P. 1
Jurnal At-Ta'dib. volume 1 nomor 2, Agustus-November 2009

Jurnal At-Ta'dib. volume 1 nomor 2, Agustus-November 2009

|Views: 376|Likes:
Dipublikasikan oleh Khairul Umami
AT-TA’DIB adalah jurnal Prodi Pendidikan Agama Islam memuat
keanekaragaman perspektif tentang pendidikan Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.
AT-TA’DIB adalah jurnal Prodi Pendidikan Agama Islam memuat
keanekaragaman perspektif tentang pendidikan Islam. Jurnal ini diterbitkan
oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Khairul Umami on Oct 03, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2012

ISSN 2085 - 2525

AT-TA’DIB
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam
Vol. I, No. 2, Agustus-Nopember 2009

Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Negara
Hazrullah

The Future of Acehnese Children: Equity and Access to Primary Schooling in Aceh Province
Muhammad Thalal

Improving the Teaching-Learning Process Through Instructional Technology
Erizar

Diterbitkan Oleh SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) TEUNGKU DIRUNDENG, MEULABOH ACEH BARAT

JURNAL ILMIAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

AT-TA´DIB

Volume 1 Nomor 2 Agustus-Nopeember 2009

ISSN: 2085-2541

SUSUNAN PENGURUS JURNAL AT-TA'DIB
PENANGGUNG JAWAB Syamsuar Basyariah REDAKTUR Muchsinuddin MS PENYUNTING Muliadi Kurdi Adi Kasman REDAKTUR PELAKSANA Muhammad Thalal Hazrullah Suharman STAF REDAKSI Ridwan Ali Marhamah Junaidi PENYUNTING AHLI M. Nasir Budiman Muhibbuththabary M. Jamil Yusuf Eka Sri Mulyani ADMINISTRASI DAN TATA USAHA Andi Syahputra Syafrun Munir Sunarto SETTING/LAYOUT Khairul Umami SIRKULASI Fakhrurrazi Muchtaruddin Safrida Zulhanli ALAMAT REDAKSI Jalan Teuku Umar Komplek Masjid Nurul Huda, Meulaboh-Aceh Barat No. 100 Telp: 0655-7551591; Fax: 0655-7551591 E-mail: prodipai_stai@yahoo.co.id Website: www.staidirundeng.ac.id

Daftar Isi

KATA PENGANTAR

103 — 117 —

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN NEGARA Hazrullah THE FUTURE OF ACEHNESE CHILDREN: EQUITY AND ACCESS TO PRIMARY SCHOOLING IN ACEH PROVINCE Muhammad Thalal IMPROVING THE TEACHING-LEARNING PROCESS THROUGH INSTRUCTIONAL TECHNOLOGY Erizar REFORMASI SISTEM PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (Paradigma Pembentukan Sarjana Keislaman) Syabuddin Gade

129 —

139 —

DAFTAR ISI

153 — 161 —

TEACHER’S FEEDBACK ON THE STUDENTS’ ACHIEVEMENT IN READING TEST Andi Syahputra LANGUAGE, SPEECH AND PROPAGANDA, A PERSPECTIVE IN TEACHING CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS Saiful Akmal MUTU DAN PENGAWAS DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN PENDIDIKAN Bakhtiar KONSEP PENDIDIKAN MENURUT PERSPEKTIF MUHAMMAD NATSIR Hambali

175 — 185 —

iv

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

Kata Pengantar

Atas berkat dan rahmat Allah Swt, akhirnya Jurnal At-Ta’dib Vol. 1 No. 2 Agustus – Nopember 2009 terbit sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa penyempurnaan yang dilakukan pada edisi kali ini terutama pada sistem penulisan dan referensi. Jurnal At-Ta’dib sebagai salah satu jurnal di bidang pendidikan memilih menggunakan sistem penulisan dan referensi American Psychological Association (APA) yang telah menjadi panduan jurnal-jurnal terkemuka dunia terutama dalam bidang pendidikan dan ilmu-ilmu sosial. Edisi kali ini masih mengikuti APA Publication Manual Edisi ke-5 Tahun 2001. Edisi Nomor 2 Tahun 2009 ini menampilkan berbagai tulisan ilmiah seputar pendidikan yang diawali oleh pembahasan Erizar mengenai peningkatan proses belajar mengajar melalui penggunaan teknologi instruksional. Dilanjutkan dengan kritikan konstruktif Syabuddin Gade terhadap sistem pendidikan perguruan tinggi di Provinsi Aceh pasca penerapan Syari’at Islam dengan mengusung ide pembentukan sarjana keislaman. Dari seputar pembelajaran bahasa Inggris tampil tulisan Andi Syahputra yang mengulas seputar feedback guru terhadap pencapaian siswa dalam tes membaca dan Saiful Akmal yang menulis mengenai perspektif pengajaran analisis wacana kritis dalam bahasa pidato dan propaganda. Dalam bidang manajemen

KATA PENGANTAR

pendidikan Bakhtiar mengulas tentang mutu dan pengawas dalam perspektif manajemen pendidikan. Selanjutnya Muhammad Thalal mengangkat isu seputar persamaan hak dan kebebasan dalam mendapatkan pendidikan dasar bagi anak-anak di Provinsi Aceh diikuti oleh pembahasan Hazrullah seputar konsep pendidikan dalam perspektif Islam dan Negara. Edisi kali ini diakhiri dengan elaborasi konsep pendidikan menurut Muhammad Natsir yang dibahas oleh Hambali. Rangkaian topik pendidikan yang dikedepankan pada edisi kali ini diharapkan mampu menambah khasanah intelektual yang dapat berkontribusi dalam pembangunan pendidikan di Indonesia pada umumnya serta Provinsi Aceh pada khususnya. Terima kasih kami ucapkan kepada LKAS Banda Aceh dan semua pihak yang terlibat atas terbitnya edisi ke-2 ini. Kami berharap jurnal yang telah dirintis ini selalu mendapat dukungan dari semua pihak sehingga berkenan di hati pembaca sekalian. Meulaboh, 2 Agustus 2009 Ketua STAI Teungku Dirundeng, dto Syamsuar Basyariah

vi

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

Pendidikan dalam Perspektif Islam dan Negara
Hazrullah
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) dalam bidang pendidikan pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, tahun 2002. Kemudian melanjutkan pendidikan Program Magister (S2) konsentrasi Manajemen Pendidikan pada Universitas Syiah Kuala selesai tahun 2006.

Abstract Education is a process undertaken by adult to change man into a perfect human. Alquran and hadith describe clearly about education. The first verse sent by Allah SWT is all about education, and this suggests that Islam is very concerned with the education of human. Also, the Prophet Muhammad PBUH explained that education will bring happiness to human in the world and the hereafter In a hadith, Prophet Muhammad said that one who is willing to be happy in the world should be with science, who want to be happy in the afterlife should be with science and who want to be happy in both should be with science. State also pays attention to education, in the Guidelines and the Constitution of 1945 based on Pancasila (the five principles) it is pointed out that every citizen shall enjoy education because with education the State will experience a change towards good citizens devoted to God Almighty along with good manners, intelligence, and skill. Eventually, education shall strengthen and consolidate the personality and love to country embedded in a sense of shared responsibility in building a state. Key words: Pendidikan, Islam dan Negara

HAzRullAH

Pendahuluan Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan diri dalam kehidupan manusia secara utuh dan menyeluruh. Pendidikan juga dinyatakan sebagai usaha yang sengaja dan terencana untuk merealisasikan ide-ide menjadi kenyataan dalam perbuatan, tindakan dan tingkah laku kepribadian. Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat penghidupan yang lebih tinggi. Konsep pendidikan Islam didasari kepada sesuatu acuan bahwa Islam sebagai agama yang tinggi. Pendidikan menurut Islam merupakan upaya mendidik manusia manjadi manusia yang sempurna. Oleh karena itu pendidikan Islam dapat berwujud segenap kegiatan yang dilakukan seseorang atau sesuatu lembaga untuk membantu seseorang atau kelompok peserta didik dalam menanamkan atau menumbuh kembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya. Dalam GBHN tujuan pendidikan nasional dikemukakan dengan jelas, bahwa pendidikan nasional berdasarkan pencasila, dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri, bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Namun dalam proses perwujudannya pendidikan haruslah dimulai semenjak anak dilahirkan. Dalam hal ini bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang memegang peranan utama dalam mendidik mereka. Pengaruh orang tua dalam keluarga terhadap pembinaan anak sangatlah besar, karena orang tua adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Selain orang tua pemerintah juga harus mempunyai perhatian dan tanggung jawab dalam mendidik generasi-generasi bangsa yang nantinya mereka akan mengemban tugas yang amat besar seperti menjadi aparatur Negara.

104

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PENDIDIKAN DAlAm PERSPEKTIF ISlAm DAN NEGARA

Pengertian pendidikan Pendidikan secara bahasa berasal dari bahasa arab yaitu tarbiyah yang artinya tambah, berkembang, tumbuh, menjadi besar, dan memperbaiki (Ramayulis, 2006 : 14). Menurut Abul A’la al-Maududi kata Rabbun terdiri dua huruf yaitu huruf “ra: dan “ba” Tasydid yang merupakan pecahan dari kata tarbiyah yang berarti pendidikan, pengasuhan dan sebagainya. Selain itu kata lain mencakup banyak arti seperti kekuasaan, perlengkapan pertanggung jawaban, perbaikan, penyempurnaan dan lain-lain. Kata ini juga mempunyai predikat bagi suatu kebedaran, keagungan, kekuasaan dan kepemimpinan (Ramayulis, 2006: 14). Secara etimologi Mushtafa al-Maraghiy membagi kegiatan al-tarbiyah dengan dua macam, pertama Tabiyah khalqiyah yaitu penciptaan, pembinaan dan pengembangan jasmani peserta didik agar dapat dijadikan sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya. Kedua, tarbiyah diniyah tahzibiyah, yaitu pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya. Melalui petunjuk wahyu Illahi. Berdasarkan pembagian tersebut, maka ruang lingkup al tarbiyah mencakup berbagai kebutuhan manusia, baik kebutuhan dunia maupun akhirat serta kebutuhan terhadap kelestarian diri sendiri, sesamanya, alam lingkungan dan relasinya dengan tuhan. Al-Abrasyi memberikan pengertian bahwa tarbiyah adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tetap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan maupun tulisan (Ramayulis, 2006: 16). Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Pendidikan Nasional juga berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu dan cakap (Ramayulis, 2006: 38). Pendangan para ahli/pakar tentang pendidikan a. Ahli ilmu pendidikan Amerika John Dewey, mendefinisikan pendidikan sebagai suatu proses pembaharuan makna, pengalaman, hal ini mungkin
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

105

HAzRullAH

akan terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan pekembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana ia hidup (Yunus 1999: 77). b. Menurut H. Hoene, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian lebih tinggi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia (Prasetya, 2000:89) c. Frederick J. Mc Donald berbeda dalam mendefenisikan pendidikan, dia mendefeniskan pendidikan sebagai proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang yang dilakukan oleh seseorang. Sedangkan M. J. Langevel mengatakan bahwa pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi diantara orang dewasa dan anak adalah sesuatu keadaan dimana pekerjaan mendidik berlangsung (Abuddin Nata, 1997:89) d. Rasyid Ridha mengatakan bahwa pendidikan juga dikatakan sebagai ta’lim yang mempunyai arti proses atau transmisi pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Pemaknaan ini didasarkan atas Q.S. al Baqarah ayat 31 tentang ‘allama” Allah Swt kepada Nabi Adam (Ramayulis, 2006: 16). . Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam menyampaikan seruan agama dengan cara berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih ketrampilan berbuat, memberikan motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide, pembentukan pribadi muslim. Seperti Terjadinya perubahan prilaku yang terjadi pada penduduk bangsa Arab dari menyembahan berhala, musyrik, kafir, kasar dan sombong mengalami perubahan kepada penyebahan Allah Swt, mukmin, muslim, lemah lembut dan hormat kepada orang lain (Zakiah Daradjat, dkk. 2006:27). Dari beberapa pendapat ahli diatas penulis dapat menyimpulkana bahwa
106
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PENDIDIKAN DAlAm PERSPEKTIF ISlAm DAN NEGARA

pendidikan merupakan suatu proses atau usaha yang dilakukan oleh seseorang pendidik/orang dewasa untuk membentuk tingkah laku, sikap, cara berfikir dan lainnya kearah yang baik dan lebih baik. Jenis-jenis pendidik Dalam pendidikan Islam, pendidik ada beberapa macam yaitu: 1. Allah Swt Dari berbagai ayat Alquran yang membicarakan tentang kedudukan Allah Swt sebagai pendidik dapat dipahami dalam firman-firman -Nya yang diwahyukan kepada Nabi besar Muhammad Saw. melalui malaikat Jibril. Allah Swt memiliki pengetahuan yang amat luas, Ia juga sebagai pencipta semua makluk yang ada di langit dan di bumi beserta isinya. firman Allah Swt yang artinya: “ Segala pujian bagi Allah Swt rabb bagi seluruh alam”. Ar-Razi, yang membuat perbandingan Antara Allah Swt sebagai pendidik dengan manusia sebagai pendidik sangatlah berbeda, Allah Swt sebagai pendidik mengetahui segala kebutuhan orang yang dididiknya serta ia adalah zat pencipta, perhatian Allah Swt tidak terbatas hanya terhadap sekelompok manusia saja, tetapi memperhatikan dan mendidik seluruh alam ( Ar-Razi, 1991: 43) 2. Nabi Muhammad Saw. Nabi sendiri mengidentifikasikan dirinya sebagai mu’allim (pendidik). Nabi Muhammad Saw sebagai penerima wahyu yaitu Alquran, bertugas menyampaikan petunjuk-petunjuk kepada seluruh umat Islam, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkan kepada manusia ajaran-ajaran tersebut. Hal ini pada intinya menegaskan bahwa kedudukan Nabi sebagai pendidik ditunjuk langsung oleh Allah Swt ( Ar-Razi, 1991: 43). 3. Orang tua Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka sejak dia dilahirkan, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendididkan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Pada umunya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan pendidik, melainkan karena secara kodrati, suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan (Zakiah Daradjat, dkk.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

107

HAzRullAH

2006:35). Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik diantara orang tua anak. Orang tua memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anakanaknya. Alquran menyebutkan sifat-sifat yang dimiliki orang tua sebagai guru yaitu memiliki kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio dapat bersyukur kepada Allah Swt. Dan suka menasehati anaknya agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang telah dilarang olehNya, dan melaksanakan apa-apa yang telah diutarakankan dalam Alquran sebagaimama Lukmanul Hakim mendidik anaknya agar menyembah Allah Swt dan tidak Menyekutukan-Nya. 4. Guru Guru adalah pendidik professional karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul dipundak para orang tua. Mereka ini, tak kala menyerahkan anaknya ke sekolah sekaligus berarti pelimpahan sebagai tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarangan guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru. Oleh sebab itu guru haruslah mempunyai akhlah yang baik. Adapun akhlak yang harus dimiliki oleh guru diantaranya: a. Mencintai jabatannya sebagai guru b. Bersikap adil kepada semua muridnya c. Berlaku sabar dan tenang d. Guru harus berwibawa e. Guru harus bergembira f. Guru harus bersifat manusiawi g. Bekerjasama dengan guru-guru lain h. Bekerjasama dengan masyarakat (Zakiah Daradjat, dkk. 2006: 42-44) Dasar dan tujuan pendidikan Dasar atau lanadasan merupakan tempat berpijak yang menjadi pegangan untuk dapat tercapainya suatu tujuan. Setiap kegiatan dapat dilaksanakan dengan sukses apabila mempunyai landasan kuat, untuk dijadikan pedoman. Demikian juga dengan pendiddikan, ia haruslah memiliki dasar atau landasan yang
108
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PENDIDIKAN DAlAm PERSPEKTIF ISlAm DAN NEGARA

menentukan dasar dan tujuan dalam kegiatan pelaksanaannya. Dasar pendidikan Islam di Indonesia dapat dilihat dari dua dasar hukum, yaitu sebagai berikut: a. Dasar Hukum (yuridis) Yang dimaksud dengan dasar hukum dalam pelaksanaan pendidikan adalah berupa undang-undang dan perturan-peraturan meliputi dasar ideal, dasar konstitusional dan dasar operasional. Dasar ideal adalah dasar falsafah negara yaitu Pancasila dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, hal ini mengandung makna bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa artinya mereka harus beragama. Untuk merealisasi hal tersebut diatas maka diperlukan pendididkan agama pada anak-anak karena tanpa pendidikan agama tidak dapat mewujudkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa (Haidar Putra Daulay, 2004). Ahmad Tafsir mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara yang cukup memenuhi syarat sebagai dasar Negara. Dasar Negara sebagai sumber pancasila harus mampu diturunkan kedalam UUD, karena menurutnya UUD harus mengandung seluruh ide yang ada dalam Pancasila, selanjutnya UUD harus menurunkan undang-undang untuk mengatur segala macam keperluan kehidupan bernegara, yang mengatur sistem pendidikan nasional. Dasar konstitusional (struktural) adalah dasar UUD 1945. Ketika nilai-nilai atau ide-ide dasar pancasila diturunkan kedalam UUD maka dengan sendirinya UUD itu menjadikan keimana kepada Tuhan Yang Meha Esa sebagai intinya. Hal tersebut tercantum dalam BAB XI pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi: 1. Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendididkan agama Islam di sekolah-sekolah di Indonesia seperti yang disebutkan pada ketetapan MPR Nomor IV/1973 yang dikokohkan kembali dalam ketetapan MPR nomor IV/1978 dan ketetapan MPR nomor II/1983 tentang GBHN, yang pada dasarnya menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum di sekolah-sekolah (Haidar putra Daulay, 2004). Segala jenis dan jenjang pendidikan telah digariskan dalam GBHN dan UUD No
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

109

HAzRullAH

2 tahun 1989 dengan rumusan sebagi berikut: “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesejahteraan jasmani dan rohani kepribadian yang mantap mandiri serta mempuyai tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”(Departemen Agama RI, 2003:7). Kemudian dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasioanal menetapkan bahwa pendidikan adalah upaya sadar yang terencana dalan menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab Alquran dan hadits. Melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan serta penggunaan pengalaman, dibaringi tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat, sehingga terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa. Dasar pendidikan nasional yang telah digariskan dalam GBHN tahun 1989 dan perundang-undangan diatas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengingginkan masayarakatnya menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat jasmani dan rohani serta bertanggung jawab untuk mencapai tujuan tersebut sudah sepatutnya lembaga pendidikan formal dan non formal untuk mengajarkan pendidikan agama supaya anak didiknya akan terjadinya perubahan kearah yang lebih baik dan akan menjadi anak sebagaimana yang diharapkan. 2. Dasar Agama ( religius) Dasar religius merupakan dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam, yaitu dari Alquran dan Sunnah. Ajaran Islam menegaskan bahwa Alquran adalah firman Allah Swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat jibril yang merupakan pedoman bagi seluruh umat. Islam memandang pelaksanaan pendidikan agama merupakan kewajiban, hal ini tercantum dalam surat Al imran ayat 104, Artinya: “Dan hendaklah ada diantara kamu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
110
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PENDIDIKAN DAlAm PERSPEKTIF ISlAm DAN NEGARA

Merekalah orang-orang yang beruntung” Disamping itu dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, Artinya: “Diceritakan kepadaku dari Malik, bahwasannya beliau menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah rasulnya” (H.R. Malik). Menurut Ahmad D. Marimba yang menjadi dasar pendidikan agama Islam adalah Alquran dan Sunnah, jika diibaratkan bangunan maka isi Alquran adalah pondasinya, maka pedoman dasar dalam melaksanakan agama adalah Alquran dan Sunnah, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud dengan baik serta sesuai menurut konsep-konsep dalam ajaran Islam. Menuntut ilmu merupakan sesuatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu sesuai dengan ketentuan dan kemungkinan yang ada pada setiap individu, karena pendidikan itu bertujuan untuk mewujudkan dan mengembangkan manusia kearah yang lebih baik. Alquran dan Sunnah menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan semenjak lahir hingga akhir hayatnya. Tujuan pendidikan Islam Tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kegiatan atau pekerjaan, begitu juga dengan pendidikan, tujuan pendidikan tak terlepas dari tujuan hidup manusia. Dalam Islam tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan dan memperhambakan diri kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam surat Dzariat ayat 56 yang artinya, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKU”. (Q.S. Al-Dzariat: 56) Dalam kontek sosial masyarakat, bangsa dan negara, pribadi yang bertaqwa ini menjadi rahmat bagi semesta alam dan ini merupakan salah satu tujuan dari pendidikan itu sendiri, Beberapa ulama merumuskan tujuan pendidikan sebagai berikut: “Bahwa pendidikan memiliki tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk. Oleh karena itu pendidikan bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat melalui latihan
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

