Anda di halaman 1dari 13

Perkawinan Menurut KUHPerdata

A. Arti dan Tujuan Perkawinan


Pasal 26 KUHPerdata :
“Undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan
perdata.”
Artinya, bahwa suatu perkawinan yang ditegaskan dalam pasal diatas hanya
memandang hubungan perdata saja, yaitu hubungan pribadi antara seorang pria dan
seorang wanita yang mengikatkan diri dalam suatu ikatan perkawinan. Sedangkan
tujuan dari suatu perkawinan tidak disebutkan disini.

B. Syarat sahnya Perkawinan


Syarat sahnya suatu perkawinan dalam KUHPerdata, ialah :
a. kedua pihak harus telah mencapai umur yang ditetapkan dalam undang-
undang, yaitu bagi laki-laki 18 tahun dan bagi perempuan 15 tahun.
b. Harus ada persetujuan bebas antara kedua pihak
c. Untuk seorang perempuan yang telah kawin harus lewat 300 hari dahulu
setelah putusnya perkawinan pertama
d. Tidak ada larangan dalam undang-undang bagi kedua belah pihak
e. Untuk pihak yang masih dibawah umur harus ada izin dari orangtua atau
walinya

C. Pencatatan Perkawinan
Pencatatan perkawinan diperlukan sebagai bukti adanya perkawinan. Bukti
adanya perkawinan ini diperlukan kelak untuk melengkapi syarat-syarat administrasi
yang diperlukan untuk membuat akta kelahiran, kartu keluarga dan lain-lain. Dalam
KUHPerdata, pencatatan perkawinan ini diatur dalam bagian ke tujuh Pasal 100 dan
Pasal 101.
Dalam Pasal 100, bukti adanya perkawinan adalah melalui akta perkawinan yang
telah dibukukan dalam catatan sipil. Pengecualian terhadap pasal ini yaitu Pasal 101,
apabila tidak terdaftar dalam buku di catatan sipil, atau hilang maka bukti tentang
adanya suatu perkawinan dapat diperoleh dengan meminta pada pengadilan. Di
pengadilan akan diperoleh suatu keterangan apakah ada atau tidaknya suatu
perkawinan berdasarkan pertimbangan hakim.
D. Asas Monogami
Dalam Pasal 27 KUHPerdata disebutkan bahwa :
“Dalam waktu yang sama seorang laki-laki hanya diperbolehkan mempunyai satu
orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai
suaminya.”
Artinya, KUHPerdata menganut asas monogami, yaitu melarang seorang pria atau
seorang wanita mempunyai lebih dari satu pasangan sebagai istri atau suaminya.
KUHPerdata mengesampingkan peraturan agama
Asas Monogami ini termasuk ketertiban umum, artinya apabila dialanggar selalu
diancam dengan pembatalan perkawinan yang dilangsungkan itu.

E. Persetujuan
Salah satu syarat sah suatu perkawinan adalah harus ada persetujuan bebas dari
kedua belah pihak. Hal ini berarti bahwa tidak ada paksaan baik bagi pihak pria
maupun pihak wanita dalam melangsungkan suatu perkawinan. Asas perkawinan
menghendaki kebebasan kata sepakat antara kedua calon suami-istri, sesuai dengan
Pasal 28 KUHPerdata.
Persetujuan dalam melangsungkan perkawinan juga tidak hanya untuk kedua
calon suami istri namun juga untuk keluarga kedua calon mempelai khususnya kedua
orangtua calon mempelai. Persetujuan kedua orangtua atau wali dari calon mempelai
diperlukan apabila kedua caolon mempelai yang ingin mengikatkan diri dalam suatu
perkawinan belum dewasa (pria 18 tahun dan wanita 15 tahun). Untuk anak-anak
yang telah dewasa namun belum mencapai umur 30 tahun, jika ingin melakukan
perkawinan harus meminta izin dari orangtuanya juga berdasarkan Pasal 42
KUHPerdata.

