P. 1
Profil Kesehatan Kota Semarang 2007 -Analisa

Profil Kesehatan Kota Semarang 2007 -Analisa

|Views: 818|Likes:
Dipublikasikan oleh Lucky Radita Alma

More info:

Published by: Lucky Radita Alma on Oct 04, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari Pembangunan Nasional yang pada hakekatnya merupakan upaya untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasl 28 ayat (1) dan Undang -Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yaitu melalui pembangunan kesehatan salah satu hak dasar masyarakat yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dapat dipenuhi. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai investasi untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)yang dapat diukur melalui Index Pembangunan Manusia (IPM). Kesehatan merupakan salah komponen utama dalam IPM yang dapat mendukung terciptanya SDM yang sehat, cerdas, terampil dan ahli menuju keberhasilan Pembangunan Kesehatan. Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan telah dilakukan perubahan cara pandang (mindset) dari paradigma sakit menuju paradigma sehat sejalan dengan Visi Indonesia Sehat 2010. Seiring dengan visi tersebut, maka Visi Pembangunan Kesehatan di Kota Semarang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah adalah Terwujudnya Masyarakat Kota Pantai Metropolitan yang Sehat Didukung dengan Profesionalisme dan Kinerja yang Tinggi. Dalam rangka memberikan gambaran situasi kesehatan di Kota Semarang Tahun 2007 perlu diterbitkan Buku Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007. Media Profil Kesehatan Kota Semarang merupakan salah satu sarana untuk menilai pencapaian kinerja pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan Kota Semarang Sehat 2010. Profil Kesehatan menyajikan berbagai data dan informasi diantaranya meliputi data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian program – program kesehatan, masalah kesehatan dan lain-lain. Tersusunnya Buku Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 didukung oleh pengelola data dan informasi Dinas Kesehatan Kota Semarang, Puskesmas, Instalasi Perbekalan Farmasi, juga lintas sektor terkait (Badan Pusat Statistik, ASKES,
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

JAMSOSTEK, BKKBN, POLWILTABES Kota Semarang). 1.2. Tujuan Tujuan disusunnya Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 adalah tersedianya data / informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasilguna dan berdayaguna sebagai upaya menuju Kota Semarang yang Sehat. 1.2.2. Khusus Secara khusus tujuan penyusunan Profil Kesehatan adalah : 1.2.2.1. Diperolehnya Data / informasi umum dan lingkungan yang meliputi lingkungan fisik dan biologi, perilaku masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, data kependudukan dan sosial ekonomi; 1.2.2.2. Diperolehnya Data / informasi tentang status kesehatan masyarakat yang meliputi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat; 1.2.2.3. Diperolehnya Data / informasi tentang upaya kesehatan, yang 1.2.2.4. 1.2.2.5. 1.2.2.6. meliputi cakupan kegiatan dan sumber daya kesehatan. Diperolehnya Data / informasi untuk bahan penyusunan perencanaan kegiatan program kesehatan; Tersedianya alat untuk pemantauan dan evaluasi tahunan program – program kesehatan; Tersedianya wadah integrasi berbagai data yang telah dikumpulkan oleh berbagai sistem pencatatan dan pelaporan yang ada di Puskesmas, Rumah Sakit maupun Unit-Unit Kesehatan lainnya; 1.2.2.7. Tersedianya alat untuk memacu penyempurnaan sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan. 1.3. Sistematika Penulisan Untuk lebih menggambarkan situasi derajat kesehatan, peningkatan upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan di Kota Semarang pada Tahun 2007, maka diterbitkanlah Buku Profil Kesehatan Kota Semarang yang

1.2.1. U mum

3 disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB BAB BAB BAB BAB I II III IV V PENDAHULUAN GAMBARAN UMUM KOTA SEMARANG PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

Sedangkan kecamatan dengan luas terkecil adalah Semarang Selatan (5. kecamatan Mijen (57.55 km2) dan Kecamatan Gunungpati (54.6 Km. Persebaran dan Kepadatan Penduduk. Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan dan 177 kelurahan. terdiri dari 722.2 Kependudukan 2.00 di atas garis pantai. Kelahiran.110º50’ Bujur Timur. Luas Wilayah Kota Semarang 2. Ketinggian Kota Semarang terletak antara 0. pasar. Kematian dan .1.1. dan sebelah Utara dibatasi oleh Laut Jawa dengan panjang garis pantai meliputi 13.2007 sebesar itu Kota Semarang termasuk dalam 5 besar Kabupaten/Kota yang mempunyai jumlah penduduk terbesar di Jawa Penduduk.1.1.2.454. Pertumbuhan Perpindahan 2.1.026 jiwa penduduk laki-laki dan 732.568 jiwa penduduk perempuan. jiwa. Komposisi Penduduk. sebagian besar wilayahnya berupa pusat perekonomian dan bisnis Kota Semarang. sebelah Selatan dengan Kabupaten Semarang.75 sampai dengan 348. sebelah Timur dengan Kabupaten Demak. perkantoran dan sebagainya.11 km2). Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Jumlah penduduk Kota Semarang menurut registrasi sampai dengan akhir Desember tahun 2007 sebesar : 1.70 km2 . Tabel 1 : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Tahun 2003 .93 km2) dan kecamatan Semarang Tengah (6. Dibatasi sebelah Barat dengan Kabupaten Kendal.1.2.7º10’ Lintang Selatan dan garis 109º35’ .594.1. Dengan jumlah Tengah. seperti bangunan toko/mall.14 km2). Letak Dengan luas wilayah sebesar 373. 2. dimana sebagian besar wilayahnya berupa persawahan dan perkebunan.2. 2. Dari 16 kecamatan yang ada.BAB II GAMBARAN UMUM DAN LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT 2. Keadaan Geografis Kota Semarang terletak antara garis 6º50’ .

Persebaran dan Kepadatan Penduduk Penyebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan daya dukung lingkungan yang tidak seimbang. 2. Hal ini dapat dilihat pada tabel diatas. diikuti dengan Kecamatan Tugu 832 jiwa per km2 dan Kecamatan Gunungpati 1.37 Sumber data : Kantor BPS Kota Semarang Perkembangan dan pertumbuhan penduduk selama 5 tahun terakhir menunjukkan hasil yang bervariasi. Secara daerah dan geografis dataran wilayah Kota Semarang terbagi menjadi dua yaitu rendah ( Kota Bawah ) dan daerah perbukitan (Kota Kota Atas lebih banyak dimanfaatkan untuk Atas). Sebagai salah satu kota metropolitan.419. dan hutan. sehingga sebagian wilayahnya banyak terdapat areal persawahan dan perkebunan.399. Namun sebaliknya untuk Kecamatan-Kecamatan yang terletak di pusat kota. Semarang boleh dikatakan belum terlalu padat.193 1. Bila dilihat menurut Kecamatan yang mempunyai kepadatan penduduk paling kecil adalah Kecamatan Mijen sebesar 819 jiwa per km2.168 jiwa per km2.434.378. perdagangan industri.594 2. Ketiga Kecamatan tersebut merupakan daerah pertanian dan perkebunan.52 1. sedangkan perkebunan.5 Tahun Jumlah Penduduk Tingkat pertumbuhan Setahun ( % ) 2003 2004 2005 2006 2007 1. Kota Bawah merupakan pusat kegiatan pemerintahan. persawahan.892 jiwa per km2.133 1.454. dimana luas wilayahnya tidak terlalu besar tetapi jumlah Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 masih .132 1.2.45 2. Pada tahun 2007 kepadatan penduduknya sebesar 3. Sedangkan ciri masyarakat Kota Semarang terbagi dua yaitu masyarakat dengan karakteristik perkotaan dan masyarakat dengan karakteristik pedesaan.03 2.35%.1. dimana selama kurun waktu tahun 2004 – 2007 terjadi peningkatan pertumbuhan penduduk dengan rata-rata sebesar 0.478 1.09 1.2.

Bila dikaitkan dengan banyaknya keluarga atau rumah tangga. maka beban untuk mencukupi kebutuhan pangan.3.4. Yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Semarang Selatan 14. dan kondisi ini terjadi pada hampir seluruh Kecamatan yang ada . kepadatan penduduknya sangat tinggi.158 Semarang Utara 11. Komposisi Penduduk Untuk dapat menggambarkan tentang keadaan penduduk secara khusus dapat dilihat dari komposisinya.568 jiwa penduduk perempuan . 2. kemudian Kecamatan Candisari 12. perumahan.594 penduduk Kota Semarang pada tahun 2007 terdiri dari 722. salah satunya adalah penduduk menurut jenis kelamin.1. pendidikan.454.444 jiwa/km2.026 jiwa penduduk laki-laki dan 732. Kelahiran.1.13 atau 4 (empat) anggota keluarga. Indikator dari variabel jenis kelamin adalah rasio jenis kelamin yang merupakan angka perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan. Tingkat pertumbuhan alamiah secara sederhana dihitung dengan membandingkan jumlah penduduk yang lahir dan mati.468 jiwa/km2 .2. terdapat pula 986 penduduk laki-laki.penduduknya sangat banyak. Pada periode waktu tertentu digambarkan .318 jiwa/km2 Kecamatan Semarang Tengah 12. 270 2. diteruskan dengan dan Kecamatan Gayamsari 11. Bila jumlah penduduk yang besar sedangkan tingkat pertumbuhannya tinggi. Dari 1. dimana setiap 100 penduduk perempuan.2. maka dapat dilihat bahwa rata-rata setiap keluarga di Kota Semarang memiliki 4. Tingkat pertumbuhan penduduk dibedakan atas tingkat pertumbuhan alamiah dan tingkat pertumbuhan karena migrasi. sandang. jiwa/km2 jiwa/km2. Rasio jenis kelamin pada tahun 2007 di Kota Semarang adalah 986 yang berarti jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Kematian dan Perpindahan Potensi permasalahan jumlah penduduk yang besar dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang dimiliki. kesehatan dan sebagainya menjadi sangat berat.

Data selengkapnya pada tabel berikut : Tabel 2: Perkembangan Kelahiran dan Kematian Penduduk Kota Semarang Periode 2003 – 2007 Tahun Jml Penduduk CBR CDR (/1000 pddk) (/1000 pddk) 2003 2004 2005 2006 2007 1.454.419.06 per 1.23 15.64 15.27 6.000 penduduk.000 penduduk jumlahnya bertambah karena kelahiran sebanyak 16.133 1.06 atau bila dibulatkan sebesar 16 orang.04 per 1.478 1.09 5.399.41 7.06 5. Sedangkan CDR juga mempunyai pola yang sama berfluktuasi selama periode 2003 – 2006 mengalami peningkatan dan menurun pada tahun 2007 menjadi 7.56 12.000 penduduk.434.378.7 dengan Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Rate ( CBR ) dan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate ( CDR ) yang merupakan perbandingan antara jumlah kelahiran dan kematian selama 1 tahun dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.594 12. Sedangkan Angka Kematian Kasar (CDR)-nya sebesar 7.132 1. 0 4 Sebagai gambaran pada tahun 2007 Angka Kelahiran Kasar ( CBR ) sebesar 16.04/1. Hal ini dilihat bahwa untuk CBR periode 2003 – 2007 mengalami kenaikan yang cukup berarti yaitu menjadi 16. Selama periode 5 tahun terakhir perkembangan kelahiran dan kematian penduduk di Kota Semarang terlihat cukup berfluktuasi.46 16.000 penduduk Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .000 penduduk yang berarti bahwa setiap 1.000 penduduk yang artinya setiap 1.193 1.06/1.56 7 .

2.899 284.8 5 20. Dengan demikian selisih dari keduanya adalah 9 orang per 1. 6. Semakin tinggi pendidikan suatu masyarakat. III. 5. Tdk / blm pernah sekolah Tidak / belum tamat SD S D/MI S L T P/MTs S L T A/MA Akademi Universitas Jumlah: 91.0 9 4. Yang paling menonjol adalah peningkatan penduduk yang pendidikannya tamatan SLTA ke atas ( D I.874 6.53 20.2 7 21.172 61.3. 4.403.3 7 22. dan D IV/ S1/ S2/ S3 ). 3. 7.003 63.34 4.062 320.000 penduduk.311 1. PENDIDIKAN Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang berperan meningkatkan kualitas hidup.641 296. 2. kenaikan ini terjadi baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan. II. 00 Sumber data : BPS Kota Semarang Menurut Badan Pusat Statistik Kota Semarang bahwa perkembangan tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk Kota Semarang selama 5 ( lima ) tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup berarti. Sebagai gambaran tingkat pendidikan penduduk Kota Semarang pada tahun 2007 adalah sebagai berikut : Tabel 3 : Prosentase Tingkat Pendidikan di Kota Semarang Tahun 2007 No Tingkat Pendidikan Laki-laki dan Perempuan Jumlah % 1. semakin baik kualitas sumber dayanya.51 100.selama setahun jumlah penduduknya berkurang karena meninggal sebanyak 7 orang. .786 286.

992 3. 3. Jenis Sarana Pendidikan TK / Diniyah SD / MI SLTP / MTs SLTA / SMK / MA Jumlah Jumlah 594 640 164 148 1. Buruh bangunan 71. Nelayan 2.0 0 Sumber data : BPS Kota Semarang 2. 5 7 0. 3 0 3. Buruh tani 18.494 (%) 4. 4 0 2.4.546 % 38. Buruh Industri 152.42 41. SOSIAL EKONOMI Prosentase jenis mata pencaharian penduduk Kota Semarang pada tahun 2007. 0 8 2 4. 2. 7 9 1 1.557 4.9 Tabel 4 : Prosentase Sarana Pendidikan di Kota Semarang Tahun 2007 No 1.506 Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Jenis Mata Pencaharian Petani sendiri Jumlah 26. adalah sebagai berikut : Tabel 5 : Prosentase Jenis Mata Pencaharian Penduduk Kota Semarang Tahun 2007 No 1.57 100. 4.60 9.39 10.328 5.

3 3 1 1. 6 0 1 4.2007 A. Pengusaha 51. 9 3 3. 0 0 7. SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN Tabel 6 : Prosentase Sarana dan Prasarana di Kota Semarang Tahun 2006 .6.431 8. Rumah Sakit Umum : a. Pedagang 73. 1 2 1 7.304 8. SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN 1.229 Sumber data : BPS Kota Semarang 2.918 10. Rumah Sakit Umum Daerah c.512 Jumlah: 615. Angkutan 22. PNS/ TNI/ POLRI 86. Rumah Sakit Swasta b.5. Lain-lain 109. 8 0 1 0 0.187 9. Rumah Sakit Umum Pusat 8 2 1 9 2 1 2006 2007 .

11. 10. 7. terdiri dari : a. 17. 14. 21. 12.454 316 33 13 46 20 78 186 38 7 11 33 64 15 53 13 Rumah Bersalin ( RB ) / BKIA Puskesmas . 6. 15. 8.442 310 31 13 42 20 73 165 31 6 7 30 50 14 49 12 3 10 1 1 4 4 23 37 11 26 33 37 1. 9. 16.454 1. 19. 3. RS Jiwa RS Bedah Plastik Rumah Sakit Ibu dan Anak ( RSIA ) Rumah Sakit Bersalin ( RSB ) 3 10 1 1 4 4 23 37 11 26 33 37 1. 22.11 d.446 1. Puskesmas Perawatan b. Rumah Sakit Khusus. terdiri dari : 2. Puskesmas Non Perawatan 4. 5. Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Posyandu yang ada Posyandu Aktif Apotik Laboratorium Kesehatan Swasta Klinik Spesialis Optik Klinik 24 Jam Toko Obat BP Umum BP Gigi PBDS Tabib ( yang memiliki Wajib Daftar ) Sinshe ( yang memiliki Wajib Daftar ) Akupunktur (yang memiliki Wajib Daftar) Pijat Urut ( yang memiliki Wajib Daftar ) Terapi Zona (yang memiliki Wajib Daftar) Rei Ki ( yang memiliki Wajib Daftar ) Sumber data : Sie Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Semarang Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . 20. Rumah Sakit TNI / POLRI e. 13. 18.