111

HAzRullAH

kejiwaan, kecerdasan otak penalaran dan indera. Pendidikan ini harus melayani manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, imajinasi, jasmani, ilmiah secara perorangan maupun secara kelompok. Pendidikan harus mendorong semua aspek tersebut kearah penyempurnaan hidup. Dan akhir dari tujuan pendidikan itu adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. (Arifin, 1994: 41). Al-Abrasyi dalam kajiannya mengemukakan bahwa tujuan pendidikan yaitu: a. Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia. Kaum muslimin dari dahulu kalau sampai sekarang setuju bahwa pendidikan akhlak inti pendidikan Islam, dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. b. Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan Islam bukan hanya menitikberatkan pada keagamaan saja, atau keduniaan saja akan tetapi kedua-duanya. c. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat atau yang lebih dikenal sekarang ini dengan nama tujuan professional d. Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keinginan tahu dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri e. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknikal dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu dan ketrampilan pekerjaan tertentu agar ia dapat mencari rezeki dalam hidup disamping memelihara segi kerohanian dan keaagamaan (Ramayulis. 2006:137-138) Pendidikan Berdasarkan Pancasila Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila juga merupakan pendidikan agama Islam, karena peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana yang dimaksud dalam GBHN, hanya dapat dibina melalui pendidikan agama yang intensif. Untuk mencapai hal tersebut di atas maka pelaksanaannya dapat ditempuh dengan cara: a. Membina manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna sehingga mencerminkan sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya. b. Mendorong manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di
112
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PENDIDIKAN DAlAm PERSPEKTIF ISlAm DAN NEGARA

akhirat. c. Mendidik ahli-ahli agama yang terampil (Zakiah Daradjat, dkk. 2006: 8889). Zakiah Daradjat (2006), Pendidikan agama mempunyai tujuan-tujuan yang berintikan tiga aspek yaitu aspek iman, ilmu dan amal, yang pada dasarnya berisi: 1. Menumbuh suburkan dan mengembangkan serta membentuk sikap positif dan disiplin serta cinta terhadap agama dalam berbagai kehidupan anak yang nantinya diharapkan menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt, taat kepada perintah Allah Swt dan rasulnya memamg untuk mencapai tujuan ini agak sulit dan memerlukan banyak kesabaran karena hasilnya tidak segera tampak mengingat hal tersebut menyangkut masalah pendidikan mental dan kepribadian. Dari sikap yang demikian itulah justru keimanan dapat ”diukur” dan dengan keimanan itu pulalah nantinya anak akan menjadi manusia dewasa yang dalam kehidupannya mengindahkan dan memuliakan agama sehingga memungkinkan dirinya terjauh dari berbagai godaan dunia yang bertentangan dengan ajaran agamanya serta bertanggung jawab terhadap baik buruknya sesuatu masyarakat dan negara dimana ia berada. 2. Ketaatan kepada Allah Swt dan Rasulnya merupakan motivasi intrinsik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang harus dimiliki anak. Berkat pemahaman tentang kepentingannya agama dan ilmu pengetahuan (agama dan umum) maka anak menyadari keharusan menjadi seorang hamba Allah Swt yang beriman dan berilmu pengetahuan. Karenanya, ia tidak pernah mengenal henti untuk mengejar ilmu dan teknologi baru dalam rangka mencari keridhaan Allah Swt. Dengan iman dan ilmu itu semakin hari semakin lebih bertaqwa kepada Allah Swt sesuai dengan tuntunan Islam. Dengan kata lain tujuan pada aspek ilmu ini adalah pengembangan pengetahuan agama yang dengan pengetahuan itu dimungkinkan pembentukan pribadi yang berakhlak mulia, yang bertaqwa kepada Allah Swt, sesuai dengan ajaran Islam dan mempunyai keyakinan yang mantap kepada-Nya. 3. Menumbuhkan dan membina keterampilan beragama dalam semua lapangan hidup dan kehidupan serta dapat memahami dan menghayati
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

113

HAzRullAH

ajaran agama Islam secara mendalam dan bersifat menyeluruh sehigga dapat digunakan sebagai pedoman hidup baik dalam hubungan dirinya dengan Allah Swt melalui ibadat, salat umpamanya dan dalam hubungannya dengan sesama manusia yang tercermin dalam akhlak perbuatan serta dalam hubungan dirinya dengan alam sekitar melalui cara pemeliharaan dan pengolahan alam serta pemanfaatan hasil usahanya. Penutup 1. Dalam Alquran dan hadis Rasulullah saw. menerangkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membentuk kepribadian muslim, yaitu hamba Allah Swt. yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. 2. Dalam Islam pendidikan itu amatlah penting, dan pentingnya pendididkan tersebut ditandai dengan turunnya ayat yang pertama sekali adalah tentang pendidikan. 3. Negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 juga menaruh perhatian tentang pendidikan, seperti tertera dalam Undangundang Dasar 1945 dan juga Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). 4. Alquran, hadist dan juga negara mempunyai pandangan yang sama tentang pendidikan yaitu sama-sama mempunyai tujuan untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

114

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PENDIDIKAN DAlAm PERSPEKTIF ISlAm DAN NEGARA

Daftar Pustaka
Alquran al Karim Ahmad, Mustafa. (1992). Tafsir Al Maraghi. Semarang: Karya Toha Putra. Aminuddin. (2005). Pendidikan Agama Islam. Bandung: Ghalia Indonesia. Arifin. (1994). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Ar-Razi. (1991). Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut Alquran Serta Implementasinya. Bandung: Diponegoro. Departemen Agama RI. (2003). Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam. Haidar, Putra Daulay. (2004). Kedudukan Pendidikan Islam di Indonesia Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Medan: Cita Pustaka Media. Hanafi, Ahmad. (1990). Pengantar Filsafat Pendidikan. Cet IV. Jakarta: Bulan Bintang. Nata, Abuddin. (1997). Filsafat Pendidikan Islam. Cet I. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Prasetya (2000). Filsafat Pendidikan. Cet II. Bandung: Pustaka Setia Ramayulis ( 2006). Ilmu Pendidikan Islam. Cet V. Jakarta : Kalam Mulia. Suharto, Toto. (2006). Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Al Ruzz. Tilaar. (2004). Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Uhbiyati. (1998). Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Citra Sarana. Yunus. (1999). Filsafat Pendidikan. Bandung: Citra Sarana Grafika. Zakiah Daradjat, dkk. (2006). Ilmu Pendidikan Islam. Cet. VI. Jakarta: Bumi Aksara. Zuhairi. (1995). Filsafat Pendidikan Islam. Cet II. Jakarta: Bumi Aksara.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

115

The Future of Acehnese Children: Equity and Access to Primary Schooling in Aceh Province
Muhammad Thalal
Peneliti pada Lembaga kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh KAS Banda Aceh, M.Ed dalam Curriculum & Instructions dari Texas A&M University, USA

Abstrak Konsep ekuitas dan akses telah menjadi suatu konsep yang kuat di bidang pendidikan multikultural. Ekuitas diartikan sebagai keadilan dan persamaan, sedangkan akses adalah kebebasan dalam menggunakan fasilitas umum misalnya sekolah. Kedua istilah tersebut sering muncul dalam pembahasan mengenai hakhak golongan minoritas. Dalam artikel ini dibahas mengenai konsep minoritas di Aceh serta analisis mengenai ekuitas dan akses terhadap pendidikan tingkat dasar dengan mempertimbangakan empat faktor yaitu gender, pendapatan orang tua, kawasan dan sosio kultural. Analisis berdasarkan faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tingkat dasar di Aceh belum merata di setiap daerah. Selain itu, faktor lain seperti kemiskinan dan konflik bersenjata turut berperan dalam menghambat ekuitas dan akses anak-anak Aceh terhadap pendidikan dasar mereka.

Key words: Equity, access, primary schooling

muHAmmAD THAlAl

Introduction Aceh, previously known as Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), is the Indonesian republic’s most western province. It is a diverse region consisting of 21 districts and city areas inhabited by approximately 4,031,589 people (BPS, 2005) coming from various ethnic groups and language backgrounds. Among this population, there are about 542,211 children by the elementary school age (712 years old) in which there are around 12,000 children who never attend school and 14,000 children who are no longer on primary schooling (BPS, 2005) although Law No. 2/1989 indicates a nine-year compulsory education for all children (PSP, 2005). Primary schooling has been declared in article 1 of UNESCO’s World Declaration on Education for All that every person – child, youth, and adult – shall be able to benefit from educational opportunities designed to meet their basic learning needs. Basic schooling is the foundation for lifelong learning and human development on which countries may establish further levels and types of education and training systematically (UNESCO, 1990). Starting from the fact above, it should be questioned the factors behind the underrepresentation of some Acehnese children in primary schooling. Although some less privileged social classes and various ethnic groups living in the region already had access to primary education, the extent to which the participation in primary schooling in Aceh has reached all social, economic, and cultural classes must be analyzed further. It is expected that this analysis would be helpful in the sense of deciding the educational policy to help those Acehnese children who are missing the most important part of schooling opportunity in their life. The Demography of primary school population in Aceh The population of Aceh is mainly divided by ethnic backgrounds, religious beliefs and spoken languages. The majority of population is Acehnese (50 percent) spreading across the east and west coast of Aceh territory. The other population found in Aceh consists of Javanese (16 percent), Gayo Lut (6 percent), Gayo Lues (5 percent, Alas (4 percent), Singkil (3 percent), and Simeulue (2 percent). There are other ethnic groups known as Tamiang, and Aneuk Jamee, and Chinese. The main religion is Islam (97.6 percent), followed by Christianity (1.7 percent), Hindu
118
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

THE FuTuRE oF AcEHNESE cHIlDREN: EquITy AND AccESS To PRImARy ScHoolING IN AcEH PRovINcE

(0.08 percent), and Buddhism (0.55 percent) (“Aceh,” 2007). Moreover, it must be cleared that the term Acehnese used in this article is a general term which covers all ethnic groups within the territory of Aceh. The term should not only refer to the Acehnese speaking population, but also to other population inhabiting some parts of the territory. According to BPS (2005) census, the current population in Aceh consists of 2,005,763 males and 2,025,826 females. The primary schooling age group (7-12 years old) indicates 279,712 males and 262,499 females. From this age group, there are around 12,221 children who never attend school and 14,248 children who are no longer on schooling. This fact shows that the amount of school participation for primary school age is only 94.72 percent and the number of males is more than females. Around five children from every 100 children at elementary age group do not participate in primary schooling (BPS, 2005). However, the 2006 data from the education department of Aceh Province shows that around 53.550 children or 17.69 percent out of total children in Aceh do not have access to primary schooling (Iskandar, 2007, December 11). The data from the Indonesian educational statistic center itself shows that there are 3,214 elementary schools available across the Aceh region (PSP, 2005). Acehnese children living in urban areas, rich households, and those coming from the dominant social class are likely to get better access to primary education, whilst children from rural areas who come from poor family miss the best time in their life for primary schooling. Muhaimin (as cited by Sadiman, 2004) states that generally educational disparities in Indonesia can be seen across geographical areas, urban and rural, between western and eastern part and among groups of people with varying income and gender. Meanwhile, the immigrants, such as Chinese, in Aceh enjoy the successful in terms of their economic and education, whereas the majority of Acehnese population living in remote areas, in most cases, is facing the disadvantage in terms of welfare. The field observation conducted during September 2008 in several west coast districts of Aceh indicates that most Acehnese groups are also living in poverty across rural, remote and sparsely populated areas of the region where economic and physical development is still growing very slowly.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

119

muHAmmAD THAlAl

Equity and access and primary schooling Equity and access has become a very strong concept in the field of multicultural education. Arnez (1993) defined equity as fairness and justice, and access as freedom to make use of the contract process of public schools. This concept is often relative to group or ethnic minorities in a country in terms of their achievement. In this article, the concept “people of color” or “students of color”, as it is usually found in the American context, is not used since the diversity that exists in Aceh is around the ethnic or linguistic identity and religious beliefs within a common racial group. The use of minority label is also reduced as much as possible. Whenever the minority term appears in this article, it can be variously defined in terms of Acehnese economic circumstances, political or religious beliefs, ethnic or linguistic background, and gender (Lee, 1998). Obviously, it is difficult to collect data on minorities in Aceh, since the governments does not report data based on minority group membership especially related to educational access and equity. As it was described by Lee previously, the analysis of equity in Asia needs to consider four factors: gender-related, income-related, region-related, and sociocultural. Since Aceh and its people are part of Asia, these factors are likely to contribute in understanding the concept in the Aceh’s context. First, the number of girls who have access to primary schooling must be observed especially upon their achievement and success in education and their opportunities to benefit from education to enhance their life quality. The data from BPS (2005) shows that number of girls attending elementary schools is more than boys. This fact does not indicate that girls are underrepresented in primary schooling since it follows the population trend of elementary schooling age group. Therefore, the difference between girls and boys is not significant. However, it is not clear whether this fact represents girls living in both rural and urban areas or over represents girls living in urban area. Some other factors such as financial support, community beliefs, local tradition and values contribute significantly in limiting girls’ access to primary schooling. Their educational opportunities are often limited by socio-cultural perceptions on girls that are unfavorable for them to go to school. Vianen (2006) stated that in Aceh from a young age, girls are socialized with the idea that family is their most important place. The majority of Acehnese living in countryside still
120
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

THE FuTuRE oF AcEHNESE cHIlDREN: EquITy AND AccESS To PRImARy ScHoolING IN AcEH PRovINcE

hold the perception that women who work outside the house cannot take care of their husband and children. Secondly, it should be taken into account the income-related equity that refers to the access of financially disadvantaged groups to basic education and their opportunities to succeed in primary schooling. Sadiman (2004) explained how many lower-income people do not see the benefit of sending their children to school after seeing the fact that many school or even university graduates cannot find any job and remain unemployed. The unemployment rate in Aceh is very high. The poverty rate is 49.7 % if the standard of earning is US$1 per day (Unrepresented Nations and Peoples Organization (UNPO), 2007). Although primary schooling is almost free, most poor people cannot afford to buy school basic needs such as uniforms and textbooks. Therefore, only children whose parents have sufficient income may have the opportunity to enjoy primary schooling.  This situation reveals the fact that access to basic education in Aceh is still unequal due to income-related problem. Third, it should be considered region-related equity that refers to the educational opportunities of the people living in disadvantaged areas throughout Aceh. Most non- Acehnese ethnic groups, except the Chinese immigrants, in the region generally occupy areas where economic and physical development is growing very slowly. Moreover, the government gives less attention to education of remote area population. The research conducted by Bina Masyarakat non government organization found that in most remote areas, children must still sit in the open sphere when they study due to the unavailability of school facilities (Serambi Indonesia, February 10, 2008, p. 9). This fact reveals that equity and access to primary schooling in rural areas should more and more be reviewed. Fourth, socio-cultural equity that refers to the educational opportunities of socio-culturally disadvantaged groups should be regarded. Frederick and Worden (1993) explained that the concept of ethnic minorities in Indonesia is often discussed not in numerical but in religious terms. In Aceh, basically, people are divided by being Muslim or non-Muslim and it is indicated on the identification card.  Being non-Muslim children in Aceh could be considered as a disadvantage since almost all schools in Aceh are dominated by Muslim. To this end, there is no such official data indicated the number of students
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

121

muHAmmAD THAlAl

enrolled in primary schools in Aceh based on their ethnic backgrounds. Collecting such data will probably break out the harmony that people from different ethnic groups currently enjoy. Lee (1998) supported this view that some countries adopt official policies to promote unity and discourage collection of data by minority status. Other factors that we need to take into account are the impacts of armed conflict between the Acehnese Freedom Movement and the Indonesian National Army since 1976 to 2005, and the huge impact of tsunami disaster that struck the region on December 26, 2004. Poverty, armed conflict and primary schooling Brooks-Gunn and Duncan (1997) defines poverty as the condition of not having enough income to meet basic needs for food, clothing, and shelter. They raise an important question about what poverty means for children and how it influences their day-to-day lives. Children cannot change family conditions by themselves, at least until they approach adulthood. According to the World Bank’s (2008) report, poverty rate in Aceh has increased slightly after the tsunami disaster, from 28.4 percent in 2004 to 32.6 percent in 2005. However, the poverty rate in Aceh declined in 2006 due to reconstruction activities in which more jobs were offered. It is predicted that the poverty rate will increase again after the reconstructions end. Poverty in Aceh is predominantly a rural phenomenon, with over 30 percent of rural households living below the poverty line. This compares with less than 15 percent of poor households in urban area.

Figure 1: The poverty rate in Aceh based on World Bank’s (2008) Assessment.
122
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

THE FuTuRE oF AcEHNESE cHIlDREN: EquITy AND AccESS To PRImARy ScHoolING IN AcEH PRovINcE

The country has recently regained-income status after regressing to lowincome status in the economic crisis in 1998. Nevertheless, increasing food and oil prices have seen poverty increase since 2005, and a large number of people in Aceh live below the poverty line. According to Iskandar (2007, December 11), the lack of access to primary schooling in Aceh is mostly faced by children living under poverty in remote areas. Despite the new policy in the Aceh Government Act Year 2007 that districts must assure the 12-year long compulsory education for all children, the implementation of the policy is still hindered by some obstacles namely: (1) the lack of coordination between education officials at the provincial levels and education staff in districts, (2) the policy implementation quality is not optimal, (3) the educational management principles still do not fully take sides with people living in poverty, (4) the lack of educational database and information, (5) most districts and schools still do not have Renstra or strategic planning, and (6) education staff in districts still do not posses sufficient competencies. In addition to poverty, violence which resulted from the fighting between the Indonesian government army and the Acehnese army was hampered children access to schooling in some conflict-areas for almost thirty years. Nettleton’s (2007) article describes a story: Fourth-grader Sri Rahmadani, 10, takes pride in her attendance record at school. “Unless I am sick, I want to come to school,” she says. It is a dramatic turn from two years ago, when she, like most of her classmates, was terrified of going to class. Even before the tsunami struck this region in December 2004, her village outside the provincial capital, Banda Aceh, had long suffered during fighting between Acehnese rebels and the Indonesian military. Panca Primary School was burned during the conflict, and classes at a makeshift temporary structure were often cancelled because of violence. Sri Rahmadani’s father was kidnapped during the conflict and remains missing. She says she was always worried someone would take her, too. The similar story also occurred in most districts of Aceh Province before the peace deal took place between the Acehnese rebels and the Indonesian government on August 15, 2005 in Helsinki, Finland. Despite the United Nations document states that education has a crucial
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

123

muHAmmAD THAlAl

preventive and rehabilitative part to play in meeting the needs and rights of children in conflict areas, however, during the armed conflict not even schools are safe from danger of attack. School buildings are very vulnerable to be target of shooting, shelling, looting and burning. During years of conflict in Aceh, many schools were burnt by irresponsible parties. In addition to buildings, local teachers were often as prime targets as they were important community members or because they may have different political view. Moreover, during the armed conflict, fear and disruption of explosive materials make it hard to create an atmosphere conducive to learning, and the morale of both teachers and students is likely to be low. As conflicts in Aceh have been occurred for years, economic and social conditions also suffered and educational opportunities become more limited for children. All these events have hampered the primary schooling in Aceh during the armed conflict. Lost of education infrastructures and vocational skills from the conflict era followed by the earthquake and tsunami disaster will take years to rebuild and rehabilitate, making the number of children who miss the opportunity to attend primary schooling even larger. Conclusion As suggested by Sadiman (2004), access to primary schooling can be improved by providing free education for all. Consequently, the government of Aceh must provide more funding to support the teaching expenses in making primary schools available in all remote areas. High salary bill should be also used efficiently to improve the quality of teachers and teaching. Observing the primary schooling in Aceh through the concept of equity and access makes more difference than just looking at it from the general perspective since it gives a clearer picture of Acehnese children’s future. The government of Aceh and its legislative council as well as the educational policy makers must assure that all children in the region regardless their languages and religions have access and equity to primary schooling. Aceh, as part of a developing country, should concentrate public resources on primary education because it is an essential element for sustainable development and to reduce poverty. Primary schooling should be the priority for public spending
124
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

THE FuTuRE oF AcEHNESE cHIlDREN: EquITy AND AccESS To PRImARy ScHoolING IN AcEH PRovINcE

on education in countries that have not yet achieved equity and access to primary education (Torres, 1999). The government should allocate educational funds to provide the slow growing regions sufficient resources so that all children can have access to primary schooling. Educators should advice the policy makers in Aceh to make equity and access to primary education a key policy goal with the important target group those children living in disadvantaged regions and from poor family, and girls (World Bank, 2007). Finally, it is imperative that educators are able to examine facts related to equity and access carefully and work to address inequities in any community throughout Aceh region. There are indeed children of particular ethnic groups in Aceh who are missing the opportunity to primary schooling due to their family’s poverty. In addition, media and the community should be encouraged to investigate carefully the primary schooling system in Aceh in order to expunge the fact that poor children continue to be left behind the rich.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

125

muHAmmAD THAlAl

References
Aceh. (2007, April 19). In Wikipedia, The Free Encyclopedia. Retrieved April 22, 2007, from http://en.wikipedia.org/wiki/Aceh#_note-0 Arnez, N. L. (1993). Equity and access in the instructional materials area. Journal of Black Studies, 23 (4), pp. 500-514 Badan Pusat Statistik (BPS). (2005). Aceh post earthquake and tsunami population and demographic: Result of Nanggroe Aceh Darussalam population census 2005. Jakarta Brooks-Gunn, J., & Duncan, G.J. (1997). The effects of poverty on children. The Future of Children, 7 (2), 55-71. Frederick, W. H. & Worden, R. L. (eds.). (1993). Indonesia: A country study. Washington: GPO for the Library of Congress. Retrieved April 22, 2007 from http://countrystudies.us/indonesia/ Iskandar, D. (2007, December 11). Hak pendidikan anak daerah terpencil [educational rights for children of remote areas]. Serambi Indonesia. Retrieved on April 2, 2008, from http://www.serambinews.com/old/index. php?aksi=bacaopini&opinid=1357 Lee, W.O. (1998). Equity and access to education in Asia: leveling the playing field [electronic version]. International Journal of Educational Research, 29, pp. 667-683. Ministry of National Education (MoNE) of Republic of Indonesia. (n.d.). Overview of higher education by status 2003-2004. Retrieved April 21, 2007 from http://www.psp.depdiknas.go.id/index.php?option=com_ wrapper&Itemid=43  Nettleton, S. (2007, December). New classrooms and a safe haven for tsunamiaffected children in Aceh. UNICEF. Retrieved on April 3, 2008, from http:// www.unicef.org/infobycountry/indonesia_42220.html Pusat Statistik Pendidikan (PSP). (2005). Overview of primary schools by province 2004-2005. Ministry of National Education (MoNE) of Republic of Indonesia. Retrieved on April 21, 2007, from http://www.depdiknas.go.id/ statistik/statistik/thn04-05/SD_0405_files/sheet004.htm
126
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

THE FuTuRE oF AcEHNESE cHIlDREN: EquITy AND AccESS To PRImARy ScHoolING IN AcEH PRovINcE

Sadiman, A.S. (2004). Challenges in education in South East Asia. Bangkok: SEAMEO Library. Retrieved on April 21, 2007 from http://www.seameo. org/vl/library/DLWelcome/Publications/paper/india04.htm Serambi Indonesia. (2008, February 10). Perhatian untuk pendidikan masyarakat pedalaman masih minim [The attention to the education of remote area population is still minimal] Serambi Indonesia, pp. 9. Torres, R. (1999). Improving the quality of basic education? The strategies of the World Bank. In N. P. Stromquist & M. L. Basile (eds.). Politics of educational innovations in developing countries: An analysis of knowledge and power (pp. 59-92). New York: Falmer Press. UNESCO. (1990). World declaration on education for all. Retrieved on March 29, 2008, from http://www.unesco.org/education/efa/ed_for_all/background/ jomtien_declaration.shtml Unrepresented Nations and Peoples Organization (UNPO). (2007). Aceh: Governor speaks about future change. Retrieved April 22, 2007 from http://www.unpo.org/article.php?id=6498 Vianen, I. (2006). Women, gender and work in Nanggroe Aceh Darussalam province. International Labor Organization. Retrieved on April 4, 2008, from http://www.ilo.ch/public/english/region/asro/jakarta/download/ genderinaceh.pdf World Bank. (2008). Aceh poverty assessment 2008: The impact of the conflict, the tsunami, and reconstruction on poverty in Aceh. Washington D.C.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

127

Improving the TeachingLearning Process Through Instructional Technology
Erizar
Dosen/Pembantu Ketua STAI Teungku Dirundeng Meulaboh Aceh Barat, M.Ed dari University of Arkansas, USA.