F. Batas Umur
Batas umur yang ditetapkan dalam KUHPerdata bagi seseorang yang ingin
melangsungkan pernikahan adalah usia 18 tahun untuk laki-laki dan 15 tahun untuk
perempuan. Hal ini berarti usia 18 tahun adalah usia dewasa bagi laki-laki dan usia
dewasa perempuan adalah 15 tahun

G. Larangan Perkawinan
Larangan perkawinan yang disebutkan dalam KUHPerdata adalah :
1. Dilarang perkawinan antara mereka yang satu sama lain bertalian keluarga
dalam garis lurus ke atas dan ke bawah, baik karena kelahiran yang sah dan
tidak sah atau karena perkawinan; dan dalam garis menyimpang, antara
saudara laki-laki dan saudara perempuan, sah atau tidak sah
2. Dilarang perkawinan antara mereka yang bertalian keluarga semenda
3. Dilarang perkawinan antara mereka yang dilarang oleh hakim karena
diputuskan salah telah berzinah

H. Waktu Tunggu
Mengenai waktu tunggu, dalam KUHPerdata, dilarang perkawinan antara mereka
yang telah putus dalam ikatan suatu perkawinan. Mereka dapat melangsungkan
perkawinan kedua kalinya dengan masa tunggu setelah 1 tahun sejak dibukukan
dalam catatan sipil.
Sedangkan bagi wanita yang perkawinannya putus, waktu tunggunya adalah 300
hari. Hal ini dilakukan untuk menjamin kepastian akan ayah biologis dari anak apabila
wanita itu tengah mengandung.

I. Tatacara Perkawinan
Tata cara yang harus dilakukan sebelum melangsungkan perkawinan dalam
KUHPerdata diatur dalam bagian ke dua, yaitu :
1. Memberitahukan kepada pegawai catatan sipil tempat tinggal salah satu dari
kedua pihak
2. Pemberitahuan tersebut dapat dilakukan sendiri atau dengan perwakilan
dengan menyertakan surat yang menerangkan bahwa ada kehendak untuk
melangsungkan pernikahan. Pemberitahuan ini akan dibuatkan akta oleh
pegawai catatan sipil.
3. Pegawai Catatan Sipil akan menempelkan pengumuman mengenai perkawinan
tersebut di pintu utama dimana catatan sipil diselenggarakan. Pengumuman
tersebut akan tetap tertempel selama 10 hari
4. Apabila dalam jangka waktu 1 bulan perkawinan tersebut tidak dilaksanakan,
maka perkawinan tersebut tidak boleh dilangsungkan sebelum
memberitahukan kepada kantor catatan sipil
Perkawinan Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974

A. Arti dan Tujuan Perkawinan


Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Rumusan perkawinan di atas ini merupakan rumusan Undang-undang No 1 Tahun
1974 yang dituangkan dalam Pasal 1. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa
Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, maka
perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian,
sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/jasmani, tetapi unsur
bathin/rohani juga mempunyai peranan yang penting.
Arti perkawinan menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 adalah ikatan lahir
bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri. Sedangkan
tujuan dari perkawinan menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 adalah membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Ikatan lahir mempunyai arti bahwa suatu perkawinan merupakan suatu hubungan
hukum antara seorang wanita dan seorang pria untuk hidup bersama sebagai suami
istri. Ikatan bathin berarti bahwa suatu perkawinan merupakan suatu pertalian jiwa
yang terjalin karena adanya kemauan yang sama dan ikhlas antara seorang pria
dengan seorang wanita untuk hidup bersama sebagai suami istri.
Tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal
maksudnya adalah bahwa suatu perkawinan dilangsungkan bukan untuk sementara
melainkan untuk seumur hidup atau selama-lamanya.

B. Syarat sahnya Perkawinan


Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melangsungkan perkawinan
menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 sebagaimana diatur dalam Pasal 6 s.d 12
adalah sebagai berikut :
1. Adanya persetujuan kedua calon mempelai
2. Adanya izin kedua orang tua/wali bagi calon mempelai yang belum berusia 21
tahun
3. Usia calon mempelai pria sudah mencapai 21 tahun dan usia calon mempelai
wanita sudah mencapai 16 tahun
4. antara calon mempelai pria dan calon mempelai wanita tidak dalam hubungan
darah/keluarga yang tidak boleh kawin
5. tidak berada dalam ikatan perkawinan dengan pihak lain
6. bagi suami istri yang telah bercerai, lalu kawin lagi satu sama lain dan bercerai
lagi untuk kedua kalinya, agama dan kepercayaan mereka tidak melarang
mereka kawin lagi untuk ketiga kalinya
7. tidak berada dalam waktu tunggu bagi calon mempelai wanita yang janda.

