P. 1
pengaruh impor ekspor

pengaruh impor ekspor

|Views: 152|Likes:
Dipublikasikan oleh Kayun Giri

More info:

Published by: Kayun Giri on Oct 04, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2015

pdf

text

original

1

Pengaruh Lkspor Pertanian dan Non-Pertanian
1erhadap Pendapatan Nasional:
Studi Kasus Indonesia 1ahun J98J-2003
lidavat Amir,
α


.ß´)R.K


Pevbavgvvav petaviav /aaavg/ata aiabai/av vava/ata .vatv vegara .eaavg veta/v/av pro.e.
ivav.triati.a.i. íat ivi teriaai /areva aaavya avggapav babra ivav.triati.a.i veviti/i e/.tervatita. yavg
tivggi aav barv. vervpa/av ivav.triati.a.i yavg berte/votogi tivggi. ´evevtara pertaviav vervpa/av ciri
vegara traai.iovati.. Paaabat .e.vvggvbvya pevbavgvvav pertaviav tiaa/ /atab pevtivg aibavaivg/av
pro.e. ivav.triati.a.i. Pevetitiav ivi berva/.va vvtv/ vevcari iarabav apa/ab e/.por pertaviav aav
vov·pertaviav vevberi/av aavpa/ po.itit bagi pere/ovoviav aav vava yavg tebib be.ar aavpa/vya.
ía.it vtava pevetitiav tervyata vevvviv//av babra e/.por pertaviav aav e/.por vov·pertaviav .ava·
.ava veviti/i pevgarvb yavg po.itit terbaaap pevaapatav va.iovat. aav e/.por pertaviav veviti/i
aavpa/ yavg tebib be.ar. Dari .i.i pervbabavvya. pertvvbvbav e/.por vov·pertaviav vevberi/av
aavpa/ yavg tebib bai/ terbaaap pertvvbvbav e/ovovi apabita aibavaivg/av aevgav pertvvbvbav
e/.por pertaviav.



α
Hidayat Amir adalah Economist The Indonesia Economic Intelligence dan Peneliti pada
BAPEKKI - Depkeu RI (e-mail: hidayat.amir@iei.or.id). Tulisan ini telah diterbitkan di Jurnal
Kajian Ekonomi dan Keuangan, Departemen Keuangan, Edisi Desember 2004.
2
I. PLNDAHULUAN
I.J. Latar Belakang
Sejak awal tahun 1965-an. vaitu masa stabilisasi ekonomi dengan program
repelita vang digulirkan oleh pemerintahan orde baru. Indonesia telah
mencanangkan pembangunan dengan urutan sebagaimana vang telah dikemukakan
oleh Rostow. 1ahap-tahap pembangunan ekonomi tersebut dibagi menjadi lima
bagian. vaitu: tahap masvarakat tradisional: tahap prasvarat untuk lepas landas: tahap
lepas landas. tahap gerakan kedewasaan dan tahap konsumsi tinggi.
1
Urutan
pembangunan tersebut pada hakekatnva adalah mempersiapkan negara vang lebih
maju dengan proses industrialisasi.
Setelah melewati masa sulit tahun 1960-an. beruntung Indonesia di tahun
19¯0-1980 mendapatkan berkah atas hasil migas negeri ini. Sektor migas menjadi
tumpuan utama sumber pembiavaan pembangunan bagi Indonesia dalam kurun
waktu 19¯0-1980. dimana harga minvak tinggi. sehingga kontribusi terhadap
pendapatan nasional sektor migas jelas besar Sritua Arieí. 1984,.
Namun. dengan hanva mengandalkan sektor migas saja adalah suatu vang
riskan. karena disamping harga migas vang íluktuatií. sumber dava migas
merupakan kekavaan alam - karunia 1uhan - vang tidak dapat diperbaharui.
Sehingga untuk tetap menjaga proses kesinambungan pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi perlu dipertimbangkan dan diperhatikan íaktor-íaktor lain
di luar sektor migas. Berbagai pendapat ekonom pun demikian. bahwa
pembangunan tidak semestinva hanva semata-mata mengandalkan sumber dava
alam terutama migas.
(henerv dan Sirquin. dalam teori perubahan struktural. sebagai hasil studi
empiris vang dilakukan terhadap beberapa negara pada tahun 1950-19¯0.
mengemukakan bahwa semakin maju suatu negara semakin dominan sumbangan
sektor industri dan sektor jasa, terhadap pendapat nasional dibandingkan dengan
sumbangan sektor pertanian 1odaro. 199¯,. Lebih lanjut (henerv dan Sirquin
menvatakan bahwa titik vang membagi negara miskin dan negara maju adalah titik
dimana sumbangan sektor industri dan sektor pertanian berimpit. Dengan kata lain.
bahwa keberhasilan proses industrialisasi merupakan prasvarat menuju negara maju.
Pembangunan ekonomi nasional telah menunjukkan adanva transíormasi
struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor industri. Indikator ekonomi
vang menunjukkan menurunnva pangsa sektor pertanian serta meningkatnva pangsa
sektor industri dalam Produk Domestik Bruto PDB, dapat menjadi bukti. Pangsa
relatií sektor pertanian dalam PDB sebesar 49.3 ° pada 1969 menjadi 18.5 ° pada
1993. sedangkan sektor industri meningkat dari 9.2° menjadi 22.4 ° untuk periode
vang sama \iwoho. 1994,. Inilah vang sering kali disebut-sebut sebagai
keberhasilan` transíormasi.
Namun demikian. pangsa tenaga kerja sektor pertanian belum menurun secara
berarti. vaitu sebesar 56 persen pada tahun 1980 dan hanva turun menjadi 48 persen
pada tahun 1995. Ketidakseimbangan penurunan pangsa sektor pertanian terhadap
PDB dibandingkan dengan penurunannva terhadap total tenaga kerja menunjukkan
bahwa sektor pertanian semakin tidak produktií dan tidak eíisien. Dari data tersebut
bisa terlihat semakin menurunnva pendapatan per kapita tenaga kerja di sektor
pertanian.