Abstrak The interest system that developed in conventional banks, as matter of fact, is not relevant with the Islamic mission. According to Islam, the system included the ribawi category that not recognize practically which is haram and halal. The system has produced the uncomfortable condition among the moslems. To solve the problem, the Moslem economists have found the new system called it syari’ah bank. Practically, the bank pursues and emphasizes the profit and loss sharing (PLS) through variety of transactions such musyarakah, mudarabah and so on. With this system, the bank proved be able to face the economic crisis and accelerate the economic growth. So that, the system is not only applied in Moslem countries, but also in non-Moslem do the same thing as well.

Key words: The teaching-learning process, Instructional Technology

ERIzAR

Introduction It has been commonly acknowledged that the development of knowledge requires human being to be well prepared. In discussion about knowledge, it comes up in our mind that knowledge and technology is related because they support each other. Nowadays, many people who are involved in the educational sector, trying to develop the best service for the stake holders (students and other parties who are involved in education) so that they can get access to education easily. One of the ways that we can create is introducing the idea of using Instructional Technology (IT) in teaching-learning process. Instructional Technology is the theory and practice of design, development, utilization, management, and evaluation processes and resources for learning. Similarly to that, Genry (1995) says that Instructional Technology is the systematic application of strategies and techniques derived from behavioral and physical sciences concepts and other knowledge of instructional problems. Based on these definitions, IT can be used as a means to solve educational challenges, both in the classroom and in distance learning environments. Also, through using IT, anyone can get educational services from their institutions. Educational experts believe that a university which does not use IT might lower its credibility. However, using this technology in large numbers can cause people to be too dependent on technology. These two different opinions are not essential to be argued because each of them has its own perspective. Instead, the issues that should be addressed are how the information system affects education, mainly in the teaching-learning process and how to develop some strategies to get optimal results. Learning is a subsystem which always aims at achieving a better life for humans. The appeal of IT hopefully can meet the need for better learning processes. With its contribution, IT becomes an unavoidable system in the teaching-learning process. Based on this consideration, in this paper, I will analyze how this technology influences students’ learning processes which might include several important points such as benefits, challenges, and recommendations for its implementation. Information Technology (IT) in Education The fast development of Information Technology (IT) has changed all
130
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

ImPRovING THE TEAcHING-lEARNING PRocESS THRouGH INSTRucTIoNAl TEcHNoloGy

aspects in humans’ lives. With this shifting , we will be encouraged to have a better understanding of multimedia standards, data communication processes, accessibility, web-based collaborative software. Additionally, IT has been introduced in universities which give a positive effect in educational systems. In other words, Information Technology has given a great contribution to the teaching-learning process. Also, this technology stresses how to learn effectively without depending on place and time. Bruce and Levin (1997) states that Instructional Technology (IT) can provide three important types of tools: tools for inquiry, tools for communication, and tools for construction. These tools can boost the teaching- learning process in class. Moreover, there are many educational institutions that conduct long distance learning by using Information Technology. This education method is known as e-Education, e-Learning, e-Campus, e-digital, Tele-Education, Cyber-Campus, Virtual University, and so forth. It seems that this model of education is more favorable now and will be in the future. In addition to that, Model e-Education can be an alternative model that goes along with the development of Information Technology. Wetzel and Strudler (2006) say that this model of education gives teachers some benefits which include opportunities to reflect better access to and organization of professional documents, better technology skills, and better understanding of teaching standards. Experts indicate that teaching students through IT can give students more spaces to understand, to try, to feel, and to find self-esteem. With this great approach, a class will seem more active and attractive because students can easily interact with their teachers and other classmates. Therefore, a good teachinglearning atmosphere is not only beneficial for enhancing students’ achievement but also for decreasing their stress. In the future, the learning process will be more independent, giving students access to explore and to experiment by themselves. On the other hand, the traditional education model ,which seems very serious and over regulated, can be changed by self-study styles which are based on principles of cognitive knowledge. With this model, students are encouraged to improve their motivation in studying because every student has their own learning styles and talents. Therefore, schools should be able to accommodate their individual learning styles. For
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

131

ERIzAR

example, some students feel that it is easier to study visually through seeing pictures and diagrams, while others feel comfortable with auditoria. Some Benefits of Using Instructional Technology (IT) in the Teaching-Leaning Process No one denies that the development of technology has given positive contributions to the teaching-learning process. Similarly to that, the Instructional Technology also gives some benefits to the users. According to Draude and Sylvia (1993) , there are several benefits of using Instructional Technology in Education : 1. The Use of Instructional Technology Positively Affects Student Learning A lot of research has proven to us that there is a strong relationship between Instructional Technology and the teaching-learning process. Surely, it presents positive results to students to understand their lesson presented by teachers. Also, students acknowledge instructional technology's appeal to different learning styles that enable them to be more creative. 2. The Use of Instructional Technology Increases Student Interest and Satisfaction A lot of students say that using Instructional Technology does fascinate them. They add that using this technology can enhance their communication either among themselves or teachers, and this makes them satisfied. As a result, this positive communication has a good impact on their academic achievement. 3. The Role of Teachers and Their Ability to Use Instructional Technology are Major Factors The majority of the responding students feel that they have the skills and knowledge to effectively use technology. The ability of teachers to use technology as an effective teaching tool is very important. For that consideration, it is essential for the teachers to make themselves ready to use this Instructional Technology. 4. Instructional Technology Techniques are better facilitate in Learning Activities Some studies have indicated that using technology is beneficial to education. For that reason, technology does indeed play an important role in improving conditions in order to produce better learning in classrooms, which make students feel more comfortable in learning. There is no doubt that with
132
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

ImPRovING THE TEAcHING-lEARNING PRocESS THRouGH INSTRucTIoNAl TEcHNoloGy

better instructional technology techniques, students will be able to achieve the targets and objectives of the teaching-learning process. 5. Instructional Technology is an Integral Part of Today's Learning Environment It is widely accepted that studying by IT is part of today’s learning environment. Therefore, students are supposed to able to use IT effectively as they enter the real world. Also, since technology is used and found everywhere, the use of this technology in the classroom will make students more motivated about their education. Moreover, this technology can teach students things that they need to know when they enter the workforce in the future. In other words, to ignore it would be detriment to anyone's career. Challenges in using International Technology (IT) in the Teaching -Learning Process Although using this technology has led us to get some benefits from it, there are some challenges that teachers might face when implementing this technology. According to Blando and Means (1993), there are some challenges faced in using this technology: 1. Learning How to Use a variety of Technology Applications Teachers need to develop a method of keeping abreast of new technologies and finding out about the potential power each technology application has with respect to inquiry-based teaching and learning. Each new application brings new benefits and new problems to be solved. For example, although electronic networks are opening the classroom to new learning for both teachers and students, this medium brings new challenges for teachers, such as the network crashes, incompatible files, and inaccessible materials. 2. Using, Adapting, and Designing Technology-Enhanced Curricula to meet Students’ needs When teachers integrate technology applications into the curriculum, they should know that they are developing curriculum regardless of how extensively technology is used (one program or multiple programs) or how state of the art the technology applications being used are. Any technology integration requires that teachers engage in rethinking, reshifting, and reshaping their curriculum. Any technology use should force teachers to pose questions such as what new
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

133

ERIzAR

knowledge of my content or discipline, do I need in order to foster new learning in my students? The answers to these questions will bring some implications for teachers’ teaching activities in the class room. 3. Expanding Content Knowledge Many of the technology applications imply a broader and deeper knowledge of the discipline may be required by teachers. So, this will be another challenge for teacher to make themselves get used to IT. Although teachers can learn alongside students, discomfort with the content may cause them to limit student’s experiences and explorations. Consequently, the objective of the teaching-learning process will be hardly achieved. 4. Responding to Individual Students Teachers need to know a great deal about cognitive processes and processing in their students’ strengths and learning styles. When students work collaboratively on a technology-based assignment, teachers face another issue in responding and answering questions. Also, teachers need to assess group performance on a project and to observe students’ individual performances which might cause them to have difficulties. Suggestions and Recommendations in Using Instructional Technology As stated in the previous paragraphs, the appeal of Information Technology is unavoidable nowadays. For that reason, it really makes sense that in order to be able to implement this technology efficiently, some suggestions and recommendations are needed. There are some suggestions that need to be considered: 1. Teaching Vision Information Technology (IT) brings changes in teaching aspects and its teaching paradigm. There are several issues that come up with using this Instructional Technology : Does the teaching process still focus on the materials or teachers preferences, or does it only focus on students’ competence? Is the teaching process flexible in getting access for students? For these considerations, the explanations should be clear so that this technology can be used optimally. 2. Strategic Implementation Cuban (2001) indicates that since the amount and variety of technology available to schools continues to grow, the potential for new and innovative
134
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

ImPRovING THE TEAcHING-lEARNING PRocESS THRouGH INSTRucTIoNAl TEcHNoloGy

ways to enhance students' educational experiences increases as well. Strategic Implementation of this technology should be done gradually and systematically. This gradual process will ensure that the stage which is being planned is doable. Also, this gradual process will make teachers able to describe some advantages of using IT, such as this technology can help students to improve their academic achievement. This great contribution will make teachers confidently use Instructional Technology in teaching. 3. Infrastructure Infrastructure is fundamental in using Information Technology in teaching. The reason is that the using of Information would rely on supported appliances. When one of them is not available, the implementation of Information Technology will not be optimal. So, in order to make this teaching program run as expected, the availability of adequate appliances should be prioritized. 4. The Readiness of Teachers Teaching is a process of knowledge transition and knowledge application. Information Technology (IT) is surely believed to be the tool that can boost the teaching process. Considering the importance of using this technology effectively, it is essential that teachers have good attitude and sufficient knowledge about IT. Fullan (1998) says that if we expect teachers to use technology in ways that enrich and enhance students’ achievement, we must provide them with the professional development they need to develop the confidence and skills to apply technology. Additionally, this will help teachers in understanding of how technology supports standards-based education. For that reason, preparing teachers should begin with recognizing stages, then, adaption, and some implementations, such as training learning by doing. Some trainings might be computer , internet literacy, technical knowledge, operational computer, technical knowledge and operational computer training. 5. Collaboration and Consortium Teaching based on Information Technology (IT) cannot work alone because it needs collaboration and support from other aspects. In this case, collaboration and development of skill is the initial success of the teaching-learning process. Evaluation is also an important part of this method in order to revise and develop its quality. Therefore, this strategy needs sufficient collaboration and resources in
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

135

ERIzAR

order to make a better change in the future. Conclusion People believe that Instructional Technology plays a significant role in supporting the teaching-learning process. In addition, Instructional Technology is systematic ways of designing, developing, implementing, and evaluating the total process of teaching and learning in term of specific objectives, learning activities, and evaluation to bring about more effective learning. This technology benefits not only the students but also the teachers themselves by making their teaching styles more creative and dynamic. Since Instructional Technology (IT) has been introduced in education, it makes sense that there are several challenges faced in implementing this technology. However, by following some suggestions and recommendations, these challenges can be dealt so that the purpose of the teaching-learning process can be gained gradually.

136

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

ImPRovING THE TEAcHING-lEARNING PRocESS THRouGH INSTRucTIoNAl TEcHNoloGy

References
Blando, J . , & Means, B. (1993). Using technology to support education reform. Washington, DC: U.S. Government Printing Office. Bruce, B., & Levin, J. (1997). Educational technology: media for inquiry, communication, construction and expression. Journal of Educational Computing Research, 17(1), 79-102. Cuban, L. (2001). Oversold and underused: Computers in the classroom. Massachusetts: Harvard University Press. pp. 131-175. Draude, B., & Brace, S. (1993). Assessing the impact of technology on teaching and learning Student Perspectives. Journal of Computer Assisted Learning, 6, 149-167. Fullan, M. (1998). The three stories of educational reform: Inside; inside/out; outside/in. Kappan Professional Journal, 12 (4), 214-220 Genry, C. G. (1995). Educational technology: A question of meaning. Englewood, CO: Libraries Unlimited. Seels, B. B., & Richey, R. C. (1994). Instructional technology: The definition and domains of the field. Association for Educational Communications and Technology. Washington, DC : U.S. Government Printing Office. Wetzel, K. , & Strudler, N. (2006). Costs and benefits of electronic portfolios in teacher education: Student voices. Journal of Computing in Teacher Education, 22(3) 57-160.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

137

Reformasi Sistem Pendidikan Perguruan Tinggi di Aceh
(Paradigma Pembentukan Sarjana ke-Islaman)

Syabuddin Gade
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh

Abstract Challenges of human life, especially for the people of Aceh, start to be mounted up from local up to international-global challenges such as the advancement of science and technology. Faced with enormous challenges, the people of Aceh need immediate improvement. One is the need to produce Islamic graduates in a macro sense, not micro. Efforts to this direction are absolutely necessary to reform college system (Islamic/Public Higher Education Institution) in Aceh. It is because universities in Aceh are institutions that directly design the format of Islamic graduates. A few thought needed to be developed and recorded in systematic way by involving all relevant parties as an effort to reform higher education systems in Aceh is to redesign paradigm of Islamic sciences, and reform the curriculum and the academic climate.

Key words: Sistem perguruan tinggi, Sarjana Keislaman, PTAI

SyAbuDDIN GADE

Pendahuluan Reformasi atau pembaharuan sistem pendidikan merupakan suatu keniscayaan bukan hanya karena tuntutan perubahan global yang multi dimensional dan terus menerus bergulir, tetapi juga karena fungsi dan tujuan Islam yang dalam skala makro yang berorientasi pada pembentukan dan pembangunan potensialitas kemanusiaan dalam segala aspeknya sehingga menjalankan tugas kehambaan kekhalifahannya dengan baik untuk meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat. Ketika memperhatikan Nanggroe Aceh Darussalam sebagai nama baru dari propinsi yang dulu bernama Daerah Istimewa Aceh, maka akan ditemukan suatu sistem pendidikan yang tidak berbeda dengan propinsi–propinsi lain di Indonesia. Yaitu sistem pendidikan agama Islam dan sistem pendidikan umum, mulai dari jenjang yang paling rendah hingga Perguruan Tinggi. Pada jenjang Perguruan Tinggi dikenal Perguruan Tinggi Umum (PTU) seperti Universitas Syiah Kuala, Universitas Abulyatama dan lainnya dan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) seperti IAIN Ar-Raniry, dan beberapa STAI Swasta lainnya. Kedua jenis perguruan tinggi tersebut memiliki watak, corak dan budaya akademik masing-masing. PTU di universitas, sekolah dan akademi mengasuh berbagai ilmu pengetahuan “umum” seperti ilmu kesehatan, teknik, pertanian, ekonomi. Ilmuilmu ini sarat dengan nilai-nilai ekonomi dan keteknoktarisan dalam menjawab dan memecahakan berbagai masalah kehidupan dan umumnya lebih banyak berorientasi keduniawian. Sedangkan PTAI lebih dominan mengasuh ilmu-ilmu “agama” seperti Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin, Dakwah dan Adab. Semuanya sarat dengan nilai-nilai dan religiusitas dan lebih bernuansa ke-ukhrawian. Corak disiplin ilmu yang ditawarkan PTAI secara umum memiliki misi dakwah Islamiah, menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar). Dalam sistem pendidikan yang dikotomis seperti itu kemudian lahirlah berbagai corak kesarjanaan, baik sarjana ilmu agama maupun sarjana ilmu umum. Padahal yang ingin dikembangkan adalah pengembangan keilmuan, moral dan profesionalitas kesarjanaan, tanpa memandang ilmu ini adalah ilmu umum (dunia) dan yang itu adalah ilmu agama (akhirat), tetapi yang penting semuanya bernafaskan ajaran Islam. Dengan demikian, akan membentuk sarjana keIslaman bukan hanya para alumni PTAI yang mendalami ilmu agama tadi, tetapi sarjana Produk PTU pun bisa saja dianggap sarjana keislaman manakala
140
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

REFoRmASI SISTEm PENDIDIKAN PERGuRuAN TINGGI DI AcEH

mampu memahami dan menjalankan dasar-dasar keagamaannya secara baik dan benar, meskipun bidang ilmu yang ditekuninya dianggap ilmu “umum.” Kemudian bila sistem pendidikan tersebut dikaitkan dengan tuntutan dan tantangan global yang terus bergulir serta tuntuan lokal berupa otonomi khusus yang memerlukan sarjana yang berkualitas di NAD, maka sistem pendidikan yang selalu menanggung beban secara formal adalah sistem pendidikan agama, khususnya IAIN Ar-Raniry dan lainnya sebab PTAI merupakan “ujung tombak” pembawa missi “keagamaan” dan mereka dianggap mampu menata kehidupan umat yang lebih Islami meskipun kualitas kesarjanaannya sering dipertanyakan orang. Tambahan lagi, sekarang ini sudah dicanangkan pemberlakuan syariah Islam di NAD, maka beban PTAI semakin berat karena dituntut untuk mampu berkiprah secara optimal. Adapun jenjang perguruan Tinggi Umum (PTU), seperti Unsyiah tampaknya dalam banyak hal jauh lebih siap dan tidak begitu terbebani dalam kaitannya dengan tuntutan global dan lokal tadi bila dibandingkan dengan PTAI. Bahkan mungkin, PTU secara kelembagaan merasa tidak memiliki tanggung jawab Islam di NAD. Hal ini dengan hanya memfokuskan diri pada ilmu-ilmu bidang “umum” dan pada pihak lain, syariat Islam dianggap wilayah kajian intens PTAI. Padahal bila konsep ilmu keIslaman dipahami secara makro, universal, tidak dikotomistik dan tidak bebas nilai tetapi bebas dinilai, maka tentu pembentukan dan pengembangan sarjana keIslaman tidak hanya menjadi PTAI an-sich, tetapi juga menjadi tugas dan kewajiban PTU di NAD yang nota-benenya berpenduduk muslim. Bila butir-butir pemikiran tersebut disepakati, maka sistem pendidikan di NAD perlu direformasi secara total, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Usaha reformasi pendidikan pada tingkat dasar menengah dan lanjutan atas akan memberi kontribusi yang sangat besar bagi kesuksesan pendidikan kesarjanaan di perguruan tinggi. Usaha ini mulai dirintis oleh jajaran pemerintah NAD dengan keluarnya Peraturan Daerah (Perda) No. 6 tahun 2000 tentang pendidikan. Namun sampai saat ini masih pada taraf percontohan, seperti SD 110 Lamlagang direformasi menjadi Madrasah Dasar (MD) Community School dan SLTPN di Komplek BPG direformasi menjadi Madrasah Lanjutan Pertama (MLP) Unggulan. Khusus mengenai reformasi pendidikan pada jenjang Perguruan
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

