Anda di halaman 1dari 13

ADVOKASI DAN PENYELESAIAN SENGKETA

Pedagang Kaki Lima ( PKL) Di Pecinan Kota Malang

Untuk Memenuhi Tugas UAS


Mata Kuliah: ADVOKASI DAN PENYELESAIAN SENGKETA

Disusun Oleh:
Elias Aditiasa 0710110114
Dedi Pratomo 0710110118
Frendy Hendra Pratama 0710110119
Nabila Demalasari 0710110133
Aditya Dwi Ichsani 0710113143
Dian Manda Rani 0710113227

KELAS: A

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
MALANG
2010
BAB I

PENDAHULUAN

I.I. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Pedagang Kaki Lima atau disingkat PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan
yang menggunakan gerobak. Istilah itu sering ditafsirkan demikian karena jumlah kaki
pedagangnya ada lima. Lima kaki tersebut adalah dua kaki pedagang ditambah tiga "kaki"
gerobak (yang sebenarnya adalah tiga roda atau dua roda dan satu kaki). Saat ini istilah PKL juga
digunakan untuk pedagang di jalanan pada umumnya.

Sebenarnya istilah kaki lima berasal dari masa penjajahan kolonial Belanda. Peraturan
pemerintahan waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya
menyediakan sarana untuk pejalanan kaki. Lebar ruas untuk pejalan adalah lima kaki atau sekitar
satu setengah meter.

Sekian puluh tahun setelah itu, saat Indonesia sudah merdeka, ruas jalan untuk pejalan
kaki banyak dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan. Dahulu nmanya adalah pedagang
emperan jalan, sekarang menjadi pedagang kaki lima. Padahal jika merunut sejarahnya,
seharusnya namanya adalah pedagang lima kaki.

Dibeberapa tempat, pedagang kaki lima dipermasalahkan karena menggangu para


pengendara kendaraan bermotor. Selain itu ada PKL yang menggunakan sungai dan saluran air
terdekat untuk membuang sampah dan air cuci. Sampah dan air sabun dapat lebih merusak
sungai yang ada dengan mematikan ikan dan menyebabkan eutrofikasi. Tetapi PKL kerap
menyediakan makanan atau barang lain dengan harga yang lebih, bahkan sangat, murah daripada
membeli di toko. Modal dan biaya yang dibutuhkan kecil, sehingga kerap mengundang pedagang
yang hendak memulai bisnis dengan modal yang kecil atau orang kalangan ekonomi lemah yang
biasanya mendirikan bisnisnya disekitar rumah mereka.

Di kota-kota besar keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan suatu fenomena
kegiatan perekonomian rakyat kecil. Akhir-akhir ini fenomena penggusuran terhadap para PKL
marak terjadi. Para PKL digusur oleh aparat pemerintah seolah-olah mereka tidak memiliki hak
asasi manusia dalam bidang ekonomi sosial dan budaya (EKOSOB). Kami melihat PKL ini
merupakan fenomena kegiatan perkonomian rakyat kecil, yang mana mereka berdagang hanya
untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari.

Pedagang Kaki Lima ini timbul dari adanya suatu kondisi pembangunan perekonomian dan
pendidikan yang tidak merata diseluruh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini. PKL
ini juga timbul dari akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak
memiliki kemampuan dalam berproduksi. Pemerintah dalam hal ini sebenarnya memiliki
tanggung jawab didalam melaksanakan pembangunan bidang pendidikan, bidang perekonomian
dan penyediaan lapangan pekerjaan.

