing telah
dibunuh dengan pukulan
tenaga-sakti. Dua pukulan
sakti Bu-ing-sin-ciang dan
Hong-sat-ciang, dapat kita
curigai. Selain itu kita harus
mencari pula tokoh-tokoh
persilatan siapa yang memiliki
ilmu pukulan-sakti setingkat
itu Setelah itu baru kita bertindak menyelidiki mereka ....”
"Hai," sekonyong-konyong pengemis sakti Hoa Sin menjerit
seperti dipagut ular, "jenazah Kim tayhiap . . . . "
Cepat ia loncat kesamping peti lalu membuka penutupnya
dan menjeritlah ketua Partai Pengemis itu senyaring-
nyaringnya : "Astaga '. Jenazah Kim tayhiap lenyap.....!"
Apabila saat itu petir berbunyi, tidaklah para ketua partai
persilatan sampai begitu terkejut seperti waktu mendengar
teriakan pengemis Hoa Sin. Rasa kejut itu cepat berobah
menjadi perobah an warna muka yang pucat ketika mereka
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
melongok kedalam peti. Pucat lesilah wajah para ketua partai
persilatan ketika melihat peti itu kosong melompong, jenazah
Kim Thian-cong hilang . . . !
Mereka saling berpandangan, saling bertukar pancaran
mata bertanya, namun hanya kerut dahi yang mengernyut
lipatan dalam-dalam saja yang tampak pada wajah para ketua
partai persilatan. Lipatan ! kerut dahi yang memantulkan
rasa heran dan kehilangan faham.
"Adakah peti ini benar peti yang kita gunakan untuk tempat
jenazah Kim tayhiap?" kata Hong Hong tojin ketua Go-bi-pay
seraya memeriksa peti.
"Ya,"jawab Hui Gong taysu, "maksud toheng?"
"Pinto kuatirkan, penjahat itu menukar peti yang berisi
jenazah Kim tayhiap dengan sebuah peti yang kosong," kata
Hong Hong tojin.
"Tidak," jawab Hui Gong, "penjahat itu hanya mengambil
jenazah Kim tayhiap saja" Ketua partai Siau-lim-si itu segera
alihkan pandang kepada Pang To-tik si Naga-tidur wakil dari
Hoa-kan-pay. Demikianpun pandang mata dari para ketua
partai persilatan sermpak mencurah kepadanya.
Tampak wajah si Naga-tidur Pang To-tik pucat seperti
mayat Ia tahu bahwa para ketua partai persilatan itu
menuntut pertanggungan jawab kepadanya. Ia tak takut soal
itu, tetapi ia merasa telah melakukan suatu kesalahan besar
sehingga menyebabkan timbulnya dua musibah besar: jenazah
Ki Thian-cong hilang dan muridnya yang kedua Kwi Ing tewas.
Namun apa yang terjadi telah terjadi. Sebagai seorang
ksatrya ia harus berani bertanggun jawab, baik atas nama
perguruan Hoa-san-pay ma upun atas nama peribadinya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Taysu dan totiang sekalian ..."
"Kutahu Pang sicu hendak mengatakan apa," cepat Hui
Gong taysu menukas, "hal itu sudah terjadi. Yang penting
bukan pernyataan dan ikrar, tetapi usaha-usaha untuk segera
mencari jenazah Kim tayhiap. Sebelumnya, maukah Pang sicu
menceritakaa, apa yang sicu alami sejak menjaga kamar
rahasia ini ?"
"Hari pertama dan seterusnya, tidak terjadi suatu apa.
Rupanya penjahat itu memang cermat dan tak mau buru-buru
tangan turun. Dia hendak menunggu setelah perhatian kami
lengah. Dan terus terang, aku sendiripun mulai berkurang
keteganganku. Kuanggap musuh-musuh Kim tayhiap tentu tak
tahu akan rahasia peti jenazah yang kita taruh depan meja
sembahyang itu. Mereka tentu menui peti itu benar-benar
terisi jenazah Kim tayhiap, PM To-tik mulai menuturkan apa
yang dialaminya.
”Tiba-tiba tadi dua jam lalu, terjadi suatu peristiwa yang tak
terduga-duga. Pintu tiba-tiba diketuk orang. Cepat kubuka dan
ternyata seorang bujang lelaki setengah tua. Dia. mengatakan
disuruh Hui Gong taysu untuk memanggil kami, berdua ke
paseban, diajak makan malam bersama. Hampir saja aku
menurut tetapi tiba-tiba terkilas sesuatu dalam pikiranku.
Kuanggap tindakan taysu itu aneh. Demi menjaga rahasia
tempat peti jenazah Kim tayhiap, tidak seorangpun
diperbolehkan datang kesini kecuali Hui Gong taysu sendiri
Dan ini telah kita mufakatkan lebih dulu."
"Benar," Hui Gong taysu mengiakan, "memang tiap hari,
pin-ni sendiri yang datang mengantar makanan untuk sicu
berdua."
"Tetapi bujang itu cerdik sekali. Rupanya ia tahu kalau aku
curiga. Maka cepat ia menerangkan bahwa pagi tadi jenazah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kim tayhiap telah selesai dimakamkan. Taysu menganggap
sudah tak berbahaya maka suruh dia yang mengundang aku.
Walaupun alasan itu baik namun aku tak mau begitu percaja
terus menghapus kecurigaanku. Kuberi isyarat supaya Kwik
Ing datang. Kwik Ing cepat dapat mengatakan bahwa
bujang itu bukan bujang Kim layhiap. Tiba-Tiba bujang itu
menghantam aku, terus loncat melarikan diri. Karena tak
menduga dan jaraknya begitu dekat, bahuku kena terpukul
sehingga aku tersurut mundur. Setelah itu kupesan Kwik
Ing supaya hati-hati dan akupun segera mengejarnya.
Penjahat itu gesit sekali dan memiliki ilmu meringankan tubuh
yang hebat. Walaupun sudah melintasi dua puncak gunung,
tetapi tak dapat mengejar, kemudian tiba-tiba ia masuk ke
dalam hutan dan menghilang. Setelah mencari sampai
beberapa saat, akupun segera kembali dan dapatkan taysu
sekalian berada disini ..."
"Dan Kwik Ing terbunuh dan jenazah Kim tayhiap hilang,
bukankah begitu ?" tiba-tiba Ceng Sian suthay melengking
dengan nada sinis. Sejak perta ma kali tiba, Ceng Sian suthay
nampaknya kurang senang dengan Pang To-tik. Pang To-tiklah
yangj mengusulkan supaya jenazah Kim Thian-cong di
sembunyikan dan peti yang ditaruh dimuka paseban itu diisi
dengan mayat dari kayu. Ceng Sian suthay tak setuju tetapi
karena kalah suara, terpaksa ia diam saja.
Demikianpun setelah terjadi hilangnya mayi Kim Thian-cong
saat itu, Ceng Sian suthay ngunjuk sikap yang curiga terhadap
Pang To Entah ada ganjelan apakah antara Ceng Sian thay
dengan Pang To-tik atau partai Kun-lun-pay dengan partai
Hoa-san-pay. Mungkin kedua partai persilatan mempunyai
dendam permusuhan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pang To-tik merah mukanya. Ia kerling mata kearah rahib
itu, sahutnya : "Memang begitulah. Bila suthay hendak
menghukum. Orang Pang siap menerima dengan rela hati."
”Ih,” dengus rahib ketua perguruan Hoa san-pay itu.
"hukuman pasti diberikan kepada orang yang bersalah Kalau
engkau merasa dan tak terbukti bersalah, mengapa engkau
minta dihukum ?"
"Kalau suthay mencurigai diriku, silahkan suthay memeriksa
dan mengajukan pertanyaan ?" kata Pang To-tik.
"Hm, kalau engkau meminta, baiklah," kata Ceng Sian
suthay, "akan kuminta engkau menjawab beberapa
pertanyaanku. Pada waktu hendak mengejar musuh, apakah
tak terlintas dalam pikiranmu bahwa engkau mungkin akan
terjebak dalam perangkap musuh yang disebut 'memancing
harimau tinggalkan sarang'. Begitu engkau pergi mayat Kim
Tayhiap tentu akan disergap oleh komplotan penjahat itu ?"
"Tidak ..."
"Mengapa ?' desak Ceng Sian suthay. "Karena pikiranku
hanya tertumpah untuk Membekuk penjahat itu !"
"Dan berhasilkah engkau meringkusnya ?"
"Tidak."
"Mengapa ?"
"Karena dia menghilang kedalam rimba lebat."
"Setelah penjahat itu lenyap, apakah engkau segera
kembali ke kamar rahasia ini ?"
"Tidak."
"Mengapa ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Karena hatiku panas dan aku terus masuk ke dalam hutan
untuk mencarinya sampai beberapa lama”
"O, karena engkau anggap kamar rahasia ini cukup aman ?"
"Bukan begitu, tetapi saat itu pikiranku benar-benar
dirangsang oieh kemarahan untuk meringku penjahat itu,"
bantah Pang To-tik,
'"O, cukup," kata Ceng Sian suthay mengakhiri pertanyaan.
"Ah, didalam menghadapi peristiwa hilangnya jenazah Kim
tayhiap, kita ibarat 'mendayung dalam satu perahu'.
Hendaknya bersatu hati dan seragam langkah. Hindari curiga-
mencurigai diantara sesa ma kawan." kata Hui Gong taysu.
Kemudian memutuskan, "yang kita hadapi saat ini ialah dua
buah masalah. Pertama, mencari putera Kim tayhiap dan
kedua mencari jenazah Kim tayhiap."
"Benar," sambut Sugong In ketua Kong-tong pay, "kuminta
peristiwa hilangnya jenazah Kim tayhiap ini supaya
dirahasiakan jangan sampai teruwar. Agar penjahat itu tak
ketakutan dan tak mau unjuk diri."
"Ya. benar," seru Ang Bin tojin ketua Bu tong-pay, "dan
juga menjaga gengsi kita ketua partai persilatan agar jangan
dicemohkan orang karena tak mampu menjaga sebuah
jenazah saja."
Demikian Hui Gong taysu lalu membagi tugas. Tugas
mencari si blo'on Yu-yong. diserahkan kepada perguruan yang
luas pengaruhnya ialah pengemis-sakti Hoa Sin dari Partai
Pengemis, Cian Sian suthay dari perguruan Kun-lun-pay dan
Su gong In dari Kong-tong-pay. Sedang tugas untuk vnencari
jenazah Kim Thian-cong, dilakukan oleh Hui Gong taysu dari
partai Siau-lim-si, Ang Bin tojin dari partai Bu-tong-pay, Hong
Hong tojin dari partai Go-bi-pay dan Pang To-tik wakil dari
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa-sah-pay yang bertanggung jawab atas hilangnya jenazah
itu.
Masing-Masing partai akan bekerja secara berpencaran dan
nanti tiga bulan lagi, supaya berkumpul di Wisma Perdamaian
untuk memberi laporan.
"Bagaimana misalnya ada salah seorang dari kita yang
dapat menemukan jejak pencuri jenazah Kim tayhiap ?" tanya
Hong Hong tojin.
"Bawa langsung ke Wisma Perdamaian, jaga baik-baik
sampai kawan-kawan yang lain datang semua, "kala Hui Gong
taysu.
'Tetapi bagaimana kalau dalam usaha merebut jenazah Kim
tayhiap itu kita mengalami kesukaran karena gerombolan
pencuri itu lebih kuat?" lunya Hong Hong tojin pula.
"Kirim orang atau merpati untuk memberita-hu ke markas
perguruan masing-masing, agar murid-murid perguruan yang
bersangkutan itu dapat cepat memberi berita kepada suhu
masing-masing," kata Hui Gong pula.
Demikian setelah mengurus penguburan KwiK Ing, para
ketua partai persilatan itupun kembali ke markas kediaman
masing-masing.
Tio Goan-pa dan Liok Sian-li tetap tinggal dipuncak Gjok-li-
nia.
-oo0dw0oo-

Si Blo'on
Halimun pagi yang menyelubungi barisan puncak gunung
yang terpisah satu sama lain dengan jurang yang curam,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pelahan-pelahan mulai berarak menipis karena jeri akan
kehadiran mentari pagi. Disalah sebuah puncak gunung itu,
terdapati sebuah guha yang letaknya tersembunyi. Didalam
guha itu samar-samar tampak dua sosok tubuh membujur
ditanah.
Yang satu, seorang jejaka tanggung berumur 16 tahun.
Romannya cakap, kulit bersih seperti seorang wanita jelita.
Tetapi potongan rambutnya agak nyentrik. Bagian belakang
gondrong, bagian muka masih disisakan sekepal rambut yang
terus hinggap diatas jidatnya. Sepintas pandang mirip dengan
jambul atau tengger ayam yang habis kalah bersabung ....
Pakaiannya dari kain cita kasar yang sudah kumal dan dia
masih tidur pulas diatas lantai cadas. Tangannya kiri mencekal
sebuah kerangka pedang yang isinya sudah kosong.
Sedang sosok tubuh yang lain, seorang lelaki setengah tua,
berpakaian putih dan rebah dengan tubuh tengkurap. Pakaian
putih yang dipakainya berhias warna merah. Bukan warna dari
kain tetapi warna darah yang menghambur dari sebatang
pedang yang tertanam pada punggungnya. Ya, lelaki setengah
tua itu sudah mati dengan punggung tertusuk sebatang
pedang hingga tangkai pedang itu saja yang masih tampak ....
Guha sunyi senyap dan sinar mentari pun mulai menyinari
kedalam guha. Menimpah wajah anak muda yang masih tidur
pulas.
Beberapa saat kemudian, anak muda itupun membuka
mata. Pertama-tama yang tertumbuk pada pandang matanya
ialah dinding karang guha yang berlekuk-lekuk penuh pakis.
Kemudian sebuah lubang besar yang menghadap kearah alam
terbuka.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Serentak bangunlah pemuda itu dengan rasa kejut yang tak
terhingga. la heran mengapa dirinya seperti berada dalam
sebuah guha. Dan ketika menggerakkan tangan kanan, ia
makin bertambah heran lagi. Sebuah kerangka pedang berada
di tangannya.
"Hai . ... kerangka pedang siapakah ini ?" serunya, "aku tak
punya barang semacam ini. Siapa yang memberikan kepadaku
. . . . ?"
Ia memandang pula bajunya dan matanya-terbelalak lebar-
lebar. Lengan bajunya, ya lengan Bajunya berlumuran darah
merah. Gila, pikirnya.
"Hai, apakah aku terluka ?" serunya seraya mengamat-
amati sekujur tubuhnya. Tetapi tak ada suatu luka apapun dan
memang ia tak pernah merasa sakit. '"Aneh, benar-benar aneh
. . dari mana ini? Aku tak terluka mengapa baju dan tanganku
berdarah . . Ia berusaha untuk menggali ingatannya. Tetapi
aneh, ya, benar-benar aneh sekali. Mengapa pikirannya terasa
kosong melompong ? Mengapa ia tak dapat mengingat apa-
apa lagi ?
Ia duduk numprah lagi ketanah dan masih mencoba untuk
mengerjakan otaknya yang beku. Tetapi benar-benar ia tak
mampu mengingat segala apa.
"Ah, mungkin aku sedang bermimpi," katanya lalu digigitnya
lidahnya sendiri, "aduh ..” ia menjerit kesakitan, "mengapa
masih terasa sakit. Kalau begitu aku ini bukan ngimpi tapi
terjaga. Ia masih tak percaya, tangannya diayun menampar
mukanya sendiri, plak . . Aduh, mak . kembali ia menjerit
keras karena tamparan membuat matanya berkunaug-
kunang, kepala pusing tujuh keliling.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Masih belum puas, ia mencubit lagi pahati sendiri, idihh . .
lagi-lagi ia menjerit tinggi ketika paha yang dicubitnya itu
membegap meninggalkan tanda matang biru.
"Ah, sudahlah, minta ampun . .. aku memang melek, tidak
ngimpi, "akhirnya ia mengoceh minta ampun pada dirinya
sendiri. Lalu mulai ia mengajukan bertanya pada dia sendiri:
"Hm, setan, kalau memang aku melek, berarti aku masih
hidup. Dan orang hidup harus dapat bicara. Ya, engkau harus
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini," katanya kepada
diri sendiri.
"Dimanakah aku? Apakah nama tempat ini?"
”. . entah . . , " ia gelengkan kepala. 'Mengapa aku berada
disini ?"
”. . entah . . - ,"
'Eh, bodoh aku ini," gumamnya,
"siapa namaku?”
”Namaku . . namaku . . eh, entahlah . . "
'Lho, engkau anak orang atau anak khewan?"
"Hah, bagaimana engkau tak kenal pada dirimu sendiri.
Engkau kan anak orang?" katanya menjawab pertanyaan yang
diajukan pada dirinya sendiri,
"Lalu siapa nama orangtuaku ?"
"Nama orangtua . . en . . tah . . celaka, mengrapa aku tak
tahu nama orangtuaku!" plak, plak, ia menampar kepalanya
supaya otaknya mau bekerja. Tetapi tetap macet. Ia lupa
segala apa.
"Apa engkau gila ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Gila ? Mungkin, eh , . . gila itu bagaimana. ya ? Mengapa
aku tak pernah merasa gila ? Apakah perasaan orang gila itu
seperti yang kualami saat ini ? Entah, entah ..."
"Dari manakah asalmu ?" tanyanya pula.
"Aku? ... ih, aneh, aneh . . dari mana aku ya? Ih, tak
tahulah karena tahu-tahu aku sudah ada disini . , . , "
jawabnya sendiri pula. 'Nama tak tahu, orangtua tak tahu.
tempat tak tahu. Habis aku ini orang apa ? Kalau bermimpi,
mengapa lidahku masih sakit kugigit. Kalau melek mengapa
akiu tak ingat apa-apa. Kalau mati, mengapa bisa bicara.
Kalau hidup mengapa, pikiranku hilang ? Oh . i . "
Bluk, ia jatuhkan diri ketanah dan menangis: "Huh, hu, hu.
hu . .. bagaimana aku ini .. 'Memang tiada suatu penderitaan
yang lebih menyiksa daripada kehilangan diri sendiri. Melek
tetapi tak tahu apa-apa. Hidup tetapi tak ingat apa-apa
Bernyawa tapi tak punya pikiran.
Tiba-Tiba matanya tertumbuk lagi pada orangtua yang
masih tidur ditanah itu. Ia berhenti menangis lalu merangkak
menghampiri ketempat orang itu Ketika melihat keadaan
orang itu, serentak menjeritlah ia sekuat-kuainya : "Hai, dia
sudah mati
Memang setelah dekat, baru ia mengetahui bahwa tongkat
yang terpaku pada punggungnya itu ternyata tangkai pedang.
Karena masih tampak sisa batang pedangnya.
"Siapakah orang tua itu ?" serunya, "mengapa dia mati
ditusuk pedang ? Siapa yang menusuknya ?"
Ia menghambur pertanyaan pada dirinya sendiri tetapi
iapun tak dapat menjawab sendiri.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba-Tiba ia merasa tangan kirinya masih mencekal
kerangka pedang yang kosong. Menjerit la ia senyaring-
nyaringnya : "Hai ! Apakah pedang yang menancap pada
punggungnya berasal dari kerangka ini ? Celaka ..." tiba-tiba ia
melonjak lagi, "kalau begitu .... kalau begitu .. aku yang
membunuhnya ? Oh, tidak, tidak! Aku bukan pembunuh ! Aku
tak pernah melakukan pemnubuhan kepada orang tua itu !
Aku tak tahu siapa dia,!"
Ia coba mencabut pedang itu. Tetapi hatinya merasa ngeri
ketika melihat darah mengucur deras Dilepaskannya lagi.
"Mengapa aku membunuhnya? Huss . . aku tidak
membunuhnya!" ia membantah pertanyaannya sendiri.
'Tetapi pedang itu berasal dari kerangka yang engkau
pegang, tentu engkaulah yang membunuh!" ia menuduh
dirinya lagi.
"Jangan gila-gilaan engkau, bung! Apakah engkau merasa
pernah melihat orang itu sebelumnya? Huh, jangan takut
dituduh membunuh, engkau kan benar-benar tidak membunuh
. . . ," katanya membuat pembelaan sendiri.
Ia makin bingung dan bingung. Ia ingin marah tetapi
dengan siapa ia harus menumpahkan kemarahannya. Ingin
menangis, eh, bukankah tadi ia itulah menangis seperti anak
kecil ? Ingin tertawa, eh, gila . Masakan dalam keadaan
seperti saat itu kau masih dapat tertawa ? lalu bagaimana ia
harus bertindak ?
Duduk salah, berdiripun salah. Siapa dirinya ia tak tahu
sendiri. Siapa namanya, juga tak tahu. Dari mana asalnya dan
mengapa berada disitu, aduhai . . mengapa kepalanya macet .
. Huh!" karena jengkel ia terus loncat ayunkan tubuhnya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
keatas, duk, aduh . . . kepalanya terbentur langit guha karang
dan terpelantinglah ia jatuh ketanah lagi.
Guha itu tingginya tiga meter. Biasanya tak mungkin ia
dapat melonjak keatas sedemikian tingginya. Dan memang tak
pernah berlonjakan. Tetapi saat itu ia dapat mencapai
ketinggian yang begitu tinggi Seharusnya ia merasa aneh
mengapa dirinya mendadak bisa begitu. Tetapi karena otak
nya hampa, ia tak menyadari hal itu . . .
Karena membentur langit guha, kepalanya rasa pusing.
Setelah berdiam diri beberapa saat ia mengeliarkan pandang,
mata lagi. Secara kebetulan pandang matanya tertumbuk pada
tangkai pedang yang menancap di punggung orang tua itu.
"Eh, ada tulisannya . . . ," ia menghampir merapatkan muka
dan membaca : Wan-ong-kiam . . . , "ho apakah artinya Wan-
ong-kiam? O, benar, benar. Karena pedang itu berasal dari
kerangka yang berada ditanganku ini, tentulah Wan-ong-kiam
itu nama dari yang empunya, aku . . hola . . !" berteriak
kegirangan, "sekarang tahulah siapa namaku. Ya, namaku
tentu Wan-ong-kiam, ha, ha”
Sebenarnya arti daripada Wan-ong-kiam ialah Pedang
Penasaran. Tetapi karena otak anak itu sudah macet, dia tak
menyadari hal itu
Tiba-Tiba dari luar guha terdengar suara orang bercakap-
cakap. Yang seorang nadanya seperti a-nak perempuan.
"Hati-Hati, sumoay semalam habis hujan lebat, padas tentu
licin. Kerahkan seluruh gin-kangmu agar jangan sampai
tergelincir kebawah jurang;" seru seorang pemuda.
"Baik, suko," sahut kawannya yang bernada anak
perempuan. Rupanya kedua orang itu suko dan sumoay atau
kakak dan adik seperguruan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Terdengar angin menderu dan sesosok tubuh melayang
ketepi seberang, dipuncak gunung yang terdapat guha itu.
"Bagus, sumoay, gerakanmu sungguh indah. Tak kecewa
engkau diberi nama suhu 'burung Walet-kuning dari Hoa-san',"
sipemuda berseru memuji.
"Ai, jangan menyanjung setinggi langit. Suko, lekaslah
engkau melayang kemari," seru si dara. Terdengar deru angin
meniup dan kembali diseberang karang bertambah dengan
seorang pemuda.
"Bagus sekali, suko. Bukan hanya melompat biasa tetapi
engkau dapat melompat sambil berjumpalitan diudara. Kalau
suhu mengasih nama si Rajawali-bermata-biru kepadamu, itu
memang tepat-sekali," kata dara itu pula.
"Ho, apakah biji mataku ini benar-benar biru, sumoay ?”
kata pemuda itu sambil rentangkan kedua matanya lebar-lebar
kemuka si dara.
"Hi, hi, hik," si dara tertawa geli, "memang berwarna biru.
Engkau malu ? Salah. Seharusnya engkau bangga karena
mempunyai sepasang mata yang berwarna biru."
"Mengapa sebabnya ?"
"Sebab didunia ini jarang orang yang mempunyai mata biru.
Maka engkau harus menepuk-dada karena hanya engkaulah
satu-satunya orang yang memiliki mata biru . . . ," kembali si
dara tertawa mengikik.
"Budak kurang ajar, engkau berani mengerjai aku ?"
pemuda itu tahu kalau diolok-olok, lalu mengangkat tangan
hendak menampar. Tetapi secepat itu si darapun sudah loncat
lari. Pemudi itupun mengejarnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Rupanya kedua suko dan sumoay itu amat akrab sehingga
dimana tempat, bahkan di tepi jurang puncak gunung yang
tinggi, mereka masih bergurau saling berolok.
Dara itu mengenakan baju kuning, bertubuh kecil langsing.
Wajahnya sesegar bunga mekar pagi hari, berseri cerah dan
periang. Umurnya sekitar 15 tahun. Yang paling menonjol,
adalah sepasang matanya yang lebar bundar berpagar
bulumata yang lebat hitam.
Sedang pemuda itu bertubuh tegap, wajah cakap dan mata
yang berkilat tajam. Umur sekitar -sekitar 0 tahun. Tiada yang
tercelah pada pemuda itu kecuali sepasang alisnya yang
menjungkat keatas, memantulkan sifat yang kejam.
"Hai, sumoay, berhentilah," serunya kepada si dara yang
masih melesat-lesat di antara jajaran batu karang untuk
menghindari kejaran suko-nya.
"Apa engkau tak marah lagi ?" seru sinona-
"Sudahlah. jangan bertingkah seperti anak kekecil. Lihat,
matahari sudah makin menjulang, suhu tentu sudah bangun.
Mari kita cepat menjenguknya !"
Dara yang disebut Walet-kuning dari Hoasan itu menurut.
Memang demikian pekerjaan keduanya. Tiap pagi naik
kepuncak dan menjenguk suhunya yang berada dalam guha
itu.
Kini derap langkah kedua muda mudi itu makin dekat dan
makin jelas. Anakmuda yang berada dalam guha dan merasa
dirinya bernama Wan-ong-kiam itu makin terkejut gelisah
”Ah, bagaimana kalau kedua pendatang itu tahu aku berada
disini ? Orang tua yang mati itu kemungkinan besar tentulah
suhu mereka. Kalau mereka mendapatkan suhunya sudah mati
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan yang ada disini hanya aku, bukankah mereka akan
menuduh aku yang memmbunuh suhunya ..." ^
Namun guha itu hanya mempunyai sebuah pintu. Jika ia
menerobos keluar dari pintu, tentu akan kesompokan dengan
kedua muda mudi itu. Ia meneliti pula keadaan guha. "Ah,
kemana aku harus bersembunyi . . . ?” belum selesai ia
bertanya pada diri sendiri, tiba-tiba di pintu guha muncullah
dua orang muda mudi.
"Suhu . . . !" serentak
terdengarlah sigadis menjerit kaget
demi melihat keadaan orangtua
yang teah bergelimangan darah itu.
Keduanya menerobos masuk
menghampiri mayat itu.
Sejenak kemudian, pemuda itu
mengangkat muka dan menjerit
kaget: "Hai, siapakah engkau!"
Serentak pemuda itu berbangkit,
menghunus pedang lalu loncat menyerang : "Bangsat, tentu
kau yang membunuh suhuku . . . !"
Pemuda yang berada dalam guha itu, terkejut, Sesaat ia tak
dapat berbuat apa-apa kecuali hanya terlongong-longong saja
....
-ooo0dw0ooo-

