Anda di halaman 1dari 16

Sejarah Kebudayaan Islam

Pendahuluan

Manusia merupakan satu-satunya makhluk Allah yang diberikan karunia


dengan akal, maka dengan memiliki kekhususan tersebut manusiapun diberikan
kemampuan dalam menganalisis suatu hal dalam kehidupannya. Maka dari itu
pada kaitannya manusia tidak mungkin terlepas dari yang namanya sejarah, karena
dengan sejarah tersebut manusia dapat belajar dan menganalisis kejadian-kejadian
yang terjadi pada masa lalu. Sejarah merupakan cerminan dari kehidupan masa lalu
kita dan dapat dijadikan sebagai bahan instropeksi diri. Begitu pula dengan sejarah
peradaban Islam yang merupakan alat untuk mempelajari kejadian yang terjadi di
masa lalu ataupun sebagai acuan untuk lebih dapat memajukan Islam daripada
sebelumnya.

Peradaban Islam merupakan kajian yang sangat luas. Seperti yang dijelaskan dalam
makalah ini, bahwa peradaban Islam sangat erat kaitannya dengan kebudayaan
tetapi tetap merupakan dua hal yang berbeda. Dalam kebudayaan mencakup juga
peradaban, tetapi tidak sebaliknya.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang pengertian dan ruang lingkup sejarah
peradaban Islam, akan dijelaskan lebih terperinci dalam makalah ini.

A. Pengertian Sejarah Peradaban Islam

1. Pengertian Sejarah

Secara etimologis berasal dari kata arab "syajarah" yang mempunyai


arti"pohon kehidupan" dan yang kita kenal didalam bahasa ilmiyah yakni
History[1].

a. Karakteristik sejarah
Karakteristik sejarah dengan disiplinnya dapat dilihat berdasarkan 3 orientasi

Pertama : sejarah merupakan pengetahuan mengenai kejadian kejadian,


peristiwa peristiwa dan keadaan manusia dalam masa lampau dalam
kaitannya dengan keadaan masa kini.

Kedua : sejarah merupakan pengetahuan tentang hokum hokum yang tampak


menguasai kehidupan masa lampau, yang di peroleh melalui penyelidikan
dan analisis atau peristiwa peristiwa masa lampau.

Ketiga : sejarah ssebagai falsafah yang di dasarkan kepada pengetahuan


tentang perubahan perubahan masyarakat, dengan kata lain sejarah seperti
ini merupakan ilmu tentang proses suatu masyarakat.

a. Kegunaan sejarah

Sejarah mempunyai arti penting dalam kehidupan begitu juga sejarah


mempunyai beberapa kegunaan, diantara kegunaan sejarah antara lain :

Pertama : Untuk keleatarian identitas kelompok dan memperkuat daya tahan


kelompok itu bagi kelangsungan hidup.

Kedua : sejarah berguna sebagi pengambilan pelajaran dan tauladan dari


contoh contoh di masa lampau, sehingga sejarah memberikan azas manfaat
secara lebih khusus demi kelangsungan hidup.

Ketiga : sejarah berfungsi sebagai sarana pemahaman mengenai hidup dan


mati.

Dengan begitu pentingnya sejarah dalam kehidupan ini di dalam ALQur'an sendiri
terdapat beberapa kisah para nabi dan tokoh masa lampau diantaranya:

2. Makna Peradaban Islam


Dari akar kata madana lahir kata benda tamaddun yang
secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota
berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan
kota (culture of the city). Di kalangan penulis Arab, perkataan
tamaddun digunakan – kalau tidak salah – untuk pertama kalinya
oleh Jurji Zaydan dalam sebuah judul buku Tarikh al-Tamaddun
al-Islami(Sejarah Peradaban Islam), terbit 1902-1906. Sejak itu
perkataan Tamaddundigunakan secara luas dikalangan umat
Islam. Di dunia Melayu tamaddun digunakan untuk pengertian
peradaban. Di Iran orang dengan sedikit berbeda menggunakan
istilah tamaddon dan madaniyat. Namun di Turkey orang dengan
menggunakan akar madinah atau madana atau madaniyyah
menggunakan istilah medeniyet dan medeniyeti. Orang-orang
Arab sendiri pada masa sekarang ini menggunakan kata
hadharah untuk peradaban, namun kata tersebut tidak banyak
diterima ummat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai
istilah tamaddun. Di anak benua Indo-Pakistan tamaddun
digunakan hanya untuk pengertian kultur, sedangkan peradaban
menggunakan istilah tahdhib[2].

