Anda di halaman 1dari 11

c 

Pada era sekarang, yang sering disebut era globalisasi, institusi pendidikan formal mengemban
tugas penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas di masa
depan. Di lingkungan pendidikan persekolahan (education as schooling) ini, guru profesional
memegang kunci utama bagi peningkatan mutu SDM masa depan itu. Guru merupakan tenaga
profesional yang melakukan tugas pokok dan fungsi meningkatkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap peserta didik sebagai aset manusia Indonesia masa depan.

Pemerintah tidak pernah berhenti berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan


kesejahteraan guru. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis dalam kerangka
peningkatan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, serta perlindungan hukum dan perlindungan
profesi bagi mereka. Langkah-langkah strategis ini perlu diambil, karena apresiasi tinggi suatu
bangsa terhadap guru sebagai penyandang profesi yang bermartabat merupakan pencerminan
sekaligus sebagai salah satu ukuran martabat suatu bangsa.

Hingga saat ini secara kuantitatif populasi guru di Indonesia sangat besar. Secara nasional masih
banyak guru yang belum memenuhi persyaratan kualifikasi akademik. Data tahun 2008 jumlah
guru yang belum memenuhi kualifikasi S-1/DIV sebanyak 1.656.548. Untuk mempercepat
seluruh guru memenuhi persyaratan kualifikasi pendidikan yang diharapkan tuntas pada tahun
2015 sesuai dengan amanat UU Nomor 14 Tahun 2005, pemerintah melalui Departemen
Pendidikan Nasional sejak tahun 2006 memberikan subsidi peningkatan kualifikasi guru pada
satuan pendidikan dasar dan menengah yang sedang dan akan menempuh pendidikan jenjang
S1/D-IV,baik guru PNS maupun guru bukan PNS. Sejalan dengan itu, pelaksanaan sertifikasi
guru yang telah dimulai sejak tahun 2007 akan terus dilakukan, sehinggan diharapkan guru-guru
yang ada dan telah memenuhi persyaratan dapat memperoleh sertifikat sesuai dengan kriteria dan
rentang waktu yang ditetapkan dalam undang-undang.
ã c  

Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau


berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada
sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat
mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. Oleh karena itu tidaklah
heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan
mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin
jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Dalam artian, pendidikan adalah sebuah proses transfer
nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam
segala hal. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang
membangun. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu
dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum,
peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran, perbaikan sarana-sarana pendidikan,
dan lain-lain. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya
manusia Indonesia seutuhnya.

Secara fungsional, pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi
masa depan agar hidup lebih sejahtera, baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai
warga masyarakat, bangsa maupun antar bangsa. Bagi pemeluk agama, masa depan mencakup
kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. Namun saat
ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. Fenomena itu
ditandai dari rendahnya mutu lulusan, penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas, atau
cenderung tambal sulam, bahkan lebih berorintasi proyek. Akibatnya, seringkali hasil pendidikan
mengecewakan masyarakat. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan
kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi, politik , sosial, dan budaya.
Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan
pembangunan, baik industri, perbankan, telekomunikasi, maupun pasar tenaga kerja sektor
lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Bahkan SDM yang disiapkan melalui
pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak,
moral, dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003
(Sisdiknas, pasal 3). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu,cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini
harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi
rekruitmen, kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya.

Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi, yaitu sebagian besar keberhasilan
agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front
terdepan, yaitu tenaga pendidik. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi, pemangku profesi
keguruan, anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan, perlu mendapat
prioritas dalam era pasca reformasi kini. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang
terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. Para ahli lebih sering
membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah.

