Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWt yang telah melimpahkan rahmat-NYA


kepada kami sehingga makalah ini selesai tanpa ada halangan sesuatu apapun.
Makalah ini dibuat sebagai wujud rasa peduli kami pada dunia pendidikan dan
sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa yang mengikuti mata
kuliah “pengantar pendidikan”
Dalam proses pendalaman materi pengantar pendidikan ini, tentunya kami
mendapatkan bimbingan, arahan dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang
dalam-dalamnya penulis ucapkam bagi semua pihak yang telah membantu.
Semoga Allah SWT membalas amal perbuatan kita semua dan mengampuni
dosa-dosa yang sudah kita perbuat.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu kritik konstruktif dari semua pihak sangat kami harapkan.
Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat.

Karawang, September 2010

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Tidak bisa diragukan lagi bahwasanya manusia tak akan terlepas dengan
mengeksplorasi segala sumber daya yang dimilikinya. Dengan cara mencurahkan
segala daya dan kemampuanya untuk selalu berinofasi menemukan sesuatu yang
baru yang dapat membantu hidupnya menjadi lebih baik. Jika manusia tidak
menggali segala kemampuanya maka ia akan tertinggal bahkan tergerus oleh
zaman yang selalu berkembang.
Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena
tanpa inovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian
berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi,
social dan lain-lain.
1. Pengertian Inovasi Pendidikan
Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada
istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-
benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu
(benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat
diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan
(usaha) invention dan discovery.
Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah
penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati
sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang
(masyarakat). Maka dapat ditarik kesimpulan Ibahwa Inovasi pendidikan adalah
penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati
sebagai sesuatu hal yang baru bagi dunia pendidkan. Contoh bidangnya adalah
Managerial, Teknologi, dan Kurikulum
Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan,
meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam
memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan
demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada
seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan
efektivitas pembelajaran.
Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan
mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penggunaannya untuk teknologi
pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan informasi pendidikan yang
dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan.

2. Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia


Top Down Inovation
Inovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah)
sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan
untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan
efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada
bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa
yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan
tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.
Contoh adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional
selama ini. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan
lain-lain.
bottom up Inovation
Yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan
dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu
pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan.
Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang
demokratis kalau tidak dapat disebut liberal-ketika pada saat ini otonomisasi
pendidikan melalui berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negeri-dengan
status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun
2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.
33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan,
pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan
bagi pusat maupun daerah.
Dalam konteks ini pula, pendidikan berusaha dikembalikan untuk
melahirkan insan-insan akademis dan intelektual yang diharapkan dapat
membangun bangsa secara demokratis, bukan menghancurkan bangsa dengan
budaya-budaya korupsi kolusi dan nepotisme, dimana peran pendidikan (agama,
moral dan kenegaraan) yang didapat dibangku sekolah dengan tidak semestinya.
Jika kita merujuk pada undang-undang Undang-Undang No.22 Tahun
1999 tentang otonomi pemerintahan daerah maka Desentralisasi pendidikan bisa
diartikan sebagai pemberian kewenangan untuk mengatur pendidikan di daerah.
Ada dua konsep desentralisasi pendidikan.

Pertama, desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan. Desentralisasi


lebih kepada kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat
ke pemerintah daerah. Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada
pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah.

Konsep pertama berkaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan


pemerintahan dari pusat ke daerah sebagai bagian demokratisasi. Konsep kedua
lebih fokus mengenai pemberian kewenangan yang lebih besar kepada manajemen
di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
KTSP

KTSP yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


merupakan kurikulum yang bersifat operasional dan dilaksanakan dimasing-
masing tingkat satuan pendidikan. Landasan hukum kurikulum ini yaitu Undang-
undang Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun oleh masing-masing


sekolah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar
Isi (SI) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penyerahan
pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada tiap sekolah dengan
mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan bertujuan agar
kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan
sekolah masing-masing.
Pedoman penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik mengacu pada
SKL yang meliputi kompetensi untuk kelompok mata pelajaran atau kompetensi
untuk seluruh mata pelajaran yang dinilai berdasarkan kualifikasi kemampuan
mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Standar isi merupakan ruang lingkup materi dan tingkat
kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi
bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus
dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi
merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Quantum learning
Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar
yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar
sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang
dikemukakan merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah
populer dan umum digunakan.
Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran
akhirnya ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah
dalam menghadapi tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat
jurnalisme). Quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik
berkebangsaan Bulgaria. Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology
(suggestopedia). Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi
hasil situasi belajar, dan setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau
negatif. Untuk mendapatkan sugesti positif, beberapa teknik digunakan.
Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman. Musik dipasang,
partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang menonjolkan
informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif
bermunculan.
Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai
“interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka
mengasumsikan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi
manusia. Dengan mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi
itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara fisik adalah
materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya:
interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan
inilah, quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan
belajar
Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu,
hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil alam kelas kontektual,
tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu
yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah
peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual
cooperative learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model
pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran
Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok
yang terstruktur.
Yangtermasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson &
Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual,
interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning
(pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius”
yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di
antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri
dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang
berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa
anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk
memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan
belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran.
Active learning
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak
didik dapat
mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang
mereka
i. Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu,
hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam kelas kontektual,
tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu
yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah
peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
cooperative learning
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model
pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran
Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok
yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok
(Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab
individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning
(pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius”
yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di
antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri
dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang
berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda.
Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota
kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami
materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai
jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Active learning
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak
didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik
pribadi yang mereka miliki.
Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan
untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses
pembelajaran.
PAKEM
adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan.
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu
proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses
pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan.
Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar.
Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi
yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan
orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar
yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
Menyenangkan adalah suasana belajar- mengajar yang menyenangkan sehingga
siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah
perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti
meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah
cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang
harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab
pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif,
maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