1
Mahyudi, Ahmad. Ekonomi Pembangunan dan Analisis Data Empiris. Penerbit Ghalia
Indonesia, 2004, hal. 200.
3
Proses industrialisasi vang terjadi pada masa orde baru vang dilakukan dengan
gencar. cepat dan berhasil melakukan transíormasi struktural perekonomian
Indonesia. ternvata belum mengait ke belakang bac/rara tiv/age, ke sektor
pertanian. Dengan kata lain. sektor pertanian tidak mendapatkan perhatian vang
cukup seimbang dibandingkan dengan sektor industri. Ini berakibat pada
tertinggalnva sektor petanian dari sektor industri. 1idak saja dalam struktur PDB.
tetapi juga juga dalam struktur masvarakat. dimana sampai saat ini masvarakat vang
hidup di sektor pertanian petani, tak kunjung sejahtera dibandingkan masvarakat
vang hidup di sektor industri. Nilai tukar petani juga belum membaik. Produkti·itas
dan eíisiensi vang rendah. serta sikap mental dan budava vang masih tradisional
membawa kelompok masvarakat ini dalam ketertinggalan Arií Satria. 199¯,.
1ransíormasi struktural bukan berarti meninggalkan sektor pertanian menuju
sektor industri. tetapi menjadikan pangsa sektor industri terhadap PDB vang lebih
besar dari sektor pertanian. vang disebabkan oleh pertumbuhan sektor industri vang
lebih tinggi akibat íaktor eksternalitas industrialisasi vang lebih besar. 1ransíormasi
struktural vang telah dicapai di atas. akan kurang berarti apabila masih menvisakan
adanva ketimpangan antarsektor atau ketertinggalannva suatu sektor dalam
pembangunan. Karena proses pembangunan adalah proses vang saling mengkait
antara satu sektor dengan sektor vang lain. Ketertinggalan suatu sektor dalam
pembangunan akan mengakibatkan pertumbuhan pembangunan vang tidak
seimbang dan tidak kokoh. lal ini terbukti ketika terjadi krisis ekonomi vang
melanda pada tahun 1998. Sektor industri mengalami keterpurukan vang dahsvat.
sementara sektor pertanian - sektor vang tertinggal itu - sebagian besar masih
mampu bertahan.
Setidaknva ada beberapa íaktor vang bisa diungkapkan bahwa sektor
pertanian menjadi penting dalam proses pembangunan. vaitu:
1. Sektor pertanian menghasilkan produk-produk vang diperlukan sebagai input
sektor lain. terutama sektor industri. seperti: industri tekstil. industri makanan
dan minuman:
2. Sebagai negara agraris kondisi historis, maka sektor pertanian menjadi sektor
vang sangat kuat dalam perekonomian dalam tahap awal proses pembangunan.
Populasi di sektor pertanian pedesaan, membentuk suatu proporsi vang
sangat besar. lal ini menjadi pasar vang sangat besar bagi produk-produk
dalam negeri baik untuk barang produksi maupun barang konsumsi. terutama
produk pangan. Sejalan dengan itu. ketahanan pangan vang terjamin
merupakan prasvarat kestabilan sosial dan politik:
3. Karena terjadi transíormasi struktural dari sektor pertanian ke sektor industri
maka sektor pertanian menjadi sektor penvedia íaktor produksi terutama
tenaga kerja, vang besar bagi sektor non-pertanian industri,.
4. Sektor pertanian merupakan sumber dava alam vang memiliki keunggulan
komparatií dibanding bangsa lain. Proses pembangunan vang ideal mampu
menghasilkan produk-produk pertanian vang memiliki keunggulan kompetitií
terhadap bangsa lain. baik untuk kepentingan ekspor maupun substitusi impor
1ambunan. 2001,.
Dalam studi ini. penulis mencoba mendekati dengan sisi vang agak berbeda.
Penulis memíokuskan kepada besaran ekspor pertanian dan non-pertanian serta
pengaruhnva terhadap perekonomian vang diukur dengan produk nasional bruto.
Nilai ekspor diambil karena memiliki kelebihan setidaknva produk vang diekspor
adalah produk-produk vang memang dibutuhkan pasaran dunia dan mampu
4
bersaing secara kualitas dan harga. Nilai ekspor pertanian adalah vang sesuai dengan
klasiíikasi vang dilakukan oleh BPS.
Dari Gambar 1 dan Gambar 2. ekspor non-pertanian migas. industri dan
lain-lain, telah memiliki nilai vang lebih tinggi dibanding ekspor pertanian pada
tahun 1981. Dan kemudian mengalami kenaikan terus menerus sampai tahun 1996
dan meninggalkan nilai ekspor pertanian vang mengalami peningkatan dengan nilai
vang jauh lebih kecil. Pada tahun 199¯. terjadi krisis ekonomi vang mengakibatkan
peningkatan vang sangat drastis dari ekspor menurut harga berlaku vang diakibatkan
oleh perubahan nilai tukar. Namun pada tahun 1998. terjadi penurunan drastis
sebagai akibat krisis ekonomi tersebut dan kembali meningkat setelah tahun 1998.
Jika dilihat menurut harga konstan 2000. ekspor pertanian stagnan cenderung
meningkat. sedang ekspor non-pertanian mengalami peningkatan drastis sampai
tahun 199¯. kemudian turun drastis di tahun 1998 dan cenderung konstan setelah
tahun 1998.
Gambar 1. Perbandingan Ekspor Pertanian dan Non-Pertanian
(Tahun 1981-2003 Menurut Harga Berlaku)
0
100.000
200.000
300.000
400.000
500.000
600.000
700.000
800.000
1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
M
i
l
y
a
r

r
u
p
i
a
h
Pertanian Non-Pertanian

Gambar 2. Perbandingan Ekspor Pertanian dan Non-Pertanian
(Tahun 1981 - 2003 Menurut Harga Konstan 2000)
0
100.000
200.000
300.000
400.000
500.000
600.000
700.000
1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Pertanian Non-Pertanian

