Anda di halaman 1dari 32

VII.

SINTESA DAN UJI INFORMASI YANG TELAH DIPEROLEH

ETIKA DALAM PROFESI KEDOKTERAN

Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan


pasien terhadap layanan dokter atau rumah sakit atau tenaga
kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari:

(a) semakin tinggi pendidikan rata-rata masyarakat


sehingga membuat mereka lebih tahu tentang haknya dan
lebih asertif,

(b) semakin tingginya harapan masyarakat kepada layanan


kedokteran sebagai hasil dari luasnya arus informasi,

(c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan kedokteran


dan kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran
terhadap layanan yang tidak sempurna, dan

(d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan


sendiri.

Etik Profesi Kedokteran

World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada


tahun 1968 menelorkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik
Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran Internasional
berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien,
kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri.
Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan
mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional

Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga


berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-
prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan
dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-
salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi
moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian
disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan
klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan
penelitian di bidang medis.

Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus


dapat dibendung dengan memberikan latihan dan teladan yang
menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti
autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam
memperoleh informasi dan hak membuat keputusan tentang apa
yang akan dilakukan terhadap dirinya), beneficence (melakukan
tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak
melakukan perbuatan yang memperburuk pasien) dan justice
(bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme (pengabdian
profesi).

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran

Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran


etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan
dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
(MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin
profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk
mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran
profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang
menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin
profesi di kalangan kedokteran. Di kemudian hari Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga
yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan
menjadi majelis yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin
profesi kedokteran.

MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi


dalam penyelenggaraan praktik kedokteran. Domain atau
yurisdiksi MKDKI adalah “disiplin profesi”, yaitu permasalahan
yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional
atas peraturan internal profesinya, yang menyimpangi apa yang
diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional) dengan
pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI
dalam sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka
MKDKI akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK.

Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan


terpisah dari proses persidangan gugatan perdata atau tuntutan
pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda.
Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI,
sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di
lembaga pengadilan di lingkungan peradilan umum.

Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu


Majelis (ketua dan anggota) bersikap aktif melakukan
pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai
penuntut. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan
sistem pembuktian sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara
pidana ataupun perdata, namun demikian tetap berupaya
melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan
pembuktian yang lazim.

Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang


memperoleh :

1. Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit),


langsung dari pihak-pihak terkait (pengadu, teradu, pihak
lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya
yang dibutuhkan

2. Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam


bentuk berbagai ijasah/ brevet dan pengalaman, bukti
keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin
Praktek Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat
kejadian, bukti hubungan dokter dengan rumah sakit,
hospital bylaws, SOP dan SPM setempat, rekam medis, dan
surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya.

Apabila dilihat dari cabang keahlian apa yang paling sering


diadukan oleh pasiennya adalah : SpOG (24), SpB (17), DU (14),
SpPD (10), SpAn (7), SpA (4), SpKJ (3), SpTHT (4), SpJP (2), SpM
(2), SpP (2), SpR (2) kemudian masing-masing satu kasus adalah
SpBO, SpBP, SpBS, SpF, SpRM, SpKK, SpS dan SpU. Mereka pada
umumnya bekerja di rumah sakit atau klinik ( 90 % ), bukan di
tempat praktek pribadi.

Dan apabila dilihat dari sisi pengadunya, maka terlihat


bahwa pada umumnya pengadu adalah pasien atau keluarganya,
tetapi terdapat pula kasus-kasus yang diajukan oleh rumah sakit
tempat dokter bekerja dan oleh masyarakat (termasuk media
masa).

Dari sisi issue yang dijadikan pokok pengaduan, atau


setidaknya terungkap di dalam persidangan, dapat dikemukakan
bahwa menduduki tempat teratas adalah komunikasi yang tidak
memadai antara dokter dengan pasien dan keluarganya.
Kelemahan komunikasi tersebut muncul dalam bentuk :
kurangnya penjelasan dokter kepada pasien – baik pada waktu
sebelum peristiwa maupun sesudah peristiwa, kurangnya waktu
yang disediakan dokter untuk dipakai berkomunikasi dengan
pasien, komunikasi antara staf rumah sakit dengan pasien.
Prosedur penanganan pelanggaran etika kedokteran