141

SyAbuDDIN GADE

Tinggi agaknya sampai saaat ini belum ada upaya ke arah itu. Padahal UU No 44 Tahun 1999 dan UU No 18 Tahun 2001 merupakan “angin segar” bagi NAD untuk melakukan reformasi pada semua jenjang pendidikan. Reformasi sistem pendidikan dalam rangka pembentukan sarjana keIslaman secara formal merupakan fungsi dan tugas Perguruan Tinggi baik PTU maupun PTAI, negeri maupun swasta. Hal ini tidak berarti bahwa pembentukan kualitas sarjana keIslaman harus dimulai pada jenjang Perguruan Tinggi, sebab usaha ke arah ini seharusnya dimulai sedini mungkin atau setidak-tidaknya pada jenjang pendidikan yang paling bawah. Namun, mengingat Perguruan Tinggi merupakan jenjang pendidikan yang secara langsung menangani produk kesarjanaan, maka usaha reformasi pada pada jenjang perguruan tinggi mutlak diperlakukan. Karena itu, tulisan ini berusaha mendiskusikan bagaimana kemungkinan reformasi kependidikan pada jenjang Perguruan Tinggi (PTU/PTAI) di NAD sebagai paradigma pembentukan sarjana keIslaman. Diskusi ini akan dituangkan dalan tiga pokok pembahasan, yaitu; reformasi wawasan ilmu keislaman, kurikulum dan iklim akademik. Reformasi Wawasan Ilmu KeIslaman Wawasan ilmu keIslaman yang berkembang dalam dunia kependidikan dewasa ini, termasuk pada jenjang Perguruan Tinggi di NAD, masih dikotomistik. Pada satu pihak, ada ilmu yang dianggap “ilmu agama” dan ada yang dianggap ilmu “non agama” (ilmu umum) pada pihak lain. Ilmu agama, menurut Al Ghazali yakni kelompok ilmu yang diajarkan lewat ajaran-ajaran Nabi dan wahyu. Sedangkan yang lainnya dianggap kelompok ilmu non agama. Pembidangan ilmu keIslaman seperti ini bagi orang non muslim merupakan sesuatu yang wajar dan tidak ada masalah. Tetapi bagi muslim yang sadar akan keuniversalan Islam dalam memandang ilmu pengetahuan, pembidangan ilmu seperti ini akan menimbulkan berbagai persoalan besar. Persoalan yang muncul misalnya, mempertanyakan apakah Islam sebagai agama, memang memandang ilmu pengetahuan dalam bingkai dikotomistik seperti itu ? Apakah Islam meremehkan sebagian ilmu seperti pengembangan ilmu kealaman yang membawa kemajuan teknologi? Bukankah pengelompokan ilmu seperti itu merupakan hasil ijtihad yang bersifat relatif? Bukankah pengembangan
142
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

REFoRmASI SISTEm PENDIDIKAN PERGuRuAN TINGGI DI AcEH

ilmu kealaman mendapat tempat terhormat pada masa keemasan Islam? Bukankah ilmu dalam perspektif Islam sangat universal dan berasal dari Allah. Bila ditelusuri sumber utama umat Islam (Alquran dan Hadits), maka tidak ada suatu ayat dan hadis pun yang secara tegas membagi-bagi ilmu, misalnya yang ini ilmu agama dan yang itu ilmu umum. Pengelompokan ilmu seperti itu merupakan hasil ijtihad semata, sebab ilmu dalam perspektif Islam sangatlah luas dan universal. Kata “ilm” (pengetahuan:knowledge) atau sains (science) mempunyai rangkaian makna yang sangat luas seluas Islam itu sendiri. Islam tidak mengenal konsep dikotomi ilmu pengetahuan. Fazlur Rahman sebagaimana dikutip Muhaimin menyatakan bahwa : Dalam Alquran kata “ilmu” (ilmu pengetahuan) digunakan untuk semua jenis ilmu pengetahuan. Contohnya, ketika Allah mengajarkan bagaimana Nabi Daud membuat baju perang atau Nabi Nuh membuat kapal, itu juga termasuk “al ilm”. Bahkan sihir, demikian Fazlur Rahman, sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Harut dan Marut kepada manusia, itu juga merupakan salah satu jenis “al ilm” meskipun jelek dalam arti praktek dan pemakaiannya. Sebab banyak yang menyalah gunakan sihir itu untuk memisahkan suami isteri. Begitu pula hal-hal yang memberi wawasan baru pada akal termasuk al-ilm. Dalam pandangan Islam ilmu merupakan suatu bentuk ibadah yang mendorong manusia untuk menjalin hubungan yang lebih dengan Allah sebab semua ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah. Pada masa kejayaan Islam pra AlGhazali, tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan non agama (ilmu umum). Ilmu dipahami secara utuh dan hukum dasar mempelajarinya adalah wajib a’in. Perubahan hukum dari wajib a’in menjadi wajib kifayah, mubah atau haram, semata-mata karena ada sebab-sebab tertentu, terutama dilihat dari sisi fungsi, manfaat atau dampak dari pemakaian ilmu. Karena itu, seluruhnya ilmu, apapun namanya merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan selama ilmu memerankan peranan seperti ini, maka ilmu itu suci. Akan tetapi kesucian ini tak akan selamanya intrinsik. Bahesyti sebagaimana dikutip Mahdi Ghulsyani mengatakan bahwa setiap bidang ilmu, selama tidak menjadi senjata para perusak atau orang bejat merupakan media penceramah; jika sebaliknya, ilmu bisa juga menjadi alat kesesatan. Hal ini sejalan dengan pandangan Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa Islam membolehkan umatnya untuk memperoleh ilmu
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

143

SyAbuDDIN GADE

pengetahuan dalam bentuk apapun. Selama ilmu pengetahuan yang diperolehnya tersebut tidak menyesatkan dan mengarahkannya kepada penghancuran. Ilmu keIslaman harus dipahami dalam skala makro, apapun nama ilmu, manakala sejalan dengan prinsip-prinsip fundamental Islam. Maka ilmu itu termasuk ilmu keIslaman. Murthada Mutaharri, seorang ulama Syi’ah abad modern, mengatakan bahwa kelengkapan dan kesempurnaan Islam sebagai suatu agama menuntut agar setiap lapangan ilmu pengetahuan yang berguna bagi masyarakat Islam harus dianggap sebagai bagian dari ilmu keIslaman. Perincian keilmuan, apapun namanya dan oleh siapapun, merupakan bagian dari dinamika ilmu keIslaman. Sebaliknya, pemahaman ilmu keIslaman dalam skala makro hanya berkaitan dengan beberapa cabang ilmu seperti ilmu kalam, ulum Alquran, ulum al Hadits, Usul Fiqh, mantiq, tafsir, fiqih (hukum Islam), tasawuf dan beberapa bidang ilmu kebahasaan (bahasa Arab), akan membawa dampak negatif bagi masa depan umat Islam itu sendiri, antara lain : a). Memperkecil pandangan Islam sebagai agama universal terhadap ilmu pengetahuan, seolah-olah ilmu keIslaman hanya sebatas itu, pengembangan ilmu pengetahuan kealaman yang melahirkan teknologi, meskipun Islam (Alquran dan Hadits) sangat responsif dan adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, selalu ditempatkan pada posisi marjinal. b). Memperkecil wilayah kajian keilmuan umat Islam, c). Mengukuhkan dikotomi sistem pendidikan, d). Mempersempit cakrawala keilmuan sarjana keislaman, e). Umat Islam akan terus tertinggal dan tidak akan dapat menjalankan fungsi kekhalifahannya sebagaimana mestinya. Kehancuran Aceh sejak tahun 1873 hingga sekarang dan bahkan dunia Islam pada umumnya, mungkin merupakan “buah” dari pemahaman dan pengembangan ilmu keIslaman dalam skala mikro. Sedangkan ilmu kealaman yang melahirkan teknologi sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa-bangsa non muslim pada umumnya dimarjinalkan. Reformasi Kurikulum Bila wawasan ilmu keIslaman dipahami dalam skala makro sebagaimana dijelaskan sebelumnya, maka reformasi kurikulum dalam bentuk integrasi ilmu antara “ilmu umum” dengan “ilmu agama” merupakan sebuah langkah strategis yang semestinya diaktualisasikan pada semua jenis dan jenjang sistem pendidikan
144
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

REFoRmASI SISTEm PENDIDIKAN PERGuRuAN TINGGI DI AcEH

nasioanal. Namun, mungkin karena pertimbangan pluralitas kebangsaan Indonesia, baik agama, suku maupun sosio kulturalnya, maka upaya integrasi ilmu dalam sistem pendidikan nasional masih terbatas pada lembaga di bawah naungan Departemen Agama. Khusus pada jenjang PTAI di NAD, kurikulum IAIN Ar-Raniry merupakan bentuk integrasi ilmu yang didesain dalam tiga komponen keilmuan, yaitu komponen Mata Kuliah (MKU), Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK) dan Mata Kuliah Keahlian (MKK). Ketiga komponen inilah yang mewarnai kurikulum setiap jurusan yang ada dilingkungan PTAI di NAD. Kemudian dengan dibukanya beberapa jurusan eksakta dilingkungan PTAI khususnya IAIN Ar-Raniry seperti jurusan Matematika (TMA), Fisika (TFS), Biologi (TBL) dan Kimia (TKM), maka aplikasi integrasi ilmu keIslaman dalam kurikulum PTAI semakin memperlihatkan contoh yang lebih meyakinkan lagi. Kurikulum jurusan eksakta di PTAI (IAIN Ar-Raniry) berbeda dengan kurikulum jurusan jurusan eksakta yang ada di PTU karena kurikulum jurusan eksakta di lingkungan PTAI muatan mata kuliah normatif keIslaman lebih besar dibandingkan dengan kurikulum eksakta, bahkan kurikulum jurusan lainnya di PTU yang hanya memuat 2 SKS mata kuliah normatif keislaman (PTU dikenal dengan PAI) dari total SKS kesarjanaan. Integrasi ilmu dimaksud, tidak berarti bahwa sarjana bidang ilmu matematika, fisika, kimia, atau biologi misalanya, harus (wajib) ahli dalam bidang hadits, fiqh atau tasawuf. Namun setidak-tidaknya kesarjanaan mereka didasari oleh kemampuan yang memadai mengenai bidang ilmu yang sarat dengan nilainilai normatif keIslaman sehingga dengan kepemilikan ilmu-ilmu ini tidak hanya akan menjadikan mereka lebih menghayati dasar-dasar keIslaman, tetapi juga menjadi “remot kontrol” bagi kesarjanaan mereka. Bahkan seharusnya mereka mampu merajut ilmu-ilmu eksakta dengan bahasa ilmu yang normatif. Begitu pula sebaliknya, sarjana bidang ilmu non eksakta (normatif) tidak harus ahli matematika, fisika, biologi atau kimia. Tetapi kesarjanaan mereka perlu dibarengi dengan kemampuan dasar bidang ilmu eksakta atau lainnya diluar bidang ilmu yang ditekuninya sehingga akan memperluas wawasan, cakrawala dan kualitas kesarjanaannya. Akan tetapi, patut digaris bawahi bahwa kurikulum PTAI pada umumnya dan IAIN Ar-Raniry pada khususnya, bukanlah model kurikulum yang sudah
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

145

SyAbuDDIN GADE

final atau tanpa cacat sehingga tidak dapat diotak-atik lagi. Desain kurikulum PTAI secara umum memang sudah mewakili adanya integrasi ilmu, tetapi ketika diselami secara mendalam pada jurusan tertentu masih banyak ditemukan mata kuliah yang tumpang tindih dan kabur baik sisi epistimologis maupun aksiologisnya. Tambahan lagi banyak sarjana PTAI bahkan sajana PTU di NAD yang masih menganggur, tidak jelas posisinya dalam masyarakat dan tidak punya keahlian apapun yang dapat memperbaiki “kehidupannya” kenyataan ini agaknya sudah mendunia sehingga sering dijadikan sasaran kritik terhadap perguruan tinggi yang tidak menghiraukan pengembangan kurikulum yang serasi antara “link and match” Persoalan sekarang adalah bagaimana dengan kelanjutan kurikulum PTU di NAD, mengingat muatan kurikulum PTU yang mengandung nilai-nilai normatif keIslaman hanya hanya 2 SKS. Bukanlah hal ini tidak memadai, jika hal ini terus berlanjut, sementara produk sarjana PTU jauh lebih banyak ketimbang sarjana produk PTAI, maka bukanlah pemahaman kaum intelektual di NAD terhadap ilmu-ilmu normatif keIslaman secara umum akan semakin menipis ? Kemudian, bila model dan corak kaum intelektual Aceh seperti itu, bagaimana mungkin mereka mampu merubah wajah kehidupan rakyat Aceh menjadi lebih Islami dalam segala aspeknya. Hal ini tidak berarti bahwa out put kesarjanaan PTU di NAD tidak ada yang mampu untuk itu, juga tidak berarti bahwa sarjana PTAI lebih mampu untuk itu. Akan tetapi, bila ditinjau dari sisi besarnya peran dan fungsi mata kuliah dimaksud bagi seorang muslim, maka muatan 2 SKS jelas sangat tidak memadai. Ibarat orang membaca buku, tapi baru membaca judulnya, belum isinya. Kalaupun ada sarjana PTU di NAD yang jauh lebih mampu memahami ilmu normatif keIslaman bila dibandingkan dengan sarjana PTAI NAD, maka hal itu bukanlah “makanan” PTU yang dituangkan dalam kurikulum yang yang dihidangkan. Bila demikian, apakah PTU di NAD harus menjiplak model kurikulum PTAI sementara kurikulum PTAI sendiri masih harus direformasi ? Terhadap persoalan ini tentunya PTU tidak harus menjiplak kurikulum PTAI, namun yang penting prinsip integrasi ilmu harus ditegakkan. Sedangkan model yang dipilih banyak sekali kemungkinan, boleh jadi mengadopsi sisi tertentu dari kurikulum model IAIN Ar-Raniry, UIA Malaysia, Universitas Al Azhar dan lain sebagainya.
146
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

REFoRmASI SISTEm PENDIDIKAN PERGuRuAN TINGGI DI AcEH

Akan tetapi, berkaitan dengan pengembangan ilmu normatif keIslaman dalam kurikulum PTU di NAD sekurang-kurangnya kurikulum IAIN Ar-Raniry bisa dijadikan sebagai acuan awal disamping berbagai bentuk kurikulum lainnya dari berbagai universitas Islam di luar negeri sebagai pembanding. Kenyataan dia atas memperlihatkan bahwa kurikulum PTAI, khususnya IAIN Ar-Raniry sebagai sampel, memang sudah melakukan integrasi ilmu, namun masih belum memadai. Sebaliknya, kurikulum PTU di NAD seperti kurikulum di Unsyiah, belum terlihat adanya integrasi ilmu dan pengajaran mata kuliah normatif keIslaman sangat minim (hanya 2 SKS) sehingga membawa dampak negatif paling tidak berupa minimnya pemahaman sarjana keIslaman PTU di NAD terhadap dasar-dasar ajaran agama Islam. Karena itu, bila kurikulum perguruan tinggi (PTAI /PTU) di NAD sepakat untuk direformasi sebagai tindak lanjut dari reformasi ilmu keIslaman, maka ada beberapa hal pokok yang perlu dikembangkan, antara lain : Pertama, kurikulum perlu disederhanakan, jumlah mata kuliah dikurangi jangan sampai ada yang tumpang tindih serta diarahkan untuk memberikan keahlian kepada mahasiswa sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini dan masa depan. Terhadap jurusan-jurusan eksakta atau non-normatif keIslaman lainnya baik yang ada dilingkungan PTU atau PTAI perlu diberi “ruh Islami” ketika dijabarkan dalam kurikulum dan ditambah beberapa mata kuliah mata kuliah normatif keIslaman. Kedua, kurikulum perlu diperkuat dengan muatan mata kuliah kebahasaan, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris, karena tanpa menguasai dua bahasa ini, out put kesarjanaan PTAI/PTU selalu berada pada posisi marjinal. Bagaimana jika menguasai salah satunya ? bila seorang sarjana hanya mengusai bahasa Arab semata-mata, maka secara umum dengan bahasa itu akan mampu memahami dan mendalami ilmu-ilmu normatif keIslaman yang ditulis dalam bahsa Arab. Bila seorang sarjana hanya menguasai bahasa Inggris maka akan mampu menjelajahi dunia, namun tidak memiliki “kunci” asli dalam membuka “pintu” ajaran Islam. Idealnya seorang sarjana keisalaman apapun bidang ilmu yang ditekuninya harus mampu menguasai kedua bahasa ini kalaupun tidak yang lainnya sebab penguasaan bahasa merupakan kunci utama mengahadapi tuntutan lokal dan tantangan global.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

147

SyAbuDDIN GADE

Ketiga, kurikulum perlu diperkuat dengan mata kuliah filsafat ilmu, sekurangkurangnya ilmu mantiq (logika), semua jurusan keilmuan harus mempelajarinya. Dengan menguasai filsafat ilmu atau logika seorang sarjana akan memiliki kedalaman dan ketajaman analisis yang sistematis dan cemerlang. Bila seorang sarjana lemah dalam bidang ilmu ini meskipun mempunyai kedalaman dibidang bahasa, maka umumnya kemampuan eraborasi ide baik lisan maupun tulisan menjadi kabur dan tidak sistematis. Keempat sambil berbenah diri untuk melakukan reformasi kurikulum secara total, maka kurikulum perguruan tinggi di NAD, terutama jurusan non kejuruan, perlu didukung oleh kegiatan ekstra kurikuler seperti belajar berbagai keterampilan, komputer, jurnalistik, tata boga, tata busana atau yang lainnya. Hal ini penting dikembangkan, mengingat dengan memiliki salah satu keterampilan setidak-tidaknya out put perguruan tinggi di NAD dapat menggunakannya sebagai modal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Reformasi Iklim Akademik Reformasi wawasan ilmu keIslaman yang kemudian ditata ulang dalam kurikulum berupa adanya integrasi ilmu tidak akan membawa hasil yang memuaskan manakala tidak didukung oleh iklim akademik yang baik. Iklim akademik yang dimaksudkan disini adalah berupa situasi dan kegiatan civitas akademika yang mendukung terlaksananya proses belajar mengajar dengan baik, klasikal maupun non-klasikal. Mungkin sebahagian besar dari iklim akademik diatas sudah diwujudkan dalam situasi perguruan tinggi di NAD. Bukankah banyak para dosen yang berpendidikan S2/S3 meski masih banyak dosen yang tidak “berkualitas” bukankah proses belajar mengajar sudah diwujudkan meski masih banyak yang menerapkan pola yang oleh Freire disebut sebagai “The Banking Concept of Education” (Pendidikan ala Bank). Bukankah etos kerja para dosen dan tenaga adiminstratif sudah berjalan meski masih banyak yang bolos mencari “mata air” sampingan. Bukankah ada diskusi ilmiah di kalangan dosen meski tidak terjadwal secara jelas. Bukankah ada aktivitas penelitian meski masih banyak dosen yang pangkatnya rendah karena tidak mencukupi “kum”. Bukankah banyak mahasiswa yang memiliki IPK tinggi meski tidak sedikit mahasiswa yang tidak bisa membaca
148
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

REFoRmASI SISTEm PENDIDIKAN PERGuRuAN TINGGI DI AcEH

Alquran dan belajar asal-asalan. Bukankah banyak mahasiswa yang taat, patuh dan berakhlak mulia meski tidak sedikit mahasiswa seperti “preman” dan mahasiswi yang “ganteng” seperti mahasiswa. Bila diperhatikan uraian di atas memperlihatkan bahwa masih banyak ketimpangan yang ditemukan di lapangan yang dapat menggangu dan tidak mendukung terciptanya iklim akademik yang baik. karena itu iklim akademik di perguruan tinggi (PTU/PTAI) di NAD masih memerlukan pembenahan untuk mendukung terciptanya belajar mengajar secara optimal. Pembenahan iklim akademik dapat dirintis melalui penyadaran akan tanggung jawab dan tugas para civitas akademik itu sendiri, seperti dosen, administrator, mahasiswa dan pimpinan lembaga perguruan tinggi serta adanya perhatian khusus dari DPRD dan pemerintah daerah NAD. Pihak dosen misalnya harus menyadari dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, jangan meninggalkan tugas untuk mendapatkan “penghasilan” sampingan, jangan membiarkan mahasiswa dan mahasiswi dalam kebodohan dan keruntuhan moral, didiklah mereka menjadi manusia yang cerdas, bermoral, dan berkeahlian serta mudahkanlah urusan mereka. Pihak mahasiswa harus menyadari bahwa tujuan mereka masuk perguruan tinggi, bukan untuk bersantai-santai, bukan hanya meraih nilai (A), tapi untuk membina diri dengan membaca, berdiskusi, berseminar, berorganisasi dan mentaati segala peraturan akademik sehingga menjadi manusia yang berkualitas intelektual, bermoral tinggi dan berkeahlian. Pihak tenaga administratif harus menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya meskipun tunjangan finansial tidak sebanding dengan tenaga edukatif dan harus menjaga kebersamaan dan keadilan dalam pelayanan administratif untuk semua pihak, tanpa pilih kasih. Pihak pimpinan lembaga pendidikan harus menyadari besarnya tanggung jawab yang harus diaktualkan dalam lembaga yang dipimpinnya dan harus menyadari bahwa maju dan mundurnya sebuah lembaga pendidikan tidak bisa lepas dari kinerja kepemimpinannya. Karena itu, pimpinana lembaga lembaga pendidikan harus mengambil langkah-langkah strategis, kebijakan dan terobosanterobosan baru, baik internal maupun eksternal yang mendukung pelaksanaan dan peningkatan kualitas civitas akademika. Misalnya, perlu dipikirkan bagaimana
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

