PERKEMBANGAN HUKUM DI INDONESIA SEPANJANG MASA PEMERINTAHAN ORDE BARU

Dalam ringkasan penuilis pada mata kuliah Sejarah Hukum, yang bertujuan untuk mempermudah terhadap pendalaman materi secara sistematis agar dapat dibaca secara mudah terhadap tahapan perkembangan sejarah hukum di Indonesia. Ringkasan Sejarah Hukum ini juga sangat bermanfaat karena merupakan juga sebagai landasan hukum yang fundamental terhadap masa sebelumnya (Orde Lama) dan masa sesudah Orde Baru yaitu Masa atau jaman Reformasi. Perlu kita ketahui bahwa pada Masa Orde Baru adalah merupakan masa-masa yang bersifat memaksakan kehendak serta bermuatan unsur politis semata, untuk kepentingan Pemerintah pada masa itu. Dan pada masa Orde Baru itu pulalah, telah terjadinya pembelengguan disegala sector, dimulai dari sector Hukum/undang-undang, perekonomian/Bisnis, Kebebasan Informasi/Pers dan lain -lain sebagainya. Dan untuk mengembalikan Citra Bangsa Indonesia yaitu sebagai Negara Hukum terutama dalam dibidang hukum dan Politik, untuk meyakinakan bahwa r evolusi belum selesai, dan UUD 1945 dijadikan landasan idiil/Konstitusional, dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret pada Tahun 1967 serta dibentuknya kabinet baru dengan sebutan Kabinet Pembangunan yang merupakan sebagai titik awal perubahan kebijakan pemerintah secara menyeluruh. Dengan Ketetapan MPRS No. XX : menetapkan sumber tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangn Republik Indonesia, harus melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen yaitu Pancasila. Pada pembangunan lima tahun yang merupakan sebagai Rule of Law pada tahun 1969 merujuk kepada paragraf Pendahuluan Bab XIII UUD 1945 bahwa Indonesia adalah negara yang berazas atas hukum dan bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan belaka, dimana Hukum di fungsikan sebagai sarana untuk merekayasa masyarakat proses pembangunan melakukan pendekatan baru yang dapat dipakai untuk merelevansi permasalahan hukum dan fungsi hukum dengan permasalahan makro yang tidak hanya terbatas pada persoalan normative dan ligitigatif (dengan kombinasi melakukan kodifikasi dan unifikasi hukum nasional). Yang secara Eksplisit dan resmi dalam naskah Rancangan Pembangunan Lima Tahun Kedua Tahun 1974, Bab 27 Paragraf IV butir I Menguraikan :

Hukum dan Rancangan Perundang-undangan , dengan prioritas untuk meninjau kembali dan merancang peraturan-peraturan perundang-undangan sesuai dengan pembangunan social-ekonomi (perundangan-undangan disektor social-ekonomi. Kontinuitas Perkembangan Hukum Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Kolonial yng dinasionalisasi, adalah pendayagunaan hukum untuk kepentingan pembangunan Indonesia, adalah dengan hukum yang telah diakui dan berkembang dikalangan bisnis Internasional (berasal dari hukum dan praktek bisnis Amirika), Para ahli hukum praktek yang memp elajari hukum eropa (belanda), dalam hal ini, mochtar berpengalaman luas dalam unsur -unsur hukum dan bisnis Internasional, telah melakukan pengembangan hukum nasional Indonesia dengan dasar hukum kolonial yang dikaji ulang berdasarkan Grundnom Pancasila ad alah yang dipandang paling logis. Dimana Hukum Kolonial secara formil masih berlaku dan sebagian kaidah-kaidahnya masih merupakan hukum positif Indonesia berdasarkan ketentuan peralihan, terlihat terjadi pergerakan kearah pola-pola hukum eropa (belanda), yang mengadopsi dari hukum adat, hukum Amirika atau hukum Inggris, akan tetapi konfigurasinya/pola sistematik dari eropa tidak dapat dibongkar, hukum tata niaga atau hukum dagang (Handels recht Vav koophandel membedakan hukum sebagai perekayasa social atau hukum ekonomi. Dalam Wetboek Van Koohandel terdapat pula pengaturan mengenai leasing, kondominium, pada Universitas Padjadjaran melihat masalah hukum perburuhan, agraria, perpajakan dan pertambangan masuk kedalam hukum ekonomi, sedangkan hukum dagang (belanda) dikualifikasikan sebagai hukum privat (perdata), khususnya hukum ekonomi berunsurkan kepada tindakan publik-administratif pemerintah, oleh karenanya hukum dagang untuk mengatur mekanisme ekonomi pasar bebas dan hukum ekonomi untuk mengatur mekanisme ekonomi berencana. Pada era Orde Baru pencarian model hukum nasional untuk memenuhi panggilan zaman dan untuk dijadikan dasar-dasar utama pembangunan hukum nasional., dimana mengukuhkan hukum adat akan berarti mengukuhan pluralisme hukum yang tidak berpihak kepada hukum nasional untuk diunifikasikan (dalam wujud kodifikasi), terlihat bahwa hukum adat plastis dan dinamis serta selalu berubah secara kekal. Ide kodifikasi dan unifikasi diprakasai kolonial yang berwawasan universalistis, dimana hukum adat adalah hukum yang memiliki perasaan keadilan masyarakat lokal yang pluralistis. Sebagaimana kita ketahui bahwa hukum kolonial yang bertentangan dengan hukum adat adalah merupakan

mengingat peran hukum adat dalam pembangunan hukum nasional san gat mendesak yang secara riil tidak tercatat terlalu besar. agar dapat terlihat secara jelas dan sistematis perkembangan dari masa-masa pemerintah Orde Lama kepada masa Orde Baru. terkecuali klaim akan kebenaran moral. UUD Proklamasi dan Super Semar 1966 . Pada masa era tahun 1970. Mengapa didalam Sejarah Hukum harus kembali kepada Ketetapan MPRS Tahun 1966 yang dilakukan oleh Pemerintahan Orde Baru ?. dimana UUD 1945 dijadikan landasan idiil/Konstitusional terhadap segala kegiatan ekonomi. harus melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekue dan yang maksud ketetapan MPRS tersebut adalah Pancasila. Sangat jelas terlihat bahwa pada tahun 1966 telah terjadi perubahan besar -besaran dibidang hukum dan Politik. 2. XX menetapkan : sumber teretib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangn Republik Indonesia. telah dilakukan konsolidasi dengan dukungan politik militer dan bertopang pada struktur secara monolistik serta mudah dikontrol secara sentral. Timbul permasalahan pokok yaitu : 1. Dekrit 5 Juli 19 59. Bagaimanakah realisasi dari Pemerintahan Orde Baru dengan prodak Hukum Super Semar. yang meyakinakan bahwa revolusi belum selesai. social dan budaya. maka harus mempunyai tujuan serta maksudnya yaitu memperdalam pengetahuan Sejarah Hukum. politik. Tidak terlepas dari kerangka teori dan konsep yang berlandaskan kepada Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang merupakan sebagai Landasan Idiil. pada saat masalah operasionalisasi dan pengefektifan terhadap faham hukum sebagai perekayasa ditangan Pemerintah yang lebih efektif. dan anti kolonialisme dan anti imperialisme tidak lagi dikumandangkan telah . dimana pada masa Pemerintahan Orde Baru yang telah melakukan perubahan secara besar-besaran dibidang Hukum. yang dijelaskan dalam paragraph Pendahuluan Bab XIII UUD 1 945 bahwa Indonesia adalah negara yang berazas atas hukum dan bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan belaka dan Konstitusional serta dikuatkan dengan Ketetapan MPRS Tahun 1966 tanggal 5 Juli dengan Ketetapan MPRS No. serta bagaimana perubahan Sejarah Hukum dipandang baiak dari Kebijakan Dasar maupun Kebijakan Pemberlakuan terhadap roda Pemerintahan dimasa Orde Baru (baik secara factor Internal maupun secara factor eksternal) ? Atas dasar permasalahan tersebut.tugas dan komitmen Pemerintah Orde Baru untuk melakukan unifikasi dan kodifikasi kedalam hukum nasional. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Politik dan Sosial Budaya.