Selanjutnva akan diuraikan secara singkat perjalanan ekonomi Indonesia vang
mencapai pertumbuhan vang relatií tinggi. baik selama periode stabilisasi dan
rehabilitasi 196¯-19¯2,. zaman keemasan minvak 19¯3-1982,. íase gejolak
eksternal 1983-1986,. era kebangkitan ekspor non migas 198¯-1996, maupun íase
krisis ekonomi 199¯-2003,.
Selama periode stabilisasi dan rehabilitasi. pertumbuhan ekonomi mencapai
rata-rata ¯.23° setahun. dengan angka pertumbuhan terendah tercatat tahun 196¯
2.29°, dan tertinggi tahun 1969 11.11°,. Sedangkan dalam periode 19¯3-1982.
5
perekonomian Indonesia mengalami zaman keemasan minvak akibat gejolak
eksternal berupa kenaikan harga minvak vang sangat tajam di pasaran dunia vang
dapat dinvatakan sebagai titik awal terciptanva angka pertumbuhan vang relatií
tinggi. dimana rata-rata mencapai ¯.3¯° setahun.
Pada íase gejolak eksternal 1983-1986,. Indonesia dihadapkan pada sebuah
kenvataan pahit: pertumbuhan ekonomi merosot drastis menjadi hanva 4.88° per
tahun. Menurut Sundrum 1988,. íaktor internal vang menjadi penvebab utama
melemahnva pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode tersebut adalah
menurunnva pengeluaran pemerintah. in·estasi dan impor.
Sejak tahun 198¯ Indonesia terus menempuh berbagai kebijakan dalam
rangka mendorong pertumbuhan ekonomi vang pada akhirnva kembali meningkat
dari 4.93° 198¯, menjadi 8.21° 1995, dan ¯.82° 1996,. Secara rata-rata
pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 198¯-1996 pulih hingga 6.90° per tahun.
Memasuki triwulan ke-4 tahun 199¯. Indonesia diguncang oleh krisis moneter
vang diakibatkan oleh menurunnva nilai tukar terhadap dollar Amerika. Krisis nilai
tukar berlanjut menjadi krisis ekonomi. industri banvak vang gulung tikar vang
bermula dari ketidakmampuan membeli bahan baku impor dan krisis perbankan.
Krisis ini memberi dampak vang teramat buruk pada tahun 1998 dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi minus 13.3°. dan mulai membaik pada tahun-tahun
berikutnva. Pertumbuhan ekonomi merambat naik. 0.¯9° pada tahun 1999. 4.92°
pada tahun 2000 dan kemudian bergerak pada kisaran 4° - 4.5° sampai dengan
tahun 2003.
Melihat íenomena perkembangan ekspor hasil pertanian dan hasil non-
pertanian. dan pertumbuhan ekonomi di atas timbul pertanvaan apakah
pertumbuhan ekonomi vang relatií cukup tinggi itu disebabkan oleh pesatnva
perkembangan ekspor hasil pertanian sebagai keunggulan komparatií negara
agraris, atau ekspor hasil non-pertanian sebagai bukti keberhasilan proses
industrialisasi,· Dan apakah krisis ekonomi memberi dampak vang besar terhadap
pengaruh ekspor hasil pertanian dan non-pertanian terhadap perekonomian.

I.2. Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Adapun permasalahan vang hendak diteliti adalah seberapa besar pengaruh
ekspor pertanian dan non-pertanian terhadap perekonomian dan serta mana vang
lebih besar pengaruhnva.

I.3. 1ujuan Studi/Penelitian
1ujuan dari penelitian ini adalah: 1, mengetahui besarnva pengaruh ekspor
pertanian dan non-pertanian terhadap produk nasional bruto: 2, membandingkan
besarnva pengaruh ekspor pertanian dan non-pertanian terhadap produk nasional
bruto: dan 3, mengetahui pengaruh pertumbuhan ekspor pertanian dan non-
pertanian terhadap pertumbuhan produk nasional bruto.

I.4. Manfaat Studi
Maníaat vang dapat diperoleh dari studi ini akan berkenaan dengan beberapa
hal: pertava. berkaitan dengan kebijakan peningkatan ekspor vang memberikan
pengaruh vang lebih besar bagi perekonomian: /eava. menekankan pada pilihan
vang dihadapi pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan pembangunan vang
lebih terarah. eíisien dan tercipta pertumbuhan ekonomi vang tinggi serta distribusi
pendapatan vang lebih merata: /etiga. arah kebijakan pembangunan ekonomi
dilakukan. terutama vang berkaitan dengan upava peningkatan produkti·itas
6
pertanian sehingga tercapai dava saing produk pertanian di pasaran internasional
demi peningkatan kesejahteraan petani serta mencermati sumber-sumbernva
dengan tanpa mengabaikan kebijakan lain.


II. 1INJAUAN LI1LRA1UR
Sritua Arieí 1984, dalam disertasinva vang telah dibukukan melakukan
penelitian mengenai industri minvak bumi dan ekonomi dalam suatu studi dampak.
Penelitian menganalisis data perkonomian untuk runtun waktu 196¯-19¯6. Dalam
penelitiannva. Sritua Arieí melakukan dua model pendekatan. vaitu: pendekatan
input-output dan pendekatan ekonomi makro. Dalam pendekatan ekonomi makro
digunakan persamaan simultan vang memodelkan pendapatan nasional dari
pendekatan pengeluaran. Unsur-unsur pendapatan nasional diuraikan dalam tujuh
persamaan struktural dan dua persamaan identitas. antara lain persamaan konsumsi
pemerintah dan swasta,. in·estasi pemerintah dan swasta,. impor. pajak dan
pembavaran neto ke luar negeri. lasil peneltian vang menonjol menunjukkan
bahwa pengganda dampak vang ditimbulkan oleh ekspor sektor minvak umi
terhadap produk nasional bruto selama periode vang diselidiki adalah 1.28¯6. vang
jauh lebih kecil kalau dibandingkan dengan vang ditimbulkan oleh ekspor sektor
non-minvak bumi vang besarnva 3.0930. Sebab utama dari hal ini ialah bahwa
ekspor sektor non-minvak bumi mempunvai eíek vang lebih tingg terhadap
konsumsi. in·estasi dan pajak.
2

Penelitian sejenis untuk runtun waktu vang berbeda. vaitu untuk periode
tahun 19¯0-1996 dilakukan oleh G. Adirinekso 2000,. dampak ekspor sektor migas
dan nonmigas terhadap produk nasional bruto dan komponennva. lasil
penelitiannva menunjukkan bahwa ekspor migas selama periode penelitian
memberikan pengaruh vang cukup besar bagi produk nasional bruto dibandingkan
dengan ekspor nonmigas. Penelitian lain. vang dilakukan oleh Djoni lartono 2001,
mengenai dampak ekspor nonmigas dan in·estasi swasta terhadap pertumbuhan
ekonomi dan tabungan domestik dengan menggunakan data tive·.erie. tahun 1980-
1996. Kedua penelitian tersebut juga menggunakan model persamaan simultan.
Penghitungan pendapatan nasional dari sisi pengeluaran adalah meliputi
konsumsi swasta. in·estasi. konsumsi pemerintah. ekspor dan impor. Penulis
melakukan perumusan model regresi parsial. vang mencoba mencari hubungan
antara ekspor dengan pendapatan nasional vang didekati dengan produk nasional
bruto. Komponen ekspor dibagi menjadi dua. sesuai kebutuhannva. vaitu: ekspor
pertanian dan non-pertanian. Untuk mengetahui pengaruhnva terhadap
pertumbuhan ekonomi digunakan persamaan log-linier.