149

SyAbuDDIN GADE

membangun asrama mahasiswa sehingga semua mereka dapat diasramakan, tidak lagi hidup “bebas” dirumah-rumah kost tanpa kontrol dari pihak lembaga perguruan tinggi. Bila semua mahasiswa diasramakan dan dikontrol secara ketat oleh lembaga perguruan tinggi maka mahasiswanya akan semakin intensif dalam belajar, tidak ada waktu yang terbuang, iklim akademik akan semakin baik. Tapi bila sebaliknya, maka perguruan tinggi itu secara umum tidak akan dapat berbuat banyak untuk mencetak sarjana keIslaman. Di samping itu, tentunya DPRD dan pemerintah NAD harus ambil bagian dan memberikan perhatian khusus terhadap kemajuan semua jenjang pendidikan di NAD, lebih-lebih lagi terhadap perguruan tinggi sebagai lembaga yang mencetak para sarjana keIslaman dalam berbagai disiplin keilmuan. Tidak mungkin rakyat Aceh memperoleh kemajuan dalam segala bidang jika sistem pendidikannya berdiri di tempat, karena itu DPRD dan pemerintahan NAD perlu mengambil kebijakan reformatif dan memikirkan bagaimana caranya agar 30 % APBD NAD dikelola secara jujur dan adil untuk kepentingan pengembangan pendidikan. Bahkan sebaiknya perlu dibentuk tim khusus yang terdiri dari unsur akademis, DPRD dan pemerintah daerah untuk memikirkan dan melakukan studi perbandingan ke berbagai universitas dalam dan luar negeri yang dianggap layak bagi pengembangan perguruan tinggi di NAD. Penutup Paradigma pembentukan sarjana keIslaman di NAD menghendaki adanya reformasi pada semua jenjang pendidikan, utamanya jenjang perguruan tinggi (PTU/PTAI). Hal ini diperlukan adanya kesepakatan, dukungan, kejujuran, dan keadilan semua pihak di NAD. Tanpa dukungan semua pihak tidak mungkin pendidikan tinggi NAD mampu mencetak sarjana muslim yang berkualitas. Kita tentu kagum pada kesarjanaan cendikiawan muslim Indonesia seperti B,J. Habibie, Nurcholish Madjid, Amin Rais, Syafi’i Ma’arif, Jalaluddin Rahmat dan lain sebagainya. Kita juga kagum pada sosok intelektual dunia Islam lainnya seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Achmad Khan, Muhammad Iqbal, Murtadha Mutharri, Ali Syariati, al Maududi, Fazlur Rahman, Ismail Raji, al-Faruqi, Muhammad Khatam, bahkan kita kita juga kagum pada seorang arsitektur nuklir muslim (Avul Parkir Jainulabdeen Abul Kalam), tetapi kita selalu
150
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

REFoRmASI SISTEm PENDIDIKAN PERGuRuAN TINGGI DI AcEH

bertanya-tanya kapan perguruan tinggi NAD mampu mencetak sarjana keIslaman sekaliber mereka ? apakah kita rakyat Aceh sudah merasa cukup terhormat dengan keharuman nama sederetan para para ulama pada masa raja-raja Aceh tempo dulu ? pikirkanlah wahai ulil al-bab! Catatan Akhir Hasil Wawancara Dengan Dr. Warul Walidin AK, MA tanggal 29 Juli 2002. Namun menurut keterangan kepala Dinas Pendidikan NAD, Drs. Syahbuddin AR, reformasi SLTPN di komplek BPG menjadi MLP, belum mendapat izin, hal ini sesuai dengan keterangan beliau pada penulis, tanggal 22 Agustus (pada acara seminar pendidikan di Lhokseumawe). Dalam UU No. 44 tahun 1999, pasal 18 disebutkan bahwa (1). Pendidikan di daerah diselenggarakan sesuai dengan sistem pendidikan nasional; (2) Daerah mengembangkan dan mengatur berbagai jenis, jalur dan jenjang pendidikan serta menambah materi muatan lokal sesuai dengan syariat Islam, dan (3). Daerah mengembangkan dan mengatur lembaga pendidikan agama Islam. Kemudian dalam UU No. 18 tahun 2001 ditegaskan bahwa untuk kepentingan pendidikan disediakan dana sebesara 30 % dari penerimaan dalam rangka otonomi khusus ... Farid Wajdi Ibrahim, “Strategi Pengembangan Pendidikan di Naggroe Aceh Darusssalam” Orasi Ilmiah yang disampaikan pada Yudisium Mahasiswa Fakultas Tarbiayh IAIN Ar-Raniry, 2002), hal 2-3 Ilmu agama dibagi dalam dua jenis; ilmu agama yang terpuji (ilmu asl, ilmu furu, ilmu pengantar dan ilmu pelengkap) dan ilmu agama yang tercela (yakni ilmu tampaknya diarahkan kepada syariah, tapi nyatanya menyimpang dari ajaran-ajarannya). Adapun ilmu non agama dibagi lagi menjadi ilmu terpuji dan tercela.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

151

SyAbuDDIN GADE

Daftar Pustaka
Mastuhui. (1999). Memberdayakan Sisistem Pendidikan Islam. Jakarta: Logos.

152

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

Teacher's Feedback on the Students' Achievement in Reading Test
Andi Syahputra
Ketua Pengembangan Pendidikan dan Bahasa STAI Dirundeng Meulaboh

Abstrak Ada banyak bahasa di dunia, salah satu yang paling banyak digunakan adalah bahasa Inggris. Saat ini, bahasa Inggris diajarkan sebagai bahasa asing di hampir setiap negara, termasuk di Indonesia. Bahasa Inggris diperkenalkan untuk diajarkan di sekolah sebagai mata kuliah wajib. Pelajaran bahasa Inggris dipelajari di SLTP sampai universitas untuk komunikasi sebagai bahasa internasional. Selain itu, pembelajaran bahasa Inggris melibatkan empat keterampilan dasar: mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Di antara keempat keterampilan tersebut, membaca dikategorikan sebagai keterampilan reseptif. Keterampilan ini menuntut siswa untuk aktif dalam proses memahami teks saat membaca. Dalam jurnal ini hanya berfokus pada keterampilan membaca dengan guru juga memperhatikan motivasi siswa, seperti memberikan masukan bagi mereka terutama dalam mengajar membaca

Key words: Teacher's Feedback, Student's Achievement

ANDI SyAHPuTRA

Introduction There are many languages in the world, one of the most widely used is English. Nowadays, English taught as a foreign language in almost every country, as well as in Indonesia. English has been introduced to be taught at school as a compulsory subject. English subject has been learned at Junior High School until university for communication as an international language. In addition, learning English involves four basic skills: listening, speaking, reading and writing. Among four skills, reading is categorized as a receptive skill. This skill demands students to be active in the process of comprehending while reading text. In this journal only focuss on the reading skill that the teacher also pay attention to the students motivation, like gives feedbacks for them especially in teaching reading. In Holy Qur'an, Allah SWT said: Proclaim! (or read) in the name of thy Lord and Cherisher, Who created (Al-'Alaq: 1). Iqra' (the Arabic word translated here "proclaim or "Read") may mean "read", or "proclaim aloud", the object understood being God's Message. For an account of the circumstances in which this first relevation-the divine commission to preach and proclaim God's Message come to the holy prophet, in the cave of Hira'. In wordly letters he was unversed, but with spiritual knowledge his mind and soul were filled, and now had come the time when he must stand forth to the world and declare his misson (Yusuf Ali, 1998, p. 779). Furthermore, a majority of English reading teachers never give the feedback when the reading test was given. However, the students did not know and understand about the explanations or the formations of their achievement of reading test. Why is it correct and why is it wrong? Due to the fact that the most of the students unable to master the reading skill. Based on this fact, the writer concludes that teacher should encourage the students to interest teaching learning process and improve their achievement in reading test by giving feedback which will leads to evaluate themselves. Until now, majority of English reading teachers have not applied it yet, both other subject teachers generally and English subject teachers notably. The important things that we have to know in this case are a few students were not satisfied and willing for their achievement in the reading test, moreover if they will get a low score about it in the future.

154

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

TEAcHER'S FEEDbAcK oN THE STuDENTS' AcHIEvEmENT IN READING TEST

Meaning of feedback Feedback is known in teaching learning of psychology. In teaching, according to Cole and Lorna (1987) "Feedback is correction on student’s answer and response in doing test or exercise" (p. 120), so the students will know whether the answer of task is right or not. The students received evaluation or comment on what they have done. Comprehension about right or not on the result of work they have done. It will give special satisfaction for students. Moreover, Skidmore (1976, p. 68) asserts that feedback is the information received by students' immediately after each of their responses to the material which indicate to the students' correctness of their responses".Every thing have given by the teachers that the teacher must give the addition informasion to the student to get the correctness answer later, espesially for reading test or the other subjects. In addition, Bugelsky (1964, p. 177) states that "A feedback is process where the result or effect from response". The implementation of feedback consists of two major types of feedback, there are positive and negative. On the other part, it will be discussed in major types of feedback. Feedback term actually not only occurs in psychology, but it exists on the other situation and activity. This case was cleared by Hill (1980, p. 203) as follows: The great weakness of feedback is not really a theory at all. Feedback is usually for describing any kind of purposive behavior, and thus will often apply to situation in which learning is taking place. The theory does not, however make any distinction between learning and non learning situation. W.S. Hill. Learning. (London. Printice Hall. 1980). P. 203. In the same opinion, Suhadi in his blog (http://suhadinet. wordpress.com) said that the teachers always have to give the feedback for teaching learning process, social skill development, a mastery of skill, etc that was worked by the students. For giving the feedback, be a reward feedback that either teaching learning process or for study achievement and be stricture feedback that to build up the students' motivation and their correction or attainment of the achievement. Major types of feedback There are two major types of feedback, positive and negative feedback. Positive feedback encourages a person to continue doing what they are doing, it signifies that something good has been done and to keep it up or gives the information of
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

155

ANDI SyAHPuTRA

whether the students' work is correct or wrong by inserting the comments. While the negative feedback lets the person know that they need to stop what they are doing and rethink their actions or only gives information about the mistake or the correctness of the students' work without inserting the comment. Way of Giving Feedback Brown and Robert (1998, p. 157) state that feedback is usually given in three ways, they are oral, written and gesture. If it is done orally meaning that the information about the response or the students' work is spoken directly. By this way, the teacher must consider the effect of his/her speaking to the other students. Furthermore, it is expected that giving feedback in oral should not bother the students. The advantages of oral feedback are that the students have chances to make response back to the teacher. Whenever they understand to the teacher's explanation and the teacher can explain more clearly. As a result, the student will reach more understanding than before. While the written feedback is done through books or working paper in which the students do their homework or task. The advantages of written feedback are that students take as a note or a reminder which they might use next time. This writer feedback is more advantages, for them to have lack memorizing ability. In certain circumstances, giving feedback by gesture is used by the teacher in other to comments or correct on the students response. The gesture can be in the form of nodding, wrinkle, smiling, pointing the thumb out, etc. Consequently, the information revealed is not as complete as that in oral and written feedback. It will bring about very satisfying result for the students and they can accept it easily. Besides, it is easy to remember, because of it is visual feature. For instance, when a teacher smile's by nodding his/her head in answering to the students' response, they will be sure that his/her answer is correct. Since the feedback is one of the ways of motivating the students, the way of giving it should be really concerned and considerate. The teacher must pick one of those three which he thinks that it will work better in motivating the students to improve his learning achievement. In addition, Sugita (n.d.) contends that there are various ways to provide feedback in order to help students revise as they proceed through the stages of
156
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

TEAcHER'S FEEDbAcK oN THE STuDENTS' AcHIEvEmENT IN READING TEST

the writing process. For many teachers, however, handwritten commentary on student drafts is the fundamental method of response. The Principles of giving feedback Wilts and Charles (1987, p. 155) explain that there are principles that should be noticed in giving feedback to the students in order that the feedback is given effectively as it is hoped. The principles are descriptive, simultaneous specific and responsible. Feedback also must be descriptive. It means that the corrective information should describe or give a clear picture of students' work. For example, the teacher should tell which one is wrong, why it is wrong and what to do to correct it. If the answer is right, a teacher must give suggestion to make it perfect and give comment as reinforcement such as good excellent, etc. On the other hand, a teacher should also notice that the student tends to change the mistake into the right one if they have informed that work is wrong or right after finishing it. In this principle, the teacher must give more feedback to them, to gets a good student’s achievement. Once the student states his/her response to the feedback given right after the response, this is called simultaneous principle. It is also must be continuously done. In order that, the student can improve the mistake to get better achievement. Indeed, feedback should be specific. The given feedback must not contain the explanation beyond the topic to allow the students to have a clear picture of the achievement, and also to prevent the student from being confused, when the degree of comparison. The last principle mentioned by Wilts and Charles is responsibility. Here the teacher is forced to be responsible by having self control. In case, the teacher should save his emotion for student’s work, it means that the teacher is not angry or impatient when gives a feedback of their work. Feedback procedures In the other statement, three types of teacher commentary were used: statements, imperatives, and questions. In general, teachers, as we have seen, do not use imperative comments so frequently. This study, however, tried to apply one of the same comment types to each group of students, and to provide one
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

157

ANDI SyAHPuTRA

or two comments for each draft in order to assess the impact of comment types. Imperatives were applied to the first-year students while questions were applied to one group of the second-year students and statements were applied to another group of the second-year students. Moreover, the teacher’s commentary was restricted to a fixed number of expressions according to their functions in order to obtain more objective evidence of students’ response to the written comments. Students in this study were instructed to use a problem/solution pattern of organization. In terms of the problem/solution pattern the teacher-researcher tried to address the functions of content feedback: (1) providing details to explain the problem or solution (Providing); (2) describing why the problem is serious (Describing); (3) adding new ideas or more specific support (Adding). The expressions used in this study for functioning as teacher commentary are given below (Sugita, n.d.): 1. Providing Question: What does this mean? / What do you mean? Statement: It’s very confusing / It’s not clear. Imperative: Explain it more clearly./ Explain that a bit. 2. Describing Question: What is the problem, and why? Statement: The reason is not clear. Imperative: Give a reason for it. 3. Adding Question: Is it supported with specific details? Statement: This part is too general./It’s difficult to understand. Imperative: Give a specific example./Make it easier to understand. The Influence of feedback to the students' achievement in reading In the previous chapter one the writer has described that the feedback is divided in two major types, positive and negative feedback. The writer emphasizes on the positive feedback, because a teacher must master and know about the material and method of giving feedback. So, in giving feedback must be suitable and prompt to learning changes. The success of teaching learning process may be influenced by giving positive feedback, because the feedback is a way of corrective students' response or answer
158
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

TEAcHER'S FEEDbAcK oN THE STuDENTS' AcHIEvEmENT IN READING TEST

in doing task on development reading comprehension, according to Kennedy (1981, p. 37), "Corrective reading is second to developmental reading instruction in the number of pupils served". Corrective reading programs are used to help the students who having minor reading problem that momentarily them from normal progress. From the statement above, the writer infers that by giving positive feedback to the students; it makes any influence to the students understanding optimal learning process and their achievement in learning English reading. Conclusion After analyzing the journal text above, the writer drew several conclusions as follows: The process of teacher’s feedback on the students’ achievement in reading test was effective in improving the student’s achievement in mastering reading test and it also made them more active in learning. The students were interested in learning English and reading comprehension through giving positive feedback because the majority of them felt interested of it was useful in helping their reading achievement

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

159

ANDI SyAHPuTRA

References
Cole, P.G. & Chan Lorna, K.S. (1987). Teaching principles. London: Practice Hall, 1987. Brown & Robert, G. (1998). Analysis and design of feedback control system. Washington: Wadsworth Publishing. B.R.Bugelsky, B.R. (1964). The psychology of learning applied to teaching. New York : Mc Graw Hill. Hill, W.S. (1980). Learning. London: Prentice Hall. Hornby, A.S. (1983). The advanced learner dictionary current English. London: Oxford University. Kennedy, E. (1981). Method in teaching developmental reading. Second Edition. USA. FE Peacock Publisher. Skidmore, C. et al. (1976), Meta analysis of the effect of the type combination of feedback on children. Monica, California: Good Year Publisher. Sugita, Y. (n.d.). The impact of teacher’s comment types on student’s revision. Retrieved on March 21, 2009 from http://suguta@ya manashi-ken.ac.jp Wilts & Charles, H. (1987). Principles of feedback control. London: Hall. Winkel, W.S. (1986). Psikologi pendidikan dan evaluasi belajar. Jakarta: Gramedia. Yusuf Ali, A. (1998). The Holy Qur’an (Original Arabic text). Malaysia: Saba Islamic Media.

160

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

Languange, Speech and Propaganda, A Perspective in Teaching Critical Discourse Analysis
Saiful Akmal
Dosen Prodi Pendidikan bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Peneliti pada Aceh Institute, MA dalam Applied Linguistics dari University of Liverpool, UK (2007).

Abstrak Tulisan ini ingin mengidentifikasi penggunaan bahasa propaganda dalam pidato politik dalam rangka menemukan bagaimana seorang pembicara menggunakan berbagai teknik propaganda dalam mengontrol pikiran audien. Hipotesa tulisan ini menyatakan bahwa juru propaganda selalu berusaha mengontrol hubungan antara informasi dan pikiran audien melalui penggunaan bahasa dalam pidato politik. Tak dapat dibantah bahwa propaganda bekerja efektif pada semua audien, kecuali orang yang berpendidikan yang memiliki sudut pandang berbeda sementara strategi propaganda itu selalu dengan menciptakan hubungan yang menyesatkan. Material dan metode dalam penelitian ini masih sangat terbatas tetapi diharapkan bermanfaat untuk identifikasi lebih lanjut dalam menganalisa penggunaan bahasa propaganda dalam pidato politik.

Key words: Speech, propaganda, critical discourse analysis

SAIFul AKmAl

Introduction As commonly known, almost every kind of political activity and language is devoted to create a favorable image towards the audiences and voter’s eyes. Also, it is well-known that politic and language is a well-collaboration to deliver anything which is related to political goals. Political speech is one of many examples of spoken discourse. Nowadays, it has become a popular topic to discuss; especially those related to what it used for. McCarthy (1991, p. 119) classifies speech or speeches as monologue category along with stories and jokes in discourse studies. Therefore, one simple conclusion that may be called upon this issue is that speech is actually a form of communication that is commonly found in daily routine. Thus, since speeches or more specifically, political speech always works around among society political speeches are also connected to a frame of how human’s mind work toward particular issue; this must be the good reason of why is it have to be analyzed by discourse analyst. In addition, as Andrian Beard (2000, p. 2) said ’…looking at the language of politics as an occupation is important because it helps us to understand how language is used by those who wish to gain power, those who wish to exercise power and those who wish to keep power’. Moreover, propagandists are using almost the same efforts to gain power by exercising political campaigns in order to get supports from audiences. Meanwhile, the writer is interested in specific element of rhetorical study in political speech; which so commonly dubbed as propaganda. Propaganda has become more powerful in political speech. When most people think about propaganda, they tend to think about strong strategic verbal skills that is deliberately produced, constructed and created to influence large numbers of peoples to accept their aims. It is one of language’s skills in making some else to become interested to what the speaker or writer discussed. Studying the language of propaganda has reminded us to take into consideration of the language of persuasion. It is a subset of rhetoric in which the speaker/writer attempts to manipulate the audiences with emotion or fallacious reasoning (B. Standler, 2005). Propaganda is commonly found in speeches of politicians as well as in advertising. Furthermore, propaganda is a process of persuasion designed to induce ideas, opinions, or actions beneficial to the source (Cline, n.d.). The label of “propaganda”
162
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

lANGuANGE, SPEEcH AND PRoPAGANDA, A PERSPEcTIvE IN TEAcHING cRITIcAl DIScouRSE ANAlySIS

can be put in any organized effort to persuade large numbers of people about the truth of an idea, the value of a product, or the shapes of an attitude. Propaganda is not a form of communication which simply seeks to inform. It may contain some aspect of the effort itself, as Bryant’s says as “partial, incomplete, and perhaps miss-used, rhetoric”. Bryant characterized propaganda by technique-excluding competing ideas, short-circuiting informed judgment, ignoring alternative ideas or course of action, and in general subverting rational processes. Although Bryant did not engaged in propaganda analysis or add new insight into the notion of, he acknowledged that the understanding of propaganda is grounded in the understanding of rhetoric. However, what is propaganda and how to recognize it, is another interesting parts to be discussed by discourse analyst. It is believed that propaganda is not an end in its self but a mean to an end. This is why the analysis of propaganda needs strong skills to raise a clearest assumption about how these processes work. It may be able to be discussed when it begins with the origin of propaganda itself, namely the idea, then moving to the target of propaganda, namely people (Bytwerk, R.1999, pp. 28-52). This is also why the writer has intentionally chosen to discuss propaganda as a field of study of discourse analysis in this paper. Interestingly, the purpose of propaganda very often, is not to promote mutual understanding but rather to promote the propagandists own objectives. Thus, the propagandist will attempt to control information flow and manage a certain public’s opinion by shaping perception through strategies of informative communication. Rhetorical Analysis and Political Speech There is a substantial action that works on delivering speech in particular context such as political speech or any other speech that is used as the transmitter of ideas. The writer realizes that the word “transmitter” might be slightly weird; however, here, it is used to make an easier understanding. Analogically, transmitter here means that rhetorical words work in political speech like electrical current which need wires as a medium. The medium of rhetorical words is speech that helps to flow it through the transmission of ideas and opinion. In this case, political sciences are capable in transferring ideas and ideology; it refers to how the politicians wrapped the package of politic to fulfill their ambition.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

163

SAIFul AKmAl

1.