Akan tetapi ternyata ketentuan-ketentuan diatas hanya berkutat pada kertas saja.
Ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai tanggung jawab pemerintah dalam bidang
pendidikan, perekonomian dan penyediaan lapangan pekerjaan belum pernah terealisasi secara
sempurna. Hal ini dapat dibuktikan dengan besarnya jumlah rakyat miskin di Indonesia.
Kemiskinan ini diakibatkan oleh tidak adanya pemerataan kemajuan perekonomian, peningkatan
kwalitas pendidikan dan penyediaan lapangan pekerjaan oleh pemerintah. Data terakhir dari
jumlah rakyat miskin di Indonesia adalah 18 juta keluarga, jika setiap keluarga terdiri dari 3
orang, itu berarti terdapat sekitar 54 juta jiwa penduduk Indonesia termasuk kategori miskin
(sumber Badan Pusat Statistik). Jumlah ini masih yang terdata, bagaimana dengan orang-orang
miskin yang tidak terdata, mungkin jumlahnya akan semakin besar.

Mengapa rakyat miskin ini sangat besar jumlahnya ???. Padahal pemerintah telah diberi
tanggung jawab oleh UUD 45. Permasalahan ini timbul diakibatkan oleh adanya watak atau
mental para birokrat kita yang korup. Sudah banyak sekali dana baik itu dari RAPBN
(Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), RAPBD (Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daearah) atau bantuan dari Negara-negara maju didalam menuntaskan
masalah kemiskinan. Dana-dana tersebut banyak yang tidak jelas penggunaannya, banyak terjadi
penyimpangan-penyimpangan yang penggunaannya hanya untuk memperkaya para pihak
birokrat saja.

Jadi sangat wajar sekali fenomena Pedagang Kaki Lima ini merupakan imbas dari
semakin banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia . Mereka berdagang hanya karena tidak
ada pilihan lain, mereka tidak memiliki kemampuan pendidikan yang memadai, dan tidak
memiliki tingkat pendapatan ekonomi yang baik dan tidak adanyanya lapangan pekerjaan yang
tersedia buat mereka. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk
membiayai keluarganya ia harus berdagang di kaki lima. Mengapa pilihannya adalah pedagang
kaki lima? Karena pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan mereka, yaitu modalnya tidak besar,
tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, dan mudah untuk di kerjakan.

Di NKRI ini belum ada undang-undang yang khusus mengatur Pedagang Kaki lima.
Padahal fenomena pedagang kaki lima sudah merupakan permasalahan yang pelik dan juga
sudah merupakan permasalahan nasional, karena disetiap kota pasti ada pedagang kaki limanya.
Pengaturan mengenai Pedagang Kaki Lima ini hanya terdapat dalam peraturan daerah (perda).

I.2. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan yang
merupakan fokus pengkajian dalam makalah ini, yaitu:

1. Apakah yang menjadi hambatan pedagang kaki lima di pecinan kota malang untuk
menggelar dagangannya?

2. Bagaimanakah peran aparatur pemerintah dalam mengatasi masalah pedagang kaki lima
di pecinan kota malang?

I.3. TUJUAN ADVOKASI

Tujuan dari kegiatan advokasi yang dilakukan adalah :

1. Membantu pedagang kaki lima (PKL) di pecinan kota Malang untuk memperoleh
keadilan sebagai warga Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945 atas tindakan
penggusuran sewenang-wenang pemerintah kota malang;

2. Membantu memberikan ketenangan bagi pedagang kaki lima (PKL) di pecinan kota
Malang dari intimidasi yang sering dilakukan oleh aparat;

3. Membantu pedagang kaki lima (PKL) untuk mendapatkan kembali haknya baik berupa
relokasi yang layak dan strategis untuk perdaganggan dan atau bahkan atas pemberian
ganti rugi yang layak atas kerugian pedagang kaki lima karena penggusuran.
I.4. SASARAN ADVOKASI

Sasaran dari dilaksanakannnya kegiatan ini adalah pedagang kaki lima (PKL) di pecinan
Kota Malang karena pedagang kaki lima (PKL) di pecinan Kota Malang telah dirugikan dengan
diadakannya penggusuran secara sewenang – wenang oleh pemerintah Kota Malang.