C. Pencatatan Perkawinan
Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan harus memberitahukan
kehendaknya itu kepada Pegawai Pencatat Perkawinan. Bagi yang beragama islam
kepada Pegawai Pencatat Nikah, Talak dan Rujuk, sedangkan bagi yang bukan
beragama islam ialah Kantor Catatan Sipil atau Instansi yang membantunya.
Pemberitahuan dapat dilakukan sendiri secara lisan atau oleh orangtuanya atau
walinya dan apabila tidak dimungkinkan dapat dilakukan secara tertulis dengan
memperlihatkan surat kuasa khusus.
Pemberitahuan memuat :
a. nama;
b. umur;
c. agama/kepercayaan;
d. pekerjaan;
e. tempat kediaman calon mempelai
f. bila salah seorang atau keduanya pernah kawin, maka disebutkan nama
pasangan terdahulu;
g. wali nikah (bagi yang beragama islam) dll
Pemberitahuan disampaikan selambat-lambatnya 10 hari kerja sebelum
perkawinan tersebut dilangsungkan, kecuali dengan alasan yang penting dengan
mengajukan surat dispensasi kepada Bupati Kepala Daerah cq Camat setempat
Pegawai pencatat setelah menerima pemberitahuan akan mengadakan penelitian,
setelah semua syarat terpenuhi maka pegawai pencatat akan melakukan pengumuman.
Maksudnya untuk memberi kesempatan kepada umum untuk mengetahui dan
mengajukan keberatan-keberatan bagi dilangsungkannya suatu perkawinan apabila
yang demikian itu diketahuinya bertentangan dengan hukum agama dan kepercayaan
yang bersangkutan atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Sesaat setelah perkawinan dilangsungkan, kedua mempelai menandatangani akta
perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat berdasarkan ketentuan yang
berlaku. Akta tersebut ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat
yang hadir pada saat itu. Bagi yang beragama islam ditandatangani oleh wali
nikahnya.
Dengan ditandatanganinya akta perkawinan tersebut maka perkawinan itu telah
tercatat secara resmi.

D. Asas Monogami
Asas monogami tercantum dalam pasal 9 UU No 1 Tahun 1974 yang menyatakan
“ seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin
lagi, kecuali dalam hal yang tersebut pada Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undangundang
ini.
Poligami menurut Undang-undang No 1 Tahun 1974 hanya diperuntukkan bagi
mereka yang hukum dan agamanya mengizinkan seorang suami beristri lebih dari
seorang.
Pengadilan hanya dapat memberikan izin kepada seorang suami untuk melakukan
poligami apabila ada alasan yang dapat dibenarkan dan telah memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan, yaitu :
Syarat limitatif
a. isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri
b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan
Syarat yang harus dipenuhi seluruhnya
a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup
isteri-isteri dan anak-anak mereka
c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-
anak mereka
E. Persetujuan
Pasal 6 ayat (1) Undang-unadng No 1 Tahun 1974 menyatakan :
“Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai”
Maksudnya agar perkawinan yang dilangsungkan dapat mencapai tujuan
perkawinan yaitu membentuk keluarga yang kekal dan bahagia dan sesuai dengan hak
asasi manusia tanpa paksaan dari pihak manapun.
Persetujuan dari orang tua pun diperlukan, hal ini sesuai dengan tatakrama
masyarakat kita sebagai orang timur. Masyarakat kita mempunyai rasa kekeluargaan
yang sangat kuat sehingga suatu perkawinan bukanlah menyatukan seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri, namun juga menyatukan kedua keluarga dari
kedua belah pihak.

F. Batas Umur
Pasal 7 ayat (1) Undang-undang No 1 Tahun 1974 menyatakan :
“Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan
pihak wanita sudah mencapai 16 tahun.”
Ketentuan ini untuk mencegah terjadinya perkawinan anak-anak yang masih
dibawah umur atau kawin gantung.
Ketentuan ini juga dimaksudkan dengan adanya pembatasan umur calon
mempelai ini, jiwa dan raganya sudah matang sehingga dapat membina rumah tangga
sesuai dengan tujuan perkawinan.
Penyimpangan terhadap ketentuan ini dapat dimintakan ke pengadilan.

