Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PELAYANAN PENDIDIKAN

DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN


(TTS) PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Dosen Pengampu:
1. Prof. Drs Waridin, MS, Ph.D
2. DR. Purbayu Budisantoso, MS
3. Drs. Edy Yusuf AG, MSc, Ph.D

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan


Tugas Mata Kuliah Seminar Ekonomi Pembangunan

Oleh
1. Dian Ayunita NND (C4B008009)
2. Marius Masri (C4B008018)
3. Zulkifly Waibot (C4B008035)

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 1


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latarbelakang

Pendidikan merupakan salah satu sektor prioritas dalam pembangunan bangsa


dimana dalam UUD 1945 dan UU Sistim Pendidikan Nasional telah diatur secara
tegas yaitu semua pendudukan wajib mendapat pelayanan pendidikan dan adanya
program wajib belajar 9 tahun. Pendidikan sangat penting sebab merupakan salah satu
modal atau investasi dalam pembangunan. Pengeluaran publik (public expenditure)
adalah bagian dari kebijakan fiskal (fiscal policy) pemerintah. Dalam konteks makro
ekonomi (macroeconomy), kebijakan fiskal berkaitan dengan tindakan pemerintah
untuk mengarahkan jalannya pembangunan melalui penentuan dan penetapan
besarnya pendapatan dan pengeluaran pemerintah selama satu tahun. Dengan
demikian, fokus dari kebijakan fiskal tampak dalam APBN (tingkat nasional) dan
APBD (tingkat propinsi, kabupaten/kota). Karena itu analisis pengeluaran publik
tingkat kabupaten dan hasil pembangunan di segala sektor kehidupan masyarakat
menjadi kajian yang menarik.
Pendidikan sebagai bentuk pembelajaran manusia dan melalui proses yang terjadi
dalam suatu institusi khusus yang disebut sekolah. Pendidikan tanpa diragukan lagi,
merupakan hal penting dalam pembangunan sumberdaya manusia. Layanan
pendidikan berkaitan dengan alokasi anggaran di daerah (Kab. TTS) akan berdampak
pada kinerja, kualitas, dan outputnya dalam proses pembangunan di bidang
pendidikan.

1.2. Perumusan masalah

Uraian diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut; “Sejauhmana dampak


alokasi anggaran APBD sektor pendidikan terhadap layanan pendidikan di Kabupaten
Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT”.

1.3. Manfaat penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui dampak
alokasi anggaran APBD sektor pendidikan terhadap layanan pendidikan dan
kesetaraan gender di Kabupaten TTS

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 2


BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1. Pengertian Pembangunan

Menurut Sondang P. Siagian (dalam Wiyarsih, 2008), kata pembangunan


mempunyai beberapa arti, yaitu:
a. Pembangunan sebagai suatu perubahan yang mewujudkan suatu kondisi
kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang.
b. Pembangunan diartikan sebagai pertumbuhan, yang menunjukkan kemampuan
suatu kelompok masyarakat untuk terus berkembang baik secara kuantitatif
maupun kualitatif.
c. Pembangunan sebagai suatu rangkaian tindakan atau usaha yang dilakukan secara
sadar oleh masyarakat yang bernaung dalam suatu sistem kemasyarakatan guna
mencapai hasil akhir yang diinginkan.
d. Pembangunan harus didasarkan pada suatu rencana. Artinya pembangunan itu
harus dengan sengaja dan ditentukan secara jelas, tujuan, arah dan bagaimana
pelaksanaannya.
e. Pembangunan diharapkan bermuara pada suatu titik akhir tertentu seperti masalah
keadilan sosial, kemakmuran yang merata, kesejahteraan material, mental,
spiritual dan sebagainya.
Sementara itu, Todaro dan Smith (2004) mengemukakan bahwa pembangunan
adalah merupakan proses menuju perbaikan taraf kehidupan masyarakat secara
menyeluruh dan bersifat dinamis.