Pada tahun 1985 Rapat Kerja antara P3EK, MKEK dan MKEKG
telah menghasilkan pedoman kerja yang menyangkut para
dokter antara lain sebagai berikut :
1. Pada prinsipnya semua masalah yang menyangkut
pelanggaran etik diteruskan lebih dahulu kepada MKEK.
2. Masalah etik murni diselesaikan oleh MKEK.
3. Masalah yang tidak murni serta masalah yang tidak dapat
diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke P3EK propinsi.
4. Dalam sidang MKEK dan P3EK untuk pengambilan keputusan,
Badan Pembela Anggota IDI dapat mengikuti persidangan jika
dikehendaki oleh yang bersangkutan (tanpa hak untuk
mengambil keputusan).
5. Masalah yang menyangkit profesi dokter atau dokter gigi akan
ditangani bersama oleh MKEK dan MKEKG terlebih dahulu
sebelum diteruskan ke P3EK apabila diperlukan.
6. Untuk kepentingan pencatatan, tiap kasus pelanggaran etik
kedokteran serta penyelesaiannya oleh MKEK dilaporkan ke P3EK
Propinsi.
7. Kasus-kasus pelanggaran etikolegal, yang tidak dapat
diselesaikan oleh P3EK Propinsi, diteruskan ke P3EK Pusat.
8. Kasus-kasus yang sudah jelas melanggar peraturan
perundang-undangan dapat dilaporkan langsung kepada pihak
yang berwenang.
Pedoman penilaian kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran

Etik lebih mengandalkan itikad baik dan keadaan moral para


pelakunya dan untuk mengukur hal ini tidaklah mudah. Karena
itu timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran etik, selama
pelanggaran itu tidak merupakan kasus-kasus pelanggaran
hukum. Dalam menilai kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran,
MKEK berpedoman pada :
1. Pancasila
2. Prinsip-prinsip dasar moral umumnya
3. Ciri dan hakekat pekerjaan profesi
4. Tradisi luhur kedokteran
5. LSDI
6. KODEKI
7. Hukum kesehatan terkait
8. Hak dan kewajiban dokter
9. Hak dan kewajiban penderita
10. Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
11. Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran senior.
Selanjutnya, MKEK menggunakan pula beberapa pertimbangan
berikut, yaitu :
1. Tujuan spesifik yang ingin dicapai
2. Manfaat bagi kesembuhan penderita
3. Manfaat bagi kesejahteraan umum
4. Penerimaan penderita terhadap tindakan itu
5. Preseden tentang tindakan semacam itu
6. Standar pelayanan medik yang berlaku
Jika semua pertimbangan menunjukkan bahwa telah terjadi
pelanggaran etik, pelanggaran dikategorikan dalam kelas ringan,
sedang atau berat, yang berpedoman pada :
1. Akibat terhadap kesehatan penderita
2. Akibat bagi masyarakat umum
3. Akibat bagi kehormatan profesi
4. Peranan penderita yang mungkin ikut mendorong terjadinya
pelanggaran
5. Alasan-alasan lain yang diajukan tersangka
Bentuk-bentuk sanksi

Dalam pasal 6 PP no.30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin


Pegawai Sipil terdapat uraian tentang tingkat dan jenis hukuman,
sebagai berikut :
1. Tingkat hukuman disiplin terdiri dari :
a. Hukuman disiplin ringan
b. Hukuman disiplin sedang, dan
c. Hukuman disiplin berat
2. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari :
a. Teguran lisan
b. Teguran tulisan, dan
c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
3. Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari :
a. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun
b. Penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk
paling lama satu tahun, dan
c. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun
4. Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari :
a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah
untuk paling lama satu tahun
b. Pembebasan dari jabatan
c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan
d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri
Sipil
Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal, di samping pemberian
hukuman sesuai peraturan tersebut di atas, maka selanjutnya
diproses ke pengadilan.

1. DISIPLIN DALAM PROFESI KEDOKTERAN

Profesi kedokteran dan profesi kedokteran gigi merupakan


profesi yang memiliki keluhuran karena tugas utamanya adalah
memberikan pelayanan untuk memenuhi salah satu kebutuhan
dasar manusia yaitu kebutuhan akan kesehatan Dokter dan
dokter gigi dalam menjalankan tugas profesionalnya, selain
terikat dengan norma etika dan norma hukum, juga terikat
dengan norma disiplin kedokteran, yang bila ditegakkan akan
menjamin mutu pelayanan sehingga terjaga martabat dan
keluhuran profesinya. Pengertian disiplin kedokteran sesuai
dengan undang-undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran (Pasal 55 ayat 1) adalah aturan-aturan dan/atau
ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan
yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi.Pelanggaran
disiplin adalah pelanggaran terhadap aturan-aturan dan/atau
ketentuan penerapan keilmuan, yang pada hakekatnya dapat
dikelompokkan dalam 3 hal, yaitu :