Dengan sikap Low Profile dalam politik Internasional. Ketetapam MPR. XX : telah menetapkan sumber tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangn Republik Indonesia. harus melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dan maksud ketetapan MPRS tersebut adalah Pancasila. kesehatan dan pertambahan penduduk.berganti strategi nasional yaitu kepada masalah soal kemiskinan dan kesulitan hidup ekonomi untuk dipecahkan. dibentuknya kabinet baru dengan sebutan Kabinet Pembangunan yang merupakan sebagai titik awal perubahan kebijakan pemerintah secara menyeluruh (dari kebijakan politik revolusioner sebagai panglima menjadi kebijakan pembangunan ekonomi sebagai perjuangan Orde Baru). dimana perkembangan hukum nasional pada era Orde Baru adalah upaya memulihkan kewibawaan hukum dan tata hirarki perundang-undangan.yang berkaitan dengan pendapatan rakyat. karena pada Pemerintahan Presiden Soekarno. telah dilakukan pembatasan-pembatasan kekuasaan eksekutif. terdapat tiga kebijakan yaitu Hak Azasi manusia. Pembangunan lima tahun merupakan (Rule of Law) pada tahun 1969 merujuk kepada paragraf Pendahuluan Bab XIII UUD 1945 yang menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang berazas atas hukum dan bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan belaka. Peraturan Pemerintah. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. peradilan harus bebas dan tidak memihak (UU Pokok Kekuasaan Kehakiman No. dengan dibawah kontrol Pemerintah Orde Baru terdapat suatu indicator keberhasilan perjuangan bangsa yang kemudian dialihkan keberhasilannya dalam pembangunan ekonomi. Undang-Undang. 14 Tahun 1970 tentang kekuasaan kehakiman) dan azas legalitas terhadap hukum formil maupun hukum materiil. UUD Proklamasi dan Super Semar 1966. Yang kemudia pada Tahun 1966 tanggal 5 Juli dengan Ketetapan MPRS No. Dengan melihat kepada Rule of Law. Keputusan Presiden dan Peraturan Pelaksanaan lainnya (Peraturan Menteri dan Instruksi Menteri). Dan pada masa awal Pemerintahan Orde Baru. Dekrit 5 Juli 1959. Sedangkan pada berikutnya adalah sebagai tahap mengembalikan citra Indonesia sebagai Negara Hukum. Hal tersebut berkaitan dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret pada Tahun 1967 dan pada Tahun 1968. buta aksara/huruf. kekuasaan eksekutif mendudukkan diri kepada Pimpinan Besar Revolusi. Dengan Tata urutan serta tingkatan-tingkatan tersebut yaitu : Undang-Undang Dasar. yaitu dengan mengesahkan jabatannya .

ekonomi dan Hukum harus memikirkan dan membantu tindakan untuk mengefektikan hukum dengan menjaga Status Quo. Dimana pada Masa Orde Baru atau Orde Pembangunan. budaya dan agama). yang menentang logika hukum Saharjo dan Wirjono. Para ahli Politik.sebagai Presiden seumur hidup (Sangat eksesif dengan dekrit-dekrit Presiden sebagai kekuatan hukum yang melebih kekuatan undang-undang dan UU Pokok Kehakiman No. telah menjadikan hukum pembangunan. politik. dengan bantuan luar negeri dan investasi asing oleh karenannya harus tetap terjaminnya kepastian berdasarkan hukum. dimana dalam pelaksanaan dan operasionalisasi kegiatannya banyak yang memaksakan penyimpangan-penyimpangan yang menimbulkan peristiwa yang disebut Legal Gaps (Para yuris menghadapi berbagai permasalahan ekonomi. yaitu konsep Roscoe Pound adalah perlunya memfungsikan Law as a Tool of Social Engineering . Pada masa era Orde Baru. Menurut Mochtar Kusumaatmadja : yang mengajak para sosiologik dalam ilmu hukum untuk merelevansikan hukum dengan permasalahan pembangunan social-ekonomi. dan bukan bertujuan untuk merasionalisasai kebijakan-kebijakan Pemerintah ( Kebijakan eksekutif). 19 Tahun 1964 yang telah memberi wewenang kepada Presiden untuk melakukan intervensi pada perkara-perkara di Pengadilan). Menurut Raymond Kennedy adalah Merupakan kebijakan anti -Acculturation yang tidak mendatangkan kemajuan apa-apa . akan tetapi juka ikut mendorong terjadinya perubahan-perubahan yang dilakukan secara tertib dan teratu r. yang dapat dipakai untuk merelevansi permasalahan hukum dan fungsi hukum dengan permasalahan makro yang tidak hanya terbatas pada persoalan normative dan ligitigatif. dan dengan dasar argumen Mochtar yaitu mengenai pendayagunaan hukum sebagai sarana untuk merekayasa masyarakat menurut kepada skenario kebijakan Pemerintah/eksekutif. bukan hukum revolusi dengan tidak memberlakukan hukum kolonial (Barat seperti desakan Sahardjo dan Wirjono). Sebagaimana telah terjadi pertentangan antara Ketua Mahkamah Agung pada waktu itu dijabat oleh Soebekti (pada Tahun 1963). Proses pembangunan melakukan pendekatan baru. maka pembangunan hukum nasional di Indonesia . Atas dasar tersebutlah Pemerintah Orde Baru melakukan pemulihan kewibaan hukum dan menegakkan The Rule of Law untuk terciptanya serta terlaksananya kegiatan perekonomian. yang sangat diperlukan oleh negara-negara sedang berkembang. Dimana Faham aliran sociological Jurisprudence (Legal Realisme). social. hukum diperlakukan sebagai sarana dan baru yang bertujuan pembangunan.

