Anda di halaman 1dari 11

PETA KONSEP

Asal-Usul
Manusia
Indonesia

Pengaruh Persebaran
Peradaban Manusia
Dari Luar Indonesia

Bacson Hoa- Manusia Manusia


Sa Huynh
Binh Manusia Purba Indonesia
Kalanay India
Dongson Purba Asli Pendatang Modern

-1-
-2-
Beberapa jenis manusia purbayang fosilnya ditemukan di Pulau Jawa. Di sekitar
tempat-tempat penemuan fosil juga ditemukan artefak (peralatan hidup) dari jenis-jenis
manusia purba tersebut. Dari benda-benda peninggalan itu para ahli juga bisa menelusuri
persebaran sekaligus tingkat budaya masing-masing jenis manusia purba.

A. Persebaran Manusia di Indonesia

1. Manusia Purba Asli Indonesia


Penelitian paleoantropologi di Indnesia dibagi para ahli dalam tiga tahap,
yaitu tahap pertama 1889-1909, tahap kedua 1931-1941, dan tahap ketiga 1952-
sekarang.

a. Penelitian Tahap Pertama (1889-1909)


Dimulai oleh Eugene Dubois dari belanda pada tahun 1889.
dubois berhasil menemukan sisa-sisa fosil manusia wajak di campurdarat.
Fosil-fosil itu terdiri dari tengkorak, ruas leher, rahang, gigi, dan tulang
paha. Hasil penemuan Dubois yang yang pertama kali diumumkan berupa
atap tengkorak pithecantropus erectus yang ditemukan di Trinil, pada
lapisan Pleistosen Tengah. Pithecantropus erectus (pithecos = kera,
antropus = manusia, erectus = berjalan tegak) yang artinya makhluk
sejenis kera yang menyerupai manusia berjalan tegak. Volume otaknya
kira-kira 900cc. Pithecantropus yang ditemukan oleh Dubois itu
diuanggap sebagai fosil dari manusia purba paling primitif di dunia.

b. Penelitian Tahap Kedua (1931-1941)


Penelitian tahap kedua oleh Ter Haar, Oppennorth, dan Von
Koenigswald pada tahun 1931-1933. Penelitian tahap kedua ini dimulai di
Ngandong Kabupaten Blora. Pada tahun 1936, Tjokrohandono yang
bekerja di bawah pimpinan Dujfes menemukan sebuah tengkorak anak-
anak di utara Mojokerto. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Von
Koenigswald. Pada tahun 1936-1941, di daerah Sangiran dekat Bengawan
Solo. Hasil temuannya berupa tulang rahang, gigi, dan tengkorak. Selain
fosil pithecantropus, di Sangiran di temukan pula spesias lain, berupa
tulang dan gigi yang lebih besar. Oleh penemuannya, jenis manusia
pemilik fosil itu dinamakan Meganthropus paleojavanicus (manusia tinggi
besar dari Jawa). Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan pada tahap
pertama penelitian, kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda.
Sedangkan hasil penelitian tahap kedua disimpan di Museum Frankfurt,
Jerman Barat.

c. Penelitian Tahap Ketiga (1952-sekarang)


Penelitian tahap ketiga ini dimulai pada tahun 1952. Dari tahap
ketiga ini berhasil diitemukan fosil-fosil berupa tulang-tulang tengkorak,
tulang-tulang muka, dan fosil tengkorak pithecantropus solensis pada
lapisan Pleistosen Tengah. Ditemukan pula situs manusia purba baru dari
Sambungmacan Kabupaten Sragen dekat Solo.

-3-
2. Manusia Purba Pendatang
Selain jenis-jenis manusia purba seperti pithecanthropus dan homo, ada
pula jenis-jenis manusia purba dari luar di antaranya ras Papua Melanesoid,
Proto Melayu, dan Deutro Melayu.

a. Ras Papua Melasoid


Ras Papua Melanesoid berasal dari daerah Tonkin di daerah
Bacson Hoa Binh, Vietnam Utara. Faktor pendorong mereka mengadakan
migrasi, sebagai berikut.

1. Daerahnya kehabisan binatang buruan atau buah-buahan yang


menjamin kelangsungan hidup mereka
2. Daerahnya mungkin dilanda bencana alam seperti gempa bumi,
banjir atau letusan gunung berapi.
3. Daerahnya mungkin dilanda wabah penyakit.
4. Sering terjadi peperangan di daerahnya sehingga mereka terpaksa
mencari daerah-daerah baru yang aman.