1 Perikemanusiaan Setiap kegiatan proyek. fasilitas pelayanan kesehatan yang ada perlu terus diberdayakan agar mampu memberikan pertolongan kesehatan yang berkualitas. keluarga. keluarga. masyarakat beserta lingkungannya.1.1 DASAR Dasar pembangunan kesehatan adalah nilai kebenaran dan aturan pokok yang menjadi landasan untuk berfikir dan bertindak dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dasar-dasar berikut ini merupakan landasan dalam penyusunan visi. Dengan dasar ini. keluarga dan masyarakat melalui kegiatan. misi dan strategi serta sebagai petunjuk pokok pelaksanaan pembangunan kesehatan: 3. proyek.BAB III PEMBANGUNAN KESEHATAN KOTA 3. keluarga dan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap individu. Setiap kegiatan.1. program kesehatan. keluarga dan masyarakat dapat menolong dirinya sendiri. masyarakat beserta lingkungannya bukan saja sebagai obyek namun sekaligus pula subyek kegiatan. Segenap komponen bangsa bertangggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan individu. proyek. proyek. program kesehatan harus mampu membangkitkan peran serta individu. program kesehatan difasilitasi agar mampu mengambil keputusan yang tepat ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. program kesehatan harus berlandaskan perikemanusiaan yang dijiwai. sesuai dengan norma sosial budaya setempat serta tepat waktu. keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat .3 Adil dan Merata Setiap individu. 3.2 Pemberdayaan dan Kemandirian Individu.1. Di lain pihak. digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3. setiap individu. Warga masyarakat harus mau bahu membahu menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan agar dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang sesuai kebutuhan dalam waktu yang sesingkat mungkin. terjangkau.

proyek. program kesehatan harus mengutamakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. kemampuan membayar mereka jauh lebih sedikit.1 VISI DAN MISI VISI Gambaran masyarakat Semarang di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah “Terwujudnya masyarakat kota metropolitan yang sehat didukung dengan profesionalisme dan kinerja yang tinggi” Visi tersebut mengandung dua filosofi pokok yang akan dilaksanakan perwujudannya. sesuai dengan standar profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah. terjangkau dan tepat waktu. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajad kesehatan yang setinggi-tingginya. proyek dan program kesehatan diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab.2 3. tidak boleh memandang perbedaan ras. Masyarakat kota metropolitan yang sehat adalah masyarakat yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat. agama. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . bersifat luar gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan. Kegiatan.2. Kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas. 3.4 Pengutamaan dan Manfaat Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kedokteran dan atau kesehatan dalam kegiatan. golongan.13 mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.1. dan status sosial individu. Kegiatan. keluarga dan masyarakat. Kelompok-kelompok penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan karena selain lebih rentan terhadap penyakit. Pembangunan kesehatan yang cenderung urban-based harus terus diimbangi dengan upaya-upaya kesehatan yang bersifat rujukan. yaitu masyarakat kota metropolitan yang sehat dan upaya pelayanan kesehatan dilakukan secara profesional dan didukung oleh tenaga yang memiliki kinerja yang tinggi. Dengan demikian pembangunan kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk beresiko tinggi yang merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian. proyek dan program kesehatan diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan deajat kesehatan masyarakat. 3.

2. Meningkatkan mutu upaya pelayanan kesehatan yang berhasil guna. meningkatkan. rasa. Melibatkan peran serta masyarakat melalui upaya di bidang kesehatan dengan cara efektif dan efisien 3. 3. melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya menuju masyarakat yang sehat. Meningkatkan pelayanan kualitas kefarmasian manajemen yang upaya memenuhi pelayanan persyaratan mutu. partisipatif dan menguasi ilmu pengetahuan teknologi sehingga mampu memberikan upaya pelayanan kesehatan masyarakat maupun perorangan yang prima. Memberi perlindungan kesehatan dan memberi pelayanan kesehatan paripurna yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat agar tercapai derajat kesehatan yang optimal 2. beradya guna dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. mandiri. (Misi 1) kesehatan dalam mendukung pencapaian derajad kesehatan masyarakat yang optimal.2 MISI Misi mencerminkan peran.3 TUJUAN 1. produktif. Memberdayakan individu. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi yang diemban oleh seluruh jajaran petugas kesehatan di masing-masing jenjang administarsi pemerintahan.4. kematian akibat penyakit menular dan tidak . (Misi 1) 4.Upaya pelayanan kesehatan secara profesional adalah tatanan dari stake holder kesehatan di kota Semarang yang memiliki kemampuan cipta. fungsi dan kewenangan seluruh jajaran organisasi kesehatan di seluruh wilayah Kota Semarang.2. berbudaya. Menurunnya angka kesakitan. SASARAN 1. karsa dan karya yang tinggi dengan karakteristik mandiri. (Misi 1) 2. kelompok masyarakat di bidang kesehatan untuk memelihara. Menyediakan 3. yaitu : 1. keamanan dan kemanfaatan. yang bertanggung jawab secara teknisterhadap pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan Kota Semarang.2. (Misi 2) 3. kreatif.

melindungi kesehatan diri dan lingkungannya. 7. meningkatkan. Pemberdayaan Masyarakat 6. aman dan efektif sesuai kebutuhan tardisional dan kosmetika. medis masyarakat serta meningkatnya keamanan. Meningkatnya perilaku hidup bersih sehat dan peran aktif masyarakat dalam memelihara. usia lanjut serta meningkatnya status gizi 3. balita. 3. 5. anak prasekolah. khasiat obat yang beredar termasuk obat remaja. Tersedianya pelayanan kesehatan dasar & rujukan baik pemerintah dan swasta yang bermutu menuju peningkatan derajad kesehatan masyarakat yang optimal.15 menular serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit. tempat umum. 2.2. tempat pengelolaan makanan yang lebih sehat sehingga dapat melindungi masyarakat dari penyakit yang ditularkan melalui lingkungan. 4. Meningkatnya derajad kesehatan ibu. 6.5 STRATEGI KEBIJAKAN Program yang telah disusun dan ditetapkan sebagai strategi kebijakan Dinas Kesehatan Kota Semarang terdiri dari 8 (delapan) program. Meningkatnya kualitas air. lingkungan pemukiman. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 3. Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat 4. bayi. Pelayanan Kesehatan 2. Meningkatnya fungsi perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan yang didukung tersedianya sistem informasi yang handal serta kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang memadai. antara lain 1. Lingkungan Sehat 5. Tersedianya sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar pemerintah yang memadai untuk pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat 8. Manajemen Kesehatan dan Perijinan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . masyarakat. Tersedianya kebutuhan obat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu. ibu maternal.

7.3 SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG TAHUN 2007 Kinerja dinas yang ingin diwujudkan/ dicapai dalam tahun 2007 (target) tercermin dalam sasaran-sasaran beserta indikatornya sebagai berikut : I. 1. Angka kematian diare : < 1/10. Klien yang mendapat penanganan HIV-AIDS : 75% 15. Cakupan balita dengan pnemoni yang ditangani : 100% 13. Angka kesakitan pnemoni balita : 11. Case fatality rate demam berdarah : 2 % 6. kematian akibat penyakit menular dan tidak menular serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit.000 penduduk 22.25/10. Kasus demam berdarah yang difogging sesuai standar < 2 minggu : 60% 3. Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan 3. Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) : > 90% 19. Penderita demam berdarah yang ditangani : 100% 4. Kelurahan mengalami KLB penyakit bersumber binatang yang ditangani < 24 jam : 35% 21.000 penduduk 11. Balita dengan diare yang ditangani : 100% 10. Menurunnya angka kesakitan. Jejaring deteksi surveilens PTM di RS & puskesmas yang mantap : .24/1000 penduduk 9. Penemuan kasus TB BTA + (case detection rate) : 55% 8.000 penduduk 17. Obat dan Perbekalan Kesehatan 8. Kasus demam berdarah yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 48 jam : 30% 2. Kesembuhan penderita TB BTA + (cure rate) : > 85% 7. Darah donor diskrining HIV-AIDS : 100% 18.000 penduduk 5. Prevalensi HIV-AIDS : < 1/10. Kelurahan mengalami KLB PD3I & keracunan makanan yang ditangani < 24 jam : 85% 20.000 penduduk 14. Angka kesakitan diare : 16. Cakupan penemuan pnemoni balita : 25% 12. Kasus infeksi menular seksual yang diobati : 100% 16. Incident rate demam berdarah : 20/10. Acute flacid paralysis rate < 15 tahun : 2/100.

Ketepatan laporan surveilens penyakit menular : 80% 25. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan rujukan : 1. Pelacakan K3JH : 90% II. Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat : 100% 8.4% 9. Pelayanan bencana : 4. Pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum : 0. Imunisasi calon jemaah haji : 100% 32. Kelengkapan laporan penyakit tidak menular : 80% 28. Puskesmas yang melakukan deteksi dini PTM tertentu : 80% 24. Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan rujukan : 15% 5.17 80% 23. Cakupan BIAS : 95% 30. Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan dasar (puskesmas) : 65% 2. Tersedianya pelayanan kesehatan dasar & rujukan baik pemerintah dan swasta yang bermutu menuju peningkatan derajad kesehatan masyarakat yang optimal 1. Imunisasi TT ibu hamil : 70% 31. Pembinaan di laboratorium kesehatan swasta : 100% 10. Pemenuhan darah di Rumah Sakit : 80% 7. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan dasar (puskesmas) : 0. Ketepatan laporan penyakit tidak menular : 65% 27.5% 6. Kelengkapan laporan surveilens penyakit menular : 90% 26. Kelurahan mencapai Universal Child Imunization (UCI) : 78% 29.27% 3. Pembinaan 100% di laboratorium puskesmas : kesehatan kepada korban Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .

Pembinaan di laboratorium rumah sakit : 100% 12.rumah bersalin : 2 buah . Pembinaan di optik : 40% 13. usia lanjut.dokter spesialis : 130 orang .dokter gigi spesialis : 14 orang . Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan : 87% 4.dokter umum : 205 orang . ibu hamil.toko obat : 12 buah . Meningkatnya derajad kesehatan ibu.toko obat tradisional : 1 buah .perawat : 50 orang . Deteksi risiko tinggi oleh masyarakat : 10% .Balai pengobatan gigi : 3 buah . bayi.bidan : 15 orang . Perijinan sarana kesehatan yang selesai diproses : . Kunjungan ibu hamil 1 : 95% 2.asisten apoteker : 50 orang . Kunjungan ibu hamil 4 : 87% 3.dokter gigi : 150 orang .Balai pengobatan : 30 buah .laboratorium klinik swasta : 2 buah . 1. Deteksi risiko tinggi oleh tenaga kesehatan : 20% 5.klinik 24 jam : 3 buah .praktek bersama dokter spesialis : 1 buah .11.optic : 4 buah . remaja. balita.pengobat tradisional : 5 orang III. anak prasekolah.apoteker : 20 orang . Jumlah perijinan tenaga kesehatan yang selesai diproses : .rumah sakit : 1 buah 14.klinik spesialis : 2 buah .

Meningkatnya status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil. Jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin & masyarakat rentan: V. Kelurahan dengan garam beriod baik : 66% Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Keluarga sadar gizi : 62% 16.8% Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe : 84% Bayi yang mendapat kapsul vit A 1 kali/th : 92% Balita yang mendapat kapsul vit A 2 kali/th : 92% Ibu nifas yang mendapat kapsul vit A: 84% 10. Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi BGM dari gakin : 80% 12. 5. Cakupan peserta KB aktif : 78.81% 17. 9. bayi dan balita.8% Prevalensi gizi kurang balita : 16. Kelompok usila aktif : 80% 19. Ibu hamil KEK : 8% 13.70% Prevalensi gizi buruk balita : 1. Ibu hamil komplikasi yang ditangani : 90% 10. 3. 2. 4.19 6. Cakupan BBLR yang ditangani : 100% 15. Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang balita & anak prasekolah : 68% 16. Ibu hamil dengan risiko tinggi yang ditangani : 100% 9. 8. Balita yang datang dan ditimbang (D/S) : 74% Balita yang naik berat badannya (N/D) : 72% Balita bawah garis merah (BGM) : 1. 6. 7. Anemi gizi besi ibu hamil : 25% 11. Cakupan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) : 0. Cakupan kunjungan neonatus : 87% 12. Cakupan pelayanan kesehatan usila : 55% 18. Jumlah pemeriksaan papsmear : 375 orang ibu 7. 1. Ibu hamil dengan risiko tinggi yang dirujuk : 45% 8. Neonatal risiko tinggi /komplikasi yang ditangani : 80% 11. Cakupan kunjungan bayi : 87% 13. Bayi mendapat ASI eksklusif : 35% 15.8% 14. Balita gizi buruk mendapat perawatan : 100% 14.

a. Penduduk yang memanfaatkan jamban : 83. psikotropika sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan : 100% e.94% 6. Institusi yang dibina : 77% 9. Ketersediaan narkotika.15% 12. Rumah yang mempunyai SPAL : 72. Meningkatnya kualitas air. Tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan : 71% 10. Kualitas air minum yang memenuhi syarat kesehatan : 80. Tempat pengelolaan pestisida sehat : 85% 11. Industri rumah tangga makanan minuman yang memenuhi syarat kesehatan : 71. tempat umum. Cakupan air bersih : 92. khasiat obat yang beredar . Pengelolaan & peredaran obat di sarana distribusi obat : – – – – Puskesmas : 100% Apotek : 50% Toko obat : 80% BP/RB : 85% medis masyarakat serta meningkatnya keamanan.20. Pengadaan obat esensial : 90% c. aman dan efektif sesuai kebutuhan termasuk obat tradisional dan kosmetika.15% VI. Tersedianya kebutuhan obat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu.6% 2. 1. Ketersediaan obat sesuai kebutuhan : 90% b. Kualitas air bersih yang memenuhi syarat kesehatan : 64% 4.8% 3. Pengadaan obat generik : 95% d. TPA-TPS yang memenuhi syarat kesehatan : 75% 8. lingkungan pemukiman.14% 7. Kecamatan bebas rawan gizi : 50% V. Tempat pengelolaan makanan sehat : 69.44% 5. Rumah sehat : 80. tempat pengelolaan makanan yang lebih sehat sehingga dapat melindungi masyarakat dari penyakit yang ditularkan melalui lingkungan.

toko kosmetik) : 3% g. Tersedianya alat kesehatan medis yang memadai yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan : IX.21 – – f. Pelaksanaan diklat teknis fungsional 5. Tersedianya sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar pemerintah yang memadai untuk pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat 1. Data dan informasi kesehatan yang akurat. Tersedianya prasarana/bangunan fisik pelayanan kesehatan dasar pemerintah yang memenuhi syarat : 2. Pelanggaran distribusi obat di sarana distribusi obat swasta (apotek. Pelayanan pemberian izin belajar pendidikan formal 6. lengkap. 1. Penulisan resep obat generik : 90% i. Penyusunan rencana kinerja tahunan dan pengukuran kinerja kegiatan : 100% 2. h. Monitoring evaluasi kegiatan : 12 kali per tahun 3. Pengetahuan tenaga fungsional tentang angka kredit 7. Meningkatnya fungsi perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan yang didukung tersedianya sistem informasi yang handal serta kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang memadai. Pengetahuan SDM tentang administrasi kepegawaian VIII. Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) yang menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional Benar : 100% Upaya penyuluhan pencegahan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA oleh petugas kesehatan : 10% VII. Industri Kecil Obat Tradisional : 15% Toko kosmetik : 30% Penerapan pengobatan rasional di puskesmas : 70% toko obat. BP/RB. Meningkatnya perilaku hidup bersih sehat dan peran serta aktif Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . j. tepat waktu : 4.

2. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK oleh tenaga kesehatan : 50% dari sasaran Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SLTP oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS) : 30% 11. 3. Kelompok upaya kesehatan kerja : 20 buah Rumah bebas jentik nyamuk aedes (ABJ) : 88% Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD & setingkat (kelas 1) oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS.masyarakat dalam memelihara. 1. 8. 4. dan melindungi kesehatan diri dan lingkungannya. dokter kecil) : 100% 9. 7. Cakupan penduduk yang menjadi peserta jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar : 13% 6. meningkatkan. Rumah tangga sehat (sehat utama & paripurna) : 56% Posyandu purnama : 36% Posyandu mandiri : > 2% Sekolah sehat : 81% 5. 10. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SLTA oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS) : 30% .