yang menjadi program Badan Pembinaan Hukum Nasional. perburuhan dan lain-lain. permodala n. Dalam Pidato Presiden Soeharto yaitu dalam pembukaan Law Asia di Jakarta Tahun 1973 yang mengatakan bahwa Setiap pembangunan mengharuskan terjadinya serangkaian perubahan. tetapi tidak dapat dikatakan sebagai keadaan status quo dimana sesungguhnya hukum akan berfungsi sebagai pembuka jalan dan kesempatan menuju kepembaharuan yang dikendaki. Hukum nasional dikualifikasikan sebagai hukum nasional modern dengan mengikuti perkembangan sejarah hukum dengan menempatkan diri secara khusus kearah perkembangan. investasi. bahkan juga perubahan-perubahan yang sangat fudamental . pos dan telekomunikasi dapat dikembangkan dalam system hukum asing/meniru). Atas dasar tersebut dimana kelembagaan hukum adalah untuk kepentingan pembangunan ekonomi. Setelah masa kekuasaan Presiden Soekarno. Dimana pemikiran mochtar tidak terlalu istimewa akan tetapi berfikir tentang fungsi aktif hokum sebagai perekayasa social (sangat penting dalam perkembangan hukum nasional pada era Orde Baru). Mochtar mengalirkan pemikirannya melalui konsorsium Hukum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang mengontrol kurikulum pada Fakultas Hukum di Indonesia maupun sebagai Menteri Kehakiman Tahun 1974 -1978.(sedangkan mengenai soal kontrak. pelayaran. perbankan. perpajakan. dengan kombinasi dari keduannya dengan kodifikasi dan unifikasi hukum nasional yang terbatas secara selektif pada hukum yang tidak menjamah tanah kehidupan budaya dan spiritual rakyat. dengan prioritas untuk meninjau kembali dan merancang peraturan -peraturan perundang-undangan sesuai dengan pembangunan social-ekonomi (perundangan badan . Dimana Mochtar mengajurkan agar dilakukan penelitian terlebih dahulu untuk melakukan Charting out in what areas of Law . Bab 27 Paragraf IV butir I Menguraikan : Hukum dan Rancangan Perundangundangan . badan-badan usaha dan tata niaga dapat diatur oleh hukum perundang -undangan nasional dan untuk masalah lain yang netral seperti komunikasi. Dengan Ide Law as a Tool of Social Engineering adalah untuk memfungsikan hukum guna merekayasa kehidupan ekonomi nasional saja dengan tidak melupakan hukum tata negara (terlihatlah mendahulukan infrastruktut politik dan ekonomi) dan ide ini sesuai dengan kepentingan Pemerintah. Secara Eksplisit dan resmi dalam naskah Rancangan Pembangunan Lima Tahun Kedua Tahun 1974. keuangan.hendaklah tidak tergesa-gesa dalam membuat keputusan (apakah meneruskan hukum kolonial ataukah secara apriori mengembangkan hukum adat sebagai hukum nasional). pasar modal.

keuangan negara dan daerah dan perundangan perikanan darat. paten. perundangan lalulintas. perkeb unan. Dengan memfungsikan hukum untuk kepentingan pembangunan ekonomi (kehendak kepentingan industrialisasi masyarakat modern) oleh faham hukum sebagai sarana perekayasa social begitu pula ide pendayagunaan hukum masuk sebagai kebijakan pemerintah dengan upaya melakukan survai untuk menginvestasikan dan meletakkan keadan hukum yang telah atau belum ada untuk kepentingan aktivitas ekonomi. Dalam Weyboek Van Koohandel terdap at pula mengatur leasing. pelayaran. hak cipta. pelestarian sumberdaya alam dan perlingunan hutan). hukum Amirika atau hukum Inggris. tera dan timbangan. dimana ada dua pihak ahli hukum yang tidak setuju. yang kemudian bermanfaat untuk menentukan kebijakan perundang -undangan yang telah direncanakan dalam rancangan pembangunan lima tahun kedua. merk dagang. komunikasi dan perdagangan. Terutama pada hukum dagang (belanda) yang . khususnya bidang pertanian. Perundangan Prosedur penggunaan. telekomunikasi dan pariwisata.usaha. hukum tata niaga atau hukum dagang (Handels recht Vav koophandel membedakan hukum sebagai perekayasa social atau hukum ekonomi. Pembangunan hukum nasional dengan cara mengembangan hukum baru atas dasar prinsip yang diterima dalam kehidupan Internasional. kondominium dan Universitas Padjadjaran melihat masalah hukum perburuhan. Jelasnya bahwa pendayagunaan hukum untuk kepentingan pembangunan Indonesia adalah dengan hukum yang telah diakui dan berkembang dikalangan bisnis Internasional (berasal dari hukum dan praktek bisnis Amirika). pertambangan. alat pertanian. melakukan pengembangan hokum nasional Indonesia dengan dasar hukum kolonial yang dikaji ulang berdasarkan Grundnom Pancasila adalah yang dipandang paling logis. mempelajari hokum eropa (belanda) dimana mochtar berpengalaman luas dalam unsur-unsur hukum dan bisnis Internasional. pemilikan dan penggunaan lahan pertanahan. perternakan. perpajakan dan pertambangan masuk kedalam hukum ekonomi. akan tetapi konfigurasinya/pola sistemiknya yang eropa tidak dapat dibongkar. yaitu harus ada kontinuitas perkembangan hukum (kolonial) menuju hukum nasional dimana Hukum nasional harus berakar yaitu hukum adat. Hukum Kolonial secara formil masih berlaku dan sebagian kaidah-kaidahnya masih merupakan hukum positif Indonesia berdasarkan ketentuan peralihan. Telihat adanya adopsi dari hukum adat. transportasi dan keamanan udara. agraria. industri. terlihat terjadi pergerakan kearah pola-pola hukum eropa(belanda). Para ahli hukum praktek.

dengan mengingat bahwa hukum kolonial dianggap sangat bertentangan dengan hukum adat adalah merupakan tugas dan komitmen Pemerintah Orde Baru untuk melakukan unifikasi dan kodifikasi kedalam huku m nasional tersebut. dimana hukum adat adalah hukum yang memiliki perasaan keadilan masyarakat lokal yang pluralistis..Didalam hukum Internasional pranata maro (production sharing contract). sedangkan hukum ekonomi berunsurkan kepada tindakan publik-administratif pemerintah. Di masa Orde Baru pencarian model hukum nasional adalah untuk memenuhi panggilan zaman dan untuk dijadikan dasar -dasar utama pembangunan hukum nasional. baru siap dengan rambu -rambu pembatas dan beluam siap dengan alternatif positif yang harus diwujudkan. pranata dol oyodan atas tanah (voyage charter atau time charter) dan pranata jonggolan (lien atau mortgage). Dan ide kodifikasi dan unifikasi diprakasai kolonial yang berwawasan universalistis. dimana hukum nasional harus berdasarkan hukum adat. Keberadaan hukum adat tidak pernah akanmundur atau tergeser dari percaturan politik dalam membangun hukum nasional. Dengan melihat kepada pendapat para ahli hukum (Van Vollenhoven dan Soepomo). untuk menguji kelayakan hukum nasional.13Konsep tanah . pranata panjer (commitment fee atau down payment) dimana pranata kebiasaan untuk mengijinkan tetangga tidak perlu meminta izin untuk melintas pekarangan seseorang (innocent passage). hal terlihat dari terwujudnya kedalam hukum nasional yaitu dengan mengangkat hukum rakyat/hukum adat menjadi hukum nasional terlihat pada naskah sumpah pemuda pada tahun 1928 bahwa hukum adat layak diangkat menjadi hukum nasional yang modern (soepomo). Dengan demikian hukum adat adalah merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan -bahan untuk pembangunan hukum nasional dalam unifikasi hukum (karena terdapat nilai universal). dan juga sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Law as a Tool Social Engineering. dimana terdapat empat asas hukum adat yang mempunyai nilai universal dan lima pranata hukum adat dapat dijumpai dalam hukum Internasional. oleh karenanya hukum dagang untuk mengatur mekanisme ekonomi pasar bebas dan hukum ekonomi untuk mengatur mekanisme ekonomi berencana. dimana mengukuhkan hukum adat akan berarti mengukuhan pluralisme hukum dan tidak berpihak kepada hukum nasional yang diunifikasikan (dalam wujud kodifikasi). yang merupakan dasar kekuasaan umum dan asas perwakilan serta permusyawaratan dalam sistim pemerintahan.dikualifikasikan sebagai hukum privat (perdata).