2.2. Pendidikan

Pendidikan dapat didefinisikan secara luas sebagai bentuk pembelajaran manusia


atau dalam arti sempit sebagai proses yang terjadi dalam suatu institusi khusus yang
disebut sekolah (Gillis, et.al, 1987). Pendidikan tanpa diragukan lagi, merupakan hal
penting dalam pembangunan sumberdaya manusia.
Lebih lanjut Gillis, et.al (1987) menjelaskan bentuk-bentuk pendidikan ,yaitu
pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan informal. Pendidikan formal adalah
pendidikan yang diajarkan dalam suatu institusi yang disebut sekolah. Peserta yang
mengikuti pendidikan ini biasanya anak-anak yang belum sampai pada usia yang
layak untuk bekerja. Pendidikan nonformal dapat diajarkan pada suatu program

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 3


belajar terencana yang diselenggarakan di luar sekolah. Kebanyakan pesertanya
adalah orang dewasa. Program ini biasanya dilaksanakan dengan waktu relatif singkat
dan fokusnya lebih sempit daripada program pendidikan formal. Pendidikan formal
bisa lebih berkonsentrasi pada ketrampilan kerja atau subyek lain seperti pelajaran
baca tulis, tata cara kehidupan berkeluarga dan kewarganegaraan. Sedangkan
pendidikan informal adalah pembelajaran yang diadakan di luar kerangka institusi
atau program terencana. Orang-orang dapat mempelajari berbagai macam hal penting
di rumah, di tempat kerja ataupun dalam suatu komunitas warga.
Peran Pendidikan dalam pembangunan
Pada abad 19, investasi secara sistematis dalam bidang modal manusia (human
capital) tidak dianggap penting di banyak negara. Pengeluaran untuk biaya
pendidikan, pelatihan kerja, dan bentuk investasi lain dalam hal pendidikan
dianggarkan sangat kecil. Hal ini mulai berubah secara radikal dalam abad 20-an
dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan untuk mencapai pembangunan yang lebih
maju (Ozturk,2001).
Selama abad 20, pendidikan, ketrampilan, dan penyerapan ilmu pengetahuan
menjadi suatu syarat penting untuk produktivitas kerja perorangan maupun bangsa.
Bahkan abad 20 disebut ”Age of Human Capital” (Masa Pengembangan Modal
Manusia) sebagai implikasi keberhasilan suatu negara meningkatkan standar
kehidupan dalam mengembangkan dan memanfaatkan ketrampilan dan pengetahuan,
lebih jauh meningkatkan kesehatan dan pendidikan pada mayoritas populasi
penduduknya (Ozturk,2001).
Lebih lanjut menurut Ozturk (2001), tidak ada negara yang dapat mencapai
pertumbuhan ekonomi konstan tanpa memberikan investasi untuk pengembangan
modal manusia. Distribusi pendidikan merupakan suatu hal yang penting. Penyebaran
pendidikan yang tidak merata akan memberikan dampak buruk untuk banyak negara
dalam pendapatan perkapita penduduk.

2.3. Peran Modal Manusia (Human Capital) dengan Peningkatan Pendidikan


dalam Pembangunan Ekonomi

Human capital merupakan salah satu faktor penting dalam proses pertumbuhan
ekonomi. Dengan modal manusia (human capital) yang berkualitas, kinerja ekonomi
diyakini juga akan lebih baik. Kualitas ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan,
kesehatan, ataupun indikator-indikator lainnya. Oleh sebab itu, dalam rangka memacu

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 4


pertumbuhan ekonomi perlu pula dilakukan pembangunan manusia di seluruh daerah
di Indonesia. Kebijakan pembangunan yang tidak mendorong peningkatan kualitas
manusia masing-masing daerah hanya akan membuat daerah yang bersangkutan
tertinggal dari daerah yang lain, termasuk dalam hal kinerja ekonominya. Dengan kata
lain, peningkatan kualitas modal manusia juga akan memberikan manfaat dalam
mengurangi ketimpangan antardaerah (Sirait, 2007).
Menurut Todaro dan Smith (2004), pendidikan merupakan tujuan pembangunan
yang mendasar. Pendidikan memainkan peran kunci dalam membentuk kemampuan
sebuah negara berkembang untuk menyerap teknologi modern dan untuk
mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang
berkelanjutan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional Variabel


Variabel yang digunakan dalam penelitian ini, secara operasional didefinisikan
dan diukur sebagai berikut :
1. Anggaran dan Pengeluaran untuk Sektor Pendidikan.
Variabel Anggaran dan Pengeluaran untuk sektor pendidikan penelitian yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah total anggaran APBD di Kabupaten TTS yang
dialokasikan untuk sektor pendidikan. Diukur dengan Rupiah.
2. Pelayanan dan Output dari Sektor Pendidikan.
Variabel ini merujuk pada akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan
output sektor pendidikan. Variabel ini diukur dalam satuan jumlah dan persentase (%)

3.2. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
bersumber dari dinas-dinas terkait yang ada di Kabupaten TTS, Provinsi NTT.

