Anda di halaman 1dari 1

TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK

Menurut H. Blumer teori ini berpijak pada premis bahwa


(1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada “sesuatu” itu bagi mereka,
(2) makna tersebut berasal atau muncul dari “interaksi sosial seseorang dengan orang lain”, dan
(3) makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat “proses interaksi sosial” berlangsung.

“Sesuatu” – alih-alih disebut “objek” – ini tidak mempunyai makna yang intriksik. Sebab, makna yang dikenakan
pada sesuatu ini lebih merupakan produk interaksi simbolis.[2] Bagi H. Blumer, “sesuatu” itu – biasa diistilahkan
“realitas sosial” – bisa berupa fenomena alam, fenomena artifisial, tindakan seseorang baik verbal maupun
nonverbal, dan apa saja yang patut “dimaknakan”. Sebagai realitas sosial, hubungan “sesuatu” dan “makna” ini
tidak inheren, tetapi volunteristrik. Sebab, kata Blumer sebelum memberikan makna atas sesuatu, terlebih
dahulu aktor melakukan serangkaian kegiatan olah mental: memilih, memeriksa, mengelompokkan,
membandingkan, memprediksi, dan mentransformasi makna dalam kaitannya dengan situasi, posisi, dan arah
tindakannya.

Dengan demikian, pemberian makna ini tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan
sebelumnya, tetapi hasil dari proses olah mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi
instrumentalnya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukan tindakan dan sikap aktor atas sesuatu tersebut.
Dari sini jelas bahwa tindakan manusia tidak disebabkan oleh “kekuatan luar” (sebagaimana yang dimaksudkan
kaum fungsionalis struktural), tidak pula disebabkan oleh “kekuatan dalam” (sebagaimana yang dimaksud oleh
kaum reduksionis psikologis) tetapi didasarkan pada pemaknaan atas sesuatu yang dihadapinya lewat proses
yang oleh Blumer disebut self-indication. [3]

Menurut Blumer proses self-indication adalah proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui
sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut.
Dengan demikian, proses self-indication ini terjadi dalam konteks sosial di mana individu mengantisipasi
tindakan-tindakan orang lain dan menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia memaknakan tindakan itu.

[4] Lebih jauh Blumer dalam buku yang sama di halaman 78 menyatakan bahwa interaksi manusia dijembatani
oleh penggunaan simbol-simbol, oleh penafsiran, dan oleh kepastian makna dari tindakan orang lain, bukan
hanya sekedar saling bereaksi sebagaimana model stimulus-respons.