alasan kedua : adalah dimana perkembangan politik pada era Orde Baru. yang seharusnya alih ide dan kebijakan diperakasai oleh lembaga perwakilan akan tetapi pada kenyataannya justru ide dan prakasa eksekutif yang lebih banyak merintis dan mengontrol perkembangan. kekuatan politik yang berkuasa di jajaran eksekutif ternyata mampu bermanouver dan mendominasi DPR dan MPR. mengingat peran hukum adat dalam pembangunan hukum nasional sangat mendesak yang secara riil tidak tercatat terlalu besar. Kontrol eksekutif tampak lebih menonjol manakala memperhatikan keleluasaan eksekutif dalam hal membuat regulatory laws sekalipun hanya bertaraf peraturan pelaksanaan. yang tidak menjamin kemandiriannya yang seharusnya ditetapkan dahulu secara diktrinal. Terlihat dari Pemilihan Umum tahun 1973.Resultante pada era Orde Baru telah terlanjur terjadi karena kekuatan dan kekuasaan riil eksekutif dihadapan badan -badan perwakilan telah menjadi tradisi di Indonesia sejak jaman kolonial dan pada masa sebelumnya dan juga adanya alasan-alasan yang lain yaitu alasan pertama : adalah pendayagunaan wewenang konstitusional badan deksekutif yang melibatkan diri dalam pernacangan dan pembuatan undang-undang. dengan kompromi politik sebagai hasil trade -offs antara berbagai kekuatan polotik. Barulah pada tahun 1970. bahwa badan kehakiman diidealkan menjadi hakim yang bebas serta pembagian kekuasaan dalam pemerintahan adalah harapan sebagai badan yang mandiri dan kreatif untuk merintis pembaharuan hukum lewat mengartikulasian hukum dan moral rakyat.wewengkon atau tanah ulayat dalam hukum internasional dikenal sebagai konsep teritorialitas yaitu perlindungan kebawah kekuasaan seseorang penguasa agar terhindar dari sanksi adat (dalam hukum internasional disebut asylum atau hak meminta suaka). terkecuali klaim akan kebenaran moral. Dimana ketidak mampuan hakim bertindak mandiri dan bebas dalam proses dan fungsi pembaharuan hukum nasional. pada saat masalah operasionalisasi dan pengefektifan terhadap faham hukum sebagai perekayasa ditangan Pemerintah yang lebih efektif. tidak disebabkan oleh para hakim saja. telah dilakukan konsolidasi dengan dukungan politik militer dan topangan birokrasi yang distrukturkan secara monolitik serta mudah dikontrol secara sentral. karena dikusainya sumber daya yang ralif berlebihan alan menyebabkan eksekuitf mampu lebih banyak berprakasa.(karena pendidikan hukum dan kehakiman terlanjur menekankan pola berfikir deduktif lewat silogisme logika formal tanpa melalui berfikir induktif untuk menganalisa kasus/case law). Sebagai upaya dimasa Orde Baru. dimana 100 dari 360 anggota Dewan adalah anggota yang diangkat dan ditunjuk oleh eksekutif yaitu fraksi ABRI ditunjuk dan diangkat .

hal ini terlihat gerakangerakan dari bawah untuk menuntut hak-hak asasi. Dekrit 5 Juli 1959. Analisa permasalahan kedua. mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak-hak asasi manusia dimana terjadi kelaparan serta kemiskinan yang berkelanjutan karena telah menyimpang dari landasan Negara yaitu UUD 1945 dan Pancasila. Pemerintahan Orde Baru ingin melakukan pembaharuan hukum disegala sector dengan melakukan kodofikasi dan unifikasi hukum nasional. Dimana kebijakan das ar dan kebijakan pemberlakuan secara internal. Dengan demikian Orde Baru telah menjadi kekuatan kontrol Pemerintah yang terlegitimasi (secara formal-yuridis) dan tidak merefleksikan konsep keadilan. asas-asas moral dan wawasan kearifan yang tidak hidup dalam masyarakat awam. XX : yang telah menetapkan sumber tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangn Republik Indonesia.sebagai konsesi tidak ikutnya anggota ABRI dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Dimana secara factor internal. dimana Presiden Orde lama dengan melalui dekrit-dekritnya sebagai Pimpinan yang tertinggi dan sebagai Presiden seumur hidup. UUD Proklamasi dan Super Semar 1966. Analisa secara factor . Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. adalah dimana pada Pemerintahan Orde Baru adalah merupakan sebagai Pemerintahan yang dengan memberlakukan Ketetapan MPRS No. Jika dilihat b erdasarkan factor eksternal. Konstelasi dan kontruksi tersebut dalam abad ke 20 secara sempurna menjadi Government Social Control dan fungsi sebagai Tool Of Social Engineering . harus melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dan yang dimaksud oleh ketetapan MPRS tersebut adalah Pancasila. upaya ini adalah untuk mengembalikan citra hukum Indonesia akibat kekuasaan Orde lama yaitu dengan mengembalikan perusahaan asing yang telah dikuasai semasa Pemerintahan Orde Lama dengan tujuan untuk menjamin kepastian hukum Indonesia. Analisa pertama adalah karena disebabkan dianggap sudah tidak murni dan konsekuen untuk melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan idiil dan konstitusional. yang justru lebih kuat dan terjadi dimasa kejayaannya ide hukum revolusi diawal tahun 1960 -an. dimana pada masa Pemerintahan Orde Lama adalah yang merupakan sebagai Presiden seumur hidup sebagai pahlawan revolusi telah bertindak melakukan menguasaan terhadap perusahaan asing. karena dengan kekuasaannya telah mengakibatkan terjadinya ketidak pastian hukum di Indonesia pada masa Pemerintahan Orde Lama tersebut. dengan mengakibatkan secara factor eksternal terdapat ketidak percayaan investor asing terhadap Pemerintah Orde Lama.