G. Larangan Perkawinan
Hubungan darah/keluarga yang tidak boleh kawin menurut Undang-Undang No 1
Tahun 1974 pada Pasal 8 adalah sebagai berikut di bawah ini :
a. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah dan ke atas
b. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara,
antara seorang dengan saudara orangtua dan antara seorang dengan saudara
nenek
c. Berhubungan dengan semenda yaitu mertua, anak tiri, menantu, dan bapak/ibu
tiri
d. Berhubungan susuan yaitu orangtua susuan, anak susuan, saudara susuan dan
bibi/paman susuan
e. Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri,
dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang
f. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku,
dilarang kawin

H. Waktu Tunggu
Dalam Pasal 11 Undangundang No 1 Tahun 1974 ditentukan bahwa wanita yang
putus perkawinannya, tidak boleh begitu saja kawin lagi dengan lelaki lain, tetapi
harus menunggu sampai waktu tunggu itu habis.
Menurut Pasal 39 Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975, waktu tunggu tersebut
diatur sebagai berikut :
(1) Waktu tunggu bagi seorang janda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat (2) undang-undang ditentukan sebagai berikut :
a. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan
130 hari;
b. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang
masih berdatang bulan ditetapkan 3 kali suci dengan sekurang-
kurangnya 90 hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90
hari;
c. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil,
waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan
(2) Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinankerena
perceraian sedang diantara janda tersebut dengan bekas suaminya belum
pernah terjadi hubungan kelamin.
(3) Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu
dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan
hukum yang tetap sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian
tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami
Ratio dari peraturan ini adalah untuk menentukan dengan pasti siapa ayah dari
anak yang lahir selama tenggang waktu tunggu itu.
I. Tatacara Perkawinan
Tata cara perkawinan tidak diatur dalam Undang-undang ini. Tatacara perkawinan
dilakukan menurut masing-masing hukum agama dan kepercayaan orang yang
melangsungkan perkawinan itu.
Dengan mengindahkan tatacara perkawinan menurut masing-masing hukum
agama dan kepercayaannya itu, perkawinan dilaksanakan di hadapan Pegawai
Pencatat dan dihadiri oleh dua orang saksi.
Perbandingan Antara KUHPerdata dengan
Undang-undang No 1 Tahun 1974 Mengenai Perkawinan

A. Mengenai Arti dan Tujuan Perkawinan


KUHPerdata memandang perkawinan hanya dalam hubungan keperdataan saja,
jadi hanya menyangkut hubungan pribadi antara seorang pria dan seorang wanita.
Sedangkan Undang-undang No 1 Tahun 1974 memandang perkawinan lebih luas,
tidak hanya dalam hubungan keperdataan saja namun juga hubungan antara manusia
dan Tuhan.
Tujuan perkawinan tidak disebutkan dalam KUHPerdata sedangkan dalam
Undang-undang No 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa tujuan dari perkawinan adalah
untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.

B. Syarat sahnya Perkawinan


Selain daripada ketentuan usia, dan jangka waktu tunggu syarat sahnya suatu
perkawinan dalam KUHPerdata jika dibandingkan dengan Undang-undang No 1
Tahun 1974 tidak jauh berbeda.Keduanya sama-sama mensyaratkan adanya larangan
perkawinan dan izin dari orangtua. Namun dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974,
larangan perkawinan termasuk dengan larangan yang diatur dalam agama dan
larangan yang ada di peraturan-peraturan lain, misalnya hukum adat.
Sedangkan untuk jangka waktu tunggu, dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974,
jangka waktu untuk wanita diatur secara spesifik. Jangka waktu untuk wanita yang
putus perkawinannya karena kematian berbeda dengan jangka waktu bagi wanita yang
putus ikatan perkawinannya karena perceraian biasa.