4. Kendala-kendala Dalam Inovasi Pendidikan


Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan
konflik dan motivasi yang kurang sehat
lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak
berkembangnya inovasi yang dihasilkan
keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi
penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi
kurang adanya hubungan sosial dan publikasi (Subandiyah 1992:81).
5. Penolakan (Resistance)
Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima
oleh para pelaksanaan inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:
Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan
bahkan
pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut
dianggap
oleh guru. atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang
lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan
atau kondisi sekolah mereka.
Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat
sekarang,
karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-
tahun dan
tidak ingin diubah. Disamping itu sistem yang mereka miliki dianggap
oleh mereka
memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan
pikiran mereka.
Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) dimana guru tetap
mempertahankan
sistem yang ada.
Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya
Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang
dialami oleh guru
dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987:36) yang
mengatakan bahwa
"mismatch between teacher's intention and practice is important barrier to
the success
of the innovatory program".
Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat
merupakan
kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh
pencipta
inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau
kalau finasial
dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah
atau guru
hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para
inovator di pusat
dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan
sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai
dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.
5. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi pendidikan
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas,
faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan
adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan,
Guru
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak
yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan
kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar
di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa
siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.
Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain
adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai
dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan
siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam
proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan
tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi
sekolah
mereka.
Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat
sekarang,
karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan
tidak ingin diubah. Disamping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh
mereka
memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran
mereka.
Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) dimana guru tetap mempertahankan
sistem yang ada.
3. Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya
Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh
guru
dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987:36) yang mengatakan
bahwa
"mismatch between teacher's intention and practice is important barrier to the
success
of the innovatory program".
4. Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan
kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta
inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau
finasial
dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru
hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di
pusat
dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah
atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan
kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.
5. Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi pendidikan
Untuk menghindari penolakan seperti yang disebutkan di atas,
faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan
adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan,
1. Guru
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak
yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan
kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar
di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa
siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.
Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain
adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai
dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan
siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam
proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan
tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan
guru itu sendiri.
Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru
mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan
dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan
suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin
mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini
seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang
tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan,
tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan
kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi
pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru
mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai
teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright
1987)
2. Siswa
Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar
mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses
belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui
penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan
komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa
terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan,
walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada
perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan,
sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang
harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi
pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya,
karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran
pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena
itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan
penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak
saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga
mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.
3. Kurikulum
Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi
program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam
pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu
kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan
inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan
unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa
mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan
tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh
karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya
sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti
dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari
kedua-duanya akan berjalan searah.
4. Fasilitas
Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa
diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar
mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan
hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan.
Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa
dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama
fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam
mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika
dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu
diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan
sebagainya.
5. Lingkup Sosial Masyarakat.
Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara
langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak,
baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan.
Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun
tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan
dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik
terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa
melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan
terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau
dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan
sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam
melaksanakan inovasi pendidikan.
6. Kesimpulan
Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri,
tapi harus melibatakan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator,
penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi
pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh
masyarakat serta kelengkapan fasilitas.
DAFTAR PUSTAKA

Inovation. Dalam situs http://WWW. Shafe.Tripod.com// Inov.htm. Dikunjungi 23


Agustus 2010.
Noor, Idris H.M. Sebuah tinjauan teoritis tentang inovasi pendidikan di Indonesia.
Dalam
situshttp://WWW.pdk.go.id/balitbang/publikasi/Jurnal/no_026/sebuah_Tinjauan_t
eoritis_ Idris.htm.dikunjungi 23 Agustus 2010.

Cece Wijaya, Djaja jajuri, A. Tabrani Rusyam. 1991. Upaya pembaharuan dalam
bidang pendidikan dan pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
egena, Unggul. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan di era otonomi
daerah. Dalam situs http://WWW.Sinarharapan.co.id/berita/0503/26/opi 02.htm.
Dikunjungi 23 Agustus 2010
Soedibyo, moryati BRA. Komitmen bagi desentralisasi pendidikan. Dalam situs
http://WWW.Sinarharapan.co.id/berita/0503/26/opi 02.htm. Dikunjungi 26
Agustus 2010.

Deporter, Bobbi. et.al. 2003. Quantum teaching. Bandung: Kaifa.


Sudjana, nana dan Ahmad Rivai. 2003. teknologi pengajaran. Bandung: sinar baru
Algensido.

Silberman, L. Melvin. 2006. Active learning. Bandung: Nusamedia.


Mahsunah. 2006. Implementasi pakem (pembelajaran Aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan).

Inovasi pendidikan Dalam situs


http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/inovasi-pendidikan
http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/inovasi-pendidikan. htm. dikunjungi
30 Agustus 2010.