Ide Law as a Tool of Social Engineering adalah untuk memfungsikan hukum guna merekayasa kehidupan ekonomi nasional saja dengan tidak melupakan hukum tata negara (terlihatlah mendahulukan infrastruktut politik dan ekonomi. dan anti kolonialisme dan anti imperialisme. 3. Hukum nasional dikualifikasikan sebagai hukum nasional modern dengan mengikuti perkembangan sejarah . Dengan Ketetapan MPRS No. Sikap Low Profile dalam politik Internasional. social dan budaya.Eksternal adalah bertujuan agar kembali kepada kebijakan dasar yaitu UUD 1945 dan Pancasila dan kebijakan Pemberlakukan yaitu Peraturan Perundang-undangan yang bersandar kepada hukum Nasional yang telah di kodifikasi dan di Unifikasi.Mengembalikan Citra Indonesia Sebagai Negara Hukum. dimana UUD 1945 dijadikan landasan idiil/Konstitusional terh adap segala kegiatan ekonomi. yang meyakinakan bahwa revolusi belum selesai. Dengan kombinasi dari keduannya dengan kodifikasi dan unifikasi hukum nasional yang terbatas secara selektif pada hukum yang tidak menjamah tanah kehidupan budaya dan spiritual rakyat.Pembangunan lima tahun merupakan (Rule of Law) pada tahun 1969 merujuk kepada paragraph Pendahuluan Bab XIII UUD 1945 bahwa Indonesia ada lah negara yang berazas atas hukum dan bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan belaka.. dalam dibidang hukum dan Politik. harus melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. yang menjadi program Badan Pembinaan Hukum Nasional. sebagai berganti strategi nasional. 2. politik. dimana Hukum Di Fungsikan Sebagai Sarana Untuk Merekayasa Masyarakat Proses pembangunan melakukan pendekatanbaru yang dapat dipakai untuk merelevansi permasalahan hukum dan fungsi hukum dengan permasalahan makro yang tidak hanya terbatas pada persoalan normative dan ligitigatif. pada saat dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas maret pada Tahun 1967 dan pada Tahun 1968 dengan dibentuknya kabinet baru dengan sebutan Kabinet Pembangunan yang merupakan sebagai titik awal perubahan kebijakan pemerintah secara menyeluruh. XX : menetapkan sumber tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangn Republik Indonesia. dengan tujuan sebagai terciptanya kepastian hukum dam menunjukan kepada dunia Internasional agar mau menanamkan modal atau menginvestasikan kembali modalnya di Indonesia dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional. KESIMPULAN : 1.

Pendayagunaan hukum untuk kepentingan pembangunan Indonesia adalah dengan hukum yang telah diakui dan berkembang dikalangan bisnis Internasional (berasal dari hukum dan praktek bisnis Amirika). terlihat terjadi pergerakan kearah pola-pola hukum eropa (belanda). pelayaran.transportasi dan keamanan udara. perundangan lalulintas. 6. pemilikan d an penggunaan lahan pertanahan.Kontinuitas Perkembangan Hukum Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Kolonial Yang Dinasionalisasi.hukum dengan menempatkan diri secara khusus kearah perkembangan dan Secara Eksplisit dan resmi dalam naskah Rancangan Pembangunan Lima Tahun Kedua Tahun 1974. hak cipta. melakukan pengembangan hukum nasional Indonesia dengan dasar hukum kolonial yang dikaji ulang berdasarkan Grundnom Pancasila adalah yang dipandang palin g logis. kondominium dan Universitas Padjadjaran melihat masalah hukum perburuhan. 4. keuangan negara dan daerah dan perundangan perikanan darat. Dalam Weyboek Van Koophandel terdapat pula mengatur leasing. Para ahli hukum praktek.tera dan timbangan. mempelajari hu kum eropa (belanda) dimana mochtar berpengalaman luas dalam unsur-unsur hukum dan bisnis Internasional. perkebunan.Hukum Nasional Sebagai Hasil Pengembangan Hukum Adat. perpajakan dan pertambangan masuk kedalam hukum ekonomi. telekomunikasi dan pariwisata. 5. hukum tata niaga atau hukum dagang (Handels recht Vav koophandel membedakan hokum sebagai perekayasa social atau hukum ekonomi. hukum Amirika atau hukum Inggris. perternakan. agraria. Mengenai adopsi dari hukum ada t. pelestarian sumberdaya alam dan perlingunan hutan).Perundangan Prosedur penggunaan. akan tetapi konfigurasinya/ pola sistemiknya yang eropa tidak dapat dibongkar. Sedangkan hukum dagang (belanda) dikualifikasikan sebagai hukum privat (perdat) sedangkan hukum ekonomi berunsurkan kepada tindakan publik-administratif pemerintah.Hukum Kolonial secara formil masih berlaku dan sebagian kaidah -kaidahnya masih merupakan hukum positif Indonesia berdasarkan ketentuan peralihan. merk dagang. dimana Hukum adat tidak . oleh karenanya hukum dagang untuk mengatur mekanisme ekonomi pasar bebas dan hukum ekonomi untuk mengatur mekanisme ekonomi berencana. alat pertanian. paten. Bab 27 Paragraf IV butir I Menguraikan : Hukum dan Rancangan Perundang -undangan . dengan prioritas untuk meninjau kembali dan merancang peraturan -peraturan perundangundangan sesuai dengan pembangunan social-ekonomi (seperti perundangan badan usaha.

adalah untuk terwujudnya hukum nasional dengan mengangkat hukum eakyat yaitu hukum adat menjadi hukum nasional terlihat pada naskah sumpah pemuda pada tahun 1928 bahwa hukum adat layak diangkat menjadi hukum nasional yang modern (soepomo). terlihat bahwa hukum adat plastis dan dinamis serta selalu berubah secara kekal. mengingat peran hukum adat dalam pembangunan hukum nasional sangat mendesak yang secara riil tidak tercatat terlalu besar.Pada era Orde Baru pencarian model hukum nasional memenuhi panggilan zaman untuk menjadi dasar-dasar utama pembangunan hukum nasional. Ide kodifikasi dan unifikasi diprakasai kolonial yang berwawasan universalistis.pernah mundur atau tergeser dari percaturan politik dalam membangun hukum nasional.. terkecuali klaim akan kebenaran moral. telah melakukan konsolidasi dengan dukungan politik militer dan topangan birokrasi yang distrukturkan secara monolitik serta mudah dikontrol secara sentral. Resultante pada era Orde Baru telah terlanjur terjadi karena kekuatan dan kekuasaan riil eksekutif dihadapan badan-badan perwakilan telah menjadi tradisi di Indonesia sejak jaman kolonial dan pada masa sebelumnya dan juga adanya alasan-alasan lainnya . dimana badan kehakiman diidealkan menjadi hakim yang bebas serta pembagian kekuasaan dalam pemerintahan adalah harapan sebagai badan yang mandiri dan kreatif untuk merintis pembaharuan hukum lewat mengartikulasian hukum dan moral rakyat.Dimana hukum kolonial yang bertentangan dengan hukum adat adalah merupakan tugas dan komitmen Pemerintah Orde Baru untuk melakukan unifikasi dan kodifikasi kedalam hukum nasional. 7. dimana hukum adat adalah hukum yang neniliki perasaan keadilan masyarakat local yang pluralistis. dimana mengukuhkan hukum adat akan berarti mengukuhi pluralisme hukum dan tidak berpihak kepada hukum nasional yang diunifikasikan (dalam wujud kodifikasi). pada saat masalah operasionalisasi dan pengefektifan terhadap faham hokum sebagai perekayasa ditangan Pemerintah yang lebih efektif.