23 BAB IV PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN Gambaran masyarakat Kota Semarang masa depan yang ingin dicapai oleh segenap komponen masyarakat melalui pembangunan kesehatan Kota Semarang adalah : Kota Semarang Sehat 2010 yang mandiri dan bertumpu pada potensi daerah. Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang dapat mendukung meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya adalah : (1) indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator mortalitas, morbiditas dan status gizi. (2) indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses mutu pelayanan kesehatan serta (3) indikator proses dan masukan yang terdiri atas indikator pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan dan kontribusi sektor terkait. IV. 1 Situasi Derajat Kesehatan IV.1.1. Kematian Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi/ tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. Selain itu dapat pula digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan : IV.1.1.1 Kematian Bayi dan Balita Angka kematian bayi di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006 yaitu sebesar 7,50 per 1.000 kelahiran hidup. Untuk tahun 2007, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Daerah (SURKESDA) jumlah kematian bayi yang terjadi di Kota Semarang sebanyak 466 dari 24.746 kelahiran hidup, terdiri dari 226 kematian bayi yang berasal dari laporan Puskesmas se-Kota Semarang dan 240 kematian bayi di tingkat Rumah Sakit, sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 18,8 per 1.000 KH. Berdasarkan pencapaian tersebut maka terdapat penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 483 bayi dari 24.498 kelahiran hidup. Hal ini dapat disebabkan karena tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak serta dukungan kemampuan dari tenaga medis yang
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

0700000001000000400000000400000048000000080000005800000012000000680000000c000000800000000d0000008c000 4864601d4385e9a161808d4eaa5868f99028c9502448ef72af94aee1f672048ff30845c2bd85480d02b809e8e6fa208c2134e8281 2a2a28282827262633343522364344451f46474859585a5b5c5d5e5f606188898a8b8c8d8e8f909192939495969798999a072d terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Selain itu 0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0c0c0f11111212121212131401010101010101010101 000000c0acc1000016c108849d430030fd432a40000024000000180000000000803f00000000000000000000803f02e4824408 sistem pencatatan serta pelaporan yang semakin baik dan tepat waktu turut 0000000000002a40000024000000180000000402013a00000000000000000402013a00000442000004422a400000240000001 mendukung pencapaian indikator tersebut. 80000000000803f00000000000000000000803f020aad4404b03544214007000c000000000000002a40000024000000180000 Sedangkan untuk kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2007 0000000803f00fce843048c3b442a40000024000000180000000000803f00000000000000000000803f00fce843048c3b442a4
sebanyak 113 anak terdiri dari 47 balita (laporan Puskesmas) dan 66 balita (laporan Rumah Sakit), sehingga diperoleh Angka Kematian Balita (AKABA) Kota Semarang sebesar 4,6 per 1.000 KH. IV.1.1.2 Kematian Ibu Maternal (AKI) Angka kematian ibu dapat diperoleh dari berbagai macam studi yang dilakukan dalam bentuk survey dengan cakupan wilayah terbatas. Angka kematian ibu yang berasal dari kegiatan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2002/2003 yaitu sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup merupakan angka nasional yang tidak dapat diuraikan di tingkat Kabupaten / Kota. AKI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 yaitu sebesar 101 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 24.746 orang.

Kematian tersebut umumnya terjadi di tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak seperti Bidan Praktek Swasta (BPS) serta tempat pelayanan kesehatan rujukan, yaitu di Rumah Sakit akibat keterlambatan rujukan dari pelayanan dasar tersebut. Terdapat beberapa hal yang dapat menjadi faktor penyebab yaitu kualitas ketrampilan pelayanan Bidan Praktek Swasta dalam pemeriksaan kehamilan (ANC) dan pertolongan persalinan yang sesuai standar Asuhan Persalinan Normal (APN), kecepatan dan ketanggapan

25

00001000000400000000400000048000000080000005800000012000000680000000c000000800000000d0000008c00000013 dalam menangani masalah kegawat daruratan pada saat persalinan maupun c020e000140012000000f5ff200000f40000000000000000c020e0001400000000000100230000100000000000000000c02093 0001000000000000000100000000000000010000000000000001000000000000000100000000000000010000000000000001 pasca persalinan, dimana hal ini berpengaruh terhadap penentuan diagnosa 000000010000004c0065007400740065007200000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 maupun dalam pengambilan keputusan klinik. Faktor lainnya yang turut 0000000a0000400030004009e0818009e08000000000000000000000400000000000200000000000a00000009081000000610 menentukan adalah keteraturan ibu hamil memeriksakan kehamilannya 04b006f00740061002000530065006d006100720061006e00670020000a0054006100680075006e0020003100390039003800 2f3e3c613a63732074797065666163653d22417269616c222f3e3c2f613a6465665250723e3c2f613a7050723e3c613a656e645 (ANC) di petugas kesehatan, deteksi dini terhadap resiko tinggi dan 003410000025102000020201000000000013070000660e0000320100003a010000000008000a000000331000004f101400020
komplikasi kehamilan ataupun persalinan, serta dukungan keluarga dalam memperoleh pelayanan kehamilan, persalinan maupun rujukan kegawatdaruratan. Disamping itu mulai membaiknya sistem pencatatan dan pelaporan baik di sarana pelayanan kesehatan khususnya Rumah Sakit dan Puskesmas turut membantu dalam pendataan kematian ibu maternal. Kejadian kematian ibu maternal paling banyak terjadi pada masa nifas sebesar 60%, kemudian pada persalinan 25% dan masa kehamilan 15%. Sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), telah dilaksanakan berbagai pelatihan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak diantaranya Pelatihan Asuhan Persalihan Normal (APN) yang merupakan standar pertolongan persalinan dan pendampingan persalinan dukun bayi oleh tenaga kesehatan, Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) serta yang lainnya.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

Penyakit Menular IV. angka kesakitan DBD pada tahun 2007 mencapai 19.000 penduduk. Hal yang serupa juga terdapat pada kelurahan dengan katagori a2a2a2a2a2a281f212121212121212100191c1c1c1c1c292a2a2a2a2a2a2a2a2a2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2a2a2a2a2a2a2a2a2a2 endemis meningkat dari tahun sebelumnya (143 kelurahan) menjadi 154 2121212121212121001c1c1c1c1c1c15070707070707070707070707070707070707070707070707070707070707070707070 kelurahan.000 penduduk) maupun target Kota Semarang sendiri yaitu 7/10. Jumlah penderita DBD tahun 2007 merupakan tahun dengan . Berdasarkan grafik diatas.99 per 10.845 kasus menjadi 2.IV.000 penduduk).1.2. Berdasarkan data pada tabel 10.924 fffffffffffffffffff80003fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff80007fffffffffffffffffffffffffffffffff 12121212121212100343131313131313131302e2f2f2f2f2f2f2f2f2c373b3b3b3b3b3b3b3b392b2a2a2a2a2a2a2a2a2a2a2a282 kasus. meningkat dari tahun 2006 (12.2.000 penduduk. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) 08002b27b3d930000000a40000000700000001000000400000000400000048000000080000005c000000120000006c000000 03e5692006a6a680da5f56ea8329d3a6ca73626a84064ad1808c859e9d5d39a353f9fdf0f0781b99b6c5ca18aa2a094597bf1477a a.64 per 10. angka kesakitan (incidence rate = IR) Kota Semarang mulai tahun 2002 – 2007 rata-rata diatas target nasional (IR = 2/100. sedangkan kelurahan non endemis/sporadis sebanyak 22 kelurahan dan kelurahan potensil 1 kelurahan dan tidak ada kelurahan yang bebas DBD.1. Angka Kesakitan 18f45f8589469f6409533a134302542fd701b4226f6e7c0a4fe1916e16351a6d90335648369225422543d02f35e69113e166502 Penyakit DBD di Kota Semarang pada tahun 2007 mengalami fffffffff80ff7fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff80ff7fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu dari 1.1.

dimana angka tersebut masih dibawah target Kota Semarang dan SPM yaitu < 2%.7%) dan CFR terendah pada Puskesmas Kedungmundu (0. Pemberantasan Penyakit Malaria a.2. Pencapaian CFR tertinggi terdapat pada Puskesmas Karangmalang (16.2.1.2.3. sehingga diperoleh CFR sebesar 1. Kecamatan dengan kasus malaria (+) tertinggi pada tahun 2007 adalah Bugangan 15 kasus.02 pddk) meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 27 orang (API = 0.27 jumlah penderita terbanyak apabila dibandingkan data 5 tahun terakhir. Seorang penderita klinis baru dinyatakan positif malaria apabila sediaan darah yang diperiksa terdapat plasmodium. b. Pemeriksaan darah dilakukan untuk menegakkan diagnosa. jumlah kematian akibat DBD menurun menjadi 32 orang dari 42 orang pada tahun 2006. Dengan demikian semua penderita malaria yang ditemukan di Kota Semarang diberikan pengobatan (100%) IV. Pemberantasan Penyakit TB Paru Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . IV. Keadaan kasus Berdasarkan laporan Puskesmas. Penurunan CFR menunjukkan semakin baiknya pelayanan medis penderita DBD pada Rumah Sakit di Kota Semarang. Dan terdapat 16 puskesmas dengan CFR = 0%.4%).02 pddk). Semuanya merupakan kasus import karena berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan diketahui bahwa sebelumnya penderita pernah mengunjungi daerah endemis malaria. Selain dilakukan pemeriksaan darah.1. semua penderita klinis memperoleh pengobatan klinis. Pemeriksaan darah dilakukan terhadap penderita klinis sedangkan pengobatan dilakukan terhadap baik penderita klinis maupun yang positif malaria. Sedangkan untuk yang positif malaria diberikan pengobatan radikal. Angka Kematian Pada tahun 2007. b. Pelayanan terhadap Penderita Bentuk pelayanan yang diberikan terhadap penderita malaria adalah pemeriksaan darah dan pengobatan.1%. jumlah kasus malaria pada tahun 2007 ditemukan 34 orang (API = 0.

Sekaran. Untuk Case Fatality rate (CFR) dihitung berdasarkan jumlah penderita yang meninggal akibat penyakit Diare yang berobat di Puskesmas dan berdasarkan data 5 tahun terakhir tidak ada laporan mengenai penderita yang meninggal (CFR = 0) .530 orang sedangkan pada golongan umur < 5 tahun sebanyak 12. Hal ini kemungkinan disebabkan masih ada follow up di akhir pengobatan yang tidak dapat diperiksa. IV.1. Hal ini kemungkinan disebabkan karena beberapa UPK belum memenuhi target program. Sedangkan angka kesembuhan terendah (0%) di Puskesmas Karang Malang.a. Pudak Payung. Angka kesembuhan (Cure Rate) Pencapaian angka kesembuhan TB Paru di Kota Semarang pada tahun 2006 sebesar 67% mengalami penurunan sebesar 3% dari tahun 2005 yang mencapai 70% dan masih belum memenuhi target yang ditetapkan yaitu 85%.000 penduduk. Hal ini dikarenakan belum semua Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) belum mencapai target yang ditetapkan.437 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 (10. Purwoyoso dan Karanganyar sebesar 100%. Angka penemuan penderita baru (CDR) tahun 2007 sebesar 49% mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2006 (59%).943 penderita dengan angka kesakitan sebesar 20. Rowosari.4.11 per 1. Pemberantasan Penyakit Diare a. Cakupan penderita diare tertinggi ditemukan pada golongan umur > 5 tahun yaitu sebanyak 17. Penemuan Penderita Baru (CDR) Penemuan suspek tahun 2007 sebanyak 8. b.2. Selain itu pencapaian ini juga masih belum memenuhi target Kota Semarang (55%).012 suspek). Angka Kesakitan Penderita diare di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 29. Angka kesembuhan tertinggi di Puskesmas Karangayu. Begitu pula untuk penemuan penderita TB Paru BTA positif pada tahun 2007 sebanyak 747 orang mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2006 (901 orang).413 penderita. dimana terdapat peningkatan dari tahun sebelumnya.

2.29 IV.02% menjadi 31%.000 penduduk. penderita kusta di Kota Semarang yang dilaporkan dari 16 kecamatan sebanyak 34 orang mengalami peningkatan dari 14 orang pada tahun 2006.2.1. yaitu terdiri dari penderita Kusta tipe MB = 27 orang dan PB = 7 orang. hal ini disebabkan karena banyak penderita yang berobat ke RS Tugu. kasus pneumonia maupun pneumonia berat yang ditemukan tidak sampai menyebabkan terjadinya kematian ( CFR = 0 ) IV. meningkat dari tahun 2006 yang hanya mencapai 2. dari 3.1.230 penderita.88 per 10. Dari seluruh penderita kusta yang ditemukan.5.000 balita. Prevalensi kusta tahun 2007 sebesar 0. Oleh karena itu.2 per 10. sehingga diperoleh IR untuk tahun 2007 sebesar 219. Penderita yang ditemukan di Puskesmas masih rendah.15 per 10. Adanya peningkatan kasus pneumonia dapat disebabkan oleh semakin meningkatnya tingkat pencemaran di wilayah Kota Semarang dan status gizi balita yang kurang baik. dikarenakan makanan yang dikonsumsi balita tidak mengandung cukup gizi yang diperlukan oleh balita serta daya tahan tubuh Balita yang menurun akibat status gizi kurang ataupun buruk.04%) dinyatakan telah selesai berobat (RFT.6. Namun apabila dilihat dari cakupan penemuan penderita Pneumonia yang dilaporkan di Kota Semarang pada tahun 2007 cenderung mengalami penurunan apabila dibandingkan tahun 2006 yaitu dari 35. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Pemberantasan Penyakit Pneumonia Sampai saat ini diketahui 80 – 90%. Releasing From Treatment ). 5 orang RFT PB (57%) dan RFT MB (13. Namun jumlah ini masih belum memenuhi target yang ditetapkan dalam SPM yaitu >90%. seluruhnya (100%) mendapatkan penanganan sesuai dengan prosedur penanganan penderita yang ada.230 penderita yang ditemukan. penyebab kematian bayi dan balita adalah pneumonia dan merupakan peringkat pertama penyebab kematian bayi dan balita menurut Survei Kesehatan Nasional (2001).286 penderita. mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 0. Kasus pneumonia di Kota Semarang pada tahun 2007 mencapai 3.000 penduduk. Pemberantasan Penyakit Kusta Pada tahun 2007. Untuk pelayanan dan penanganan penderita pneumonia.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa HIV/AIDS tidak hanya menjangkiti kelompok resiko . Sedangkan yang meningkat adalah Gonorhoe. HIV/AIDS Jumlah kasus HIV (+) yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 18 orang menurun apabila dibandingkan tahun 2006 yaitu sebesar 19 orang.IV. Kandidiasis. terdapat beberapa IMS yang mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2006.Trichomonas vaginalis Herpes Simplex.13%). Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang HIV / AIDS sehingga meningkat pula kunjungan ke klinik VCT. Terdapat puskesmas melaporkan cakupan pelayanan pengobatan kasus IMS. b. Sedangkan hasil kegiatan di klinik IMS tahun 2007. Puskesmas Bugangan ( 20 kasus) dan Puskesmas Gunungpati (4 kasus) serta Puskesmas Mangkang (451 kasus). Siphilis dan Penyakit Radang Panggul. Sedangkan untuk kasus AIDS ditemukan sebanyak 33 kasus meningkat dari tahun 2006 yang mencakup 25 kasus. Infeksi Menular Seksual (IMS) Jumlah kasus Infekasi Menular Seksual (IMS) di Kota Semarang pada tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas mencapai 550 kasus.059 orang. Kandiloma . Jumlah ini meningkat 16 orang dibandingkan tahun sebelumnya (179 kasus). Pemberantasan Penyakit Infeksi Menular Seksual a. Cakupan HIV/AIDS didapat dari hasil skrining sero survei pada kelompok perilaku resiko tinggi sebanyak 363 orang terdiri dari Wanita Penjaja Seks (WPS). 42 orang BP4 dan 33 orang dari LSM). Dari jumlah tersebut. diantaranya Servisitis.1. Sedangkan dari hasil kegiatan VCT tahun 2007 ditemukan 195 kasus (120 orang dari klinik VCT. Dari jumlah tersebut yang positif HIV/AIDS sebanyak 62 (0. yaitu Puskesmas Halmahera (75 kasus).27%) 4 (empat) sudah mendapatkan yang penanganan/pengobatan.7. Dari hasil skrining darah di PMI terhadap virus HIV selama tahun 2007 telah diperiksa darah donor sejumlah 47. 436 kasus (79.2. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada Tahun 2007 ada kegiatan PPT ( Periodic Presumtive Treatment) yang dilaksanakan di semua klinik IMS di Kota Semarang.

