Anda di halaman 1dari 4

Teori Sistem

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari beberapa unsur (subsistem) yang saling
berinteraksi guna menghasilkan menghasilkan output atau tujuan tertentu. Interaksi
antarsubsistem itu kemudian membentuk jaringan yang masing-masing mempunyai fungsi
sendiri yang berbeda satu dengan lainnya. Fungsi komponen yang satu dipengaruhi oleh fungsi
komponen lain yang berhubungan dengannya.

Dalam mencapai tujuan, yaitu mendapatkan output yang baik, sangat tergantung bagaimana
masing-masing subsistem melaksanakan peran dan fungsinya. Dengan kata lain, jika salah satu
subsistem mengalami disfungsi, maka akan berpengaruh terhadap subsistem lainnya sehingga
berpengaruh terhadap hasil yang akan dicapai.

Teori Sistem dikembangkan oleh Talcott Parsons yang meyakini jika tindakan atau perilaku
manusia itu merupakan bagian dari berfungsinya sistem yang harus dijelaskan dalam kerangka
hubungannya dengan keseluruhan.

Prespektif sistem, menawarkan berbagai solusi dalam menghadapi patalogi sosial seperti
masalah-masalah kemiskinan, konflik sosial, kriminalitas, degradasi lingkungan, dan problem
yang dihadapi sejumlah negara yang kurang maju.

Di mana masyarakat merupakan sebuah entitas yang relative stabil yang unsure-unsur
pembentukannya melebur sedemikian rupa. Masyarakat tersusun dari empat subsistem yang
mempunyai fungsi yang berbeda—yang masing-masing subsistem itu fungsinya memecahkan
masalah yang berbeda pula. Subsistem ini bisa mengambil lembaga tertentu atau bisa juga
kegiatan dan prosedur yang sifatnya cair. Dengan menggunakan model AGIL, Parsons
mengembangkan model yang dapat member penjelasan secara menyeluruh atas setiap
masyarakat di muka bumi. Bahkan, ia mengklaim bahwa keempat subsistem ini harus ada dalam
sebuah masyarakat atau subsistem jika masyarakat mau bertahan untuk waktu yang yang cukup
panjang.

AGIL merupakan kepanjangan dari Adaptation, Goal attainment, Integration dan Laten pattern
maintenance and tension management.

1. Adaptation, adalah cara system beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan
kebutuhan material untuk bertahan hidup (sandang, pangan dan papan). Ekonomi teramat
penting dalam subsistem ini.
2. Goal attainment adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau
produk (output) dari system dan kepemimpinan. Politik menjadi panglima dari subsistem
ini
3. Integration adalah penyatuan subsistem ini berkenaan dengan menjaga tatanan. System
hukum dan lembaga-lembaga atau komunitas yang memperjuangkan tatanan sosial
termasuk dalam kelompok ini
4. Laten pattern maintenance and tension management mengacu pada kebutuhan
masyarakat untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan.
Lembaga-lembaga yang ada dalam subsistem ini bertugas untuk memproduksi nilai-nilai
budaya, menjaga solidaritas, dan menyosialisasikan nilai-nilai. Institusi agama, sekola
dan keluarga termasuk dalam subsistem ini.

Antarsubsistem tersebut bergerak tidak statis, namun dinamis dengan menekankan pentingnya
interaksi antarsel maupun perbedaanya. Subsistem tersebut saling berinteraksi dengan cara
mempertukarkan kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Media pertukarannya bisa
berupa uang (A), kekuasaan (G), pengaruh (I) dan komitmen terhadap nilai (L).

Sejak tahun 1930-an, Parsons berupaya mengembangkan sebuah teori umum (a general theory).
Dalam bukunya The Social System, Parsons melihat bahwa persoalan sentral dari sebuah
masyarakat adalah tentang integrasi dan alokasi. Alokasi mengacu pada distribusi upah di antara
orang-orang dan distribusi orang ke dalam posisi-posisi tertentu dalam masyarakat.

Sementara itu, integrasi adalah mengacu pada bagaimana mengelola tegangan-tegangan yang
muncul sebagai akibat dari alokasi tadi. Untuk menjabarkan fenomena tersebut, Parsons
kemudian menjabarkan, dengan mengembangkan sebuah model masyarakat yang terdiri dari tiga
system.

Pertama, adalah system sosial yang terbentuk dari interaksi antarmanusia. Ini adalah wilayah
yang sangat potensial terjadinya konflik karena orang berebut sumberdaya yang langka dan
memperjuangkan tujuan yang berbeda-beda. Karena itu, Parsons memandang perlunya sebuah
system yang akan mengatur sumber-sumber ketegangan serta menciptakan stabilitas, dengan
menyusun sebuah batasan atau aturan yang dijadikan dasar bagi pola tindakan atau perilaku yang
sah dan beroperasinya peran dan fungsi lembaga-lembaga yang menjunjung tinggi nilai tertentu.
Bersamaan dengan ini, kemudian muncul pula ekspektasi yang akan membantu menstabilkan
pola-pola interaksi antarmanusia.