Persebaran yang dilakukan ras Papua Melanesoid, sebagian


melalui jalur barat dan sebagian melalui jalur timur. Kebudayaan ras
Papua Melanesoid sudah setingkat lebih tinggi dari kebudayaan manusia
purba asli Indonesia. Manusia purba asli Indonesia saat itu hidup pada
zaman Batu Tua, sedangkan ras Papua Melanesoid sudah berada pada
zaman Batu Tengah (Mesolitikum).
Sebagian besar dari mereka masih hidup mengembara (nomaden) ,
sebagian dari mereka hidup tinggal di gua-gua, dan sebagian lagi tinggal
di pantai untuk tempat tinggalnya. Mereka yang tinggal didaerah pantai
dapat dibuktikan dengan adanya kjokkenmoddinger yang berarti bekas
sampah dapur yang berupa bukit bukit kulit kerang yang tingginya dapat
mencapai tinggi beberapa meter, didaerah daerah pantai tersebut mereka
tersebut mereka mendirikan rumah-rumah bertiang tinggi sebagai tempat
tinggal mereka.
Pada tahun 1925, Von Stein Callenfells mengadakan
penelitiannya pada bekas bekas sampah dapur tersebut dan berhasil
menemukan sejumlah jenis kapak genggam yang berbeda dengan kapak
genggam jaman batu tua (paleolitikum), kapak yang dia temukan disebut
pebble, sesuai dengan daerah penemuannya pebble itu disebut juga kapak
sumatra, jenis kapak yang juga ditemukan adalah kapak pendek yng
disebut juga hache courte , bersama tulang belakang dan tengkorak
manusia
Selain melakukan penelitian pada bukit-bukit kulit kerang,
callenfells juga mengadakannya di gua-gua bekas tempat tinggal. Gua
bekas tempat tinggal masyarakat itu disebut juga dengan abris sous
roche(abris = berlindung, sous = dalam, roche = gua), pada tahun 1928 –
1931, callenfells mengadakan peneliyian juga digua sampung(ponorogo).
Dalam penelitiannya ia berhasil menemukan sisa-sisa peralatan antara lain

-4-
batu penggilingan, mata panah, flakes, kapak yang sudah diupam, alat-alat
tulang dan tanduk, serta beberapa alat dari perunggu dan besi, karena
kebanyakan dari alat-alat tersebut terbuat dari tulang, maka callenfells
menyebutnya sampung bone culture atau kebudayaan tulang sampung.
Ahli yang juga mengadakan penelitian adalah van heekeren. Ia
mengadakan penelitian pada bukit-bukit kulit kerang di Besuki dan Bojo
negoro Jawa Timur.

b. Ras Proto Melayu (Melayu Tua)


Bangsa ras Proto Melayu (Melayu Tua), termasuk ras mongoloid.
Mereka berbahasa Melayu Austronesia. Tempat mereka berasal dari
Yunan daerah Cina Selatan. Sebagaian dari mereka dari jalur barat
(Senanjung Malaya terus ke Sumatradan ke daerah lain di Nusantara.
Sebagian lagi mengambil jalur timur ( Filipina terus ke Sulawesi dan ke
daerah lainnya). Mereka adalah pendukung Kebudayaan Batu Muda
(Neolitikum). Hasil-hasil kebudayaan ras Proto Melayu yang paling
menonjol adalah kapak persegi dan kapak Lonjong.

c. Ras Deutro Melayu (Melayu Muda)


Sekitar tahun 1500 sebelum Masehi, terjadi lagi migrasi ras Deutro
Melayu (Melayu Muda). Ras Deutro Melayu juga berasal dari daerah
Tonkin. Faktor pendorong terjadinya migrasi Ras Proto Melayu dan
Deutro Melayu mungkin sama dengan sebab-sebab yang penyebaran atas
ras Papua Melanosoid. Hasil-hasil kebudayaan ras Deutro Melayu sudah
jauh lebih tinggi dari hasil-hasil kebudayaan ras-ras terdahulu. Banyak
benda hasil kebudayaan ini sudah dibuat dari perunggu dan besi.