III. ML1ODOLOGI PLNLLI1IAN
III.J. Rancangan Model
Untuk melakukan analisis ini penulis menggunakan persamaan parsial dalam
bentuk model persamaan linier. vang hanva menggambarkan pengaruh ekspor
pertanian dan non-pertanian, terhadap pendapatan nasional saja. tanpa
memasukkan unsur lain. Penulis akan melakukan analisis dalam dua model: model
persamaan regresi linier dan model persamaan regresi log-linier. Persamaan |1| akan
menganalisis pengaruh ·ariasi besaran ekspor pertanian dan non-pertanian terhadap

2
Arief, Sritua. Industri Minyak Bumi dan Ekonomi Indonesia: Suatu Studi Dampak. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1984, hal. 85.
7
·ariasi besaran pendapatan nasional. Persamaan |2| akan menganalisis pengaruh
persentase perubahan pertumbuhan, ekspor pertanian dan non-pertanian terhadap
persentase perubahan pertumbuhan, pendapatan nasional. Persamaan -persamaan
tersebut adalah sebagai berikut:

\
t
~ α
1
- β
1
L
t
agr
- γ
1
L
t
nagr
- ε
1t
|1|
Ln \
t
~ α
2
- β
2
Ln L
t
agr
- γ
2
Ln L
t
nagr
- ε
2t
|2|

Dalam spesiíikasi ini. simbol-simbol dideíinisikan sebagai berikut:
\ ~ Produk Nasional Bruto
L
agr
~ Lkspor Pertanian
L
nagr
~ Lkspor Non-Pertanian
α. β. γ ~ Koeíisien Regresi
ε

~ Variabel Pengganggu
t
~ Mengindikasikan tive·.erie. t

III.2. Hipotesa
lipotesa vang diajukan dalam penulisan ini adalah:

a. Persamaan pertama
l
0
: α
1
~ β
1
~ γ
1
~ 0
|ekspor pertanian dan ekspor non-pertanian tidak mempunvai pengaruh vang
signiíikan terhadap pendapatan nasional|
l
1
: bukan l
0
|ekspor pertanian dan ekspor non-pertanian mempunvai pengaruh vang signiíikan
terhadap pendapatan nasional|
b. Persamaan kedua
l
0
: α
2
~ β
2
~ γ
2
~ 0
|persentase perubahan ekspor pertanian dan persentase perubahan ekspor non-
pertanian tidak mempunvai pengaruh vang signiíikan terhadap persentase
perubahan pendapatan nasional|
l
1
: bukan l
0

|persentase perubahan ekspor pertanian dan persentase perubahan ekspor non-
pertanian mempunvai pengaruh vang signiíikan terhadap persentase perubahan
pendapatan nasional|

III.3. Sampel dan Sumber Data
Data sekunder vang dipakai dalam paper ini adalah data tive .erie.. tahun 1981-
2003 berdasarkan pada harga konstan 2000. Data vang dikumpulkan adalah sesuai
dengan semua ·ariabel vang ada dalam persamaan. Karena ada beberapa data
berdasarkan pada tahun dasar vang berbeda dan ada data berdasarkan harga berlaku
maka dilakukan penvesuaian terhadap harga tahun dasar serta melakukan proses
deílasi atas data berdasarkan harga berlaku.
3
Nilai ekspor dalam sumber data
dinvatakan dalam juta dollar Amerika. sehingga dilakukan penvesuaian dengan kurs
nilai tukar pada tahun tersebut dan kemudian dilakukan penvesuaian dengan harga
dasar tahun 2000.

3
Sigit, Hananto, Dr. “Appendix C: Procedure of Data Estimation – Measurement of Total
Factor Productivity (TFP)”. INFOMET: Nomor 1 Februari 2001, Jakarta, CeSTAR – BPS,
2001.
8
Sumber data diperoleh dari beberapa terbitan. vaitu: 1, RAPBN dan Nota
Keuangan - publikasi Departemen Keuangan: 2, Statistik Lkonomi dan Keuangan
Indonesia - publikasi Bank Indonesia: 3, International linancial Statistic -
publikasi International Monetarv lund: 4, Pendapatan Nasional Indonesia -
publikasi Badan Pusat Statistik: 5, Laporan 1ahunan Bank Indonesia: dan 6,
Indikator Lkonomi dalam berbagai tahun - publikasi Badan Pusat Statistik.

III.4. Pengumpulan Data
Adapun cara pengumpulan data didasarkan pada pencarian. pemilihan.
pencatatan dan pengkategorian berdasarkan ·ariabel endogen dan eksogen dari
dokumen statistik. vaitu: Indikator Lkonomi. Laporan 1ahunan Bank Indonesia.
serta beberapa data statistik dalam publikasi BPS. Departemen Keuangan dan IMl.

III.5. Analisis Data
Sebelum data dianalisis. data tersebut harus diuji apakah melanggar asumsi
dasar seperti heteroskedastisitas. autokorelasi dan multikolinearitas. Selanjutnva
metode estimasi vang dapat diterapkan untuk persamaan regresi adalah )ro ´tage
íea.t ´qvare t)´í´) Program vang digunakan adalah írier. rer.iov ².0 dan SPSS
·ersi 12.
Parameter vang telah diestimasi dengan salah satu metode di atas kemudian
akan diuji secara statistik untuk melihat apakah suatu hipotesis bisa diterima atau
ditolak. (ara pengujian vang dapat dilakukan adalah dengan uji nilai t. uji nilai l dan
.aiv.tea R·.qvarea. Seperti vang telah dijelaskan di atas. bahwa setiap estimasi
ekonometri harus dibersihkan dari penvimpangan terhadap asumsi dasar dan dalam
studi ini. ketiga masalah tersebut akan dideteksi untuk setiap persamaan.