Jilid 3
Siapa diriku ?
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pemuda yang kehilangan pikirannya itu memang kasihan
sekali. Ia tidur, bangun dan mendapatkan dirinya dalam
keadaan yang serba aneh. Berada dalam sebuah guha yang
tak diketahui namanya, mencekal kerangka pedang dan
berteman dengan seorang mayat yang berlumuran darah dan
punggungnya berhias pedang Lalu muncul dua o-rang muda
mudi. Si pemudi menubruk tubuh mayat itu dan si pemuda
terus loncat menyerang dia . . .
Pemuda blo'on itu masih terlongong-longong-Tetapi ketika
sinar ujung pedang memancar menyilaukan matanya, tiba-tiba
ia menyadari kalau dirinya terancam maut. Walaupun
pikirannya hampa, tetapi ia masih mempunyai naluri. Naluri
sebagai manusia yang akan berusaha menyelamatkan diri
apabila terancam bahaya.
Cepat ia gerakkan kerangka pedang untuk menangkis
seraya loncat menghindar kesamping. Tring, ujung pedang si
Rajawali-mata-biru tersiak dan pemuda yang hendak
dibunuhnya itupun dapat meloloskan diri.
"Ho, kiranya engkau hebat juga !" seru si Rajawali-mata-
biru seraya berputar tubuh menghadaJ kearah pemuda blo'on
itu.
"Aku tidak membunuh orang itu!" teriak pemuda blo'on itu.
Karena tangkisan kerangka pedang tadi dapat menyiakkan
ujung pedangnya, si Rajawali-mata-biru terkejut. Diam-Diam
ia menduga kalau pemuda itu tentu hebat ilmu silatnya. Maka
ia hentikan serangannya dan hendak menyelidiki dulu
siapakah pemuda pembunuh suhunya itu.
"Siapa engkau !" bentaknya
"Aku ? Entah, aku sendiri tak tahu . . . "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"jangan gila-gilaan, katakan namamu!" bentak si Rajawali-
mata-biru makin geram.
"Nama? Aku sendiri tak tahu siapa namaku”
"Apa engkau gila ?"
"Tidak, eh, ya . .eh, apakah maksudnya gila ?”
Walaupun mendongkol tetapi si Rajawali mata-biru terpaksa
menerangkan : "Gila ialah pikirannva tidak waras."
"O . . ," desus pemuda blo'on, "apakah kalau orang tak tahu
namanya sendiri itu juga orang gila ?”
""Ya, gila yang paling gila ”
'"O, kalau begitu aku ini tentu gila," teriak pemuda blo'on
itu."
"Hm, kalau engkau tetap hendak mempermainkan aku,
tentu kupotong lehermu!" si Rajawali-mata-biru deliki mata.
"Idih . . . , " pemuda blo'on itu mendesis seram, "jangan
memandang aku begitu rupa i"
"Engkau takut ? Mengapa ?"
"Matamu biru, seperti ..."
"Seperti apa ?
"Seperti . . . seperti, eh. mengapa aku tak ingat ? seperti
apa, aku sendiri tak tahu."
"Tutup mulutmu !" bentak si Rajawali-mata-biru, "siapa
nama suhumu ?-"
"Suhu ? Apa suhu itu ?" kembali pemuda blo'on itu
mengerut dahi.
"Suhu ialah guru yang mengajarkan engkau ilmu silat."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O" desus pemuda blo'on,, "eh, ilmusilat? Tetapi aku tak
mengerti ilmusilat. Apakah ilmusilat?”
Hampir meledak perut si Rajawali-mata-biru karena
mendengar ocehan si blo'on yang kegila-gilaan itu. Namun
karena ia perlu mengetahui nama perguruannya agar kelak
dapat meminta pertanggungan jawab kepada ketua
perguruannya itu, terpaksa ia tahankan kemarahannya.
"Tadi aku menusukmu dan engkau dapat menangkis lalu
menghindar. Gerakanmu itu disebut ilmu silat, ilmu untuk bela
diri, pun untuk berkelahi. Bukankah engkau pandai ilmusilat ?"
"Ha, ha, ha, ha ... " tiba-tiba blo'on tertawa gelak-gelak,
"kalau gerakan begitu disebut ilmusilat, aku memang bisa.
Tetapi gerakanku tadi hanya untuk menyingkir dari ujung
pedangmu. Aku tak mengert kalau gerakan itu disebut
ilmusilat".
"Jangan ngoceh, lekas katakan siapa suhumu?”
"Entah, aku tak punya suhu."
"Eh, bung, engkau ini orang atau setan!" tiba-tiba si dara
Walet-kuning menghampiri dan mendamprat!
"Entahlah. Aku sendiri juga bingung. Sungguh mati, aku
memang tak tahuapa-apa. Pikiranku kosong melompong ..."
"Mengapa engkau membunuh suhuku?" tukas si Walet-
kuning pula.
"Aduh, ampun nona," si blo'on mengelus dada, "aku benar-
benar tak membunuh suhumu. Aku sendiri tak mengerti
mengapa aku berada disini."
"Dari mana engkau sebelumnya."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Eh . . , " si blo'on garuk-garuk kepala, "ya, benar dari
mana saja aku sebelum berada disini Ah, celaka, mengapa aku
tak ingat apa-apa lagi . .”
"Kalau bukan engkau yang membunuh, mengapa kerangka
pedang itu berada dalam tangan dan pedangnya tertancap
dipunggung suhuku” desak Walet-kuning
"Hai, sekarang aku tahu namaku" bukan jawab pertanyaan
tetapi blo'on itu malah berteriak semaunya sendiri.
"Siapa ?" seru dara itu yang tanpa disadari ikut terhanyut
dalam gelombang ke-blo'onan.
"Wan-ong-kiam !"
Walet-kuning terkejut, hampir tertawa tetapi cepat
menyengir : "Jangan gila-gilaan ! Engkau tahu apa artinya
Wan-ong-kiam itu ?"
Pemuda blo'on gelengkan kepala.
"Wan-ong itu artinya penasaran dan kiam Itu pedang.
Apakah maksudmu memakai nama itu?"
"Entahlah aku tak tahu. Aku menemukan Wan-ong-kiam
dan nama itu terus kupakai. Aku tak peduli apa arti nya.
Pedang Penasaran atau Pedang Huntung, itu bu'an soal.
Engkau boleh panggil begitu atau kalau keberatan, panggil
saja Wan-ong atau Ong-kiam atau apa saja yang engkau
senangi ..."
Si dara tak mau melayani ocehan pemuda blo'on yang
makin tak keruan itu. la menuding dan membentaknya dengan
marah: "Engkau pembunuh suhu..."
Belum nona itu menyelesaikan kata-kata, pemuda bloon
sudah menukas : "Tidak . . . !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bangsat, serahkan jiwamu !" tiba-tiba Si Rajawali mata-
biru loncat menyerangnya lagi. Selama su-moaynya sedang
bicara dengan pemuda blo'on, dia menghampiri dan
memeriksa mayat suhunya. Ktlika memeriksa tanaman
mustika Liong-si-jau telah lenyap, ia makin terkejut Tepat
pada, saat itu ia mendengar pemuda blo'on mengatakan
bernama Wan-ong-kiam. Pada hal iapun membaca tulisan
pada pedang yang menancap dipunggung suhunya itu
berbunyi Wan-ong-kiam. Ya, jelaslah kalau pemuda blo'on itu
yang membunuh suhunya Maka cepat ia loncat
menyerangnya.
Karena ketakutan pemuda blo'on itu loncat kesamping,
maksudnya hendak menghindar. Tetapi entah bagaimana
gerak loncatannya itu sedemikian pesat sehingga ia tak dapat
menguasai diri dan membentur karang, duk . . .
„Aduh . . ," ia jatuh terduduk, menjerit kesakitan seraya
mendekap dahinya yang
berdarah. Ia heran mengapa
tubuhnya terasa ringan sekali la
hendak lompat kesamping
selangkah dua langkah,
mengapa tahu-tahu tubuhnya
melayang empat lima langkah
sehingga membentur dinding
guha.
Tengah dia masih terlongong
keheranan, tiba-tiba Rajawali-
mata-biru kembali
menyerangnya "Bangsat, engkau membunuh suhuku karena
hendak mencuri rumput mustika Liong-si-jau !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Saat itu pemuda blo'on masih berjongkok duduk Ketika
ujung pedang Rajawali-mata-biru menyerang, ia tak sempat
menghindar lagi. Cepat ia mengangkat kerangka pedang untuk
menangkis. Kreek, uh . . karena kali ini Rajawali-mata-biru
menyerang dengan sekuat tenaga, kerangka pedang pemuda
blo'on terdampar kebelakang dan orangnya pun jatuh
terjerembab kebelakang juga.
Apabila seorang sedang duduk berjongkok lalu tiba-tiba
didorong kebelakang, dia tentu jatuh terjerembab. Jatuh
dengan kepala rubuh kebawah tetapi kaki menjulang keatas.
Demikian pula dengan pemuda blo'on itu. Karena dihantam
pedang sekuat-kuatnya oleh Rajawali-mata-biru, pemuda
blo'on itupun terpelanting, kepalanya rubuh kebelakang tetapi
kedua kakinya menjulang keatas. Plak . . secara tak disengaja,
kedua kakinya tepat menghantam perut Rajawali-mata-biru itu
terlemparlah tubuh Rajawali-mata-biru dan sampai beberapa
meter jauhnya. Duk, kepalanya terbentur dinding karang dan
terus terkulai jatuh tak sadarkan diri ....
"Suko' si dara Walet-kuning menjerit kaget dan loncat
menghampiri. Ternyata belakang kepala sukonya berdarah
dan tulang punggungnya patah Sukonya pingsan.
Walet-kuning diam-diam terkejut. Sukonya memiliki ilmu
lwekang yang tinggi. Serangan yang dilancarkan tadipun
menggunakan jurus istimewa dari perguruannya. Tetapi hanya
dalam satu gebrak saja, sukonya dapat ditendang mencelat
begitu rupa sehingga tak ingat diri. Ah, pemuda pembunuh iti
tentu seorang yang hebat ilmu kepandaiannya.
Tetapi pada lain kejab, si dara Walet-kuning mengertek gigi.
Suhunya telah dibunuh, kini sukonyapun dirubuhkan. Tak
peduli musuh bagaimana saktinya, ia harus melakukan
pembalasan. Serentak dara itu melonjak bangun, mencabut
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pedang dan menghampiri ketempat pemuda blo'on yang
masih duduk numprah ditanah. Wajah dara Walet-kuning yang
cerah, saat itu tampak memberingas seperti macan betina
yang kehilangan anak . . .
Pemuda blo'on itu terbeliak, serunya : "Hai, nona, engkau .
. . engkau hendak, mengapa ?"
"Mencincang tubuhmu, bangsat !" teriak nona itu dengan
mata berapi-api, "engkau membunuh suhuku. melukai sukoku
dan mencuri bunga rumput Liong-si-jau yang berumur seribu
tahun !"
"Berhenti !" pemuda blo'on itu memekik keras ketika
melihat si dara hendak menyerangnya, "nanti dulu. Kalau
engkau hendak membunuh aku. tunggu dulu aku bicara. Jika
memang aku bersalah, bunuh sajalah. Tetapi kalau tidak,
engkau tak boleh main bunuh. Apalagi engkau seorang anak
perempuan ..."
"Ngaco !" bentak Walet-kuning, "lekas bilang "
”Mengapa engkau menuduh aku membunuh suhumu ?"
"Tanganmu berlumuran darah, engkau mencekal kerangka
pedang yang sudah kosong, pedangnya tertancap dipunggung
suhu. Anak kecilpun tentu akan mengatakan kalau engkau
yang membunuhnya. Kalau bukan engkau, habis siapa ?
bukankah disini tiada lain orang lagi kecuali engkau ?”
"Benar, benar, apa yang engkau katakan itu memang
benar," seru pemuda blo'on, "tetapi akupun benar-benar tak
membunuh, tak mencuri rumput Itu. Coha pikirkan. Mengapa
aku harus membunuh suhumu, aku tak kenal siapa dia. Dan
akupun tak mencuri rumput itu. Bahkan melihat bagaimansl
macamnya rumput itupun aku belum tahu. Bagaimana engkau
menuduh aku mencurinya !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Blo'on yang pintar bersilat lidah atau tukang bersilat lidah
yang blo'on, engkau ini hai !” si dara deliki mata, "seribu kata-
kata ....
"Eh, tunggu dulu nona," tiba-tiba anakmuda itu berseru,
"engkau bilang Blo'on, apakah blo'on itu ?"
"Blo'on ialah manusia seperti engkau Tolol, tidak tolol
sesungguhnya. Bodoh, tidak bodoh sesungguhnya. Gila, tidak,
waraspun buka Jelasnya manusia yang serba setengah.
Setengah tolol, setengah goblok, setengah gila, setengah
waras !"
"O, kalau begitu aku ini manusia setengah” kata pemuda
itu, "hai, benar, benar. Aku memang blo'on ini. Kalau tidak,
masakan punya kepala tapi tak berisi otak. Punya otak tetapi
macet. Punya diri tetapi tak kenal. Ya, aku memang manusia
yang kehilangan diri. Tidak tahu siapa diriku ini . . .,"
"Jangan ngoceh !" tiba-tiba dara itu terus menusukkan
pedangnya. Tetapi karena ketakutan pemuda blo'on itu
menjerit keras dan menghindar samping.
Diluar dugaan, jeritan pemuda blo'on itu menghamburkan
tenaga yang hebat dan kumandangnyapun lebih dahsyat dari
harimau mengaum. Si dara Walet-kuning terkejut sekali
sehingga tusukannyapun sampai mencong kesamping. Tetapi
pemuda itu sendiripun kaget. Ia terlongong-longong heran
mengapa tiba-tiba ia memiliki nada suara yang sedemikian
dahsyatnya.
"Tunggu !" teriaknya pula ketika melihat si Walet-kuning
hendak menyerang lagi, "aku belum habis bicara, mengapa
engkau sudah hendak membunuh aku ?"
Si dara Walet-kuning tertegun. Diam-Diam ia makin
menyadari bahwa pemuda yang tampaknya blo'on itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Bukti
yang jelas sukonya dapat ditendang rubuh. Dan suara
gemborannya tadi, benar-benar hampir membuat jantungnya
copot. Baiklah, ia hendak menunggu penjelasan pemuda itu
baru nanti mengambil tindakan.
"Lekas !" bentaknya.
”Ya, ya, aku bilang," katanya, "nona, aku ingin tanya
kepadamu, boleh ?"
"Hm," dengus si dara.
"Apakah engkau ingat semua perjalanan hidup mu selama
ini. sejak kecil sampai sekarang ?"
Walet-kuning kerutkan dahi. Ada hubungan apa pertanyaan
itu diajukan kepalanya. Namun ia ingin tahu juga : "Ya,"
sahutnya ringkas.
"Apakah engkau percaya bahwa seorang itu dapat
kehilangan ingatannya sama sekali ?"
"Itu orang gila !"
"Nona, apakah engkau anggap aku ini orang gila ?"
"Hm, bukan gila tetapi menggila atau pura-pura gila !"
"Terima kasih," kata pemuda blo'on, "tetapi aku sebenarnya
tidak pura-pura gila, hanya otakku kosong. Aku tak ingat apa-
apa lagi. Bahkan diriku, namakupun aku tak tahu. Benar,
nona, hendaknya engkau mau percaya omonganku ini . . . "
Walet-kuning menatap pemuda itu. Seorang pemuda yang
berwajah cakap sekali. Bukan memiliki tampang pembunuh
dan pembohong. Tetap gerak geriknya memang seperti anak
blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
'"Nona, tolonglah engkau memberitahu kepadaku.
Bagaimana cara atau obatnya untuk memulihkan otakku ?"
"Mudah."
"Apa ?"
"Makan otak naga !"
"Hai. benarkah ? Dimana aku dapat memperoleh otak naga
itu ?"'
"Engkau tahu apa naga itu?" tanya Walet-kuning
"Tidak."
"Naga itu ular besar yang tinggal dalam laut Suka makan
orang."
"idih . , " pemuda blo'on mengungkap kedua bahu karena
merasa ngeri, "lalu bukankah aku juga akan dimakannya kalau
hendak mengambil otaknya?
"Tentu," sahut sinona, "kalau engkau dapat mengalahkan
naga itu, barulah engkau dapat mengambil otaknya "
"Bagaimana cara membunuh naga itu ?"
"Terserah engkau sendiri."
Jejaka blo'on itu garuk-garuk kepala, tiba-tiba ia bertanya
pula : "Tetapi benarkah otak naga itu dapat menyembuhkan
otakku yang hilang ?'
"Ya."
"Di mana tempat naga itu ?"
"Laut Hitam "
"Letaknya ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jauh sekali dari sini. Engkau terus berjalan ketimur saja.
Tanya pada orang, nanti tentu sampai," kata Walet-kuning.
Sebenarnya nona itu hanya omong sekenanya saja..la
sendiri tak tahu apakah otak naga itu dapat menyembuhkan
penyakit si blo'on itu atau tidak. Pun ia tak tahu apakah ada
laut yang bernama Laut Hitam. Dan kalau ada, iapun tak tahu
apakah dilaut itu ada naganya. Sebenarnya ia hanya hendak
mempermainkan jejaka itu saja.
"Terima kasih, nona," tiba-tiba Walet-kuning terkejut ketika
pemuda Wo'on itu terus berputar tubuh hendak angkat kaki.
"Hai, hendak kemana engkau !" cepat Walet-kuning
lintangkan pedang menghadang si Wo'on.
"Ke Laut Hitam."
"Ngaco !" bentak Walet-kuning, "engkau belum
membereskan persoalan disini. Belum
mempertanggungjawabkan perbuatanmu membunuh suhu,
melukai suko dan mencuri rumput mustika !"
"Akan kupertanggung-jawabkan semuanya itu Tetapi aku
minta tempo."
"Minta tempo ?"
"Ya, aku hendak mencari otak naga. Setelah otakku
sembuh, baru aku akan kemari untuk memberi
pertanggungan-jawab kepadamu."
"Bohong !" bentak Walet-kuning, "apa engkau kira aku ini
anak kecil yang mudah engkau kelabuhi. Begitu engkau pergi
dari sini, tak mungkin engkau akan kembali lagi."
"Nona, aku seorang lelaki," katanya sambil tegapkan tubuh
busungkan dada dan mengangkat kepala, "apa yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kukatakan tentu akan kutepati. Berani berbuat tentu berani
bertanggung jawab”
"Tidak !" bentak Walet-kuning lalu menusukkan pedangnya
keperut pemuda blo'on itu.
"Ih ... " si blo'on mengerutkan perut dan ujung pedang
Waiet-kuning mengenai dinding karang.
Walet-kuning benar-benar terkejut. Jarak ujung
pedangnya dengan perut si blo'on dekat sekali Tetapi ia heran
mengapa sedemikian gesit anak blo'on itu menggerakkan
perutnya. Dan karena ia menggunakan sekuat tenaga untuk
menusuk, ujung pedangnya sampai masuk kedalam dinding
hingga sampai setengah bagian.
Walet-kuning berusaha hendak mencabutnya. Melihat itu si
blo'on hendak membantu. Ia ulurkan tangannya. Tetapi
gerakan blo'on telah salah ditafsirkan oleh Walet-kuning. Ia
mengira pemuda iiu hendak menutuk lengannya. Cepat ia
lepaskan pedang dan loncat kebelakang.
"Eh, mengapa engkau?" si blo'on terlongong heran
memandang nona itu.
"Tutup mulutmu !" bentak Walet-kuning seraya
memukulnya. Kini karena tak membawa pedang, ia gunakan
tangan kosong untuk menyerang.
"Tahan " teriak blo'on seraya menyingkir ke samping,
"mengapa engkau hendak memukul aku?"
"Tanpa pedang akupun sanggup untuk menghancurkan
kepalamu !"
"Nanti dulu, nona," blo'on berseru gopoh, 'aku toh sudah
mengatakan bahwa saat ini otakku hilang. Aku tak ingat apa-
apa lagi. Biar kucari otak saja dulu. Setelah otakku kembali,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
baru aku datang kesini lagi. Percaialah, nona, aku tentu
pegang janji !"
"Tidak ! Engkau tentu menipu aku ."
"Oh, nona manis . . , " tiba-tiba si blo'on berlutut. "mengapa
engkau tak mau percaya kepada keteranganku. Aku benar-
benar menderita penyakit yang aneh Pikiranku serasa kosong,
otakku hampa. Ini sungguh, kalau engkau tak percaya . . hu,
hu, hu. . . , " tiba-tiba blo'on menangis. Ia jengkel sekali
karena sinona tak mau percaya omongannya kalau dia sakit
otak. Karena tak dapat melampiaskan kejengkelannya, iapun
menangis.
Betapapun halnya, Walet-kuning itu seorang anak
perempuan. Walaupun ia marah dan benci sekali kepada
pemuda yang dianggap membunuh suhunya, namun
perasaannya sebagai seorang dara tetap terketuk. Untuk
sementara terpaksa ia tahan kemarahannya.
"Hai, engkau anak laki atau anak perempuan ?" tegurnya.
"Laki-Laki."
"Mengapa menangis seperti anak perempuan? "
”Jengkel, ya karena hatiku jengkel sekali tetapi tak tahu
kepada siapa aku harus menumpah kan kejengkelanku.
Daripada jengkel terhadap orang biarlah kutumpahkan dengan
jalan menangis saja.”
"O, ada gunanya jugakah tangis itu ?"
"Tentu, tentu," sahut si blo'on, "menangis itu dapat
melonggarkan dada yang sesak karena sedih jengkel, marah
dan dendam ..."
"Kurang ajar !" tiba-tiba nona itu mendamprat terus
ayunkan tangan menampar muka blo'on,"ternyata engkau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pandai memberi penjelasan kepada orang. Mengapa bilang
kalau ingatanmu sudah hilang ?”
Plak, karena tak menyangka, pipi si blo'on kena tertampar.
Hidungnyapun mengucur darah. Tiba-Tiba ia songsongkan
pipinya yang sebelah: "Nih, tamparlah yang kanan juga."
"Mengapa?" mau tak mau si dara tertegun.
"Supaya imbang, jangan begap sebelah "
"Baik," kata Walet-kuning lalu ayunkan tangannya lagi. Plak
...
Pipi kiri pemuda itu membegap merah. Dia hanya
menyeringai, tidak mengaduh kesakitan. Lalu bertanya :
"Sudah puaskah engkau sekarang ?"
"Bagaimana bisa puas kalau engkau belum mengganti jiwa
suhuku yang engkau bunuh itu !" lengking si Walet-kuning.
"O, sayang, aku tak dapat memuaskan keinginanmu.
Karena aku tak merasa membunuhnya. Andaikata
membunuhnya, pun bukan atas kesadaran pikiranku. Soal ini
kuminta waktu. Setelah otakku yang lumpuh ini sembuh,
barulah nanti kita bicara lagi, "habis berkata pemuda blo'on
itupun terus lanjutkan langkah lagi.
"Jangan main gila," bentak si Walet-kuning seraya
menyerang dengan THay-san-gui-ting atau Gunung Thay-san
menindih puncak. Kedua tangannva menghantam ubun-ubun
kepala pemuda itu.
Pemuda blo'on terpaksa menghindar dan si Walet-
kuningpun makin menyerang gencar. Demikian keduanya
segera terlibat perkelahian yang seru. Namun betapapun
Walet-kuning berkeras hendak merubuhkan lawan tetapi si
blo'on tetap dapat menghindar. Nona itu diam-diam terkejut
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
melihat kesaktian pemuda blo'on. Tetapi pemuda itupun juga
heran sendiri. Ia merasa gerakkan tubuhnya amat ringan
sekali, seolah tumbuh sayap.
Beberapa jurus telah berlangsung, tiba-tiba Walet-kuning
gencarkan serangannya. Ia benar-benar penasaran kalau tak
dapat merubuhkan lawan. Bahkan dalam suatu kesempatan, ia
menyapu kaki si blo'on dan rubuhlah pemuda itu terbanting
ketanah. Kerangka pedang yang berada ditangan kirinnya
terbentur dinding karang dan mencelat. Saat itu si Walet-
kuning terus mengangkat tangan hendak menyusuli
menghantam kepala si blo'on. Crek.. tiba-tiba kerangka
pedang yang mencelat itu mengenai jalan darah jiok-ti-hiat
siku lengannya. Seketika tinju sinona yang tengah mengacung
diatas itu berhenti. Dan terjadilah suatu pemandangan yang
lucu.
Walet-kuning berdiri tegak seperti patung tangan kanannya
diangkat keatas kepala seperti hendak menghantam. Tetapi
nona itu tak dapat bergerak lagi. Seperti sebuah patung.
Pemuda blo'on meringis kesakitan. Pantatnya menghantam
karang yang keras. Sejenak kemudian ia berbangkit dan
menghampiri sinona : "Hm, galak ya engkau ini ! Masakan
anak perempuan berani menjegal anak laki. Hayo, jegallah aku
sekali lagi ... "
la sosongkan tubuh kehadapan dara itu. Tetapi sampai
beberapa jenak tak juga nona itu menggerakkan kakinya
"Ho, mengapa tak mau ?" si blo'on mengangkat muka, "O,
engkau hendak memukul ? Bukankah tadi engkau sudah dua
kali memberi tamparan kepadaku ? Apa masih belum puas ?
Baik, baik, pukullah kepala !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ia songsongkan kepalanya kemuka menunggu pukulan
tetapi sampai beberapa jenak, belum juga si dara memukul.
Cepat ia memandangnya : "Lho, mengapa engkau diam saja?"
Bukan kepalang geram si Walet-kuning. Wajahnya merah
padam : "Bedebah, jangan keliwat menghina si Walet-kuning.
Kalau mau bunuh, bunuhlah aku !"
Pemuda blo'on membelalakkan matanya lebar-lebar : "Apa?
Bukankah engkau hendak memukul aku? Mengapa engkau
minta aku membunuhmu?"
Karena jalan darah lengannya tertutuk kerangka pedang, si
Walet-kuning tak dapat berkutik. Sekalipun karena jatuh,
kerangka pedang itu mencelat dan secara tak sengaja
kebetulan mengenai jalan darah sinona, namun nona itu
mengira kalau gerakan itu memang sengaja dilakukan oleh
pemuda blo'on. Ia anggap pemuda blo'on itu memang hendak
mempermainkannya.
"Hm, jangan gila-giiaan. Bunuh saja aku daripada engkau
bikin malu begini !"
"Bikin malu ? Mengapa aku membikin malu kepadamu ?"
makin heranlah pemuda blo'on itu.
"Jahanam, engkau menutuk jalandarah siku lenganku
sehingga aku tak dapat bergerak, mengapa masih berlagak
pilon ?" damprat si dara.
"Heh, heh, heh," tiba-tiba pemuda blo'on tertawa geli,
"lucu, lucu sekali engkau ini. Menjamahpun tidak, mengapa
engkau bilang aku menutuk siku lenganmu !"
"Engkau timpuk dengan kerangka pedang, tolol!"karena
geramnya nona itu sampai hampir muntah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, ya, ya sudah," kata pemuda blo'on. Sebenarnya ia tak
tahu apa sebab kerangka pedang yang mencelat dari
tangannya itu dapat menyebabkan sinona tak dapat berkutik.
Tapi karena kuatir dara itu marah, terpaksa ia mengiakan saja
"lalu bagaimana sekarang ?"
"Bunuhlah aku !" teriak Walet-kuning.
"Bunuh? Huh, ngeri dong, "si blo'on mengerenyut dahi,
"aku tak pernah membunuh. Jangarkan membunuh orang,
ayampun aku ngeri. Suruh apa saja aku mau asal jangan
engkau suruh bonuh.”
"Kalau engkau tak mau membunuh, mengapa tak engkau
buka jalandarahku yang engkau tutuk ini?” seru si dara.
"Membuka jalandarahmu? Ya, baiklah," kata blo'on tetapi
pada lain saat ia cepat berteriak! "hai. bagaimana caranya ?
Dimana jalandarahmu itu ?"
"Jangan berlagak pilon. jalandarah jiok-ti-hiat dilenganku
ini." teriak dara yang mengira pemuda blo'on itu memang
sengaja hendak memperolok dirinya.
Sudah beberapa kali ia berusaha menyalurkan tenaga-
dalam membuka jalandarahnya yang tertuuk itu. Tetapi
walaupun ia telah berusaha sekuat tenaga namun tetap gagal.
Jalandarahnya yang tertutuk itu seolah-olah macet. Diam-
Diam ia makin terkejut dan makin percaya bahwa pemuda
yang umpaknya blo'on itu ternyata memiliki ilmu kepandaian
yang tinggi.
Bahwa beberapa kali pemuda itu berlagak tak tahu,
tentulah sengaja hendak mempermainkan dirinya. Maka
karena geram, marah, jengkel, dan putus asa bercampur aduk
dalam hati, nona itu menangis . . .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai," pemuda blo'on melonjak kaget, "mengapa engkau
menangis ?"
Tetapi nona itu tak mau mempedulikan. Ia pejamkan mata
tak sudi melihatnya.
Si blo'on makin bingung dan kelabakan. Ia tak tahu apa
sebab nona itu tiba-tiba menangis. Dan diperhatikannya pula
nona itu masih tetap mengacungkan tangannya kanan keatas
seperti hendak memukul. Dan yang lebih aneh pula, nona itu
diam saja tak bergerak
"Nona, mengapa engkau ? Engkau mengatakan aku
menutuk jalandarahmu, tetapi aku sungguh tak merasa
melakukan hal itu. Sudahlah jangan menangis, katakanlah apa
yang engkau hendak suruh aku melakukan ?"
Tetapi si Walet-kuning sudah keliwat jengkel. Ia tak mau
menggubrisnya lagi dan tetap menangis terus.
"Nona, kalau engkau tak mau berhenti menangis, aku
hendak pergi saja mencari otak naga. Engkau jangan pergi
kemana-mana dulu, setelah mendapatkan obat itu, aku tentu
segera datang kesini lagi ..."
Serentak nona itu terus membuka mata dan berteriak :
"Hai, tolol, tunggu ! Hendak kemana engkau ?"
"Cari otak naga. Bukankah engkau katakan hanya otak naga
yang dapat menyembuhkan otakku yang hilang itu ?"
Dada Walet-kuning benar-benar mau meledak, ia hanya
berolok-olok tetapi ternyata pemuda tolol itu benar-benar
percaya. Dan celakanya kalau dia pergi siapa yang akan
menolong membuka jalandarahnya yang tertutuk itu ? Pergi
ke Laut Hitam bukan sejam dua jam sehari dua hari atau
sebulan duu bulan, tetapi mungkin sampai beberapa tahun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkau gila!" teriaknya, "Laut hitam itu jauh sekali, kalau
engkau kesana mungkin sampai setahun dua tahun baru
datang kesini. Dan aku bagaimana . . .”
"Silahkan engkau pulang dan tiap hari datanglah kemari
untuk menengok apakah aku sudah kembali," kata si blo’on
seenaknya saja.
”Hai, tolol, apakah engkau sungguh-sungguh tak tahu?"
teriaknya.
"Tahu apa ?"
"Karena siku lenganku tertutuk, aku tak dapat
menggerakkan tubuhku?"
Blo'on melonjak seperti terpagut ular : "Hai, jadi engkau tak
dapat bergerak ? Apakah engkau mau jadi patung ?"
Walet-kuning benar-benar mau muntah darah karena
marahnya mendengar ocehan si blo'on yang tak keruan itu :
"Ya, sudahlah, pergilah engkau biar aku jadi patung disini."
Akhirnya karena jengkel sinona menjerit.
Blo'on melongo, garuk-garuk kepala dan berseru : "Ai, ai
serba salah. Kuminta engkau suruh aku melakukan apa,
engkau diam saja. Aku pergi, engkau marah-marah. Habis
bagaimana ?"
Tetapi nona itu diam saja. Ia pejamkan mata tak sudi
melihat cecongor si blo'on.
"Nona, beritahu kepadaku, bagaimana cara untuk membuka
jalan darahmu itu r"
Walet-kuning tetap membisu.
"Nona, engkau salah faham," bujuk si blo'on, "aku benar-
benar tak mencelakai mu, pun sungguh tak mengerti tentang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ilmu menutuk jalandarah engkau lurus percaya seperti engkau
harus percaya pula bahwa aku bukan pembunuh suhumu . . .
Si dara tetap diam.
"Hai, mengapa diajak bicara diam saja?" si blo'on garuk-
garuk kepala, "apakah dia benar sudah jadi patung yang tak
dapat bicara?"
Diam-Diam diawasinya nona itu. Dari atas kepala sampai ke
ujung kaki. Diam-Diam ia mendapat kesan bahwa dara itu
cantik. Tetapi ia heran mengapa tangannya mengacung
keatas seperti hendak meninju. Lalu timbul pertanyaan lagi
dalam hatinya, apakah yang menyebabkan tangannya terus
saja mengacung keatas itu ?
"Ah, biarlah kuperiksanya," akhirnya ia memutuskan lalu
berkisar maju. Didapatinya lengan dara itu tak terluka sama
sekali. Aneh, mengapa tak mau menurunkan saja. Ia
memberanikan diri untuk memegang lengan si dara, dicobanya
untuk menurunkan. Uh. uh . . ia mendesus. Mengapa tangan
itu kaku sekali ?
la lepaskan cekalannya lalu mengangkat tangannya sendiri
keatas menirukan gaya nona itu Digerak-gerakkannya
tangannya sendiri turun naik beberapa kali, katanya : "Ah,
begini mudah sekali, mengapa dia tak mampu ? Asal sikunya
digerakkan, tangan tentu akan turun ..."
Dengan mendapat pikiran semacam itu, dipegangnya siku
lengan dara itu lalu dipijatnya dan...
"Hai, dapat bergerak . . . !"
Tetapi belum habis ia berseru, tiba-tiba tangan si dara
bergerak mendorong dadanya. Uh . . bluk , si blo'on terdorong
jatuh ketanah,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ternyata pada waktu pergelangan siku lengan nona itu
dipijat si blo'on serentak terbukalah jalandarahnya yang
tertutuk. Dan serentak itu juga ia menghantam si blo'on
sehingga terpelanting jatuh.
"Hai, aku sudah menolongmu, mengapa engkau malah
memukul aku?" si blo'on menegur. Tetapi Walet-kuning tak
peduli. Dengan gemas ia menendang pemuda itu dan
menghajarnya. Untuk menghindarkan diri, blo'onpun terpaksa
berguling-guling ditanah. Tetapi nona itu tak mau memberi
ampun lagi. Ia merasa telah dipermainkan maka saat itu ia
hendak membalas sepuas-puasnya.
Karena berguling-guling di tanah, pakaian pemuda blo'on
kotor semua, begitu pula kulit mukanya bergurat-gurat lantai
batu yang tak rata. Karena sakit lama kelamaan timbul pikiran
si blo'on untuk menghentikan amukan dara itu. Pada saat tinju
Walet-kuning melayang, si blo'onpun cepat menyambar. Nona
itu terkejut, bahkan si blo'on sendiri juga. Ia tak kira kalau
gerak tangannya begitu cepat sekali diluar kehendaknya. Cret,
tangan sinona dapat dicengkeramnya dan menjeritlah dara itu
kesakitan : "Ih . . .”
Walet-kuning hendak meronta tetapi ia rasakan tenaganya
merana. Cengkeiaman si blo'on telah melunglaikan sendi-sendi
uratnya.
"Mengapa engkau menghajar aku?" tegur pemuda blo'on
itu.
Walet-kuning tahu bahwa ia berhadapan dergan seorang
anakmuda yang aneh. Tolol tetapi sakti. Apabila ia berkeras
kepala, kemungkinan pemuda itu marah, tentulah akan
meremas tangannya. Mati ia tak takut tetapi kematian itu
berarti kematian yang sia-sia. Ia tak dapat membalaskan sakit
hati suhunya yang dibunuh pemuda itu. Maka lebih baik untuk
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sementara ia menggunakan siasat lunak, membawanya ke
markas agar diadili oleh para tetua partai perkumpulannya.
"Engkau hendak menghancurkan tanganku ?" lengking si
dara menantang.
"Tidak," sahut si blo'on, "mana aku mampu?"
"Kalau tidak mengapa engkau memegang tanganku? Cis,
tak malu. anak laki pegang-pegang tangan anak perempuan,
hayo lepaskan!" bentak Walet-kuj ning.
"Ya, akan kulepas tetapi bagaimana kalau engkau memukul
aku lagi ?"
"Hm ..."
"Maukah engkau berjanji takkan memukul aku” tanya si
blo'on.
"Tergantung pada engkau. Kalau engkau memberi
keterangan yang jujur, aku tentu tak marah.”
"Ya, ya, baiklah, "si blo'on girang dan segera lepaskan
cekalannya. Lalu bertanya : "Nah sekarang tanialah."
"Engkau membunuh suhuku ?"
"Tidak !"
"Sungguh ?"
"Sungguh mati, nona. Aku berani disumpah.”
"Tetapi yang ada disini hanya engkau. Punggung suhu
tertikam pedang dan kerangka pedang itu berada ditangahmu.
Tanganmupun berlumuran darah. Bagaimana engkau masih
berani menyangkal?”
"Mengapa tak berani? Kalau aku membunuh tentu aku
mengaku membunuh. Tetapi aku tak merasa melakukan hal
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
itu. Aku berada disini, memegang kerangka pedang dan
tanganku berlumuran darah, itu tak kuketahui semua. Aku
sendiri juga heran tetapi aku tak dapat mengingat apa yang
telah terjadi pada diriku. Bahkan namaku dan siapa diriku,
akupun tak tahu. Otakku seperti hilang."
"Bohong !"
Serta merta pemuda blo'on itu berlutut di-hadapan Walet-
kuning. Dengan mata berlinang-linang dan suara terharu ia
berkata: "Nona manis, kalau engkau kasihan padaku, berilah
aku obat agar otakku sembuh. Tetapi kalau engkau tak
kasihan, tak apa. Tetapi kuminta engkau mau percaya pada
keteranganku. Setidak-tidaknya untuk sementara waktu ini
sampai aku sudah sembuh, sudah dapat mengingat segala
apa. Maukah ?"
Melihat wajah si blo'on yang cakap dan bersih, timbullah
kesan Walet-kuning bahwa pemuda itu seorang yang jujur.
Adakah pemuda itu benar kehilangan daya ingatannya ?
Sejenak merenung, akhirnya ia memutuskan untuk
mengajaknya ke markas perguruannya dan menghadapkan
kepada beberapa tokoh yang berwewenang.
"Baik, tetapi engkau harus mau kubawa ke markas
perguruanku. Disana ada beberapa cianpwe yang akan
memeriksamu. Kalau engkau memang tak bersalah engkau
tentu dibebaskan dan akupun bersedia mengantar engkau
mencari otak naga itu."
"Benar?"
"Ya."
"Baik, baik," teriak pemuda blo'on itu tetapi tiba-tiba ia
kerutkan dahi, apakah 'cianpwe' itu? Dia manusia atau
binatang?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Si dara mau marah karena merasa hendak dipermainkan
tetapi demi melihat kesungguhan wajah pemuda itu, diam-
diam ia kasihan juga. Dari marah ia menjadi geli.
"Cianpwe itu adalah orang tua, dalam kalangan persilatan
ialah orangtua yang tinggi ilmu kepandaiannya," menerangkan
si dara.
"O." desuh si blo'on "mari kita pergi."
"Tunggu," seru si dara ketika melihat begitu omong, terus
saja si blo'on ayunkan langkah," bagaimana dengan mayat
suhuku ?"
"Ah, kurasa biar disini, jangan dipindah-pindah agar
memudahkan cianpwe-cianpwe itu memeriksa keadaannya."
"Dan suko ?"
"Apa itu suko ?" tanya si blo'on.
"Eh, engkau ini bagaimana, sudah hampir satu setengah
hari aku berteriak menyebut suko, mengapa engkau belum
tahu juga? Itu," ia menuding ke arah Rajawali-mata-biru yang
masih menggeletak pingsan, "suko-ku ialah engkoh
seperguruanku, mengerti ?"
"Ya, ya," kata si blo'on, maksudmu bagaimana?”
"Dia terluka dan pingsan, harus kita bawa pulang."-
"Ya, benar."
"Lalu siapa yang membawa ?" tanya si dara.
"Lha siapa ya?" blo'on balas bertanya, "bagaimana kalau
engkau ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Gila" desuh Walet-kuning, "aku seorang gadis bagaimana
disuruh memanggul seorang anak laki Dan lagi aku tentu tak
mampu membawanya melompati jurang karang ?"
"Mengapa tak dapat ?"
"Ih, apa engkau mampu”
Blo'on belum melihat betapa keadaan jurang karang yang
memisahkan puncak disitu dengan puncak diseberang. Demi
untuk menyenangkan hati si dara ia membusungkan dada :
"Anak laki-laki harus mampu dan tentu bisa melompati
jurang."
"Bagus " seru Walet-kuning, "sekaiang engkau panggul
sukoku itu dan marilah kita keluar."
Kali ini si blo'on sangat mendengar kata. Ia mengangkat
tubuh Rajawah-mata-biru lalu dipanggulnya. Ia heran
mengapa tubuh pemuda yang masih pingsan itu terasa ringan
sekali.
Tak berapa lama setelah melalui beberapa gunduk karang
mereka tiba disebuah tepi karang yang buntung. Si dara
berhenti.
"Nah, kita harus melompati jurang pemisah ini untuk
mencapai tepi karang diseberang," katanya seraya menunjuk
kekarang seberang, "kemudian» kita menuruni karang itu,
melintasi sebuah hutan dan baru tiba di markas perguruanku."
Si blo'on memandang kebawah. Demi melihat betapa dalam
jurang itu. hingga dasarnya sampai tak kelihatan, blo'on
mendesis kaget : "Aduh . . ngeri aku !"
"Ngeri ? Kenapa ?" tanya Walet-kuning. "Jurang ini ternyata
dalam sekali. Kalau jatuh bukankah tubuhku hancur lebur ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar," sahut si dara, "tetapi engkau memmiliki ilmu
meringankan tubuh yang hebat. Tak mungkin akan terjatuh."
"Benar . . eh, apa katamu? Ilmu meringakan tubuh? Apakah
ilmu meringankan tubuh itu?”
"Dalam istilah persilatan ilmu meringankan tubuh itu disebut
ginkang. Seorang yang ginkangnya tinggi dapat melayang di
udara sampai beberapa meter tingginya. Engkau tentu bisa,
bukan?”
"O, begitu," kata si blo'on, "tetapi aku tak bisa !"
Walet-kuning sudah muak mendengar kegilaan si blo'on. Ia
anggap pemuda itu memang suka berolok-berolok saja tetapi
sebenarnya memiliki ilmu kepadaian yang sakti. Maka ia tak
mempedulikannya lagi.
"Sekarang engkau atau aku yang lompat ke sana lebih
dulu?" tanya Walet-kuning.
"Tetapi aku tak dapat. Ih . . ngeri," kembali ia mengeluh
ketika melongok kebawah.
"Kutunggu diseberang sana," Walet-kuning terus enjot
tubuhnya melambung keudara. Dan pada lain kejab, dara
itupun sudah berdiri ditepi puncak yang terpisah tiga empat
tombak dari puncak tempat blo'on berdiri.
"Hayo, lekas engkau. Dan jangan lupa panggullah suko-ku
!" seru si dara
Si blo'on terlongong-longong. Bagaimana mungkin ia dapat
melintasi jurang yang lebarnya tiga empat tombak. Apalagi
disuruh memanggul seorang yang terluka.
"Aku tidak bisa, nona! Sungguh mati sampai tujuh kali
akupun bersedia kalau aKu bohong. Aku memang tak mampu
!" teriak si blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Lekas . . . !" teriak Walet-kuning pula yang sudah tak mau
mempedulikan ocehannya. Ia anggap pemuda blo'on itu tentu
dapat.
"Tidak " balas blo'on tak kalah kerasnya, "apakah engkau
hendak suruh aku mati dibawah dasar jurangini? O, betapa
kejam engkau ini, nona."
Walet-kuning termenung. Kalau ia memaki, sia-sia saja-
Pemuda blo'on itu sudah kebal dimaki. Lebih baik ia cari siasat
agar pemuda itu bangkit semangatnya.
"Hai, blo'on, kalau engkau takut, letakkan suko-ku ditanah
dan pergilah engkau. Walaupun aku seorang anak perempuan
tetapi tak sudi kalah dengan anak lelaki semacam engkau.
Mentang-Mentang berani buka bacot, menepuk dada sebagai
anak laki-laki, tetapi nyatanya,
cis . . melompati sebuah
jurang begini saja tak berani.
Berani berjanji tetapi tak malu
menjilat ludah !"
"Ludah siapa yang kujilat ?"
teriak blo'on.
"Ludahmu sendiri! Bukankah
engkau tadi berjanji mau
menggendong suko pulang ke
markas? Mengapa sekarang
nyalimu mengkeret ?"
"Hai, anak perempuan,jangan engkau terlalu menghina
padaku. Engkau kira aku tak berani melompati jurang ini ?
Lihatlah saja nanti !" tiba-tiba blo'on berteriak lalu pasang
kuda-kuda. Setelah menahan napas ia terus enjot kakinya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mengantar tubuhnya melayang keudara, melintasi mulut
jurang yag menganga beberapa meter itu.
Blo'on hanya dirangsang panasnya hati mendengar ejekan
Walet-kuning. Ia tak menyadari bahwa loncatan itu adalah
loncatan maut. Apabila gagal, pasti ia akan melayang turun
kedasar jurang yang dalamnya beberapa ratus meter.
"Uh, ternyata mudah saja," pikirnya ketika melayang diatas
mulut jurang. Dan ia tak merasakan suatu beban apa-apa
walaupun menggendong tubuh Rajawali mata-biru yang masih
pingsan.
Tetapi ketika hampir mencapai tepi karang, tiba-tiba ia
menunduk kepala dan : "Hai, tolongng...!" ia menjerit sekuat-
kuatnya dan tubuhnyapun segera meluncur kebawah jurang.
Rasa kejut dan takut yang hebat telah menghentikan darah
dalam tubuh anak itu sehingga tubuhnya berat dan meluncur
kebawah.
"Hai, awas, tubuhmu tentu hancur lebur" teriak Walet-
kuning.
Teriakan si dara itu membuat blo'on gelagapan.
Seketika ia kencangkan urat-urat, mengempos semangat
dan bergeliatan meronta-ronta. Tubuhnya yang sudah
meluncur turun itu melambung keatas lagi. Dan sekali blo'on
ayunkan tubuh makaiapun melayang ketepi karang, tak
berapa jauh dari tempat Walet-kuning.
"Ah . . . ," Walet-kuning menghela napas longgar,
"mengapa engkau tiba-tiba menjerit lagi ?"
"Ai, ngeri sekali melihat jurang yang begitu dalam." kata
blo'on, "eh, apakah aku masih hidup ?"
"Ya."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aneh," kata blo'on garuk-garuk kepala, "mengapa aku
dapat melompati jurang yang begitu lebar dengan
menggendong orang ?"
"Ginkangmu hebat sekali," seru Walet-kuning
"O, begitu ?" tanya blo'on, "mengapa aku tak merasa ?"
Walet-kuning tahu makin digubris, pemuda itu maikin
menjadi-jadi blo'onnya. Maka cepat ia mengajaknya berangkat
menuju ke markas perguruan-
"Berapa jauhnya ?" tanya blo'on.
"Lebih kurang dua tigapuluh li," sahut si dara.
"Apakah nama perguruanmu ?"
"Hea-san-pay "
"Siapakah nama gurumu itu?" tanya blo'on pula
"Kam Sian-hong."
"Bagus sekali nama itu, sayang orangnya sudah... ?”
"Engkau bunuh!" Walet-kuning menukas geram
"Ah, engkau rupanya tak percaya kalau aku merasa
membunuh suhumu."
"Hm, nanti didepan keempat tiang-lo Hoa-san-pay baru
dapat kita ketahui engkau bohong atau tidak."
”Siapakah empat tiang-lo itu ? Manusia atau bukan ?" tanya
blo'on.
Walet-kuning deliki mata dan membentak: ”Jangan kurang
ajar ! Keempat tiang-lo itu adalah empat orang tetua atau
tokoh angkatan tua dari Hoa-san-pay. Walaupun mereka
bukan ketua, tapi kedudukan mereka amat tinggi. Setiap ada
persoalan, suhu tentu minta pendapat mereka."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, kalau begitu tentu sudah tua renta sekali ?"
"Yang paling muda sendiri sudah berumur delpanpuluh
tahun. Yang tua hampir seratus tahun."
"Siapa nama mereka ?" tanya blo'on.
"Tertua bernama Naga-besi Pui Kian. Kedua Garuda-emas
Lim Cong, ketiga ialah Beruang-sakti Han Tiong dan keempat,
Naga-besi Pui Kiat".
"Uh, seram benar," kata blo'on, "lalu siapa lagi?"
"Masih banyak. Tak perlu kusebutkan narma-narmanya
"Dan engkau sendiri?”
"Walet-kuning Ui Hong-ing."
"Sukomu?"
"Beruang-mata-biru Ong Gwan."
"Lalu ..."
"Engkau ?" tukas si dara Hong-ing.
"Wan-ong-kiam."
Mau tak mau Hong-ing tertawa juga. Jelai nama itu adalah
tulisan pada pedang yang tertancap dipunggung suhunya.
"Wan-ong-kiam itu nama pedang, bukan nama orang",
serunya.
"Habis, aku tak ingat namaku lagi."
"Mau kuberi nama?" tanya Hong-ing.
"Ya, mau."
"Bagaimana kalau Blo'on?"
"Apa artinya blo'on?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bego."
"Apa artinya bego itu ?" desak si blo'on.
"Goblok, tolol, kocluk seperti engkau!"
"O, bagus, bagus. Ya, namaku si Bloon sajalah," seru
pemuda itu gembira.
Hong-ing benar-benar seperti dikili-kili hatinya Muak-Muak
geli. Masakan diberi nama blo'on malah begtu gembira sekali.
"Engkau tak malu dipanggil Blo'on'" tanyanya
"Malu? Mengapa harus malu? Nama itu hanya untuk
mengenal dan membedakan. Kalau orang menertawakan
nama itu, bukanlah salahku. Tetapi salah orang yang
memberi."
"Aku?" tanya si dara Hong-ing.
"Ya, tetapi jangan kuatir. Blo'on itu bukan nama yang jahat,
bukan pula nama yang jelek. A-ku berterima kasih kepadamu
untuk pemberian nama itu. Bukankah didunia ini hanya aku
seorang yang mempunyai nama Blo'on ?"
Saat itu mereka sudah menuruni tanjakan karang dan
tengah menjelang melintasi sebuah hutan pohon siong.
Sekonyong-konyong muncul tiga jenis binatang. Seekor anjing
kuning sebesar anak kerbau, seekor monyet hitam dan seekor
burung rajawali. Ketiga binatang itu menyongsong Blo'on.
Anjing kuning terus menjilat-jilat kaki Blo'on. Monyet hitam
loncat duduk diatas bahu dan burung rajawali hinggap
dikepala si Blo'on Karena sedang mendukung Rajawali-mata-
biru Ong Gwan yang pingsan, terpaksa si Blo'on memegangi
tubuh Ong Gwan supaya tidak jatuh hingga ia tak dapat
berbuat apa-apa ketika ketiga binatang itu menyerbunya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Mata Blo'on berkicup-kicup. Rasanya ia pernah melihat
ketiga binatang itu tetapi ia lupa sama sekali dimana dan
kapan pernah berjumpa.
”Hai, apakah binatang peliharaanmu ?" tanya Hong-ing.
"Bukan, aku tak kenal mereka !"
"Kalau begitu, biar kuhalaunya agar jangan
mengganggumu," seru Hong-ing.
Dara itu kuatir si Blo'on tak tahan diganggu monyet dan
burung la lu lepaskan pegangan tangannya. Sukonya tentu
kan terlepas jatuh."
"Jangan, biarkan saja . . ," cepat-cepat si Blo'on mencegah
tetapi terlambat. Hong-ing sudah lebih dulu menghantam
simonyet hitam Duk . . .
"Aduh . . '" Blo'on menjerit karena bahunya dihantam Hong-
ing. Memang ketika tinju sida berayun, monyet hitam itu
sudah loncat ke udar lalu duduk lagi di bahu si Blo'on. Tinju
Hong-in mendapat bahu si Blo'on.
Hong-ing terkejut. Ia heran mengapa monyet itu
sedemikian gesit gerakannya. Kali ini ia hendak memukul
burung rajawali yang hinggap di kepala si Blo'on.
”Plak . . . aduh !" kembali si Blo'on menjerit "budak
perempuan setan, mengapa engkau memukul kepalaku !"
Hong-ing tertegun sekali. Ia seorang dara yang tinggi
ilmusilatnya. Pukulannya itupun dilancarkan cepat sekali.
Tetapi ternyata burung rajawali itupun amat tangkas. Begitu
tinju si dara melayang, burung itu segera terbang ke udara
dan hinggap pula di atas kepala Blo'on.
"Hai, budak perempuan, jangan gila-gilaan Kalau memukuli
kepalaku, sukomu tentu kulepaskan !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Si dara hanya menyeringai. Tanpa berkata apa-pa ia
menendang anjing kuning yang selalu melibat kaki si Blo'on
hingga mengganggu jalannya. Plak....
"Aduh . . " si Bloon menjerit dan rubuh. Anjing kuning
lompat kesamping, lutut si Blo'on termakan tendang Hong-ing
dan rubuhlah pemuda itu.
"Anak perempuan," Blo'on geleng-geleng kepala, "tak jadi
saja !"
Hong-ing tercengang : "Apa yang tak jadi?"
„Nama itu, ya nama Blo'on yang engkau berikan kepadaku.
kukembalikan kepadamu saja. Pakailah sendiri karena ternyata
engkau ini seorang gadis yang blo"on "
Hong-ing tahu apa yang dimaksudkan pemuda itu.
Merahlah mukanya. Tiga kali ia menyerang tiga binatang,
tetapi selalu luput. Diam-Diam ia heran. Sesaat kemudian
penasaran. Masakan dia kalah dengan binatang saja !
"Uh, siapa yang blo'on? Aku hendak mengusir binatang
yang mengganggumu itu, mengapa engkau marah?"
"Apakah begitu caranya mengusir. Binatang tidak pergi, aku
yang menjadi korbanmu !"
"Jangan ngoceh ! Lihat kuusirnya !" Walet-kuning mulai lagi
untuk menyerang. Tetapi sejak si Blo'on jatuh, rajawali, kera
dan anjing kuning sudah bersatu tegak disamping pemuda itu.
Monyet menunggang punggung anjing, burung rajawali
hinggap di kepala si monyet.
Waktu Hong-ing menyerang, ketiga binatang itupun
serempak menyongsong. Anjing menggigit kaki si dara,
monyet loncat ke bahu dan rajawali menyambar kepala.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
”Ih . . ," Hong-ing terkejut dan loncat menghindar ke
samping. Namun ketika binatang itupun kembali lagi berdiri di
samping si Blo'on.
Hong-ing heran, serunya : "Hai, Blo'on, binatang itu tentu
peliharaanmu. Kalau tidak masakan selalu melekat engkau
saja. Dan merekapun tahu juga berkelahi."
"Aku sendiri juga heran," seru Blo'on, "aku tak kenal
dengan mereka tetapi mengapa mereka menjaga aku ?" tiba-
tiba ia berpaling kepada binatang itu, tegurnya: "Hai, engkau,
aku tak kenal kepada kamu, hayo, enyahlah !"
Tetapi ketiga binatang itu malah ribut. Anjing menyalak,
monyet bercuit-cuit dan rajawali-pun bersuit nyaring. Seolah-
olah tertawa-tawa mendengar si Blo'on bicara.
"Pergi . . . !" si Blo'on bangkit dan berteriak keras mengusir.
Tetapi tetap ketiga binatang itu diam saja. Karena jengkel, si
Blo'on menendang-Ketiga binatang itu hanya menyingkir
beberapa langkah saja, tetap tak mau pergi. Demikian tiap kali
si Blo'on memburu, memburu, mereka nyingkir tetapi berhenti
lagi.
"Kubantu engkau mengusir mereka !" teriak Hong-ing terus
lari hendak menyerang. Tetapi ketiga binatang itupun
serempak menyerang si dara.
Kalau si Blo'on yang menghalau, mereka hanya menyingkir.
Tetapi kalau Hong-ing yang mengusir mereka serempak
menyerang.
Akhirnya karena kewalahan, Hong-ing berseru: "Sudahlah,
jangan hiraukan ketiga binatang itu. Mari kita lanjutkan
perjalanan lagi !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tak berapa lama merekapun tiba disebuah lembah. Sebuah
bangunan yang luasnya hampir menduduki seluruh lembah,
dipagari dengan dinding batu. Sepintas pandang menyerupai
sebuah markas tentara.
Begitu Walet-kuning Hong-ing masuk bersama seorang
pemuda yang memanggul seorang yang terluka, beberapa
anakmurid Hoa-san-pay segera mengerumuninya. Mereka
adalah murid-murid tingkat kedua dan ketiga. Murid tingkat
kesatu hanya lima orang. Ialah Ang Hin-liong, kedua Ko Seng-
tik, ketiga Tian Hui-beng, keempat si Rajawali-mata-biru Ong
Gwan dan kelima Walet-kuning Ui Hong-
"Mengapa Ong suko ?” tanya mereka.
"Lekas bawa suko kedalam " seru Hong-ing. berapa murid
Hoa-san-pay segera menghampiri ketempat Blo'on dan
mengangkutnya kedalam.
Seorang pemuda baju biru menjurahdihadapan Ulo'on;
"Terima kasih atas pertolongan saudara membawa suko kami
yang terluka ..."
"Hai, Gui sute, engkau salah ! Dialah yang melukai suko!"
teriak Walet-kuning Hong-ing ketika melihat Gui Tik, murid
tingkat kedua dari Hoa -san-pay menghaturkan terima kasih
kepada Blo'on.
"Hai ?" Gui Tik yang sedang membungkukkan tubuh
berhenti setengah jalan dan cepat-cepat menegakkan diri lagi,
"dia yang melukai suko ?"
"Jagalah baik-baik, jangan sampai dia lolos ! Aku hendak
memberi laporan kepada keempat Tiang-lo!” kata Hong-ing
terus melesat masuk kedalam gedung
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Mendengar keterangan Hong-ing, beberapa murid Hoa-san-
paypun segera maju mengepun Blo'on. Blo'on diam saja.
"Hm, besar sekali nyalimu, bung, berani melukai suko kami
!"' dengus Gui Tik.
Blo'on hanya kicup-kicupkan mata tetapi tak menjawab.
"Siapa namamu !" bentak Gui Tik.
Blo'on tak mau menjawab, la mengusap peluh yang
membasahi mukanya. Tiba-Tiba jarinya membentur lubang
hidung dan seketika iapun berbangkis "Hajingngng . . . !"
"Bangsat'" Gui Tik tiba-tiba menjerit dan memaki Karena
hanya terpisah dua tiga langkah dengan-Blo'on, Gui Tik
tertabur cairan ingus dari hidung si Blo'on. Rupanya kuat
sekali semburan hidung Blo'on itu sehingga mata Gui Tik
terasa sakit seperti ditabur butir-butir pasir.
Gui Tik mencabut pedang dan maju menghampiri lalu
mengangkat pedang: "Bilang, siapa nama mu?”
Blo'on mengangkat muka. Saat itu ia menghadap ke barat
dan justeru matahari sudah berada disebelah barat. Karena
muka menengadah, lubang hidungnyapun terlimpah sinar
matahari. Seketika pula ia berbangkis lagi, hajingngng ....
Gui Tik menjerit dan menyurut mundur dua tiga angkah
sambil mendekap mukanya. Melihat itu beberapa murid yang
mengepung serentak hendak menyerbu. Tetapi melihat si
Blo'on berdiri tegak sambil menyikapkan kedua tangannya
kedada, murid-murid Hoa-san-pay itu berhenti. Sebagai murid
perguruan silat merekapun pernah mendengar petuah
suhunya bahwa orang yang memiliki kepandaian tinggi tentu
tenang sekali sikapnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on bersikap tenang karena sudah paserah asib. Tetapi
sikap itu diartikan oleh murid-murid Hoa-san-pay sebagai sikap
seorang yang berisi. Apalagi jelas mereka mendengar
keterangan dari Hong-ig, bahwa Blo'onlah yang melukai
Rajawali-mata-biru tetapi tetap berani datang ke markas situ.
Kalau tidak mempunyai kepandaian sakti masakan dia berani
bertindak begitu ? Bukankah Hoa-san-pay itu sebuah
perguruan silat yang cukup ditakuti dan di indahkan kaum
persilatan ?
"Bayar jiwa suko kami !" teriak Gui Tik seraya maju hendak
menusuk.
"Jangan sute," tiba-tiba seorang pemuda bertul buh tinggi
kurus berseru mencegah, "ingat pesan Hong-ing su-ci. Kita
disuruh menjaga, bukan disuruh menyerangnya !"
"Tetapi dia ..."
"Dia tidak melarikan diri," tukas pemuda tinggi kurus pula.
"maka kitapun harus mengindahkan pesan Hong-ing suci.
Tunggu saja nanti keempat Tiang-lo yang membereskannya.
Kalau kita bertindak sendiri tentu akan menerima hukuman
karena dianggap lancang !"
Yang berkata itu Li Cong-bun, juga murid Hoa-san-pay
tingkat kedua, suheng atau kakak seperguruan dari Gui Tik.
Gui Tik terpaksa menahan diri. Ia tak berani melanggar
peringatan sukonya yang memang tepat.
"Saudara," kata Cong-bun dengan nada ramah kepada
Blo'on, "mengapa saudara melukai suko kami ? Apakah
urusannya?"
Blo'on tetap membisu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apakah saudara tak tahu kalau Hoa-san-pay itu sumber
pencetak jago-jago silat yang Iihay ?"
Blo'on masih diam.
"Apakah kedatangan saudara ke markas Hol san-pay ini
hendak menyerahkan diri atau hendak menantang kami?"
masih Cong-bun bertanya sabaj
Blo'on diam.
"Mengapa saudara tak menjawab? Apakah benar-benar
saudara memandang rendah kepada murid-murid Hoa-san-
pay ?" nada Cong-bun mulai kurang puas.
Blo'on tak mau bicara.
”Hm, rupanya saudara memang bermaksud begitu. Baik,
hayo, cabutlah senjatamu dan mari kita main-main barang
beberapa jurus saja ! „ tantang Cong-bUn yang sudah hilang
sabarnya.
Namun Blo'on tetap diam. Paling-Paling hanya hidungnya
yang menyeringai.
"Apakah engkau bisu, bung !" teriak Cong-bun makin
sengit.
Blo'on tetap diam.
"Hai, engkau memang bisu ! Celaka, mengapa seorang bisu
seperti engkau berani melukai murid Hoa-san-pay !" seru
Cong-bun seraya maju menghampiri dan siap hendak
memukul. Tetapi sekonyong-konyong dari dalam gedung
muncul berpuluh-puluh orang. Cong-bun hentikan tangannya.
Empat orang kakek tua berjalan dengan langkah goyang
gontai, diiring oleh tiga orang pemuda. Dibelakang pemuda itu
diiring oleh beberapa puluh murid-murid Hoa-san-pay.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Rombongan anakmurid Hoa-san-pay yang mengepung
segera memberi jalan kepada rombongan kakek tua itu.
Keempat kakek tua itu ialah yang disebut empat Tiang-lo
dari Hoa-san-pay. Sedang ketiga pemuda tegap dibelakangnya
itu ialah Ang Hin-liong, fci Seng dan Tian Hui-beng, murid
tingkat pertama dari Hoa-san-pay dan suheng dari Rajawali-
mata- biru serta Walet-kuning.
Sedangkan keempat kakek tua itu ialah keempat Tiang-lo.
Yang paling tua sendiri Naga-besi Pui Ki, lalu Beruang-sakti
Han Tiong, Kilin-emas Lim-Ping dan Serigala- bergigi-perak
Bok Jiang. Mereka berhenti di hadapan si Blo'on.
"Anakmuda, siapakah engkau ?" Naga-besi Pui Kian yang
paling tua mulai menegur.
"Lo-cianpwe menanyakan diriku atau namaku ?" Blo'on
balas bertanya dengan menyebut locianpwe atau orangtua
yang terhormat.
"Dirimu."
"Diriku ? Diriku ya aku ini," sahut Blo'on seraya menepuk-
nepuk dadanya.
Jawaban itu membuat sekalian murid Hoal san-pay gempar.
Dihadapan keempat Tiang-lo, masakan pemuda itu berani
bersikap sekurangajar begitu
"Jangan kurang ajar!"bentak salah seorang dari kakek itu
ialah Serigala-bergigi-perak Bok Jiangl "engkau tahu siapa
yang engkau hadapi ini ?'
"Tahu," jawab Blo'on.
"Siapa ?" Seru Serigala-gigi-perak pula.
"Empat orang kakek tua renta !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Jawaban Blo'on itu disambut dengan suara rang
menggeram penuh kemarahan dari murid-murid Hoa san-pay
Apabila keempat Tiang-lo itu mengizinkan, ingin sekali mereka
meremuk pemuda kurang ajar
"Tahu nama kami?" masih Serigala-gigi-perak melanjutkan
pertanyaan. Belum ada tanda-tanda ia marah. Mungkin dia
hendak menjaga gengsi sebagai seorang cianpwe, tak boleh
merendahkan diri berbantah dengan seorang anakmuda.
"Belum," sahut Blo'on, "tahu saja baru sekarang masakan
sudah kenal namanya." Keempat Tiang-lo terkesiap.
"Ketahuilah, kami berempat ini adalah Tiang-lo dari Hoa-
san-pay ..."
"O," sambut Blo'on tenang-tenang "Dan yang bertanya
kepadamu tadi ialah Tiang-lo yang peitama ialah Naga-besi Pui
Kian...."
"O," kembali Blo'on mendesuh kaget. Lalu berseru girang,
"bagus, sungguh kebetulan sekali. Aku tak pergi jauh-jauh ke
Laut Hitam. Ternyata disini juga terdapat naga !"
Sudah tentu keempat Tiang-lo dan murid-murid Hoa-san-
pay terlongong-longong heran. Mereka tak tahu apa sebab
anakmuda itu tiba-tiba saja begitu girang.
"Apa katamu ?" tegur Serigala-gigi-perak.
"Lo-cianpwe, aku menderita sakit yang aneh. hakku hilang
sehingga aku tak ingat apa-apa lagi. Menurut keterangan anak
perempuan yang membawa aku kemari tadi, penyakitku itu
hanya dapat disembuhkan dengan makan otak naga. Kalau di-
sini ada Naga-besi, bukankah aku dapat meminta otaknya
untuk mengobati otakku itu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jahanam! Berani sekali engkau menghina Tianglo kami !"
tiba-tiba seorang pemuda berteriak terus ! loncat kemuka
hendak menyerang Blo'on.
"Hin-liong. jangan !" serigala-gigi-perak cepat mencegah
tindakan Hin-liong murid pertama dari Hoa-san-pay. Dan
pemuda itupun hentikan langkahnya.
"Otakmu hilang? Bagaimana engkau tahu kalau otakmu
hilang?" tanya Serigala-gigi-perak.
"Aku tak ingat apa-apa, tak dapat berpikir. Bukankah
karena otakku hilang ?"
Serigala-gigi-perak mendapat kesan bahwa pemuda itu
memang tak waras pikirannya. Namun untuk lebih mendapat
kepastian, ia harus mengajukan beberapa pertanyaan lagi.
"Siapa namamu ?"
"Nama dulu atau nama sekarang ?"
"Eh, apakah engkau mempunyai dua nama?".
"Tentulah begitu."
"Siapa namamu yang dulu dan sekarang," masih Serigala-
gigi-perak bersikap sabar.
"Namaku yang dulu, aku tak ingat lagi. Namaku yang
sekarang ialah Blo'on."
"Blo'on ? Siapa yang memberi nama itu ?"
"Anak perempuan yang membawaku kemari itul”
"Oh," dengus Serigala-gigi-perak, "engkau merima
mendapat nama itu ?"
"Ya, nama itu bagus sekali."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Rupanya Serigala-gigi-perak menyadari bahwa dia terlalu
banyak yang mengajukan pertanyaan. maka diapun segera
berkata: "Blo'on, sekarang Pui suheng hendak bertanya
kepadamu. Engkau harus menjawab yang benar."
"Ya," sahut Blo'on.
Setelah dipersilahkan Serigala-gigi-perak, maka Naga-besi
Pui kian mulai mengajukan pertanyaan lagi: "Hai, anakmuda,
engkau dari perguruan mana”
"Justeru itulah yang hendak kutanyakan kepada cianpwe
sekalian." jawab Blo'on.
"Bertanya bagaimana?" Naga-besi kerutkan kening.
"Seperti yang telah kukatakan tadi, aku menderita suatu
penyakit yang aneh otakku hilang, aku tak ingat apa-apa lagi.
Bahkan siapa diriku, namaku asal usulku, aku tak mengerti.
Maka aku hendak minta tulung kepada cianpwe dan sekalian
saudara-saudara disini untuk memberitahu siapa diriku ini."
"Aneh," gumam Naga-besi Pui Kian, "kalau engkau tak
kenal dirimu sendiri bagaimana orang lain dapat
mengenalmu?"
"Bukan begitu," sahut Blo'on, "kemungkinan diantara
cianpwe dan saudara-saudara disini pernah melihat aku dan
tahu siapakah diriku ini ?"
"Hm," dengus Naga-sakti Pui Kian lalu mengeliarkan
pandang mata kearah murid-murid Hoa-san-pay: "Siapakah
diantara kamu yang pernah melihat anak ini?
Murid-Murid Hoa-san-pay mencurahkan pandang maka
kepada Blo'on lalu saling berpandangan dan telengkan kepala
kemudian menyatakan tak kenal.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Nah, tidak ada murid Hoa-san-pay yang kenal padamu.
Sekarang engkau harus berusaha untuk mengenal dirimu
sendiri !" seru Naga-besi Pu kian.
"Tidak bisa !" bantah Blo'on, "sebelum otak ku kembali,
mana aku bisa mengingat semua peristiwa yang lampau ?"
"Ngaco !" bentak Naga-besi Pui Kian.
"Eh, engkau tak percaya ? Begini saja, aku membutuhkan
bantuanmu. Kalau engkau meluluskan, aku tentu dapat
memberi keterangan yang jelas."
"Bantuan apa ?"
"Tadi cianpwe yang itu," Blo'on menunjuk kepada Serigala-
gigi-perak, "mengatakan kalau engkau bergelar Naga-besi.
Aku membutuhkan otak naga untuk menyembuhkan
penyakitku itu. Boleh kah aku meminta otak itu dari engkau.
Ya, sedikit sajalah sudah cukup ..."
"Bangsat, jangan kurang ajar!" Hin-liong cepat hendak maju
menghajar. Tetapi dicegah oleh Naga-besi Pui Kian.
"Ya, akan kuberi. Tetapi lebih dulu engkau harus
menerangkan mengapa engkau membunul Kam Sian-hong
kaucu, ketua Hoa-san-pay?" Naga-besi.
"Aku tak membunuhnya !"
"Bohong ! Coba engkau ingat-ingat lagi !" Naga-besi Pui
Kian.
"Tidak bisa, aku tidak ingat apa-apa lagi otakku macet.
Mungkin aku membunuhnya, mungkin tidak ..."
"Bukan mungkin lagi tetapi memang engkau telah
membunuhnya. Sarung pedang dan darah di tanganmu itu,
bukti yang jelas !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Eh, bagaimana engkau tahu ? Apakah engkau melihatnya
sendiri? Apakah engkau sudah menyaksikan mayat itu ?"
"Hong-ing telah memberi laporan kepadaku," kata Naga-
besi Pui Kian. Tetapi pada lain saat ia pun menyadari bahwa
sebelum memeriksa mayat Kam Sian-hong, ia memang belum
mendapat gam baran jelas dan belum dapat menarik
kesimpulan yang tepat.
"Gui Tik, Cong-bun, pergi ke guha dan ambillah jenazah
suhumu kemari," Naga-besi segera memberi perintah kepada
kedua murid tingkat kedua itu.
Gui Tik dan Cong-bun bergegas melakukan perintah.
"Hm, walaupun kusuruh mengangkut jenazah itu kemari
tetapi bukan berarti bahwa engkau bebas dari tuduhan.
Karena bagaimanapun juga, tetap engkau yang
membunuhnya!" kata Naga-besi pada Blo'on.
"Aneh, aku tak kenal padanya, mengapa aku hurus
membunuhnya ?" seru Blo'on.
"Sudah jelas, engkau tentu hendak merebut rumput Liong-
si-jau yang berumur seribu tahun itu. Rumput yang jarang
terdapat di dunia !”
"Tidak! Aku tak tahu rumput apa itu, bagai mana aku
hendak merebutnya. Buat apa?" bantah Blo'on.
Naga-besi Pui Kian tertawa mengejek : "Memang pencuri
tentu tak mau mengaku kalau tidak digebuk ..."
"Tetapi aku bukan pencuri ! Waktu aku bangun kulihat
sesosok mayat. Aku sendiri heran mengapa tahu-tahu aku
berada di guha itu."
"Baik," kata Naga-besi Pui Kian, "akan kubuktikan engkau
benar mencuri rumput mustika itu atau tidak."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, bagus, bagus, enkau bijaksana !" teriak Blo'on girang
"Jangan terburu bergirang dulu," seru Naga besi, "engkau
dengarkan dulu cara yang hendak kulakukan untuk menguji
engkau. Ialah begini, kalau engkau dapat menahan
seranganku sampai tiga jurus, berarti engkau mencuri rumput
mustika itu."
"Kalau tidak dapat menahan seranganmu” tanya Blo'on
"Engkau harus mati !"
"O, bagus sekali cara itu . . eh, tidak, tidak Aku rugi, bisa
menahan, dianggap pencuri. Kalau tidak bisa, harus mati.
Cara apa itu?" teriak Blo'on tak puas.
"Cara untuk menebus kematian seorang ketua seorang
ketua perguruan silat yang terbunuh secara licik !"
"Tidak adil !" teriak Blo'on.
"Memang seorang pembunuh selalu menuduh hakim tidak
adil," Naga-besi Pui Kian mendengus, "tetapi hutang jiwa
harus bayar jiwa. Jika engkau dibunuh, engkau masih untung
karena jiwa seorang ketua perguruan silat sebesar Hoa-san-
pay hanya ditukari dengan jiwa seorang pemuda kerucuk."
"Kalau aku memang yang membunuh, tentu dengan rela
kuserahkan jiwaku untuk dibunuh. Te tapi aku tak tahu dan
tak ingat apa-apa lagi. Biarlah aku menemukan diriku yang
hilang ini lebih dahulu, baru nanti aku akan datang kemari
untuk membuat penyelesaian."
"Hm, enak saja engkau omong," dengus Naga-besi pula",
seolah-olah engkau dapat berbuat sekehendak hatimu."
"Aku merasa tak bersalah, kalaupun bersalah juga aku tak
ingat apa-apa lagi. Aku datang kemari bukan hendak
menyerahkan diri tetapi hendak mencari pengenal diriku.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena kamu tak ada yang kenal padaku, percuma aku berada
disini. Aku segera angkat kaki saja ..." habis berkata Blo'on
terus ayunkan langkah.
"Hm . . hayo, maju biar kutabas tubuhmu!" seru anak-anak
murid Hoa-san-pay yang menghadang jaan, seraya lintangkan
senjata.
Tiba-Tiba serangkum angin tajam bergelombang
mendampar punggung si Blo'on sehingga karena gugup anak
itupun hentakkan kaki dan melayangkan tubuhnya ke udara.
Beberapa anakmurid Hoa-san-pay yang hendak
menghadang itu, terkejut sekali ketika Blo'on melayang
melampau atas kepala mereka. Tetapi Blo'on sendiri juga
heran mengapa ia rasakan tubuhnya amat ringan sekali.
Begitu melayang turun ketanah, Blo'on terus hendak
melarikan diri tetapi alangkah kejutnya ketika seorang kakek
sudah menghadang dihadapan. Dan ketika memandang
kemuka ternyata kakek itu adalah Beruang-sakti Han Tiong,
tianglo kedua dari Hoa-san-pay. Kakek itu digelari Beruang-
sakti karena waktu mudanya seorang yang bertubuh tinggi
besar, sekujur tubuhnya penuh bulu lebat. Dan yang istimewa,
kedua tangannya lebih panjang dari tangan orang biasa,
hingga mencapai lutut. Dengan ciri-ciri itulah maka orang
persilatan memberinya gelaran si Beruang-sakti.
"Hm, monyet, jangan ngimpi engkau dapat melarikan diri "
dengus kakek Beruang-sakti Han Tiong.
"Siapa yang engkau sebut monyet itu? Aku? Uh, apakah aku
mirip dengan monyet ?" sahut Blo'on.
"Ya, engkau bukan mirip tetapi memang serupa dengan
monyet yang kurang ajar dan harus disembelih.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aduh ! Apakah lo-cianpwe ini suka makan daging monyet ?
Enakkah daging monyet itu ?"
Sejak mendengarkan percakapan si Blo'on dengan "Naga-
besi Pui Kian dan Serigala-gigi-perak tadi, Beruang-sakti Lim
Ping sudah mempunyai kesan bahwa pemuda itu memang
seorang blo'on dan suka bicara yang tak keruan. Maka ia tak
mau tarik urat dengan pemuda itu.
"Jangan banyak mulut !" sekonyong-konyong Beruang-sakti
ulurkan tangannya yang panjang untuk mengcengkeram dada
si Blo'on.
"Ah, Io-cianrwe . . . ," karena ketakutan si Blo'on menyurut
mundur selangkah dan luputlah cengkeraman tianglo Hoa-san-
pay itu.
Gerak penghindaran yang dilakukan Blo'on itu sebenarnya
karena rasa takut. Tetapi bagi Beruang-sakti, gerakan anak itu
dianggapnya suatu gerak yang luar biasa. Dan memang diam-
diam ia terkejut karena anak itu mampu meloloskan diri dari
cengkeramannya yang disebut jurus Beruang-merogoh-hati.
Suatu ilmu cengkeraman yang hebat dan jaang dapat dihindari
oleh tokoh-tokoh persilatan yang pernah bertempur dengan
dia.
"Hm, hebat benar kepandaianmu !" dengus Beruang-saKti
seraya memburu maju dan mencengkeram bahu Blo'on.
Gerakan itu disebut jurus Beruang-menyambar ikan-lele.
Menggambarkan seekor beruang yang sesedang berburu ikan
dalam sungai. Setiap tampak ikan unjuk diri dalam air, dengan
gerak yang cepat, beruang itu tentu menyambarnya.
'Uh . . ," Blo’on terkejut dan condongkan tubuhnya kebawah
untuk menghindar. Tetapi cengkeraman Beruang-sakti lebih
cepat. Apalagi tangannya yang panjang, banyak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
membantunya. Bahu Blo'on tercengkeraman dan anak itu
meringis kesakitan.
Sebelum ajal berpantang maut. Demikian pula Blo'on.
Karena ingin melepaskan diri dari cengkeraman besi, tanpa
disadari ia gerakkan tangan kanannya untuk menghantam
tangan orang yang mencengkeram bahu kirinya. Plak . . .
Beruang! sakti terkejut,,, ketika tangannya serasa terhantam
sebuah paluiv-besi. Lengannya gemetar dan
cengkeramannyapun terlepas. Sebelum melepaskan
cengkeramannya, ia mendorong bahu pemuda itu.
"Uh .... uh....." mulut Blo'on mendesuh dan tubuhnya
terhuyung-huyung lima enam langkah dan jatuhlah ia
terduduk di tanah. Ketika memandang bahu kirinya ternyata;
bajunya telah robek, berlubang sebesar cengkeram tangan
orang.
Beberapa murid Hoa-san-pay tingkat dua, begitu
mengetahui Blo'on jatuh, cepat mereka loncat hendak
meringkusnya. Tetapi timbullah naluri Blo'on sebagai seorang
manusia yang hendak mempertahankan hidup, tiba-tiba
merangkum segenggam pasir lalu ditaburkan.
"Aduh . . aduh . . " terdengar jerit pekikan dari murid-murid
Hoa-san-pay yang hendak meringkus-nya ketika muka dan
mata mereka tertabur pasir, entah bagaimana, butir-butir pasir
yang ditaburkan Blo'on seperti berobah menjadi percikan besi
baja sehingga biji mata mereka seperti pecah dan wajah
mereka seperti ditusuki jarum-jarum yang tajam. Sakitnya
bukan alang kepalang.
Sambil mendekap muka, murid-murid Hoa-san-pay itu
serempak mundur beberapa langkah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jahanam, jangan terlalu menghina murid Hoa-san-pay."
Ang Hin-liong, murid pertama dari mendiang ketua Hoa-san-
pay, apungkan tubuh melayang ke hadapan Blo'on dan
membentaknya, "hayo, keluarkanlah senjatamu dan mari kita
bertanding !"
Blo'on bangun segan-segan dan segan-segan pula ia
menjawab : "Kedatanganku kemari untuk mencari orang yang
dapat mengenal diriku. Bukan untuk berkelahi. Kalau engkau
mau berkelahi, berkelahi-lah sendiri. Aku tak dapat berkelahi !"
"Lekas cabut senjatamu !" bentak Ang Hin-
"Buat apa ?"
"Kita bertempur sampai mati !"
"Tidak !"
”Aku tak mau bertempur dan tak mau mati, sebelum tahu
diriku ini siapa !"
Ang Hin-liong mendengus: "Engkau mau bertempur atau
tidak, tetap harus bertempur. Engkau mau mati atau tidak,
tetap harus mati !"
'"Eh, bung, mengapa engkau main paksa begitu ? Apakah
engkau anggap aku ini musuhmu?"
"Ya, musuh besar karena engkau berani membunuh suhuku
!"
Dengan wajah ngotot, Blo'on menjawab: "Tanialah pada
suhumu, kalau benar aku yang membunuhnya, engkau boleh
menebas kepalaku. Tetapi kalau tidak, engkau harus minta
maaf kepadaku .. "
"Ngaco!" bentak Ang Hin-liong, "orang yang sudah mati,
bagaimana dapat bicara !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa tidak bisa ? Gampang saja kalau engkau mau
bicara dengan suhumu !"
"Hm, jangan gila-gilaan engkau !"
"Siapa yang gila-gilaan? Kalau engkau sampai tak dapat
bicara dengan suhumu, penggallah kepalaku ini," kata Blo'on
seraya menjulurkan lehernya kemuka."
"Tutup bacotmu!" bentak Ang Hin-liong marah "Engkau
mengatakan tak bisa, tetapi aku bilang bisa. Mengapa engkau
suruh aku tutup mulut ?"
"Coba katakan bagaimana caranya '." akhirnya An Hin-liong
kewalahan juga.
"Mudah," Blo'on menengadahkan muka, "tetapi ada
syaratnya."
"Bagaimana syaratnya ?"
"Engkau harus hentikan seranganmu dan jangan
menyerang aku lagi !"
Sejenak merenung akhirnya Ang Hin-liong mau juga
menerimanya. Pikirnya, tak mungkin orang hidup dapat
mengajak bicara orang mati. "Baik, katakanlah !" seru Hin-
liong.
"Dengarkanlah. Kalau engkau tak dapat mengajak suhumu
bicara, itu karena engkau tak menggunakan bahasa orang
mati."
"Bahasa orang mati ?”
"Ya, orang mati lain bahasanya dengan orang hidup."
"Bagaimana aku dapat berbahasa orang mati?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mudah saja bung," kata Blo'on dengan bangga, "engkau
harus menyusul mati !"
"Bangsat, engkau menipu aku !" teriak Hin-liong seraya
hendak menyerang dengan pedang.
"Nanti dulu !" teriak Blo'on seraya julurkan kedua telapak
tangan kemuka untuk mencegah, "aku tidak menipu. Memang
begitulah caranya. Bukankah engkau belum mencoba,
mengapa bilang kalau aku menipu ?"
"Engkau gila ! Dengan begitu engkau suruh aku mati, bukan
?" Hin-liong deliki mata.
'"Terserah, bung," sahut Blo'on, "tetapi aku sudah
memberitahukan caranya dan engkaupun sudah menerima
syaratnya. Mengapa sekarang engkau hendak ingkar janji ?"
Hin-liong merah mukanya. Ia benar-benar malu karena
dapat ditipu melek-melek oleh seorang pemuda blo'on. la
malu, marah tetapi tak dapat berbuat apa-apa kecuali tegak
terlongong-longong seperti patung.
Beruang-sakti Lim Ping, tianglo kedua dari Hoa-san-pay
dibikin kejut. Sekarang Ang Hin-liong murid pertama dari
perguruan itupun dibikin mati kutu. Serentak hiruk pikuklah
murid-murid Hoa-san-pay yang menyaksikan peristiwa itu.
Belum pernah markas Hoa-san-pay segempar saat itu.
'"Bangsat, makanlah pedangku ini !" pemuda Ko Seng-tik,
murid kedua dari Hoa-san-pay serentak loncat menerjang
Blo'on.
Cret, cret . . . dua buah gerak tabasan yang diarahkan ke
kepala Blo’on, karena Blo'on kaget dan miringkan kepala,
hanya berhasil memapas segenggam rambut pada bagian atas
jidat dan bagian belakang kepala yang gondrong.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena kehilangan rambut itu, wajah si Blo'on tampak lucu
Mau tak mau Ko Seng-tik geli juga Apalagi dasarnya dia
memang senang bergurau. Sebelum membunuh, ia hendak
menjadikan si Blo'on bulan-bulan tertawa. Cret. cret, cret ....
rambut bagian atas kepala, kedua alis Blo'on terpapas habis
Memang diantara murid-murid Hoa-san-pay, Seng-tiklah
yang paling hebat memapas alis orang tanpa orang itu
terpapas kulitnya.
Karena merasa silir, Blo'on merabah kepalanya dan astaga .
. rambut bagian ubun-ubun kepalanya hilang. Merabah alis,
pun hilang . . .
"Ha. ha. ha . . " terdengar gelak tertawa murid Hoa-san-pay
menyaksikan perwujutan Blo'on itu. Kaiena rambut bagian atas
hilang maka pala Blo'on itu
seperti memakai kopiah
hitam dan atasnya berlubang.
Dan karena sepasang alisnya
hilang, wajah Blo'on benar-
benar seperti setan
kesiangan . . . .
"Ha. ha, ha . . ," tiba-tiba
Blo'on ikut tertawa gelak-
gelak sehingga murid-murid
Hoa-san-pay itu berhenti
tertawa karena heran.
Mereka ingin tahu mengapa
Blo'on juga tertawa.
Bukankah dia yang dijadikan bahan tertawaan ? Sampaipun
Ko Seng-tik juga hentikan pedangnya dan memandang Blo'on.
"Mengapa engkau tertawa !" tegur Seng-tik.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Entah aku tak tahu, aku hanya ikut tertawa pada kawan-
kawanmu itu saja !" sahut Blo'on.
"Kita tertawa karena melihat wajahmu bukan seperti
manusia tetapi seperti setan kesiangan !"
"Terima kasih, bung."
"Terima kasih ? Mengapa ?" Seng-tik heran.
"Rambutku kotor dan banyak kutunya. Ingin cukur tak ada
yang mencukur. Sekarang engkau tolongi aku mencukurnya.
Bukankah aku harus terima kasih kepadamu ?"
Ko seng-tik terbelalak.
"Kalau suka, jangan kepalang tanggung, cukurlah semua
rambutku biar gundul !"
"Hm, akan kujadikan engkau setan gundul!" seru Ko Seng-
tik seraya kiblatkan pedang dan tahu-tahu kepala Bio'on sudah
klirnis, "dan sekarang engkau harus mampus !"
"Hai, jangan . . . !" Blo'on berteriak kaget ketika leher
bajunya dicengkeraman tangan kiri Seng-tik lalu hendak
ditusuk dengan pedang. Karena kaget, kaki Blo'on
menendang, uh . . . tendangan itu tepat mengenai perut
Seng-tik sehingga terlempar beberapa belas meter jauhnya
dan rubuh tak sadarkan diri lagi.
"Bunuh ? Bunuh bangsat gundu! !" terdengar hiruk pikuk
berpuluh-puluh murid Hoa-san-pay seraya menghunus senjata
dan mengepung Blo'on. Keempat Tiang-lo Hoa-san-paypun
melangkah maju menghampiri Blo'on. Wajah mereka
membesi, matanya berkilat-kilat memancar sinar merah. Sinar
yang mengandung darah pembunuhan . . . .
-oooo0dw0ooo-
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Jilid 4
Aneh bin ajaib.
Walaupun menderita penyakit aneh sehingga pikirannya
terasa hampa namun Blo'on mengerti apa yang dihadapinya
saat itu. Ia hanya tak dapat mengingat apa yang telah terjadi
pada masa yang lampau, bahkan apa yang terjadi pada hari
kemarin. Oleh karena itu ia tak mengenali dirinya sendiri, tak
tahu siapa namanya.
Tetapi apa yang dialami saat itu, yang dilihat dan dirasakan
saat itu, ia tahu dan mengerti. Demikianpun ketika keempat
kakek Hoa-san-pay dan berpuluh-puluh murid Hoa-san-pay
menghampiri ketempat ia berdiri dengan wajah bengis dan
mata berapi-api. Blo'onpun tahu bahwa ia hendak dibunuh.
Namun apa guna ia tahu? Karena sekalipun tahu ia juga tak
dapat berbuat apa-apa. Ia merasa tak mengerti ilmusilat.
Bagaimana mungkin ia dapat menghadapi serbuan mereka
Sekalipun daya ingatannya hilang, namun nalurinya sebagai
seorang manusia yang sayang akan jiwanya tetap masih
dimiliki Blo'on. Tak dapat melawanpun harus mencari daya
upaya. Dan satu-sa-tunya dava hanialah melarikan diri. Ya, lari
paling selamat.
Tepat pada saat ia mempunyai keputusan begitu, tiba-tiba
dua orang murid Hoa-san-pay yang menjaga pintu markas
berlari-lari dan menjerit-jerit :
"Haya, anjing gila . . . monyet gila . . . burung gila..”
Baik keempat Tiang-lo maupun murid-murid Hoa-san-pay
yang hendak menyerbu Blo'on, terpaksa harus berhenti dan
memandang kepada kedua orang yang berlari-lari mendatangi
itu. Mereka heran mendengar teriakan kedua anak murid itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kalau anjing gila, itu masih dapat diterima. Tetapi monyetpun
gila, burung juga gila, ah, benar-benar mengherankan sekali !
Cepat sekali kedua murid Hoa-san-pay itu tiba di hadapan
keempat Tiang-lo dengan napas terengah-engah mereka
berkata : "Tianglo . . kami diamuk . . . diamuk anjing,
monyet dan burung rajawali ..."
Naga-besi Pui Kian suruh kedua orang itu tenangkan diri
dulu. Setelah itu baru bicara.
Beberapa saat kemudian barulah kedua murid Hoa-san-pay
itu dapat memberi laporan yang jelas "Ketika tecu (murid)
sedang berjaga di pintu, tiba-tiba muncullah tiga ekor
binatang, seekor anjing bulu kuning yang besar dan galak,
seekor monyet yang kutang ajar dan seekor burung rajawali
yang ganas. Ketiga binatang itu menyerang tecu berdua se
hingga tecu kalang kabut dan terpaksa melarikan diri masuk
kemari ..."
"Hm, tak malu engkau melapor !” dengus Naga-besi Pui
Kian, "masakan manusia kalah dengan binatang begitu saja !"
"Harap lo-cianpwe sudi memberi ampun. Tecu berdua
sudah melawan sekuat tenaga, tetapi ketiga binatang itu
hebat sekali. Mereka dapat bersatu dan bekerja-sama dengan
bagus. Kalau yang satu diserang, yang dua tentu akan
menyerbu."
Naga-besi Pui Kian memberi perintah kepada dua orang
murid Hoa-san-pay tingkat dua untuk memperkuat penjagaan
pintu markas. Belum ke empat murid Hoa-san-pay itu
melangkah, sekonyong lonyong dari arah pintu markas,
tampak Gui Tik dan Li Cong-bun berlari-larian kencang seperti
orang dikejar setan. Mereka cepat menghampiri ke hadapan
keempat Tiang-lo.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tianglo . . tianglo . . ce . . cela . celaka.."
Keempat Tiang-lo itu terkejut.
"Mengapa ?" tegur Naga-besi Pui Kian.
"Suhu . . suhu . . "
"Jangan bicara dulu sebelum engkau tenang," lentak Naga-
besi kepada kedua murid itu.
Gui Tik dan Li Cong-bun berusaha untuk menenangkan diri
tetapi sampai sekian saat belum juga berhasil. Dada mereka
masih tampak bergelombang naik turun, wajah pucat lesi.
"Mengapa engkau ?" tegur Naga-besi pula. "Ketika tecu
masuk kedalam guha, ternyata . . . jenazah suhu . . hilang . . "
"Hai . . !" keempat Tiang-lo serempak berteriak dan
melonjak kaget seperti mendengar halilintar berbunyi disiang
hari.
"Apa katamu ?" teriak Naga-besi.
"Jenazah suhu . . lenyap . . " Gemparlah sekalian murid
Hoa-san-pay demi mendengar berita itu.
Sesaat kemudian Naga-besi Pui Kian memanggil si Walet-
kuning Hong-ing : "Hong-ing, apakah engkau tahu jelas bahwa
suhumu telah binasa didalam guha itu ?"
"Benar, sucou," sahut Hong-ing. Ia berbahasa sucou atau
kakek guru kepada keempat tianglo.
"Mengapa Gui Tik dan Li Cong-bun mengatakan jenazah
suhumu hilang ?"
"Benar, Hong-ing su-ci. Kami berdua tak melihat suatu apa
didalam guha itu," seru Gui Tik.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm, aneh," gumam sidara, "apakah engkau sudah
menyelidiki keadaan guha itu ?"
"Sudah."
"Apa yang engkau ketemukan dan lihat ?"
"Darah merah yang sudah mengental dan bercampur
dengan tanah. Hanya itu. Tetapi jenazah suhu tak ada ..."
"Aneh sekali !" lengking Hong-ing, "jelas jenazah suhu
masih berbaring di tanah ..." cepat ia berpaling memandang
“Blo'on, hai, Blo'on, bukankah mayat orangtua itu masih
berada didalam Goha?”
"Ya, memang masih menggeletak di guha itu," sahut Blo'on,
"kalau begitu, biarlah kuambilnya kemari ..."
Habis berkata ia terus hendak melangkah. "Hai, jangan gila-
gilaan!" teriak murid-murid Hoa-san-pay seraya acungkan
senjata memagari Blo'on.
"Heh, kurang ajar," teriak Blo'on, "aku hendak menolong
mengambilkan jenazah suhumu, mengapa kalian malah
hendak menusuk perutku”
"Jangan banyak mulut !" bentak Seng-tik. Tampak Naga-
besi Pui Kian kerutkan jidat, merenung. Sesaat kemudian ia
berpaling kearah su lenya : "Bok sute, mari ikut aku meninjau
ke guha. lan sute dan Lim sute harap menjaga disini jangan
sampai budak gila itu lolos !"
Demikian Naga-besi Pui Kian dan Serigala-Kigi-perak Bok
Jiang segera menuju ke guha. Gui k dan Cong-bunpun
diajaknya.
Setelah kedua Tiang-lo itu pergi maka Beruang-sakti Han
Tiong bertanya kepada Blo'on : Hai, anak Blo'on, kemana
engkau bawa mayat Kam sutit itu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apa ? Aku membawa mayat orangtua itu ? Huh, jangan
engkau menuduh semena-mena, kakek tua !" marahlah Blo'on
karena disangka begitu,"tanyakan pada budak perempuan
itu!"
"Kurang ajar, engkau berani menyebut aku budak
perempuan !" teriak Walet-kuning Hong-ing, "awas kutampar
mulutmu kalau berani menyebut sekali lagi !"
"Bilang, kemana engkau menyembunyikan mayat itu !"
bentak Beruang-sakti Han Tiong yang sudah hilang sabar.
"Aku tidak mencuri mayat itu, mau apa ?" Blo'on juga
marah dan bercekak pinggang.
"Bukan engkau, tetapi konco-koncomu !"
"Konco ? Huh, apa itu konco ?"
"Setan, konco ialah kawan !"
"O, kalau bicara jangan gunakan bahasa daerah aku tak
mengerti, eh . . kawan? Aku tak punya kawan. Kalau punya
dia tentu akan datang ke mari menolong aku."
"Hm, kawanmu itu tentu bersembunyi. Walau dia
mempunyai delapan tangan pun, tak nanti dia berani masuk
ke dalam markas Hoa-san-pay !"
"Mengapa tak berani ? Bukankah aku juga berani ?"
"Kawanmu tentu seorang yang berotak. Beda dengan
engkau yang tak punya otak sehingga tak tahu kalau Hoa-san-
pay itu sarang naga dan harimau yang tak boleh dibuat main-
main."
"Itulah, mengapa aku datang kemari. Disini sarang naga
dan aku butuh otak naga “ baru ia berkata begitu, tiba-tiba
Beruang-sakti ayunkan tangan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Uh . . .” Blo'on menjerit dan terjungkal kebelakang. tetapi
secepat itu juga iapun sudah melonjak bangun.
"Kakek, mengapa engkau menampar aku ?" teriaknya.
"Maka engkau harus jaga mulutmu jangan sembarangan
bicara kepadaku!" seru Naga-besi.
"Sekarang engkau harus menjawab pertanyaanku yang
benar, jangan bicara yang tak keruan!" kata Naga-besi pula.
"Hm ..."
"Mengapa engkau membunuh Kam sutit ?" Naga-besi mulai
mengajukan pertanyaan.
"Aku tidak membunuh. Aku bangun, tahu-tahu aku berada
dalam guha itu dan kulihat sesosok mayat disitu."
"Bukankah engkau makan rumput Liong-si itu ?"
"Tidak."
"Apakah rumput itu diambil kawanmu ?"
"Aku tak punya kawan."
"Hm, cukup, engkau harus mati !"
"Tidak mau !"
"Mau atau tidak mau, engkau harus mati. hanya sebelum
mati, engkau kuberi kelonggaran untuk melawan, agar jangan
mati sia-sia."
"Tidak cukup ! Aku minta kelonggaran lagi!" seru Blo'on.
"Apa ?"
"Mengajukan pertanyaan."
"Hm, tanialah !" dengus Beruang-sakti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Nanti dulu," kata Blo'on, "bagaimana kalau engkau tak
mampu menjawab pertanyaanku ?”
Beruang-sakti kerutkan alis : "Maksudmu suruh aku
bagaimana ?”
"Harus malu ! Seorang kakek yang. sudah begitu tua, tentu
harus malu kalau tak dapat menjawab pertanyaanku."
"Hm, mulai mengoceh lagi, ya ?" dengus Beruang-sakti,
"kalau malu lalu bagaimana ?"
Blo'on tertawa : "Ai, ai, engkau seorang kakek tua,
mengapa suka marah ? Maksudku begini, kalau engkau dapat
menjawab pertanyaanku itu, cukup sebuah pertanyaan saja,
engkau boleh membunuh aku. Tetapi kalau tidak bisa,
bagaimana ?"
Beruang-sakti anggap dirinya sudah tua, banyak
pengalaman, luas pengetahuan. Dan anak yang berada
dihadapannya itu seorang anak blo'on. Ah, masakan ia tak
dapat menjawab pertanyaannya !
"Terserah, engkau menghendaki bagaimana?" katanya.
"Baik," seru Blo'on, "aku tak menghendaki apa-apa
melainkan engkau harus suruh anak murid Hoa-san-pay
mundur dan membebaskan aku."
"Jangan sucou!" tiba-tiba Ang Hin-liong berseru "dia hendak
main gila mempermainkan kita. Ha-lap sucou jangan memberi
hati."
"Ha, ha," Blo'on tertawa, "kalau memang tak berani,
akupun tak memaksa. Karena orang Hoa-san-pay itu memang
bodoh-bodoh, ha, ha !"
"Budak liar, sebutkanlah pertanyaanmu, lekas!" teriak
Beruang-sakti Han Tiong. Walaupun sudah tua, tetapi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mendengar ejekan si Blo'on, meluaplah kemarahannya.
Andaikata yang mengejek itu lain orang, mungkin dia masih
dapat menahan diri. Tetapi karena yang mengejek itu seorang
anak blo'on, Tianglo nomor dua dari Hoa-san-pay itu-pun
malu.
Tetapi Blo'on tak segera mengeluarkan pertanyaan,
melainkan berseru kepada murid-murid Hoa-san-pay : "Hai,
kamu murid-murid Hoa-san-pay, aku hendak bertaruh dengan
tianglo perguruanmu. Kalau dia dapat menjawab
pertanyaanku, aku boleh dibunuh. Tetapi kalau dia tak dapat
menjawab, aku bebas. Bagaimana kalian setuju atau tidak ?"
Karena Beruang-sakti sudah menerima tandingan itu,
murid-murid Hoa-san-paypun terpaksa mendukung. Mereka
setuju karena percaya Tiang-lo itu tentu dapat menjawab
pertanyaan si Blo'on.
"Baik," kata Blo'on, "sekarang aku hendak mulai bertanya.
Lo-cianpwe, siapakah diriku ini ?"
Seketika gemparlah murid-murid Hoa-san-pay mendengar
pertanyaan yang diajukan si Blo'on. Sejak tadi hal itu sudah
ditanyakan oleh Naga-besi tapi tiada seorang murid Hoa-san-
pay yang tahu dan kenal si Blo'on.
Beruang-sakti Han Tiongpun berobah wajahnya. Sebagai
tiang-lo, ia menempati kedudukan yang tinggi dalam
perguruan Hoa-san-pay. Apabila tak dapat menjawab
pertanyaan itu, bukankah ia akan kehilangan muka ? Namun
untuk menjawab, pun benar-benar ia tak tahu.
"Aku tahu!" tiba-tiba sidara Walet-kuningHong-ing
melengking.
Blo'on berpaling kearah dara itu, serunya : "Yang harus
menjawab ialah lo-cianpwe ini. Engkau tak berhak menjawab."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau begitu, akupun tak berhak ikut bertanggung jawab
membebaskan engkau. Kalau aku disuruh bertanggung jawab
membebaskan engkau, aku harus boleh memberi jawaban."
"Ya, boleh dah," seru si Blo'on, "bukan hanya engkau tetapi
semua murid-murid Hoa-san-paypun boleh ikut menjawab.
Kalau ada seorang yang dapat menjawab tepat, bolehlah aku
dibunuh !"
"Baik, akulah yang akan menjawab," kata Hong-ing,
"engkau bertanya, siapa dirimu ?"
"Ya."
"Engkau seorang manusia, seorang anak laki-laki. Benar
tidak ?" tanya Hong-ing.
"O, benar," jawab Blo'on, "tetapi siapa namaku?”
"Namamu Blo'on, benar tidak ?"
“O, ya, ya, tidak benar "
Waktu mendengar Blo'on mengatakan 'ya’, si dara gembira.
Tetapi alangkah kejutnya ketika pernyataan 'ya' itu ditutup
dengan kata-kata 'tidak benar' la kecele.
"Mengapa tidak benar ?" ia menegas.
"Karena namaku tentu bukan Blo'on. Nama itu nama baru,
engkau yang memberi. Tetapi masakan sebelumnya aku tak
punya nama ?"
Hong-ing tak dapat membantah. Sekalian murid-murid Hoa-
san-paypun terdiam.
"Bagaimana lo-cianpwe ? Bukankah aku boleh bebas
sekarang ? Atau lo-cianpwe menyesal karena terlanjur
menerima pertanyaanku itu ?" seru Blo'on kepada Beruang-
sakti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, engkau menang dan pergilah !" seru Beruang-sakti.
"Sucou !" teriak Ko Seng-tik.
"Mengapa ?" sahut Beruang-sakti, "apakah engkau
menghendaki sucoumu ini dihina orang karena tak pegang
janji ?"
"Bukan begitu, sucou," kata Seng-tik, "tetapi bukankah Pui
sucou tadi sudah memesan supaya anak itu jangan sampai
lolos ?"
"Benar".
"Lalu ?"
"Hm, aku yang bertanggung jawab ..."
Baru Beruang-sakti berkata begitu. Naga-besi Pui Kian,
Serigala-gigi-perak Bok Jiang dan kedua murid tingkat dua Gui
Tik dan Li Cong-bun bergegas masuk kedalam markas. Telinga
Naga-besi yang tajam dapat menangkap pembicaraan yang
berlangsung dengan Blo'on.
"Tak perlu sute bertanggung jawab !" teriak Naga-besi yang
saat itu sudah tiba ditempat Beruang-sakti. Kemudian Tiang-lo
pertama dari Hoa-san-pay itu berpaling memandang Blo'on.
"Hai, jelas engkau yang mencuri mayat Kam sutit ! Hayo
kembalikan !"
"Apa ? Aku mencuri mayat ? Buat apa ?"
"Tanya pada dirimu sendiri buat apa engka mencuri mayat
itu."
Blo'on rentangkan kedua mata lebar-lebar: "Ketika aku
menggendong murid Hoa-san-pay yang terluka, kutinggalkan
guha itu bersama eh . . . siapa namanya tadi. Ya, bersama
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
murid perempuan dari perguruan ini. Sampai kita datang
kemari, aku tak pernah kembali ke guha itu."
"Jangan banyak mulut !" bentak Naga-besi Pui Kian,
"pokoknya engkau harus pilih, kembalikan mayat itu atau
kuhancurkan tubuhmu !"
"Nanti dulu, kakek," seru Blo'on, "tadi kakek yang berada
disini, telah kalah janji dengan aku. Kalau dapat menjawab
pertanyaanku, aku boleh dibunuh. Kalau tak dapat, aku
dibebaskan. Dan ternyata dia tak mampu menjawab maka
akupun dibebaskan. Mengapa sekarang engkau hendak
mengganggu aku lagi ?"
"Aku tak terikat dengan perjanjian itu. Lekas beri
keputusan."
"Aneh, aneh engkau tetua Hoa-san-pay dia pun tetua Hoa-
san-pay. Dia sudah membebaskan, engkau tak boleh. Dia
pegang janji, engkau pungkir janji." .
"Siapa berjanji kepadamu ? Bukankah aku tak pernah
berjanji ?"
"Cianpwe yang itu ! " Blo'on menunjuk Beruang-sakti Han
Tiong.
"Ya, baiklah," kata Naga-besi Pui Kian, "karena dia sudah
berjanji maka dia berhak membebaskan engkau. Tetapi karena
aku tak berjanji maka akupun bebas untuk membunuhmu."
"Jadi engkau tak mau ikut dalam perjanjian itu?"
"Tidak !"
"O, aneh, mengapa ?"
"Karena hendak mencabut nyawamu!" kata Naga-besi
dengan geram lalu melangkah maju menghampiri Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Wajahnya seram, sinar matanya berkilat-berkilat. Rupanya
Tiang-lo pertama dari Hoa-san-pay itu sudah memutuskan
untuk meremuk Blo'on.
Blo'on menggigil, la tahu terhadap kakek yang satu ini, ia
tak dapat menyiasati. Satu-satunya jalan, ia harus meloloskan
diri. Memandang ke sekeliling, tampak berpuluh-puluh murid
Hoa-san-pay menghunus senjata, memagari ketat sekali.
Tiba-Tiba Naga-sakti memekik. Nadanya mirip dengan
ringkikan naga. Karena terkejut, Blo'on hampir terjungkal
jatuh.
Tiba-Tiba Naga-besi Pui
Kian loncat, menerkam.
Karena kejutnya, Blo'onpun
loncat menghindar. Di luar
kehendaknya, loncatannya
itu hebat sekali. Tubuhnya
melambung keudara sampai
dua tombak tingginya.
"Hai, hendak lari kemana
engkau budak hina!" teriak
kakek Naga-besi seraya
enjot tubuh melambung
keudara untuk menyambar
tubuh Blo'on. Cret, lengan baju Blo'on tercengkeram. Terus
ditarik kebawah. Maksudnya supaya jatuh terbanting ditanah.
Tetapi saat itu, karena lengan bajunya terasa kaku sekali
sehingga lengannya tak dapat digerakkan, Blo'on meronta
sekuat-kuatnya. Brat, lengan bajunya robek memanjang
sampai kebahu di orangnyapun bergeliatan meluncur turun.
Kebetulan sekali ia jatuh disamping Walet-kuning Hong-Hong
ing. Nona itu cepat hendak tusukkan pedangnyi Tetapi entah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
bagaimana, melihat wajih Blo'on yang lucu dan kasihan,
kepalanya gundul, alis hilang dan lengan baju rompal, dara itu
agak bersangsi.
Melihat dara itu hendak menusuknya, Blo’on cepat
menampar tangan dara itu. Plak, pedang Hong-ing terpental
jatuh dan lengannyapun dicekal erat-erat oleh Blo'on, Hong-
ing hendak meronta tetapi cengkeraman Blo'on pada
pergelangan tangan, membuat dara itu tak dapat berkutik
karena tenaganya terasa hilang.
Pada lain kejab, kakek Naga-besi Pui Kian pun melayang
turun kehadapan Blo'on, terus hendak merangsang anak itu.
"Berhenti, atau gadis ini kubunuh !" teriak Blo'on seraya
mengangkat tangan kanannya ke atas kepala Hong-ing.
Memang setiap manusia, blo’on sekalipun dia, tetapi dalam
detik-detik menghadapi bahaya maut, tentu timbul dayanya
untuk membela diri. Demikian dengan Blo'on. Entah
bagaimana, tiba-tiba saja ia mendapat akal begitu.
Menjadikan Walet kuning Hong-ing sebagai sandera atau
tawanan.
Kakek Naga-besi tertegun. Melihat cara Blo' on melayang
diudara sampai begitu tinggi dan cara ia dapat menguasai
Walet-kuning begitu mudah, mau tak mau tiang-lo Hoa-san-
pay itu harus menarik kesimpulan bahwa Blo'on itu benar-
benar seorang pemuda yang sakti. Kalau ia lanjutkan
serangan, pasti Blo'on nekad akan membunuh Hong-ing.
Naga-besi merenung beberapa saat. Akhirnya ia berseru :
"Bagaimana kehendakmu ?"
"Bebaskan aku dari sini. Jangan ada murid Hoa-san-pay
yang berani mengganggu kalau aku pergi dari markas ini !"
"Hm, baiklah.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on mencekal lengan Hong-ing, tangan kanan.
"Setelah pengalaman tadi, aku tak dapat mempercayai
orang Hoa-san-pay. Terpaksa nona ini hendak kubawa," sahut
Blo'on.
"Engkau pengapakan ?"
"Apabila ada murid-murid Hoa-san-pay yang berani
menyerang aku, nona ini terpaksa kuhancurkan lebih dulu."
"Engkau cerdik juga !" dengus Naga-besi dengan nada
menghina.
Blo'on tak mau meladeni bicara. Ia terus membawa Hong-
ing menuju ke pintu markas. Keempat Tiang-lo dan murid-
murid Hoa-san-pay mengikuti dari belakang. Setelah tiba
dipintu markas, Naga-besi berseru : "Nah, sekarang engkau
sudah melewati pintu markas Hoa-san-pay, lepaskan nona
itu."
"Tidak !" sahut Blo'on, "daerah ini masih dalam kekuasaan
Hoa-san-pay. Bagaimana kalau nona ini kulepas, kalian terus
menindak aku? Siapakah yang akan menjamin
keselamatanku?"
"Lalu ?"
"Nona ini tetap akan kubawa bersamaku melanjutkan
perjalanan."
"Kemana ?”
“Ke Laut Hitam mencari otak naga”
"Buat apa otak naga itu ?"
"Mengobati otakku yang hilang !"
"Ha, ha, ha . . . , " tiba-tiba kakek Naga-besi tertawa lebar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa engkau tertawa ?" tegur Blo'on
"Siapa yang memberitahu di Laut Hitam terdapat naga ?"
"Gadis ini."
"Siapa yang memberitahu otak naga dapat menyembuhkan
otakmu yang hilang ?"
"Juga gadis ini."
"O." seru kakek Naga-besi. Ia tertawa: "Baiklah. Tetapi
ingat, jangan sekali-kali engkau ganggu murid Hoa-san-pay
itu. Sehelai rambutnya saja engkau ganggu, engkau tentu
akan kami cincang jadi bakso !"
"Aku bersumpah !"
"Baik, pergilah," kata kakek Naga-besi. Tetapi baru Blo'on
berjalan beberapa langkah, Naga-besi sudah berseru lagi :
"Hai, tunggu dulu ! Apakah setelah tiba di Laut Hitam engkau
terus membebaskan dia pulang ?"
"Ya."
"Engkau berani menghadapi naga itu sendirii?"
"Ya," sahut Blo'on.
Demikian Blo'on segera mengajak Hong-ing keluar dari
markas Hoa-san-pay, menuruni gunung Hoa-san dan
melanjutkan perjalanan.
"Pui suheng," tiba-tiba Beruang-sakti Han Tiong bertanya
kepada Naga-besi, "mengapa suheng melepaskan anak itu
membawa Hong-ing ? Apakah tidak membahayakan jiwa
Hong-ing ?"
Naga-besi tersenyum: "Tak perlu kuatir, Tak berapa lama
anak itu tentu akan kembali ke sini sebagai tangkapan."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Beruang-sakti terbeliak : "Bagaimana hal itu dapat terjadi ?"
"Hong-ing yang akan menangkapnya dan membawa
kemari."
"O. adakah suheng sudah memberi perintah kepadanya ?"
"Ya, ketika pemuda itu menyatakan hendak membawa
Hong-ing sebagai tanggungan, diam-diam kugunakan ilmu
menyusup suara Coan-im-jip-bi untuk memberi bisikan kepada
Hong-ing agar dia menurut saja Tetapi nanti ditengah jalan
begitu ada kesempatan, supaya pemuda itu ditutuk jalan
darah nya dan dibawa kembali ke markas kita."
Beruang-sakti masih cemas: "Apakah kita perlu suruh murid
lain untuk membayangi mereka, memberi bantuan apabila
Hong-ing sampai gagal ?"
Naga-besi Pui Kian menyatakan tak perlu. Karena pemuda
itu blo'on dan Hong-ing seorang dara yang cerdik. Tentu dapat
mengatasinya.
Kemudian Beruang-sakti meminta keterangan bagaimana
hasil peninjauan suhengnya ke guha.
"Memang mayat Kam sutit hilang. Telah kuteliti keadaan
dalam guha itu tetapi tak terdapat bekas-bekas jejak
binatang buas. Pencurinya tentu seorang tokoh silat yang
sakti," kata Naga besi.
"Lalu apakah tujuannya mencuri mayat Kam sutit ?" tiba-
tiba Kilin-Emas Lim Ping bertanya
"Justeru itulah yang masih belum dapat kita ketahui," jawab
Naga-besi Pui Kian.
"Lalu menurut pendapat suheng, bagaimanakah tindakan
kita sekarang ?" tanya Beruang-sakti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sejenak merenung, tetua pertama dari Hao san-pay yang
sudah berusia lanjut itu berkata: “Urusan ini gawat sekali
karena menyangkut nama Hoa san-pay. Tindakan yang
pertama, harus menutup rapat-rapat agar peristiwa ini jangan
sampai tersiar ke luar. Karena kalau sampai dunia persilatan
mendengar berita ini, nama Hoa-san-pay pasti akan menjadi
buah pembicaraan dan bulan-bulan tertawaan."
Beruang-sakti Han Tiong, Kilin emas Lim dan Serigala-gigi-
perak Bok Jiang menjetujui.
"Untuk melaksanakan hal itu, kita harus Mengumpulkan
segenap anakmurid Hoa-san-pay untuk memberi pesan
kepada mereka agar jangan membocorkan peristiwa ini.
Barangsiapa yang membocorkan dianggap mengkhianati
perguruan dan akan dijatuhi hukuman sesuai dengan
peraturan Hoa san pay kepada murid yang berhianat." kata
Naga besi Pui Kian.
"Tetapi itupun masih belum sempurna," katanya lebih
lanjut, "dikuatirkan apabila ada tetamu dari lain perguruan
yang berkunjung kemari tak bertemu dengan Kam sutit,
mereka tentu akan curiga..”
"Benar," Beruang-sakti Han Tiong menanggapi "memang
kemungkinan semacam itu bisa saja terjadi."
"Lalu bagaimana langkah kita?" tanya Serigala gigi-perak
Bok Jiang, "apakah suheng bermaksud hendak mengadakan
seorang Kam sutit tiruan ?"
"Tepat, Bok sute," sahut Naga-besi Pui Kian, "memang aku
merencanakan hal itu. Tetapi tertumbuk pada kesulitan
orangnya yang dapat menyamar sebagai Kam sutit."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O rasanya tiada seorang yang dapat menyamar sebagai
Kam sute, kecuali Pang To-tik sutit," seru Beruang-sakti Han
Tiong.
"Hai, benar." seru Naga-besi Pui Kian, "ya, memang dialah
yang paling tepat untuk menyamar sebagai Kam sutit. Baik
dalam perawakan maupun nada suara dan kepandaiannya,
keduanya memang hampir menyerupai satu sama lain."
"Tetapi bukankah dia sedang mewakili perguruan Hoa-san-
pay menghadiri pemakaman Kim Thian-cong tayhiap ?” kata
Naga-besi Pui Kian
"Ya, tetapi tentulah dia sudah pulang. Aneh, mengapa dia
tak datang melapor kemari ?" kata Naga-besi Pui Kian.
"Ya, benar," sambut Beruang-sakti Han Tiong, "seharusnya
dia datang kemari untuk membeli laporan."
"Adakah dia belum pulang ?" tanya Kilin-emas Lim Ping.
Setelah merenung, Naga-besi Pui Kian mengambil
keputusan : "Mengingat urusan ini penting sekali, akan
kusuruh salah seorang murid untuk meninjau ketempat
kediaman Pang sutit. Tunggu sampai dia pulang, supaya terus
diajak kesini."
Ketiga Tiang-lo Hoa-san-pay setuju. Mereka lalu mengutus
Ko Seng-tik murid kedua dari Hom san-pay dan sutenya Tan
Hui-beng menuju ketempat kediaman Pang To-tik di gunung
Hong-san.
Setelah itu, Naga-besi Pui Kian melanjutkan perundingan
lagi. Katanya: "Dan tindakan kedua kita harus mencari pencuri
jenazah Kam sutit."
"Bagus." seru Serigala-gigi-perak Bok Jiang "biarlah aku
yang melakukan tugas itu.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Rasanya belum cukup kalau hanya seorang Dan akupun
bersedia melakukan tugas itu juga” seru Beruang-sakti Han
Tiong.
"Tetapi menurut hematku," tiba-tiba Kilin-emas Lim Ping
yang tak banyak bicara tetapi setiap kali membuka suara tentu
mengandung pendapat yang tepat, menyelutuk, "Lebih baik
kita tunggu dulu sampai Hong-ing pulang membawa anak
blo’on itu. Kita bisa mengorek keterangan lebih lanjut dari
anak itu. Setelah mendapat keterangan yang diperlukan
barulah kita dapat bertindak mencari pembunuh itu. Dengan
begitu kita dapat menghemat tenaga dan waktu, pula dapat
bertindak secara terarah."
Naga-besi Pui Kian mengangguk: "Ya, pendapat Lim sute
benar juga. Lebih baik kita tunggu dulu kedatangan budak
perempuan itu."
Demikian para Tiang-lo itu menunggu pulangnya Walet-
kuning Hong-ing yang telah diberi kisikan oleh Naga-besi Pui
Kian, supaya meringkus si Blo'on dan membawanya pulang ke
markas.
Sehari dua hari, tiga, empat dan akhirnya hampir tujuh hari
lamanya, belum juga murid-murid itu pulang. Waelet-kuning
Hong-ing belum datang dan Ko Seng-tik serta Tian-Hui-
bengpun tak kunjung pulang.
Keempat Tiang-lo makin sibuk. Akhirnya diputuskan
mengirim Serigala-gigi-perak Bok Jiang menuju ke Hong-san
untuk meninjau Pang To-tik. Dan Beruang-sakti Han Tiong
diberi tugas menyusul perjalanan Walet-kuning Hong-ing
karena di-kuatirkan terjadi sesuatu dengan gadis itu.
Sepanjang sejarah berdirinya perguruan Hoa-san-pay belum
pernah mereka mengalami kehebohan seperti saat itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kam Sian-hong, ketua angkatan ke duabelas dari Hoa-san-
pay telah mati dibunuh orang. Kemudian mayatnyapun hilang
dicuri orang. Siapa pembunuhnya, menurut dugaan tentulah
pemuda blo'on, tetapi merekapun tak berani memastikan.
Diam-Diam merekapnn meragukan bahwa seorang pemuda
yang begitu blo'on dapat membunuh Kam Sian-hong, ketua
Hoa-san-pay yang berkepandaian sakti.
Dan siapakah yang mencuri mayat itu ?
---ooo0dw0ooo---

Sial dangkal.
"Hendak engkau bawa kemana aku ?" tanya Hong-ing
setelah jauh dari markas Hoa-san-pay.
"Ke Laut Hitam mencari otak naga," sahut Blo'on.
Hong-ing terkejut. Laut Hitam, hanya nama yang dibuatnya
untuk mengelabuhi anakmuda itu. la sendiri tak tahu apakah
di dunia ini terdapat laut yang hitam. Bahkan ia sendiri belum
pernah melihat laut biasa, apalagi laut yang hitam.
"Celaka, rupanya anak blo'on ini percaya sungguh akan
keteranganku, "diam-diam ia mengeluh, "ah, bagaimana kalau
dia memaksa aku harus membawanya ke Laut Hitam itu ?"
Setelah memutar otak, akhirnya dara itu tertawa mengikik.
"Hai, mengapa engkau tertawa?" tegur Blo'on,
"Apakah tidak boleh aku tertawa ?" balas dara.
"O, boleh saja. Tetapi mengapa engkau tertawa seorang
diri?" Blo’on menyeringai,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Eh, apakah engkau merasa sakit karena aku tertawa itu ?"
sahut sidara pula.
"O, tidak, tidak sakit, "hanya heran.
"Mengapa heran ?"
"Biasanya kalau aku tertawa, tentu ada sesuatu yang
menggelikan hatiku."
"Hm, apakah engkau anggap aku tertawa karena tak ada
sesuatu yang menggelikan hatiku ?”
"Apa yang menggelikan hatimu ?"
"Sudah tentu ada, bahkan banyak."
"Apa ?" tanya Blo'on.
"Misalnya, kalau melihat tampang mukamu, perutku seperti
dikili-kili."
"Karena kepalaku gundul ?"
"Ya."
"Alisku hilang ?"
"Ya."
"Lalu tampangku seperti setan ?”
"Ya."
"Aneh !" gerutu Blo'on.
"Apa yang aneh ?"
"Engkau !" kata Blo'on.
"Aku ? Mengapa ?" Hong-ing kerutkan dahi.
"Sudah pernahkah engkau melihat setan ? Apakah setan itu
benar seperti tampangku ini ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hong-ing terkesiap, la seorang dara yang lincah bergerak
dan tangkas bicara. Tetapi entah bagaimana, beberapa kali ia
selalu terpukul diam, oleh kata-kata si Blo'on.
"Ya, benar," untuk menutupi kekalahannya bicara, Hong-ing
menjawab sekenanya saja.
"Tidak, aku tak percaya !"
"Hm, kalau tak percaya engkau boleh berkaca !"
"Dimana kaca itu ?"
"O," Hong-ing mendesuh karena menyadari hampir kalah
bicara lagi. Tetapi cepat ia dapat menjawab, "nanti apabila
tiba di telaga yang bening, airnya, engkau tentu bisa mengacai
mukamu."
"O, dimanakah telaga itu ?"
"Dua tiga li dibawah sana, ada sebuah telaga yang bening
airnya," jawab Hong-ing.
Demikian keduanya berjalan menuruni gunun sambil
bercakap-cakap. Dalam pada itu, Blo'on tetap mencekal
tangan si dara. Rupanya ia kuatir kalau Hong-ing akan
melarikan diri kembali kemarkas Hoa-san-pay.
Hong-ing memang sudah beberapa kali berusaha untuk
melepaskan diri dari cekalan Blo'on. Tetapi selalu gagal, ia
merasa cekalan tangan Blo’on itu tak ubah seperti jepitan
baja.
Demikian mereka tiba di telaga dan Blo’on pun bergegas
membawa sidara ke tepi telaga.
"Aduh mati aku . . ," tiba-tiba Blo'on menjerit keras, ia
kaget sendiri ketika melihat dirinya berubah begitu aneh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kepalanya gundul, alisnya hilang bajunva robek dan mukanya
kotor.
"Blo'on, lepaskanlah tanganku !" seru si dara
"Mengapa? Apakah engkau hendak pulang?"
"Pulang atau tidak, itu sesukaku. Engkau tak perlu
mengurus !"
"Aku harus mengurus," jawab Blo'on. "karena kalau engkau
pulang engkau tentu memanggil keempat kakek tua dan
murid-murid Hoa-san-pay untuk mengejar aku !"
"Itu tidak termasuk dalam perjanjianmu. Pokok aku
mengantar engkau keluar dari markas Hoa-san-pay. Setelah
itu aku bebas pulang."
"Hm, tempat ini masih belum jauh dari markas Hoa-san-
pay. Kalau kubebaskan, engkau tentu memanggil orang-orang
Hoa-san-pay."
"Habis, kapankah engkau melepaskan aku ?"
"Nanti setelah jauh dari Hoa-san-pay, ditempat yang
kuanggap sudah aman bagiku."
Tiba-Tiba nona itu tertawa.
"Eh, mengapa engkau tertawa lagi ?" tegur si Blo'on.
"Karena aku geli melihat tingkahmu yang sebenarnya blo'on
tetapi bertingkah sok !"
"Mengapa ?"
"Walaupun engkau tak mau melepaskan aku tetapi engkau
terpaksa harus melepaskan juga."
"Mengapa ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lihatlah bahumu yang kain penutupnya robek itu.
Bukankah terdapat guratan merah yang memanjang
kebawah?"
Blo'on memandang bahu kanannya. Dan apa yang
dikatakan Hong-ing memang benar. Luka itu tampak membiru
dan gatal.
"Ah, hanya luka kena cengkeraman kuku kakek tua tadi,"
kata Blo'on.
Hong-ing tertawa : "Hm, engkau kira luka biasa ?"
Blo'on mengiakan.
"Salah, luka itu beracun. Bermula lengan kananmu akan
terasa lunglai, kaku. Setelah itu sekujur tubuhmu akan tak
dapat digerakkan semua."
"Benarkah ?"
"Ya, sejak tadi kurasakan cekalan tanganmu sudah mulai
berkurang tenaganya. Engkau tak percaya, lihatlah ..." tiba-
tiba Hong-ing meronta dan terlepaslah ia dari cekalan Blo'on.
Blo'on terkejut. Cepat ia hendak menubruk dara itu tetapi si
dara dengan lincah menghindar ke samping lalu mencabut
pedang : "Berani maju tentu kutusuk !" serunya mengancam.
Blo'on kesima. Memang diam-diam ia merasakan lengan
kanannya terasa lunglai tak bertenaga.
"Engkau benar," serunya, "mengapa lengan ku terasa
lemas?"
"Itulah racunnya sudah mulai bekerja !"
"Racun ?'
"Ya, kuku dari Pui sucou itu mengandung racun."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bohong !" teriak Blo'on.
"Kalau kukunya mengandung racun, bagaimana dia dapat
menyuap makanan dengan tangannya '"
Hong-ing tertawa : "Engkau memang blo'on. Pui sucou itu
mempunyai sebuah ilmu yang disebut Tok-jiau-kang."
''Apa Tok-jiau-kang itu ?'
"Ilmu cengkeraman beracun. Kalau tidak dipancarkan,
racun itupun tak bergerak. Dia dapat makan dan mengambil
barang seperti biasa Tetapi begitu dipancarkan, racun pada
kukunya akan berhamburan masuk ketubuh lawan. Tadi
sucou memberi tahu kepadaku, engkau sudah terkena Tok-
jiau-kang, tentu mati. Maka diapun rela saja melepas engkau
pergi dengan membawa aku karena akhirnya engkau tentu
mati kaku."
"O, kejam benar ..."
"Tak lebih kejam dari engkau yang membunuh suhuku itu !"
Blo'on deliki mata kepada nona itu. Ia hendak marah dan
membantahnya tetapi pada lain saat tiba-tiba ia tenang
kembali : "Ah, sudahlah Kalau engkau mengatakan begitu,
terserah. Tetapi aku merasa tak membunuhnya . . . . "
Hong-ing hanya mendengus.
"Pergilah, aku tak membutuhkan engkau lagi," tiba-tiba
Blo'on berseru.
"Engkau melepaskan aku pulang?" Hong-ing menegas.
"Pergilah, jangan banyak bicara !" teriak Blo'on.
"Tidak " seru Hong-ing.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on terbeliak : "Mengapa? Bukankah engkau sudah
bebas? Pulanglah, pulanglah! Panggillah kakek-kakek itu dan
kawan-kawanmu kemari membunuh aku!"
"Tak perlu," sahut Hong-ing, "tanpa memanggil mereka,
engkaupun tentu mati juga."
"Biar, biar!" teriak Blo'on, "pergilah engkau, biar aku mati
sendiri."
"Tidak !"
"Mengapa ?" kembali Blo'on heran.
"Engkau sudah menolong suhengku yang pingsan engkau
bawa pulang ke markas. Untuk kebaikanmu itu akan kubalas.
Kalau engkau mati, akan kukubur dalam sebuah liang agar
mayatmu jangan dimakan burung."
"Tidak!" teriak Blo'on makin kalap, "hayo pergilah engkau !
Aku lebih suka mayatku dimakan burung daripada engkau
jamah. Orang-Orang Hoa san-pay memang jahat-jahat
semua!"
"Cis, engkau tak berhak mengusir aku. Daerah ini masih
termasuk lingkungan Hoa-san. Aku yang menjadi tuan rumah
dan engkau orang luar. Masakan orang luar berani mengusir
tuan rumah” balas Hong-ing.
"Persetan dengan tuan rumah atau tetamu “ makin kalap
Blo'on berteriak, "pendek kata engkau mau pergi atau tidak.
Aku tak suka melihatmu di sini ! Aku benci dengan orang-
orang Hoa-san-pay "
"Tidak !"
"Hm, kalau engkau membangkang, terpaksa tentu kuhajar "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Penipu !" teriak Hong-ing. “engkau bilang tak mengerti
ilmusilat, ternyata sekarang engkau hendak menghajar aku."
"Uh, untuk menghajar seorang anak perempuan; mengapa
perlu belajar ilmusilat ?”
"Ha, ha," Hong-ing tertawa, "itu kalau anak perempuan
biasa. Tetapi aku seorang anak perempuan persilatan. Apa
engkau mampu mengalahkan aku ?"
"Kalau mau coba, bolehlah'" habis berkata . Blo'on terus
lompat menubruk Hong-ing. Ia tak mengerti ilmusilat. Tetapi
karena terdorong oleh kemarahan, ia nekad menyerang
sidara. Hanya saja caranya menyerang bukan dengan
memukul atau menampar melainkan dengan menubruk. Ya, ia
hendak mendekap dara itu.
Sudah tentu mudah sekali Hong-ing menghindar ke
samping. Diam-Diam dara itu memperhatikan gerakan Blo'on.
Kalau Blo'on yang berada di guha tadi, tak mungkin ia dapat
menghindar terkamannya. Tetapi saat itu Blo'on tampak
lamban gerakannya. Tentulah karena racun dalam tubuhnya
sudah mulai bekerja.
Terkaman pertama luput, Blo'on menyusuli lagi dengan
terkaman kedua, ketiga, keempat dan terus saja selama
terkamannya itu masih belum berhasil mendekap si dara.
Walet-kuning Hong-ing sesungguhnya tinggi juga
ilmusilatnya. Tetapi karena ia tahu bahwa pemuda blo'on itu
memiliki tenaga-dalam yang hebat, terpaksa ia tak berani adu
kekerasan dan melainkan menghindar saja. Tetapi setelah
memperhatikan gerak pemuda itu makin lamban tahulah ia
bahwa racun dalam tubuh pemuda itu sudah mulai bekerja.
Dan memang dugaannya tepat. Hampir tiga jam menuruni
gunung, karena tak mengerahkan tenaga racun itu pelahan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sekali jalannya. Tetapi kini karena Blo'on mengeluarkan tenaga
menyergap Hong-ing maka racun itupun bekerja cepat.
Hampir separoh tubuh Blo'on terasa kaku tak dapat
digerakkan lagi.
„Uh . . , " tiba-tiba Blo'on mendesuh kaget ketika luput
menubruk Hong-ing, kakinya terantuk pada segunduk batu
dan tak ampun lagi. ia jatuh terguling di tanah dan meluncur
ke dalam telaga . . .
"Hai !" Hong-ing memburu hendak menyambar kaki si
Blo'on tetapi terlambat. Tubuh Blo'on sudah tenggelam
kedalam telaga.
Karena gugup, Hong-ing lari kian kemari, sejenak
memandang ke permukaan telaga, sejenak memandang ke
sekeliiing penjuru seperti hendak mencari orang yang dapat
memberi pertolongan, Ia sendiri tak bisa berenang. Paling-
Paling ia akan minta tolong orang untuk menyelam ke dasar
telaga Tetapi sekeliling tempat itu sunyi senyap.
"Blo'on . . ! Blo'on ..!" berulang kali la meneriaki pemuda itu
tetapi tiada bersahut. Blo'on seolah-olah lenyap di dasar
telaga.
Entah bagaimana Hong-ing merasa menyesal atas
terjadinya peristiwa itu. Memang bukti amat kuat bahwa
Blo'on berada di dalam guha di mana suhunya terdapat
menggeletak tak bernyawa. Tetapi menilik wajah dan sikap
pemuda yang blo'on itu, masih ada sepercik kepercayaan
dalam hatinya bahwa Blo'on bukan pembunuh suhunya.
Selama belum menemukan jejak yang menyatakan bahwa
Blo'on tak bersalah, rasa benci dan dendam terhadap pemuda
itu tetap membara dalam hati Hong-ing. Betapapun ia benci
pada setiap pembunuh. Apalagi yang dibunuh itu suhunya . . .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Namun dibalik rasa dendam itu, tersembul pula rasa
kasihan atas nasib Blo'on yang dideritanya ketika berada
dalam markas Hoa-san-pay. Blo'on diperlakukan sebagai
seorang terdakwa, dijadikan bulan-bulan tertawa dengan
digunduli rambut dan alisnya, dihajar sana dipukul sini seperti
seekor anjing Bahkan tak segan-segan pula keempat Tiang-lo
itu beramai-ramai hendak membunuh Blo'on. Hong-ing benci
kepada Blo'on tetapi iapun merasa kasihan atas nasibnya.
Rasa kasihan dari Hong-ing bukan tak beralasan, la merasa
bahwa kesalahan Blo'on itu walaupun jelas tetapi belum
meyakinkan, la merasa bahwa pemuda itu memang blo'on,
linglung dan seperti orang yang kehilangan kesadaran
pikirannya. Buktinya, begitu ia mengatakan soal otak naga di
Laut Hitam, pemuda itu terus percaya seratus persen. Begitu
pula ia merasa bahwa pernyataan Blo-on yang lupa pada diri
dan namanya, memang sungguh-sungguh bukan pura-pura.
Setolol-tolol dan seblo'on-blo’on seorang anakmuda, namun
tak mungkin dia mau menerima pemberian nama Blo'on itu.
Dan akhirhya wajah serta bicara pemuda itu, mengunjukkan
kejujuran hatinya.
Itulah sebabnya, Hong-ing mandah saya ketika ditawan si
Blo'on dan dijadikan sandra lalu diajak lari dari markas Hoa-
san-pay. Pun dalam perjalanan, ia makin mendapat kesan
bahwa Blo'on itu seorang pemuda yang polos hati. Oleh
karena itu, walaupun beberapa kali mendapat kesempatan
baik, tetapi dara itu tetap tak mau melarikan diri. Ia ingin
menemani si Blo'on mencari obat penyembuh otaknya.
Dan rasa kasihan itu meledak menjadi rasa gugup dan
gelisah ketika melihat Blo'on tenggelam dalam telaga. Karena
tak mendapat jalan untuk menolong, akhirnya dara itu duduk
numprah di tepi telaga dan menangis.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Maafkan aku, Blo'on. Sebenarnya aku tidak mempunyai
maksud hendak membunuh atau mencelakai engkau. Tetapi
mengapa engkau mengusir aku ? Bukankah aku ingin
menemani engkau mencari obat ? Andai engkau tak sebengis
itu mengusirku, tentu akan kuberimu pil pencegah racun untuk
mencegah menjalarnya racun pada lukamu itu . . . " Hong-ing
menghela napas.
"Blo'on, kalau engkau mati, kudoakan supaya arwahmu
dalam beristirahat tenang di alam baka .., " Hong-ing menutup
doanya dengan menangis terisak-isak. Puas menangis, ia
berbangkit. la tetap tak terima kalau belum menemukar mayat
Blo'on. Ia hendak pergi kesebuah perumahan yang terdekat
untuk minta tolong pada beberapa penduduk, mencari mayat
Blo'on. Sekalipun mati, namun ia hendak mengubur mayat
Blo'on secara baik.
Maka ia segera tinggalkan telaga dan mencari rumah
penduduk.
Haripun kian tinggi dan akhirnya matahari mulai rebah
dipunggung gunung sebelah barat. Tiba-tiba muncullah
seorang aneh. Seorang lelaki tinggi besar yang mukanya
penuh dengan rambut, memelihara kumis lebat dan jenggot
panjang. Kepalanya terbungkus kain putih yang dilingkai-
Iingkar keatas macam bentuk seekor kerucut. Pakaiannya
jubah merah yang penuh berhias tanda-tanda swastika.
Setiba di tepi telaga, ia berdiri tegak menghadap
kepermukaan air. Kedua tangannya ditengadahkan di muka
dada dan mulutnya mulai berkemak kemik. Tiba-tiba tangan
kanan dijulurkan kemuka menghadap ke permukaan telaga
laluu mulai digerakkan seperti menarik kebelakang Perbuatan
itu dilakukan berulang-ulang sambil mulutnya melantang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ucapan-ucapan seperti doa mantra. Tetapi tak dapat
dimengerti artinya karena menggunakan bahasa asing.
Aneh benar ! Tak berapa lama tampak sesosok tubuh
menyumbul ke permukaan air lalu pelahan-lahan tubuh itu
hanyut dibawa air ketepi tempat orang aneh itu berdiri. Dan
lebih aneh pula, walaupun sudah berada di daratan, tubuh
yang masih rebah di tanah itu dapat meluncur ketempat orang
aneh. Setelah tiba dibawah kaki orang itu baru berhenti.
Ternyata sosok tubuh itu bukan lain adalah mayat Blo'on
yang terbungkus dengan benda hitam macam lumpur. Orang
aneh berjongkok memeriksa Ia kerutkan alis ketika
mengetahui bahwa benda yang menyelubungi muka dan
badan si Blo-on iitu bukan lumpur melainkan kawanan
binatang lintah. Orang aneh itu segera membersihkan tubuh
Blo’on dari kerumunan lintah. Setelah itu ia memeriksa baju si
Blo'on.
"Kurang ajar, kemanakah rumput mustika itu?" tiba-tiba ia
berkata seorang diri dengan nada marah. "apakah dimakannya
sendiri ? Dan sarung dang itu . . ?”
"Ah." pada lain saat ia menghela napas panjang, "celaka,
kemungkinan rumput mustika dan sarung pedang tentu ikut
tenggelam kedasar telaga. Celaka, kalau benar begitu,
sungguh sulit. Untuk mencari sarung pedang, sih masih
mudah. Tetapi bagaimana untuk mencari rumput Jenggot-
naga yang begitu kecil dan halus ? Bukankah sesukar orang
mencari jarum dalam laut ? Ah ..."
Sejenak merenung, orang aneh itu mengingau pula :
"Terpaksa aku harus bersemedhi nanti malam untuk
mengetahui apakah kedua benda itu memang masih di dasar
telaga atau dilempar kelain tempat oleh anak itu ... .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kemudian ia memeriksa keadaan mayat Blo'on Setelah
memegang pergelangan tangan, ia berkata seorang diri pula :
"Denyut jantungnya masih terasa, anak ini belum mati ..."
Ia mengeluarkan sebuah botol kumala, menuang sebutir pil
merah dan disusupkan kemulut Blo'on, lalu ditinggal pergi :
"Hm, dalam waktu duapuluh empat jam, dia tentu sadar ..."
Orang aneh itu tak menghiraukan Blo'on. Ia masuk kedalam
hutan untuk mencari tempat yang sesuai dimana ia akan
melakukan semedhi untuk meneropong keadaan dalam telaga.
Malampun makin merayap, menebarkan selimut hitam
kepermukaan alam. Suasana sekeliling telaga makin dibenam
dalam kesunyian lelap.
Blo'on masih menggeletak dalam keadaan tak sadar. Entah
dia dapat hidup lagi atau tidak.