3. Manusia Indonesia Masa Kini


Ada terdapat lebih dari 500 kelompok suku Indonesia tersebar dari
Sabang-Merauke. Indonesia adalah negara kepulauan yang penduduknya
meskipun berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi memiliki tradisi budaya
dan bahasa yang berbeda-beda. Lalu 500 kelompok suku tersebut dikelompokan
menjadi 4 suku, yaitu :
I. Malenesia (campuran antara sub-Mongoloid dan Wajak)
II. Proto-Austranesia (termasuk wajak)
III. Polynesia
IV. Micronesia

Suku jawa adalah yang terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 45% dari
seluruh populasi. Suku Sunda terdapat sekitar 14% dari seluruh populasi. Suku
Madura terdapat sekitar 7,5% dari seluruh populasi. Suku Minangkabau terbesar
keempat, sekitar 3% dari seluruh populasi. Meskipun etnis Cina mewakili
sebagian kecil dari total populasi ( lebih kecil dari 3 %). Etnis Cina dibagi
menjadi 2 kelompok utama, yaitu :

-5-
a. Cina Peranakan, yang biasanya memiliki latar belakang
Cina dan Indonesia, Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
utamanya, dan yang biasanya mengadopsi adat istiadat Indonesia.
b. Cina totok, yang dianggap sebagai Cina murni, yang
biasanya merupakan pendatang generasi pertama atau kedua, dan
memegang kebudayaan Cina dengan Teguh.

Populasi Indonesia berkisar 230 juta, populasi terbesar keempat setelah


Cina, India, dan Amerika Seriakat. Salah satu masalah terbesar saat ini adalah
tidak meratanya penyebaran penduduk, pengangguran, dan kemiskinan. Sebagai
contoh, sekitar 62% penduduk hidup di Pulau jawa, yang lahan tersebut
merupakan 7% dari keseluruhan wilayah negara.

B. Pengaruh Peradaban Luar Terhadap Peradaban Indonesia

Perkembangan budaya masyarakat awal di kepulauan Indonesia tidak terlepas


dari budaya di luar Indonesia. Untuk lebih jelas mendapatkan gambaran mengenai
peradaban awal masyarakat dunia yang mempengaruhi peradaban awal Indonesia,
perhatikan teks di bawah ini!

Time Line Sejarah Indonesia:

2000 SM :
Bangsa Austronesia bermigrasi ke Kepulauan Indonesia melalui Malaya,
Formosa, dan Filipina ke sebagian Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa.
Perpindahan ini tidak diketahui penyebabnya. Tetapi yang jelas bangsa
Austronesia ini yang akan menjadi nenek moyang langsung Indonesia. Cara hidup
mereka dengan berburu dan meramu “food gathering”. Alat yang digunakan
umumnya terbuat dari batu yang masih kasar. Masa ini dikenal dengan sebutan
Zaman Batu Muda atau Neolithikum.
500 SM :
Migrasi gelombang kedua. Perpindahan yang dilakukan sudah dengan
membawa Kebudayaan Dongson melalui jalan darat lewat Malaysia Barat.
Kebudayaan Dongson yaitu perlatan yang terbuat dari logam sebagai alat bantu
kehidupan dikenal dengan sebutan Zaman Perunggu. Mereka sudah mulai tinggal
menetap.
200 SM – 300 M :
Indonesia telah melakukan hubungan dagang dengan India, yang secara
intensif dimulai pada abad ke-2 M. Memperdagangkan barang-barang ke pasaran
internasional misalnya : logam mulia, perhiasan, kerajinan, wangi-wangian dan
obat-obatan. Dari sebelah timur Indonesia diperdagangkan kayu cendana, kapur
barus, cengkeh. Hubungan dagang ini memberi pengaruh yang besar dalam
masyarakat Indonesia, terutama dengan masuknya ajaran Hindu dan Buddha,
pengaruh lainnya terlihat pada sistem pemerintahan.

-6-
Jadi, peradaban awal yang mempengaruhi budaya masyarakat awal di kepulauan
Indonesia adalah peradaban Austronesia, Dongson, dan India. Dongson sebenarnya
termasuk bangsa Austronesia tetapi hidup di zaman logam, sedangkan bangsa
Austronesia adalah pendahulunya. Bangsa yang hidup di zaman batu adalah bangsa
Bocson Hoa Binh. Selain Dongson yang hidup di zaman besi (perunggu), bangsa Sa
Huynh – Kalanay juga hidup di zaman logam.