3.3. Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif,
baik yang ada pada tabel maupun grafik.

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 5


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Program pembangunan Kabupaten TTS meliputi; bidang ekonomi, bidang sumber


daya manusia, bidang sarana dan prasarana, bidang penyajian pelayanan dan bidang
keimanan. Program-program ini dapat terlaksana kalau didukung oleh sejumlah
anggaran yang memadai. Pemerintah Kabupaten TTS telah mengalokasikan anggaran
untuk membiayai pelaksanaan program pembangunan demi tercapainya tujuan yang
telah ditetapkan.
Implikasi dari alokasi anggaran terhadap pelaksanaan pembangunan terutama
untuk Layanan Publik Dasar pendidikan sebagai berikut:

4.1. Alokasi Anggaran Sektor Pendidikan dalam APBD

Alokasi anggaran untuk Sektor Pendidikan dalam APBD Kabupaten Timor


Tengah Selatan dalam 5 tahun terakhir (grafik 4.1), terus meningkat seiring dengan
meningkatnya APBD namun peningkatan tersebut kisarannya hanya mencapai 2%-
3% setiap tahun dan bersifat fluktuatif.

Sumber data : Bappeda dan Bagian Keuangan Setda Kab. TTS

Anggaran Sektor Pendidikan dalam pelaksanaan anggaran dibagi menjadi 2 pos


belanja yaitu belanja aparatur dan belanja publik (grafik 4.2), kisaran dana untuk
sektor pendidikan rata-rata 35% dari total APBD dan dari alokasi tersebut dana
peruntukan untuk belanja aparatur pendidikan dalam 4 tahun terakhir rata-rata 15%
sedangkan belanja publik untuk penyediaan layanan pendidikan menunjukkan angka
konstan yaitu rata-rata berkisar 85% setiap tahunnya.

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 6


Sumber data : Bappeda dan Bagian Keuangan Setda Kab. TTS

4.2. Kinerja Layanan Pendidikan

Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui kinerja Layanan


Pendidikan sebagai berikut:
a. Tingkat Pendidikan Penduduk dan Kemampuan Literasi
Informasi mengenai tingkat pendidikan disajikan pada grafik 4.3 dimana tingkat
pendidikan penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan menunjukkan bahwa untuk
tingkat sekolah dasar angka setiap tahun meningkat, sedangkan yang melanjutkan ke
jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) rata-rata hanya 50% saja, dan yang
melanjutkan ke SLTA juga menunjukkan angka yang menurun. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin kecil jumlah
penduduk yang menikmati pendidikan.

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 7


Sumber data : BPS. Kab. TTS

Indikator lain dari pendidikan adalah kemampuan literasi penduduk (kemampuan


membaca). Secara umum dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan dari penduduk
Kabupaten Timor Tengah Selatan tergolong rendah namum jumlah penduduk yang
dapat membaca dan menulis mencapai di atas 80% dan angka buta huruf penduduk
perempuan lebih tinggi dari angka buta huruf laki-laki, hal ini dapat digambarkan
dalam grafik 4.4.