C. Pencatatan Perkawinan
Pencatatan perkawinan sangat penting. Dalam KUHPerdata pencatatan
perkawinan dilakukan oleh Pegawai Pencatat untuk semua golongan sedangkan dalam
Undang-undang No 1 Tahun 1974, pencatatan perkawinan dilakukan di Kantor
Catatan Sipil bagi yang bukan beragama islam dan di Kantor Pencatat Nikah, Talak
dan Rujuk bagi yang beragama islam
D. Asas Monogami
Pada prinsipnya kedua ketentuan ini menganut asas monogami. Pada
KUHPerdata, asas monogami berlaku mutlak atau harus sehingga apabila terjadi
perkawinan sedangkan salah satu pihak masih dalam ikatan perkawinan maka
perkawinan yang berlangsung kemudian itu menjadi batal. Sedangkan dalam Undang-
undang No 1 Tahun 1974, asas monogami ini dapat disimpangi oleh ketentuan agama
yang memperbolehkan untuk berpoligami. Ketentuan yang memperbolehkan poligami
ini tentu saja diiringi dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Syarat-syarat ini dibuat
agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dalam berpoligami yang dapat merugikan
salah satu pihak.

E. Persetujuan
Ketentuan yang termuat dalam KUHPerdata maupun Undang-undang No 1 Tahun
1974 menganut prinsip persetujuan diantara kedua calon mempelai maupun dari pihak
keluarga yang tercerminkan dengan adanya permohonan untuk izin melangsungkan
pernikahan apabila kedua calon mempelai ingin melangsungkan pernikahan.

F. Batas Umur
Mengenai batas umur terdapat perbedaan, pada KUHPerdata batas usia yang
diperbolehkan untuk menikah adalah usia 18 tahun untuk laki-laki dan 15 tahun untuk
perempuan. Sedangkan dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974, untuk pria sudah
mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun.
Ketentuan ini dibuat dengan mempertimbangkan agar tidak terjadi perkawinan
anak dibawah umur atau kawin gantung. Juga untuk mempersiapkan kematangan jiwa
dan raga kedua calon mempelai karena pada usia tersebut organ-organ reproduksi baik
laki-laki maupun perempuan sudah terbentuk dengan baik.

G. Larangan Perkawinan
Pada umumnya mengenai larangan perkawinan ini baik adlam KUHPerdata
maupun Undang-undang No 1 Tahun 1974 adalah sama, namun ada tambahan dalam
Undang-undang No 1 Tahun 1974 bahwa larangan perkawinan yang ditentukan oleh
agama dan peraturan lain yang berlaku juga dikenakan. Sehingga larangan
perkawinan yang ditentukan oleh masing-masing agama harus ditaati begitu pula
dengan larangan perkawinan yang ditentukan oleh hukum adatnya.
H. Waktu Tunggu
Mengenai waktu tunggu, dalam KUHPerdata, dilarang perkawinan antara mereka
yang telah putus dalam ikatan suatu perkawinan. Mereka dapat melangsungkan
perkawinan kedua kalinya dengan masa tunggu setelah 1 tahun sejak dibukukan
dalam catatan sipil. Sedangkan bagi wanita yang perkawinannya putus, waktu
tunggunya adalah 300 hari. Hal ini dilakukan untuk menjamin kepastian akan ayah
biologis dari anak apabila wanita itu tengah mengandung.
Dalam Pasal 11 Undangundang No 1 Tahun 1974 ditentukan bahwa wanita yang
putus perkawinannya, tidak boleh begitu saja kawin lagi dengan lelaki lain, tetapi
harus menunggu sampai waktu tunggu itu habis.
Menurut Pasal 39 Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1975, waktu tunggu tersebut
diatur sebagai berikut :
(4) Waktu tunggu bagi seorang janda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat (2) undang-undang ditentukan sebagai berikut :
a. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan
130 hari;
b. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang
masih berdatang bulan ditetapkan 3 kali suci dengan sekurang-
kurangnya 90 hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90
hari;
c. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil,
waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan
(5) Tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinankerena
perceraian sedang diantara janda tersebut dengan bekas suaminya belum
pernah terjadi hubungan kelamin.
(6) Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu
dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan
hukum yang tetap sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian
tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami
Ratio dari peraturan ini adalah untuk menentukan dengan pasti siapa ayah dari
anak yang lahir selama tenggang waktu tunggu itu.
Mengenai waktu tunggu, Undang-undang No 1 Tahun 1974 lebih banyak
memberikan keterangan sedangkan dalam KUHPerdata mwngwnai waktu tunggu
hanya terdapat 2 kriteria.

I. Tatacara Perkawinan
Tatacara perkawinan tidak diatur baik dalam KUHPerdata maupun dalam Undang-
undang No 1 Tahun 1974. Tatacara perkawinan dilakukan menurut agama dan
kepercayaannya masing-masing.