Para ahli di bidang pendidikan, secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan
yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah
kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas, 28 Februari 2006). Padahal, telah
menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah
kurikulum dan komponen pendidikan lain. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa
masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai
oleh para praktisi pendidikan, apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan.
Sebagaimana diketahui, negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit.
UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112
di antara 174 negara yang diteliti. Di lain pihak, The Political dan Economics Risk Consultancy
(PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada
urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. Pendek kata, kondisi bangsa ini menang sedang
tidak nyaman, termasuk dunia pendidikannya. Ahmad Sjafii Maarif, ketua umum Persyarikatan
Muhammadiyah, sebagai contoh, menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng
pendidikan kita' (Republika, 9 Mei 2005). Singkat kata, mutu pendidikan di negeri ini memang
masih rendah. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras
dari semua pihak secara sinergis. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya
kepada kekuasaan-Nya.

Saat ini, dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan
mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum
dan sehebat apapun sistem pendidikan, tanpa kualitas guru yang baik, maka semua itu tidak akan
membuahkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, guru diharapkan memiliki kompetensi yang
diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Kompetensi
merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri
seorang guru, maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun
tidak akan optimal.

Dengan komptensi yang dimiliki, selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar
mengajar, guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya.
Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting.
Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat
dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat
dalam suatu proses belajar mengajar.

Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh
perencanaan pembelajaran, kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta
penguasaannya terhadap bahan ajar, dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam
menguasai kelas, tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan
kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya, atau
kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas.3 Atau dengan kata lain
tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan
dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi.

Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses
pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran, sehingga guru dapat menentukan keputusan
atau perlakuan terhadap siswa tersebut. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan,
serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana
strateginya.

Oleh karena itu, guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes, mampu
membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya, apakah telah dicapai harapan penguasaannya
secara optimal atau belum. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi
suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes, melakukan pengukuran, dan mengevaluasi dari
kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya.

B. c 
  

Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik, yakni
Upaya-upaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk
meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Dan strategi bagaimanakah
meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

 

Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan, perumusan visi dan misi serta
tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah
pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. Dalam kasus
sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai
pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan
kemana sekolah kemasa depan akan dibawa, sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan
nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu, kalau
dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. Keadaan yang diinginkan tersebut
hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . Idealisme disini dapat
berkaitan dengan kebangsaan, kemanusiaan, keadilan, keluhuran budi pekerti, ataupun kualitas
pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya.

Sedangkan misi, merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang
harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, misi
merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi.

Tujuan merupakan tahapan antara, atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi
awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi.
Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang
ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya, sedangkan visi dan misi (relatif/pada
umumnya)masih tetap. Tujuan (jangka menengah), dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan
yang biasa disebut target/sasaran, dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam
bentuk perencanaan.
cã ã cã ãã c ã ãã
cã

Sesuai dengan permasalahan yang ingin dipecahkan, pembahasan makalah ini


meliputi
:
1. Pengertian Profesi, Kriteria dan Profesi Pendidik
Berdasarkan beberapa pendapat tentang profesi, dalam makalah ini disimpulkan
bahwa
:

Profesi adalah suatu jenis pekerjaan yang diinginkan atau dicita-citakan secara khusus, bertumpu pada
landasan intelektual yang dalam mencapainya memerlukan pendidikan dan latihan khusus, memerlukan tolak
ukur, persyaratan khusus dan kode etik oleh suatu badan serta dapat diterapkan pada masyarakat untuk
memecahkan suatu masalah.

Made Pidarta (1997 : 264) memberikan tinjauan terhadap 2 arti pendidik, yaitu Pendidik dalam arti luas adalah
semua orang yang berkewajiban membina anak-anak dan pendidik dalam arti sempit adalah orang-orang yang
disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen. Kedua jenis ini dibedakan atas pendidikan dan waktu
khusus untuk mencapai predikat pendidik.

Made Pidarta (1997 : 265) menyatakan bahwa tidak diakuinya keprofesionalan para guru dan dosen,
didasarkan atas kenyataan yang dilihat masyarakat bahwa (1) banyak sekali guru maupun dosen yang tidak
memberi keputusan kepada mereka, dan (2) menurut pendapat masyarakat, pekerjaan mendidik dapat
dilakukan oleh siapa saja.