Kata peradaban seringkali dikaitkan dengan kebudayaan


bahkan, banyak penulis barat yang mengidentikan “kebudayaan”
dan “peradaban” islam. Seringkali peradaban islam dihubungkan
dengan peradaban Arab meskipun sebenarnya antara Arab dan
Islam tetap bisa dibedakan. Adapun yang membedakan antara
kebudayaan tersebut adalah dengan adanya peningkatan
peradaban pada masa jahiliyah yang berasal dari kebodohan. Hal
ini pada akhirnya berubah ketika islam datang yang dibawa oleh
nabi Muhammad SAW di Arab. Sehingga pada masanya
kemudian islam berkembang menjadi suatu peradaban yang
menyatu dengan bangsa Arab bahkan berkembang pesat
kebagian belahan dunia yang lainnya, islam tidak hanya sekedar
agama yang sempurna melainkan sumber peradaban islam itu
sendiri.

Landasan peradaban islam dalah kebudayaan islam


terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudaan islam
adalah agama[3]. Dalam islam tidak seperti masyarakat penganut
agama yang lainnya, agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat
melahirkan kebudayaan. Jika kebudayaan merupakan hasil cipta,
rasa dan karsa manusia, maka agama islam adalah wahyu dari
peradaban.

Peradaban merupakan kebudayaan yang berhubungan


dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimana
kebudayaan tersebut tidak hanya berpengaruh di daerah asalnya
tapi juga mempengaruhi daerah-daeerah lain yang menjadikan
kebudayaan tersebut berkembang.

3. Sejarah peradaban Islam

Sejarah peradaban islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan


kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban islam mempunyai
berbgai macam pengetian lain diantaranya

Pertama : sejarah peradaban islam merupakan kemajuan dan tingkat


kecerdasan akal yang di hasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai
dari periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan islam
sekarang.

Kedua : sejarah peradaban islam merupakan hasil hasil yang dicapai oleh
ummat islam dalam lapangan kesustraan, ilmu pengetahuan dan kesenian.
Ketiga : sejarah perdaban islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan
islam yang berperan melindungi pandangan hidup islam terutama dalam
hubungannya dengan ibadah ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan
hidup bermasyarakat[4].

4. Islam sebagai Peradaban

Konon, ketika Nabi menerima laporan bahwa ajakannya


kepada Kaisar Romawi, Heraclitus untuk berpegang pada
keyakinan yang sama (kalimatun sawa’) ditolak dengan halus,
nabi hanya berkomentar pendek “sa uhajim al-ruum min uqri baiti”
(Akan saya perangi Romawi dari dalam rumahku). Ucapan Nabi
ini bukan genderang perang, ia hanya berdiplomasi. Tidak ada
ancaman fisik dan juga tidak menyakitkan pihak lawan. Ucapan
itu justru menunjukkan keagungan risalah yang dibawanya,
bahwa dari suatu komunitas kecil di jazirah Arab yang tandus,
Nabi yakin Islam akan berkembang menjadi peradaban yang
kelak akan mengalahkan Romawi.

Dan Nabi benar, pada tahun 700 an, tidak lebih dari
setengah abad sesudah wafatnya Nabi Muhammad (632 M),
ummat Islam telah tersebar ke kawasan Asia Barat dan Afrika
Utara, dua kawasan yang dulunya jatuh ketangan Alexander the
Great. Selanjutnya, Muslim memasuki kawasan yang telah lama
dikuasai oleh Kristen dengan tanpa perlawanan yang berarti.
Menurut William R Cook pada tahun 711 M – 713 M kerajaan
Kristen di kawasan Laut Tengah jatuh ketangan Muslim dengan
tanpa pertempuran, meskipun pada abad ke 7 kawasan itu cukup
makmur. Bahkan selama kurang lebih 300 tahun hampir
keseluruhan kawasan itu dapat menjadi Muslim. Baru pada abad
ke sebelas kerajaan Kristen di kawasan itu mulai melawan
Muslim. Demitri Gutas dengan jelas mengakui:
“…..pada tahun 732 M kekuasaan dan peradaban baru
didirikan dan disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan
kepada Muhammad, Islam, yang berkembang seluas Asia
Tengah dan anak benua India hingga Spanyol dan Pyrennes.”