for the benefit of the Government at that time." with priority to reviewing and designing rules and regulations in accordance with the development of social. starting from the sectors of Justice / laws. which the Law functioned as a means to manipulate people to do the construction process new approaches that could be used to merelevansi legal issues and legal functions with the macro issues that are not only limited to normative issues and ligitigatif (with a combination of doing codification and unification of national law). Chapter 27 Paragraph IV point I Elaborating: "Law and the Draft Legislation. is by law that has been . is the utilization of law for the benefit of Indonesia's development. We need to know that the New Order period is a period that is imposing the will and the charged political element alone. Continuity Development Law From Colonial to Colonial Law Law yng nationalized. which aims to facilitate to the deepening of the materials systematically for can be read easily on the stages of historical development of law in Indonesia. economy / business. Freedom of Information / Press and many others. and the 1945 Constitution be based idiil / Constitutional. has the pembelengguan in all sectors. especially in the field of law and politics. Which are explicit and formal in the manuscript draft Second Five-Year Development of 1974. In the five-year development is as Rule of Law in 1969 refer to paragraphs Introduction Chapter XIII of the 1945 Constitution that Indonesia is a country that berazas above the law and not a state based on sheer power.economy (legislation socioeconomic sector. And in the New Order was exactly. With MPRS Decree No.DEVELOPMENT LAW IN INDONESIA DURING THE NEW ORDER GOVERNMENT In summary penuilis on Legal History course. XX: Legal rules establish the source of the Republic of Indonesia and Sequence undangn Laws and the Republic of Indonesia must implement the 1945 Constitution in a pure and consequently the Pancasila.Summary of Legal History is also very useful because it is also a fundamental legal basis of the previous period (Old Order) and the post-New Order period or era of the Reformation. And to restore the image of the Indonesian nation as a State of Law. to meyakinakan that the revolution has not been completed. by the issuance of the Warrant Eleven March of 1967 and the establishment of a new cabinet with the title Development Cabinet which is as a starting point for the overall government policy changes.

. in current operational problems and improve the effectiveness of the schools of law as an engineer in the hands of a more effective government. has made the development of Indonesian national laws on the basis of colonial law which is reviewed based on Pancasila Grundnom is considered the most logical. while trade law (dutch) qualify as private law (civil). at the University of Padjadjaran see labor law issues. Where a formal Colonial Law is still valid and some of its maxims is still an Indonesian positive law based on the transitional provisions. During the 1970s. Mochtar vast experience in law elements and international business. especially economic laws berunsurkan to action public-administrative government. condominium. legal experts who study the practice of European law ( Dutch).. The idea of codification and unification initiated colonial universalistic vision. in this case. the national legal models to meet the call of the times and to serve as the main basis of development of national law. with the exception of the truth of moral claims. Which confirmed the customary law would mean mengukuhan legal pluralism that does not favor a national law to diunifikasikan (in the form of codification). see there is movement towards the patterns of European law (Dutch). which adopted the customary law. the law or commercial law trade system (VAV recht Handels koophandel distinguish law as social engineering or economic law. shows that law custom plastic and dynamic and always changing eternally. consolidation has been carried out with military and political support in monolistik relied on the structure and easily controlled centrally.recognized and developed among the international business (derived from law and business practices Amirika). In search of the New Order era. given the role of customary law in the development of national law is very urgent that in real terms is not recorded too big. In Wetboek Van Koohandel there are also arrangements regarding leasing. agrarian. As we all know that the colonial laws that conflict with customary law is a duty and commitment of the Government of New Order to perform unification and codification into national law. where customary law is the law that has the feeling of local community justice is pluralistic. but the configuration / systematic pattern of europe can not be dismantled. Amirika law or English law. and therefore trade law to regulate the free market economic mechanisms and economic laws to regulate the mechanism of the planned economy. taxation and mining law into the economy.

in order to see clearly and systematically the development of periods of the Old Order government to the New Order era. This is related to the issuance of Warrant Eleven March in the Year 1967 and the Year 1968. Why in the History of Law must be returned to the MPRS Decree of 1966 conducted by the Government of New Order?. Proclamation and the Constitution Super Semar 1966 ". XX set: "source teretib Law of the Republic of Indonesia and Sequence undangn Laws and the Republic of Indonesia must implement the 1945 Constitution is pure and the intent and provisions konsekue MPRS is Pancasila. illiteracy / letters. With Low Profile attitude in international politics. Decree of July 5. the establishment of a new cabinet with the title Development Cabinet. which is the foundation Idiil. 1945. the Proclamation of Independence August 17.yang related to people's income. Not independent of the theoretical framework and concepts that are based on the 1945 Constitution and Pancasila. health and population growth. where in the New Order administration that has made a major change magnitude in the field of Legal. social and cultural rights. described in "Introduction paragraph in Chapter XIII of the 1945 Constitution that Indonesia is a country that berazas above the law and not a state based on sheer power and Constitutional and strengthened to the Legislative Assembly on 5 July 1966 to the Legislative Assembly No. and how the changes seen baiak Legal History of the Basic Policy and Enforcement Policy on the days of the New Order Government wheels (both internal factors as well as external factors)? On the basis problem. 2. which is as a starting point for the overall government policy changes (from the policy of . Political and Social Culture. we must have a purpose and intention is to deepen knowledge of Legal History. political. How is the realization of the New Order Government prodak SuperLaw Semar. Very clearly seen that in 1966 there have been massive changes in the field of law and politics.Main problems arise: 1. where the 1945 Constitution be based idiil / Constitutional against all economic activity. and anti-colonialism and anti-imperialism no longer echoed changed its national strategy that is the problem of poverty and economic hardship for dipecahkan. 1959. with the New Order government under control there is an indicator of the success of the national struggle which later transferred its success in economic development. which meyakinakan that unfinished revolution.

namely human rights. not the law of revolution by not imposing colonial rule (such as the West's insistence Sahardjo and Wirjono). the judiciary must be free and impartial (Principal Judicial Authority Law No. As there has been disagreement between the Chairman of the Supreme Court at that time occupied by Soebekti (of 1963). With Tata sequence and the tiers are: the Constitution. Government Regulation. 19 of 1964 which had authorized the President to intervene in the case-a case in court). had conducted the limitations of executive power. On the basis of the New Order Government tersebutlah kewibaan recovery law and uphold the rule of law for the creation and implementation of economic activities. Which later on July 5. the Constitution Proclamation and Super Semar 1966. With a view to the rule of law. there are three policies. where the development of national law in the era of New Order is an effort to restore the authority of law and hierarchy of legislation. the MPR Ketetapam. where in the implementation and operation activities that impose a lot of . namely by passing his position as President for life (it is excessive to the decrees of the President as the force of law that exceeds the power of law and Justice Basic Law No. the Proclamation of Independence August 17.revolutionary politics as commander of a policy of economic development as the struggle of the New Order) . Decree of the President and other Implementing Regulation (Regulation of the Minister and the Minister of Instruction. which opposes the logic of law and Wirjono Saharjo. with foreign aid and foreign investment by ensuring certainty karenannya must remain under the law. Law. 1945. has made the hukum of development. During the New Order era. 14 of 1970 on judicial power) and the principle of legality of formal law and substantive law. 1966 to the Legislative Assembly No. the executive power lowered himself to the Great Leader of the Revolution. Decree 5 July 1959. XX: The law has set the source order of the Republic of Indonesia and Sequence undangn Laws and the Republic of Indonesia must implement the 1945 Constitution in a genuine and consistent and the purpose of assessment MPRS is Pancasila. While on a stage next is to restore the image of Indonesia as a State of Law. And in the early days of the New Order Government. because the government of President Sukarno.) Development is a five-year (Rule of Law) in 1969 refers to paragraphs Introduction Chapter XIII of the 1945 Constitution which explain that Indonesia is a country that berazas above the law and not a state based on sheer power.