Rhetorical analysis Literally, the word rhetoric means the arts or study of using language effectively and persuasively. It may be questionable, because there is no correct answer about what rhetoric means. However, understanding rhetoric helps us to identify the speech with one of another in more meaningful and useful ways. There is a classical term within rhetorical understanding. It is called “The Classical Rhetorical Triangle” which includes: a. Ethos: credibility of the speaker as contained in the speech, words, text, images b. Logos: the message being presented c. Pathos: the emotional predispositions and responses of the audiences. The classical rhetorical triangle above is commonly used as the basic elements for verifying rhetorical form in communications. Furthermore, the term “rhetoric” could be decided as a noun, a verb, and an adjective; it is practical and theoretical, a way of doing and a way of knowing. Broadly conceived, rhetoric is the foundation of all societies, governments, and religions, and it is the foundation of what it means to be a human. One useful way of thinking about rhetoric is as someone says something to someone else in particular context. Based on this explanation, people will be able to make their own understanding that the basic concept of rhetoric is the way how people make someone else become his or her opponent in speaking or delivering something they want to. All the people need to decide is he or she might be selecting certain strategies that he or she think it is suitable with the audiences’ demands, the way the audiences respond something, and the like. To maneuver what the speaker wants to the receiver or the opponents in speaking, he or she might also try to choose topics to discuss that he or she thinks it can be well-received by the audiences. Therefore, it can be realized that the speaker or writer has done something about rhetoric before the audience noticed. The issues of awareness and consciousness have raised the question whether language is also a part of a big family of philosophical sciences and its branches. Shortly, rhetoric is all about how to frame the language as the tool of communication to become a strategy to transfer our ideas and opinion, and even behavior. Aristotle (2001, p. 2) has raised one clearest meaning about what rhetoric is when he put forward the idea that rhetorical study, in its strict sense, is concerned with the modes of
164
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

lANGuANGE, SPEEcH AND PRoPAGANDA, A PERSPEcTIvE IN TEAcHING cRITIcAl DIScouRSE ANAlySIS

persuasion. Persuasion is clearly a sort of demonstration, since we are most fully persuaded when we consider a thing to have been demonstrated. Something that people demonstrated in ways of oral and written is something they consider strategically advantageous in its way to be demonstrated. For example, if one of the politicians from party A and he or she wants to look for additional voters, firstly, he or she has mastered some best ways to apply his or her wishes while they are demonstrating what they propose to mean. In this paper, the suggestion from Van Eemeren and Houtlosser seemingly linked rhetoric to the strategic maneuvering manifest (Mustafa, 2005, p. 9). a. Strategic Maneuvering Manifest In understanding political movements, there are some ways which generally used by politician that the discourse analyst has to take it into consideration. In argumentation, the parties involved in a critical discussion can fuse a resolutionminded objective with a rhetorical objective as an attempt to have one’s views accepted. Political parties may be useful in a critical discussion, for example in a political campaign, to create the basic foundation in transferring ideas and to build the same point of view between the speaker and the audiences. There are three ways of strategic maneuvering manifest in transferring ideas and opinion: 1. Topical potential. The speaker may choose comfortable materials which easiest to be handled toward the questionable things of the materials itself which may comes in the field. The speaker will strive hard to frame a language to develop the central of ideas in providing messages toward the receivers. The material that has been chosen by the speaker must be relevant to the discussion, which able to convince the audiences in receiving the ideas of the speaker. 2. Adaptation to audiences demand. The speaker may choose the most suitable and compatible materials to discuss among the audiences’ beliefs, common senses or preference. Although, the speakers have their own demand, the speaker also has to pay attention to audiences wants, particularly on what the audiences beliefs and how the audiences response to the beliefs itself. It is may be a difficult part in this exercise. As generally realized, that is so hard to understand another people’s mind but it has become an endeavor in public speaking when someone
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

165

SAIFul AKmAl

wants to look for participants to what he or she is carrying out. 3. Presentational Device. Based on this strategy, the speaker may choose the rhetorical repertoire, which able to frame their contribution in the most effective ways. It means the speaker will form their stuff to discuss in front of the audiences in a well-language by using analogy or comparison as presentational devices in the rhetorical study. These three ways in strategic maneuvering manifest are working together and it can not be separated. They already tied up in its way of transferring ideas and opinions. The writer has written it down in this thesis as expansion connectivity which includes some element in using speech as a strong persuasive media. 2. Political speech Speech is one of many forms of communication. It is also type of spoken discourse. There are so many types of speech based on what the purpose of the speech itself, to whom it addresses and what the occasion of the speech is. If the speaker raises the speech when the time to vote for new president in a state national election, then it must be political speech; the speech to informs the audiences in voting a president and to manage them to the way the speaker wants to. It can be called as political speech because it may contains of full of political necessaries. Aristotle (2000, p. 1) believes that every state is a community of some kind, and every community is established with a view to some good; for mankind always acts in order to obtain that which they think well. But, if all communities aim at some good, the state or political community, which is the highest of all, and which embraces all the rest, aims at good in a greater degree than any other, and at the highest good. What the writer thinks after reading these sentences, there is one way to connect between the state and community to lead them to the aims. It is communication. In creating one view’s accepted or finding one agreed-opinion among community and state, and speech are capable as an oral-shape of communication. Among society and government, there is a political communication going on in a daily basis (Lowi 2004, pp. 352-356). In other word, it is socially shaping or socially shaped.
166
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

lANGuANGE, SPEEcH AND PRoPAGANDA, A PERSPEcTIvE IN TEAcHING cRITIcAl DIScouRSE ANAlySIS

3.

Rhetoric in political speech There is a concept that works in political speech may not be something taboo. It depends on what perspectives we want to look upon. In daily life, many forms of political activities are attributed and addressed the audience’s involvement. It is because the speaker has the ability to influence the audiences and make the audiences believe that the speaker and his or her political attributes can provide the audiences the answer for their problems. The above explanation describes what people think when they go home from one political campaign. Shortly, the speakers are successful in convincing the audience and scooped up the audiences’ mind. Unquestionably, they are successful because they can put together a language to induce the audiences Orwell (1962, pp. 156-157) considers that political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable and to give an appearance of solidity to pure wind. This might be a very cynical outlook on political language, but there is a way to juggle the lies or something unreasonable to become an absolutely truth. It does not talk about magic; however, political sciences have the powerful ability to hijack language and exploit linguistic strategies in order to make it done. Politics and the language of propaganda Nowadays, most people do not realize that propaganda have always been a central element of representative politics. Indeed, propaganda is not simply serves as a media of information, but it the game of using language. It is a substance of linguistic strategies in its role. The best way to understand propaganda is to master the language exploited in it. Propaganda is organized and it has a system. What context it is used for, who is the target, and what are the aims of propaganda need to be critically comprehended. Furthermore, it is all about persuasion methods in changing opinions and attitudes of a large number of people. 1. The Applied propaganda techniques in political speech There are some applied propaganda techniques that adapted from Standler’s (2005). They are name calling, glittering generalities, transfer, testimonial, plain folks, bandwagon, fear, bad logic and unwarranted extrapolation. The first one is called Name Calling. This technique is purpose to connect a
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

167

SAIFul AKmAl

person or his idea to a negative symbol. For example: the using words ‘communist’ or ‘tyrant’. This is such an ancient technique in convincing people which is frequently identified by its Latin name, ad hominem attack. It is running as an action of calling or labeling someone or the political opponent with pejorative symbols such as by calling them as unprofessional, etc. Then, Glittering Generalities. It is the opposite of the first technique. It links the person or his idea to a positive symbol, for examples: democracy, patriotisms. It refers to the using of virtue words. The technique is all about to connect people to the goodness by using some accountabilities words that sound tied to the legal rules. Roughly speaking, it is used to raise emotional of the audiences to make comparison between two sides that provided by propagandist, good or bad. These emotional will come as well based on what kind of information invented by the audiences. The next two are ways of making false connections. Transfer is a device which used by propagandist links the authority or prestige of something well-respected, such as religion or nation, to something he would have us accept. For example, the politician often opens and closes the speech with a prayer. It might be the easiest technique to be found in political activity. To the surprise, it plays with ideas and opinion that already exist in peoples’ mind. For example, when the speaker talks about religious thing or raise some religious issues that match with basic understanding of the audiences. The following technique is Testimonial. This technique running well through the selective icon to be the mascot of each political group such as a public figure or an artist that used to seize public attention and fascinating the audiences. For example, Dedy Yusuf as an ex-Indonesian celebrity speaks at a political rally or Meutia Hafidh, who known as the favorite reporter and The Best Presenter of Debate of Metro TV is becoming legislative candidate of one of political party for 2009 Indonesian Legislative Candidate. Untied to any reasons, they might be interested in political specific cases, however based on their existences; they are able to become great icon for the party itself. Subsequently, the following three constitute special appeals. Firstly is Plain Folks: an attempt to convince the audience that a famous person and his ideas are one of the participants. It is almost similar with the previous technique, but it is more specified. It is not only talking about profession but also ideological
168
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

lANGuANGE, SPEEcH AND PRoPAGANDA, A PERSPEcTIvE IN TEAcHING cRITIcAl DIScouRSE ANAlySIS

foundation of the participant itself. For example, Zainuddin MZ as a famous Indonesian preacher (ulama) speaks as one of political participant of one of National Islamic Party. Then Bandwagon is making an appeal that “you are not alone” or “everyone else is doing it, so should you”. This technique is talk about many goodness board or wise thing to be done as well. It also talk about how to convince the audiences that they are in the good holy sides, because there are many peoples take an action in particular political issues so that the audiences will believe that they will faced the risk of the action altogether because there will be many peoples who support the action itself. Next is Fear, which is used to play on deep fears or warns the audiences that they will make a big mistake then the audiences will sorry for themselves if they refuse the particular actions. The next two are types of logical fallacies. The first one is Bad Logic. This is an illogical message is not necessarily propagandistic; it can be just a logical mistake; it is propaganda if logic is manipulated deliberately to promote a cause. Examples: Senator X wants to dominate the power industry. All communist governments dominate their power industries. Senator X is a communist. Then Unwarranted Extrapolation: serve to produce huge predictions about the future on the basis of the small facts. Examples: Bush said if the nations will let Iran to develop nuclear energy, it will be disaster to all Europe states. The above techniques are familiar ways using by politicians. And it can be the ways to understand how the politicians or political participants inject the political ideas into the audiences’ mind. Based on these techniques, it can be noted that there are some centrals of human thinking that become the targets of propaganda. It has different roles in persuading the audiences, changing the audiences’ belief and ideas. These targets generally formed as the way the audiences hold the beginning information of political issues (input of political system) and responsive acts toward the early information of the issue itself (output of political system). Both input and output have donated the greatest ideas to the political system to take necessaries action in dominating the audiences’ mind. Input and output of the audiences or others political environments have became bases of political system’s actions, it is because the political system could not stand to work or exist by itself. An existing political system needs some environmental elements such as physical, cultural, economic environment and other potential sources of influence.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

169

SAIFul AKmAl

Conway and Feigert (n.d., p. 277) stated that the input of political system are demand or support inputs where the beginning information of the audiences’ belief and ideas took a role ; while the output of political system are decision or policies base on the responsive action of the audiences. Conway and Feigert also added that political system has a feedback between its input and output. It is mean that the output can become the basic issues of new action of political system. 2. Propaganda as a part of Rhetorical Analysis; the Change of Opinions and Attitudes Propaganda is all about the language of persuasion and invitation. Although they are almost the same, propaganda often linked to pejorative meaning. When people talk about propaganda, it will connect to something bad side of using language preference. This has been supported by an argument from Standler, which suggest that a quick propaganda attack is accomplished by pasting one or more pejorative labels on someone. The problem all kinds of propaganda forms always connected to something pitiful even worse. If the analyst intentionally makes an observation in community; propaganda may be shoulder-strap all bad meanings of persuasive language. This is why almost many linguist always ensure that propaganda is a miss-used of rhetorical language. Rhetorical and its substance, propaganda, are often used as devices in changing the opinions and attitudes. In the typical attitude change study, or in order to spread an idea, an individual’s opinion is assessed toward particular topic. When the time come to talk about how someone persuade the other one and the other one become his or her fellows, then it will discuss about psychological topic. Marvin Karlins and Herbert I. Abelson (1970, p. 1-2) claim that propaganda may change behavior from what it is now to whatever you want it to be, if it’s physically possible. It can’t make him fly by flapping his wings, a religious turn from a Christian into a Communist and vice versa.” They argued that ‘the time has come when if you give me any normal human being and a couple of weeks…propaganda may change everything’. Then they continued by writing a paradox statement about what the succeeding-story of psychologist abilities, “the psychologist can hardly do anything without realizing that for him the acquisition of knowledge opens up
170
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

lANGuANGE, SPEEcH AND PRoPAGANDA, A PERSPEcTIvE IN TEAcHING cRITIcAl DIScouRSE ANAlySIS

the most terrifying prospects of controlling what people do and how they think and how they behave and how they feel. Karlins and Abelson may not state clearly that they mentioned skills of psychologist above are samples of propaganda. But let us take a moment to think, if we want to open discussion of persuasive language then we will learn the basic form of it which is rhetorical language. There is no wrong reason to use this kind of language, however, the understanding of using this kind of language in order to mastering language ability is very important. One simple example is advertisement. Advertising is all about promoting to the audiences about the beneficial product. The audiences will get the advances of the product itself and the advertiser will get the advance because their products are sold out. In this case there is a mutual benefit between the advertiser and the audiences. The word “promote” means the words how the advertisers persuade and invite someone else to become interest of what they bring. Shortly, it is the real function of rhetorical language as its mean. While thinking about propaganda, there are no aims to create a mutual understanding or benefit between the propagandist and the audiences, it is obviously to create oneside benefit, for who stand as a propagandist. This is why many discourse analysts always link the using of language of propaganda is a form of miss-used rhetorical language. In additional it may because always beneficial to the source. There is an interesting part of Chomsky’s book when he describes about the term” national interest” to symbolize the way of works of political discourse and the propaganda system. Chomsky (1988, pp. 662-665) wrote, a dominant elites raise the term like ‘national interest’ is only to be able to command the resources that enable them to control the state-basically, corporate bases elites. Indeed, the term “national interest” is a popular term that able to figure out the spirit of patriotism and nationalism which almost make the audiences comfortable to think that is really important to them and as a good citizen, the audiences should understand it well, as well as the speaker make the audiences to understand it, finally, the audiences supposed to join with them. But in case, if the audiences will notice that is a rhetorical campaign, so that the audiences will notice that there is something special that need to be considered before they start to make a decision. Chomsky also added that all forms of this political discourse are ways of undermining the possibility of independent thought (p. 663). In other word, it is
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

171

SAIFul AKmAl

only the ways to concur individual’s mind and lead them to the power of whom raising particular topic of political issues. Conclusion Propaganda operates through the transmission of ideas and values. It may be possible for those in power to achieve the behavior they want through the use of rewards and punishments - higher office for some, a beating up for others and certainly behaviorist learning theory shows that can be highly effective and certainly these two elements were used by the Nazis and the Soviets. However, although such methods may have helped those regimes to achieve their desired ends, the study of propaganda is not primarily concerned with them. The central element in propagandist inducements, as opposed to compulsion on the one side and payment, or bribery on the other; is that they depend on 'communication' rather than concrete penalties or rewards. But if its owner (propagandist) shouts at it in a threatening manner, or tries to coax it with winning words, then the word begins to become appropriate. It might be acceptable whereas propaganda is one of social sciences which are a part of rhetorical arts in communication. People may consider that propaganda necessarily presents a biased view of reality. But it has neutral value as a social science except who use it and what it used for. Propaganda could be called as the equipment to control or to deliberate people belief and opinion; alter people attitudes. Meanwhile, rhetorical and its substance, propaganda, are often used as devices in changing the opinions and attitudes. In the typical attitude change study, or in order to spread an idea, an individual’s opinion is assessed toward particular topic, for example political topic in order to extend the participant. This paper hopefully has shown the important role of propaganda techniques in changing people belief and opinion. The paper has ascertained that the exploitation of language that contains propagandistic effects could be noticed that the speaker utilized each technique in order to hold one point of view among the audiences. Furthermore, in academic studies, sometime it might be difficult to enter the political cases in order to verify the contextual studies between discursive and social practices whereas it is very tactical and complicated to make an understanding toward particular issues of social context.
172
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

lANGuANGE, SPEEcH AND PRoPAGANDA, A PERSPEcTIvE IN TEAcHING cRITIcAl DIScouRSE ANAlySIS

References
Aristotle. (2000). Politics. Translated by Benjamin Jowett. Courier Dover Publication. Aristotle. (2001). Rhetoric. Translated by W. Rhys Roberts. Beard, A. (2000). The language of politics. London. Chomsky, N. (1988). Language and politics. Montreal, Canada: Black Rose Books. Cline, A. (n.d.). Propaganda and persuasion: Misuse of language and meaning. Retrieved on March 19th, 2008 from www.about.com Karlins, M & Abelson, H.I. (1970) Persuasion; How opinions and attitudes are changed. (2nd ed.). New York, NY: Springer Publishing Company. Lowi, T. J, Ginberg, B, & Shepsle, K.A. (2004). American government. New York, NY: W.W. Norton & Company, Inc. Margaret C. M & Feigert, B.F. Political analysis; An introduction. (2nd ed.). Boston: Allyn and Bacon Inc. McCarthy, M. (1991). Discourse analysis for language teachers. Cambridge: Cambridge University Press. Mustafa, A.R. (2005). Discourse analysis. Banda Aceh: Ar-Raniry Press. Orwell, G. (1962). Politics and the English language Inside the Whale and Other Essays. Harmondsworth: Penguin. Rhetorics. (n.d.). Retrieved on April 23rd, 2008 from www.uhh.hawaii.edu/rsa/ rhetorics.html Standler, B.R. (2005). Propaganda and how to recognize it. Retrieved on April 20, 2008 from www.rbs0.com/propaganda/pdf.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

173

Mutu dan Pengawas dalam Perspektif Manajemen Pendidikan
Bakhtiar
Dosen STAI Teungku Dirundeng Meulaboh.

Abstract One of the factors that affect education is the quality of education supervisor. Supervisors have a function and a very dominant role in improving the quality of education impressed that policy makers are either unaware of the importance of supervision as a component to improve the quality of education. To oversee the problems within the educational supervision, this scientific work is focused on supervisor related to the quality of education. One of the functions of management is to control. Supervision in education is to oversee the overall management of education in schools. The monitoring conducted by the supervisor will provide encouragement to teachers to improve their performance. But the problems that occur, efforts are necessary to reform the educational supervisor in order to carry out their duties in accordance with the position, function and role and become an autonomous structure in the office of education.