Syarat sebuah profesi diberikan oleh AECT (Association for Educational Communication and Technology)
dan dinyatakan Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia I pada tahun 1988, keduanya memberikan beberapa
syarat dalam mendefinisikan suatu profesi, secara garis besar harus ada : Latihan dan Sertifikasi, Standard dan
Etika, Kepemimpinan, Asosiasi dan Komunikasi, Pengakuan Sebagai

Profesi, Tanggung Jawab Profesi dan Hubungan dengan Profesi Lainnya.

Proses mendidik tidak dapat dicirikan hanya dengan adanya nasehat, dorongan berbuat baik, larangan dan
penilaian terhadap perilaku anak. Mendidik merupakan pembuatan kesempatan dan situasi yang kondusif bagi
perkembangan anak baik bakat, pribadi serta potensi-potensi lainnya. Berdasarkan pernyataan ini, mendidik
haruslah

dilakukan
oleh
orang-orang
yang
profesional.
Made Pidarta (1997 : 269-271) menyatakan bahwa diperlukan hal-hal berikut untuk memenuhi persyaratan
profesi pendidik, yaitu : Pertama, perlunya diperkenalkan penjelasan pengertian pendidikan bagi calon
pendidik memberikan kesempatan berpikir untuk memahami profesi mendidik tersebut. Kedua, perlu
dikembangkan kepada calon pendidik kriteria keberhasilan mendidik, keberhasilan ini bukan atas prestasi
akademik pendidik namun lebih dicerminkan oleh keberhasilan mendidik dengan kriteria-kriteria tertentu
seperti Memiliki sikap suka belajar, tahu tentang cara belajar dan lainnya. Ketiga, memperkenalkan perilaku di
lapangan yang dapat dipilih beberapa di antaranya yang sesuai dengan tujuan pendidikan setiap kali tatap
muka.

2. Profesionalisme Pendidikan dan Kode Etik Guru

Profesionalisme muncul atas dasar perkembangan masyarakat modern yang semakin kompleks yang
menyebabkan proses pengambilan keputusan bertambah sulit, memerlukan informasi yang lengkap, didasari
atas penguasaan terhadap pengetahuan serta permasalahannya dan jaminan atas penyalahgunaan kekuasaan
yang mungkin terjadi.

Rustiyah N. K. (1989 : 174) menyatakan bahwa ada 3 alasan profesionalisme di


bidang pendidikan mendapat pengakuan, yaitu :
a) Lapangan kerja keguruan dan kependidikan bukan merupakan suatu lapangan kerja
rutin yang dapat dilakukan karena pengulangan dan pembiasaan.
b) Lapangan kerja ini memerlukan dukungan ilmu atau teori yang akan memberi konsepsi teoritis ilmu
kependidikan dengan cabang-cabangnya.
c) Lapangan kerja ini memerlukan waktu pendidikan dan latihan yang lama, berupa
pendidikan dasar untuk taraf sarjana ditambah dengan pendidikan profesional.

Selanjutnya Rustiyah N. K. (1989 : 174) menyatakan bahwa pendidik profesional adalah seseorang yang
memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap profesional, yang mampu dan setia mengembangkan
profesinya, ikut serta dalam mengkomunikasikan usaha pengembangan profesi dan bekerja sama dengan
profesi yang lain.

Dalam makalah ini disinggung juga masalah kode etik yang menyangkut kepentingan pendidikan, diantaranya
mengaitkan hubungan : (1) guru dengan murid, (2) guru dengan pemerintah (3) guru dengan orang tua murid
(4) guru dengan teman sejawat,

(5) guru dengan diri sendiri dan (6) dengan lingkungannya serta (7) guru dengan
profesinya.
4.
Realita
Profesionalisme
Pendidikan
di
Indonesia

Dalam makalah ini disinggung kenyataan di lapangan tentang profesionalisme pendidikan di Indonesia yang
belum tercapai sebagaimana diinginkan, misalnya para pendidik sendiri, birokrasi yang sulit, anggaran
pendidikan dan gaji guru yang minim dan lainnya. Selain itu ketentuan hukum untuk masalah pendidikan juga
masih dinilai belum

jelas.

