BABAD BANYUMAS DAN VERSI-VERSINYA

Sugeng Priyadi

Abstract: This article discuses 62 Babad Banyumas manuscripts which categorized into 15 versions. Babad Banyumas Kalibening is the oldest version. Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara and Sejarah Wirasaba version have been the archetype of Banjarnegara version which later developed into the Wirjaatmadjan version, Kasman Soerawidjaja version, Panenggak Widodo-Nakim version, and Oemarmadi-Koesnadi version. The Mertadiredjan version has been the archetype of transformed texts of the Mertadiredjan version, the Jayawinata version, and the Adimulya version. The Danuredjan verse version transforms into the Danuredjan prose version. All the above versions relate closely with the Keluarga Baru version. Key words: archetype, version, verse, prose, transformed text.

Penelitian awal terhadap 32 naskah Babad Banyumas menunjukkan adanya enam versi, yaitu: (1) versi Mertadiredjan, (2) versi transformasi teks Mertadiredjan, (3) versi Dipayudan, (4) versi Wirjaatmadjan, (5) versi Danuredjan (tembang), dan (6) versi Danuredjan (gancaran) (Priyadi, 1995a: 347). Penelitian lanjutan yang dilakukan terhadap 23 naskah yang baru ditemukan pada periode 1995-1998 membuktikan adanya gejala yang menarik. Pelacakan terhadap versi Babad Banyumas yang berisi legitimasi bagi keluargakeluarga baru dilakukan karena adanya gejala kenaikan status, pendirian berbagai paguyuban, tradisi silahturahim, dll. Oleh karena itu, gejala tersebut harus senantiasa dicermati agar tradisinya dapat diketahui sedini mungkin. Hal itu juga didukung oleh tingkat mobilitas penyalinan teks Babad Banyumas yang tergolong tinggi sehingga penelitian lanjutan senantiasa diperlukan.
Sugeng Priyadi adalah dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto

75

76 BAHASA DAN SENI, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006

METODE PENELITIAN Penelitian ini ditempuh dengan metode filologi dengan melakukan: (1) inventarisasi naskah, (2) deskripsi naskah, dan (3) perbandingan teks (Djamaris, 1977:23-24). Langkah pertama mengumpulkan naskah-naskah Babad Banyumas, baik yang tersimpan pada koleksi-koleksi pribadi di Banyumas maupun koleksi-koleksi perpustakaan atau museum. Untuk koleksi perpustakaan atau museum ditempuh dengan cara menelusuri katalog-katalog yang sudah diterbitkan mengenai naskah Jawa (lihat Behrend, 1990; Behrend & Pudjiastuti, 1997; Ekadjati & Darsa, 1999). Naskah yang termuat dalam katalog semuanya dapat ditemukan di Banyumas sehingga secara keseluruhan dapat dikumpulkan sebanyak 62 naskah Babad Banyumas. Selanjutnya, 62 naskah tersebut dideskripsikan agar dapat dibandingkan teksnya. Perbandingan teks dilakukan terhadap 62 naskah dan dikategorikan menjadi 15 versi. HASIL Penelitian lanjutan Babad Banyumas telah menemukan gejala yang terabaikan pada penelitian sebelumnya. Ada enam versi baru Babad Banyumas, yakni versi Jayawinata, versi Adimulya, versi Panenggak Widodo-Nakim, versi Oemarmadi dan Koesnadi, versi Kasman Soerawidjaja, dan versi Keluarga Baru (Dipadiwiryan, Dipayudan Banjarnegara, Cakrawedanan, Mertadiredjan, Gandasubratan, dan keluarga Banjar-GripitBadakarya) (Priyadi, 1998:1-15). Dengan demikian, secara keseluruhan ada 62 naskah Babad Banyumas atau 12 versi. Perkembangan penelitian menunjukkan bahwa naskah Babad Banyumas Kalibening yang tadinya dimasukkan ke dalam versi transformasi teks Mertadiredjan dapat ditampilkan sebagai versi tersendiri karena teksnya merupakan teks tertua dalam naskah yang tertua (Priyadi, 1991). Di samping itu, naskah Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4 (PRBN), juga memuat teks Babad Banyumas. Teks ini jelas berbeda dengan versi-versi yang lain. Ada kemungkinan teks ini menjadi teks yang melahirkan Babad Banyumas versi Banjarnegara. Selain itu, teks Sejarah Wirasaba yang menjadi tradisi di Purbalingga yang ditransformasikan menjadi Babad Banyumas versi Banjarnegara, maka teks Sejarah Wirasaba menjadi versi tersendiri. Secara keseluruhan sampai penelitian terakhir ini, ada 15 versi Babad Banyumas.

misalnya Patih Banteng. naskah Babad Banyumas koleksi Kangjeng Pangeran Aria Mertadiredja III (selanjutnya disingkat BBM) ditemukan sehingga teks Tedhakan Serat Babad Banyumas dapat dibandingkan dengan teks induk. raja daerah bawahan Majapahit seperti yang disebut dalam teks Pararaton (Padmapuspita. Gandasubratan. (6) versi PRBN. (12) versi Danuredjan (tembang). Halaman-halaman pada bagian depan dan belakang hilang. (14) versi Keluarga Baru (semua gancaran: Dipadiwiryan. Tebal naskah 60 halaman. Kejawar. Kertas yang dipakai berukuran 11 X 16 cm. 1877:6). Versi Mertadiredjan Tanpa diduga. Selain usianya yang tertua. Sanmuhadi. tempat tinggal Kiai Mranggi disebut dengan nama kunanya. (9) versi Wirjaatmadjan. PEMBAHASAN Versi Babad Banyumas Kalibening Babad Banyumas Kalibening merupakan naskah dan teks tertua. Kuntul Winatenan. Naskah tersebut adalah koleksi juru kunci makam Kalibening. 1966). (3) versi Jayawinata. (4) versi Adimulya. Babad Banyumas dan Versi-versinya 77 Versi-versi tersebut sebagai berikut: (1) Babad Banyumas Kalibening. . dan (15) versi Sejarah Wirasaba. Holle. dan keluarga BanjarGripit-Badakarya). Kalibening ini berada tidak jauh dari makam pendiri Banyumas Adipati Warga Utama II di desa Dawuhan. (5) versi transformasi teks Mertadiredjan. Cakrawedanan. Babad Banyumas Kalibening memiliki keistimewaan. dan Ra Kungkung. Kebo Singat. (8) versi Kasman Soerawidjaja. Gagak Minangsi.Priyadi. (10) versi Oemarmadi dan Koesnadi. Dipayudan Banjarnegara. (2) versi Mertadiredjan. yaitu Ajahawar. (7) versi Dipayudan atau versi Banjarnegara. Adanya nama-nama di atas menunjukkan bahwa teks tersebut lebih tua daripada teks-teks lainnya. (13) versi Danuredjan (gancaran). Mertadiredjan. Babad Banyumas Kalibening memakai huruf Jawa yang berasal dari abad ke-17 Masehi dan kertas dluwang (bdk. Nama ini amat dekat dengan nama Bhre Paguhan. Nama Kepaguhan di Banyumas secara berangsur-angsur telah berubah menjadi Paguwan atau Paguwon. yaitu menyebut nama Adipati Wirasaba dengan gelar Ki Kepaguhan. (11) versi Panenggak Widodo-Nakim. Nama-nama binatang dipakai untuk nama orang.

Tahun 34. (18) Prajangjian lan Inggris. Selanjutnya. bdk. (14) Serat Tajusalatin. (13) Serat Bustan. Banyak Kumara. 1990. (3) Babad Giyanti I-III. (12) Babad Mangkubumi. 1901). Bagus Mangun adalah putra Banyak Sasra yang kawin dengan putri Pasirluhur. (9) Serat Rama. (2) Kitab Ilham I-II. Perkawinan campuran itu menjadi alat legitimasi bagi pendiri Banyumas (Bagus Mangun atau Jaka Kaiman). Sebelum naskah induk ditemukan. (8) Kartasura bibar Geger Pacina. Banyak Sasra. Pajajaran. (16) Babad Pecina. dan Rara Ngaisah (Priyadi. (6) Pranata Lenggah. Teks sejarah pangiwa tidak ditemukan pada naskah-naskah Babad Banyumas yang lain. ada sejumlah naskah tulisan tangan yang bersampul kulit kambing. 2003). termasuk bagian sambetan. Knebel. 5. (11) Babad Surakarta Jaman Sinuhun Suwarga. dan jumlah bait tidak ada perbedaan yang hakiki. Majapahit. Di situ. Mataram). (20) Sujarah . 1998:223). (7) Cariyos Nagari (1. Dengan demikian. 4. Naskah tersebut tersimpan dengan sejumlah naskah milik Pangeran Aria Mertadiredja III (kakek buyut Mustafa) dan Pangeran Aria Gandasoebrata (kakek Mustafa). nama pupuh. Nomor 1. Sebagian besar naskah-naskah Babad Banyumas memuat teks silsilah dari raja-raja Majapahit yang dihubungkan secara langsung dengan pendiri Banyumas (Behrend. Pajang. Versi Mertadiredjan merupakan satu-satunya versi tembang yang memuat tradisi silsilah kiri atau sejarah pangiwa. Jakarta. Bagus Mangun masih keturunan Majapahit. dan Pasirluhur. TSBB dapat diketahui tradisi teksnya. Tokoh-tokoh tersebut adalah hasil perkawinan campuran Majapahit (Raden Putra) dengan Pajajaran (Dewi Pamekas). yaitu silsilah dari Nabi Adam sampai raja-raja Majapahit (Priyadi. juga Nabi Adam (Priyadi. Babad Banyumas koleksi Pangeran Aria Mertadiredja III di atas ditemukan berkat bantuan Brigjen Polisi Purnawirawan Mustafa Gandasubrata (kakak Ratmini Soedjatmoko). yaitu (1) Serat Putri Jelalek.78 BAHASA DAN SENI. raja-raja Majapahit dipakai sebagai cikal-bakal yang menurunkan tokoh-tokoh lokal. Hal itu terjadi karena Raden Natahamijaya adalah seorang carik jaksa yang berasal dari Magetan sehingga teks induk diubah redaksinya. Demak. (19) Serat Baratayuda. 2. (4) Serat Menak I-III. (5) Centhini I-VII. (10) Bahusastra Jawa. (15) Serat Lokapala. (17) Serat Pepali. bahasa yang dipakai dalam Tedhakan Serat Babad Banyumas (TSBB) lebih halus daripada teks induk. Februari 2006 Perbandingan kedua teks tersebut menjelaskan bahwa jumlah pupuh. TSBB merupakan naskah tunggal. Dengan demikian. 3. 1995b:63-67 & 1995c:489). Namun. kecuali versi Adimulya. seperti Kaduhu.