but Juka helped push the changes made in an orderly and teratu "r. (While on a matter of contract. With the idea of Law as a Tool of Social Engineering is to enable the law to reverse the national . Where in The New Order or the Order of Development.. Experts Politics. namely the concept of Roscoe Pound was "the need for proper functioning of the Law as a Tool of Social Engineering". the law is treated as a new means and aims of development. and is not intended to merasionalisasai government policies (Policy Executive).. Where thinking is not too special Mochtar but think about the function of law as an active social engineer (very important in the development of national law in the era of New Order).. shipping. Where schools of flow Sociological Jurisprudence (Legal Realism). and with Mochtar basic argument is "about the efficient use of law as a means to manipulate people according to government policy scenarios / executive. then the development of national law in Indonesia should not rush in making a decision (whether to continue or whether colonial rule a priori to develop customary law as national law). After the rule of President Sukarno. social... enterprises and trade system can be regulated by the law of national legislation and to other problems such neutral communications. economics and law should think about and help mengefektikan legal action to maintain the Status Quo. political.deviations that lead to events that called Legal GAPS (The jurist facing various economic problems. . postal and telecommunications can be developed in a foreign legal system / replicate). cultural and religious). which can be used to merelevansi legal issues and legal functions with the macro issues that are not only limited to normative issues and ligitigatif. Mochtar thoughts flow through a consortium Hukum Department of Education and Culture who control the curriculum at the Faculty of Law in Indonesia as well as Minister of Justice of the Year 1974-1978. with a combination of keduannya with the codification and unification of national law that limited the law selectively do not touch the ground of cultural and spiritual life of the people. According Mochtar Kusumaatmadja: "who invites the sosiologik in legal science to law merelevansikan with socio-economic development issues.... .. which is needed by the developing countries. Where Mochtar suggesting me to do some research first to make Charting out in what areas of Law . who became the program of the National Law Development Agency. By Raymond Kennedy is "anti-Acculturation is the policy that does not bring any progress". . The process of building a new approach.

where there are two parties who are not legal experts agree. Chapter 27 Paragraph IV item I Elaborating: "Law and the Draft Legislation. tera and scales. patents. investment. shipping. plantation. National law qualified as a modern national law by following the historical development of law by placing himself in particular towards the development. even changes that are very fudamental". land ownership and land use. natural resource conservation and forest perlingunan). which is then useful to determine the policy and laws that have been planned in the second five-year development plan. practical jurists. that there must be continuity of legal development (colonial) into national law where the National laws must be rooted in the customary law. trademarks. agricultural equipment. mining.economic life by not forgetting constitutional law (putting infrastruktut saw politics and economics) and this idea is in accordance with the interests of the Government. state and local finance and land fishery regulations. transportation and air safety. telecommunications and tourism. Development of national law by way of developing a new law on the basis of principles accepted in international life. traffic laws. communications and trade. He explained that the utilization of law to the interests of Indonesia's development is the law that has been recognized and developed among the international business (derived from the law and business practices Amirika). taxation. By enabling law for economic development purposes (the will of the interests of the industrialization of modern society) by the ideology of "law as a means of social engineering" as well as ideas go hukum utilization as government policy with efforts to conduct surveys to invest and put objec law that has or has not been there for the sake of activity economy. Legislation Procedure use. banking." with priority to reviewing and designing rules and regulations in accordance with socioeconomic development (law of business entities. but can not be said to be the status quo in which the law will indeed serve as pacer and opportunities to the dikendaki kepembaharuan. capital markets. copyrights. studied law . The Explicit and the official in the manuscript draft Second Five-Year Development of 1974. On the basis of these where legal institutions are for the benefit of economic development. finance. industry. labor and others. livestock. In the speech of President Suharto is in the opening of Asian Law in Jakarta in 1973 which says that "Every development requires a series of changes. especially agriculture. capital.

it can be seen from the realization into national law by lifting hukum folk / traditional law into national law looks at the manuscript youth oath in 1928 that customary law into national law worthy appointed modern (Soepomo). to develop the Indonesian national law on the basis of colonial law which is reviewed based on Pancasila Grundnom is considered the most logical. bearing in mind that the law is contrary to the colonial considered customary law is a duty and commitment of the Government of New Order to perform unification and codification into national law. And the idea of codification and unification initiated colonial universalistic vision. agrarian. Amirika or English law.european (dutch) where Mochtar's vast experience in the elements of law and International businesses. Which confirmed the customary law would mean mengukuhan legal pluralism and not siding with the national law diunifikasikan (in the form of codification).Seemingly the adoption of customary law. where the national law must be based on customary law. taxation and mining into the economic law. In the New Order period search model national law is to fulfill the call of the times and to serve as the main basis of development of national law.. Especially in commercial law (dutch) which qualify as private law (civil). the new ready with signs limiting and beluam ready with a positive alternative that should be realized. therefore commercial law to regulate the free market economic mechanisms and economic laws to regulate the mechanism of the planned economy. In Weyboek Van Koohandel there also arrange leasing. and also in accordance with Pancasila and 1945 Constitution. . see there is movement towards the patterns of European law (dutch). the law or commercial law trade system (VAV recht Handels koophandel distinguish law as social engineering or economic law. condominium and the University of Padjadjaran see labor law issues. while economic law berunsurkan to the public acts of government-administrative. Thus customary law is one important source for obtaining materials for the development of national law in unification of law (because there are universal values). The existence of customary law was never akanmundur or displaced from the political arena in building national law. Law as a Tool Social Engineering. where customary law is the law that has a sense of local community justice pluralistic. but its configuration / pattern sistemiknya that europe can not be dismantled.Colonial Law is formally still in force and some of its maxims is still an Indonesian positive law based on the transitional provisions.

It was only in 1970.to test the feasibility of national law. (Because of legal education and judicial already emphasized deductive thinking patterns through the syllogism of formal logic without through inductive thinking to analyze the case / case law). where there are four principles of customary law which have universal value and the five institutions of customary law can be found in international law. because dikusainya excessive resources ralif alan cause more capable eksekuitf berprakasa. on which the general rule and the principle of representation and deliberation in the system pemerintahan.Didalam International legal institutions maro (production sharing contract). in current operational problems and improve the effectiveness of the schools of law as an engineer in the hands of the Government that more efektif.13 The concept of soil or soil wewengkon customary international law known as the concept of territoriality is the protection of one's power down the ruling to avoid the customary sanctions (in international law called the asylum or the right to ask for asylum). with the exception of the truth of moral claims. given the role of customary law in national legal development is very urgent that in real terms is not recorded too big. institution Panjer (commitment fee or down payment) where the institution is not customary to allow the neighbors need to ask permission to cross the courtyard someone (innocent passage). has been consolidated with the military and political support strut by a monolithic bureaucracy that is structured and easily controlled centrally. Where is the inability of judges to act independently and freely in the processes and functions of national legal reform. regulation of land oyodan dol (voyage charter or time charter) and institutions jonggolan (lien or mortgage) . not caused by the judge alone. As the days of New Order's effort. which should be over ideas and policies by . which does not guarantee the independence that should be determined before the diktrinal. that the idealized body of the judiciary as judges are free as well as the division of powers in government is the expectation as an independent and creative agency to pioneer mengartikulasian legal reform through legal and moral people. With a view to the opinion of legal experts (Van Vollenhoven and Soepomo).Resultante the New Order era has already occurred because of the strength and the real executive power in front of representative bodies has become a tradition in Indonesia since the colonial era and in the past and also the Other reasons are the first reason: the utilization of constitutional authority deksekutif bodies involving themselves in pernacangan and legislation.