Key words: Mutu Pendidikan, Pengawas Pendidikan

bAKHTIAR

Pendahuluan Pengawas adalah salah seorang tenaga kependidikan yang bertugas memberikan pengawasan agar tenaga kependidikan (guru, kepala sekolah, personil lainnya di sekolah) dapat menjalankan tugasnya dengan baik (Siahaan, dkk. 2006:1). Mencermati dari pengertian tersebut, maka betapa penting dan strategis kedudukan fungsi dan tugas pengawas pendidikan. Apabila kita telaah lebih jauh, sukses tidaknya pendidikan sangatlah dipengaruhi oleh pengawas pendidikan. Kemampuan pengawas yang tidak baik akan mempengaruhi mutu pendidikan. Kenapa demikian? Karena bila kita melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan jika tidak ada orang yang mengawasi pekerjaan tersebut maka tentu kita melaksanakan pekerjaan asal jadi. Akan tetapi apabila ada yang orang mengawasi maka tentu kita akan melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Apa yang kita amati dan kita temukan dilapangan tentang pengawas, terutama pengawas pendidikan adalah suatu dilema tersendiri. Kebanyakan yang ditetapkan sebagai pengawas pendidikan adalah orang-orang yang sudah memasuki masa pensiun serta para mantan pejabat sebelumnya. Dan ini kalau kita melihat dari usia, mereka tidak memungkinkan lagi untuk mengemban tugas sebagai pengawas. Siahaan, Asli Rambe dan Mahidin (2006:9) dalam bukunya manajemen pengawas pendidikan, mengatakan personil sekolah beranggapan bahwa para pengawas tersebut menjadi pengawas bukan karena kualifikasi yang dimilikinya, tetapi cenderung karena beberapa hal. Seperti (1) Telah habis masa jabatan strukturalnya, (2) Membuat kesalahan diunit kerja asalnya sehingga dimutasikan menjadi pengawas, (3) Memperpanjang masa pensiun sehingga memilih pengawas sebagai alternatif, (4) Pekerjaan sebagai pengawas lebih ringan karena control terhadap mereka relatif longgar, dan (5) pada umumnya mereka adalah PNS senior sehingga sulit dan terkesan segan bagi orang lain untuk menegurnya dan sebagainya. Dengan demikian permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pengawas akan mempengaruhi pendidikan. Dan ini mustahil mutu pendidikan akan mengalami peningkatan apabila pengawasan tidak berjalan. Dan tentu akhirnya
176
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

muTu DAN PENGAwAS DAlAm PERSPEKTIF mANAjEmEN PENDIDIKAN

akan berdampak negatif bagi dunia pendidikan kita. Pengertian dan fungsi pengawas Dalam ilmu manajemen disebutkan bahwa salah satu fungsi manejemen adalah pengawasan (Controlling). Tanpa pengawasan tidak dapat diketahui apakah tujuan yang telah disusun dan direncanakan dapat tercapai dengan maksimal. Siahaan dkk (2006:1) mengartikan pengawas (supervisor) adalah salah seorang tanaga kependidikan yang bertugas memberikan pengawasan agar tanaga kependidikan (guru, kepala sekolah dan personil lainnya di sekolah) dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam KEPMENPAN Nomor 118 Tahun 1996 disebutkan Pengawas adalah pegawai negeri sipil yang diberikan tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan pra sekolah, dasar dan menengah. Oteng Sutisna menyebutkan bahwa pengawasan adalah fungsi administratitive, setiap administrator memastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan yang dikehendaki. Dan lebih lanjut ia menambahkan, pengawasan meliputi pemeriksaan, apakah semua berjalan sesuai dengan rencana yang dibuat, intruksiintruksi yang dikeluarkan dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Seterusnya Oteng Sutisna melanjutkan bahwa pengawasan diperlukan pada semua bidang kegiatan sekolah, program pengajaran, personil, murid, keuangan, perumahan, perlengkapan dan hubungan masyarakat. Dari uraian diatas, betapa sangat komplek dan sangat berat serta penting tugas pengawas mulai dari mengawasi, menilai, memberi pengarahan dan bimbingan. Oleh karena tugas pengawas sangatlah berat maka membutuhkan tenaga pengawas yang professional dan enerjik dalam menjalankan tugasnya. Tugas pengawas tersebut harus didukung oleh kebijakan yang memihak kepada pemberdayaan pengawas, kebutuhan kerja dan kebutuhan lainnya tercukupi. Hal itu dikarenakan pengawas merupakan personil yang sangat mempengaruhi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Rohani HM (1991:72) menyebutkan terdapat 8 fungsi pengawas, yaitu: 1. Mengkoordinasikan semua usaha sekolah
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

177

bAKHTIAR

2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah 3. Memperluas pengalaman guru-guru 4. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif 5. Memberikan fasilitas penilaian yang terus menerus 6. Menganalisis situasi belajar mengajar 7. Memberikan pengetahuan/skill setiap anggota/staf 8. Membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru. Oleh sebab itu peran pengawas sangatlah penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Maka pengawas haruslah diberdayakan dan dijadikan pekerjaan pengawas bukan sebagai pekerjaan buangan yang dikuasai oleh orangorang mantan pejabat yang sudah habis masa menjabat serta akan memasuki masa pensiun. Mutu dalam konteks pendidikan Mutu pendidikan ditempat tertentu merupakan miniatur dari mutu pendidikan secara nasional. Hal ini disebabkan oleh apa yang telah dihasilkan dan dicapai tidak keluar dari koridor apa yang terjadi dan direncanakan secara nasional. Dalam pendidikan pengawas, guru dan anak didik serta mutu pendidikan merupakan rantai yang tak bisa diputuskan artinya pengawas menjadi bagian dalam meningkatkan mutu. Mutu pengawas akan mempengaruhi mutu guru, mutu guru akan mempengaruhi mutu proses pembelajaran, proses pembelajaran yang bermutu akan menghasilkan peserta didik yang bermutu, dan pada akhirnya jika semua itu bersinerji akan mempengaruhi mutu pendidikan secara keseluruhan dan akan mencapai hasil yang memuaskan. Jadi mutu dalam konteks pendidikan disini bukan hanya dilihat dari hasilnya saja, tetapi haruslah menyeluruh pada semua komponen pendidikan. Glasser (1992), menyarankan 14 butir untuk mencapai mutu pendidikan yang termasuk dalam TQE yaitu: a. Merancang secara terus menerus berbagai tujuan pengembangan siswa, pegawai dan layanan pendidikan. b. Mengadopsi filosofi baru, yang mengedepankan kualitas pembelajaran dan kualitas sekolah. Manajemen pendidikan harus mengambil prakarsa dalam gerakan peningkatan mutu ini.
178
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

muTu DAN PENGAwAS DAlAm PERSPEKTIF mANAjEmEN PENDIDIKAN

c. Guru harus menyediakan pengalaman pembelajaran yang menghasilkan kualitas kerja. Peserta didik harus berusaha mengejar kualitas dan menyadari jika tidak menghasilkan output yang baik, customers mereka (guru, orang tua, lapangan kerja) tidak akan menyukainya. d. Menjalin kerjasama yang baik dengan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) untuk menjamin bahwa input yang diterima berkualitas. e. Melakukan evaluasi secara kontinu dan mencari terobosan-terobosan pengembangan sistem dan proses untuk meningkatkan mutu dan produktivitas. f. Para guru, staf dan murid harus dilatih dan dilatih kembali dalam pengembangan mutu. Guru harus melatih siswa agar menjadi warga dan pekerja masa depan dengan mengembangkan kemampuan pengendalian diri, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. g. Kepemimpinan lembaga, yang mengarahkan guru, staf dan siswa mengerjakan tugas pekerjaannya dengan lebih baik. Didalam mengelola kelas, guru hendaknya menerapkan visi kepemimpinan pada kepengawasan. h. Mengembangkan ketakutan, yakni semua staf harus merasa mereka dapat menemukan masalah dan cara pemecahannya, guru mengembangkan kerjasama dengan siswa untuk meningkatkan mutu. i. Menghilangkan penghalang kerjasama diantara staf, guru dan murid atau antar ketiganya. j. Hapus slogan, desakan atau target yang bernuansa pemaksaan dari luar. k. Kurangi angka-angka kuota, ganti dengan penerapan kepemimpinan, karena penetapan kuota justru akan mengurangi produktivitas dan kualitas. l. Hilangkan perintang-perintang yang dapat menghilangkan kebanggaan para guru atau siswa terhadap kecapakapan kerjanya. m. Sejalan dengan kebutuhan penguasaan materi baru, metode-metode atau teknik-teknik baru, maka harus disediakan program pendidikan atau pengembangan diri bagi setiap orang dalam lembaga sekolah tersebut. n. Pengelola harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengambil bagian atau peranan dalam pencapaian kualitas.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

179

bAKHTIAR

Tuntutan peningkatan mutu pendidikan Seiring dengan perubahan zaman yang sudah dipenuhi dengan teknologi informasi, tak terkecuali dunia pendidikan. Maka tuntutan peningkatan mutu pendidikan untuk dapat bersaing diera global ini tak terbendung lagi. Dengan tuntutan tersebut berbagai upaya dilakukan dan diusahakan untuk memenuhi tuntutan peningkatan mutu ini. Berbagai upaya dilakukan mulai dari reformasi organisasi, perubahan kurikulum dan sampai dengan perubahan manajemen pendidikan. Dengan berbagai perubahan yang dilakukan, maka disusunlah suatu konsep untuk peningkatan mutu, yaitu konsep manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah. Manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Untuk menjamin semua terlaksana dengan baik dan sesuai dengan yang telah direncanakan, maka kemampuan pengawas sangatlah diutamakan sehingga proses pengawasan di sekoah bisa berjalan dengan baik. Dan pengawas dituntut untuk meningkatkan kinerjanya untuk mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan dan perencanaannya. Atas tuntutan tersebut maka harus diupayakan secepat dan sesegera mungkin program pemberdayaan pengawas pendidikan. Pemberdayaan ini bisa dilakukan melalui penataran-penataran, pelatihan-pelatihan dan juga melalui workshopworkshop yang mereka ikuti. Dari uraian diatas penulis menyimpulkan untuk memperoleh hasil yang bermutu, maka sebelumnya harus dimulai dengan cara yang bermutu pula. Mereformasi Pengawas Pendidikan Sesuai dengan perubahan zaman dan tuntutan untuk mencapai hasil yang memuaskan dan dapat diterima oleh semua pihak, maka hal utama yang harus diperhatikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan adalah peningkatan mutu perangkat pendidikan itu sendiri, yaitu guru sampai dengan pengawas. Salah satu usaha yang harus dilakukan sekarang adalah mereformasi pengawas pendidikan. Pengawas pendidikan jangan dijadikan lagi sebagai tempat buangan para mantan pejabat dan sebagai tempat untuk memperpanjanag usia
180
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

muTu DAN PENGAwAS DAlAm PERSPEKTIF mANAjEmEN PENDIDIKAN

pensiun dari pegawai serta tidak menjadikan pekerjaan pengawasan sebagai hanya pekerjaan tidak berarti yang selalu disepelekan. Berbagai perubahan dari masalah tersebut harus segera dipecahkan dan diselesaikan jika memang semua elemen berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Apabila persoalan dan permasalahan tersebut tidak segera dipecahkan maka selamanya akan terus ikut mempengaruhi mutu pendidikan, karena jika pengawas tidak berjalan sebagaimana mestinya maka semua yang sudah direncanakan dan dilaksanakan tidak akan tercapai dengan baik dan maksimal. Upaya mereformasi pengawas pendidikan harus dimulai dari awal proses perekrutannnya (sistem dan kriteria) dan selanjutnya dilakukan pemberdayaan untuk terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan pengawas dalam melakukan pengawasan. Mutu dan pengawas dalam era otonomi Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan sebagaimana sudah penulis uraikan diatas, maka sesuai dengan peningkatan mutu ini Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas RI, telah menyusun dan mensosialisasikan Konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Konsep manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah yang telah disusun dan ditulis serta disosialisasikan adalah bertujuan: 1. Mensosialisasikan konsep dasar manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah khususnya kepada masyarakat. 2. Memperoleh masukan agar konsep manajemen ini dapat diimplementasikan dengan mudah dan sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia yang memiliki keragaman kultural, sosio ekonomi masyarakat dan kompleksitas geografisnya. 3. Menambah wawasan pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat sekolah dan individu yang peduli terhadap pendidikan, khususnya peningkatan mutu pendidikan. 4. Memotivasi masyarakat sekolah untuk terlihat dan berpikir mengenai peningkatan mutu pendidikan/pada sekolah masing-masing. 5. Menggalang kesadaran masyarakat sekolah untuk ikut serta secara aktif dan dinamis dalam mensukseskan peningkatan mutu pendidikan.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

181

bAKHTIAR

6. Memotivasi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam mensukseskan pembangunan pendidikan dari individu dan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan khususnya masyarakat sekolah yang berada di garis yang paling depan dalam proses pembangunan tersebut. 7. Menggalang kesadaran bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat, dengan fokus peningkatan mutu yang berkelanjutan (terus menerus) pada tataran sekolah. 8. Mempertajam wawasan bahwa mutu pendidikan pada setiap sekolah harus dirumuskan dengan jelas dan dengan target mutu yang harus dicapai setiap tahun, 5 tahun dan seterusnya sehingga tercapai misi sekolah ke depan. Pengertian peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah dalam konsep tersebut adalah untuk mengakomodir bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, kebutuhan guru dan staf lain serta berbedanya tempat atau lingkungan tempat sekolah tersebut, maka upaya peningkatan mutu pendidikan disesuaikan dengan sekolah masing-masing. Kebijakan tersebut diambil sesuai dengan kebijakan otonomi daerah yang diikuti juga dengan otonomi pendidikan. Maka sesuai dengan perubahan sebelumnya bahwa berbagai kebijakan dan upaya yang dilakukan tiada akan bermamfaat jika tidak dilakukan pengawasan untuk mengontrol berbagai pelaksanaan dari perencanaan yang telah dilakukan. Dalam era otonomi daerah yang diikuti dengan otonomi pendidikan, maka hal tersebut harus juga diikuti dengan kebijakan otonomi pengawas, dalam artian bahwa pengawas yang dilakukan mempunyai tujuan dan rencana, serta ada implikasi positif dan negatif dari hasil pengawasan yang dilakukan oleh pengawas tersebut. Penutup Dari uraian diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Fungsi manajemen didalam dunia pendidikan selama ini tidak berjalan sebagai mana mestinya. 2. Untuk meningkatkan mutu pendidikan maka haruslah didukung oleh berbagai komponen-komponen yang ada dalam pendidikan. 3. Mutu pendidikan akan mengalami peningkatan apabila ada yang mengawasi dan mengevaluasi sesuai dengan perencanaannya.
182
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

muTu DAN PENGAwAS DAlAm PERSPEKTIF mANAjEmEN PENDIDIKAN

Daftar Pustaka
Sahertian, Piet. A. (2000). Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Sagala, Syaiful. (2005). Administrasi Pendidikan Kontemporer. (Ed. II). Bandung: Alfabeta. Sallis, Edward. (2006). Total Quality Management in Education, Penerj. Ahmad Ali Riyadi & Fahrurrazi. Jogjakarta: IRCiSoD. Sam M. Chan & Tuti T. Sam. (2006). Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Siahaan, Amiruddin, Asli Rambe & Mahidin. (2006). Manajemen Pengawas Pendidikan. Jakarta: Quatum Teaching (Ciputat Press Group). Sutisna, Oteng. (1983). Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional. Bandung: Penerbit Angkasa. Winardi. (2006). Manajemen Perubahan. Jakarta: Prenada Media Kencana.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

183

Konsep Pendidikan Menurut Perspektif Muhammad Natsir
Hambali
Mahasiswa Program Pasca Sarjana Studi Magister Administrasi Pendidikan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh

Abstract A nation will fall down if the concept of its education is not yet right. A nation will go forward if it is in line with the concept of an Islamic vision of global education and to empower people. Muhammad Natsir established educational concepts appropriate to the vision, mission and goals of Islam itself. He believed that the concept of education works for freedom to humanize and self-actualization to realize the educational goals of Islam. Educational ideology should not have dichotomy between public and religious education. Muhammad Natsir is the architect of education on the national and international level. His thought was that education is the only strategic media to empower nation. Educational backwardness was caused by three aspects need to be improved namely dichotomy of education, curriculum reform, integrated curriculum and preparing teachers who have commitment and devotion to advancement of the nation.

Key words: Konsep pendidikan, Muhammad Natsir

HAmbAlI

Pendahuluan Muhammad Natsir adalah salah satu tokoh pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia yang menggagas pembaharuan pendidikan Islam yang berbasis Alquran dan as-sunnah. Dengan berbasis pada Alquran dan sunnah, maka pendidikan Islam harus bersifat integral, harmonis dan universal, mengembangkan segenap potensi manusia agar menjadi bebas dan mandiri sehingga mampu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam juga harus memberikan bekal kemampuan berbahasa termasuk bahasa asing seperti Arab dan Inggris yang memungkinkan ia dapat berkomunikasi dengan bangsabangsa lain yang telah maju. Pendidikan harus berwawasan global dan mampu memberdayakan manusia. Oleh sebab itu, visi, misi dan tujuan pendidikan Islam harus ditata kembali sesuai dengan sifat dan karakter ajaran Islam itu sendiri. Riwayat hidup Muhammad Natsir Muhammad Natsir lahir di jembatan Berukir, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada hari Jumat, 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah, bertepatan dengan 17 Juli 1908 Masehi. Ibunya bernama Khadijah, sedangkan ayahnya bernama Muhammad Idris Surat Saripado, seorang pegawai rendah yang pernah menjadi juru tulis pada kantor kontrolir di Meninjau dan sipil penjara di Sulawesi Selatan (Rosidi, 1990:150). Ia memiliki tiga saudara kandung, masing-masing bernama Yukinan, Rubiah dan Yohanusun. Di Desa kelahirannya itu Natsir kecil melewati masa-masa sosialisasi keagamaan dan intelektualnya. Riwayat pendidikan Natsir dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) di Meninjau Sumatra Barat hingga kelas dua. Sekolah ini merupakan sekolah swasta (partikelir) yang mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Ketika ayahnya dipindah tugaskan ke Bekeru, Natsir mendapatkan tawaran dari makciknya, Ibrahim, untuk pindah ke Padang agar dapat menjadi siswa di Holand Inlandse School (HIS) Padang. Tawaran tersebut diterima oleh Natsir dengan penuh antusias. Namun HIS Padang menolaknya, dengan pertimbangan bahwa Natsir adalah seorang anak pegawai rendahan (Rosidi, 1990:145). Untungnya pada saat itu di Padang sudah ada HIS Adabiyah, sebuah sekolah swasta yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak negeri. Natsir diterima sebagai murid di HIS Adabiyah itu. Selama lima bulan belajar di HIS Adabiyah Padang Panjang itu, Natsir tinggal
186
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

KoNSEP PENDIDIKAN mENuRuT PERSPEKTIF muHAmmAD NATSIR

bersama dengan makciknya, Ibrahim (Rosidi,1990:146). Setelah lulus dari HIS, Natsir mengajukan permohonan untuk mendapat beasiswa dari MULO (Meter Uitgebreid Lager Ordewijs), dan ternyata lamarannya itu diterima. Di MULO Padang inilah Natsir mulai aktif dalam organisasi. Mulamula ia masuk Jong Sumatranen Bond (Sarikat Pemuda Sumatra) yang diketuai oleh Sanusi Pane. Kemudian ia bergabung dengan Jon Islamieten Bond (Serikat Pemuda Islam), dan di situ pun, Sanusi Pane aktif sebagai ketua. Dan menjadi anggota Pandu Nationale Islamietesche Pavinderij (Natipij), sejenis Pramuka sekarang (Nata, 2005:75). Aktivitas Natsir semakin berkembang ketika ia menjadi siswa di Algememe Midelbare School (AMS) di Bandung. Di kota ini ia mempelajari agama secara mendalam serta berkecimpungan dalam bidang politik, dakwah dan pendidikan. Di tempat ini pula Natsir berjumpa dengan A. Hasan (1887-1958), seorang tokoh pemikir radikal dan pendiri Persatuan Islam (Persis). Natsir mengaku bahwa A. Asanlah yang mempengaruhi alam pikirannya (Nata, 2005:75). Natsir tidak memperoleh pemikiran pendidikan keIslamannya secara formal, melainkan melalui hubungan langsung dengan tokoh-tokoh pemikir Islam pada masa itu, khususnya A. Hasan dan Agus Salim, serta melalui karya-karya tokoh pembaru di Dunia Islam, seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang mereka jumpai di Indonesia. Pengaruh dari tokoh pembaru inilah yang kemudian mematangkan pemikiran intelektual Muhammad Natsir. Selain itu pada saat belajar di AMMS Bandung, Natsir juga mulai tertarik pada gerakan Jong Islameten Bond (JIB) yang anggotanya adalah pelajar-pelajar bumi putra yang belajar di sekolah Belanda. Organisasi ini memperoleh pengaruh intelektual dari H. Agus Salim (Mahendra, 1994:15). Selanjutnya tahun 1938, Natsir mulai aktif di bidang politik dengan melibatkan diri sebagai anggota Persatuan Islam Indonesia (PII) cabang Bandung, pada tahun 1940-1942. Natsir menjabat sebagai ketua PII pada tahun 1942-1945, ia merangkap jabatan sebagai Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung serta sebagai Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta yang merupakan Perguruan Tinggi Islam pertama yang berdiri Pasca kemerdekaan. Karier politik Natsir pasca kemerdekaan diawali sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang berlangsung dari tahun 1945-1946.
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