1. Budaya Bacson Hoa-Binh

Penelitian para ahli arkeologi membuktikan adanya hubungan yang erat


antara Kebudayaan Bacson Hoa-Binh dengan Kebudayaan Mesolitikum di
Indonesia. Di Pegunungan Bacson dan daerah Hoa-Binh di Tonkin lebih
banyak ditemukan peralatan masa Mesolitikum. Oleh karena itu, Madeleine
Colani ahli arkeologi Prancis, mengatakan bahwa Kebudayaan Mesolitikum
berpusat di daerah Bacson Hoa-Binh. Pendukung Kebuadayaan Mesolitikum
adalah ras Papua Melanesoid yang pada awalnya mendiami daerah Bacson
Hoa-Binh. Dari daerah itu, kebudayaan Mesolitikum menyebar ke daerah Asia
Tenggara Daratan, Indonesia, dan kepulauan di Lautan Pasifik.
Dengan adanya keberadaan manusia jenis Papua Melanesoid di Indonesia
sebagai pendukung Kebudayaan Mesolitikum, maka para arkeolog melakukan
penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak pendek sampai ke daerah
Teluk Tonkin. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa :

a. Kebudayaan Bacson Hoa-Binh yang terdiri dari pebble, kapak


pendek serta alat-alat dari tulang masuk ke Indonesia melalui jalur
timur.
b. Kebudayaan flakes masuk ke Indonesia melalui jalur timur.

2. Kebudayaan Dongson

Penggalian situs Dong Son di Vietnam Utara berhasil menemukan


objek-objek perunggu, besi, keramik dan artefak-artefak Cina. Dong Son
adalah kaum pelaut yang berdagang ke semua pelosok Asia Tenggara. Mereka
mampu membuat delta Sungai Merah (Red River) tempat yang subur untuk
menanam padi. Budaya Dong Son adalah budaya zaman perunggu prasejarah
yang berpusat di lembah Sungai Merah di Vietnam. Orang Dong Son terampil
bertanam padi, beternak kerbau, dan babi, memancing dan melaut dengan kano
panjang.
Di Asia Tenggara, peralatan logam mulai dikenal kira-kira pada tahun
3000-2000 sebelum masehi. Pengetahuan tentang kebudayaan logam semakin
jelas sejak tahun 1924, ketika Payot mengadakan penggalian di sebuah
kuburan di Dong Son (Vietnam). Dalam penggalian itu ia menemukan berbagai
alat perunggu. Benda-benda perunggu itu antara lain nekara, bejana, ujung
tombak, kapak dan perhiasan berupa gelang, kalung, dan cincin. Sementara itu,
P. Heger mengadakan penelitian terhadap nekara-nekara perunggu di

-7-
Indonesia. Hasil penelitiannya membuktikan adanya pengaruh budaya Dong
Son di Indonesia.
Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologi, masyarakat prasejarah
Indonesia hanya mengenal alat-alat yang dibuat dari perunggu dan besi. Untuk
perhiasan selain perunggu juga telah dikenal emas, sedangkan benda-benda dari
tembaga tidak dikenal. Sementara itu, benda-benda peralatan dari batu secara
berangsur-angsur mulai ditinggalkan setelah mereka mengenal teknik
peleburan logam. Benda-benda perunggu yang ditemukan di Indonesia
memiliki persamaan dengan benda-benda perunggu hasil temuan di Dong Son.
Bahkan banyak pula yang menyebutkan, kebudayaan perunggu di Indonesia
adalah Kebudayaan Dong Son.

3. Budaya Sa Huynh – Kalanay

Peradaban Sa Huynh (1000 SM – 200 M) terletak di Vietnam Tengah


dan Selatan. Kaum Sa Huynh sangat mirip dengan leluhur orang Cham. Situs
Sa Hynh ditemukan tahun 1909. Makam-makam Sa Huynh dipenuhi manik-
manik kaca dan artefak-artefak besi. Menurut W.G. Solheim, semua tempat di
mana gerabah ditemukan telah dipengaruhi oleh tradisi gerabah Sa Huynh –
Kalanay. Sa Huynh adalah salah satu tempat penemuan gerabah terbanyak di
Vietnam Utara. Sedangkan Kalanay adalah daerah penemuan di Filipina.
Karena ragam bentuk dan pola hias gerabah di kedua tempat itu sama, para ahli
(di antaranya W.G. Solheim) menyebutkan dengan satu kata yaitu tradisi Sa
Huynh – Kalanay.