---ooo0dw0ooo---

Korban kedua.
Keesokan harinya, Hong-ing membawa dua orang
penduduk ketepi telaga. Dara itu berhasil mengupah kedua
orang itu untuk menyelam ke dasar telaga, mencari mayat si
Blo'on.
"Wah, celaka," seru salah seorang penduduk itu, "telaga ini
disebut Telaga-lintah, boleh dikata menjadi sarang lintah.
Maka walaupun airnya bening, tetapi jarang sekali orang yang
berani mandi disini."
"O," Hong-ing mendesuh kejut, "lalu bagaimana cara kalian
hendak menyelam ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kedua lelaki itu tersenyum. Mereka melepaskan bungkusan
yang dibawa lalu mengeluarkan dua buah botol. Yang satu
diserahkan kepada kawan nya. Mereka lalu melumuri tubuh
dengan isi botol itu.
"Apakah itu ?" tanya Hong-ing "Minyak dari ikan paus.
Bangsa lintah tak suka baunya dan tak mampu hinggap pada
badan orang yang dilumuri minyak ini."
Demikian kedua orang itupun lalu menyelam kedalam
telaga. Tetapi hampir setengah hari mereka mencari, Blo'on
tetap tak dapat diketemukan. Akhirnya setelah sore, mereka
naik ke daratan.
"Sia-sia," kata mereka, "mayat kawan nona itu tak berhasil
kami ketemukan."
"Aneh," sahut Hong-ing, "jelas dia terjatuh kedalam telaga
ini mengapa mayatnya tak dapat diketemukan ?"
Kedua orang itu kerutkan dahi. Diam-Diam mere kapun
heran juga. Tiba-Tiba salah seorang bertanya : "Apakah nona
tak keliru melihat ?"
"Keliru bagaimana ?" tanya Hong-ing.
"Kalau kawan nona itu benar-benar jatuh ke dalam telaga
ini ?'
"Gila ! Masakan aku bisa keliru ? Sudah jelas kulihat dengan
mata kepala sendiri, dia terantuk batu lalu terguling jatuh
kedalam telaga !" seru Hong-ing agak penasaran.
"Hm, kalau begitu tentu hanya satu kemungkinan," kata
mereka.
"Bagaimana?”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mayat itu telah habis dilahap kawanan ikan lele-macan di
telaga ini."
"Hah?" Hong-ing terbeliak kaget, "lele-macan?"
"Ya," sahut salah seorang, "selain lintah pun telaga ini
penuh dengan sejenis ikan lele yang oleh penduduk disebut
lele-macan. Ikan itu ganas sekali, suka makan ikan lain yang
bukan jenisnya."
"Ah . . ," Hong-ing hempaskan diri duduk ditepi telaga.
Hatinya sedih, semangatnya lunglai. Rasa kasihan atas nasib
Blo'on, membuat ia seperti orang yang kehilangan semangat.
"Apakah nona tak kembali ke desa kami ?” tanya salah
seoracg penyelam.
"Tidak, kalau kalian mau pulang, pulanglah” sahut Hong
ing.
Setelah menerima upah, walaupun merasa heran, namun
kedua orang itupun segera pergi.
Berjam-jam lamanya Hong-ing duduk memandang ke
permukaan telaga. Mataharipun mulai turun ke balik gunung.
Cuaca mulai gelap. Namun Hong-ing tetap tak berkisar dari
tempatnya. Matanya memandang ke air telaga yang jernih.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba ia terkesiap Samar-
Samar pada permukaan air, muncul sebuah wajah orang.
Hong-ing mengebas-kebaskan kepala lalu mengusap-usap
mata. la kuatir kalau kalau mata nya yang kabur. Tetapi ketika
memandang ke permukaan air lagi, bayangan wajah orang itu
tetap tampak, bahkan kali ini tersenyum menyeringai Dan
karena wajah orang itu penuh ditumbuhi rambut, maka
tampaknyapun menyeramkan. Dia tertawa malah seperti
serigala menguak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai . . . setan'" teriak Hong-ing seraya! loncat bangun dan
hendak mencabut pedang. Tetapi tiba-tiba pedangnya itu
sukar dicabut, seolah-olah seperti melekat pada kerangkanya.
Hong-ing makin karet. Dicobanya pula untuk mencabut
sekuat tenaga. Tetapi tetap gagal karena jengkel kerangka
yang masih berisi pedang itu dibanting ketanah, tringg..
"Hai," ia menjerit ketika melihat pedang itu meluncur keluar
dari kerangkanya. Pada hal tadi walaupun ditarik sekuat-
kuatnya pedang itu tak mau keluar.
Cepat dara itu menghampiri hendak mengambilnya lagi.
Tetapi tepat pada saat tangannya menjamah tangkai pedang,
tiba-tiba sebuah kaki menginjak batang pedang
"Ih..”Hong-ing mendesis dan memandang keatas; Dan
seketika ia menjerit, loncat, loncat ke belakang.
Ternyata yang menginjak batang itu seorang lelaki tua yang
aneh. Ialah berpakaian jubah merah berhias swastika yang
kemarin datang ke tepi telaga, menarik keluar mayat si Blo’on.
Dalam persemedian malam tadi, ia mendapat kisikan halus,
bahwa pedang dan rumput mustika Liong-si-jau tidak jatuh di
dasar telaga tetapi masih berada pada si Blo'on. Maka pada
siang itu ia segera menuju ke tepi telaga tempat Blo'on
diletakkan kemarin. Ia hendak menunggu si Blo’on sadar dan
menanyainya tentang rumput mustika itu.
Tetapi alangkah kejutnya ketika tubuh Blo'on tak berada
ditempatnya dan sebagai gantinya tampak seorang gadis
tengah duduk termenung-menung memandang permukaan
telaga.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Orang aneh itu gunakan ilmu meringankan tubuh,
menghampiri ke belakang sigadis atau Hong-ing. Dan akhirnya
terjadilah peristiwa itu.
"Siapa engkau!" teriak Hong-ing seraya siapkan tinju.
"Ha, ha, baru ini kali sepanjang hidupku, seorang anak
perempuan berani bertanya begitu kasar kepadaku. Biasanya
tak pernah orang berani bertanya kepadaku karena aku yang
selalu bertanya kepada orang !" sahut orang aneh itu.
"Lekas bilang, siapa engkau !" Hong-ing mengulang
pertanyaan.
"Akan kuberitahu namaku apabila engkau mau memberi
sedikit keterangan," sahut orang aneh itu.
"Soal apa ?"
"Sudah lamakah engkau berada di tepi telaga ini ?"
"Sejak pagi tadi."
"Ho, kalau begitu engkau tentu melihat sesosok mayat di
tepi telaga ini ?"
"Mayat ? Mayat siapa ?"
"Mayat seorang anakmuda ?"
"Si Blo'on ?"
"Apa itu Blo'on ?"
"Bukankah nama anak itu si Blo'on ?'
"Ngaco !" bentak orang aneh itu. "apa itu Blo'on-blo'on. Aku
tak mengerti. Jawablah yang betul, mengaku tahu atau tidak
mayat seorang anak muda disini ?”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hong-ing marah karena sikap orang yang begitu kasar
seolah-olah seperti memberi perintah. Ia menjawab getas :
"Kalau tahu bagaimana, kalau tak tahu bagaimana ?"
"Kalau tahu, lekas tunjukkan dimana mayat itu?”
"Ih garang benar engkau. Kalau aku tak mau menunjukkan,
bagaimana ?"
"Akan kupaksa sampai engkau mau ?"
"Kalau tak tahu ?”
"Engkau jelas bohong !" kata orang aneh itu, "karena jelas
malam tadi mayat itu berada di sini."
"Aku tak tahu, engkau mau apa!" Hong-ing melengking.
"Engkau bohong “
Sebenarnya Hong-ing berkata dengan sesungguhnya tapi
karena ia marah atas sikap orang aneh itu, iapun menantang:
"Ya, aku memang bohong, engkau mau apa ?"
"Ho, budak perempuan, rupanya engkau belum kenal
kelihayanku!" kata orang aneh itu seraya ulurkan tangan
hendak menyambar tangan Hong-ing. Tetapi dara itu cepat
menyurut mundur.
"Uh, engkau pandai silat juga?"dengus orang aneh itu agak
terkejut karena sambarannya luput. Lalu ia ulangi lagi dengan
sebuah lompatan seraya menerkam. Tetapi tetap Walet-kuning
Hong-ing dapat menghindar.
"Eh, engkau benar-benar pandai ilmu silat ? Siapakah
perguruanmu ?" orang aneh itu berhenti dan berseru.
"Perlu apa engkau bertanya perguruanku?”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Agar dapat kupertimbangkan langkah, cara hukuman apa
yang layak kuberikan kepadamu !"
"Wah besar sekali mulutmu, orang brewok!" seru Hong-ing,
"aku murid Hoa-san-pay ..."
"O, murid Hoa-san-pay ?" teriak orang aneh itu. Sepasang
matanya tampak berkedip-kedip, "kalau engkau murid
perguruan lain, mungkin masih dapat kuampuni. Tetapi karena
engkau murid Hoa-san pay jangan harap engkau mendapat
pengampunanku!"
"Cis ! Siapa yang sudi minta ampun kepadamu !" lengking si
dara.
"Kurang ajar !" orang itupun terus loncat menubruk. Kali ini
Hong-ing sudah siap. Menghindar kesamping ia terus ayunkan
sebelah kakinya menendang. Plak . . orang itu jatuh terguling-
guling ditepi telaga. Hampir saja dia terguling jatuh kedalam
air.
Cepat ia berbangkit lalu melangkah pelahan-lahan
menghampiri Hong-ing, berdiri tiga langkah dihadapannya.
Orang aneh itu tegak berdiri memandang lekat pada Hong-
ing. Pada lain saat, tiba-tiba ia julurkan kan dua buah jari
tangannya kearah Hong-ing : "Lihatlah . . , "
Hong-ing terkejut dan tanpa sadar terpengaruh oleh kata-
kata orang aneh itu. Cepat ia mencurah pandang mata kearah
jari orang itu. Tiba-Tiba ia rasakan aliran hawa dingin melanda
dadanya, menebarkan keseluruh urat-urat tubuhnya. Ia
hendak bergerak tetapi tak mampu menggerakkan tubuh.
Lemas lunglai . . .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, budak perempuan, engkau sudah terkena ilmuku Jit-
poh-sip-hun-ci. Ha, ha sekarang engkau sudah dalam
kekuasaanku!" seru orang aneh itu.
Hong-ing terkejut tetapi tak dapat berbuat suatu apa. Jit-
poh-sip-hun-ci, ia tahu juga artinya, Ialah Jari-pelenyap-
sukma-tujuh-langkah. Dalam jarak tujuh langkah, ilmu
gerakan jari itu dapat melenyapkan sukma, membuat orang
lemas tak berkutik.
"Engkau man apa ?" serunya dengan mata menghambur
kemarahan.
"Katakan dimana mayat anakmuda itu !" seru siorang aneh.
"Siapa yang engkau maksudkan anakmuda itu?
"Masakan engkau tak tahu ? Dia yang membunuh ketua
perguruan Hoa-san-pay itu !"
''Ih . . , " Hong-ing terbeliak kaget, "engkau tahu peristiwa
pembunuhan itu ?"
"Kalau tak tahu masakan aku bisa berkata, "jawab orang
aneh itu, "lekas bilang yang betul “
"Dia kecemplung dalam telaga ini !"
"Lalu, mana mayatnya ?"
"Justeru akupun hendak mencari mayatnya”
"Ngaco ! Mayat itu sudah kuangkat kesini tetapi sekarang
lenyap. Kalau bukan engkau yang mengambil, siapa lagi ?"
"Hai, benarkah mayat itu sudah berada ditepi telaga sini ?"
teriak Hong-ing.
"Jangan berpura-pura!" hardik orang aneh itu "lekas
katakan dimana engkau menyembunyikannya “
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Cepat Hong-ing hendak menyangkal tetapi pada lain kilas
tiba-tiba ia mendapat pikiran. "O, sudah kukubur !" serunya.
"Dimana ?"
"Diujung hutan sana !"
"Bawa aku kesana !"
"Tidak !" sahut Hong-ing getas.
"Mengapa?" orang aneh itu terkesiap heran.
"Aku tak dapat berjalan."
"O," rupanya orang aneh itu teringat kalau dara itu terkena
tutukan jarinya, "tak apa, akan kupondong engkau kesana."
"Tidak sudi, tidak sudi !" teriak Hong-ing
"Masakan engkau mampu meronta kalau ku pondong ..."
"Kalau engkau berani menjamah tubuhku, lebih baik aku
bunuh diri menggigit lidahku sendiri!"
"Lalu maksudmu ?"

Halaman 51-58 sobek

"Kenal baik sekali. Mereka sering berkunjung kemari," kata


Him Pa.
Blo'on terbelalak : "Kalau begitu paman tentu akan
menangkap dan menyerahkan aku ke markas Hoa-san-pay ?"
"Tidak," sahut Him Pa.
"Tidak ? Mengapa ? Bukankah paman bersahabat baik
dengan mereka ?" tanya Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kutahu engkau jujur," jawab Him Pa, "karena dengan terus
terang engkau menceritakan tentang pembunuhan yang
terjadi pada diri Kim kaucu. Tetapi apakah engkau benar-
benar tidak membunuhnya?
"Sungguh mati, paman. Aku berani bersumpah kalau tak
merasa membunuh ketua Hoa-san-pay."
"Baiklah, aku percaya padamu . . , " baru Him Pa berkata
sampai disitu tiba-tiba ia terkejut bangun, "ada orang datang.
Ah, kemungkinan tentu orang Hoa-san-pay yang hendak
mencarimu."
"Celaka !" Blo'on mengeluh, "bagaimana aku dapat lolos ?"
Sejenak kebaikan pandang mata, Him Pa cepat menyuruh
Blo on : "Lekas engkau menjadi harimau kumbang itu . . . "
"Hah?" Blo-on terbelalak kaget, "bagaimana aku dapat
menjadi harimau ?"
Sambil mendorong Blo'on ketempat harimau kumbang, Him
Pa berjongkok, membuka kulit harimau. mengambil rumput
dan cepat suruh Blo'on memakai kulit harimau dan mendekam
disudut bilik.
Him Pa tak tunggu Blo'on melakukan perintah, ia terus
keluar karena pintu diketuk orang.
"Ah, kiranya Han lotiang yang datang," sen Him Pa ketika
melihat tetamu itu atau Beruang-sakti Han Tiong, tetua nomor
dua dari Hoa-san-pay.
Sambil mengiakan, Beruang-sakti Han Tionj melangkah
masuk : "Bagaimana Him Pa, banyak memperoleh binatang
buruan ?"
"Lumayan, lotiang," sahut Him Pa seraya membawa
tetamunya masuk kedalam bilik. Mereka duduk dikursi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tak sari-sarinya lotiang berkunjung kemari pada saat hari
semalam ini. Tentulah lotiang mempunyai urusan yang
penting," Him Pa membuka pembicaraan.
"Benar, Him Pa, aku hendak mencari seorang anakmuda."
Him Pa tahu siapa yang dimaksud orangtua dari Hoa-san-
pav itu. Namun ia tetap tenang, tanyanya pula : "Mengapa
dia, lotiang ?"
"Hm, anak itu kurang ajar sekali, berani masuk kedalam
markas Hoa-san-pay dan melukai beberapa anakmurid.
Hendak kuringkus dan kubawa nya naik ke markas untuk
menerima hukuman. Mendengar itu Blo'on menggigil. Kalau
Him Pa menunjukkan dirinya, tentu ia akan tertangkap orang
Hoa-san-pay lagi.
"Apakah engkau tak melihatnya? Apakah datang kemari “
tanya Beruang-sakti.
"Akupun baru saja pulang dari berburu, lo tiang. Dan
dirumah ini tiada orang yang datang."
"Aneh," gumam Beruang-sakti Han Tiong, "padahal jelas dia
membawa Walet-kuning Hong-ing, murid perempuan Hoa-san-
pay turun gunung."
"Walet-kuning Hong-ing dibawanya? Aneh, bagaimana hal
itu dapat terjadi ?" seru Him Pa.
"Ketika kami kepung anak liar itu, tiba-tiba saja dia
mendapat akal untuk menawan Hong-ing dijadikan sandera."
"Dan keempat lo-tiang membiarkan saja ?" tanya Him Pa.
"Ya, karena menurut Pui suheng, anak itu telah terkena
cengkeraman Tok-jiau-kang yang beracun Dalam beberapa
jam dia tentu mati. Mengapa ia tak kelihatan, pun Hong-ing
juga tak tampak"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, kemungkinan nona Ci telah sengaja menunjukkan jalan
yang salah kepadanya. Kalau tidak mereka tentu lewat disini.
Eh, maaf, taruh kata lewat, apabila pada siang hari, jelas kalau
aku tak melihat mereka karena sejak pagi aku sudah keluar
berburu dan petang ini baru pulang"
"Kalau begitu, apabila engkau melihatnya, supaya engkau
tahan dan antarkan ke atas gunung."
"Baiklah, lo-tiang, apa pesan lo-tiang tentu akan kulakukan
dengan sungguh hati," kata Him pa lalu menuju ke dapur dan
tak lama masuk kembeli membawa hidangan arak: "Maaf,
lotiang, hanya dapat menghidangkan arak dingin, untuk
sekedar penghilang-haus saja."
Jika kedua orang itu enak-enak menikmati arak, adalah
Blo'on yang setengah mati. Mendekam dan memakai kulit
hariamau, ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Panasnya
bukan kepalang sehingga keringatnya bercucuran deras
membasahi sekujur tubuh.
Tiba-Tiba saja ia ingin kencing. Perutnya yang penuh terisi
air sekendi dan bubur cair sepanci mulai kembung dan hendak
mintn keluar. Celaka, bagaimana nih ? Kalau ia kencing, airnya
tentu mengalir dan tentu diketahui Beruang-sakti. Namun
kalau ditahan, perutnya terasa mulas. Dalam hati tak henti-
hentinya ia memaki dan menyumpahi kakek Beruang-sakti
mengapa tak lekas pergi.
"Hm, mungkin pemburu itu memang sengaja hendak
menyiksa aku. Kalau tidak mengapa ia terus menerus
mengajak bicara kakek itu ? Bukankah lebih lekas disuruh
pergi, lebih baik bagiku?" gumamnya panjang pendek dalam
hati.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on benar tak kuat menahan keluarnya air kencing. Pada
detik-detik yang tegang sehingga wajahnya merah padam,
tiba-tiba Beruang-sakti Han Tiong berkata : "Him Pa, karena
sudah malam, aku terpaksa pamit".
"Lotiang hendak pulang ke markas ?"
"Mungkin tidak. Aku hendak melanjutkan pengejaran
kepada anak liar itu. Tolong saja sewaktu-waktu melihat
mereka supaya engkau bawa kemarkas kami."
"Baik, lotiang, "kata Him Pa-seraya ikut berbangkit hendak
mengantarkan tetamunya keluar. Tiba-Tiba tetua nomor dua
dari Hoa-san-pay itu berhenti, memandang kesudut. ruangan :
"Eh, Him Pa, itu hari-mau hidup atau mati ?"
Sambil berkata, rupanya karena tertarik akan harimau yang
mendekam itu, Beruang-sakti Han Ti ong segera menghampiri.
"O, itu kulit harimau yang sengaja kuutuhkan dan kuisi
dengan rumput kering," kata Him Pa tertawa cemas.
"Buat apa ?"
"Selain untuk hiasan, pun dengan adanya harimau itu,
rupanya tikus-tikus tak berani datang. Begitu pula untuk
menakuti apabila ada pencuri masuk."
"Ah, benar-benar seperti hidup, " Beruang-sakti Han Tiong
hendak mendekati dan julurkan tangannya hendak mengelus-
elus kepala harimau itu.
Jika ada petir berbunyi saat itu, tidaklah lebih mengejutkan
hati Blo'on daripada ketika tangan Beruang-sakti hendak
mengelus kepalanya. Rasa ingin kencing yang sudah tak kuasa
ditahannya tadi tiba-tiba lenyap seketika.
Prang . . tiba-tiba terdengar suara berkerontangan dan tiba-
tiba ruanganpun gelap gelita. Lampu yang terletak di atas
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
meja, mencelat jatuh ke lantai dan padam. Dan serentak
terdengar suara Him Pa berseru kaget : "Ai, sial. tanganku
membentur lampu. Maaf,
lotiang, kamar menjadi
gelap."
Rupanya Beruang-sakti
tak pernah menyangka
bahwa jatuhnya lampu
kelantai itu karena
sengaja ditampar Him Pa.
Agar dapat membatalkan
niat Beruang-sakti
mengelus kepala
harimau. Dan memang
Beruang sakti terkejut
lalu urungkan
keinginannya. Ia
melangkah kepintu dan
keluar dari bilik. Ketika
pamit, ia mengulangi pula permintaannya supaya Him Pa
memperhatikan anak liar yang melarikan Hong-ing itu.
Setelah tetamu pergi, barulah Him Pa masuk kedalam bilik
lagi. Ia memperbaiki lampu lalu di-sulutnya pula. Ketika
memandang ke sudut ruang, ia berteriak kaget : "Hai, kemana
harimau itu . . ?"
Ternyata kulit harimau yang berisi Blo'on, lenyap dari sudut
bilik. Him Pa cepat mencari ke belakang. Juga tak ada. Keluar
halaman muka, pun tak tampak. Ia mencari kesekeliling
pondok tetap tak ketemu. Akhirnya ia kembali masuk ke dalam
bilik dan astaga . . . harimau itu sudah berada dalam bilik
tetapi tidak lagi mendekam melainkan duduk di ranjang kayu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, kemana engkau tadi ?" tegur Him pa.
"Ke sumur di belakang rumah."
"Mengapa ?" Him Pa heran.
"Maaf, paman, karena perut penuh air dan bubur cair, tadi
aku hendak kencing. Ketika kakek Hoa san-pay hendak
mengelus kepalaku. Karena ta kut, aku sampai terkencing di
celana. Celana terpaksa kucuci di sumur dan aku harus pinjam
kulit harimau untuk malam ini . . .
Him Pa hanya tertawa. Demikian dalam pembicaraan
selanjutnya, Blo'on mengatakan tentang penyakit aneh yang
dideritanya. Him Pa juga heran.
"Di kota Song-hian-koan kudengar ada seorang imam yang
pandai mengobati' segala penyakit aneh, dapat mengusir
setan dan lain-lain ilmu yang aneh. Cobalah engkau kesana,
barangkali penyakitmu yang aneh itu dapat disembuhnya,"
kata Him Pa.
"Jauhkah tempat itu dari sini?" tanya Blo'on
"Tidak," sahut Him Pa. "begitu turun kaki gunung, berjalan
ke utara kira-kira sepuluh li, tentu sudah tiba di kota itu."
"Lalu siapakah nama imam itu ?"
"Tanya saja pada penduduk disitu. Setiap orang tentu kenal
pada imam sakti itu."
"Paman, mengapa engkau melindungi aku dari kejaran
kakek Hoa-san-pay tadi ?" tanya Blo'on pula, "Bukankah
paman bersahabat baik dengan mereka dan baru saja kenal
padaku ?”
Him Pa berkata : "engkau terluka dan kutolong kemari.
Kalau menolong orang, aku tak mau kepalang tanggung. Maka
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
engkau kusembunyikan Tetapi ingat ! Apabila terbukti bahwa
memang engkau yang membunuh ketua Hoa-san-pay itu, aku
tentu akan menangkapmu "
Tengah malam ketika sedang pulas tidur, Blo'on dikejutkan
oleh suara aum harimau yang dahsyat. Cepat ia bangun dan
mencari Him Pa tetapi pemburu itu tak berada dalam rumah.
"Paman, kemana engkau? Ada harimau hendak menyerbu
rumah ini !" serunya. Tetapi Him Pa tak menyahut, entah
kemana.
"Celaka harimau suka makan orang. Apakah paman
pemburu itu sudah dimakan harimau?"pikirnya
Aum . . . aummmm, harimau makin dekat dan masuk
kedalam halaman.
"Mati aku . . . !" Blo'on makin ketakutan. Ia lari kian kemari
kebingungan. Tiba-Tiba ia teringat kalau masih memakai kulit
harimau, "ah, terpaksa aku harus menjadi harimau juga.
Harimau bertemu harimau, tentu tak mau memakan ..."
Karena kulit harimau itu dibuat sedemikian utuh maka
seluruh kepala dan tubuh Blo'on dapat tertutup rapat dan
jadilah ia seekor harimau.
Aum . . . harimau yang sungguh itu pun masuk kedalam
pondok ....

---ooo0dw0ooo---

Jilid 5
Sepasang harimau.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Aummm ....
Bermula Blo'on menyangka bahwa dengan menjadi harimau
gadungan itu tentu takkan memakannya. Dan tenanglah ia.
Tetapi ketika harimau itu masuk kedalam rumah dan
mengaum dahsyat, serasa tergetarlah genteng-genteng atap
karena gema suara raja hutan itu. Sedemikian keras dan
dahsyat sehingga jantung Blo' on hampir copot. Ia tak pernah
menyangka kalau seekor harimau itu ternyata sedemikian
perkasanya.
Aum . . . karena takut, iapun mengaum menirukan suara
siraja hutan dan terus loncat keluar dari jendela. Ah, ia
terkejut sendiri ketika tubuhnya berhasil menerobos lubang
jendela, terus meluncur keluar halaman, bum ....
Rasa takut dan ngeri melihat harimau yang begitu seram,
membuat Blo'on lupa segala. Lupa apakah ia mampu
melompat keluar dari lubang jendela, lupa bagaimana
andaikata ia nanti jatuh keluar. Lupa akan rencananya bahwa
setelah menjadi 'harimau gadungan' harimau yang aseli itu
tentu takkan memakannya. Pendek kata, karena pikirannya
hilang semangatnya buyar, ia terus loncat saja keluar jendela
.....
Harimau heran mengapa kawannya itu malah melarikan diri.
Binatang itupun segera loncat menerobos lubang jendela.
Dilihatnya harimau Blo'on masih mendekam ditanah. Rupanya
karena terbanting ditanah, kepala Blo'on pusing, mata
berkunang-kunang sehingga untuk beberapa saat ia tetap
rebah tengkurap ditanah.
Demi mendengar harimau loncat keluar dari jendela
mengejarnya, Blo'on terkejut dan serentak ia terus loncat
bangun lalu . . . lari.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Apabila ia lari dengan merangkak, itu masih dapat
dimaklumi. Tetapi si Blo'on lari seperti orang biasa. Dia lupa
kalau saat itu dirinya menjadi seekor harimau.
Diluar dugaan, harimau tertegun. Rupanya binatang itu
heran mengapa kawannya mendadak dapat berdiri dan lari.
Sesait kemudian binatang itupun terus loncat mengejar.
Blo'on lari dan lari sekuat-kuatnya. Tetapi ketika ia
berpaling ke belakang, dilihatnya harimau makin dekat
dibelakangnya.
Aummm . . . harimau mengaum dan karena kejutnya,
Blo'on terpelanting jatuh mencium tanah. Ia pejamkan mata
menunggu dirinya dimakan si-raja hutan. Tetapi sampai
beberapa saat, ia merasa masih selamat. Buru-Buru ia
membuka mat-a. Melalui mata dari kulit harimau yang
dipakainya itu, ia melihat harimau masih berada dihadapan-
nya.
Baru Blo'on hendak menarik napas legah tiba-tiba harimau
itu maju menghampiri dan . . .
"Mati aku "Blo'on menjerit dalam hati ketika harimau itu
ngangakan mulutnya, tepat dimukanya. la terpaksa pejamkan
mata lagi menunggu kematian ....
"Uh, uh, uh . . .” tiba-tiba ia mendesuh-desuh ketika merasa
kepalanya berayun - ayun maju mundur. Ketika membuka
mata, ia melihat tubuh harimau itu merapat sekali kepadanya.
Dan ketika ia berusaha untuk memandang keatas ternyata
harimau itu tengah menjilati kepalanya ....
Hampir ia menjerit keras. Untung ia teringat kalau saat itu
kepalanya terbungkus dengan kulit kepala harimau. Apabila
tidak, tentu kulit gundulnya sudah terkelupas kedalam mulut
harimau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Auff, auff ..." tiba-tiba pula ia mendesuh-desuh ketika tiba-
tiba harimau itu menjilati mukanya.
Haa . . haaa . . . hasyingngng . . . !
Bau mulut harimau yang memuakkan dan kumisnya yang
menusuk kehidungnya, benar-benar menggelitik sekali.
Beberapa kali ia berusaha untuk menahan jangan sampai
berbangkis namun karena ia tak dapat menggunakan tangan
untuk mendekap hidung, akhirnya ia berbangkis juga dengan
keras.
Harimau terkejut dan loncat
kebelakang, memandang
harimau Blo'on lalu
menghampiri Jagi. Blo'on
bingung. Kalau ia diam saja,
harimau itu tentu akan
menjilati mukanya lagi dan ia
tentu akan berbangkis lagi.
Ternyata kulit harimau yang
dikenakan si Blo'on itu adalah
dari harimau betina. Dan
harimau yang datang itu
harimau jantan. Sudah beberapa waktu harimau jantan
mengamuk dan berkeliaran kemana-mana untuk mencari
harimau betina yang hilang. Hilang yang dibunuh Him Pa.
Sekarang harimau itu telah menemukan betinanya. Sudah
tentu ia rindu sekali. Dijilat-jilatinya kepala, jidat dan muka
sang betina dengan mesra. Mesra bagi si harimau jantan
tetapi celaka bagi si Blo'on. Ia benar-benar tersiksa karena
menyaru menjadi harimau itu. Walaupun harimau jantan itu
tak memakannya, tetapi ia benar-benar sebal dan muak
karena selalu diciumi dan dijilati harimau itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Akhirnya karena bingung dan jengkel, iapun berbangkit lalu
mengaum menirukan suara harimau jantan tadi : "Aummm .. "
Ketika harimau jantan menjilati mukanya, Blo'on yang
terpaksa jadi harimau gadungan, hampir muntah. Dan ketika
kumis harimau jantan menggelitik hidungnya, Blo'onpun
berbangkis sekuat-kuatnya.....
Blo'on term hendak berbangkit dan lari ke dalam pondok.
"Uh . . ," tiba-tiba mendekam lagi karena teringat kalau dirinya
masih menjadi harimau. Setelah itu ia merangkak ke pintu
pondok.
Tiba-Tiba harimau loncat menerkamnya sehingga ia jatuh
terguling-guling. Harimau menghampirinya lalu menjilati
kepala dan mukanya lagi dengan mesra.
"Uh, apa-apaan ini ?" Blo'on menggerutu dalam hati. Ia tak
tahu mengapa harimau itu selalu menjilati kepala dan
mukanya saja. Karena muak dan jengkel, ia mengaum lagi,
aummm ....
Harimau itu terkejut, loncat kebelakang. Tetapi ketika
melihat Blo'on merangkak kearah pintu, binatang itu loncat
menerkamnya lagi. Dan setelah Blo'on jatuh berguling-guling
binatang itu menjilat-jilat kepala dan mukanya lagi.
Karena terulang beberapa kali, akhirnya timbullah pikiran
Blo'on : "Apakah dia melarang aku masuk kedalam pondok ?"
"Celaka !"' kembali Blo'on menjerit dalam hati, "apakah dia
hendak membawa aku pulang ke rumahnya . . . ?"
Blo'on benar-benar bingung setengah mati. Gara-Gara
memakai kulit harimau, sekarang benar-benar ia harus
menjadi harimau.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar, kemanakah batang hidungnya Him Pa
sipemburu itu ?" ia mengomel penasaran. Ia tak menyadari
bahwa apabila tak memakai kulit harimau itu, dia tentu sudah
tertangkap Beruang-sakti Han Tiong. Atau, dia tentu sudah
dimakan harimau itu.
Karena tiada lain pilihan, akhirnya. Blo'on terpaksa lepaskan
usahanya meloloskan diri. Dia memutuskan untuk ikut pada
harimau itu. Nanti apabiia mendapat kesempatan," ia hendak
lari atau kalau perlu, mengadu jiwa dengan raja hutan itu.
Demikian dengan hati besar, ia segera merangkak kemuka,
keluar dari halaman pondok. Ah, andaikata ia tahu bahwa kulit
harimau yang dipakainya itu dari harimau betina dan harimau
yang datang itu yang jantan. Tentulah ia akan lebih kaget lagi.
Dan andaikata dia dapat membayangkan bagaimana ulah
seekor harimau jantan yang bertemu dengan yang betina, dia
tentu akan lemas. Mungkin kalau tidak besar nyalinya, tentu
sudah mati kaku.
Untunglah si Blo'on itu seorang Blo'on. Dia tak menyadari
hal itu. Maka enak saja ia merangkak keluar, diiring oleh
harimau jantan.
Aum . . . harimau jantan itu loncat ke samping jalan lalu
masuk kedalam hutan. Tetapi Blo'on tak mau.
"Huh, siapa sudi berjalan merangkak di dalam hutan" ia
menggerutu dalam hati dan tetap merangkak di sepanjang
jalan.
Rupanya harimau jantan itu heran mengapa betinanya tak
mau menyusul. Ia berhenti baru menerobos keluar ke jalan
lagi, menyusul Blo'on.
Untunglah harimau itu seekor binatang yang tak punya
pikiran seperti manusia sehingga tak lekas dapat mengetahui
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
keanehan-keanehan yang terdapat pada diri isterinya si
harimau betina itu. Masakan harimau berjalan, kepalanya
menyusur kebawah dan pantatnya menjulang keatas seperti
yang dilakukan-si harimau blo'on itu ?
Tetapi sebodoh-bodoh harimau itu, akhirnya merasa heran
juga mengapa sang betina begitu tertatih-tatih jalannya.
Segera ia loncat dan sosorkan kepalanya mendorong kepala
harimau blo'on supaya membiluk kesamping. Karena tak tahan
baunya, terpaksa Blo'on mau membiluk dan masuk kedalam
hutan.
"Celaka ..." Blo'on mengeluh panjang pendek ketika ia
harus menerjang semak-semak berduri. Untung karena
mengenakan kulit harimau, tubuhnya-pun tak kena apa-apa.
Hanya setempo ia harus katupkan mata apabila ada ranting
atau duri yang mengancam depan mukanya.
Dan setelah masuk kedalam hutan, ternyata harimau jantan
itu tak mengganggunya lagi. Rupa nya memang begitulah
yang dikehendaki.
"Aduh, celaka . . ," kembali Blo on mengomel, "Di manakah
sarangnya ? Kalau harus merangkak jauh, mana aku kuat ?
Makin lama mereka makin masuk kebagian dalam dari
hutan itu. Saat itu masih malam. Hutan amat gelap sekali.
Rupanya harimau itu tak sabar melihat sang betina begitu
pelahan sekali jalannya. Kembali ia mendorong-dorong pantat
sang betina, menyuruh supaya lari lebih cepat.
"Kurang ajar," damprat Blo'on dalam hati, "siapa sudi
engkau suruh lari dengan merangkak begini ? . . . "
Belum habis ia menimang, tiba-tiba ia rasakan tengkuknya
dicengkeram keras sekali dan serempak dengan itu iapun
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mendengar mulut harimau menggerung. Seketika pucatlah
Blo'on. Tentulah tengkuknya digigit mulut harimau jantan itu.
Memang sudah lazim bangsa harimau maupun kucing dan
anjing, apabila bercanda, mereka suka menggigit-gigit leher
kawannya. Gigitan harimau jantan kepada harimau betina
itupun bukan gigitan maut, melainkan gigitan bercanda, dalam
hal ini harimau jantan hendak menyuruh sang betina supaya
berlari cepat.
Tetapi bagi Blo'on, gigitan mesra dari harimau jantan itu
dirasakan seperti sebuah cekikan baja yang keras. Sakitnya
bukan kepalang sehingga hampir ia tak dapat bernapas.
Karena kesakitan, Blo'on lupa kalau dirinya sedang menjadi
harimau. Serentak ia gerakkan tangan kanan menampar muka
harimau jantan itu, prak .
Harimau jantan mengerang dan mengaum keras seraya
menyurut mundur beberapa langkah. Rupanya tamparan
tangan si Blo’on cukup keras. Dan kebetulan pula kuku-kuku
yang runcing tajam dari kaki kulit harimau itu tepat mengenai
hidung harimau jantan. Seketika harimau itu meraung-raung
kesakitan, hidungnyapun berdarah . .
Memang sejak bangun dari tidurnya didalam guha, Blo'on
kerap kali merasa aneh pada dirinya sendiri. Tubuhnya serasa
ringan sekali digerakkan. Ia dapat memanggul Rajawali-mata-
biru untuk melompati sebuah jurang. Ia. dapat mencengkeram
tangan Hong-ing sehingga tak dapat berkutik. Ia dapat
menghindari serangan dari tiang-lo dan murid-murid Hoa-san-
pay. Benar-Benar ia telah mengalami suatu perobahan yang
aneh dalam dirinya. Namun ia tak tahu apa sebabnya.
Demikian pula dengan tamparannya kemuka harimau
jantan itu. Ia tak menyangka bahwa tamparan itu dapat
membuat harimau jantan meraung raung kesakitan. Andaikata
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ia mengetahui mengapa dirinya memiliki tenaga sedemikian
saktinya, tentulah ia akan menyusuli pula dengan tamparan
yang menggebu-gebu kepada harimau jantan itu.
Tetapi Blo'on tak menyadari dan karena itu iapun
ketakutan. Takut kalau harimau jantan itu akan balas
menyerangnya. Maka diam-diam ia terus beringsut-ingsut
menyelinap kedalam semak. Maksudnya hendak melarikan diri.
Tetapi secepat itu harimau jantanpun kedengaran
meraung dan loncat mengejarnya. Sebenarnya harimau itu,
seperti lazimnya mahluk jantan terhadap betina, tidaklah
bermaksud hendak menerkam sang betina. Walaupun
menderita luka tetapi harimau itu tak marah. Tetapi Blo'on
menyangka, lain. Harimau loncat kearahnya tentulah hendak
menerkam. Maka karena ketakutan, secepat harimau jantan
tiba dihadapannya, secepat itu pula ia ayunkan tangan atau
cakar kanannya untuk menampar, prak . . .
Harimau jantan tak berusaha untuk menghindar. Pada
kebiasaannya, apabila sedang bermesra-mesraan dengan sang
betina, betina itu memang se ring menggerakkan kaki untuk
mencakar-cakar tubuhnya dan harimau jantan membiarkannya
saja, paling-paling ia balas menggigit kepala atau leher sang
betina. Gigitan yang mesra.
Tetapi diluar dugaan, tamparan harimau blo'on itu tepat
sekali mendarat pada kedua mata harimau jantan. Dan kuku-
kukunya yang runcing keras dengan tepat sekali menghantam
kedua biji mata harimau jantan. Sedemikian keras sampai biji
mata harimau itu pecah dan berhamburan keluar....
Muka berlujmuran darah, kelopak mata complong dan
meraunglah harimau jantan itu sekuat kuatnya seraya
mengamuk tak keruan. Melonjak-lonjak keatas, berguling-
guling kesemak, menerkam pohon, mencakar - cakar tanah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sehingga menimbulkan lubang besar dan lain-lain gerak
tingkah yang menge

Halaman 16-17 hilang

tidur tengkurap maka tak dapat diketahui bagaimana


tampang mukanya.
Blo'on terkejut. Mengapa kakek itu tidur tengkurap begitu
nyenyak diatas tanah. Apakah .dia . . . sudah mati? Karena
dibayangi ketakutan hal itu, cepat Blo'on berjongkok dan
membalikkan tubuh orang itu.
"Astaga . . . !" Blo'on menjerit seraya Ioncat mundur.
Ternyata kakek itu bukan lain ialah Beruang-sakti Han Tiong.
Blo'on terus hendak lari. Tetapi beberapa saat kemudian ia
berpaling. Hai . . mengapa kakek itu diam saja dan masih
tetap rebah ditanah.
Blo'on hentikan larinya, berputar tubuh dan tegak beberapa
saat memandang sosok tubuh itu. Rupanya dia masih takut.
Setelah yakin bahwa Beruang-sakti itu memang rebah tak
bergerak lagi, barulah ia maju menghampiri.
Tetapi ketika hampir dekat, kembali ia berhenti, serunya :
"Hai, mengapa engkau memandang aku tak berkedip begitu ?"
Memang Beruang-sakti rebah tertelentang dengan sepasang
matanya masih terbuka lebar.
Sampai dua tiga kali Blo'on mengulang seruannya, tetap
kakek itu diam saja. Akhirnya Blo'on memberanikan diri maju
beberapa langkah lagi. Hatinya berkebat kebit karena melihat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sepasang mata kakek itu tetap terbuka dan menurut anggapan
Blo'on seperti memandang kepadanya.
Ia maju selangkah dan selangkah lagi sehingga tiba disisi
Beruang sakti. Ia merasa aneh mengapa, mata Beruang-sakti
itu terus terbuka tak pernah mengatup. Dan suatu
pemandangan yang menyebabkan dia melonjak kaget ialah
luka sebesar genggaman tangan yang menghias dada kakek
itu. Luka itu menganga besar, berlumuran darah yang
mengental merah.
"Hai, dia mati !" akhirnya Blo’on berseru ka get setelah
memandang dengan seksama keadaan tetua nomor dua dari
partai Hoa-san-pay itu.
"Aneh. kakek ini sakti sekali, siapa yang membunuhnya ?
Aku . . ?"' tiba-tiba Blo'on menunjuk pada dirinya sendiri.
Tetapi sesaat kemudian ia menjerit: "Tidakl Tidak! Aku tidak
membunuhnya!
Ia hendak lari tetapi berhenti lagi, lalu maju menghampiri
ketempat Beruang-sakti Han Tiong. Diperiksanya luka pada
dada kakek itu. Ah. sebuah luka yang cukup dalam. Entah
bagaimana, karena ingin mengetahui dalam luka itu, tanpa
disadari tangannya terus menyusup masuk kedalam luka ....
"Ho, bangsat, ternyata engkau seorang pembunuh ganas !"
tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan bengis.
Blo'on tersentak kaget dan terus melonjak bangun. Ketika
berputar tubuh, ternyata Him Pa sudah berada dibelakangnya,
kiranya hanya empat lima langkah jaraknya. Mata pemburu itu
berkilat-kilat bengis, wajahnya menyala kemarahan. Tangan
kanan pemburu itu mencekal sebatang golok yang berkilat-
kilat.
"Paman ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tak perlu memanggil aku paman, hai bangsat !" bentak
Him Pa dengan mata mendelik, "aku telah salah menolong
seorang pembunuh. Kukira engkau benar-benar seorang
pemuda yang jujur kusembunyikan engkau dari kejaran Han
lotiang. Tiada tahunya ternyata engkau seorang pembunuh
yang ganas, ganas seperti harimau !"
"Paman engkau salah !" teriak Blo'on, "memang aku masih
meminjam kulit harimaumu ini tetapi aku tidak ganas seperti
harimau ..."
"Tutup mulutmu !"
"Kalau aku menutup mulut, bagaimana aku dapat memberi
keterangan pada paman ?"
"Engkau pembunuh keji !" bentak Him Pa yang mau
melayani ocehan Blo'on.
"Siapa yang kubunuh ?"
"Bangsat, jangan omong tak keruan. Siapa lagi yang
membunuh Han lotiang itu kalau bukan engkau !"
"Tidak, aku tidak membunuhnya ..."
"Bangsat, sudah jeias berbukti, engkau masih berani
menyangkal ?"
“Siapakah bangsat itu? Aku ? Aku bukan.. bangsat, aku
Blo'on ....”
"Jangan banyak mulut !" bentak Him Pa pula, "lekas
serahkan dirimu kuikat dan kubawa ke markas Hoa-san-pay !"
"Mengapa ?" Blo’on tetap membantah.
"Engkau telah membunuh Beruang-sakti Han Tiong, engkau
harus mempertanggung jawabkan dosamu kepada para tetua
Hoa-san-pay !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on tertawa : "Ah, paman salah faham. Sekali-kali aku
tak membunuh kakek ini. Ketika aku turun gunung hendak
mencari pondok paman, kulihat dia sudah rebah menggeletak
ditepi Jalan. Waktu kuperiksa, ternyata dadanya terluka dan
dia sudah mati ..."
"Ho, kemarin aku memang percaya engkau seorang anak
yang jujur dan kasihan. Tetapi tidak saat ini setelah kulihat
tanganmu berlumuran darah membunuh Han lotiang !"
"Celaka !" tiba-tiba Blo'on menjerit kaget, "tadi aku hanya
ingin mengetahui berapakah dalamnya luka di dada kakek ini .
.."
"Sudah, jangan banyak mulut ! Lekas serahkan dirimu.
Kalau tidak, hm ..."
"Bagaimana ?" tanya Blo'on.
"Terpaksa harus kutangkap dengan kekerasan."
"Jangan paman," buru-buru Blo'on berseru, "aku merasa
telah menerima pertolonganmu, kalau engkau hendak
memukul badanku, kepalaku atau mana saja, aku rela. Bahkan
kalau engkau hendak membunuhku, akupun takkan melawan.
Tetapi janganlah paman membawaku keatas gunung lagi !"
"Beruang-sakti Han Tiong adalah salah seorang tetua Hoa-
san-pay. Karena engkau bunuh, maka engkau harus diadili
oleh orang Hoa-san-pay!”
"Apakah paman orang Hoa-san-pay juga?"
"Bukan." sahut Him Pa, "tetapi aku bersahabat baik dengan
orang Hoa-san-pay. Dan akupun memang tak senang kepada
pembunuh."
"Tetapi paman, aku benar-benar tidak membunuhnya.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Him Pa tertawa menyeringai : "Hm, apakah! engkau hendak
membangkang ?"
Pemburu itu melangkah maju menghampiri ke hadapan
Blo'on. Sikapnya bengis sekali.
"Jangan paman, jangan memaksa aku ..." kata Blo'on
seraya beringsut mundur.
"Bangsat . . . !" Him Pa terus loncat menabas Blo’on tetapi
pemuda itu karena ketakutan loncat ke samping. Sekali loncat
ia sudah berada tujuh delapan langkah.
"Ho, rupanya engkau memiliki ilmu ginkang yang hebat "
Him Pa loncat memburu. Ia mainkan ilmu golok Angin-puyuh-
mengamuk - sahara. Golok berhamburan laksana petir
menyambar, menimbulkan deru angin macam angin puyuh.
Blo'on makin ketakutan. Ia terus main loncat menghindar.
Dan akhirnya karena tak tahan menerima serangan golok
yang sehebat itu. La terus melarikan diri.
"Hai, hendak lari kemana engkau !" teriak Him Pa seraya
mengejar. Demikian keduanya segera kejar mengejar.
Him Pa menang mengerti ilmusilat, walaupun tidak berapa
tinggi. Karena ia biasa masuk keluar hutan, naik turun
gunung, maka ia dapat memiliki ilmu gin-kang yang hebat.
Tetapi benar-benar ia merasa aneh dan heran, mengapa tak
mampu mengejar si Blo'on.
Sedangkan Blo'onpun tak menyadari apa yang
dilakukannya. Ia merasa takut dan harus menyelamatkan diri
dari kejaran Him Pa yang hendak membunuhnya. Ia tak
menyadari bahwa larinya itu sepesat angin. Pendek kata,
setiap kali ia berpaling kebelakang dan melihat Him Pa masih
beberapa belas langkah dibelakangnya, legahlah hatinya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Demikian kurang lebih setengah jam mereka berlari-lari,
tiba-tiba Blo'on menjerit kaget dan berhenti. Ternyata
dihadapannya terbentang sebuah jurang. Jalanan disitu
merupakan sebuah karang buntung. Hanya ada dua pilihan
baginya. Balik kembali dan harus menghadapi Him Pa atau
loncat ke jurang yang lebarnya hampir lima meter.
"Ho, akhirnya engkau tentu kubunuh !" teriak Him Pa
dengan napas terengah-engah.
Bukan karena Blo'on takut menghadapi pemburu itu. Tetapi
ia merasa telah ditolong, dia tak mau berkelahi dengan orang
itu. Untuk menghindarkan diri dari kejaran Him Pa tiada lain
jalan kecuali harus melompati jurang itu.
"Paman, aku benar-benar tidak membunuh kakek Hoa-san-
pay itu. Kelak pada suatu hari aku tentu akan datang ke Hoa-
san-pay untuk menjelaskan persoalan itu," tiba-tiba Blo'on
berpaling dan berseru kepada Him Pa. Setelah itu cepat ia
berputar tubuh dan terus enjot kakinya melayang ke udara.
"Hai, hendak lari kemana engkau . . !" Him Papun cepat tiba
ditepi karang tetapi Blo'on sudah terapung diatas mulut
jurang. Pada lain kejab, pemuda itu sudah mendarat di
seberang karang, melambaikan tangan lalu berlari ke balik
gunung.
Him Pa seperti orang kebakaran jenggot. Dia lari kian
kemari, melonjak dan banting-banting kaki, memekik dan
memaki-maki : "Bangsat . . . keparat, jahanam . . . awas,
kalau ketemu lagi, tentu kucincang tubuhmu ..."
Namun Blo'on sudah tak mendengar. Dia sudah rnulai
menuruni lereng gunung. Dan setiba dikaki gunung, ia terus
berjalan menurut jalan yang terbentang kearah utara. Ia tak
tahu akan menuju kemana. Pokok asal berjalan saja.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Menjelang petang hari, akhirnya ia melihat segunduk
perumahan penduduk. Rupanya sebuah pedesaan kecil
dilereng gunung. Segera ia pesatkan langkah menuju
kesebuah rumah.
Keadaan di tempat ini sunyi senyap. Pun dalam rumah itu
hanya diterangi oleh pelita yang tak begitu terang nyalanya.
Blo'on mengetuk pintu. Lama baru terdengar derap langkah
orang berjalan keluar. Langkahnya pelahan dan tertatih-tatih.
Kemudian terdengar bunyi kancing pintu dilepas dan lalu daun
pintu mulai bergerak terbuka.
Seorang nenek tua menyembul keluar. Wajahnya penuh
keriput ketuaan, rambutnya putih tetapi mulutnya masih dapat
mengomel dan menda prat : "Ih, pengemis tua, mengapa
masih mengganggu rumahku? Sudah kukatakan kami ini orang
miskin, mengapa masih minta nasi, uh ... "
Pada saat pintu dibuka, sebesarnya Blo'on berdiri
menghadap ke pintu. Tetapi demi mendengar nenek didalam
rumah mengomel panjang pendek menyebut-nyebut
pengemis, ia kira kalau nenek itu sedang bicara dengan
seorang pengemis. Maka Blo'oopun berputar tubuh ke
belakang hendak melihat dengan siapakah nenek itu bicara.
Blo'on masih mengenakan pakaian kulit harimau. Hanya
bagian kepala harimau itu, ia singkap kan kebelakang agar ia
dapat bernapas longgar. Kalau dari muka, memang seperti
harimau berkepala orang. Tetapi apabila dilihat dari belakang,
karena kepala harimau itu terkulai pada tengkuknya, maka
sepintas pandang menyerupai seekor ha rimau yang tengah
berdiri.
"Aiiiii . . . . " tiba-tiba Blo'on terkejut karena si nenek
menjerit keras dan menyusul terdengar suara tubuh jatuh ke
lantai, bluk ....
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on cepat berpaling dan ternyata nenek itu sudah
terkapar menggeletak di lantai. Sudah tentu ia terkejut dan
buru-buru berjongkok untuk menolongnya. Ia tak tahu apa
sebab nenek itu sekonyong-konyong menjerit dan rubuh.
Bukankah ne nek itu habis memaki-maki seorang pengemis ?
Tetapi mengapa ia tak melihat seorang lain kecuali dirinya ?
Uh, apakah nenek itu menyangka dia seorang pengemis lalu
memaki-makinya ?
Tengah Blo'on sibuk menolong supaya nenek itu sadar dari
pingsannya, tiba-tiba muncullah seorang kakek dan seorang
anak perempuan kecil dari dalam rumah.
Demi melihat sinenek menggeletak di lantai diterkam oleh
seekor harimau, kakek dan anak perempuan itu menjerit.
Hanya setelah menjerit, si kakek ikut rubuh tetapi anak
perempuan kecil itu terus lari keluar dari pintu belakang dan
berteriak teriak : "tolong, tolong . . . . "
Dalam sekejab saja, beberapa orang lelaki desa itu keluar
menghampiri sianak perempuan kecil. Mereka menanyakan
Kepada anak itu.
"Itu...tu ...itu . . " seru sianak perempuan sambil menunjuk
kerumahnya.
"Itu, itu apa ?" tanya beberapa penduduk.
"Nenek . . nenekku .. dimakan . . kakek .. "
Sekalian orang terkejut dan saling berpandangan. Akhirnya
salah seorang lelaki tua memegang tubah anak perempuan
kecil itu dan berkata dengan sabar : "Nak, jangan gugup,
katakanlah dengan pelahan, mengapa nenekmu?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Setelah dielus-elus punggungnya oleh lelaki tua itu,
akhirnya anak perempuan kecil itu berkata dengan agak
tenang : "Nenekku dimakan harimau . . . !"
Mendengar itu menjeritlah sekalian orang itu : "Hai,
benarkah itu? Apa engkau tidak bermain-main?"
"Tidak, mari ke rumahku. Harimau itu masih menjilati tubuh
nenek," kata anak perempuan kecil seraya melangkah kearah
rumahnya.
Berpuluh-puluh penduduk itu dengan tegang mengikuti si
anak perempuan. Ada beberapa yang lari pulang mengambil
senjata. Ada yang membawa parang, golok, pentung, arit,
tombak, cangkul dan linggis
Ketika tiba dsmuka rumah, orang-orang itu melihat seekor
harimau tengah menerkam tubuh nenek dari anak perempuan
kecil itu. Hari malam dan penerangan dalam rumah itu tak
begitu terang. Seharusnya penduduk itu merasa heran
mengapa seekor harimau menelungkupi korbannya dengan
kepala berpaling kebelakang dan menengadah ke-atas.
Tetapi penduduk tak menghiraukan hal itu. Begitu melihat
segunduk tubuh harimau, mereka terus menjerit dan memekik
lalu mengepung diambang pintu. Bagaimanapun, mereka
masih takut terhadap seekor harimau yang sedemikian
besarnya Mereka hanya berkaok-kaok seraya mengacung-,
acungkan senjatanya.
Ada seorang lelaki setengah tua yang bernyali besar dan
membawa golok, melangkah masuk hendak menyerang
harimau itu. Sekonyong-konyong! harimau itu berbangkit dan
berputar tubuh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ne . . " baru Blo'on hendak berkata tentang nenek itu,
lelaki setengah tua tadi sudah menjerit dan lari keluar,
sehingga Blo'on tertegun dengan mulut masih menganga.
"Harimau gadungan !" serentak berhamburan teriakan dari
penduduk yang berjaga diluar pintu.
Setelah hilang kejutnya, Blo'on melangkah ke pintu, la
heran mengapa sekian banyak penduduk sama mengacungkan
senjata kepadanya dan berteriak-teriak hendak
membunuhnya.
"Mengapa kalian ribut-ribut ?" akhirnya Blo'on menegur
mereka.
"Bunuh harimau gadungan! Hancurkan harimau siluman . !"
sambut puluhan orang itu. Bahkan ada beberapa orang yang
maju hendak menyerang.
"Kamu gila!" akhirnya karena jengkel, Blo'on berteriak keras
sehingga orang-orang itupun tersentak diam.
"Aku seorang manusia seperti kamu !" kata Blo'on pula.
"Bukan! Engkau tentu macan gadungan . . .
"Apa itu macan gadungan ?" balas Blo'on tak kalah
kerasnya.
"Macan siluman !" teriak orang-orang.
"Apa itu Macan siluman ?" Blo'on tetap melantang.
"Macan siluman ialah manusia yang mempunyai ilmu
menjadi macan lalu memakan orang !"
"ih, tetapi aku tak suka makan orang. Makananku nasi,"
seru Blo'on pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bangsat, engkau masih berani berpura-pura? Lihatlah,
nenek Ong telah engkau makan . . . !"
"Bunuh ! Tak usah diajak bicara, hayo bunuh macan
siluman itu!" serentak terdengar pula hiruk pikuk penduduk
berteriak-teriak hendak menyerbu Blo'on.
"Tahan " cepat Blo'on berseru mencegah orang-rang yang
hendak menyerbu itu, "nenek itu tak kumakan, masih utuh.
Periksalah sendiri. Dia hanya pingsan karena kaget melihat
aku memakai kulit harimau. Tentu mengira aku seekor
harimau “
Beberapa penduduk maju menghampiri ketem-pat nenek
Ong. Dilihatnya nenek itu tak menderita luka. Dan setelah
diperiksa, napasnyapun masih.
Tentulah nenek itu hanya pingsan. Hampir mereka mau
mempercayai keterangan Blo'on atau tiba-tiba seorang lelaki
bertubuh pendek kekar, berteriak nyaring : "Macan gadungan,
kalau kami tak keburu datang, nenek itu tentu sudah engkau
makan habis !"
Blo'on marah : "Hai, bung, engkau manusia akupun
manusia. Mengapa engkau tak percaya pada omonganku?"
"Siapa sudi percaya?" teriak orang itu, "desa ini sudah
banyak menderita dari gangguan macan gadungan. Tiap tiga
hari kami harus mengirim makanan kepadanya. Kalau tidak,
dia tentu akan mengganas disini. Nenek Ong ini salah seorang
korban. Karena tak punya uang untuk mengantar makanan,
macan itu datang kemari dan mengambil anak lelaki dan
menantu nenek Ong. Sampai sekarang tiada beritanya."
'O." desuh Blo'on, "dimanakah macan gadungan itu ?"
Orang pendek itu tertawa mengejek: "Disini!"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Disini? Mana?" Blo'on terbeliak.
"Engkau!"
"Gila !" Blo'on menjerit marah, "aku bukan macan
gadungan, aku manusia biasa !"
"Kalau manusia biasa, mengapa memakai kulit macan?"
teriak beberapa orang.
"Karena pakaianku kotor terpaksa aku diberi pinjam kulit
harimau ini oleh paman Him Pa seorang pemburu yang tinggal
dalam hutan disebelah puncak itu," kata BIo on sambil
menunjuk ke puncak gunung disebelah selatan, "kalau engkau
tak percaya, tunjukkan tempat macan gadungan itu, aku akan
menangkapnya!"
Orang-Orang itu tertegun mendengar pernyataan Blo'on.
Sesaat kemudian mereka gembira. Mereka tak tahu siapa
Blo'ori itu dan tak mempedulikan apakah Blo'on mampu
menangkap macan gadungan itu atau tidak. Yang dirasakan,
mereka menderita tekanan dari seorang penjahat yang
menyaru jadi macan dan memeras penduduk disitu. Dan kini
ada seorang yang menyatakan dapat menangkap macan
gadungan itu. Serentak merekapun menyambut dengan
gembira : "Baik, mari kita antarkan engkau ke sana !"
Berpuluh-Berpuluh penduduk segera hendak membawa
Blo'on tetapi Blo'on menolak : "Nanti dulu. Aku bersedia
menghadapi macan gadungan itu tetapi aku hendak
mengajukan dua buah permintaan kepada penduduk disini."
"Katakanlah !" seru mereka.
"Pertama, aku minta makan. Karena sejak pagi tadi,
perutku belum terisi sebutir nasipun jua. Dan kedua, aku
minta pakaian," kata Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tentu!" teriak mereka, "kami tentu akan memberikan
permintaanmu itu !"
"Kapan ?" seru Blo'on.
"Setelah engkau benar-benar dapat menangkap harimau
gadungan itu !"
"Tidak !" teriak Blo'on. "makanan harus sekarang karena
aku sudah lapar sekali. Kalau lapar mana aku dapat berkelahi?
Coba kalian pikir !"
Karena menganggap omongan Blo'on itu benar, akhirnya
Blo'on diajak kerumah salah seorang penduduk. Disitu dia
diberi makan dan minum sekenyangnya.
.Setelah makan, Blo'on bercakap-cakap sebentar
menanyakan tentang keadaan macan gadungan yang hendak
ditangkapnya itu. Ternyata sejak beberapa bulan yang lalu,
memang di desa itu telahi muncul seekor harimau yang ganas.
Banyak ternak yang hilang. Beberapa penduduk yang bernyali
besar, beramai-ramai mencari binatang itu yang tinggal
disebuah guha dalam lembah yang sunyi. Dalam pertempuran,
penduduk kalah dan menyerah. Ternyata macan itu bukan
macan sesungguhnya melainkan seorang yang menyaru.
Rupanya orang itu pandai ilmusilat sehingga berpuluh-puluh
penduduk dapat dikalahkan.
"Sejak itu kami diharuskan mengirim makanan dan
minuman kepadanya, "orang itu mengakhiri ceritanya.
"O, kurang ajar benar," seru Blo'on, "dia hendak memeras
rakyat yang miskin."
"Itu masih belum seberapa," kata orang itu pula, "dia masih
minta disediakan gadis atau wanita muda."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, kurang ajar benar!" teriak Blo'on seraya kepalkan
tangannya seolah-okh hendak meninju. Dia sebenarnya tak
mengerti ilmusilat walaupun ayahnya seorang jago silat nomor
satu. Tetapi dia marah mendengar perbuatan yang begitu
jahat. Namun setelah bersikap seperti jagoan yang garang,
tiba-tiba ia membayangkan wajah harimau jantan kemarin.
Seketika bergidiklah bulu romanya.
"Hai," teriaknya keras sehingga tuan rumah tersentak
kaget, "harimau itu harimau gadnngan atau harimau
sungguh?"
"Gadungan," sahut yang empunya rumah. Dan hati
Blo'onpuo tenang kembali. Kalau melawan orang, ia tak
gentar. Ia pernah bertempur dengan Rajawali-mata-biru dan
dengan Walet kuning Ui Hong-ing, bahkan pernah dikepung
oleh berpuluh-berpuluh anakmurid Hoa-san-pay. Ia anggap
cara o-rang yang katanya pandai ilmusilat itu, ternyata hanya
begitu saja.
"Bagus, antarkan aku sekarang " serunya seraya
berbangkit.
Dengan diantar oleh belasan penduduk yang bersenjata,
Blo'on dibawa kesebuah lembah dipedalaman gunung. Setelah
tiba, Blo'on lalu dilepas seorang diri memasuki lembah itu.
"Pulanglah," kata Blo'on dengan garang seolah-olah yakin
tentu menang, "tunggu saja nanti kuseret mayatnya !"
Melihat nada dan tingkah Blo'on yang begitu garang,
legahlah hati penduduk itu. Setitikpun mereka tak pernah
menyangka bahwa pemuda itu sesungguhnya hanya seorang
anak blo’on. Mereka pun lalu pulang.
Saat itu rembulan remang. Permukaan lembah tertutup
kepekatan malam. Blo’on mulai ayunkan langkah menyusur
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
jalan yang menjurus ke dalam lembah. Seluruh lembah
tertutup rumput dan alang-lang setinggi orang. Kedua batas
lembah, merupakan karang yang menjulang tinggi, bertaut
pada lereng gunung.
Akhirnya tibalah Blo'on di dalam lembah. Namun ia heran
mengapa tak seorangpun yang muncul mengganggunya.
Kemanakah gerangan harimau gadungan itu? Huh, apakah dia
takut kepadaku ? Blo'on mulai bertanya pada diri sendiri.
"Hai, macan gadungan, keluarlah dari tempat
persembunyianmu agar kubunuh!" teriaknya berulang-ulang.
Namun tiada penyahutan.
Sekonyong-konyong dari balik gerumbul belukar rumput.
terdengar suara anjing menggonggong dan burung menguak-
nguak. la heran Mengapa anjing .dan bukan harimau. Adakah
harimau gadungan itu dapat berobah diri jadi anjing ?
Blo'on lari menghampiri. Setelah menyibak dan menerobos
gerumbul belukar, akhirnya ia melihat sebuah gua karang.
Mulutnya cukup lebar untuk dimasuki orang. Ketika
menginjakkan kaki dimulut guna, segera la disambut dengan
dan gonggongan anjing dan kuak burung yang keras. Tetapi
tak tampak barang seekor anjing atau burung yang
menyongsong keluar.
Blo'on tak peduli. Ia terus melangkah kedalam. Guha itu
dari luar tampaknya gelap, tetapi ketika berada di dalam,
ternyata terdapat penerangannya. Ialah dari sebuah lubang
pada langit guha. Dari lubang itu, sinar matahari atau
rembulan dapat menyorot masuk.
Ketika berjalan kedalam, tiba-tiba kakinya terantuk sebuah
benda yang melintang di tanah. "Uh . . " Blo'on terhuyung ke
muka dan jatuh mengusur ke tanah, "Hai . . ," kembali ia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menjerit kaget ketika mukanya seperti dijilati sebuah lidah
yang berair.
Cepat ia melonjak bangun. Ah . . . ternyata yang menjilati
mukanya itu seekor anjing yang besar. Tetapi anjing itu tak
dapat bergerak leluasa. Ternyata dia diikat dengan rantai dan
ujung rantai dilekatkan pada dinding guha.
Anjing menyalak-nyalak lalu beringsut-ingsut mendekam
seraya mencawatkan ekor. Persis seperti tingkah anjing yang
ketakutan dan minta pertolongan.
Blo'on kasihan. Dibukanya tali pengikat anjing itu. Tetapi
serentak dengan itu, terdengar dua buah suara yang aneh.
Suara burung menguak dan suara monyet mencuit - cuit.
Setelah beberapa saat, mata Blo’onpun sudah terbiasa
dengan tempat itu. Segera ia dapat melihat seekor monyet
dan seekor burung rajawali terikat dengan rantai. Monyet itu
tak henti-hentinya melonjak-lonjak kegirangan ketika melihat
Blo'on. Anjing besar yang sudah terlepas dari rantai ikatannya
itupun mulai menggigit kakinya dan menarik-nariknya
ketempat monyet dan burung.
"Setan," gumam Blo'on, "tak perlu engkau tarik-tarik, aku
memang hendak melepaskan mereka."
Monyet dan burung rajawali segera dibebaskan dari rantai
yang mengikat kaki mereka pada dinding. Setelah bebas,
monyet terus loncat keatas kepala Blo'on dan menampar -
nampar kepalanya yang gundul. Sedang burung rajawalipun
terus terbang lalu hinggap diatas bahunya.
"Edan !" Blo'on menjerit seraya menyiak monyet itu
ketanah, "masakan kepala manusia dibuat keplakan, eh . .
setan, engkau anggap bahuku ini sebatang dahan pohon ?" ia
berpaling menegur burung rajawali. Namun burung itu diam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
saja. Dan karena tidak menganggunya, Blo'on pun
membiarkan saja burung itu hinggap dibah-nya.
Blo'on memandang dan memeriksa keadaan guha itu. Tiba-
Tiba ia menjerit kaget ketika melihat sesosok tubuh harimau
menggeletak ditanah. Cepat ia menghampiri : "Hai, aneh,
badannya harimau tetapi mengapa kepalanya orang . , . hus
eh, seperti aku, mengapa meniru seperti aku ?"
Blo'on teringat kalau ia masih memakai kulit harimau. Dan
keadaan orang yang menggeletak ditanah itupun serupa
dengan dirinya.
"Hai, mengapa engkau diam saja? Hayo, bangun !"
disepaknya pantat orang itu. Tetapi orang itu tetap diam tak
bergerak.
"Kurang ajar, apa engkau suruh aku memondongmu ? Huh,
anjing, gigitlah hidungnya !" karena marah, Blo'on menyuruh
anjing itu. Entah bagaimana, anjing itu seperti mengerti
perintah BIo' on. Ia terus menghampiri muka orang itu lalu
menggigit hidungnya.
"Hai, kurang ajar, mengapa hidungnya engkau gigit sampai
putus ?" teriak Blo'on lalu hendak memukul anjing. Anjing
merebah ketanah dan bercawat ekor, pertanda ketakutan.
"Celaka, kalau dia minta ganti hidungnya, kemana aku
harus mencarikan ?" Blo'on mengomel uring-uringan, "oh,
benar, "ia berpaling ke arah anjing yang masih mendekam di
tanah, lalu menudingnya, "anjing, kalau dia minta ganti
hidungnya, hidungmu akan kuambil dan kuberikan
kepadanya!"
Anjing itu tak menyahut melainkan mengopat-apitkan
ekornya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on membungkuk tubuh memeriksa muka orang itu.
Tiba-Tiba ia berseru kaget : "Hai, apa engkau mati ? Kalau
tidak mati, mengapa matamu meram saja ?" ia ulurkan
merabah hidung orang itu dan serentak menjeritlah ia : "Hai,
sudah tak bernapas . . . !"
"Celaka!" Blo'on tiba-tiba melonjak bangun dan terus lari
keluar, "kalau diketahui orang, aku tentu dituduh yang
membunuh lagi. Ketua Hoa-san-pay, aku yang dituduh
membunuhnya. Kakek Hoa-san-pay juga aku yang dituduh
menjadi pembunuhi nya. Lalu orang ini, tentu aku juga yang
akan dituduh sebagai pembunuhnya !"
Beberapa puluh langkah dari guha, tiba-tiba Blo' on
berhenti. Dan saat itu anjing, monyet dan rajawalipun
mengikutinya.
"Hai, mengapa kalian ikut aku?" hardiknya. Namun ketiga
binatang itu tak mengacuhkan. Mereka diam saja, "hem, sial.
Aku sendiri sukar cari makan, mengapa kalian ikut aku."
Ia terus lanjutkan langkah dan ketiga binatang itupun tetap
mengikutinya. Kalau ia berhenti, merekapun berhenti.
Akhirnya ia kewalahan: "Hm, kalau kalian mau ikut aku, boleh
saja. Tetapi harus cari makan sendiri, mau ?"
Anjing menyalak, monyet menguik dan burung rajawalipun
berkaok. Rupanya mereka menyetujui syarat yang dikatakan
Blo'on.
"Bagus, mari kita jalan," seru Blo'on.
Tiba dimulut desa, beberapa penduduk sudah tampak
menyambut: "Mana harimau gadungan itu?
"Ha, apa maksud kalian?" Blo'on terbelalak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hal, bukankah engkau sudah berjanji akan membunuh
harimau gadungan dan menyeret mayatnya kemari ?" teriak
beberapa penduduk.
"Ho, benar, benar ! Aku lupa membawa ma yatnya kemari,"
seru Blo'on, "tetapi ..."
"Tetapi bagaimana ?" seru penduduk.
"Tetapi bukankah kalian takkan menuduh aku sebagai
pembunuh ?"
"Gila," seru mereka, "justeru kami minta engkau
membunuhnya ?"
"0, aku tak bersalah kalau membunuhnya?" masih Blo'on
menegas.
"Siapa bilang salah! Justeru harimau gadungan yang jahat
itu harus dibunuh !"
"Awas, kalau engkau tak dapat membunuhnya engkau
sendiri yang akan kami bunuh!" teriak salah seorang
penduduk.
"Ya, engkau sendirilah macan gadungan itu" seru pula
seorang lain.
"Tutup mulutmu " Blo'on terus berputar tubuh dan lari
kembali ke lembah. Beberapa langkah jauhnya, ia berhenti,
berpaling dan berseru : "Hai, tunggu saja, tentu akan kubawa
mayatnya kemari!
Ia terus lari lagi tetapi beberapa langkah jauhnya, ia
kembali berhenti dan berseru keras-keras : "Hai, jangan lupa
sediakan makanan dan minuman lagi untukku!"
Blo'on dengan diiring oleh anjing kuning monyet dan
burung rajawali, kembali ke lembah.' Mayat orang yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menyaru jadi harimau itu lalui dipanggulnya dan dibawa turun
ke desa lagi.
Gemparlah sekalian penduduk kampung itu ketika melihat
penjahat yang menyaru jadi macan.. Rupanya penjahat itu
banyak sekali menimbulkan kerugian pada penduduk, maka
untuk melampiaskan kemarahannya, merekapun memaki-
maki. menyepak dan menggebuk mayat penjahat itu.
Karena sampai sekian saat belum juga penduduk itu
mengurus dirinya, Blo'on berteriak: "Sudahlah, sudahlah!
Orang mati masa digebuki terun menerus. Dia sudah mati,
kubur atau lempar saja mayatnya ke jurang supaya dimakan
burung. Tetapi jangan terus menerus disiksa begitu rupa.
Jangan mengurus yang sudah mati, tetapi aku yans masih
hidup ini harus kalian urus !"
Pendudukpun dapat menerima nasehat Blo'on. Mayat itu
lalu dikubur. Kemudian mereka mengurus Blo'on dianggap
sebagai pahlawan yang berja sa telah membebaskan desa itu
dari gangguan penjahat. Blo'on sendiri tak merasa telah
membunuh penjahat itu karena begitu tiba di guha, ia terus
terantuk pada tubuh si penjahat yang sudah rebah menjadi
mayat ditanah. Siapa yang membunuhnya ia sendiri tak tahu
dan memang menganggiap tak perlu tahu. Ia girang karena
dirinya tak dituduh sebagai pembunuh.
Blo'on dipestakan lagi, dijamu dengan makanan dan
minuman yang lezat. Demikian pula dengan ketiga binatang
pengikutnya. Selesai makan, Blo’on minta pakaian. Kulit
harimau dilipat dan disimpan dalam sebuah bungkusan Pikir
blo' on, kelak hendak ia kembalikan kepada si pemburu Him
Pa.
Keesokan harinya, setelah mendapat keterangan dan
penduduk. Blo’onpun melanjutkan perjalanan menuju ke kota
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Song-hian-koan untuk mencari sinshe yang menurut Him Pa
pandai mengobati orang yang terserang penyakit syarat.
Hoa-san merupakan salah sebuah dari Lima Gunung besar
di negeri Tiongkok (Cina). Disebut Lima Besar karena letaknya
arah. Hoa-san disebut Se-gak atau Gunung Barat. Thay-san
disebut Tang-gak atau Gunung Timur. Jong- san itu Lam-gak
atau Gunung Selatan dan Heng-san sebagai Pak-gak atau
Gunung Utara. Sedangkan Tiong-gak atau Gunung Tengah
ialah Ko-san, gunung yang menjadi pangkalan dari gereja
Siau-lim-si.
Hoa-san terletak dikota Hoa-im-koan wilayah Siamsay.
Seterusnya dari kaki gunung, Blo'on terus menuju keutara.
Menjelang petang, tibalah ia disebuah kota. Langsung ia
bertanya pada seorang penduduk tentang sinshe yang pandai
itu.
"O, engkau mencari Gan Kui sinshe?" tanya orang itu.
"Entah," sahut Blo'on. Orang itu terbeliak : "Entah ? Apakah
engkau tak tahu nama sinshe itu '?"
"Tolol engkau ini !" Blo'on deliki mata, "kalau tahu masa
aku tanya kepadamu ?"
Orang itu tak senang karena dirinya dimaki sebagai orang
tolol. Ia hendak memberi tahu, malah dibentak dan dimaki.
Tanpa berkata ia berputar tubuh lalu ayunkan langkah.
"Hai, kemana engkau !" Blo'on cepat memburu dan
mencekal lengan orang itu. Orang itu hendak meronta tetapi
tak mampu lepaskan tangannya dari cekalan Blo’on.
"Kurang ajar, engkau hendak membunuh aku ?" orang itu
ayunkan kakinya menendang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Mendengar kata-kata 'membunuh', Blo'on kaget dan
lepaskan tangannya.
"Aku tidak membunuhmu ! Jangan menuduh
sembarangan!" teriaknya.
Setelah bebas, orang itu terus lanjutkan langkah, tak
menghiraukan si Blo'on lagi. Blo’on terlongong-longong. Tiba-
Tiba anjing kuning, monyet dan burung rajawali serempak
memburu orang itu. Anjing menggigit celananya, monyet
loncat menerkam tengkuk dan rajawali mencengkeram kepala
orang itu.
"Tolong ! Tolongngng . . . !" orang itu menjerit-menjerit
ketakutan tetapi tak dapat terlepas dari sergapan ketiga
binatang itu.
Blo'on tertawa lalu menghampirinya : "Aku mau
menolongmu asal engkau mau memberi keterangan tentang
sinshe itu, mau ?"
Karena tak ada lain jalan, terpaksa orang itu setuju. Blo'on
lalu menyuruh ketiga binatang itu menyingkir. Setelah itu ia
berkata pula : "Aku memang tak tahu nama sinshe itu. Kalau
dia bernama Gan Kui, ya Gan Kui. Pokok dia dapat mengobati
penyakitku. Eh, apakah artinya nama itu ?"
Setelah mendapat penjelasan, rupanya orang itupun
bersikap baik. sahutnya : "Gan Kui artinya si Mata Setan.
Entah siapa namanya yang aseli. Karena pandai mengusir
setan dan mengobati orang dengan dipandang saja maka
orang-orang memberi julukan sinshe Gan Kui kepadanya."
"Dimana tinggalnya ?" tanya Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dari sini engkau jalan keutara sampai hampir keluar kota.
Dia tinggal diujung kota. Asal engkau melihat sebuah
bangunan yang mirip dengan sebuah biara, itulah rumahnya."
Blo'on menghaturkan tetima kasih lalu meneruskan
perjalanan.
Tiba diujung kota, memang ia melihat sebuah rumah bercat
merah yang bentuknya mirip dengan sebuah biara. Diruang
luar tampak beberapa orang sedang duduk, la masuk dan
bertanya kepada orang-orang itu. Ternyata mereka juga
orang-orang yang hendak mengobatkan sakitnya.
Setelah mereka satu demi satu dipanggil, akhirnya tiba
giliran Blo'on. Dia berhadapan dengan seorang tua bertubuh
gemuk, memakai kopiah hitam, berkumis panjang dan
mencekal sebatang pipa huncwe dari perak. Dia segera
menanyai Blo' on apa keperluannya datang kesitu.
"Sinshe aku menderita penyakit aneh," kata Blo'on, "ialah
aku merasa seperti kehilangan ingatanku. Aku tak ingat lagi
siapa diriku siapa namaku dan dari mana asalku . . ."
"O, barangkali engkau gila!" tukas sinshe itu.
"Tidak, aku tidak gila," bantah Blo'on, ''aku masih suka
makan, masih kenal orang, masih tahu kalau sinshe ini
berwajah seperti setan."
Tabib atau sinshe itu terbeliak : "Eh, rupanya engkau
memang benar-benar gila. Kalau tidak masakan orang sakit
berani mengatakan seorang tabib berwajah seperti setan .'"
"Ho, kalau begitu aku keliru masuk ke sini," seru Blo'on,
"bukankah nama sinshe ini Gan Kui?"
"Ya."
"Bukankah arti dari kata Gan Kui itu si Mata Setan ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tabib itu terbeliak.
"Kalau yang mempunyai mata setan, tentulah bangsa setan.
Salahkah kalau kukatakan sinshe ini berwajah seperti setan ?"
Sitabib Gan Kui merah wajahnya. Tetapi cepat ia
menghapus kemarahannya dengan tertawa: "Ya, ya memang
namaku Gan Kui tetapi itu hanya nama gelaran sedang aku
sendiri tetap seorang manusia seperti engkau."
"O," Blo'on mendesuh.
"Siapa namamu ?" tanya Gan Kui.
"Itu justeru yang ingin kuketahui karena aku lupa. Seorang
nona memberi nama baru kepadaku si Blo'on."
"Tepat sekali," seru tabib Gan Kui, "memang engkau
searang pemuda blo'on. Lalu penyakit apakah yang
sesungguhnya engkau derita ?"
"Sudah kukatakan tadi, aku kehilangan ingatanku tentang
masa yang lampau. Tulunglah sinshe memeriksa dan memberi
obat.”
"O, baiklah," kata Gan Kui, "mari ikut aku kekamar periksa."
Blo'on mengikuti tabib itu masuk kedalam rumah belakang.
Ternyata gedung itu mempunyai beberapa belas kamar. Blo'on
dibawa kekamar paling belakang sendiri. Sinshe itu menuju
keujung ruang lalu memutar sebuah tombol. Dinding terbuka
dan tampaklah sebuah titian batu yang menurun kebawah
"Mari," kata tabib Gan Kui seraya menuruni titian. Blo'on
meragu sejenak lalu mengikuti.
Ternyata dibawah titian itu merupakan sebuah bangunan
dibawah tanah yang mempunyai beberapa kamar. Blo'on
dibawa masuk kedalam sebuah kamar gelap. Kamar itu hanya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
diterangi sebatang lilin. Dari sebuah almari yang terdapat di
kamar itu, sinshe Gan Kui mengambil seperangkat jubah hitam
dan suruh Blo'on memakai.
"Untuk apa ?" tanya Blo'on.
"Agar dapat kuperiksa apakah dalam tubuhmu terdapat
penyakit biasa atau memang kemasukan setan," kata sitabib.
Blo'on menurut. Ternyata bagian muka dari jubah itu
digambari tulang kerangka manusia dengan cat putih. Begitu
dipakai, seketika Blo'on berobah menjadi sesosok tengkorak.
"Sekarang engkau harus menyebut 'omito-hud' sampai tiga
kali," perintah sitabib. Blo'onpun melakukan perintah itu.
"Bagus," kata Gan Kui, "sekarang julurkan lidahmu."
Blo'onpun menjulurkan lidahnya. Tiba-Tiba tangan tabib itu
mencekal lidah Blo'on terus ditarik.
"Auhhh, aduh . . . !" Blo'on menjerit, "mengapa engkau
hendak menarik lidahku ?"
"Diam!" bentak Gan Kui, "kalau engkau tak suka silahkan
keluar !"
Karena ingin sembuh, terpaksa Blo'on menahan sabar. Tiba-
Tiba sinshe itu memegang kedua telinga Blo'on lalu dijiwir
sekeras-kerasnya.
"Aduhhh !" kembali Blo'on menjerit kesakitan, "awas, kalau
daun telingaku sampai putus, engkau harus mengganti !"
"Engkau tak mengandung penyakit apa-apa, "kata Gan Kui,
"manakah yang engkau rasakan sakit?
"Aku tak sakit, hanya ingatanku yang hilang.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, kepalamu akan kuperiksa. Menunjuklah," seru sinshe
itu.
Blo'onpun menunduk.
Tabib itu mengambil sebuah palu kayu lalu dipukulkan ke
kepala Blo'on, tuk . . .
"Aduh .. " Blo'on menjerit kesakitan tetapi sinshe itu tak
menghiraukan. Ia memukul gundul Blo'on sampai duabelas
kali.
"Aneh," gumam tabib itu.
"Apa yang aneh ?" tanya Blo'on. "Urat-Urat kepalamu masih
berjalan baik. Buktinya, setiap kali kupukul tentu membenjul.
Itu tandanya masih hidup."
Blo'on meringis. Ia memaki dalam hati: "Setan, kalau
kepalamu kupukul dengan palu, tentu akan benjul juga."
"Kalau begitu terpaksa aku harus memeriksa rohmu," kata
sinshe itu seraya menghampiri almari. Menyimpan palu kayu
mengambil sebuah cermin besar berbentuk segi-delapan.
"Bukalah pakaianmu !"
Blo'onpun menanggalkan jubah hitam dari tabib itu.
"Semua"
"Hai, semua? Apa engkau suruh aku telanjang?
"Ya, agar dapat kulihat apakah rohmu Mu masih ada di
dalam tubuhmu. Dengan kaca wasiat Peneropong-roh ini,
tentu dapat kuketahui keadaan rohmu yang sebenarnya."
"Ah, malu ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa malu ? Aku orang lelaki dan engkaupun anak
lelaki. Dan lagi disini tak ada lain orang kecuali kita berdua.
Mengapa harus malu?"
"Malu ya malu !" sahut Blo'on kaku.
"Kalau malu ya sudah, silahkan pulang saja. aku tak dapat
mengobati," kata si tabib juga jengkel.
"Ya, sudahlah," kata Blo'on lalu melepas baju dan celananya
sehingga dia telanjang bulat.
"Berdiri tegak kearahku, angkat kedua tanganmu keatas,"
seru tabib itu pula.
Blo'on mendongkol sekali. Tetapi apa boleh buat, terpaksa
ia melakukan perintah itu.
Si tabib pun lalu mengacai seluruh tubuh Blo'on dengan
cermin sesi-delapan. Tiba-Tiba ia hentikan kacanya pada alat
kelamin Blo'on.
"Hai, mengapa engkau memandang begitu lama ?" Blo'on
malu dan mendongkol sekali.
Tabib itu tertawa : "Ho, kiranya engkau masih perjaka,
bukan ?"
"Perjaka bagaimana ?"
"Belum pernah kawin."
"Ya," Blo'on mendengus, "lalu engkau mau apa kalau aku
masih perjaka."
Tabib tak mau meladeni. Ia mengacai dada si Blo'on,
setelah itu ia berkata : "Ah, benar, benar. Tak heran kalau
ingatanmu hilang, bung.”
"Kenapa ?" Blo'on kerutkan alis.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Roh-mu telah diambil orang karenanya ingatanmupun ikut
hilang. Tanpa roh, orang tak dapat berpikir.
"Kurang ajar !" Blo'on melengking, "makanya pikiranku
serasa hampa. Lalu siapakah yang mencuri rohku itu ?"
"Itu harus dicari dulu," sahut Gan Kui. .
"Bagaimana mencarinya ?"
"Itu urusanku, engkau tak perlu tahu. Aku dapat mencari
siapa pencurinya lalu kuambil rohmu dan kukembalikan
kedalam tubuhmu."
"O, terima kasih, terima kasih, sinshe, "seru Blo'on gembira
ria dan memberi hormat.
Sinshe itu terlongong: “Pengobatan disini bukan
pertolongan cuma-cuma. Bukan hanya dibayar dengan terima
kasih tetapi harus dengan uang."
"Ya, ya, tak apa. Pokok aku sembuh, uang itu gampang."
"Berapa engkau sanggup membayar ?"
"Berapa engkau minta ?" balas Blo'on.
"Berapa banyak uang yang engkau bawa ?"
"Uang ? O, aku belum membawa. Tetapi begitu sembuh,
aku akan pulang mengambil uang, jangan kuatir."
"Ngaco !" bentak tabib itu, "aku bukan anak kecil yang
dapat engkau permainkan. Ada uang, engkau kuobati. Tidak
punya uang, silahkan pulang !"
Bio'on melongo.
'"Eh, bung, apa isi buntalan yang engkau bawa itu?" tiba-
tiba si tabib berseru sambil memandang bungkusan yang
tersanggul di punggung Blo'on"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ini? O, kulit harimau'' jawab Blo'on, "apakah engkau mau
kubayar dengan kulit harimau ini?" ia terus menurunkan
buntalan dan membuka isinya, "jangan kuatir, ambil dulu kulit
harimau ini, setelah sembuh aku segera pulang mengambil,
uang dan kutebus kulit harimau ini. Terus terang,! ini bukan
milikku sendiri."
Gan Kui tertegun ketika melihat kulit harimau yang masih
utuh. Tanyanya: "Dari mana engkau memperoleh kulit
harimau itu ?"
"Dan seorang pemburu."
"Pemiliknya tentu engkau bunuh, bukan ?" tabib Gan Kui
menegas.
"Tidak dia masih hidup. Eh, apa ? Engkau bilang aku
membunuh ? Tidak, tidak Dia sudah mati sendiri !"
Tabib Gan Kui melongo. Ia tak mengerti ucapan Blo'on yang
simpang siur itu. Semula bilang orang itu masih hidup,
kemudian mengatakan kalau sudah mati.
"Eh, bung," tegurnya, "kalau bicara supaya yang jelas.
Siapa yang masih hidup dan siapa yang sudah mati ?"
"Yang masih hidup, pemburu harimau. Yang sudah mati
manusia harimau. Jelas ?" seru Blo'on dengan garang.
"Apa? Manusia harimau?" Gan Kui terbeliak "Ya, seorang
manusia yang menyaru jadi harimau, tinggalnya dalam guha di
lembah karang."
"Setan, engkau yang membunuhnya ?" tabib, itu merah
matanya.
"Bukan, aku tak membunuhnya. Dia mati sendiri," kata
Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagaimana engkau tahu kalau dia mati sendiri?"
"Karena ketika aku masuk kedalam guha, kakiku terantuk
mayatnya yang membujur di tanah dengan tak bernyawa ..."
"Bohong !" tiba-tiba tabib itu mencekik leher Blo'on,
"engkau tentu yang membunuhnya !"
Karena dicekik, Blo'on mendelik matanya. Ia meronta-ronta
hendak menyiak tangan tabib itu. Tetapi gagal. Karena
kesakitan, kaki Blo'on menendang perut si tabib, plak . . .
tabib itu menjerit dan terpelanting jatuh ke belakang.
Kepalanya membentur lantai hingga membenjul.
"Eh, sinshe, mengapa engkau mencekik leherku? Apakah
engkau hendak membunuh aku ?" kata Blo'on seraya
mengangkat bangun tabib itu.
Rupanya tabib itu menyadari bahwa pemuda yang blo’on itu
ternyata memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tendangannya
tadi benar-benar hebat sekali. Diam-Diam ia mengatur siasat.
"Ah, karena tegang, aku sampai lupa mencekik lehermu,"
katanya dengan nada berobah ramah, "lalu manusia harimau
itu sudah mati ?"
"Sudah kubawa kedesa dibawah gunung dan setelah
digebuki penduduk lalu dikubur," kata Blo’on.
"O, bagus! Memang pengganggu rakyat itu harus dibunuh,"
kata tabib Gan Kui, "mengingati engkau telah berjasa kepada
rakyat, maka akupun dapat memberi kelonggaran kepadamu.
Engkau akan kuobati sampai sembuh, setelah itu engkau
pulang mengambil uang. Engkau tentu sungguh akan kembali
kesini, bukan ?"
"Tentu," sahut Blo'on, "aku tak pernah bohong”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi engkau harus tinggal disini cukup lama. Apakah
engkau sanggup ?"
"Berapa lama ?"
"Tergantung dari usahaku merebut rohmu dari pencuri itu.
Untuk mencari si pencuri, memakan waktu tujuh hari. Syukur
kalau bisa lebih cepat. Hal itu tergantung dari tingkat
kesaktian si pencuri. Kemudian untuk mengambil dan
mengembalikan rohmu kedalam tubuhmu, juga akan waktu
tujuh hari. Jadi paling tidak engkau harus tinggal disini
setengah bulan."
"Bagaimana kalau aku turut padamu mencari si pencuri.
Apabila ketemu, ambil saja roh itu terus masukkan ke dalam
tubuhku. Bukankah itu dapat lebih cepat daripada aku harus
menunggu disini ?" kata Blo'on.
"Ho, engkau kira aku pergi mencari pencuri itu kemana-
mana?" kata sitabib, "ketahuilah. Dalam waktu tujuh hari itu
akan mengadakan sembahyangan untuk memanggil roh dari
sipencuri. Itu-pun tidak-mudah. Kalau dia tak mau datang,
terpaksa aku harus memaksanya. Dan kalau dia lebih sakti
ilmunya, kemungkinan aku juga bisa kalah. Maka engkau
harus tinggal disini agar engkau tidak mengalami gangguan
yang lebih hebat lagi."
Habis berkata tabib itu mengambil secarik kertas kuning lalu
menulis coretan-coretan, ditempelkan di pintu kamar.
"Inilah hu atau jimat penolak setan. Karena rohmu kosong,
engkau mudah dimasuki setan, "kata sitabib lalu menutup
pintu dan terus ngeloyor pergi.
Blo'on seorang diri tinggal dalam kamar yang hanya
diterangi lilin. Jelas ia tahu bahwa kamar itu berada dibawah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tanah Tiba-Tiba ia mendengar dari lain kamar, suara wanita
menangis dan suara seorang lelaki yang tertawa-tawa.
Heran, mengapa ditempat semacam ini terdapat orang
perempuan? ia mulai tak enak. Ketika seorang pelayan kecil
datang mengantar makanan iapun bertanya: "Hai, bung kecil,
kemana sinshe?"
"Sinshe berada diatas, masih sibuk menerima tetamu,"
sahut kacung kecil itu.
"Tempat apakah ini ?" tanya Blo'on. "Tempat orang sakit
yang perlu dirawat lama."
"Lalu siapakah orang perempuan yang menangis dan lelaki
yang tertawa dilain kamar itu ?"
"Kata sinshe, perempuan itu menderita penyakit kemasukan
setan dan lelaki itu suaminya."
"Engkau bawa apa itu?"
"Makanan dan minuman," kata kacung kecil, lalu berbisik,
"untunglah masih ada untuk tuan. Tadi makanan dan
minuman yang diperuntukkan tuan. karena gelap, telah
kujatuhkan. Terpaksa ku ambilkan lagi yang baru. persediaan
untuk sinshe. Tetapi harap tuan jangan bilang pada sinshe.
Kalau dia tahu, aku tentu dipukuli."
Setelah kacung itu pergi, tanpa banyak pikir, Blo'on terus
melahap makanan itu sampai habis. Setelah kenyang iapun
terus tidur. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba ia terkejut
mendengar suara orang masuk ketempat itu, dan berhenti
dimuka pintu kamar Blo'on.
"Ah, sebenarnya aku memerlukan sekali pada anak itu. Dia
masih perjaka. Sari perjakanya itu itu kubutuhkan untuk
ramuan obat panjang umur" kata salah seorang yang berada
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
diluar pintu," tetapi apa boleh buat, karena lotiang yang
meminta, akupun terpaksa rnemberikan."
Blo'on terkejut, la kenal suara itu sebagai nada tabib Gan
Kui.
"Huh, setan, dia tabib jahat !" gumam Blo'on dalam hati.
"Ah, engkau masih bisa mendapat lain pemuda. Tetapi bagi
Hoa-san-pay dia penting sekali artinya. Dia berani mengacau
markas kami dan membunuh Beruang-sakti Han-Tiong, salah
seorang tianglo Hoa-san-pay. Maka dia harus kubawa ke
anarkas untuk disembelih dan disembahyangkan di depan
makam Han sute," kata orang yang seorang,
Mendengar itu Blo'on hampir menjerit kaget Ternyata yang
datang itu salah seorang tianglo Hoa-san-pay yang akan
menangkapnya. Celaka.....
"Tetapi bagaimana lotiang dapat mengetahui kalau anak itu
datang kesini ?" tanya Gan Kui. .
"Seorang pemburu bernama Him Pa yang tinggal didaerah
gunung Hoa-san, memberitahukan kepadaku bahwa anak itu
hendak berobat kemari."
"Keparat si Him Pa itu Dialah kiranya yang memberi tahu
kepada kakek Hoa-san-pay ini, "damprat Blo'on.
"Lotiang," kata si tabib, "maaf, tetapi karena terpaksa maka
aku memberanikan diri untuk mengatakan hal ini kepada
lotiang. Dalam membuka usaha pengobatan disini, apa yang
kuterima dari orang-orang yang minta obat, tidaklah memadai
dengan ongkos-ongkos yang harus kukeluarkan. Bahkan
sering aku harus memberi obat cuma-cuma kepada orang
miskin. Karena itu aku mohon totiang suka memberi uang
pengganti untuk diri anak itu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm, berapa engkau minta ?" dengus Naga-besi Pui Kian.
"Tak banyak, cukup seratus tail perak saja."
"Terlalu banyak. Aku hanya membawa dua puluh tail perak,
terimalah," kata tetua kesatu dari Hoa-san-pay seraya
mengeluarkan sekantong perak, hancur dan diserahkan
kepada si tabib.
Apa boleh buat, terpaksa Gan Kui menerima Ia tahu bahwa
orangtua dari Hoa-san pay itu amat sakti. Kalau sampai
menimbulkan kemarahannya, tentu runyam. Masih untung
kakek itu mau memberi uang, kalau dia meminta anak itu
dengan paksa, iapun juga tak dapat berbuat apa-apa.
Gan Kui mendebur pintu tetapi tiada penyahutan. Sambil
mengeluarkan seuntai anak kunci, tabib itu berkata : "Anak itu
tentu sudah pingsan. Makanan yang diberikan kepadanya,
kusuruh mencampuri obat bius."
Pintu terbuka dan tabib itu dengan lenggang melangkah
masuk. Ia heran mengapa ruangan itu gelap gelita. Tetapi ia
tak peduli dan langsung menghampiri ketempat tidur. Memang
dilihat sesosok benda terlentang di atas pembaringan.
Ketika tiba di muka pembaringan ia terus ulurkan tangan
hendak menjamah benda itu. Tiba-Tiba tengkuknya dicekik
keras dan mulutnya didekap orang. Sedemikian keras cekikan
itu sehingga ia tak dapat bernapas ....
"Hm, mengapa dia tak keluar lagi ?" gumam Naga-besi Pui
Kian yang masih menunggu diluar pintu, "hai, Gin Kui,
mengapa tak lekas membawanya keluar ?”
Tetapi tiada penyahutan.
Waktu Gan Kui minta uang tebusan, Naga-besi Han Tiong
sudah mempunyai kesan tak baik terhadap tabib itu. Dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
setelah masuk kedalam kamar Gan Kui tak keluar lagi, Han
Tiong makin curiga. Ia duga tabib itu hendak main gila.
Mungkin didalam kamar terdapat pintu rahasia untuk
meloloskan diri. Bukankah tabib itu sesungguhnya merasa
sayang untuk melepas anak itu ?
"Hm, kalau berani main gila dengan aku," ia terus
melangkah masuk.
Kamar gelap dan sesaat ia tak dapat melihat jelas keadaan
dalam kamar itu. Baru berapa langkah ia melalui pintu, tiba-
tiba punggungnya terasa dilanda oleh segelombang angin
keras. Cepat ia berputar diri seraya menghantam, prak ... Ia
terkejut karena merasa telah menghantam batok kepala orang
sehingga tangannya basah dengan air.
"Darah . . ," serunya makin kaget. Cepat ia menyulut korek
dan astaga . . . Gan Kui terkapar di lantai dengan kepala
pecah !
Kakek Hoa-san-pay menyuluhi kamar tetapi tak melihat
Blo'on. Segera ia tersadar apa yang telah terjadi. Ia duga
waktu masuk kedalam ruang, Gan Kui tentu kena diringkus si
Blo'on. Dan ketika ia masuk, pemuda itu tentu sudah siap
melemparkan tubuh Gan Kui, lalu menyelinap keluar.
"Hm, setan itu dapat mempermainkan aku lagi," secepat
kilat tetua nomor satu dari Hoa-san pay itu terus melesat
keluar, mengejar si Blo'on. Ternyata pintu masuk kedalam
ruangan di bawah tanah itu telah tertutup. Tentulah ditutup si
Blo'on. Pintu itu terbuat dari papan besi.
Darrr . . . dengan kemarahan menyala-nyala kakek dari
Hoa-san-pay itu Kerahkan tenaga-dalam menghantam pintu
penutup. Daun pintu besi itupun mencelat dan terbukalah
lubang diatas titian. Sekali ayun, tubuh kakek Hoa-san-pay
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
itupun sudah melayang ke atas lalu melesat keluar dari rumah
sitabib.
Saat itu rembulan terang. Dengan matanya yang tajam,
dapatlah si Naga-besi Pui Kian melihat jejak si Blo'on yang lari.
Walaupun sudah jauh dan pula pada waktu tengah malam,
namun karena sosok tubuh pemuda itu diikuti oleh tiga ekor
binatang yakni anjing, monyet dan burung rajawali, dapatlah
kakek Hoa-san-pay itu mengenalinya.
Dengan gunakan ilmu gin-kang, berlarilah Naga-besi Pui
Kian mengejar Blo'on. Ternyata Blo'on pemuda itu lari
menurut si pembawa kakinya. Ia tak tahu kemana arah
larinya. Pokok lari kencang, makin jauh makin baik.
Tetapi apabila ia berhenti sebentar dan berpaling ke
belakang, darahnya mendebur keras lagi. Dari sinar rembulan
yang menerangi bumi, dapatlah ia melihat jelas sesosok tubuh
orang yang berlari sepesat angin menyusup jalan yang telah
dilaluinya. Ya, tak salah lagi, tentulah orang itu kakek Hoa-
san-pay. Blo'on tancap gas lagi, lari te kuat-kuatnya.
Angin malam terasa menderu-deru, menampar muka dan
mendesing telinganya. Ia tak menyadairi bahwa sesungguhnya
ia dapat berlari dengan pesat tak kalah dengan orang
persilatan yang memiliki ilmu gin-kang. Itulah sebabnya maka
sampai beberapa waktu, ia dapat mempertahankan jarak
tertentu dengan Naga-besi Pui Kian.
Anjing kuning tetap lari dibelakangnya. Sedangkan monyet
kecil naik di punggung rajawali pun terbang mengikuti jejak
Blo'on.
Setelah melintasi sebuah hutan, ia seperti berlari keatas
sebuah puncak gunung. Entah apa nama gunung itu. Sebuah
pegunungan karang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai . . . " Blo'on tiba-tiba menjerit kaget ketika jalan yang
ditempuhnya itu ternyata sebuah jalan buntu., yang menjurus
kesebuah jurang. Menyadari tak mungkin dapat melanjutkan
lari ke muka Blo'on terus berputar diri hendak lari balik. Tetapi
tiba-tiba kakek Hoa-san-pay sudah tiba dihadapannya.
"Ho, hendak lari kemana engkau sekarang?" Naga-besi Pui
Kian menyeringai seraya melangkah maju menghampiri'
"Lo-cianpwe, harap percaya padaku.. Aku tak membunuh
ketua Hoa-san-pay dan kakek yang seorang itu ... .
"Mengapa engkau masih banyak mulut? Kalau aku percaya,
masakan aku mengejarmu sampai disini
"Lalu dengan cara bagaimana aku dapat membuat lo-
cianpwe percaya ?" seru Blo'on.
"Menyerahkan dirimu !" ,
"Akan disembelih ?"
"Ya," sahut Naga-besi Pui Kian seraya tetap maju
menghampiri.
Melihat itu Blo'onpun mundur.
"Aku tak mau !" seru Blo'on.
"Boleh," jawab Naga-besi Pui Kian, "asal , engkau mampu
melawan aku sampai lima jurus."
Blo'on gemetar.
"Dapat kuringankan lagi asal engkau mau menjawab dua
buah pertanyaanku. Dimana Walet- kuning Hong-ing, murid
perempuan perguruaan Hoa-san-pay itu ?"
"Entah, aku tak tahu karena aku sendiri tergelincir ke dalam
telaga ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Siapa yang membunuh Beruang-sakti Han Tiong ?"
"Entah, karena ketika aku memeriksanya, dia memang
sudah mati."
"Baiklah," kata tetua nomor satu dari Hoa-san-pay itu,"
sekalipun tak dapat kuberikan keringanan tetapi masih dapat
kuberikan kesempatan kepadamu. Engkau boleh memakai
senjatamu dan melawan aku."
"Tidak, aku tak punya senjata. Kulau cian pwe hendak
menggunakan senjata, silahkan "
Kata-Kata Blo'on itu membangkitkan keangkuhan Naga-besi
Pui Kian, dengusnya : "Hm, engkau kira aku ini orang apa ?
Baik, kalau engkau tak punya senjata, akupun akan memakai
tangan kosong untuk mencabut nyawamu !"
"Ih, mengapa engkau berkeras hendak mengambil jiwaku ?"
gerutu Blo'on.
"Engkau lebih muda, silahkan engkau menyerang lebih
dulu," seru Naga-besi Pui Kian.
"Tidak mau !" bantah Blo'on, "aku tak mau berkelahi. Kalau
engkau hendak membunuh aku, terserah . . . . "
Naga-besi Pui Kian tahu kalau anak itu memang blo'on.
Percuma saja ia berbanyak kata, Maka ia terus saja membuka
serangan dengan sebuah gerak Rajawali-menerkam-kelinci.
Loncat ambil menerkam.
Blo'on ketakutan dan cepat loncat kesamping. Sekalipun
terhindar tetapi tubuhnya teihuyung juga karena deru angin
gerakan tangan kakek itu. Sebelum ia dapat berdiri tegak
Naga besi Pui Kianpun sudah menyusuli dengan sebuah
pukulan Biat-gong-ciang atau pukulan Pembelah-angkasa yang
dahsyat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Naga-besi Pui Kian menganggap Blo'on memiliki ilmu silat
yang tinggi Maka pukulan Biat-gong ciang yang dilancarkan itu
diisi dengan delapan bagian tenaga-dalam. Dan pukulan itu
dapat menghancurkan batu karang pada jarak beberapa
meter.
Blo’on tak berdaya lagi
menghadapi pukulan itu.
Luas pengaruh pukulan itu
sampai mencapai sepuluh
meter keliling. Kemanapun
ia hendak lari tentu tetap
termakan pukul itu.
Tiba-Tiba sepercik
angin tajam melanda dari
belakang. Tajam sekali.
Serempak menyusul
teriakan seseorang: "Hai,
berhenti dulu. Mengapa
seorang kakek tak tahu
malu hendak membunuh
seorang anak tanggung . , . !"
Sebuah benda warna hitam melayang-layang kearah
punggung Naga-besi. Sebagai seorang tokoh persilatan sakti
sudah tentu Naga-besi Pui Kian dapat mengetahui serangan
gelap itu ditujukan kepadanya.
"Jahanam, mengapa menyerang orang secara begitu
pengecut," Pui Kian menghindar. Dia dapat terlepas dari benda
hitam itu tetapi tidak si Blo'on. Karena menghindar ke
samping, benda hitam itu terus meluncur maju dan tepat
mengenai bahu muka si Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aduh ..." Blo'on menjerit dan lebih kaget, pula ketika bahu
dadanya tertabur sebuah benda yang amat kuat tenaganya.
Blo'on dapat terhindar dari pukulan Biat-gong-ciang tetapi tak
urung tubuhnya terdorong ke belakang dan, ah ... . tubuh si
Blo’on terdorong ke belakang jatuh ke dalam lembah.
Naga-besi Pui Kian kaget dan cepat berpaling ke belakang.
Demi dilihat yang muncul itu seorang pengemis tua, iapun
menggeram : "Ho, pengemis tua, mengapa engkau berani
lancang menyerang tawananku ?"
Yang muncul itu memang Hoa Sin, pengemis aneh yang
memimpin perguruan Kay-pang.
"Sama sekali tidak," sahut pengemis sakti itu, "aku hendak
mencegah cianpwe karena kulihat tak pantas seorang cianpwe
yang begitu dihormati, ternyata sampai hati juga untuk
membunuh seorang anak yang tak mengerti apa-apa.
Kutimpuk dengan kayu tetapi luput. Yang kena anak itu
sendiri. Sampai anak itu terlempar jatuh ke dalam jurang ....
"Ho, rupanya engkau habis makan hati macan," seru Naga-
besi Pui Kian, "sehingga engkau lancang tangan hendak
mencegah tindakanku."
"Jangan salah faham totiang," sahut Hoa Sin, "aku hanya
hendak mencegah totiang membunuh seorang anak. Karena
totiang dapat menghindari, timpukanku kayu mengenai bahu
anak ini dan diapun terus meluncur kedalam jurang. Aku
benar-benar heran melihat seorang tua bertempur dengan
seorang anak. Aku tak tahu kalau yang bertempur itu totiang.
Maksudku hanya mencegah dan tak menyangka kalau anak itu
terkena kayu yang kutimpukkan dan terjebur kedalam jurang.
Ah, dia tentu binasa ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tanpa menghiraukan Naga-besi Pui Kian yang masih marah,
ketua Partai Pengemis itu terus menghampiri tepi jurang dan
melongok ke bawah. Bergidikiah buluromanya ketika melihat
betapa curam jurang itu sehingga tak kelihatan dasarnya . . .
"Hoa pangcu," tiba-tiba Naga-besi Pui Kian berseru bengis,
"mustahil seorang tokoh berilmu tinggi seperti engkau tak
dapat melihat bahwa yang bertempur itu aku, orangtua dari
Hoa-san-pay yang bernama Pui Kian. Bukankah maksudmu
hendak menolong anak itu ?"
"Pui totiang," sahut Hoa Sin si Pengemis" sakti-jari-enam.
"hari begini malam dan aku masih berada jauh ketika melihat
totiang lepaskan pukulan biat-gong-ciang kepada anak itu. Aku
benar-benar tak tahu kalau totiang . , . "
"Engkau bohong, Hoa paogcu," tukas Naga besi Pui
Kian."bersikaplah sebagai seorang ketua perguruan yang
berwibawa bahwa engkau memang benar-benar hendak
melepaskan anak itu dari tanganku.”
"Totiang," jawab Pengemis-sakti Hoa-Sin, "sama sekali aku
tak kenal siapa anak itu, bajai mana totiang mengatakan aku
hendak menolongnya ? Eh apa sebab totiang hendak
menangkap anak itu ?"
"Hm, dia telah mengacau markas Hoa-san-pay dan
membunuh salah seorang sute ku. Beruang sakti Han Tiong'!"
"Hai" Hoa Sin melonjak kaget, "benarkah itu? Ah, masakan
seorang anak begitu macam mampu membunuh seorang
tiang-lo Hoa-san-pay yang sakti ?"
"Aku tak membutuhkan kepercayaanmu tetapi tanggung
jawabmu melepaskan anak itu dari tanganku !" tukas Naga-
besi Pui Kian.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Pengemis-sakti Hoa Sin terbeliak: "Eh, bukan kah anak itu
sudah binasa didalam jurang Mengapa totiang masih akan
meminta pertanggungan jawabku lagi ?"
Naga-besi Pui Kian mendengus: "Hm, memang anak itu
sudah mati di dasar jurang tetapi kematiannya bukan
disebabkan dari tanganku melainkan dari perbuatanmu. Dan
perbuatanmu itupun sebenarnya bukan hendak membunuhnya
melainkan hendak menolongnya. Dengan begitu jelas engkau
hendak menghina kami orang Hoa-san-pay !"
"Tidak, tidak," seru Hoa Sin, "sama sekali aku tak
mengandung maksud begitu. Harap totiang jangan salah
mengerti. Aku hendak mencegah karena ingin tahu
persoalannya. Setelah tahu dia memang bersalah, tentu akan
kupersilahkan totiang membunuhnya. Bahkan kalau perlu,
totiang boleh menitahkann aku membunuh anak itu."
Naga-besi Pui Kian tertawa mengerontang, serunya :
"Memang pada masa akhir ini nama Hoa-san-pay tampak
pudar di mata orang persilatan. Hoa-san-pay selalu menjadi
buah ejekan dunia persilatan ..."
"Ah, tidak, totiang," kata Hoa Sin, "Hoa-san-pay tetap kami
indahkan sebagai salah sebuah dari Tujuh Partai Besar di
dunia persilatan."
Pui Kian tertawa dingin: "Itu hanya kata-kata kosong untuk
menghibur hati. Buktinya, saat ini Hoa pangcu telah menghina
Hoa-san-pay ..."
"Pui totiang . . . !"
"Naga-besi Pui Kian yang sudah tua, akan mencuci bersih
hinaan itu '."
"Ah, totiang, mengapa engkau ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hoa pangcu, jangan banyak bicara. Mari kita selesaikan
urusan ini secara ksatrya !"
"Totiang ..."
"Hoa Sin. sambutlah seranganku ini!" bentak Naga-besi Pui
Kian seraya menghantam.....
---oo0dw0ooo---