Sumber : BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 8


b. Kapasitas/Daya Tampung Lembaga Pendidikan
Kapasistas atau daya tampung dari lembaga pendidikan berkaitan dengan Net
Enrollment Ratio, Rasio Siswa Per Sekolah dan Rasio Siswa Per Ruang Kelas.
Masing-masing dapat dilihat pada penjelasan berikut ini;
1. Net Enrollment Ratio
Net Enrollment Ratio (NER) adalah jumlah anak pada usia tertentu yang
mengikuti pendidikan. Angka NER tahun 2002 sampai tahun 2006 pada anak Usia
Sekolah yang berusia 7 -12 tahun berkisar antara 91% sampai 96,55%, sedangkan
Usia 13 -16 terendah 55,90% dan tertinggi 75% dan Usia 16 – 19 tahun terendah
29,28% dan tertinggi berkisar 40%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin
tinggi usia penduduk semakin sedikit yang sekolah, hal ini dapat dilihat dalam
lampiran tabel 4.5. Penyebabnya antara lain jarak tempuh ke sarana pendidikan, faktor
ekonomi dan budaya.
2. Rasio Siswa Per Sekolah
Rasio Siswa per Sekolah adalah indikator yang dipakai untuk mengetahui jumlah
siswa persekolah dalam jenjang pendidikan tertentu, dimana dalam lampiran tabel 4.6
akan menggambarkan Rasio Siswa persekolah di wilayah Kabuapten Timor Tengah
Selatan dalam kurun waktu 2002 – 2006. Data menunjukkan bahwa Rasio Siswa SD
dengan Sekolah 1:149, SMP 1:224, SMA 1:310, SMK 1:536 ( 2002), dan SD 1:153,
SMP 1:340, SMA 1 : 353 ,SMK 1:592 ( 2006). Dengan demikian dapat dikatakan
semakin tinggi tingkat pendidikan rasio siswa persekolah semakin tinggi pula,
walaupun siswa yang melanjutkan pun semakin menurun.
3. Rasio Siswa Per Ruang Kelas
Rasio Siswa Per Ruang Kelas adalah indikator yang dipakai untuk mengukur
kelayakan siswa dalam proses belajar mengajar, karena kondisi ruang kelas sangat
penting dalam sebuah proses pendidikan, secara nasional ditetapkan satu ruangan
kelas hanya bisa menampung 30 – 40 siswa untuk semua jenjang pendidikan. Dalam
lampiran tabel 4.7 menggambarkan dalam 5 tahun terakhir di Kabupaten Timor
Tengah Selatan Rasio Siswa Per Ruang kelas pada tingkat sekolah cukup baik yaitu
1:25, begitu pula SMP masih memenuhi standar yaitu 1:35; akan tetapi pada tingkat
SMA dan SMK rasionya tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan
demikian dapat dikatakan ruang kelas pada tingkat SMA dan SMK perlu mendapat
perhatian pemerintah dengan menambah ruang kelas.

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 9


Data ini menggambarkan rasio murid per ruang kelas masih tinggi dibandingkan
rasio nasional 1: 30, semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi rasio murid
per ruang kelas untuk kelompok pendidikan SMA dan SMK. Hal ini disebabkan oleh
karena jenjang pendidikan SMA dan SMK hanya terdapat di kota kabupaten

4.3. Kualitas Proses Belajar Mengajar

Indikator dari kualitas Proses Belajar Mengajar yang digunakan dalam penelitian
ini dilihat dari kondisi sarana dan prasarana pendidikan.
Kondisi prasarana dan sarana pendidikan terutama ruang kelas sangat menentukan
proses belajar mengajar sehingga memberi kenyamanan bagi guru maupun siswa
dalam beraktifitas. Pada lampiran tabel 4.8 ini akan digambarkan kondisi ruangan
pada semua tingkat pendidikan. Pada tingkat SD, SMP dan SMA/SMK jumlah ruang
kelas yang baik, pada tahun 2005 dan 2006 menunjukan peningkatan. Sedangkan
kondisi ruangan yang rusak baik ringan maupun berat, mengalami penurunan. Ini
berarti anggaran untuk sektor pendidikan hanya terserap pada proses perbaikan
fasilitas yang sudah ada tanpa menambah jumlah sekolah baru.

4.4. Output Lembaga Pendidikan

Indikator output dari lembaga pendidikan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tingkat kelulusan pada tiap jenjang pendidikan. Tingkat Kelulusan dalam
setiap tingkat pendidikan merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pengelola
pendidikan pada setiap jenjang pendidikan dalam satu kurun waktu tertentu.
Data pada lampiran tabel 4.9. (halaman 14) menunjukkan bahwa angka kelulusan
pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar dan SMA/SMK meningkat dari tahun ke
tahun, sedangkan untuk tingkat SMP selama tahun 2002 sampai tahun 2006
mengalami fluktuasi.

BAB V
KESIMPULAN

Terjadi peningkatan anggaran untuk sektor pendidikan dari tahun ke tahun, akan
tetapi tingkat pendidikan penduduk di Kabupaten TTS semakin menurun untuk
jenjang pendidikan lanjutan baik SMP maupun SMA. Walupun kemampuan
literasinya tergolong tinggi diatas 80%. Data Net Enrollment Ratio untuk pendidikan
dasar persentasenya paling tinggi (91 – 96,5%) dan berbanding terbalik untuk
pendidikan lanjutan (dibawah 80%). Hal ini berhubungan dengan ratio siswa per

