P. 1
Pasal KUHP Menjerat Pelaku Aborsi

Pasal KUHP Menjerat Pelaku Aborsi

|Views: 1,540|Likes:
Dipublikasikan oleh chamcoel hoeda

More info:

Published by: chamcoel hoeda on Oct 06, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2013

pdf

text

original

Pasal KUHP Menjerat Pelaku Aborsi

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Kasus aborsi meruyak di Jember. Minggu (15/8), polisi menggeledah sebuah rumah di jalan Perumnas Balung Desa Balung Kidul, Kecamatan Balung, Jember, milik Vike Septaninda (48 tahun), mantan bidan (48 tahun) guna mengumpulkan bukti adanya praktek aborsi ilegal terhadap ND (25 tahun) warga Kecamatan Srono Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Melansir dari SuryaOnline (16/8/2010) ND ditangkap oleh aparat Sabtu petang (14/8) saat membeli peralatan pemakaman di pasar Tanjung. “Seperti kain kafan, tetapi jumlahnya sedikit. Warga curiga ketika melihat kondisi korban dan akhirnya melaporkan ke kami,” terang Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jember Ajun Komisaris Polisi M Nurhidayat. Setelah didesak petugas kepolisian ND mengaku, ia baru saja menggugurkan kandungannya yang berusia 2,5 bulan di rumah praktek Vike dengan biaya sebesar Rp 2 juta. Berdasarkan keterangan itulah polisi melakukan penggeledahan di rumah yang terletak sekitar 35 kilometer arah selatan Kota Jember. Di kamar tidur Vike polisi menemukan sejumlah peralatan medis di antaranya tensimeter, puluhan jarum suntik, obat antibiotik, alat tes pembukaan rahim, sarung tangan, juga kain perlak. Vike sempat mengatakan tidak melakukan praktek aborsi. Begitu juga dengan jarum suntik yang diakuinya sebagai peralatan medis yang digunakan semasa ia menjadi bidan beberapa tahun lalu. Polisi juga menemukan sejumlah jarum suntik yang masih ada darahnya, sejumlah obat cair dalam botol. Termasuk bungkusan plastik berisi gumpalan darah dan kapur yang digunakan untuk membersihkan darah di saluran pembuangan air di belakang rumah Vike. Akibat praktek tersebut Vike akan dijerat Pasal 348 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Sedang Pasal 346 KUHP dikenakan kepada ND karena sengaja menggugurkan kandungan dengan ancaman pidana empat tahun penjara. “Kami masih mengembangkan kasus tersebut, berapa banyak korban aborsi yang dilakukan Vike.” tukas Hidayat. Atas kejadian penangkapan terhadap perempuan yang menggugurkan kandungannya (aborsi) tersebut, Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan Ninuk Widyantoro menyatakan prihatin. Terlebih jika alasan penangkapan itu masih mendasarkan pada KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). “KUHP itu kan perangkat hukum yang dibuat pada masa Belanda dan belum disesuaikan dengan perkembangan zaman,” kata Ninuk kepada Jurnal Perempuan, (20/8). Dalam KUHP, lanjut Ninuk, perempuan yang melakukan aborsi tanpa pandang bulu dianggap kriminal. Sayangnya, kebanyakan aparat masih berpedoman pada KUHP ketika ada kasus aborsi. Padahal saat ini, menurut Ninuk, kondisi zaman sudah berubah. Aparat dan masyarakat dituntut untuk bertindak dengan menggunakan dasar hak asasi manusia.

terutama untuk menghindarkan dari kejadian semena-mena dan kriminalisasi terhadap perempuan yang melakukan aborsi. proses aborsi yang aman juga diwajibkan. “Aparat mestinya tahu juga tentang kesetaraan gender dan tanggap terhadap perubahan prinsip hidup.” Perubahan prinsip hidup yang dimaksud oleh Ninuk adalah dengan melihat kondisi perempuan yang melakukan aborsi. Dalam kondisi Undang-Undang yang ada belum bisa diterapkan.Ninuk juga menyoroti tentang aparat hukum yang bertindak gegabah dengan langsung menangkap perempuan yang baru diduga melakukan tindakan aborsi. Nur Azizah & Dewi Setyarini Kirim Lihat Dulu . atau dalam kondisi kehamilan akibat perkosaan yang mengakibatkan trauma psikologis bagi si ibu. yaitu dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki ketrampilan dan kewenangan. Di sisi lain. maupun adanya penyakit genetik bawaan yang berat. menurut Ninuk. Tentu saja. Jika memang ada indikasi medis seperti membahayakan hidup si ibu maupun janin. kepekaan aparat berdasarkan human right sangat dibutuhkan. Hal itulah. Undang-Undang Kesehatan memberi jaminan membolehkan adanya aborsi. yang dalam pandangan Ninuk belum dipahami oleh aparat penegak hukum kita. proses membuat Peraturan Perundang-Undangan sangat penting agar Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 segera dapat diaplikasikan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->