187

HAmbAlI

Kemudian menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia pada kabinet Syahrir ke 1 dan ke-2, dari tahun 1949 sampai 1958 ia diangkat menjadi ketua Masyumi, hingga partai ini dibubarkan. Puncak karier Natsir dalam bidang politik terjadi ketika Natsir diangkat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia (19501951). Dalam pemilihan Umum (Pemilu) 1955 Natsir terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan dari tahun 1956-1957, ia menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia (Nata, 2005:77). Di dunia Internasional, Natsir dikenal melalui kandungannya yang tegas terhadap kemerdekaan negara-negara Islam di Asia Tenggara dan Afrika, serta usahanya untuk menghimpun kerja sama antara negara yang baru merdeka. Sebagai seorang senior dalam bidang politik, Natsir sering diminta nasihat dan pandangannya bukan hanya saja dari tokoh-tokoh politik negara-negara Muslim seperti organisasi PLO Palestina, Mujahidin Afghanistan, Moro Filipina, Bosnia dan lain sebagainya, melainkan juga tokoh-tokoh politik dunia yang bukan Muslim seperti Jepang dan Thailand. Atas semua ini, Dr. Inamullah Khan menjuluki Natsir sebagai seorang tokoh besar Dunia Islam abad ini. Sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap pengabdiannya yang demikian besar terhadap dunia Islam, pada Januari 1957, Natsir menerima penghargaan Internasional berupa bintang Nicham Istikhar (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamin Bey atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Selanjutnya pada bulan Februari 1980, ia memperoleh penghargaan Internasional Jaizatul Malik Faisal al-Alamiyah dari Lembaga Hadiah Internasional Malik Faisal di Saudi Arabika (Rosidi, 1990:258). Dalam dunia akademik, Natsir memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Libanon (1967) di bidang sastra. Pada tahun 1991, ia menerima gelar yang sama dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Sain Teknologi Malaysia dalam bidang pemikiran Islam. Gelar ini juga sama seperti yang diberikan baru-baru ini oleh Universitas Syiah Kuala Banda Aceh kepada tokoh dan mantan Perdana Menteri Malaysia yaitu Dr. Muhattir Muhammad dalam bidang Ekonomi. Akhirnya Natsir pulang ke rahmatullah pada tanggal 6 Pebruari 1993 Masehi bertepatan dengan 14 Sya’ban 1413 Hijriah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 85 tahun. Berita wafatnya ini menjadi berita utama dalam
188
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

KoNSEP PENDIDIKAN mENuRuT PERSPEKTIF muHAmmAD NATSIR

berbagai media cetak dan elektronik. Karya-karya tulis Muhammad Natsir Sekalipun Natsir tercatat sebagai tokoh negarawan yang super aktif, tapi ia termasuk pula tokoh intelektual muslim yang produktif. Menurut Yusuf Abdullah Paur, Natsir telah menulis lebih dari 52 judul buku yang ditulis sejak tahun 1930. Di antara karya-karya tulisnya itu adalah sebagai berikut: 1. Islam Sebagai Ideologi (Jakarta: Pustaka Aida, 1951) yang berbicara tentang ajaran Islam dalam hubungannya dengan pedoman hidup manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya; 2. Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam, (Medan: tp.P., 1951) yang membahas tentang agama dan negara; 3. Kapita Selekta I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1954) yang membahas tentang kebudayaan, filsafat, pendidikan, agama dan ketatanegaraan; 4. Islam Sebagai Dasar Negara, (Bandung: tp.P., 1954) yang membahas tentang Islam sebagai dasar negara dengan suatu keyakinan bahwa ajaran Islam mencakup urusan duniawi dan ukhrawi; 5. Some Observation, Concerning the Rule of Islam in National and Internasional Affair, (Ithaca: Department of Eastern Studies, Cornell University, 1954) sebuah buku yang memuat hasil pengamatan Natsir terhadap perhatian dan kesungguhan umat Islam dalam menegakkan ajaran Islam, baik dalam sekala nasional maupun internasional. 6. Fiqh Dakwah (Solo: Ramadhan, 1965) membahas tentang tata cara dan etika dakwah dengan berpedoman pada model dakwah Rasulullah Saw (Nata, 2005:79-80). Dari beberapa karya tulisnya yang disebutkan di atas, terlihat dengan jelas bahwa Muhammad Natsir disamping memiliki perhatian terhadap perlunya pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga perlunya meningkatkan dan mengembangkan pendidikan umat. Melalui pendidikan ini, Muhammad Natsir ingin agar umat Islam mengamalkan ajaran Islam sesuai ketentuan Alquran dan Al-Hadits yaitu umat yang memiliki ketangguhan dalam penguasaan ilmu agama dan ilmu umum secara sekaligus.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

189

HAmbAlI

Gagasan dan pemikiran Muhammad Natsir Berdasarkan data-data yang berhasil dikumpulkan, bahwa ada beberapa gagasan dan pemikiran Muhammad Natsir dalam bidang pendidikan Islam adalah sebagai berikut: a. Peran dan fungsi pendidikan Sehubungan dengan peran yang harus dimainkan dalam pendidikan, Natsir mencoba mengkritik kebijakan pemerintah Belanda dalam bidang pendidikan. Dalam hubungan ini Natsir mengatakan sebagai berikut: “Salah satu usaha pemerintah kolonial Belanda yang juga merupakan tantangan adalah apa yang sebagai asimilasi atau se-Indonesia, yaitu upaya untuk mengajak golongan elite Indonesia agar merasa dan menganggap sebagai orang Belanda yang sama-sama berkiblat ke Den Haag, sehingga terlepas dari pandangan hidupnya sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya Indonesia. Murid-murid sekolah yang otaknya brilian dititipkan kepada keluarga Belanda atau keluarga yang beragama Kristen. Salah satu korbannya adalah Amir Syarifuddin yang lahir sebagai anak Islam, namun demikian menjadi seorang Kristen Protestan” (M. Natsir, 1987:4). Berkenaan dengan keadaan yang demikian itu, bagi Natsir pendidikan harus dapat melahirkan lulusan yang dapat melepaskan diri dari sifat ketergantungan pada orang lain serta menumbuhkan sikap berinisiatif untuk mandiri. Selanjutnya Natsir menekankan agar pendidikan dapat berfungsi membebaskan, yaitu ikhtiar sadar dan berkesinambungan untuk memanusiakan manusia guna mencapai aktualisasi diri. Dengan demikian, pendidikan dapat membebaskan manusia dari ketergantungan pada orang lain. Dari uraian di atas terlihat dengan jelas bahwa pandangan Natsir terhadap peran pendidikan, tampak dipengaruhi oleh situasi penjajahan Belanda yang cenderung memperbudak rakyat jajahannya. Natsir ingin agar pendidikan dapat membebaskan manusia dari belenggu, tekanan dan intimidasi. Pendidikan harus membuat manusia merdeka, bebas dari perbudakan, dan memiliki rasa percaya diri.

190

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

KoNSEP PENDIDIKAN mENuRuT PERSPEKTIF muHAmmAD NATSIR

b.

Dasar pendidikan Dalam tulisannya yang berjudul Tauhid Sebagai Dasar Pendidikan, M. Natsir mengatakan tentang pentingnya tauhid sebagai dasar pendidikan dan juga berhubungan erat dengan akhlak yang mulia. Tauhid dapat terlihat manifestasinya pada kepribadian yang mulia seperti yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan. Yaitu pribadi yang memiliki keikhlasan, kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas atau kewajiban yang diyakini kebenarannya. Berkaitan dengan perlunya tauhid sebagai dasar pendidikan, M. Natsir bersama 53 orang pimpinan dan tokoh masyarakat mengajukan tuntutan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar meninjau kembali buku pendidikan Moral Pancasila (PMP). Menurut Natsir dan kawan-kawan itu, bahwa sebagian dari isi buku tersebut terdapat bagian yang mengarah kepada pendangkalan akidah, menyamaratakan semua agama dan mempertentangkan Pancasila dan Agama (M. Natsir, 1402 H: No. 348). c. Tujuan pendidikan Islam Menurut M. Natsir, tujuan pendidikan hakikatnya adalah merealisasikan idealitas Islam yang pada intinya adalah menghasilkan manusia yang berprilaku yang Islami, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah sebagai sumber kekuatan mutlak yang harus ditaati. Ketaatan kepada Allah mutlak itu mengandung makna menyerahkan diri secara total kepada Allah, menjadikan manusia menghambakan diri hanya kepada-Nya. Penghambaan kepada Allah yang menjadi tujuan hidup dan tujuan pendidikan Islam tersebut dilakukan bukan untuk memberikan keuntungan kepada Allah sebagai Zat yang disembah, melainkan penghambaan tersebut adalah untuk yang menyembah itu sendiri. Dari penjelasan tersebut di atas, terlihat dengan jelas Muhammad Natsir menginginkan lahirnya manusia-manusia yang produktif, menghasilkan karyakarya nyata bagi kemajuan dirinya, bangsa dan negaranya. Namun dalam waktu yang bersamaan apa yang dilakukan oleh manusia tersebut harus dilihat sebagai bagian dari penghambaan diri kepada Allah Semata. Ia menginginkan bahwa penghambaan yang dilakukan ibadah shalat dan puasa saja. Ibadah dan penghambaan tersebut harus dilihat dalam kerangka perjuangan hidup untuk
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

191

HAmbAlI

kemakmuran umat manusia. d. Ideologi dan pendekatan dalam pendidikan Salah satu masalah yang muncul dalam wacana perdebatan di kalangan ilmuan pada Natsir antara lain soal dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Masalahnya adalah bagaimana caranya mengembalikan masalah pendidikan ini kepada pokok pangkal semula? Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas, Natsir mengajukan konsep pendidikan integral, harmonis dan universal. Konsepsi pendidikan yang integral, agama dan pendidikan umum, melainkan antara keduanya memiliki keterpaduan dan keseimbangan. Semua itu dasarnya agama, apa pun bidang dan disiplin ilmu yang ditekuninya. Dalam salah satu tulisannya Natsir membagi keseimbangan antara pendidikan Islam yang meliputi tiga hal yaitu: Pertama, keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kedua, keseimbangan antara badan dan roh; dan ketiga, keseimbangan antara individu dan masyarakat (M. Natsir, 1972: 17). Menurut Natsir, keseimbangan tersebut sesuai dengan firman Allah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 143 yang artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…(QS. Al-Baqarah: 143) Seterusnya Natsir meyakini bahwa Islam adalah agama fitrah, yaitu agama yang ajaran-ajarannya sejalan dengan fitrah manusia yang memerlukan bimbingan Tuhan dengan tujuan agar jiwanya tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrah itu. Untuk itu Natsir menyarankan agar pendidikan dilakukan dengan metode yang tepat dan efektif dengan kata-kata yang menyejukkan dan menimbulkan kesan yang dalam serta senantiasa diingat oleh anak-anak. e. Fungsi bahasa Asing Menurut Natsir bahwa bahasa asing amat besar peranannya dalam mendukung kemajuan dan kecerdasan bangsa. Dalam kaitan ini Natsir selalu ingat pada ucapan Dr.G. Drewes yang mengatakan bahwa hanya dengan mengetahui
192
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

KoNSEP PENDIDIKAN mENuRuT PERSPEKTIF muHAmmAD NATSIR

salah satu bahasa Eropa, yang terutama sekali bahasa Belanda, masyarakat bumi putra dapat mencapai kemajuan dan kemerdekaan. Lebih lanjut Dr. G. Drewes sebagaimana dikutip oleh Natsir mengatakan bahwa sebagai dasar bagi kecerdasan salah satu bangsa adalah bahasa ibunya sendiri. Bahasa erat kaitannya dengan corak berpikir suatu bangsa. Bahasa dari salah satu bangsa adalah tulang punggung dari kebudayaannya. Mempertahankan bahasa sendiri berarti mempertahankan sifat-sifat dan kebudayaannya sendiri. Kultur suatu bangsa berdiri atau jatuh bergantung pada bahasa dari bangsa itu sendiri. Selain itu, maka bahasa merupakan salah satu faktor terpenting yang mendorong mutu dan kecerdasan suatu bangsa. Bahasa ibu, bahasa kita sendiri, adalah menjadi syarat tegaknya kebudayaan kita. Sementara itu, bahasa Arab, sebelum bahasa Belanda menjadi bahasa pembawa kecerdasan itu sudah terlebih dahulu menjadi satu-satunya pembuluh kebudayaan bagi kita bangsa Indonesia. Bahasa Arab bukanlah bahasa agama semata-mata, bukan suatu dialek, bukan bahasa salah satu provinsi, akan tetapi suatu bahasa dunia, bahasa kebudayaan, bahasa pendukung kecerdasan, kunci dari bermacam-macam pengetahuan, dari yang mudah sampai yang sulit, dan yang bersifat konkret sampai kepada yang bersifat abstrak. Dari uraian di atas terlihat dengan jelas bahwa Muhammad Natsir memiliki perhatian yang amat besar dan serius tentang pentingnya bahasa untuk dikuasai oleh umat Islam. Bagi kaum Muslimin bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an, satu bahasa yang tak mungkin dapat dicarikan penggantinya, bahasa kunci dari pembendaharaan ilmu dan memahami ajaran Islam. Kerugian dan kerusakan akan menimpa kita apabila bahasa ini diabaikan dan dikesampingkan. f. Keteladanan guru Menurut Dr.G.J. Nieuwnhuis sebagaimana dikutip oleh Natsir, satu bangsa tidak akan maju, sebelum adanya guru yang mau berkorban untuk kemajuan bangsa tersebut. Pernyataan itu dikutip oleh Natsir, karena pada saat itu minat kalangan akademik untuk menjadi guru sudah mulai menurun. Berkaitan dengan masalah ini Natsir menulis artikel dengan kalimat pembuka: “sekarang saya mempropagandakan pendidikan, tetapi nanti saya tidak dapat mendidik anak-anak saya”. Pernyataan kalimat tersebut merupakan salah satu alasan yang
Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

193

HAmbAlI

dikemukakan seorang lulusan HIK yang pernah menjadi pemuka dari organisasi guru-guru di Indonesia. Namun demikian, Natsir tidak termasuk orang yang berjuang mencari kekayaan, gaji dan penghasilan yang kurang memadai sebagai guru tetap dijalani oleh Natsir. Ia adalah seorang yang teguh pendirian dan benar-benar berjuang untuk pendidikan. Ia selalu mendasarkan tujuannya pada prinsip, gagasan dan cita-cita membangun satu sistem pendidikan yang lebih sesuai dengan hakikat ajaran Islam, bukan semata-mata menjadi harta. Apalagi setelah dilihat akibatakibat yang ditimbulkan oleh sistem pendidikan Belanda yang pincang di satu sisi, dan sistem pendidikan pesantren dan madrasah di sisi lain (Yusuf Abdullah Fuar, 1978:34). Penutup Muhammad Natsir adalah tokoh nasional dan internasional yang memiliki integritas pribadi dan komitmen yang kuat untuk memajukan bangsa dan negara dengan menjadikan Islam sebagai landasan motivasi perjuangan itu. Muhammad Natsir selain sebagai seorang negarawan yang handal, ia juga termasuk pemikir dan arsitek pendidikan Islam yang serius. Ia menyadari sesungguhnya bahwa pendidikan merupakan media yang paling strategis untuk memberdayakan anak bangsa, khususnya umat Islam agar ia mampu menolong dirinya sendiri. Sebagai pemikir dan arsitek pendidikan, Natsir melihat bahwa masalah pokok untuk mengatasi keterbelakangan dalam pendidikan terletak pada tiga hal yaitu: pertama, dengan merombak sistem yang dikotomi kepada sistem yang integrated antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum; kedua, dengan merombak kurikulum dari kurikulum yang dikotomi menjadi kurikulum yang kurikulum yang integrated. Ketiga, dengan mempersiapkan tenaga-tenaga guru yang memiliki komitmen dan pengabdian bagi kemajuan bangsa dan negara.

194

At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

KoNSEP PENDIDIKAN mENuRuT PERSPEKTIF muHAmmAD NATSIR

Daftar Pustaka
Fuar, Yusuf Abdullah. (1978). Muhammad Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan. Cet. I. Jakarta: Pustaka Antara. Mahendra, Yusril Ihza. (1994) Modernisme Islam dan Demokrasi, Pandangan Politik M. Natsir. Islamika, Januari-Maret, No. 3. Nata, Abuddin. (2005). Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Natsir, M. (1402 H). Hendak ke Mana Anak-anak Kita Dibawa oleh PMP. Panji Masyarakat, No. 348, edisi Rabi’ul Awal 1402. Natsir, M. (1972). Panji Masyarakat, Jakarta: Pustaka Aida. Natsir, M. (1987). Pendidikan, Pengorbanan, Kepemimpinan, Primordialisme dan Nostalgia, Cet. I. Jakarta: Media Dakwah,. Rosidi, Ajip. (1990). M. Natsir Sebuah Biografi. Cet. I. Jakarta: Girimukti Pasaka.

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

195

Pedoman Penulisan Artikel Jurnal AT-TA’DIB

Jurnal At-Ta’dib merupakan sebuah berkala ilmiah dalam bidang keguruan dan pendidikan dengan penekanan pada pendidikan Islam. Jurnal ini menerima semua artikel yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Editor dan pembaca ahli jurnal ini berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang. Berikut ini pedoman dan format penulisan artikel untuk Jurnal At-Ta’dib: i. Redaksi menerima artikel yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tulisan yang belum memenuhi syarat akan dikembalikan untuk direvisi oleh penulisnya disertai dengan penjelasan dari Tim Editor.Ada dua kategori dasar artikel yang diterima: 1) Artikel riset penuh, yang melaporkan suatu riset menarik dan relevan. Dalam bagian diskusi supaya dilaporkan bahwa temuan-temuan riset memiliki relevansi yang tinggi dan memberikan kontribusi yang baru terhadap bidang pendidikan baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. 2) Artikel non riset yang memberikan laporan rinci yang berhubungan dengan aspek-aspek pendidikan misalnya perencanaan kurikulum atau pendidikan dalam perspektif Islam. Diskusi yang dilakukan dalam artikel tersebut sangat baik sehingga dianggap memberikan kontribusi orisinil

PEDomAN PENulISAN ARTIKEl juRNAl AT-TA’DIb

ii.

iii.

iv. v. vi. vii. viii.

ix.

x.

xi. xii.
198

dalam bidang pendidikan. Sedang artikel yang hanya bersifat tinjauan literatur tidak dapat diterima, kecuali artikel tersebut merupakan “suatu karya seni” yang disusun secara komprehensif oleh seorang ahli yang sudah berpengalaman. Ketika menyerahkan artikel supaya dinyatakan apakah merupakan artikel riset penuh atau artikel non riset. Apabila artikel non riset, diharapkan penulis memberikan penjelasan sekitar satu paragraf mengenai relevansi artikel tersebut untuk para pembaca Jurnal At-Ta’dib. Para penulis artikel untuk Jurnal At-Ta’dib harus mengikuti standar internasional dalam penulisan dengan menggunakan sistem referensi American Psychological Association (APA) Edisi ke-6. Informasi lebih lanjut mengenai format dan sistem APA bisa didapatkan di http://www.apastyle. org/ Artikel dapat dikirimkan ke: syamsuarzikriati@yahoo.com Artikel ditulis dalam format MS Word (Microsoft Word Office) atau Rich Text Format (rtf). Huruf menggunakan Times New Roman ukuran 12. Untuk sub-judul: Times New Roman ukuran 12 ditebalkan. Spasi menggunakan jarak 1.5. Catatan kaki tidak dibenarkan dalam artikel tetapi diletakkan di akhir artikel. Untuk referensi menggunakan gaya APA (American Psychological Association) dalam hal penulisan sub-judul, pengutipan, daftar pustaka dan penulisan referensi dalam teks. Untuk kutipan dari internet harus diberikan perhatian khusus dengan menyertakan tanggal akses. Informasi lebih lanjut mengenai format APA dapat diakses di http://www. apastyle.org/aboutstyle.html Pengutipan APA: http://www.liu.edu/cwis/ CWP/library/workshop/citapa.htm Workshop tentang APA: http://owl. english.purdue.edu/workshops/hypertext/apa/index.html Kata kunci. Semua artikel harus menyertakan sekitar 2-4 kata kunci di bagian awal tulisan untuk memudahkan pencarian artikel dengan menggunakan kata kunci di masa mendatang. Grafik dan bagan dapat disisipkan pada badan tulisan atau dimasukkan di akhir tulisan. Grafik tidak boleh melebihi margin kertas A4. Antara satu paragraf dengan paragraph selanjutnya dibuat dua spasi. Paragraf
At-Ta'dib | Volume I. No. 2, Agustus - Nopember 2009

PEDomAN PENulISAN ARTIKEl juRNAl AT-TA’DIb

baru diberikan tiga ketukan menggunakan “space bar” kecuali paragraf setelah sub judul, pengutipan, contoh, gambar, bagan atau tabel. Jangan menggunakan “tab key”. xiii. Format teks dalam bentuk italic, bold dan lain-lain dibuat seminimal mungkin. xiv. Setiap artikel harus disertai oleh abstrak yang berisi ringkasan informasi poinpoin penting dalam artikel, yang mencakup tujuan penulisan artikel, kerangka teoritis, metodologi, jenis data yang dianalisis, informasi tentang subjek penelitian, temuan utama, dan kesimpulan. Abstrak harus merefleksikan keseluruhan artikel. Dalam pengiriman artikel harap disertakan data berikut: Nama Institusi Alamat E-mail Telepon Biodata singkat mengenai riwayat keahlian professional Kualifikasi Pertanyaan lebih lanjut mengenai panduan penulisan dapat ditanyakan via E-mail pada Ketua Dewan Editor: muliadikurdi@yahoo.co.id

Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam

199

AT-TA’DIB adalah jurnal Prodi Pendidikan Agama Islam memuat keanekaragaman perspektif tentang pendidikan Islam. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

Redaksi mengundang para penulis, peneliti dan pemerhati pendidikan Islam agar dapat memberikan kontribusinya dalam bentuk tulisan ilmiah. Tulisan dapat dikirim ke alamat redaksi : Jalan Teuku Umar Komplek Masjid Nurul Huda, Meulaboh-Aceh Barat No. 100 Telp: 0655-7551591; Fax: 0655-7551591 Website: www.staidirundeng.ac.id

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->