Perbandingan teks Mertadiredjan selanjutnya disajikan pada tabel 1 di bawah ini. 18. 14) dan Babad Wirasaba (SJ. 13. 7.Priyadi. Hanya variasi penggunaan kata yang berbeda. .. kelima naskah Mertadiredjan berisi 23 pupuh dengan jumlah bait yang sama. Gambuh. 1997:796 & 874-875). dll. 4 5. 2. Singkatan Asm. 10. Universitas Indonesia. TSBB I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 BBM I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 EFEO/KBN 84 I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 SJ. 6. Babad Banyumas dan Versi-versinya 79 Banyumas (versi Dipayudan). 20. 23. juga ditemukan buku harian Pangeran Aria Gandasoebrata yang ditulis lebih dari 30 tahun secara kontinu dalam bahasa Belanda dan puluhan naskah cetakan Jawa.14 FS UI I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 BABAD WIRASABA I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 Keterangan: Angka Romawi menunjukkan nomor pupuh. Di samping itu. Tabel 1. 22. 21. dan (21) Wulang Rupi-rupi. Gam. 1999:211-212) dan dua naskah koleksi Perpustakaan Fakultas Sastra. Perbandingan Teks Mertadiredjan NO 1. 17. sedangkan angka Arab menunjukkan jumlah bait. 15. adalah nama pupuh Asmarandana. Pada dasarnya. Selain naskah lokal. 12. 11. 3. 176) (Behrend & Pudjiastuti. 16. 14. yaitu Babad Banyumas (SJ. 19. naskah Mertadiredjan juga ditemukan pada koleksi EFEO Bandung dengan judul Babad Banyumas (Ekadjati & Darsa. 8. 9.

SPRJ seluruhnya memuat 20 pupuh. XVII Puc 5 ----XVII Puc 48 XVIII Dha 25 XIX Sin 6 XX Dha 11 Keterangan: Angka Romawi menunjukkan nomor pupuh. Naskah koleksi Perpustakaan Proyek Javanologi Yogyakarta ini ditulis oleh KRT Jayawinata. Singkatan Asm. Hal itu tampak pada teks Sejarah Para Ratu Jawi wiwit Panji Laleyan (SPRJ). Gam.. Februari 2006 Versi Jayawinata Kiranya. . XIV Dur 1 XIV Dur 2 XIV Dur 8. VII Dur 2 VII Dur 10. dll. Gambuh.80 BAHASA DAN SENI. Nomor 1. Tabel 2. sedangkan angka Arab menunjukkan jumlah bait. Perbandingan ketiga teks tampak pada tabel 2 di bawah ini. Tahun 34. teks versi Mertadiredjan mendapat tanggapan berupa transformasi. XVI Mas 6 XVI Mas 2. Perbandingan SPRJ dengan TSBB dan BBM TSBB dan BBM I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 ----SPRJ -I Dha 6 II Asm 11 III Puc 38 IV Kin 35 V Dur 12 VI Asm18. XV Dha 3. VIII Asm 8 IX Puc 3 IX Puc 19 IX Puc 6 X Asm 13 XI Kin 18 XII Sin 12 XII Sin 2 XIII Dha 9. SPRJ merupakan ringkasan teks Babad Banyumas Mertadiredja (BBM) dan Tedhakan Serat Babad Banyumas yang diciptakan kembali dalam bentuk tembang yang lain. adalah nama pupuh Asmarandana.

Dengan demikian. dan SBD (Priyadi. Bupati Gedong Tengen Surakarta (66-67). Terjadinya Daerah Banyumas . raja-raja Majapahit (128-129). Silsilah Banyumas Kebumen Banjarnegara (124-127). wijosanipun Kangdjeng Nabi (43). Silsilah tersebut dikenal sebagai sejarah pangiwa yang diteruskan dengan silsilah dinasti Banyumas (hlm. Silsilah Banyak Wide Banjarnegara (58-60). naskah Adimulya selain mengandung teks transformasi dari TSBB dan BBM. keturunan Dipayuda Seda Jenar (6066). dan toeroen Mertananggan (132-133). Soedjarah Pasir Batang (52-57). yaitu pepali para sepuh ing zaman kina (hlm. Versi Adimulya TSBB dan BBM juga ditransformasikan dari teks tembang menjadi teks gancaran. Versi ini berbeda dengan versi transformasi teks Mertadiredjan. Sarasilah Keboemen (96-100). Soedjarah saking Keboemen (101-105). Pengetan saking temboeng Walandi (130-131). meskipun memakai teks induk yang sama. Babad Banyumasan (karya Ki S.Priyadi. koleksi Sugeng Priyadi). bahkan satu pupuh TSBB dan BBM ditulis kembali menjadi dua atau tiga pupuh SPRJ. bab Sekaten (45-47). Soedjarah ing Poerbolinggo (87-95). Naskah Adimulya juga memuat teks lain. yakni versi tembang dan gancaran (versi Adimulya). ada dua versi transformasi teks TSBB dan BBM. Soedjarah Banjoemas Tjakranagaran (69-86). Sedjarah Banjoemas wiwit saking Madjapahit (Praboe Brawidjaja II) asaling serat saking Mas Soemaredja ing Banjoemas (27-37). Babad Banyumas dan Versi-versinya 81 Teks SPRJ banyak mengalami perubahan bentuk tembang pada pupuhpupuhnya. Djaka Sangkrib (43-45). Poetra Kangdjeng Pangeran Mertadiredja (49-51). Fenomena ini juga terjadi pada teks Babad Pasir dalam versi Dipayudan. 1-2). Naskah Adimulya yang ditemukan di Banjarnegara (133 halaman) berisi silsilah yang sama dengan TSBB dan BBM. Agaknya. Jadi. juga teks-teks lain yang terkait. SSB. Ingkang Sinoewoen Kangdjeng Soenan ing Soerakarta (106-107). Riwayat Pekerjaan Pangeran Mertadiredja (122-123). teks BWK.7-25). Versi Transformasi Teks Mertadiredjan Versi ini meliputi Babad Nagari Banyumas wiwit saking Pandita Putra ing Pajajaran (karya Rejosudiro. Babading Tanah Djawi (108-122). silsilah Prabu Banjaransari sampai Prabu Jaka Sesuruh (3-6). koleksi Soedarmadji). 1996:257-267). Wigno. silsilah keluarga Bratadiningrat (37-43).

yaitu Wirontomo I. baik yang berasal dari Wirasaba maupun Banjarnegara. Penanggalan itu tidak bertentangan dengan tipe huruf Babad Banyumas Kalibening yang juga berasal dari abad ke-17 Masehi. Dikisahkan raja Pajajaran mempunyai empat orang anak. koleksi Soedarmadji). Teks tadi menjelaskan bahwa Raden Baribin adalah adik Prabu Brawijaya Kretabhumi.82 BAHASA DAN SENI. dan Adipati Urang (Wirontomo III). dan Babad Banyumas (karya Soemarno. Pada halaman 173-176 berisi ringkasan teks Babad Banyumas (Ayatrohaedi & Atja. di Mingguan Jayabaya). Teks tersebut lebih dekat dengan versi Dipayudan atau versi Banjarnegara. Raden Baribin menempuh perjalanannya dari ibu kota ke Pajajaran melalui Kaleng dan Ngayah. Wigno). . Katuhu (Wirontomo II).. 1991:109-110). putra mahkota. Baribin pergi dari ibu kota Majapahit karena serbuan Raden Patah. 1999b:63 & 1999c:229). yaitu Banyak Catra (Raden Kamandaka) yang menjadi bupati Pasirluhur. Raden Banyak Ngampar menjadi bupati di Dayeuhluhur. Ibu Raden Baribin disebut sebagai cucu bupati Wirasaba yang kawin dengan raja Majapahit. Tahun 34. Versi PRBN Teks Babad Banyumas juga terkandung dalam naskah Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4. Raden Baribin dikawinkan dengan Nay Retna Ayu Kirana. Babad Nagari Banjumas wiwit saking Pandito Putro hing Pedjadjaran (stensil Budi. Februari 2006 (karya terjemahan Roeslan Doyowarsito dari karya Ki S. Whd. dan Nay Retna Ayu Kirana. Babad Banyumas (karya Amen Budiman di Harian Suara Merdeka). Ada tiga bupati Wirasaba yang memerintah secara berurutan. yakni Katuhu yang lahir pada tahun Saka 1403 (1481 Masehi). Raden Katuhu menjadi bupati Wirasaba kedua dengan gelar Raden Adipati Wirontomo II. Raden Baribin mempunyai anak lelaki. Nomor 1. Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4 ini memakai bahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun Saka 1602. Keberadaan teks Babad Banyumas tersebut menunjukkan bahwa Babad Banyumas telah dikenal pada perempat terakhir abad ke-17 Masehi. Babad Nagari Banyumas wiwit saking Pandhita Putra ing Pajajaran (salinan Sugeng Priyadi). Ada kemungkinan bahwa teks tersebut menjadi cikal-bakal teks Babad Banyumas versi Banjarnegara (Priyadi. atau 1680 Masehi. Raden Baribin disebut juga Pandita Putra.