Pedagang kaki lima (PKL) di pecinan Kota Malang merasa adanya ketidakadilan dengan
penggusuran secara sewenang – wenang oleh pemerintah Kota Malang. Ketidakadilan ini
dibuktikan dengan tidak menyediakan tempat berjualan baru bagi PKL yang terkena
penggusuran dan walaupun di berikan tempat relokasi untuk berjualan kembali, biasanya lokasi
tersebut sama sekali tidak strategis untuk berjualan. Walaupun penggusuran tersebut dilakukan
dengan alasan untuk menata daerah tersebut agar terlihat lebih rapi dan teratur tetapi pada
kenyataannya Pemerintah Kota Malang belum juga melakukan penataan pada daerah tersebut.

Pedagang kaki lima (PKL) di pecinan Kota Malang merasa tidak diperhatikan sebagai
warga kota malang oleh Pemerintah Kota Malang karena Pemkot hanya menggusur PKL tersebut
tanpa memikirkan nasib PKL selanjutnya. Bagaimana kelangsungan hidup mereka dan keluarga
mereka, apa yang dapat mereka kerjakan setelah digusur, dimana mereka akan berjualan lagi. Itu
semua belum terakomodasi dengan penuh atau mungkin belum atau bahkan tidak dipikirkan
sama sekali oleh Pemerintah Kota Malang.

Pedagang kaki lima (PKL) di pecinan Kota Malang juga merasa kehidupan mereka tidak
tenang, karena aparat yang ditugaskan Pemerintah Kota Malang sering melakukan intimidasi
kepada mereka.
BAB II
PELAKSANAAN ADVOKASI

II.1. MINGGU Ke - 1
Kami memulai advokasi PKL di daerah pecinan kota malang dengan melakukan survey
ke pecinan kota malang pada hari Kamis 29 April 2010. Kenapa kami memilih tempat tersebut
karena di hampir seluruh wilayah Indonesia daerah pecinan adalah daerah yang selalu dipadati
oleh PKL. Penelitian dilakukan Di kawasan Pecinan ,Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen,
Malang. Kawasan pecinan yang kami survey meliputi Jl. Pasar Besar, Jl. Sersan Harun, Jl.
Kopral Usman, Jl. Sutan Syahrir, Jl. Martadinata, Jl. Kyai Tamin, dan Jl. Wiro Margo.

Kami melakukan wawancara terhadap para pedagang kaki lima di tempat – tempat
tersebut. Dan hasilnya para pedagang kaki lima tersebut mengaku terpaksa untuk menjadi
pedagang kaki lima. Karena dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka harus tetap
bertahan hidup dan bahkan membiayai keluarga mereka. Dengan modal yang tidak besar,
dengan tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, dan mudah untuk di kerjakan, serta halal,
mereka terus berjuang hidup dengan menjadi pedagang kaki lima.

Tetapi menurut penuturan mereka tidak akan semudah kelihatannya untuk menjadi
pedagang kaki lima. Menurut mereka para pedagang kaki lima di tempat tersebut masih sering
menjadi korban pungutan liar entah itu kadang – kadang dari preman maupun dari aparat.
Terlebih lagi mereka sebenarnya sudah sering digusur oleh aparat, tetapi karena menurut mereka
Pemerintah belum memberikan ganti rugi yang sepadan baik berupa materi maupun relokasi ke
tempat yang setidaknya sama strategisnya dengan tempat mereka sekarang, apa boleh buat
mereka tetap bertahan di tempat tersebut dan memulai lagi usahanya.

Setelah kami melakukan wawancara kepada para pedagang kaki lima, kami menawarkan
bagaimana apabila kami menjembatani aspirasi mereka untuk disampaikan ke dinas pasar dan
kepada DPRD kota malang, dan mereka bersedia.

Pada hari itu juga kami mendatangi dinas Pasar untuk mengajukan permohonan untuk
mendapatkan izin dan kepastian waktu guna bertemu kepala dinas Pasar kota malang. Pertemuan
tersebut akan kami gunakan untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan – keluhan para pedagang
kaki lima di daerah pecinan kota malang. Dan kami mendapatkan izin untuk itu pada hari kamis
tanggal 6 Mei 2010.