Gutas bahkan menyatakan bahwa dengan munculnya


peradaban Islam, Mesir untuk pertama kalinya, sejak
penaklukan Alexander the Great, dapat dipersatukan secara
politis, administratif dan ekonomis dengan Persia dan India dalam
jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan ekonomi dan kultural
yang memisahkan dua dunia yang berperadaban, Timur dan
Barat, sebelum Islam datang yang dibatasi oleh dua sungai besar
dengan mudahnya lenyap begitu saja.

Sudah tentu proses kejatuhan Romawi tidak disebabkan


oleh faktor tunggal. Edward Gibbon dalam The Decline And Fall
Of The Roman Empiremenyatakan bahwa periode kedua dari
merosot dan jatuhnya Kekaisaran Romawi disebabkan oleh lima
faktor: pertama di era kekuasaan Justinian banyak wewenang
memberi kepada Imperium Romawi di Timur; kedua adanya
invasi Italia oleh Lombards; ketiga penaklukan beberapa provinsi
Asia dan Afrika oleh orang Arab yang beragama Islam; keempat
pemberontakan rakyat Romawi sendiri terhadap raja-raja
Konstantinopel yang lemah; dan terakhir
munculnyaCharlemagne yang pada tahun 800 M mendirikan
Kekaisaran Jerman di Barat.

Jadi penyebab kejatuhan Romawi merupakan kombinasi


dari berbagai faktor, seperti problem agama Kristen, dekadensi
moral, krisis kepemimpinan, keuangan dan militer. Dan di antara
faktor terpenting penyebab kajatuhan Romawi adalah datangnya
Islam. Pernyataan Nabi yang diplomatis itu nampaknya terbukti.
Nabi tidak pernah pergi menyerang Romawi Barat maupun Timur,
tapi datangnya gelombang peradaban Islam telah benar-benar
menjadi faktor penyebab kejatuhan Romawi. Ini juga merupakan
bukti bahwa Islam sebagai din yang menghasilkan tamaddun
yang dapat diterima oleh bangsa-bangsa selain bangsa Arab.
Sebab Islam membawa sistem kehidupan yang teratur dan
bermartabat, sehingga mampu membawa kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat. Jadi Islam diterima oleh bangsa-
bangsa non Arab karena universalitas ajarannya alias kekuatan
pancaran pandangan hidupnya.

Ketika Kaisar Persia Ebrewez, cucu Kaisar Khosru I,


merobek-robek surat Nabi sambil berkata :”Pantaskah orang itu
menulis surat kepadaku sedangkan ia adalah budakku”, Nabi pun
berkomentar pendek “Semoga Allah merobek-robek
kerajaannya”. Dan Sabda Nabi kembali terbukti bahwa sesudah
itu putera Kaisar yang bernama Qabaz merebut kekuasaan
dengan membunuh Kaisar Ebrewez, ayahnya sendiri. Qabaz pun
kemudian hanya berkuasa empat bulan saja lamanya.
Selanjutnya kekaisaran Persia itu berganti-ganti hingga sepuluh
kali dalam masa empat tahun. Ia benar-benar porak poranda.
Akhirnya, rakyat mengangkat kaisar Yazdajir dan pada masa
inilah Persia tidak berdaya ketika tentara Islam datang. Sejak itu
kekaisaran Persia benar-benar runtuh.