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 10


sekolah dan per kelas, yang semakin tinggi pada jenjang pendidikan lanjutan. Hal ini
dikarenakan sedikitnya jumlah sekolah lanjutan yang tersedia.
Pada tingkat SD, SMP dan SMA/SMK jumlah ruang kelas yang baik, pada tahun
2005 dan 2006 menunjukan peningkatan. Sedangkan kondisi ruangan yang rusak baik
ringan maupun berat, mengalami penurunan. Ini berarti anggaran untuk sektor
pendidikan hanya terserap pada proses perbaikan fasilitas yang sudah ada tanpa
menambah jumlah sekolah baru.
Ouput dari lembaga pendidikan, dilihat dari tingkat kelulusan siswa. Pada tingkat
SD dan SMA/SMK tingkat kelulusan, pada tahun 2002 sampai dengan 2006
menunjukan peningkatan. Sedangkan untuk tingkat SMP selama tahun 2002 sampai
tahun 2006 mengalami fluktuasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kabupaten Timor Tengah Selatan. 2003, 2004, 2005, 2006, 2007. APBD
Kabupaten TTS, Soe – NTT.

Bagian Keuangan SETDA Kabupaten Timor Tengah Selatan. 2003, 2004, 2005,
2006, 2007. Alokasi Anggaran Sektor Pendidikan Kabupaten TTS, Soe –
NTT.

BPS Kabupaten Timor Tengah Selatan. 2003, 2004, 2005, 2006, 2007. Kabupaten
TTS dalam Angka, Soe – NTT.

Dinas Pendidikan Kabupaten Timor Tengah Selatan, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007.
Kondisi Ruangan Sekolah Kabupaten TTS, Soe – NTT.

Gillis, Malcolm., Perkins, Dwight H., Roemer, Michael., Snodgrass, Donald R. 1987.
Economics of Development, Second Edition. W.W. Norton & Company,
New York, USA

Ozturk, Ilhan, 2001. The Role Of Education In Economic Development: A


Theoretical Perspective. MPRA Paper No. 9023, posted 08. June 2008 /
13:08 available at http://mpra.ub.uni-muenchen.de/9023/

Todaro, Michael P. dan Smith, Stephen C. 2004. Pembangunan Ekonomi di Dunia


Ketiga Edisi kedelapan. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Sirait, Robby A., 4 Oktober 2007. Hubungan antara Pembangunan Manusia


dengan Pertumbuhan Ekonomi available at
http://robbyalexandersirait.wordpress.com/2007/10/

Wiyarsih. 2008. Pembangunan Manusia di Era Milenium Ketiga available at


http://wiyarsih.staff.ugm.ac.id/wp/?p=21

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 11


Lampiran

Tabel 4.1
Total APBD dan Alokasi Sektor Pendidikan
Uraian 2002 2003 2004 2005 2006
Total 214.467,317,25 251,456,649,754 273,674,779,922 275,031,733,502 371,789,536,411
APBD 4
Alokasi 68.660,686,221 84,805,343,464 96,395,256,534 105,960,153,343 132,739,551,230
Pendidikan
Persentase 30,40 33,73 35,22 38,53 35,41
Sumber Data : Bappeda dan Bagian Keuangan Kab. TTS

Tabel 4.2
Alokasi Anggaran Sektor Pendidikan Berdasarkan Jenis Belanja
Jenis Belanja 2002 2003 2004 2005 2006
Alokasi
68.660,686,221 84,805,343,464 96,395,256,534 105,960,153,343 132,739,551,230
Pendidikan
Belanja
2.923.572.827 13.241.426.545 15.954.170.418 15.977.860.999 22.592.553.078
Aparatur
% 4,26 15,61 16,55 15,08 17,02
Belanja
65.737.113.394 71.563.916.919 80.441.086.116 89.982.292.435 110.146.998.152
Publik
% 95,74 84,39 83,45 84,92 82,98
Sumber data : Bappeda dan Bagian Keuangan Setda Kab TTS

Tabel 4.3
Penduduk Usia 5 Tahun Ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan
Tahun Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Jumlah
SD 13.315 31.506 42.821
2002 SMP 5.983 14.293 20.276
SLTA 1.772 4.012 5.784
SD 18.673 12.596 31.269
2003 SMP 8.443 7.355 15.798
SLTA 1.868 3.265 5.133
SD 17.462 18.759 36.221
2004 SMP 9.080 6.309 15.389
SLTA 3.212 4.068 7.280
SD 19.656 17.313 36.979
2005 SMP 7.095 6.356 13.451
SLTA 3.879 2.339 6.248
SD 20.774 14.725 35.499
2006 SMP 9.725 9.854 18.579
SLTA 3.809 4.956 8.765
Sumber data : BPS Kabupaten TTS