I. Melaksanakan Praktik Kedokteran tidak sesuai dengan


kompetensinya

II. Tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab profesional


dengan baik

III. Berprilaku yang tercela yang merusak martabat dan


keluhuran profesi kedokteran Pada Pasal 1 butir 14 Undang-
undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
menyatakan bahwa Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia adalah majelis yang berwenang menentukan ada atau
tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter atau dokter gigi dalam
penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi, dan
menetapkan sanksi.Pelanggaran disiplin ilmu kedokteran yang
dilakukan oleh dokter dan dokter gigi yang terregistrasi di Konsil
Kedokteran Indonesia, atau dokter dan dokter gigi yang telah
memiliki Surat Penugasan dari Departemen Kesehatan pada
masa peralihan, dapat mengakibatkan pelakunya diberi sanksi
disiplin profesi yang diputuskan oleh Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia.

KETENTUAN UMUM

1. Disiplin kedokteran: adalah aturan-aturan dan/atau


ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan
pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi.

2. Penegakan disiplin adalah penegakan aturan-aturan


dan atau ketentuan penerapan keilmuan dalam
pelaksanaan pelayanan yang harus diikuti oleh dokter dan
dokter gigi

3. MKDKI adalah Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran


Indonesia

4. Surat Tanda Registrasi adalah bukti tertulis yang


diberikan Konsil Kedokteran Indonesia kepada dokter dan
dokter gigi yang telah diregistrasi

5. Surat Izin Praktik adalah bukti tertulis yang diberikan


pemerintah kepada dokter dan dokter gigi yang akan
menjalankan Praktik Kedokteran setelah memenuhi
persyaratan.

6. Disiplin Kedokteran adalah Disiplin profesi kedokteran


dan profesi kedokteran gigi.

BENTUK DISIPLIN KEDOKTERAN

1. Melakukan praktik kedokteran sesuai kompeten

2. Merujuk pasien kepada tenaga medik lain yang memiliki


kompetensi sesuai.
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan
tertentu yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan
pekerjaan tersebut.

Penjelasan:

a. Dokter atau dokter gigi dapat mendelegasikan


tindakan atau prosedur kedokteran tertentu kepada tenaga
kesehatan tertentu yang sesuai dengan ruang lingkup
ketrampilan mereka.

b. Dokter harus yakin bahwa tenaga kesehatan yang


menerima pendelegasian memiliki kompetensi untuk itu.

c. Dokter tetap bertanggung jawab atas


penatalaksanaan pasien tersebut.

4. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti yang


memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai atau
memberitahukan penggantian tersebut;

5. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi


tingkat kesehatan fisik ataupun mental sedemikian rupa
sehingga kompeten dan dapat menyelamatkan pasien;

6. Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang


seharusnya dilakukan atau melakukan yang seharusnya
dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya,
dengan alasan pembenar atau pemaaf yang sah, sehingga
dapat menyelamatkan pasien.

7. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan yang sesuai


dengan kebutuhan pasien
8. Memberikan penjelasan yang jujur, etis dan memadai
(adequate information) kepada pasien atau keluarganya
dalam melakukan praktik kedokteran

9. Melakukan tindakan medik dengan memperoleh


persetujuan dari pasien atau keluarga dekat atau wali atau
pengampunya.:

10. membuat atau menyimpan rekam medik sebagaimana


diatur dalam peraturan perundang-undangan atau etika
profesi.

11.Tidak melakukan perbuatan yang bertujuan untuk


menghentikan kehamilan yang tidak sesuai dengan
ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan dan etika profesi

12. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri


kehidupan pasien atas permintaan sendiri dan atau
keluarganya, sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan dan etika profesi.

13. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan


pengetahuan atau ketrampilan atau teknologi yan gdapat
diterima atau sesuai dengan tatacara praktik kedokteran
yang layak

14. Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran


dengan manusia sebagai subjek penelitian dengan
persetujuan etik (ethical clearance)

16. Menolak atau menghentikan tindakan pengobatan


terhadap pasien dengan alasan yang layak dan sah
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
atau etika profesi;

17. Menjaga rahasia kedokteran sebagaimana diatur


dalam peraturan perundang-undangan atau etika profesi;

18. Membuat keterangan medis yang didasarkan kepada


hasil pemeriksaan yang diketahuinya secara benar dan
patut;

19. Menolak perbuatan yang termasuk ke dalam tindakan


penyiksaan (torture) atau eksekusi hukuman

20. Tidak meresepkan atau memberikan obat golongan


narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA)
yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dan etika

21. Tidak melakukan pelecehan seksual atau tindakan


intimidasi atau tindakan kekerasan terhadap pasien

22. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi


yang dalam haknya untuk pelayanan kesehatan.