a. Daerah Penemuan
Tempat penemuan gerabah di Indonesia antara lain Jawa
Barat, yaitu di Leuwiliang (Bogor), Anyer(Banten), Kramat jati
(Jakarta), Buni (Bekasi), dan Rengasdengklok (Karawang). Di luar
Pulau Jawa antara lain di Kalumpang (Sulawesi Selatan), Kepulauan
Kei dan Babar (Maluku Tenggara), Gilimanuk (Bali) dan Melolo
(Sumba Timur). Gerabah-gerabah itu ada yang tanpa pola atau polos
dan juga yang berpola hias. Oleh H.R. Van Heckeren, gerabah
yang memiliki pola hias disejajarkan dengan gerabah yang
ditemukan di daratan Asia Tenggara.

b. Gerabah dan Fungsinya


Salah satu hasil budaya masyarakat awal di Kepulauan Indonesia
adalah berbagai bentuk gerabah. Tradisi membuat gerabah mulai
dikenal pada Zaman Batu Tengah (Mesolitikum). Gerabah berfungsi
sebagai alat perlengkapan rumah tangga. Selain itu, gerabah juga
digunakan sebagai tempayan dan bekal kubur.

-8-
4. Budaya India

India merupakan suatu jazirah dari Benua Asia. Oleh karena itu sering
disebut anak benua karena letaknya yang seolah-olah terpisah dengan bagian-
bagian Asia lainnya. Luas India seluruhnya kira-kira 32 kali luas Pulau Jawa.
Di sebelah utara terbentang pegunungan tinggi, yaitu Pegunungan Himalaya.
Pegunungan ini sebagai pemisah India Utara dan India Selatan. Budaya India
banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya Persia, Arab, Arab, Turki, Eropa, dan
budaya Asia yang lainnya. India adalah tempat kelahiran agama Hindhu, Sikh,
Buddha dan Jain, yang berpengaruh kuat tidak hanya di India tetapi juga di
seluruh dunia. Indonesia sendiri berasal dari bahasa latin Indus”India” dan
bahasa Yunani nêsos “pulau” yang secara harafiah berarti ‘Kepulauan India’.
Sejak abad ke-4 dan ke-5 Masehi, penagruh budaya India menjadi semakin
jelas, setelah bahasa Sanskerta digunakan dalam penulisan berbagai prasasti.
Namun sejak abad ke-7, huruf India semakin sering dipergunakan untuk
menulis bahasa-bahasa setempat.
Selain itu, masyarakat pribumi Indonesia pun mulai memeluk agama-
agama dari India, khususnya Syiwaisme dan Buddhisme, tapi ada pula pemeluk
Wisnuisme dan Tantrisme. Dalam sebuah prasasti di Jawa Tengah, yang
berasal dari abad ke-9 Masehi, disebutkan nama-nama berbagai kelompok
masyarakat India (dan Asia Tenggara). Prasasti itu antara lain berbunyi :

[...] ikang warga kilalan kling ârya singhala pandikiri drawi?a campa kmir
[...] (Brandes 1913:1021)

yang artinya :

[...] warga sipil yang dapat dimanfaatkan adalah: orang-orang dari Kalinga
(India Selatan), Aryan (yakni, India Utara), Sri Lanka, orang-orang dari
Pandikira(?), bangsa Dravida, Campa dan Khmer [...]

Hubungan dagang memberi pengaruh besar pada masyarakat Indonesia,


terutama dengan masuknya ajaran Hindhu dan Buddha. Kedua agama itu
akhirnya berkembang di Indonesia, disusul dengan berdirinya kerjaan-kerajaan
bercorak Hindu-Buddha.

a. India Utara

India Utara merupakan daerah yang subur karena terdapat sungai-


sungai besar, di antaranya Sungai Gangga. Sungai Gangga dianggap
suci oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan, barang siapa yang
merendam atau mandi di sungai itu, ia akan kembali bersih tanpa dosa
atau suci. Selain Sungai Gangga, ada dua sungai besar lainnya, yaitu
Sungai Yamuna dan Sungai Brahmaputra. Karena subur, daerah ini
penduduknya padat dan kebanyakan dari mereka hidup dari pertanian

-9-
dan perdagangan. Di daerah India Utara yang subur itulah lahir agama
Hindu dan agama Buddha.