Namun. dan masuk ke Banyumas dengan judul yang berbeda dengan teks aslinya.Priyadi. tetapi berasal dari tradisi lisan. tradisi Babad Pasir yang hidup di . Sejarah Wirasaba adalah naskah koleksi Mad Marta. Tebal naskah 90 halaman. 1992:115). lihat Sutaarga. dan XXII Asmarandana (9 bait). dan Haturwangi (Atja & Saleh Danasasmita. Penelitian Priyadi (1996) memperlihatkan bahwa teks Babad Pasir tersebut bukan berasal dari teks yang telah dipublikasikan oleh Knebel (1900: 1-155). Siliwangi. penduduk desa Wirasaba. Meskipun naskahnya muda. Hal itu terbukti dengan adanya tiga orang tokoh Siliwangi dalam teks-teks Banyumas (Priyadi. Pada pupuh I terdapat sengkalan yang menunjukkan tahun Jawa 1787 atau 1858 Masehi. 1984). koleksi Sugeng Priyadi). tetapi kandungan teksnya lebih tua bila dibandingkan dengan keempat teks tersebut. Teks lisan yang berbentuk prosa digubah dalam empat pupuh tembang macapat. Purbalingga. 1993. Halaman 1-85 berisi 14 pupuh tembang macapat dan halaman 86-90 berisi silsilah Adipati Wira Utama (Katuhu) sampai Tumenggung Yudanegara (Gandakusuma). yaitu XIX Asmarandana (31 bait). Proses penyalinan dari Wirasaba ke Banjarnegara. Kecamatan Bukateja. XX Sinom (12 bait). XXI Dandanggula (23 bait). Punika Surat Sujarah ingkang Nuruna ing Toyamas (9 Oktober 1891). Naskah yang sampai kepada kita adalah salinan Mulyareja yang diselesaikan pada tanggal 24 Agustus 1956. Babad Banyumas dan Versi-versinya 83 Versi Dipayudan atau Versi Banjarnegara Versi yang berbentuk tembang ini meliputi teks Babad Wirasaba Kejawar (koleksi Soedarmadji). Pensiunan Patih Demak. Dalam teks Babad Wirasaba Kejawar dan Serat Sedjarah Banjoemas ditemukan adanya sisipan teks Babad Pasir. Serat Sedjarah Banjoemas (salinan Sariban. Serat Sujarah Banyumas (15 Januari 1921). Teks lisan tersebut mungkin berasal dari pengaruh penulisan babad di Jawa Barat (Priyadi. Teks Babad Wirasaba Kejawar (9 Mei 1879). 1981: 14). selain Langgalarang. koleksi Soedarmadji). Punika Surat Sujarah ingkang Nuruna ing Toyamas (naskah kepatihan Banyumas. koleksi Soedarmadji). Pengaruh Sunda agaknya sangat kuat. Banyak Catra di dalam masyarakat Sunda Kuna dikenal sebagai salah satu naskah pantun. Serat Sujarah Banyumas (salinan Raden Gatot. dan Surat Sujarah Banyumas (salinan Sugeng Priyadi dari karya salinan Raden Gatot). dan Serat Sedjarah Banjoemas (23 Nopember 1946) ditulis berdasarkan Sejarah Wirasaba di Banyumas oleh keturunan bupati Banjarnegara Dipayuda IV.

Perbandingan teks-teks versi Dipayudan atau versi Banjarnegara dengan SW pada tabel 3 sebagai berikut: .84 BAHASA DAN SENI. Danukrama adalah pensiunan Mantri Polisi di Banyumas tahun 1845. dan jumlah bait yang sama. Priyadi. Pasir Kulon.5 cm). SSBS menampilkan silsilah Brawijaya sampai Mertadiredja II. SSBS dan SSBa memiliki jumlah pupuh. Pasir Kidul. Naskah yang menjembatani antara BWK. SBD berasal dari tahun 1845 ditemukan pada koleksi naskah Pangeran Aria Mertadiredja III dan Pangeran Aria Gandasoebrata sehingga mengurangi daftar naskah missing-link. Serat Sujarah Banyumas milik Raden Ayu Sudirman Gandasubrata (selanjutnya disingkat SSBS) seluruhnya ada 131 halaman (21. naskah disimpan oleh Brigjen Polisi Purnawirawan Raden Mustafa Gandasubrata. Naskah SSBS berisi teks yang sama dengan Serat Sujarah Banyumas (SSBa). Penemuan SSBS merupakan sumbangan yang penting bagi sejarah teks. Hal serupa juga terjadi pada kasus SBD. dan Pasir Wetan yang mendapat pengaruh Sunda itu tidak tersentuh oleh penggubah Babad Wirasaba Kejawar dan Serat Sedjarah Banjoemas. Namun. Ada dua naskah versi Dipayudan yang baru ditemukan. khususnya versi Dipayudan. sedangkan Sujarah Banyumas Danukrama (SBD) berisi 25 pupuh. Februari 2006 Taman Sari. Silsilah tersebut tidak dijumpai dalam SSBa. Nomor 1. Raden Gatot menyatakan bahwa ia menyalin langsung dari SSBS. Kedua naskah memuat teks yang sama (30 pupuh). bahkan silsilah keluarga Kolopaking juga termuat. Tahun 34. SSBS termasuk salah satu naskah missing-link (bdk. SSBa merupakan karya salinan Raden Gatot (Pensiunan Patih Demak di Purwokerto) tanggal 22 Juni 1970. Naskah tersebut merupakan salinan yang dilakukan oleh pensiunan Patih Purbalingga. Januari 1921.5 cm). milik Raden Ayu Sudirman Gandasubrata). Pasir Lor. Ngabehi Rangga Bratadimedja (ayah Raden Ayu Sudirman) di kampung Pasanggrahan. yaitu Sujarah Banyumas (milik Danukrama) dan Serat Sujarah Banyumas (salinan Raden Ngabehi Rangga Bratadimedja Pensiunan Patih Purbalingga. SSB. Selama ini SSBS belum ditemukan sehingga kandungan teks SSBa tidak dapat diketahui tradisinya. 1997a). dan SBD dengan SSBS dan SSBa masih perlu dilacak. Sepeninggal Raden Ayu Sudirman. Sujarah Banyumas seluruhnya berisi 120 halaman (33 X 21. Ada dugaan naskah ini lebih tua dibandingkan Babad Wirasaba Kejawar (BWK) dan Serat Sedjarah Banjoemas (SSB). nama pupuh.5 X 15.

Babad Banyumas dan Versi-versinya 85 Tabel 3. 462. yang berjudul Wirasaba History dengan kode Lor. Perbandingan teks-teks versi Banjarnegara dengan SW Pupuh I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX XX XXI XXII XXIII XXIV XXV XXVI XXVII XXVIII XXIX XXX BWK Asm 17 Meg 11 Dha 24 Dur 31 Sin 25 Kin 37 Dha 58 Sin 13 Gam 30 Mij 22 Pan 30 Meg 26 Asm 38 Dha 16 Asm 39 Sin 20 Mas 29 Dha 28 Asm 31 Sin 12 Dha 23 Asm 9 Dha 24 Dur 29 Asm 32 Sin 20 Mij 37 Puc 25 Kin 21 Pan 18 SSB Asm 17 Meg 11 Dha 24 Dur 31 Sin 25 Kin 37 Dha 58 Sin 13 Gam 30 Mij 22 Pan 30 Meg 33 Asm 29 Dha 16 Asm 39 Sin 21 Mas 29 Dha 28 Asm 31 Sin 12 Dha 23 Asm 9 Dha 25 Dur 29 Asm 32 Sin 20 Mij 37 Puc 25 Kin 21 Pan 17 SBD Asm 26 -Dha 25 Dur 31 Sin 24 Kin 38 Dha 57 Sin 37 -Mij 23 Pan 30 Meg 37 Asm 38 Dha 13 Asm 38 Sin 21 Mas 34 Dha 28 Asm 15 ---Dha 24 Dur 28 Asm 32 Sin 20 Mij 37 Puc 25 Kin 20 Pan 18 SSBa Asm 17 Meg 11 Dha 24 Dur 31 Sin 25 Kin 37 Dha 57 Sin 13 Gam 30 Mij 20 Pan 30 Meg 34 Asm 38 Dha 16 Asm 24 ---------------SSBS Asm 17 Meg 11 Dha 24 Dur 31 Sin 25 Kin 37 Dha 57 Sin 13 Gam 30 Mij 20 Pan 30 Meg 34 Asm 39 Dha 16 Asm 24 ---------------SW Asm 12 --Dur 31 Sin 26 Kin 32 Dha 68 Sin 34 -Mij 22 Pan 30 Meg 35 Asm 35 Dha 8 Asm 35 Sin 19 Mas 9 -------------PSSNT Asm 20 Meg 16 Dha 29 ---------------------------- Keterangan: Angka Romawi menunjukkan nomor pupuh. Di Universitas Leiden. Gambuh. 6427. dan 7469 (Pigeaud. dll. adalah nama pupuh Asmarandana. 7718. Singkatan Asm. 1967:147. ada beberapa naskah yang diduga termasuk versi Banjarnegara..Priyadi. Gam. dan 439). lihat 1968:374. . sedangkan angka Arab menunjukkan jumlah bait.