Sebagaimana sikapnya terhadap kekaisaran Romawi, Nabi


tidak keluar rumah untuk menjatuhkan (merobek-robek)
kekaisaran Persia. Nabi hanya menyerbarkan Islam yang
memang merupakan peradaban yang memiliki konsep
ketuhanan, kemanusiaan dan kehidupan yang jelas dan teratur.
Di Indonesia, Islam masuk tanpa peperangan. Islam masuk dan
diterima oleh masyarakat yang telah memiliki kepercayaan Hindu
yang kuat. Namun karena kekuatan konsepnya Islam mudah
merasuk kedalam pandangan hidup masyarakat nusantara waktu
itu, maka dalam kehidupan secara menyeluruh. Ini bukti bahwa
Islam tersebar bukan melulu karena pedang. Islam tersebar,
menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan) masyarakat di
kawasan-kawasan yang didudukinya. Tidak ada eksploitasi
sumber alam untuk dibawa ke daerah darimana Islam berasal.
Tidak ada pertambahan kekayaan bagi jazirah Arab. Tidak ada
kemiskinan akibat masuknya Muslim ke kawasan yang
didudukinya. Daerah-daerah yang dikuasai atau diselamatkan
ummat Islam justru menjadi kaya dan makmur. Itulah watak
peradaban Islam yang sangat berbeda dari peradaban Barat yang
eksploitatif[5].

5. Peran dan Fungsi Manusia Sebagai Pembuat Peradaban

Dalam perspektif islam manusia sebagai pelaku sekaligus pembuat


peradaban memiliki kedudukan dan peran inti, kedudukan dan posisi manusia di
kisahkan dalam Al Qur'an diantaranya:

Pertama : manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan paling
utama Allah. Sebagai konsekwensi logis manusia memilki kebebasan yang
bertanggung jawab, dalam arti yang seluas luasnya dan pada dimensi yang
beragam yang pasa gilirannya merupakan amanat yang harus di pikul.

Kedua : guna mengemban tugasnya sebagai mahluk yang di mulyakan


Allah, tidak sepeti ciptaan Allah yang lain. Semuanya mempunyai tekanan yang
sama yaitu agar manusia menggunakan akalnya hanya untuk hal hal yang positif
sesuai dengan fitrah dan panggilan hati nuraninya, dan amatlah tercella bagi orang
yang teperdaya oleh hawa nafsu terlepas dari kemanusiaannya dan fitrahnya.dan
dalam hal ini

B. Ruang Lingkup Sejarah Peradaban Islam


Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibn Khaldun adalah
berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri,
aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju
mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan
maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban
yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu
pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup
tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena
itu suatu peradaban atau suatu umran harus dimulai dari suatu
“komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan
lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan
atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan
terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan
yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan
akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota
Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit
contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian
melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu umran
bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi,
(tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi,
tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra
dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat
komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.

Namun di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat


masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau
kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya
menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban,
menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan
bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam
paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara
material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai
asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah
ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan
Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu
yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan
dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap
keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi
berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).

Karena islam lahir di Arab, maka isi dari ruang lingkup dari sejarah
peradaban islam membahas tentang riwayan nabi Muhammad SAW sebagai
pembawa wahyu tuhan sejak beliau belum dilahirkan sampai beliau wafat,
perjuang-perjuangan nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama islam,
kemajuan islam yang diteruskan oleh para sahabatnya masa disintregrasi, masa
kemunduran, penyebaran islam dibelahan dunia barat hubungan perkembangan
islam di negara kita ini serta pusat-pusat peradaban islam.

Sejarah perkembangan umat islam dapat dibagi menjadi beberapa periode,


yakni periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), periode
modern (1800-sekarang). Periode klasik, sejarah umat islam bermula sejak
berdirinya Dinasti Bani Umayyah di Damarkus. Periode klasik dianggap berakhir
ketika Dinasti Bani Abbas di Baghdad runtuh akibat serangan tentara mongol yang
dipimpin oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M.

A. Daulah Umayyah I
1. Perkembangan islam dalam bidang politik, ilmu pengetahuan dan
kebudayaan masa pemerintahan daulah Umayyah I
a. Politik
Kepala negara dan kepala pemerintahan pada masa ini disebut
khalifah atau amirul mukminin dengan dibantu para menteri dan
sekretaris dalam menjalankan pemerintahannya.

