Anda di halaman 1dari 4

Windy Sulistiana

210110080364

HUMAS C

Sejarah Humas di Indonesia dan Perkembangannya

Tidak ada catatan yang pasti tentang perkembangan Public Relation di

Indonesia, mulai kapan profesi ini berlangsung, kapan pastinya Public relation ini

muncul di Inonesia. Tetapi secara pasti praktik Public Relation di Indonesia dalam

pengertiannya yang paling hakiki sudah ada di Nusantara sejak penjajahan kolonial

Belanda. Sebagai contoh yaitu usaha Penembahan Senopati, pendiri kerajaan

Mataram, yaitu Penembahan Senopati berusaha menyebarkan citra postif, bahwa ia

dan keturunannya akan menjadi pasangan Nyai Roro kidul. Informasi ini diberikan

kepada masyarakat sebagai upaya menyaingi para Sunan (wali) yang sangat disegani.

Namun secara kelembagaan atau institusional, keberadaan profesi Public

Relation diakui sejaka terbentuknya Bakohumas. Bakohumas sendiri terbentuk pada

13 Maret 1971. Bakohumas ini menghimpun para pejabat dan staf Punlic Relation di

lingkungan departmen, lembaga-lembaga pemerintahan, dan BUMN. Perkembangan

humas di Indonesia cukup pesat, dan tiga faktor yang melatarbelakanginya. Yakni

pertama, cepatnya kemajuan teknologi, kedua pertumbuhan ekonomi, dan yang

ketiga adalah kian hausnya masyarakat akan informasi yang akurat.

Agenda kerja Bakohumas ditekankan pada pemantapan koordinasi, integrasi,

sinkronisasi dalam operasi penerangan dan kehumasan. Organisasi ini terdapat di

pusat dan daerah-daerah (Dati I dan II). Keanggotaanya bukan individual melainkan
fungsional kelembagaan. Sampai sekarang, anggotanya tercatat sebanyak 136

lembaga. Secara ex officio, pimpinan Bakohumas Pusat dijabat oleh Direktur

Pembinaan Humas Departemen Penerangan sedangkan wakilnya adalah Kepala Biro

Humas Departemen Dalam Negeri. Di Dati I, kepala Bakohumas Daerah dijabat oleh

Kepala Kanwil Departemen Penerangan setempat.

Selanjutnya, lembaga pertama di Indonesia yang menghimpun para praktisi

Public Relations (individual) yaitu Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat)

atau Public Relation Association of Indonesia. Perhumas sendiri didirikan pada

tanggal 12 Desember 1972 atas prakarsa kalangan swasta dan Pemerintahan, antara

lain adalah Wardiman Djojonegoro, Brigjen Soemrahadi, Marah Joenoes, Nana

Sutresna, feisal Tamin, R.M. Hadjiwibowo, Dr. Alwi Dahlan, Drs. Soemadi (mantan

direktur TVRI), Imam Sadjono (konsultan humas), Wisaksono Noeradi, dan beberapa

tokoh terkait lainnya

Perhumas dibentuk dengan tujuan meningkatkan keterampilan profesional

humas, memperluas dan memperdalam pengetahuan teknis humas dan sebagai

wahana pertemuan para teknisi humas. Perhumas telah tercatat sebagai anggota IPRA

(International Public Relation Association) yang berpusat di jenewa, Swiss. Perhumas

pun turut merintis pembentukan FAPRO (federation of ASEAN Public Relation

Organization) pada awala tahun 1980-an.

Pada tanggal 13 September 1996 terbentuklah FORKAMAS (Forum

Komunikasi Humas Perbanas) lembaga ini khusu menghimpun pejabat Public

Relation dilingkungan perbankan. Penggagasnya adalah Gubernur Bank Indonesia


yaitu Soedradjad Djiwandono. Namun sampai akhir tahun 1996, lembaga tersebut

baru menghimpun para pejabat humas dari sekitar 30-an bank, sedangkan jumlah

bank yang ada di Indonesia saat itu mencapai sekitar 240-an.

Sebetulnya, perusahaan atau biro-biro konsultan humas telah membentuk

asosiasi tersendiri pada tahun 1986 dengan nama APPRI (Asosiasi Perusahaan Public

Relations Indonesia). Sampai tahun 1995, anggotanya telah mencapai sekitar 55

perusahaan. APPRI sejak awal telah aktif dalam ikut menangani proyek-proyek

kehumasan berskala besar, seperti humas untuk keluarga berencana dan pameran

kedirgantaraan internasional (Indonesia Air Show).

Di luar itu masih banyak asosiasi yang relatif independen. Seperti H3

(Himpunan Humas Hotel) yang berdiri pada tanggal 23 Februari 1995 atau Jayakarta

PR club. Perkembangan kelembagaan ini pun turut membawa andil yang tinggi bagi

perkembangan Profesi Public Relation di Indonesia.

Praktek humas umtuk bisnis modern telah dimulai pada tahun 1950-an. Ketika

pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan

Belanda. Ketika itu pemerintah menghadapi masalah tentang bagaimana menarik

dukungan masyarakat akan kebijkanaan yamg diambilnya. Begitu pula dengan

memelihara kepercayaan masyarakat terhadap hasil-hasil produksi dan layanan yang

diberikan oleh perusahaan seperti pabrik gula, minyak bumi, pelayaran, jawatan

kereta api di bawah putra-putra bangsa. Lalu disusul dengan Surat Keputusan Perdana

Menteri Juanda, yang menekankan bahwa setiap perusahaan negara perlu di bentuk

Biro Hubungan Masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Hamdan, Hafied Cangara. 1996. Prinsip-Prinsip Hubungan Masyarakat.

Surabaya: Usana Offset.

Anggoro, M Linggar. 2000. Teori & Profesi Kehumasan Serta Aplikasinya di

Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Ardianto, Elvinaro. 2004. Public Relations Suatu Pendekatan Praktis. Bandung:

Pustaka Bani Quraisy.