1. Uji leteroskedastisitas
Asumsi vang dipakai dalam penerapan model regresi linear adalah ·arians dari
setiap gangguan adalah konstan. leteroskedastisitas adalah keadaan dimana asumsi
tersebut tidak tercapai. Dampak adanva heteroskedastisitas adalah tidak eíisien
proses estimasi. sementara hasil estimasinva sendiri tetap konsisten dan tidak bias.
Dengan adanva masalah heteroskedastisitas akan mengakibatkan hasil uji t dan l
dapat menjadi tidak berguna vi.teaaivg,.
Pada studi ini. uji heteroskedastisitas diterapkan dengan menggunakan rbite
betero.ceaa.ticity·cov.i.tevt .tavaara error. ava corariavce vang tersedia pada program
írier. rer.iov ².0. Uji ini diterapkan pada hasil regresi dengan menggunakan
prosedur eqvatiov. dan metode 1SLS untuk masing-masing persamaan. lasil vang
perlu diperhatikan dari uji ini adalah nilai l dan Ob.·R·.qvarea. secara khusus adalah
nilai probabitity dari Ob.·R·.qvarea.

2. Uji Autokorelasi
Salah satu asumsi dasar dari metode regresi dengan kuadrat terkecil adalah
tidak adanva korelasi antar gangguan. Adanva masalah autokorelasi ini akan
menghasilkan hasil estimasi koeíisien vang konsisten dan tidak bias tetapi dengan
·arian vang besar. atau dengan kata lain hasil penaísiran tidak eíisien. Varians
estimasi parameter vang tidak eíisien ini menvebabkan nilai t hitung cenderung kecil
dan hasil pengujian cenderung menerima hipotesis nol l
0
,.
(ara vang paling sering digunakan untuk mendeteksi adanva autokorelasi
adalah dengan uji Dvrbiv·!at.ov. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai
statistik D\ vang dihitung dengan nilai batas atas D\
u
, dan nilai batas bawah
9
D\
l
, dari tabel Durbin \atson. dengan memperhatikan jumlah obser·asi dan
jumlah ·ariabel bebas ditambah satu. Selang kepercavaan vang didapat dari hasil
pengujian mencakup 5 daerah. vaitu: 1, kurang dari D\
l
: 2, antara D\
l
dan D\
u
:
3, antara D\
u
dan 4 - D\
u
: 4, antara 4 - D\
u
dan 4 - D\
l
: dan 5, lebih dari 4 -
D\
l
.
Jika D\ hitung terletak pada inter·al 1, atau 5, maka model menunjukkan
adanva masalah autokorelasi. Sedangkan apabila nilai D\ hasil perhitungan terletak
pada inter·al 3, maka dalam model tidak terdapat masalah autokorelasi. Bila hasil
perhitungan statistik D\ terletak pada inter·al 2, atau 4, maka hasil pengujian
tidak dapat disimpulkan. Disamping itu. autokorelasi dapat pula dideteksi dengan
corretograv ot re.iavat vang dihasilkan berdasarkan re.iavat·te.t.. Jika dalam corretograv ot
re.iavat itu terdapat batang-batang vang melewati batas garis putus kiri dan kanan.
maka persamaan itu sudah dapat dipastikan mengandung korelasi serial.

3. Uji Kolinearitas Berganda
Kolinearitas berganda adalah adanva hubungan linear vang signiíikan antara
beberapa atau semua ·ariabel independen dalam model regresi. Untuk mendeteksi
adanva masalah kolinearitas berganda digunakan program SPSS terhadap persamaan
regresi. Dengan melakukan estimasi dan untuk melihat adanva masalah kolinearitas
berganda. maka hal-hal vang perlu diperhatikan dari hasil analisis ini adalah: 1,
besarnva covaitiov ivae· dari proses cottivearity ivae·. dimana dipergunakan pedoman
bahwa covaitiov ivae· · 30 mengindikasikan adanva masalah kolinearitas berganda:
dan 2, matriks koeíisien korelasi antara masing-masing ·ariabel bebas. Kaidah vang
biasa digunakan adalah apabila koeíisien korelasi antara dua peubah bebas lebih
besar dari 0.8 atau 0.9 maka kolinearitas berganda merupakan masalah serius.
Dalam studi ini. uji vang dilakukan untuk melihat permasalahan di atas adalah
berdasarkan pada pendekatan pertama. vaitu didasarkan pada besarnva covaitiov
ivae· dari proses cottivearity ivae·.

