Anda di halaman 1dari 4

Yuliana Pratiwi

E1A009240_Hukum Perdata Internasional_Kelas C

TENTANG HATAH ( Hubungan Antar Tata Hukum )


Dalam sejarah penggunaanya Hukum Antar Tata Hukum
mempunyai beberapa istilah antara lain hukum perselisihan atau
conflictenrecht ( yang mendapat kritik/ pendapat keberatan karena
pengertian dari istilah tersebut yang dianggap kurang tepat ), hukum
collisie dan choice of law. Sedangkan istilah yang kerap kita gunakan
adalah hukum antar tata hukum atau tussenrechtsordening dan
penggunaan istilah ini dianggap paling mewakili maknanya.

Secara sederhana arti Hukum Antar Tata Hukum adalah bertemunya


dua sistem hukum yang berbeda. Sedangkan definisi dari Hukum Antar
Tata Hukum Intern adalah keseluruhan peraturan dan keputusan hukum
yang menunjukkan stelsel hukum manakah yang berlaku atau apakah
yang merupakan hukum jika hubungan hukum antar warga negara
memperlihatkan titik-titik pertalian dengan kaidah-kaidah hukum yang
berbeda dalam lingkungan kuasa-waktu, tempat, pribadi, dan soal.

Sistematik Hukum Antar Tata Hukum Intern

Secara schematis hukum antar tata hukum intern dapat


digambarkan sebagai berikut ;

Skema HATAH ( HATAH INTERN )

HATAH

HAW : HAT : HAG :

W W WW WW

TT T T TT

P P P P P P

S S S S S
S

Keterangan : T= tempat W= waktu

P= pribadi S = soal-soal
Berkaitan dengan hukum antar tata hukum kita dapat melihat macam
lingkungan kekuasaan, yaitu :

Lingkungan-kuasa soal-soal hukum antarwaktu

Lingkungan-kuasa soal-soal hukum antartempat

Lingkungan-kuasa soal-soal hukum antargolongan, termasuk hukum


antaragama.

Lingkungan kuasa soal-soal hukum antar waktu

Hukum antarwaktu tidak mempunyai lingkungan kuasa soal-soal tersendiri. Lingkungan


kuasa soal-soalnya adalah lingkungan kuasa soal-soal dari stelsel-stelsel hukum yang
bersangkutan sendiri, dari stelsel hukum homogen ataupun heterogen yang bertalian.

Lingkungan kuasa soal-soal hukum antartempat

Dalam sistematik kaartsysteem dapat kita temukan pembagian sebagai berikut ; umum,
percampuran dengan rakyat otochtoon, perstuan dengan masyarakat hukum
setempat, hukum kekeluargaan, hukum warisan, hukum tanah, schulden en
delictenrecht, masalah-masalah khusus. Dari situ kita bisa melihat besarnya pengaruh
hukum adat pada lingkungan kuasa hukum antartempat. Hal itu disebabkan karena
adanya perbedaan hukum adat dari berbagai lingkungan hukum adat yang berlaku untuk
golongan rakyat Indonesia. Pada hukum kekeluargaan dalam sistematik hukum
antartempat dalam jurisprudensi Indonesia bisa ditemukan antara lain persoalan-
persoalan tentang perkawinan.

Lingkungan kuasa soal-soal hukum antargolongan, termasuk antar agama.

Dalam sistematik kaartsysteem jurisprudensi Indonesia ditemukan;

Umum ( algemeen )

Kompetensi hakim

Golongan rakyat

Agama

Perubahan status personel (akibat-akibat hukum dari penundukan sukarela)

Pilihan hukum

Hukum kekeluargaan
Yuliana Pratiwi
E1A009240_Hukum Perdata Internasional_Kelas C

Hukum warisan

Hukum tanah

Opstal dan tumbuh-tumbuhan

Schulden- en delichtenrecht

Kontrak kerja

Badan hukum atau yayasan

Hukum acara, pembuktian dan pelaksanaan putusan

Masalah-masalah khusus

Jika kita lihat sistematik diatas maka akan muncul satu pertanyaan ; ‘sifat dualisme
atau pluralisme?’. Sifat hukum yang beraneka warna ini memang suatu corak yang
typisch untuk hukum antargolongan. Sistematik tersebut tidak hanya menunjuk
kepada hukum adat, tetapi juga menunjuk kepada hukum Eropah.

Titik pertalian adalah hal-hal, keadaan-keadaan, atau faktor-faktor yang mengkaitkan


antara sistem hukum yang satu dengan sistem hukum yang lain.

Manfaat adanya Titik Pertalian Primer

Titik pertalian primer merupakan alat-alat pertama bagi penegak hukum, terutama
hakim, untuk mengetahui apakah suatu perselisihan hukum merupakan soal
hukum antar tata hukum. Adanya manfaat titik pertalian primer bisa dilihat dari
salah satu titik pertaliannya yaitu para pihak-pihak/ subyek-subyek hukum.
Misalnya orang Eropah mengadakan perjanjian jual beli dengan orang Indonesia
atau menikah dengan orang Indonesia, para pihak itu merupakan tanda pertama
bagi pelaksana hukum akan adanya persoalan hukum antar golongan, karena
mereka ini masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berlainan. Selain itu
titik pertalian sekunder juga bermanfaat dalam membantu menentukan pilihan
hukum mana yang akan digunakan dalam persoalan pilihan hukum antargolongan.

Kontribusi mempelajari HATAH intern


Dalam berbagai peristiwa hukum antar warganegara kerap ditemui berbagai
kesulitan. Misalnya ada suatu hubungan yang demikian eratnya hingga aturan
hukum dari yang satu bisa pula berlaku untuk yang lain, dan untuk memecahkan
persoalan hukumnya, orang hanya perlu mencontoh dan menjiplak dari yang lain.
Dengan mempelajari Hukum Antar Tata Hukum Intern, kita akan memahami
berbagai persoalan dari macam-macam lingkungan kuasa, berbagai stelsel-stelsel
dan berbagai kaidah yang sering bertemu. Lalu dilanjutkan dengan memahami
konsep Titik Pertalian Primer akan membuat kita melihat titik-titik/pertautan guna
mengtahui apakah suatu perselisihan hukum merupakan persoalan HATAH atau
bukan. Titik pertalian primer melahirkan atau menciptakan hubungan hukum antar
tata hukum. Dan berkaitan dengan itu semua akan dipelajari tentang titik pertalian
sekunder yaitu faktor-faktor yang menentukan hukum manakah yang harus dipilih
dari stelsel-stelsel hukum yang dipertautkan. Memahami keseluruhan konsep itu
akan membantu dalam upaya penyelesaian persilisihan hukum dan penentuan
pilihan dalam persoalan choice of law.