Surveilans Acute Flaccid Paralysis (SAFP) Untuk membebaskan Indonesia dari penyakit polio.674 17.953 41. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. 10. Rumah Sakit (Rawat Inap) Demam Berdarah Dengue Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu Demam tifoid dan paratifoid Diabetes mellitus YTT Pneumonia Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Peny. System kemih lainnya Katarak dan gangguan lensa lainnya Cedera intracranial Hipertensi esensial Jumlah 733 727 589 195 133 116 116 114 110 107 Puskesmas Infeksi akut saluran nafas Faringitis Influensa Hipertensi esensial Diare Peny.368 22. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : 1. Melakukan pelacakan terhadap anak usia Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . 9. Pulpa Peripikal Gastritis Osteoporosis Gangguan otot lainnya Nyeri kepala dan Jar. 6. lain pada Jumlah 181. Surveilans AFP pada hakekatnya adalah pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh).2.113 Sumber data : Laporan SP3 dan SP2RS IV. 4. 3.993 34.1. 8.363 28. pemberian imunisasi massal pada anak balita melalui PIN (Pekan Imunisasi Nasional) dan Surveilans AFP.31 tinggi saja tetapi juga sudah mengenai masyarakat umum.953 15.8. 7. maka pemerintah telah melaksanakan program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio secara rutin.972 22.304 27. 5. Berikut ini data 10 besar penyakit yang ada di Kota Semarang pada tahun 2007 berdasarkan laporan dari Puskesmas dan Rumah Sakit: Tabel 6 : Data 10 Besar Penyakit di RS dan Puskesmas Tahun 2007 No 1. 2.456 20. Namun demikian darah tersebut sudah langsung dimusnahkan sehingga semua pasien yang akan menerima darah donor bebas dari virus HIV.

Mengirim laboratorium Farma dengan pengemasan khusus/baku 4. Hasil pemeriksaan spesimen virologis dalamnya 5. sebanyak selang II > 24 jam 3.sama atau kurang dari 15 tahun yang mengalami kelumpuhan layuh mendadak hari) menentukan diagnosa awal 2. Pemeriksaan klinis akhir sejak ditentukan pada 60 tinja adanya akan menjadi bukti virus polio liar di kedua Bio specimen tinja ke Bandung 2 kali waktu pengambilan I dan . Mengambil spesimen penderita tinja tidak (<14 dan lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. Diagnosa hari kelumpuhan.

kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal sel-sel tubuh. Diabetes Mellitus (Kencing Manis). 2 praktek swasta. Gangguan mental. kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 10. meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 8 kasus. Kanker Bronkus dan Paru 256 kasus. Diabetes Mellitus. Sumber penemuam kasus AFP ditemukan pada 7 Rumah Sakit. dan lain-lain. Penyakit yang tergolong dalam penyakit tidak menular (degeneratif) yaitu : Neoplasma (Kanker).000 penduduk ). 1-4 thn sebanyak 5 kasus sehingga untuk tahun 2007 diperoleh AFP rate sebesar 2. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2002.537 kasus. Kecenderungan transisi ini dipengaruhi oleh adanya berubahnya gaya hidup. urbanisasi dan globalisasi. Neoplasma (Kanker). 2 dari masyarakat.000 ( target ≥ 2/100.1. Kencing manis adalah Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .844 kasus. Kanker Serviks 4.75 per 100.3. terdiri dari Kanker Payudara 4. terbanyak pada golongan umur 5 -15 thn sebanyak 6 kasus. Pada tahun 2007 di Kota Semarang berdasarkan laporan program yang berasal dari Rumah Sakit dan Puskesmas. PENYAKIT TIDAK MENULAR Saat ini di negara berkembang telah terjadi pergeseran penyebab kematian utama yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. kanker merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan stroke.171. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Kanker Hati dan Empedu 434 kasus.33 ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan adanya kelumpuhan tidak Kasus AFP yang ditemukan di Kota Semarang tahun 2007 sebanyak 11 kasus. atau IV.

Meningitis ( 1 kejadian) dan Campak (1 kejadian). AMI 2. Asma bronkiale IV. Diabetes insulin 3.1.129 kasus. Hipertensi 2. Pada tahun 2007 di Kota Semarang kasus Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah terdiri dari Angina Pektoris 3.suatu keadaan dimana terjadi kelebihan kadar gula darah (glukosa) dalam darah. Stroke Hemoragik 5. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Hipertensi Esensial 54. Dari 177 kelurahan yang ada di Kota Semarang terdapat 25 kelurahan yang terkena kejadian luar biasa (KLB). Dari kasus KLB yang ada.807 kasus. merupakan penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung dan urat-urat darah. Data laporan program tahun 2007 untuk kasus Diabetes Mellitus adalah sebanyak 50.088 kasus. misalnya : Angina Pektoris. Kencing manis dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kegemukan. Kejadian Luar Biasa Dilaporkan pada tahun 2007 di Kota Semarang terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak 33 kejadian yaitu : Difteri (26 kejadian). makan makanan yang berlebihan.958 kasus. Hipertensi dan Stroke. terdiri atas 4. penyakit infeksi atau juga dapat disebabkan oleh faktor keturunan yang mengganggu hormon insulin.084 Diabetes tergantung insulin dan 46.063 kasus Diabetes non insulin.4. Keracunan Makanan (5 kejadian). terjadi kematian akibat KLB Difteri (1 orang). Kasus-kasus penyakit jantung dan pembuluh darah banyak yang menyebabkan terjadinya kematian. Dari jumlah tersebut seluruhnya (100%) telah dilakukan kegiatan penanganan/penanggulangan dengan cepat mellitus non . Hipertensi lain 4.780 kasus dan Stroke Hemoragik 2. Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 31. Acute Myocard Infark (AMI). Menurut data pendukung yang ada. angka kematian karena penyakit tidak menular tahun 2007 meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Urutan lima besar penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian yaitu : 1.

82%) dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak 74.775 anak (80.17%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 897 anak (0. keadaan sosial ekonomi dan kejadian penyakit. Hasil Pemantauan Status Gizi di Kota Semarang dari Tahun 2005 – Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 7 : Perkembangan Status Gizi Balita Tahun 2005 – 2007 Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Kurang gizi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat yang kurang.5.1. Keadaan Gizi IV. IV. Sedangkan jumlah Balita yang datang dan ditimbang (D) di posyandu dari seluruh balita yang ada 115. perawatan serta pengobatan baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit dengan bantuan dana program Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) dan APBD II.5. Dari seluruh kasus gizi buruk tersebut juga telah dilakukan intervensi khususnya upaya perbaikan gizi masyarakat dalam bentuk kegiatan pemberian PMT pemulihan selama 180 hari. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 133 bayi (0.746 bayi dan jumlah Balita yang ada (S) sebesar 115.400 anak (S) yaitu sejumlah 93.1. Pada tahun 2007 di Kota Semarang menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 24.1 Status Gizi Bayi dan Balita Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di posyandu. Permasalahan gizi yang masih tetap ada dan jumlah cenderung bertambah adalah masalah gizi kurang dan gizi buruk.400 anak.272 anak (80.53%). Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2007 yaitu sebanyak 137 bayi (0.96%).55%). Sedangkan untuk kasus gizi buruk ditemukan sebanyak 30 kasus.35 dalam waktu kurang dari 24 jam (data selengkapnya pada tabel 30).

pemberian ASI perlu diberikan secara ekslusif sampai umur 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun.44%). Terdapat beberapa hal yang menghambat pemberian ASI Ekslusif diantaranya adalah : rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat dan cara menyusui yang benar.99 IV. ASI Ekslusif ASI (Air Susu Ibu) merupakan salah satu makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal.1. Oleh sebab itu .30 2007 1. Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih 0. pemberian ASI Ekslusif mengalami penurunan dari tahun 2006 40.58 3. 4.97 3. kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan. 3.98 1.09 85.19 79.68 15.129 bayi ) yang hanya mencapai 4. faktor sosial budaya. Untuk itu tingkat pencapaian dalam program ASI Ekslusif ini harus mendapatkan perhatian khusus dan memerlukan pemikiran dalam mencari upaya-upaya terobosan serta tindakan nyata yang harus dilakukan oleh provider di bidang kesehatan dan semua komponen masyarakat dalam rangka penyampaian informasi maupun sosialisasi guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Selama ini pemantauan tingkat pencapaian ASI Ekslusif dilakukan melalui laporan puskesmas yang diperoleh dari hasil wawancara pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas. Berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2007. .00 80. kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja dan gencarnya pemasaran susu formula.281 bayi (38.73 14. 2.94 11.56 1. Jumlah ini masih belum memenuhi target yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu 80%.5. Walaupun demikian masih terdapat kendala dalam pemantauan pemberian ASI Ekslusif karena belum ada sistem yang dapat diandalkan.2.07% (9.No Status Gizi 2005 Prevalensi (kasus) 2006 1.

Dalam rangka merubah perilaku masyarakat kepada perilaku yang sehat. Namun demikian tanggapan positif dari masyarakat belum dibarengi dengan meningkatnya mutu pelayanan karena masih banyak faktor yang menyebabkan mutu pelayanan posyandu masih rendah antara lain : Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki masih sangat rendah.1.97%) sehingga jumlah total posyandu yang tergolong purnama dan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Saat ini Posyandu yang ada di Kota Semarang berjumlah 1.59%).67%. Dalam kegiatan PHBS terdiri dari beberapa sasaran kegiatan yaitu PHBS tatanan institusi. IV. Posyandu Purnama dan Mandiri Salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang turut mendukung pelaksanaan program kesehatan di masyarakat adalah pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang dilaksanakan oleh para kader yang berasal dari masyarakat dengan pembinaan dari tenaga kesehatan di puskesmas. dimana tatanan daya rumah ungkit tangga paling dianggap besar merupakan tatanan yang mempunyai terhadap perubahan perilaku IV. banyak kader posyandu yang droup out. PERILAKU MASYARAKAT Menurut teori HL Blum salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah faktor perilaku. tempat-tempat umum dan rumah tangga.2.2.65%) dan 307 Posyandu mandiri (20. Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat secara umum.2. terdiri dari 639 posyandu purnama (43.083 RT (75%) strata paripurna 4. Dalam perkembangannya ternyata posyandu mendapat tanggapan positif dari masyarakat.725 RT (5. terdiri dari strata utama 63. sarana dan prasarana yang belum memadai.464 buah.480 rumah tangga yang diperiksa diperoleh hasil yaitu Rumah Tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat sebanyak 68. maka telah dilaksanakan kegiatan pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Pada tahun 2007 di Kota Semarang dari sampling 84. Dengan mewujudkan perilaku yang sehat diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan suatu penyakit dan angka kematian ibu dan anak akibat terlambatnya/kurangnya kesadaran dalam mengunjungi sarana pelayanan kesehatan.37 IV.2.

dengan perincian : Peserta ASKES Peserta BAPEL Peserta JAMSOSTEK Peserta Dana Sehat : 239. bukan hanya sekedar menyembuhkan penyakit tetapi dituntut untuk aktif berusaha meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah peserta agar tidak jatuh sakit. maka cakupan JPKM di Kota Semarang masih belum memenuhi target. Genuk.2. Dari tabel 47 dapat dilihat bahwa Kecamatan yang banyak memilki Posyandu dengan katagori Mandiri yaitu Semarang Barat sebanyak 44 posyandu (14. terstruktur yang dijamin kesinambungan dan mutunya. Candilama.61%).3 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Salah satu kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat dalam pelayanan kesehatan adalah melalui pelaksanaan program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). dimana pembiayaannya dilaksanakan secara pra-upaya.mandiri adalah 946 posyandu (64.33%) dan masih terdapat 8 (delapan) Puskesmas yang sama sekali tidak memiliki posyandu mandiri diantaranya: Puskesmas Bugangan. IV. JPKM merupakan upaya pemeliharaan kesehatan secara paripurna.482 jiwa (19.972 jiwa (2. dan Sekaran. Gayamsari. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada JPKM bertujuan untuk memelihara kesehatan para peserta.99%) : 65.237 jiwa (5.380 jiwa (1.869 jiwa (20.62%) dari total jumlah penduduk .28%) Apabila dibandingkan dengan target Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan JPKM sebesar 30%.43%) : 15. Gunungpati.92%) : 35. Berdasarkan laporan puskesmas. Lamper Tengah. . Pudak Payung. jumlah penduduk yang tercakup dalam dalam berbagai JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) sebesar 254.

IV.3. Namun demikian pada umumnya yang menjadikan permasalahan utama adalah masih rendahnya jangkauan program. dimana untuk tahun 2007 jumlah masyarakat miskin yang dengan kartu ASKESKIN yang mendapat pelayanan kesehatan mencapai 79.39 IV. Untuk itu pemerintah memberikan bantuan/subsidi untuk pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin atau Maskin. Di Kota Semarang sampai dengan tahun 2007 terdapat masyarakat miskin dan yang memiliki kartu ASKESKIN baru mencapai 175.686 orang (110.579 masyarakat miskin yang ada.73%).69% dibandingkan tahun 2006 ( 70. Hal ini lebih banyak Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . diharapkan secara epidemiologi akan mampu memberikan kontribusi yang bermakna terhadap derajat kesehatan masyarakat.4. Masyarakat miskin yang terlindungi oleh JPK adalah masyarakat miskin yang telah mempunyai kartu sehat atau Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin). Kemampuan setiap penduduk dalam hal ini berbeda-beda dimana dalam kondisi krisis moneter seperti saat ini. Adapun pelaksanaannya bersama-sama dengan masyarakat.99%) dan rawat inap 922 orang (0. PENYEHATAN LINGKUNGAN Upaya penyehatan lingkungan dilaksanakan dengan lebih diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan yaitu melalui kegiatan bersifat promotif. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan Keluarga Miskin dan Masyarakat Rentan terlindungi oleh JPK (subsidi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah) di satu wilayah tertentu.53%).75%) dari 252. Pelayanan Kesehatan pada Keluarga Miskin Salah satu faktor yang menentukan bagi keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan adalah kemudahan di dalam akses terhadap pelayanan kesehatan yang ada.716 jiwa (69. Pemanfaatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (ASKESKIN) oleh masyarakat miskin dalam pelayanan kesehatan meningkat dari tahun sebelumnya. terdapat sebagian besar penduduk yang tidak mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang ada.2. preventif dan protektif. Cakupan pelayanan kesehatan pada maskin berupa kunjungan rawat jalan sebanyak 194.

Salah satu upaya tersebut adalah program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras. ban bekas. dan lain-lain. mengubur.115 buah rumah/bangunan dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes atau sejumlah 86.1 Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. air tandon. Hal ini disebabkan karena keterbatasan alokasi dana. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di wilayah kota Semarang. jumlah rumah yang ada sebanyak 294. IV. kaleng. gentong. waktu. Namun demikian hasil yang didapatkan cukup baik dan sudah memenuhi target yaitu sebanyak 27. Kota Semarang pada tahun 2007. dan menutup) pada tempat-tempat yang potensial sebagai sarang nyamuk baik yang ada di dalam rumah maupun di lingkungan sekitarnya.351 buah. Lingkungan sehat merupakan salah satu pilar utama dalam pencapaian Indonesia Sehat 2010.63%).846 rumah (82.diakibatkan oleh keterbatasan yang sumber daya kesehatan.77%) dari 40. diantaranya adalah bebas dari jentik nyamuk.892 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Arti bebas disini terutama pada bebas jentik nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor dari penyakit demam berdarah dengue (DBD). Nyamuk Aedes aegypti ini hidup dan berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air bersih yang tidak langsung behubungan dengan tanah seperti bak mandi/wc. Tahun 2007 di Kota Semarang terdapat rumah/gedung. Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi beberapa kriteria. adalah Sedangkan partisipasi permasalahan utama dihadapi masyarakat masyarakat terhadap upaya penyehatan lingkungan yang masih sangat rendah.3.70% dari . Dimana dari jumlah tersebut yang dilakukan pemeriksaan mengenai bebas jentik nyamuk Aedes hanya sejumlah 31. dan tenaga guna menjangkau seluruh bangunan yang ada. untuk itu diperlukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular untuk menurunkan resiko penularan dan kejadian sakit. sedangkan kategori rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 33. Oleh karena itu rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas hidup.276 buah (10.