IV. HASIL DAN ANALISIS
Dalam bagian ini akan dijelaskan hasil dan analisis vang dicapai dengan
melihat hasil pengolahan atas persamaan-persamaan vang telah dibentuk. Beberapa
hasil temuan untuk persamaan-persamaan regresi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Persamaan Regresi Linier \
t
,
lasil pengujian terhadap persamaan regresi linier adalah sebagaimana
terangkum dalam 1abel 1.
1abel J. Hasil Pengujian Persamaan ¡J¡
Persamaan Regresi Linier (Y
t
) Variabel
Koef.
Regresi
Prob. t-test Condition
Index
Kov.tavta 29¯200.1 0.0000 1.000
íagr 5.¯22851 0.045¯ 5.29¯
ívagr 1.392984 0.0000 1¯.28¯
R-squared 0.929¯29 Durbin-\atson
stat
2.2¯56¯
Adjusted R-squared 0.922¯02 Obs R-squared 11.0640
l-statistic 132.3069
Prob l-statistic, 0.000000
Probabilitv
Obs R-squared,
0.02585
Sumber: lasil Analisis
10
Pertava. ·ariasi ekspor pertanian dan non-pertanian vang dimasukkan kedalam
model secara bersama-sama memberikan pengaruh vang cukup besar kepada ·ariasi
pendapatan nasional di Indonesia untuk kurun waktu 1981-2003. lal ini terlihat
dari nilai .aiv.tea R·.qvarea vang besarnva 0.922¯02. vang berarti bahwa ·ariable
ekspor pertanian dan non-pertanian secara bersama-sama mampu menjelaskan
92.2¯° pendapatan nasional. sisanva diterangkan oleh sebab-sebab vang lain. lasil
uji statistik l memberikan hasil vang baik. besarnva mencapai 132.3069 signiíikan
pada α ~ 5°,. Disamping itu. tidak ada persoalan heteroskedastisitas Obs R-
squared ~ 11.0640: signiíikan pada α ~ 5°, dan tidak adanva permasalahan
autokorelasi D\ ~ 2.2¯56¯: signiíikan pada α ~ 5°,. lasil pengujian juga tidak
mengalami kolinearitas berganda karena ·ariabel ekspor pertanian dan non-
pertanian mempunvai nilai covaitiov ivae· vang lebih kecil dari 30.
Keava. ekspor pertanian mendatangkan dampak positií terhadap pendapatan
nasional. secara statistik signiíikan pada α ~ 5°. Setiap penambahan ekspor
pertanian 1 rupiah maka pendapatan nasional akan meningkat sebesar 5.¯23 rupiah.
Lkspor non-pertanian juga memberikan pengaruh vang positií terhadap pendapatan
nasional secara statistik nilainva juga sangat signiíikan. Namun dari besaran
pengaruhnva masih lebih kecil disbanding ekspor pertanian. vaitu sebesar 1.393
rupiah.
2. Persamaan Regresi Log-Linier Ln \
t
,
lasil pengujian terhadap persamaan regresi log-linier adalah sebagaimana
terangkum dalam 1abel 2.
1abel 2. Hasil Pengujian Persamaan ¡2¡
Persamaan Regresi Log-Linier (Ln Y
t
) Variabel
Koef.
Regresi
Prob. t-test Condition
Index
Kov.tavta 5.403110 0.0000 1.000
ív íagr 0.1¯5133 0.0090 43.¯38
ív ívagr 0.516363 0.0000 145.893
R-squared 0.9594¯9 Durbin-\atson
stat
2.2584¯
Adjusted R-squared 0.95542¯ Obs R-squared 10.1289
l-statistic 228.9854
Prob l-statistic, 0.000000
Probabilitv
Obs R-squared,
0.03831
Sumber: lasil Analisis
Pertava. persentase perubahan ekspor pertanian dan non-pertanian vang
dimasukkan ke dalam model secara bersama-sama memberikan pengaruh vang
cukup besar kepada persentase perubahan pendapatan nasional di Indonesia untuk
kurun waktu 1981-2003. lal ini terlihat dari nilai .aiv.tea R·.qvarea vang besarnva
0.9594¯9. hasil uji statistik l memberikan hasil vang baik. besarnva mencapai
228.9854 signiíikan pada α ~ 5°,. Disamping itu. tidak ada persoalan
heteroskedastisitas Obs R-squared ~ 10.1289: signiíikan pada α ~ 5°, dan tidak
adanva permasalahan autokorelasi D\ ~ 2.2584¯: signiíikan pada α ~ 5°,.
Namun hasil pengujian juga mengalami kolinearitas berganda karena ·ariabel
ekspor pertanian dan non-pertanian mempunvai nilai covaitiov ivae· vang lebih besar
dari 30.
Keava. pertumbuhan ekspor pertanian mendatangkan dampak positií terhadap
pendapatan nasional. secara statistik signiíikan pada α ~ 5°. Setiap persentase
11
perubahan ekspor pertanian 1° maka pendapatan nasional akan meningkat sebesar
0.1¯5°. Pertumbuhan ekspor non-pertanian juga memberikan pengaruh vang
positií terhadap pendapatan nasional secara statistik nilainva juga sangat signiíikan.
Bahkan dari besaran pengaruhnva lebih besar dibanding pertumbuhan ekspor
pertanian. vaitu sebesar 0.516°.

V. PLNU1UP
V.J. Kesimpulan
Berdasarkan pengujian diperoleh hasil bahwa ekspor pertanian dan ekspor
non-pertanian sama-sama memiliki pengaruh vang positií terhadap pendapatan
nasional. vang secara statistik sangat signiíikan. Lebih jauh lagi. besaran ekspor
pertanian memberikan dampak vang lebih baik terhadap pendapatan nasional. vaitu
sebesar 5.¯23 apabila dibandingkan dengan ekspor non-pertanian. vang hanva
sebesar 1.293.
Sementara dari sisi pertumbuhan. ekspor pertanian memberi dampak vang
lebih kecil terhadap pertumbuhan ekonomi. vaitu sebesar 0.1¯5° daripada ekspor
non-pertanian vang sebesar 0.516°.

V.2. Rekomendasi
1anpa memperhatikan kelemahan dalam model dugaan tersebut. disarankan
bahwa pemerintah Indonesia harus sangat memperhatikan peranan ekspor
pertanian vang nvata-nvata secara signiíikan mempunvai pengaruh positií terhadap
pendapatan nasional. Sehingga dengan melakukan pembangunan sektor pertanian
dengan orientasi ekspor diharapkan mampu untuk mengangkat nasib kaum tani dan
pada gilirannva akan meningkatkan ekspor sebagai penghasil de·isa negara serta
memperkokoh pertumbuhan ekonomi. atau dengan melakukan proses
industrialisasi vang berbasis pada hasil pertanian.
lal ini sejalan dengan penggambaran vang dilakukan oleh 1odaro bahwa
terjadi gap vang sangat tinggi antara produkti·itas petani di negara-negara maju
dengan negara-negara vang sedang berkembang di dunia. termasuk Indonesia.
Produkti·itas petani di negara maju 13 kali lipat dibandingkan produkti·itas petani
di negara sedang berkembang pada thun 1960. Gap produkti·itas ini diproveksikan
semakin melebar menjadi 40 kali lipat pada tahun 2000.
4

lal ini disebabkan oleh rendahnva dukungan inírastruktur dan suprastruktur
kegiatan pertanian. Sebagai contoh. produk pertanian di Indonesia memiliki harga
jual vang relatií rendah di petani. namun harga jual tersebut tidak kompetitií di
pasaran internasional. vang diakibatkan oleh tingginva biava distribusi dan
pemasaran. Selain itu juga diakibatkan oleh pola produksi petani vang mavoritas
masih sangat tradisional.
Oleh karena itu. pembangunan di sektor pertanian. baik penvediaan
inírastruktur vang terkait maupun peningkatan produkti·itas akan menghasilkan
produk pertanian vang kompetitií baik di pasar dalam negeri maupun pasar ekspor.
Dengan berhasilnva pembangunan sektor pertanian. berarti dapat mengatasi
setidaknva dua permasalahan sekaligus: kemiskinan vang mavoritas di pedesaan
petani, dan pengangguran.


4
Todaro, M.P. Economic Development in the Third World. London: Longman, 6
th
edition,
1997, hal. 302.
12
V.3. Keterbatasan Studi
Keterbatasan studi ini adalah adanva persamaan vang digunakan dalam model
masih sangat sederhana karena belum memasukkan ·ariable-·ariabel lain vang
mungkin berpengaruh. Model juga baru memberikan iníormasi awal mengenai
dampak ekspor pertanian dan non-pertanian. Sehingga disarankan untuk melihat
studi-studi lain atau melakukan uji dengan menggunakan model-model vang lebih
komprehensií sehingga dihasilkan analisis vang lebih mendalam dan terinci.