Umayyah menciptakan sistem pos (diwan al-Barid). Sistem ini


menghubungkan pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi.
Sementara itu, didirikan juga Departemen Pencatatan (diwan al-Khatam)
untuk mendokumentasikan semua urusan pemeSebuah gedung arsip
negara didirikan di Damarkus pada masa Abdul Malik bin Marwan. Untuk
memungut pajak di tingkat provinsi diangkat pejabat yang disebut Sahib
al-Kharaj yang langsung bertanggung jawab langsung kepada khalifah.
Departemen yang menganagi urusan perpajakan ini disebut diwan Al-
Kharaj (Departemen Pajak). Selain itu, dibentuk pula diwan al-Rasail
(Departemen Persuratan) dan diwan al-Mustaghillat (Departemen
Penerimaan Negara).

b. Ilmu pengetahuan
Perkembangan ilmu pengeathuan pada masa ini masi berada pada
tahap awal, yang merupakan masa inkubasi. Dalam bidang ini,
perkembangan tidak hanya meliputi ilmu pengetahuan umum, seperti
kedokteran, filsafat, astronomi, ilmu pasti, dan lain-lain. Kota yang
menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan ini antra lain Damaskus, Kuffah,
Makkah, Madinah, Mesir, Cordova, Granada, dan lain-lain, dengan masjid
sebagai pusat pengajarannya, selain Madinah atau lembaga pendidikan
yang ada.

c. Kebudayaan
Di masa Dinasti Umayyah ini, kebudayaan islam mengalami
perkembangan, antara lain seni sastra, seni rupa, seni suara, seni
bangunan, seni ukir, dan sebagainya. Pada masa ini dibangun istana dan
masjid dengan arsitektur yang khas.

2. Masa kejayaan Daulah Umayyah I


Keadaan dalam negeri teratasi/mengalami kemajuan terutama dalam
bidang politik kekuasaan ketika pemerintahan berada di tangan Abdul Malik
bin Marwan.

Khalifah Walid bin Abdul Malik beusaha memperluas daerahnya menuju


Afrika Utara, sehingga dapat mengasai wilayah tersebut dan diangkat
sebagai Gubernur untuk wilayah itu. Ketika ia menjabat Gubernur, ia dapat
menaklukkan beberapa suku, sehingga ia dapat leluasa memperluas wilayah
kekuasaan islam ke daerah-daerah lain. Keberhasilan Thariq memasuki
wilayah Andalusia membuat peta perjalanan sejarah baru bagi kekuasaan
islam.

3. Bentuk pemerintahan Bani Umayyah I


Dengan berakhirnya masa khalifah Ali bin Abi Thalib, maka dilanjutkan
dengan bentuk pemerintahan dinasti (kerajaan) dan penguasanya melalui
garis keturunan (Monarchi heridetis) merupakan sesuatu yang baru bagi
bangsa Arab.

Dinasti Bani Umayyah berdiri selama lebih kurang 90 tahun (40-132 H /


661-750 M) dengan Damaskus sebagai pusat pemerintahannya.

4. Contoh kemajuan yang dicapai Daulah Uamayyah I


1. Dapat mengatasi permasalahan dalam negerinya
sehingga mengalami kemajuan terutama di bidang politik.
2. Berhasil memperluas wilayahnya sampai Afrika Utara.
3. Keberhasilan Thariq dalam memasuki wilayah Andalusia.
4. Berkembangnya ilm pengetahuan serta menjadikan kota
sebagai pusat kajian ilm pengetahuan
5. Dalam bidang politik dan pemerintahan dapat
menciptakan sistem pos, mendirikan departemen pencatatan,
membentuk departemen persuratan, dan penetapan mata uang sendiri.
6. Perluasan dari wilayah China di sebelah timur sampai
Spanyol sebelah barat.
B. Daulah Abbasiyah
1. Perkembangan islam dalam bidang politik, ilmu
pengetahuan dan kebudayaan masa pemerintahan Daulah Abbasiyah.
a. Politik
Pemerintahan Bani Abbasiyah memperbaiki organisasi
pemerintahan yang telah dicapai Dinasti Bani Umayyah dan khalifah Bani
Abbasiyah mengangkat menteri (wazir) dan membentuk kementrian
(wizarat). Wazir bertugas sebgaai pembantu khalifah, menetapkan hakim.

b. Ilmu pengetahuan
Pada masa pemerintahan Bani Abbas, kegiatan pendidikan dan
pengajaran mencapai kemajuan yang gemilang. Pada masa ini,
pendidikan tingkat dasar diselenggarakan di masjid-masjid, dimana Al-
Qur’an merupakan bahan rujukan wajib. Terdapat sejumlah lembaga
sekolah masjid-masjid, seperti Zawiyah, Hanqah, dan lain-lain. Pendidikan
pada masa pemrintahan Bani Abbas tidak sebatas pada tingkat dasar
saja, juga terdapat pendidikan tingkat menengah dan tinggi, seperti Baitul
Hikmah dan Madrasah Nidzamiyah yang tidak hanya ada di Baghdad, juga
ada di Persia.