(4) Nitik babad saha tjengkorongan Sedjarah Tanah Djawi. (3) Babad Tanah Djawi. Karya Kasman tidak mencantumkan peristiwa-peristiwa periode 1830-1845. Pada tahun 1845.D. Naskah pertama dapat diidentifikasikan sebagai Babad Wirasaba Kejawar (BWK). Naskah tersebut ditulis di Purwokerto. 27 Djumadilawal. tahun 1845 Patih Wirjaatmadja belum menulis naskahnya karena pada tanggal 25 Oktober 1898. Teks yang terdapat pada halaman 158-200 sangat dekat dengan teks Babad Banjoemas karya Wirjaatmadja yang diterbitkan oleh Electrische Drukkerij TAN Poerbolinggo pada halaman 19-38. serta Sejarah Indonesia. Maka dari itu. Tahun 1845 adalah tahun penulisan Sujarah Banyumas Danukrama (SBD). 9 Mei 1879. Namun. Naskah yang ditulis Wirjaatmadja memuat peristiwa sampai tahun 1845. Tahun 34. kaserat ing Bandjarnegara. kaserat ing Banjumas tg. ada peristiwa pembuatan jalan raya dari Buntu sampai Gombong. Namun. Jadi. tetapi naskah itu tidak sampai kepada kita sehingga naskah itu tergolong missing-link. Wirjaatmadja baru .86 BAHASA DAN SENI. Be 1808 utawi tg. yaitu Babad Wirasaba lan Sedjarah Banjumas (BWSB) yang tidak termasuk versi Wirjaatmadjan. Namun. 25 April 1959. Nomor 1. (2) Buku Babad Banjumas gantjaran (prosa). tetapi tergolong teks transformasi dari versi Dipayudan. Halaman 1-158 berisi teks BWK. Sayang sekali. bukan gancaran. Babad Tanah Djawi. Agustus 1845. Kasman membuat kesalahan dengan menulis tanggal 27 Jumadilawal Be 1808. tetapi Kasman tidak menuturkannya. Menilik tempat dan waktu penulisan agaknya naskah tersebut termasuk versi transformasi dari versi Dipayudan. teks BWSB dapat dikatakan sebagai hasil transformasi dari BWK. yaitu dari tembang ke gancaran. (5) Sedjarah Indonesia. bisa diduga bahwa naskah yang ditulis tahun 1845 dijadikan bahan acuan oleh Wirjaatmadja. Hal itu dapat dilihat dari tanggal 9 Mei 1879. yakni Babad Banjumas (prosa) belum dapat diidentifikasikan.P. karya-karya babad dan sejarah Jawa. sedangkan 159-200 berisi teks kontaminasi Babad Banjumas (prosa). djilid I. Kasman Soerawidjaja menyebut beberapa naskah yang dipakai sebagai bahan penyusunan BWSB: (1) Buku Babad Banjumas mawi sekar (puisi). Februari 2006 Versi Kasman Soerawidjaja Ada satu naskah. atau dengan kata lain babad damelan Banjar. seharusnya tanggal 17 Jumadilawal. naskah kedua. beliau baru mendapat perintah dari Asisten Residen Purwokerto W. BWSB adalah karya transformasi Kasman Soerawidjaja. Pada tahun 1845. SBD adalah teks tembang. de Wolff van Westerrode.

Babad Banyumas dan Versi-versinya 87 berumur 14 tahun karena ia lahir pada tahun 1831. yaitu periode 1845-1898. versi Dipayudan telah melahirkan empat versi. Babad Banjumas wiwit Djaman Kraton Madjapahit (koleksi Soedarmadji). Wirjaatmadja sendiri mengakui bahwa peristiwa-peristiwa pada periode kolonial merupakan tradisi lisan. yaitu Babad Banyumas (SJ. 16) (Behrend & Titik Pudjiastuti. 1997:796-797). Siswasarjana. 15) dan Babad Banyumas (SJ. Karya Kasman merupakan versi baru.C. yaitu versi transformasi dari versi Dipayudan. Kedua teks acuan Wirjaatmadja belum ditemukan naskahnya (Priyadi. tetapi ia tidak menceritakan peristiwa sezaman. Versi Wirjaatmadjan Versi Dipayudan melahirkan versi Wirjaatmadjan. serta versi Oemarmadi-Koesnadi. sebaliknya Wirjaatmadja bekerja berdasarkan naskah tahun 1845 dan Serat Sujarah Banyumas (ditulis periode 18791898). Kelima versi tersebut di atas merupakan babad damelan Banjar yang masuk ke Banyumas. Di Perpustakaan Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia tersimpan dua naskah. Uittreksel uit de Babad Banjumas (karya Patih Banyumas Poerwasoepradja. Barangkali Kasman belum selesai menyalin naskah berangka tahun 1845 itu. sedangkan naskah kedua menyebut Salsaman sebagai penyuntingnya. PB. Babad Banjoemas (terbitan Electrische Drukkerij TAN Poerbolinggo). dan Riwayat Banyumas (terjemahan Adisarwono dari terbitan Poerbolinggo).Priyadi. Naskah pertama terdapat identitas penyalinnya. Wirjaatmadja menulis naskah pada usia 67 tahun. versi Kasman Soerawidjaja. Kiranya kelima versi tadi sangat populer dan dikenal secara luas di Banyumas karena jumlah naskahnya secara keseluruhan ada 24 buah. 1997b:24). Oleh karena itu. Jika pengakuan Wirjaatmadja ini benar. yakni versi Wirjaatmadjan. tetapi tidak masuk versi Wirjaatmadjan. Babad Banyumas (salinan Raden Soemitro). yaitu kisah-kisah yang berasal dari orangorang tua. cetakan Drukkerij Providence Poerwokerto). maka naskah 1845 memang tidak memuat peristiwa periode 1830-1845. Naskah kedua . versi Panenggak Widodo-Nakim. sudah sewajarnya Kasman tidak mencantumkan dalam karyanya (BWSB). dan Babad Banyumas wiwit Majapahit (koleksi Museum Sana Budaya Yogyakarta. Dengan demikian. 112). Versi yang berbentuk gancaran ini terdiri dari Babad Banyumas wiwit Kraton Majapahit (koleksi Soedarmadji).

Halaman 39 tersebut merupakan batas antara karya Patih Purwokerto. yaitu Babad Banjumas (salinan Adimulya) dan Babad Banjumas (salinan Mustafa Gandasubrata). Resi Satwa menyajikan teksnya dalam bahasa Jawa. sedangkan Oemarmadi dan Koesnadi menggunakan bahasa Indonesia. Pada penelitian terdahulu. Pada tahun 1980. Patih Poerwasoepradja melanjutkan karya Wirjaatmadja.88 BAHASA DAN SENI. yaitu karya Oemarmadi dan M. karya Oemarmadi dan Koesnadi adalah cabang dari versi Wirjaatmadjan. W. Tahun 34. Februari 2006 agaknya sama dengan naskah koleksi Sono Budoyo (PB. karya Oemarmadi dan Koesnadi kembali dipublikasikan melalui Parikesit yang ditulis atau disalin oleh Ki Tirtakencana. Namun. Versi Oemarmadi dan Koesnadi Babad Banyumas Wirjaatmadjan sebagai karya babad baku juga melahirkan karya transformasi yang lain. Ada dugaan bahwa catatan leluhur itu adalah karya Patih Purwokerto. Di situ. Kiranya. Yang pertama sampai pada halaman 65. Agaknya. ada dua naskah yang baru ditemukan. Seperti halnya Resi Satwa. naskah yang dicetak pada tahun 1964 tidak terjangkau oleh segala lapisan masyarakat yang membutuhkannya. 112) (bdk. Babad Banjumas karya kedua penulis tersebut menyatakan pada kata pengantarnya bahwa karya itu ditulis berdasarkan catatan-catatan leluhur tertanggal 25 Oktober 1898. Poerwasoepradja (Priyadi. Kedua naskah disalin berdasarkan Babad Banjoemas Wirjaatmadjan yang diterbitkan oleh Electrische Drukkerij TAN Poerbolinggo (lihat Uhlenbeck. Wirjaatmadja dengan karya Patih Banyumas. karya tersebut adalah versi yang cukup populer di kalangan masyarakat Banyumas dan disebarluaskan dengan stencil sheet. 1964: 130). Nomor 1. kedua salinan tersebut belum selesai.P. 1997b). 1999:172).C. Oemarmadi dan Koesnadi Poerbosewojo memberi tambahan cerita-cerita dongeng atau legenda yang terkait dengan sejarah Banyumas.D. Ekadjati. Tanggal tersebut merupakan tanggal perintah Asisten Residen Purwokerto. Di situ. Di sini. Ki Tirtakencana juga me- . Hal itupun masih dianggap kurang sehingga Babad Banjumas Oemarmadi dan Koesnadi diciptakan kembali oleh Resi Satwa dan disebarluaskan melalui majalah bulanan Rahayu yang diterbitkan oleh Humas Puspenmas Kabupaten Dati II Banyumas pada tahun 1976. sedangkan yang kedua sampai halaman 39. de Wolff van Westerrode kepada Patih Aria Wirjaatmadja. Koesnadi Poerbosewojo.