23. Tidak boleh Menerima imbalan sebagai hasil dari


rujukan atau permintaan pemeriksaan atau pemberian
resep obat/ alat kesehatan;

24.Tidak boleh Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau


kelebihan kemampuan/ pelayanan yang dimiliki, baik lisan
ataupun tulisan, yang bertentangan dengan etika profesi;

25. Tidak tergantung pada narkotika, psikotropika, alkohol


serta zat adiktif lainnya Penjelasan: Penggunaan
narkotika, psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya
(NAPZA) dapat menurunkan kemampuan seorang
dokter/dokter gigi sehingga berpotensi membahayakan
pengguna pelayanan medik.

26. Berpraktik dengan menggunakan STR atau SIP


dan/atau sertifikat kompetensi yang sah Penjelasan:
Seorang dokter/dokter gigi yang diduga memiliki STR dan
atau SIP dengan menggunakan persyaratan yang tidak
sah dapat diajukan ke MKDKI. Apabila terbukti pelanggaran
tersebut maka STR akan dicabut oleh Konsil Kedokteran
Indonesia

27. jujur dalam bertransaksi dengan pasien dalam


memberikan pelayanan medik

SANKSI DISIPLIN

Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MKDKI berdasarkan


Undang- undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
pada Pasal 69 ayat (3) adalah :

1.Pemberian peringatan tertulis

2.Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat


Izin Praktik; dan/atau

3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi


pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.

Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin


Praktik yang dimaksud dapat berupa Rekomendasi pencabutan
Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik sementara selama-
lamanya 1 (satu) tahun, atau Rekomendasi pencabutan Surat
Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik tetap atau
selamannya;Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi yang
dimaksud dapat berupa :a. Pendidikan formal b. Pelatihan
dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang di institusi
pendidikan atau sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau
sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk, sekurang-kurangnya
3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun

2. HUKUM DALAM PROFESI KEDOKTERAN

Norma hukum
• norma hukum Suatu norma yang biasanya dirumuskan
dalam bentuk perilaku yang dilarang dengan mendapat
sanksi apabila larangan tersebut dilanggar

• Hukum kesehatan mencakup segala peraturan dan aturan


yang secara langsung berkaitan dengan pemeliharaan dan
perawatan kesehatan yang terancam atau kesehatan yang
rusak

Aspek hukum kesehatan


• Hukum Kesehatan Publik (public health law)

-lebih menitikberatkan pada pelayanan kesehatan


masyarakat atau mencakup pelayananan kesehatan
rumah sakit

• Hukum kedokteran (medical law )

- lebih memilih atau mengatur tentang pelayanan


kesehatan pada individual atau seorang saja akan
tetapi semua menyangkut tentang pelayanan
kesehatan
Peran hukum dalam bidang kedokteran
• Supaya tidak terjadi pelanggaran HAM

– Dapat mencegah terjadinya malpraktek

• Memaksimalkan penerapan sumpah dokter

• Agar seorang dokter mampu memahami prinsip kode etik


kedokteran,yaitu :

– Beneficence

– Non malaficence

– Autonomy

– Justice

3. LAFAL SUMPAH DOKTER INDONESIA

Saya bersumpah bahwa :

- Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan


perikemanusiaan.

- Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara


terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat
pekerjaan saya.

- Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat


dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
- Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya
ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan
saya sebagai dokter.

- Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan.

- Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya


berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak
terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan,
Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian atau
Kedudukan Sosial.

- Saya akan memberikan kepada guru-guru saya


penghormatan dan pernyataan terima kasih yang
selayaknya.

- Teman sejawat akan saya perlakukan sebagaimana


saya sendiri ingin diperlakukan.

- Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari


saat pembuahan.

- Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan


pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.

- Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan


dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

4. HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER

Kewajiban dokter
Pasal 50 UU no 29 tahun 2004 Praktik Kedokteran
1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan
tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional.
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan
standar prosedur operasional.
3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien
atau keluarganya.
4. Menerima imbalan jasa

Hak dokter

Pasal 50 UU no 29 tahun 2004 Praktik Kedokteran

1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan


tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional.
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan
standar prosedur operasional.
3. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien
atau keluarganya.
4. Menerima imbalan jasa

Hak diluar undang-undang

1. Hak untuk praktik dokter setelah ada STR & SIP


2. Hak menolak tindakan medis yg bertentangan dengan
etika hukum,agama dan hati nurani.
3. Hak untuk mengakhiri hubungan dengan pasien,jika
menurut penilaiannya tidak ada gunanya lagi, kecuali
emergency.
4. Hak menolak pasien yang bukan bidang spesialisasinya
kecuali emergency dan tidak ada dokter lain yang mampu.
5. Hak atas privasi dokter
6. Hak menjadi anggota himpunan profesi
7. Hak membela diri untuk menolak memberi kesaksian
mengenai pasiennya dipengadilan

5. HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN

Didalam mendapatkan layanan kesehatan, pasien


mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana Surat edaran DirJen
Yan Medik No: YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan
Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik
Indonesia No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran dan
Pernyataan/SK PB. IDI, sebagai berikut :

Hak Pasien

Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai


pasien::

1. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan


peraturan yang berlaku di rumah sakit. Hak atas
pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur
2. Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu
sesuai dengan standar profesi kedokteran/kedokteran
gigi dan tanpa diskriminasi
3. Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan
standar profesi keperawatan
4. Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai
dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang
berlaku di rumah sakit
5. Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan
pendapat klinik dan pendapat etisnya tanpa campur
tangan dari pihak luar
6. Hak atas 'second opinion' / meminta pendapat dokter
atau dokter gigi lain
7. Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang
diderita termasuk data-data medisnya kecuali apabila
ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku
8. Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara
lengkap tentang tindakan medik yg akan dilakukan
terhadap dirinya.
9. Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang
akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit
yang dideritanya
10. Hak untuk menolak tindakan yang hendak
dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan
serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah
memperoleh informasi yang jelas tentang :

• penyakit yang diderita tindakan medik apa yang hendak


dilakukan
• kemungkinan penyakit sebagai akibat tindakan tsb sebut
dan tindakan untuk mengatasinya
• alternatif terapi lainnya

• prognosanva. perkiraan biaya pengobatan


11. Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya
dalam beribadah dan atau masalah lainya (dalam
keadaan kritis atau menjelang kematian).
12. Hak beribadat menurut agama dan
kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban &
ketenangan umum/pasien lainya.
13. Hak atas keamanan dan keselamatan selama
dalam perawatan di rumah sakit
14. Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas
pelayanan rumah sakit terhadap dirinya
15. Hak menerima atau menolak bimbingan moril
maupun spiritual
16. Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis
yang akan dilakukan terhadap dirinya (memeriksa dan
mendapatkan penjelasan pembayaran)
17. Hak akses /'inzage' kepada rekam medis/ hak atas
kandungan ISI rekam medis miliknya

Kewajiban Pasien

1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah


kesehatannya kepada dokter yang merawat
2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi dan
perawat dalam pengobatanya.
3. Mematuhi ketentuan/peraturan dan tata-tertib yang berlaku di
rumah sakit
4. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian
yang telah dibuatnya

6. HAK AZASI MANUSIA DALAM PELAYANAN


KESEHATAN

• Piagam Majelis Kesehatan Rakyat th 2000 (di Bangladesh)


• Kesehatan sbg HAM:
Kesehatan mencerminkan komitmen masyarakat thp
kesetaraan dan keadilan.

Kesehatan dan HAM seharusnya diprioritaskan diatas


kepentingan ekonomi dan politik (mis perang-perang di Timteng)
• Mengajak:
-Mendukung penerapan hak untuk sehat
-Menuntut pemerintah dan org internasional---dipastikan
pelaksanaan kebijakan dan menghormati hak untuk sehat
-Membangun gerakan masyarakat agar kesehatan dan
Ham masuk dalam undang-undang
-Melawan eksploitasi kebutuhan kesehatan rakyat untuk
mengambil keuntungan (misal kasus strain virus flu
burung, baca buku Menkes “Saatnya Dunia Berubah”)

Konseptualisasi Hak Asasi Manusia


Hak yang bersifat mendasar---ada setelah manusia ada dimuka
bumi.
• Hak yang bersifat mendasar dan inheren dengan jati diri
manusia secara universal.
• Hak-hak dasar yang dimiliki manusia bukan karena
diberikannya oleh masyarakat atau negara, melainkan
berdasarkan martabat sebagai manusia.

Muatan HAM Bidang Kesehatan dalam Perubahan Kedua UUD


1945
• BAB XA/ Pasal 28 H:
(1)Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup
yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.
(2)Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan
perlakukan khusus untuk memperoleh kesempatan dan
manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan
keadilan.
(3)Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang
memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh
sebagai manusia yang bermartabat.

Beberapa hal:
Hubungan HAM dan Kesehatan
Pelanggaran thd HAM dapat memunculkan masalah kesehatan
yg serius: (Misal: kasus KDRT, penganiayaan thd istri/anak,
belum ada perlindungan hukum yg baik, tata cata tradisional yg
digolongkan sbg pelanggaran HAM:perbudakan/pengucilan dsb)
• Kebijakan dan program kesehatan bisa memunculkan
pelanggaran Ham: Misal: Program Askeskin yg kurang monitor
scr baik shg akses maskin thd kesehatan sulit dan
terdiskriminasi.