Sebagian besar kebijaksanaan pendidikan di Indonesia masih berupa penerapan pendekatan social demand
(permintaan masyarakat) yang pada orde baru dapat dilihat dengan terpenuhinya kebutuhan jumlah SD di
Indonesia dan program Wajar 6 tahun. Dalam rekrutmen tenaga pendidik juga masih terlihat belum
optimalnya, misalnya persyaratan dan ujian yang diberikan. Selain itu latar belakang pendidikan para guru
tidak semuanya memenuhi kriteria tenaga pendidik, misalnya memiliki Akta IV.

5.Hambatan Dalam Mewujudkan Profesionalisme Pendidikan


Dengan diberikannya otonomi dalam peningkatan mutu pendidikan, ada beberapa masalah yang
dihadapi, misalnya : kesan KKN semakin jelas dan transparan. Pelatihan dan loka karya sering disalahartikan
dan disalahgunakan sebagai ajang rekreasi dan menambah penghasilan bagi utusan. Fenomena ini merupakan
hal yang lumrah di masa orde baru dan sampai sekarang masih sulit ditinggalkan. Belum lagi dana untuk
anggaran pendidikan berupa peralatan laboratorium, perlengkapan sekolah, serta kesejahteraan guru yang tetap
mengalami kebocoran di dalam perjalanannya. Dilihat dari individu pendidik, kemampuan sebagai
pengembang instruksional sampai pada tahap evaluasi masih dapat dikatakan rendah. Yang tak kalah beratnya
adalah sistem yang ada selalu bertentangan, sehingga penerapan kebijaksanaan baru
dijadikan
ajang
KKN
bagi
sebagian
orang.
6. Langkah Menuju Profesionalisme Pendidikan
Untuk menuju profesionalisme pendidikan H. A. R. Tilaar (1999 : 17), menyatakan bahwa ada 3 ciri utama
yang dapat dicermati dalam pendidikan nasional sekarang ini, yaitu : (1) sistem yang kaku dan sentralistik, (2)
praktek KKN serta koncoisme dan (3) sistem pendidikan yang tidak berorientasi pada pemberdayaan
rakyat.Untuk itu perlu reformasi yang dibaginya menjadi tiga bagian, yaitu :
a) Reformasi Jangka Pendek, pada tahap ini upaya yang dilakukan adalah pengikisan praktek tercela KKN dan
koncoisme di dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional. Usaha tersebut bergandengan dengan usaha
untuk menegakkan asas profesionalisme di dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.
b) Reformasi Jangka Menengah, salah satu prioritasnya adalah penataan sistem yang yang didasrkan pada
prisnsip desentralisasi sehingga betul-betul memberdayakan masyarakat banyak yang mana isi kurikulum lebih
menekankan kepada pemberdayaan rakyat di pedesaan dan rakyat kecil.

 c 

Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu
pendidiknya dan tenaga kependidikannya. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan
memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga
kependidikannya.
Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan
aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk
kehidupannya, (2) standar kualifikasi, (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya, (4)
sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar
kompetensi, (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan, (5) standar pembinaan karir, (6)
penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi, dan
lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat, (7) sistem diklat di lembaga inservice
training dan pendidikan profesi di LPTK, dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan
profesional seperti KKG, MGMP, MKKS, dan MKPS, yang perlu diberdayakan. Mudah-
mudahan.

Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga
kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif
melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas
dan kompetitif dengan adil, bermutu, dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global.




ã ãc ãã

r    
         
          
 

   
          
    !  
!          " #     $

% "& ' (   ')   '            *+,+


%    (-  
       .  

"& ! 
 
   !  - '( 
-  ( &  !  

 &  
      
 (  /

 
   0&    *++/

12 1 (3'( #   


   
" # "  & 4

     &  r  !     555  5  3 
  $

- '   
    
     ' !         
6

  
   ' " % *+  '  4      %  
       
   

1 )  " %   '  6    


    %        
 6