Hal ini bisa diilustrasikan sebagai berikut: Peran “Orang sakit” menyebabkan sejumlah
kewajiban dan ekspektasi yang meliputi minta bantuan, mematuhi nasihat dokter, mempercayai
dokter, dan berusaha untuk segera sembuh. Para ahli medis diharapkan dapat menjaga jarak
emosional guna menyediakan nasihat professional yang terbaik. Karena peran yang saling
mengisi sekaligus shared ecpectations inilah maka interaksi antara dokter dan pasien bisa
berjalan dengan baik.

Kedua, system kepribadian yang dikembangkan oleh Sigmund Frued yang tersusun atas
sejumlah disposisi kebutuhan. Mereka adalah preferensi, hasrat dan keinginan. Parsons
menjelaskan bahwa disposisi kebutuhan ini dibentuk oleh proses sosialisasi dan system nilai dari
sebuah masyarakat. Pengaturan disposisi ini yang akan membantu terjaganya tatanan sosial.

Ketiga, system budaya (cultural system). Sistem ini membuat orang bisa saling berkomunikasi
dan mengoordinasikan tindakan-tindakan mereka, sebagian dengan cara mempertahankan
ekspektasi peran.

Ada tiga wilayah penerapan system budaya ini, yaitu:


1. Ranah symbol-simbol kognitif. Misalnya, hitung-hitungan matematis dan laporan
keuangan yang berurusan dengan ide dan keyakinan tentang dunia. kegiatan dalam ranah
ini bersifat instrumental.
2. Symbol-simbol ekspresif. Misalnya seni dan music yang biasanya mengkomunikasikan
emosi. Untuk menilainya dibutuhkan seperangkat criteria estetis. Kegiatan dalam ranah
ini bersifat kreatif dan hal ikhwal kenikmatan (pleasure).
3. Standar dan norma moral yang berurusan dengan benar atau salah. Di sini, nilai-nilai
(value) memainkan peranan paling pokok. Tindakan-tindakan kongkret dinilai
berdasarkan keselarasan atau ketidakselarasan mereka dengan ideal-ideal abstrak.

Bagi Parsons, pola-pola yang berorientasi pada nilai sangat penting dalam penataan system-
sistem tindakan, sebab salah satu dari pola tersebut mendefinisikan pola-pola hak dan kewajiban
timbal balik yang merupakan unsure pokok pembentuk ekspektasi peran dan saksi. Karenanya,
Parsons percaya bahwa kesepakatan tentang nilai nilai bersama merupakan jantung dari tatanan
sosial. Dengan membatinkan norma-norma seperti keadilan dan kesetaraan dan bericata-cita
sama, orang akan menyelaraskan tindakan mereka dengan orang lain.

Sistem Tindakan
Teori Parsons mengenai tindakan meliputi empat system yaitu, system budaya, system sosial,
system kepribadian dan system organism (biologis manusia sebagai sebuah system).

1. System Budaya yang alat analisis yang paling mendasarkan ada arti atau system
simbolik, yaitu kepercayaan, religious, bahasa dan nilai. Dalam hal ini, nilai yang
menjadi pusat perhatiannya adalah nilai yang dihayati bersama. Dalam konteks ini, perlu
menekankan analisis mengenai konsep sosialisasi yang dilakukan ketika nilai-nilai yang
dihayati bersama itu diinternalisir oleh anggota masyarakat. Kemudian, anggota
masyarakat itu membuat nilai masyarakat menjadi nilai-nilai sendiri. Sosialisasi
mempunyai kekuatan integrative yang sangat tinggi dalam mempertahankan control
sosial dan keutuhan masyarakat.
2. System sosial yang memusatkan perhatiannya pada interaksi berdasarkan peran. System
sosial merupakan interaksi antara dua atau lebih individu di dalam suatu lingkungan
tertentu. Tetapi interaksi itu tidak terbatas antara individu-individu melainkan juga antar
kelompok, institusi, masyarakat dan organisasi internasional.
3. System kepribadian, yang merupakan kesatuan yang paling mendasar dari unit berupa
individu yang merupakan aktor dan pelaku. Pusat perhatiannya adalah kebutuhan, motif,
sikap, motivasi untuk mendapatkan kepuasaan atau keuntungan.
4. System organism atau aspek biologis dari manusia. Kesatuan yang paling mendasar
dalam system ini adalah manusia dalam arti biologis, yakni aspek fisik dari manusia.
Parsons menyebut secara khusus mengenai system syaraf dan kegiatan motorik sehingga
muncul cabang baru dalam sosiologi yaitu Sosiobiologi. Dalam studi ini, perlu dipelajari
perilaku sosial berdasarkan hukum-hukum biologis.