II.2 MINGGU Ke - 2

Pada hari Kamis Tanggal 6 Mei 2010 kami mendatangi Dinas Pasar Kota Malang dengan
agenda melakukan study banding ke instansi tersebut guna bekal melakukan advokasi kepada
pedagang kaki lima di daerah pecinan kota malang, dan pada hari tersebut kami berhasil
menemui drs. J. Hartono, Kadin Dinas Pasar Kota Malang.

Saat itu kami hanya sebagai orang yang menjembatani perundingan antara Kadin Dinas
Kota Malang dengan Perwakilan pedagang kaki lima tersebut. Pada kesempatan tersebut kami
menyampaikan beberapa pertanyaan yang secara garis besar dijawab oleh beliau antara lain
bahwa:

Menurut keterangan Kepala Dinas Pasar Kota Malang. Memang benar di daerah tersebut
sering terjadi penggusuran pedagang kaki lima, biasanya Dinas Pasar Kota Malang bekerjasama
dengan Satpol Pamong Praja untuk melakukan penggusuran tersebut. Bahkan menurut beliau
penggusuran tersebut sudah sering dilakukan dalam kaitannya dengan pedagang kaki lima.

Menurut keterangan Kepala Dinas Pasar Kota Malang. Perlu diketahui sebelumnya
bahwa penggusuran tersebut bukan tanpa maksud yang jelas. Dapat dilihat dalam kenyataannya
jalanan di sekitar pecinan kota malang hampir setiap hari macet karena banyaknya kendaraan
yang lalu – lalang dan sempitnya jalan. Sedangkan penyebab sempitnya jalan tersebut sendiri
juga dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya banyaknya para pedagang kaki lima yang
berjualan mulai dari trotoar bahkan tidak sedikit yang sampai masuk ke ruas jalan.

Menurut keterangan Kepala dinas Pasar Kota Malang penggusuran yang dilakukan
terhadap PKL tersebut sebenarnya tidak efektif karena mereka tidak lama kemudian akan
menmbangun kembali tempat dagang mereka. Tetapi Dinas Pasar Kota Malang juga bukan tanpa
usaha untuk itu, mereka sebenarnya pernah melakukan perundingan dengan pihak pedagang kaki
lima tetapi selalu menemui jalan buntu. Intinya para pedagang kaki lima tidak mau di relokasi ke
tempat lain.
Menurut keterangan Kepala dinas Pasar Kota Malang, tidak ada pungutan liar yang
dilakukan oleh anak buahnya, tetapi kalau mengenai preman, beliau merasa itu bukan
sepenuhnya kewenangan instansi yang dipimpin beliau. Tambahan dari beliau adalah Visi dari
dinas pasar sendiri sebenarnya adalahTerwujudnya pasar yang produktif dan kondusif serta
mewujudkan kawasan tertib PKL sebagai pilar perekonomian. Sedangkan fungsi dinas pasar
sendiri adalah:

1. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang pasar;

2. Penyusunan dan pelaksanaan Rencana Strategis dan Rencana Kerja di bidang pasar;

3. Pengelolaan pasar daerah meliputi pengaturan, penertiban, pemeliharaan dan


pengawasan;

4. Pelaksanaan pemungutan retribusi pasar daerah;

5. Penataan, pembinaan, pemberdayaan dan pengawasan (PKL);

6. Pelaksanaan kegiatan bidang pemungutan retribusi;

7. Pemberian pertimbangan teknis perijinan di bidang pasar daerah;

8. Pemberian dan pencabutan perijinan di bidang pasar daerah;

9. Pengelolaan parkir di areal pasar daerah;

10. Pengelolaan kebersihan di lingkungan pasar daerah;

11. Pengelolaan administrasi umum meliputi penyusunan program, ketatalaksanaan,


ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, rumah tangga, perlengkapan, kehumasan,
kepustakaan dan kearsipan;

12. Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM);

13. Penyusunan dan pelaksanaan Standar Pelayanan Publik (SPP);

14. Pelaksanaan fasilitasi pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan/atau


pelaksanaan pengumpulan pendapat pelanggan secara periodik yang bertujuan untuk
memperbaiki kualitas layanan;

15. Pengelolaan pengaduan masyarakat di bidang pasar;


16. Penyampaian data hasil pembangunan dan informasi lainnya terkait layanan publik secara
berkala melalui web site Pemerintah Daerah;

17. Penyelenggaraan UPT dan jabatan fungsional;

18. Pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas dan fungsi;

19. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Karena keterbatasan waktu, wawancara tersebut di akhiri. Tetapi sebelumnya kami


mengajukan izin untuk datang kembali ke Dinas Pasar kota Malang dengan mengajak perwakilan
pedagang kaki lima dari daerah pecinan kota Malang, dan kami mendapatkan izin untuk
melakukan hal tersebut pada hari Kamis tanggal 13 Mei 2010.

II.3 MINGGU KE-3

Pada hari Rabu tanggal 13 Mei 2010 kami mendatangi Dinas Pasar Kota Malang dengan
agenda mediasi antara pedagang dengan Kepala Dinas Pasar Kota Malang untuk menengahi
masalah tentang penggusuran terhadap para pedagang khususnya di daerah pecinan Kota
Malang, laporan hasil mediasi sebagai berikut :
Pada mediasi tersebut kami meminta kepada PKL untuk memberitahukan alasan mereka
menolak penggusuran tersebut. Adapun alasan dari PKL adalah sebagai berikut :

1. Mengurangi pelanggan sehingga mempengaruhi faktor perekonomian dari


pedagang.

2. Ganti rugi penggusuran yang tidak sepadan.

3. Relokasi yang disediakan pemerintah tidak strategis dan ditakutkan adanya biaya
sewa tempat yang lebih mahal.

4. Pedagang sudah merasa membayar retribusi pasar kepada oknum yang terkait.

5. Pedagang merasa sudah bertahun-tahun dan secara turun - temurun berjualan di


kawasan pecinan.
6. Karena kecilnya ketersediaan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan
mereka, yang mana kebanyakan dari mereka tidak menyelesaikan bangku
sekolah.

Kami juga tidak lupa untuk meminta penjelasan dari Dinas Pasar Kota tentang alasan
penggusuran terhadap PKL di pecinan.

Alasan dari pemerintah sebagai berikut :

1. dengan adanya pedagang kaki lima, jalanan di sekitar pecinan kota malang hampir
setiap hari macet karena banyaknya kendaraan yang lalu - lalang dan sempitnya
jalan. Sedangkan sempitnya jalan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor
diantaranya banyaknya para pedagang kaki lima yang berjualan mulai dari trotoar
bahkan tidak sedikit yang sampai masuk ke ruas jalan.

2. Para pedagang kaki lima tidak mau direlokasi ke tempat lain.dikarenakan uang
ganti rugi tidak sepadan dengan kerugian yang mereka rasakan.

3. Pedagang harus sesuai dengan visi dari Pemerintah Kota Malang yang sebenarnya
adalah terwujudnya pasar yang produktif dan kondusif serta mewujudkan
kawasan tertib PKL sebagai pilar perekonomian.

Setelah kedua belah pihak memberikan alasannya, kami sebagai mediator memberikan
waktu kepada para pihak untuk mempelajari masing - masing alasan, sehingga terdapat suatu
perundingan yang memiliki bobot dan suatu hasil yang mendasar dari kedua belah pihak.

Atas dasar pertimbangan tersebut diatas maka kami menunda perundingan hingga tanggal
19 mei 2010.