Jilid 6
Kate dan Bungkuk.
Sebenarnya Pengemis-sakti Hoa Sin sedang dalam
perjalanan mencari jejak putera Kim Thian cong yang hilang.
Hari itu ia tiba di Kabupaten Hoa-im-koan wilayah Siamsay.
Karena sudah tiba di daerah itu, pikirnya sekalian ia datang
saja ke Hoa-san. Sekedar kunjungan persahabatan dan
sekalian menanyakan tentang keadaan ketua Hoa-san-pay
yang tak dapat datang pada upacara pemakaman jenazah Kim
Thian-cong.
Pada saat tiba di sebuah bukit, hari pun sudah malam. Dan
ketika mendaki di lereng, ia melihat seorang kakek tua sedang
menyerang seorang anak muda. Dan sebagai seorang tokoh
persilatan yang tajam pandangan, cepat ia dapat melihat kalau
anak muda itu terancam bahaya maut. Mau segera ia
timpukkan sepotong kayu untuk mencegah tindakan si kakek.
Tetapi kakek itu pun sakti. Cepat ia dapat mendengar
kesiur angin yang melanda punggungnya. Dan segera ia pun
menghindar ke samping. Akibatnya si Blo'on yang terdampar
ke dalam jurang.
Memang diantara ketujuh Partai Persilatan besar di dunia
persilatan, dewasa itu Hoa-san-pay sedang mengalami masa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kemunduran. Perguruan itu tak mempunyai murid yang
menonjol kepandaiannya dan ketuanya, Kam Sian-hong, pun
lesu semangat. Lebih banyak menyekap diri di dalam gua
pertapaannya daripada turun ke dunia persilatan.
Entah apa yang menjadikan sebabnya, orang luar tak dapat
mengetahui. Apa yang orang dengar, entah apa sebabnya
yang menjadi ketua Hoa-san-pay mengganti Tiang Bi lojin
yang meninggal dunia, adalah Kam Sian-hong murid yang
kedua, bukan Pang To-tik murid yang pertama. Dan sejak itu
Pang To-tik pun tak mau menampakkan diri lagi di dunia
persilatan. Demikian pula dengan sikap Kam Sian-hong yang
tampaknya kurang gairah.
Orang hanya dapat menduga-duga, tetapi tak dapat
mengetahui persoalannya yang sesungguhnya. Dengan
adanya peristiwa dalam tubuh perguruan itu maka Hoa-san-
pay pun makin mundur. Banyak desas desus dan ejek
cemoohan dilontarkan orang kepada alamat perguruan Hoa-
san-pay. Tetapi selama itu, fihak Hoa-san-pay tak
mengadakan suatu reaksi apa-apa.
Sebagai tetua dari Hoa-san-pay sudah tentu Naga-besi Pui
Kian ikut prihatin akan keadaan perguruan itu. Dan karena
dikuasai oleh rasa prihatin itu, kakek itu pun mudah sekali
tersinggung perasaannya.
Walau pun Hoa Sin sebagai ketua Partai Pengemis sudah
minta maaf dan memberi penjelasan tetapi Naga-besi Pui Kian
tetap merasa terhina. Ia merangkaikan tindakan Hoa Sin itu
sebagai sikap menghina perguruan Hoa-san-pay.
Naga-besi Pui Kian menyerang ketua Partai Pengemis
dengan hebat. Tetapi Hoa Sin tak mau meladeni. Ia tetap
berusaha untuk menghindar.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Pui totiang, harap berhenti dulu," katanya meminta kepada
kakek yang marah itu.
Namun Naga-besi sudah seperti kemasukan setan, la tak
mau menghiraukan kata-kata ketua Partai Pengemis. Bahkan
sambil melancarkan serangan yang makin dahsyat, ia
menghambur ejekan: "Hm, kiranya hanya begitu sajakah
kepandaian dari pangcu Kay-pang itu ? Main mundur macam
kura-kura menyurutkan kepala, tak berani menghadapi
lawan!"
Setelah menyelinap dari pukulan kakek Hoa-san-pay, tiba-
tiba Hoa Sin berdiri tegak dan berseru dengan nada bengis :
"Pui Kian, dengarkan. Aku mengalah bukan karena aku takut
kepadamu. Tetapi demi memandang persahabatan antara
Hoa-san-pay dengan Kay-pang. Kita sama-sama partai
sahabat dan sehaluan. Mengapa kita harus saling berhantam
sendiri?"
"Lebih baik tak bersahabat daripada bersahabat menderita
hinaan !" Naga besi Pui Kian menutup kata-kata dengan
lepaskan sebuah pukulan Thi-an-lui-oiang atau pukulan
Geledek-menyambar, bum..
Balu karang meledak pecah, tanah dan pasir berhamburan
ke sekeliling penjuru hingga sekitar tempat itu sampai gelap.
Ketika gulungan debu te bal itu hilang, tampaklah dua
pemandangan yang mengejutkan.
Pengemis-sakti Hoa Sin lenyap, Naga-besi Pui Kian duduk di
tanah pejamkan mata . ,
Apakah yang terjadi ?
Ternyata ketika Pui Kian bergerak memukul, Hoa Sin sudah
menduga. Serentak la pun menghantam tanah sehingga debu
berhamburan memenuhi sekeliling tempat itu. Ketika angin
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pukulan kakek Hoa-san-pay melanda, Hoa Sin pun sudah
melambung ke udara. Sambil berjumpalitan melayang turun,
ia menimpuk dengan biji tiok-ki atau catur ke arah lutut Pui
Kian.
Pui Kian terkejut ketika lututnya terasa terpukul benda kecil
yang keras. Ia menyadari kalau dirinya diserang benda rahasia
oleh ketua Partai Pengemis. Tak mau ia mengerang kesakitan
karena lebih penting mengerahkan tenaga dalam untuk
mempertahankan keseimbangan kakinya yang kena timpukan
itu. Namun lututnya terasa lunglai sekali sehingga tak kuat
menahan tegak tubuhnya. Akhirnya jatuhlah ia terduduk di
tanah.
"Hm, jalan darah lututku tentu tertutuk," diam-diam ia
menduga seraya kerahkan tenaga dalam untuk berusaha
membukanya kembali.
Demikian keadaan tempat di tepi pegunungan bukit karang
itu segera sunyi senyap lagi. Angin malam berhembus makin
dingin.
Tak berapa lama Naga-besi Pui Kian pun ber bangkit.
Memandang ke sekeliling ia tak melihat ketua Partai Pengemis
itu lagi.
Ia pun segera ayunkan langkah hendak pulang ke markas
Hoa-san-pay. Tiba-Tiba matanya tertumbuk pada gunduk batu
yang terletak di tepi jalan. Pada batu itu terdapat gurat-gurat
tulisan yang berbunyi :
Pengemis Hoa Sin menghaturkan maaf kepada Pui totiang.
Lain hari akan menghadap ke Hoa-san untuk menerima
hukuman.
Geram sekali kakek Hoa-san-pay itu. Tetapi diam-diam ia
mengagumi kesaktian ketua Partai Pengemis. Tulisan pada
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
batu itu dibuat dengan guratan jari tangan! Suatu pertanda
betapa hebat ilmu tenaga dalam pengemis sakti itu.
Naga-besi Pui Kian menghela napas, tundukkan kepala dan
lanjutkan langkah .
Bukit karang itu disebut Hek hou-san atau gunung Macan
Hitam. Disebut bukit Macan Hitam karena memang di daerah
pegunungan itu banyak dihuni kawanan macan hitam yang
bersarang di dalam guha-guha karang yang banyak terdapat
di pegunungan itu.
Diantara yang paling terkenal menyeramkan ialah lembah
Hek-hou-ko atau lembah Macan Hitam. Sebuah lembah yang
menyerupai jurang. Mulut jurang tidak berapa luas. tetapi
dalamnya sampai mencapai ratusan meter sehingga apabila
orang berdiri ditepi jurang dan melongok ke bawah, hanya
seperti sebuah kawah hitam yang tak kelihatan apa-apa.
Memang jarang dan boleh dikata tak ada seorang penduduk
yang berani turun kedalam jurang lembah Macan Hitam itu.
Kecuali menjadi sarang harimau hitam, pun banyak juga
terdapat bangsa ular beracun.
Tetapi sebenarnya jurang Macan Hitam itu mempunyai
seorang penghuni manusia. Seorang kakek yang amat tua
renta, umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Tubuhnya
pendek sekali, tingginya hanya satu meter lebih sedikit. Yang
aneh. kakek pendek itu rambut kepala, kumis dan jenggotnya
masih hitam.
Sejak lima hari yang lalu, kakek jenggot hitam itu menerima
kedatangan seorang tetamu. Juga seorang kakek tua renta
yang usianya sebaya dengan kakek pendek,
Diantara kedua kakek itu terdapat hal yang menyolok sekali
bedanya. Kalau tuan rumah seorang kakek yang bertubuh kate
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan berambut hitam adalah tetamunya seorang kakek yang
berpunggung bungkuk. Sebuah benjolan daging bundar besar
hinggap di punggungnya. Rambut kepala dan kumis serta
jenggotnya putih semua.
Kakek bungkuk itu tinggal di gunung Hok-gu san atau
gunung Kerbau Mendekam. Dan tempat itu memang sesuai
dengan penghuninya. Sepintas pandang, kakek bungkuk itu
memang menyerupai seekor kerbau yang tengah mendekam
di tanah.
Ah, biasanya orang yang datang berkunjung ke rumah
orang, tentulah karena bersahabat. Kakek dari lembah Macan
Hitam dan kakek dari lembah Kerbau Mendekam, memang
sering kunjung mengunjungi. Tiap tahun mereka bergantian
saling mengunjungi. Tahun yang lalu kakek Macan Hitam yang
berkunjung ke lembah Kerbau Mendekam. Tahun ini kakek
lembah Kerbau Mendekam yang datang ke lembah Macan
Hitam.
Ah, sungguh manis sekali hubungan kedua kakek itu.
Mereka tentu sahabat yang kental dan rukun. Tetapi apabila
anda menyangka demikian, itu salah.
Kedua kakek yang tampaknya begitu rukun dan karib
ternyata bukan bersahabat tetapi saling bermusuhan. Musuh
bebuyutan. Ya, memang aneh tetapi nyata.
Sudah berpuluh-puluh tahun mereka melangsungkan
permusuhan bebuyutan itu. Tiap tahun mereka bergantian
datang berkunjung untuk melangsungkan adu kepandaian.
Adu kepandaian itu berlangsung sampai beberapa hari.
Setelah sama mengakui bahwa kepandaian mereka
berimbang, yang satu tak dapat mengalahkan yang lain,
barulah mereka berjabat tangan. Duduk minum arak, makan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
enak. Setelah itu baru berpisah. Suatu perpisahan dari dua
orang sahabat yang tampaknya mesra dan karib sekali.
Dunia ini memang penuh dengan manusia-manusia aneh.
Diantaranya ialah kedua kakek itu. Mereka sudah tua renta
tetapi pikiran, ulah tingkah dan bicaranya masih seperti anak
kecil. Mungkin karena usianya yang sudah kelewat tua,
mereka berobah menjadi anak lagi.
"Hai, sahabat Kerbau Putih." seru kakek pendek, sudah
empat hari kita adu kepandaian. Ternyata tangan kita sama
kuatnya, kaki juga sama kuat, mulut sama kuat Sekarang hari
kelima, hari terakhir Kita adu kepala. Kalau masih sama kuat,
bubar. Aku menyediakan arak istimewa untukmu. Lain tahun
kita adu kepandaian lagi. Setuju bukan ?
"Ho, ho. Macan Hitam. Tahun ini aku sebagai tetamu.
Sudah tentu aku menurut saja apa kehendakmu. Lain tahun
kalau aku yang jadi tuan rumah, engkau harus menurut
peraturanku.”
"Tentu, tentu" sahut kakek Macan Hitam, "pokok yang
penting, kita jangan mengingkari janji Mati yang telah kita
buat dengan darah itu."
"Jangan kuatir, Macan Hitam," seru kakek berambut putih,
"takkan kulupa Perjanjian Mati itu."
"Bagus engkau. Kerbau Putih," seru " kakek Macan Hitam,
"sekarang mari kita langsungkan pertandingan hari kelima
atau hari terakhir ini. Kepalaku akan beradu kekuatan dengan
daging bundar di punggungmu itu. Tahun yang lalu, kepalaku
pusing sampai aku jatuh. Tetapi punggungmu juga kesakitan
sehingga engkau pun rebah mencium tanah, bukan ?"
"Ya, benar," sahut kakek Kerbau Putih, "tetapi dalam
setahun ini, daging benjolan punggungku sudah kuperbaiki
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan kuperkokoh dengan tenaga dalam yang lebih hebat.
Apakah kepalamu juga sudah engkau tambah kuat ? Kalau
tidak, tentu pecah. Dengan begitu berarti engkau menambah
beban padaku !"
"Jangan kuatir, Kerbau Putih," seru kakek Macan Hitam
seraya menampar-nampar kepalanya "cukup keras. Pernah
kucoba dengan batu karang, batu karang yang remuk."
"Ah, sebenarnya aku tak mau berlatih tenaga dalam lagi,
biar daging benjol yang mengeram di punggungku selama
berpuluh-puluh tahun itu hancur saja. Ya, biar dihancurkan
oleh kepala mu”
"Manusia licik, engkau ini !" teriak kakek Macan Hitam
seraya deliki mata menuding kakek berambut putih, "engkau
mau cari enak dan hendak mencelakai aku, ya ! Kalau engkau
mati, tentu aku yang harus mengubur mayatmu. Itu saja
masih tak apa. Tetapi kalau engkau mati, lalu siapakah
tetamuku lagi ? Bukankah aku akan kesepian tak punya
tetamu ? Lalu siapa kawanku bicara ? Siapa kawanku
bertanding kepandaian ? Ho, kakek Kerbau Putih, jangan
engkau cari enak sendiri, ya !"
Memang kedua kakek aneh itu telah membuat perjanjian.
Perjanjian itu disebut perjanjian Mati. Barangsiapa mati dalam
pertandingan tiap tahun itu, yang hidup harus menguburnya.
Perjanjian Mati itu diteguhkan dengan saling minum darah.
Kakek Macan Hitam minum darah kakek Kerbau Putih, kakek
Kerbau Putih juga minum darah kakek Macan Hitam.
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih melonjak bangun dan balas
memaki : "Ho, engkau kakek tak tahu kebaikan orang !"
Kakek Macan Hitam melongo: "Kebaikan siapa Kebaikanku,
sudah tentu!" teriak kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kebaikanmu? Aneh, mengapa aku tak merasa, kakek
Macan Hitam garuk-garuk kepala, "kapan engkau antar
kebaikanmu itu kemari ?"
Jika orang biasa, tentu sudah kaku perut atau paling tidak
tentu sudah muntah karena mendengar omongan yang tak
genah dari kakek itu. Tetapi karena keduanya itu memang
kakek yang linglung, yang sinting, yang aneh, yang bego ....
Mereka bicara menurut apa yang dipikirkan sendiri, menurut
gerak lidahnya Tak peduli lain orang yang mendengarkan,
apakah akan tersinggung hatinya, apakah akan merah
mukanya, apakah akan panas telinganya apakah akan
meringis, marah.
"Edan," pekik kakek Kerbau Putih." masakan engkau tak
merasa ?"
"Huh, kalau merasa, masakan aku bilang tidak !"
"O, benar," kata kakek Kerbau Putih, "tetapi mengapa aku
merasa sudah berbuat baik kepadamu
"Bagaimana kebaikanmu itu ?" seru kakek Macan Hitam.
"Pikir-Pikir, aku kasihan juga kepadamu. Kalau aku mati,
engkau harus mengubur. Engkau tak punya kawan bicara
lagi. Oleh karena itu aku pun lalu berlatih lagi, agar aku
jangan sampai kalah dalam pertandingan tahun ini.
"Ho, jangan sombong engkau, Kerbau Putih, teriak kakek
Macan Hitam, "betapa pun engkau berlatih sampai setengah
mati, tak mungkin engkau mampu mengalahkan kesaktian
kepalaku ini."
"Uh, sombong engkau. Macan Hitam," kata kakek berambut
putih, "coba sajalah nanti berapa.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Setan engkau!" bentak kakek Macan Hitam, "mengapa
terhadap seorang sahabat, engkau tetap mau menyimpan
rahasia ?"
Kakek berambut putih mendelik. Ia merasa akan bertanding
kepandaian dengan kakek Macan Hitam, tetapi ia pun merasa
apa yang dikatakan kakek Macan Hitam itu benar. Kakek
Macan Hitam itu memang seorang sahabat. Ah, ia bingung
memikirkan.
"'Eh, Macan Hitam, coba engkau bilang, kita ini musuh atau
sahabat?" akhirnya ia bertanya.
"Musuh bersahabat, Sahabat bermusuhan," sahut kakek
Macan Hitam.
"Musuh bersahabat, sahabat bermusuhan . . .” kakek
berambut putih mengulang lalu merenung, "o, benar, benar,
tetapi eh, apakah maksudnya itu? Mengapa aku tak
mengerti?"
"Tak perlu mengerti, cukup asal engkau mendengar saja !"
kata kakek Macan Hitam.
"Lho, orang mendengar tentu harus mengerti" bantah
kakek berambut putih.
"Tolol !" damprat kakek Macan Hitam, "coba kutanya
kepadamu. Engkau pernah mendengar kerbau menguak ?"
"Pernah "
"Lalu apakah engkau harus mengerti apa arti dari suara
kerbau itu ?"
Kakek berambut putih merenung diam. Tiba-Tiba berseru:
"Tidak bisa! Aku orang, mana bisa mengerti suara kerbau ?”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Itulah," seru kakek Macan Hitam, "engkau cukup
mendengar tak perlu mengerti. Nah, sekarang engkau
dengarkan lagi. Baru-Baru ini aku mengeluarkan dua guci arak
simpanan selama seratus tahun. Coba bilang arak itu enak
atau tidak ?"
"Arak makin disimpan lama, makin enak. Orang makin
disimpan lama, makin tua. tidak enak"
"Ho, ho, ho . . . " tiba-tiba kakek Macan Hitam tertawa
gelak-gelak, "bagus, bagus. Sekarang engkau pandai bersajak
juga. Penyair, ya ?"
"Entah apa jadinya," sahut kakek berambut putih.
"Eh, engkau belum belang. Engkau ingin minum arak
simpanan seratus tahun itu atau tidak ?" "Semua !"
Kakek Macan Hitam mendelik : "Ho, dasar kerbau, tentu
rakus. Kalau engkau minum semua, lalu aku minum apa?"
"Tak perlu minum, cukup asal membau baunya.
"Ho, mana bisa ? Orang membau, harus minum dong !"
bantah kakek Macan Hitam.
"Gila” seru kakek berambut putih, "sekarang aku yang
bertanya, engkau yang menjawab. Kalau aku kencing, engkau
membau tidak ?"
"Belum tentu " kakek Macan Hitam masih ngotot
membantah.
"Kalau aku kentut disini, engkau membau atau tidak ?'"
Kakek Macan Hitam berdiam sejenak lalu berseru : "Belum
tentu. Harus lihat-lihat anginnya. Kalau aku duduk di sebelah
timur dan angin meniup ke barat, aku tentu takkan membau
kentutmu."-
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
.""Hm, kalau aku berak disini, engkau tentu membau,
bukan ?"
"Kurang ajar ! Tentu saja bau !" teriak kakek Macan Hitam.
"Apakah kalau membau, engkau harus meminum
kotoranku?"
"Cabul!" teriak kakek Macan Hitam seraya loncat mundur
dan mendekap hidungnya kencang-kencang "hayo, enyah dari
sini, kakek cabul !"
Kakek Kerbau Putih melongo : "Aku tidak berak sungguh,
hanya bertanya, kalau aku berak apakah engkau tak mencium
baunya. Setan, mengapa engkau mendekap hidungmu? Apa
engkau kira aku berbau busuk ?"
Kakek Macan Hitam lepaskan hidungnya.
Demikian pembicaraan apabila kedua kakek linglung itu
saling bertemu. Setiap persoalan, tentu berlarut
berkepanjangan sehingga apa yang ditanyakan, sering kabur
dengan lain soal.
"Eh, Kerbau Putih, karena engkau mengoceh panjang lebar,
aku sampai lupa apa yang hendak kutanyakan kepadamu itu.
Hayo, sekarang engkau harus bertanggung jawab,
memberitahu kepadaku apa yang hendak kukatakan
kepadamu tadi !"
Kakek rambut putih terkesiap, kerutkan jidat, merenung.
Tetapi dia lupa.
"Ho, goblok benar engkau Kerbau Putih," seru kakek Macan
Hitam, "masakan soal begitu mudah saja engkau lupa ?"
"Ya, memang aku lupa. Cobalah engkau beri tahu
kepadaku, agar aku dapat, mengingatkan hal itu kepadamu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aku tadi bertanya soal arak ..."
"O, benar. Sekarang aku pun akan memberi-tahu apa yang
engkau bilang kepadaku tadi. Ya, engkau bertanya kepadaku
soal arak."
"Benar, ah, mengapa aku lupa," seru kakek Macan Hitam.
Pada hal dialah yang ingat soal itu lalu memberitahu kepada
kakek Kerbau Putih. Kakek itu segera memberitahu kepada
kakek Macan Hitam.
"Belum cukup !" seru kakek Macan Hitam.
"Kalau begitu, engkau harus memberitahu lagi kepadaku
agar akan dapat menyampaikan kepadamu."
"Huh. aku juga lupa!" seru kakek Macan Hitam "Celaka !
Kalau engkau sendiri lupa, bagaimana aku bisa ingat ?" kakek
Kerbau Putih menggerutu .
"Ah, siapa bilang aku lupa ?" kakek Macan Hitam
menyeringai, "bukankah engkau bilang kalau berhasil
mempelajari ilmu tenaga dalam gaya baru ?
"Benar!" seru kakek Kerbau Putih, memang ilmu tenaga
dalam yang kuyakinkan itu luar biasa".
"Engkau harus memberitahu kepadaku apa yang disebut
ilmu tenaga dalam gaya baru itu. Atau arak itu takkan
kusuguhkan kepadamu, akan kuminum sendiri ..."
"Engkau licik, Macan Hitam ! Masakan musuh minta
keterangan tentang kekuatan lawannya. Tetapi, benarkah arak
itu arak simpanan seratus tahun yang lalu, engkau tidak
bohong ?"
"Ha, ha," kakek Macan Hitam tertawa bangga, "diseluruh
jagad ini tak ada arak yang lebih hebat dari arak buatanku.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Coba engkau dengarkan, arak-arak yang kubuat itu. Engkau
tentu akan mendelik keheranan. Arak itu .... "
"Bohong ! Bohong !" teriak kakek Kerbau Putih seraya
mendekap telinganya, "tak usah banyak omong, lekas
sebutkan macam arak yang engkau buat itu"
"Hou-thau-ciu, arak Kepala-macan."
"Heh, apa itu ?"
"Kepala harimau direndam arak sampai puluhan tahun.
Khasiatnya minum arak itu, Ukiran terang, ingatan jernih. Nih,
lihatlah aku. Walau pun sudah tua sekali tetapi aku tidak
simpai linglung ..."
"Lalu ?"
"Hou gan-ciu atau arak Mata-macan. Minum arak itu, mata
menjadi tajam dan terang sekali”
"Ha..”
"Hou-si-ciu atau arak Kumis-macan. Dapat menyuburkan
tumbuhnya rambut Lihat, walau pun umurku sudah se . . . eh,
tua sekali, tetapi rambutku tetap tumbuh subur dan hitam."
Sebenarnya kakek itu hendak mengatakan kalau umurnya
sudah seratus tahun lebih. Tetapi tiba-tiba saja ia teringat
bahwa karena rebutan umur, rebutan lebih tua, dengan kakek
Kerbau Putih, mereka sampai menjadi musuh bebuyutan.
"Ho ..."
"Hou-kut-ciu arak Tulang macan, menguatkan tulang-
tulang, gigi dan kuku."
"Hi...”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hou-sin-ciu atau arak Ginjal-macan. Minum arak itu, orang
tentu menjadi muda kembali, ingin kawin dengan gadis-gadis
cantik. Kakek tua semacam engkau, dilarang minum arak itu !"
"Heh . . . apa engkau sering minum sendiri ?”
"Berbahaya! Lalu Hou-si m-ciu, arak Hati macan. Minum
arak itu, nyali akan bertambah besar, segala apa tidak takut."
"Hih..”
"Dan terakhir, yang paling hebat sendiri, Hou hiat-ciu. arak
Darah-macan. Minum arak itu, darah akan mendidih, tenaga
bertambah kuat berlipat ganda."
"Amboi . . . !"
"Sekarang engkau boleh pilih mau minum arak yang mana,
bung?"
Kerbau Putih tak lekas menyahut melainkan merenung
diam. Beberapa jenak kemudian baru berkata : "Aku ingin arak
Hou-sin-ciu saja."
"Hai, goblok benar engkau!" teriak kakek Ma can Hitam,
"arak itu arak Kumis-macan, khasiatnya hanya menumbuhkan
dan menghitamkan rambut”
"Memang aku ingin rambutku yang putih ini jadi hitam
kembali."
"Mengapa engkau tak minta arak Hati-macan atau Darah-
macan yang dapat menambah tenaga kekuatanmu ?" seru
kakek Macan Hitam.
"Tidak perlu," sahut kakek Kerbau Putih, "aku sudah
mendapat ilmu tenaga dalam gaya baru. Tak perlu mencari
tambahan tenaga lagi."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar, hayo, lekas engkau beritahukan rahasia ilmu
tenaga dalam gaya baru itu. Kalau tak mau, pergilah engkau
dari sini, jangan minta arak kepadaku !"
Kerbau Putih melongo. Untung dia itu juga seorang kakek
linglung hingga tak menyadari kata-kata kakek Macan Hitam
yang gila. Ia malah marah juga : "Setan tua, engkau hendak
mengusir aku ? Jangan main-main engkau! Kalau engkau tak
mau memberikan arak itu, sarangmu ini tentu kubakar !"
"Ya, ya, akan kuberi arak itu tetapi sahabatku yang baik,
engkau pun harus memberitahu tentang ilmumu tenaga dalam
gaya baru itu," tiba-tiba kakek Macan Hitam berganti nada
ramah.
Mendengar itu kakek Kerbau Putih pun tenang juga : "O,
baiklah, sahabat yang manis. Dengarkanlah Sebenarnya
secara tak sengaja aku telah menemukan cara menimbulkan
tenaga dalam gaya baru itu . . . "
Kakek Macan Hitam makin gelisah tak sabar. Ia berdiri lalu
duduk, berdiri lagi dan duduk pula.
""Ketika itu aku sakit hampir mati. Dan kukira memang
tentu mati. Aku sampai tak dapat bangun ..."
"Hai, mengapa engkau tak memberitahu kepadaku ? Tentu
aku akan datang menolongmu !" kakek Macan Hitam memutus
omongan orang.
"Engkau edan !" damprat kakek Kerbau Putih, "sedang
bergerak bangun saja tidak bisa, mana aku dapat
memberitahu kepadamu !"
"O, benar, benar," kata kakek Macan Hitam sambil
menampar-nampar kepala.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Perutku sakit sekali, terpaksa aku paksakan diri merangkak
keluar guha untuk buang air. Tiba di muka guha aku sudah tak
tahan dan berak terus menerus sampai kotoran habis hanya
tinggal berak air. Tetapi tetap tak berhentinya. Sehari terus
berak-berak saja, aku sampai lemas sekali dan rubuh pingsan
di muka guha ..."
"O. kasihan benar," kembali kakek Macan Hitam
menyelutuk.
"Entah berapa lama aku terhampar pingsan, ketika
membuka mata mukaku basah kuyup dan perutku
melembung. Ah, ternyata karena rebah dengan kepala
menghadap ke atas dan mulut menganga, hujan yang turun
malam itu telah masuk ke dalam perutku. Buru-Buru aku
masuk ke dalam guha lalu duduk menjalankan pernapasan.
Peredaran darah kuhentikan, kusalurkan saja air itu ke seluruh
tubuh, untuk mencuci bersih kotoran-kotoran dalam tubuh Isi
daging benjolan pada punggungku pun kucuci. Eh, di dalam
menjalankan peredaran air itu, aku menemukan sesuatu yang
belum pernah kualami. Kekuatanku bertambah, semangatku
penuh. Kucoba untuk menghantam karang. Eh, mudah juga,
tak kalah dengan pengerahan tenaga-dalam. Lama kelamaan
baru kusadari bahwa selain tenaga dalam yang berasal dari
pengerahan hawa dan darah dalam tubuh, ternyata air dalam
tubuh manusia itu pun dapat dikerahkan dan dibentuk
menjadi suatu kekuatan yang tak kalah hebatnya. Maka
kusebutnya sebagai tenaga dalam gaya baru. Tidak
menggunakan hawa dan darah tetapi dari air dalam badan
manusia ini."
"O, hebat," seru kakek Macan Hitam, "tetapi masakan dapat
menyamai kehebatan ilmu tenaga dalam yang biasa ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Nanti engkau dapat merasakan sendiri " kata kakek Kerbau
putih, "Cui-sin-kang atau Tenaga-air-sakti, demikian
kunamakan ilmu itu."
"Huh, jangan berlagak sok, engkau !" tiba-tiba kakek Macan
Hitam marah, "aku pun hendak melatih ilmu itu, tentu dapat
menyamai kepandaianmu."
"Bangsat, engkau hendak mencuri ilmuku ? Aku yang jerih
payah dan menderita kesakitan baru dapat menemukan ilmu
itu, sekarang enak-enak saja engkau terus hendak
menjiplaknya !"
''Siapa menjiplaknya ? Aku toh belajar sendiri ? Aku toh
tidak mencuri ilmumu ?"
Tiba-Tiba kakek Macan Hitam berseru kaget : "Hai, Macan
Hitam, jangan, janganlah engkau belajar ilmu itu. Percuma
dan sia-sia sajalah !"
Kakek Macan Hitam melongo kemudian deliki mata : "Huh,
apa engkau kira aku tak dapat meyakinkan ilmu itu? Lihat saja
besok lain tahun !"
"Ha, ha, ha . . . !" tiba-tiba pula kakek Kerbau Putih tertawa
gelak-gelak dan panjang.
"Setan, mengapa engkau tertawa ?" seru kakek Macan
Hitam terlongong.
"Karena tak mungkin engkau dapat melatih ilmu itu !"
"Mengapa?" seru kakek Macan Hitam makin heran.
"Karena hanya orang yang punggungnya tumbuh benjolan
daging seperti aku ini, baru dapat melatih ilmu tenaga Cui-sin-
kang !"
"Bohong!"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aku bicara dengan sungguh, terserah engkau mau percaya
atau tidak !"
"Sekarang keluarkan dulu arakmu itu !" seru kakek Kerbau
Putih.
"Hai !" tiba-tiba kakek Macan Hitam menjerit dan melonjak,
"celaka, celaka engkau Kerbau Putih!”
Sudah tentu kakek Kerbau Putih melongo. Tanpa sebab
apa-apa, mengapa mendadak sontak Macan Hitam menjerit
dan mengerang seperti orang kebakaran jenggot.
"Engkau gila barangkali. Mengapa engkau menjerit-jerit
seperti orang edan ?" seru Kerbau Putih.
"Lihatlah keluar itu," seru kakek Macan Hitam seraya
menunjuk ke dasar lembah yang merupakan sebuah tanah
datar, "bukankah disana tampak terang benderang ? Itulah,
matahari sudah berada di tengah langit, hari sudah tengah
hari !"
Kakek Kerbau Putih menurut arah yang ditunjuk kakek
rambut hitam, serunya : "O, lalu maksudmu ?"
"Mengapa engkau masih mengajak aku bicara begitu
bertele-tele saja ? Bukankah kita harus menyelesaikan
pertempuran yang terakhir ? Atau apakah memang engkau
sudah mengaku kalah ?"'
"Setan tua, siapa bilang aku kalah dengan engkau ?
Bukankah engkau sendiri yang terus menerus mengoceh tak
keruan? Hayo, kita mulai saja pertempuran itu !" sahut kakek
Kerbau Putih yang sudah lupa untuk menagih arak kepada
tuan rumah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memang hampir setengah hari mereka bertele-tele berdebat
dan ngotot tak keruan. Setelah matahari naik di tengah,
barulah kakek Macan Hitam itu kelabakan.
"Hayo," katanya seraya melangkah keluar menuju ke tanah
datar yang letaknya tepat di dasar jurang yang menjurus ke
atas sehingga sinar matahari langsung menimpa kesitu.
Setelah saling mengambil kedudukan mereka lalu saling
merapat. Macan Hitam menundukkan kepalanya. Kerbau Putih
berputar tubuh membelakangi dan songsongkan daging
bundar di punggungnya ke kepala lawan. Sesaat terjadilah
pemandangan yang lucu. Kakek Macan Hitam menunduk,
sorongkan kepalanya ke daging benjol di punggung kakek
Kerbau Putih. Sepintas pandang kepala kakek Macan Hitam itu
seperti menyorong sebuah bantal daging.
Demikian adu kepandaian yang aneh dari dua orang kakek
yang aneh. Pertandingan itu mereka sebut adu tenaga kepala.
Dan sesungguhnya, walau pun orang linglung tetapi kedua
kakek itu memiliki kepandaian yang sakti sekali. Mereka
termasuk tokoh-tokoh luar biasa. Adu tenaga kepala itu
diiambari dengan tenaga dalam yang hebat. Dengan
kepalanya itu, kakek Macan hitam dapat menyorong hancur
batu karang. Demikian pun dengan kakek Kerbau Pulih.
Daging benjol pada punggungnya itu mampu mendorong
rubuh pohon besar.
Ternyata kesaktian kedua kakek itu berimbang. Sudah
empat hari lamanya mereka adu kepandaian. Hari pertama
mereka adu tangan. Hantam menghantam, pukul memukul,
cengkam mencengkam dan dorong mendorong dengan
tenaga-dalam. Tetapi sampai malam rembulan tepat berada di
atas mulut jurang, barulah pertandingan itu berhenti tanpa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
ada kesudahannya. Demikian pun dengan hari kedua, ketiga
dan keempat.
Hari itu adalah hari kelima, yaitu hari yang terakhir.
Menurut perjanjian yang telah disepakati berpuluh-puluh
tahun, pertandingan itu hanya dilangsungkan selama lima hari.
Setelah itu dibubarkan.
"Aduh, kurang ajar engkau Kerbau Putih," tiba-tiba kakek
Macan Hitam berseru, "mengapa daging punggungmu
berobah sedingin gumpalan es ?”
"Ha. ha, itulah yang namanya Cui-sin-kang, sahut kakek
Kerbau Pulih, "dalam waktu beberapa jam saja kepalamu tentu
beku dan keras seperti es !"
"Gila," teriak Macan Hitam, "kalau engkau tetap
menggunakan Cui-sin-kang, aku bisa mati !"
"Ha, ha, ha," seru kakek Kerbau Putih, "ka lau memang tak
tahan, bilang saja kalah. Nanti tentu segera kuhentikan Cui-
sin-kang ..."
"Kalah ? Ho, bukankah kalau kalah aku harus mencium
kakiku dan menyebutmu 'ayah'? Tidak tidak, aku tak sudi.
Masakan aku yang lebih tua harus menyebut ayah kepadamu!"
"Siapa bilang engkau lebih tua ! Pantasnya engkau ini
cucuku. Karena sejak aku lahir, aku tak pernah melihat engkau
hidup. Baru setelah aku menjadi kakek setua ini, engkau
muncul di dunia !" bantah kakek Kerbau Putih.
Demikian kedua kakek yang linglung itu mengadu
kepandaian tenaga dalam sambil berbantah. Sekali pun begitu,
tenaga dalam yang dipancarkan dari kepala dan daging benjol
di punggung kakek Kerbau Putih, bukan kepalang
dahsyatnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tampak kakek Macan Hitam itu makin gemetar tubuhnya
Rupanya ia mulai kedinginan menerima serangan Cui-sin-kang
atau Tenaga-dalam-air-sakti yang memancarkan hawa
sedingin es.
Berjam-jam lamanya kakek Macan-Hitam itu menggigil
kedinginan. Dan matahari pun sudah silam ke balik gunung,
hari mulai gelap. Tiba-Tiba kakek Macan Hitam menggembor
keras lalu menarik-narik rambutnya, kumis dan jenggotnya.
Berulang kali ia melakukan hal itu.
"Hai, hangat, hangat!" teriak kakek Kerbau Putih, "mengapa
kepalamu mulai hangat?”
Kakek Macan Hitam tak menghiraukan. Ia terus menarik
rambutnya kencang-kencang dan menggerung seperti macan.
Tubuhnya yang menggigil itu pun mulai tenang kembali.
"Kurang ajar, mengapa kepalamu makin panas?" beberapa
saat kemudian kakek Kerbau Putih berteriak kaget.
"Ho, ho, ho," kakek Macan Hitam tertawa meloroh,
"sekarang rasakanlah pembalasanku. Memang Hou-hwat-sin-
kang itu baru mau memancar apabila matahari sudah silam."
"Hou-hwat-sin-kang ? Apakah itu ?" tanya Kerbau Putih.
"Hou-hwat-sin-kang ialah tenaga dalam sakti dari Rambut-
harimau. Jangan kira rambutku yang hitam ini tidak ada
gunanya. Ada, ada gunanya, bung ! Apabila matahari sudah
silam, rambutku itu dapat kutarik khasiatnya yalah
memancarkan tenaga dalam yang kekuatannya seperti tenaga
harimau."
"O," desus kakek Kerbau Putih, "mengapa saat matahari
silam baru dapat memancarkan tenaga-dalam.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Karena sesuai dengan namanya Hou-hwat a-atau rambut
macan, haruslah malam hari dapat digunakan. Bukankah
macan hitam itu baru berkeliaran dan unjuk kekuatan pada
waktu malam hari?”
"Kurang ajar, engkau Macan Hitam," teriak kakek Kerbau
Putih, "mengapa engkau diam saja? Bukankah engkau hendak
mengelabui aku? Kapan engkau mendapatkan ilmu semacam
itu ?"'
"Baru dalam tahun ini," sahut kakek Macan Hitam, "tetapi
aku lupa bilang. Sekali-kali aku tak bermaksud mengelabuhi
engkau."
"Hm, setan tua engkau !" damprat kakek Kerbau Putih lalu
berdiam diri.
Jika tadi setengah hari, dari tengah hari sampai petang,
kakek Macan Hitam yang menggigil kedinginan: Sekarang dari
saat matahari terbenam sampai tengah- malam, kakek Kerbau
Putih yang mengerenyut muka karena kepanasan. Kiranya
tenaga dalam yang memancar dari Hou-hwat-sin-kang si
kakek Macan Hitam itu mengandung hawa panas.
Berjam-jam lamanya kakek Kerbau Putih harus menahan
panas sehingga tubuhnya mandi keringat. Memang pada
hakekatnya, tenaga-sakti dari ilmu Hou-hwat-sin-kang itu lebih
unggul sedikit dari Cui-sin-kang.
Tiba-Tiba rembulan tampak menjulang di tengah angkasa,
wajahnya pun tepat terlihat di bawah dasar lembah sehingga
sinarnya dapat mencapai tempat kedua kakek itu bertempur.
Sekonyong-konyong kakek Kerbau Putih menguak-nguak
tak henti-hentinya. Dan beberapa saat kemudian, kakek
Macan Hitam menjerit: "Hai, mengapa tenaga-dalamku
menyurut balik ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Namun kakek Kerbau Putih tak mau menyahut. Dia tetap
diam saja.
"Kerbau Putih, ilmu apa yang engkau keluarkan sekarang
ini?" teriak kakek Macan Hitam pula. Tubuhnya mulai gemetar,
kepalanya agak pusing.
"Jawab dulu," sahut kakek Kerbau Putih, "bagaimana
rasanya kepalamu ?"
"Pusing, huh, kalau terus begini, kepalaku bisa berputar-
putar mengelilingi dunia ..."
"Ha, ha, ha . . ," kakek Kerbau Putih tertawa girang,
"rasakanlah sekarang pembalasanku. Rembulan sudah berada
di tengah, kerbau yang sesat di jalan tak dapat pulang
kandang, tentu akan marah, bukan ?"
"Ya”
"Nah, itulah yang dinamakan ilmu Hong-gu-sin-kang atau
tenaga dalam Kerbau-gila. Kepalamu dalam beberapa kejab
lagi tentu akan berputar-putar dan setelah itu engkau tentu
akan jatuh mencium kakiku !"
"Keparat !" kakek Macan Hitam mendamprat lalu ulurkan
kedua tangannya kemuka dan berulang-ulang mencakar.
Bukan mencakar punggung lawan tetapi mencakar tempat
kosong.
"Uh, uh," sesaat kemudian kakek Kerbau Putih mendesuh-
desuh, "setan tua, hebat sekali tenaga-dalammu yang
menghalau tenaga dalamku."
"Hou-jiau-sin-kang !"
"Apa ? Hou-jiau-sin-kang ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, engkau boleh rasakan betapa kekuatan dari ilmu
tenaga dalam Macan-mencakar itu."
Demikian silih berganti kedua kakek itu mengeluarkan ilmu
tenaga dalam yang aneh-aneh. Ilmu tenaga dalam yang hanya
dimiliki oleh mereka berdua. Dalam dunia persilatan memang
tak terdapat ilmu tenaga dalam yang seaneh itu. Karena ilmu-
ilmu itu adalah hasil ciptaan mereka sendiri.
Rembulan makin merebah ke barat dan malam pun makin
larut. Tengah kedua kakek itu bertempur mati-matian,
sekonyong-konyong mereka di kejutkan oleh sesosok tubuh
yang menimpa tepat di atas kepala yang melekat rapat
dengan daging panggung. Bluk ....
Yang jatuh itu bukan lain adalah si Blo'on. Karena tertimpuk
banggol kayu oleh Pengemis-sak-ti Hoa Sin, anak itu terlempar
jatuh ke dalam jurang. Dasar
belum takdirnya mati. Saat itu
di dasar lembah sedang
berlangsung pertempuran
antara kakek Macan Hitam
dengan kakek Kerbau Putih.
Dan jatuhnya Blo'on tepat
duduk di atas kepala kakek
Macan Hitam dan daging
benjul kakek Kerbau putih.
"Aduh . .” Blo'on menjerit
karena paha kanan
menduduki kepala kakak
Macan Hitam yang keras. Tetapi paha yang kiri menduduki
daging benjul kakek Kerbau Putih tak terasa sakit.
Kedua kakek linglung itu tidak merasa bahwa ada tubuh
orang yang menduduki kepala dan daging punggung mereka.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan mereka pun tak menyangka kalau ada manusia yang
datang kesitu.
"Kerbau Putih, ho, engkau hendak menekan kepalaku
supaya pecah, bukan? Jangan ngimpi, rasakan seranganku,"
kakek Macan Hitam menjerit dan memaki-maki. Lalu kerahkan
tenaga dalam untuk menyerang.
"Aduhhh . . . panas sekali !" teriak Blo'on ketika rasakan
paha kanannya dialiri hawa yang amat panas. Ia hendak
mengangkat pahanya tetapi tak dapat. Paha itu seolah-oleh
melekat pada kepala kakek Macan Hitam.
Dari paha kanan, aliran hawa panas itu menyalur ke paha
kiri. Deras seperti arus sungai.
"Aduhhh . . . dingin sekali !'" sesaat kemudian Blo'on
menjerit lagi ketika paha kirinya dialiri hawa yang amat dingin,
sedingin es.
Ternyata aliran hawa dingin itu berasal dari pancaran
tenaga dalam kakek Kerbau Putih untuk menolak serangan
hawa panas dari kakek Macan Hitam.
Dua buah tenaga dalam yang berlawanan jenis, panas dan
dingin, segera berhamburan mengalir ke paha Blo'on. Paha
yang kanan dilanda arus panas, paha kiri dibanjiri arus dingin.
Kedua jenis tenaga dalam aneh itu berbenturan di tengah lalu
meluap ke perut Blo'on.
"Aduh perutku panas ..." Blo'on mendekap perut sebelah
kanan, "aduh yang kiri . . " ia mendekap perutnya bagian kiri.
Blo'on peringisan. Perutnya seperti digodok dan dibenam
es.
"Aduh, mati aku . . tiba-tiba Blo'on beralih
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hola ..." Blo'on menjerit kaget ketika ia jatuh terduduk di
atas kepala kakek Macan Hitam dan hahu kakek Kerbau Putih
yang sedang bertempur mati-matian itu ....mendekap tangan
kiri ke dada kirinya, "dadaku beku . . . !”
"Mampus engkau, setan tua!" tiba-tiba terdengar kakek
rambut putih berteriak girang. Rupanya kakek itu menyangka
kalau yang menjerit kesakitan tadi, lawannya kakek Macan
Hitam.
"Aduh, mati lagi aku . . !" sesaat kemudian Blo'on menjerit
dan mendekapkan tangan kanannya ke dada kanan," dadaku
terbakar ..."
"Ho, rasakan pembalasanku, Kerbau Putih," teriak kakek
Macan Hitam yang mengira kalau jeritan Blo'on itu berasal dari
kakek Kerbau Putih.
Memang kedua kakek itu linglung dan sinting. Mereka tak
merasa kalau kepalanya dan daging punggungnya diduduki
orang. pun mereka tak mau memperhatikan kalau yang
menjerit kesakitan itu bukan lawannya melainkan lain orang.
"Aduh, minta ampun . . kepalaku panas . . mau pecah . . ,"
tiba-tiba Blo'on menjerit kesakitan dan mendekap kepalanya
yang sisih kanan.
"Biar pecah . . eh, engkau sudah minta ampun? Mau
mengaku kalah ?" tiba-tiba pula kakek Macan Hitam berteriak.
Dia mengira kakek Kerbau Putih yang menjerit dan minta am
pun.
"Aduh, mak, ampun. . kepalaku beku . .” Blo'on berteriak
lagi dan mendekap kepalanya sebelah kiri.
"Setan tua, siapa yang minta ampun? Uh, kurang ajar, aku
orang lelaki mengapa engkau menyebut emak kepadaku ?
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kurang ajar, siapa yang kalah! Kalau tak tahan, jangan malu.
Bilang saja, tentu kuampuni . . . ," teriak kakek Kerbau Putih
yang mengadakan serangan tenaga dalam makin hebat.
Kasihan si Blo'on. Dia telah menjadi bulan-bulan sasaran
kedua kakek linglung yang sakti itu. Tubuhnya telah dialiri dua
macam tenaga-dalam, panas dan dingin. Separoh tubuhnya
yang kanan, panas seperti dibakar api. Separoh tubuh yang
kiri dingin seperti direndam es. Untunglah secara tak disadari,
dia telah makan rumput mustika Li-ong-si-jau rumput Kumis-
naga Rumput itu hanya mengeluarkan bunga tiap seribu
tahun. Dengan memakan bunga rumput Liong-si-jau, secara
tak disadari Blo'on telah memiliki tenaga dalam yang hebat,
setingkat dengan tokoh persilatan kelas satu
Tenaga dalam Blo'on mengalami gemblengan yang hebat.
Yang berada di dalam separoh tubuhnya sebelah kanan,
digodok dengan tenaga dalam si kakek Macan Hitam yang
panas. Sedang tenaga dalam Blo'on yang berada ditubuhnya
sebelah kiri, seperti direndam es dari kutub utara.
"Aduh, dadaku beku . . aduh dadaku terbakar . . " Blo'on
menjerit dan berteriak ketika kedua jenis tenaga dalam panas
dan dingin itu turun membanjiri dadanya.
"Mati sungguh aku sekarang . . " Bloon mengerang jerit
terakhir, kemudian ia terkulai rubuh tengkurap di atas kepala
dan daging punggung kedua kakek aneh itu.
Kedua kakek itu tetap tak menyadari bahwa kepala dan
punggungnya dimuati seorang manusia Mereka tetap
menyalurkan tenaga dalam sekuat-kuatnya. Tetapi mereka
pun merasakan sesuatu yang aneh.
Tenaga dalam yang dipancarkan kakek Macan Hitam mau
pun kakek Kerbau Putih, tak pernah kembali. Begitu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
memancar keluar, terus hilang. Dengan demikian, perlahan
tetapi tentu, tenaga dalam mereka pun mulai berkurang,
makin habis.
Menjelang terang tanah, tenaga dalam kedua kakek itu
benar-benar habis. Bluk. bluk, bluk . . . terdengar tiga buah
suara dan tubuh manusia yang jatuh ketanah. Kedua kakek itu
karena tenaga-dalamnya habis, terjerembab jatuh terduduk
ditanah. Sedang karena kedua kakek itu lepaskan kepala dan
punggungnya maka Blo’on pun jatuh rebah di atas tanah.
Kedua kakek duduk pejamkan mata, menyalurkan
pernapasan dan mengembalikan tenaganya. Blo’on
menggeletak tak ingat diri.
Beberapa waktu lamanya, kedua kakek itu serempak
membuka mata. Demi melihat sesosok tubuh manusia rebah di
hadapan mereka, kakek Macan Hitam melonjak bangun : "Hai,
harimau . . !” la terus mencengkeram Blo'on.
"Kerbauku ..." teriak kakek Kerbau Putih terus menubruk
kaki Blo’on.
"Setan tua. lepaskan. Ini harimauku," teriak kakek Macan
Hitam seraya menarik kepala Blo'on.
"Bukan, ini kerbauku!" kakek Kerbau Putih pun menarik
kaki anak itu.
Blo'on dijadikan barang tarikan. Kepalanya ditarik kakek
Macan Hitam, kakinya ditarik kakek Kerbau Putih.
Karena ditarik sana dibetot sini, Blo'on tersadar. Ia terkejut
dan kesakitan karena dirinya ditarik sana ditarik sini. Saat itu
tangannya masih bebas. Karena tak tahan rasa sakitnya.
Blo'on ayunkan tangan kanan menghantam kebelakang dan
tamparkan tangan kiri kearah kaki kearah kakinya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Duk . . duk . . bluk . . terdengar suara tubuh jatuh ke tanah
disusul dengan jerit kesakitan.
Karena pukulan Blo'on, kakek Macan Hitam mencelat ke
belakang, membentur karang dan rubuh terduduk ditanah.
pun kakek Kerbau Putih juga terlempar beberapa langkah,
membentur karang dan jatuh terduduk. Tetapi karena dilepas
oleh kedua kakek itu, tubuh Blo’on pun jatuh terbanting
ditanah.
Kembali kedua kakek itu pejamkan mata, menyalurkan
peredaran darahnya yang bergolak-golak. Pukulan Blo'on
bukan main hebatnya. Baik kakek Macan Hitam mau pun
Kerbau Putih rasakan dadanya seperti dihantam pukul besi.
Blo'on bergeliat bangun. Ia heran mendapatkan dirinya
berada dalam sebuah tempat yang sempit. Sekelilingnya
penuh dengan dinding karang yang menjulang tinggi.
"Hai, setan ... !" ia melonjak kaget ketika matanya
tertumbuk pada seorang kakek berambut hitam yang tengah
duduk meramkan mata. Ia ber paling ke kiri dan . . "Hai, setan
lagi . . !" ia menjerit kaget seperti disengat tawon. Dilihatnya
seorang kakek berambut putih tengah duduk pejamkan mata.
Beberapa saat kemudian, ia mulai tenang. Ke dua kakek
yang dianggapnya setan itu masih duduk meram. Timbullah
nyali Blo'on. Ia berindap-indap menghampiri kakek berambut
hitam. Memandangnya dengan teliti.
'"Aneh ..." gumamnya, "kalau setan mengapa mukanya
manusia. Kalau manusia mengapa begitu pendek sekali
tubuhnya. Menurut kerut wajahnya, dia seorang kakek tua
tetapi mengapa rambutnya masih hitam ..."
Ia maju lebih rapat lagi. Dijulurkannya tangannya untuk
meraba muka kakek berambut hitam itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Uh, daging manusia," gumamnya, "kalau begitu dia
seorang manusia, bukan bangsa setan. Tetapi mengapa diam
saja . . "
Tangan Blo'on merayap disepanjang muka kakek itu
singgah ke lubang hidung orang. Maksudnya hendak
memeriksa pernapasan si kakek. Tetapi karena gelap, jari
Blo'on keliru menyasar masuk ke dalam lubang hidung orang,
"Haaaajingng . . . ", karena lubang hidung digelitik jari,
kakek Macan Hitam berbangkis sekuat-sekuatnya.
Karena kaget dan karena kuatnya semburan mulut kakek
Macan Hitam. Blo'on sampai terlempar dan berguling-guling
ketanah. Pada waktu ia bangun, ia pun berteriak kaget : "Hai,
engkau ! Mengapa tiba-tiba rambutmu sudah putih ? Kemana
rambutmu yang hitam tadi ?"
Kakek linglung, anak itu pun Blo'on. Ia berguling-guling
sampai ketempat kakek Kerbau Putih. Dan ketika membuka
mata, ia kaget karena mengira kalau kakek Kerbau Putih itu
kakek Macan Hitam tadi.
Tetapi kakek Kerbau Putih pun diam saja. Rupanya dia
masih menjalankan peredaran napas dan darah untuk
mengembalikan tenaganya yang habis.
Karena heran, Blo'on maju mendekati lalu ulurkan tangan
meraba rambut kepala kakek Kerbau Putih : "Aneh, mengapa
rambutmu menjadi putih, setan ..."
Setelah rambut kepala, tangan Blo'on pun turun meraba
kumis kakek Kerbau Putih. Tak disengaja ujung kukunya
menusuk ke dalam lubang hidung si kakek dan berbangkislah
kakek itu berbangkis sekuat-kuatnya . . .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Untuk yang kedua kalinya, Blo'on terkejut dan mencelat
beberapa langkah, berguling-guling ketempat kakek Macan
Hitam.
"Hai, engkau . . . , " ia menjerit kaget, "rambutmu hitam
lagi, bagus !"
Blo'on memang blo'on. Ia tak menyadari kalau di dalam
dasar jurang itu terdapat dua orang kakek. Ia heran mengapa
kakek itu, dapat berobah-robah, sebentar rambutnya hitam,
sebentar putih
Karena heran, Blo'on meraba-raba lagi muka kakek pendek
itu. Tiba-Tiba ia meraba kelopak mata si kakek terus disiakkan
supaya terbuka. Sudah tentu kakek Macan Hitam itu
mendongkol. Mati-matian ia pertahankan kelopak matanya
supaya tertutup. Tetapi kalah kuat dengan tangan Blo'on.
Akhirnya kelopak mata kakek Macan Hitam itu pun terbuka.
"Ih, ngeri . . . "Blo'on menjerit kaget karena biji mata kakek
itu melotot. Karena muka dan matanya dibuat mainan, kakek
Macan Hitam itu marah sekali. Dengan menggerung keras, ia
menandukkan kepalanya ke dada Blo'on, duk . . .
Blo'on yang duduk merapat didepan si kakek tak dapat
menghindar lagi. Dadanya tertumbuk kepala si kakek dan
terlemparlah ia ke belakang Bluk . . . tiba-tiba kakek Kerbau
Putih memutar tubuh dan menyambut Blo'on dengan daging
benjolan punggungnya, duk . . .
"Uh . . . ," kembali Blo'on terpental balik ketempat kakek
Macan Hitam Kakek itu menandukkan dengan kepalanya lagi,
duk . . .
Demikian Blo'on dibuat bulan-bulan, ditanduk dengan
kepala dan dipentalkan dengan daging benjol punggung.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Untunglah karena anak itu telah memiliki tenaga dalam yang
kokoh, ia tak sampai menderita luka.
Akhirnya karena dibuat bal-balan, Blo'on marah juga. Ketika
kakek Macan Hitam menanduk. Blo'on menampar kepalanya
dan ketika kakek Kerbau Putih hendak mendorong dengan
punggung, anak itu pun menghantam daging benjol
punggung Kakek itu.
Prak, bluk . . . kakek Macan Hitam terkapar dan kakek
Kerbau Putih pun menyusur tanah. Keduanya tak ingat diri.
Mereka kehabisan tenaga dalam, tenaga dalam keduanya
telah disalurkan ke dalam tubuh Blo'on semua. Ditambah pula
anak itu sudah makan bunga rumput Liong-si-jau. Maka
tampaknya hebat sekali akibatnya. Kedua kakek itu pingsan !
"Aneh, dimanakah aku berada ?" Blo'on mulai bingung
bertanya-tanya," dan siapakah kedua manusia tua itu ?"
Tiba-Tiba melayanglah seekor burung rajawali yang
punggungnya membawa monyet hitam. Langsung burung itu
hinggap di bahu Blo'on dan monyet pun loncat ke atas kepala
anak itu,
"Turun !" teriak Blo'on seraya mendorong monyet dan
burung rajawali. Kedua binatang itu- pun loncat turun.
Kedengaran lolong anjing berkepanjangan. Rupanya anjing
kawan dari kedua binatang itu masih menunggu di tepi jurang
sebelah atas. Anjing itu tak berani menuruni jurang yang
begitu landai.
Blo'on menghampiri kakek Macan Hitam, Diamatinya kakek
itu beberapa saat : "O, dia seorang manusia juga. Tetapi
mengapa tubuhnya pendek sekali ?"
Kemudian dia menghampiri kakek Kerbau Putih
memeriksanya : "Uh, ini juga seorang manusia. Rambutnya
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
putih, tentu sudah tua. Hai, mengapa punggungnya
bersusun?"
Dipegangnya daging benjol pada punggung kakek Kerbau
Putih itu : "Uh, keras sekali ..."
Diguncang-guncangnya kakek itu supaya bangun tetapi
mereka tetap meram. Blo'on tak tahu kalau kedua kakek itu
pingsan. Akhirnya ia mengkal dan dibiarkan saja mereka
menggeletak.
"Celaka!" ia berteriak, "jangan-jangan mereka mati dan aku
lagi yang dituduh orang membunuhnya!"
Karena beberapa kali ia selalu berada di dekat orang mati
dan selalu dituduh pembunuh, Blo'on menjadi jera. Ia mulai
bingung untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi ketika
memandang ke sekeliling ternyata dinding karang menjulang
lurus ke atas dengan tinggi sekali.
"Celaka, tak mungkin aku memanjat ke atas" ia mulai sibuk
lari kian kemari mencari jalan.
Akhirnya ia menemukan sebuah terowongan, ia masuk dan
dapatkan dirinya berada dalam sebuah guha yang cukup luas.
Perlengkapan yang terdapat dalam guha itu menyerupai
sebuah bilik rumah. Sebuah meja, dua buah kursi, sebuah
balai-balai yang kesemuanya terbuat dari batu. Sebuah pelita
yang masih menyala terletak di atas meja. Dengan demikian
dapatlah ia melihat keadaan dalam ruang guha itu.
Dan yang lebih menggirangkan, ternyata di-atas meja batu
itu masih terdapat beberapa makanan. Nasi kering dan daging
bakar yang menusuk hidung baunya.
Seketika timbullah rasa lapar Blo'on. Tak peduli apa-apa
lagi, ia terus duduk dan melahap makanan itu sampai habis
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kemudian ia berbangkit mencari minuman. Setelah mencari
sekian saat. ia menemukan di bawah balai-balai batu itu
sebuah lubang yang ditimbuni rumput kering. Ketika timbunan
rumput diambil, ia menjerit girang.
"Oho, arak ..." ia pun segera mengambil sebuah guci terus
dibawa ke meja. Dicarinya sebuah cawan lalu dituangnya guci
itu. Arak berwarna merah, baunya agak sedap-sedap anyir.
Blo'on terus menghabiskan arak seguci itu. Tiba-Tiba ia
rasakan kepalanya pening dan berat.
Kemudian ia rasakan badannya panas dan makin panas.
Rasanya seperti dibakar api. Karena tak kuat menahan rasa
panas itu, ia tumpahkan pada meja batu. Dipegangnya meja
itu lalu digulingkannya, uh, uh . . meja batu itu ternyata berat
sekali. Tetapi Blo'on sudah seperti orang kemasukan setan.
Didorongnya meja itu sekuat-kuatnya.
Tiba-Tiba terdengar suara berderak-derak ketika meja batu
itu mengisar ke samping. Blo'on tetap mendorongnya
sehingga keringat bercucuran seperti orang mandi. Hanya
dengan berbuat begitu, ia rasakan kepala dan tubuhnya agak
ringan, panasnya mulai berkurang.
Ternyata dia secara tak sengaja telah minum arak Hou-hiat-
ciu atau Darah Macan Arak dari darah macan yang diawetkan
dengan ramuan daun-daun obat dan disimpan selama
berpuluh-puluh tahun oleh kakek Macan Hitam. Arak itulah
yang dibanggakan kakek Macan Hitam sebagai arak yang
mempunyai daya khasiat menambah kekuatan.
Setelah minum arak itu, berkembanglah tenaga Blo'on
Makan bunga rumput Liong-si-jau, diberi saluran tenaga dalam
oleh kedua kakek aneh dan kini minum arak Darah Macan.
Meja batu yang beratnya beberapa ratus kati itu dapat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
didorongnya ke samping dan kini terbukalah sebuah lubang
terowongan. Untuk turun ke bawah, terdapat titian batu.
Tanpa banyak pikir, Blo'on terus turun ke-bawah. Burung
rajawali dan monyet pun mengikuti di belakangnya.
Entah berapa lama ia berjalan menyusur lorong terowongan
itu. Akhirnya terowongan itu buntu, pecah menjadi dua lorong
yang menjurus ke kanan dan kiri.. Yang menjurus ke kiri -
terdapat sebuah huruf berbunyi Si (mati). Sedang lorong yang
menjurus ke samping kanan terdapat sebuah Seng (hidup).
Blo'on tak memperhatikan huruf itu. Pokok karena melihat
lorong yang menjurus ke kiri itu agak lebar, ia terus saja
membelok ke kiri.
Berjalan tak berapa lama, tibalah ia di sebuah ruangan yang
besar. Ruangan itu mempunyai empat buah pintu.
Blo'on terkejut melihat suasana ruangan itu tidak segelap
lorong terowongan tadi. Di tengah ruangan terdapat lampu
yang masih menyala. Sedang empat sudut ruangan dihias
dengan empat butir mutiara sebesar telur ayam. Karena
ditimpa sinar lampu, mutiara itu memantulkan cahaya yang
redup tetapi cukup terang.
Mutiara itu disebut Ya-beng-cu atau Mutiara yang dapat
menerangi malam hari. Tergolong mutiara yang jarang
terdapat di dunia. Tetapi Blo'on tak tahu. la tak mempedulikan
benda berharga itu.
Perhatian Blo'on tertumpah pada keempat pintu yang
terletak di empat penjuru, utara, timur selatan dan barat.
Pintu utara bercat merah, pintu timur bercat kuning emas.
pintu selatan bercat biru dan pintu barat bercat putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on tertarik pada pintu bercat merah. Ia menghampiri
dan terus membuka pintu itu. Begitu melangkah masuk, ia
menjerit dan terus lari keluar lagi.
"Huh, ngeri ..." katanya sambil mengibas kibaskan kepala,
"itu manusia atau bukan ?"
la tegak termenung lalu berjalan mondar-mandir. Beberapa
saat kemudian, ia membuka pintu merah itu dan melangkah
masuk lagi.
Ternyata di dalam pintu terdapat suatu pemandangan yang
benar-benar menyeramkan. Duduk numprah di tanah, tampak
seorang manusia yang luar biasa tingginya. Sepintas
menyerupai seorang raksasa. Rambutnya panjang terurai,
menutupi bahu dan sebagian mukanya. Alisnya pun menjulai
panjang, demikian pula dengan kumis dan rambut jenggotnya
yang sudah putih, menjulai panjang menutupi dadanya.
Orang itu tak berbaju sehingga tulang-tulang rusuknya
tampak menonjol karena kurusnya sehingga tubuhnya seperti
tulang terbungkus kulit saja.
"Hm, mengapa sampai begini siang baru mengantarkan
makanan, Lo Kun," seru orang itu dengan suara yang
menyeramkan bulu roma.
Blo'on celingukan kian kemari. Ia kira raksasa itu sedang
bicara dengan lain orang ternyata tidak ada orang kecuali dia.
"Lekas bawa kemari makanan itu !” bentak raksasa itu pula.
Blo'on tercengang. Akhirnya ia merasa kalau raksasa itu
berkata kepadanya : "Makanan apa ?"
"Jangan menggoda aku kakek kate!" raksasa itu
menggeram.
"Siapa kakek kate ? Aku bukan kakek dan bukan kate ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lo Kun bangsat ! Engkau berani mempermainkan aku!"
damprat orang itu pula. Serempak terdengar bunyi
bergerontang yang dahsyat sekali sehingga Blo'on buru-buru
mendekap telinganya.
Beberapa saat kemudian, barulah Blo'on mengetahui bahwa
raksasa itu berada dalam sebuah kerangkeng besi. Begitu pula
tangan dan kakinya diikat dengan rantai yang besar dan
panjang, la dapat bergerak kian kemari tetapi tak dapat keluar
dari kerangkeng itu.
Melihat itu, timbullah rasa kasihan pada hati Blo'on. Ia maju
menghampiri dan berdiri kira-kira lima langkah dari
kerangkeng.
"Kakek, aku bukan kakek kate. Aku seorang anak laki,"
katanya dengan perlahan.
Raksasa itu picing-picingkan mata dan membelalak lebar-
lebar seperti hendak mengamati Blo'on,
"Ho, engkau manusia baru rupanya?" Blo'on mengiakan.
"Mana kakek kate itu?" seru orang itu pula
"Dia tidur."
"Bedebah!" orang itu memaki, "perutku sudah sangat lapar,
mengapa dia masih tidur. Lekas panggil dia kemari !"
"Siapa ?” Blo'on melongo.
"Kakek kate itu !"
"O, baiklah ..." Blo'on terus ayunkan langkah hendak keluar.
"Tunggu!" tiba-tiba orang itu berteriak pula. Blo’on pun
berhenti dan menghampiri.
"Siapa engkau ?" tanya orang itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, benar aku ini."
"Siapa namaku ?"
"Entah, aku sendiri juga sedang mencari keterangan."
"Hai ! Apakah engkau anak gila ?"
"Tidak! Aku hanya kehilangan ingatan. Aku tak tahu siapa
namaku, dari mana tempatku”
"Aneh," gumam orang itu, "kakek itu linglung, sekarang
ternyata engkau lebih gila lagi Masakan namamu sendiri
engkau tak tahu."
"Apa engkau tahu siapa namaku?" tanya Blo'on
Orang itu rentangkan kedua mata lebar-lebar, serunya:
"Kenal saja baru sekarang, eh . . . cobalah engkau mendekat
kemari. Mataku kurang
terang, eh kau ini apa
bukan ..." tiba-tiba ia
menyambar lengan Blo'on
terus ditarik ke dekatnya
tetapi tertahan terali besi.
"Lepaskan!" Blo'on
berteriak dan meronta
sekuat-kuatnya Ia merasa
sakit sekali karena
dicengkeram. Walau pun
tangannya tinggal tulang
terbungkus kulit, tetapi
orang itu masih bertenaga
kuat sekali.
Tiba-Tiba kepala Blo'on dipegang oleh tangan orang itu lagi
terus diputar ke belakang, menghadap kepadanya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, benar, benar . . . engkau pangeran Sun Ti . . ha, ha,
ho, ho .. " orang itu tertawa gembira
Karena berhadapan muka hampir merapat, ludah orang itu
menyembur keluar ketika dia tertawa. Bau mulutnya hampir
membuat Blo'on muntah
"Pangeran ? Apa itu pangeran ?” teriak Blo'on kaget.
"Pangeran adalah putera raja. Ya, engkau memang
pangeran Sun Ti putera baginda Ing Lokl!”
"Aku anak raja? Namaku Sun Ti Benarkah itu"
"Benar!" teriak orang aneh itu pula.
"Kalau begitu lepaskanlah tanganmu"
"Lepaskan? Ha, ha, ha . . ," orang aneh itu tertawa keras,
"berpuluh-puluh tahun aku dipenjarakan disini oleh ayahmu.
Sekarang engkau sendiri datang mengantar dirimu menjadi
tawananku . . "
"Tidak, tidak!" Blo'on berontak sekuat-kuat-nya. Tetapi
karena lengan kanannya dicengkeram dan kepalanya juga
dipegang tangan orang itu, Blo'on tak dapat berkutik.
"Kalau engkau meronta, lehermu tentu putus,” seru orang
itu.
Burung rajawali dan monyet kecil melonjak! kaget. Rajawali
terbang menyambar muka orang itu, tetapi orang itu
menyemburkan mulutnya dan burung itu pun terdampar
beberapa langkah. Semburan mulut orang aneh itu seperti
angin puyuh dahsyatnya.
Monyet kecil melonjak-lonjak dan berkuik-kuik. Tangannya
melambai-lambai burung rajawali. Rupanya burung itu
mengerti. Dia terus meluncur ketanah dan hinggap didepan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
monyet. Monyet cepat meloncat ke punggung burung.
Setelah itu burung pun terbang keluar.
Ternyata burung rajawali dan monyet itu serta anjing
kuning adalah binatang peliharaan Blo'on! Mereka terlatih baik
sekali sehingga mengerti apa! perintah tuannya. Sejak
kehilangan ingatan, Blo’on! tak mengenali lagi ketiga binatang
peliharaannya! itu. Namun ketiga binatang itu tetapi setia
mengikuti.
Burung rajawali terbang kembali ke ruang guha kediaman
kakek Macan Hitam. Ternyata kakek! itu sudah sadar dan
masuk ke dalam guhanya. Demi melihat burung dan monyet,
kakek itu terkejut.! Lebih terkejut pula ketika melihat meja
batu telah berkisar dan kedua binatang itu keluar. Melihat si
kakek, kera pun melonjak-lonjak lalu turun lagi ke lubang
bawah meja itu.
Kakek Macan Hitam terkejut karena melihat meja batu telah
berkisar kesamping dan seekor burung serta seekor monyet
masuk ke bawah. Cepat ia mengejar.
Tiba di ruang besar, kakek itu terkejut karena melihat pintu
merah terbuka. Cepat ia memburu masuk dan : "Hai . . Mali,
mengapa engkau!"
"Ho, engkau kakek kate !" seru raksasa itu dengan riang,
"lihatlah, yang kutunggu akhirnya datang juga!"
Kakek Macan Hitam makin terkejut ketika melihat si Bloon
tak dapat berkutik di dalam cengkeraman raksasa yang
dipanggil Mali itu. Melihat kedatangan kakek Macan Hitam,
Blo'on meronta.
"Jangan, jangan !" teriak kakek Macan Hitam mencegah,
"jangan meronta atau lehermu bisa putus nanti !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on rasakan tengkuk lehernya seperti dijepit tangan besi
yang amat kuat. Apabila ia nekad meronta, memang
kemungkinan batang lehernya bisa copot. Ia hendak
menghantamkan tangannya kebelakang tetapi terali besi
kerangkeng itu, amat kokoh sekali. Terpaksa ia menurut
seruan kakek Macan Hitam.
"Mali, engkau mau apa?" kakek Macan Hitam maju
menghampiri, "siapa yang engkau cekik itu ? Lepaskanlah ..."
"Setan kate, apa katamu? Melepaskannya ? Ha, ha, tidak,
tidak, setan kate ! Allah telah mengirim anak jadah ini
kepadaku ..."
"Siapakah anak itu?" seru kakek Macan Hitam
"Dia Sun Ti, putera dari raja Ing Lok yang menghukum aku
disini. Ha, ha, sayang aku belum dapat menerkammu, setan
kate, kalau dapat kutangkap, badanmu akan kurobek-robek,
darahmu kuminum ..."
"Bangsat engkau Mali," kakek Macan Hitam marah,
"berpuluh-puluh tahun aku memberi makan dan mengantar
minuman kepadamu. Masakan engkau tetap hendak
membunuh aku ..."
"O, benar, Lo Kun, benar." tiba-tiba raksasa itu berganti
nada ramah, "engkau menghidupi aku tetapi mengapa engkau
tak mau melepaskan aku dari kerangkeng besi ini ?"
Kakek Macan Hitam melonjak kaget: "Haram! Khianat!
Terkutuk! Aku sudah disumpah oleh baginda Ing Lok, jangan
sekali-kali membuka rantai borgolanmu dan melepaskan
engkau dari kerangkeng besi. Kalau aku melanggar, aku tentu
disambar geledek, tahu"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kakek edan. mengapa engkau percaya pada segala
sumpah kosong ?" teriak raksasa itu.
"Biar, tak perlu engkau turut campur!" bentak kakek Macan
Hitam, "kalau aku mati disambar geledek, bukankah engkau
juga mati karena tak ada yang mengantar makanan ?"
"O . . . “
"Bukankah lebih baik begini. Engkau tetap hidup dan aku
pun tetap bernyawa. Tiap hari kuantarkan engkau makanan
dan arak ..."
"Hai, setan tua, mana hidangan dan arak untukku !" tiba-
tiba raksasa itu memekik.
"Huh. masih di dalam gua," kakek itu terus lari hendak
keluar tetapi tiba-tiba ia berhenti, berputar tubuh dan maju
menghampiri ke tempat kerangkeng, "hai, Mali, kulihat
semalam rembulan sudah menampakkan diri di atas mulut
jurang untuk yang keseribu kalinya. Sudah tiba waktunya aku
harus membongkar arak simpanan. Arak Hou-hiat-cil yang
lezat dan hebat khasiatnya. Maukah engkau
"Mau, mau !" teriak raksasa seraya melonjak lonjak seperti
anak kecil yang akan diberi permen.
"Aduh . . . ad . . uh . . " karena dibawa melonjak, leher
Blo'on seperti hendak dicabut dari; batang tubuhnya. Ia
menjerit-jerit kesakitan.
"Diam '" bentak kakek Macan Hitam menghentikan gerakan
raksasa itu", kalau engkau melonjak-lonjak, takkan kuberi
arak"
Raksasa itu menurut.
"Akan kuberimu seguci penuh tetapi engkau harus memberi
tebusan," kata kakek Macan Hitam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apa tebusannya ?"
'Lepaskan anak itu !"
"Ya, ya," raksasa itu terus lepaskan cekikannya tetapi
sebelum Blo'on sempat menghela napas, lehernya sudah
dicekik lagi kencang-kencang.
"Hai, mengapa engkau cekik lagi ?" teriak kakek Macan
Hitam.
"Tidak bisa," seru orang itu, "bawa arak itu kemari,
kuminum habis baru kulepaskan anak ini."
Tiba-Tiba sesosok tubuh melesat masuk, loncat ke arah
kerangkeng terus menghantam raksasa itu. Krak . . .
pendatang itu terpental beberapa langkah ke belakang. Untuk
cepat disambut oleh kakek Macan Hitam sehingga tak sampai
rubuh.
"Setan tua, lepaskan !" pendatang itu meronta dan deliki
mata kepada kakek Macan Hitam, "mengapa engkau malah
menangkap aku? Bukankah seharusnya engkau menghajar
raksasa ?"
Kakek Macan Hitam melongo. Rupanya ia lupa kalau
tindakannya itu karena hendak menolong si pendatang supaya
jangan jatuh.
"O, benar, benar," seru kakek Macan Hitam "ya, seharusnya
engkau menyerang, aku pun ikut menyerang. Kerbau Putih,
engkau lebih pintar dari aku."
"Ho, memang sebenarnya aku lebih tua dari engkau!" kata
pendatang itu atau kakek Kerbau Putih. Setelah tersadar ia
mencari kakek Macan Hitam di dalam guha. Melihat lubang di
bawah lantai, ia terus menyusup turun dan akhirnya tiba di
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tempat kakek Macan Hitam sedang ribut-ribut dengan si orang
raksasa.
Kakek Kerbau Putih marah karena melihat orang tinggi itu
tak pegang janji, Ia terus loncat menyerang. Tetapi ternyata
orang raksasa itu tangkas sekali. Tangannya yang
rnencengkeram lengan Blo'on cepat digerakkan sehingga
tangan Blo'on yang menangkis pukulan kakek Kerbau Putih.
Karena sedang menahan kesakitan, Blo’on pun kerahkan
tenaga. Secara tak disadari tenaga-dalamnya memancar ke
lengan. Tangkisannya itu membuat kakek Kerbau Putih
terpental beberapa langkah dan hampir rubuh.
"Jangan . . . menyerang . . aku yang dijadikan alat . .
menangkis !" teriak Blo'on.
Kedua kakek itu tertegun dan tak jadi menyerang. Tanya
kakek Kerbau Putih : "Siapakah raksasa dan anak itu ?"
Rupanya kedua kakek itu sudah tak bermusuhan lagi.
Setelah janji bertanding selama lima hari selesai, kini mereka
kembali seperti seorang sahabat lagi.
"Si raksasa itu bernama Somali. Dahulu dia menjadi
pengawal istana raja Ing Lok. Karena dia berani main gila
dengan seorang selir raja, dia di buang dan dipenjarakan
disini," kata kakek Ma can Hitam.
"Menilik kulitnya yang hitam dan penuh rambut, dia tentu
bukan bangsa Tionghoa," kata kakek Kerbau Putih.
"Ya, dia memang bukan orang Tionghoa. Pemberian raja
Persia kepada laksamana Ceng Ho ketika berlayar tiba di
negeri itu. Dia amat sakti, pernah diadu dengan para si-wi
(pengawal keraton) oleh baginda Ing Lok, ternyata menang
maka oleh baginda dia diangkat menjadi penjaga istana . . "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, Lo Kun, kalau tak lekas membawa arak dan makanan
kemari, pangeran ini tentu kupatahkan lehernya!" tiba-tiba
orang aneh itu berteriak
Lo Kun atau si kakek Macan Hitam melonjak kaget,
serunya: "Ya, ya, segera akan kuambilkan" ia terus lari keluar
meninggalkan kakek Kerbau Putih yang terlongong-longong.
Sesaat kemudian kakek Kerbau Putih itu menghampiri ke
dekat kerangkeng : "Hat, Somali, mengapa engkau hendak
menganiaya anak itu ?"
"Tua bangka, enyah engkau dari sini" Somali mengaum
dengan buas.
"Kakek, jangan dekat-dekat padaku," tiba Blo'on berseru,
"manusia ini amat buas."
"Ho, makin buas aku makin senang. Akan kucoba sampai di
mana kekuatannya . . , " ia terus hendak maju mendekati
"Berhenti!" sekonyong-konyong kakek Macan Hitam muncul
dan berteriak, "jangan mengganggu dia!”
"Manusia semacam dia tak perlu diberi hidup!” bantah
kakek Kerbau Putih.
"Kerbau Putih ingat," kata kakek Macan Hitam dengan
bengis, "kalau berani mengganggunya, engkau tentu akan
berurusan dengan aku. Dia sudah cukup menderita, jangan
engkau ganggu lagi!"
Tanpa menghiraukan si kakek Kerbau Putih, kakek Macan
Hitam itu terus menyodorkan sebuah penampan batu yang
berisi sebuah guci arak dan sepiring daging, semangkuk nasi."
"Sayang dendeng daging macan habis, entah dimakan
siapa. Yang ini tinggal dendeng ular. Dan arak Hou-hiat-ciu,"
kata kakek Macan Hitam.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagus . . ," seru Somali tetapi tiba-tiba ia bingung. Kalau
makan hidangan itu, ia harus melepaskan tangan kanan atau
tangan kirinya. Berarti lengan atau leher anak itu akan bebas,
"berbahaya .. " gumamnya seorang diri.
"Mengapa berbahaya ?" seru Blo'on.
"Kalau kulepas tangan kananku, lenganmu tentu bebas,
mungkin engkau dapat memukul aku. Kalau kulepas tangan
kiriku, lehermu bebas, mungkin engkau dapat menggigit
tanganku ..."
"Jangan kuatir," seru Blo'on, "kalau mau makan saja. Aku
takkan lari !"
"Sungguh ?" Somali menegas.
"Huh, aku seorang putera raja, masakan aku ingkar janji
Seorang putera raja, eh . . benarkah aku ini pangeran Sun Ti,
putera raja Ing Lok ?"
"Benar, tak mungkin aku salah. Engkau memang pangeran
Sun Ti." sahut Somali.
"O, kalau begitu aku harus bersikap agung. Tak mau
mencelakai orang secara pengecut seperti dikau ! Lepaskan
tanganmu dan makananmu aku tetap menunggumu !"
"O, engkau benar-benar seorang pangeran yang jempol.
Kalau engkau bukan putera dari raja Ing Lok, ku tentu mau
berhamba padamu ..." Somali terus lepaskan kedua tangannya
dan menyambar nampan. Dengan lahap ia minum arak,
melalap habis nasi dan daging ular lalu meneguk guci arak
sampai kering.
"Wah, sedap . . ," katanya seraya mengusap usap mulut
dengan tangannya. Setelah itu ia mencekal lengan dan leher
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on lagi. Selama orang itu makan, Blo'on memang tak mau
berkisar dari tempatnya.
"Sekarang engkau mau apa ?" tanya Bloon
"Engkau harus menemani aku disini," kata orang itu.
Blo'on mengerut dahi, serunya: "Salah, mengapa aku harus
menemani engkau disini ? Bukankah aku ini anak raja ?"
"Benar." sahut Somali.
"Nah, yang benar engkau harus ikut aku, keluar dari tempat
ini, mengerti !" kata Blo'on dengan suara garang.
Somali terdiam beberapa saat lalu serunya : "Kembali ke
istana Ing-lok-kiong ?"
"Ya." tanpa banyak pikir Blo'on menyahut sekenanya, "eh,
mana istana itu ?"
"Jangan kuatir, nanti aku yang mengantar," sahut Somali.
"Baik," kata Blo'on, "mari kita berangkat."
"Uh, tidak, tidak jadi !"
"Mengapa ?" Blo'on heran.
"Engkau hanya pangeran, bukan raja. Kalau baginda Ing
Lok melihat aku keluar, tentu akan ditangkap dan dilempar ke
sini lagi."
Blo'on busungkan dada : "Jangan kuatir, aku yang
tanggung semua !"
"Hm, baik . . eh, tidak bisa !"
"Mengapa tak bisa lagi ?"
"Lihatlah, tangan dan kakiku diborgol dengan rantai,
bagaimana aku dapat keluar ?"'
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar engkau Somali !" teriak Blo'on, "bagaimana
aku dapat melihat kalau leherku engkau cekik. Lepaskan !"
Raksasa dari Persia itu serta merta melepaskan cekikannya
dan Blo’on pun mengamati keadaan orang itu.
"O, lalu bagaimana cara membukanya ?" tanya Blo'on.
"Pakai kunci."
"Mana kuncinya ?"
"Ada pada si kate Lo Kun itu !" kata Somali sambil
menunjuk pada kakek Macan Hitam.
Blo'on memandang Lo Kun : "Hai, Lo Kun aku anak raja,
apakah engkau berani kepadaku?”
"Tidak !" sahut kakek linglung itu.
"Apa engkau berani membantah perintahku?,”
"Juga tidak ..."
"Bagus, Lo Kun," seru Blo'on, "sekarang kuperintahkan
supaya engkau menyerahkan kunci itu kepadaku. Awas,
engkau harus menurut !"
"Tetapi ..."
"Tetapi bagaimana ?"
"Tetapi baginda Ing Lok pesan wanti-wanti kepadaku,
jangan sekali-kali melepaskan Somali. Dia seorang manusia
yang berbahaya !"
"Tidak apa," sahut Blo'on, "soal itu aku nanti yang bilang
kepada raja. Bukankah aku ini anak raja ? Tentu saja aku
berani bicara dengan ayahku."
Lo Kun masih sangsi. Ia berpaling memandang kakek
Kerbau Putih. Maksudnya hendak bertanya, tetapi karena
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kakek Kerbau Putih itu juga seorang kakek linglung, dia malah
deliki mata kepada Lo Kun : "Apa ? Engkau berani
membangkang perintah anak raja? Lekas berikan kunci itu!"
"O, ya, benar, benar," kakek Macan Hitam itu berkata
seorang diri, "kalau anak raja yang memerintah, aku wajib
menurut . . ,"
Ia terus merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua
buah anak kunci, diserahkan kepada Blo'on. Blo'on pun
membuka borgolan tangan dan kaki Somali.
"Somali, sekarang engkau sudah bebas, engkau harus ikut
aku," kata Blo'on.
Somali tegang sekali tampaknya berpuluh-puluh tahun ia
dipenjara dalam tempat di bawah tanah dari sebuah guha di
dasar lembah. Kini dia sudah bebas. Ya, dia akan melihat
dunia lagi. Dia akan pulang ke negerinya . . .
"Wahai ..." serentak ia berbangkit tetapi seketika itu juga ia
terkulai jatuh ke tanah lagi. Dicobanya untuk bangun, tetap ia
rubuh lagi. "Ah mengapa kakiku sudah tak bertenaga ?
Lumpuh ? Ah, benar . . aku memang sudah lumpuh !"
Somali menjerit dan memekik. Meratap dan mengerang
ketika mengetahui keadaan dirinya. Berpuluh tahun ia harus
duduk, maka menyebabkan kedua kakinya lumpuh. Karena ia
seorang raksasa yang tinggi, kalau berdiri kepalanya akan
menyundul terali besi di atas. Maka berpuluh tahun ia terpaksa
harus duduk dan merangkak. Akibatnya, ia menjadi lumpuh
kaki.
Cepat ia merangkak keluar dan tiba-tiba terus
mencengkeram kakek Lo Kun : "Engkau, kakek bangsat, yang
menyebabkan aku lumpuh begini !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Habis berkata ia terus ayunkan tinju ke arah kepala kakek
Macan Hitam itu. Krak, krak, terdengar dua buah pukulan
melanda. Kakek Kerbau Putih dan Blo'on serempak
menghantam Somali. Raksasa itu terdampar ke belakang dan
terlepaslah kakek Macan Hitam.
"Somali, engkau manusia jahat!" teriak Blo'on marah,
"mengapa engkau menyerang kakek Lo Kunl "
“Lihat kakiku yang lumpuh ini! Bukankah ia yang
menyebabkannya” teriak Somali.
"Bukan," sahut Blo'on, "dia hanya melakukan kewajiban.
Yang memberi perintah ialah raja !"
"Salahmu, mengapa engkau berani mengganggu selir raja
yang cantik." kakek Lo Kun pun ikut mendamprat.
"Ya, kalau minta kawin, bilang pada raja, tentu akan diberi
wanita cantik, mengapa engkau berani kurang ajar terhadap
selir raja ? Masih untung raja hanya melempar engkau di sini,
engkau tidak dibunuh saat itu," kakek Kerbau Putih
menambah dampratan.
Somali tertegun diam. Sampai beberapa saat ia diam saja.
"Somali, engkau seorang sakti, walau pun kakimu lumpuh
tetapi engkau masih dapat bergerak lincah. Mari ikut aku
keluar dari tempat ini," kata Blo'on menghibur raksasa itu.
"Ya, kalian benar. Memang di negeriku, kalau orang yang
berani mengganggu selir raja. tentu akan menerima hukuman
ngeri. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan empat ekor
kuda lalu kuda Ku disuruh lari ke empat penjuru sehingga
tubuh orang itu sempal jadi empat ..."
"Huh, ngeri ! Jangan cerita semacam itu” seru Blo'on seraya
ayunkan langkah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ketika ia hendak membuka pintu yang bercat kuning. kakek
Lo Kun berteriak : "Hai, mengapa engkau hendak masuk ke
situ ? Itu tempat simpanan harta permata raja."
"O," seru Blo'on malah terus membuka. Ketika melangkah
ke dalam, ia ternganga keheranan. Ternyata di ruang itu
terdapat empat buah peti berisi harta kekayaan yang tak
ternilai harganya.
Intan, petak, emas, permata, ratna mutu manikam dan
zamrud yang berkilau-kilauan memancarkan cahayanya yang
gilang gemilang. Benda-Benda pusaka dan barang-barang
berharga yang tak terdapat di dunia.
"Milik siapakah ini ?" tanya Blo'on.
"Raja," sahut kakek Lo Kun.
"Kalau begitu, aku berhak mengambil. Bukankah aku ini
anak raja ?" kata Blo'on seraya memandang Lo Kun. Kakek itu
mengangguk perlahan
Blo'on memeriksa isi keempat peti itu. Tak henti-hentinya ia
mengangguk kepala. Setelah selesai memeriksa, ia berkata :
"Sekarang kalian harus menjawab pertanyaanku."
"Somali, apakah tujuanmu sekeluarnya dari tempat ini ?"
tanyanya kepada si raksasa.
"Pulang ke Persia."
"Baik, engkau boleh mengambil permata dari uang yang
engkau sukai untuk bekal perjalanan” Somali terbelalak.
'"Lekas, aku yang memberi ijin!" bentak Blo'on. Somali
merangkak menghampiri peti. Ia mengambil segenggam
permata dan segenggam uang emas. Lalu menyisih ke
samping.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sudah hanya sebegitu saja?” tanya Blo’on.
“Ya, terima kasih.”
Blo'on memandang kakek Lo Kun, serunya : "Hai, Lo Kun,
engkau sudah memenuhi tugasmu dengan baik. Sekarang
mana yang engkau pilih, ambil saja !"
"Buat apa ?" kakek Lo Kun bertanya.
"Engkau dapat menjadi orang kaya raya, punya rumah
besar, punya banyak bujang, bisa cari isteri cantik. punya
uang, engkau akan jadi seperti raja. Setiap orang
menghormati engkau !"
Tiba-Tiba kakek Lo Kun tertawa keras.
"Ha, ha, ha, ha ... . "
---ooo0dw0ooo---