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 12


Tabel 4.4
Penduduk Usia 10 tahun Yang Melek Huruf dan Buta Huruf
Tahun
2002 2003 2004 2005 2006
Laki-Laki
• Membaca 127.958 125.952 128.024 124.653 140.760
• Tidak bisa membaca 21.551 23.868 19.659 24.174 17.280
Perempuan
• Membaca 161.269 117.775 122.915 121.183 126.390
• Tidak bisa membaca 33.666 31.366 31.765 29.622 27.054
Sumber Data : BPS NTT

Tabel 4.5
Anak Usia Sekolah dan Yang Sekolah
Jumlah Yang
Tahun Umur Jumlah Anak Persentase
Sekolah
7 – 12 62.900 57.256 91
2002 13 -16 24.290 13.579 55,90
16 -19 25.375 9.471 37,32
7 – 12 58.961 55.332 94
2003 13 -16 22.897 17.270 75
16 -19 23.763 7.050 29,67
7 – 12 61.704 58.704 95
2004 13 -16 26.833 20.383 75,96
16 -19 22.536 9.124 40,49
7 – 12 62.922 58.534 93,06
2005 13 -16 28.196 18.628 66,07
16 -19 22.617 7.906 29,28
7 – 12 64.536 63.310 96,55
2006 13 -16 30.612 22.821 74,55
16 -19 26.574 9.366 35,24
Sumber Data : BPS NTT

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 13


Tabel.4.6
Rasio Siswa dan Sekolah Dalam 5 Tahun
Tingkat Jumlah Rasio Siswa Per
Tahun Jumlah Siswa
Pendidikan Sekolah Sekolah
SD 453 67.703 149:1
SMP 64 14.361 224:1
2002
SMA 16 4.970 310:1
SMK 4 2.147 536:1
SD 453 67.703 149:1
SMP 64 14.361 224:1
2003
SMA 16 4.970 310:1
SMK 4 2.147 536:1
SD 453 69.179 153:1
SMP 64 14.361 224:1
2004
SMA 17 5.983 352:1
SMK 4 2.272 568:1
SD 453 69.179 153:1
SMP 65 15.579 340:1
2005
SMA 17 6.022 354:1
SMK 4 2.369 5921
SD 453 69.179 153:1
SMP 65 15.579 340:1
2006
SMA 17 6.022 353:1
SMK 4 2.369 592:1
Sumber Data : BPS, Kabupaten TTS Dalam Angka

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 14


Tabel 4.7
Rasio Siswa Per Ruang Kelas
Tingkat Jumlah Ruang Rasio Siswa Per
Tahun Jumlah Siswa
Pendidikan Kelas Ruang kelas
SD 2718 67.703 25:1
SMP 576 14.361 52:1
2002
SMA 144 4.970 35:1
SMK 36 2.147 60:1
SD 2718 67.703 25:1
SMP 576 14.361 52:1
2003
SMA 144 4.970 35:1
SMK 36 2.147 60:1
SD 2718 69.179 26:1
SMP 576 14.361 52:1
2004
SMA 153 5.983 39:1
SMK 36 2.272 63:1
SD 2718 69.179 25:1
SMP 585 15.579 27:1
2005
SMA 153 6.022 39:1
SMK 36 2.369 65:1
SD 2718 69.179 25:1
SMP 585 15.579 27:1
2006
SMA 153 6.022 39:1
SMK 36 2.369 65:1
Sumber Data : BPS Kabupaten TTS dan Data Yang diolah

Tabel 4.8
Kondisi Ruang Sekolah diKabupaten TTS
Tingkat Baik Rusak Ringan Rusak Berat
Pendidikan
2005
SD 987 785 1.203
SMP 280 150 118
SMA/SMK 136 23 13
2006
SD 1.047 751 1.139
SMP 311 123 68
SMA/SMK 141 18 13
Sumber Data : Dinas Pendidikan Kabupaten TTS

Tabel.4.9
Persentase Kelulusan Pada Setiap Tingkatan Pendidikan
Tahun SD SMP SMA/SMK
2002 89,7 82,52 76,87
2003 97,6 74,41 78,25
2004 98,5 71,54 87.56
2005 98,5 98,03 89,27
2006 99,7 69,68 99,33
Sumber Data : Bappeda TTS dan BPS NTT

Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 15


Tugas Seminar Ekonomi Pembangunan Page 16