II.4 MINGGU KE-4

Pada hari ini, tanggal 19 Mei 2010 kami melanjutkan proses mediasi antara Pedagang
Kaki Lima (PKL) di daerah Pecinan Kota Malang dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah
Pasar Besar dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset. Pertemuan ini dilakukan di
Kantor Dinas PPKA Kota Malang dengan dihadiri oleh perwakilan dari Pedagang Kaki Lima
dan Ketua Unit UPTD Pasar Besar tersebut.
Pada proses mediasi kali ini, masing-maisng dari para pihak sudah mempelajari alasan-
alasan yang dikemukakan oleh pihak lawannya. Pihak PKL mencoba memahami mengapa
pemerintah daerah Kota Malang ingin menggusur mereka. Sedangkan dari pihak pemerintah
sendiri juga mencoba memahami kondisi para pedagang jika penggusuran tersebut jadi
dilaksanakan.
Sedangkan kami sebagai pihak mediator mencoba memberikan solusi/jalan tengah dari
masalah ini, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Adapun solusi yang coba kami
tawarkan kepada kedua belah pihak adalah agar pemerintah lebih mempertimbangkan mengenai
ganti rugi yang akan diberikan kepada para pedagang apakah sudah sepadan dengan kerugian
yang akan mereka tanggung, para pedagang juga bisa mencari tempat lain yang lebih strategis
namun tidak mengganggu lalu lintas.
Setelah kami memberikan solusi kepada kedua belah pihak, mereka juga membutuhkan
waktu lagi untuk mempelajari dan menimbang solusi tersebut. Oleh karena itu, mediasi pun
ditunda dan akan dilanjutkan lagi pada tanggal 25 Mei 2010 di Kantor Dinas PPKA.

II.5 MINGGU KE-5


Pada tanggal 25 Mei 2010 kami seharusnya melanjutkan proses mediasi antara Pedagang
Kaki Lima (PKL) yang berada di Pecinan Kota Malang dengan Dinas PPKA Unit UPTD Pasar
Besar yang sesuai laporan minggu ke-4 akan diadakan di Kantor Dinas PPKA, namun untuk kali
ini kami mengalami hambatan.

Pada proses mediasi kali ini, kami kehilangan komunikasi dengan pihak dari Dinas
PPKA. Dinas PPKA menjadi susah dihubungi dan seakan mengulur-ulur waktu. Dengan alasan
banyak pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan, Kepala Unit UPTD Pasar Besar tersebut tidak
bisa menghadiri proses mediasi. Namun hingga hari ini, yaitu tanggal 27 Mei 2010 kami tetap
tidak bisa mendapatkan kontak dengan Kepala Unit UPTD. sehingga karena keterbatasan waktu
juga yang kami miliki, maka kami tidak dapat melanjutkan proses mediasi ke arah lebih lanjut.
Dengan demikian, proses mediasi atas kasus penggusuran PKL Pecinan Kota Malang yang akan
dilakukan Pemkot Malang ini tidak mendapatkan kesepakatan, dan tidak ada penyelesaiannya.
BAB III

KESIMPULAN

Setelah melalui panjangnya proses mediasi yang kami lakukan terhadap kasus
Penggusuran Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pecinan Kota Malang dengan Dinas PPKA Unit
UPTD, mendengar berbagai alasan-alasan yang diberikan oleh masing-masing pihak, baik dari
pihak pemerintah itu mengapa melakukan penggusuran dan alasan dari pihak Pedagang Kaki
Lima yang menolak penggusuran tersebut, memberikan berbagai solusi untuk menengahi
keinginan PKL dan Pemerintah, dan juga para pihak telah mempelajari alasan-alasan tersebut
beserta solusi yang kami berikan, namun ternyata pada akhirnya tetap tidak terdapat kata sepakat
ataupun jalan keluar dari masalah ini. Semua ini terhenti karena dari pihak pemerintah bersikap
seolah-olah bersikeras atas kemauannya untuk tetap menggusur para Pedagang Kaki Lima
tersebut. Kami sebagai mediator sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menengahi kasus
ini.