DAI1AR PUS1AKA
Adirinekso. G. Davpa/ í/.por ´e/tor Miga. aav ^ovviga. )erbaaap Proav/ ^a.iovat ßrvto aav
Kovpovevvya Ka.v. ívaove.ia )abvv ]·¨0·]··ó. paper Lkonometrika I. Program Pascasarjana
lLUI. Depok. 2000.
Ananta. Aris. íavaa.av í/ovovetri/a. Jakarta: Gramedia. 198¯.
Arieí. Sritua. ívav.tri Mivya/ ßvvi aav í/ovovi ívaove.ia: ´vatv ´tvai Davpa/. Jakarta: Penerbit
Uni·ersitas Indonesia UI-Press,. 1984.
Arieí. Sritua. Metoaotogi Pevetitiav í/ovovi. Jakarta: Penerbit Uni·ersitas Indonesia UI-Press,. 1993.
B. \iwoho & 1ribuana Said. ívaove.ia ´ovrce ßoo/ ]··1. Jakarta: National De·elopment Iníormation
Oííice. 1994.
Bank Indonesia. íaporav )abvvav ßav/ ívaove.ia. beberapa terbitan.
Badan Pusat Statistik. Pevaapatav ^a.iovat ívaove.ia. beberapa terbitan.
Damodar. Gujarati. í..evtiat. ot ícovovetric - 2
va
ea. Singapore: 1he McGraw-lill (ompanies. Inc..
1999.
Badan Pusat Statistik. ívai/ator í/ovovi. beberapa terbitan.
Departemen Keuangan. ^ota Kevavgav aav R.Pß^. beberapa terbitan.
lartono. Djoni. Davpa/ í/.por ^ovviga. aav ívre.ta.i ´ra.ta )erbaaap Pertvvbvbav í/ovovi aav
)abvvgav Dove.ti/ tKa.v. ívaove.ia: ]·º0·]··ó). paper Lkonometrika I. Program Pascasarjana
lLUI. Depok. 2001.
IMl. ívtervatiovat íivavciat ´tati.tic Year ßoo/. beberapa terbitan.
Intriligator. M.. et.at. ícovovetric: Moaet.. )ecbviqve.. ava .ppticatiov.. New Jersev: Prentice lall. 1996.
Judge. GG et.at. )be )beory ava Practice ot ícovovetric.. New \ork. John \ilev and Sons. 1985.
Kadarusman. \.B.. et.al. Ma/ro í/ovovi ívaove.ia. Jakarta: P1 Gramedia Pustaka Utama bekerja
sama dengan Lembaga Penelitian Lkonomi IBII. 2004.
Mahvudi. Ahmad. í/ovovi Pevbavgvvav aav .vati.i. Data ívpiri.. Bogor: Ghalia Indonesia. 2004.
Rana. PB. Dan J. Malcolm Dowling Jr. 1he Impact oí loreign (apital on Growth: L·idence írom
Asian De·eloping (ountries. )be Deretopivg ícovovie.. 1ot. ``1í. NO. 1. March 1988.
Satria. Arií. 1ransíormasi ke Arah Pertanian Berbudava Industri: Suatu 1injauan 1eoretik`. .vati.i.
C´í´: 1ot. 2ó ^o.: )abvv ]··¨ bat. 1ó1·1¨¨.
Sigit. lananto. Dr. Appendix (: Procedure oí Data Lstimation - Measurement oí 1otal lactor
Producti·itv 1lP,`. í^íOMí): 1ot. ] ^ovor ] íebrvari 200]. Jakarta. (eS1AR - BPS.
Sukirno. Sadono. í/ovovi Pevbavgvvav: Pro.e.. Ma.atab aav Da.ar Kebiia/av. Jakarta: Lembaga
Penerbit. lLUI. 1985
Sundrum. R.M. Indonesia`s Slow Lconomic Growth: 1981-1986`. ßvttetiv ot ívaove.iav ícovovic
´tvaie.. 1ot. 21. No. 1. April 1988.
1ambunan. 1ulus 1.l. ívav.triati.a.i ai ^egara ´eaavg ßer/evbavg: Ka.v. ívaove.ia. Jakarta: Ghalia
Indonesia. 2001.
1odaro. M.P. ícovovic Deretopvevt iv tbe )bira !orta. London: Longman. 6
th
edition. 199¯.

/ $ 0 $ % / . $4 9 . + $ .67 87 . . Ahmad. -$ ! . $ ' ' $ ( * ) + ) * ) . 200. + ) $< 540 . 6 : . Ekonomi Pembangunan dan Analisis Data Empiris. $ 4 540 0 540 . 2 . 2004.% " # !"# $%$" & ! $ % & $ ) ! $ ! + ) . hal. 1 2 ) % *$ 3 1 $4 $ * ) 2 5 $! 5 .7 " -+ 1 Mahyudi. Penerbit Ghalia Indonesia. $5 + 7 88 . $ . .

% 4 5 . $ 8)) $ " $ $ 5 . 3 . & $ & ' 8$ $ 5 $ $ ' 6$ -$ . . .5 " ! $ 4 " $% $. *$ $5 $ ! 540 = " . 540 . . < . . " $ < $ < $ + $ / $ . % . $ / $% .

* + 6 8 + * ! .000 400.000 700.000 600.000 500. 4 > +$ 4 "$ 5 > $." .000 400.000 100.000 500.000 300. + + $ 8))) " + " ? * + $ Gambar 1.000 200.000 0 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Pertanian Non-Pertanian Gam bar 2. 05 $ 8 * $ . Perbandingan Ekspor Pertanian dan Non-Pertanian (Tahun 1981-2003 Menurut Harga Berlaku) 800.2003 Menurut Harga Konstan 2000) 700.000 200.000 Milyar rupiah 600. Perbandingan Ekspor Pertanian dan Non-Pertanian (Tahun 1981 . " " 7$ * 6 * + 8 4 .000 300.000 100.000 0 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Pertanian Non-Pertanian " + 6 *867 88 7 * * @ 8 + *8))6 $ " . .