Babad Banyumas dan Versi-versinya 89 makai bahasa Jawa. Oleh karena itu. A. Kartosoedirdjo (1941) juga menulis Babad Purbalingga yang menjadi koleksi Museum Sana Budaya. makam Kyai Wilah. Di samping itu. Karya Ki Panenggak Widodo dan Nakim merupakan cabang dari versi Wirjaatmadjan. suratkabar mingguan Parikesit memuat Babad Banyumas karya Ki Any Asmara secara bersambung seperti karya Resi Satwa dan Ki Tirtakencana. Teks ini adalah terjemahan dari bahasa Indonesia (karya Oemarmadi & Koesnadi) ke dalam bahasa Jawa. Teks hanya berisi kisah dibukanya kota Banyumas hingga Yudanegara IV. Teks versi Wirjaatmadjan selalu mendapat sambutan pembaca secara terus-menerus. Ki Tirtakencana. karya Any Asmara mirip dengan karya Tirtakencana. Banyumas dibagi dua. Any Asmara mengakui bahwa bahan untuk menulis Babad Banyumas adalah karya Tirtakencana. Versi Panenggak Widodo-Nakim Versi ini terdiri dari Babad Banyumas dan Sorosilah Keluarga Tinggarjaya Banyumas (karya Ki Panenggak Widodo) dan Babad Banyumas (karya Nakim). dan makam Girilangen (Susukan. Banyumas).A. Hal itu terjadi karena teks-teks Wirjaatmadjan dianggap sebagai buku sejarah Banyumas oleh masyarakat umum. bahkan ditulis dalam huruf Jawa. Dongeng dan legenda Banyumasan oleh Ki Tirtakencana ditempatkan pada bagian belakang. 271). Suatu gejala teks yang sangat menarik. Kartosoedirdjo (1967) yang berjudul Diktat Riwajat Purbalingga yang disebarkan dengan stencil sheet. yakni Adipati Onje. Embah Narasoma. Periode 1984-1985. Ketiganya mengalihbahasakan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa.M. Kedua karya tersebut telah berkembang menjadi versi transformasi versi Wirjaatmadjan. Ardi Lawet. tidak ada dongeng-dongeng lokal seperti yang terdapat pada teks induk. Ki Tirtakencana dan Ki Any Asmara menambahkan legenda-legenda yang ditemukan di daerah Purbalingga. makam Bantenan.Priyadi. Karya . di Banyumas juga ditemukan naskah Sejarah Kabupaten Banyumas karya Sanmardja (Tukang Uang desa Kalisube. dan Ki Any Asmara pada hakikatnya menyalin dari karya Oemarmadi dan Koesnadi. Perang Dipanegara. Yogyakarta (PB.M. Banjarnegara). atau babad baku oleh Patih Poerwasoepradja. Di sini. Resi Satwa. Legenda-legenda dari Purbalingga agaknya memakai karya A. dan tradisi lisan Kejawar.

khususnya babad damelan Banjar (teks-teks tembang) yang masuk ke Banyumas melalui kepatihan Banyumas. Sadjarah Padjadjaran Baboning Tjarios saking Adipati Wiradhentaha Boepati Priangan Djilid I (koleksi Soedarmadji). Sadjarah Padjadjaran Baboning Tjarios saking Adipati Wiradhentaha Boepati Priangan Manondjaja Djilid II (koleksi Soedarmadji). S.90 BAHASA DAN SENI. R. dan keluarga Kadanuredjan. Versi Danuredjan (Gancaran) Versi ini merupakan hasil transformasi teks dari versi Danuredjan (tembang). . dan Surakarta. bagian kedua yang berisi 13 silsilah dapat dibandingkan dengan teks-teks dari versi Danuredjan (gancaran). 1932:34). 25 Rabingulakhir Ehe 1812 atau 5 Maret 1883. 251 yang disusun oleh Raden Adipati Danuredja V. Februari 2006 Wirjaatmadja merupakan karya yang berfungsi sebagai panduan bagi pembaca awal untuk memasuki teks Babad Banyumas. Selanjutnya.N. Versi ini meliputi Tedhakan Serat Soedjarah Joedanagaran (koleksi Museum Sana Budaya.M. Yogyakarta.L.A. Teks Babat ing Banyumas dibagi menjadi dua. yakni 405 halaman bagian pertama berisi 59 pupuh tembang macapat dan 154 halaman bagian kedua berisi 13 silsilah dalam bentuk prosa. sedangkan pupuh XXXVIII-LIX berisi Babad Banyumas yang dilanjutkan Babad Kadanuredjan dan dihubungkan dengan keturunan yang ada di Banyumas. Versi Danuredjan (Tembang) Babat ing Banyumas adalah koleksi Museum Sana Budaya. Babad Wirasaba. koleksi Soedarmadji). Kangjeng Raden Adipati Danuredja V adalah Pepatih Dalem Kasultanan Yogyakarta ke-V (13 Pebruari 1847-17 Nopember 1879) dan setelah pensiun bergelar Kangjeng Pangeran Harya Juru (Pigeaud. Nomor 1. SB 69). Tahun 34. Pupuh I-XVII berisi keterangan hubungan antara sejarah Sri Harjakusuma dengan Majapahit. Inti Silsilah dan Sedjarah Banjumas (karya R. Babad Banyumas. Pupuh XXVI (bait 27-56)-XXXVII berisi hubungan teks Babad Banyumas dengan Sujarah Kadanuredjan Ngayogyakarta Hadiningrat. PB.O. Pupuh XVIIIXXVI (bait 1-26) berisi Babad Wirasaba dan Babad Banyumas. Naskah Krandji-Kedhoengwoeloeh (karya Wirjasendjaja. pada hari Senin Legi.

Naskah yang disusun oleh Raden Soekrisno di Semarang. XXIV. bahkan ada kesan seperti sejarah nasional. situs keramat Ciroyom Ajibarang. XXX. serta Persapa Adipati Warga hoetama I. Galuh Pasirluhur. Toemenggoeng Joedhanagara kaping 3). Naskah setebal 86 halaman (ukuran 21. silsilah Pajajaran. Ngatidjo Darmosuwondo). Pendrikan Lor Semarang. (2) Punika Sarasilah Toyamas. XXVIII. Teks tersebut berisi silsilah dari Brawijaya (Hayam Wuruk sampai Mas Ngabehi Kertadiredja). 29 Desember 1985 itu berisi teks yang beraneka ragam. dan keraton Pajang. Selanjutnya. dan Tjarijos Raden Toemenggoeng Joedhanagara kaping 3 Boepati Toja-djene. XXXI. XVIII (Kadipaten Wirasaba). Babad Banyumas dan Versi-versinya 91 Brotodiredjo dan R. XXVI. silsilah Pasirbatang.Priyadi. Keempat naskah tersebut berisi kumpulan teks silsilah yang mengacu kepada Tedhakan Serat Soedjarah Joedanagaran (TSSJ). asisten wedana Gandamanan. 128). Fenomena seperti ini juga tampak jelas pada karya Sejarah Cakrawedanan. koleksi Soedarmadji). Teks-teks lain yang tidak terkait dengan Banyumas tampak pada bab XXII. Sejarah Indonesia dari Kutei sampai Demak dipakai sebagai pengantar teks (hlm. yaitu bab I-XVII. Ada empat naskah baru. Adam Tengen (sejarah panengen). sejarah pangiwa sampai Mataram. Pengenget-enget. dan (4) Soedjarah ing Banjoemas.5 X 17 cm).5 cm) berisi teks silsilah Bani Asin (Tjarijos trah Baniasin dhateng Toja-djene. Naskah pertama yang memiliki judul yang cukup panjang itu ditulis pada kertas yang dikeluarkan oleh Cooperati Bondo Sepolo. naskah-naskah tersebut menambah silsilah yang terkait dengan Banyumas. . Tjarijos Bagoes Koenting ingkang pinoendhoet poetra Soenan Praboe ing Kartasoera. dan XXXII. naskah disalin kembali di Semarang yang diselesaikan oleh penyalinnya (anonim) pada tanggal 20 Mei 1932.5 X 16. Yogyakarta. tetapi teks tambahan itu tidak termuat dalam Tedhakan Serat Soedjarah Joedanagaran. Sastromihardjo. Naskah ketiga tebalnya 92 halaman dan ditambah 14 halaman lampiran yang berisi ringkasan teks Babad Pekalongan. (3) Silsilah Banyumas. Secara umum. yakni (1) Serat Babad utawi Sejarah ing Wirasaba Banyumas mendhet waton saking Serat Babad Karaton Jawi ing Mataram. XXV. Pada halaman 85 terdapat keterangan bahwa yang menyalin naskah adalah Raden Mas Mangkusubrata. 30-10-1930. Negeri Purwacarita. Naskah kedua seluruhnya ada 31 halaman (ukuran 21. keraton Pengging. dan Babadipun Dusun Perdikan Gumelem (karya P. silsilah Mas Sudaryat. Teks-teks yang relevan dengan versi Danuredjan gancaran terlihat jelas pada bab XVII (Raden Aria Baribin).