b. India Selatan

Berbeda dengan India Utara, sebagian besar daerah India Selatan


adalah daerah yang tandus. Kerena daerahnya tandus, penduduk daerah
Indis Selatan kebanyakan hidup dari perdagangan. Sebagian lagi hidup
dari pertanian dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya. Mayoritas
penduduk India Selatan adalah bangsa Dravida. Mereka sudah memiliki
kebudayaan yang cukup tinggi sebelum kedatangan bangsa Arya.
Masyarakat di daerah ini berkulit hitam. Dalam sejarah India,
kebudayaan yang berasal dari pusat-pusat kebudayaan kota India
Selatan itu disebut dengan kebudayaan Vengi. Hasil seni bangunan
yang terkenal pada masa itu adalah Stupa Amarawati, Kuil Karli dan
Kuil Kailasa di Ellora.
Kerajaan tertua di India Selatan adalah Kerajaan Andhara di
Dekhan. Raja-rajanya berasal dari Dinasti Syatavahana, dari bangsa
Dravida (Telugu). Kerajaan Andhara mulai berdiri sekitar abad ke-3
sebelum Masehi dan terus berkembang hingga abad ke-3 Masehi. Selain
Kerajaan Andhara, kerajaan-kerajaan lain di India Selatan yang cukup
dikenal di Indonesia, yaitu Kerajaan Kalingga, Cola, Pallawa, dan
Nalanda. Hubungan perdagangan antara India dan Indonesia,
diperkirakan sudah dimulai pada permulaan tahun Masehi. Pada masa
itu terdapat dua jalur perdagangan yang ramai, yaitu jalur darat dan jalur
laut.
Indonesia semakin dikenal pada masa-masa berikutnya karena
hasil buminya, seperti emas, perak, gandum, beras, rempah-rempah,
kayu putih, kayu manis dan gading yang sangat laku di pasaran dunia.
Para pedagang India Selatan berbahasa Tamil. Oleh karena itu, banyak
kosa kata dari bahasa Tamil yang terserap ke dalam bahasa Indonesia
dan turut memperkaya bahasa Indonesia. Kosa kata itu terutama
berhubungan dengan perdagangan seperti kata belanga, apam, pendekar,
kedai dan kuil. Pada masa-masa berikutnya hubungan antara India
Selatan dengan Indonesia semakin erat, bukan hanya dalam bidang
perdagangan tetapi juga dalam bidang politik dan keagamaan.

5. Peradaban Indonesia Modern

Pedagang-pedagang Islam diperkirakan mulai mengunjungi Indonesia


sekitar abad ke-7 Masehi. Selain berdagang, mereka juga menyebarkan agama
yang dianutnya. Mereka yang pertama kali menerima agama Islam adalah
kalangan penguasa (Istana), para bangsawan, dan para pedagang kaya. Dengan
masuk dan berkembangnya agama Islam, kebudayaan masyarakat Indonesia
pun semakin tinggi. Pada tahun 1512, pelaut-pelaut Portugis tiba di Indonesia.
Di samping mencari rempah-rempah, mereka juga menyiarkan agama Katolik.

-10-
Setelah Portugis, pelaut-pelaut Spanyol, Belanda, juga Inggris lalu persaingan
pun terjadi.
Berdasarkan uraian singkat tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan
masuknya berbagai bangsa asing di Nusantara, dengan sendirinya kebudayaan
Indonesia pun semakin diperkaya. Indonesia kini merupakan Negara Islam
terbesar di seluruh dunia, dimana hampir 88% dari populasi mengikuti Islam,
yang berkembang dan mulai menggantikan Hindu dan Buddha di Indonesia
pada abad ke-15 dan 16 di bawah pengaruh pedagang-pedagang India dan
Arab. Dengan 5% dari populasi, Kristen Protestan menjadi kelompok agama
terbesar kedua. Katolik Roma menduduki tempat ketiga dengan 3% dari
populasi. Hindu kini hanya dianut kurang lebih 2% dari total populasi.
Akhirnya, hanya 1% dari populasi penganut agama Buddha.
Lebih dari 200 bahasa dan logat digunakan di Indonesia. Bahasa resmi
di Indonesia adalah bahasa Indonesia. Namun, hanya sebagian kecil dari
Indonesia (7%) menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.
Pada dasarnya sama dengan bahasa Malaysia, bahasa resmi Malaysia.

By Natha Kusuma
SMAN 6 DENPSAR

-11-