Selain membentuk lembaga untuk pengembangan ilmu


pengetahuan termasuk penerjemah, juga membentuk khizanatul hikmah.
Selain perpustakaan, tetapi juga sebagai pusat penelitian dan sebagai
pusat riset keilmuan.

c. Kebudayaan
Meliputi seni sastra, kaligrafi dan juga seni suara. Dengan
berkembangnya kebudayaan pada masa Daulah Abbasiyah melahirkan
banyak sastrawan yang bisa mengembangkan islam.

2. Masa kejayaan Daulah Abbasiyah


Pada masa ini, masa kejayaan mencapai puncaknya pada zaman khalifah
Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). Tingkat
kemakmuran yang paling tinggi, terwujud pada zaman khalifah Harun Al-
Rasyid. Kekayaannya dimanfaatkan untuk keperluan sosial, rumah sakit,
lembaga pendidikan dokter dan farmasi.
3. Bentuk pemerintahan Bani Abbasiyah
Negara dipimpin oleh kepala negara yang bergelar Khalifah. Untuk
membantu khalifah dalam menjalankan pemerintahannya, ditetapkan suatu
jabatan yang bernama wizarat dan pemangkunya bernama wazir (perdana
menteri).

4. Contoh-contoh kemajuan yang dicapai Daulah


Abbasiyah
Kota-kota pusat peradaban islam, bangunan-bangunan, penemuan-
penemuan dan tokoh-tokoh lainnya.

a. Bangunan
- Madrasah
- Kuttab
- Masjid
- Majelis Munadharah
- Baitul Hikmah, dan lain-lain
b. Penemuan-penemuan dan tokoh-tokohnya
1. Ilmu filsafat
- Al-Kindi
- Al-Farabi
- Ibnu Majah
- Ibnu Sina, dan lain-lain
2. Bidang kedokteran
- Beberapa perguruan tinggi kedokteran
- Para dokter dan ahli kedokteran islam
3. Bidang matematika
4. Astronomi
5. Farmasi dan kimia
6. Ilmu tafsir, dan lain-lain

C. Daulah Umayyah II
Daulah Ummayah II merupakan penerus dari Daulah Umayyah I yang telah
hancur di Damaskus. Dan kemajuan peradaban islam pada masa Daulah
Umayyah II seperti perluasan wilayah sampai Spanyol berhasil dilakukan pada
masa Daulah Umayyah II. Tidak hanya itu, perkembangan seni budaya pada
masa Daulah Umayyah I yang masih belum begitu berkembang, dikembangkan
pada masa Daulah Uamyyah II.

Penutup

Dari yang telah dikemukakan di dalam makalah, dapat disimpulkan bahwa pengertian sejarah
peradaban Islam sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam dalam perspektif
sejarahnya. Sedangkan ruang lingkupnya adalah menjelaskan tentang perkembangan Islam sejak
masa nabi Muhammad, masa perkembangan, masa disintegerasi, masa kemunduran,
perkembangan Islam di belahan dunia Barat dan belahan bumi lainnya, serta pusat-pusat
perkembangan Islam.

Daftar Pustaka

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam : Jakarta, Rajawali Pers, 2005


http://banihamzah.wordpress.com/,2007, “makna-peradaban-islam

[1]http:// www.google.com/pengertiansejarah_peradaban_islam

[2] http://banihamzah.wordpress.com/2007/04/26/makna-peradaban-islam/

Badri Yatim, sejarah peradaban islam, (Jakarta : raja wali pers, 2006),
[3]
hlm.2.

[4] Ibid hlm.2

[5] Ibid hlm.5

Diposkan oleh indra di 00.09


Label: artikel