Teks pertama memuat kisah Raden Baribin sampai silsilah dinasti Banyumas (Kyai Mertanegara) (hlm. (4) Sejarah dan Silsilah Bupati Banyumas dan Keturunannya. Bagian XXIII berisi kisah Raden Tumenggung Secodiningrat sebagai salah seorang cucu Kangjeng Raden Adipati Danuredja I (lihat Werdoyo. lan Pasirluhur). dan ditambahkan silsilah dari keluarga tertentu sehingga mencirikan keluarga tersebut. kawiwitan saking putra wayah Raden Tumenggung Mertayuda I ing Banyumas). Soedjarah ing Soemenep. Di sini. XX (silsilah Kadipaten Pasirluhur lan Wirasaba). ada keterangan agar pembaca mengecek kembali teks Babad Banyumas karya Patih Wirjaatmadja. Tahun 34. Februari 2006 XIX (Para bupati tlatah Banyumas). Versi Keluarga Baru Ada fenomena yang menarik dalam perkembangan penulisan babad di Banyumas. (2) Silsilah lan Sedjarah Banjumas. serta (6) Sujarah saking Dhusun Makam. ada enam naskah yang memuat teks keluarga. Pajajaran. Hal itu tampak dalam sisipan teks Babad Pasir. dan Soedjarah ing Lemboe Peteng ing Taroeb doemoegi Ingkang Sinoewoen Praboe Mangkoerat ing Kartasoera. Di situ. Soedjarah ing Praboe Estri ing Padjang. Keterangan semacam itu disebut oleh teks BWK dan SSB (termasuk hasil transformasinya). Naskah tersebut disusun oleh Soerjo Winarso di Purwokerto. yakni (1) Serat Sarasilah. yaitu teks-teks Babad Banyumas ditransformasikan. Naskah berisi sembilan teks. Banyak Catra nikah dengan Dewi Raras (BWK dan SSB:Ardiraras) dan Raden Tambangan kawin dengan Dewi Lungge.92 BAHASA DAN SENI. XXIII (Raden Tumenggung Secodiningrat). Pada halaman 3. Naskah keempat merupakan naskah cetakan De Boer. Soedjarah ing Karanglo. Serat Sarasilah seluruhnnya ada 36 halaman (ukuran 21 X 11. Agaknya teks BWK dan SSB juga menjadi acuan. Soedjarah ing Madoera. Purwokerto yang berjudul Serat Soedjarah deel I. Naskah tersebut merupakan salinan yang ketiga yang dilakukan oleh . sedangkan silsilahnya mengacu kepada teks TSSJ. Nomor 1. Soedjarah ing Medijoen. 1990). 1-22).5 cm). (5) Sarasilah Turun Banjar Gripit Badakarya (naskah Penatus Bawang). (3) Sadjarah Banjoemas Tedhak Wirasaba. Soedjarah ing Pati. disalin. dan XXIX (tedhak turun saking Kadipaten Wirasaba. yaitu Soedjarah ing Banjoemas. XXVII (silsilah Galuh/Pakuan. Soedjarah ing Djoeroe Mertanen. XXI (Adipati Danurejo I dumugi Danurejo VII).

(4) petikan Babad Pasir. Selanjutnya. Naskah induk merupakan milik Raden Prawiradiwirya di Banjarnegara. hanya penambahan anak-anak dari kedua tokoh sentral di Banjarnegara. dan Raden Tumenggung Dipayuda Banjarnegara. tanggal 10 April 1935. keluarga Dipadiwiryan Banjarnegara (hlm. Yang menyusun naskah tersebut adalah Raden Soedana Tjakra Gandasoebrata. Serat Sarasilah milik Raden Mas Prawironoto adalah teks keluarga Dipadiwiryan. Kenduruan Roma. dan (8) Kyai Arsantaka (hlm. 1-22). (6) Sedjarah Ambal dan Kolopaking. maka pada penyalinan yang kedua ditambah silsilah keturunan Patih Raden Dipadiwirya sampai generasi keempat (buyut). naskah disalin dengan penambahan silsilah keturunan Raden Adipati Dipayuda (bupati Banjarnegara pertama) dan Patih Raden Dipadiwirya. Mulai halaman 22 disajikan silsilah tambahan yang terkait dengan Banyumas. khususnya kisah-kisah leluhur tadi yang berbentuk tradisi lisan. distrik Gombong. Naskah setebal 50 halaman kuarto itu memakai padanan silsilah dari Pajajaran (Prabu . Naskah ini berisi teks silsilah dari Raden Baribin sampai keturunan Yudanegara II. Penyalinan ketiga juga ada penambahan berupa kisah-kisah leluhur. Sedjarah Banjoemas Tedhak Wirasaba merupakan naskah koleksi Kasman Soerawidjaja di Purwokerto. seperti Raden Baribin. (5) Perang Jenar. Silsilah tersebut berkembang menjadi silsilah keluarga Dipayudan Banjarnegara dan Cakrawedanan (Kasepuhan Banyumas). Sejarah dan Silsilah Bupati Banyumas dan Keturunannya adalah naskah yang berisi teks keluarga besar Gandasubratan. Pada tanggal 6 Agustus 1916. pada tahun 1925 naskah disalin kembali dan teksnya berkembang.Priyadi. Penambahan tersebut disesuaikan dengan kondisi zamannya. Sebelumnya. 2252). Naskah ditulis pada bulan April 1957 di Purwokerto. Naskah tersebut tebalnya 22 halaman kuarto. Perlu diketahui bahwa Serat Sarasilah ini mendapat tambahan teks dari Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Raden Tumenggung Yudanegara I. (7) keris Jaka Kaiman. Banyumas (Kanoman). (2) Silsilah Danuredja I-VII. Silsilah yang terakhir ini menjadi padanan menuju keluarga-keluarga bupati di Cilacap. yaitu (1) Silsilah Pekalongan. serta Mertadiredjan di Purwokerto. Babad Banyumas dan Versi-versinya 93 Atmodihardjo di desa Wero. Silsilah dimulai dari Brawijaya Majapahit yang diteruskan silsilah Wirasaba dan Banyumas. Dipayudan Banjarnegara. (3) Silsilah Raden Baribin sampai Warga Utama II. Silsilah lan Sedjarah Banjumas merupakan karya Raden Adiman Wirjokoesoemo (kepala inspeksi Sekolah Rakyat di Purwokerto).

Versi Sejarah Wirasaba Sejarah Wirasaba diduga memiliki mata rantai dengan tradisi teks yang lebih muda. 2-8 Pebruari 1972. yakni Babat Banyumas BR. Di sini. yakni Sujarah saking Dhusun Makam. Naskah desa Makam ini merupakan karya salinan Ngisroen Mangoenwidjaja di Gunung Batu. agaknya ada naskah yang berisi teks yang dekat dengan naskah Penatus Bawang. Nomor 1. Naskah tebalnya 56 halaman (ukuran 25 X 16 cm). Salinan Ngisroen menjadi koleksi Soepirman Martadiwirja (mantan Patih Banjarnegara di Purwokerto). Lalu. bupati Banyumas memakai gelar Pangeran Aria Gandasoebrata. Keluarga Gandasubratan merupakan bagian dari keluarga Bratadiningratan (Mertadiredjan). Teks Babad Banyumas yang dibicarakan di atas berfungsi untuk melegitimasikan pendiri Banyumas beserta seluruh keturunannya (Priyadi 1999a: 30-39). Nama bupati yang terakhir ini dipakai sebagai nama keluarga yang baru oleh keturunannya. silsilah dikembangkan sampai Yudanegara V. tetapi yang terkait dengan teks Babad Banyumas adalah Sudjarah tijang Wirasaba asal saking Negari Madjapait dhumugi Ki Nurngali di Kedung Uter. Bogor. Silsilah keluarga Gandasubratan berisi silsilah lima generasi dari Pangeran Aria Gandasoebrata sampai canggahnya. Naskah Ngisroen diketik pada kertas berukuran folio (40 halaman). 58 dan Tedhakan Serat Babad Banyumas (koleksi Perpustakaan Nasional) (Behrend.94 BAHASA DAN SENI. bupati Purwokerto. Tahun 34. Sarasilah Turun Banjar Gripit Badakarya adalah naskah Penatus Bawang (Banjarnegara). dan bupati Purwokerto (lalu pindah Banyumas). Pemecatan Yudanegara V sebagai bupati Banyumas memunculkan trah Bratadiningratan. Tradisi teks Sejarah Wirasaba selama ini dikenal sebagai tradisi yang melahirkan teks-teks babad versi Ban- . Sesudah Mertadiredja III. ada tiga tokoh yang memakai nama Mertadiredja sebagai bupati Banyumas Kanoman. Februari 2006 Silihwangi) dan Prabu Brawijaya III. sedangkan teks lainnya hanya sebagai pelengkap. Teks yang terkandung dalam kedua naskah koleksi Perpustakaan Nasional itu merupakan naskah yang pantas dicermati karena ia diduga sebagai naskah yang dihasilkan dari tradisi Sejarah Wirasaba. Penelitian Soedarmadji (1996:3) mengenai kedua naskah tersebut menyatakan bahwa naskah pertama hanya separo naskah kedua. 1998:60 & 223). Selain itu. Sujarah saking Dhusun Makam memuat 23 teks. Dua teks di atas mencerminkan adanya kecenderungan untuk mengangkat kekerabatan Banjar-Gripit-Badakarya.