Hak Asasi Manusia bidang Kesehatan


1.The right to health care (hak atas pelayanan
kesehatan)---Konvensi Hak Sipil dan Politik 1966
2. The right of self determination (hak untuk menentukan
nasib sendiri)--- Deklarasi PBB 1948.
3.The right to information---Helsinki 1964

INFORMED CONCENT

Tujuan dari informed consent adalah agar pasien


mendapat informasi yang cukup untuk dapat mengambil
keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan. Informed consent
juga berarti mengambil keputusan bersama. Hak pasien untuk
menentukan nasibnya dapat terpenuhi dengan sempurna apabila
pasien telah menerima semua informasi yang ia perlukan
sehingga ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Kekecualian
dapat dibuat apabila informasi yang diberikan dapat
menyebabkan guncangan psikis pada pasien.

Dokter harus menyadari bahwa informed consent memiliki


dasar moral dan etik yang kuat. Menurut American College of
Physicians’ Ethics Manual, pasien harus mendapat informasi dan
mengerti tentang kondisinya sebelum mengambil keputusan.
Berbeda dengan teori terdahulu yang memandang tidak adanya
informed consent menurut hukum penganiayaan, kini hal ini
dianggap sebagai kelalaian. Informasi yang diberikan harus
lengkap, tidak hanya berupa jawaban atas pertanyaan pasien.

Elemen-elemen Informed consent

Suatu informed consent harus meliputi :

1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan,


terapi dan penyakitnya
2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang
diharapkan dan seberapa besar kemungkinan
keberhasilannya
3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang
ada dan akibat apabila penyakit tidak diobati
4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima
atau menolak terapi

Risiko yang harus disampaikan meliputi efek samping yang


mungkin terjadi dalam penggunaan obat atau tindakan
pemeriksaan dan operasi yang dilakukan.

Ruang Lingkup Pemberian Informasi

Ruang lingkup dan materi informasi yang diberikan


tergantung pada pengetahuan medis pasien saat itu. Jika
memungkinkan, pasien juga diberitahu mengenai tanggung
jawab orang lain yang berperan serta dalam pengobatan pasien.

Hal-hal yang Diinformasikan

Hasil Pemeriksaan

• Risiko
• Alternatif
• Rujukan
• Konsultasi
• Prognosis

Standar Pengungkapan Yang Dikembangkan Oleh


Pengadilan

Dua pendekatan diadaptasi oleh pengadilan dalam


menggambarkan lapangan kewajiban pengungkapan seorang
dokter - standar pengungkapan profesional, standar
pengungkapan umum, atau standar pasien secara layak.

Di bawah standar pengungkapan profesional, tugas dokter


untuk membuka rahasia diatur oleh standar pelaku medis,
dilakukan di dalam lingkungan yang sama atau serupa. Standar
pengungkapan ini yang diatur seterusnya baik oleh undang-
undang maupun hukum umum pada mayoritas peraturan
Amerika Serikat menetapkan bahwa seorang dokter harus
memberi informasi sesuai dengan pelayanan kedokteran terkini.
Banyak pengadilan telah menegakkan standar pelaksana medis
dalam komunitas yang sama atau serupa, di bawah lingkungan
yang sama atau serupa. Jika seorang dokter bertugas untuk
mengungkapkan suatu fakta dan jika begitu, fakta apa yang
wajib diberitahukan bergantung pada yang biasa dilakukan pada
komunitas setempat.
Siapa yang mengungkapkan ?

Siapa yang bertanggungjawab untuk mendapatkan


informed consent pasien - pengadilan umumnya telah
menempatkan tugas ini pada dokter yang didatangi pasien pada
waktu ada pertanyaan. Pengadilan umumnya mengenali bahwa
dokter, bukan perawat atau paramedis lainnya, berkemampuan
untuk mendiskusikan tatalaksana dan penanganannya. Perawat
atau paramedis lainnya mungkin hanya penambah atau
pelengkap informasi spesifik dari dokter dengan informasi umum
tergantung situasi pasien. Dokter, selain dari dokter pertama
pasien, memiliki kewajiban yang independen untuk memberi
informasi mengenai risiko, keuntungan, dan alternatif pilihan
yang ditujukan padanya.

Peranan Rumah Sakit

Pertanyaan yang sering muncul, terutama dari dokter


yang berpraktek di rumah sakit adalah ”Apakah rumah sakit
memiliki tanggung jawab untuk menjamin bahwa pasien
menerima informasi yang cukup meskipun pengadilan telah
menempatkan tugas primer kepada dokter?”