Jilid 7
Putera raja
Blo'on tercengang heran melihat kakek pendek itu tiba-tiba
tertawa keras.
"Mengapa engkau tertawa ?" tegurnya.
"Aku tertawa karena geli. Geli engkau hendak memikat aku
dengan harta itu ! Kalau aku mau, bukankah dulu-dulu sudah
kuambil semua. Kubiarkan si raksasa itu mati kelaparan lalu
aku pergi ke kota
"Lho, setan tua, engkau hendak pindah ? A-pa engkau
sudah mengaku kalah ?" tiba-tiba pula kakek Kerbau Putih
berseru.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Lo Kun deliki mata : "Goblok Siapa yang mau pindah
? Aku tak sudi pindah dari bini. Aku mau menunggu engkau
sampai mati, baru aku pikir-pikir lagi."
Blo'on menyengir kuda Ia malu karena disemprot oleh
kakek Lo Kun.
"Engkau seorang kakek setya," akhirnya ia memuji, "nanti
kalau aku pulang ke istana, akan kulaporkan jasamu kepada
raja ..."
"Jangan !" teriak kakek Lo Kun pula, "apa itu jasa ! Engkau
tahu siapa aku ini T'
"Aku baru kenal sekarang, bagaimana aku tahu dirimu
siapa?" jawab Blo'on.
"Dengarkan," kata kakek itu, "aku adalah pengawal peribadi
dari Cu Gjan-ciang yang kemudian menjadi raja Beng yang
pertama Setelah jadi raja, Cu Goan-ciang mengangkat aku
sebagai kepala Gi-lim-kun (bayangkara istana) dengan
pangkat Ciangkun (jenderal) ..."
la berhenti sejenak lalu melanjutkan : "Sesungguhnya aku
malu melihat tubuhku yang pendek. Para anggauta Gi lim kun
bertubuh tinggi besar dan kekar. Tetapi mereka takut
kepadaku. Mereka menyebut aku "tayjin" (paduka tuan).
Kutolak Karena tubuhku pendak kecil, kusuruh mereka
menyebut "siau-jin" (orang rendah). Mereka tertawa tetapi tak
berani dimukaku, melainkan dibelakang-ku. Pun ketika raja
mengumumkan kenaikan pang \katku menjadi ciang-kun
(jenderal), orang yang menghormat aku dengan panggilan
'ciangkun' kumarahi dan kusuruh bilang ‘lo-kun' saja. Hingga
sampai sekarang aku disebut orang Lo Kun."
"Pada suatu hari, raja memanggil aku. Aku disuruh menikah
dengan gadis atau wanita mana saja yang kupilih. Tetapi raja
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Beng Thay-cou itu kubantah habis-habisan : "Buat apa
kawin?"
"Eh, Lo Kun, engkau sudah cukup tua. Engkau harus
beristeri supaya punya anak. Besok kalau engkau tua atau
sakit, biar ada yang merawat," kata baginda.
"Tidak bisa," aku membantag. "aku malu. Diriku begini
pendek, masa ada wanita yang mau?
"Jangan kuatir," kata baginda, "aku yang mencarikan
wanita itu. Tentu dia mau dan engkau tentu puas mendapat
isteri cantik."
"Tidak bisa." kubantah lagi, "aku kasihan."
"Kasihan kepada siapa ?"
"Kasihan kepada isteriku dan anakku. Isteri-ku tentu malu
mempunyai suami orang kate. Anakku tentu besok juga
pendek. Dia pun akan menderita ejekan orang. Lebih baik aku
sendiri saja yang menanggung."
"Lo Kun, jangan membawa kemauanmu sendiri engkau
harus kawin dengan wanita yang kupilihkan !" akhirnya
baginda marah. Dan terpaksa aku menurut.
"Aku dinikahkan dengan seorang puteri tiko-jin (residen)
wilayah Siamsay," kakek Lo Kun melanjutkan kisahnya.
"katanya, puteri itu cantikdan pandai masak, pandai menjahit
dan pintar menggubah syair ..."
"Setan tua, rejekimu besar sekali !" tiba-tiba kakek Kerbau
Putih menyelutuk.
"Jangan memutus ceritaku, kerbau tua, kakek
Lo Kun deliki mata. Lalu melanjutkan lagi :
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dengan diantar oleh rombongan pembesa kerajaan, aku
menuju ke Siam-say. Upacara dilakukan besar-besaran sampai
tujuh hari tujuh malam sehingga aku tak sempat menjenguk
isteriku Aku sibuk menerima ucapan selamat dari para penv
be«ar daerah dan orang-orang terkemuka. Setelah tujuh hari,
kusuruh rombongan pengiringku pulang dulu. Sebulan lagi aku
bersama isteri baru kembali ke kota kerajaan.
Demikian pada malam itu, akupun masuk ke dalam kamar
pengantenku. Ya, isteriku yang muda dan cantik akan kupeluk
dan kucium sepuas-puasnya. Ah. ah. celaka . . hatiku mulai
berdebar-debar lagi seperti hari itu . , . " tiba-tiba kakek Lo
Kun mendekap dadanya. Rupanya karena membayangkan
peristiwa malam pengantinnya ia menjadi tegang lagi.
"Kamar pengantin hanya diterangi dengan sebatang lilin
yang redup. Ranjangnya dicat meral dengan ukir-ukiran
gambar naga dan burung cenderawasih emas. Kain
selambunya bersulam bunga dan bidadari. Kain sprei dan
bantalnya, aduh mak . . . putih bersih dengan sulaman bunga
seruni yang timbul. Baunya harum bukan buatan. Ai, baru
pertama itu seumur hidupku, akan tidur dalam ranjang yang
begitu indah . . .”
Blo'on, Somali dan kakek Kerbau Putih terlongong-longong
mendengarkan.
"Isteriku belum tidur. Masih duduk ditempat tidur
menunggu aku," kata kakek Lo Kun pula, aku kuatir membikin
kaget dia maka dengan berhati-hati aku berjalan berjingkat-
jingkat menghampirinya ....”
"Aneh," pikirku, "waktu bertemu dalam upacara pernikahan,
kulihat isteriku itu seorang nona yang bertubuh langsing kecil,
berkulit putih seperti salju. Tetapi saat itu. kulihat tubuhnya
gemuk. Apakah selama dalam waktu tujuh hari saja, orang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat berobah gemuk sekali ? Dan kulihat pula kulitnya tidak
seputih tujuh hari yang lalu. Agak merah. Eh, ternyata sampai
saat ia berada dalam kamar pengantin, ia masih memakai
kerudung muka. Ho. tentu kerudung itu mempelai lelaki yang
membuka. Selama mempelai lelaki tak membuka. mempelai
perempuan harus tetap memakainya...”
"No .... eh, isteriku, .mengapa engkau tak tidur lebih dulu?"
tegurku dengan seramah-ramahnya
Isteriku diam saja, Oh, dia tentu marah, pikirku.
"Isteriku, maafkanlah aku," aku dengan tertawa merayunya,
"karena tetamu-tetamu tak habis-habisnya pulang dan pergi,
pergi satu datang lima, aku sampai loyo menerima pemberian
selamat mereka. Perutku sampai mulas karena terus menerus
harus menemani mereka minum arak pengantin ..."
Isteriku tetap diam
"Maaf, isteriku, kutahu bagaimana perasaanmu sebagai
pengantin baru Ecgkau tentu kesepian dan kesal hati karena
menunggu kedatanganku. Ah, sekarang aku sudah datang,
isteriku. Malam ini kita benar-benar akan teranggap sebagai
suami isteri, sampai kakek-kakek nenek-nenek . . .
Tetap ia diam saja.
"Isteriku, betapa bahagia kita nanti. Punya anak laki yang
bagus, anak perempuan yang cantik, punya cucu, buyut, cicit .
. . ai. tiap tahun baru mereka asan berkunjung ke rumah kita
dan menghaturkan selamat kepada kita. Anak, menantu, cucu-
cucu sayang pada kita. Kalau sudah tua kita tak perlu kerja.
Anak cucu yang akan memelihara!
"Eh, mengapa engkau diam saja, isteriku? Apakah engkau
masih marah kepadaku ? Oh, aku memang bersalah, tak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
segera datang kesini sampai tujuh hari Ya. ya, isteriku, aku
akan berlutut dan memberi hormat kepadamu, sampai engkau
mencegah baru aku berhenti. Nah, aku mulai ..."
"Aku terus berlutut dibawah kaki isteriku dan paykui
(memberi hormat dengan menundukkan kepala sampai ke
tanah). Sekali, dua kali, tiga, empat, lima samyai sepuluh,
terus duapnluh tiga empat, limapuluh, lama-lama meningkat
sampai seiatus kali dan terus saja aku paykui . . .
"Hampir dua jam lamanya aku memberi hormat dengan
menunduk dan mengangkat kepala itu tetap isteriku diam
saja. Lama kelamaan aku pusing Kalau terus menerus
jengkang-jengking begitu aku bisa pingsan. Aneh, mengapa
dia diam saja ? Apakah dia benar-benar marah sekali
kepadaku ?"
Karena memikir begitu, aku tak dapat menahan sabar lagi
dan berseru: "O, isteriku, aku sudah kapok. Tak berani
menyiksa engkau lagi. Suruhlah aku berhenti, isteriku, biar aku
jangan pusing Kalau aku pingsan, bukankah engkau sendiri
yang akan sibuk menolong. Sudahlah, isteriku, perintahkanlah
supaya aku berdiri ..."
Walaupun aku meratap-ratap minta ampun tetap isteriku
diam saja. Lama kelamaan, aku tak kuat. Pikirku : "Hm, baru
jadi mempelai baru sudah begitu kejam menyiksa aku. Kalau
sudah jadi isteriku, kelak kepalaku tentu diinjak-injak. Hm,
suami harus keras, harus berwibawa, supaya isteri takut dan
menghormati. Mumpung masih baru, dia harus kuajar adat ..."
Tanpa menunggu perintahnya, akupun serentak bangun
dan berdiri bercekak pinggang dihadapannya.
"Hai, engkau seorang isteriku yang kurang ajar ! Mengapa
engkau berani suruh suamimu terus menerus paykui dibawah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kakimu. Jangan engkau membanggakan dirimu puteri ti-koan
(residen) dan bertingkah seperti puteri raja ! Aku juga seorang
jenderal pasukan Gi-lim-kun keraton. Aku bisa cari lain isteri
yang lebih cantik dari engkau. Tetapi aku tak mau, aku lebih
suka kepadamu. Asal engkaupun jangan sewenang-wenang
kepadaku. Bukankah kita harus rukun ? Apakah engkau tak
malu kalau anak-anak dan cucu-cucu kita melihat kita
bertengkar ?"
Namun isteriku tetap duduk diam.
'Isteriku, ya aku memang bersalah. Aku bersumpah takkan
menelantarkan engkau lagi. Jangan merusak malam pengantin
kita dengan pertengkaran. Marilah kita nikmati kebahagian
sebagai suami isteri ..." karena dia diam saja. akupun tak mau
menunggu jawabannya, terus saja kudekap tubuhnya dan
kupeluknya.
Aku girang karena dia diam saji. Kuanggap tentu dia sudah
memaafkan. Tetapi diam-diam aku pun heran mengapa
tubuhnya terasa dingin.
"Isteriku, kita sudah menjadi suami isteri, tak perlu engkau
malu-malu kepadaku. Bukalah kerudung mukamu, biar
kunikmati betapa indah kecantikan mu. kelak kalau kembali ke
kota raja, aku tentu bangga karena tiada seorang puteri dalam
istana yang dapat menandingi kecantikanmu ....
Masih, saja nona itu diam. Akhirnya aku tak tahan lagi.
Kuulurkan tangan dan membuka kain kerudung yang menutup
nona pengantinku itu.
"Aduh, mati aku . . . ," aku loncat mundur sampai beberapa
langkah. Kejutku seperti disambar petir karena melihat wajah
isteriku itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bukan lagi puteri ti-koan yang kecantikannya seperti
bidadari turun dari kahyangan. Melainkan seorang nona
berkulit hitam yang buruk. wajah Matanya bundar besar,
hidung besar, mulut lebar, gigi menonjol.
"Siapa engkau!" teriakku kalap. Tetapi perempuan itu diam
saja. Dengan marah kuhampiri terus hendak kupukul. Tetapi
karena dia tetap diam saja, aku curiga dan batal memukul.
Kupegang tubuhnya ternyata kaku tak dapat berkutik. Ah,
haru kuketahui kalau dia telah ditutuk jalan darah-nya hingga
tak dapat bergerak dan bicara.
Segera kutolong dan kubuka jalan darahnya Lalu kutanyai.
"Maaf, paman kate," tiba-tiba ia berkata dengan menangis.
Hampir kutampar kepalanya karena dia menyebut aku
paman kate. Tetapi karena dia menangis, akupun terpaksa
menahan kesabaran. Kusuruh dia menceritakan dirinya.
"Aku sebenarnya seorang gadis desa. Rumahku dibalik
gunung. Pada suatu hari ketika mencari kayu di hutan, aku
diculik seorang lelaki. Aku dipukul sampai pingsan. Ketika
tersadar, aku sudah berada disini. Tetapi waktu hendak
menjerit mulutku tak dapat bicara. Pun aku tak dapat
bergerak. Untung engkau datang . . . . "
"Siapa yang menculikmu ?" tanyaku. "Seorang lelaki tetapi
tak kuketahui wajahnya karena dia msnyergapku dari
belakang," kata perempuan itu, "eh, paman kate, mengapa
tadi engkau memeluk aku dan menyebut-nyebut isteri
kepadaku ?"
"Huh ?" aku menggeram.
"Ya, biarlah, walaupun engkau bertubuh pendek, tetapi aku
suka jadi isterimu ..." nona itu terus memegang lenganku dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menarik kedadanya. Karena terkejut aku kena ditarik dan
jatuh kedalam pelukannya.
"Aduh mak . . . tiba-tiba hidungku mencium bau yang luar
biasa apeknya. Ternyata dadanya berkeringat dan keringat itu
menusuk lubang hidung Karena tak tahan baunya, kudorong
nona itu terjungkal kebawah ranjang. Aku terus lari keluar.
Aku mengamuk. Ti-koan kuhajar, pegawai dan siapa saja
yang ketemu aku, tentu kupersen dengan tinju dan sepakan.
Tikoan merintih-rintih minta ampun dan menanyakan apa
kesalahannya.
"Lihatlah, ke kamar pengantin. Anakmu berobah jadi setan .
. . !" habis berkata aku terus lari. Tak tahu mana yang akan
kutuju. Pendek kata, aku malu, aku harus lari sejauh jauhnya
dari manusia. Dan sejak itu. aku tak sudi melihat orang
perempuan lagi ....
Blo'on, Somali dan kakek Kerbau Putih mendengarkan cerita
itu dengan terlongong-longong. Mereka geli tetapipun merasa
kasihan atas nasib kakek Lo Kun.
"Lalu bagaimana engkau dapat bertemu raja Ing Lok lagi
dan disuruh membawa aku kemari?" tanya Somali.
"Itu hanya secara kebetulan. Ketika baginda sedang
berburu di hutan, dia melihat aku sedang menangkap seekor
harimau hitam. Segera aku di-panggil dan dibawa pulang ke
kota raja. Tetapi tak lama kemudian terjadi peristiwa engkau
dengan selir raja itu. Aku disuruh baginda memenjarakan
engkau disini," kata kakek Lo Kun.
Blo'on tak mau mendengarkan pembicaraan mereka. Ia
menuju ke pintu biru. Melihat itu kakek Lo Kun cepat
memburu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jangan masuk kepintu ini," ia menghadang di depan pintu.
"Mengaya ?" tanya Blo'on.
"Tidak ada isinya "
"Aneh," kata Blo'on pala, "kalau tak ada isinya. mengapa
engkau melarang aku masuk ?" tanya Blo'on pula.
"Baginda yang memerintahkan !"
"Tetapi bukankah aku putera raja?" kata Blo'on lalu
berpaling kepada Somali, "hai, Somali, benar tidak aku ini
putera raja ?"
"Benar," kata Somali, "siapa yang tak percaya omonganku,
tentu akan kuhajar !"
"Tuh dengar tidak, Lo Kun," kata Blo'on, "karena aku putera
raja, akupun berhak masuk ke dalam ruang ini."
"Kalau engkau nekad, terserah saja ..... kakek Lo Kun
menyingkir ke samping.
Blo'on membuka pintu. Gelap di dalamnya Pintu direntang
lebar agar penerangan dari luar masuk.
"Hai . . . !" Blo'on menjerit dan loncat keluar lagi.
"Mengapa ?" tanya Somali.
"Peti mati !" sahut Blo'on.
"Ha, ha," Lo Kun, tertawa "sudah kukatakan jangan masuk,
tetapi engkau tetap mau masuk Nah. silahkan lihat peti itu.”
Blo'on menyengir. Ia hendak menutup pintu lagi tetapi tiba-
tiba Somali marah: "Di negeriku, raja itu seorang pemberani.
Apa yang dikatakan tentu dilaksanakan. Engkau putera raja,
mengapa berani membuka pintu tak berani masuk ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seketika tegaklah semangat Blo'on, serunya "Siapa bilang
aku tak berani ?" ia terus melangkah maju menghampiri peti
mati.
Somali mengikuti dibelakangnya. Tetapi kedua kakek masih
menunggu diluar.
"Somali, bukalah peti itu !" Blo'on membei perintah. Dan
Sornalipun segera melakukan.
Ternyata peti itu tidak dipaku. Somali yang bertenaga
besar, dapat mengangkat tutup peti. Dai karena tubuhnya
tinggi maka walaupun duduk kepalanya masih cukup tinggi
untuk melihat apa yang terdapat peti mati itu.
"Oh, engkau . . ," tiba-tiba Somali memeluk tepi peti dan
hendak berusaha berdiri. Tetapi tak dapat karena kedua
kakinya sudah tak bertenaga lagi.
"Sun kuihui . . . oh, engkau disini . . ." Somali meratap-
ratap dan memanggil-manggil nama Sun kuihui. Sun adalah
nama orang dan kuihui artinya selir raja.
Blo'on heran, tegurnya : "Sun kuihui ? Apakah itu ?"
"Lihatlah dalam peti ini ... "
Blo'on maju menghampiri dan melongok ke dalam peti.
Ternyata dalam peti itu terisi dengan sebuah peti kaca.
Didalam peti kaca tampak rebah seorang wanita muda yang
cantik dan berpakaian indah. Wanita itu meramkan mata
seperti orang tidur.
"Wanita . . . !" teriak Blo'on.
"Benar," sahut Somali, "itulah Sun kuihui".
"Apa itu Sun kuihui ?" tanya Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sun nama wanita itu dan kuihui ialah selir raja. Dia
memang selir yang paling dicintai raja Ing Lok."
"O, lalu mengapa engkau menangis seperti anak kecil ?"
tegur Blo'on pula.
"Ah, karena dialah maka aku sampai dipenjara disini ..."
Saat itu kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putihpun
menghampiri masuk. Disini mendengar kata-kata Somali,
kakek Lo Kun menyelutuk : "Hai. siapa
Dengan bercucuran airmata Somali menerangkan bahwa
selir raja yang menjadi gara-gara ia dihukum baginda,
ternyata berada dalam peti mati itu.
"O," kakek Lo Kun berteriak kaget, "jadi peti itu berisi
mayat ? Ketika baginda mengutus orang untuk menyimpan
peti itu, aku tak diberitahu apa isinya. Hanya aku dilarang
masuk ke dalam ruangan ini."
Habis berkata kakek Lo Kun terus melongok kedalam peti.
Dia melihat jenazah yang berada dalam peti kaca, kakek itu
terbelalak sampai beberapa saat. Kemudian ia lari keluar
mengambl lampu.
"Aneh, mengapa wanita ini mirip dengan puteri tikoan
Siam-say yang menjadi calon pengatinku itu?" beberapa saat
setelah menyuluhi peti kaca dengan lentera, kakek Lo Kun
berkata seorang diri.
"Lo Kun, jangan gila-gilaan engkau," seru Somali, "dia
adalah Sun kuihui, selir yang paling dicintai raja Ing Lok. Aku
tergila-gila dengan kecantikannya yang gilang gemilang
sehingga malam aku nekad masuk ke dalam kamarnya. Ketika
di negeriku, aku telah mempelajari semacam ilmu mantra yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat menghilangkan kesadaran pikiran orang. Dengan ilmu
mantra itu aku dapat menguasainya .... "
"Huh, jangan jual kentut busuk '" bentak kakek Lo
Kun,"masakan wanita secantik itu sudi dengan lelaki macam
dirimu !"
"Benar." sahut Somali, "tetapi aku mempunyai ilmu mantra
yang dapat membuatnya menurut apa yang kukehendaki.
Kupeluknya, kuciumi sepuas-puas hatiku . . . . "
"Dia diam saja ?" teriak Lo Kun.
"Diam dan paserah . , . "
Duk . . . tiba-tiba kakek Lo Kun menghantam dada Somali.
Karena tak menduga dan jaraknya dekat, Somali terjungkal
kebelakang.
"Lo Kun, mengapa engkau menghantamnya" teriak Blo'on.
"Kurang ajar, dia berani menghina wanita Itu. Wanita itu
benar-benar mirip dengan calon pengantinku. Masakan dia
berani menciumi semau-maunya " teriak kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau Putih kasihan kepada Somali. Buru-Buru ia
menolong membangunkannya supaya duduk.
"Lo Kun, mengapa engkau memukul aku?" teriak Somali.
"Karena engkau berani menciumi calon pengantinku," sahut
kakek Lo Kun.
"Siapa calon pengantinmu ?"
“Wanita yang tidur dalam peti kaca itu," sahur kakek Lo
Kun, "dia seperti pinang dibelah dua dengan calon
pengantinku yang hilang itu. Kemungkinan memang dia !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkau gila !" teriak Somali, "dia Sun kuihui, selir raja Ing
Lok !"
"Tidak peduli !" kakek Lo Kunpun berteriak tak kalah
kerasnya, "pokok wajahnya sama dengan calon pengantinku
yang hilang itu."
Kakek Kerbau Putih melerai: "Sudahlah kakek gila, jangan
mengacau. Biarkan Somali melanjutkan ceritanya lagi."
Sornalipun berkisah lagi : "Setelah kuciumi, nafsuku makin
berkobar-kobar. Aku tak dapat menekan perasaanku lagi. Sun
kuihui terus kupondong dan kubawa kedalam ranjang.
Pakaiannya kulepaskan semua . . . "
"Dia diam saja ?"
"Diam dan paserah ..."
Duk . . . kakek Lo Kun menghantam dengan marahnya.
Tetapi kali ini karena Somali sudah berjaga jaga, maka ia
dapat menangkis. Pukulan Lo Kun dapat ditahan tetapi
Sornalipun meringis kesakitan.
"Kubunuh engkau jahanam!" kakek Lo Kun makin kalap. Ia
terus hendak menanduk orang Persia itu dengan kepalanya.
Huh . . . tetapi ia merasa tubuhnya dipegang kuat-kuat dari
belakang sehingga ia tak dapat maju.
Lo Kun berdiri tegak dan berpaling. Ketika melihat kakek
Kerbau Putih berada dibelakangnya, meluaplah
kemarahannya: "Hai, Kerbau, apakah engkau hendak
membelanya ? Jangan kuatir, kerbau, sekalipun engkau maju
berdua dengan dia, aku tetap dapat melayani !'
Biasanya kakek Kerbau Putih itu juga linglung. Tetapi entah
bagaimana, saat itu rupanya pikirannya terang. Dia tak mau
meladeni tantangan kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Setan tua, mengapa engkau seperti anak kecil ? Kalau mau
mengajak berkelahi harus menurut aturan? Bukankah kita
sudah menetapkan perkelahian itu hanya dilakukan setahun
sekali?" serunya, "Jangan salah faham. kenalpun baru
sekarang dengan raksasa itu masakan aku hendak
membelanya. Tetapi tingkahmu itu tidak benar. Wanita dalam
peti itu bukan isterimu. Dia adalah selir raja, mengapa engkau
marah terhadap raksasa Somali ?"
"Teapi dia serupa benar dengan calon pengantinku ?"
bantah Lo Kun.
"Ah, itu perasaanmu sendiri," kata kakek Kerbauu Putih lalu
berkata kepada Somali, "teruskan ceritamulah."
"Ketika sudah hampir tercapai apa yang kuinginkan tiba-tiba
pintu didobrak dan selusin si-wi (penjaga istana) menerobos
masuk terus meringkus aku dan Sun kuihui. Aku tertangkap
basah. Baginda marah sekali dan menitahkan supaya aku
dipenjarakan seumur hidup dibawah jurang ini . . .”
"Ha, ha, benar, benar! Memang demikianlah ganjaran orang
yang berani mengganggu selir raja, " kakek Lo Kun tertawa
girang.
"Engkau tak tahu kalau Sun kuihui juga berada disini ?"
tanya kakek Kerbau Putih.
"Sama sekali tidak. Andaikata tahu, tentu aku mengamuk."
kata Somali.
"Engkau bangsat, Somali !" tiba-tiba kakek Lo Kun kumat
penyakitnya lalu menendang Somali. Plak . . . karena tak
menduga, Somali mencelat sampai dua langkah kebelakang.
"Bangsat kate, mengapa engkau menyerang aku lagi ?"
teriak Somali dengan marah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkaulah yang .mencelakai wanita itu sehingga dia turut
dihukum oleh raja!" teriak Lo Kun,
"Ho, aku sudah amat menderita sekali menerima hukuman
raja. Mengapa engkau ikut-ikutan hendak menyakiti diriku ?
Apakah engkau berhak?"
'"Berhak," sahut kakek Lo Kun, "karena wanita itu serupa
benar dengan calon pengantinku yang hilang."
"Setan tua ..." teriak kakek Kerbau Putih. Tetapi belum
habis dia berkata, kakek Lo Kun sudah deliki mata kepadanya:
"Ho, kerbau, engkau hendak membelanya lagi ? Kalau begitu,
kuajukan saja waktu pertandinnan itu. Tidak satu tahun lagi
tetapi sekarang juga !"
Habis berkata kakek linglung itu terus sing-singkan lengan
baju bersiap-siap.
"Lo Kun, jangan berkelahi !" seru Blo'on, "engkau dengar
tidak perintahku. Aku putera raja”
Lo Kun menurut, tetapi kakek Kerbau Putih masih
penasaran, serunya : "Lo Kun. mengapa engkau begitu ngotot
mengaku selir raja itu seperti calon pengantinmu?"
"Sudah tentu", sahut kakek Lo Kun, "dia memang
menyerupai sekali dengan puteri ti-koan yang dinikahkan
dengan aku itu. Kalau tak percaya, lihatlah sendiri !"
Karena ingin tahu kakek Kerbau Putihpun menghampiri peti
mati dan melongok isinya.
"Astaga ." kakek Kerbau Putih menjerit dan loncat mundur.
Sikapnya amat tegang sekali, tubuhnyapun gemetar.
"Mengapa engkau ?" tegur kakek Lo Kun karena heran
melihat tingkah laku kakek rambut pulih itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dia ... dia ... "
"Setan, dia bagaimana ? Apa engkau anggap dia jelek
rupanya ?" seru kakek Lo Kun.
"Dia mirip dengan nona yang kucintai . . ,"
Plak . . . tiba-tiba kakek Lo Kun ayunkan tangan menampar
kepala kakek Kerbau Putih: “Kurang ajar engkau kakek gila !
Engkau berani mengaku dia sebagai kekasihmu ?"
Karena tak menyangka, kakek Kerbau Putih tersurut
selangkah. Kemudian dengan mata merah padam ia
memberingas : "Setan tua, dia benar seperti kekasihku, puteri
seorang ti-koan dari Hong-yang hu !"
Lo Kun beranjak hendak maju menyerang lagi tetapi tiba-
tiba punggungnya dijotos Somali, duk.... karena tak
menyangka dan jaraknya dekat, kali i-ni kakek Lo Kun harus
merasakan betapa rasanya orang yang jatuh tengkurap
mencium tanah ...
Dia tengel-tengel bangun lalu berputar tubuh menghadap
Somali: "Somali. mengapa engkau memukulku”
"Karena engkau juga liar," jawab Somali, "bukankah engkau
juga hendak menyerang kakek itu?"
"Ho, jelas kalian berdua memang sudah bersekongkel
hendak melawan aku." gumam kakek Lo Kun," tadi si kerbau
yang membela engkau sekarang engkau yang membela dia."
"Lo Kun, jangan berkelahi !" tiba-tiba Blo'on menyelutuk,
"dengarkan dulu keterangan kakek kerbau mengapa dia
mengaku wanita itu kekasihnya. Hayo, kakek rambut putih,
ceritakanlah riwayatmu",
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih menurut, dia bercerita : "Dahulu
semasa muda, aku tidak sejelek ini. Aku seorang pemuda yang
cakap dan pintar. Aku ini anak siapa, kalian tahu ?"
"Tidak," sahut Blo'on.
"Aku ini sebenarnya anak seorang ti-koan (lurah) Ayahku
kaya dan berkuasa Aku disuruh belajar ilmu sastera agar kelak
dapat menggantikan kedudukan ayah. Bahkan kalau dapat,
bisa mencapai pangkat yang lebih tinggi lagi. Tetapi aku tak
suka ilmu sastra, aku lebih senang belajar ilmu silat. Ayah
menuruti permintaanku, mengundang seorang guru silat untuk
mengajar aku. Sejak memiliki kepandaian silat, aku mulai
nakal. Aku sering kelayapan di luar dan sering berkelahi.
Karena aku anak tihu, tak ada orang yang berani menentang.
Aku makin binal. Kupelihara beberapa gerombolan pemuda
jago berkelahi. Selain mabuk, judi akupun suka mengganggu
wanita.
Pada suatu hari ketika malam Keng-thi-kong siau
Sembahyang Tuhan Allah, banyaklah gadis-gadis yang keluar
untuk bersembahyang ke keleteng. Tay-im si merupakan
kelenteng yang terbesar diwilayah Siamsay. Pada malam itu
ramai sekali orang datang berkunjung untuk bersembahyang.
Kuajak anakbuahku pesiar ketempat itu. Menikmati gadis-
gadis pingitan yang jarang keluar dari rumah.
Ditengah tengah keramaian, tiba-tiba datang sekelompok
lelaki berpakaian seragam, memikul sebuah tandu. Empat
orang lelaki yang berjalan di muka tandu, berteriak teriak
sambil mengayun-ayunkan tongkat untuk menyuruh orang-
orang memberi jalan. Tandu masuk kedalam kelenteng dan
turunlah seorang gadis yang cantik sekali.
Saat itu hatiku seperti melonjak-lonjak ingin mendekati
gadis jelita itu. Dari beberapa orang, kudapat keterangan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
bahwa gadis jelita itu ternyata puteri tihu. Ayahku hanya
seorang ti-koan, kalah tinggi kedudukannya. Tetapi aku sudah
terlanjur mabuk kepayang. Aku harus mendapatkan gadis
jelita itu, dengan jalan dan pengorbanan apapun juga.
Demikian tekad hatiku.
Kuikuti rombongan pengawal tandu itu sampai ditempat
kediaman tihu. Gedung tihu dijaga ketat sekali. Tetapi aku
nekad. Dengan jalan menyelundup dari pagar tembok
belakang, aku berhasil masuk ke gedung tihu. Dengan susah
payah akhirnya dapat kutemui kamar jelita itu . . . .
Kakek Kerbau Putih berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi :
"Bermula nona itu kaget dan hendak menjerit. Tetapi cepat
kuberikan pisauku kepadanya. Dari pada menjerit, kusuruh dia
membunuh aku saja.
"Tentu engkau dibunuhnya, kerbau !" teriak kakek Lo Kun.
'O, tidak, tidak," seru Kerbau Putih, "memang saat ini aku
tak keruan ujutku. Tetapi pada masa itu aku seorang pemuda
yang cakap dan ganteng. Dengan tutur bahasa yang lembut
dan sikap yang sopan santun, jelita itu tertarik denganku. Ia
lebih girang ketika mengetahui bahwa aku putera tikoan.
Sejak malam itu, berkali-kali aku mengadakan pertemuan
gelap dengan jelita itu. Kita makin mencintai satu sama lain.
Akupun bersumpah dihadapannya. jika tak menikah dengan
dia, lebih baik aku mati atau takkan menikah seumur hidup.
Tetapi kisah asmara kita tak berlangsung lama. Cong-tok
(gubernur) memberi tahu kepada ti-hu ayah gadis itu bahwa
puterinya akan diambil isteri oleh seorang pembesar kerajaan.
Aku gelisah bukan main. Akhirnya aku nekad. Kekasihku itu
harus kubawa lari. Lalu kuculik seorang gadis desa, setelah
kututuk jalan darahnya lalu kubawa kedalam gedung residen
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan kutukarkan dengan puteri ti-hu. Bermula kekasihku takut
melarikan diri tetapi serta kuancam, apabila dia tak mau
menurut kehendakku lebih baik aku mati bunuh diri di
hadapannya, akhirnya ia menurut juga. Tengah malam aku
berhasil membawa puteri ti-hu pergi. Tetapi akupun takut
pulang kerumah karena kuatir ayah akan marah dan terembet
dengan urusan ini.
"Aku hendak membawa kekasihku pergi jauh ke sebuah
tempat tak dikenal orang." kata kakek Kerbau Putih
melanjutkan ceritanya, "tetapi ketika lewat di gunung Hok-gu-
san, aku telah dihadang oleh gerombolan penyamun. Mereka
berjumlah lebih banyak dan aku hanya seorang diri. Akhirnya
aku dapat diringkus lalu dilempar kedalam jurang.
"Lalu bagaimana dengan nona itu" tanya Somali
"Dia dibawa oleh mereka!" kakek Kerbau Putih menghela
napas panjang, "untung aku masih hidup, ah, tetapi
sebenarnya lebih baik aku mati saja."
"Mengapa ?” tanya Somali.
"Karena sejak itu, wajahku yang cakap hancur punggungku
bungkuk begini. Karena malu bertemu orang, aku
bersembunyi didasar jurang gunung Hok gu-san," kakek
Kerbau Putih mengakhiri, ceritanya.
"O, engkau juga bernasib malang." kata kakek Lo Kun, "hai
. . . tetapi mengapa eagkau mengaku wanita dalam peti kaca
itu sebagai kekasihmu?”
"Memang benar dia kekasihku !" teriak kakek Kerbau Putih.
Lalu tiba-tiba ia memandang Somalil "hai, Somali, mengapa
engkau mengatakan kalau wanita itu Sun kuihui selir raja Ing
Lok ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tentu saja", sahut Somali, "akulah yang tahu paling jelas !"
"Engkau tahu asal usul dia diambil selir raja ?"
"Ya, pada suatu hari, ketika mengikuti baginda memadam-
kan pemberontakan suku Biau didaerah Sinkiang seoraug
kepala kampung daerah itu telah menghaturkan seorang gadis
cantik yang di akunya sebagai anaknya. Baginda amat tertarik
sekali dengan kecantikan gadis itu. Gadis itu dibawa pulang ke
kota raja dan diangkat menjadi Sun kuihui."
"Tetapi jelas dia adalah kekasihku. Aku dapat mengenali
ciri-cirinya," bantah kakek Kerbau Putih.
"Bagaimana cirinya ?"
"Diatas mulutnya, mempunyai sebuah tahi lalat."
"Tetapi akupun tahu jelas akan ciri-ciri dari Sun kuihui yang
pernah kupeluk itu. Di dadanya sebelah kiri terdapat sebuah
tahi lalat ..."
"Bagaimana engkau tahu?" teriak kakek Kerbau Putih.
"Tentu saja tahu karena bajunya saat itu telah kulepas ..."
belum sempat Somali bicara habis. dua buah pukulan
menghunjamnya dari kanan dan kiri. Pukulan dari kanan
berasal dari tangan kakek Kerbau Putih dan yang dari kiri
pukulan kakek Lo Kun. Kedua kakek linglung marah sekali
mendengar keterangan Somali.
Somali cepat menangkis tetapi ia harus menggerung karena
kesakitan : "Bangsat, mengapa kalian memukul aku ?"
"Engkau menghina kekasihku !" teriak kakek Kerbau Putih.
"Engkau kurang ajar terhadap calon pengantinku !" seru
kakek Lo Kun pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Somali terlongong, serunya : "Bangsat, dia itu jelas Sun
kuihui . . ."
"Kekasihku." teriak kakek Kerbau Putih.
"Calon pengantinku “
"Sun kuihui !" jerit Somali.
Ketiga orang itu berteriak, memekik dan menjerit makin
lama makin keras. Masing-Masing mengukuhi pernyataannya
sendiri.
Blo’on bising mendengarnya. Cepat ia menutup telinganya
dengan tangan dan menjerit : "Hai, berhenti kamu !"'
Rupanya ketiga orang itu mau juga menuruti perintah
Blo'on. bentakan Blo'on sedahsyat petir menyambar.
"Somali, Lo Kun dan kakek Kerbau, bagamana maksud
kalian ini ?" tanya Blo'on.
"Wanita dalam peti kaca itu jelas Sun kui hui yang kucintai
..."
"Bangsat Somali. ..." cepat kakek Lo Kuil mendamprat tetapi
secepat itu pula Blo'on membentaknya : "Diam engkau !"
"Lalu bagaimana maksudmu, Somali ?" kata Blo'on pula.
"Dia akan kuambil dan akan kubawa pulang ke Persia ..."
"Bangsat, akan kubunuhmu !" teriak kakek Kerbau Putih
dengan memberingas.
"Jangan mengganggu orang bicara, kakek Kerbau." bentak
Blo’on pula, "kalau kalian tak mendengar kata-kataku, lebih
baik aku pergi saja dan silahkan berkelahi sampai mati !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Habis berkata Blo'onpun terus hendak melangkah keluar
tetapi ketiga orang itu serampak mencegah : "Jangan pergi,
engkau harus memutuskan urusan ini dulu !"
"Hm, baik." Blo’on berhenti, "tetapi kalial harus diam.
jangan membawa kemauan sendiri.”
"Kakek Kerbau, bagaimana keinginanmu ?” tanya Blo’on.
"Jelas wanita itu adalah kekasihku. Karena sekarang sudah
berjumpa, harus kubawa pulang ke gunung Hok-gu-san."
"Hmmm." kakek Lo Kun menggigil geram.
"Lo Kun. bagaimana kehendakmu ?" tanya Blo'on kepada
kakek itu.
"Wanita itu jelas calon pengantinku yang hilang. Karena dia
sudah berada disini. tentu akan Kujaga sampai aku mati !"
sahut Lo Kun.
Blo'on garuk-garuk kepalanya yang sudah mulai tumbuh
rambutnya. Lalu menggumam : "Wah susah ini. Seorang
wanita, dibuat rebutan tiga orang lelaki Bagaimana caranya
membagi ?"
Beberapa saat kemudian, Blo'on berteriak girang : "O,
benar, benar! Jangan kuatir, aku dapat memutuskan perkara
ini ... "
Ia terus menghampiri peti lalu melongok ke dekat peti kaca
yang berisi wanita cantik itu : "Hai. wanita, ketahuilah. Saat ini
ada tiga manusia lelaki yang mengaku engkau sebagai
kekasih-nva. Sekarang engkau harus menjawab sendiri.
Benarkah engkau ini Sun kuihui yang pernah dipeluk Somali ?"
Tiada jawaban dari wanita cantik dalam peti kaca itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Celaka, engkau dengar tidak, Somali ? Dia tak menjawab,
tandanya menyangkal !" teriak Blo'on.
"Tetapi dia su . . " baru Somali hendak membantah. Bloon
sudah memberi isyarat tangan suruh dia diam. Lalu Blo'on
bertanya lagi kepada wanita cantik itu : "Kalau begitu,
engkau tentulah kekasih dari kakek Kerbau Putih itu ?”
Juga tak ada jawaban.
"Uh, kakek Kerbau Putih, dia tak menjawab berarti
menyangkal !" seru Blo'on.
"Uh, aneh ..." gumam kakek itu.
"Kalau begitu apakah engkau benar calon pengantin dari
kakek Lo Kun ?" Blo'on tak mengacuhkan terus mengajukan
pertanyaan lagi.
Namun tetap tak berjawab.
"Kakek Lo Kun, dia juga menyangkal menjadi calon
pengantinmu !"
"Heran, mengapa begitu ?" kakek Lo Kul yang linglung
garuk-garuk kepala.
"Tidak aneh, tidak heran karena kalian goblok semua !"
teriak Somali, Sun kuihui sudah meninggal dunia, masakan
dapat menjawab pertanyaanmu ?"
"Meninggal ?" Blo'on kerutkan dahi, "kalau meninggal
mengapa badannya masih utuh seperti orang hidup ? Ah, dia
tentu tidak meninggal melainkan tidur . . "
"Tidak !" teriak Somali makin kalap, "dia memang sudah
meninggal tetapi jenazahnya dibalseM”
"Apa itu dibalsem ?" tanya Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dinegeriku ada semacam obat yang dilumurkan pada
tubuh sesosok mayat. Mayat itu tak dapat busuk selamanya.
Dibalsem namanya atau diawetkan supaya tetap seperti
hidup." kata Somali.
"Benarkah itu kakek Kerbau ?" tanya Blo'on
"Ya,"
"Benarkah itu, Lo Kun ?”
"Benar."
"Kalau begitu, dia sudah mati. Tetapi mengapa kalian
hendak berebut mengambilnya ? Apakah kalian hendak
menikah dengan mayat ?"
"Biar." sahut Somali, "pada masa hidupnya aku tak dapat
memperisteri, biarlah setelah mati akan kuambil sebagai
isteri."
"Tidak gadisnya, jandanyapun tetap akan kupersunting."
seru kakek Kerbau Putih.
"Karena calon pengantin yang hidup tak mampu kujadikan
isteri, sekalipun sudah jadi mayat tetap akan kujadikan calon
pengantinku," kakek Lo Kun tak mau kalah suara.
"Ha, gila, gila," Blo'on garuk-garuk kepalanya yang gundul,
"kalau masih hidup dapat kutanya dia akan memilih siapa.
Tetapi karena sudah mati bagaimana dapat kutanyai ?"
Blo’on mondar-mandir sambil berteliku tangan. Rupanya ia
sedang mencari akal bagaimana memecahkan persoalan itu.
"Ya, hanya dengan cara itu," tiba-tiba ia berhenti dan
berseru kepada ketiga orang itu. "begini keputusanku. Karena
kalian semua hendak menginginkan seorang wanita yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sudah mati. Maka wanita itu akan kubagi tiga. Kalian masing-
masing mendapat satu bagian. Adil bukan ?”
Dan tanpa mempeduhkan ketiga orang terlongong longong,
Blo'on melanjutkan pula : "Engkau kakek Kerbau, karena kenal
lebih dulu dengan wanita itu, engkau boleh ambil kepalanya.
Kakek Lo Kun mendapat bagian tubuhnya dan Somali bagian
kaki ..."
"Tidak ! Tidak
Tidak!" serempak
ketiga orang itu
berseru menolak,
"kalau engkau berani
mengganggu wanita
itu. tentu kubunuh!"
"Habis, bagaimana
kehendak kalian?"
teriak Blo'on mulai
penasaran.
"Berikan kepadaku,
dia kekasihku !' seru
kakek Kerbau Putih.
"Berikan kepadaku
karena dia calon pengantinku !'" jerit kakek Lo Kun.
"Berikan kepadaku karena dia pujaan hatiku!” teriak Somali
pula.
Blo'on merenung diam. Sampai lama baru ia berkata pula :
"Begini sajalah. Aku tak dapat memutuskan urusan ini. Yang
mampu dan berhak memutuskan ialah raja. Maka marilah kita
menghadap raja meminta keputusannya. Setuju?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Setuju !" akhirnya ketiga orang itu menyatakan
persetujuannya.
"Tetapi bagaimana kalau kita pergi dan wanita itu diambil
orang?" kata kakek Kerbau Putih.
"Benar, benar," seru Lo Kun dan Somali.
"Hm, kalau begitu. Somali yang jaga disini. Dia tak bisa
jalan, lebih baik tinggal disini. Dan engkau kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Patih ikut aku menghadap raja!"
"Mengapa harus ikut ke kota raja ?" teriak kakek Lo Kun.
"Karena setelah menghadap raja, aku tak mau kembali
kesini lagi. Lalu siapa yang menyampaikan keputusan raja
kepada Somali?" jawab Blo'on
Kedua kakek itu mengangguk dan menyetujui
"Tetapi awas. Somali, jangan engkau kurang ajar memeluk
dan menciumi calon pengantinku itu lagi !" kakek Lo Kun
meninggalkan ancaman.
"Ya Somali, kalau engkau berani berbuat cabul terhadap
kekasihku itu, engkau tentu kucincang " pesan kakek Kerbau
Putih.
Somali hanya geleng-geleng kepala melihat kedua kakek itu
berjalan mengikuti Blo'on yang menuju ke pintu putih.
"Hai. tunggu dulu Lo Kun !" tiba-tiba Somali berteriak "kalau
engkau pergi, lalu siapa yang menyediakan makanan
untukku?"
Lo Kun tertegun : "Ai, benar, benar. Kalau tak makan dia
tentu mati . . , tunggu !" tiba-tiba ia lari kembali keatas guha
dan tak berapa lama muncul pula dengan membawa sebuah
peti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Peti penuh berisi botol, katanya seraya mengambil sebuah
botol warna putih : "Botol ini beris pil makanan. Isinya beribu-
ribu butir pil. Tiap hari engkau cukup makan sebutir pil, tentu
sudah kenyang. Dan botol lain-lainnya berisi arak. Apabila
habis, engkau boleh naik ke atas guha dan mengambilnya
lagi."
Somali mengerut dahi : "Makanku banyak, lima takeran dua
tiga orang. Masakan pil sekecil itu dapat mengenyangkan
perutku ?"
"Ho, Somali, jangan memandang enteng pil iti. Pil itu
disebut Poh-leng-tan, terbuat dari sari-sari gandum dan hati
binatang-binatang yang tahan lapar, antara lain ular yang
umurnya seratus tahun. Pembuatan itu menurut resep pusaka
dari keluargaku. Di dunia tak ada orang yang mampu
membuatnya. Sudahlah, jangan kuatir. kalau engkau mati
kelaparan, bunuhlah aku !" kata Lo Kun,
"Apakah isi pintu putih itu ?" tanya Blo-on
"Sebuah pintu rahasia yang akan tembus sampai ke
lamping gunung " kata Lo Kun.
"Kalau begitu kita keluar saja dari pintu ini" kata Blo'on.
"Jangan, jangan !" teriak kakek Lo Kun, "berbahaya sekali !
"Mengapa ?" tanya Blo'on.
"Ada penunggunya !"
Blo'on dan kakek Kerbau Putih terbeliak kaget: "Penunggu ?
Siapa psnunggunya?"
"Seekor binatang purba, kepalanya seperti singa tetapi
bertanduk.”
"Kenapa takut kepada binatang itu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"O, engkau tak tahu. Pernah sekali aku mencoba masuk
kedalam terowongan itu. Aku hampir mati disemburnya.
Binatang itu dapat menyemburkan asap beracun !" Lo Kun
menerangkan,.
"Huh, seram !" seru Blo'on terus hendak melangkah keluar.
"Mengapa tak jadi masuk." teriak Somali demi melihat
ketiga orang itu keluar dari pintu-putih
"Ada penunggunya, seekor binatang anjing-naga yang
ganas." sahut Blo'on.
"Dan engkau takut ?"
"Ho, Somali, apa engkau kira jiwaku ini murah? Kalau aku
mati, siapakah yang akan menghadap raja ?" seru Blo'on.
"Kurang ajar engkau Somali, bukankah engkau suruh kita
bertiga masuk supaya mati dan wanita itu hendak engkau
ambil sendiri ?" teriak kakek Lo Kun.
"Ho, Somali, aku bukan anak kecil yang mudah engkau
tipu!" kakek Kerbaupun ikut bersuara.
Somali menyahut: "Kalau kalian berdua, matipun aku tak
Peduli. Tetapi anak itu, dia putera raja, masakan bicaranya
seperti orang gila. Di negeriku Persia, raja dan putera raja itu
disembah orang karena bicaranya tegas. Sudah membuka
pintu tak berani masuk, itu pengecut. Itu bukan laku seorang
putera raja !"
Blo'on malu, serunya : "Hai, Somali, jangan menghina
putera raja. Engkau kira aku takut masuk ? Tidak, aku tidak
takut. Kakek Lo Kun dan kakek Kerbau, kalau kalian takut, tak
usah ikut. Aku hendak masuk sendiri ..." tiba-tiba burung
rajawali dan monyet hitam loncat menghampiri Blo’on, Blo’on
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
girang . "Ho, engkau mau ikut masuk ? Bagus. mari kita
masuk . . . " ia terus melangkah kedalam pintu putih lagi.
"Tunggu, aku ikut!" kakek Lo Kun dan Kerbau Putih
serempak lari mengusul.
Dibelakang pintu putih itu merupakah sebuah lorong jalan
yang panjang dan gelap. Untung lorong terowongan itu cukup
tinggi dan lebar sehingga mereka dapat berjalan dengan
tegak.
Entah berapa lama dan beberapa panjang lorong yang
mereka tempuh itu, tiba-tiba mereka tiba di sebuah tempat
yang lebar. Sebuah tempat terbuka yang jauh lebih terang
daripada terowongan tadi. Dan aneh pula, tanah di tempat itu
tampak hijau.
Ketika Blo'on dan kedua kakek linglung melangkah maju,
barulah mereka mengetahui bahwa warna hijau tua pada
tanah itu ternyata tumbuhan (lumut) yang subur sehingga
hampir sejari tinnginva. Sepintas pandang menyerupai
permadani hijau Di atas ruang itu tertutup dengan gumpal-
gumpal batu kerucut yang berlubang kecil-kecil. Melalui
lubang-lubang kecil itulah sinar matahari dan rembulan dapat
memancar masuk. Dan dari lubang-lubang kecil itu pula angin
dan air hujan maupun embun masuk ke dalam ruang.
Sekeliling ruang, merupakan dinding karang yang tak rata
bentuknya. Pun penuh ditumbuhi pakis yang tebal.
Blo'on berpaling memandang kakek Lo Kun tegurnya :
"Kakek, mana binatang purba yang engkau katakan itu ?
Mengapa tak ada di tempat ini . . . "
Belum selesai bicara, kakek Lo Kun cepat membentak : "St,
diam, dengarkanlah !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo’on terkejut dan memandang kemuka. Tampak tanah
bertabur pakis yang berada didekat dinding karang tiba-tiba
mulai bergerak, menggelembung keatas. Makin lama makin
naik dan makin membesar sehingga menyerupai seekor
kerbau.
"Dia mulai bangkit !" seru kakek Lo Kun dengan suara
tertahan, "rupanya dia mencium bau manusia ..."
Blo'on, kakek Kerbau Putih dan Lo Kun memandang gunduk
tanah yang menonjol keatas itu dengan penuh perhatian.
Setelah menggunduk tinggi, sekonyong-konyong gunduk
tanah itu meledak. Berkeping-keping tanah batu karang
berhamburan memenuhi ruangan menimbulkan debu yang
tebal.
Belum Blo'on dan kedua kakek hilang kejut nya, tiba-tiba
terdengar suara mendering tajam bagai berpuluh-puluh
senjata beradu. Kemudian disusul dengan sebuah suara yang
dahsyat. Sebuah ringkikan yang jauh berlipat ganda kerasnya
dari ringkik kuda. Nadanya melengking tinggi sehingga telinga
Blo'on dan kedua kakek itu serasa pecah. Dinding karang
bergetaran pakis bertebaran laksana salju jatuh dibumi.
Karena kejutnya. Blo'on terus memeluk kedua kakek itu
erat-erat. Burung rajawali mengepak-ngepak sayp dan monyet
hitampun loncat mendekap ke-kepala Blo'on.
Beberapa saat kemudian Blo'on lepaskan pelukannya tetapi
terus menjerit: "Hai, wangi sekali!"
"Celaka, lekas tutup hidungmu, jangan menyedot hawa
wangi dari binatang itu !" cepat kakek Lo Kun meneriakinya.
Dan ia sendiripun terus menghentikan pernapasannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ha." Blo'onpun cepat menutup hidung dengan sebelah
tangannya, "tetapi kalau membuka mulut, hawa wangi itu
tetap akan masuk kedalam tubuh kita !"
"Hm, untung engkau mengajak aku, Kalau tidak kalian tentu
sudah mati," kata kakek Kerbau Putih seraya merogoh
bajunya. Ia mengeluarkan sebuah botoi kecil dari batu
kumala. Menuang isi-nya tiga butir pil warna putih, besarnya
seperti biji kedele.
"Nih, engkau sebutir dan engkau sebutir," ia memberikan
kepada Blo'on dan kakek Lo Kun, “kulumlah pil itu dimulut,
khasiatnya dapat menolak hawa racun."
Habis berkata iapun terus mengulum sebutir dimulutnya.
Blo'on dan Lo Kun menurut.
Saat itu tebaran debu batu karang dan pakis sudah menipis
dan merekapun dapat melihat apa yang berada dalam ruang
itu.
Seekor mahluk mengerikan. Kepalanya menyerupai singa
yang bertanduk, badannya bersisik kekuning-kuningan.
Sepasang gundu matanya yang besarnya seperti buah apel,
tampak bersinar memancarkan api, Tinggi binatang itu hampir
sama dengan seekor anak kerbau, ekornya pendek. Hidungnya
mendengus dan menghamburkan asap putih. Asap itulah yang
bertebaran memenuhi ruang dengan hawanya yang wangi.
"Kilin emas ... !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru
tertahan.
"Apa ?" tanya Blo'on.
"Binatang itulah yang disebut ki-lin atau warak. Binatang
yang jarang terdapat di dunia. Apa lagi yang bersisik emas
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
seperti itu, kiranya hanya terdapat dalam dongengan saja. Ah,
hebat benar . . , "
"Uh, bagaimana engkau tahu ?" dengus kakek Lo Kun.
"Dulu ketika aku masih muda, aku disuruh ayah belajar
sastera. Guruku menceritakan tentang seekor binatang yang
jarang terdapat dalam dunia. Namanya ki-lin. Kilin emas
merupakan kilin mustika, rajanya ki-lin. Ki-lin yang tak
terdapat duanya dikolong jagad ini !'"
"Apa gunanya ?" tanya Blo'on.
"Kalau ki-lin emas muncul di dunia, pertada akan lahir
seorang nabi besar atau seorang raja besar atau sekarang
manusia luar biasa . . . "
"O, karena kita beruntung melihat ki-lin emas, kita ini
manusia luar biasa" kata kakek Lo Kun.
"Ho, ho, tanpa melihat ki-lin, engkau memang sudah
manusia luar biasa. Coba saja, apakah didunia terdapat kakek
tua berambut hitam?" kata kakek Kerbau Putih.
"Benar, benar," sahut kakek Lo Kun, "engkaupun termasuk
manusia luar biasa juga, kerbau. Coba carilah manusia yang
mendukung daging benjol seperti engkau, ha, ha, . . , "
"Kakek Kerbau," kata Blo'on, "apakah ki-lin itu mempunyai
daya khasiat lain ?"
"Ya. apabila engkau makan dagingnya, keringatmu tentu
wangi sekali. Kalau minum darahnya engkau dapat hidup
sampai seribu tahun . . "
"Ho. kalau begitu mari kita tangkap ki-lin itu", seru kakek Lo
Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, benar," seru Blo'on terus mendahului lari kemuka
menghampiri ki-lin.
"Hai, jangan gegabah. Dia dapat menyemburkan uap
beracun !" seru kakek Lo Kun yang terpaksa menyusul maju.
diikuti kakek Kerbau Putih. Rupanya rnahluk aneh itu tahu
kalau tiga orang manusia menghampirinya. Biji matanya makin
memancar sinar api. Tiba-Tiba ia menguap. Segumpal asap
putih segera bergulung gulung melanda Blo'on.
"Celaka," teriak Blo'on seraya loncat ke samping lalu loncat
menubruk binatang itu. Tetapi binatang itu teramat gesit
sekali. Dengan kisarkan tubuh, ia menghindari tubrukan
Blo'on. Kemudian menyerang dengan tanduk.
Tetapi saat itu kakek Lo Kunpun sudah lari mendatangi dan
menyambar ekornya. Plak, ki-lin kebaskan ekornya tepat
menampar tangan si kake Kakek Lo Kun meringis kesakitan
karena tangan nya seperti ditampar sapu baja.
Dari samping kakek Kerbau Putihpun menerjang. la berhasil
memukul tubuh binatang itu. Tetapi bukan ki-lin yang rubuh
melainkan kakek Kerbau Putih yang menjerit kesakitan.
Tinjunya serasa menghantam keping baja yang keras sekali.
Entah herapa ratus tahun umur ki-lin itu sehingga sisik
badannya telah membatu karang. Kerasnya seperti baja.
Bloon terlongong-longong melihat kedua kakek itu menjerit
kesakitan dan mengelus-elus tangannya. Tiba-Tiba ki-lin itu
loncat menanduknya. Karena jaraknya amat dekat dan
gerakan binatang i tu secepat angin berhembus, Bloon tak
sempat menghindar lagi. Dalam gugupnya, ia gerakkan kedua
tangannya untuk menangkap sepasang tanduk binatang itu.
Dan berhasil.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena tanduknya dicengkeram orang, ki-lin mengamuk. Ia
mendorong maju untuk mendesak Bloon dan anak itu tak
mampu menahannya. Ia serasa dibawa terbang ke belakang
dan bruk .... dinding karangpun jebol berhamburan menimbuni
Blo'on dan ki-lin.
Terdengar ringkikan dahsyat. Batu-Batu karang menimbuni
kedua mahluk itu berguguran dan berterbangan ke sekeliling.
Ki-lin memberosot mundur setelah keluar dari lubang yang
jebol itu, binatang itu terus lari kembali ke tempat ia muncul
tadi.
Kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Putih
menyaksikan peristiwa
Blo'on diseret ki-lin
tadi. Tetapi karena ki-
lin itu bergerak
terlampau cepatnya
kedua kakek itu tak
sempat menolong.
Sesaat melihat ki-lin
keluar dari timbunan
karang, kedua kakek
itu berhamburan
loncat memburunya.
Tetapi tiba-tiba ki-lin
itu menguap,
menyemburkan
segumpall asap putih
yang tebal. Karena kaget dan kuatir terkena racun, kedua
kakek itupun berloncatan mundur. Kemudian mereka
menyelinap hendak mengejar lagi. Tetapi ki-lin sudah
menyusup masuk kedalam tanah.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, dia masuk kedalam bumi," teriak kakek Lo Kun ketika
mendapatkan tempat ki-lin melenyapkan diri itu ternyata
merupakan sebuah lubang kecil yang gelap dan tak diketahui
berapa dalamnya.
"Hai. setan tua. jangan gila !" cepat kakek Kerbau Putih
menyambar lengan kakek Lo Kun ketika kakek itu hendak
terjun kedalam lubang.
"Akan kutangkap binatang itu." seru kakek Lo Kun.
"Engkau gila," kata kakek Kerbau Putih, "lubang ini tak
diketahui berapa dalamnya. Mungkin mencapai perut bumi.
Dan ki-lin itu dapat menyembulkan uap beracun. Bukankah
engkau hanya mengantar jiwa saja ?"
"Ho, kalau tak berani menempuh bahaya tentu tak bakal
mendapat barang mustika itu, "bantah kakek Lo Kun.
"Kalau engkau memang hendak nekat, terserah," kakek
Kerbau Putih lepaskan cekatannya dan terus ayunkan langkah.
"Hai. hendak kemana engkau ?" teriak kakek Lo Kun.
"Menolong anak itu lebih penting daripada melihat engkau
mati," sahut kakek Kerbau Putih.
"Ai, benar, kasihan anak itu , ... " kakek Lo Kun terus lari
bahkan mendahului kakek Kerbau Putih menghampiri
ketempat Blo'on.
Blo'on menggeletak tak berkutik Matanya meram, napas
berhenti. Kepalanya berdarah.
"Celaka, anak ini mati !" seru kakek Lo Kun seraya
mengguncang-guncang-kan tubuh Blo'on supaya bangun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
“Kita angkut keluar." kata kakek Kerbau Pulih. Kedua kakek
itu segera menggotong tubuh si Blo'on keluar, diletakkan di
tanah. Kemudian kakek Kerbau Putih memeriksa keadaannya.
"Ya. dia sudah mati, jantungnya tak berdetak. kasihan ..."
kata kakek itu beberapa saat kemudian.
"Lalu ?”
"Kita kubur saja didalam lubang itu," kata kakek Kerbau
Putih seraya menunjuk kepada lubang yang jebol tadi.
Kakek Lo Kun termenung. Kemudian ia berkata : "Apakah
anak itu benar-benar sudah mati ? Cobalah engkau periksa
lagi !"
"Kebanyakan tentu sudah mati. Jantungnya sudah berhenti,
eh, nanti dulu ..." ia memegang pergelangan tangan Blo'on
untuk memeriksa denyut jantungnya, "ya, benar, memang
sudah berhenti. Tetapi aneh. mengapa darahnya masih
mengalir seperti orang hidup ?"
"Ho, kalau begitu tak perlu kita buru-buru menguburnya.
Biarlah dia berada disini. Kutunggu saja, sembari menunggu
kalau-kalau ki-lin itu akan muncul lagi."
Kakek Kerbau Putih setuju. Keduanya lalu duduk bersila,
pejamkan mata dan bersemedhi memulangkan tenaga.
Dalam ruang itu makin gelap. Rupanya hari sudah malam
dan rembulan belum muncul sehingga tak ada sinar
penerangan yang menembus kedalam ruang.
Entah sampai beberapa lama, barulah kedua kakek itu
menyudahi persemediannya. Kakek Lo Kun yang pertama-
tama membuka segera berteriak kaget :
"Hai, apakah itu . . !”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ternyata monyet hitam sedang berlincahan di atas tanah
yang tertutup pakis hijau. Tak henti-hentinya monyet itu
memunguti benda berwarna merah, Sebesar jagung.
Kakek Lo Kun menghampiri. Ingin ia tahu apakah biji-biji
merah yang dipungut monyet itu. Tahu-Tahu ia melihat sebutir
biji merah itu terletak ditempat yang agak menyudut. Buru-
Buru ia menyambarnya. Tetapi baru tangan hendak
menjamah, tiba-tiba burung rajawali menguak dan
menyambar biji merah itu dengan paruhnya lalu terbang
keatas melayang turun di atas dada Blo'on yang rebah
menelentang.
Burung itu menghampiri ke leher lalu tiba-tiba menunduk
dan menyusupkan biji merah itu kemulut Blo'on. Setelah itu
burungpun menguak lagi. Rupanya monyet mengerti kalau
dipanggil burung rajawali. Ia cepat berlari-lari menghampiri
dengan membawa segenggam biji-biji merah. Monyet itupun
segera susupkan biji-biji merah itu. ke dalam mulut Blo'on. ,
Setelah habis, monyet itu melonjak-lonjak seperti orang
gembira, bercuit-cuit lalu duduk disamping blo'on. Rajawalipun
loncat turun dan menjaga di dekat Blo'on.
Kakek Lo Kun melongo karena biji merah yang hendak
diraihnya itu telah digondol burung rajawah. Ia mendongkol
tetapi untunglah ia melihat lagi sebutir biji merah yang
menyelip dibawah rumpun pakis yang lebat. Cepat diambilnya.
"Hai, wangi sekali, . . . “ ia berteriak kaget "biji apakah ini?"
"Kakek goblok, itu bukan biji buah !" tiba-tiba terdengar
sebuah suara dari belakang
Lo Kun terkejut dan cepat berpaling kakek Kerbau Putih
sudah berada di belakangnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lalu biji apa ?" tanya Lo Kun.
"Darah ki-lin !"
"Hai,darah ki-lin ?" kakek Lo Kun melonjak kaget,
"bagaimana mungkin? Mengapa darah dapat membeku seperti
biji jagung begini?”
Kakek Kerbau Putih menghela napas : "Ah, memang setiap
benda atau mahluk mustika tentu mempunyai sesuatu yang
luar biasa. Ki-lin itu memang mahluk luar biasa yang tak
terdapat keduanya dalam dunia. Mungkin usianya sudah
beratus ratus tahun. Biasanya ki-lin tidak bertarduk tetapi ki-lin
itu bertanduk. Kalau bukan karena umurnya yang sudah
keliwat tua, tentulah ki-lin itu sebuah mahluk yang luar biasa,
sebuah ki-lin mustika ..."
Berhenti sejenak kakek Kerbau Putih melanjutkan lagi ?
"Kulit dan ekornya begitu keras sekali melebihi baja. Dan
menyemburkan asap wangi. Tadi ketika membenturkan anak
itu kedinding karang sehingga jebol, tentulah binatang itu juga
terluka dan mengucurkan darah. Kalau tidak, dia tak mungkin
meringkik keras dan melarikan diri ke dalam sarangnya...”
“O, benar” seru kakek Lo Kun
"Kucuran darahnya jatuh di tanah dan membeku jadi biji-biji
merah itu. Jangan heran," sepat-cepat Kerbau Putih mencegah
ketika kakek Lo Kun hendak membantah, "memang yang
disebut binatang mustika tentu mempunyai keluarbiasaan
yang mustahil. Kalau darahmu dan darahku mengucur, tentu
hilang kedalam tanah. Tetapi darah ki-lin mustika itu mungkin
lain sifatnya. Begitu menyentuh tanah terus membeku ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, bukankah tadi engkau mengatakan bahwa darah ki-lin
itu dapat menambah umur panjang?” tiba-tiba kakek Lo Kun
teringat.
“Benar, kalau ki-lin biasa," sahut kakek Kerbau Putih,
"tetapi karena ki-lin itu ki-lin mustika, darahnva tentu
berkhasiat hebat."
"Kurang ajar monyet itu, mengapa biji merah itu
dimasukkan kemulut anak itu ?" serentak kakek Lo Kun terus
hendak menghampiri monyet.
"Eh mau apa engkau ?" cepat kakek Kerbau Putih mencekal
lengan kawannya.
"Menghajar monyet!"
“Kenapa ?"
"Mengapa dia memberikan darah ki-lin itu kepada anak
yang sudah mati ?"
"Ah, tentulah monyet itu hendak mengobatinya," sahut
kakek Kerbau Putih, "memang bangsa binatang tahu akan
khasiat tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda yang
mengandung obat. Dan bukankah engkau masih mempunyai
sebutir ?"
"Ya." sahut kakek Lo Kun, "tetapi ini hal nya cukup untuk
diriku. Lalu bagaimana engkau?”
Kakek kerbau Putih tertawa: "Aku tak ingin makan biji
darah itu, bung."
"Mengapa ?"
"Aku tak suka hidup seribu tahun. Buat apa hidup begitu
panjang. Badan dan tulang-tulang kita akan sakit semua.
Kalau engkau takut mati, telan saja biji darah itu"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Huh, Kerbau gila, engkau mau cari enak sendiri !" kakek Lo
Kun menggumam "engkau suruh aku berumur panjang, biar
kalau engkau mati aku dapat menguburmu. Lalu siapakah
kelak yang akan mengubur aku ? O, tidak, tidak, jangan harap
engkau dapat menipu aku !"
Keduanya lalu menghampiri ke tempat Blo'on dan duduk
menunggu. Entah sampai berapa lama, tiba-tiba ruang
menjadi agak terang. Jalur-Jalur sinar matahari mulai
menembus melalui lubang-lubang kecil karang penutup ruang.
"Sudah siang, mengapa anak itu belum bergerak ?. Kalau
jelas sudah mati, hayo, kita kubur saja !" seru kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau Putih setuju. Mereka lalu membuat liang
didalam dinding karang yang jebol tadi. Andaikata kedua
kakek itu bukan orang linglung mereka tentu segera
mengetahui bahwa dibagian dalam dari dinding yang jebol itu
merupakan sebuah ruangan yang cukup lebar. Dan apabila
mau memperhatikan lebih lanjut, tentu mereka akan
terperanjat melihat keadaan ruang itu. Namun mereka kakek
linglung yang tak menghiraukan segala apa. Mereka hanya
asyik membuat libang untuk mengubur Blo'on.
Setelah selesai merekapun keluar lagi dan hendak
mengangkat tubuh Blo'on. Ketika tubuh Blo'on dibawa masuk,
burung rajawali dan monyet diam saja dan mengikuti masuk.
Tetapi pada waktu Blo'on dimasukkan kedalam liang terus
ditimbuni pecahan batu karang, tiba-tiba terdengar suara
anjing menggonggong dan beberapa saat kemudian, seekor
anjing besar berbulu kuning loncat masuk terus menubruk
kakek Lo Kun.
Ternyata anjing kuning itu adalah kawan dari burung
raajwali dan monyet. Sejak Blo'on jatuh kedasar jurang, anjing
itu masih menunggu diatas tepi jurang. Pun ketika burung
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
rajawali bersama monyet melayang turun ke dasar jurang,
anjing itu masih tetap menunggu diatas. Tetapi karena sampai
malam berganti siang, belum juga Blo’on dan burung rajawali
serta monyet hitam naik ke atas, anjing itupun mulai gelisah.
Akhirnya ia mulai menuruni jurang dan berhasil menemukan
tempat mereka berada.
Anjing kuning itu mempunyai naluri dan hidung yang tajam.
Ia marah karena tuannya ditimbuni batu oleh dua orang kakek
yang tak dikenalnya. Serentak ia loncat menerkam kakek Lo
Kun. Monyet dan burung rajawahpun bergerak menyerang
kakek Kerbau Putih. Burung rajawali menyambar-nyambar
kepala dan monyet melempari kaki itu dengan pecahan batu
karang.
Karena kewalahan kedua kakek itu lari keluar. Anjing,
burung rajawali dan monyetpun tak mau mengejar. Mereka
menjaga ditepi lubang tempat Blo'on dimasukkan.
Beberapa keping batu karang yang dilemparkan monyet
hitam tadi dapat ditangkis dan dihindarkan kakek Kerbau
Putih. Ada beberapa yang terlempar masuk kedalam liang dan
tepat menimpah muka dan dada Blo'on.
Sebenarnya tempat disitu merupakan sebuah ruang guha.
Pintu guha ditutup dengan pecahan batu karang yang kecil
yang disusun sampai ke atas. Berpuluh-puluh tahun lamanya,
pintu dari susunan batu karang itu ditumbuhi pakis lebat
sehingga sepintas pandang menyerupai dinding karang. Tak
disengaja, ki-lin telah mendorong Blo'on tepat ke arah pintu
itu hingga jebol. Apabila bukan terbuat dari susun batu
karang, Blo'on tentu sudah remuk tulang punggungnya.
"Kurang ajar anjing itu," kakek Lo Kun menggeram lalu
berteriak, "hai, anjing, hayo keluar sini. kuremuk mulutmu 1"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar anjing itu, "kakek Lo Kun menggerarn sambil
mengusap-usap daun telinganya, "Lihatlahah, kupingku telah
digigitnya sampai berdarah."
"Engkau masih untung," sahut kakek Kerbau Putih, "tadi biji
mataku hampir saja hilang karena ditutuk paruh burung itu.
Nih lihatlah, alisku hilang ..."
"Kalau begitu mari kita masuk menghajarnya lagi." kata
kakek Lo Kun terus hendak melangkah kedalam guha.
"Jangan." kata kakek Kerbau Putih.
"Jangan ? Engkau takut ?"
"Bukan takut tetapi malu."
"Malu kenapa ?" tanya kakek Lo Kun.
"Karena aku seorang manusia !"
"O . . . "
"Manusia musuhnya tentu manusia dan anjing dengan
anjing. Kalau manusia musuh anjing, entah manusia itu yang
menjadi anjing, atau anjing itu yang jadi manusia."
"O, benar, benar," teriak kakek Lo Kun yang linglungnya
memang lebih berat, "kalau begitu aku tak sudi berkelahi
dengan anjing itu. Enak saja dia jadi manusia dan aku jadi
anjing."
Kakek Kerbau Putih tak menyahut. Dan ketika kakek Lo Kun
berpaling ternyata kakek Kerbau Putih itu sudah duduk
bersemedi pejamkan mata.
"Setan, mengapa tak mengajak orang," ia menggumam
terus ikut duduk dimuka kakek Kerbau Putih dan bersemedhi
memulangkan tenaga.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Siangpun berganti malam dan tempat itu mulai gelap lagi.
Kedua kakek itu masih tetap terbenam dalam semedhinya.
Anjing kuningpun mulai rebahkan diri di tepi liang. Burung
rajawali mulai mendekam dan pejamkan mata. Hanya si
monyet hitam yang masih melek. Monyet itu memang nakal
dan suka mengganggu orang. Tetapi dia pintar suka dan cepat
sekali menirukan perbuatan orang
Sebenarnya ketiga binatang itu adalah binatang peliharaan
Blo'on. Tetapi sejak Blo'on kehilangan ingatannya akan masa
yang lalu, iapun lupa siapa ketiga binatang itu. Namun karena
anak itu memang gemar akan binatang, maka dibiarkan saja
ketiga binatang itu mengikutinya.
Dahulu ketika tinggal di gunung, monyet itu sering melihat
ayah Blo'on dan beberapa muridnya berlatih silat. Blo'on
sendiri tak mau belajar silat. Tetapi monyet itu diam-diam
telah memperhatikan menirukan gerak-gerak permainan silat
yang mereka lakukan. Walaupun tidak seluruhnya bisa
menirukan, tetapi monyet dapat juga melakukan gerak-gerak
ilmu silat. Bahkan ilmu melontar atau menimpuk dengan
senjata rahasia, pun ia juga ikut menirukan murid-murid ayah
Blo'on yang sedang berlatih.
Dan monyet itu memang suka usil, senang menggoda
orang. Keadaan sunyi menyebabkan dia tak betah. Apalagi tak
dapat tidur. Maka ia mulai bergerak, berkeliaran di dalam guha
itu. Ia hendakk mencari sesuatu yang dapat dimakan.
Ketika masuk ke dalam, ia terkejut karena melihat sebuah
sinar terang macam kunang-kunang. Dihampirinya sinar itu.
Apabila dia seorang manusia dia tentu sudah menjerit dan lari
ketakutan. Tetapi karena dia seekor binatang monyet, maka
pemandangan yang disaksikan itu, tak mengguncangkan
perasaannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tempat yang didatanginya itu ternyata sebuah balai-balai
batu. Diatas balai-balai itu rebah sesosok kerangka manusia
yang menelentang. Sinar kecil yang berwarna putih kebiru-
biruan itu berasal dari dalam batok kepala tengkorak itu.
Monyet makin heran. Ia loncat keatas balai-balai batu dan
menghampiri kebagian kepala tengkorak, rupanya gerakan
monyet itu walaupun pelahan sekali namun mengejutkan
benda yang bersinar itu Tiba-Tiba benda bersinar itupun
lenyap Monyet terkejut. Ia tak mau gegabah memegang batok
kepala. Ia menunggu disisi kepala tengkorak itu dengan diam.
Rupanya nalurinya mengatakah bahwa didalam batok kepala
tengkorak tersimpah suatu benda yang ajaib.
Lama juga ia menunggu sehingga hampir kesal dan tak
tahan. Ketika ia hendak mengulurkan tangan kelubang mata
tengkorak itu, tiba-tiba ia terkesiap karena melihat benda
bersinar itu muncul lagi. Ia menahan napas dan makin diam.
Benda bersinar itu makin terang dan makin naik keatas
sehingga lubang-lubang mata, hidung dan mulut tengkorak itu
seperti memancar sinar. Monyel hitam makin heran. Namun
dia tak berani bergerak.
Tak berapa lama, sinar itupun menyembul keluar dari
lubang hidung tengkorak. Besarnya sama dengan biji buah
asam. Melihat itu monyet hitam tak dapat menahan hatinya
lagi. Secepat kilat ia menyambar benda bersinar itu terus
loncat turun.
Seiring dengan turunnya monyet itu ketanah, terdengarlah
bunyi mendering yang tajam sekali macam suara suitan. Dan
menyusul dari lubang hidung tengkorak itu merayap keluar
seekor binatang kelabang raksasa. Panjangnya mencapai
sekaki orang, besarnya sama dengan belut, badannja penuh
tumbuh bulu hitam yang panjang. Umurnya entah berapa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
puluh tahun, mungkin mencapai seratusan tahun karena
kelabang itu dapat mengeluarkan ciu atau mustika.
Binatang yang bertapa sampai ratusan tahun memang
dapat mengeluarkan sesuatu yang luar biasa. Ular
mengeluarkan tanduk, ki-lin tumbuh tanduk, kelabang memiliki
mustika dan lain-lain. Bahkan bangsa tanamanpun juga
demikian. Misalnya rumput Liong-si-jau atau Kumis-naga yang
menurut puluhan murid Hoa-san-pay, telah dimakan oleh
Blo'on
Biasanya pada malam hari, kelabang itu keluar dari
sarangnya dalam batok kepala tengkorak yang terbujur diatas
balai-balai batu itu. Pada waktu keluar ia muntahkan
mustikanya keluar, untuk menerangi jalan dan sekedar untuk
dibuat permainan ditelan dimuntahkan pula. Sama sekali
binatang itu tak menyangka bahwa pada malam itu tiba-tiba
mustika yang dimuntahkan keluar itu telah lenyap. Marahlah
kelabang raksasa itu. Ia merayap keluar mencari mahluk yang
melalap mustikanya.
Rupanya monyet hitam tahu juga akan binatang yang
menyeramkan itu Apalagi ternyata kelabang itu merayap cepat
kearahnya. Ia terus loncat dan lari ketempat liang lagi.
Ditamparnya burung rajawali supaya bangun lalu ia bercuit-
cuit menunjuk ke muka. Mata burung rajawali yang tajam
cepat dapat melihat kelabang itu. Cepat la terbang dan
melancarkan serangan dengan paruhnya yang tajam. Namun
kelabang yaog sudah ratusan ratusan tahun umurnya Itu,
keras sekali badannya. Paruh rajawali tak dapat melukainya.
Bahkan burung itu harus hati-hati karena kelabang itu dapat
menyemburkan uap beracun.
Melihat itu monyet hitam yang cerdik lalu mencari batu
karang. Dengan keping-keping batu karang itu ia menimpuk
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kelabang. Tetapi kelabang tetap tak menderita apa-apa.
Badannya sudah sekeras batu karang Akhirnya monyet
mendapat akal. Ia mengangkat batu karang yang lebih besar
terus dirimbunkan ketubuh kelabang. Masih kelabang itu dapat
meronta dan bergeliatan sehingga batu karang yang
menincihnya itu mulai berkisar. Melihat itu monyet hitam
marah. Ia mengangkat lagi batu yang lebih besar terus
ditindihkan ke badan kelabang. Setelah ditindih dengan
beberapa batu kajang yang besar, akhirnya kelabang itu tak
dapat berkutik.
Kini monyet melonjak-lonjak girang. Ia menepuk-menepuk
kepala burung rajawali sebagai pernyataan terima kasih atas
bantuannya.
Setelah itu monyet lalu menuju ke liang, loncat kedalam, Ia
memasukkan lagi mustika kelabang itu kedalam mulut Blo'on.
Karena berasal dari darah ki-lin, biji-biji merah sebesar
jagung yang dimasukkan kedalam mulut Blo'on tadi sudah
hancur dan mengalir kedalam kerongkongan Blo'on terus
kedalam perut. Tetapi beda halnya dengan mustika kelabang
yang keras.
Mustika itu tetap terkulum dalam mulut Blo'on karena tak
mau hancur.
Karena mendengar suara berisik, anjing kuningpun bangun.
Tepat pada saat itu, kakek Lo Kun pun masuk kedalam jebolan
dinding karang. Maksudnya hendak melihat apa yang terjadi
pada diri anak itu. Tetapi tiba-tiba anjing kuning menggeram
dan bangun dengan sikap hendak menerjang.
"Setan" kakek Lo Kun memaki, "apabila di tempat yang
luas, engkau tentu sudah kuhajar .. "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ai, kakek tua, sudahlah, jangan berkelahi dengan anjing
lagi. Engkau kan manusia, mengapa bermusuban dengan
anjing," tiba-tiba kakek Kerbau Putih yang terjaga, berseru
mencegah.
Akhirnya kakek Lo Kun terpaksa keluar.
Malampun berganti siang. Pergantian waktu itu dapat
diketahui dari cahaya yang menembus masuk dari lubang-
lubang kecil batu kerucut.
"Bagaimana kita sekarang ini ?" tanya kakek Lo Kun.
Kakek Kerbau menyahut : "Kurasa lebih baik kita kembali
saja ketempat Somali. Aku sungguh tak tega kalau
meninggalkan kekasihku itu dijaga orang Persia itu."
"Benar," teriak kakek Lo Kun, "kita hendak mengantar
putera raja menghadap raja. Kalau sekarang dia sudah mati,
habis apa yang akan kita bawa kepada raja ?'
Kedua kakek linglung itu berbangkit terus hendak berjalan
kedalam terowongan yang menuju ke tempat Somali.
"Hai, mengapa aku tidur disini ... "
Kedua kakek itu tertegun, berputar tubuh memandang
kearah jebolan dinding karang.
"Mana Lo Kun dan kakek Kerbau? Mengapa aku disuruh
tidur diatas tanah ?" terdengar pula suara dalam liang kubur.
Ternyata Blo’on telah hidup kembali. Dan memang
sebenarnya dia belum mati hanya pingsan. Biji merah dari
darah ki-lin emas itu memang hebat sekali khasiatnya. Sebiji
darah saja sudah membuat orang kepanasan tubuhnya. Dan
Blo'on telah dijejali tujuh delapan biji darah itu. Tubuhnya
seperti dibakar api dan jantungnyapun serasa berhenti. Sehari
semalam Blo on tak sadarkan diri. Untung sebelumnya dia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
sudah makan rumput mustika Liong-si-jau sehingga dia
memiliki daya tahan yang kuat. Andaikata tidak, urat-urat
jantungpun pasti sudah putus . , .
Hawa panas dari biji-biji darah ki-lin itu membuat darahnya
mendidih dan meluap-luap seperti lahar gunung berapi. Dan
seperti telah dituturkan dalam bagian muka, Bloon mendapat
saluran tenaga dingin dari kakek Kerbau Putih dan tenaga
dalam panas dari kakek Lo Kun. Dua macam tenaga-dalam itu
karena dilanda oleh lahar panas menjadi seperti gelombang
lautan yang didampar badai raksasa. Darah dalam tubuh anak
itu mengalir deras dan binal, menyusup keseluruh urat-urat
yang betapapun halusnya, nadi dan jalan darah.
Dalam tubuh orang terdapat apa yang disebut jalan darah
Seng-si-hian-kwan. Jalan darah ini merupakan jalan darah
yang terakhir tetapipun yang paling sukar ditembus.
Seorang jago silat yang sudah berpuluh tahun meyakinkan
ilmu tenaga-dalam, mungkin telah mencapai tingkat yang
tinggi. Tetapi belum tentu Jalan darah Seng-si-hian-kwannya
sudah dapat tertembus dengan aliran tenaga-dalam itu.
Apabila jalan darah itu dapat tertembus, maka selesailah dia
pada tataran yang terakhir. Tenaga-dalam dilancarkan
menurut sekehendak hati dan pada setiap saat yang
dikehendaki. Tenaga-dalamnya dapat dikendalikan dan
diperintah oleh pikiran.
Apa yang terjadi pada diri Blo'on ? Karena kekuatan rumput
Liong-si-jau, dua macam tenaga dalam panas dingin dan
dihempaskan oleh khasiat biji darah ki-lin purba, tertembuslah
jalan darah Seng-si-hian-kwan dari Blo’on tanpa anak itu harus
berjerih payah meyakinkan ilmu tenaga-dalam sampai
berpuluh tahun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tetapi suatu keanehan pun telah timbul pada diri anak itu.
Ibarat tempat, tubuhnya sudah dibuka. Tetapi sayang dia tak
mengerti ilmu mengembangkan tenaga-dalam sehingga tak
dapat mengisi tubuhnya yang sudah sedemikian hebatnya
Memang tenaganya kini jauh lebih hebat dari semula, begitu
pula gerakannya lebih ringan dan gesit. Tetapi karena dia
belum pernah berlatih memusatkan dan mengembangkan
tenaga-dalam. betapapun tetap kalah lihay dengan seorang
tokoh persilatan yang ilmu tenaga-dalamnya sudah mencapai
tataran tinggi.
Karena terkejut dirinya tidur dalam liang, Blo'on melonjak
bangun dan sekali bergerak, ia sudah melayang keatas tepi
liang. Yang pertama menyambutnya ialah anjing Kuning.
Anjing itu serta merta lalu merunduk kepala dan menjilat-jilat
kaki blo’on dengan mesra. Lalu burung rajawali yang
melayang dan hinggap dikepala. Terakhir monyet hitam yang
loncat memeluk lehernya. Binatangpun dapat menumpahkan
kegembiraannya terhadap tuan yang disayanginya.
"Turun !" bentak Blo'on seraya menyiak burung dan monyet
lalu menyingkirkan anjing dengan kakinya. Rupanya ketiga
binatang itupun mengerti Mereka menurut perintah Blo'on.
Blo"on lalu melangkah keluar,
"Hah, mayat hidup . . . !" karena kejutnya melihat Blo'on,
kedua kakek linglung itu saling serentak saling berdekapan.
"Gila!" teriak Blo'on, "mengapa kalian itu ? Kedua kakek
linglung itu makin kencang berpelukan. Blo'on mendongkol
tercampur heran. Ia segera menghampiri : "Mengapa kalian ini
!" teriaknya.
Kedua kakek tak menghiraukan. Mereka sibuk mempererat
tangannya memeluk sang kawan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hm, gila," Blo'on mengkal. Tangan kanan mencengkeram
tengkuk kakek Kerbau Putih, tangan kiri mencekik tengkuk
kakek Lo Kun, terus di-siak kekanan dan kiri. Uh, uh . . . kedua
kakek itu terhuyung-huyung beberapa langkah dan terpisah
dari kawannya.
"Ampun, mayat, jangan mengajak aku ke akhirat," kakek Lo
Kun berlutut, "aku minta tempo dulu. Setelah selesai
memecahkan persoalan calon pengantinku, baru aku mau ikut
engkau !"
"Edan !" Blo'on memekik, "siapa yang engkau sebut
mayat?"
"Engkau ! Engkau tadi sudah mati, mengapa hidup lagi ?"
seru kakek Lo Kun.
"O" desuh Blo'on, "tetapi aku belum mati. Sekarang aku
hidup lagi. siapa yang melempar aku kedalam liang itu ?"
"Aku berdua dengan Kerbau Putih," jawab kakek Lo Kun,
"karena mengira engkau sudah mati. kami segera membuat
liang dan menguburmu. Tetapi pada waktu hendak menimbuni
dengan pecahan karang, ketiga binatang itu mengeroyok aku.
Ya, untung binatang itu menghalangi, kalau tidak engkau
tentu sudah terpendam dalam liang." kakek Kerbau Putih
menyelutuk.
"O, kalian memang hebat," tiba-tiba Blo'on malah memberi
pujian kepada kedua kakek linglung itu, "kelak kalau bertemu
raja, kalian tentu akal kumintakan ganjaran besar."
"Ganjaran ? Mengapa ?" kakek Kerbau Putih heran.
"Karena kalian tak jadi mengubur seorang putera raja yang
masih hidup. Apakah itu bukan suatu jasa yang besar ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar, benar," tiba-tiba pula kakek Lo Kun yang lebih
hebat linglungnya berteriak, "jika tak ada dua kakek seperti
kita berdua ini, engkau tentu sudah mati !"
Blo'on hendak bicara lagi tetapi tiba-tiba monyet hitam
loncat dihadapannya dan melonjak-lonjak sembari
menunjukkan sebuah benda putih kebiru-biruan sebesar biji
asam.
"Uh, engkau dapat apa itu ?" Blo’on ulurkan tangan
menyambuti. Dilihatnya benda itu amat keras, berkilau-
kilauan, "apakah ini ?"
Monyet hitam menyambar tangan Blo"on terus ditarik
supaya berjalan kearah jebolan karang Blo'on memang sayang
binatang, Walaupun setelah menderita hilang ingatan untuk
masa lampau sehingga dia lupa akan ketiga binatang
peliharaannya, namun kini setelah binatang itu selalu
mengkuti Saja, timbullah rasa sukanya kepada mereka Ia
menurut saja tangannya digelandang ke dalam jebolan dinding
karang.
Ketika tiba di gunduk karang yang menimbuni kelabang
raksasa, monyet itu berhenti dan bercuit-cuit melongok
kebawah batu. Blo'on heran dan ikut melongok.
"Astagai apakah itu !" ia memekik kaget ketika melihat
seekor kelabang besar tertindih dibawah batu..
Kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putihpun Ikut masuk.
Mereka menghampiri ke tempat Blo'on "Hola, seekor kelabang
raksasa '" teriak kakek Kerbau Putih seraya memeriksa
kelabang yang sudah tak berkutik, "bukan main, seumur hidup
belum pernah aku melihat binatang kelabang yang begini
besar dan menyeramkan."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bunuh sajalah !" kakek Lo Kun terus hendak mengangkat
batu dan dihantamkan.
"Jangan," teriak kakek Kerbau Putih, "kelabang ini termasuk
binatang mustika. Umurnya tentu sudah ratusan tahun. Dan
biasanya kelabang yang sudah begitu tua, dapat
mengeluarkan mustika ..."
"Oh, apakah ini ?" tiba-tiba pula Blo'on teringat pada saat ia
tersadar mulutnya mengulum sebuah benda Lalu benda itu
dimuntahkan keluar dan di ambil lagi oleh monyet hitam.
Setelah memeriksa benda itu, kakek Kerbau Putih berteriak
girang: "Benar, benar, benda itu memang mestika kelabang.
Khasiatnya dapat menghilangkan segala racun yang
bagaimana ganasnyapun. Bagus, rejekimu memang besar
sekali, simpanlah mustika itu baik-baik Bangkai kelabang ini
akan kusimpan. Khasiatnya juga sama, dapat memurahkan
segala macam racun !"
Selagi kedua kakek itu sibuk mengambil kelabang yang
tertindih batu karang, Blo'onpun ayunkan langkah karena
ditarik tangannya oleh monyet hitam. Monyet itu mengajaknya
menghampiri dinding guha, tempat meja batu.
Demi melihat sesosok tulang kerangka manusia rebah
membujur diatas meja batu. Blo'on menjerit ketakutkan.
"Astagafirullah, minta ampun.....Setan tengkorak !" ia terus
lari keluar . . .
bersambung.