+ *6* 7 + 6 @ " + $ ! -+7 + ! = *+ 87 + * *! " $< $ $ $ " )7 ." + )*7 -7 / .! " 5 $ A + ! * . & " .7 . .67 A + * ! +8 7 .87 . ! " ' " = 5 ' " " 6 $ + & '8 ) . ( A . & + . $ < 6 67 $5 8))) 8))6$ A . B4 $ ' ( $ * % ' .

" " $ . Industri Minyak Bumi dan Ekonomi Indonesia: Suatu Studi Dampak. $4 $( = $ 8+ * " 6 ) 6)$ . Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Sritua. = 5 * ) " $5 = + ) $< 5 = " $< $ ( 0!0%01 / 2 ( ( $5 $5 = 2 % . /" $/ + $ * *$ 4 & $8 >$ 8))) $ 4 8)) $ $ 5 " & ( / % " $ & CD Arief. 1984. "$" 5 . 6 . hal. 85.

5 < . 8)))$ 3 '3 ! " 8)))$ 4 $ < $6 . D & ) C C . 0 G ε8 & CD C 8D & $ 5 ) & Fβ Fγ F ) α D & ) C . # I 5 A . Hananto. 2001. + Sigit. 7 . H 5 H . C D $5 ) . Dr. E H H α β γ ε # $ 5 C 8D $5 / Fα Gβ H Gγ H Gε F α8 G β8 3 H G γ8 3 H F F F F F F 5 . D ' 4 8))6 = .= & E 3 E 4 . “Appendix C: Procedure of Data Estimation – Measurement of Total Factor Productivity (TFP)”. & 8 F β 8 F γ8 F ) α . INFOMET: Nomor 1 Februari 2001. CeSTAR – BPS. Jakarta.

( 49 8 ) $ 4 . $ . . = . " $ I " . "/ / " &! H = 3 05 4 % < 0 ! ! AJ$ 4" ! $ $ = % 8$ 5 $1 & $ '5 " () ) *+ 5 J % $ $ $ ( = $ " 4 $ 5 ) () ) % . 0 5 # 50. < " ! ! ' $ .% " $ .< ! ! .5 ' 3 % 0 < & H J . . " / / ! 0 H ' " 4 0 A 5 ! '8 ! '6 ! J '. " 1 # 49 .% 8$ ( " $ . $ J *+ ( %3 J $ .

= 5 & / / K 6) . < ))) 8 * *8+ * 8 8* * ) -) ) )8 + ( ( # 2 4 J 5 " ) 88* )8 68 6) ) )))))) L M# 2 5 L M# 2 9 .49 ' 49 = 49 ' - = 6 49 $4 ! = 8 ? $ 6$ ( < < $4 0 $0 ! .49 = " 6 49 $ ? 49 49 4 9 $ & . )+ ) / $ " "% " $0 & 3 % 3 5 3 / 8 * 8)) * 88+ 6 8 + ) 8 * 8 # 2 " J & $( / ' = $< $ 8 4 / 5 # " % !" 4 $ 5 # E $ # * ' / 3 ) )))) ) ). .49 ' $ .49 = 49 " 49 '8 .* ) )))) 9 ' 67 % 8 : 9 .

* 86 $ 6 6 " H " 3 8$ 3 3 . " $ 8$ 5 # % 5 3 / -)6 ) ) * 66 ) 6 6 ) -* # 2 " J & " + 8))6$ ) 88* )8 68 6) = = $ . 3 E # ' * / 3 ) )))) ) )) ) ) )))) 9 ' % 67 % 8 9: % . 49 F 8$8* * ' " α F 7 αF 7$ = / " α F 7$ . 6)$ . L M# 2 . / 6)$ " . 49 F 8 8 + ' -* % " αF 7 . α F 7$ .= " ! % " 8 8* 7 J α F 7$ 4 F ) -)' . ! . J α F 7$ 4 L M# 2 F ) 8+ ' .+6 88 + -* ) 8+ ) )6+ 6 $ ( $ ( # 2 4 J 5 " ) -8* 88+ + ) )))))) L M# 2 5 L M# 2 " " + 8))6$ ) -* 88+ + . α F 7$ = 10 . < ))) -6 * 6+ . $ . .

.7 ) * 7$ 5 . hal. 7$ ) *7 . 4 & $ = $ " 6 )$ > 8)))$. 1997. .P. $ 4 Todaro. ! . " * 86 8 6$ " ) 5 / % ' ! " $ = $ % = 5 = -) $ . London: Longman. Economic Development in the Third World. 0 ) 5 5 0 . $ 3 $ $ ' 7$ " . 6th edition. M. 11 . = ! = $ . $ $ L . 302.

-$ 0 ! $$ 3 $ 0 5 1 3 $ 4 > $( !( . !"= "/ $ >$ # 5 " JH(! 4 $$ ? & > +$ * .0( 9 A 41 4> <+ ? +4 1 % # / 05 $ $ ( 9 " 0 # $ ? &3 5 JH(! + #$A$ : ! P H" "> & + +. $0 ( ? & 5 ( = ! (!5 6$ 0$ 9 N% $3 45$ ? 5: & .: $ % . "$ " " 2 ( 3 8)))$ ( 0 0 1 46 458 5 + 5 7$ 1 H !5 = . L. 4 = 1 @ #) ( " A BBA3 . 5 0 ! & % % .4 H /A .L$ " A " + $ " + . 3 & 3 12 . $ 3 ( 3 9 # $ ? &5 ( = ! (!5 + -$ . " .< &% A" > 1 !" $ $ 0 5 $3 ( $ 4 < $1 1 $ 4 $ # ( 1 3) ( # & 3 94 = 4 5 ' 5+ 57 H !5 5 " JH(! 4 8)) $ ! 3 AJ$ > ? $ ! A$ ( 9 0 " % " . 3 $ 1>. $ !3 ( "A < . ? & 5 " $ ? >> ! ( . E ? 9 +$ < E$0$ $ $ 0 ( 3 ? &5% > 5 ( 3 5 H ! ! 8))-$ 0! A $( # ( $0 & > ! 8))-$ # 50$ 4 ? A " 4 $ ?$ : % ! " . $ : +$ + % % %$ $ 3 1 9 3 ? &> ! 8)) $ * $ % A$5$ ( #) . $ C 39 A < 1 D 7 45 5 6 : :: 6 7 6 4$: O 1&5 " . 4 = !.J 1 > & H= " .5 < 3 = $ A $ .% J " 5 " = %J5 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->