Anda di halaman 1dari 2

Critical Review 1 MataKuliah Perbandingan Politik

Gabriel A. Almond & G. Bingham Powell Jr.


Chapter 3: Political Culture and Political Socialization
Oleh: Fajar Supriyatna

Budaya Politik dan Sosialisasi Politik

Almond menggunakan pendekatan tingkah laku dalam menganalisa budaya


politik. Dimana sikap individu akan menjadi sikap kelompok yang kemudian
menjelma menjadi sikap masyarakat terhadap sistem politiknya.
Berbedanya kondisi pada setiap masyarakat memunculkan berbagai cara untuk dapat
memahaminya. Untuk memahami kecenderungan sikap dalam suatu masyarakat kita
mulai dari distribusi sikap politik, yang kita sebut budaya politik.
Almond memetakan budaya politik suatu bangsa dengan menjelaskan tingkah
laku warga negara dalam tiga level kecenderungan dalam sistem politik: sistem,
proses dan kebijakan. Pada kecenderungan sistem kita membicarakan pandangan
warga negara dan pemimpin (elit) terhadap nilai dan organisasi yang ada dalam sistem
politik tersebut. Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai interaksi antara rakyat
dengan elit dalam suatu sistem politik, dalam interaksi tersebut legitimasi pemerintah
menjadi hal yang sangat mempengaruhi tingkat kepatuhan rakyat terhadap kebijakan
pemerintah dalam kalimat lain legitimasi memiliki pengaruh yang penting untuk
efisiensi dan stabilitas sistem politik yang sedang berlangsung.
Pada kecenderungan proses, Almond fokus terhadap orientasi individu atau
tingkat partisipasi untuk terlibat dalam sistem politik yang berlangsung. Almond
mengklasifikasikan orientasi individu ini dalam tiga kelompok berbeda dan
menjadikannya sebagai tipologi budaya politik, yaitu:
a. Parokial (parochial political culture), yaitu tingkat partisipasi politik yang sangat
rendah. Masyarakat digambarkan tidak tahu dan tidak mau tahu apalagi terlibat
dalam sistem politik.
b. Subjek (subyek political culture), yaitu masyarakat bersangkutan sudah relatif
maju dari segi sosial maupun ekonomi tetapi partisipasinya terhadap sistem
politik masih bersifat pasif. Dalam hal ini masyarakat sudah paham tentang sistem
politik yang sedang berlangsung namun tidak mau terlibat lebih jauh dalam sistem
tersebut
c. Partisipan (participant political culture), yaitu budaya politik yang ditandai
dengan kesadaran politik sangat tinggi, di mana masyarakat sudah sangat paham
dan terlibat secara aktif dalam sistem politik yang sedang berlangsung.
Sedangkan pada kecenderungan kebijakan, Almond fokus pada keinginan dan
usaha yang dilakukan untuk mewujudkan keinginan bersama. Dimana tiap masyarakat
memiliki pilihan dan prioritas yang berbeda dalam menentukan tujuan yang ingin
dicapai dari sistem politik yang berlangsung.
Budaya politik bersifat dinamis, hal ini bergantung dari sikap dan pandangan
individu sebagai aktor utama dari budaya politik terhadap nilai-nilaiyang berlaku.
Sikap dan padangan ini ditransformasikan dari individu ke individu, individu ke
kelompok ataupun dari kelompok ke individu, hal ini dikatakan Almond sebagai
sosialisasi politik dan hal ini (sosialisasi politik) merupakan bagian dari proses
pembentukan sikap politik. Jadi sangat erat kaitannya antara sosialisasi politik dengan
budaya politik.
Almond menyebutkan sembilan pihak yang terlibat dalam sosialisasi politik,
yakni:
1. Keluarga merupakan yang pertama dan utama memberi pengaruh baik
langsung maupun tidak langsung terhadap orientasi politik seseorang.
Termasuk didalamnya inisiasi kesetaraan gender berawal dari sini.
2. Sekolah, sekolah menyediakan remaja dengan pengetahuan tentang dunia
politik dan peran mereka di dalamnya. Sekolah juga mentransformasikan nilai
dan tingkahlaku masyarakat. Sekolah masuk dalam sistem pendidikan
sehingga dapat dikatakan sekolah merupakan saran doktrinasi dari rezim
tertentu.
3. Institusi Agama. Agama di dunia memberikan pengaruh terhadap nilai moral
dan budaya yang mempengaruhi politik dan kebijakan publik. Agama yang
dianut oleh suatu keluarga akan tersosialisasikan ke seluruh anggota kelurga
dan membentuk tingkah laku.
4. Komunitas khusus, mulai dari sekup kecil dan sedehana seperti kelompok
diskusi dan lain-lain yang memiliki suatu pandangan tertentu yang dianut oleh
kelompoknya.
5. Pekerjaan, kelas dan status sosial melalui persatuan orang-orang yang
memilikinya
6. Media Massa
7. Kelompok kepentingan
8. Partai Politik
9. Kontak Langsung dengan struktur pemerintahan, dalam hal ini birokrasi
Sembilan agen sosialisasi politik tersebut memberi pengaruh yang penting dalam
membentuk tingkah laku politik seseorang, yang pada akhirnya akan membentuk
sebuah budaya politik.
Garis besar pemikiran Almond tentang budaya politik adalah suatu sikap orientasi
yang khas dari warga negara terhadap sistem politik, dan sikap terhadap peranan
warga negara yang ada di dalam sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi
pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu.
Sikap orientasi masyarakat itu tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbentuk
melalui suatu proses sosialisasi, inisiasi ataupun indoktrinasi yang memiliki latar
belakang dan faktor determinan yang berbeda-beda. Sehingga terdapat keterkaitan
yang erat antara budaya politik dengan sosialisasi politik yakni budaya politik
merupakan hasil dari sosialisasi politik untuk memelihara sistem politik. Namun
sayang Almond tidak membahas tentang metode sosialisasi politik sebagaimana hal
yang sama diungkapkan oleh Michael Rush dan Phillip Althoff.