---ooo0dw0ooo---
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Jilid 8
Rahasia Tengkorak
"Mengapa ?" seru kakek Lo Kun ikut melonjak kaget melihat
blo'on lari ketakutan.
"Tengkorak " kata Blo'on seraya menunjuk kesudut dinding
guha.
"Masih hidup ?" tanya kakek Lo Kun.
"Entah, aku tak berani mendekatinya," sahut Blo'on.
Sejak menemukan mayat dari Sun kui-hui yang
dianggapnya dengan penuh keyakinan sebagai bekas
kekasihnya dahulu, pikiran kakek Kerbau Putih agak terang.
Linglungnya banyak berkurang.
'Gila semua " ia berteriak, "masakan tengkorak masih
bernyawa ? hayo, kita periksa !"
Blo'on terpaksa mengikuti kakek Kerbau Putih ke tempat
kerangka tulang tengkorak itu. Demikianpua kakek Lo Kun.
"Dia diam saja !" seru Blo'on.
"Memangnya sudah mati jadi tengkorak, masakan dapat
bergerak," dengus kakek Kerbau Putih. "apa engkau masih
takut “'
Blo'on gelengkan kepala : "Tidak."
Mereka mulai memeriksa tengkorak itu. Pada bagian batok
kepala masih melekat bebera gumpal rambut putih. Menilik
ukuran tulang-tulang kaki dan tangan serta tubuhnya, dahulu
tengkorak itu tentu seorang manusia yang tinggi besar.
Pakaiannya sudah hancur.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, apakah yang dipegangnya ini ?" tiba-tiba Blo'on
berteriak ketika melihat jari-jari tangan kanan tengkorak itu
masih mencengkeram sebuah kotak kecil terbuat daripada
gading.
"Uh. mungkin barang berharga miliknya ya disimpan dalam
kotak itu," kakek Kerbau Pu lalu ulurkan tangannya.
"Hai, mau apa engkau, setan Kerbau," tiba-tiba kakek Lo
Kun mencekal lengan kakek Kerbau Putih.
"Mengambil kotak gading itu."
"Akan engkau ambil sendiri ?"
"Tidak, hanya akan kubuka apa isinya. Kali memang berisi
barang pusaka yang berharga, kita bagi rata," sahut kakek
Kerbau Putih.
"Tidak, aku tak mau," seru Blo'on, "buat apa mengambil
barang milik orang mati !'
"Ya, benar, aku juga tak sudi!" kakek Lo Kun ikut menolak.
"Ho, siapa yang akan mengambil ? Akupun tak mempunyai
keinginan untuk mengambilnya. Tetapi apa jeleknya kita buka
peti itu. Mungkin bukan berisi barang berharga melainkan
surat wasiat pesanannya," kata kakek Kerbau Putih.
Kakek Lo Kun menarik pulang tangannya. Dan kakek
Kerbau Putihpun lalu memegang kotak itu terus hendak
ditariknya. Tetapi ia segera mendengus : "Uh . . . uh . . .
mengapa tak mau terlepas cengkeraman jarinya ?"
Ia berusaha untuk mengorak jari si tengkorak supaya
melepaskan peti tetapi jari-jari tengkorak itu mengancing
rapat sekali seolah-olah melekat dengan peti.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Jangan dipaksa," seru kakek Lo Kun, "kalau dia tak mau
melepaskan, jangan engkau menggunakan paksaan. Kasihlah
aku yang mengambilnya" Kakek Lo Kun terus ulurkan tangan
dan menarik kotak itu. Tetapi diapun mengeluh: "Wah
mengapa melekat sekali dengan jarinya ? Kalau kupaksa,
persambungan tulang lengannya tentu putus tapi belum tentu
jarinya dapat terlepas dari kotak."
"O, kutahu," tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru
Kakek Lo Kun berpaling : "Tahu apa ?"
"Ya, kuingat," kata kakek Kerbau Putih, "awah orang itu
tentu tak rela memberikan kotak kepada orang yang tak
disukai. Dia akan melepaskan cengkeramannya apabila
bertemu dengan orang yang disukai."
"Kurang ajar, kalau begitu tengkorak ini tentu tak-suka
kepadaku," gerutu kakek Lo Kun.
'"Naif, engkau baru tahu rasa bahwa tengkorakpun tak suka
kepada kakek semacam engkau", ejek kakek Kerbau Putih,
"Huh, diapun juga tak suka kepada wujutmu hai, kerbau
bungkuk," kakek Lo Kun balas mengejek
"Sekarang cobalah engkau yang mengambil,” kakek Kerbau
Putih tak mau melayani Lo Kun lalu menyuruh Blo'on.
Blo'on menurut. Pelahan-lahan ia mendekati dimuka
tengkorak lalu memberi hormat : "Tengkorak, aku tak tahu
siapa engkau. Tetapi aku dan kedua kakek ini tak
menghendaki barangmu melainkan hendak mengetahui
barangkali engkau meningga'ikari pesan. Apabila benar,
lepaskanlah kotak ini agar aku dapat membuka isinya. Kalau
engkau benar meninggalkan pesan, aku tentu akan melakukan
sedapat mungkin ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Habis berkata, Blo'on mendekati tangan tengkorak lalu
pelahan-lahan menarik kotak itu.
Aneh !
Seolah-olah mengerti kata-kata Blo"on, tengkorak itupun
lepaskan cengkeramannya dan dengan mudah kotak dapat
ditarik Blo'on.
"Ho, dia suka kepadamu!" seru kakek Kerbau Putih lalu
menyuruh anak itu membukanya.
Ternyata kotak gading itu hanya berisi dua kim-long atau
kantong yang terbuat dari sutera lemas yang tahan hawa.
Blo'on mengambil sebuah kim long lalu dibukanya Isinya
sehelai kertas yang penuh tulisan.
"Ah, aku tak dapat membacanya," kata Blo'on seraya
mengangsurkan surat itu, "siapa diantara kalian yang dapat
membaca, harap membacakan!”
Kakek Lo Kun diam saja. Sebaliknya kakek Kerbau Putih
segera menyambuti : "Dahulu aku hampir menjadi siucai
(orang terpelajar) tetapi gagal coba saja kubacanya !"
Setelah memeriksa beberapa saat, ia mengangguk : "Akan
kubaca, harap kalian mendengarkan"
Kepada yang menemukan mayatku dan membaca surat
pesanku ini, kuanggap ia berjodoh dengan aku. Aku percaya
engkau tentu akan melakukan permintaanku Dan untuk jerih
payahmu itu, aku tentu akan menghadiahkan sesuatu yang
sangat berharga ....
"Ho, kita lakukan saja perintahnya itu !" tiba-tiba kakek Lo
Kun menyelutuk, "kalau engkau tak sanggup, serahkan semua
kepadaku."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih menyeringai : "Setan kerdil, jangan
mengganggu aku membaca " ia terus lanjutkan membaca lagi
....
Kaum persilatan menyebut aku Bu Kek lojin karena aku
dianggap sebagai pencipta ilmu silat Bu-kek-sin-kun. Semasa
muda aku gemar berkelana di dunia persilatan sehingga aku
menderita akibat-akibat yang menyedihkan dan
menyenangkan. Aku mengikat banyak persahabatan tetapipun
menanam banyak permusuhan. Akhirnya karena jemu tak
mendapat lawan lagi, aku menyembunyikan diri di gunung
Kun-lun-san. Namun masih sering aku menerima kedatangan
orang-orang yang menantang aku adu kesaktian. Untung
sejak menyepikan diri itu, aku sudah memperoleh kesadaran
dan penerangan batin. Aku selalu mengalah dan walaupun
melayani tantangan mereka,toh tapi aku tak mau merebut
kemenangan. Cukup hanya menjaga diri sampai orang-orang
itu sudah menumpahkan habis seluruh kepandaiannya,
barulah mereka tunduk dengan puas. Puas karena sikapku
yang mengalah dan merendah.
Tetapi karena masih saja menerima kedatangan jago-jago
silat, akhirnya aku pindah bersembunyi disini, guha dalam
perut gunung Hoa-san.
Pada suatu hari secara tak sengaja, ketika aku keluar
kebawah gunung membeli bahan makanan, tiba-tiba aku
melihat serombongan prajurit Mongol menuju kebarat. Pada
saat pasukan Mongol lewat, kota sepi serentak. Penduduk
menutup pintu tak berani keluar rumah. Toko-Toko tutup
sehingga aku tak dapat berbelanja. Setelah pasukan Mongol
pergi barulah rumah-rumah buka lagi. Aku mendapat
keterangan bahwa prajurit-prajurit Mongol itu kejam dan
sewenang wenang terhadap rakyat; Mereka Suka memukul,
menganiaya, merampas harta milik rakyat dan bahkan suka
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
merusak kehormatan gadis dan wanita. Maklum karena kaisar
mereka, Ku bilai Khan berhasil menduduki Tiong-goan dan
mengangkat diri sebagai kaisar Goan.
Ketika memimpin pasukan Mongol melintasi pegunungan
Kun-lun untuk menyerang Tiong goan, Kubilai Khan telah
melihat seekor ki-lin. la memerintahkan prajuritnya untuk
memburu ki-lin itu, tetapi tak berhasil.
Setelah menjadi kaisar Goan-si-ong, dia bermimpi melihat
ki-lin itu lagi. Dan menurut ceritanya, ki-lin itu mengatakan
apabila dapat menangkapnya, kerajaan Goan pasti dapat
memerintah Tiong-goan untuk selama-lamanya.
Oleh karena itu kaisar Goan lalu menitahkan pasukan besar
untuk berburu ki-lin di pegunungan Kun-lun.
Walaupun aku sudah bertapa tak mau campur urusan
dunia, tetapi aku masih mem punyai setitik rasa cinta negeri
dan bangsa. Aku tak puas negeri Tiong-goan diperintah oleh
kaisar Mongol. Aku harus menggagalkan perburuan ki-lin itu
agar kerajaan Go-an runtuh.
Sewaktu masih giat berkelana di dunia persilatan aku
mempunyai seorang murid yang memakai nama gelaran Bu
Bun-cu. ia tinggal di gunung Hong-san dan menjadi pertapa
Bu Bun lojin. Aku sayang sekali kepadanya. Dia berbakat
bagus, berotak cerdas dan berkelakuan baik. Seluruh ilmu
kepandaianku kuberikan semua kepadanya.
Untuk menyelamatkan ki-lin dari sergapan pasukan Mongol
yang berjumlah begitu besar kuajak muridku untuk membantu
usahaku. Kusuruh dia memancing dan meng goda perhatian
prajurit-prajurit Mongol itu agar mereka jangan sempat
memburu ki-lin.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Akhirnya aku berhasil menangkap kilin itu lalu kuajak
muridku membawanya lolos dari Kun-lun-san. Tetapi ditengah
jalan, pasukan Mongol itu telah menyergapku. Aku heran.
Jalan yang kutempuh itu jalan yang tak diketahui orang dan
sangat kurahasiakan kecuali kepada Bu Bun. Jalan itu melalui
sebuah terowongan yaug menembus perut gunung. Tetapi
mengapa prajurit-prajurit Mongol itu tahu dan sudah siap
menyergap di mulut terowongan
Aku dan muridku memberi perlawanan. Dalam pertempuran
yang hebat, mereka banyak yang mati tetapi akupun
kehilangan muridku. Bu Bun telah rubuh dan karena jumlah.
mereka amat besar, aku terpaksa meloloskan diri dengan
membawa ki-lin itu. Walaupun dengan susah payah karena
menderita luka-luka, akhirnya aku berhasil menyelamatkan ke
guha ini.
Beberapa bulan kemudian, aku keluar untuk melakukan
penyelidikan tentang diri Bu Bun. Tersiar berita di kalangan
rakyat gunung Kun-lun bahwa Bu Bun telah dijauhi hukuman
mati oleh pemerintah Goan. dan mereka tetap hendak mencari
aku.
Belasan tahun kemudian, setelah berita-berita tentang
diriku mulai dingin, aku memberanikan keluar. Kudengar di
dunia persilatan muncul seorang sakti yang menamakan
dirinya sebagai Pek Lian lojin yang mendirikan perkumpulan
rahasia Pek-lian-kau. Bermula tujuannya untuk menentang
kekuasaan pemerintah Goan. Setelah pengaruhnya bertambah
besar, perkumpulan yang berkedok agama itu mulai nyelewerg
dari tujuan semula. Perkumpulan itu mulai melakukan
perbuatan-perbuatan jahat Menggunakan kesempatan
suasana negara sedang kacau, merekapun mengadakan
perampokan, pembunuhan dan perkosaan kepada wanita-
wanita.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan kudengar bahwa Pek Lian lojin itu amat sakti sekali.
Memiliki ilmu tenaga-dalam Bu-kek-sin-kang yang tinggi
sehingga jago-jago silat dan partai-partai persilatan tak dapat
mengalahkannya. Diam-Diam timbul keherananku Dalam
dunia persilatan kecuali aku dan Bu Bun, tiada lagi tokoh silat
yang memiliki ilmu Bu-kek-sin-kang. Pada hal Bu Bun sudah
dihukum mati, lalu siapakah Pek Lian lojin yang menguasai
ilmu Bu-kek-sin-kang itu ?
Sebenarnya aku berniat hendak menyelidiki Pek Lian lojin
itu. Aku curiga jangan-jangan dia itu si Bu Bun sendiri yang
berganti nama. Tetapi belum sempat aku melaksanakan
rencanaku mendadak aku menderita sakit lumpuh. Terpaksa
aku harus membatalkan keinginanku itu dan harus berjuang
untuk menyembuhkan diriku. Hasil dari perjuangan untuk
mempertahankan nyawaku dari cengkeraman Elmaut aku
telah menciptakan suatu ilmu tenaga-dalam yang sakti, jauh
lebih sakti dari Bu-kek-sin-kang. Walaupun aku tak dapat
jalan, tetapi aku masih dapat hidup sampai beberapa tahun.
Kugunakan sisa hidupku untuk menulis ilmu pelajaran Bu-
keng-sin-kang itu dalam sebuah kitab yang kuberi nama kitab
Bu-ji-cin-keng atau kitab Tanpa-tulisan.
Walaupun berupa lembaran kertas kosong tanpa tulisan
apa-apa, tetapi sesungguhnya kitab itu berisi ilmu pelajaran
ilmu yang amat sakti. Hanya orang yang mempunyai rejeki
besar dan berjodoh menjadi pewarisku, akan dapat
menemukan rahasia dari kitab Bu-ji-cin-keng itu.
Aku hendak minta tolong dua buah hal kepadamu. Pertama
kuburlah tulang kerangkaku didalam guha ini. Kedua, carilah
Pek Lian lojin dan selidikilah apa dia itu benar Bu Bun,
muridku. Kalau benar, suruh ia lekas bubarkan
psrkumpulannya yang jahat itu dan bertapa diguha gunung
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hong-san tempat pertapaanku dahulu. Disitu dia tentu akan
mendapatkan sesuatu yang berharga.
Untuk jerih payahmu, kuhadiahkan kitab Bu ji-cin-keng ini
kepadamu. Semoga engkau berjodoh menemukan rahasianya
....
Selesailah sudah kakek Kerbau Putih membaca surat wasiat
dari tengkorak yang semasa hidupnya bernama Bu Kek lojin.
Ternyata ki-lin emas itu memang disimpan dalam guha disitu
untuk menghindari penangkapan prajurit Mongol.
Bu Kek lojin rela menderita hidup dalam perut gunung
karena tak menyukai kaisar Mongol menguasai negaranya.
Dan memang alamat yang dilambangkan dalam impian kaisar
Mongol itu benar. Karena ia tak berhasil mendapatkan ki-lin
maka kerajaan Goanpun tak dapat berkuasa selama-lamanya.
Setelah Kubilai Khan meninggal, muncul lah Cu Goan-ciang
seorang putera bangsa Tiong-goan yang dapat membebaskan
negaranya dari kekuasaan Mongol dan mendirikan kerajaan
Beng.
"Lalu dimanakah kitab Bu-ji-cin-keng itu ?' tanya kakek
Kerbau Putih lalu suruh Blo'on membuka kim-long yang kedua.
Setelah Blo'on membukanya, memang didalam kim-long itu
berisi sebuah kitab kecil : "Apakah bukan ini ?'
Kakek Kerbau Putih menyambuti. Pada kulit kitab itu
terdapat empat buah huruf yang berbunyi : Bu Ji Pit Kip. atau,
kitab pusaka Tanpa Tulisan.
'"Ya, benar, benar," seru kakek Kerbau Putih, "memang Bu
ji-pit-kip ini tentu berisi ilmu pelajaran Bu-ji-sin-kang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ia segera membuka kitab kecil itu. Sampai halaman yang
terakhir, ia mengeluh : "Hah, buku apa ini ? Mengapa sama
sekali tanpa tulisan?"
Blo'onpun segera mengambilnya dan membuka isinya;
"Huh, kertas kosong melulu. Mana yang disebut ilmu pelajaran
Bu-ji-sin-kang itu ?"
"Coba aku yang memeriksa," seru kakek Lo kun lalu
menyambuti dan membuka lembaran kitab itu, "kurang ajar,
Bu Kek lojin itu menipu kita. Jelas kitab ini hanya kertas
kosong, bagaimana ia mengatakan berisi ilmu sakti ? Ambillah,
aku tak mau !"
Blo'on menyeringai dan mengangsurkan kepada kakek
Kerbau Putih. Tetapi kakek itupun juga geleng-geleng kepala :
"Simpan saja, aku tak menginginkan kitab kosong seperti itu."
Blo'on tertegun : "Kalau begitu kukembalikan saja kedalam
kotak dan kuselipkan di tangan tengkorak lagi."
"Jangan," cegah kakek Kerbau Putih," dia mengatakan,
siapa yang menemukan kitab itu berinti berjodoh dengan dia.
Engkau harus melakukan pesannya dan kitab itupun boleh
engkau ambil."
"Maksudmu aku harus mengubur tulang tengkorak itu ?"
tanya Blo'on.
"Ya."
"Aku harus mencari Bu Bun lojin ?"
"Ya," sahut kakek Kerbau Putih pula.
"Kemana ?”
"Entah," kakek Kerbau Putih gelengkan kepala
"Goblok." umpat kakek Lo Kun, "sudah tentu ke dunia."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Dunia itu dimana ?" tanya Blo'on.
"Yang kita tempati ini ialah dunia."
"O, luas sekali. Berapakah luasnya dunia itu" tanya Bloon.
Kakek Lo Kun mendelik. Ia hendak menjawab, tak bisa.
Hendak marah, pun tak ada alasan.
"Goblok," kakek Kerbau Putih balas mengumpat, "masakan
dunia saja engkau tak tak tahu berapa luasnya ?"
"Ho, benar, aku memang tak tahu. Coba engkau katakan
luas dunia itu," seru kakek Lo Kun.
"Mudah saja." sahut kakek Kerbau Putih, "asal engkau ikuti
saja perjalanan matahari itu dari timur sampai kebarat, terus
kebarat, terus saja mengikuti matahari itu, engkau tentu dapat
mengetahui luasnya dunia."
"O. lalu bagaimana kalau malam hari. Bukankah matahari
itu tak tampak lagi?" tanya Blo'on.
"Bodoh," umpat kakek Lo Kun. "kalau malam engkau
berbuat apa ?"
"Tidur,' sahut Blo'on.
"Nah, begitulah. Mataharipun tentu tidur juga. Benar tidak,
Kerbau Putih?" seru kakek Lo Kun
"Benar, benar . . eh, salah," tiba-tiba kakek Kerbau Putih
menyangkal, "setan tua, apakah engkau pernah melihat
matahari itu tidur ?"
"Berarti," sahut kakek Lo Kun. "Kalau begitu matahari tentu
belum pasti tidur” kata kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Lo Kun garuk-garuk kepalanya : "Benar, benar . eh,
salah. Kerbau Putih, bukankah kalau malam hari engkau tidur
?"
"Sudah tentu." sahut yang ditanya.
"Celaka." seru kakek Lo Kun, "karena engkau sendiri tidur
maka engkau tak dapat melihat matahari tidur. Kalau hendak
melihat dia tidur, engkau jangan tidur dan terus ikuti saja dia
masuk dalam laut."
Rupanya Blo'on bosan mendengar ocehan mereka yang tak
keruan itu. Katanya : "Baiklah, karena tadi aku sudah berjanji
kepada tengkorak, maka apapun pesannya terpaksa harus
kupenuhi."
Demikianlah dengan dibantu oleh kedua kakek dengan hati-
hati sekali tulang-tulang tengkorak dari Bu tek lojin itu segera
dikubur dalam liang yang telah digali tadi dan hendak
diperuntukkan mengubur si Blo'on.
"Sekarang bagaimana ?"
"Keluar dari tempat ini." kata kakek Lo Kun “akan kuantar
engkau menghadap raja di istana."
"Jauhkah tempat itu ?" tanya Blo'on.
"Aku sudah lupa," kakek Lo Kun garuk-garuk kepalanya,
"tetapi mudah. Kita nanti boleh tanya pada orang di
perjalanan." Akhirnya merekapun keluar dari terowongan.
---ooo0dw0ooo---

Siau-lim-si.
Paderi ti-kek ceng atau paderi yang bertugas menyambut
tetamu dari gereja Siau-lim-si, agak heran dan geli ketika
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menyambut kedatangan serombongan tetamu yang aneh.
Dikata aneh karena rombongan tetamu itu terdiri dari seorang
pemuda yang kepalanya gundul, hanya memelihara dua ikat
rambut yang tumbuh di kanan kiri kepala! Dua orang kakek
tua yang aneh. Yang seorang bertubuh pendek, sudah tua
tetapi rambutnya masih hitam. Sedang yang seorang kakek
tua berambut putih yang bungkuk.
Keanehan dari rombongan pendatang itu tambah pula
dengan tiga ekor binatang yang ikut serta dengan mereka
Seekor burung rajawali, seekor monyet hitam dan seekor
anjing bulu kuning.
"Omitohud," seru paderi berpangkat ti-kek ceng itu,
"adakah sicu sekalian hendak bersembahyang ke gereja
kami?”
"Sembahyang? Buat apa sembahyang ? Apakah ada orang
yang mati ?" sahut Blo'on.
Paderi itu tertegun mendengar penyahutan orang yang tak
keruan itu. Namun ia masih bersabar : "O, apakah sicu belum
pernah mengunjungi gereja ?"
Blo'on gelengkan kepala.
"O, biasanya orang yang berkunjung ke gereja itu tentu
mengadakan sembahyang kepada para dewa, malaekat
penunggunya. Demikianpun dengan gereja Siau-lim-si ini."
"Dewa dan malaekat ?" Bloon makin heran, "apakah itu ?"
"Dewa dan malaekat ialah mahluk yang lebih tinggi dari
manusia. Mereka adalah mahluk-mahluk yang suci dan
keramat," menerangkan paderi ber-pangkat Ti-kek-ceng itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hola, apakah disini juga terdapat dewa dan malaekat ?
Bagus aku ingin bertemu muka." tiba-tiba kakek Lo Kun
menyelutuk.
Paderi itu tercengang. Sesaat kemudian ia berkala : "Oh,
lotiang ini juga manusia ?"
"Aku ? Ya, aku seorang manusia," kata kakek Lo Kun, "eh,
kepala gundul, mengapa engkau menghina aku ? Masakan
begini engkau anggap bukan manusia ?'
Paderi itu hendak tertawa tetapi terpaksa ditahan. Buru-
Buru ia minta maaf : "Maaf, lotiang, tetapi aku heran mengapa
setua lo-tiang masih belum mengerti apa yang disebut dewa
dan malaekat penunggu gereja ?"
"Kepala gundul, engkau gila," teriak kakek Lo Kun, "Kalau
aku tahu, masakan perlu bertanya kepadamu ?"
Walaupun berulang kali dimaki 'kepala gundul' oleh kakek
Lo Kun namun paderi ti-kek-ceng itu tetap bersabar. Kemudian
ia mengulangi pula pertanyaannya : "Adakah sicu dan lotiang
datang kemari hendak bersembahyang atau mempunyai lain
keperluan ?'
Blo'on menjawab : "Aku hendak menemui kepala Siau lim-
si."
Paderi ti-kek-ceng terbeliak : "Ada keperluan apa ?"
"Apakah engkau ini kepala Siau-lim-si ?" tanya Blo'on.
Paderi itu gelengkan kepala : "Bukan, aku hanya paderi ti-
kek ceng yang bertugas menyambi tetamu-tetamu yang
berkunjung ke gereja . . "
"O, kalau begitu antarlah kami kepada kepala gereja," kata
Bloon.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sicu," tiba-tiba paderi ti-kek-ceng itu berkata dengan nada
yang keras, "gereja Siau-lim-si selalu terbuka untuk menerima
kunjungan setiap tetamu yang hendak bersembahyang. Sudah
dua ratus tahun lamanya gereja ini berdiri. Rakyat
memandang gereja ini sebagai tempat ibadah yang suci dan
kaum persilatan memuja gereja ini sebagai salah satu sumber
ilmu silat vang telah mengharumkan nama dunia persilatan
Tiong-goan."
"Apakah maksud kata-katamu itu ? Aku tak mengerti ?"
teriak Blo'on.
"Hm,. artinya, gereja Siau-lim-si sebuah tempat ibadah
yang keramat dan harus diindahkan. Tak boleh telamu-telamu
sesukanya saja melanggar peraturan disini !"
"O. begitu." kata Blo'on. tetapi aku tak merasa melanggar
aturan disini. Aku hanya ingin menemui kepala dari gereja ini."
"Setiap tetamu yang hendak menghadap hong tiang (ketua
gereja) harus memberitahukan maksudku."
"Mengapa harus begitu ?" tanya Blo"on pula.
'Sekarang ini dunia persilatan sedang rusuh, beberapa
gereja dan biara telah dihancurkan. Murid-Murid perguruan
silat, diobrak-abrik . . , "
"Hai, siapakah orang itu ?" seru Blo'on.
"Kim Thian-cong ..."
"Kim Thian-cong ? Siapa Kim Thian-cong itu ?" Blo'on makin
heran.
"Kim Thian-cong itu dahulu dikenal sebagai ketua dari dunia
persilatan Semua partai persilatan tunduk dibawah
pimpinannya. Tetapi kemudian ia sudah mati ..."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Engkau edan kepala gundul !" tiba-tiba kakek Lo Kun
berseru mendamprat, "masakan orang mati dapat hidup dan
mengacau !"
Paderi ti-kek-ceng terbeliak. Sesaat kemudian ia berkata :
"Lo-tiang, jangan terburu memutus omonganku dulu. Memang
kutahu kalau orang mati tak dapat hidup dan mengacau.
Tetapi memang demikianlah keadaannya. Kim Thian-cong
sudah meninggal, tetapi tiba-tiba di dunia persilatan muncul
pula seorang tokoh yang menyebut dirinya Kim Thian-cong.
Bedanya, kalau Kim Thian-cong yang dahulu, menjadi
pemimpin partai-partai persilatan. tapi Kim Thian-cong yang
sekarang menjadi musuh dari partai-partai persilatan."
"O, apakah gereja Siau-lim-si juga di musuhi oleh Kim
Thian-cong itu ?" tiba-tiba kakek Keri Putih yang sejak tadi
diam saja, ikut buka suara.
"Benar, lo-tiang." sahut paderi ti-kek-ceng "beberapa partai
persilatan telah menerima surat dari Kim Thian-cong yang
maksudnya supaya membubarkan diri. Apabila tidak menurut,
mereka mereka akan diobrak-abrik. Pertama-tama kudengar,
partai Kong-tong-pay. Markasnya dibakar anakmuridnya
banyak yang dibunuh. Setelah itu hendak mengarah pada
partai Bu-tong-pay. Entah bagaimana kejadiannya. Oleh
karena itu maka Siau lim-sipun berhati-hati mengadakan
penjagaan."
"O, lalu dimana ketua Siau-lim-si ?" tanya kakek Kerbau
Putih.
"Maaf, lo-tiang, hong-tiang sedang keluar mengembara."
'O, dia tak berada dalam gereja ?" tanya Blo'on, "benar ?
Engkau tidak bohong ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Merah muka paderi ti-kek-ceng itu "Sicu, kami kaum agama
pantang untuk berbohong. Ketua kami Hui Gong hongtiang
sudah sejak setengah tahun yang lalu, meninggalkan gereja
untuk . . .
Tiba-Tiba paderi itu berhenti. Rupanya ia menyadari kalau
kelepasan omong. Rombongan Blo'on itu hanyalah tetamu, tak
perlu mereka diberitahu urusan gereja Siau-lim-si.
"Untuk apa ?" tiba-tiba kakek Kerbau Pulih mendesak.
"Mencari orang," paderi ti-kek-ceng dapat mencari jawaban.
"Siapa ?" desak kakek Kerbau Putih pula.
"Entahlah, hongtiang tak memberitahu kepadaku," sahut
paderi itu.
"Kepala gundul, engkau bohong," tiba-tiba kakek Lo Kun
maju menyiak paderi itu. Karena terkejut melihat perbuatan
kakek pendek yang begitu liar, paderi itu ayunkan tangannya
hendak mendorong. Tetapi sebelum tangannya menjulur,
tubuhnyapun sudah mencelat dua tiga langkah ke belakang.
Paderi ti-kek-ceng berobah wajahnya. Rupanya ia
menyadari kalau berhadapan dengan rombongan orang-orang
aneh yang berkepandaian tinggi. Diam-Diam ia kerahkan
tenaga-dalam lalu menghantam
Buk . . .
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih menyambuti pukulan paderi
itu dengan daging benjol dipunggungnya Uh . . paderi itu
mendesuh karena merasa tinjunya seperti melekat pada
benjolan daging si kakek. Ia tahu bahwa kakek itu telah
gunakan ilmu tenaga dalam istimewa yang menyedot. Diam-
Diam ia kerahkan tenaga-dalam dan menariknya. Uh . . .
kembali ia mendesuh ketika tubuhnya terhuyung beberapa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
langkah kebelakang, ketika bukan saja tangannya dapat ditarik
dengan mudah, pun daging benjol itupun memantulkan
tenaga-dorong yang keras.
Masih paderi itu hendak merintangi. Tetapi kakek Lo Kun
segera mendorongnya. Paderi itu pun terhuyung-huyung
kebelakang, membentur diding dan rubuh tak ingat diri . . .
Melihat itu seorang to-thong atau paderi kecil vang berumur
lebih kurang 1-1 tahun segera lari masuk. Rupanya ia hendak
melaporkan peristiwa itu pada suhunya
Blo'on terus melangkah kedalam. Tetapi tiba-tiba kakek Lo
Kun berseru : "Tunggu dulu . . . !"
Kakek pendek itu menyambar buah-buah yang disajikan
diatas meja sembahyangan, terus dimakannya. Begitu juga
beberapa biji kuwe sembahyangan segera dipindah kedalam
perutnya, lihat itu kakek Kerbau Putihpun tak mau ketingalan.
"Hai, jangan dihabiskan, aku juga lapar !” teriak Blo'on yang
juga terus menghampiri meja dan menyambar apa yang dapat
dimakannya. Setelah dia kenyang, anjing kuning, burung
rajawali dan monyet hitampun diberi juga.
"Ho," kepala gundul disini betul-betul pelit sekali, kakek Lo
Kun menggerutu, "masakan yang disedihkan hanya air putih.
Tidak ada arak sama sekali."
Setelah kenyang mereka lalu masuk. Dibelakang ruang
sembahyang terdapat sebuah halaman luas yang menuju ke
beberapa paseban dalam gereja. Tetapi begitu melangkah di
halaman, tampak empat orang paderi jubah kuning
menghampiri dengan diiring oleh seorang paderi kecil.
"Itulah rombongan yang mengacau ruangan sembahyang,"
seru paderi kecil seraya menunjuk pada rombongan Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Keempat paderi itu bertubuh kekar, berumur rata-rata
empatpuluhan tahun. Semula wajah mereka tampak gelap,
tetapi ketika melihat rombongan Blo'on yang aneh, merekapun
tercengang.
"Apakah engkau kepala gereja ini ?" begitu berhadapan
Blo'on terus mendahului menegur.
Keempat paderi itu terkesiap. Dipandangnya si Blo'on yang
lucu dandanannya itu. Kemudian mereka beralih memandang
kedua kakek yang aneh bentuknya.
Kakek Lo Kun yang dipandang begitu rupa, ikut celingukan
kian kemari. Ia tak menyadari kalau dirinya yang dipandang.
Ia mengira keempat paderi itu memandang lain orang.
"Hai, siapa yang kalian cari ?" karena tak melihat lain orang
kecuali dirinya, kakek Lo Kun berseru kepada keempat paderi
itu.
"Lo-tiang sendiri," sahut mereka.
"Aku ? Mengapa ?"
"Aneh," gumam salah seorang paderi, "berapakah usia
lotiang yang sebenarnya ? Kalau menilik potongan tubuh yang
begitu pendek, lotiang tentu masih kecil, tetapi wajahnya
seperti seorang kakek tua. Namun kalau kakek tua mengapa
rambutnya masih begitu hitam ..."
"Ho, aku memang merasa sudah hidup lama sekali. Aku
sendiripun heran mengapa rambutku masih tetap hitam saja,"
jawab kakek Lo Kun "Hai, kalian orang empat ini. Kulihat
engkau masih muda tetapi mengapa sudah tak punya rambut”
Keempat paderi itu saling bertukar pandan dan tertawa.
Mereka segera tahu kalau sedang berhadapan dengan seorang
kakek yang limbung.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lo-tiang, bukan karena kami tak punya rambut, tetapi
kami adalah paderi agama Budha yang harus gundul" kata
salah seorang paderi yang bertubuh gemuk, "lalu apakah
maksud sicu sekalian berkeras hendak menjumpahi hong tiang
kami ?"
"Kalau engkau bukan kepala gereja, tak perlu engkau tahu!"
bentak kakek Lo Kun.
Paderi yang bertubuh gemuk itu tertawa bengis : "Kami
adalah paderi yang bertugas menjadi gereja ini. Lo-tiang telah
melukai salah seorang sute kami dan mengacau meja
sembahyangan. Masih lo-tiang bersikap keras hendak
menemui hongtiang. Lo-tiang, ketahuilah, bahwa Siau-lim-si
ini bukan tempat yang boleh dibuat sembarangan oleh orang-
orang yang tak tahu adat !"
"Kurang ajar !" kakek Lo Kun deliki mata “engkau tahu
siapakah aku ini ? Aku adalah kepala pasukan Gi-lim-kun
diistana raja Ing Lok. Jangan lagi hanya datang dan hendak
menemui kepala gereja ini, sedang menangkap dia dan semua
kepala gundul disini. akupun berhak !"
Keempat paderi itu terkesiap dan saling bertukar pandang.
Kemudian paderi yang bertubuh gemuk tadi berkata : "Jangan
ngaco ! Mana tandanya kalau engkau ini kepala Gi-lim-kun ?
Dan tak mungkin raja nian memakai orang seperti engkau”
"Hai, jangan kurang ajar." tiba-tiba Blo’onpun membentak,
"aku ini putera raja. Kalau engkau tak percaya tanyalah pada
Somali di dalam guha!"
Keempat paderi itupun kembali melongo. Baru saja mereka
mendengar si kakek pendek mengaku sebagai kepala Gi-lim-
kun atau bhayangkara istana. sekarang pemuda itu lebih gila
lagi. Dia mengaku sebagai putera raja.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lekas panggil kepala gereja ini !" bentak Blo'on pula
dengan marah.
Paderi gemuk membengis mukanya : "Enyahlah kalian dari
sini. Kalau tetap hendak mengacau jangan salahkan kami
kaum paderi kalau sampai turun tangan"
"Kepala gundul, engkau berani mengasir aku” kakek Lo Kun
berteriak lalu menerjang keempat paderi itu.
Keempat paderi itu termasuk paderi tingkat ke 4 dari gereja
Siau-lim-si. Mereka ialah Pek Tin Pek Jin, Pek San dan Pek
Liang. Mereka bertugas menjaga keamanan gereja. Empat
serangkai paderi itu memiliki kepandaian silat yang tinggi-
Mengira kalau sedang berhadapan dengan rombongan
orang yang tak waras pikirannya, bermula keempat paderi itu
tak sampai hati untuk menggunakan tenaga sepenuhnya.
Ketika kakek Lo Kun menyerang mereka pun hanya
menghindar Setelah itu lalu beramai-ramai meringkusnya.
Tetapi alangkah kejut mereka ketika tiba-tiba kakek pendek itu
melambung keudara lalu berjumpalitan melayang turun
dibelakang mereka.
Bahwa sergapannya hanya menemukan angin kosong,
keempat paderi itupun terkejut. Tetapi lebih terkejut pula
Ketika merasa segelombang angin pukulan hebat melanda
dibelakang mereka Terpaksa keempat paderi itu loncat
kemuka untuk menghindar.
Serentak berputar tubuh, keempat paderi itu-pun terus
lepaskan hantaman. Tetapi kakek Lo kun dan kakek Kerbau
Putih pun dorongkan tangan untuk menyongsong. Krak, krak .
. . terdeengar letupan keras ketika angin pukulan mereka
saling berbentur.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Keempat paderi itu terkejut, Bukan saja tenaga pukulan
telah terhapus, pun angin pukulan kedua kakek itu masih
melanda kearah mereka sehingga terpaksa harus menghindar
ke saming.
Kini keempat paderi itu menyadari bahwa kedua kakek yang
dikiranya orang linglung itu ternyata berkepandaian tinggi.
Mereka tak berani memandang ringan lagi. Tetapi belum
sempat mereka mengatur tindakan, kedua kakek itupun sudah
menyerang. Terpaksa Pek Ti dan Pek Jin melayani kakek Lo
Kun. Pek San dan Pek Liang menghadapi kakek Kerbau Putih.
Melihat itu si Blo'on berseru: "Kakek, silahkan kalian berdua
main-main dengan kedua paderi itu, aku hendak menemui
kepala gereja !"
Bukan main kejut keempat paderi itu ketika mendengar
ucapan Bio'on bahkan saat itu dilihatnya si Blo'on sudah
ayunkan langkah masuk ke dalam paseban.
"Tahan !" teriak Pek Ti seraya hendak loncat menghindari
libatan kakek Lo Kun. Tetapi sebelum ia sempat ayunkan
tubuh jauh, kakek Lo Kun sudah loncat menghadang dan
menyerang
Demikian pula dengan paderi Pek San yang berusaha untuk
memburu si Blo'on tetapi tak dapat berkutik karena dibayangi
kakek Kerbau Pu tih.
Dengan lenggang, si Blo'on ayunkan langkah menuju ke
sebuah paseban besar. Ketiga binatang anjing kuning, burung
rajawali dan monyet hitam pun mengiring dibelakangnya.
Tiba dibawah titian batu. sekonyong-konyong muncullah
delapan paderi kecil baju biru. mereka masih anak-anak,
umurnya rata-rata baru sepuluhan tahun. Masing-Masing
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
membawa pentung kayu. Secepat tiba merekapun lalu tegak
berjajar-jajar di muka titian.
"Eh, setan gundul cilik, mau apa kalian!” tegur Blo'on.
Kedelapan kacung paderi itu serempak berseru : "Menjaga
paseban ini !"
"Menyisihlah kesamping. aku hendak masuk” seru Blo'on
pula.
"Tidak boleh !" kedelapan paderi anak itu pun serempak
berseru.
"E, kurang ajar, apa kalian berani merintangi aku ?"
"Tentu !" sahut mereka beramai-ramai,
Blo'on tertawa dan terus melangkah maju Tuk, duk, bluk . .
ia segera disambut dengan pukulan pentung yang tepat
mengenai kepala, tubuh dan kaki Blo'on.
"Aduh, aduh ..." Blo'on menjerit kesakitan, “keparat, engkau
berani memukul aku . . aduh . "
Kembali barisan paderi anak itu menggebuk Blo'on.
Punggung, kepala dan pantat Blo'on habis dihajar mereka.
Karena kesakitan Blo'on loncat mundur. Dan kedelapan
paderi anak itupun berjajar pula dalam bentuk sebuah barisan.
"Hai, kamu anak gundul, lekas panggil gurumu keluar.
Kalau tak mau, lekas kamu menyingkir aku hendak
menemuinya sendiri," seru Blo'on.
"Kalau dapat melalui barisan kami, boleh saja engkau
menemui hong-tiang," seru kawanan paderi anak-anak itu.
"O, jadi kalian ini berbaris ? Apa nama barisanmu itu ?"
'"Barisan Pat-kwa-tin, delapan kiblat."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Siapa yang mengajarkan ?"
"Suhu kami."
"Apa gunanya ?" tanya Blo'on.
"Mengepung musuh seperti menjaring harimau dari delapan
penjuru."
"O. kalau begitu sukar untuk melaluinya ?"
"Memangsukar, lebih baik engkau kembali saja "
“Apakah kalian tak mau mengajarkan kepadaku bagaimana
caranya untuk melewati barisanmu itu?
"Hi, hi, hi . . ." dasar masih kanak-kanak, begitu mlengar
omongan si Blo'on yang lucu itu, kedelapan paderi anak-anak
itu tertawa geli.
"Hai, anak gundul, mengapa kamu menertawakan aku ?
Apakah aku ini lucu ?'
"Lucu," seru mereka, "masakan lawan minta pelajaran dari
kami "
"Apa tidak boleh ?" Blo'on menegas.
"Sudah tentu tidak boleh "
"O, kalau begitu terpaksa aku harus cari jalan sendiri untuk
menerobos."
"Silahkan kalau mampu '
"Baik ..." blo'on merenung. Tiba-Tiba ketiga ekor
pengiringnya menghampiri ke dekatnya dan menjilat jilat
kakinya.
"Bagus, hayo bantu aku menghalau anak gundul itu," seru
Blo'on terus melangkah maju.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Barisan pat-kwa-tin dari kedelapan paderi anak-anak itu
segera bergerak-gerak melingkari Blo'on Ketika Blo'on
melangkah maju, seorang paderi anak segera ayunkan
pentungnya hendak menggebuk kepala Blo on. Tetapi secepat
itu, burung rajawali melayang turun menerkam mukanya.
Paderi anak itu terkejut dan menyurut mundur seraya hendak
menghantam dengan pentung. Tetapi tiba-tiba tengkuknya
dicemplak dari belakang
oleh monyet.
"Aduh ..." paderi kecil
itu menjerit kesakitan
ketika daun telinganya
digigit si monyet hitam.
Ketika ia hendak
menghalau simonyet,
burung rajawahpun sudah
memagutkan paruhnya ke
ke hidung paderi anak itu.
"Aduh . . " kembali
paderi anak itu menjerit,
mendekap hidung dan
telinganya yang
berlumuran darah dan terus lari tinggalkan barisan.
Seorang paderi anak yang berada di sebelahnya cepat
hendak mengisi kedudukan kawannya yang kosong itu. Tetapi
secepat ia bergerak, secepat itu pula anjing kuning sudah
loncat menerkam dadanya. Paderi anak itu dengan tangkas
gerakkan tongkat untuk menghalau. Tiba-Tiba tengkuknya
dicekik dari belakang oleh Blo'on, terus didorong kemuka. Uh .
. . paderi itu menjorok kemuka membentur seorang
kawannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dua orang paderi anak cepat menyerang. Tetapi yang satu,
dikeroyok burung rajawali dengan monyet hitam. Yang satu
diserang anjing kuning dan disepak Blo'on. Dengan cepat
sekali kedua anak itu menjerit-jerit kesakitan dan melarikan
diri.
Kini dari delapan orang paderi anak, hanya tinggal empat
anak. Karena barisannya sudah rusak, keempat paderi anak
itupun tak mau menurut gerak barisan Pat-kwa-tin lagi.
Mereka terus menyerang secara membabi buta.
Ramai juga pertempuran acak-acakan itu. Ke empat paderi
anak itu dengan hebat mainkan tongkatnya. Walaupun masih
kecil tetapi mereka memiliki ilmu silat yang baik sekali.
Permainan tongkatnya sederas hujan mencurah.
Tetapi celakanya mereka harus berhadapan dengan
manusia Blo'on yang aneh serta ketiga pengiringnya yang licin.
Blo'on mencak-mencak semaunya. la tak dapat bermain silat
maka ia gerakkan kedua tangan meniru gerakan keempat
paderi anak itu. Bedanya kalau keempat paderi anak itu
memang bermain silat dengan genah, tetapi Blo'on seperti -
orang gila yang menari.
Celakanya pula, keempat paderi anak itu harus menyambut
serangan dari udara dan belakang. Burung rajawali
beterbangan melayang pergi datang untuk menerkam dan
mematuk kepala mereka. Anjing kuning berloncatan
menerkam kian kemari, yang paling menjengkelkan keempat
paderi anak ini ialah si monyet hitam. Apabila seorang paderi
anak sedang sibuk menghadapi terjangan anjing dari sebelah
muka, tiba-tiba tengkuknya dicemplak dari belakang oleh
monyet kecil. Dan monyet itu kalau tak mengigit daun telinga
tentu menampar gundul atau menggigit tengkuk. Apabila
paderi itu menjerit kaget dan hendak menghalau si monyet,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kalau bukan anjing yang maju menggigit kaki. tentu burung
rajawali yang menyambar dan mematuk muka. Paling tidak,
tentu si Blo'on yang memberi persen, tabokan atau sepakan.
Keempat paderi anak itu benar-benar kewalahan, tetapi
mereka tetap bertahan tak mau melarikan diri. Walaupun
telinga dan muka mereka sudah berlumuran darah, mereka
tetap bertempur mempertahankan diri.
Tetapi bagaimanapun juga, akhirnya keempat paderi anak
itu harus mundur karena mata mereka berlumuran darah.
Dicakari monyet hitam dan dipagut dengan paruh burung
rajawali.
Setelah barisan Pat-kwa-tin bubar. Blo'on ayunkan langkah
naik kedalam paseban.
"Tunggu !" tiba-tiba terdengar suara orang berseru. Ketika
Blo'on berpaling ternyata kakek Lo Kun dan kakek Kerbau
Putihpun sudah lari menghampiri. Keempat paderi angkatan
Peh, dibikin pontang panting oleh kedua kakek linglung tetapi
sakti itu.
Paseban itu merupakan bagian depan dari gedung Tat-mo-
wan. Gedung tempat bermusyawarah dari para paderi Siau-
lim-si. Setelah melalui paseban. mereka harus melintasi
sebuah halaman yang luas lagi.
Tampak di halaman itu berjajar berpuluh-pulluh paderi.
Entah sedang mengapa mereka itu.
"Berhenti !" seru seorang paderi bertubuh kurus kepada
rombongan Bloon yang hendak melintas.
Blo'on dan rombongannya berhenti "Bagus, kepala gundul,
tiba-tiba kakek Lo Kun mendahului menyelutuk, "ternyata
kamu tahu untuk menyambut rombongan tamu agung ini."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Paderi kurus itu terkesiap, serunya : "Rombongan tamu
agung ?"
"Ya, kami ini kan rombongan tamu agung" seru kakek Lo
Kun.
"Hah ?" paderi kurus itu tergagap, "siapakah lotiang ini ?"
"Aku adalah kepala dari pasukan Gi-lim-knn istana. Dan ini,
"ia menunjuk pada Blo'on, "putera baginda raja."
"Putera raja ?" paderi kurus itu menegas, 'siapakah
namanya ?"
"Namanya ? O . . . tiba-tiba kakek Lo Kun berpaling kearah
Blo'on," siapakah namamu ?"
Blo'on terkejut : "Namaku ? Ah, aku lupa nanyakan pada
Somali "
"Engkau tak tahu namamu ?" seorang kakek linglung Lo
Kunpun heran juga.
"Benar, aku memang tak tahu, eh . . kalau nama biasa sih
tahu," kata Blo on.
"Siapa namamu yang biasa ?"
"Blo'on."
“Ha, ha, ha, ha . . . tiba-tiba pecahlah gelak berpuluh-puluh
paderi Siau-lim si yang sedang berbaris di halaman muka Tat-
mo-wan itu. Mereka terkejut karena mendengar ramai-ramai
orang bertempur, dan ketika mendapat laporan dari seorang
paderi anak tentang peristiwa rombongan Blo'on yang
mengamuk dalam gereja, paderi kurus itu segera
mengumpulkan saudara-saudara seperguruannya dan berbaris
menjaga paseban Tat-mo-wan Tetapi mereka tak dapat
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menahan geli ketika melihat perwujudan rombongan Blo'on,
lebih-lebih waktu mendengar kata-kata si Bloon tadi.
"Tuh dengarlah, untuk sementara ini namanya si Blo'on.
Nanti apabila sudah mendapat keterangan dari raja. barulah
akan memakai nama yang aseli" seru kakek Lo Kun.
Paderi kurus menyadari bahwa yang dihadapinya itu
seorang kakek linglung. Maka ia hanya mengangguk saja.
Kemudian ia hendak menanyakan nama dari kakek Lo Kun
yang mengaku sebagai kepala pasukan bhayangkara istana.
"Sedang aku sendiri, biasa dipanggil Lo Kun atau jendral
tua." kakek Lo Kun mendahului "tetapi karena aku mendapat
tugas raja, maka sekarang ini aku sudah tak menjadi kepala
Gi-lim kun."
"Dan apakah keperluan lotiang hendak menemui hongtiang
kami ?" tanya paderi kurus itu.
Lo Kun tak menjawab melainkan menggamit lengan Blo-on.
Maksudnya suruh anak itu yang memberi keterangan.
"Sebenarnya kalian tak berhak menanyakan soal itu karena
hal itu bukan urusanmu. Tetap sedikit saja, dapatlah
kuberitahu," kata Blo’on "aku sudah berjanji pada seorang
tengkorak untuk mencari perkumpulan Pek-lian-kau. Nah
hanya itu yang dapat kuterangkan. Jangan bertanya lebih
lanjut dan segera antar kami kepada kepala gereja ini atau
beritahukan kepadanya supaya keluar.”
Paderi kurus itu kerutkan kening. Sesaat kemudian ia
berseru : "Maaf, hongtiang kami sedang bepergian. Silahkan
sicu kembali saja ..."
“Eh, kepala gundul, kami datang kemari bukan hendak
minta makan . . . eh," tiba-tiba kakek Lo Kun berkata tetapi
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tiba-tiba pula ia teringat kalau tadi telah melalap hidangan di
atas meja sembahyang. Maka cepat-cepat ia berhenti dan
beralih nada, “kami bukan orang jahat, melainkan hendak
bertanya kepada kepala gereja ini. Mengapa kalian selalu
mengatakan kalau dia tak berada di dalam gereja. Terus
terang aku tak percaya. Kalau memang kalian jujur, harus
memperbolehkan aku untuk mencarinya dalam gereja ini."
Paderi kurus itu tahu kalau kakek Lo Kun seorang limbung
namun mendengar kata-katanya begitu, iapun terkesiap juga.
Gereja Siau-lim-si mempunyai peraturan keras. Bahkan
anakmurid dan paderi-paderi sendiripun harus tunduk dan
mentaati peraturan itu. Apalagi orang luar.
"Tidak bisa !" sahutnya.
"Eh. mengapa ? Kalau begitu jelas kalian ini berbohong”
seru kakek Lo Kun.
"Kami kaum agama, pantang berbohong !"
"Aneh," gumam kakek Lo Kun, "kalau memang tak bohong
mengapa tak memperbolehkan masuk
"Siau-lim-si sebuah gereja yang keramat. Tak boleh
sembarangan diselundupi orang. Lotiang adalah tetamu, harap
suka mentaati peraturan gereja kami."
"Kalau aku memaksa ?" seru kakek Lo Kun
"Hanya ada satu jalan," sahut paderi kurus, itu berganti
nada serius, "lotiang harus mampu melintasi barisan Lo-han-
kun !"
"Lo-han-kun ? Apakah Lo-han-kun itu ?" seru Blo'on
serentak.
"Gereja Siau-lim-si yang dibangun oleh Tat Mo cousu itu,
merupakan salah sebuah sumber utama dari ilmu silat dunia
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
persilatan Tiong-goan. Siau-lim-si mempunyai tujuhpuluh dua
ilmu silat pusaka. Salah satu diantaranya yalah barisan Lo-
han-kun" kata paderi kurus.
"O, sampai dimanakah kehebatan Lo-han-kun itu ?” tanya
Bloon pula.
"Lo-han-kun terdiri dari 108 jurus dan dimainkan oleh 108
orang pula. Terbagi menjadi duabelas kelompok, tiap
kelompok terdiri dari sembilan orang. Coba bayangkan.
Dapatkah engkau melintasi 1O8 orang yang akan bergerak
dalam 108 jurus ilmu silat yang hebat ?”
"O, memang sukar," sahut Blo'on. "Tetapi apa boleh buat,
kalau memang hari begitu baru dapat masuk ke dalam tempat
ini, aku sanggup. Tetapi eh. apakah masuknya harus satu-satu
atau boleh secara serempak ?" seru Lo Kun.
"Terserah, mau seorang demi seorang atau ramai-ramai,"
sahut paderi kurus.
"Tetapi barisan Lo-han-kun itu monggunakan senjata atau
dengan tangan kosong ?" tanya Blo'on.
"Sebetulnya menggunakan pedang tetapi menilik sicu
bertiga tidak membekal senjata, kamipun akan menggunakan
tangan kosong saja." seru paderi kurus.
"Bagus, kepala gundul, engkau baik hati," seru kakek Lo
Kun, "sekarang aku hendak mulai menyerbu. Hayo, siapkanlah
barisanmu."
Paderi kurus itu segera mengacungkan tangan keatas dan
digerak-gerakkan naik turun. Seratus delapan orang paderi
segera bergerak-gerak memencar diri. Tak lama kemudian
terciptalah sebuah lingkar barisan yang terdiri dari duabelas
kelompok. Setiap kelompok beranggauta sembilan orang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tunggu !" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru lalu menarik
Blo'on dan kakek Kerbau Putih menyingkir beberapa puluh
langkah dari tempat barisan itu.
"Setan kerbau," seru Lo Kun setengah berbisik kepada
kakek Kerbau Putih, "engkau seorang sucay (pelajar) yang
gagal. Engkau tentu sudah membaca buku tentang ilmu
barisan Lo-han-kun Bagaimanakah cara untuk membobolnya”
Kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepalanva: "Wah sukar.
Aku belum pernah membaca tentang barisan Lo-han-kun.
Tetapi ada juga akal kita untuk mengempur barisan itu."
"O, bagaimana ?" desak kakek Lo Kun.
"Menurut beberapa ilmu barisan yang pernah kubaca,
kebanyakan barisan itu tentu bergerak-gerak untuk saling
menutup dan mengisi. Misalnya ada sebuah kelompok atau
anggautanya yang bobol, yang lain tentu cepat akan
menggantikan tempatnya ..."
"Seperti mata rantai ?" tanya kakek Lo Kun
"Benar," jawab kakek Kerbau Putih, "memang seperti mata
rantai yang tak boleh terputus. Karena kalau terputus tentu
akan berlubang dan jebol lah barisan itu."
"Lalu bagaimana caranya kita membobol ' tanya Blo'on.
"Begini saja," kata kakek Kerbau Putih," kita serempak
menyerang bersama-sama. Blo'on menyerang dari muka, aku
dari kanan, kakek Lo Kun dari kiri, rajawali dari atas, anjing
dari bawah dan monyet hitam dan segala penjuru dimana
terdapat lubang terbuka."
"Bagus !" Blo'on dan kakek Lo Kun serempak berseru
memuji, "mereka tentu akan sibuk tak sempat bantu
membantu dengan kawannya!”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau sudah setuju, mari kita mulai saja” kata Kerbau Putih
seraya terus hendak berjalan.
"Nanti dulu," tiba-tiba Blo’on menarik baju kakek itu "tetapi
aku tak mengerti ilmu silat. Bagaimana caranya untuk
menyerang dan bagaimana caranya kalau dipukul orang ?"
"Aduh, celaka anak ini," seru kakek Lo Kun “Lalu bagaimana
ya caranya ?"
Kakek Kerbau Putih merenung. Sesaat kemudian ia
membuka suara: "Ya. apa boleh buat. Kita terrpaksa harus
mengajarkannya ilmu silat itu."
"O,bagus, bagus." seru kakek Lo Kun, “kamu ajari saja dia
ilmusilatmu"
"Hm, engkaupun harus mengajari juga, setan pendek," kata
kakek Kerbau Putih.
"Aku ?"
“Ya. supaya dia lebih lengkap ilmu silatnya," '
"Dimana kita akan memberi ajaran itu ?"
"Disini jugalah," jawab kakek Kerbau Putih.
Kakek Lo Kun terus menghampiri barisan lo han-tin,
serunya: "Hai, kawanan kepala gundul jangan kira kami tak
dapat membobolkan barisan-mu itu. Tetapi kami minta waktu
sebentar untuk memberi pelajaran silat kepada putera raja
itu."
Tanpa menunggu jawaban para paderi. kakek Lo Kun terus
berputar tubuh dan menghampiri ke tempat rombongannya.
Tetapi tiba-tiba pula ia berputar tubuh lagi dan lari kemuka
barisan.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, kawanan kepala gundul," serunya bengis. "selama
kami mengajarkan ilmusilat kepada kawan kami, kalian tak
boleh melihat. Tahu! Hayo kalian berputar tubuh menghadap
kebelakang !" Paderi kurus yang bergelar Thian Gi itu kerutkan
dahi. Dia termasuk paderi Siau-lim-si tingkat empat dan yang
diserahi memimpin barisan Lo-han-tin.
Sebenarnya tak perlu ia menggubris rombongan tetamu gila
itu. Tetapi kalau ia menolak, ia kuatir kakek itu akan berteriak-
teriak dan menyiarkan peristiwa itu diluar. Mengatakan bahwa
paderi Siau-lim-si mencuri lihat orang yang sedang berlatih
silat. Nama baik Siau-lim-si dan barisan Lo-han-kun pasti akan
dijadikan buah tertawaan kaum persilatan.
"Baiklah, silahkan kalian belajar ilmusilat apa saja. Tetapi
jangan harap kalian mampu melintasi barisan Lo-han-kun ini."
katanya kemudian terus hendak memberi perintah kepada
anak barisan.
"Nanti dulu," tiba-tiba kakek Lo Kun berseru pula. "tetapi
engkau tak boleh ingkar janji. Kalau barisanmu bobol engkau
harus mengantarkan rombonganku menghadap kepala gereja
ini."
"Jangan kuatir," kata paderi Thian Gi lab memberi aba-aba
kepada barisannya. Barisan Lo-han tin yang terdiri dari 108
orang paderi itu, serempak berputar tubuh menghadap
kebelakang.
"Bagus," kakek Lo Kun berseru terus hendak kembali
ketempat rombongannya Tetapi baru dua langkah ia berhenti
lagi. berputar tubuh dan berseru: "Awas, kalau ada yang
berani diam-diam melirik kebelakang, tentu kugebuk
kepalanya.”
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Barisan Lo-han-tin itu tak mengacuhkan. Mereka tahu kakek
itu memang seorang limbung. Makin dilayani makin menggila.
"Nah, aman," kata kakek Lo Kun kepada kakek Kerbau Putih
dan Blo'on, "sekarang kita boleh mulai mengajarnya. Engkau
dulu yang memberi pelajaran."
"Baik" kakek Kerbau Putih tak mau banyak bicara. Ia terus
suruh Blo'on memperhatikan dan menirukan gerakannya.
Kakek itu segera bergerak gerak, cepat dan dahsyat, macam
orang menerkam, meneliku. menampar-nampar.
Sebenarnya Blo'on hendak membantah. Ia tak suka belajar
silat. Tetapi karena merasa sudah terlanjur berjanji kepada Bu
Kek lojin, ia harus menemui kepala Siau-lim-si. Dan karena
dirintangi oleh ke 108 paderi yang menghadang dengan
barisan Lo-han-tin, terpaksa ia mau juga menerima pelajaran
silat dari kakek Kerbau Putih.
"Nah, sekarang engkau harus menirukan," seru kakek
Kerbau Putih setelah selesai memainkan seluruh jurus ilmu
pukulannya.
Blo'on terpaksa menurut. Ternyata dia berotak cerdas dan
memiliki bakat yang amat bagus sekali. Soalnya karena tak
mau, maka ia tak dapat main silat. Tetapi setelah ia
menumpahkan minat ternyata dalam waktu yang singkat ia
dapat menirukan.
"Gila !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru kaget,
“mengapa tamparanmu jauh lebih keras dari aku ?"
"Entahlah," sahut Blo’on ringkas. Memang ia tak menyadari
bahwa setelah makan rumput Kumis naga dan minum pil
darah ki-lin emas, jalan darah Seng si-hian-kwan dalam
tubuhnya telah terbuka Dengan demikian ia dapat bergerak,
cepat dan keras.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seperti telah diterangkan dibagian muka, Blo’on menderita
sakit hilang ingatan akan masa yang lampau. Maka ia tak ingat
lagi siapa dirinya, siapa namanya bahkan siapa pula
ayahbundanya. Pendek kata, ia lupa akan segala yang terjadi
di masa lampau. Tetapi untuk saat yang sedang di alami hari
itu, ia dapat berpikir normal seperti orang biasa. Memang
penyakit yang dideritanya luar biasa anehnya.
"Hayo, ulangi lagi," perintah kakek Kerbau Putih dengan
bengis, "kalau salah, ..aku malu."
Entah bagaimana terhadap kedua kakek itu Blo'on memang
menurut. Padahal dulu, dia selalu menentang dan
membangkang semua perintah ayahnya.
"Murid yang pintar, engkau!" seru kakek Kerbau Putih
setelah melihat Blo'on mengulangi lagi jurus permainannya,
"ingin tahu apa nama ilmu pukulan itu ?"
Bloon tercengang : "O, apakah ilmusilat itu juga ada
namanya ? Lalu apakah nama ilmusilat yang engkau ajarkan
kepadaku itu ?"
"Hang-liong-sip-pat-ciang !"
"Hang-liong-sip-pat-ciang ? Apakah artinya?" tanya Blo'on.
"Delapanbelas tamparan menundukkan naga. Dengan
delapanbelas kali cara menampar itu, jangan kan manusia,
nagapun tentu dapat ditundukkan !"'
"O, terima kasih, terima kasih," tiba-tiba Blo'on
membungkuk tubuh memberi hormat kepada kakek itu.
Kakek Kerbau Putih kesima, serunya: "Aneh, engkau
mendapat apa-apa, diam saja. Tetapi mengapa mendapat
ilmusilat begitu, engkau terus menyatakan terima kasih. Apa
sebabnya ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Aku menderita penyakit aneh. Aku tak ingat lagi apa yang
terjadi pada masa yang lampau Menurut keterangan seorang
anak perempuan murid Hoa-san-pay yang bernama Walet-
kuning, penyakitku itu hanya dapat disembuhkan kalau makan
otak naga. Nah, setelah mendapat pelajaran Hang-liong-sip-
pat-ciang itu, bukankah aku tentu bakal dapat menangkap
naga itu ?"
'O . . ," kakek Kerbau Putih melongo, la sendiri juga tak
tahu apakah otak naga itu benar-benar mempunyai khasiat
untuk menyembuhkan penyakit hilang-ingatan.
"Hayo, sekarang ganti engkau yang memberi pelajaran,
setan tua," seru kakek Kerbau Putih kepada Lo Kun, "tetapi
harus yang istimewa. Jangan ilmusilat cakar ayam."
"Hm . . ." kakek Lo Kun diam, kerutkan dahi dan garuk-
garuk kepala, "engkau sudah memberi pelajaran ilmu
memukul lalu aku apa ya ? . . . eh. begini sajalah Aku akan
mengajarkan ilmu berlari. Jadi kalau engkau mengajarkan
gerakan tangan, sekarang aku hendak memberinya ajaran
cara menggerakkan kaki."
"Hai, apakah belum selesai ?" tiba-tiba paderi kurus
pemimpin barisan Lo han-tin berseru.
"Kurang ajar engkau kepala gundul," damprat kakek Lo
Kun, "mengapa engkau berani mengganggu orang memberi
pelajaran silat ?"
"Kakek linglung." Karena jengkelnya berulang kali dimaki
'kepala gundul' paderi kurus Goan balas memaki, "mengapa
begitu lama belum selesai! Kalau suruh kami menunggu
sampai berjam-jam engkau licik artinva '"
"Licik ?" seru kakek Lo Kun.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, dengan berdiri berjam-jam begini, tenaga kami tentu
habis dan semangatpun menurun. Dengan begitu bukankah
mudah saja engkau hendak membobol barisan kami ?"
"Jangan banyak bicara, tunggu lagi sebentar Aku baru
mengajarkan sebuah ilmu yang hebat. Jangan harap kalian
nanti mampu mencekalnya." seru Lo Kun cepat menyuruh
Blo'on memperhatikan Kakek Lo Kun yang limbung itu terus
berge'rak. Ia berlari melingkar-lingkar dengan cepat sekali
sehingga dalam waktu sekejab saja. orangnya sudah tak
kelihatan tetapi berganti dengan sebuah lingkaran sinar hitam
Kemudian kakek itu perlambat gerakannya lalu berloncatan
naik turun dan terakhir lalu bergerak menubruk kekanan
menerkam ke kiri.
"Hayo. sekarang engkau harus menirukan," seru kakek Lo
Kun kepada Blo'on. Apa boleh buat Blo'onpun segera menurut
perintah. Setelah diberi petunjuk cara menggerakkan kaki,
melakukan pernapasan dan cara menubruk serta menerkam,
puaslah kakek itu.
"Kurang ajar. mengapa gerakanmu lari lebih cepat dari
aku?" ia bersungut-sungut ketika melihat Blo'on amat tangkas
sekali.
"Entah." Blo'on melongo, "aku sendiri juga heran mengapa
kakiku ringan sekali. Eh, apakah Ilmu berlari yang engkau
ajarkan itu juga ada namanya ?"
"Sudah tentu ada," sahut kakek Lo Kun dengan busungkan
dada," sebenarnya ilmu itu berasal dari ilmu pedang Tui-hong-
kian ..."
"Tui-hong-kiam ?" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berteriak
kaget.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, Tui-hong-kiam atau ilmupedang Pedang-terbang,"
jawab Lo Kun. "karena aku tak suka memakai pedang, lalu
kuciptakan gerak tersendiri yang kuben nama Tui-hung-kan-
ing atau Mengejar-angin-memburu-bayangan. Dengan ilmu
ciptaanku itu aku tak pernah gagal untuk berburu harimau."
"Gila," tiba-tiba kakek Kerbau Putih berteriak,"lalu apakah
sekarang engkau masih dapat memainkan ilmu Tui hong-kiam
itu ?"
"Perlu apa ?" dengus kakek Lo Kun, "kan lebih sah dengan
ilmu ciptaanku sendiri daripada ilmu pedang ajaran orang."
"Siapa yang mengajarkan engkau ilmu pedang Tui-hong-
kiam itu ?" tanya kakek. Kerbau Putih pula.
"Cu Goan-ciang, raja pertama dari kerajaan Beng. Karena
aku menjadi pengawal peribadinya dia amat sayang sekali
kepadaku dan memberi ajaran ilmu pedang itu."
'O. kakek goblok," teriak kakek Kerbau Putih. "ilmupedang
Tui hong-kiam itu merupakan ilmu pedang jaman dahulu yang
sekarang sudah tak pernah muncul di dunia persilatan. Ilmu
itu sebuah ilmu pusaka yang luar biasa saktinya. Engkau harus
menurunkan kepada lain orang supaya ilmu itu jangan lenyap
terkubur dengan mayatmu."
"O, benar !" tiba-tiba kakek Lo Kun melonjak dan menjerit
"memang raja Cu Goan-ciang pernah berpesan begitu. Supaya
mengajarkan ilmupedang itu kepada anakmuda yang jujur,
pintar dan berbakat”
"Kalau begitu engkau harus mengajarkan kan pada anak ini.
Dia memeuuhi syaratnya," kata kakek Kerbau Putih.
"Apa ? Dia memenuhi syarat ? Huh, engkau memang kakek
tolol," damprat Lo Kun, "apakah anak itu jujur, aku belum tahu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
karena baru saja kenal beberapa hari. Apakah dia pintar, huh.
huh, dia begitu blo'on ! Dan apakah dia berbakat .”
"Berbakat, berbakat !" teriak kakek Kerbau Putih, "dia
berbakat bagus sekali. Dulu aku memerlukan waktu berbulan-
bulan untuk mempelajari ilmu tamparan Hang-liong-sip-pat
ciang itu. Tetapi sekarang dia hanya dalam beberapa jam saja
sudah dapat melakukan dengan baik. Hayo, lekas engkau
berikan ilmu Tui-hong-kiam itu kepadanya !"
"Tidak bisa !" teriak kakek Lo Kun.
"Mengapa ?"
"Pertama, dia tak memenuhi ketika syarat itu Dan kedua,
karena aku sendiri sudah lupa dan tak dapat bermainkan ilmu
Tui-hong-kiam itu lagi”
"Ah, kakek gila !" kakek Kerbau Putih banting-banting kaki
dan memaki-maki, "masakan ilmu pusaka yang jarang
terdapat di dunia persilatan, engkau telantarkan begitu saja
sehingga hilang. Hayo, egkau harus mengingatnya lagi "
"Sekarang ?" kakek Lo Kun melongo, "tapi entah kapan aku
baru dapat mengingat seluruhnya mungkin sampai beberapa
hari mungkin berbulan-bulan."
Kakek Kerbau Putih menghela napas: "Ah....saat ini karena
kita masih harus menghadapi barisan kepala gundul itu, maka
tak usah engkau menyibukkan diri dulu. Tetapi nanti apabila
sudah senggang, engkau harus berusaha untuk mengingat
ilmupedang itu lagi."
Kakek Lo Kun mendengus.
Selama Blo'on diajari ilmu pukulan Hang liong-sip-pat-ciang
oleh kakek Kerbau Putih tadi, monyet hitam dan burung
rajawali tak henti-henti nya menirukan gerakan kakek Kerbau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Putih. Memang ketiga binatang itu dapat dijinakkan dan di
latih baik oleh Blo'on. Mereka dapat menirukan gerakan orang
dengan baik.
Kemudian setelah kakek Lo Kun mengajarkan ilmu Tui-hong
kan-ing, anjing kuninglah yang menirukan gerakan kakek itu.
Dengan demikian anjing kuning dapat melakukan gerak Tui-
hong-kan ing dan monyet hitam serta burung rajawali dapat
menjalankan jurus-jurus ilmu Hang liong-sip-pat-ciang.
Kini pelajaranpun selesai dan tiba-tiba Thian Gi sipaderi
kurus berteriak : "Hai, apakah sudah selesai ?'
"Sudah, tetapi kami lelah dan harus beristirahat dulu. Kalau
engkau memang berani, tunggu saja. Kalau tidak berani,
masuklah ke dalam dan tidurlah saja !" teriak kakek Lo Kun.
Memang saat itu hari sudah petang, Sehingga para paderi
anggauta barisan Lo-han-tin itu sudah menunggu dari pagi
sampai petang. Dalam hati mereka bersungut-sungut dan
menyumpahi rombongan Blo'on tetapi mereka takut kepada
paderi kurus Thian Gi sehingga terpaksa diam saja dan telap
tegak ditempat masing-masing.
Tiba-Tiba kakek Lo Kun lari. Melihat itu Blo'on cepat
menarik lengannya : "Hendak kemana ?"
"Aku lapar, hendak cari makanan," sahut kakek Lo Kun.
"Kemana ?"
"Ruang sembahyangan, tentu masih ada sisa makanannya,"
kata kakek itu pula.
"Tak perlu engkau sendiri," kata Blo'on, "akan kusuruh
ketiga binatang itu untuk mencarikan"
Kemudian Blo'on memerintah anjing kuning, monyet hitam
dan burung rajawali untuk mencari makanan. Ketiga binatang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
itu segera pergi. Tak berapa lama, anjing kuning datang
dengan menggondol kuweh, lalu monyet hitam membawa ikan
dan terakhir burung rajawali. Kuweh memang dari meja
sembahyang tetapi ikan diperoleh si monyet hitam dari rumah
penduduk yang tinggal tak jauh dari gereja. Memang monyet
itu binatang yang mbeling atau nakal. Dia pandai sekali
mencuri makanan di rumah orang. Dan buah yang digondol
burung rajawali itu didapatnya dari hutan.
"Hai, mengapa belum selesai ?" teriak paderi kurus Thian
Gi.
"Nanti dulu, kami hendak makan. Kalau engkau lapar,
silaukan masuk dan makan dulu, "teriak Lo Kun.
Paderi Thian Gi mengkal. Tetapi ia seorang paderi yang
jujur dan penuh toleransi. Terpaksa ia menahan kesabarannya
lagi.
Demikian Blo’on dan kedua kakek itu segera melalap
makanan sementara barisan paderi tetap tegak di tempatnya,
tak berani berkutik.
"Celaka, habis makan harus minum. Kalau tidak makanan
itu rasanya masih berhenti dibawah kerongkonganku," teriak
kakek Lo Kun pula.
"Jangan kuatir," kata Blo'on, "akan kusuruh monyet
mencarikan air."
"Tidak, aku hendak cari sendiri saja. Aku tak mau minum
air. Aku hendak minum arak," kata kakek Lo Kun.
"Jangan kuatir," kata Blo'on pula, monyet, itu dapat
mengambilkan apa yang kita minta."
la terus berseru kepada si monyet : "Monyet hayo, carikan
arak untuk kakek Lo Kun."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Monyet hitampun terus pergi.
"Eh, lumayan juga mempunyai binatang peliharaan
semacam itu ? Dari mana engkau memperoleh monyet itu ?"
tanya kakek Lo Kun.
"Entah, aku tak ingat. Tahu-Tahu ketiga binatang itu
muncul dan ikut padaku," kata Blo'on yang sudah hilang
ingatannya akan masa lampau. Padahal jelas ketiga ekor
binatang itu adalah binatang peliharaannya sejak kecil
Tak berapa lama muncultah si monyet hitam, dengan
membawa sebuah guci. Dengan cepat kakek Lo Kun terus
menyambuti dan meneguknya. “Ah...” ia menggumam dengan
penuh nikmat: "Arak wangi, arak wa ..."
"Berikan juga kepadaku !" kakek Kerbau Putih cepat
menyambarnya terus meneguk juga.
Bau arak yang keras dan harum segera bertebaran dibawa
hembusan angin. Barisan paderi itu makin gelisah. Karena
sudah sejak pagi mereka terus berdiri, mereka merasa agak
lelah. Terutama mereka merasa lapar sekali. Kini hidung
mereka dilanda bau arak yang keras dan harum sehingga
darah mereka makin menggelora. Andaikata pemimpin mereka
tak berada disitu, tentu mereka sudah Berontak dan mengusir
rombongan orang gila itu.
Demikian, apabila barisan paderi itu kelabakan setengah
mati, adalah difihak rombongan Blo’on, kedua kakek linglung
itu tengah enak-enak menikmati arak. Entah dari mana
monyet hitam memperolehnya. Tetapi arak itu memang wangi
sekali.
Berselang beberapa saat kemudian, setelah kenyang makan
dan puas minum, barulah kedua kakek itu bersiap. Mereka
segera menghampiri ketempat barisan Lo-han-tin.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Saat itu hari sudah makin gelap. "Sekarang kami hendak
mulai menyerbu. Kalian boleh menghadap kemari." seru kakek
Lo Kun
Karena sudah mengkal, barisan Lo-han-tin serentak
berputar tubuh. Wajah para paderi itu tampak memancar
kemarahan.
"Sekarang silahkan menyerbu!" seru paderi Thian Gi sambil
memberi isyarat kepada anakbuahnya supaya bersiap-siap.
Tampak kakek Lo Kun, Kerbau Putih dan Blo'on kasak
kusuk. Sejenak Kemudian mereka lalu berpencar diri. Blo'on
tetap berada di muka barisan, kakek Lo Kun disamping kanan
dan kakek Kerbau Putih disamping kiri barisan.
"Serbu!" teriak kakek Kerbau Putih yang rupanya
mengangkat diri menjadi pemimpin rombongannya.
Sambil berkata ia terus maju. Demikian pula Blo'on yang
bergerak dengan ilmu pukulan Hang liong-sip pat-ciang.
Barisan Lo-han-tinpun mulai bergerak-gerak.
"Tunggu !" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak.
Kakek Kerbau Putih dan Blo'on serempak berhenti.
Demikian pula dengan barisan Lo-han-tin
"Mengapa ?" teriak paderi Thian Gi.
"Aduh . . . perutku mulas. Aku ingin buang air besar . . ."
teriak kakek Lo Kun dengan wajah merah dan peringisan.
Betapapun kesabaran paderi Thian Gi namun karena
merasa dipermainkan oleh lombongan kakek gila itu, iapun tak
dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Tadi minta untuk
mengajar ilmusilat. Lalu minta tempo beristirahat dan makan.
Dan ini setelah berhadap-hadapan dan bahkan sudah mulai
bergerak, tiba-tiba pula kakek pendek itu berteriak mau berak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dan apabila diluluskan, setelah berak mungkin masih minta
tempo untuk tidur. Dan setelah tidur, ah, entah minta tempo
untuk apa lagi . .
"Tidak !" tiba-tiba seorang paderi anakbuah barisn Lo-han-
tin memekik keras. Rupanya paderi sudah meluap
kemarahannya sehingga ia tak mau menunggu keputusan
pemimpinnya, terus berteriak menolak permintaan kakek Lo
Kun.
"Setan gundul, kalian licik !" kakek Lo Kun berteriak
nyaring, "masakan orang mau berak di ajak berkelahi !"
"Kakek p;ndek," seru Thian Gi dengan nada bengis,
"barisan Lo-han-tin adalah barisan utama dari gereja Siau-lim-
si. Tak sembarangan barisan keluar apabila tidak menghadapi
musuh yang tangguh. Bahwa kalian telah disambut dengan
barisan Lo-han-tin ini, sebenarnya sudah suatu kehormatan.
Tetapi ingatlah, barisan Lo-han-tin itu tak boleh dihina dan
dipermainkan seperti barisan anak kecil."
"Tetapi, kepala gundul, perutku mulas sekali”
"Itu urusanmu!" bentak Thian Gi yang hilang kesabarannya,
"sekali barisan Lo-han-tin sudah bergerak, hanya dua pilihan
yang harus kalian terima. Menyerah atau hancur ..."
Melihat itu Bo’on marah juga : "Kalian memang tak kenal
kasihan pada seorang kakek tua. Baik, kalau memang tak
boleh berak, sekarang aku akan melanjutkan penyerangan !"
Habis berkata Blo'on terus maju menyerang Entah
bagaimana, biasanya dia tak suka berkelahi. Tetapi saat itu
karena kasihan pada kakek Lo Kun yang peringisan menahan
perut mulas, Blo'on tak puas dengan sikap paderi Siau-lim si
itu. Dia terus bergerak dengan ilmu Hang-liong-sip-pat-ciang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kelompok depan dari barisan Lo-han-tin terkejut melihat
gaya gerakan tangan Blo'on yang aneh dan dahsyat.
Tamparannya menimbulkan sambaran angin keras.
Melibat Blo'on sudah bergerak, kakek Kerbau Putihpun ikut
menyerang juga. Kelompok yang disamping. terpaksa harus
melayani serangan kakek itu. Merekapun terkejut melihat
jurus-jurus permainan kakek Kerbau Putih. Karena kakek itu
bertubuh bungkuk, serangannya khusus ditujukan ke perut
dan kaki lawan.
Celaka adalah kakek Lo Kun. Karena barusan sudah
bergerak, iapun terus dilanda oleh kelompok yang berdiri
dihadapannya. Terpaksa sambil kedua tangannya mendekap
perut yang mulas, kakek itu terus berlincahan menggunakan
ilmu Memburu-angin-mengejar-bayangan. Gerakannya
memang tangkas dan gesit sekali. Tetapi barisan Lo-han-tin itu
juga hebat. Mereka bergerak maju mundur menyilang ke
kanan kiri dan melingkar-lingkar bagai mata rantai yang
tengah menjerat.
Kakek LoKun hanya bergerak menurut apa yang
dihadapinya, Karena kawanan paderi itu hendak
menerkamnya, ia menghindar kesamping. Kalau dipukul, ia
loncat kemuka, kalau diterkam ia menyusup ke bawah. Ia tak
menyadari bahwa saat itu, ia sudah semakin menyusup
kedalam barisan. kanan kiri, muka belakang, dia sudah
dikepung rapat oleh kelompok-kelompok barisan lawan.
Blo'on baru saja mempelajari ilmu pukulan Hang-liong-sip-
pat-ciang. Ia belum mengerti bagaimana Cara
menggunakannya. Dan memang ia tak mempunyai
pengalaman berkelahi dengan orang. Maka ia mainkan ilmu
pukulan itu dari jurus pertama lalu kedua, ketiga dan
seterusnya jurus-jurus berikutnya secara urut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bluk. duk, plak . . , terdengar berulang kalangan dan kaki
barisan Lo-han-tin itu menghunjam di dada, bahu, punggung,
pantat dan kaki Blo'on. Bahkan kepala Blo'on yang gundul,
menjadi sasaran tamparan tangan paderi-paderi itu. Anakbuah
barisan Lo-han-tin terdiri dari paderi yang berilmu silat tinggi.
Mereka cepat tahu arah gerakan tangan Blo'on. Bermula
mereka terkejut melihat hebatnya ilmu Hang-liong-sip-pat-
ciang yang dimainkan Bloon. Tetapi merekapun heran
mengapa anak itu memainkan ilmu pukulannya seperti orang
yang sedang berlatih. Tak peduli musuh sudah menghindar ke
samping tetapi Blo'on tetap menjalankan gerak menurut jurus
yang sedang dimainkan itu. Apabila dia sedang menampar
kemuka, walaupun musuh sudah berada disamping. ia tetap
menampar kemuka sesuai dengan urutan gerakan dalam jurus
itu. Dan apabila menurut gerakan urut, dia harus berputar
kesamping dan menampar, walaupun musuh berada disebelah
muka. ia tetap berputar tubuh menghadap ke samping.
Cepat sekali keadaan yang ganjil dari si Blo’on itu diketahui
para paderi, Dengan begitu enak Saja mereka melayani anak
itu. Begitu anak itu menghadap ke muka. merekapun segera
menyingkir ke samping lalu menampar kepala, punggung dan
menyepak pantat Blo'on.
Demikian Blo'on menjadi bulan-bulan permainan anak buah
barisan Lo-han-tin. Tetapi dalam pada itu. diam-diam para
paderi itu merasa heran Berulang kali mereka telah
menghujani Blo'on dengan tabokan, pukulan dan tendangan
tetapi anak itu tetap tak rubuh. Bahkan meringis kesakitanpun
tidak. Dan lebih terkejut pula para paderi ketika mereka
merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali tangan dan kaki
mereka menghunjam ke tubuh Blo'on, tubuh anak itu seperti
memantulkan tenaga-dalam yang deras. Makin dipukul keras
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
makin keras pula tenaga-dalam yang memantul balik dari
tubuh anak itu.
Difihak kakek Kerbau Putih, pun barisan Lo han-tin tampak
kewalahan. Kakek bungkuk itu mempunyai gaya lain. Jika
kakek Lo Kun- hanya berlincahan dan berlari lari, jika Blo'on
hanya memainkan ilmu pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang
seperti sedang berlatih, kakek Kerbau Putih ini benar-benar
melancarkan serangan Hang-liong-sip-pat-ciang dengan
teratur dan sesuai.
Hang-liong-sip-pat-ciang atau Delapan-belas-tamparan-
naga memang sebuah ilmupukulan yang hebat dan sudah
jarang terdapat dalam dunia persilatan dewasa itu. Setiap
tamparan kakek Kerbau Putih menimbulkan deru angin dan
tenaga yang hebat sehingga berulang kali mata-rantai barisan
lo-Han-tin tersiak pecah. Tetapi Lo-han-tin memang tak
bernama kosong. Gerakannya cepat, mata rantainya rapat.
Seratus kali pecah, seratus kali pula segera tertutup rapat lagi.
Sebenarnya apabila hanya menghadapi serbuan dan ketiga
orang itu, apalagi orang-orang yang limbung barisan Lo-han-
tin lebih dari cukup untuk menahan. Tetapi ada suatu
gangguan yang menjengkelkan paderi-paderi itu. ialah
serangan dari ketiga binatang peliharaan Blo'on. Burung
rajawali menyerang dari udara, turun naik menyambar dan
mematuk kepala dan muka para paderi. Apabila di pukul
burung itu dengan tangkas segera melambung ke udara. Dan
bila sipaderi sedang sibuk menghadapi serangan dari muka,
burung itupun terus menukik kebawah dan menyerang lagi.
Paderi itu jengkel bukan kepalang.
Kejengkelan mereka ditambah pula dengan gangguan dari
anjing kuning yang sembari berlari lari memutari barisan, tak
henti-hentinya menyalak dan menggeram. La!u menerkam
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
kaki dan menyambar perut paderi. Sudah tentu anakbuah
barisan Lo han-tin sibuk sekali.
Dan yang paling menjengkelkan adalah si monyet hitam.
Monyet itu dengan tangkas sekali telah menyusup dari bawah,
menyelundup di antara sela-sela kaki paderi, menggigit
selakangan sehingga karena terkejut dan kesakitan ada
beberapa paderi yang menjerit dan melonjak-lonjak Sehingga
menghambat perputaran gerak barisan.
Bahkan pada suatu saat terjadi hal yang lucu. Simonyet
yang nakal itu tiba-tiba loncat menubruk tengkuk seorang
paderi dan terus menggigit telinganya. Seorang paderi yang
berdiri dibelakangnya, karena hendak menolong kawannya itu
terus memukul simonyet tetapi monyet itu dengan gesit sudah
loncat turun sehingga yang terkena pukulan adalah paderi
yang telinganya tergigit itu.
"Aduh ..." paderi itu menjerit kesakitan karena kepalanya
terpukul kawannya sendiri.
Demikian barisan Lo-han-tin yang termasyur dan sukar
dibobolkan oleh tokoh-tokoh sakti, hari itu terpaksa harus
menderita kekacauan karena diserbu oleh mahluk-mahluk
yang aneh.
Tengah pertempuran berlangsung seru, tiba-tiba terjadi
suara hiruk pikuk yang gempar. Anakbuah barisan Lo-han-tin
berteriak-teriak sambil mendekap hidung. Ada beberapa
bahkan yang menguak dan muntah-muntah.
Apakah yang terjadi ?
Ternyata kakek Lo Kun sudah tak kuat lagi menahan 'lahar’
yang meledak dari dalam perutnya Sambil berlari-lari
menyusup kedalam barisan, isi perutnya nerocos keluar seperti
air bah. Baunya, jangan dikata lagi . . .
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dia sendiri juga bingung karena celananya penuh dengan
kotoran busuk. Maka dia makin gugup dan makin kalap untuk
menerobos keluar. Dia tak peduli lagi, kepala, tubuh dan
punggungnya di pukul kawanan paderi. Pokok, ia harus lekas-
lekas dapat menyelesaikan perutnya yang mulas itu dan
selekasnya mencuci celananya. Tetapi barisan Lo-han tin yang
ketat dan terdiri dari 108 paderi itu, memang sukar diterobos.
Dengan demikian bau kotorannya yang luar biasa busuknya itu
tak dapat berhembus keluar. Suatu hal yang benar-benar
membuat kawanan paderi itu kelabakan setengah mati.
Karena marah tak diberi jalan, kakek Lo Kun jadi semakin
kakap. Ia tahu bahwa
karena takut membau
kotorannya, kawanan
paderi itu dekap hidung
dan muntah-muntah.
Cepat ia merogoh
pantatnya, segenggam
kotoran yang luar biasa
bauknya segera ditaburkan
kepada kawanan paderi.
Diulangnya lagi sampai
beberapa kali. Pikirnya ia
mempunyai, kesempatan
untuk membuang kotoran
dan membersihkan
pantatnya.
Barisan Lo han-tin memang termashyur dan jadi
kebanggaan Siau lim-si. Barisan itu laksana benteng baja yang
kokoh sekali. Diserang dengan pukulan tenaga dalam. Diserbu
dengan senjata tajam dan dihujani dengan senjata rahasia
yang berbisa maupun yang dilumuri racun, tetap tak mampu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
membobolkan. Kemasyhuran barisan Lo han-tin sudah dikenal
oleh setiap orang persilatan
Tetapi tak terduga duga, barisan yang kebal dengan senjata
tajam itu, akhirnya bobol juga dengan serangan hujan kotoran
si kakek Lo Kun. Dan memang kotoran kakek itu, luar biasa
busuknya
"Aduh mak, baunya . . !" Blo'on sendiripun menjerit seraya
hendak muntah. Buru-Buru ia mendekap hidungnya.
"Kurang ajar. setan pendek itu," kakek Kerbau Putihpun
memaki-maki dan mendekap hidung. Barisan Lo-han-tin
macet, kawanan paderi muntah dan mendekap hidung.
Mereka yang terkena lemparan kotoran kakek Lo Kun lebih
kelabakan Ada yang sibuk mengusap usap muka. pakaian dan
gundul. Tetapi celaka ! Makin diusap makin menambah dan
makin keras baunya. Bau busuk itu seolah olah melekat tak
mau hilang. Karena tak tahan lagi, barisan Lo-han-tin itu
bubar. Para paderi berlari-lari masuk kebelakang untuk mandi
dan ganti pakaian.
Kakek Lo Kun masih tetap bingung. Celananya berlumuran
kotoran. Dia sendiri tak tahanakan baunya. Tetapi mau
mendekap hidung, tangannya sudah terlanjur berlumuran
kotoran. Akhirnya ia menjerit dan terus lari mengikuti paderi-
paderi itu.
Tiba-Tiba ia terkejut melihat seorang paderi tua tegak
berdiri dengan mencekal sebatang tongkat. Dibelakangnya
terdapat dua orang paderi kecil
"Hai, siapa engkau !" kakek Lo Kun hentikan langkah dan
menegur.
"Sute dari kepala gereja Siau-lim-si !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Oh . . ," kakek Lo Kun menyurut mundur.
---ooo0dw0ooo---