Dalam teori respondeat superior, manajer rumah sakit


dapat ditahan dengan dokter pegawai rumah sakit yang lalai
untuk memperoleh informed consent yang dapat menimbulkan
kecacatan dan kegawatan pada pasien. Kebijakan rumah sakit
harus mengatur mengenai bagaimana informed consent
diperoleh. Perawat atau petugas rumah sakit lainnya harus
menunda terapi yang sudah direncanakan dokter jika
persetujuan yang sebelumnya sudah diberikan ditarik kembali
oleh pasien, sehingga dokter dapat mengklarifikasi kembali
keputusan pasien. Pengadilan cenderung untuk menjatuhkan
kewajiban yang lebih ketat kepada rumah sakit untuk
memastikan bahwa dokter memperoleh persetujuan/penolakan
sebelum melakukan tindakan.

Bentuk Persetujuan/Penolakan

Rumah sakit memiliki tugas untuk menjamin bahwa


informed consent sudah didapat. Istilah untuk kelalaian rumah
sakit tersebut yaitu ”fraudulent concealment”. Pasien yang akan
menjalani operasi mendapat penjelasan dari seorang dokter
bedah namun dioperasi oleh dokter lain dapat saja menuntut
malpraktik dokter yang tidak mengoperasi karena kurangnya
informed consent dan dapat menuntut dokter yang mengoperasi
untuk kelanjutannya.

7. BIOETIKA DALAM KEDOKTERAN

Bioetika adalah biologi dan ilmu kedokteran yang


menyangkut masalah di bidang kehidupan, tidak hanya
memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa
sekarang, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan timbulnya
pada masa yang akan datang.

Azaz pengambil keputusan Etik (Beaucamp and Childress 1994)


Kaidah Bioetik
1. Prinsip Benefecience
2. Prinsip Otonomi
3. Prinsip Non Maleficence
4. Justice

Prinsip Benefecience
• (Azas berbuat baik )
• Prinsip moral tindakan selalu diutamakan
untuk kebaikan pasien

Prinsip Nonmalefecence
• Prinsip moral melarang melakuan tindakan
buruk terhadap pasien
• Prinsip above all do no harm
• Kewajiban dokter untuk tidak mencelakakan
Pasien

Prinsip Otonomi
• Prinsip moral menghargai haik pasien
• Lahirnya informed consent

Prinsip Justice
• Prinsip moral keadilan dan fairness untuk
bersikap/ bertindak dalam bersikap untuk
distribusi sumber daya

Tiga etika dalam bioetika

1. Etika sebagai nilai-nilai dan asa-asas moral yang dipakai


seseorang atau suatu keloompok sebagai pegangan bagi
tingkah lakunya.
2. Etika sebagai kumpulan asas dan nilai yang berkenaan
dengan moralitas (apa yang dianggap baik atau buruk).
Misalnya: Kode Etik Kedokteran, Kode Etik Rumah Sakit.
3. Etika sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia
dari sudut norma dan nilai-nilai moral.

Metoda pengambilan keputusan


1. Deontologi (Etika kewajiban)

2. Konsekuensialisme
3. Etika hak

4. Intuisionisme

5. Logika dan analisis SWOT (Jika ada ruang & waktu)

Rekomendasi Etika Dan Bioetika


• Mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga
• Saling mengingatkan
• Kembangkan etika profesi
• Hindari Plagiat (khusus Peneliti)

8. ORGANISASI PROFESI (IDI)

IDI adalah satu satunya organisasi profesi kedokteran yang


menghimpun para dokter Indonesia, bersifat bebas, tidak
mencari keuntungan, dijiwai oleh Sumpah Dokter Indonesia serta
mematuhi Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 1950, dan bertujuan
untuk:
1. Meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia.
2. Mengembangkan ilmu kesehatan serta IPTEK Kedokteran.
3. Membina dan mengembangkan kemampuan profesi anggota.
4. Meningkatkan kesejahteraan anggota.

Untuk mencapai tujuan IDI berusaha:


1. Membantu pemerintah dalam kelancaran pelaksanaan
program program kesehatan.
2. Membantu masyarakat dalam meningkatkan derajat
kesehatannya.
3. Memelihara dan membina terlaksananya sumpah dokter dan
Kode Etik Kedokteran Indonesia.
4. Mempertinggi derajat ilmu kesehatan dan ilmu kedokteran
serta ilmu ilmu lainnya yang berhubungan dengan itu.
5. Memperjuangkan dan memelihara kepentingan serta
kedudukan dokter di Indonesia sesuai dengan harkat dan
martabat profesi kedokteran.
6. Mengadakan hubungan kerjasama dengan badan badan lain
yang mempunyai tujuan sama atau selaras, pemerintah maupun
swasta didalam atau di luar negeri.
7. Melaksanakan usaha usaha untuk kesejahteraan anggota.
8. Melaksanakan upaya lainnya sepanjang tidak bertentangan
dengan asas dan sifat IDI.