G. 58 menampakkan diri sebagai tradisi babad yang terbuka karena terkontaminasi dari tradisi Sejarah Wirasaba dan versi Banjarnegara. Naskah ini berada pada satu bundel dengan naskah Babad Bandawasa (KBG. BtB ini ditulis pada kertas berukuran 21 X 16. juga orang yang mengerjakannya tidak mengenal tradisi teks Babad Banyumas pada umumnya.5 cm. 526 dan Kangjeng Pangeran Aria Mertadiredja III) merupakan teks yang menonjol karena memuat tradisi silsilah kiri atau sejarah pangiwa (bdk. Pada tahun 1996. Naskah koleksi Mad Marta ini ditulis pada kertas yang berukuran 16.5 X 21 cm. 598). Tebal naskah 90 halaman dengan perincian halaman 1-85 berisi tembang macapat. Naskah berhuruf dan berbahasa Jawa ini berisi teks yang berbentuk tembang macapat yang seluruhnya ada 15 pupuh. Tebal naskah meliputi 84 halaman dan setiap halaman terdiri dari 16 baris.B. 1999:211-212). Perpustakaan Nasional mentransliterasikan dan menerjemahkan keempat naskah tersebut. Kecamatan Bukateja. Hal itu menyebabkan hasil terjemahannya juga banyak penyimpangan yang tidak sesuai dengan teks aslinya. tetapi tulisannya masih terbaca. Babad Mataram (KBG. Sekilas bahwa teks Babat Banyumas BR. Pada bagian belakang ditemukan silsilah Banyumas dari Adipati Wira Utama (Raden Katuhu) hingga Raden Tumenggung Yudanegara (Raden Gandakusuma). bait 2 terdapat keterangan . Jadi. Selanjutnya. 58 adalah naskah koleksi Brandes yang tersimpan pada Perpustakaan Nasional RI dengan kode BR. 58. SW juga merupakan naskah berhuruf dan berbahasa Jawa. Babad Banyumas dan Versi-versinya 95 jarnegara dan Wirjaatmadjan. sedangkan teks Tedhakan Serat Babad Banyumas yang disebut sebagai teks Mertadiredjan (koleksi Perpustakaan Nasional Hds. Kemungkinan di samping banyak tulisannya yang rusak. Ekadjati dan Darsa.Priyadi. Kabupaten Purbalingga. dan Babad Surapati (BR. Hasil transliterasi Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa banyak sekali salah baca terhadap teksnya. 333). Naskah Babat Banyumas BR. naskah tersebut berasal dari situs sejarah pra-Banyumas sebagai cikal-bakal. Naskah ini berisi teks 14 pupuh tembang macapat. Naskah Sejarah Wirasaba merupakan koleksi pribadi atau perorangan yang tersimpan di desa Wirasaba. Sejarah Wirasaba adalah naskah yang selalu disalinsalin sehingga eksistensinya tampak sampai sekarang. 585). sedangkan halaman 86-90 berisi silsilah yang disebut di atas. teks Sejarah Wirasaba mendapat tanggapan pembaca dalam bentuk transformasi oleh penulis Babat Banyumas dan Tedhakan Serat Babad Banyumas. Naskah kertas BtB sudah lapuk. Pada pupuh I.

B. Pada halaman 90 terdapat keterangan yang menyatakan bahwa Mulyareja lahir pada hari Senin Kliwon 27 Desember 1894. maka Babat Banyumas tampaknya merupakan teks yang menjembatani antara tradisi lama (Wirasaba) dengan tradisi baru (teks Mertadiredjan Banyumas). Oleh Knebel. Pada halaman 10-11 ada keterangan hilangnya satu bait. Salinan diselesaikan pada tanggal 24 Agustus 1956. Judul itu diberikan oleh penyalinnya yang bernama Raden Natahamijaya. 526 (sekarang koleksi Perpustakaan Nasional RI). seharusnya nabi. Naskah setebal 83 halaman itu berisi 23 pupuh tembang macapat (halaman 1-78) dan tambahan atau sambetan (halaman 79-81) yang berbentuk prosa. Naskah Tedhakan Serat Babad Banyumas (selanjutnya disingkat TSBB) merupakan naskah koleksi Museum Nasional Jakarta dengan kode Jav. Naskah ditulis pada kertas berukuran 33 X 21. Agaknya kata sangi merupakan kesalahan baca dan salin. Penyalinnya ternyata bukan penduduk Wirasaba yang bernama Mulyareja. yaitu sengkalan yang berbunyi swara naga giri sangi. yaitu Punika Tedhakan Serat Babad Banyumas sambutan saking Raden Adipati Mertadiredja ing Banyumas. Hds. pada halaman 72 terdapat catatan tentang hilangnya beberapa halaman. Penyalinan naskah tersebut atas permintaan J. Naskah TSBB merupakan naskah salinan dari naskah koleksi Kangjeng Pangeran Aria Mertadiredja III. yang menjabat bupati Purwokerto (18601879) dan bupati Banyumas (1879-1913). Di samping itu. Nomor 1. G. Jika mencermati ketiga teks. Hal itu dapat dilihat pada perbandingan teks antara naskah Babat Banyumas dengan Sejarah Wirasaba. Februari 2006 waktu penulisan. Knebel yang menjabat asisten residen di Magetan. Dua halaman depan berisi judul dan nama penyalinnya. Kedua teks perbedaannya tidak begitu mencolok. bahkan pupuh XV pada Babat Banyumas tidak ditemukan. Naskah ini memakai judul yang cukup panjang. Kemungkinan naskah pada bagian belakang Sejarah Wirasaba hilang beberapa halaman . bahkan naskah Babat Banyumas itu merupakan salinan dari naskah Sejarah Wirasaba. Sengkalan tersebut berarti angka tahun Jawa 1787 atau 1858 masehi. No. Tahun 34. seorang pejabat carik jaksa dari Magetan.5 cm.96 BAHASA DAN SENI. Sejarah Wirasaba yang ditemukan sekarang memang banyak bagian yang hilang dan tidak lengkap sehingga ada perbedaan jumlah bait pada pupuh tertentu. Kiranya naskah yang sampai pada masa kini adalah naskah salinan ketiga dari naskah tahun 1787 (1858). naskah salinan itu diserahkan kepada Lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada bulan April 1904 dan tercatat pada bulan Juli 1928.

untuk memahami perbandingan teks antara ketiga naskah tersebut dibuat tabel 4 di bawah ini. Babat Banyumas adalah penerus tradisi naskah Wirasaba. III Sinom menjadi XI Mijil. ada 8 pupuh. Gam. Babad Banyumas dan Versi-versinya 97 sebelum disalin oleh Mulyareja. yaitu pupuh I Asmarandana menjadi pupuh IX Pangkur.58) SJ. Singkatan Asm. Gambuh. Mulai pupuh IX hingga XV (TSBB) merupakan transformasi teks dari tembang yang satu ke tembang yang lain. Pupuh I-VIII (TSBB) berisi teks yang berbeda dengan teks-teks lain Babad Banyumas. Perbandingan Tiga Teks Versi Sejarah Wirasaba dengan TSBB Sejarah Wirasaba Babat Banyumas (BR.. adalah nama pupuh Asmarandana. Jadi. dan VII Mijil menjadi XV Gambuh. . VI Sinom (34 bait) menjadi XIV Sinom (40 bait). II Durma menjadi X Pucung. termasuk BtB. sedangkan angka Arab menunjukkan jumlah bait. 17 FS UI Tedhakan Serat Babad Banyumas I Dha 18 II Sin 18 III Asm 38 IV Mas 47 V Kin 42 VI Dur 12 VII Asm 34 VIII Dur 20 IX Pan 20 X Puc 47 XI Mij 26 XII Sin 18 XIII Kin 18 XIV Sin 40 XV Gam 17 XVI Pan 30 XVII Meg 35 XVIII Asm 36 XIX Dha 13 XX Asm 39 XXI Sin 19 XXII Mas 15 XXIII Dha 15 I Asm 12 II Dur 31 III Sin 26 IV Kin 32 V Dha 68 VI Sin 34 VII Mij 22 VIII Pan 30 IX Meg 35 X Asm 35 XI Dha 8 XII Asm 35 XIII Sin 19 XIV Mas 9 -- I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV Asm 12 Dur 31 Sin 26 Kin 33 Dha 68 Sin 34 Mij 22 Pan 30 Meg 35 Asm 35 Dha 13 Asm 39 Sin 19 Mas 15 Dha 15 I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV Asm 12 Dur 31 Sin 26 Kin 33 Dha 68 Sin 34 Mij 22 Pan 30 Meg 35 Asm 35 Dha 13 Asm 39 Sin 19 Mas 15 Dha 15 Keterangan: Angka Romawi menunjukkan nomor pupuh. IV Kinanthi menjadi XII Sinom. dll. Perbandingan teks Babat Banyumas (Btb) dengan Tedhakan Serat Babad Banyumas (TSBB) menunjukkan bahwa keduanya menampakkan kesamaan atau kedekatan teksnya pada pupuh VIII-XV (BtB) dan pupuh XVI-XXIII (TSBB).Priyadi. Tabel 4. Dengan demikian. V Dhandhanggula menjadi XIII Kinanthi. Selanjutnya.

Selebihnya. IV Kinanthi (33) menjadi XII Sinom (18). menampilkan riwayat masa muda Mranggi Kejawar dan pendiri Banyumas (Bagus Mangun). dan VII Mijil (22) menjadi XV Gambuh (17).98 BAHASA DAN SENI. sedangkan pupuh XVIII ada 36 bait. Pada teks BtB. XIV Maskumambang 15 (BtB). Mulyareja masih melampirkan silsilah Wirasaba yang dimulai dari Raden Katuhu (Adipati Wira Utama) sampai dengan Tumenggung Yudanagara (Raden Gandakusuma). sedangkan 32 (SW). Sesungguhnya kreativitas penulis sudah tampak pada bagaimana ia mencoba menyusun sejarah pangiwa. Pupuh II Durma (31 bait) menjadi X Pucung (47). Tahun 34. kecuali pupuh XVIII. dan XV Dhandhanggula 15 (BtB). termasuk Katuhu. XI Dhandhanggula 13 (BtB) sedangkan 8 (SW). X Asmarandana 39 (BtB). 12 bait berisi kisah singkat hubungan Majapahit dengan Pajajaran yang diselingi beberapa orang adipati Wirasaba. yakni pupuh IV Kinanthi 33 (BtB). Namun. menjadi pupuh IX Pangkur (20 bait). sedangkan 9 (SW). tetapi ternyata terdapat perbedaan dalam jumlah bait pada empat pupuh. Hal itu diperlihatkan dengan menggubah teks dalam bentuk tembang yang lain daripada teks aslinya. . III Sin (26) menjadi XI Mijil (26). Nomor 1. sedangkan tidak ada satu bait pun (SW). Februari 2006 Meskipun Babat Banyumas (BtB) disalin berdasarkan Sejarah Wirasaba (SW). mulai pupuh II hingga pupuh VII merupakan teks yang ditransformasikan dalam bentuk tembang lain. Mulai pupuh XVI hingga XXIII berisi teks yang sama dengan teks BtB. pupuh X Asmarandana hanya berisi 35 bait. VI Sinom (34) menjadi XIV Sinom (40). Pupuh I Asmarandana. Dengan demikian. Agaknya sang penulis belum puas seandainya ia hanya menyalin saja dari teks aslinya setelah disusunnya bagian teks yang baru. Perbedaan satu bait tersebut disebabkan oleh pengembangan bait 9 pupuh X menjadi bait 9-10 pupuh XVIII. Tampaknya bahwa penulis teks TSBB menunjukkan kreativitasnya. memanjangkan kisah hidup Raden Putra dan proses tampilnya Raden Kaduhu menjadi adipati Wirasaba. sedangkan 35 (SW). Perbedaan jumlah bait itu terjadi karena naskah yang disalin oleh Mulyareja terdapat bagian naskah yang hilang atau rusak dan tidak terbaca. teks TSBB ikut melestarikan separo lebih teks SW (Priyadi 2004). V Dhandhanggula (68) menjadi XIII Kinanthi (18).

Mertadiredjan.Priyadi. Fakultas Sastra. T. Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi . E. Djamaris. (2) Adimulya. Ekadjati. Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan Nusantara-Yayasan Obor Indonesia. (3) Panenggak Widodo-Nakim. Behrend.E. Jilid 5A. Ekadjati. & Darsa. dan keluarga Banjar-Gripit-Badakarya). Direktori Edisi Naskah Nusantara. (4) Oemarmadi dan Koesnadi. Dipayudan Banjarnegara.S. Tahun III. 1877. Koleksi Lima Lembaga. Jilid 1. Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (Naskah Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi). T. Ayatrohaedi & Atja.F. Cakrawedanan. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan (7) Sejarah Wirasaba. T. & Pudjiastuti. ada dua versi lain. K. Universitas Indonesia. E. Jakarta: Djambatan. 1999.1. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara. Babad Banyumas dan Versi-versinya 99 KESIMPULAN Ada tujuh versi baru Babad Banyumas. 1981. yakni (1) Jayawinata. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara. Gandasubratan.A. U. T. Kedua versi terakhir ini sangat penting untuk mengetahui jalur-jalur penulisan Babad Banyumas karena keduanya merupakan teks yang tertua. (5) Kasman Soerawidjaja. 1997. 1990. . Holle. 1991. 1998. E. Jawa Barat. Selain itu. Behrend. No. Buitenzorg: Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Behrend. Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4. S. Jilid 4. (6) Keluarga Baru (Dipadiwiryan.S.E. 1977. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-EFEO. DAFTAR PUSTAKA Atja & Danasasmita. 1999. Bahasa dan Sastra. yaitu (1) Babad Banyumas Kalibening (berbahasa Jawa Tengahan) dan (2) versi PRBN (berbahasa Jawa Kuna). Jilid 3B. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-EFEO.E. Museum Sono Budoyo Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-EFEO.

M. Volgens een Banjoemaasch Handschrift beschreven TBG. The Hague: Martinus Nijhoff. Th. Priyadi. Semarang: Jarahnitra. Jogjakarta: Taman Siswa. Terjemahan. dan Fungsi Genealogi dalam Kerangka Struktur Naratif Tesis S-2 pada program Pascasarjana. Babad Pasir. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 1900. The Hague: Martinus Nijhoff. 1932. deel LI: 1-155. 1967. A. met vertaling VBG. 1966. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Purbalingga: tanpa penerbit. Drs. G. Diktat Riwajat Purbalingga. Padmapuspita. 1995a. deel XLIII: 397-443. Sejarah Pangiwa dalam Tedhakan Serat Babad Banyumas . 10. Knebel. Yogyakarta: Museum Sana Budaya. Direktorat Jenderal Kebudayaan. XXI: 34-40. Yogyakarta: Fakultas Sastra. J. 1901. Volume II.M. S. Priyadi. Priyadi. 1995b. S. Teks Bahasa Kawi Terdjemahan Bahasa Indonesia. Babad Banyumas. Priyadi. Th. 1967. Tedhakan Serat Babad Banyumas: Suntingan Teks. Tahun 34. Tinjauan Awal tentang Serat Babad Banyumas sebagai Sumber Sejarah Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Nasional V.100 BAHASA DAN SENI. Dr. J. Kartosoedirdjo. Literature of Java. Th. Pigeaud. Volgens een Banjoemaasch Handschrift. Th. Februari 2006 Kartosoedirdjo. Th. Kebudayaan. J. Priyadi. Purwokerto: IKIP Muhammadiyah Purwowkerto. A. . S. Darsiti Soeratman dan Prof. Ramlan. 1991. S. Babad Banyumas Kalibening Laporan Penelitian. Priyadi. No. Prabu Siliwangi dalam Historiografi Babad Laporan Penelitian. Kangdjeng Pangeran Arja Adipati Danoeredja VII Djawa. Nomor 1. Pigeaud. M. S. Th. Universitas Gadjah Mada. Volume I. S. G. 1992. Literature of Java. Panembahan Lawet. 1941. 1968. Departemen Pendidikan & Kebudayaan. Pararaton. G. 1990. 1993. Purwokerto: IKIP Muhammadiyah Purwokerto. Hubungan Sunda dengan Tradisi Penulisan Babad di Daerah Banyumas Makalah Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora II dalam rangka Purnabakti Prof. Pigeaud. V: 63-67. Th. Knebel.

Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni. XIII. 2004. 27+28/XXIII.M. 23. s-Gravenhage: Martinus Nijhiff. M. Transformasi Teks Babat Banyumas (BR. Priyadi. Diksi. No. Priyadi. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto. S. 1996. Kajian Sastra. Universitas Diponegoro. Th. Purwokerto: Lembaga Studi Banyumas. Tedhakan Serat Babad Banyumas: Suntingan Teks. 1999c. Aspek-aspek Budaya Banyumasan . Priyadi. November. No. Kajian Sastra. 1996. A Critical Survey of Studies on Languages of Java and Madura. Universitas Gadjah Mada.A. Penelitian Terakhir Babad Banyumas . 1984. Priyadi. November. Umar Kayam dan Prof. Sejarah Penulisan Babad Banyumas dalam Lembaran Sastra. Semarang: Fakultas Sastra. Makalah dipresentasikan dalam Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora IV. 2003.Priyadi. Djoko Soekiman. Terjemahan. 1998. Laporan Penelitian. S. 1997b. S. 26/XXIII. Babad Banyumas dan Versi-versinya 101 Priyadi. Priyadi. Jakarta: Pustaka Jaya. S.4A. 1997a. S. Prabu Siliwangi. 1995c. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Surabaya: Fakultas Bahasa dan Seni. S. Makalah Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora IV dalam rangka Purnabakti Prof. Sutaarga. Priyadi. Yogyakarta: Fakultas Sastra. Universitas Gadjah Mada. Banyumas: antara Legenda dan Sejarah . No. 11. dan Fungsi Genealogi dalam Kerangka Struktur Naratif Berkala Penelitian Pasca Sarjana. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Semarang: Fakultas Sastra. Januari. No. Dr. Universitas Negeri Surabaya. Priyadi. Uhlenbeck. Volume 51. Sarasilah Turun Banjar Gripit Badakarya. Babad Banyumas Versi Wirjaatmadjan: Fungsi dan Intertekstual . S. Prasasti. S. Babad Banyumas dalam Teks Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara . Universitas Diponegoro. Priyadi. 1964. 1999a. E. 1999b. Teks Babad Pasir dalam Babad Banyumas Tradisi Naskah Dipayudan. Yogyakarta: Fakultas Sastra. S. Universitas Negeri Yogyakarta. edisi khusus No.1. 58) . Soedarmadji. Dr. Jilid 8. S. Babad Banyumas: Hubungan Banyumas dengan Majapahit . Universitas Diponegoro. . Wilayah Pembantu Bupati Wanadadi Kabupaten Banjarnegara. Priyadi. Semarang: Fakultas Sastra. Vol.

Tahun 34. .102 BAHASA DAN SENI. 1990. Nomor 1. T. Tan Jing Sing dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta. Februari 2006 Werdoyo. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

75 verse. 75 prose.Priyadi. Babad Banyumas dan Versi-versinya 103 archetype. 75 transformed text. 75 . 75 version.