Jilid 9
Iblis kembar
Sejenak kakek Lo Kira lupa akan dirinya yang berlumuran
kotoran. Ia memandang paderi tua itu lekat-lekat.
"Uh . . uh . . “ tiba-tiba terdengar paderi kacung yang
mengiring dibelakang paderi itu menguak tertahan terus
mendekap mulut dan hidungnya.
Paderi tua itu juga menyeringai. Ia cepat hentikan
pernapasannya untuk menolak hawa busuk yang luar biasa
dari kotoran Lo Kun.
"Siapa namamu " tanya kakek Lo Kun.
"Hui In," sahut paderi tua itu.
"Mana kepala gereja ini ?" kata kakek Lo Kun pula.
Karena harus menjawab, terpaksa paderi itu membuka
pernapasannya lagi. Sebagai gantinya ia mendekap
hidungnya.
"Hui Gong suheng, kepala gereja Siau-lim-si sedang pergi,"
sahutnya.
"O, celaka," seru kakek Lo Kun, "lalu dengan siapa aku
harus bertanya ?"'
"Bertanya apa ?"
"Penting, tetapi hanya kepada kepala gereja ini. Lain orang
tak boleh tahu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Adakah yang mengacau diruang sembahyang tadi juga
lotiang ?" tanya Hui In taysu.
"Benar, karena kepala gundul yang disitu berani merintangi
aku."
"Dan yang membubarkan barisan Pat-Kwa-tin dari ke
delapan paderi kecil itu juga rombongan lotiang ?"
"Ya, anak-anak gundul itu tak tahu adat. paksa kami
hajar."
"Yang membuyarkan barisan Lo-han-tin juga rombongan
lotiang ?" tanya Hui In taysu pula.
"Siapa lagi !"'
Diam-Diam Hui ln taysu terkejut. Pat-kwa-tin dan Lo-han-tin
merupakan barisan penjaga Siau-lim-si yang paling dapat
diandalkan. Bahwa kedua barisan itu telah bobol, jelas
menandakan kalau rombongan tetamu itu tentu sakti. Tetapi
kala ia memperhatikan keadaan kakek pendek yang berdiri di
hadapannya, Hui ln agak heran-heran sangsi. Masakan kakek
aneh yang tampak ketolol-tololan itu memiliki kepandaian
yang sedemikian saktinya.
Hui In taysu mempunyai rencana hendak menguji kesaktian
tetamu pendek itu. Tetapi ia tak tahan menderita bau busuk
dari tubuh kakek Lo Kun.
"Mengapa baumu begitu busuk ?" akhirnya Hui Ih berseru.
"O, benar," serta mendengar teguran itu teringatlah kakek
Lo Kun akan keadaan dirinya yang berlumuran kotoran itu,
"hayo, tunjukkanlah dimana kamar mandi gereja ini !"
"Untuk apa ?” tanya Hui In heran.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tadi perutku mulas dan aku hendak buang hajat tetapi
barisan kepala gundul itu menghalangi malah terus
menyerang. Lama-Lama aku tak tahan perutku terus meletus,
celanaku berlumuran kotoran begini. Hm, memang kalian
kepala gundul ini kejam dan tak tahu adat Masakan orang
kebelet buang hajat malah diajak berkelahi !"
Hui In taysu cepat dapat mengetahui bahwa kakek yang
berhadapan dengan dia saat itu, seorang kakek limbung.
Kakek yang tak waras pikirannya. Melihat gerak gerik dan
ucapan si kakek, Hui In diam-diam geli juga.
"Hayo. lekas tunjukkan, aduh. . perutku mulai mulas lagi !"
kakek Lo Kun menjerit jerit seraya mendekap perut.
Hui ln taysu geleng-geleng kepala dan segera menyuruh
kedua paderi kecil mengantarkan kakek itu kebelakang.
Tepat kakek Lo Kun pergi maka datanglah kakek Kerbau
Putih dan Blo'on, diiring oleh burung rajawali, anjing dan
monyet hitam. Hui In taysu terkesiap.
"Adakah lotiang dan sicu ini rombongan lotiang yang tadi ?"
tegur Hui In taysu.
"Ya, dan engkau ini siapa ?" kakek Kerbau Putih balas
bertanya.
Hui In taysu segera memberitahukan diri
"Apa kata kakek pendek tadi kepadamu" tanya kakek
Kerbau Putih pula.
"Dia mengatakan hendak menjumpai ketua gereja. Tetapi
ketua gereja kami sedang pergi. Yang ada hanyalah wakilnya."
"Kalau begitu antarkan kami kepadanya,”seru kakek Kerbau
Putih
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Walaupun nada dan sikap kakek bungkuk itu kasar, tetapi
karena tahu kalau dia itu seorang kakek limbung maka Hui In
pun menahan sabar Ia terus hendak melangkah.
"Tunggu !” tiba-tiba Blo'on berteriak, "mana kakek pendek
yang tadi ?"
"Perutnya sakit, dia buang hajat kebelakang," terpaksa Hui
In taysu memberi keterangan.
Demikian rombongan Bloon segera dibawa keruang Tat-mo
wan, sebuah paseban tempat bermusyawarah dari Siau-lim si.
Ternyata saat itu di ruang Tat-mo-wan sedang dilangsungkan
permusyawaraban besar dari para pimpinan gereja.
Empat paderi tertinggi dari paderi Siau-lim-si yang memakai
gelar Hui, Goan, Peh dan Thian, lengkap berkumpul di ruang
Tat-mo-wan untuk bermusyawarah.
Siau-lim-si menerima sepucuk surat yang ditanda-tangani
oleh seorang yang menyebut dirinya Kim Thian-cong. Meminta
Supaya Siau-lim-si meleburkan diri kedalam partai baru Seng-
lian-kau atau Teratai Suci. Sebuah partai perkumpulan agama
yang memuja agama Hud-kau atau Buddha aliran Mahayana.
Kepala gereja Siau-lim-si hanya diberi dua pilihan. Menolak
dan akan dihancurkan atau menurut dan selamat.
Ada dua hal yang mengejutkan para paderi pimpinan Siau-
lim-si itu. Pertama, penulis surat itu menyebut dirinya Kim
Thian-cong. Pada hal jelas Kim Thian-cong sudah meninggal.
"Hal ini jelas tentu palsu, "Hui Liang taysu, wakil kepala
gereja Siau-lim-si yang memimpin rapat itu memberi
kesimpulan.
"Memang kalau dilihat sepintas, orang itu tentu
menggunakan nama Kim Thian-cong yang sudah mati itu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
untuk menggertak kita," kata Hui lo taysu, "tetapi hilangnya
jenazah Kim tayhiap Itu memang aneh dan mencurigaKan."
"Sute maksudkan kalau Kim tayhiap belum tentu meninggal
sungguh-sungguh ?" tanya Hui liang taysu.
"Ada suatu kecenderungan untuk menduga begitu karena
maklum mungkin dalam sejarah kehidupan Kim tayhiap yang
lalu, penuh dengan peristiwa berdarah. UntuK menyingkirkan
diri dari ancaman-ancaman musuh yang setiap saat akan
datang menuntut balas, dia lalu menggunakan siasat
meninggal dunia. Kemudian dia menghilang dan timbul lagi
sebagai Kim Thian-cong baru, mendirikan partai Seng-lian-
kau."
"Kemungkinan itu memang dapat terjadi," sambut Hui Liang
taysu. "dunia persilatan memang penuh dengan peristiwa-
peristiwa yang aneh dan tokoh-tokoh persilatan itu memang
amat licin."
"Tetapi suheng." tiba-tiba Hui Sin taysu, sute ke empat dari
tingkat Hui, menyanggah, "kurasa hal itu tidak mungkin.
Pertama, kalau memang Kim tayhiap mempunyai rencana
demikian, dia tentu akan berganti nama dan takkan memakai
nama Kim Thian cong lagi. Kedua, menurut keterangan Hui
Gong ciang bunjin yang lalu, penyimpanan jenazah Kim
tayhiap disebuah ruang rahasia itu, adalah atas perundingan
dari beberapa ketua partai persilatan. Tentulah sebelumnya,
Kim tayhiap tak pernah menduga bahwa hal itu akan terjadi.
Ketiga, andaikata jenazah Kim tayhiap tetap ditempatkan
dalam peti jenazah dan ditaruh di ruang sembahyang, apakah
dia dapat hidup kembali ?"
Sanggahan dari Hui Sin taysu itu membuat sekalian paderi
yang hampir terpengaruh oleh kata-kata Hui Ko taysu,
tersadar dan membenarkan sanggahan itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ah, janganlah kita lupa akan sifat-sifat orang persilatan
yang licin dan penuh siasat," kata Hui Ko taysu, "bisa saja
misalnya, Kim tayhiap mencari seseorang untuk menjadi
mayatnya. Kalau mayat itu tetap ditaruh dalam peti dan
ditempatkan didepan ruang sembahyang, Kim tayhiap tetap
akan dapat muncul lagi. Dan bila terjadi mayat itu disimpan
dalam kamar rahasia, bisa saja Kim tayhiap yang
mengambilnya untuk menghilangkan jejak."
"Ah, sute terlalu memikir jauh," kata Hui Liang taysu,
"tetapi menurut hematku, Kim Thian-cong yang sekarang ini
tentu palsu. Tentu seorang tokoh lain yang hendak
menggunakan ketenaran dan kewibawaan Kim tayhiap untuk
menguasai partai-partai persilatan."
'Tetapi suheng," masih Hui Ko taysu menyanggah, "kalau
dia memang mempunyai rencana mendirikan partai persilatan
baru, mengapa dia harus menggunakan nama Kim tayhiap?
Bukankah tanpa nama itu dia dapat juga mendirikannya? Dan
bukankah dengan menggunakan nama Kim tayhiap itu, mudah
menimbulkan kecurigaan kaum persilatan karena semua kaum
persilatan sudah mengetahui jelas bahwa Kim tayhiap telah
meninggal setengah tahun yang lalu ?"
Hui Liang taysu tertawa : "Hal itu memang membingungkan
seperti halnya dengan hilangnya jenazah Kim tayhiap !"
"Suheng," kata Hui Sin taysu. "adakah lain-lain partai
persilatan juga menerima surat semacam itu?”
Hui Liang taysu menjawab: "Sepanjang yang kita ketahui,
baru sebuah partai yang diobrak-abrik. Entah dengan lain-lain
partai persilatan. Memang sebaiknya kita mengadakan
hubungan dengan mereka agar dapat kita atur suatu langkah
yang seragam menghadapi musuh itu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Dalam pada bicara itu masuklah Hui In taysu memberi
laporan tentang rombongan Blo'on yang hendak menghadap
kepala gereja Siau-lim-si.
"Siapakah mereka?" tanya Hui Liang taysu.
"Entah." sahut Hui In, "mereka terdiri dari seorang
anakmuda dan dua orang kakek."
"Apakah sute tak menanyakan nama mereka dan keperluan
mereka datang kemari ?"
"Sudah," sahut Hui In taysu, "tetapi tampaknya ketiga
orang itu orang-orang yang limbung, Mereka tak mau
menjawab pertanyaanku kecuali setelah nanti bertemu dengan
suheng. Tadi di ruang sembahyang mereka telah berkelahi
dengan Ti-kek ceng karena melarang mereka masuk. Setelah
mengalahkan Ti-kek-ceng, merekapun dikepung barisan to-
thong Pat-kwa-tin, tetapi mereka menang. Terakhir mereka
dihadang barisan Lo-han-tin ternyata Lo-han-tin kewalahan
dan bubar."
"Apa?" Hui Liang taysu berseru kaget. Demikian pula
dengan para paderi tingkat tinggi yang hadir dalam ruangan
itu.
"O. kalau begitu harap sute membawa aku kepada mereka,"
kata Hui Liang taysu. Setelah menunda permusyawarahan, Hui
Liang taysu segera mengikuti Hui In taysu keluar ke paseban.
"Omitohud," seru Hui Liang taysu seraya rangkapkan kedua
tangan memberi hormat, "mari silahkan iotiang dan sicu
masuk."
Mereka duduk di paseban. Setelah itu maka Hui Liang taysu
lalu membuka psmbicaraan. Pertama-tama ia menanyakan
nama dari kedua tetamunya itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Namaku ?" kata kakek Kerbau Putih, "cukup panggil saja
Kerbau Putih."
Wakil kepala gereja Siau-lim-si terkesiap, serunya : "Ah,
harap lotiang jangan bergurau. Aku menanyakan siapa nama
dan gelaran lotiang yang mulai."
"Ya, benar." kata kakek Kerbau Putih dengan nada
bersungguh, "memang orang-orang menyebut aku kakek
Kerbau Putih. Dan aku senang juga dengan nama itu."
"Tetapi bukankah lotiang mempunyai nama sendiri ?" Hui
Liang mengulang.
"Mungkin ada, tetapi sudah lama tak kupakai, Eh, apakah
engkau keberatan kalau aku memakai nama itu ?”
Karena sebelumnya sudah diberitahu oleh Hui In taysu
bahwa rombongan tetamu itu memang aneh dan agak kurang
waras pikirannya, maka Hui Liang taysupun tak mau meladeni.
Ia tertawa: O, maaf, lotiang, silahkan lotiang memakai nama
itu."
Setelah itu wakil ketua Siau-lim si beralih tanya kepada
Blo’on.
"Akupun juga mengalami kesulitan seperti kakek Kerbau
Putih ini. Aku sendiri juga tak ingat siapakah namaku dulu.
Menurut Somali, aku ini putera raja. Tetapi aku lupa bertanya
kepadanya siapakah namaku sebagai putera raja itu. Tetapi
sebelum bertemu dengan Somali, seorang gadis cantik dari
Hoa-san-pay telah memberi nama Blo'on kepadaku. Aku suka
juga dan terus memakai nama itu." dengan panjang lebar
Blo’on menjawab pertanyaan.
Hui Liang taysu melongo. Ia tak mengerti apa yang
dikatakan anakmuda itu. Siapakah Somali, siapakah gadis dari
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hoa-san-pay. Dan yang paling mengherankan mengapa
anakmuda itu juga tidak waras pikirannya. Masakan namanya
sendiri, tak tahu !
"Jadi nama sicu siapa ?" ia mengulang.
"Blo’on !"
"Ah, itu bukan nama. Itu hanya sebuah gelar yang diberikan
orang kepala sicu."
"Lho. biar gelar sekalipun tetapi bagus sekali. Coba engkau
pikir dan cari. Apakah di dunia ini terdapat orang yang
bernama Blo'on. Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang
memakai itu. Aku tidak malu tetapi malah merasa bangga.”
Hui Liang taysu menghela napas "Ah, terserah kepada sicu
soal nama itu. Lalu apakah maksud tujuan sicu hendak
bertemu dengan ketua gereja ini ?"
"Apakah engkau berhak menjawab ?"
"Ya, aku adalah wakil kepala gereja Siau lim si ini. Karena
hong-tiang tak ada, maka segala urusan Siau-lim-si, akulah
yang bertanggung jawab."
"Hm, baiklah," kata Blo'on kemudian meminta kepada kakek
Kerbau Putih supaya kakek itu saja yang mengatakan.
"Sederhana sekali pertanyaan itu," kata kakek Kerbau Putih,
"apakah engkau tahu tentang partai agama Pek-lian-kau ?"
"Pek-lian-kau ?" Hui Liang taysu terkesiap, "bukankah partai
itu sudah lama bubar ketika diserang oleh partai-partai
persilatan dahulu ?"
"Entah, aku tak tahu," kakek Kerbau Putih berkata, "apakah
partai Pek-lian-kau itu sekarang masih ada ?"
"Sudah bubar"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Di mana markasnya dahulu ?"
"Di lembah gunung Hong-san."
'"Siapakah pcinimpin Pek-lian-kau itu ?"
"Dahulu pemimpinnya bernama The Seng-kim Tetapi dalam
pertempuran dengan beberapa partai persilatan, dia sudah
terbunuh."
"Hm, kalau begiiu partai Pek-lian-kau itu sudah lenyap."
"Benar," sahut Hui Liang taysu.
"Tetapi mengapa Ko lo lojin (tengkorak tua) suruh aku
menyelidiki partai Pek-lian-kau ?" tiba-tiba Blo on menyelutuk.
"Siapakah Ko Lo lojin itu ?" tanya Hui Liang heran.
"Sesosok tengkorak yang meninggal dalam sebuah guha
didalam perut gunung. Dan aku sudah terlanjur berjanji untuk
melakukan pesannya. Lalu bagaimana ini ?" kata Blo'on.
Hui Liang taysu tertawa : 'Sudah tentu sicu bebas dari
pesan itu. Karena partai agama itu sudah bubar."
"Tidak !" teriak Blo'on, "kalau begitu aku tentu dianggap
ingkar janji. Biar bagaimana aku! harus mencari partai Pek-
lian-kau itu !'"
"Wah, sukar," kata Hui Liang taysu.
"Apa ? Sukar? Ha, ha." tiba-tiba kakek Kerbau Putih
menyelutuk tertawa, "siapa bilang sukar ? Di dunia tidak ada
hal yang sukar kecuali orang mati yang mengatakan begitu."
"Benar," seru Blo'on, "kita bukan orang mati dan memang
tak mau mati. Kalau memang pernah ada perkumpulan yang
bernama Pek-lian-kau, kita tentu dapat mencarinya !"
Hui Liang taysu melongo lalu menghela napas:
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Omitohud ! Semoga maksud sicu terkabul ..."
Baru wakil kepala gereja Siau-lim-si itu berkata sampai
disitu. tiba-tiba seorang paderi muda masuk kedalarn paseban
dengan tergopoh-gopoh.
"Hatur beritahu kepada taysu, bahwa di ruang tetamu,
datang seorang tetamu yang hendak menghadap hong-tiang."
serunya agak terengah.
Heran Hong Liang taysu melihat sikap dan bicara paderi
muda yang diketahui sebagai penjaga ruang tetamu,
tegurnya: "Mengapa engkau tampak begitu gugup ?"
"Tetamu itu amat bengis. Tecu (murid) telah dipukulnya."
kata paderi muda.
Hui Liang taysu terkejut tetapi sebagai seorang paderi yang
berilmu tinggi, dia memang amat sabar dan dapat
mengendalikan perasaan.
'"O, mengapa dia memukulmu ?" tegurnya.
"Tecu memberi keterangan bahwa hongtiang ciangbunjin
dari gereja ini, tak berada dalam gereja karena sedang
bepergian. Tetapi dia tak percaya dan terus memukul."
"Beng Hwat, apakah engkau tak mampu menghindar dari
pukulannya sehingga mukamu sampai semerah itu?" tegur Hui
Liang taysu. Dia cepat dapat mengetahui bahwa sebelah pipi
paderi muda itu bengap merah.
Makin merah wajah paderi muda itu: "Tecu tak menyangka
bahwa dia sebengis itu. Tetapi menang dia dapat bergerak
cepat sekali. Setelah menampar dia terus mencekik tecu,
memaksa tecu lekas mengundang hongtian keluar." '
"Engkau tak dapat melepaskan diri dari cekikannya ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Maaf, taysu, tecu benar-benar tak berdaya dan merasa
tenaga tecu telah hilang ketika tangan orang itu mencekik
leher tecu ..."
"Lalu ?"
"Tecu tetap berkeras mengatakan bahwa hongtiang
memang tak ada. Kalau mau bunuh, silahkan bunuh. Rupanya
orang itu percaya setelah melihat kesungguhan tecu. Lalu dia
suruh tecu mengundang wakil hongtiang yang bertanggung
jawab atas gereja ini"
"Bagaimanakah perawakan tetamu itu ?" tanya Hui Liang
taysu pula.
"Seorang lelaki setengah tua, lebih kurang berumur 50-an
tahun. Wajah bersih dan semasa mudanya tentu amat cakap.
Menilik orangnya, tecu tak menyangka kalau dia begitu
ganas."
"Adakah engkau tak menanyakan apa keperluannya
mencari hongtiang ?"
"Sudah," sahut Beng Hwat, "tetapi dia malah membentak
tecu supaya jangan banyak mulut dan lekas mengundang
taysu keluar."
"Omitohud," Hui Liang taysu berseru, "sejak toa-suheng
hongtiang pergi, gereja selalu mengalami beberapa peristiwa
yang aneh. Baik, aku Segera akan menjumpahinya."
Tiba-tiba wakil kepala gereja itu berpaling kepada kakek
Kerbau Putih: "Adakah tetamu itu rombongan lo-tiang ?"
"Bukan" sahut kakek Kerbau Putih, "aku tak mempunyai
kawan yang semacam itu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Taysu, silahkan taysu menyambut tetamu itu," tiba-tiba
Blo'on berkata. Kini ia dapat menyebut "taysu", karena
menirukan panggilan yang digunakan paderi Beng Hwat tadi.
"Lalu bagaimana sieu dan lotiang ?"
"Aku juga akan ikut keluar untuk melihat siapa tetamu itu,"
seru kakek Kerbau Putih.
"Benar, aku juga tak puas dengan tetamu yang begitu
kasar," kata Blo'on "tetamu harus sopan, mengapa dia berani
memukul tuan rumah."
Diam-Diam Hui Liang geli dan mengkal terhadap anakmuda
itu. Bukankah tadi rombongan anakmuda itu juga membuat
gaduh dengan para murid-murid gereja ? Mengapa sekarang
dia pura-pura tak puas terhadap seorang tetamu yang begitu ?
Hui Liang taysu lebih dulu kembali keruang Tat-mo-wan
untuk memberi tahu kepada para sutenya yang masih
menunggu.
"Kalau begitu, aku ikut suheng." kata Hui ln taysu, sute
kelima dan Hui Liang taysu.
"Baiklah," kata Hui Liang taysu, "harap sute yang lain suka
tinggal di ruang ini dan bertukar pendapat mengenai soal-soal
yang kita hadapi tadi."
"Omitohud, maaf kalau aku membuat sicu menunggu agak
lama," kata Hui Liang taysu setelah berhadapan dengan
tetamu yang hendak mencari hongtiang Siau-lim-si.
"Tak apa," sahut orang itu dengan dingin, "adakah engkau
ini wakil kepala gereja ini ?"
"Demikianlah," sahut Hui Liang dengan penuh kesabaran
walaupun melihat sikap tetamu itu begitu angkuh, "siapakah
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
nama sicu yang mulia dan dengan maksud apakah sicu
hendak menjumpahi hongtiang kami ?"
"Benarkah kepala gereja sedang pergi ?" bukan menjawab,
tetamu itu malah berbalik tanya.
"Benar," sahut Hui Liang taysu, "sudah setengah tahun
yang lalu Hui Gong suheng pergi mengurus suatu persoalan,"
"Baik, kalau begitu aku dapat menyerahkan urusan ini
kepadamu " kata tetamu itu sambil mengeluarkan sepucuk
sampul, "terimalah surat ini dan berikan kepada kepala
gereja."
"Surat apakah ini ?" tanya Hui Liang taysu.
"Undangan dari kaucu kami."
"Siapa ?"
"Kim Thian-cong kaucu dari Seng-lian-kau."
"O." Hui Liang taysu terkejut sehingga menyurut mundur
selangkah, "tetapi , . . bukankah Kim tayhiap sudah meninggal
dunia ?"
"Paderi Siau-lim-si." seru orang itu dengan nada
memberingas, 'jangan sembarang berkata siapa bilang kalau
Kim kaucu sudah meninggal”
"Tetapi setiap orang persilatan tahu hal itu karena kami
seluruh kaum nersilatan, datang menghadiri upacara
penguburan Kim tayhiap," kata Hui Liang taysu pula.
"Ah, engkau benar-benar paderi tolol, "ejek orang itu, "dan
memang orang-orang persilatan itu goblok semua. Yang mati
dan dikubur itu bukan Kim kaucu tetapi lain orang !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Omitohud!" seru Hui Liang taysu terkejut. diam-diam ia
teringat akan sanggahan sutenya, Hui Ko taysu tadi. Namun ia
masih meminta penegasan “Benarkah hal itu ?"
Tetamu itu tertawa dingin: "Perlu apa aku membohongi
engkau? Jika tak percaya, kelak dalam rapat besar di gunung
Hoa-san, kalian tentu dapat menyaksikan sendiri."
"Gunung Hoa-san ?" kembali wakil kepala Siau-lim-si itu
terbeliak kaget, "bukankah digunung itu terdapat perguruan
Hoa-san-pay ?"
"Hm," orang itu mendengus, "Hoa-san-pay sudah bubar
berantakan. Markas mereka sekarang dipakai oleh Seng-lian-
kau."
"Oh, ..." Hui Liang taysu menghela napas seraya
rangkapkan kedua tangan ke dada Sebagai tanda ikut bersedih
atas peristiwa yang menimpa partai Hoa-san-pay itu. "jadi
Hoa-san-pay sudah hancur ?"
Orang itu tertawa iblis : "Sudah dihancurkan Yang
menentang dibunuh, yang menyerah dijadikan anakbuah dan
yang melarikan diri tetap akan dicari."
"Apa ? Hoa-san-pay sudah hancur ?" tiba-tiba Blo'on
berteriak, "lalu bagaimana dengan keempat kakek dari
perguruan itu ?”
"Engkau siapa !" bentak orang itu seraya memandang
bengis kepada Blo'on, "apakah engkau ini murid Hoa-san-
pay."
Melihat sikap dan bicara orang itu, Blo'on memang tak
senang. Sekarang dia malah dibentak seperti anak kecil. Maka
marahlah Blo'on : "Aku murid Hoa-san-pay atau bukan, apa
pedulimu ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho. budak liar, engkau berani kurang ajar kepadaku !"
tiba-tiba orang itu terus ayunkan tangannya memukul.
Buk . . . dia bergerak cepat tetapi kakek Kerbau Putih lebih
cepat lagi. Kakek itu menangkis pukulan orang itu dengan
daging benjol pada punggungnya. Pukulan jatuh ketempat
yang lunak macam gumpalan kapas sehingga tenaga pukulan
itupun lenyap.
Orang itu terkejut. Cepat ia menarik pulang tenaganya.
Uh . . ia berhasil tetapi tubuhnya gemetar karena hampir
saja ia terdorong kebelakang oleh gelombang tenaga-dalam
yang memantul dari daging benjul kakek bungkuk itu.
"Ho, jangan main pukul seperti raja. Kalau bicara pakai
mulut saja, jangan pakai tangan!' kakek Kerbau Putih deliki
mata kepada orang itu.
Rupanya orang itu berilmu tinggi. Ia segera menyadari
bahwa kakek bungkuk itu seorang kakek yang sakti. Namun ia
sudah terlanjur turun tangan dan disaksikan oleh wakil kepala
Siau-lim-si. Apabila dalam gebrak itu, ia kalah, tentulah akan
dipandang hina oleh paderi-paderi Siau-lim-si.
"Setan bungkuk, apa engkau sudah bosan hidup !"
teriaknya seraya mengangkat tangan hendak memukul.
"Omitohud !" seru Hui Liang taysu, "harap sicu jangan
berkelahi dulu. Mari kita selesaikan urusan kita."
"Hm, rupanya engkau telah mendatangkan beberapa
jagoan untuk memperkuat diri, bukan ?" seru orang itu
mengejek.
"Sicu salah faham," kata Hui Liang taysu dengan tetap
sabar, "mereka sama sekali bukan orang undangan gereja
Siau-lim-si. Mereka juga tetamu seperti sicu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apakah isi surat undangan yang sicu bawa ini ?" tanya Hui
Liang taysu pula.
"Kim kaucu mengundang seluruh partai-partai persilatan
supaya menghadiri rapat besar dunia persilatan yang akan
dise!enggarakan nanti bulan delapan tanggal limabelas di
puncak Hoa-san." kata orang itu.
"Dergan tujuan ?"
"Supaya partai-partai persilatan itu meleburkan diri masuk
kadalam partai Seng-han-kau. Kini kaucu menganggap,
kekacauan dan kehebohan dalam dunia persilatan ini adalah
disebabkan karena terlalu banyak partai persilatan. Dan
karena itu, masing-masing partai hendak menonjolkan diri
untuk merebut kekuasaan dan pengaruh. Kalau bisa hendak
menjadi pemimpin dunia persilatan."
Orang itu berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi : "Maka
Kim kaucu memutuskan untuk mempersatukan semua partai
persilatan. Aliran ilmusilat mereka pun akan dilebur menjadi
satu aliran ilmusilat saja. Dengan demikian pastilah dunia
persilatan akan aman dan tenteram."
"Omitohud," seru Hui Liang taysu pula, "manusia memang
tak kunjung puas. Dan kepuasan itu memang tak kenal ujung
akhirnya. Hanya kesadaran dari sinar agama yang dapat
menyadarkan batin manusia."
"Seng-lian-kau juga akan menjadi wadah untuk
menampung pengembangan agama. Teratai Suci akan
merupakan aliran agama yang aseli dari Budha. Takkan
tercampur dengan aliran-aliran To-kau (faham Tao) dan lain-
lain agama hitam," kata orang itu pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi menurut fahamku. Kepercayaan itu harus tumbuh
dari kesadaran sendiri. Tidak bisa dipaksa. Agama sendiri
melarang untuk menggunakan kekerasan memaksa orang ..."
"Paderi tua," tukas orang itu, "aku kemari bukan hendak
mendengarkan khotbahmu tetapi hendak menyerahkan
undangan. Jika engkau membangkang datang, gereja Siau-
lim-si yang sudah berdiri ratusan tahun ini pasti akan ludas
menjadi abu”
"Omitohud " Hui Liang taysu menekan kemarahannya
dengan menyebut doa keagamaan, "tetapi hongtiang sedang
pergi. entah apakah dia nanti sudah pulang pada waktunya
tanggal undangan itu.”
"Sekarang baru bulan enam, jadi masih kurang dua bulan
lagi," kata orang itu.
"Andaikata hongtiang tetap belum pulang ?” seru Hui Liang
taysu.
"Engkaulah yang harus mengambil keputusan " kata orang
itu dengan tegas.
"Tetapi aku tak mempunyai kekuasaan untuk memutuskan
soal sebesar itu."
"Itu urusanmu, paderi tua, kata orang itu, "pokoknya Kim
kaucu hanya tahu bahwa pihak Siau-lim-si hadir dalam rapat
besar itu."
"Apakah nama perkumpulan baru yang engkau dirikan itu ?”
tanya Blo'on menyelutuk pertanyaan.
"Tutup mulutmu !" bentak orang itu dengan bengis, "ini
bukan urusanmu, tak perlu engkau ikut campur."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on mendongkol tetapi dia tak dapat membantah. Adalah
kakek Kerbau Putih yang tak puas melihat sikap orang yang
begitu galak, serunya : "Kalau aku ikut campur, bagaimana ?"
Orang itu memandang kakek Kerbau Putih dengan tajam. Ia
tahu kakek bungkuk itu memang memiliki kepandaian tinggi,
la tak mau cari perkara dengan kakek itu tetapi karena kakek
itu bersikap menantang, terpaksa ia menjawab getas juga:
"Artinya mgkau sudah bosan hidup "
"Benar !" tiba-tiba kakek Kerbau Putihi, berteriak, "memang
aku merasa sudah terlalu lama hidup dalam dunia ini. Aku
sudah bosan, tetapi akui sendiri heran mengapa aku tak dapat
mati.Eh, apakah engkau dapat membunuhku ?"
"Kalau engkau memang menghendaki begitu, tentu saja
aku dapat," kata orang itu, "dan kalau engkau benar-benar
minta mati, engkau harus diam saja kalau kupukul."
"Dengan apa engkau hendak memukul ?"
Rupanya orang itu terbawa oleh kelimbungan kakek Kerbau
Putih, ia berseru : "Cukup dengan tinjuku ini sajalah, jiwamu
tentu sudah amblas."
"Bagus !" seru kakek Kerbau Putih itu terus berputar tubuh
membelakangi, "hayo, pukullah aku supaya mati."
Orang itu terkejut. Ia tahu bahwa daging benjul yang
menggunduk dipunggung kakek itu dapat memancarkan
tenaga-dalam yang hebat.
"Huh, kalau engkau memang benar-benar mau mati,
berikanlah dadamu. Sekali pukul saja engkau tentu sudah
mampus !" serunya.
"O, begitu," seru kakek Kerbau Putih, "baiklah !" Ia terus
berputar tubuh menghadap kepada orang itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ho, engkau memang seorang kakek yang jujur. Jangan
kuatir, engkau tentu cepat akan melayang ke akhirat !" seru
orang itu seraya kerahkan tenaga-dalam dan terus
mengangkat tinjunya, siap hendak dihunjamkan.
"Tunggu dulu !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru,
"engkau berjanji sekali pukul tentu dapat menghancurkan
jiwaku. Tetapi kalau tidak dapat, lalu bagaimana ?"
"Akan kususul yang kedua." kata orang itu.
"Kentut busuk !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih memaki,
"enak saja engkau omong. Bukankah aku harus menderita
kesakitan? Aku menghendaki mati secara cepat tanpa
menderita kesakitan. Maka engkau harus dapat sekali pukul,
membuat aku mati. Kalau dua kali, percuma. Andaikata dua
kali aku tak dapat mati. lalu engkau pukul lagi, entah sampai
beberapa kali. Dengan begitu bukankah aku seperti engkau
siksa ?"
Orang itu tertegun, ia menimang-nimang adakah sekali
pukul mampu membunuh kakek itu.
"Hm, kalau engkau menghendaki cepat mati, aku harus
menabasmu dengan golok !" katanya.
"Bangsat, mulutmu tak kena dipercaya. Tadi engkau bilang
dapat membunuh aku dengan sekali pukul saja. Sekarang
engkau hendak memakai golok. Artinya engkau memang tak
mampu memukul aku mati dengan sekali pukul," teriak kakek
Kerbau Putih.
Dimaki bangsat, orang itu merah mukanya. Ia adalah
utusan dari Seng-lian-kau, maka dimaki maki seenaknya
sendiri oleh seorang kakek bungkuk.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau engkau tak dapat, sekarang tukar tempat saja. Aku
yang akan memukul engkau. Sekali pukul engkau tentu
mampus !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berkata. Dan tanpa
menunggu jawaban orang itu ia terus maju menghantam
orang itu.
Orang itu terkejut dan cepat menghindar.
"Hai, pengecut, mengapa engkau menghindar Bukankah
engkau minta mati ?" teriak kakek Kerbau Putih.
"Kakek bangsat, siapa yang bilang aku minta mati ? Engkau
sendiri yang mengatakan sudah bosan hidup dan minta aku
supaya mencabut jiwa mu !"
"Ya, tetapi engkau sudah menyerah dan sekarang akulah
yang sanggup mengantar jiwamu dengan sekali pukul saja."
"Edan !" orang itu marah sekali terus hendak memukul.
"Berhenti !" tiba-tiba Blo'on membentak.
"Mau apa engkau !" bentak orang itu seraya deliki mata.
"Mau mencegah supaya engkau jangan mati dulu" jawab
Blo'on.
"Hm. mengapa ?"
"Karena engkau harus menjawab pertanyaan ku tadi
tentang perkumpulan Seng-lian-kau itu, " habis berkata Blo'on
lalu berpaling kearah kakek Kerbau Putih dan meminta supaya
kakek itu berhenti menyerang dulu.
"Seng-lian-kau berarti Teratai Suci. Satu-Satunya
perkumpulan agama Hud-kan yang paling sah dan benar.
"Apa bedanya dengan Pek-lian kan ?" tanya Blo'on pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Pek-lian-kau ?" ulang orang itu, Pek-lian-kau itu sebuah
perkumpulan rahasia ketika jaman terakhir dari kerajaan
Goan. Dipimpin oleh The Seng-kun. Tetapi perkumpulan itu
telah menyeleweng dari tujuannya dan telah dibasmi oleh
partai persilatan di Tionggoan."
"Kenalkah engkau pada orang yang bernama Bu Bun lojin
?" tanya Blo'on.
"Bu Bun? Siapa Bu Bun lojin, aku, tak kenal!”
"Lalu siapakah ketua Seng-lian-kau itu ?"
"Kim Thian-cong bergelar It-ci-kian-gun atau Jari tunggal-
penakluk-dunia."
"Omitohud," tiba-tiba Hui Liang taysu yang sejak tadi diam
menyaksikan mereka bertempur, saat itu kedengaran
membuka mulut, "aku masih menyangsikan apakah Kim
Thian-cong yang mengetuai Seng lian-kau itu sama dengan
Kim tayhiap yang meninggal dunia di puncak Giok-li-nia.
Andaikata memari benar begitu, lalu apa alasan Kim tayhiap
harus mendirikan perkumpulan Seng-lian-kau itu? Bukankah
oleh dunia persilatan Tiong-goan, Kim tayhiap sudah dianggap
sebagai pemimpinnya ?"
"Musim beralih, jaman beredar dan manusia pun berobah,"
sahut orang itu dengan suara lantang, "setelah menyepikan
diri digunung Giok-li nia sampai belasan tahun, Kim kaucu
mendapat ilham bahwa dia harus menyebarkan agama
Buddha aliran Mahayana. Disamping itu diapun harus
menenteramkan dunia persilatan Tiong-goan. Tidak ada lagi
partai persilatan ini. partai persilatan itu. Yang ada hanya satu
partai persilatan. Karena kenyataannya dengan banyaknya
partai-partai persilatan yang ada, dunia persilatan, tak pernah
mengenyam ketenangan dan ketentraman "
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Mengapa Kim tayhiap tak pernah menyatakan pikirannya
itu kepada partai-partai persilatan? Bukankah sebagai
pemimpin dunia persilatan, partai-partai persilat nn tentu akan
mempertimbangkan hal itu ? Mengapa dia harus pura-pura
mati lalu hidup lagi dan setelah itu mendirikan perkumpulan
Seng-lian-kau?" tanya Hui Liang taysu pula.
"Pertanyaanmu sungguh terperinci sekali, paderi tua," seru
orang itu, "tetapi jawabannya hanya sederhana sekali Kim
Thian-cong yang lama sudah usang, sudah mati. Kim Thian-
cong yang sekarang Kim Thian-cong baru. Tidak ada sangkut
pautnya dengan Kim Thian-cong yang sudah dikubur itu.
Pikiran baru, sepak terjangnyapun baru. Seorang manusia
baru yang hendak mendirikan dunia persilatan yang baru !"
"Apakah ketuamu itu mengerti ilmu tenaga-lam Bu-kek-sin-
kang?" tiba-tiba Blo'on menyelonong bertanya.
Orang itu terkesiap. Diam-Diam ia merasa memang belum
mengetahui jelas bagaimana kesaktian Kim Thian-cong yang
sesungguhnya.
"Mungkin tidak, karena Bu-kek-sin-kang itu masih kalah
hebat dengan It-ci-sin-kang."
"It-ci-sin-kang ? Apa itu ?" tanya Blo'on.
"Jari-tunggal-sakti !" jawab orang itu, "dengan sebuah jari,
Kim kaucu pernah menundukkan dunia persilatan'"
"Ho, jangan-jangan It-ci-sin-kang itu memang Bu-kek sin-
kang tetapi diganti namanya," kata Blo'on seorang diri.
"Dimana markas Seng-lian-kau itu ?' tanyanya pula.
"Ho, budak liar, seenakmu sendiri saja engkau bertanya.
Sudah kukatakan ini bukan urusanmu mengapa engkau masih
usil mulut sajal" bentak orang itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Tetapi aku harus bertemu dengan ketuamu. Akan katanya
apakah dia mengerti ilmu Bu-kek-sin-kang atau tidak." kata
Blo'on.
"Belum mengerti ?'
"Kalau mengerti, jelas dia itu tentu Bu Bun lojin. Dia harus
menyambangi makam suhunya setelah itu harus melakukan
pesan suhunya supaya menyepikan diri dalam guha, tak boleh
ikut campur urusan dunia lagi "
"Kalau tidak mengerti ?" tanya orang itu
"Ya, sudah. Dia bebas mau apa saja."
"Wah, wah," orang itu mendesak, "sikapmu seperti seorang
malaekat saja. Berani bertanya kepada Kim kaucu dan
menyuruhnya bertapa. Kulihat gerak gerik dan bicaramu itu
seperti tak waras. Apakah engkau ini orang gila ?”
"Belum !”
Orang itu masih menahan kemengkalan hat| nya, tanyanya
pula : "Siapa namamu ?”
"Blo'on, putera raja.”
Ha ha, ha. ha ... " karena tak dapat menahan gelinya,
orang itupun tertawa gelak-gelak . Bermula ia memang marah
kepada anakmuda yang lancang mulut itu. Tetapi setelah
beberapa lama memperhatikan, tahulah kalau anakmuda dan
kakek bungkuk itu orang-orang yang tak waras pikirannya.
"Orang gila!" teriak Blo'on, "mengapa tak hujan tak angin
engkau tertawa begitu geli ?"
"Aku tertawa karena melihat kalian. Ternyata dunia ini
memang lengkap isinya. Orang-Orang yang gila dan limbung
seperti engkau dengan kakek bungkuk itu, ternyata juga ada."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurasa lebih baik dunia terisi dengan orang gila dan
limbung seperti aku, daripada manusia-manusia jahat seperti
engkau " balas Blo'on.
"Benar, pangeran Blo'on, kita harus menghadap raja dan
lekas minta pasukan yang kuat untuk membasmi gerombolan
Seng-lian-kau itu ."
"Apa katamu ? Pangeran Blo'on ? Dia itu Pangeran ? Lalu
anak raja siapa ?" orang itu terbeleliak heran.
"Dengarkan, menurut Somali, anak ini adalah putera raja
Ing Lok !" kata kakek Kerbau Putih
"O . . "
"Jangan o saja, lekas berlutut memberi hormat dan minta
ampun kepada sang pangeran !” Bentak kakek Kerbau Putih.
"Kakek gila !" orang itu balas membentak "jangan gila-
gilaan engkau ! Siapa sudi Percaya anak blo'on itu putera
baginda Ing Lok ! Kalau engkau katakan dia anak setan, baru
aku mau percaya "
“Ho, engkau berani membantah keterangan Somali ?" seru
kakek Kerbau Putih.
Orang itu melongo : "Somali ? Siapakah Somali yang
berulang kali engkau katakan itu ? Dia manusia atau setan ?"
“Bangsat, engkau berani mengatakan Somali itu setan. Dia
manusia, tetapi bukan manusia jahat seperti engkau,
melainkan seorang manusia bertubuh tinggi besar seperti
raksasa. Asalnya dari tanah Persia kemudian menjadi
pengawal baginda Ing Lok !"
"Ha, ha, ha, ha . . , " tiba-tiba orang itu terbahak-bahak
pula, "konyol, konyol benar. Dunia ini hendak engkau buat
sekonyol dirimu, kakek bungkuk Baru sekali ini sepanjang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
hidupku, bertemu dengan manusia-manusia blo'on dan konyol
seperti engkau berdua. Ada putera raja, ada pengawal raja
ada apalagi nanti ..."
Hui Liang taysu juga geleng-geleng kepala dan mengelus
dada. Ia hendak membuka mulut untuk menghentikan
pembicaraan mereka. Karena ia merasa orang itu
mencurahkan perhatiannya pada kakek Kerbau Putih dan
Blo'on. Ia sebagai wakil kepala gereja, seolah olah disuruh
menjadi penonton saja.
Tetapi baru ia hendak mengucap, sudah didahului Blo'on :
"Bung. siapakah namamu ?"
Orang itu deliki mata dan menjawab bengis : "Perlu apa
engkau tanyakan nama segala"
"Bung ini punya nama atau tidak ?'
Orang itu makin merah matanya.
"Bung kan manusia dan manusia itu pada umumnya, entah
baik entah buruk, tentu punya nama"
"Ha, mengapa engkau diam saja ?" seru kakek Kerbau
Putih.
Namun orang itu tak mau meladeni bicara lain-lain ia
bersiap-siap hendak menghajar kedua orang itu.
'O, kalau begitu engkau tentu Manusia-tanpa-nama alias Bu
Beng . , "
"Kakek, benarkah dia Bu Beng?" tiba-tiba Blo'on terkejut
mendengar si kakek Kerbau Putih menyebut Bu Beng, "tetapi
Bu Beng saja atau pakai Bu Beng lojin ?"
"Hm, kalau menilik umurnya, dia sudah setengah tua. Patut
juga disebut lojin (orangtua)," sahut kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, kalau begitu engkau tentulah Bu Beng lojin" teriak
Blo'on seraya maju menghampiri kehadapan orang itu, "hai Bu
Beng lojin, engkau harus mengaku yang benar. Bukankah
sebenarnya engkau ini bernama Bu Bun, murid dari Bu Kek
lojin ?"
Orang itu benar-benar seperti dikili-kili hatinya Masakan
seenaknya sendiri saja dia dianggap bernama Bu Beng lojin
dan disebut sebagai murid dari Bu Kek lojin. Ia hendak
memukul Blo'on tetapi pada lain kilas, tiba-tiba ia beroleh
pikiran. Mengapa anak itu menyebut-nyebut diri Bu Beng lojin
dan Bu Kek lojin ? Siapakah kedua orangtua itu? Ah, lebih baik
ia tahan kemarahan dulu dan menanyakan diri kedua orang
yang disebut itu.
"Hai, budak liar, siapakah Bu Beng dan Bn Kek lojin yang
engkau sebut itu ?" tanyanya.
"Bu Bcng adalah murid Bu Kek dan Bu Kek adalah
tengkorak dalam guha yang menyuruh aku mencari Bu Beng.
Jelas?" seru Blo'on dengan garang
"Tidak!" seru orang itu getas, "siapa Bu Kek lojin tengkorak
dalam guha itu ?"
"Seorang sakti yang memiliki ki-lin,"
Orang itu makin melongo mendengar keterangan Bloon
yang dikira ngelantur itu : "Ki-lin?"
"Ya, apakah engkau sudah pernah melihat ki-lin bersisik
emas ?"
Orang itu makin terlongong : "Engkau bocah edan
barangkali. Jangankan aku, boleh dikata setiap orang tak
mungkin pernah melihat binatang mustika itu Yang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
diketahuinya, binatang itu hanyalah sebagai lambang saja dan
merekapun hanya tahu dan gambarnya."
"Yang edan barangkali engkau. Aku belum edan melainkan
kehilangan ingatan saja," bantah Blo'on, "dan memang aku
pernah melihat binatang itu bahkan pernah berkelahi dengan
dia!"
Dia seorang utusan dari ketua Seng-lian-kau yang akan
menguasai dunia persilatan. Sudah tentu harus menjaga
gengsi Tetapi dia dimaki-maki oleh seorang kakek limbung dan
seorang anak blo'on. betapapun sabarnya, orang itu tak dapat
mengendalikan diri lagi.
Plak . . . tiba-tiba orang itu menampar muka Blo'on dan
memaki : "Tutup mulutmu anjing !"
Karena tak menyangka-
nyangka akan menerima
tamparan, pula karena
gerakan orang itu secepat
kilat menyambar, muka
Blo'on terkena dan dia
terpelanting dua tiga tangkah
kebelakang, hampir rubuh.
Untunglah Hui Liang taysu
cepat menyanggahnya.
"Bangsat, engkau berani
memukul sahabatku!" kakek
Kerbau Putih marah dan
terus, menerjang.
Orang itu terkejut melihat gaya serangan kakek bungkuk
itu. Cepat ia menghindar dan balas menyerang. Demikian
keduanya segera terlibat dalam perkelahian yang seru.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Hui Liang taysupun terkejut melihat ilmu serangan yang
dimainkan kakek bungkuk. Samar-Samar ia seperti
mengetahui bahwa didunia persilatan memang pernah
terdapat ilmu pukulan semacam itu tetapi sudah lama
menghilang.
Setitikpun orang itu tak menyangka bahwa kakek bungkuk
yang semula dipandang hina, ternyata memiliki ilmusilat yang
aneh dan sakti. Ia tak mengerti apa nama ilmusilat itu Tetapi
yang nyata ilmusilat itu memang hebat dan berbahaya. Ia
harus hati-hati menghadapinya.
Cepat sekali pertempuran sudah berlangsung lima jurus dan
makin lama tangan sikakek yang menyambar-nyambar itu
makin cepat dan makin berbahaya.
"Hm, belum tentu aku kalah, tetapi kalau bertempur cara
begini, tentu menghabiskan waktu. Dan yang penting, paderi
Siau-lim-si tentu akan mendapat kesan buruk terhadap diriku.
Harus kugunakan cara lain yang cepat, " diarn-diarn ia
memutus rencana dan segera merogoh kedalam baju,!
Hai Liang taysu terkejut. Ia tahuorang itu tentu akan
menggunakan senjata rahasia untuk merubuhkan si kakek
bungkuk. Segera ia hendak berseru mengnentikan
pertempuran itu tetapi sudah terlambat.
Selelah menghindar kesamping, orang itupun mengirim
sebuah tendangan. Pada saat kakek Kerbau Putih sibuk
menghindar, tiba-tiba orang itu taburkan tiga batang senjata-
rahasia berbentuk seperti burung walet kecil. Warnanya hitam
mengkillat.
"Mampuslah engkau !" lontaran itu diiringi dengan bentakan
yang dahsyat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Pulih terkejut ketika tiga burung-burungan
walet kecil mendesing menyambal muka. dada dan kakinya.
Jaraknya begitu dekat tak mungkin dia akan menghindar lagi.
Namun ia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri. la
rnenjajalkan kakinya Ketanah untuk melemparkan tubuh
berjumpalitan kebelakang.
"Auh ..." tiba-tiba mulut kakek Kerbau Putih mendesuh
kesakitan dan ketika ia melayang turun ke tanah, ia tak dapat
berdiri, terus rubuh numprah. Ternyata paha kirinya dihinggapi
sebatang Hek-yan-piau atau serjata-rahasia Walet-hitam Dia
berhasil lolos duri dua batang tetapi yang sebatang terpaksa
harus dideritanya. Seketika ia rasakan kaki kirinya kejang dan
kaku sehingga tak dapat berdiri.
Blo'on terkejut dan lari menghampiri ke tempat kakek
Kerbau Putih untuk memberi pertolongan
Dalam pada itu Hui Liang taysu yang amat sabar dan
berhati welas asih itu, tak puas melihat! keganasan orang itu.
Ia segera maju menghampiri.
"Sicu," tegurnya kepada orang itu, "mengapa sicu sekejam
itu ?"
"Hm, paderi tua," dengus orang itu, "dia seorang kakek liar
yang tak genah. Apabila kakek-kakek semacam itu dibiarkan
hidup, Seng-lian-kau tentu menjadi buah tertawaan orang."
"Tetapi hendaknya sicu ingat bahwa disini adalah gereja
Siau-lim-si, bukan tempat pembunuhan. Apabila dia bersalah,
cukup sicu serahkan padaku untuk mengurusnya."
"Benar paderi tua," seru orang itu mengejek, "memang
akupun hendak meminta pertanggungan jawab atas diri
seorang kakek yang begitu liar. Dia berani menghina utusan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Seng-lian-kau. Paling tidak sebagai tuan rumah engkaupun
harus ikut bertanggung jawab "
"Omitohud !" seru Hui Liang taysu untuk menyalurkan
amarahnya yang meluap, "Siau-lim-si tak pernah ingkar akan
segala tanggung jawab yang seharusnya memang menjadi
kewajibannya. Tetapi dengan tindakan sicu itu, kami Siau-lim-
sipun mempunyai kesan lain terhadap Seng-lian kau. Sicu
katakan bahwa Seng-lian-kau itu sebuah perkumpulan agama
suci. Tetapi apakah demikian itu kesucian yang dijunjung oleh
Seng-lian-kau !"
Walaupun diucapkan dengan nada yang penuh
pengekangan hawa amarah, namun kata-kata yang diucapkan
wakil ketua Siau-lim-si itu amat tajam sekali sehingga
merahlah muka utusan Seng-lian-kau.
"Ketahuilah paderi tua," kata orang itu, "Kim kaucu telah
memberikan hak kepadaku untuk menghajar bahkan
melenyapkan setiap orang yang bera ni menghina, menentang
kepada Seng-iian-kau. Ku peringatkan kepadamu, apabila
Siau-lim-si menolak undangan kami. kamipun terpaksa tak
segan untuk bertindak yang jauh lebih ganas dari apa yang
kulakukan terhadap kakek bungkuk itu."
"Omitohud." kembali ketua gereja Siau-lim-si berseru agar
kemarahannya menghambur, "sicu bicara seolah-olah
menganggap gereja Siau-lim-si ini sebuah tempat anak-anak
kecil yang mudah diperintah dan dihajar. Jika demikian
pemikiran sicu itu salah. Ketahuilah, gereja Siau-lim-si yang
telah didirikan oleh Tat Mo cousu sejak duaratus tahun yang
lalu, telah menjadi pusat dari penyebaran agama Hud-kau dan
pengayoman dari dunia persilatan. Selama itu memang dunia
persilatan banyak timbul orang-orang maupun gerombolan-
gerombolan dan partai-partai baru yang hendak menjatuhkan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pamor Siau-lim-si. Tetapi mereka bagaikan kabut awan yang
dihembus angin. Satu datang, satu pergii. Siau-lim-si tetap
bersinar sebagaimana rembulan di malam hari ..."
"Maksudmu hendak mengatakan bahwa Seng lian-kau juga
akan mengalami seperti kabut awan yang tertiup angin itu ?"
orang itu menukas tajam
"Aku hanya hendak menjelaskan bahwa setiap awan itu tak
langgeng sifatnya. Pada satu saat memang dapat menutupi
rembulan, tetapi sudah menjadi sifat dan kodratnya bahwa
awan itu tak berbobot sehingga akhirnya harus buyar sendiri,"
sahut Hut Liang taysu.
"Paderi tua, rupanya engkau tahu siapa-siapa kah yang
menjadi tulang punggung dari partai Seng-lian-kau itu. Jangan
menyebut Kim kaucu, tetapi para pembantunya saja, rasanya
sudah cukup untuk mengobrik-abrik gereja Siau-lim-si yang
engkau banggakan ini "
"Omitohud !" seru Hui Liang taysu, "kami kaum paderi
pantang untuk bermulut besar."
"Paderi tua," dengus orang itu, "jika hanya dengan
omongan saja, mungkin engkau masih penasaran dan belum
tunduk. Baiklah, sekarang akan kuberikan sedikit hadiah
sebagai tanda perkenalan kita. Sambutilah "
Hui Liang taysu terkesiap. Ia tahu bahwa orang itu akan
mengunjuk kepandaian kepadanya. Maka diam-diam iapun
kerahKan tenaga-dalam untuk berjaga-jaga.
Orang itu merogoh kedalam bajunya dan mengeluarkan
enam batang Hek-yan-piau.
"Awas, taysu, senjatanya itu beracun !" tiba-tiba Blo'on
berteriak. Memang setelah memeriksa keadaan kakek Kerbau
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Putih, anak itu tahu kalau senjata rahasia burung walet warna
hitam itu dilumuri racun. Buktinya saat itu paha kiri kakek
Kerbau Putih menjadi kaku tak dapat digerakkan.
Hui Liang taysu berpaling dan mengangguk :"Terima kasih,
sicu. Akupun memang sudah menduga begitu."
"Paderi tua, sambutlah hadiah perkenalan Seng-lian-kau
kepadamu!" orang itu menutup kata katanya dengan taburkan
tiga batang Hek-yan-piau; ke udara. Ketiga buah senjata-
rahasia berbentuk burung Walet-hitam itu melayang
beterbangan di udara, membentuk sebuah lingkaran yang
mengelilingi wakili ketua Siau-lim-si. Secepat itu pula, utusan
Seng-lian-kaupun menyusuli lagi dengan taburan tiga buah
Hek-yan-piau.
Hui Liang taysu diam-diam
sudah siapkan tongkat siau-
ciang atau tongkat yang
dipakai oleh paderi. Selekas
senjata rahasia itu mencurah
ke arah dirinya, tentu akan
disapunya dengan tongkat.
Tiga buah Hek-yan-piau
yang dilontar pertama tadi,
tiba-tiba meluncur ke atas
kepala Hui Lianji taysu. Ketika
lebih kurang semeter di atas
kepala Hui liang taysu,
mendadak ketiga Hek-yae-
piau itu berhenti lalu melekat satu sama lain. Sedangkan tiga
batang Hek-yang-piau yang dilepas menyusul belakangan itu,
tiba-tiba meluncur dan menyerang Hui Liang taysu dari tiga
jurusan. Laksana burung walet yang menukik kepermukaan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
laut, ketiga hek-yan-piau itupun mencurah deras kearah
sasarannya.
Tring, tring, tring. dengan tongkat sian-ciang yang diputar
sederas hujan, Hui Liang taysu berhasil menyapu jatuh ketiga
Hek-yan-piau itu.
Tetapi tepat pada saat ia sedang memutar tongkat untuk
menyapu serangan Hek-yan-piau. sekonyong-konyong ketiga
Hek-yan-piau yang berhenti diatas kepalanya tadi,
berhamburan memecah diri ialu mencurah turun. Yang satu
menukik menyambar dada, yang satu mencurah langsung ke
ubun-ubun kepala dan yang satu meluncur mengarah
punggung. Senjata-rahasia burung walet kecil itu benar-benar
seperti berjiwa. Mereka serempak bergerak dan serempak pula
menyerang sasarannya.
Hui Liang taysu terkejut sekali. Ia sedang menyapu tiga
Hek-yan-piau yang menyerangnya dari tiga penjuru. Tongkat
masih berputar dan tak sempat ditarik untuk menangkis
serangan dari atas.
Tetapi tak kecewalah Hui Liang taysu dipercayakan oleh Hui
Gong untuk mewakili jabatannya sebagai ketua Siau-lim-si. Hui
Liang memang memiliki kepandaian yang sakti, ia tak
kehilangan ketenangan dan cepat bergeliatan untuk
menghindar. Hek-yan-piau yang menukik ke dada, dapat
dihindari. Demikian pula dengan yang menyambar
punggungnya. Tetapi senjata-rahasia berbentuk Walet-hitam
yang menyambar ubun-ubun kepalanya, memang dapat
dielakkan namun karena jaraknya amat dekat dan Hui Liang
sedang sibuk memperhatikan serangan dari tiga penjuru,
walaupun luput mengenai kepala, Hek-yan-piau itu tetap
dapat hinggap di bahu kanannya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Wakil ketua Siau-lim-si marah sekali terhadap keganasan
utusan Seng-lian-kau itu. Tetapi pada saat ia hendak bergerak
menyerang, tiba-tiba b hunya mulai terasa letuk dan lunglai,
makin lam makin kaku. Ia tahu kalau piau itu tentu beracun
dan racunnya sudah mulai bekerja. Maka buru-buru ia
pejamkan mata, menyalurkan tenaga-dalam untuk menahan
racun itu.
Melihat suhengnya terluka, Hui In taysu loncat menerjang
musuh. Tetapi utusan Seng-lian-kau pun cepat-cepat
menyambutnya. Tangan kanan menaburkan tiga batang Hek-
yan-piau, tangan kiri menyerempaki dengan sebuah pukulan
Biat-gong-ciang atau pukulan Pembelah angkasa. Sebuah ilmu
pukulan yang dilambari tenaga-dalam hebat.
Hui In taysu sibuk menghindari Hek yan-piau dan harus
menerima pukulan Biat-gong-ciang yang hebat. Walaupun
sebelumnya ia sudah berjaga diri tetapi ternyata tenaga-dalam
orang itu amat hebatnya. Dada Hui In serasa dihunjam oleh
palu besi. Ia terhuyung-huyung dua langkah dan muntah
darah , . .
"Paderi tua, cukup sekian sajalah bingkisan perkenalan
Seng-lian-kau kepada Siau-lim-si. Kelak kita sambung lagi,"
seru orang itu terus loncat ke luar.
Tetapi sekeluarnya dari lingkungan Tat-mo-wan di halaman
paseban Ing-kek-wan atau paseban penyambutan tetamu,
ternyata dia sudah dihadang oleh barisan Lo-han-tin.
"Hm, paderi Siau-lim-si memang keras kepala." ia
mendengus untuk menenangkan rasa kejutnya melihat barisan
Lo-han-tin yang termasyhur sudah siap menghadangnya.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lo-han-tin akan menangkap setiap tetamu yang berani
bertindak liar melukai orang, terutama melukai wakil ketua
kami !" seru Thian Gi pemimpin barisan itu.
"Jangankan Lo-han-tin, sekalipun kalian kerahkan seluruh
paderi Siau-lim-si, Seng-lian-kau tetap mampu
menghancurkan," seru orang itu dengan suara garang sekali.
"Silahkan mencoba!" sahut paderi Thian Gi,
Diam-Diam orang itu menimang. Ia memang sudah lama
mendengar kehebatan barisan Lo-hah-tin Jika ia sampai gagal
menerobos barisan itu, pamor Seng-lian-kau tentu akan
ambruk. Ia harus bertindak cepat dan tepat, dengan
menggunakan senjata-rahasia yacg ampuh dan dahsyat.
Segera ia masukkan kedua tangannya kedalam baju dan
mengeluarkan dua macam benda, masing-masing digenggam
dalam tangan kiri dan tangan kanan.
Barisan Lo-han-tin tahu bahwa orang itu telah siap dengan
senjata rahasia. Tetapi mereka tak mengetahui senjata rahasia
macam apakah yang akan digunakan orang itu. Serentak
Thian Gi memberi peringatan kepada anakbuah barisan
supaya hati-hati dan waspada.
Setelah bergerak maju, tiba-tiba orang itu taburkan
segenggam senjata-rahasia Hek yan-piau ke udara. Seketika di
udara bergemuruh dengan desing berpuluh batang Hek-yan-
piau yang terbang melayang-layang mengelilingi kepala
mereka. Senjata-rahasia Hek-yan-piau itu benar-benar tak
ubahnya seperti burung walet yang hidup. Benda itu dapat
terbang melayang-layang seperti burung. Bahkan desing yang
bergemuruh itupun berasal dari paruh burung-burung walet
itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Makin lama, Hek-yan-piau itu makin terbang turun dan
dalam beberapa kejab lagi tentu akan menyambar anakbuah
barisan.
Perhatian seluruh anakbuah barisan itu tertumpah ruah
pada ancaman Hek-yan-piau. Mereka tahu bahwa senjata-
rahasia burung walet hitam itu mengandung racun yang
hebat. Mereka harus serempak melepaskan pukulan untuk
menghalau.
Pada detik-detik yang menegangkan itu, sekonyong
konyong utusan Seng-lian-kau itu taburkan tangan kirinya.
Berpuluh-puluh biji putih sebesar kedele-segera berhamburan
kearah barisan.
Anakbuah barisan Lo-han-tin terkejut. Tanpa banyak pikir,
mereka lalu kebutkan lengan jubah untuk menangkis, pyur,
pyur, pyur.....biji-biji putih itu pecah berhamburan dan
mengeluarkan suara letupan kecil. Tetapi begitu pecah, biji-
biji putih itupun segera berobah menjadi asap Dan karena
terdampar angin kebutan lengan jubah, asap itupun segera
berhamburan ke dalam barisan.
"Auh . . auh . . " serentak terdengar jerit teriakan kaget dari
para paderi anakbuah Lo-han-tin. Semula mereka menduga
asap itu tentu mengandung racun maka belum-belum mereka
sudah menutup pernapasan hidungnya. Tetapi tak terduga-
duga, asap itu bukan mengandung racun untuk menghentikan
pernapasan melainkan mengandung racun yang menyebabkan
mata sakit bukan kepalang sehingga tak dapat mereka melek.
Rasa yang luar biasa sakit dan pedas, menyebabkan anakbuah
barisan Lo-han-tin terpaksa harus mengatupkan mata.
"Aduh . . duh . . ah . . " pada lain saat terdengar pula jerit
erang dari mulut mereka ketika berpuluh batang Hek-yan-piau
mulai meluncur dan menyerang mereka. karena sedang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
pejamkan mata. sudah tentu mereka tak dapat menjaga
serangan Hek-yan-piau.
Barisan Lo-han-tin macet. Hampir separoh dari anggauta
barisan itu telah menderita luka dan tak dapat membuka
mata. Ternyata asap putih yang berhamburan dari biji-biji
sebesar kedele itu, juga mengandung racun. Paderi-Paderi
yang terkena asap beracun itu, matanya membengkak merah.
Thian Gi segera bertindak memberi aba-aba agar sisa
barisan yang masih belum terluka atau yang hanya terluka
ringan, cepat membentuk lingkaran pagar untuk melindungi
kawan-kawan yang terluka.
Ketika anakbuah barisan Lo-han-tin bergerak melaksanakan
perintah pemimpinnya, ternyat utusan Seng-lian-kau itu sudah
melayang keluar dari kepungan barisan. Pada saat hendak
loncat keluar pintu, orang itu masih sempat berseru "Cukuplah
kiranya dua buah bingkisan yang kuberikan kepada kalian.
Masih banyak lagi macamnya. Tunggu saja kelak kalau partai
Siau-lim-si membangkang memenuhi undangan kami!"
Paderi Thian Gi marah sekali : "Tunggu, aku hendak
mengadu jiwa dengan engkau !"
Habis berkata orang itu terus berputar tubuh dan loncat
pergi. Bruk . . . tiba-tiba ia membentur batok kepala seorang
manusia. Kepala orang itu bukan kepalang kerasnya sehingga
ia sampai terpental mundur dua tiga langkah. Dadanya terasa
sesak, darah meluap-luap hendak tumpah keluar
Ia hendak pejamkan mata untuk menerangkan darahnya
yang bergejolak keras itu. Tetapi pandangan matanya segera
terbeliak ketika terbentur pada seorang kakek pendek yang
berambut hitam. Dalam keremangan malam ia hampir tak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dapat mengenali kakek yang berdiri dihadapannya itu seorang
manusia atau setan.
"Apakah engkau ini manusia, hai!" tegurnya.
"Bagaimana engkau anggap diriku ini ?" kakek itu balas
bertanya.
"Aku masih bingung. Kalau manusia mengapa potongan
tubuhmu yang pendek itu seperti setan Tetapi kalau setan
mengapa bisa bicara seperti manusia", kata utusan Seng-lian-
kau.
Kakek pendek itu bukan lain adalah kakek Lo Kun. Setelah
menguras perutnya dan mencuci celananya sampai beberapa
jam, barulah ia keluar uutuk mencari kawannya. Tepat pada
saat itu ia melihat ramai-ramai yang terjadi di halaman gereja.
Di lihatnya rombongan paderi tengah menjerit dan berteriak
kesakitan. Dan pada lain saat seorang berpakaian hitam loncat
hendak keluar dari lingkungan halaman.
Lo Kun dapat membedakan. Penghuni gereja itu, baik tua
muda, besar kecil, semua berkepala gundul. Kalau orang itu
berambut, jelas tentu bukan anakbuah gereja disitu. Dan
menilik paderi-paderi itu sama menjerit kesakitan, tentulah
orang berpakaian hitam itu yang mencelakai mereka. Maka
tanpa banyak pikir lagi, kakek Lo Kun terus lari dan
membenturkan kepalanya. Tepat pada saat itu utusan Seng-
lian-kaupun berputar tubuh dan loncat keluar. Benturan tak
dapat terhindar lagi, antara kepala kakak Lo Kun dan dada
utusan Seng-lian-kau. Akibatnya dada orang itu terasa ampek
hampir tak dapat bernapas.
Sambil bicara orang itupun sudah merogoh kedalam baju
dan menjemput segenggam Hek-yan piau yang ganas.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, jangan main bunuh disini " tiba-tiba dari belakang
paderi Thian Gi pun tiba. Melihat utusan Seng-lian-kau itu
hendak menaburkan senjata-rahasia beracun kepada kakek Lo
Kun cepat ia berseru dan menerjang dengan tongkat sian-
ciangnya.
Mendengar kata-kata itu dan melihat Thian taysu
menerjang orang itu, kakek Lo Kun pun segera bertindak. Ia
pikir, orang itu tentu seorang penjahat yang hendak melarikan
diri. Maka kontan saja ia terus loncat menyeruduk dengan
kepalanya. Memang kakek itu memiliki batok kepala yang luar
biasa kerasnya. Karang dan pohonpun dapat diseruduknya
hancur.
Prak . . . duk . . terdengar dua buah suara yang berbeda.
Yang satu suara kepala dibantai tongkat dan yang satu kepala
dada diseruduk kepala. Dan dua-duanya, kakek Lo Kun ia dan
Thian Gi taysu terjerembab jatuh ke tanah. Apakah yang telah
terjadi ?
Ternyata utusan Seng-lian-kau itu menang lihay dan tajam
matanya. Ketika ia tahu dari belakang akan diserang oleh
paderi Thian Gi dan dari muka akan ditanduk dengan kepala
kakek Lo Kun, gesit laksana burung walet, ia melambung
keatas dan diudara ia bergeliatan tubuh seraya taburkan
senjata-rahasia Hek-yan-piau kearah kedua penyerangnya itu.
Karena sedang berhantam sendiri, kakek Lo Kun dan paderi
Thian Gi terkena timpukan lawan Kakek Lo Kun terkena
pantatnya dan Thian Gi taysu terpanggang bahunya,
Kakek Lo Kun tengel-tengel hendak bangun tetapi tiba-tiba
ia menjerit : "Aduh ! Mengapa pantatku kaku begini ?"
Kakek itu mendekap pantatnya dan berusaha untuk
mengusap-usap : "Hai, apakah ini ?" tiba-tiba pula ia berteriak
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
dan menjemput dua buah benda hitam yang menancap di
pantatnya, "burung walet kecil, kurang ajar, inilah yang
menyebabkan pantatku kaku !"
Habis berkata kakek itu terus hendak membanting benda
itu tetapi tiba-tiba paderi Thian Gi berseru : "Itu senjata-
rahasia beracun dari orang tadi, lotiang !"
"Senjata beracun ?*'
"Ya, lotiang terkena taburan senjata beracun dari orang itu.
Aku sendiripun terkena juga pada bahuku Rasa bahuku
sekarangpun sudah mulai kaku," kata Thian Gi taysu seraya
menggerak-gerakkan bahunya supaya lemas.
"Lalu kemana orang itu ?" tanya Lo Kun.
"Melarikan diri."
"Celaka, mengapa tak ditangkap," tiba-tiba kakek itu terus
hendak berbangkit dan mengejar. Tetapi seketika itu juga ia
menjerit: "Aduh . . pantatku tak dapat bergerak"
Thian Gi taysu tahu kalau kakek itu memang limbung, la
geli dan kasihan, serunya : "Lotiang harap lotiang
menjalankan pernapasan untuk menutup menjalarnya racun
itu ke tubuh lotiang. Aku pun juga akan berbuat demikian."
Habis berkata paderi Thian Gi terus duduk bersila pejamkan
mata, menyalurkan tenaga dalam untuk mencegah racun
masuk kedalam tubuh.
"Huh, tak perlu, masakan racun begini sajaj aku tak dapat
menyembuhkan," gumam kakek Lo Kun yang lalu
mengeluarkan sebuah benda yang merah warnanya. Ia
mencabik sedikit lalu memakannya. Seperempat jam
kemudian, ia sudah dapat berdiri dan terus menghampiri ke
tempat paderi Thian Gi.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Lihatlah, aku sudah sembuh," katanya dengan bangga,
"engkau juga kuberi obat ini. Tentu sembuh seketika."
Thian Gi membuka mata. Dilihatnya memang kakek pendek
itu sudah berdiri dihadapannya dengan paras berseri. Ia
heran.
"Obat apakah itu '" tanyanya sambi! memandang benda
merah yang diangsurkan kakek itu.
"Bangkai kelabang," sahut kakek Lo Kun.
"Bangkai kelabang ?" Thian Gi taysu terbeliak heran.
"Percayalah kepadaku, engkau pasti sembuh dari racun itu.
Kalau mati, kuganti jiwamu !"
Karena melihat kakek itu memang sudah sehat dalam
beberapa kejab saja dan mengetahui bahwa walaupun
limbung tetapi kakek pendek itu seorang yang polos, akhirnya
Thian Gi mau juga menelan benda merah itu. Setelah menelan
ia lalu pejamkan mata dan menyalurkan peredaran darah.
Benar juga tak berapa lama, Thian Gi taysu rasakan
lengannya sudah lemas dan dapat digerakkan seperti biasa
lagi. Ia segera bangkit dan menghaturkan terima kasih kepada
kakek Lo Kun Ia tak mau bertanya panjang lebar lagi tentang
benda merah yang luar biasa khasiatnya itu. Tetapi ia tetap
tak percaya kalau itu terbuat dari bangkai kelabang.
"Mana kawan kawanku?"tanya kakek Lo Kun
"Masih di dalam," kata Thian Gi taysu. Ia menerangkan
bahwa kakek bungkuk juga terkena senjata racun dari orang
tadi.
"Hai, lekas bawa aku kepadanya," kakek Lo Kun berreriak
kaget dan tanpa tunggu hian Gi berjalan, kakek itu terus lari
mendahului masuk ke dalam halaman belakang.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Ia terkejut menyaksikan keadaan dalam gereja itu.
Berpuluh-puluh paderi masih rubuh ditanah dan sedang
diangkut kedalam oleh kawan-kawannya. Dan yang lebih
mengejutkan lagi ketika ia melihat kakek Kerbau Putih sedang
ditolong Blo'on Buru-Buru ia lari menghampiri.
"Kenapa setan kerbau itu?" tanyanya kepada Bloon.
"Dia terkena senjata-rahasia beracun dari seorang yang
mengaku menjadi utusan Seng-lian-kau' Blo'on memberi
keterangan.
"Lalu apakah dia tak dapat bangun ?"
"Ya, kakinya kaku tak dapat digerakkan."
"Potong sajalah!" kakek Lo Kun berkata seenaknya sendiri
lalu mengambil pisau dan terus hendak memotong paha kakek
Kerbau Putih.
"Setan Lo Kun, jangan gila-gilaan engkau !' teriak kakek
Kerbau Putih seraya mendupaknya dengan kaki kanan.
"Ya, petlu apa orang setolol engkau diberi kaki ?" ejek
kakek Lo Kun.
"Lalu bagaimana, aku memang terkena senjata-rahasia
yang beracun ?" kakek Kerbau Putih menggeram.
"Aku juga terkena pantatku, malah sekaligus terkena dua
buah senjata beracun bangsat itu” kata kakek Lo Kun seraya
berputar tubuh dia unjukkan pantatnya ke muka kakek Kerbau
Putih "nih, lihatlah sendiri !"
"Setan pendek, tutuplah lekas, pantatmu masih bau," teriak
kakek Kerbau Putih demi melihat kakek Lo Kun menyingkap
kain celananya sehingga pantatnya tertampak.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kurang ajar," teriak kakek Lo Kun, "sudah hampir'setengah
malam aku mencuci dan membersihkan pantat dan celana
dengan air, masakan masih bau. Kalau tak percaya, ciumlah
pantatku ini! Jika masih bau boleh kau pukul kepalaku"
Kakek Lo Kun terus ajukan pantatnya ke dekat muka kakek
Kerbau Putih.
"Enyah !" kakek Kerbau Putih marah dan mendorongnya.
"Tidak bisa," bantah kakek Lo Kun, "engkau harus
mengatakan dulu kalau pantatku sudah tak bau baru aku mau
menutupnya lagi."
Memang gila ! Kalau para paderi Siau-lim-si sedang sibuk
menolong kawan-kawannya yang terluka, kakek Lo Kun dan
kakek Kerbau Putih ribut-ribut soal pantat. .
Akhirnya Blo'on tak sabar juga : "Sudahlah, jangan ributkan
soal pantatmu lagi, kakek Lo Kun Kakek Kerbau Putih ini
sedang menderita luka, ia tak dapat berjalan, kita harus lekas
menolongnya" Kakek Lo Kun menurut. Sambil menutup
celananya ia tertawa: "Sebenarnya hal itu mudah saja
buktinya lihatlah aku. Aku juga terkena senjata beracun itu
tetapi dengan cepat saja sudah sembuh."
"Apa obatnya?" kakek Kerbau Putih nyelutuk.
"Kerbau goblok “' bentak kakek Lo Kun, "masakan engkau
lupa ? Bukankah engkau masih menyimpan bangkai kelabang.
Itu dia. Obat yang paling mustajab untuk segala racun !"
"Gila !" teriak kakek Kerbau Putih, "mengapa aku tak
ingat?" ia terus mengeluarkan bangkai kelabang yang
disimpan dalam bajunya. Bangkai kelabang yang umurnya
ratusan tabun dan dapat mengeluarkan mustika itu, dibagi
dua. Kakek Lo Kun separoh dan kakek Kerbau Putih separoh.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kemudian kakek Kerbau Putihpun lalu menelan segempil
bangkai kelabang. Tak berapa lama diapun sembuh dari
lukanya dan dapat berjalan seperti biasa pula, '
Hui Liang taysu heran melihat kakek Kerbau Putih sudah
sembuh dalam waktu yang begitu cepat
"O, lotiang Sudah sembuh ?" serunya namun paderi itu
malu untuk menanyakan obat yang menyembuhkan si kakek.
"Jangan kuatir," sahut kakek Kerbau Putih sambil
busungkan dada, "jangankan hanya racun dari senjata-rahasia
begitu, sekalipun yang lebih hebat dari itu aku tetap dapat
sembuh."
"O, syukurlah . . . "
"Dan engkau bagaimana paderi ?" tanya kakek Kerbau Putih
serta melihat wakil ketua Siau-lim si itu masih duduk bersila di
tanah, menjalankan tenaga-dalam untuk menghalau racun.
"Mudah-mudahan akan sembuh," sahut Hui Liang taysu.
"O, mengapa engkau tak minta obat kepada ku ?" seru
kakek Kerbau Putih, "duduk bersila menjalankan pernapasan
untuk menghalau racun, makan waktu lama."
Hui Liang taysu mengkal. Mengapa harus minta ? Bukankah
kakek rambut putih itu tahu kalau ia terkena senjata-rahasia
beracun ? Kalau memang mau menolong, tanpa diminta tentu
sudah memberi obat sendiri.
Hui Liang taysu tetap mempertahankan gengsi. Ia tak mau
membuka mulut minta obat kepada kakek Kerbau Putih.
Tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa banyak sekali anakbuahnya
yang menjadi anggauta barisan Lo-han-tin telah menderita
luka beracun. Bagaimana hendak menolong mereka ?
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Apakah lotiang pandai mengobati?” akhirnya wakil ketua
Siau-lim-si itu menggunakan akal.
"Siapa bilang aku tak bisa ? Huh, jangankan luka begitu,
orang yang sudah mau mati, pun aku dapat
menyembuhkannya."
"Benarkah ?" Hui Liang taysu menegas, "ah, mungkin tidak
..."
"Engkau tak percaya?" teriak kakek Kerbau Putih, "cobalah
engkau mengangakan mulut dan telan saja apa yang akan
kumasukkan kedalam mulutmu”
Dan tanpa menunggu orang setuju atau tidak, kakek
Kerbau Putih terus mengambil sebuahbungkusan dari dalam
bajunya. Memutus sedikit bangkai kelabang, terus hendak
diminumkan.
"Tetapi mengapa tak mengangakan mulut ? melihat mulut
Hui Liang taysu masih mengatup kakek Kerbau Putih terus
ulurkan tangan kiri, menekan kedua pipi paderi itu hingga
mulutnya terbuka. Secepat kilat, cuwilan bangkai kelabangpun
terus disusupkan kedalam mulut : "Telan . . . !"
Hui Liang taysu terkejut, la tak menyangka kalau dirinya
akan diperlakukan seperti anak kecil saja. Tetapi karena kakek
Kerbau Putih bergerak cepat sekali wakil ketua Siau-lim-si itu
tak sempat berbuat apa-apa lagi.
Hui Liang rasakan tubuhnya disaluri oleh arus hawa hangat.
Bermula timbul dari perut lalu menjalar keseluruh tubuh. Dan
tak berapa lama ia rasakan punggung dan bahunya yang
terluka dapat bergerak seperti biasa.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Terima kasih, lotiang," wakil ketua Siau lim si itu
berbangkit dan serta merta menghaturkan terima kasih
kepada kakek Kerbau Putih.
"Engkau percaya sekarang?" tanya kakek itu.
"Ya, lotiang memang sakti," Hui Liang taysu tertawa. Tiba-
Tiba ia teringat akan nasib anakbuah barisan Lo-han-tin.
Segera ia ayunkan langkah hendak meninjau keadaan mereka.
“Kemana ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Menolong anakbuah barisan Lo-han-tin. Mereka juga
terluka," jawab Hui Liang taysu.
Blo'on dan kedua kakek mengikuti langkah Hui Liang
menuju kesebuah paseban. Disitu penuh dengan paderi-paderi
Siau-lim-si yang menggeletak dan merintih-rintih. Tampak
kesibukan yang menonjol pada para paderi yang hendak
melakukan pertolongan. Demi melihat wakil ketuanya
melangkah masuk, para paderi yang sibuk memberi
pengobatan itupun berhenti dan memberi hormat.
"Bagaimana keadaan mereka ?" tegur Hui Liang kepada
paderi Thian Gi
"Parah," sahut Thian Gi, "walaupun sudah, diberi Toh-beng-
ki-tok-tan, racun tetap bekerja Mereka tak dapat
menggerakkan tubuhnya."
Hui Liang taysu kerutkan dahi lalu berpaling kepada kakek
Kerbau Putih. Tetapi sebelum wakil ketua Siau-lim-si itu
membuka mulut, kakek Kerbau Putih sudah mendahului : "Ai,
sial benar. Kalau engkau minta obat untuk sekian banyak ke
pala gundul, obatku tentu habis!"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih berpaling pula ke-arah kakek
Lo Kun : "Hai, setan pendek, hayo berikan obatmu kepada
mereka."
"Uh, engkau kan juga punya, mengapa harus obatku yang
diminta ?" kakek Lo Kun bersungut
"Obatku hanya tinggal sedikit. Sekarang obat sirnpananmu
itu," seru kakek Kerbau Putih.
Tiba-Tiba kakek Lo Kun menghitung : "Satu, du tiga, empat,
lima, enam, tujuh . . ." ia terus menghitung jumlah paderi
yang terluka.
"Enampuluh ekor !" tiba-tiba ia berhenti, "amboi ! Mengapa
begitu banyak yang terluka ?" kemudian ia berpaling kepada
kakek Kerbau Putih dan berteriak : "Tidak, Kerbau Putih !
Obatku tentu habis kalau dipakai untuk mengobati sekian
banyak orang ..."
"Ho, benar, benar, setan pendek," seru kakek Kerbau Putih,
"pun kalau obat kita berdua dipakai semua, juga tetap masih
kurang. Lebih baik tak diberikan saja !"
Mendengar itu Blo'on tak senang hati.Di anggap kedua
kakek itu terlalu mementingkan kepentingan diri sendiri saja.
"Kakek berdua, jangan begitu pelit. Menolong jiwa orang itu
penting. Obat habis biarlah besok kita cari lagi ..." ]
"Huh, enak saja engkau omong ' teriak kakek Lo Kun
"dalam gua diperut gunung itu sudah tak ada lagi binatang
yang begitu. Kemana kita harus cari penggantinya? Engkau
juga punya obat. hai, benar, benar, engkau sendiri juga punya
obat yang lebih manjur untuk menyembuhkan racun Hayo,
keluarkanlah !"
"Aku ?" Bloon terkejut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Ya, bukankah engkau menyimpan mustik kelabang itu ?'
seru kakek Lo Kun.
"Maksudmu benda sebesar kacang yang memancar sinar
merah itu T'
"Itulah !" seru kakek Lo Kun.
Blo'on cepat mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Setelah
dibuka, isinya benda merah sebesar kacang : "Lalu bagaimana
cara menggunakannya ?"
Kakek Lo Kun juga bingung. Akhirnya kakek Kerbau Putih
yang buka suara : "Mustika itu harus direndam dalam air lalu
minumkan air itu kepada mereka yang kena racun."
"Hai, kepala gundul, ambilkan segelas air !" segera Lo Kun
berseru kepada seorang paderi.
Walaupun mendongkol karena disebut 'kepala gundul' tetapi
karena Hui Liang taysu memberi isyarat, paderi itupun segera
mengambilkan.
Setelah menerima gelas berisi air, Blo'on lalu memasukkan
mustika kelabang ke dalamnya. Aneh air yang berwarna putih
seketika berobah merah darah warnanya. Tetapi apabila
mustika diambil, airpun kembali berwarna putih lagi
"Hayo, kita obati mereka," kata Blo’on lalu menghampiri
kawanan paderi yang terluka itu. Dengan dibantu oleh kedua
kakek, kakek Lo Kun yang mengangakan mulut dan kakek
Kerbau Putih yang memijat hidung, Blo'on lalu meminumkan
air rendaman mustika itu ke mulut setiap paderi.
Demikian setelah minta air sampai berpuluh gelas, akhirnya
Blo'on dapat meminumkan air obat kepada paderi-paderi yang
terluka.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memang hebat benar khasiat mustika kelabang itu.
Beberapa waktu kemudian tampak paderi anakbuah barisan
Lo-han-tin itu dapat bergerak dan bangun.
Melihat itu Hui Liang taysu girang sekali. Segera menjurah
menghaturkan terima kasih kepada Blo'on dan kedua kakek.
Tindakan wakil ketua Siau-lim-si itu diikuti oleh seluruh
anggauta barisan Lo-han-tin yang terdiri dari 108 orang
paderi.
Blo'on senang karena dapat menolong orang. Ia
menyimpan lagi mustika itu ke dalam bajunya.
Sebagai pernyataan terima kasih, Blo'on dan kedua kakek
diperlakukan sebagai tetamu agung oleh fihak Siau-lim-si.
Mereka ditahan dan diminta bermalam di gereja situ.
Malamnya diadakan perjamuan untuk menghormat mereka.
Walaupun paderi Siau-lim-si pantang makan daging dan
minum arak tetapi untuk ketiga tetamu itu telah di sediakan
hidangan yang lezat.
Keesokan harinya, Blo'on bertiga pamit. Mereka hendak
menuju kegunung Butong-san, meminta keterangan kepada
perguruan Bu-tong-pay.
"Ah, rasanya Bu-tong-pay juga serupa dengan Siau-lim-si.
Mereka hanya dapat memberi keterangan seperti yang
kukatakan tadi," kata Hui Liang.
"Tak apa," kata Blo'on, "siapa tahu mereka dapat memberi
keterangan kepadaku."
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kakek Lo Kun menyelutuk :
"Kemanakah sekarang kita ini ?"
"Bu-tong-san" sahut Blo'on.
"Mengapa ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Minta keterangan kepada ketua Bu-tohg-pay tentang Bu
Bun lojin dan perkumpulan Teratai-putih." kata Blo'on.
"Engkau sudah tahu dimana letak gunung Bu tong-san itu?"
tanya kakek Lo Kun pula.
"Siapa bilang aku sudah tahu ?"
"Gila ! Bagaimana kita dapat mencapai tempat itu ?" Lo Kun
mendelik.
"Tolol engkau !" teriak Bloon, "diatas bumikan banyak
gunung. Salah satu tentu gunung Bu-tong-san. Mengapa hal
yang begitu mudah engkau tak tahu ?"
"Tetapi tujuan aku dan Lo Kun keluar dari guha, adalah
hendak mengantar engkau menghadap raja. Bukan mencari
Bu Bun lojin," tiba-tiba kakek Kerbau Putih ikut buka suara.
"Ya, benar, benar, kami berdua hendak mengantar engkau
ke kota raja menghadap raja. Perlu apa ke gunung Bu-tong-
san ?" teriak Lo Kun.
Blo'on garuk-garuk kepala.
"Tetapi aku sudah berjanji dengan kakek tengkorak dalam
guha. untuk mencarikan muridnya yang bernama Bu Bun.
Kalau aku tak mencarikan, kan namanya aku ini ingkar janji "
bantah Blo'on.
"Bukan ingkar janji" kata kakek Kerbau Putih, "kita tetap
mencari Bu Bun lojin itu tetapi tidak harus sekarang. Karena
kita masih mempunyai lain urusan yang penting. Apakah
engkau tak ingin bertemu dengan ayahmu yang jadi raja itu? "
"Entahlah . .," Blo'on garuk-garuk kepala. ]
"Entah ? Apa engkau ini gila ?" kakek Kerbau Putih terbeliak
heran, "masakan orang tak mau melihat bapaknya ? Sayang
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
aku sudah tak punya bapak, kalau bapakku masih hidup tentu
aku akan senang sekali menemuinya."
"Bukan aku tak senang," bantah Blo'on, "tetapi aku benar-
benar tak ingat bagaimana bapakku itu. Dan akupun sudah
lupa apakah aku ini mempunyai bapak atau tidak ..."
"Ho, engkau ini anak manusia atau anak setan ?" tiba-tiba
kakek Lo Kun menyelutuk,
"Itulah yang hendak kuselidiki. Kalau anak setan, mengapa
aku ini seorang manusia seperti kalian. Tetapi kalau anak
manusia, aku merasa tak tahu siapa bapakku."
"Somali mengatakan bahwa engkau ini anak raja maka
engkau boleh menghadap raja dan tanya kepadanya apakah
engkau ini anaknya atau bukan kata kakek Kerbau Putih.
"Mudah-mudahan begitu," kata Blo'on, "karena aku sendiri
sudah tak ingat."
"O, engkau tak dapat mengingat dirimu siapa dan siapa
pula bapakmu itu ?” tanya kakek Kerbau Putih
"Benar," sahut Blo'on, "aku memang menderita semacam
penyakit aneh ialah tak ingat lagi semua peristiwa yang
lampau."
"Apakah otakmu masih ?" tiba-tiba pula kakek Lo Kun
berseru.
"Entah masih ada entah sudah kosong, mana aku tahu ?"
jawab Blo'on,
"O, berbahaya," seru kakek Lo Kun, "harus diperiksa apakah
otakmu masih atau sudah hilang"
"Kalau masih ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau masih, tehtu ada penyakitnya. Dan penyakit itu
harus diobati," kata kakek Lo Kun dengan nada seperti
seorang tabib.
"Kalau sudah hilang ?" tanya Blo'on.
"Harus diisi lagi dengan otak baru !"
Blo'on terkesiap, serunya: "Dengan otak apa?"
Dengan sikap seperti seorang tabib yang pandai, berkatalah
kakek Lo Kun : "Dengan otak apapun boleh. Otak anjing, otak
kerbau, otak babi, otak monyet ..."
"Tidak sudi !" teriak Blo'on agak marah, "masakan otak
orang hendak diganti dengan otak binatang. Aku minta diganti
dengan otak manusia juga !"
Kakek Lo Kun mendelik : "Otak manusia ? Lalu manusia
siapa yang mau memberikan otaknya kepadamu ?"
"Kifa cari orang itu. Masakan di dunia yang begini luas tak
ada manusia yang mau menyerahkan otaknya untuk menolong
orang yang sakit seperti diriku ini," gumam Blo'on.
"Ada ! Ya, engkau benar. Memang ada manusia yang dapat
kita ambil otaknya !" tiba-tiba kakek Lo Kun menjerit. .
"Siapa ?" Blo'onpun ikut tegang,
"Orang mati "
"Tidaaakkk!" Blo'on serentak memekik, "pakai otak orang
mati. kan jadi orang mati nanti !"
Kakek Lo Kun merenung. Sesaat kemudian ia berkata :
"Soal cari otak, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang yang
penting, akan kuperiksa dulu isi kepalamu itu. Masih ada
otaknya atau tidak."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagaimana caranya memeriksa ?'
Sambil menunjuk ke sebatang pohon besar yang tumbuh
ditepi jalan, kakek Lo Kun berkata: "Mari kita istirahat di sana,
nanti akan kubelah kepalamu dengan pisau."
Mendengar itu kakek Kerbau Putih melongo dan Blo'onpun
mendelik seperti orang dicekik setan .....
---ooo0dw0ooo---