which in the Old Order administration is that a President for life as a hero of the revolution has acted to menguasaan against foreign companies. which are even more powerful place in our geologic and legal ideas triumph of the revolution beginning in the 1960s. The first analysis is because it is caused is considered impure and consequently to implement the 1945 Constitution and Pancasila as the foundation idiil and constitutional. " Thus the New Order has become a legitimate power of government control (in a formaljuridical) and do not reflect the concept of justice. the second reason: it is where the political developments in the New Order era. Constellations and the construction is in the 20th century are perfectly into "Government Social Control and function as a" Tool Of Social Engineering. the ruling political power in the executive ranks bermanouver and was able to dominate parliament and the MPR. it is visible from the ground movements to demand rights. resulting in the violation of human rights where there is hunger and poverty is sustainable because it has deviated from the foundation of the State of the 1945 Constitution and Pancasila. Seen from the General Election in 1973. where the President of the Order of the old with the decree-decree as the supreme leader and as president for life. because with his power has resulted in the legal uncertainty in Indonesia during the Old Order government. Where the basic policy and internal policy enforcement. where 100 out of 360 members of the Board is an appointed member is appointed by the executive and the fraction of the Armed Forces appointed as the next member of the Armed Forces concession not in use their voting rights in the General Election. moral principles and insights that do not live in the wisdom of ordinary people. If seen by external factors. Executive control appears more pronounced when considering executive discretion in making regulatory laws even if only class implementing regulations. with a compromise politics as a result of trade-offs between the various forces polotik. rights rights.institutions diperakasai representative but in fact precisely the idea and executive prakasa more pioneering and control the development. is where the New Order Government is a Government that by imposing MPRS Decree No. XX: who has set the source order of the Republic of Indonesia Law and Order Code of Laws and undangn Republic of Indonesia must implement the 1945 Constitution in a genuine and consistent and that meant by the . with external factors have resulted in a distrust of foreign investors against the Old Order government. Analysis of the second problem.

2. political. Decree 5 July 1959. this effort is to restore the image of Indonesian law due to the power of the old Order of the return of foreign companies that have been mastered during the Old Order government in order to ensure Indonesian legal certainty. 1945. and anti-colonialism and anti-imperialism. with a goal as the creation of legal certainty dams showed to the world for going international invest or reinvest their capital in Indonesia in order to realize national development . Where are the internal factors. With the combination of keduannya with the codification and unification of national law is selectively limited to the laws that do not touch the ground of cultural and spiritual life of the people. the Proclamation of Independence August 17.. which meyakinakan that unfinished revolution. where the 1945 Constitution be based idiil / Constitutional against all economic activity.Pembangunan five years is (Rule of Law) in 1969 refers to the paragraph Introduction Chapter XIII of the 1945 Constitution that Indonesia is a country that berazas above the law and not a state based on sheer power. CONCLUSION: 1. Low Profile attitude in international politics. XX: Legal rules establish the source of the Republic of Indonesia and Sequence undangn Laws and the Republic of Indonesia must implement the 1945 Constitution in a genuine and consistent. as the switch national strategy. social and cultural rights. With MPRS Decree No. the Constitution Proclamation and the Super Semar 1966. which the law in the Enable As a Means to manipulate Community development process do pendekatanbaru that can be used to merelevansi legal issues and legal functions with the macro issues that are not only limited to normative issues and ligitigatif. External factor analysis is intended to return to the basic policy of the 1945 Constitution and Pancasila and Enforcement of the policy is legislation that rely on the National Law that has been in the codification and unification. which is as a starting point for the overall government policy changes. at the time of issuance of letter of instruction to march at eleven of 1967 and the Year 1968 with the formation of a new cabinet with the title Development Cabinet. who became the program of . the New Order administration wants legal reform in all sectors by doing kodofikasi and unification of national law.provision of MPRS is Pancasila. in the field of law and politics.Mengembalikan Citra Indonesia As a State of Law.

taxation and mining into the economic law. patents. The practice of lawyers. agrarian. state and local finance and legislation aquaculture. land ownership and land use. the law or commercial law trade system (VAV recht Handels koophandel distinguish law as social engineering or economic law. but its configuration / pattern sistemiknya that europe can not be dismantled. tera and scales. Legislation Procedure use. While commercial law (dutch) qualify as private law (perdat) while berunsurkan economic law to the public acts of government-administrative. agricultural equipment. see there is movement towards the patterns of European law (dutch). studying law europe ( Netherlands) where Mochtar's vast experience in the elements of law and international business. Amirika or English law. transportation and air safety. In Weyboek Van Koophandel there are also arrange leasing.Ide Law as a Tool of Social Engineering is to enable the hukum in order to reverse the national economic life by not forgetting constitutional law (putting infrastruktut saw politics and economics. trademarks. telecommunications and tourism. condominium and the University of Padjadjaran see labor law issues. 3. with priority to reviewing and designing rules and regulations in accordance with socio-economic development (such as a business entity laws. Chapter 27 Paragraph IV point I Elaborating: "The law and the Framework Legislation invitation". to develop national laws of Indonesia in colonial legal basis be reviewed based on Pancasila Grundnom is considered the most logical. shipping. Administrative law for the interests of Indonesia's development is the law that has been recognized and developed among the international business (derived from the law and business practices Amirika). National law qualified as a modern national law by following the historical development of law by placing themselves In particular towards the development and Explicit and officially in the draft Second Five-Year Development of 1974. Colonial 5.the National Law Development Agency.Regarding the adoption of customary law. livestock.Kontinuitas Growth Into Law from Colonial Law nationalized Colonial Law. 4. commercial law and therefore to regulate the free market economic mechanisms and economic laws to regulate the mechanism of economic planning. copyrights. traffic laws. . natural resource conservation and forest perlingunan). plantations.Hukum formally still in force and in part its maxims is still an Indonesian positive law based on the transitional provisions.

National 6. where judicial bodies idealized become independent judges and the division of powers in government is the expectation as an independent and creative agency to pioneer mengartikulasian legal reform through legal and moral people. In search of the New Order era. with the exception of claims will moral truth.Dimana colonial rule contrary to customary law is a duty and commitment of the Government of New Order to perform unification and codification into national law. Resultante the New Order era has already occurred because of the strength and the real executive power in front of representative bodies has become a tradition in Indonesia since the colonial era and in the past and also the existence of other reasons. . where customary law was never back down or withdrawing from the political arena in building national law.. is for the realization of national law by lifting the hukum eakyat namely customary law into national law looks at the manuscript oath in 1928 that youth worthy of customary law became a modern national law (Soepomo). 7. shows that the customary law of plastic and dynamic and always changing eternally. the national legal models to meet the call times to be the main basis of development of national law. which confirmed the customary law would mean make strong legal pluralism and not siding with the national law which diunifikasikan (in the form of codification).Hukum As a result of Development of Customary Law. given the role of customary law in the development of national law is very urgent in real terms is not recorded too big. at the time of operation problems and improve the effectiveness of the schools of law as an engineer in the hands of a more effective government. where customary law is the law that neniliki feeling the pluralistic local community justice. The idea of codification and unification initiated colonial vision of universalistic. have consolidated with the military and political support strut by a monolithic bureaucracy that is structured and easily controlled centrally.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful