Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Euthanasia adalah masalah dalam bidang kesehatan yang berkaitan dengan
aspek hukum yang selalu aktual dibicarakan dari waktu ke waktu. Sampai kini
tetap saja persoalan yang timbulkan berkaitan dengan masalah ini tidak dapat
diatasi atau diselesaikan dengan baik, atau dicapainya kesepakatan yang dapat
diterima oleh semua pihak. Di satu pihak tindakan euthanasia pada beberapa kasus
dan keadaan memang diperlukan, sementara dilain pihak tindakan ini tidak dapat
diterima, bertentangan dengan hokum, moral dan agama. Masalah ini setiap waktu
dihadapi oleh kalangan masyarakat dan kesehatan. Malah dapat diperkirakan akan
semakin meningkat dimasa mendatang.
Istilah euthanasia muncul yakni melepas kehidupan seseorang agar
terbebas dari penderitaan atau mati secara baik, pengertian ini dapat menjadi jalan
keluar bagi persoalan-persoalan untuk dilema meneruskan atau tidak tindakan
medik yang memperpanjang kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana issu etik dari kasus Euthanasia?
2. Bagaimana kasus Euthanasia dipandang secara moral maupun etika?
3. Bagaimana keputusan etik darikasus Euthanasia?
4. Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan etik Euthanasia?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui issu etik dari kasus Euthanasia
2. Mengidentifikasi kasus Euthanasia dipandang secara moral maupun etika
3. Mengetahui keputusan etik darikasus Euthanasia
4. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan etik Euthanasia
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Eutanasia (Bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya "baik", dan
θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktek pencabutan kehidupan
manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit
atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara
memberikan suntikan yang mematikan. Aturan hukum mengenai masalah ini
sangat berbeda-beda di seluruh dunia dan seringkali berubah seiring dengan
perubahan norma-norma budaya dan tersedianya perawatan atau tindakan medis.
Di beberapa negara, tindakan ini dianggap legal, sedangkan di negara-negara
lainnya dianggap melanggar hukum. Karena sensitifnya isu ini, pembatasan dan
prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya.
Mengenai euthanasia, ternyata dapat digunakan dalam tiga arti, yaitu:
1. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan dan
bagi yang beriman dengan nama Allah di bibir.
2. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien diperingan
dengan memberi obat penenang.
3. Mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas permintaan
pasien sendiri dan keluanganya.

2.2 Issue Etik Dari Kasus Euthanasia


Etika bersifat pluralistik. Setiap orang memiliki perbedaan terhadap penilaian
benar atau salah bahkan jika ada persamaan bisa saja hal tersebut berbeda dalam
alasannya. Di beberapa masyarakat, perbedaan tersebut dianggap sebagai sesuatu
yang normal dan ada kebebasan besar bagi seseorang untuk melakukan apa yang
dia mau, sejauh tidak melanggar hak orang lain. Namun di dalam masyarakat
yang lebih tradisional, ada persamaan dan persetujuan pada etika dan ada tekanan
sosial yang lebih besar, kadang bahkan didukung oleh hukum, dalam bertindak
berdasarkan ketentuan tertentu. Dalam masyarakat tersebut budaya dan agama
sering memainkan peran yang dominan dalam menentukan perilaku yang etis. Isu
euthanasia merupakan isu yang hangat dipertentangan di luar negeri, tetapi belum
merupakan hal yang penting di Indonesia, mengingat hal ini bertentangan denagn
hokum dan perundang-undangan serta kode etik kedokteran di Indonesia. Di luar
negeri keputusan yang diambil berupa :
• Keinginan lanjut usia dan keluarganya.
• Derajat penderitaan dan derajat gangguan kognitif lanjut usia tersebut.
• Prognosa penyakit yang diderita.
• Kualitas kehidupan dari lanjut usia.
• Perawatan yang sedang diberikan.
Isu etika muncul bila terjadi suatu pertentangan antara pendapat ilmiah atau
ilmu kedokteran dengan pandangan etika atau perikemanusiaan, berikut ini adalah
isu etika mengenai kasus Euthanasia :
Argumen Pro Euthanasia
• Kelompok pro euthanasia, yang termasuk juga beberapa orang cacad,
berkonsentrasi untuk mempopulerkan euthanasia dan bantuan bunuh diri.
Mereka menekankan bahwa pengambilan keputusan untuk euthanasia
adalah otonomi individu. Jika seseorang memiliki penyakit yang tidak
dapat disembuhkan atau berada dalam kesakitan yang tak tertahankan,
mereka harus diberikan kehormatan untuk memilih cara dan waktu
kematian mereka dengan bantuan yang diperlukan. Mereka mengklaim
bahwa perbaikan teknologi kedokteran merupakan cara untuk
meningkatkan jumlah pasien yang sekarat tetap hidup. Dalam beberapa
kasus, perpanjangan umur ini melawan kehendak mereka.
• Mereka yang mengadvokasikan euthanasia non sukarela, seperti Peter
Singer, berargumentasi bahwa peradaban manusia berada dalam periode
ketika ide tradisional seperti kesucian hidup telah dijungkir balikkan oleh
praktek kedokteran baru yang dapat menjaga pasien tetap hidup dengan
bantuan instrumen. Dia berargumen bahwa dalam kasus kerusakan otak
permanen, ada kehilangan sifat kemanusian pada pasien tersebut, seperti
kesadaran, komunikasi, menikmati hidup, dan seterusnya.
Mempertahankan hidup pasien dianggap tidak berguna, karena kehidupan
seperti ini adalah kehidupan tanpa kualitas atau status moral.
• Falsafah Utilitarian Singer menekankan bahwa tidak ada perbedaan moral
antara membunuh dan mengizinkan kematian terjadi. Jika konsekuensinya
adalah kematian, maka tidak menjadi masalah jika itu dibantu dokter,
bahkan lebih disukai jika kematian terjadi dengan cepat dan bebas rasa
sakit.
Oposisi terhadap Euthanasia
Banyak argumen anti euthanasia bermula dari proposisi, baik secara
religius atau sekuler, bahwa setiap kehidupan manusia memiliki nilai
intrinsik dan mengambil hidup seseorang dalam kondisi normal adalah
suatu kesalahan. Advokator hak-hak orang cacad menekankan bahwa jika
euthanasia dilegalisasi, maka hal ini akan memaksa beberapa orang cacad
untuk menggunakannya karena ketiadaan dukungan sosial, kemiskinan,
kurangnya perawatan kesehatan, diskriminasi sosial, dan depresi. Orang
cacad sering lebih mudah dihasut dengan provokasi euthanasia, dan
informed consent akan menjadi formalitas belaka dalam kasus ini.
Beberapa orang akan merasa bahwa mereka adalah beban yang harus
dihadapi dengan solusi yang jelas. Secara umum, argumen anti euthanasia
adalah kita harus mendukung orang untuk hidup, bukan menciptakan
struktur yang mengizinkan mereka untuk mati.

2.3 Euthanasia dipandang secara moral maupun etika


2.3.1 MORAL
Ada kasus ketika meningkatkan dosis pengurang rasa sakit, seperti
pemberian Morfin, dapat memperpendek umur pasien. Namun pemberian
morfin tidak dimaksukan untuk menimbulkan kematian, sehingga dipandang
secara moral berbeda. Kasus ini juga dapat dilihat dari perspektif falsafah
‘efek ganda’. Prinsip ini berasal dari filsafat moral Immanuel Kant, yang juga
dipopulerkan oleh Gereja Katholik. Falsafah ‘efek ganda’ menekankan bahwa
suatu efek tindakan tidak akan bisa diterima secara moral ketika ia terjadi
secara sengaja, namun tindakan itu akan diterima jika tidak disengaja.
2.3.2 ETIKA
Dari sisi etika, boleh-tidaknya euthanasia masih terus diperdebatkan
banyak kalangan. Bahkan tak semua negara mengizinkan praktik euthanasia.
Meskipun ada sejumlah kalangan menilai alasan 'meringankan penderitaan' itu
masuk akal, yang pasti semua agama melarangnya.

2.4 Keputusan etik dari kasus Euthanasia


Etik kedokteran umumnya membolehkan euthanasia pasif dalam arti
bahwa pasien dibiarkan menjalani kematian-alami-nya (letting dia naturally) tanpa
memberikan tindakan yang extraordinary atau menghentikan tindakan yang
extraordinary yang memperpanjang kehidupan, dengan tetap memberikan
tindakan / perawatan untuk mengendalikan nyeri dan memberikan kenyamanan
pasien. Tindakan yang memperpanjang kehidupan (life-sustaining treatments)
sendiri diartikan sebagai setiap tindakan yang ditujukan untuk memperpanjang
kehidupan tanpa mengubah keadaan medis latarnya.
The World Medical Association dalam statementnya pada tahun 1997
menyatakan bahwa euthanasia aktif adalah tindakan tidak etis, tetapi tidak
melarang dokter menghormati permintaan pasien yang menginginkan menjalani
proses kematian yang alami pada saat ia menghadapi sakitnya yang berada pada
fase terminal. IDI pernah membuat fatwa dengan nomor 231/PB/.4/07 pada tahun
1990 yang menyatakan bahwa pada pasien yang belum meninggal, namun
tindakan terapetik atau paliatif tidak ada gunanya lagi, sehingga bertentangan
dengan ilmu kedokteran, maka tindakan-tindakan tersebut dapat dihentikan.
Penghentian ini sebaiknya dikonsultasikan dengan minimal satu dokter lain.
Dalam resolusi no 5 Pertemuan ke-3 Dewan Akademi Fikih (1407 H /
1986 M), disebutkan bahwa kaidah hukum Islam “la dharar wa la dhirar”
membenarkan pembiaran kematian secara alamiah. Walaupun petugas medis
wajib menyediakan pelayanan medis sepanjang waktu, tetapi tindakan medis
dapat dihentikan jika menurut pendapatnya tipis atau nihil harapan bagi pasien
untuk sembuh. Dr. Abdulaziz Sachedina (University of Virginia, tanpa tahun)
juga mengatakan bahwa hokum Islam tidak melarang penghentian tindakan yang
sia-sia dan disproporsional dengan persetujuan anggota keluarga terdekat dan
dengan pertimbangan professional medis. Pengobatan itu hukumnya mustahab
atau wajib apabila pasien dapat diharapkan sembuh. Sedangkan apabila tidak
dapat diharapkan sembuh, apalagi setelah memperoleh pengobatan lama dan
penyakitnya tetap tidak ada perubahan, maka melanjutkan pengobatan menjadi
tidak wajib.
Kasus Terri Schiavo beberapa waktu yang lalu menimbulkan debat dari
segi etik dan medikolegal, yaitu karena apabila artificial nutrition and hydration
itu dianggap bersifat “extraordinary” sehingga penghentiannya dianggap sebagai
tindakan pasif, namun keinginan matinya disangsikan telah dinyatakan oleh si
pasien sendiri – karena ia berada dalam persistent vegetative state – sedangkan
keluarganya berbeda pendapat (suami berbeda dengan orang tua).
Keputusan untuk menghentikan suatu peralatan atau tindakan
memperpanjang hidup yang telah diterapkan pada seseorang pasien memang tetap
merupakan masalah, dibandingkan apabila peralatan atau tindakan tersebut belum
pernah dilakukan pada pasien. Pertimbangan yang ketat harus dilakukan,
khususnya pada pengambilan keputusan penghentian artificial nutrition and
hydration sebagaimana pada kasus Schiavo, oleh karena tindakan tersebut harus
ditentukan terlebih dahulu, apakah sebagai bagian dari “care” ataukah “cure”.
Apabila merupakan bagian dari “cure” dan dianggap sebagai tindakan medis yang
sia-sia maka dapat dihentikan, tetapi apabila dianggap sebagai bagian dari “care”
maka oleh alasan apapun tidak etis bila dihentikan
Sementara itu, euthanasia aktif umumnya tidak dapat diterima secara
etik. Demikian pula pada umumnya hukum negara-negara di dunia tidak
menyetujui tindakan euthanasia aktif karena dianggap sebagai pembunuhan,
kecuali beberapa negara seperti Belanda, Belgia, Swis dan satu negara bagian di
AS. Islam dengan nyata melarang dilakukannya penghentian kehidupan tanpa
alasan yang benar, baik terhadap kehidupan orang lain maupun kehidupan diri
sendiri, meskipun dengan alasan untuk mengakhiri penderitaan pasien,
sebagaimana diatur dalam Al Quran.
Dan janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan suatu
(alasan) yang benar (QS Al Isra, 17:33)
Janganlah membunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Allah Maha
Penyayang kepadamu (QS Al-Nisa, 4:29)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya (QS
Al-Baqarah, 2:286)

2.5 Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan etik Euthanasia


1. Faktor Hukum
Undang undang yang tertulis dalam KUHP Pidana hanya melihat dari dokter
sebagai pelaku utama euthanasia, khususnya euthanasia aktif dan dianggap
sebagai suatu pembunuhan berencana, atau dengan sengaja menghilangkan
nyawa seseorang. Sehingga dalam aspek hukum, dokter selalu pada pihak
yang dipersalahkan dalam tindakan euthanasia, tanpa melihat latar belakang
dilakukannya euthanasia tersebut. Tidak perduli apakah tindakan tersebut atas
permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi penderitaan
pasien dalam keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum
diketahui pengobatannya. Di lain pihak hakim dapat menjatuhkan pidana mati
bagi seseorang yang masih segar bugar yang tentunya masih ingin hidup, dan
bukan menghendaki kematiannya seperti pasien yang sangat menderita
tersebut, tanpa dijerat oleh pasal pasal dalam undang undang yang terdapat
dalam KUHP Pidana.
2. Faktor Hak Asasi
Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan hak hidup, damai dan sebagainya.
Tapi tidak tercantum dengan jelas adanya hak seseorang untuk mati. Mati
sepertinya justru dihubungkan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini
terbukti dari aspek hukum euthanasia, yang cenderung menyalahkan tenaga
medis dalam euthanasia. Sebetulnya dengan dianutnya hak untuk hidup layak
dan sebagainya, secara tidak langsung seharusnya terbersit adanya hak untuk
mati, apabila dipakai untuk menghindarkan diri dari segala ketidak nyamanan
atau lebih tegas lagi dari segala penderitaan yang hebat.
3. Faktor ilmu Pengetahuan
Pengetahuan kedokteran dapat memperkirakan kemungkinan keberhasilan
upaya tindakan medis untuk mencapai kesembuhan atau pengurangan
penderitaan pasien. Apabila secara ilmu kedokteran hampir tidak ada
kemungkinan untuk mendapatkan kesembuhan ataupun pengurangan
penderitaan, apakah seseorang tidak boleh mengajukan haknya untuk tidak
diperpanjang lagi hidupnya? Segala upaya yang dilakukan akan sia sia,
bahkan sebaliknya dapat dituduhkan suatu kebohongan, karena di samping
tidak membawa kepada kesembuhan, keluarga yang lain akan terseret dalam
pengurasan dana.
4. Faktor Agama
Kelahiran dan kematian merupakan hak dari Tuhan sehingga tidak ada
seorangpun di dunia ini yang mempunyai hak untuk memperpanjang atau
memperpendek umurnya sendiri. Pernyataan ini menurut ahli ahli agama
secara tegas melarang tindakan euthanasia, apapun alasannya. Dokter bisa
dikategorikan melakukan dosa besar dan melawan kehendak Tuhan yaitu
memperpendek umur. Orang yang menghendaki euthanasia, walaupun
dengan penuh penderitaan bahkan kadang kadang dalam keadaan sekarat
dapat dikategorikan putus asa, dan putus asa tidak berkenan dihadapan
Tuhan. Tapi putusan hakim dalam pidana mati pada seseorang yang segar
bugar, dan tentunya sangat tidak ingin mati, dan tidak dalam penderitaan
apalagi sekarat, tidak pernah dikaitkan dengan pernyataan agama yang satu
ini. Aspek lain dari pernyataan memperpanjang umur, sebenarnya bila
dikaitkan dengan usaha medis bisa menimbulkan masalah lain. Mengapa
orang harus kedokter dan berobat untuk mengatasi penyakitnya, kalau
memang umur mutlak di tangan Tuhan, kalau belum waktunya, tidak akan
mati. Kalau seseorang berupaya mengobati penyakitnya maka dapat pula
diartikan sebagai upaya memperpanjang umur atau menunda proses
kematian. Jadi upaya medispun dapat dipermasalahkan sebagai melawan
kehendak Tuhan. Dalam hal hal seperti ini manusia sering menggunakan
standar ganda. Hal hal yang menurutnya baik, tidak perlu melihat pada
hukum hukum yang ada, atau bahkan mencarikan dalil lain yang bisa
mendukung pendapatnya, tapi pada saat manusia merasa bahwa hal tersebut
kurang cocok dengan hatinya, maka dikeluarkanlah berbagai dalil untuk
menopangnya.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, M. Jusuf. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. 1999. EGC:


Jakarta.
Bertens,K. Etika. 2002. PT, Garamedia Pustaka Utama: Jakarta.
Waluyadi. Ilmu Kedokteran Kehakiman. 2000. Djambatan: Jakarta.