081 buah.169 buah. IV. jumlah diperiksa 50 buah.258 buah atau 81. swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap.00%) Jumlah restoran/rumah makan: 383 buah. jumlah sehat 58 buah (84. jumlah sehat 979 buah (83. Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 menggunakan fasilitas umum tersebut untuk berbagai . jumlah diperiksa 1. IV. Pengawasan sanitasi tempat umum dan pengelolaan makanan (TUPM) di Kota Semarang meliputi hotel.3. Tempat-tempat umum yang sehat berpengaruh cukup besar di masyarakat karena masyarakat kepentingan. Pengawasan sanitasi tempat umum meliputi sarana wisata. Data selengkapnya pada tabel 50.75%) Jumlah tempat . jumlah diperiksa 1.41 rumah/bangunan yang dilakukan pemeriksaan.79%.564 buah. jumlah diperiksa 250 buah. jumlah sehat 30 buah (60.3.tempat umum dan tempat pengelolaan makanan di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 2. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menjadi sarang vektor penyakit yang dapat menimbulkan menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.06%) Jumlah pasar : 51 buah. Jumlah hotel : 83 buah.538 buah dan jumlah yang sehat 1. memiliki fasilitas sanitasi (jamban.2 Tempat – Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan ( TTU dan TUPM) Tempat-tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang disediakan oleh badan – badan pemerintah. tempat pembuangan sampah dan limbah) untuk kebersihan dan kesehatan di lingkungan. sarana ekonomi dan sosial. jumlah sehat 191 buah (76. sarana ibadah. restoran/rumah makan dan pasar.40%) Jumlah TUPM lainnya : 1. sarana transportasi.3. jumlah diperiksa 69 buah.

929 KK yang ada.191 KK telah memenuhi syarat jamban yang sehat (94.61%).IV.21%). Faktor yang turut mendukung pencapaian target tersebut yaitu meningkatnya pembangunan dan pengembangan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan. Secara umum sumber penyediaan air bersih di Kota Semarang ini berasal dari ledeng / PDAM (60. air limbah ).902 KK (92. sampah.936 KK telah memanfaatkan jamban keluarga dan 44. Pada tahun 2007 jumlah KK yang memiliki persediaan air bersih sebanyak 327. IV. kimiawi.66%).15%) dari 49.91 %) dari 352. maka cakupan keluarga yang telah memiliki jamban keluarga sudah memenuhi target tersebut. sumur gali (27. dimana sebagian besar pengelolaan sumber air bersih dilakukan oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Semarang.00%). Selain itu adanya peran serta dan kesadaran sektor swasta penyedia air bersih yang meningkat berkenaan dengan kualitas air bersih.324 KK yang dilakukan pemeriksaan.3. .3. sumur pompa tangan (10. pada tahun 2007 diketahui bahwa 46.6%) maka target tersebut sudah dapat tercapai. Pengelolaan sebuah jamban yang memenuhi syarat kesehatan diperlukan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit.3.1 Persediaan Air Bersih Air bersih memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia karena diperlukan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan hidup manusia. Upaya peningkatan kualitas air bersih akan meningkat apabila diikuti upaya perbaikan sanitasi (sarana pembuangan kotoran manusia.3. Oleh karena itu air bersih harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan (syarat fisik. Apabila dibandingkan dengan target Renstra Kota Semarang ( 92. Berdasarkan laporan puskesmas. dan lainnya (1.94%.2 Jamban Keberadaan jamban keluarga sangat penting dalam sebuah keluarga. dan bakteriologi). Apabila dibandingkan dengan target Rencana Strategik tahun 2007 yaitu 83.

Jumlah ini telah melebihi target yang telah ditentukan dalam renstra 2007 (72.3.43 0000000b000000880000000c000000940000000d000000a000000013000000ac00000002000000e40400001e0000000800000 IV.14%). Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah suatu 4a524a524a524a524a524a524a524a524a524a292500000000ff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7f0000ff7 a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a00002f3194419545944195419441 bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan kamar mandi.3.3. SPAL yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : • • • • Tidak mencemari sumber air bersih (jarak dengan sumber air bersih minimal 10 meter Tidak menimbulkan genangan air yang dapat dipergunakan sarang nyamuk (diberi tutup yang cukup rapat) Tidak menimbulkan bau (diberi tutup yang cukup rapat) Tidak menimbulkan becek atau pandangan yang tidak menyenangkan (tidak bocor sampai meluap) Pengelolaan limbah di rumah tangga yang diperiksa pada tahun 2007 sebanyak 46.3 Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga 000000017352474200aece1ce90000000467414d410000b18f0bfc6105000000206348524d00007a26000080840000fa0000008 d9fd5ce6ce03af218d5c8708771e6968887b488707978ead2ee761eea698dda26699420ba3769902b78198b66aaf9aae03f078e0 Dalam upaya mendukung terwujudnya kualitas lingkungan yang sehat 000000ffffff000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000003fffffffffffffffffffffff diperlukan pengelolaan air limbah yang sesuai standar dan memenuhi fffffffffffffffffffffffffffffffffff800001ffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff000000fffffffffffffffffffffffffffffff syarat kesehatan.487 KK (88.93%).649 KK dan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 41. untuk IV.3. dapur dan lain-lain bukan dari jamban atau peturasan.4 Pembinaan Kesehatan Lingkungan pada Institusi Lingkungan merupakan salah faktor yang dapat berperan dalam peningkatan derajat kesehatan. 6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f66f84d000095459441954194419545944195416510bf7fb tempat cuci. Oleh karena itu upaya pembinaan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .

Apabila dibandingkan dengan target pada renstra tahun 2007 yaitu 77%.82%. Cakupan Pelayanan Kesehatan .000 penduduk Untuk cakupan rawat jalan di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu sebesar 42. Pada tahun 2007 di Kota Semarang jumlah penduduk yang memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas sebanyak 18. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 867 tempat atau 95. maka pembinaan pada institusi telah memenuhi target tersebut (pencapaian 85. juga dilaksanakan pada beberapa institusi/sarana seperti: sarana kesehatan sejumlah 386 tempat.1. Sedangkan untuk cakupan rawat inap (kunjungan pasien baru) di sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2007 yaitu sebesar 10. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 308 tempat atau 79. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 162 tempat atau 87.4.kesehatan lingkungan selain dilakukan pada rumah tangga dan tempattempat umum.277 per 100. Jawa Tengah Tahun 2005 yaitu 1% untuk kunjungan rawat inap di sarana kesehatan (Puskemas dan Rumah Sakit).4. perkantoran sejumlah 186 tempat. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 670 tempat atau 74. Cakupan ini sudah memenuhi target SPM Tahun 2005 sebesar 10%. sarana ibadah sejumlah 896 tempat. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Cakupan pelayanan kesehatan oleh penduduk dapat diperoleh dari data kunjungan rawat jalan dan rawat inap Puskesmas maupun Rumah Sakit.38%.387 per 100.000 penduduk dan rawat inap 10.437 per 100. Peningkatan pencapaian cakupan ini didukung dengan adanya penambahan jumlah tenaga medis dan paramedis di sarana IV.000 penduduk.000 penduduk. sedangkan untuk rawat inap Puskesmas yaitu sebesar 296 per 100. dan yang telah dibina sebanyak 167 tempat atau 71. Dan sarana lain sejumlah 234 tempat. dimana jumlah ini sudah melampaui target SPM Prop. IV.79%.57%.83%). sarana pendidikan sejumlah 909 tempat.36%. Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit yaitu sebanyak 24.09%.77%.

43).45 kesehatan. c. standar yang ideal untuk suatu Rumah Sakit adalah antara 70% s. Pencapaian LOS RS tahun 2007 mencapai 6.1 menurun dari Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Manfaat Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR ) adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur Rumah Sakit. Manfaat LOS adalah untuk mengukur efisiensi pelayanan Rumah Sakit.39%. dan untuk mengukur mutu pelayanan Rumah Sakit. Prosentase BOR yang digunakan pada penderita Rawat Inap di Rumah Sakit se. biaya yang terjangkau dalam pelayanan kesehatan (baik rawat jalan maupun rawat inap) yang disertai juga dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk data pemanfaatan Rumah Sakit di Kota Semarang dapat dilihat dari beberapa indikator kinerja Rumah Sakit yang meliputi : a. Bed Occupation Rate (BOR).d 80%. Apabila dibandingkan dengan BOR tahun 2006 sebesar 61. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tempat tidur pada Rumah Sakit di Kota Semarang telah dimanfaatkan secara optimal. Turn of Interval (TOI) adalah rata-rata tempat tidur tidak ditempati dengan standar ideal antara 1 – 3 hari. b. Length Of Stay ( LOS) adalah rata-rata dalam 1 (satu) tempat tidur dihuni oleh 1 (satu) penderita rawat inap yang dihitung dalam hari dengan standar ideal antara 6 – 9 hari. maka terdapat peningkatan penggunaan tempat tidur di RS. dimana angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2006 (LOS = 5.434 buah. TOI untuk Kota Semarang pada tahun 2006 sebesar 2. Cakupan pencapaian tersebut dapat diartikan bahwa penggunaan tempat tidur di RS di Kota Semarang sudah memenuhi standar ideal. RS yang nilai LOS 1-5 hari sebanyak 14 RS.3. dimana angka ini sudah dapat mencapai standar yang ideal untuk Rumah Sakit. 2 RS dengan LOS lebih dari 10 hari dan 3 RS tidak melaporkan data tersebut.10% dengan jumlah tempat tidur sebanyak sebesar sebanyak 3.Kota Semarang pada tahun 2007 mencapai 75.

00 menurun dari tahun 2006 yaitu 2. pemberian tablet besi. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak IV.2. Pencapaian NDR di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 2.42 namun angka ini masih dalam batas standar ideal yang ditetapkan.5 menurun dari tahun 2006 yang mencapai 3. NDR yang masih dapat ditolerir adalah kurang dari 25 per 1000 penderita keluar.18. Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan atau antenatal care (ANC) meliputi penimbangan berat badan. IV. namun demikian secara keseluruhan pelayanan rumah sakit di Kota Semarang telah tergolong baik.73. Pelayanan Kesehatan Antenatal Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil K1 untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi sekali pada triwulan pertama. Gross Death Rate (GDR). pemberian imunisasi TT dan konsultasi. Manfaat GDR (Gross Death Rate) untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit.1. Angka ini bisa untuk menilai mutu pelayanan jika angka kematian kurang dari 48 jam rendah.4. d. Hal ini dapat menggambarkan bahwa pemakaian tempat tidur di Rumah Sakit sudah optimal.2. manfaat NDR adalah untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit. GDR Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 3. pemeriksaan kehamilannya.04%) dimana pencapaian ini juga telah . adalah angka kematian untuk tiaptiap 1000 penderita keluar maksimum adalah 45. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2007 adalah 24. e.4. Semakin rendah NDR suatu Rumah Sakit. Neath Death Rate (NDR).tahun 2006 yaitu 3. sekali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga. berarti bahwa mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit makin baik.274 bumil (89.

Keberhasilan pencapaian target tersebut dapat disebabkan oleh adanya persediaan tablet Fe yang mencukupi kebutuhan dan juga pelaksanaan kegiatan melalui koordinasi dan kerjasama dengan lintas program dan sektor terkait. Pada tahun 2007 cakupan pemberian tablet (Fe)1 sebanyak 28.436 bumil (19. Untuk itu diperlukan adanya upaya pencegahan dan penanganan terhadap permasalahan tersebut. Anemi (kekurangan zat gizi besi) pada ibu hamil merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kematian pada ibu melahirkan dan kematian bayi karena terjadinya perdarahan pada waktu melahirkan.99%). Secara keseluruhan angka tersebut telah memenuhi target yang telah ditentukan.069 bumil (102.47 melampaui target yang ditetapkan dalam Renstra Tahun 2007 yaitu 86%. yaitu untuk tablet Fe1 90% dan tablet Fe3 82%. Hal ini menunjukkan bahwa penjaringan pertama pada ibu hamil sudah dapat dilaksanakan sesuai target namun untuk penjaringan selanjutnya (Fe)3 90 tablet tidak dapat mencakup jumlah tersebut. Namun angka ini masih dibawah target Renstra Kota Semarang tahun 2007 sebesar 25%. Pencapaian melebihi target dikarenakan mobilitas penduduk di Kota Semarang yang cukup tinggi sehingga banyak penduduk luar wilayah yang menggunakan pelayanan kesehatan yang ada di wilayah tersebut.08%) dengan yang tertinggi Puskesmas Bulu Lor (105.543 bumil yang diperiksa. maka pencapaian K4 di Kota Semarang sudah melampaui target tersebut. Oleh karena itu pemberian TT merupakan keharusan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Faktor pendukung dalam hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya kesadaran ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke sarana pelayanan kesehatan yang ada dan adanya dukungan peningkatan kualitas pelayanan ANC oleh petugas puskesmas. Kasus anemia ibu hamil di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu sebanyak 1. Dalam pelayanan ibu hamil (antenatal) baik pada K1 maupun K4 ibu hamil selain diberikan tablet Fe juga diberikan imunisasi TT sebagai upaya perlindungan ibu dan bayinya dari kemungkinan terjadinya Tetanus pada waktu persalinan. salah satunya melalui pemberian tablet besi (Fe)1 dan tablet besi (Fe)3.240 bumil (88. Bila dibandingkan dengan target SPM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005 sebesar 78%.96%) dan cakupan untuk tablet (Fe)3 sebanyak 24. Cakupan K4 Puskesmas dari rentang antara yang terendah Puskesmas Mangkang (43.04%) dari 7.91%).

090 bumil (71. Pemberian imunisasi TT pada Bumil mencakup TT1 sebesar 20.926 (6.021 kelahiran. Hal ini disebabkan pemberian imunisasi TT pada Bumil dan juga pada Wanita Usia Subur (WUS) lebih diarahkan pada pemberian TT 5 dosis. bidan.14%) dari jumlah perkiraan persalinan sebesar 26. Sedangkan untuk cakupan TT bagi Wanita Usia Subur (WUS) usia 15-39 tahun sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu TT1 2.00%. dan perawat bidan) maupun dengan dukun terlatih yang didampingi oleh tenaga kesehatan.55%). Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Upaya untuk menurunkan Angka Kematian Bayi dan Ibu Maternal.96%). imunisasi TT4 sebanyak 1.108 bumil (3.189 bumil (65. IV. TT2 1. Secara keseluruhan cakupan TT1 – TT5 WUS Tahun 2007 mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun sebelumnya. akan tetapi untuk TT3 – TT5 untuk Tahun 2007 terdapat peningkatan dari Tahun 2006 ( TT3 – TT5 masing-masing 3% .86%). TT3 309 orang (1.155 (85. IV.3% . telah mencapai target yaitu 65%.4.37%) dari 27.92%) dan TT5 384 orang (1.98%) dan imunisasi TT5 hanya mencapai 1.06%).2. Pencapaian ini didukung dengan tersedianya Bidan di seluruh Puskesmas dengan perbandingan Puskesmas dan Bidan yaitu 1 : 4.958 WUS yang ada.11%). Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22. Disamping itu jumlah Rumah Sakit dan Rumah Bersalin di Kota Semarang yang telah mencukupi.53%).pada setiap ibu hamil.3 Ibu Hamil Resiko Tinggi dan Komplikasi . salah satunya melalui persalinan yang sehat dan aman.4.943 orang (10. TT4 256 orang (0.543 bumil. imunisasi TT3 sebanyak 2.552 orang (5.2.2%). masih belum memenuhi target yang ditentukan yaitu 95%. imunisasi TT2 sebesar 18. pembantu bidan. Angka ini sudah dapat memenuhi target Renstra yang telah ditentukan sebesar 86. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa untuk pelayanan imunisasi TT1 – TT2 pada Bumil di Tahun 2007 terjadi penurunan (Tahun 2006 TT1 – TT2 masing-masing 92% dan 85%).2. yaitu persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter spesialis kebidanan. dokter umum.