Jilid 10
Teratai - Melati
Kakek Lo Kun tak menghiraukan perobahan wajah Bloon
yang menyeringai seperti monyet mencium terasi dan wajah
kakek Kerbau Putih yang menyengir kuda.
"Hayo kita beristirahat dibawah pohon itu," kakek Lo Kun
terus menyeret tangan Blo'on diajak menuju kebawah
sebatang pohon besar.
Saat itu matahari sudah mulai condong ke-sebelah barat.
Hari sudah sore. Dan mereka berada di sebuah hutan.
Setiba di bawah pohon, kakek Lo Kun segera mendorong
Blo'on rebah di tanah. Sudah tentu Blo'on terkejut.
"Mau apa engkau ?" serunya.
"Membuka kepalamu." kata kakek Lo Kun seraya
mengeluarkan sebatang pisau dan secepat kilat tangan kirinya
menekan kepala Blo'on dan tangan kanan mengangkat pisau.
"Tulung . . !” Blo'on menjerit sekeras-kerasnya dan
meronta-ronta,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Huk, huk . . . jeritan Blo'on itu telah membangkitkan
kemarahan anjing kuning dan kedua kawannya. Bermula
mereka diam saja karena sudah kenal siapa kakek Lo Kun.
Dan merekapun tak berbuat apa-apa karena melihat Bloon
rebah di tanah. Bahkan anjing Kuningpun ikut rebahkan diri,
rajawali dan monyet hinggap di atas pohon.
Tetapi mendengar Blo'on menjerit minta tolong dan
meronta-ronta, anjing Kuning serentak berbangkit. Demi
melihat kakek Lo Kun hendak membelah kepala Blo'on dengan
pisau, anjing Kuning terus loncat menerkam punggung kakek
itu. Dan serempak dengan itu, dari atas burung rajawali serta
monyet hitam berhamburan melayang turun. Rajawali
mencengkeram kepala dengan cakarnya yang tajam. Monyet
mencemplak tengkuk terus menggigit daun telinga..
"Aduh . . aduh . . jahanam . . keparat . !" karena diserang
oleh tiga binatang yang nakal, ka kek Lo Kun menjerit-jerit
seperti babi hendak disembelih.
Ia melonjak-lonjak seperti orang menginjak api dan bingung
untuk menghalau binatang-binatang itu. Kalau menampar
burung rajawali, anjing masih menerkam punggung. Kalau
menghalau anjing, kepalanya masih diterkam rajawali. Kalau
dengan kedua tangannya menampar rajawali dan memukul
anjing, monyet hitam masih hinggap ditengkuknya dan tak
henti-hentinya menggigiti daun telinga.
"Blo'on, lekas suruh mereka berhenti !" teriak kakek itu
sambil melonjak-lonjak dan menampar-nampar ketiga
binatang itu.
Rupanya ketiga binatang itupun tak mau sungguh-sungguh
melukai si kakek. Mereka rupanya tahu kalau kakek itu
sahabat dari Blo'on. Mereka hanya menggoda kakek itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on tertawa terpingkal-pingkal. Demikian pula dengan
kakek Kerbau Putih.
"Blo'on, kalau engkau tak mau menghentikan anakbuahmu,
aku tak mau mengobati kepalamu " teriak Lo Kun pula.
"Hi, hi," Blo'on tertawa, "aku tak mau dengan cara
pengobatan yang begitu gila. Masa kepala mau engkau belah!"
"Ya, ya, tidak, tidak jadi!" seru kakek Lo Kun, "dengan lain
cara saja."
Karena melihat kakek itu sudah tobat. Blo'on kasihan dan
berseru suruh ketiga binatang itu pergi. Rupanya binatang itu
memang taat kepada tuannya. Mereka berhamburan
melepaskan si kakek Lo Kun.
Sambil mengemasi rambutnya yang morat-marit diobrak-
abrik rajawali, telinganya yang berdarah karena digigit monyet
dan bajunya yang robek karena diterkam anjing Kuning, kakek
Lo Kun mengomel dan memaki-maki.
"Sudahlah, setan pendek," bentak kakek Kerbau Putih,
"jangan mengomel seperti orang perempuan tua begitu.
Engkau memang gila, masakan kepala anak itu hendak engkau
belah.
"Bukankah otaknya sakit ?" sahut kakek Lo Kun, "kalau
kepalanya tak dibuka bagaimana tahu otaknya masih ada atau
tidak ?"
"Sudah, jangan gila-gilaan. Engkau bukan tabib, bagaimana
engkau berani membuka kepala orang. Apakah engkau
mampu mengembalikan lagi? Dan kalau kepalanya engkau
belah, dia tentu mati. Kalau tak percaya, boleh coba.
Kepalamu kubelahnya," geram kakek Kerbau Putih.
Lo Kun diam tak menyahut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Sekarang sambil beristirahat kita rundingkan bagaimana
kita hendak menuju. Kegunung Bu-tong san atau ke kota raja
atau ke lain tempat lagi," kata kakek Kerbau Putih pula.
"Ke Bu-tongsan !" seru Blo'on.
"Tahu jalannya?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Tidak."
"Ke kota raja saja!" teriak Lo Kun.
"Tahu jalannya ?" tanya kakek Kerbau Putih Kakek Lo Kun
gelengkan kepala.
"Hm, kalian memang hanya menggoyangkan! lidah tetapi
tak tahu apa-apa. Ke Bu-tong-san, kekota raja, tetapi tak tahu
jalannya," gumam Kerbau Putih
"Apakah engkau tahu jalannya ?" kakek Lo Kun bersungut.
Jawab kakek Kerbau Putih : "Aku sendiri juga tidak tahu
maka sebaiknya kita putuskan begini saja. Kita terus jalan
menuju ke muka sana. Entah nanti sampai dimana. Kalau
sampai di Bu-tong-san ya kita terus mencari ketua Bu-tong-
pay, kalau sampai di kotaraja ya kita menghadap raja'"
"Setuju !" teriak kakek Lo Kun tetapi pada lain kilas ia
menjerit pula, "cara macam apa itu ? Bagaimana kalau kita
ketemu sungai dan gunung?
"Itu bukan halangan ! sahut kakek Kerbau Putih, "ketemu
sungai kita seberangi, ketemu gunung kita lintasi, ketemu
hutan kita terobos !"
"Ya. kalau begitu aku mau", kata kakek Lo Kun. Dan
Blo'onpun menurut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih tak tahu arah yang ditunjuk itu sebelah
mana. Pokoknya ia menunjuk kesebelah muka. Dan kebetulan
arah yang ditunjuk kakek itu ialah menuju ke utara.
"Lalu bagaimana sekarang ini ? Matahari sudah hampir
silam, apakah kita melanjutkan perjalanan atau tidur disini?"
tanya kakek Kerbau Putih
"Tidur disini atau melanjutkan perjalanan, bagiku sama
saja." kata kakek Lo Kun, "pokok asal engkau dapat menjamin
perutku yang sudah kosong ini !"
"Huh, kakek pendek, kemana-mana engkau selalu
mementingkan perutmu saja. Ingat, apakah engkau tidak
kapok mengalami kejadian seperti di gereja Siau-lim-si itu ?
Karena kekenyangan dan terlalu kekenyangan dan banyak
minum arak, sehing ga perutmu sampai meletus"
"Hi, hi," kakek Lo Kun geli sendiri, "itu bukan salahku.
Masakan perutku sedang mulas, kawanan kepala gundul itu
terus menyerang. Karena kaget, isi perutkupun terus
berhamburan keluar".
Bloon geli-geli mendongkol, serunya: "Ya, enak saja engkau
mengosongi perut, tetapi kita yang celaka aku mau muntah.
Eh, mengapa baunya begitu luar biasa busuknya ? Apakah
yang engkau makan selama dalam guha ?"
"Seadanya," sahut kakek Lo Kun, "kalau dapat kijang, ya
makan kijang, Kalau harimau, ya makan harimau. Dan kalau
tak dapat apa-apa, bangsa cecak, kadal, cengkerik, ular,
tenggoret, uh, apa saja perutku mau menerima."
"Uh, kalau begitu perutmu itu merupakan kuburan bangkai-
bangkai binatang," Blo'on tertawa, "jangan kualir, kakek. Nanti
akan kusuruh binatangku itu mencarikan makan untukmu."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Bagus, Blo'on !" tiba-tiba kakek Lo Kun melonjak bangun,
"hayo kita jalan lagi. Mudah-mudahan bertemu dengan desa,"
Demikian ketiga manusia aneh dan binatang luar biasa itu
melanjutkan perjalanan pula. Mereka berjalan menurutkan
jalan yang terbentang dimuka. Entah sampai dimana, mereka
tak mempedulikannya.
Haripun makin gelap dan malam mulai tiba.
"Hai, apakah itu ?" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru sembari
menunjuk ke balik sebuah gerumbul pohon yang masih
sepemanah jauhnya.
Ketika Blo'on dan kakek Kerbau Putih memandang ke muka,
tampaklah segunduk benda hitam di balik gerumbul pohon.
"Rumah," seru kakek Kerbau Putih, "hai . . ia berteriak
kaget ketika kakek Lo Kun sudah lari mendahului.
Rupanya begitu mendengar kata-kata 'rumah' Lo Kun terus
tancap gas, lari kencang. Terpaksa kakek Kerbau Putih dan
Blo'on mengikuti.
Setelah melintasi gerumbul pohon yang merentang cukup
panjang ditepi jalan, Blo'on dan kakek Kerbau Putih melihat
kakek Lo Kun sudah menerobos masuk ke dalam sebuah
bangunan rumah. Rumah itu gentingnya dicat merah.
Dan setelah tiba, barulah kakek Kerbau Putih dan Blo'on
tahu kalau rumah itu sebuah kuil gunung yang sudah tak
terurus. Sebuah kuil tua untuk memuja para malaekat gunung
di daerah si tu.
"Gila !" begitu kakek Kerbau Putih dan Blo'on melangkah
masuk, kakek Lo Kun sudah menyambut dengan makian keluh
kemarahan, "masakan rumah ini kosong. Tiada orang, tiada
makanannya. Di meja hanya terdapat beberapa patung Saja."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Memang kuil itu kecil, hanya mempunyai sebuah ruangan
depan untuk sembahyangan. Di meja sembahyang terdapat
sebuah patung yang di cat dengan warna kuning emas. Di
kanan kiri meja pun terdapat dua buah patung setinggi orang.
Menilik keadaannya yang kotor dan penuh debu, tentulah kuil
itu jarang dikunjungi orang. Tetapi bangunannya masih cukup
kokoh.
Tiba-tiba kakek Lo Kun menghampiri patung yang berdiri di
kanan meja, terus ditaboknya, plak.... "Hai, patung, mana
makanan di meja itu? Engkau seorang penjaga yang rakus,
masakan sedikitpun tiada sisa makanan. Semua engkau
habiskan !"
"Sudahlah, kakek." kata Blo'on "jangan kualir, nanti akan
kusuruh binatang itu mencari makan untukmu."
Mendengar itu, kakek Lo Kun baru tak marah. Kakek Kerbau
Putih mengambil korek lalu menyalakan sisa lilin yang masih
terdapat di atas tatakan lilin.
"Kita tidur disini, besok kita lanjutkan perjalanan." kata
kakek Kerbau Putih.
Untunglah lantai tak berapa kotor. Setelah agak
dibersihkan, dapat dibuat tidur. Blo'onpun segera suruh anjing
Kuning, burung rajawali dan monyet mencarikan makanan dan
minuman.
Tak berapa lama setelah ketiga binatang itu pergi,
mendadak hujan turun. Memang sejak sore langit gelap
dengan awan hitam yang tebal.
Tiba-Tiba mereka mendengar suara derap kuda lari
mendatangi. Menilik riuhnya, tentulah bukan hanya seekor
tetapi tentu beberapa ekor kuda.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Celaka, ada orang datang," kata kakek Kerbau Putih.
"Peduli apa ?" sahut kakek Lo Kun, "tempat ini sudah lebih
dulu kita tempati. Kalau mereka mau tidur disini, tak bisa.
Harus tidur di luar."
"Tunggu, jangan bicara," kakek Kerbau Putih terus loncat
ke pintu kuil dan melongok keluar. Dilihatnya tiga orang
penunggang kuda tengah lari mendatangi. Mata kakek Kerbau
Putih yung tajam segera dapat melihat bahwa ketiga
penunggang kuda itu terdiri dari seorang pemuda cakap,
seorang lelaki setengah tua yang bermuka brewok dan
seorang imam tua.
Kakek Kerbau Putih terkejut melihat ketiga orang itu
membekal senjata tajam. Cepat ia lari masuk lagi.
"Tiga orang penunggang kuda yang membawa senjata
tajam. Tentu bukan orang baik." kata kakek Kerbau Putih
kepada Blo'on dan Lo Kun.
"Hajar saja," seru kakek Lo Kun.
"Jangan." cegah kakek Kerbau Putih, "kita belum tahu pasti
mereka itu orang jahat atau orang baik. Lebih baik kita tunggu
dulu. Mereka tentu akan meneduh di sini karena hujan."
"Tetapi mereka tentu akan mengetahui kita disini ?" kata
Blo'on.
Kakek Kerbau Putih merenung lalu berseru: "Kita pura-pura
jadi patung, tak mungkin mereka tahu"
"Jadi patung ?" kakek Lo Kun melongo.
"Sudahlah, jangan banyak mulut," bentak ka kek Kerbau
Putih, "lekas lumuri mukamu dengan debu kotoran dimeja itu.
supaya mereka mengira engkau benar-benar sebuah patung.
Dan berdirilah disisi patung itu." ,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kakek Kerbau Putih memberi contoh. Ia merangkum debu
yang menebal di atas meja lalu dilumurkan pada mukanya.
Kakek itu segera berobah hitam mukanya. Ia terus melangkah
dan berdiri tegak di samping patung yang berada di sebelah
kanan meja.
Kakek Lo Kun terpaksa menurut. Seketika ia berobah
seperti setan hitam. Blo'onpun juga. Dia berobah menjadi
setan gundul. Kakek Lo Kuu dan Blo on berdiri di sebelah
patung yang berada di samping kiri meja.
Kini kuil itu mempunyai enam buah patung. Patung dewa
penunggu hutan berada ditengah meja. Tiga patung berdiri
disamping kiri meja dan dua patung berada disamping kanan
meja.
"Huuhhh . . " kakek Kerbau Putih cepat meniup padam lilin.
Seketika ruang kuilpun gelap.
Seiring dengan padamnya lilin, di luar kuil terdengar bunyi
kuda berhenti. Lalu derap kaki orang melangkah masuk.
Seorang pemuda, seorang setengah tua dan seorang imam
tua.
"Hujan terkutuk," gumam lelaki setengah tua "menghalang
perjalanan saja. Untung di sini bertemu kuil gunung kalau
tidak, kita tentu basah kuyup."
"Hm, tak apa," kata imam tua itu, "sebentar hujan tentu
berhenti dan rembulan akan bersinar terang malam ini."
"Ah, didalam gelap sekali," kembali lelaki setengah tua itu
berseru.
"Ya, memangnya kuil gunung, tentu tak ada yang
mengurusi," kata imam tua pula.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Lelaki setengah tua itu mengambil korek lalu menyulutnya.
Ia maju ke muka meja sembahyang, memandang ke
sekeliling.
"Hai, kuil sekecil ini mengapa terdapat banyak patungnya ?"
seru lelaki setengah tua itu agak heran. Tiba-Tiba ia melihat
sisa kutungan lilin yang masih sedikit, "kebetulan masih ada
sisa lilin."
Ia terus menyulut lilin, lalu mengajak kedua kawannya
duduk. Tiba-Tiba ia lari keluar lalu masuk pula dengan
membawa guci arak dan buntalan makanan.
"Mari kita makan. Untung ketika lewat di kota tadi, aku
membeli arak dan kuweh bakpau. Kalau tidak, malam ini kita
bisa kelaparan." kata lelaki setengah tua itu dengan tertawa.
"Minum dulu untuk menghangatkan badan." kata lelaki
setengah tua itu. Ia menuang arak ke dalam sebuah cawan
lalu diangsurkan kehadapan si imam tua : "Maaf totiang,
tentulah totiang tak pantang minum arak, bukan ?"
"Aku seorang bebas, tak mau mengikat diriku pada suatu
pantangan. Yang penting hatinya harus bersih," kata imam tua
itu sambil menyambuti cawan arak terus diteguknya, "wah,
enak juga" Ketika arak tertuang di mulut si imam, maka
berhamburanlah hawa arak yang wangi. Demikian pula ketika
lelaki setengah tua itu meneguk cawannya. Seluruh ruang kuil
penuh bertaburan hawa arak yang wangi.
"Saudara Liok, hayo minumlah," kata lelaki setengah tua
seraya mengangsurkan cawan arak.
"Maaf, Bok kausu, aku tak biasa minum." kata pemuda
cakap itu dengan suara yang halus.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Eh, aneh," seru lelaki yang disebut Bok kausu itu. Kausu
artinya guru silat, la tertawa, "seorang lelaki harus bisa minum
arak. Saudara Liok belum tahu bagaimana rasanya arak itu.
Sekali coba pasti akan ketagihan."
"Terima kasih, Bok kausu," kata pemuda itu tersenyum,
"sudah terlanjur aku tak pernah minum, biarlah tak minum
saja agar jangan ketagihan."
Walaupun ditawari dan didesak berulang kali pemuda itu
tetap menampik, akhirnya Bok kausu pun minum sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara berkerucukan yang aneh
"Hai, suara apakah itu '?' serentak Bok kausu berteriak lalu
berbangkit memandang ke sekeliling ruang. Suara aneh itupun
berhenti.
"Aneh, seperti suara perut orang berkerucukan , karena
lapar." kata Bok kamu pula, "tetapi siapa? Patung-patung itu
masih berdiri ditempatnya dan masakan perutnya bisa
berbunyi ?"
"Ah, tentu suara tikus," kata imam tua sambil tertawa.
"Tidak, totiang," bantah Bok Kausu. "bukan tikus, karena
kalau tikus tentu lari. Tetapi tadi aku tak mendengar lain suara
lagi."
Imam tua tertawa : "Kalau begitu, tentulah patung dewa
penunggu kuil ini. Mungkin karena sudah lama tak mendapat
kunjungan orang, mereka tak pernah disembahyangi. Tak
heran kalau mereka memperdengarkan bunyi aneh untuk
minta minum”
"O, mungkin benar begitu," kata Bok kausu lalu menuang
arak ke dalam cawannya dan ditaruh dimeja didekat patung
bercat kuning emas, "maafkan, sin-beng (malaekat), hamba
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Bok Kiang kebetulan lalu dan meneduh di kuil ini. Hambu
haturkan arak untuk sin-beng. Mohon sin-beng suka memberi
restu agar tugas hamba untuk mencari putera ti-hu (residen)
yang diculik gerombolan Hu-yong-pang itu dapat hamba
ketemukan ..."
Demikian Bok kausu bersembahyang dan berdoa dihadapan
patung. Tak lupa iapun menaruhkan tiga biji bakpau di meja.
Setelah itu maka ia duduk pula. Setelah bersama kedua
kawannya makan bakpau dan minum arak, mereka mulai
bercakap-cakap. Hujan belum berhenti terpaksa mereka harus
menunggu.
"Apakah lembah Hu-yong-koh itu masih jauh ?" kedengaran
pemuda cakap itu bertanya.
"Sudah dekat," kata Bok kausu, "lembah itu berada di
gunung Bik nui san Dan saat ini kita sudah masuk daerah
gunung itu."
"Apakah paman tahu letak lembah Hu-yong koh itu ?" tanya
sipemuda cakap pula.
"Aku belum pernah kesana,"kata Bok kausu " dan lembah
itu memang baru sekarang terkenal. Sejak dahulu belum
pernah kudengar nama lembah yang begitu aneh."
"Benar, Bok kausu," sambut imam tua, "memang sejak
berpuluh tahun berkelana di dunia persilatan, belum pernah
kudengar nama itu. Hu-yong koh, uh. aneh juga nama itu . . ."
Hu-yong-koh artinya Lembah Melati.
"Sesuai dengan namanya, tentulah lembah itu menjadi
markas dari Partai Melati," kata si pemuda cakap
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar," sahut Bok kausu, "memang Partai Melati itu baru
saja berdirinya. Murid-muridnya terdiri dari gadis-gadis cantik.
Demikian pula dengan ketuanya,"
"Siapakah nama ketuanya?" tanya si pemuda
"Kabarnya bernama Hu Yong Sian-cu atau Dewi Melati,"
kata Bok kausu lalu menatap imam tua, tanyanya : "Totiang,
apakah totiang pernah mendengar nama itu ?"
Imam tua kerutkan dahi, merenung. Sesaat kemudian
berkata : "Tidak pernah. Sepanjang ingatanku, di dunia
persilatan Tiong-goan ini hanya terdapat dua tokoh wanita
sakti yaitu Hiang Hiang niocu dan Lam-hay Bi Jin atau Ratu
cantik dari Laut Kidul. Tetapi Ratu Laut Kidul itu kabarnya
sudah meninggal. Dan kini hanya tinggal Hiang Hiang niocu
saja. Dewi Melati ini, tentulah seorang tokoh baru."
Bok Kiang mengiakan : "Memang baru lebih kurang dua
tahun ini dunia persilatan gempar dengan kemunculan sebuah
partai baru yang menamakan dirinya Hu-yong-pang atau
Partai Bunga Melati."
"Tentulah kegemparan itu disebabkan karena ketua dan
murid-murid Partai Melati mempunyai ilmu kepandaian yang
sakti," kata si pemuda tampan.
"Mungkin begitulah."
"Ih, mungkin ? Adakah mereka belum pernah bertempur
dengan orang-orang persilatan ?" tanya pemuda itu heran.
Bok Kausu menghela napas : "Memang pernah kudengar
kabar-kabar tentang kesaktian partai baru itu. Tetapi yang
menggemparkan bukan ilmu kesaktian mereka ..."
"Lalu ?" pemuda tampan makin heran.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Begini hiante," kata Bok kausu, "yang menimbulkan
kegemparan dunia persilatan setelah kemunculan Partai
Melati, ialah adanya peristiwa-peristiwa yang aneh."
"Peristiwa aneh bagaimana, kausu, "makin meluaplah
keinginan tahu dari pemuda cakap itu.
"Sejak munculnya Partai Melati, baik dalam kalangan partai-
partai maupun perguruan silat, banyak yang kehilangan murid-
muridnya yang muda. Demikian pula sering terjadi lenyapnya
pemuda-pemuda dari rumah. Tanpa bekas dan tak diketahui
jejaknya sama sekali."
"Lalu apa hubungan Partai Melati dengan hilangnya
pemuda-pemuda itu ?" tanya pemuda tampan.
"Memang bukti belum nyata. Tetapi kecurigaan patut
dilontarkan kepada mereka. Setiap kali disuatu kota atau
tempat muncul seorang atau dua orang bahkan serombongan
nona-nona cantik yang berkendaraan kereta, tentulah
keesokan harinya atau beberapa hari kemudian, beberapa
pemudanya terutama yang cakap-cakap wajahnya, lenyap
tanpa diketahui bekasnya."
"O," desuh pemuda cakap itu.
"Demikian pula yang terjadi pada beberapa kalangan anak
murid perguruan dan partai persilatan. Banyak murid-murid
yang gagah dan berwajah tampan, hilang atau menghilang
dari rumah perguruannya."
"Apakah Kho sute juga mengalami nasib begitu ?" tanya
pemuda tampan.
"Benar, hiante," kata Bok kausu, "sudah dua tahun ini aku
diundang Kiio tihu menjadi pengawal gedung karesidenan
Siang yang bu. Dua hari yang lalu penduduk bersuka ria
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
merayakan hari Pesta Air. Telaga Thay-cu penuh dengan
perahu pesiar yang warna warni. Bermacam-macam hiasan
kertas lentera dan panji-panji membentuk perahu-perahu itu
menjadi berbagai, rupa. Ada yang menyerupai liong, ikan hiu,
ikan paus dan sebagainya.
Lelaki perempuan, tua muda, besar kecil, seolah membanjiri
telaga itu. Kho Pik giam kongcu putera tihu pun tak
ketinggalan. Dengan beberapa pemuda kawannya, dia naik
sebuah perahu berbentuk seekor Naga hijau. Tengah
bercengkerama dengan gembira diantara beratus-ratus buah
perahu yang hilir mudik, tiba-tiba Kho kongcu tertarik akan
sebuah perahu yang berbentuk seperti burung Hong
(cenderawasih).
Tetapi yang menarik perhatian putera tihu itu bukanlah
bentuk perahunya karena di telanga pada saat itu tak kurang
berpuluh macam perahu yang bentuknya lebih indah.
Melainkan yang berada dalam perahu itu ... "
Selama ketiga orang itu duduk mendengarkan cerita orang
yang disebut Bok kausu, adalah Blo’on dan kedua kakek itu
yang menderita. Mereka harus berdiri tegak menjadi patung.
Tak boleh bergerak. Lebih celaka adalah waktu Bok kausu
mengeluarkan arak. Baunya yang begitu wangi hampir
membuat kakek Lo Kun yang doyan arak, mengiler. Untung
Bloon yang berdiri dekat, tahu hal itu.
Entah bagaimana kali ini kakek Lo Kun cepat dapat
mengerti maksud orang. Ia menahan nafsu ketagihan arak.
Tetapi celaka ! Mulut berhasil dibendung supaya jangan ngiler
tetapi perutnya berontak. Dan berkerucukan bunyinya.
Jadi yang berbunyi berkerucukan itu bukan lain ialah perut
kakek Lo Kun. Untung ketiga pendatang itu tak mau
menyelidiki lebih lanjut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Karena menahan napas supaya mulut jangan ngiler dan
perut jangan berbunyi, merah padamlah muka kakek pendek
itu. Hampir saja ia menjerit karena tak kuat harus menahan
napas sampai sekian lama.
Untunglah pada saat itu, Bok kausu menghidangkan arak
dihadapan patung sin-beng dan tiga biji bak-pau. Karena
girangnya, kakek Lo Kun tak jadi memekik. Kini mata kakek
pendek itu tercurahkan kearah cawan arak dan bak-pau.
Tengah ia berpikir keras bagaimana caranya untuk minum
arak dan makan bak-pau itu, tiba-tiba kakek Kerbau Putih
meniup lilin hingga padam. Rupanya kakek Kerbau Putih juga
tergoda oleh wanginya arak dan sedapnya bak-pau.
Habis meniup padam lilin, dengan cepat kakek Kerbau Putih
ulurkan tangan hendak meraih cawan. Uh . . lenyap. Ya,
cawan arak yang jelas berada di atas meja telah lenyap. Apa
boleh buat. ia terus meraih bak-pau. Uh , . . juga lenyap.
"Jahanam, tentu setan pendek itu yang mengambil,” kakek
Kerbau Putih memaki dalam hati seraya menarik pulang
tangannya dan tegak seperti patung lagi.
"Hai, lilin padam," seru Bok kausu seraya hendak
berbangkit untuk menyulutnya.
"Biarlah, Bok kausu, "cegah imam tua, "tak perlu disulut
lagi. Tadi lilin itu hanya tinggal sedikit. Percuma saja, sebentar
lagi tentu juga habis."
"Ya, paman, biarlah," kata pemuda tampan, "lebih baik
paman melanjutkan cerita tadi." Bok kausu mengiakan.
"Perahu burung Hong itu berisi empat orang gadis jelita.
Itulah yang mempesonakan hati Kho kongcu Rupanya ia
tersengsam sekali dengan kecantikan keempat jelita itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Segera Kho kongcu perintahkan tukang perahu untuk
menyusul perahu empat dara jelita itu. Tukang perahupun
segera memutar haluan dan mulai mendayung untuk
menyusul perahu burung Hong."
"Ai, Kho suko itu memang tak kena melihat paras cantik.
Sudah berulang kali suhu memberi pesan agar dia dapat
menjaga diri jangan mudah terpincut dengan paras cantik,"
kata pemuda tampan setengah menyesali putera tihu. Dengan
menyebut putera tihu sebagai suko (engkoh seperguruan),
jelaslah kalau dia itu saudara seperguruan dengan Kho Pik-
giam.
"Ah, memang Liok hiante," kata Bok kausu.
"selama aku menjadi guru silat di gedung karesidenan,
kutahu bagaimana tingkah laku Kho kongcu. Tetapi aku hanya
seorang pengawal, bagaimana aku berani melarangnya ?”
"Lalu bagaimana kelanjutannya ?" tanya pemuda tampan
itu.
"Seperti telah kututurkan, di permukaan telaga Thay-ou
saat itu penuh sesak dengan perahu pesiar. Ketika perahu
Naga Hijau hampir berhasil mendekati perahu burung Hong,
tiba-tiba perahu Kho kongcu ditubruk dari belakang oleh
sebuah perahu besar. Rupanya tindakan tukang perahu dari
perahu Naga Hijau yang mernbilukkan haluan perahu dan
mendayung dengan laju itu, telah menimbulkan kemarahan
orang. Banyak perahu kecil yang terbentur dan terlanda
gelombang dari perputaran perahu putera tihu itu. Bahkan ada
yang tenggelam juga. Itulah sebabnya maka ada beberapa
perahu yang dinaiki oleh pemuda-pemuda segera membentur
perahu Naga Hijau itu dari belakang."
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Sejenak berhenti, Bok kausu melanjutkan pula : "Karena
ditubruk dari belakang, perahu Naga Hijau terdorong kemuka
dengan cepat sekali dan membentur perahu burung Hong.
Perahu burung Hong bergoncang keras dan condong ke
samping hampir terbalik. Keempat gadis jelita itu menjerit
ketakutan. Melihat itu Kho kongcu terus loncat ke perahu
burung Hong. Dengan gunakan tenaga injakan kaki Cian-kin-
tui (injakan seribu kati), Kho kongcu dapat menguasai
keseimbangan perahu lagi. Dan diapun segera berkenalan
dengan keempat jelita itu.
Perahu hilir mudik tak henti-hentinya. Kawan-kawan Kho
kongcu sibuk untuk menyusul perahu burung Hong. Tetapi
sukar karena terhalang oleh ratusan perahu. Dan akhirnya
mereka kehilangan jejak perahu burung Hong itu. Sore
harinya, mereka masih mencari perahu burung Hong itu dan
akhir nya berhasil. Tetapi perahu itu sudah kosong. Menurut
tukang perahu, Kho kongcu dan keempat jelita itu telah pergi
entah kemana.
Ternyata Kho kongcu tak pulang. Tihu dan ibu Kho kongcu
sibuk bukan kepalang. Sampai dua hari lamanya belum juga
Kho kongcu pulang. Tihu lalu memerintahkan aku supaya
mencari Kho kongcu. Kebetulan engkau datang, Liok hiante.
Dan Soh Hun ki-siupun diminta bantuannya oleh tihu agar
membantu aku. Ternyata bersama dengan hilangnya Kho
kongcu, pun dalam kota Siangyang orang gempar karena
beberapa pemuda telah lenyap. Tentulah kawanan Partai
Melati itu yang membuat gara-gara."
"Apakah kausu tahu, mengapa Partai Melati itu gemar
menculik pemuda-pemuda cakap ?" tanya pemuda tampan
yang disebut Liok hiante itu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Menurut keterangan yang kuperoleh." kata Bok kausu,
"rupanya ketua Partai Melati ialah Hu Yang Sian-cu seorang
wanita yang membenci kaum lelaki terutama yang berparas
tampan ..."
"Ih ..." pemuda Liok mendesah.
Rupanya Bok kausu teringat kalau keterangannya itu dapat
mengguncangkan perasaan pemuda Liok. Buru-Buru ia
menghibur : "Ah, tetapi tak perlu Liok hiante takut. Untuk
menghadapi kawanan gadis-gadis cantik itu, senjata yang
paling utama ialah keteguhan hati. Jangan sampai terpikat
oleh kecan tikan mereka. Soal adu kepandaian silat, kurasa
Liok hiante tentu dapat mengatasi mereka."
"Terima kasih, kausu." kata pemuda Liok.
"Kabarnya Hu Yong sian cu memang sakti. Dia memilih
murid-murid gadis yang jelita. Murid-Murid itu tak boleh
menikah tetapi diizinkan untuk bermain cinta dan bebas
melakukan hubungan dengan lelaki. Asal jangan sampai
menikah."
"Hm, kalau begitu gadis-gadis cantik itu cabul semua," kata
pemuda Liok.
"Cabul dan kejam " kata Bok kausu, "karena setelah
pemuda yang diculik itu tak dapat melayani keinginan mereka,
pemuda itu lalu dibunuh..."
"Hai!" teriak pemuda Liok terkejut, "benar-benar tak dapat
dibiarkan saja gerombolan ular-ular cantik itu hidup di dunia.
Mereka harus dibasmi !"
"Ya, tetapi harus hati-hati, hiante," kata Bok kausu
tersenyum, "aku sih orang tua tetapi engkau masih muda dan
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
tampan. Mereka tentu jatuh hati kepadamu dan berusaha
untuk mendapatkan engkau.”
"Ah, mudah-mudahan aku diberi kekuatan batin dan
keteguhan imam untuk menghadapi kawanan ular cantik itu,"
kata pemuda Liok dengan wajah penuh kebulatan tekad.
Saat itu hujanpun sudah berhenti. Dan tiba-tiba imam yang
disebut Soh Hun ki-siu atau imam Pencabut Nyawa, berseru :
"Rupanya hujan sudah berhenti. Mari kita lanjutkan perjalanan
lagi."
Bok kausu berbangkit lalu menyulut korek, menyuluhi meja.
Ia hendak mengambil cawan arak
"Hai . . , " tiba-tiba ia berteriak kaget, "mengapa bak-pau
dan arak sudah kosong? Kemanakah”
Soh Hun ki-siu dan pemuda Liok memandang cawan yang
dipegang Bok kausu. Memang isinya sudah kosong. Dan
bakpau yang terletak di meja sembahyangan lenyap.
"Hai, siapakah yang berani bermain-main dengan Bok
Kiang?” seru guru silat itu dengan nada tegang, "kalau benar-
benar seorang jantan, silahkan keluar berhadapan muka.
Jangan main sembunyi seperti kura-kura "
Tetapi tiada jawaban suatu apa. Bahkan suara gerak dari
sesuatu benda atau angin, pun tak terdengar.
Bok kausu penasaran. Ia maju menyuluhi patung-patung
yang berada di kedua samping meja.
"Hai, mengapa patung yang gundul itu tertawa
menyeringai?" tiba-tiba Bok kausu berteriak kaget ketika
pandang matanya melihat wajah patung Blo'on.
Memang saat itu seekor nyamuk telah hinggap di pipi Blo'on
dan menggigit. Karena tak berani gerakkan tangan, terpaksa
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Blo'on hanya mengerenyutkan daging pipi dan dahinya agar
nyamuk itu pergi. Tetapi tepat pada saat ia menyeringai, tiba-
tiba Bok kausu sedang memandangnya. Sudah tentu Blo'on
harus tetap menyeringai seperti kucing tertawa.
"Nyamuk bangsat, aduh . . ." nyamuk tetap menggigit dan
Blo'on benar-benar setengah mati. la hanya dapat menyeringai
dan menyumpahi dalam hati.
"Hai, patung pendek itu ! Mengapa mulutnya
menggelembung seperti mengulum bak-pau ?" tiba-tiba Bok
kausu yang beralih memandang kakek Lo Kun, berteriak
kaget.
Memang yang mengambil bak-pau dan arak itu kakek Lo
Kun. Ia dapat bergerak lebih cepat dari kakek Kerbau Putih,
Secepat meneguk habis arak, ia terus menyambar bak-pau.
Dua buah bak-pau cepat
pindah kedalam perutnya.
Tetapi ketika ia sedang
memasukkan bak-pau yang
ketiga kedalam mulut. Bok
kausu memandangnya.
Apa boleh buat. Daripada
diketahui kalau bukan
patung sesungguhnya,
terpaksa kakek Lo Kun
mengatupkan mulut. Dan
karena mulut masih berisi
bak-pau maka mulut Lo Kun
mecucu alias
menggelembung besar ....
Ketika menyulut korek maka menjeritlah Bok kausu : "Hai,
mengapa patung yang gundul itu menyeringai ? . . . Hai,
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
mengapa patung yang pendek mecucu mulutnya? .. . Hai,
mengapa patung yang bungkuk bisa menari. .
"Hai . . . !" terdengar pula Bok kausu menjerit kaget,
"mengapa patung disamping kanan meja itu mengangkat
tangannya seperti orang hendak berjoged ?"
Kiranya karena Bok kausu menyulut korek dan memandang
kepada Bloon dan kakek Lo Kun, kakek Kerbau Putih terkejut
dan siap hendak memukul. Tetapi karena Bok kausu sudah
lebih cepat memandang kepadanya, agar jangan disangka
patung palsu terpaksa kakek Kerbau Putih hentikan gerakan
tangannya ditengah jalan. Dengan begitu ia masih dalam sikap
seperti menari.
Rupanya pemuda cakap itu juga melihat keanehan pada
ketiga patung itu : "Benar, aneh juga ketiga patung itu . . . "
Dan saat itu Bok kausupun maju menghampiri untuk
memeriksa. Melihat itu Blo’on makin tegang. Dan celakanya
kini nyamuk beralih hinggap diujungnya lalu menggigit, aduh .
..
Rasanya tiada siksaan yang lebih hebat seperti yang
diderita Blo’on saat itu Ia harus menyeringai, tertawa seperti
kuda menyengir, ujung hidungnya digigit nyamuk tetapi ia tak
dapat menghalaunya karena takut ketahuan belangnya.
Karena tak tahan siksaan itu, Bloon meniup dengan
mulutnya, untuk menghalau nyamuk celaka itu, hefff ...
Berkat makan rumput Kumis-naga dan darah Ki-lin, Blo'on
telah memiliki tenaga dalam yang kokoh. Tetapi dia tak tahu
bagaimana cara untuk mengerahkan tenaga-dalam itu dan lagi
memang dia tak menyadari kalau mempunyai tenaga-dalam
hebat.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Saat itu karena jengkel ujung hidungnya digigit nyamuk,
Blo'on empos semangatnya dan meniup. Maksudnya hendak
mengenyahkan nyamuk tetapi tak dinyana-nyana korek yang
dipegang Bok kausu itupun padam. ,
"Hai, patungnya dapat bernapas . . " Bok kausu terkejut
dan menyurut mundur.
Tiba-Tiba terdengar anjing menyalak keras dan kuda
rombongan Bok kausu yang tertambat diluar kuil meringkik-
ringkik sekuatnya.
"Ada orang !" cepat imam Soh Hun berseru seraya melesat
kepintu, "Hai, kuda kita lepas . . !"
Mendengar teriakan itu, pemuda cakappun cepat menyusul
keluar. Bok kausu terkejut. Terpaksa ia batalkan niatnya untuk
menyulut korek lagi lalu lari ke pintu.
"Hai, tunggu dulu totiang . . . !" teriak pemuda cakap dan
Bok kausu. Ternyata imam tua sudah lari mengejar kuda yang
lari. Pemuda Liok dan Bok kuusupun segera cepat-cepat
menyusul. Tak selang berapa lama merekapun sudah lenyap
dari pendengaran.
Sebagai gantinya dari ketiga orang itu. muncullah tiga ekor
binatang. Anjing Kuning, burung rajawali dan monyet hitam.
"Ternyata ketiga binatang itulah yang berjasa menolong
Blo'on dan kedua kakek dari kesukaran. Ketika mereka kembali
dengan membawa makanan tiba-tiba mereka melihat tiga ekor
kuda di luar kuil. Rupanya ketiga ekor binatang itu memang
cerdik dan mendapat latihan yang baik sehingga naluri
merekapun amat tajam. Monyet hitam yang paling cerdik dan
nakal, cepat melepaskan tali penambat kuda, sedangkan
burung rajawali menyambar muka dan anjing Kuning
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
menggigit pantat. Karena terkejut ketiga kuda itu meringkik
keras dan binal dan lari sekencang-kencangnya.
"Bangsat benar engkau, kakek Kerbau !" tiba-tiba kakek Lo
Kun mendamprat ."karena gara garamu suruh jadi patung,
mulutku sampai kaku begini. Masa orang disuruh mengulum
bak-pau terus-terusan"
"Setan pendek, siapa suruh engkau menyambar bak-pau?
Bukankah aku yang meniup padam lilin, mengapa engkau
mendahului aku mengambil arak dan bakpau ?" balas kakek
Kerbau Putih, "masih enak engkau makan dua biji bak-pau dan
secawan arak. tetapi aku ? Gila betul . . . masakan aku harus
mengacungkan kedua tangannya seperti orang berjoged ? Huh
..."
"Hai, mengapa engkau Blo'on ?" tiba-tiba kakek Lo Kun
berseru karena melihat anak itu sedang mengusap-usap kedua
belah pipinya. Dan mulut-nyapun menganga.
"Rahangku kesemutan ..." sahut Blo'on.
"Kenapa ?"
"Mulutku tak dapat ditutup ..."
"Kenapa ?" teriak kakek Lo Kun karena pertanyaannya tak
dijawab
"Ho, ho . . mulutku ini, aduh . . tak dapat ditutup”
Kakek Lo Kun menghampiri. Setelah mengintai kedalam
mulut Blo'on yang ternganga itu, ia berkata : "Tak apa, biar
terus menganga. Nanti kucarikan penutupnya !"
Kakek Lo Kun terus hendak melangkah keluar tetapi dicekal
tengkuknya oleh kakek Kerbau Putih : "Jangan gila-gilaan
engkau, setan pendek Mau kemana engkau ?"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Uh, cari bonggol kayu untuk menutup mulut anak itu."
sahut kakek Lo Kun.
"Setan," kakek Kerbau Putih mendorongnya dengan geram,
"masakan mulut menganga mau disumpal bonggol kayu !"
Ia terus menghampiri Blo'on, katanya: "Mungkin engkau
tertawa terlalu lama, tulang rahangmu jadi kaku sehingga
mulutmu tak dapat dikatupkan"
"Aku tidak tertawa " Blo'on deliki mata kepada kakek itu.
“Lalu apa yang engkau lakukan selama jadi patung tadi ?"
"Menyeringai ..."
"O, apa itu menyeringai ?"
"Tertawa seperti kucing."
"Ho, kucing itu bisa tertawa ?”
"Jangan banyak mulut, lekas tolong mulutku” Bloon marah.
"Eagkau tahan sakit ?"
"Sudahlah, lekas kerjakan !" teriak Blo'on.
Plak . . plak . . . tiba-tiba kakek Kerbau Putih menampar
kedua belah pipi Blo’on.
Aduh . . . anak itu menjerit kesakitan. Kepalanya serasa
pusing tujuh keliling. Beberapa jenak kemudian setelah
sembuh. Ternyata rahangnya sudah dapat dikatupkan.
"Kakek gila " Bloon menggeram, "engkau memang yang cari
gara-gara. Masakan orang disuruh jadi patung tertawa "
"Siapa suruh engkau tertawa ?" bantah kakek Kerbau Putih.
"Habis, kalau hidung gua digigit nyamuk apa guna bisa
menampar dengan tangan ? Kan terpaksa harus menyeringai
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
supaya nyamuk itu pergi, tetapi nyamuk celaka itu tak mau
pergi malah menggigit sekeras-kerasnya ..."
"Engkau masih mending hanya tertawa, aku? Aku harus
berjoged tadi” kakek Kerbau Putih bersungut.
“Sudah, jangan ribut-ribut, hayo kita makan," seru kakek Lo
Kun seraya menyambut makanan yang dibawa oleh ketiga
binatang piaraan Blo’on.
Demikian ketiga orang Itupun terus makan. Selesai makan,
berkata kakek Kerbau Putih : "Kemana kita sekarang ?"
“Mengejar ketiga orang tadi," seru kakek Lo Kun.
"Buat apa ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Lihat-Lihat lembah Melati yang aneh itu. Bukan kah disitu
ada Dewi Melati dan gadis-gadis cantik ?" kata kakek Lo Kun.
"Tua bangka," damprat kakek Kerbau Putih "tua-tua keladi,
makin tua makin menjadi jadi. Tidak aku tak mau lihat gadis
cantik, nanti bisa terkenang pada kekasihku dulu "
Kakek Lo Kun membelalak, serunya : "Kalau engkau mau
pergi, pergilah. Aku tetap hendak melihat-lihat ke Lembah
Melati itu."
"Uh ..." kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepala, "sekarang
kita ambil suara. Engkau setuju, aku tidak setuju. Sekarang
tinggal Blo'on. Kalau Blo'on setuju aku kalah suara dan ikut
engkau. Kalau Blo'on tak setuju, engkaupun harus ikut aku."
"Ya."
Kakek Kerbau Putih lalu bertanya kepada Blo'on :
"Bagaimana, engkau setuju ke Lembah Melati atau
melanjutkan perjalanan ?"
"Melanjutkan perjalanan." kata Blo'on.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Benar !" seru kakek Kerbau Putih girang lalu berpaling
kepada kakek Kerbau Putih, "nah, dengar tidak ? Sekarang
mari kita lanjutkan perjalanan.”
Demikian ketiga orang itu, walaupun hari malam, tetap
melanjutkan perjalanan. Belum berapa lama berjalan tiba-tiba
dari sebelah muka tampak sebuah kereta meluncur datang.
Kereta itu ditarik empat ekor kuda.
"Aneh. mengapa pada malam hari begini, ada kereta
berjalan di tempat pegunungan ini ?" kata kakek Kerbau
Putih.
"Ah, kalau menempuh perjalanan dengan naik kereta tentu
kita tak usah berjalan kaki, "kata Bloon.
"Setuju !" teriak kakek Lo Kun, "kita sewa saja kereta itu.
Atau kita beli !"
Saat itu keretapun sudah tiba. Kusirnya seorang lelaki
setengah tua.
"Hai, minggir, jangan menghadang di tengah jalan !" teriak
kusir kereta seraya lambatkan kudanya karena melihat tiga
orang, menghadang di muka.
"Berhenti dulu, bung kusir," seru kakek Kerbau Putih. Kusir
terpaksa hentikan kudanya.
Kakek Kerbau Putih menghampiri ke tempat kusir, katanya :
"Hendak kemana kereta ini ?"
"Jangan banyak tanya, lekas pergi !" bentak kusir dengan
bengis.
"Eh, jangan bengis-bengis begitu," kata kakek Ker bau
Putih, "aku hendak memberi kabar baik kepadamu." kusir itu
memandang lekat-lekat. Ia terkejut ketika melihat seorang
manusia bungkuk yang mukanya berlumuran debu.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Hai, engkau manusia atau setan ?" seru kusir itu heran-
heran kaget.
"Edan, masakan begini, bukan manusia ?" damprat kakek
Kerbau Putih.
"Astaga . . ' kembali kusir menjerit kaget ketika melihat
Blo'on dan kakek Lo Kun muncul. Malam hari di tengah
pegunungan sepi, mendadak muncul tiga manusia yang aneh,
membuat kusir itu terlongong longong . . .
"Itu juga manusia ?" tanya sesaat kemudian sambil
menunjuk Bloon dan kakek Lo Kun.
Karena dirinya dianggap aneh, kakek Lo Kun marah :
"Kusir, jangan banyak mulut. Kalau engkau berani
mengatakan aku bukan manusia, nanti kurobek mulutmu !"
Mendengar mulutnya hendak dirobek, kusir itupun marah :
"Hm, manusia pendek, apakah kalian hendak membegal ?"
"Tidak !" sahut kakek Kerbau Putih, "kami bertiga ini bukan
bangsa penyamun tetapi orang baik-baik. Jangan salah
faham."
"Lalu apa maksudmu menahan kereta ini?"
"Kami bertiga hendak mengadakan perjalanan jauh menuju
ke kotaraja. Aku senang melihat kereta dan kuda yang tegar
ini maka kami akan membeli keretamu ini. Tetapi ingat,
jangan pasang harga tinggi, percuma saja, karena aku tak
punya banyak uang ..."
"Tidak, aku tak mau menjual kereta ini !" teriak kusir.
"Hm, kusir, engkau minta berapa ? Jangan takut tentu akan
kubayar !" seru kakek Lo Kun.
"Tidak!" kusir itu menjerit, 'tidak kujual !"
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Kalau tidak boleh dibeli, kami hendak menyewa saja.
Berapa engkau minta untuk pergi ke kotaraja '. tanya kakek
Kerbau Putih.
"Ya, bilang saja, tentu kubayar. Tetapi engkau harus
menjalankan dengan baik, jangan main kebut. Kalau engkau
menyenangkan hatiku, nanti kuberi ekstra lagi," kata kakek Lo
Kun.
"Ya, benar, kalau engkau menjalankan dengan baik, nanti
pulang dari kotaraja kami tetap menyewa keretamu lagi,"
kakek Kerbau Putih menambahi kata-kata.
"Dan kalau engkau dapat membawa kami ke tempat-tempat
yang indah pemandangannya, eh . . juga rumah makan yang
jual arak wangi dan makanan lezat, engkau akan menerima
hadiah lagi," seru Lo Kun.
Selama mendengar ocehan kedua kakek itu. kusir hanya
melongo saja. Sesaat kemudian baru ia menyadari kalau
sedang berhadapan dengan dua orang kakek limbung. Tiba-
tiba ia mendapat akal.
"Ya, baiklah," katanya, "tatapi aku harus mengantarkan
penumpangku dulu. Kalian tunggu disini, setelah aku kembali
baru nanti kita rundingkan sewanya lagi."
"O, siapakah penumpangmu ?" tanya kakek Kerbau Putih.
"Seorang gadis ..."
"Seorang gadis ?" cepat kakek Lo Kun menanggapi, "siapa
namanya ?"
"Gila, mengapa tanyakan nama orang ? Kakek pendek,
engkau harus tahu aturan. Jangan sembarangan menanyakan
nama seorang gadis. Dia bisa marah !"
"Kemana tujuannya ?" tanya kakek Kerbau Putih.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
Kusir itu gelengkan kepala : "Aku sendiri juga tak diberi
tahu, pokoknya hanya disuruh jalan. Kalau nanti tiba
ditempatnya, nona itu tentu akan memheritahu sendiri."
"Aneh . . aneh . . " kata kakek Lo Kun dan Kerbau Putih
serenpak.
"Sudahlah, hayominggir, aku hendak melanjutkan
perjalanan' seru kusir.
"Tunggu sebentar lagi," cegah kakek Kerbau Putih, "kereta
ini dari mana ?"
"Sudahlah, jangan banyak bicara . . " baru kusir berkata
begitu, tiba-tiba pintu kereta terbuka dan sebuah wajah dari
seorang gadis yang cantik melongok keluar berseru : "Hai,
mengapa kereta berhenti begini lama ? Apa ada yang rusak '
Mendengar suara seorang gadis yang merdu,
"Hai, apakah engkau bukan. . bukan Sun Li hea, puteri Sun
tihu yang dinikahkan dengan aku dahulu ?" teriak kakek Lo
Kun.
Gadis cantik itu memandang Lo Kun, terkesiap lalu merogoh
baju dan lemparkan sekeping uang perak : "Pengemis jembel.
ambillah uang itu dan lekas pergi, jangan mengganggu kereta
ini "
Lo Kun terbelalak. Memandang kepingan perak lalu
memandang si jelita : "Apa katamu? . . . Engkau anggap aku
ini pengemis jembel?"
"Lekas enyah !" teriak nona cantik itu. Tiba-Tiba kakek
Kerbau Putihpun datang. Kakek Lo Kun segera berkata :
"Kerbau tua, coba lihatlah nona itu. Apakah bukan puteri Sun
tihu dulu" Kakek Kerbau Putih maju kemuka pintu kereta,
memandang dengan penuh perhatian kepada sinona lalu
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
memekik : "Astaga ! Engkau benar setan pendek. Dia memang
puteri tihu kekasihku dulu" Kakek Kerbau Putih terus berlutut
di depan pintu kereta : "Oh, kekasihku yang kucintai mati-
matian. Apakah dikau lupa kepadaku ?"
Nona itu tercengang. Sesaat kemudian merah lah selebar
wajahnya : "Pengemis bungkuk, jangan kurang ajar. Kalau
mau minta uang, nih, ambillah" ia lemparkan sekeping uang
perak kehadapan kakek Kerbau Putih.
"Engkau lupa kepadaku, manis ? Aduh, masakan sampai
hati engkau menghina kekasihmu sebagai seorang pengemis
..."
Merah padam wajah nona cantik itu karena dianggap
kekasihnya si kakek bungkuk. Tetapi belum sempat ia
bertindak, tiba-tiba kakek Lo Kunpun berlutut di sisi kakek
Kerbau Putih.
"Oh, Sun Li-hoa isteriku yang kucintai setengah mati," Lo
Kun merintih-rintih, "walaupun pada hari pernikahan engkau
melarikan diri, tetapi aku tak marah, sayang ! Aku tetap
mencintai engkau ..."
Serasa dada gadis cantik itu mau meledak. Sama sekali ia
belum pernah kenal dengan kedua kakek bungkuk dan pendek
itu. Mengapa tahu-tahu mereka muncul dan yang satu bilang
kekasihnya, yang satu mengaku isteri kepadanya.
Serentak nona cantik itu membuka pintu kereta dan turun.
Serangkum hawa wangi berhamburan dari pakaian si jelita.
Sanggulnya berhias serangkai bunga melati. Ditingkah sinar
rembulan, tampaklah kecantikannya yang gilang - gemilang.
"O, kekasihku, betapa rindu aku mengenangkan engkau . .
" kakek Kerbau Putih serentak berseru seraya merentang
kedua tangan seperti hendak menyambut.
Tiraikasih website http://kangzusi.com.
"Duhai, isteriku, akhirnya kita bersatu lagi. Memang kalau
jodoh, masakan mau lari kemana ..." seru kakek Lo Kun
dengan songsongkau kedua tangannya ke muka.
"Tutup mulutmu!" bentak gadis itu dengan ma rah.
"Ya, ya, kekasihku. Aku akan menutup mulut. Apapun
perintahmu, tentu kulakukan," seru kakek Kerbau Putih.
Kakek Lo Kun tak mau kalah, serunya : "Oh, isteriku.
jangankan hanya mulut, mata dan telingapun akan kututup
kalau engkau yang suruh"
Gadis itu tiba-tiba mendapat pikiran. Mengapa ia harus
melayani dua kakek limbung ? Lebih baik ia menggunakan akal
untuk menghindari mereka
"Hayo, kalian tutup mata dan mulut!" serunya
Kedua kakek limbung
serentak melakukan apa yang
diperintah si jelita.
Setelah melihat kedua kakek
itu menutup mata. si jelita
terus maju menghampiri lalu
mengangkat tangan hendak
memukul.
"Tunggu dulu " tiba-tiba
Blo'on mencegah seraya
menghampiri.
Nona itu terkesiap melihat
perwujutan B