Saat ini organisasi IDI telah berkembang dengan pesat, yang


tampak pada makin luasnya upaya organisasi serta makin
besarnya jumlah anggota. Peran dan kedudukan IDI dalam
pengembangan kebijaksanaan nasional makin diakui, demikian
pula kegiatan kegiatannya makin dirasakan manfaatnya baik
oleh pemerintah, masyarakat umum maupun profesi kedokteran
sendiri.

Sesuai dengan AD/ART IDI, saat ini IDI memiliki perangkat


organisasi sebagai berikut:
1.Badan Legislatif’, adalah Muktamar dan Rapat Anggota
2.Badan Eksekutif ( PB IDI, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang )
3.Dewan Pertimbangan ( Ketua Dewan Pertimbangan , Ketua
MKEK/Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, Ketua Majelis Dokter
Spesialis/MDSp, Ketua Majelis Pembinaan & Pembelaan Anggota (
MP2A ) dan beberapa anggota )
4.Badan Badan Kelengkapan ( Perhimpunan Dokter
Spesialis/PDSp sejumlah 23 PDSp dan Perhimpunan Dokter
Seminat/ PDSm sejumlah 19 PDSm )
5.Badan Badan Khusus adalah badan yang dibentuk oleh PB IDI
untuk melaksanakan amanat muktamar.
Pada saat ini Badan Badan Khusus tersebut terdiri dari:
- Yayasan Penerbit IDI
- Yayasan Kesejahteraan Keluarga IDI
- Yayasan Gedung Gedung IDI
- Yayasan Pengabdian Profesi IDI
- Yayasan Informatika Medik IDI
- Yayasan Pengembangan IDI
- PT Sapta Prima Binajasa

Anggota terdiri dari:


1.Anggota biasa ( dokter umum dan spesialis, warga negara
Indonesia yang berijazah dan diakui oleh Pemerintah RI )
2.Anggota muda ( sarjana kedokteran, warga negara Indonesia
yang berijazah dan diakui oleh Pemerintah RI )
3.Anggota luar biasa ( dokter warga negara asing yang bekerja di
Indonesia )
4.Anggota kehormatan ( yang telah berjasa dalam lapangan
kesehatan dan kedokteran )

Hak Anggota
1.Mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan
dengan lisan atau tertulis kepada pengurus, mengikuti semua
kegiatan organisasi dan memilih serta dipilih sebagai pengurus.
2.Tiap anggota berhak mendapat perlindungan dan pembelaan
dalam melaksanakan tugas IDI dan atau pekerjaannya sebagai
dokter
3.Tiap anggota berhak mendapat KTA ( Kartu Tanda Anggota )
4.Tiap anggota berhak mendapat informasi dari pengurus, a.l
tentang peningkatan karier/pendidikan.
5.Tiap anggota berhak untuk memperoleh Rekomendasi IDI
untuk kepentingan anggota.

Kewajiban Anggota
1.Berkewajiban menjunjung tinggi, mematuhi dan mengamalkan
Sumpah Dokter dan Kode Etik Kedokteran Indonesia,
AD/ART, segala peraturan dan keputusan IDI.
2.Wajib membayar uang pangkal dan uang iuran setiap bulan,
serta kewajiban lainnya.
3.Wajib mengikuti kegiatan organisasi secara aktif,
meningkatkan pengetahuan, memperhatikan kesejahteraan
individu dan keluarga baik fisik maupun spiritual, serta
meningkatkan rasa kesejawatan sesama anggota IDI
4. Anggota kehormatan diharapkan menjaga dan
mempertahankan kehormatan IDI.

Nomor Pokok Anggota ( NPA ) hanya dikeluarkan oleh PB IDI,


berlaku di seluruh Indonesia, seumur hidup, kecuali apabila
diberhentikan sebagai anggota.
NPA tidak dapat dialihkan kepada orang lain.
Setiap anggota mempunyai hak dan kewajiban memiliki KTA
yang dikeluarkan oleh Cabang dan hanya berlaku di wilayah
Cabang.
KTA diterbitkan oleh PB IDI, penomoran KTA diberi:
- NPA
- No kode cabang
- No register cabang
- Tahun registrasi di cabang tersebut.

Setiap 3 tahun harus dilakukan her registrasi oleh cabang,


termasuk pencatatan jika ada perubahan perubahan, misalnya
tempat tinggal, gelar, spesialisasi, dll