misalnya umur.2. dan 820 ibu hamil risti yang dirujuk (32. Salah satu dampak kekurangan Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadai pada anak usia 6 bulan – 59 bulan yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. Pada tahun 2007 ibu hamil risiko tinggi/ komplikasi yang ditemukan di Kota Semarang sebesar 3. sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak. dimana seharusnya bumil risiko tinggi seluruhnya dirujuk. maka cakupan untuk ibu hamil risti yang dirujuk masih belum terpenuhi sesuai target.29%). paritas.366 orang dan bumil risti/ komplikasi yang dirujuk yaitu sebanyak 885 orang (26. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anakterhadap penyakit infeksi.19%).4. IV. buta senja. interval dan tinggi badan.4. Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali per tahun pada Balita dan Ibu Nifas (Bufas)untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan.49 Yang dimaksud dengan risiko tinggi pada ibu hamil adalah keadaan ibu hamil yang mengancam kehidupannya maupun janinnya. dan bahkan kebutaan sampai kematian). Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yaitu ibu hamil risti / komplikasi yang ditemukan mencapai 2. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor seperti : Adanya bumil risiko tinggi yang langsung ditangani di rumah sakit sehingga tidak tercatat di puskesmas. Bumil risiko tinggi dengan katagori ringan ditangani sendiri oleh puskesmas. Prosentase sasaran ibu hamil risiko tinggi adalah 20% dari ibu hamil yang ada di masyarakat. Pemberian Vitamin A Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk seluruhnya (100%) telah mendapatkan penanganan. Berdasarkan data yang ada. Apabila dibandingkan dengan target Renstra tahun 2007 (100%).547 orang.

sebesar 23.76%). diketahui bahwa cakupan pemberian suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebanyak 28.79% (Puskesmas Karanganyar) dengan rentang tertinggi 123. bayi.5.125 anak (94.000 SI yang diberikan pada bayi berumur 6 – 11 bulan dan kapsul Vitamin A berwarna merah diberikan pada anak umur 12 – 59 bulan dan diberikan pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya. Cakupan kunjungan neonatus dengan rentang antara yang terendah 65. peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan anak (neonatus.89%) dimana jumlah ini .40%). paling sedikit 4 kali. Keberhasilan pencapaian ini disebabkan : meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan neonatus.600 anak (100%) serta Bufas 25.4. Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul Vitamin A biru dengan dosis 100. maka angka ini sudah melebihi target tersebut. Kunjungan Bayi (1 .634 bayi (100%). Cakupan tersebut seluruhnya sudah memenuhi target Renstra Kota Semarang Tahun 2007 yaitu cakupan Vitamin A untuk bayi dan balita sebesar 92% dan untuk Bufas sebesar 84%.2.178 orang (96.54%). balita) di Puskesmas. b. Balita sebanyak 93.12 bulan) Kunjungan bayi adalah kunjungan bayi (1 – 12 bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. dan adanya pemeriksaan kunjungan ke rumah oleh tenaga kesehatan bagi neonatus yang tidak dapat berkunjung ke puskesmas serta sistem pencatatan dan pelaporan (PWS KIA) yang sudah berjalan dengan baik. Apabila dibandingkan dengan target Renstra Tahun 2007 yaitu 87%. dimana jumlah ini meningkat apabila Cakupan kunjungan neonatus tingkat Kota Semarang tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2006 sebanyak 23. Bayi dan Balita a.643 Kunjungan Neonatus (0 – 28 hari) (95.adalah bayi berumur 6 – 11 bulan dan anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul Vitamin A dosis tinggi.18% (Puskesmas Mangkang). Pelayanan Kesehatan Neonatal. IV. Hasil cakupan kunjungan bayi di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22.987 (92. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas.

91%. IV. penanganan masalah pertumbuhan. c. Pada tahun 2007 ditemukan 14 (empat belas) Puskesmas dengan cakupan kunjungan bayi sama dengan atau lebih dari 100% (data terlampir pada tabel 15). motorik halus.487 bayi (95. pelayanan rujukan ke tingkat yang lebih mampu.4.87%) namun cakupan ini sudah memenuhi target Renstra Kota Semarang Tahun 2007 sebesar 87%.3.51 mengalami penurunan dari tahun 2006 yaitu 23. stimulasi perkembangan anak balita dan prasekolah. monitoring pertumbuhan menggunakan Buku KIA/KMS dan pemantauan perkembangan (motorik kasar. Hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah di tingkat Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu 68. penanganan penyakit sesuai MTBS. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Pra Sekolah Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah adalah anak umur 1 – 6 tahun yang dideteksi dini tumbuh kembang sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. Cakupan yang melebihi jumlah sasaran bayi (≥100%) dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pada saat penentuan jumlah sasaran melalui kegiatan pemantauan wilayah setempat (PWS) KIA belum mencakup jumlah seluruh bayi yang ada di wilayah tersebut atau karena penentuan target sasaran bayi terlalu rendah. kematian dan kecacatan bayi serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti penyakit Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . maka cakupan DDTK anak balita dan prasekolah di Kota Semarang sudah mencapai target tersebut. Data secara terperinci dapat dilihat pada tabel 18. Apabila dibandingkan dengan target Rencana Strategik Tahun 2007 (68%). paling sedikit 2 kali. Pelayanan Imunisasi Untuk menurunkan angka kesakitan. Pelayanan DDTK anak balita dan prasekolah meliputi kegiatan deteksi dini masalah kesehatan anak menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). bahasa dan sosialisasi dan kemandirian). dan target SPM Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005 yaitu sebesar 65%.

jumlah ini meningkat dari Tahun 2006 yaitu 136 kelurahan (76. Cakupan bayi yang diimunisasi DPT3 pada tahun 2007 sebesar 23.53%) dari 177 kelurahan yang ada. Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata dapat dilihat dari pencapaian Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan. 1212121212121212121b1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1d2a2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2 50e0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a06010100000001310d08080808080808080808080808080808080707 Untuk menilai kelengkapan imunisasi dasar bagi bayi. Hepatitis B. Selain itu angka ini juga telah memenuhi target Renstra Kota Semarang Tahun 2007 sebesar 78%. Tetanus. Program imunisasi dapat berjalan secara efektif dan memberikan dampak penurunan kejadian penyakit apabila kelengkapan imunisasi telah terlaksana dan mutu pelayanan imunisasi diterapkan sesuai standar.00700000001000000400000000400000048000000080000005800000012000000680000000c000000800000000d0000008c0 c86a2765a54388d8d944b989a7f6ed721b0162b8e313ea3a7f252fe5f5456ddcf34eac6aec4b0c44d0f4970ac4ed3e75938432a16 fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffe00007ffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffe00007fffffffffffffffffffff TBC.04%) dan bayi yang telah memperoleh imunisasi campak sebesar 23. Pertusis.37%). Polio dan campak. DPT 3 424242424043232323232323232323232323232323232323232323232323232001c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1 kali. Difteri.63%.412 bayi. Angka Drop Out (DO) imunisasi dasar lengkap di Kota Semarang Tahun 2007 sebesar 7.864 anak (86. Dari data tersebut maka cakupan imunisasi di Kota Semarang pada bayi telah dilaksanakan secara lengkap dan memenuhi target yang ada.59%) dari sasaran sejumlah 25. Idealnya c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c282b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2a2d38343434343434343434343434343 bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG 1 kali. polio 4 dan Campak ≥ 80% sebanyak 139 kelurahan (78. menurun dari Tahun 2006 yang mencapai 8. Tahun 2007 jumlah desa/kelurahan yang sudah mencapai UCI dengan kriteria cakupan DPT 3.472 anak (92. Untuk mengukur manajemen program / efisiensi program menggunakan angka drop out dengan menghitung selisih cakupan imunisasi DPT1 dengan cakupan imunisasi Campak. dan angka ini masih belum melampaui batas maksimal DO yaitu 10%. biasanya 424240e0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a001c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c dilihat dari cakupan imunisasi DPT3. Polio 4 kali. terutama dalam penangan col chain. Polio 4 dan Campak ≥ 80%.274 (91. .80%).73. HB 3 kali dan campak 1 kali. Polio 4 sebanyak 21.

Keaktifan petugas puskesmas dalam melakukan pembinaan dan pelayanan di dalam dan luar gedung terhadap kelompok usia lanjut turut mendukung pencapaian indikator tersebut. IV.607 siswa (97. IV.214 siswa (97. kelas III 23.4 Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut (Usila) dan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan pra usila dan usila yang dimaksudkan adalah penduduk usia 45 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan baik di puskesmas maupun di Posyandu Kelompok Usia Lanjut.27%).5 Keluarga Berencana Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Apabila dibandingkan dengan target SPM Tahun 2005 (20%) dan Renstra Tahun 2007 (55%) maka cakupan pelayanan kesehatan pada Pra Usila dan Usila di Kota Semarang sudah bisa melampaui target tersebut. BIAS Campak dilaksanakan pada bulan Agustus dengan sasaran siswa kelas I dengan hasil sebanyak 26.841 siswa (97.82%).85%) dimana seluruhnya juga telah memenuhi target yang ditentukan sebesar 95%. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan seperti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).551 (97%) telah memenuhi target minimal yaitu 85%.4.53 Selain imunisasi rutin. Hasil pelaksanaan BIAS tahun 2007 di Kota Semarang meliputi BIAS Campak dan BIAS DT dan TT. BIAS DT dan TT dilaksanakan pada bulan Nopember dengan sasaran siswa kelas I divaksinasi DT dan kelas II dan III divaksinasi TT.037 orang.840 orang (80. dengan hasil : kelas I 26.02%).25) terdiri atas pra usila (45 – 59 thn) sebanyak 40.4.803 orang dan Usila (≥ 60 thn) sebanyak 29.381 (66. kelas II 25. Hasil kegiatan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 69. jumlah ini meningkat dari tahun 2006 sebanyak 32.

93%).Suntik . secara rinci mix kontrasepsi yang digunakan adalah sebagai berikut : . Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) Pada tahun 2007.69% : 5.92% : 20.309 (77.43% 3.30000000a40000000700000001000000400000000400000048000000080000005c000000120000006c0000000c00000084000 b38e404a4bee09520bfb6b5fda4647ea5ed3734ac9010198ba3acf33288f1efd44972f4753e94a9d663219c9ea202b03ad15e44c3 495859a96e6f6f7071727395969798999a4343434200010101015678797a7b9b9c9d9e9fa0a1a2a3a4a5a6a7a88a8bad8d8e7d8 000024000000180000000000803f00000000000000000000803f0000000000000000214007000c000000000000002b4000000 3d930000000a40000000700000001000000400000000400000048000000080000005c000000120000006c0000000c00000084 0880400000000000000c01e46020000000000000002000000000000000000803f0210c0db00000000000000ff08400c032c000 de4b4391548a8fcd209129c8dcea5645e32a26eae50ac1e8f6b45a7722d5fad38ca02240993490cc8a9166756ae478594f7d08a9 00000000000003e22803f11ea564491d220440400000023000000200000008e12803f00000000000000003e22803f11ea56449 Salah satu program pemerintah dalam upaya mengendalikan jumlah 10101010101010101010001b50100010101010101010101b65a5b6768696a6b6c6d8182838485868788898a8b8ca3a4a5a6a7 001000000180000000c000000000000025400000058000000d60100008702000003020000b50200000200000000000000000 0000000000001e4006000c00000000000000214005000c00000000000000344000000c000000000000001e4005000c0000000 kelahiran dan mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan sejahtera yaitu 0442a40000024000000180000000000803f00000000000000000000803fab95f64200f820442b4000000c000000000000001e4 0000e0010000454d462b2b4000000c000000000000001e4006000c00000000000000214005000c0000000000000034400000 melalui konsep pengaturan jarak kelahiran dengan program Keluarga 000000000000000803fe8793c443cbe40440400000023000000200000000000803f00000000000000000000803fe8793c443cb Berencana (KB).Suntik .Implant .IUD .33% : 5.309 (77.MOP/MOW : 61.Pil .Pil .194.13% : 12.Implant .43%) 2.48% : 7. Yang menjadi peserta KB baru sebanyak 33.39% : 3. Sedang jumlah peserta KB aktif yang telah dibina sebesar 188. pemakaian kontrasepsi suntik merupakan yang tertinggi karena sifatnya yang praktis dan juga cepat dalam mendapatkan pelayanannya. Peserta KB Baru Dari 33.Kondom .Kondom .82% : 5.874 (13.IUD .43%) dengan mix kontrasepsi sebagai berikut : .MOP/MOW : 42. sedangkan kontrasepsi pria merupakan yang paling sedikit digunakan yaitu kondom dan MOP. jumlah PUS yang ada sebanyak 243. Hal ini disebabkan banyak suami .06% : 6.09% Dari keseluruhan peserta KB baru selama tahun 2007.93%). Apabila dibandingkan dengan data tahun 2006. kontrasepsi suntik masih menduduki peringkat teratas. 5000c0000000000000008400204280000001c0000000210c0db0000000000000010000004420000044276e7a344c1b45d4434 000002a40000024000000180000000402013a00000000000000000402013a0000044200000442214007000c0000000000000 1.874 peserta KB Baru (13.16% : 4.33% : 4. Peserta KB Aktif Hasil pembinaan peserta KB Aktif selama tahun 2007 sebesar 188.

02d010c0004000000f0010d0007000000fc0200004d1a33000000040000002d010d0004000000f00106000500000009024d1a3 0000f00106000500000009024d4d80000500000001024d4d80000e00000024030500cc03ed02cc03eb01d103e701d103ea02cc 0012001c0012000b001200120012000900140012001200040000002d01030004000000f0010c001c000000fb02dfff000084038 0611001100040000002d010b00040000002d01080004000000f0010600040000002d010200040000002701ffff030000001e00 0000300000000000000000000000100020003000000000005000500000003000000030000000200000003000000000000000 0000000000080c0d64003020e00040001000000000000008085d14003020e00050000000000000000000044c54003020e000 33100000a00004000100010064100800000001000000010032100400000002003310000007100c00000000000000ffff09004 IV. dimana biasanya pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertahap yaitu berupa pemeriksaan awal bagi calon pekerja. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .4.6 Kesehatan Kerja dan Kesehatan Institusi a. Umumnya pembinaan dan pelayanan kesehatan pada pekerja khususnya pekerja formal dilaksanakan oleh klinik perusahaan atau bekerja sama dengan sarana pelayanan kesehatan yang ada (Puskesmas. Pelayanan Kesehatan Pekerja Pelayanan kesehatan pada pekerja merupakan upaya untuk pemeliharaan kesehatan yang dapat mendukung peningkatan produktivitas pekerja. pemeriksaan berkala dan pemeriksaan pada akhir masa kerja. Hal ini dimaksudkan agar kesehatan pekerja senantiasa terpelihara mulai awal bekerja hingga nanti pada akhir masa kerjanya sehingga dapat terhindar dari resiko penyakit akibat kerja (PAK).55 menganggap bahwa istri saja yang mempunyai kewajiban untuk 0000090000000130000009c00000002000000e40400001e0000000700000053704f6f4b7900001e0000000900000066405241 menggunakan kontrasepsi sebagai upaya pengaturan kelahiran.

838 pekerja (82.196 pekerja formal yang ada).735 kegiatan penyuluhan keseluruhan. maka sektor informal merupakan bagian terbesar dari angkatan kerja. pencegahan dan penanggulangan dan penyalahgunaan NAPZA tahun 2007 sasarannya tidak hanya pada sekolah dan masyarakat saja melainkan juga pada masyarakat umum.530 pekerja yang terdata. 36% . Selama ini mereka hanya memperoleh pelayanan kesehatan secara umum. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 551. Kaitan Narkoba dengan anak sekolah/pelajar dewasa ini semakin meningkat. baru mencapai 375 kegiatan (21. Apabila dibandingkan prosentase jumlah pekerja.14% dari 304. namun belum dikaitkan dengan pekerjaannya. kegiatan penyuluhan. Kondisi ini dapat disebabkan antara lain karena pada sebagian besar puskesmas kegiatan penyuluhan NAPZA yang dilaporkan yang hanya dilaksanakan pada forum resmi dengan sasaran anak sekolah/remaja saja sedangkan yang sifatnya non formal pada masyarakat yang berkunjung di puskesmas belum dilaporkan secara lengkap. P3 NAPZA Berdasarkan data laporan puskesmas. tetapi mereka tetap mendapatkan pelayanan kesehatan dengan cara membayar sendiri ataupun melalui kartu sehat maupun asuransi kesehatan keluarga miskin (Askeskin).Rumah Sakit). b. Sedangkan untuk pekerja sektor informal masih belum banyak mendapatkan perhatian terutama dalam hal pelayanan kesehatan karena umumnya mereka bekerja secara mandiri diluar tanggung jawab suatu perusahaan/instansi.61%) dari 1. dimana 88% pengguna narkoba menggunakan ganja. Jumlah ini diperoleh dari pekerja sektor formal yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas dengan fasilitas asuransi berupa ASKES maupun Jamsostek. Cakupan pelayanan kesehatan pekerja pada industri formal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 240.92%). Walaupun pekerja informal tidak berada dalam tanggung jawab suatu badan/instansi seperti pada pekerja formal.753 orang (79. Apabila dibandingkan dengan target Kota Semarang (20%). Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada pekerja sektor informal dari 665. Cakupan pelayanan NAPZA pada tahun 2007 berupa kegiatan penyuluhan NAPZA oleh tenaga kesehatan. angka ini masih jauh berada di bawah target tersebut.

c.sekolah merupakan tempat yang aman untuk mendapatkan serta mengkonsumsi narkoba. Hepatitis C. dimana Dinas Kesehatan Kota Semarang juga termasuk dalam keanggotaan BNK dan berkoordinasi dengan BNK dalam kegiatan penyuluhan yang bekerja sama dengan tenaga puskesmas dan ibu-ibu PKK. ketajaman mata. Selain itu bentuk dukungan kegiatan lainnya dapat berupa : pentas seni. Penjaringan kesehatan pada anak sekolah meliputi pemeriksaan umum seperti : TB. Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah Pelayanan Kesehatan Anak Sekolah meliputi pemeriksaan kesehatan siswa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan. Selain itu juga perlu adanya dukungan dari lintas sektor di tingkat Provinsi dan Pusat. maka cakupan pelayanan tersebut telah memenuhi target. dikutip dari majalah forum edisi 6 Juli 2005). Penggunaan jarum suntik bersama dan bergiliran berpotensi untuk menularkan penyakit seperti HIV/AIDS. maupun deteksi dini tes urine. Hasil cakupan pelayanan kesehatan pada anak sekolah (siswa TK. paling sedikit 1 kali.729 siswa (97. Data dari pemelitian Country AHRN Indonesia . pendengaran.57 menggunakan jarum suntik (data ILO 2005. BB. Hal ini dapat disebabkan karena partisipasi dari Guru UKS dan kader kesehatan (dokter kecil) sudah jauh lebih baik dalam pelayanan kesehatan di sekolah dan tenaga kesehatan yang ada juga telah berperan secara aktif dalam upaya pembina Usaha Kesehatan Sekolah. SLTP dan SLTA)pada tahun 2007 di Kota Semarang mencapai 99. Selain itu keterlibatan dan kerja sama lintas sektor yang erat antara Dinas Kesehatan dengan Dinas Pendidikan serta Kantor Departemen Agama juga turut mendukung keberhasilan program tersebut.08%). Untuk itu perlu adanya peningkatan kerja sama dan koordinasi dari jajaran instansi terkait. Apabila dibandingkan dengan target SPM tahun 2005 Propinsi Jawa Tengah (75%) dan Renstra tahun 2006 (60%). salah satunya seperti yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama dengan Badan Narkotika Kota (BNK). Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . lomba poster. gigi dan mulut). kulit. Apabila kondisi tersebut tidak segera mendapatkan penanganan yang serius dan berkelanjutan maka jumlah kasus yang ada akan semakin meningkat.

590 dengan rata-rata per bulan sebesar 799 tindakan dan pencabutan gigi .2 Pelayanan Kesehatan Jiwa Selain menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara umum.IV. Pelayanan kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Semarang pada tahun 2007 menunjukkan pencapaian sebesar 0.42%. Apabila dibandingkan dengan target SPM 2005 (40%). 1 RS Jiwa (100%).4.4 Upaya Kesehatan Khusus IV. maka jumlah ini sudah mencapai target tersebut. IV.4. Pelayanan kesehatan jiwa di Kota Semarang pada umumnya telah memenuhi target yang telah ditetapkan.4. hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu : • Peningkatan kemampuan dokter dan tenaga medis dalam • pelayanan kesehatan jiwa dalam bentuk pelatihan dan refreshing Petugas kesehatan telah memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan deteksi dini dari gejala yang menjurus pada gangguan kejiwaan.1 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 62 sarana kesehatan (58.4.06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%).4.4. sarana kesehatan yang ada juga memberikan pelayanan terhadap kesehatan jiwa. 9 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29.4. Target Renstra untuk pelayanan kesehatan jiwa pada tahun 2007 yaitu 0. • • Perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi program kesehatan jiwa Adanya klinik kesehatan jiwa di sarana kesehatan (Rumah Sakit Umum) IV.73%).4% dari kunjungan kasus di sarana kesehatan.3 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di puskesmas pada tahun 2007 yaitu tumpatan gigi tetap sebanyak 9. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 29.

59 tetap sebanyak 10. peningkatan kemampuan tenaga kesehatan serta peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan yang ada.94.489 (92. yaitu :  Belum adanya program upaya pelayanan kesehatan di Dinas Kesehatan yang menangani secara langsung bidang/ unit tansfusi darah.63%. IV.   Rumah sakit yang memiliki Bank Darah Rumah Sakit masih terbatas Partisipasi masyarakat sebagai pendonor masih relatif terbatas sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan darah yang ada. dengan rasio untuk tambal dibandingkan pencabutan gigi sebesar 0.4 Pelayanan Transfusi Darah Target SPM Prop.317 siswa (26. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 88. namun angka tersebut juga belum memenuhi target yang telah ditetapkan. Untuk itu perlu adanya peningkatan pelayanan kesehatan gigi mulut khususnya pada upaya kesehatan secara promotif dan preventif. terdapat 8.182 siswa perlu perawatan dan yang telah mendapatkan perawatan sebanyak 5. Jawa Tengah tahun 2005 untuk kegiatan pelayanan transfusi darah dalam hal pemenuhan kebutuhan permintaan darah yaitu 90%.52%). Hasil kegiatan pelayanan transfusi darah di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 66.250 dengan rata-rata per bulan sebesar 854. Selain itu pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan gigi dan mulut masih belum terlaksana dengan baik sehingga sering terjadi keterlambatan dalam pelaporannya.50%).4. Hal ini disebabkan kesehatan gigi dan mulut masih belum menjadi alasan penting masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Di dalam pelayanan UKGS di sekolah dasar.114 siswa (62.96%) kantong darah dari kebutuhan 71. selain PMI. dilaksanakan pemeriksaan kesehatan gigi pada 41. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan belum tercapinya target untuk pelayanan transfusi darah. maka pencapaian pelayanan kesehatan gigi dan mulut belum mencapai target.526 kantong darah.4. Apabila dibandingkan dengan target tahun 2007 perbandingan tumpatan dan pencabutan gigi tetap minimal > 1.

5.5. dimana data yang ada hanya berasal dari Rumah Sakit milik Pemerintah Kota Semarang yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Semarang. Sedangkan jumlah total jenis obat generik yang tersedia sebanyak 145 item. Khusus untuk obat generik. Jika dibandingkan dengan kebutuhan obat generik maka pemenuhannya sebesar 110. IV.639 resep. sedangkan data dari Rumah Sakit Pemerintah lainnya belum tercakup dalam pelaporan yang ada.55%.816 (55. maka pencapaian ini masih belum memenuhi target. Ketersediaan dan Kebutuhan Obat Esensial dan Obat Generik IV. IV.1. kebutuhan total jenis obat generik seluruh Puskesmas Tahun 2007 adalah rata-rata 131 item. OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN LAINNYA Berdasarkan data ketersediaan obat pada tahun 2007 yang berasal dari laporan Instalasi Perbekalan Farmasi Kota Semarang bersumber dari laporan 37 Puskesmas se-Kota Semarang. Penulisan Resep Obat Generik Berdasarkan laporan dari Rumah Sakit milik Pemerintah. Jumlah seluruh kebutuhan obat narkotika dan psikotropika di Kota Semarang tahun 2007 yaitu rata-rata 3 item per Puskesmas sedangkan untuk ketersediaan obat narkotika dan .2.IV. Apabila dibandingkan dengan target SPM Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 80%. Ketersediaan Obat Narkotika dan Psikotropika Data yang dilaporkan untuk ketersediaan obat narkotika dan psikotropika berasal dari 37 puskesmas. diketahui bahwa jumlah penulisan resep obat generik di fasilitas sarana kesehatan tersebut sebesar 52.3.87%. jumlah jenis obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas rata-rata 129 item. Hal dapat disebabkan cakupan yang ada masih belum bisa menggambarkan kegiatan penulisan resep obat generik yang dilakukan oleh Rumah Sakit Pemerintah se-Kota Semarang. Berarti secara umum kebutuhan obat di Kota Semarang telah terpenuhi (tersedia). Artinya secara umum kebutuhan obat generik di Puskesmas seluruhnya dapat dipenuhi (tersedia).5.81%) dari total penulisan resep yang ada yaitu sejumlah 94.5. sedangkan jenis obat yang tersedia di Puskesmas rata-rata 145 item. Jika dibandingkan antara kebutuhan obat dengan persediaan yang ada diperoleh ketersediaan obat secara keseluruhan sebesar 112.

058 Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .32%. akurat dan sistematis.61 psikotropika yaitu sebesar 4 item. IV. SUMBER DAYA KESEHATAN IV. dan Dinas Kesehatan Kota Semarang sebagai berikut: Tabel m : Data Tenaga Kesehatan di Kota Semarang Tahun 2007 No Jenis Tenaga Kesehatan Unit Kerja Jumlah DKK Puskesmas RSU/RS RSB Khusus Lainnya Institusi Diknakes /Diktat Sarana Kesh Lain 662 1. Sesuai dengan Visi Dinas Kesehatan Kota Semarang yaitu “Terwujudnya Masyarakat Kota Metropolitan yang Sehat Didukung dengan Profesionalisme dan Kinerja yang Tinggi” maka diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) dibidang kesehatan. yang diharapkan mampu bekerja secara profesional dan selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuannya dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal pada masyarakat. Kesulitan memperoleh data ketenagaan yang mutakhir disebabkan antara lain karena sifat data ketenagaan yang selalu berubah terus-menerus sehingga sistem pencatatan dan pelaporan belum dapat ditampilkan secara lengkap.552 1 2 Dokter Spesialis Dokter Umum 0 5 2 106 577 312 24 71 59 1. Tenaga Kesehatan Penyelenggaraan upaya kesehatan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Rumah Sakit. Informasi tenaga kesehatan diperlukan bagi perencanaan dan pengadaan tenaga serta pengelolaan kepegawaian. Apabila dibandingkan antara kebutuhan dan ketersediaan obat narkotika dan psikotropika maka diperoleh capaian rata-rata sebesar 122.6.1. Sebagai gambaran hasil pendataan tenaga kesehatan melalui Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 yang berada di Puskesmas. Hal ini berarti untuk obat golongan narkotika dan psikotropika di Puskesmas dapat terpenuhi sesuai kebutuhan.6.

P erbandingan T enaga K esehatan B erdasar J enisnya T ahun 2006 0000000d0000009400000013000000a000000002000000e40400001e00000009000000416c6c2075736572000020001e00000 433 3 Dokter Gigi 5 62 90 1 275 01340188013301880133018d013101920130019201300198012e019d012d019d012d01a2012b01a2012b01a8012a01ae01280 022002f0022002f0022002e8021f02e8021f02e0021f02d8021f02d8021f02d0021f02c8021f02c8021f02c1021e02b9021e02b9 2. Rumah Sakit dan . Tenaga Gizi Tenaga Terapi Fisik 0 0 54 0 Tenaga Keteknisian Medik 0 42 301 0 Sumber : Sub Bag Kepegawaian dan Seksi Perijinan Tenaga Kesehatan Rasio tenaga kesehatan Kota Semarang (puskesmas.211 48 74 2d403d70205000000090200000000040000000201010013000000320acb03f4020800000041706f74656b6572160012001100 Sarjana 85 22596573223b224e6f221e041a00a5001500002254727565223b2254727565223b2246616c7365221e041400a6000f0000224f 5 Keperawatan 0 1 82 2 0 0000000000000000261002000c0051100800000100000000000034100000241002000300251020000202010000000000d8fff 8021000000000000e000e010000000000010f2008021000010000000e00ff000000000000010f0008021000020000000e00ff00 548 6 7 8 9 10 11 12 13 Bidan 3 6 3 8 28 4 158 43 0 36 5 43 205 269 37 23 86 96 28 12 34 0 0 12 154 135 277 0 0 0 12 0 465 351 67 119 155 66 343 Tenaga Farmasi Sarjana Farmasi & Apoteker Tenaga Sanitarian Kesehatan Masy.469 00040000002d010d00050000000102ffffff00050000000902000000000700000016044c04930600000000040000002d010000 4 Perawat 4 132 2.

000 penduduk jumlah tenaga teknisi medis sebesar 28 per 100. h.000 penduduk) (target IS 2010 : 117.000 penduduk jumlah Dokter Spesialis sebesar 46 per 100.5/100. e. j. IV.000 penduduk) . Tenaga Kefarmasian.000 penduduk Dari data tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kesehatan rata-rata sudah memenuhi target yang ditetapkan dalam Indonesia Sehat 2010 seperti : Tenaga Medis (Dokter Umum.000 penduduk) (target IS 2010 : 6/100. Namun juga masih terdapat tenaga kesehatan yang jumlahnya masih belum sesuai dengan target (kebutuhan) yang ada yaitu : Tenaga Bidan.000 penduduk jumlah Perawat sebesar 175 per 100. jumlah Tenaga Sanitasi sebesar 4 per 100. Tenaga Keperawatan. Dokter Spesialis.000 penduduk (target IS 2010 : 40/100. Dokter Gigi).000 penduduk) i. c. jumlah Dokter Umum sebesar 107 per 100. Tenaga Kesehatan Masyarakat.000 penduduk jumlah Bidan sebesar 37 per 100.000 penduduk jumlah Tenaga Farmasi sebesar 57 per 100.000 penduduk jumlah Dokter Gigi sebesar 30 per 100.000 penduduk) (target IS 2010 : 100/100.2 Sarana Kesehatan Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat perlu didukung oleh adanya sarana kesehatan yang memadai Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 (target IS 2010 : 40/100. d. f.000 penduduk) (target IS 2010 : 10/100.000 penduduk) (target IS 2010 : 40/100. Tenaga Gizi dan Tenaga Sanitasi. b.000 penduduk) (target IS 2010 : 22/100. Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 54 – tabel 59. g.6.000 penduduk jumlah Tenaga Gizi sebesar 11 per 100.000 penduduk jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar 8 per 100.000 penduduk) (target IS 2010 : 11/100.63 Dinas Kesehatan Kota Semarang) dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Semarang tahun 2007 dapat diperoleh data sebagai berikut: a.

Data secara lengkapnya dapat dilihat pada tabel 61. Kondisi yang ada di Kota Semarang pada tahun 2007. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 29. 33 Puskesmas Pembantu. maka jumlah ini sudah mencapai target tersebut. dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 78 Toko Obat. Apabila dibandingkan dengan target SPM 2005 (40%). Kedepan desa siaga akan terus dikembangkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas guna memeratakan pelayanan kesehatan dasar kepada . 2. telah terdapat beberapa sarana pelayanan kesehatan yang telah dilengkapi oleh fasilitas laboratorium kesehatan dan 4 (empat) spesialis dasar. 37 Puskesmas (11 Puskesmas Perawatan dan 26 Puskesmas Non Perawatan). merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri. 9 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29. 20 praktek dokter bersama spesialis.541 praktek dokter swasta perorangan dan 220 praktek pengobat tradisional. diketahui bahwa sarana kesehatan yang memiliki laboratorium kesehatan sebanyak 62 buah (100%) dan yang memberikan pelayanan 4 spesialis dasar sebesar 15 buah (24. 37 Puskesmas Keliling. Rumah Sakit Khusus 5 buah yang memiliki laboratorium kesehatan serta 37 puskesmas se-Kota Semarang telah seluruhnya dilengkapi oleh fasilitas laboratorium kesehatan sederhana Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 62 sarana kesehatan (58. Sarana kesehatan tersebut terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum dengan fasilitas laboratorium kesehatan dan 4 spesialis dasar.19%). Desa Siaga. 316 Apotek.dan memiliki kualitas pelayanan yang baik. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Laboratorium Kesehatan dan 4 spesialis dasar. Sarana kesehatan dasar yang ada di Kota Semarang pada tahun 2006 terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum.73%). 1 Rumah Sakit Jiwa. 1 RS Jiwa (100%). 4 Rumah Sakit Bersalin. 264 Balai Pengobatan/Klinik 24 Jam.06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%). 4 Rumah Sakit Ibu dan Anak. Jumlah desa siaga yang ada di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 48 desa. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).

IV.meningkat dari tahun 2006 yaitu sebesar Rp.(0.300.65 masyarakat dan pada akhirnya diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan yang ada.yaitu 7.000.573..(3.254. 276.073. Anggaran Kesehatan Alokasi anggaran kesehatan untuk Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar Rp.6.3.404.09%.44%)...326.500.309.773.24%).500. 3. Alokasi dana ini terbagi atas: sumber APBD Kota Semarang sebesar Rp..163. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .28%). 1. 94.000. sumber APBN sebesar Rp.463.272.758. 74.-.915.(95. Total APBD Dinas Kesehatan dari total APBD Kota Semarang sebesar Rp. sumber APBD Propinsi Rp. 98. Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 60.730.

e. Keberhasilan maupun kekurangan dalam pencapaian upaya-upaya pembangunan kesehatan di Kota Semarang selama tahun 2007 adalah sebagai berikut : a.64 per 10.845 kasus menjadi 2. sarana kesehatan dan sumber daya kesehatan. BP4 dan Rumah Sakit) penemuan penderita TB Paru BTA positif pada tahun 2007 sebanyak 747 orang mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2006 (901 orang) f.sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 18.02 pddk).BAB V KESIMPULAN Berbagai upaya yang telah dilaksanakan dalam pembangunan kesehatan. d. Penyakit DBD di Kota Semarang pada tahun 2007 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu dari 1.000 penduduk. jumlah kasus malaria pada tahun 2007 ditemukan 34 orang (API = 0. Berdasarkan data laporan triwulan (Puskesmas. upaya pelayanan kesehatan. . b.8 per 1. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Daerah (SURKESDA) jumlah kematian bayi yang terjadi di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 466 dari 24. namun masih ada beberapa program kesehatan yang belum mencapai hasil yang optimal.943 penderita dengan angka kesakitan sebesar 20.000 penduduk.000 KH. Berdasarkan laporan Puskesmas. c.02 pddk) meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 27 orang (API = 0. Berdasarkan laporan Puskesmas dan Rumah Sakit jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 24.000 KH.924 kasus sehingga diperoleh angka kesakitan DBD sebesar 19. antara lain upaya peningkatan dan perbaikan terhadap derajat kesehatan masyarakat. Hasil-hasil kegiatan pembangunan kesehatan di 16 kecamatan di Kota Semarang selama periode 1 (satu) tahun tergambar dalam Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2007.746 kelahiran hidup. Sedangkan untuk kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 113 anak sehingga Angka Kematian Balita (AKABA) Kota Semarang diperoleh sebesar 4.6 per 1.746 orang.11 per 1. Secara umum upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan kesehatan telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Penderita diare di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 29.

Hipertensi 54. j.75 per 100.286 penderita. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 tidak ditemukan . Kasus AFP yang ditemukan di Kota Semarang tahun 2007 sebanyak 11 kasus. Diabetes Mellitus sebanyak 50. Meningitis ( 1 kejadian) dan Campak (1 kejadian). i. 42 orang BP4 dan 33 orang dari LSM).088 kasus.958 kasus ) m.88 per 10. Data kasus penyakit tidak menular tahun 2007 di Kota Semarang : Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 10. Kanker Hepar 434 kasus. Kanker Serviks 4. Tetanus. Tetanus Neonatorum dan Polio di Kota Semarang Tahun 2007 adanya kasus.780 kasus dan Stroke 2. penderita kusta di Kota Semarang yang dilaporkan dari 16 kecamatan sebanyak 34 orang mengalami peningkatan dari 14 orang pada tahun 2006.171 kasus ( Kanker Payudara 4.844 kasus. AMI 2. Sedangkan untuk kasus AIDS ditemukan sebanyak 33 kasus meningkat dari tahun 2006 yang mencakup 25 kasus. dan Difteri 29 kasus.230 penderita.537 kasus.807 kasus. Pada tahun 2007. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi tertinggi yaitu Campak 343 kasus. meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 8 kasus. Dilaporkan pada tahun 2007 di Kota Semarang terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak 33 kejadian yaitu : Difteri (26 kejadian). kasus Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah ( Angina Pektoris 3. Jumlah kasus HIV (+) yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 18 orang dan dari hasil kegiatan VCT tahun 2007 ditemukan 195 kasus (120 orang dari klinik VCT. Keracunan Makanan (5 kejadian). terbanyak pada golongan umur 5 -15 thn sebanyak 6 kasus. Jumlah kasus Infekasi Menular Seksual (IMS) di Kota Semarang pada tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas mencapai 550 kasus.000 penduduk ) k. 1-4 thn sebanyak 5 kasus sehingga untuk tahun 2007 diperoleh AFP rate sebesar 2.000 balita h. meningkat dari tahun 2006 yang hanya mencapai 2. yaitu terdiri dari penderita Kusta tipe MB = 27 orang dan PB = 7 orang.129 kasus . Kanker Paru 256 kasus) .Hepatitis B 457 kasus sedangkan untuk penyakit lainnya seperti Pertusis. l.67 dimana terdapat peningkatan dari tahun sebelumnya. sehingga diperoleh IR untuk tahun 2007 sebesar 219.000 ( target ≥ 2/100. Kasus pneumonia di Kota Semarang pada tahun 2007 mencapai 3. g.

400 anak.746 bayi dan jumlah Balita yang ada (S) sebesar 115.99%) : 65.480 rumah tangga yang diperiksa diperoleh hasil yaitu Rumah Tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat sebanyak 68. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 133 bayi (0.579 masyarakat miskin yang ada t. pemberian ASI Ekslusif mengalami penurunan dari tahun 2006 40.725 RT (5. terjadi kematian akibat KLB Difteri (1 orang).55%).846 rumah (82.82%) dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak 74. jumlah penduduk yang tercakup dalam dalam berbagai JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) sebesar 254.869 jiwa (20.129 bayi ) yang hanya mencapai 4. n. Pada tahun 2007 di Kota Semarang menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 24.59%) q.482 jiwa (19. Sedangkan jumlah Balita yang datang dan ditimbang (D) di posyandu dari seluruh balita yang ada 115. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2007 yaitu sebanyak 137 bayi (0.92%) : 35.380 jiwa (1. terdiri dari strata utama 63.65%) dan 307 Posyandu mandiri (20.44%).53%). terdiri dari 639 posyandu purnama (43.272 anak (80.400 anak (S) yaitu sejumlah 93. Berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2007. Posyandu yang ada di Kota Semarang berjumlah 1.43%) : 15.716 jiwa (69.464 buah.775 anak (80.083 RT (75%) strata paripurna 4.97%) sehingga jumlah total posyandu yang tergolong purnama dan mandiri adalah 946 posyandu (64.62%) dari total jumlah penduduk . sedangkan kategori rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 33.77%) dari 40. Pada tahun 2007 Kota Semarang jumlah rumah yang ada sebanyak 294.61%) r. Berdasarkan laporan puskesmas. Di Kota Semarang sampai dengan tahun 2007 terdapat masyarakat miskin dan yang memiliki kartu ASKESKIN baru mencapai 175.96%) o.972 jiwa (2.28%) s. p.07% (9. Pada tahun 2007 di Kota Semarang dari sampling 84.281 bayi (38.67%.892 rumah yang dilakukan pemeriksaan .351 buah.17%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 897 anak (0.75%) dari 252.Dari kasus KLB yang ada.237 jiwa (5. dengan perincian : • • • • Peserta ASKES Peserta BAPEL Peserta JAMSOSTEK Peserta Dana Sehat : 239.

sedangkan untuk rawat inap Puskesmas yaitu sebesar 296 per 100.55%).943 orang (10.324 KK yang dilakukan pemeriksaan.04%) Cakupan pemberian tablet (Fe)1 sebanyak 28.96%) dan cakupan untuk tablet (Fe)3 sebanyak 24.258 buah atau 81.60) .98%) dan imunisasi TT5 mencapai 1.91%) Pemberian imunisasi TT pada Bumil mencakup TT1 sebesar 20.96%) • Cakupan TT bagi Wanita Usia Subur (WUS) yaitu TT1 2.57%. Pengelolaan limbah di rumah tangga yang diperiksa sebanyak 46. TT2 1.090 bumil (71. y.487 KK (88.000 penduduk.20) . x.552 orang (5.902 KK (92. v.926 (6.274 bumil (89. imunisasi TT2 sebesar 18.69 u.240 bumil (88.TOI (2. 46.79%.649 KK dan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 41. w.06%). imunisasi TT3 sebanyak 2.93%).543 bumil.538 buah dan jumlah yang sehat 1. imunisasi TT4 sebanyak 1.437 per 100.108 bumil (3.7) . Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak : • • • Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2007 adalah 24.387 per 100.tempat umum dan tempat pengelolaan makanan di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 2.92%) dan TT5 384 orang (1.000 penduduk. Pada tahun 2007 di Kota Semarang jumlah penduduk yang memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas sebanyak 18.86%).5) . Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit yaitu sebanyak 24. Sedangkan untuk cakupan rawat inap (kunjungan pasien baru) di sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2007 yaitu sebesar 10.11%).958 WUS yang ada Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . TT3 309 orang (1.277 per 100.15%) dari 49. GDR (3. LOS (5.82%.37%) dari 27.936 KK telah memanfaatkan jamban keluarga dan 44. Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar yaitu : persediaan air bersih sebanyak 327. Untuk cakupan rawat jalan di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu sebesar 42. jumlah diperiksa 1.000 penduduk.081 buah.191 KK telah memenuhi syarat jamban yang sehat (94. Pencapaian hasil kinerja Rumah Sakit di Kota Semarang meliputi : BOR (67. TT4 256 orang (0.91 %) dari 352. NDR (2.00).000 penduduk dan rawat inap 10.53%).069 bumil (102.189 bumil (65.929 KK yang ada. Jumlah tempat .

Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada pekerja sektor informal dari 665. Balita sebanyak 93. Cakupan bayi yang diimunisasi DPT3 pada tahun 2007 sebesar 23.600 anak (100%) serta Bufas 25.29%) • Cakupan pemberian suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebanyak 28.021 kelahiran • Pada tahun 2007 ibu hamil risiko tinggi/ komplikasi yang ditemukan di Kota Semarang sebesar 3. jumlah PUS yang ada sebanyak 243.• Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22. Polio 4 sebanyak 21.274 (91.14% dari 304. Pada tahun 2007.155 (85.37%).92%) cc.366 orang dan bumil risti/ komplikasi yang dirujuk yaitu sebanyak 885 orang (26.309 (77.194. Cakupan pelayanan kesehatan pekerja pada industri formal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 240.874 (13. Sedang jumlah peserta KB aktif yang telah dibina sebesar 188.76%).14%) dari jumlah perkiraan persalinan sebesar 26.91%.753 orang (79.643 (95.412 bayi Hasil kegiatan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila di Kota Semarang pada tahun 2005 sebesar 19.634 bayi (100%).735 kegiatan penyuluhan keseluruhan .99%) dan Usila (≥ 60 thn) sebanyak 9.178 orang (96. • • • Cakupan kunjungan neonatus tingkat Kota Semarang tahun 2007 sebesar 23.93%).89%) Hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah di tingkat Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu 68.530 pekerja yang terdata. baru mencapai 375 kegiatan (21.656 (43.838 pekerja (82.43%) bb.04%) dan bayi yang telah memperoleh imunisasi campak sebesar 23.54%) Hasil cakupan kunjungan bayi di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22.39%) aa.59%) dari sasaran sejumlah 25.196 pekerja formal yang ada).665 (39.864 anak (86. z.472 anak (92.987 (92. Yang menjadi peserta KB baru sebanyak 33.321 (41. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 551. Cakupan pelayanan NAPZA pada tahun 2007 berupa kegiatan penyuluhan NAPZA oleh tenaga kesehatan.61%) terdiri atas pra usila (45 – 59 thn) sebanyak 9.61%) dari 1.

jumlah jenis obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas rata-rata 129 item. Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di puskesmas pada tahun 2007 yaitu tumpatan gigi tetap sebanyak 9. gg. Hasil kegiatan pelayanan transfusi darah di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 66.000 penduduk Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .94 hh.55%. sedangkan jenis obat yang tersedia di Puskesmas rata-rata 145 item sehingga diperoleh ketersediaan obat secara keseluruhan sebesar 112.96%) kantong darah dari kebutuhan 71.816 (55.87%. Pelayanan kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Semarang pada tahun 2007 menunjukkan pencapaian sebesar 0.06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%).590 dengan rata-rata per bulan sebesar 799 tindakan dan pencabutan gigi tetap sebanyak 10.71 dd. Jumlah penulisan resep obat generik di fasilitas sarana kesehatan tersebut sebesar 52. Data ketersediaan obat pada tahun 2007 bersumber dari laporan 37 Puskesmas se-Kota Semarang.729 siswa (97. 1 RS Jiwa (100%). Sedangkan jumlah total jenis obat generik yang tersedia sebanyak 145 item.526 kantong darah ii. 9 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29. Hasil cakupan pelayanan kesehatan pada anak sekolah (siswa TK. Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Kota Semarang) dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Semarang tahun 2007 dapat diperoleh data sebagai berikut: • jumlah Dokter Umum sebesar 107 per 100.42%. Rasio tenaga kesehatan Kota Semarang (puskesmas.639 resep. dengan rasio untuk tambal dibandingkan pencabutan gigi sebesar 0. kebutuhan total jenis obat generik seluruh Puskesmas Tahun 2007 adalah rata-rata 131 item. sehingga diperoleh pemenuhan sebesar 110. Untuk obat generik.250 dengan rata-rata per bulan sebesar 854. kk. jj. Jumlah seluruh kebutuhan obat narkotika dan psikotropika di Kota Semarang tahun 2007 yaitu rata-rata 3 item per Puskesmas sedangkan untuk ketersediaan obat narkotika dan psikotropika yaitu sebesar 4 item ll. Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 62 sarana kesehatan (58.489 (92.73%) ff. SLTP dan SLTA)pada tahun 2007 di Kota Semarang mencapai 99.81%) dari total penulisan resep yang ada yaitu sejumlah 94.08% ee.

(target IS 2010 : 40/100. 98. 33 Puskesmas Pembantu.163.000 penduduk) jumlah Tenaga Farmasi sebesar 57 per 100. 20 praktek dokter bersama spesialis.573.000 penduduk mm.-. . Alokasi anggaran kesehatan untuk Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar Rp.000 penduduk (target IS 2010 : 117.000. 2.758 meningkat dari tahun 2006 yaitu sebesar Rp. 37 Puskesmas (11 Puskesmas Perawatan dan 26 Puskesmas Non Perawatan).000 penduduk (target IS 2010 : 100/100.000 penduduk (target IS 2010 : 11/100.000 penduduk) jumlah Dokter Gigi sebesar 30 per 100.000 penduduk (target IS 2010 : 10/100.915.000 penduduk) • • jumlah Tenaga Sanitasi sebesar 4 per 100. 37 Puskesmas Keliling. 4 Rumah Sakit Ibu dan Anak.000 penduduk) • • • • • • • jumlah Dokter Spesialis sebesar 46 per 100.000 penduduk (target IS 2010 : 40/100. 78 Toko Obat.000 penduduk) jumlah Tenaga Gizi sebesar 11 per 100.000 penduduk (target IS 2010 : 6/100.773. 74.000 penduduk (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk) jumlah Perawat sebesar 175 per 100. 4 Rumah Sakit Bersalin. 316 Apotek. 1 Rumah Sakit Jiwa.Sarana kesehatan dasar yang ada di Kota Semarang pada tahun 2007 terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum.000 penduduk (target IS 2010 : 22/100.000 penduduk) jumlah Bidan sebesar 37 per 100.5/100.000 penduduk) jumlah tenaga teknisi medis sebesar 28 per 100.541 praktek dokter swasta perorangan dan 220 praktek pengobat tradisional nn.000 penduduk) jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar 8 per 100. 264 Balai Pengobatan/Klinik 24 Jam.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->